close
IMG_20180904_074708 (1)

gerbang para dewa

markah kekacaubalauan

syahwat

yang tak pernah manusia

lupakan

 

setelah petaka banjir mematikan itu

elohim berjanji takkan lagi bah

menghukum bumi

 

lalu sem

ham

yafet

 

ham melahirkan kush

kush melahirkan nimrod

pertama manusia terkuat di bumi

istrinya simeramus

jalan menuju neraka

 

700 tahun kemudian

ke negeri timur mereka pergi

di tanah Sinear

mari kita buat menara tinggi

surga kita sendiri

kata nimrod

 

satu bahasa mereka

membakar bata seperti batu

tanah liat sebagai perekat

di atas tanah datar segi empat

selama seratus tujuh tahun

mereka berpeluh keringat

mendirikan bata demi bata

dua puluh lima gerbang

seribu pintu

warna merah tua

hingga 2484 meter menjulang

 

namun di menara tinggi babel

hanya bertemu kediaman roh-roh jahat

persembunyian roh najis

tempat bercabul

sampai elohim turun dari surga

melipatgandakan lidah mereka

tak lagi satu

melainkan tujuh puluh dua

bahasa

 

15 untuk yafet

30 untuk ham

27 untuk sem

 

betapa kacau

betapa balau

syahwat itu

 

sudah rubuh babel

sudah rubuh babel

 

dan hari ini

jutaan tahun kemudian

kami kerasukan roh

gerbang para dewa

markah kekacaubalauan

 

kami membangun kembali

babel

si menara tinggi

dengan kebiasaan kami

ritual kami

bahasa kami

agama kami

demi kami

kami

 

betapa kacau

betapa balau

syahwat itu

 

dan di tepi-tepi sungaimu, babel

kami hanya duduk dan menangis

bila mengingat Zion

 

 

itasiregar/18/8/18

 

*puisi ini dibuat untuk lukisan Setiyoko Hadi yang diberi judul Yang Diserakkan. Perupa merasa menara Babel sebagai simbol dari kemampuan manusia purba untuk melawan Tuhan, yang tetap relevan sepanjang masa. Telepon sebagai simbol dari sebuah komunikasi dua arah. Posisi gagang yang terjatuh di lantai mengisyaratkan putusnya sebuah komunikasi. Kemampuan manusia membangun menara yang menjulang sampai ke langit digambarkan susunan bata yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Tidak digambar sesuatu yang kokoh melainkan seperti sesuatu yang mudah runtuh. Yang diserakkan adalah cara Tuhan menyadarkan akan keberadaannya di hadapan kekuatan Tuhan

 

Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response