close
gay-tangan

Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dengan sepenuh hati, siapakah saya berani menghakimi dia? –Paus Francis

Ingat Sodom, ingat homoseksual. Dua kata serupa iklan saking keduanya terbenam dalam ingatan yang bertradisi Protestan ini. Apakah Sodom identik dengan kejahatan homoseksual?

Mari kita memeriksa kota purba Sodom.

Sedikitnya kata Sodom disebut 21 kali di Alkitab. Kebanyakan teks menganalogikan Sodom dengan segala hal yang tidak mulia. Ulangan 32:32, anggur dari Sodom beracun dan pahit. Yeremia 23:14, yang berzinah dan berkelakuan tidak jujur. Yesaya 13: 19, seperti Babel –kacau-balau. Zefanya 2:9, akan menjadi tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Yudas 7, yang melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Yehezkiel 16: 49, kesalahan Sodom adalah kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Jadi, kota Sodom bukan melulu kejahatan homoseksual. Segala macam kejahatan, iya.

*

Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa). Bukan Adam dan Steve. Sebuah petunjuk bahwa sejak awal Allah menciptakan (pernikahan) laki-laki dan perempuan. Bukan laki-laki dan laki-laki.

Teks Kejadian 1:28,” Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, kerap dijadikan pijakan bahwa itu adalah perintah Allah (dalam pernikahan) agar manusia beranak-cucu.

Coba kita runut dari awal penciptaan.

Kejadian 1:27, berbunyi, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambarNya diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Kejadian Pasal 2. Di sini (seolah) terjadi pengulangan (penciptaan), namun hanya pada tiga  makhluk hidup, yaitu manusia, tumbuhan, binatang.

Berikut teks-teksnya:

Kejadian 2: 7, “Tuhan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2: 9, “Lalu Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi.”

Kejadian 2: 19, “Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.”

Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Berdasar urutan di atas, teks Kejadian 1:28 tidak mengisyaratkan agar manusia berkembang biak (melalui perkawinan laki-laki dan perempuan). Tetapi agar manusia menguasai dan mengelola dan memenuhi tanah/bumi. Ingat, Adam dan Hawa belum “dihidupkan” oleh Tuhan Allah.

Teks Kejadian 2:24, bukan sebuah perintah agar manusia laki-laki dan perempuan menikah namun lebih pada pernyataan tentang penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Artinya, manusia menikah atau melajang bukan hal yang dogmatis sifatnya. Itu keputusan pribadi manusia yang bersangkutan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan.

*

Pekan lalu saya mengikuti diskusi bertajuk Tuhan, Anakku LGBT, Apa yang Harus Kulakukan. Ini kali pertama saya berada di lingkungan ini, dalam arti memahami apa yang sedang terjadi di kalangan mereka, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang pertama.

Seorang muda Tionghoa, aktivis gereja, sejak belia sudah merasakan perbedaan dalam dirinya. Tidak berani membuka diri karena mengkhawatirkan perasaan orangtua. Lama menyimpan rahasia itu sendirian, memutuskan coming out (istilah mengaku identitas di kalangan LGBT) pada usia 25. Di luar dugaannya, respons orangtua hanya kaget pertama mendengar, setelah itu menerima keberadaannya. Ia membesarkan hati orangtua bahwa keadaan dirinya bukan karena kesalahan orangtua. Bahwa tidak ada yang berubah dalam relasi mereka setelah pengakuan ini. Selama ini ia menjalani selibasi dan merasa hubungannya baik-baik saja dengan Tuhan.

Samuel Mulia, kolumnis di koran harian, salah satu narasumber, berbagi pengalaman yang segar. Keluarganya cukup demokratis, bahkan ayahnya membebaskan dia melakukan apa yang dia inginkan, selama ia dapat bertanggung jawab dengan pilihannya. Ziarah perjalanan rohaninya dengan Tuhan sebagai gay, menghidupkan cerita, dan sungguh bermakna. Tidak ada yang salah hidup sebagai gay.

Pengalaman seorang ibu dengan anak transgender sungguh melelehkan hati yang beku. Ia dan suaminya –yang adalah penatua- luar biasa kaget saat mendengar salah satu anaknya coming out pada usia 17 tahun. Mereka sangat bingung bagaimana merespons ketika anaknya berkata bahwa dia sebenarnya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Lebih bingung karena tidak ada tempat berbagi. Keluarga besar tidak. Apalagi gereja. Sangat lega mendengarkan dia tetap dan masih dan akan mengasihi anaknya yang itu.

Seorang aktivis menyebut data bahwa LGBT di Indonesia adalah fenemona gunung es. Mereka yang coming out hanya pada posisi puncak. Jumlah terbanyak justru berada di bawah gunung, yang tidak terlihat.

Sayang sekali mendengar pernyataan seorang psikilog yang mengatakan bahwa di kalangan mereka pun belum sepakat dalam hal melayani LGBT. Padahal sebagai intelektual mereka diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan kalangan LGBT untuk saling memahami. Menyedihkan mendengar pengalaman seorang individu dengan orientasi homoseksual yang berada di ruang konsultasi, malah dinasihati untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkinkah ruang-ruang nyaman bagi LGBT diciptakan pada tingkat keluarga, sosial, Negara?

*

Dan baru saja saya mendapat lontaran pesan di dinding WA saya. Tulisan seorang ahli saraf. Judulnya provokatif, Mari kita basmi bersama (maksudnya LGBT). Dia menorehkan ingatan dengan segala informasi negatif tentang LGBT. Himbauan agar setiap keluarga mengamankan anggota keluarga dari dari serangan LGBT.

Tulisan itu memberi isyarat bahwa sebagian besar masyarakat dan gereja bersikap homofobik terhadap masalah ini. Pada beberapa kasus pada tingkat banal dan traumatik.

Homofobia adalah diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Bentuk yang muncul dari ketakutan adalah tindak kekerasan atau penolakan terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap LGBT kebanyakan didasarkan atas ketakutan karena kurangnya pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada mereka, tidak mau tahu dan langsung menghakimi. Mungkin ingatan mereka yang dimulai dari duo Sodom-homoseksual, perlu sedikit demi sedikit dikikis. Kitab suci berkata, di mana ada ketakutan, di situ kasih lenyap.

Pengarang Narnia, C.S. Lewis, menulis sesuatu yang indah tentang iman. Ia berujar bahwa iman adalah sebuah proses perjalanan hidup dan proses dialogis dengan Tuhan dan dengan diri sendiri. Keraguan adalah bagian dari iman. Mempertanyakan akan membuat kita mencari tahu, tidak berhenti di tempat. Iman sejatinya selalu bertumbuh.

Paus Francis, bapa suci umat Katolik, telah menyerukan agar kita tidak menyingkirkan mereka ke pinggiran. Kita seharusnya menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya pula kita menyambut seruan itu dengan sepenuh kemanusiaan kita.

Kalau Yesus pernah bertanya kepada Petrus yang tiga kali menyangkal, dengan tiga pertanyaan sama, apakah kamu mengasihi Aku, perlu berapa kali Yesus bertanya kepada kita pertanyaan sama, sampai kita menerima seorang dengan LGBT di tengah kita?  (itasiregar10/10/2018)

 

 

 

Tags : LGBTPaus Francissodomsodom-gomora
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response