close
Di Ambang Batas 2018

Teks Alan Darmasaputra*

Gambar Diambang Batas (2018) karya Surajiya

 

Bahagia itu tidak penting. Masalahnya, kita tak tahu apa yang kita mau. Yang bikin bahagia bukan karena kita mendapat apa yang kita mau. Tetapi karena memimpikannya. Bahagia itu bagi para oportunis. Kepuasan hidup yang mendalam adalah hidup yang senantiasa bergumul, terutama dengan diri sendiri. Jadi mau bahagia terus, tetaplah bodoh.” – Slavoj Žižek dalam The Puppet and The Dwarf

Pada 2013, grup band metal Dream Theater asal Amerika, sudah menulis lagu The Enemy Inside. Liriknya menggambarkan pergulatan seseorang menghadapi pengalaman pasca trauma, menghadapi musuh imajiner yang tak lain adalah diri (dan imaji) sendiri. Lagu itu berlatar para veteran dan korban perang.

I’m running from the enemy inside/looking for the life I left behind/these suffocating memories are etched upon my mind/and I can’t escape from the enemy inside. (aku lari dari musuh dalam diriku/mencari hidupku yang lama/goresan kenangan yang menindas benakku/dan aku tak mampu kabur dari musuh di dalam diriku).

Mana lebih mengerikan: menghadapi obyek yang mustahil ditaklukkan atau ketidakjelasan obyek yang dihadapi?

Konon, masalah utama manusia jaman now adalah kecemasan. Kecemasan adalah musuh di dalam diri yang gagal diobyektifikasi. Kecemasan menghantui keseharian. Sejak boker pagi sampai berkeringat malam di kamar ber-AC. Ia nyelonong ketika kita ingin rileks. Sialnya, ketika kita berusaha menjelaskan keberadaannya, seketika ia lenyap.

Kecemasan adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak familier, tidak dapat dikendalikan. Pada sisi lain, manusia merindu kebaruan, terobosan, sesuatu yang lebih daripada hari ini.

Kita coba tengok ke belakang dari perspektif penciptaan. “Bumi belum berbentuk dan kosong (formless void; KJV); gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kejadian 1:2).

Ada dua hal menarik di sana. Pertama, penciptaan berangkat dari stabilitas (void) yang dirusak. Dalam prinsip sains, void dilukiskan sebagai kondisi atom yang berada dalam kondisi tidak aktif sepenuhnya. Diam dan stabil. Di tengah kestabilan itulah, penciptaan menerabas.

Kedua, penciptaan ditandai dengan Yang Ilahi menghampiri kekacauan (dilambangkan dengan air dalam tradisi Yahudi kuno). Artinya, yang melampaui dan baru tak jarang beriringan dengan sesuatu yang asing, acak, tak tertebak.

Kita melihat dua sisi penciptaan. Kestabilan yang dirusak dan kebaruan yang asing. Dari kacamata ini, alih-alih memandang ironi kecemasan, barangkali kita dapat melihatnya sebagai bagian dari citra Ilahi yang senantiasa merindu pembaruan, hasrat yang melampaui hari ini.

Hans Urs von Balthasar, seorang teolog Swiss, menyebut kecemasan didesain oleh Allah sebagai alarm yang mengingatkan kita pada realitas. Alih-alih berkubang pada mimpi-mimpi kosong bahwa segala sesuatu tunduk di bawah kuasa pikiran.

Pasca kejatuhan manusia pertama, kecemasan turut mengalami pergeseran makna. Dosa merusak berbagai relasi manusia (dengan Allah, sesama, diri sendiri). Juga berdampak pada cara manusia memandang keterbatasannya. Keterbatasan yang seharusnya mendorong manusia tertuju pada Allah, malah membuat manusia lari dan bersembunyi dari Allah, Sang Obyektif.

Jawaban manusia pada Kejadian 3:10 kepada Allah menggambarkannya dengan baik. “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Balthasar menggambarkan naluri pendosa untuk menyembunyikan rasa bersalah di balik tirai keterlupaan. Manusia tidak hanya ingin melupakan tetapi juga ingin dilupakan oleh Allah. Karena dosa, Allah menjadi sumber sekaligus obyek kecemasan itu sendiri.

Dalam Summa Theologia, Thomas Aquinas menyebut kecemasan sebagai gairah jiwa (passion of the soul). Gairah tidak dipandang optimistik seperti obrolan kafe anak-anak Jaksel. Namun semacam dorongan menggebu yang tak dapat dihindari. Menghadapi kecemasan, seseorang cenderung berputar-putar pada diri sendiri. Ia “menggelapkan” diri dalam ketakutan lalu mencipta imaji-imaji kosong.

Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis, menyebut imaji-imaji kosong sebagai fantasi fundamental. Fantasi fundamental adalah impian ganjil seseorang bahwa ia akan mendapat kepuasan melalui obyek hasrat, yang juga ganjil.

