close
a horizon

1

Percakapan satu WAG pada satu subuh.

Seorang kawan kirim berita ke grup. Seorang pendeta ditangkap oleh KPK karena menyuap seorang bupati. Dalam seragam oranye, pendeta itu mengulum senyum.

Setelah dua menit, seorang kawan lain melempar tanggapan: “Dia (maksudnya si pendeta) orang baik dan low profile. Jemaatnya 7500 orang. Dia sering menghimbau di mimbar agar jemaat tidak bawa mobil ke gereja. Karena parkir penuh. Dia menyekolahkan banyak anak tak mampu.”

Yang lain menyambar, “Lha, pendeta ngapain nyuap bupati?”

“Proyek besar itu sudah diincar pemda sejak lama. Kalau tidak menyuap, tidak dikasih izin.”

“Pendeta kok kelakuannya gitu, sih? Bikin malu orang Kristen aja.”

Percakapan memanas. Orang yang baru bangun tidur ikut urun pendapat. Dalam tempo kurang dari tiga puluh menit, seseorang merasa terpojok. Kesal dikeroyok, tanpa ba-bi-bu, dia pun ke kiri. Pergi.

Dan pagi datang ketika WAG kembali sunyi.

2

Saya tidak tertarik percakapan. Apalagi ingin tahu soal si pendeta. Tetapi persis tek-tok terjadi, saya tengah membaca buku Kekristenan: Gerakan Universal. Dari Kekristenan Bahari Sampai Tahun 1453 oleh Dale T. Irvin dan Scott W Sunquist (2004).  Membaca buku itu dan melihat peristiwa di WAG yang sekejab terjadi, sekilat benang merah menyata dalam pikiran.

3

Kristen bahari adalah istilah baru buat saya. Lebih sering saya mendengar Kristen perdana. Atau jemaat mula-mula.

Kristen bahari merujuk pada masa setelah kebangkitan Yesus (30 SM). Murid-murid meneruskan ajaran Yesus, guru mereka. Hal paling menarik adalah resistensi para pengikut Yesus terhadap budaya di sekitar mereka.

Israel kuno terletak di persimpangan berbagai kekaisaran dan peradaban. Sebelah Barat Laut Tengah ada tradisi Mesir, Etiopia, Yunani, Yahudi, Mesopotamia, Persia dan Latin. Sebelah timur ada kekaisaran Persia, Mesopotamia, Iran dan India. Agama dominan di Persia adalah Zoroastrianisme.

Sebelah timur dan selatan Persia dan India melintas wilayah-wilayah Asia Tenggara. Di seberang ujung timur ada pegunungan Himalaya dan daratan tinggi Tibet, di mana kekaisaran Cina berdiri. Kelak Konfusianisme dianut sebagai basis ideologi-politik-religius yang koheren dengan bahasa dan budaya bangsa Cina, yang mempersatukan kekaisaran.

Bangsa-bangsa kecil muncul dan mati. Agar bertahan masing-masing berupaya memperluas kendali politik atas berbagai negeri. Penduduk biasanya di bawah komando satu kelompok kecil kaum elite. Pemimpinnya seorang laki-laki militer.

Pola suksesi politik abad pertama adalah kekuasaan yang dilimpahkan dari ayah ke anak laki-laki. Kecuali Romawi, mereka memilih kaisar dari kalangan militer yang tidak selalu diwariskan dari kaisar sebelumnya.

Para ujung tombak komunikasi adalah para saudagar. Mereka lebih dahulu pergi membangun kontak-kontak lintas budaya dan bangsa. Jalur-jalur niaga yang paling penting di antaranya adalah Jalur Sutra (Silk of Road). Jalur ini membentang dari Tembok Besar Cina hingga ke India, sejumlah kerajaan di Asia Tengah, Persia sampai Armenia dan Suriah. Jalur inilah melting pot berbagai bahasa dan kebudayaan.

Begitulah bangsa Yahudi digempur dengan pengaruh banyak kekaisaran dan agama dan kebudayaan, selama berabad-abad. Jejak bangsa-bangsa lain pada taraf tertentu ditemukan dalam Yudaisme abad pertama.

Setelah masa pembuangan (ke Babilonia), orang Israel tetap setia pada iman monoteistik yang ketat. Mereka menyembah Allah yang Esa, yang mewahyukan Taurat kepada Musa, yang memerintah Salomo membangun Kanisah atau Bait Allah.

