close
Cerpen

Insang Merah Muda

Teks Yetti A.KA

Ilustrasi Ersta Andantino

Dalam kurungan tikar pandan, Kimori mendengar suara arus sungai dan tawa teman-temannya. “Buka yang lebar,” bisik perempuan tua—tukang sunat yang telah memegang jarum kecil di tangan kanan.

Kimori tersentak, tawa teman-temannya menghilang. Ia ingat mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia yang berubah menjadi seekor ikan di hari sunatannya. “Buka yang lebar,” sekali lagi perempuan tua berbisik. Ragu-ragu Kimori membuka selangkangannya yang ditutup kain mandi dari belacu. Suara teman-temannya kembali riuh—sepertinya ada seorang anak yang menyimburkan air ke tepian sungai dan membasahi orang-orang yang sedang duduk bergerombol. Ia merasa lega mendengar keriuhan itu. Rasa takutnya berkurang. Dalam mimpi itu, selain dirinya, ia melihat begitu banyak ikan berwajah anak perempuan yang pernah dibawa ke sungai untuk disunat dan dimandikan dengan jampi  di ubun-ubun. Sebentar lagi ia mungkin akan benar-benar menjadi ikan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seekor ikan dan berada di dalam sungai.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” kata perempuan tua pelan seolah dapat melihat isi tempurung kepala Kimori.

Kimori menggigiti bibirnya.

Ujung jarum dibalut kapas sudah ditempelkan pada kulit klitoris Kimori yang merah pucat. Rasa dingin menjalar dan menimbulkan sedikit ngilu—dan ia bertahan agar tidak menjerit. Kimori tidak tahu dari mana rasa dingin itu berasal. Mungkin dari rasa takutnya. Mungkin dari ujung jarum yang menembus serat-serat kapas dan mengalirkan teror kepadanya.

“Tidak apa-apa,” bisik perempuan tua. Perempuan yang sudah puluhan tahun menjadi tukang sunat dan hanya satu-satunya di kampung itu.

“Cuma sebentar. Tidak sakit,” bujuk ibunya tidak henti-henti sepanjang bulan lalu. Jauh sebelum bulan lalu, ibunya terus membujuknya agar mau disunat—dibawa pergi ke tepi sungai, dikurung dalam tikar pandan bersama tukang sunat yang sudah menyunat ratusan anak perempuan, dikeramas dengan limau, dan diarak pulang ke rumah dalam pakaian pengantin perempuan cilik berwarna merah. “Nanti kau akan diiringi bunyi rebana yang meriah,” tambah ibunya dengan mata berseri. Semua ibu selalu memancarkan mata seperti itu tiap membicarakan anak perempuannya yang akan segera disunat karena artinya mereka siap-siap menyaksikan anak itu tumbuh menjadi seorang gadis di tahun-tahun berikutnya. Anak yang akan segera belajar mengenai aturan-aturan bagi seorang perempuan. “Bila kau tidak juga disunat, kau tetap akan  menjadi anak-anak. Main sembarangan. Tidak bisa menjaga diri. Tidak ada anak perempuan yang tak mau disunat di sini. Tidak ada yang menjadi perempuan liar, membiarkan tubuhnya dikotori tangan lelaki.” Ibunya meneruskan desakannya.

Kimori tidak tertarik dengan upacara sunatan seperti yang digambarkan ibunya. Ia tidak terlalu tergiur mengenakan baju pengantin dengan kalung dan gelang besi keemasan, diarak pulang ke rumah, menari sambil mengelilingi sebatang cambah kelapa, dan diakhiri dengan jamuan makan. Namun, ia sudah sembilan tahun. Semua teman-teman perempuannya sudah disunat saat usia lima atau enam tahun dan setelah itu diajari untuk tidak lagi mandi telanjang di sungai, tidak lagi sembarangan bermain bersama anak lelaki, tahu batasan, mengerti mana yang harus dijaga dengan baik.

“Setelah ini kau akan menjadi seorang gadis,” bujuk ibunya sebelum Kimori masuk ke dalam kurungan tikar pandan.

“Nanti kau bisa gabung bersama kami saat mandi,” ujar temannya yang sudah disunat lebih dulu sambil memamerkan sisa tawa polos kanak-kanak.

