close
wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

Tags : puisi
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response