close
Foto BBJ Kompas

Pada Kamis lalu (18/10/2018) telah diselenggarakan Diskusi Publik bertajuk Apa Sebenarnya Kebudayaan Indonesia?  Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, diskusi menghadirkan pembicara Taufik Abdullah, Mohamad Sobary, Erros Djarot, dan Radhar Panca Dahana. Diskusi selanjutnya akan diadakan bertema Ideologi, Kebangsaan, Konstitusi, Kenegaraan, hingga Temu Akbar 3 pada akhir November 2018.

Berikut ringkasan masing-masing narasumber.

Prof Dr. Taufik Abdullah

Secara rinci menguraikan pemetaan tentang fase-fase sejarah Indonesia di dalam masingmasing periode proses pembentukan Kebudayaan Indonesia berlangsung. Menurut sejarahwan senior tersebut, saat ini proses pembentukan Kebudayaan Indonesia sedang berada dalam situasi crisis of mutual trust, crisis of crisis management, dan the spiral of stupidity, dan krisis toleransi. Fase ini berlangsung setelah era polemik kebudayaan yang melahirkan dua kelompok besar cendikiawan Indonesia, yaitu kelompok pro barat dan pro timur. Bagi kelompok pro barat, eropa kiblat peradaban dunia, dan kalau kita ingin memiliki kebudayaan yang adiluhung, maka kita harus menghadapkan segala visi ke barat. Sementara kekompok pro timur, masih memercayai bahwa masih banyak yang bisa digali dari timur, dan tidak perlu menghadap ke barat. Singkatnya di masa itu, diskursus pemikiran memberi kontribusi pada proses pembentukan kebudayaan Indonesia. Persoalannya, saat ini Indonesia semakin jauh dari iklim diskursus pemikiran itu, dan justru bergerak menuju kedangkalan demi kedangkalan. Alih-alih merumuskan kembali Apa itu Kebudayaan Indonesia, kita semakin kehilangan arah, semakin tersesat dalam situasi yang mencemaskan bagi masa depan Indonesia.

Mohamad Sobary

Budayawan ini menggunakan satria dan pandita dalam khazanah pewayangan Jawa untuk menggambarkan seperti apa masyarakat Indonesia menatap masa depan. Satria adalah karakter yang memandang kegemilangan di masa depan, sementara pandita justru masa depan itu di belakang, atau di masa silam. Dari dua kategori tersebut, menurut Sobary, yang paling diperlukan dalam proses pembentukan kebudayaan adalah resistensi atau perlawanan yang terukur terhadap segala bentuk arus utama. Dengan begitu, kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang datang dari barat. Bagi Sobary, modal utama pembentukan kebudayaan Indonesia adalah resistensi yang tak henti-henti terhadap segala macam gagasan arus utama. Di titik itulah dapat ditentukan, apakah kita dapat survive dengan jati diri kultural atau justru terseret jauh ke dalam euforia eropasentrisme yang dianggap adiluhung itu.

Erros Djarot

Budayawan ini tidak secara eksplisit mendefinisikan Kebudayaan Indonesia, tapi menggunakan terminologi kehendak kebudayaan, untuk menjelaskan proses terbentuknya kebudayaan Indonesia. Menurut seniman film ini, kehendak kebudayaan itu sudah tercantum dalam mukaddimah pembukaan UUD 45 dengan prinsip-prinsip utama seperti antikolonial, antipenjajahan, dan negara berketuhanan. Kehendak kebudayaan tersebut, adalah sebuah indikator bahwa Kebudayaan Indonesia tersebut masih mungkin terbentuk, sepanjang diimplementasi dalam praktik-praktik kehidupan kewarganegaraan. Persaoalannya adalah, rumusan kehendak kebudayaan yang telah tertuang dalam dasar konstitusi tersebut, tidak berjalan sesuai dengan idealisasi yang ditanamkan oleh founding of the father. Dalam hal ini, Eros mempertanyakan siapa yang sungguh-sungguh mengamalkan butir-butir sila Pancasila hari ini? Pancasila hanya menjadi jargon di forum- forum formal-seremonial, dan tak tercermin dalam iklim demokrasi, apalagi dalam berbagai kebijakan staregis sebagai panduan kehidupan kewarganegaraan. Jadi sepanjang kehendak kebudayaan itu belum menjadi bagian yang inheren dalam kehidupan kewarganegaraan, maka wajah kebudayaan Indonesia yang didambakan itu tidak akan pernah terlihat.

Radhar Panca Dahana

Secara tegas budawayan cum teaterawan ini menggarisbahawi bahwa sejak dari kurun politik etis hingga era pemerintahan Jokowi, arah kebudayaan Indonesia sudah tersesat begitu jauh. Sebab, sejak jaman kolonial, Indonesia dibesarkan dalam keadaban Eropa kontinental, sementara masyarakat pra-Indonesia tumbuh dalam ekosistem kepulauan. Radhar menggunakan simbol gunung atau piramid untuk kebudayaan Eropa kontinental, dan simbol air atau pantai untuk kebudayaan maritim. Piramid adalah sebuah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya, sehingga perspektif mereka senantiasa berada dalam hierarki atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya. Sementara simbol air atau pantai, adalah tanda yang memperlakukan orang lain sama dengan kita. Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan orang pantai, prinsipnya adalah rata-rata air. Tidak ada satu kelompok pun yang boleh memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Di titik inilah muncul egalitarianisme sebagai tonggak utama terbentuknya masyarakat multikultural. Sejak dari fase perkembangan yang paling purba, masyarakat bahari sudah bercorak multikultural. Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan sebuah proposisi “Aku di dalam Kamu, Kamu di dalam Aku.”Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada di pangkuan keadaban kontinental. Maka, bagi Radhar, kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan bahari yang harus dijemput kembali. Ia mengajak kita untuk kembali ke pangkal jalan, agar tidak tersesat lebih jauh lagi.

 

Jakarta, 19 Oktober 2018

Damhuri Muhammad

Tags : baharidiskusi publikindonesiakebudayaan
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response