Kimori tidak ingin menjadi seorang gadis. Ia tidak ingin mandi di sungai mengenakan kain hingga menutupi dada seakan ia sedang menyembunyikan sesuatu yang terlarang dan menjijikkan. Ia tidak ingin memakai bedak kemiri campur kunyit untuk menghaluskan wajahnya, menggiling daun serai di atas batu dan melangiri rambutnya, hingga membuat seluruh tubuhnya berbau rempah. Ia mau tetap beraroma tubuh anak-anak yang suka main kotor di kampungnya. Mereka yang masih mandi telanjang, berendam lama-lama dan bersenda gurau. Mereka yang berjemur di atas batu besar sampai kulit mereka terbakar dan rambut menjadi kering dan melompat kembali ke dalam sungai. Ia senang bermain kejar-kejaran di lubuk yang dalam di sungai itu bersama teman-teman lelaki tanpa batasan, tanpa kecemasan, sebab jiwa mereka begitu murni dan tanpa dosa.

“Sudah selesai,” kata perempuan tua meletakkan jarum ke atas talam. Terdengar bunyi denting dan getar halus. Kurungan tikar dibuka. Kimori melihat teman-temannya berkumpul dan menantikannya dengan senyum terkembang. Agak kikuk Kimori berdiri. Ibunya benar, semua ini sangat cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan tukang sunat melakukannya: mengambil sesuatu yang entah apa dalam vaginanya.

“Apa yang diambil dari sana?” tanya Kimori sebelum ia terpaksa memutuskan mau disunat karena ibu dan bapaknya terus mendesak. Ibunya berkata, “Tidak seorang pun yang membicarakan hal-hal tidak pantas seperti itu.” Malam harinya, Kimori bermimpi menjadi seekor ikan untuk pertama kali.

Kimori dibawa masuk ke dalam air. Rambutnya dibasahi, diberi air limau nipis, kepalanya dijampi, lalu ia disuruh mandi. Kimori menyelam ragu-ragu.

“Menyelamlah ke tempat yang dalam,” kata perempuan tua.

Kimori bergerak ke bagian sungai yang dalam. Setelah mengalami ketakutan dalam gulungan tikar, Kimori membebaskan dirinya di dalam air dan tidak ingin memikirkan apa-apa lagi. Ia sudah biasa mandi dan menyelam di sungai—hampir seluruh hari-harinya lebih banyak berada di sini seperti juga anak-anak lain. Ia menuju dasar sungai dan menempelkan badannya ke batu hitam. Kimori terus berada di dasar sungai dan ia merasa perlahan di dadanya tumbuh sepasang insang. Ibunya berseru dari pinggir sungai agar Kimori segera berenang ke tepi sebab pemasangan baju pengantin cilik harus segera dilakukan, sebab matahari akan segera tinggi, sebab arak-arakan harus segera bergerak dan tak membiarkan rombongan rebana gelisah menunggu. Namun, Kimori tidak mendengar suara itu. Ia begitu terpesona dengan sepasang insang merah muda di dadanya. Matanya mengerjap-ngerjap dan ia membuka insang itu lebar-lebar.

Di tepi sungai, orang-orang saling melempar pandangan bertanya-tanya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka tidak tahu Kimori ada di bagian mana di dasar sungai itu.

Ibunya meneriakkan nama Kimori berkali-kali.

Sungai demikian hening. Seolah mati. Seolah tak ada siapa-siapa di dalamnya.

Setelah lama berlalu, Kimori baru naik ke atas, tapi ia tak menemukan siapa pun lagi di tepi sungai. Semua perlengkapan sunatannya masih berada di tempat, kecuali sebatang jarum. Kimori memakai sendiri baju pengantin cilik yang sudah kekecilan di tubuhnya, memasang singal di kepala, dan menambahkan hiasan daun di rambutnya. Ia berjalan pulang, dalam langkah yang lambat dan sunyi. Di depan pintu, ia melihat ibunya berdiri dengan sepasang mata yang sudah buta dan berkata, “Setelah tiga ribu hari, kau akhirnya kembali, Kimori. Masuklah.”

***

Tukang sunat menjawil pipi Kimori yang merah lembut sehabis ia dimandikan dan dikeringkan, “Jangan melamun,” bisiknya, “tidak elok”.

Kimori tergeragap. Matanya langsung mencari-cari ibunya.

“Ibu tidak ke mana-mana, dari tadi di sini saja,” tukas ibunya seolah mengerti apa yang dirasakan anak perempuan itu.

Kimori langsung bernapas lega begitu melihat ibunya, begitu menatap sepasang mata yang sama sekali tak buta.

“Sebentar lagi semua akan selesai,” tambah ibunya.

Kimori memang tidak sabar ingin menyelesaikan prosesi sunatannya. Ia mau segera bermain kembali dan bertanya kepada teman-teman perempuannya, apakah mereka juga pernah merasa sepasang insang tumbuh di dada saat mereka menyelam di dasar sungai di hari sunatan?

