close
crown-759296_960_720

Orang Yahudi purba terancam genosida. Sebabnya sepele. Karena Haman benci Mordekhai. Benci sampai ke ubun-ubun. Haman orang Amalek. Mordekhai orang Yahudi asli.
Berawal dari Haman diangkat panglima. Kedudukannya dengan Raja Ahasyweros (Xerxes dalam bahasa Inggris, memerintah Persia Kuno 522-486 SM), sebelas dua belas.
Kekuasaan Persia saat itu tersebar dari India sampai Etiopia. Terbagi dalam 20 daerah administratif. Dibagi menjadi 127 wilayah. Masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang bupati.
Saat ia diangkat, Raja memberi instruksi untuk hormat kepadanya. Dengan cara berlutut dan sujud.
Haman gila hormat. Mordekhai tidak berlutut dan sujud ketika berpapasan dengannya. Melihatnya, ia jengkel. Ia menelusuri asal-usul Mordekhai. Makin benci setelah tahu Mordekhai orang Yahudi.
Mordekhai juga punya masalah. Agama Yahudi punya banyak aturan. Menuntut mereka taat pada hukum Allah melalui Musa. Yaitu Hukum Taurat. Ia tidak boleh berlutut dan sujud melebihi Allahnya.
Haman orang Amalek. Ia keturunan raja Agag. Bangsa Amalek dan bangsa Yahudi bermusuhan sejak zaman Saul, raja pertama Israel (1030-1000 SM). Waktu perang, Saul diperintahkan untuk menghabisi orang Amalek. Namun ia selamatkan rajanya. Lalu Samuel, hakim Israel masa itu, mencincang Raja Agag. Haman lahir dari keturunan Agag yang berhasil kabur dari perang itu.
Karena dendam, Haman menyusun UU. Isinya, membunuh orang Yahudi adalah sah. UU dibuat pada bulan Nisan (bulan pertama kalender Yahudi). Pelaksanaan jatuh pada tanggal 13 bulan Adar (bulan ke-12).
Dalam rangka melaksanakan misi, butuh banyak uang. Honorarium penerjemah UU dari bahasa Aram ke bahasa masing-masing wilayah. Ongkos pesuruh cepat dan penyewaan kuda. Dan koordinator misi. Seluruhnya 375 ton perak (kurs perak hari ini Rp10.250).
Semua Haman siapkan. Terakhir ia UU perlu stempel kerajaan agar sah dan kuat. Stempel adalah cincin Raja. Ia menghadap raja dan menceritakan semuanya.
Dan dana operasional saya tanggung sendiri,” kata Haman.
Itu uang-uangmu. Laksanakan, jawab Raja.
Raja melepas cincinnya. Cincin ditekan pada 127 lelehan lilin untuk dibuat stempel. Lalu pesuruh-pesuruh cepat berangkatlah. (Pembawa surat berkuda ini merupakan sistem pos kuno yang dibuat sejak raja Koresy pada 535 SM).
UU itu bikin seluruh dunia gempar. Merespons UU tersebut, Mordekhai secara demonstratif meraung-raung di pintu gerbang. Kalau zaman sekarang, di bundaran HI atau di depan Istana Presiden.
Aksi Mordekhai sampai ke telinga Ester. Ester (Hadassah bahasa Ibrani) adalah ratu Persia. Ia sepupu Mordekhai. Namun identitas keyahudiannya tak seorang pun tahu.
Informan Ester mendapat info soal latar belakang aksi Mordekhai. Dan Mordekhai mengatakan satu rahasia kepadanya. Bahwa mungkin, alasan Ester masuk ke lingkaran kerajaan berkedudukan sebagai ratu- dipersiapkan untuk maksud seperti ini. Arti lainnya, ia harus melakukan sesuatu dengan posisinya sebagai Ratu.
Ester sangat tertekan. Empat tahun ia menjadi ratu. Semua aman-aman. Ia tak pernah terlibat dalam politik. Sampai peristiwa ini. Posisinya membingungkan. Dimakan ayah mati. Dibuang ibu dibunuh.
Ini risiko Ester kalau dia terlibat di sini. Satu, identitas keyahudiannya akan terbuka. Dua, UU itu akan membunuhnya juga.
Ester seperti mau mati rasanya. Saking tegangnya ia menetapkan puasa tiga hari. Dan pada hari ketiga, ia merasa tenang dan siap. Ia siap bukan untuk menghadap raja. Ia siap karena sudah menerima segala kemungkinan. Bila aku harus mati, matilah, batinnya.
Ia pun mengenakan gaun kebesarannya. Berdiri di pelata ran istana. Ia menunggu raja melihatnya. Lalu raja mengulurkan tongkat emas. Artinya, raja tidak tahu apa-apa soal intrik kerajaan. Tetapi ia masih waswas. Siapa tahu informan Haman mengendus rencananya.
Apa yang kauinginkan, Ratuku? Setengah kerajaan pun akan kuberikan, kata Raja kepada Ester. Suasana hatinya sedang bagus, pikir Ester.
