close
BukuGAYA

Seorang Lelaki dari Nazaret: Cerita dan Kenangan

The Robe

Judul : The Robe (Jubah Kristus)
Penulis : Lloyd C. Douglas
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Pertama, 2018
Tebal : 940 halaman
ISBN : 978-602-03-8136-7
Yesus telah mewahyukan ingatan bagi orang-orang terdekat dan terkasih. Dari ingatan orang-orang yang bersaksi, kita merasakan kembali jiwa cerita dari raga yang pernah tersalib. Lloyd C. Douglas dalam novel 940 halaman, The Robe atau Jubah Kristus (2018), meramu kembali cerita-cerita yang bermuara dari mulut ke mulut, dari pengingatan ke kenangan. Cerita tentang Yesus serupa legenda bagi orang-orang di masanya dan bahkan sanggup menciptakan kenangan bagi orang-orang di masa kini. Kematian di kayu salib semakin menghidupkan risalah tentang kasih, keindahan, ketercukupan, syukur, berbagi. Lelaki tukang kayu dari Nazaret itu telah menyemai benih-benih bunga kebaikan di setiap ucap yang disabdakan dan raga yang diadakan.
Di pengantar, Andrew M. Greeley mengingat bahwa cara bertutur Douglas yang rasional dan natural atas mukjizat Yesus, sempat membuat novel mendapatkan cela begitu diterbitkan. Greeley membaca The Robe saat berumur 14 tahun dan mengalami dilema kepercayaan sekaligus pengalaman religius yang wah. Penuturan tidak langsung dari Douglas justru tidak menjadikan tokoh-tokoh dalam kitab suci sebagai manusia super di awang-awang. Cara ini membuat para sosok suci menjadi sedemikian manusiawi, dekat, dan tidak berjarak dengan mukjizat yang memang sulit dinalar. Bagi Greeley, Douglas mempertahankan apa yang sangat penting di dalam diri Yesus: diri-Nya yang tidak seperti apa yang disangka orang, kemampuan-Nya mengejutkan orang, serta ketidaksediaan-Nya yang membingungkan untuk menyesuaikan diri ke dalam kategori apa pun yang berusaha kita gunakan untuk menangkap dan memahami-Nya. Dengan narasi, dan tidak melulu dalil falsafah atau pakem teologis, Douglas mengantarkan pada keterkejutan.
Dalam novel ini, dua tokoh yang dibuat terkejut itu, Marcellus sang Panglima Legiun Romawi dan budaknya, Demetrius. Demetrius adalah tokoh Douglas yang mewakili suara perbudakan dari Yunani oleh kedigdayaan Romawi. Ia dipilih untuk menjembatani pengaminan Marcellus atas Yesus. Sejak Marcellus ditugaskan Pilatus menyalib Yesus atas perintah Gubernur Herodes tanpa mengerti sebab keterhukuman, ia menjadi frustrasi dan sial. Apalagi, Marcellus memenangkan jubah Yesus lewat undi-undi. Jubah yang tidak diharapkan membawa rasa ngeri dan bersalah bertubi, tapi sekaligus menjadi jubah keagungan yang menyembuhkan. Jubah Kristus mengantarkan Marcellus ke tempat-tempat Yesus pernah singgah. Ia mendengarkan tentang Yesus dari orang-orang yang pernah bertemu, berteman, dan terciprat mukjizat.
Ketuntasan rasa bersalah Marcellus pun berakhir ketersentuhan yang dilematis, pertempuran antara logika dan mukjizat. Sudah berminggu-minggu benda itu melambangkan kejahatan yang dilakukannya, sekaligus hukuman yang harus diterimanya. Sekarang benda itu melambangkan kebebasannya. Penyesalannya telah mencapai puncak takaran, dan sudah saatnya dia meninggalkan kejahatan itu di belakangnya. pada jubah itu hanya menandai berakhirnya hukuman atas mentalnya. Dia tidak akan mengakui jubah itu mengandung semacam kekuatan.
Rasa Mengenali