Aquinas menjelaskan kecemasan didasari oleh kejahatan yang tak dapat dihindari dan tak terduga (unforeseen irresistible evil). Dalam konteks hari ini barangkali dapat ditafsir sebagai perasaan tidak aman (insecurity).

Aspek paling menakutkan dari kecemasan bukan kecemasan itu sendiri. Rasa cemas bahkan “menghasut” kita untuk punya kendali atas segala hal. Bukankah itu menggambarkan kecemasan umum generasi milenial hari-hari ini? Kecemasan finansial, masa depan, pasangan hidup, berkeluarga, dan sebagainya. Kita ingin semua berjalan seperti yang kita mau. Meleset, rasa tidak aman menanti di ambang pintu.

Solusi umum kecemasan (baca: laku dijual) adalah berbahagia. Jargon-jargon “jangan lupa bahagia”, “bahagia itu sederhana”, jamak kita dengar. Kita diminta untuk menerima segala ketidakamanan hidup, mengalihkannya pada kesenangan-kesenangan kecil.

Tidak salah dengan me time, tentu saja. Tetapi kebahagiaan bukan lawan dari kecemasan, melainkan sebuah prakondisi. Kecemasan tak jarang hadir kala situasi sedang stabil, tidak ada tekanan, semua baik-baik saja.

Maka, lagi-lagi, apakah kita benar-benar tahu apa yang kita mau? Bagaimana kita yakin apa yang kita hasrati adalah keinginan kita sendiri? Jangan-jangan kita menghasrati sesuatu yang didiktekan secara tak sadar oleh lingkungan dan “kewajaran masyarakat” sekitar kita. Dalam keberdosaan, kita dikutuk untuk tidak benar-benar tahu apa yang kita mau.

Perjanjian Lama mengontraskan “kecemasan orang fasik” dan “kecemasan orang baik”. Kecemasan orang fasik tidak aman (insecure) pada obyek yang ganjil, bahkan imajiner. Allah berpesan, “Jangan takut.” Perkataan ini lebih sebuah perintah. Bukan hiburan. Perintah jangan takut satu paket dengan Perjanjian Allah.

Alasan yang mendasari umat Allah dilarang takut adalah Perjanjian Allah. Allah mengimanenkan diri-Nya melalui Perjanjian. Ketakutan yang imajiner tidak dihilangkan tetapi dialihkan pada takut akan Allah (Yesaya 8:12-13), melalui hukum-hukum-Nya.

Dalam kerangka ini kita memahami “kecemasan orang baik”. Mereka yang taat pada hukum Allah pun mengalami masa-masa ragu, takut pada lawan lebih besar, pada ketidakjelasan sebab penderitaan yang dialami. Kecemasan kudus mendorong seseorang untuk berseru memohon belas kasihan Allah.

Pada Perjanjian Baru, makna kecemasan dipertajam. Balthasar menyebutnya sebagai kecemasan Sang Penebus (anxiety of The Redeemer). Sebegitu penting kita (manusia) dan dunia bagi-Nya, maka Sang Putra mengambil rupa manusia, dan sepanjang hidup merasakan kecemasan dalam berbagai ratap-tangis dan keluh (Ibrani 5:7).

Bila kecemasan orang fasik dan kecemasan orang kudus membuat manusia sama-sama takut (baca: ingin menghindari) bertatap langsung dengan Allah sebagai kengerian tertinggi, maka Sang Anak Manusia sudah menghadapinya dengan langsung meminum cawan murka Allah.

Peristiwa salib mengubah drastis makna kecemasan. Dalam Kristus, kecemasan tidak lagi dinilai sebagai ekspresi keberjarakan kita dengan Allah. Sebaliknya, kecemasan mengambil bagian dalam penderitaan dan kecemasan Yesus. Dengan kesadaran bahwa kita dicintai sepenuh-penuhnya oleh Allah, insecurity digantikan ketenangan bahwa kita dibenarkan sekalipun nurani merongrong (1 Yoh 3:19-21).

Menurut Balthasar, mereka yang hidup dalam karya penebusan Kristus akan mengalami reorientasi kecemasan. Kecemasan yang tadinya berputar-putar pada diri sendiri, menutup diri, dan membuat imaji ketakutan, menjadi terarah ke luar. Ia menyebutnya kecemasan yang ditanggung (anxiety that is borne). Arti lainnya, kecemasan seorang Kristen selalu komunal sifatnya.

Kita memandang pernyataan ini dalam beberapa arti. Komunitas berperan sebagai tempat berbagi beban kecemasan atau kecemasan struktural. Bahwa kecemasan bukan masalah individual yang solusinya dikembalikan ke penderita. Namun sebagai kecemasan yang bersolidaritas.

*Penulis adalah pengasuh Diskusi Selasaan, sebuah diskusi teologi yang diadakan oleh Gereja Komunitas Anugerah setiap Selasa pukul 19.30 WIB di Jalan Guntur 15 Jakarta.

Tags : KecemasanTeologi Remeh Temeh
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response