Hambamu ini mengadakan perjamuan minum anggur. Kalau berkenan, biarlah Raja dan Haman, panglima raja, datang.
Haman pun dipanggil. Mereka duduk bertiga. Makan dan minum. Ester melempar senyum sambil mempelajari wajah Haman. Wajah Haman lurus saja.
Sekarang, sebutkan apa permintaanmu, Sayang?
“Rajaku, hamba mengadakan perjamuan minum besok pada jam seperti ini. Bila berkenan Raja dan Panglima Haman datang.
Mendapat undangan kedua kalinya, hati Haman melambung tinggi. Ester tidak langsung mengemukakan masalahnya tapi menunggu. Mungkin ia menunggu sampai Haman memperlihatkan jati dirinya. Atau memberi kesempatan raja untuk tahu siapa Haman.
Dalam perjalanan pulang, Haman berpapasan Mordekhai. Mordekhai masih tidak berlutut dan tidak sujud. Panas hati Haman kian membara. Satu rencana jahat tumbuh di pikirannya.
Di rumah, ia membeberkan kekesalan hatinya kepada Zeresy, istinya. Kalau dia selalu menjadi sumber masalahmu, gantung dia di tiang, saran istrinya. Sore itu juga Haman menyuruh orangnya membuat gantungan setinggi 25 meter. Besok pagi kupastikan ia sudah disula di sana, katanya. Malam itu ia tak sabar menunggu pagi.
Pada malam yang sama, Raja Ahasyweros tidak bisa tidur. Ia gelisah. Subuh-subuh, ia panggil pegawainya. Minta dibacakan peristiwa-peristiwa kerajaan. Salah satunya tentang Mordekhai yang pernah berbuat jasa. Dua sida-sida bersekutu membunuh Raja. Gagal karena laporan Mordekhai.
Mordekhai dapat apa atas jasanya itu?
Tidak ada, Raja.
Persis waktu itu Haman memasuki pelataran. Raja menyuruh Haman masuk.
“Haman, penghargaan apa yang layak bagi seorang yang telah berjasa kepada Raja?
Haman mengira, orang berjasa yang dimaksud raja adalah dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab, orang itu harus dipakaikan pakaian kebesaran, diberi mahkota, diarak keliling kota dengan kereta kerajaan, agar warga mengelu-elukan dia pahlawan.
“Usul yang bagus. Hari ini juga, lakukan apa yang kau bilang itu kepada Mordekhai.
Haman bagai disambar petir mendengarnya. Ia nyaris terserang stroke. Tetapi ia melaksanakan tugasnya. Membesarkan lawan politiknya.
Selesai acara, Haman pulang. Dan ia curhat kepada istrinya. Mendengar itu, istrinya berkata, Jika kamu sudah jatuh sekarang ini di depan Mordekhai, orang Yahudi itu, kau takkan sanggup melawan dia. Kecuali kamu bertindak hati-hati.”
Lalu persis magrib ia dijemput sida-sida kerajaan ke perjamuan minum Ratu.
Haman duduk bersama Raja dan Ratu, minum anggur. Ia merasa cemas.
Sekarang, katakan pemintaanmu, Sayang? kata Raja kepada Ester.
“Rajaku, bangsa hambamu ini telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh, dan dibinasakan. Sekarang yang kuminta adalah nyawaku sendiri,” kata Ester.
Jantung Haman seperti tak berdetak mendengar penuturan Ratu. Jadi Ratu orang Yahudi?
Siapa orang yang merancang rencana keji itu, Sayangku?
Dialah Haman, orang jahat itu!
Wajah Haman putih seperti kapas.
Raja murka. Ia bergegas ke taman untuk menenangkan hatinya. Sementara itu Haman memohon nyawa kepada Ratu, yang berbaring di katilnya. Dari taman Raja melihat pemandangan itu, marahnya memuncak, Berani-beraninya si sontoloyo itu menggagahi Ratuku di istanaku sendiri!”
Mendengar itu, pegawai istana segera menutupi wajah Haman. (sebagai tanda akan dihukum mati karena melanggar peraturan istana). Dan Harbona, salah satu sida-sida, berkata, Haman membuat tiang gantungan untuk menyulakan Mordekhai.
Sulakan dia di tiang yang dia buat sendiri! titah Raja.
Cerita ini tidak berakhir bahagia. Pada 13 bulan Adar tetap berlumur darah. Kisah ini menjelaskan bahwa kedudukan bukanlah sarana untuk mengamankan diri. Kedudukan merupakan kekuatan strategis dalam memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi kemaslahatan umat manusia.
(itasiregar/Juni2018)

Tags : Kisah Mordekhai
Heri

The author Heri

Leave a Response