close
Foto NH DIni lama

Membaca Nh Dini (1936-2018)

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Catatan ini tidak bulat genap. Beberapa buku Nh Dini yang belum kubaca, tetap tak terbaca karena kurang kesempatan. Ada satu buku yang ingin benar kubaca ulang, yaitu Pada Sebuah Kapal. Karya ini sebagai pembuka mata perihal menjadi perempuan dan pilihan. Namun peristiwa membaca cukup lama dan lupa detail cerita.

Alasan ingin membaca ulang karena belakangan dalam buku terbaru Dini, Dari Fontenay ke Magallianes, muncul tokoh ‘kaptenku’ dan aku tergelitik mengetahui rahasia kecil, apakah tokoh itu sama dengan ‘kapten kapal’ di novel Pada Sebuah Kapal. Memang Dini pernah menulis bahwa ‘tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan’ (Dua Dunia, ix).

Aku telepon Endah, siapa tahu ia mengoleksi buku tersebut di lemari bukunya. Tapi sayang seribu sayang, tidak ada. Dia mengusulkan ke Jose Rizal TIM, tapi tak sempat mengubek toko padat buku itu. Ketika milis Apresiasi Sastra meluncurkan program menulis tokoh penulis untuk diskusi dua pekanan, nama Nh Dini segera memenuhi kepalaku. Sudah lama rasanya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang pengarang ini.

Karya-karya Nh Dini kukagumi sejak lama. Dia menulis yang hampir semua tentang diri dan hidupnya tanpa beban dan pretensi. Sikap dan keberaniannya dalam menulis mengesankan dan penting buatku. Beberapa teman berkomentar serupa, Dini hebat karena mampu membeberkan permasalahan yang masih tabu di masyarakat serta kebanyakan melukiskan tokoh perempuan bukan sebagai makhluk lemah.

Juga sebelum melahirkan tulisan ini, aku ingin sekali ketemu beliau langsung di Yogya. Hanya sekadar silaturahmi. Sebuah pertemuan fisik selalu memberiku warna lain dalam menulis dan membayangkan. Seperti ketika tidak sengaja ketemu Pak Budi Darma di Festival Ubud 2005, yang kubayangkan penulis Olenka, Orang-orang Bloomington, adalah manusia usil dan mungkin menyebalkan. Ternyata tidak betul sama sekali. Tapi juga tidak bisa membayangkan bagaimana kesanku bila bertemu Nh Dini langsung. Mas Sigit Susanto sudah mengirimi peta kenangannya bertetangga rumah Sekayu, tempat tinggal masa kecil Nh Dini. Aku meminta tolong Mas Putu Fajar Arcana untuk ancer-ancer lokasi. Endah semangat akan menemani ke Yogya. Sementara tugas-tugas kantor dan pribadi tak berkurang menuntut perhatian, menipiskan waktu bahkan mengirim tulisan ini dalam keadaan terlambat. Jadi, kawan, begitu historisnya. Maafkan kekuranggigihanku menghayati semua buku Dini dan terimalah catatan ini dengan sukacita. Satu kali aku mesti melengkapinya, sedikitnya buat kukonsumsi sendiri.

Mengenal Nh Dini lewat Karya-karyanya

Baginya hidup adalah menyelesaikan tugas-tugas hidup dan menuliskannya. Membaca buku-buku Nh Dini adalah membaca sebuah kehidupan dari masa ke asa. Hampir sepanjang hidup ia menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa. okoh-tokoh dalam bukunya lebih banyak bertipe the girl next door. Begitu ekat dengan kita, begitu nyata. Tidak muluk-muluk.

Sebagai penulis ia telah melakukan tugas dengan baik, konsisten, tidak bolong-bolong, tidak banyak bicara. Ia memiliki daya tahan mengagumkan. Ia telah menemukan estetikanya sendiri dalam menulis. Seandainya anggota pasukan, maka ia akan termasuk yang khusus, karena berlatih tekun, militan, memutuskan satu tindakan tepat dan cepat. Dalam satu percakapan lewat email, JJ Kusni berkata bahwa Les Miserables karya Victor Hugo (1802-1885), pemimpin Gerakan Romantisme Perancis, merupakan tonggak penting sejarah bangsa Prancis. Buku itu menjadi bacaan wajib di sekolah menengah di Prancis hingga kini. Oka Rusmini, penulis perempuan asal Bali, telah juga mengupayakan agar bukunya, Tarian Bumi (2000), menjadi buku bacaan wajib pelajar SMA. Beberapa alasan mendasari hal tersebut. Salah satunya pendapat Majalah Horison Juli 2001, yang membandingkan novel Tarian Bumi dengan ujaran novelis Inggris Graham Greene yang merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis RK Narayan.

Buku-buku Nh Dini bahkan memiliki keistimewaan, ia mencatat berbagai peristiwa secara detail, sehingga ketika ia menulis satu buku, cerita dalam buku itu berasal dari catatan yang akurat dan lengkap, seperti peristiwa sejarah dari masa ke masa hidup Dini. Catatan harian Dini masih tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Metode sama telah dilakukan BJ Habibie, mantan Presiden kita, menulis buku Detik-detik yang Menentukan (2006) berdasarkan catatan peristiwa penting di awal pemerintahannya, tidak mengandalkan ingatan.

