close
sekolah minggu oleh daniel nugroho

Awal kepengarangan saya mungkin dimulai dari Sekolah Minggu (SM) di gereja. Di sinilah pertama kali saya berpengalaman sebagai pendengar. Dari cerita-cerita Kitab Suci yang dahsyat.

SM biasanya pagi hari Minggu. Maka hari libur itu adalah hari sibuk bagi keluarga Kristen. Bangun tidur, mandi, sarapan, buru-buru ke sekolah minggu.

Saya tidak ingat umur berapa pertama kali diantar ke SM. Dalam ingatan, SM adalah kegiatan sosial masa kecil yang mengasyikkan. Saya bengong ketika kakak pengasuh memberitahu bahwa kado seharusnya barang baru, ketika saya bawa tempat pensil bekas untuk teman yang berulang tahun. Pernah saya dites untuk menyanyi suara dua, malah menaikkan volume suara dua kali lebih keras. Setelah dewasa saya geli sendiri, paham kenapa si kakak langsung menarik wajahnya dari wajah saya, waktu itu.

Di mana pun kita bergereja di dunia ini, pasti ada layanan sekolah minggu. Menjadi anggota baru di gereja, anak akan ditanya usia. Berdasarkan usia itulah ia dimasukkan ke kelas tertentu. Tidak banyak. Mungkin 6-7 anak. Atau 10 anak. Bila terlalu banyak anggota, kelas akan dibagi dua.

Semasa saya kecil, SM terdiri dari Kelas Kecil, Kelas Tanggung, Kelas Besar. Ketika usia bertambah, maka anak akan dipindah dari Kelas Kecil ke Kelas Tanggung. Begitu seterusnya. Sampai ia tidak lagi berada di kelas SM. Karena sudah dewasa. Dalam tradisi gereja Baptis, SM masih ada sampai dewasa.

Naik kelas bukan berdasarkan kemampuan. Tapi berdasarkan umur. Kecuali ada hal-hal khusus. Dulu saya di Kelas Besar, ada kawan yang dari fisiknya seperti murid SMA. Ketika dewasa saya paham bahwa kawan itu menderita penyakit ayan. Pada waktu-waktu tertentu dia akan terjatuh dari kursi, tergeletak di lantai, mulutnya mengeluarkan busa.

Anak yang usianya 12 tahun, akan dimasukkan ke Kelas Remaja. Di sini kegiatannya lebih serius. Anak-anak diminta membaca Alkitab masing-masing, menghapal satu ayat, dan lain-lain.

Kegiatan di dalam kelas SM itu sederhana. Menyanyi, bermain, mendengarkan cerita. Kakak pengasuh bertugas berdoa.

Kakak pengasuh biasanya akan mengerjakan semua. Agar kelas SM-nya sejahtera. Kalau ada anak mau pipis, si kakak akan mengantar ke toilet. Kalau anak ngompol, kakak pengasuh akan membersihkan bekas pipis. Kalau anak menangis, kakak pengasuh akan melakukan apa saja agar tangisan reda. Kalau ada dua anak berkelahi, si kakak melerai, mengingatkan pesan-pesan moral kristiani ke dalamnya.

Lagu-lagu SM zaman dulu masih teringat sampai sekarang. Dan masih dinyanyikan oleh anak-anak SM zaman now. Lagu Nabi Nuh dan Istrinya, Ada Dua Jalan, Aku Anak Raja, Anak Sekolah Minggu, Kingkong Badannya Besar, Bapa Abraham, Hari Ini Harinya Tuhan, Zakeus Orang Pendek, Bila Bunyi Sangkakala, Burung Pipit yang Kecil, Dari Terbit Matahari, Dalam Tuhan Kita Bersaudara, Dengar Dia Panggil, dan lain-lain. Lengkap dengan gerakannya.

Alat musik menjadi hal penting lain di kelas SM. Itu bikin kelas bersemangat. Jadi minimal ada dua kakak pengasuh yang bertugas di kelas SM. Satu bertugas memimpin doa dan bercerita, satu lagi pemain musik. Alat musik yang dimainkan antara organ, tamborin, akordion atau piano. Minimal gitar atau okulele sudah pasti. Jarang kelas SM tidak ada musik.

