close
hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

Tags : indonesiakekristenankristianilintas budayasastra
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response