close
Komisi Ideologi

Pokok-pokok Pikiran Sidang Komisi Ideologi

  1. Ideologi Pancasila dibutuhkan untuk mengatasi problem kenegaraan dan kebangsaan, yang terkait dengan keberadaan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan saripati dari nilai bersama dalam masyarakat Indonesia. Butir-butirnya diuraikan dalam living values/ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Keragaman yang tak terbatas ini memerlukan ideologi untuk menyatukannya. Untuk itu, Pancasila perlu dimaknai dengan menguatkan aspek kosmologis dan kultural. Pancasila bukan sesuatu yang asing karena digali dari masyarakat kita. Kesatuan perlu dipahami bukan sebagai penyeragaman, tapi keterhubungan. Sebagai ideologi formal, Pancasila sudah “selesai”. Yang belum selesai adalah pemaknaannya. Seperti dalam masyarakat Bali yang memiliki hukum formal adat, Tri Hita Karana[1], tidak dapat diutak-atik. Tapi pada tingkat perarem, hal ini dapat dibicarakan dan direvisi kembali. Proyek kita sekarang adalah Pancasila ideologi lintas generasi dalam bangsa kita.
  2. Ideologi berarti gagasan-gagasan besar untuk membangun masyarakat. Membangun merupakan sesuatu yang abstrak tapi riil, mempengaruhi dan mengonstruksi cara hidup dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Saat ini ditemukan kesenjangan antara kesepakatan final terhadap Pancasila sebagai ideologi dengan penerapannya di dalam masyarakat. Kita perlu pembudayaan atau internalisasi nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini pada jiwa memiliki masyarakat terhadap Pancasila.
  3. Tantangan-tantangan yang dimaksud di atas adalah kecenderungan untuk mempertentangkan kesetiaan terhadap agama dan negara, monopoli interpretasi terhadap Pancasila, dan sakralisasi Pancasila. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu pendidikan kewarganegaraan/ civic education untuk menginternalisasi Pancasila sebagai representasi ideologi yang integratif dan inklusif melalui strategi partisipatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
  4. Pancasila merupakan nilai-nilai universal yang perlu diperkenalkan kepada dunia global.

[1] Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan) yaitu prinsip-prinsip universal berupa memiliki hubungan baik dengan Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Jakarta, 24 November 2018

Pimpinan Sidang Komisi Ideologi

Marko Mahin

 

Tags : Mufakat Budaya IndonesiaSidang Komisi IdeologiTemu Akbar 3
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response