Demetrius duluan mengamini Yesus dalam keterhubungan batin yang tercipta hanya dari pandangan mata. Kita bisa merasakan bahwa saat itu adalah momentum yang liris seolah Demetrius bertemu seorang terkasih yang lama tidak dijumpai. Saat itu, Demetrius juga turut ke Yerusalem saat orang-orang Yahudi merayakan Paskah tahunan di bulan Nisan. Demetrius menyaksikan arak-arakan pengikut-pemuja Yesus yang justru menampakkan wajah sedih dan gundah dari Sang Kristus. Ia seperti tidak ingin disanjung penuh gempita sekaligus histeria seolah raja.
Dari wajah itulah, Demetrius takzim merekam rasa mengenali Yesus. Kita cerap, Namun, dengan cara tak terlukiskan, sepasang mata itu mencengkeram Demetrius begitu kuat hingga seperti memaksa secara fisik. Pesan yang terkandung di dalamnya bukan rasa simpati, melainkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian seorang sahabat. Semacam kekuatan yang memantapkan hati dan mampu menghapus semua bentuk penindasan, misalnya perbudakan, kemiskinan, dan penderitaan. Demetrius dilingkupi kehangatan kekeluargaan yang aneh ini. Nyaris buta karena air mata yang mendadak berlinang, dia menyeruak di antara kerumuman orang dan tiba di tepi jalan. Pertemuan singkat itu begitu mengesankan.
Demetrius mendapatkan jalan menjadi manusia penuh pembebasan meski baru di pikiran dan perasaan. Intensitasnya menjaga jubah Yesus pun memberikan keterikatan yang berlanjutan, Jika aku sedang letih, benda ini membuatku tenang kembali. Jika aku merasa sedih, jubah ini memulihkan semangatku. Jika aku melawan perbudakan yang mengungkungku, benda ini memberiku kedamaian. Kurasa karenasetiap kali aku memegang jubah iniaku teringat kekuatandan ketabahan-Nya.
Berlatar masa Romawi di bawah pimpinan Tiberius yang kuyu dan akhirnya si kejam Caligula, Douglas menggabarkan situasi politik keagamaan yang penuh konflik. Seorang Nazaret yang tidak memiliki senjata, pasukan, ambisi politik, ataupun wilayah kekuasaan, dianggap membahayakan bagi kekuasaan para iman dan menebar benih revolusi di tanah kaum-kaum tertindas. Mengamini Yesus adalah dosa di hadapan Kaisar. Namun, Marcellus terlanjut meyakini Yesus yang mencintai bebungaan, mengubah air menjadi anggur, memberikan suara bagi Miriam yang lumpuh. Ia menyimak Yesus yang mencintai anak-anak dari sahabat Yustus.
Kelahiran Yesus telah mengabadi dalam cerita. Kita mungkin bisa mengingat pernyataan Maria Luisa Motaal Lozora di novel apik The High Mountains of Portugal (2017) garapan Yann Martell bahwa Yesus memilih hidup dalam cerita, bukan sejarah, Yesus hadir di dunia dengan kepastian menenangkan bahwa dia akan tetap bersama kita dan kita akan tetap bersamanya selama dia bisa menyentuh kita melalui cerita, selama dia meninggalkan sidik jarinya di imajinasi kita yang terpesona. Maka, dia tidak melaju dengan kudanya tetapi dengan tenang menunggang cerita. Penyaliban itu telah mematikan sekaligus menghidupkan Yesus di perigi religius, mewujud sebagai kasih dan segala tindak mahabaik yang hidup dalam setiap jiwa manusia. Kita, sekali lagi, merasuki Yesus dalam dedai cerita Douglas.

Setyaningsih

Setyaningsih, seorang esais dan peresensi bermukim di Boyolali. Menjadi tukang sapu paruh waktu di Bilik Literasi Solo. Mengelola edaran resensi Bukulah! Setya bisa dicari di maosbocah.wordpress.com atau surel langit_abjad@yahoo.com. Buku kumpulan esai pernah terbit berjudul Melulu Buku (2015) dan Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Menulis cerita anak Peri Buah-buahan Bekerja dihimpun di Kacamata Onde (2018).

Tags : Resensi Buku
Heri

The author Heri

Leave a Response