Pada masa sebelum dan sesudah Yesus lahir, sudah ada mazhab-mazhab. Dua kelompok yang menonjol adalah Saduki dan Farisi. Kaum Saduki yang lebih konservatif,  tidak percaya kebangkitan orang mati. Orang Farisi cukup toleran dengan Yesus dan ajarannya (ingat Nikodemus, guru besar mereka, yang menyelinap malam hari untuk bertemu Yesus). Orang Farisi bertentangan dengan ajaran Yesus dalam hal persepuluhan, ketaatan pada aturan Sabat, perjamuan dan rupa-rupa yang menyangkut kesalehan hidup sehari-hari.

Kekaisaran Romawi sendiri memperlihatkan sikap tenggang rasa menyangkut keragaman dalam hal adat istiadat dan keyakinan agama. Kadang kala kaisar yang berkuasa meminta warga untuk menaati segi-segi kultur kekaisaran Roma, yaitu menyembah dewa-dewi resmi mereka. Tuntutan itu diperlunak bagi orang Yahudi, sebagai penghormatan terhadap larangan agama mereka untuk beribadah kepada ilah-ilah lain.

Pada praktiknya, orang Yahudi menjadi sasaran umum dari berbagai satir yang dipentaskan dalam seni mereka. Di amfiteater misalnya, para aktor menertawakan ketaatan orang Yahudi pada aturan-aturan Sabat. Atau penolakan terhadap makanan daging yang dianggap najis. Jati diri yang terpisah itulah yang sering menjerumuskan orang Yahudi dalam tindak penganiayaan lokal.

Dari pihak orang Yahudi sendiri ada yang bersikap longgar terhadap larangan-larangan budayanya. Mereka ikut bertanding atletik. Padahal, dalam dunia Yunani-Romawi, laki-laki yang turut berlaga tidak mengenakan busana apa pun. Jadi mereka yang paling gampang dikenali karena memiliki tanda sunat.

 

3

Demikian juga Yesus. Sejak masa kecil ia tidak terlepas dari rupa-rupa pengaruh yang melampaui tradisi iman Israel. Dalam Matius 2, para majus –kelompok imam Zoroaster- dengan dibentarai oleh satu bintang, menyaksikan kelahiran Yesus. Matius melaporkan penguasa Romawi saat itu, Herodes, pernah bersekongkol membunuh bayi Yesus, namun oleh orangtuanya dibawa ke Mesir, di Afrika.

Pada usia sekitar 30 tahun, Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sepupunya dari pihak ibu. Ketika memulai pelayanan, ia mengumpulkan murid-murid. Reputasi-Nya segera tersebar. Ia dikenal sebagai penyembuh dan pengusir roh-roh jahat. Warga mendiskusikan konten khotbah-khotbahnya. Beragam kelas dan golongan menanggapi amanatnya, tanpa kecuali.

Pada masanya, Yesus menentang praktik ritual yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia mengajak penduduk untuk mulai hidup dalam pola kekeluargaan baru yang berciri nonpartriarkat. Ia makan semeja dengan orang dari berbagai kelas sosial dan para penyandang najis secara ritual. Mereka yang dianggap berdosa oleh pengajar Taurat.

Ringkasnya, Yesus dan para pengikutnya merobohkan sekat-sekat sosial masa itu.

4

Mengaitkan histori di atas, baru-baru ini telah dilaksanakan sebuah diskusi kebudayaan. Dalam diskusi, budayawan Radhar Panca Dahana, mencatat masyarakat Nusantara yang telah hidup dalam ekosistem kepulauan. Beragam etnik dan kepercayaan agama dan bahasa, saling berkelindan. Simbol air atau pantai yang merupakan adab bahari, memperlakukan orang lain sama dengan dirinya.

Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan pantai, tak satu kelompok memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Dari pantai, sejauh mata memandang hanyalah horison. Pada titik inilah egalitarianisme sebagai tonggak utama masyarakat multicultural, terbentuk.

Sementara itu sejak jaman kolonial, Indonesia diasuh dalam adab Eropa yang bersifat kontinental. Kebudayaan kontinental ditandai dengan simbol gunung atau piramid. Piramid adalah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya. Perspektif  yang senantiasa dalam hierarki: atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya.

Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan proposisi “aku di dalam kamu, kamu di dalam aku”, untuk menjelaskan adab kebaharian. Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada dalam keadaban kontinental.

 

5

Balik ke tulisan awal. Warga WAG yang tidak berhasil memufakatkan sebuah sikap terhadap pendeta yang melakukan suap agar memperoleh izin, dibanding gaya hidup Kristen bahari yang memiliki kecenderungan ekspansionis tanpa kekuasaan duniawi, apakah kita dapat menyimpulkan, bahwa adab kontinental telah koheren dalam keseharian komunitas kristiani? (Ita Siregar/22/10/18)

Tags : baharibudayakristen
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response