***

Di halaman rumah, Bapak Kimori sudah menanam cambah kelapa setinggi setengah  meter. Bunyi rebana telah terdengar. Riuh suara anak-anak mengiringi arak-arakan itu. Begitu tiba di halaman nanti, Kimori akan menari—kedua lengan tangannya direntangkan, tangan kanan dan kiri memegang ujung selendang—sebanyak tujuh putaran. Begitu tariannya selesai, permen bercampur uang koin dan beras akan dihamburkan di udara dan anak-anak berebutan mendapatkannya.

Lelaki itu menunggu saat itu tiba dan hatinya akan bahagia melihat anak perempuannya menari bagai burung enggang di halaman rumahnya sendiri. Burung yang mengepak-ngepakkan sayap sebelum akhirnya hinggap ke rumahnya dan belajar berhenti terbang.

Kimori dan pengiringnya semakin mendekat.

Lelaki itu memberi isyarat agar orang-orang bergerak ke depan, menyambut kedatangan rombongan pengantin cilik dalam suasana bahagia sekaligus haru. Kimori tidak mengerti kenapa perasaan sedih yang justru menyusup kuat ke dirinya, sebuah perasaan yang sama saat ia melihat sepasang mata teman bapaknya di balik timbunan kayu bakar di bawah rumah ketika lelaki itu memasukkan jemari ke dalam lubang vaginanya dan berbisik, “Jangan pernah katakan apa pun.” Perasaan yang membuatnya kembali ketakutan dan membuatnya makin menciut. Ia memang tak pernah mengatakan apa pun kepada ibunya. Perempuan itu pasti akan menyalahkannya karena tak mau disunat di usia lima atau enam tahun dan karena itu ia tak bisa menjaga diri dengan baik. “Awas pokoknya!” kata lelaki gemuk itu. Kimori makin merasa takut. Tubuhnya kita gemetar dan telapak tangannya menjadi lembap sekali.

Ibunya yang memegang tangan Kimori sejak mereka berjalan meninggalkan tepi sungai, tidak henti memberikan dorongan kepada anak perempuannya. Kalau Kimori berjalan dengan wajah kosong, maka ibunya cepat-cepat mengingatkan, “Tersenyum ya, Kimori.”

Kimori pun menarik kedua ujung bibirnya dengan terpaksa. Ia merasa tidak berada di antara orang-orang yang tengah berpesta ini. Ia merasa ingin sekali kembali ke sungai, sebab di sungai ia bisa bebas tanpa sayap sekali pun.

Begitu mereka sampai, Bapak Kimori buru-buru memberi jalan untuk pengantin cilik dan langsung mengantarnya ke cambah kelapa. Ibunya memberikan selendang kepada Kimori dan berkata, “Sekarang kau menari.”

Kimori sudah sering melihat teman-temannya menari mengelilingi cambah kelapa. Ia sudah tahu gerakan tarian sederhana itu. Ia berjalan lambat-lambat mengelilingi batang cambah kelapa. Setiap putaran ia selesaikan tanpa kesalahan, sampai ibunya menghentikan langkahnya, dan itu berarti ia sudah menyelesaikan putaran ketujuh.

Uang bercampur beras dan permen segera berhamburan di udara. Suara pekikan dan tawa menggetarkan pekarangan rumah Kimori.

***

Kimori sesungguhnya tidak pernah kembali ke rumahnya. Ia tak pernah melihat ibunya berdiri di pintu dengan kedua matanya yang buta. Ia juga tak pernah pulang dalam arak-arakan pengantin cilik yang dimeriahkan oleh rebana.

Di dasar sungai, Kimori menempel di batu-batu berlumut, licin dan gelap.

Dan Kimori tidak sendirian. Ia bersama begitu banyak anak perempuan yang menempel di batu-batu dan memiliki sepasang insang merah muda di dada. Anak-anak itu teman sekolah dan teman bermainnya, tapi di dasar sungai mereka tak membawa ingatan apa-apa. (*)

 

Rumah Kinoli, 2017

 

 

Keterangan:

Sunat dalam cerita adalah tradisi di Bengkulu, khususnya di daerah Bengkulu bagian selatan seperti Padang Guci dan Kedurang.

 

 

 

Yetti A.KA, lahir dan besar di Bengkulu. Buku kumpulan cerpen terbaru, Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Ersta Andantino, ilustrator dan penulis. Tinggal di Bogor.

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response