Kakak-kakak pengasuh SM luar biasa baiknya. Mereka kreatif dengan sendirinya. Memutar otak agar kelas mengesankan buat anak-anak kecil. Agar minggu depan mereka muncul lagi di kelas. Maklumlah. Anak-anak kecil itu paling lama berkonsentrasi 5 menit.

Pada saat-saat tertentu kakak-kakak pengasuh membawa hadiah-hadiah kecil seperti permen, cokelat, pulpen, pensil. Siapa yang berani menyanyi di depan teman-teman, diberi hadiah. Siapa yang dapat menjawab pertanyaan kakak pengasuh, diberi hadiah. Siapa yang duduk manis tidak mengganggu teman selama di kelas, dipuji dan diberi hadiah.

Kejutan-kejutan kecil itu merupakan daya tarik bagi anak untuk datang dan datang lagi ke SM. Biasanya hadiah-hadiah dibeli dari kocek kakak pengasuh. Memang ada gereja yang mengkhususkan dana untuk itu. Hadiah yang paling sering zaman saya kecil antara lain bonbon atau tempat pensil.

Selesai waktu bernyanyi, tibalah waktu mendengarkan Firman Tuhan. Maksudnya, cerita. Cerita-cerita yang diambil dari Kitab Suci dan diolah sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi dan dimengerti oleh pikiran anak. Dengan suara buatan, mimik dan gerak atraktif, diselipi guyonan khas anak, cerita akan berakhir sukses. Jangan sekali-sekali membacakan cerita dengan nada lempeng. Dalam dua detik saja anak-anak sudah bosan.

Kisah Adam dan Hawa. Pohon Pengetahuan Baik dan Benar. Bapa Abraham mempersembahkan Ishak. Daniel di Gua Singa. Sadrakh-Mesakh-Abednego di Dapur Api. Raja Daud. Salomo. Ratu Ester. Beragam kisah Yesus –Natal, Paskah, naik ke Surga. Lima Roti Dua Ikan sisa dua belas bakul. Zakeus Si Pemungut Cukai. Petrus dan Kokok Ayam 3 Kali.

Cerita-cerita itu dahsyat menurut saya. Cerita yang membuka cakrawala saya tentang dunia di luar keseharian saya. Tadinya saya pikir cerita-cerita itu karangan kakak pengasuh. Kelak saya sudah kuliah dan menjadi kakak pengasuh sekolah minggu, paham betapa mempersiapkan cerita yang bagus itu tidak gampang.

Saya takkan lupa ketika sesama pengasuh sekolah minggu berusaha melucu di depan anak-anak. Dahinya sudah berkeringat sementara anak-anak di kelasnya menonton dengan mulut terbuka. Tak paham. Di mana lucunya, mungkin begitu pikir mereka.

Obrolan-obrolan santai di warung dengan sesama pengasuh. Membicarakan tingkah-polah anak-anak di kelas. Menertawakan kebodohan-kebodohan diri ketika mengajar di kelas.

Sekarang ini kelas SM lebih canggih. Alat bantu lebih beragam. Ada panggung boneka, anak-anak bermain peran, rekreasi dan lain-lain. Gereja pun punya kurikulum  masing-masing. Begitulah cerita sekitar sekolah minggu.

Ngomong-ngomong soal RUU yang sedang hangat dibincang, bila rancangan itu berhasil diundangkan, maka cerita saya di atas takkan ada lagi. Pasalnya, setiap minggu kakak pengasuh sibuk menghitung jumlah 15 anak sebelum kelas SM dibuka. Penatua gereja sibuk bolak-balik ke Kantor Kementerian Agama/Kota untuk mendapat izin kurikulum SM. Kelas-kelas ditunda. Kakak-kakak pengasuh menunggu. Anak-anak termangu. Keburu waktu meninggalkan segala kesempatan menikmati satu dunia kecil ceria di gereja, bernama Sekolah Minggu.

Semoga para anggota dewan terhormat paham. (itasiregar/27/10/18)

 

*Gambar diambil dari danielnugroho.com

Tags : anakgerejaRUUsekolah minggu
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response