Dini menggambarkan keadaan umum yang terjadi sehari-hari di keluarga, lingkungan, keadaan sosial dan finansial masyarakat, kehidupan serta perkembangan seni, transportasi, jenis makanan. Secara tak langsung Dini melukiskan mental manusia Jawa hidup di masa itu. Menarik mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat berpikir dan bertindak.

Karena cerita-cerita cukup detail dan cenderung datar, risiko respons pembaca amat mungkin seperti yang diakui Sigit Susanto, bahwa ia lebih sering mengantuk membaca buku Nh Dini. Tapi buku-buku Dini menjadi serupa referensi yang tidak terhindarkan. Sungguh semarak bila penulis (daerah) Indonesia melukiskan keadaan manusia, masyarakat, masalah sosial lokal daerah masing-masing dalam bukunya. Perempuan penulis asal India, Arundhati Roy, menulis hal detail satu keluarga di Kerala dengan setting tahun 1960-an dalam buku The Gods of Small Things. Jhumpa Lahiri, menulis The Namesake yang menampilkan detail peristiwa dan konflik istiadat yang terjadi dalam satu keluarga, yang merupakan refleksi masyarakat pada masa itu serta mengekspresikan pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan. Antropolog Koentjaraningrat (alm) berpendapat pada hakikatnya fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena tersebut dapat dimunculkan kembali sehingga menjadi wacana baru dengan proses kreatif mengamati, menganalisis, menginterpretasikan, merefleksi, membayangkan, dan yang lain.

Budi Darma mengungkapkan bahwa sastra Indonesia tidak memiliki semangat besar feminisme. Menurutnya, dari sekian banyak karya perempuan pengarang, hanya Nh Dini yang secara terus menerus menyuarakannya. Karya-karya Dini sejak tahun 1950-an sampai akhir abad-20 diikat oleh aspirasi yang kurang lebih sama, yaitu memarahi laki-laki. Mungkin Dini tidak membayangkan hal itu dalam novel dan buku-buku kenangannya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanyalah menulis kenyataan hidup. Ia mengaku bahwa kegiatan mengarang, selain untuk menarik keuntungan kebendaan, ia menginginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikirannya sebagai wakil wanita pada umumnya (Sekayu, 76). Secara tegas ia berkata bahwa ia tidak mau disetir pihak tertentu untuk menulis sesuatu dengan data diselewengkan demi maksud komersil. Ia menelurkan karya-karyanya secara menyeluruh, takkan menyelesaikan karangannya sebelum ada rasa puas dihatinya. Bahkan, satu novel Dini yang dianggap penting, yaitu La Barka, proses pengumpulan data-data detail dilakukannya selama sepuluh tahun sementara untuk mengetiknya hanya diperlukan waktu satu bulan saja.

Masa kecil yang bermakna

Dari membaca satu dua bukunya, akan segera terasa karakter Dini yang ‘dingin’, tenang, adil, ramah, teguh, memiliki citra diri yang kuat, pemerhati kehidupan yang kritis, dan ‘rasa’ Jawa yang kental. Kepekaannya terhadap lingkungan dan karakter manusia-manusia di sekelilingnya bermula dari keluarganya.

Masa kecilnya istimewa dan menjadi dasar yang bermakna bagi kelanjutan hidup setelah masa itu. Ia menulis beberapa buku seri kenangan untuk setiap masa itu. Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan kisahnya dan keluarga ketika ia masih sangat muda dan belum sekolah. Sekayu adalah kisah sehari-hari peristiwa ia mulai SD, SMP, dan masa remaja berikut peristiwa-peristiwa yang melingkupi keluarga.

Dari buku-buku kenangan Dini terlukis gambaran fisiknya yang kecil, kulit agak gelap, cara berbicara pelad. Sewaktu keluarga mengunjungi kerabat di Solo, seorang sepupu Dini yang nyinyir, setiap kali mengolok-oloknya, berkata, ‘ah, kamu kecil, semakin hitam saja, dan kau semakin pelad’.

Menanggapi hal itu Dini hanya tertawa dan merasa bahwa sepupunya tidak memiliki hal lain yang membanggakan selain mengolok-olok orang. Ia tidak menimpali, membiarkan olok-olok itu masuk ke kuping kiri dan keluar ke kuping kanan. Citra dirinya terkembang baik.

Di kelas 6 SD dia sudah paham apa yang disukai, orang atau teman mana yang bisa cocok dengannya atau tidak. Ia sudah menentukan bahwa ia tidak menyukai abangnya karena alasan tidak sepaham (bukan karena salah salam). Di kelas 6 SD, dia bisa tahu apa yang disukai, orang-orang mana yang bisa dia sukai atau tidak. Bahkan sebenarnya di usia yang sangat muda itu ia turut memikirkan keuangan keluarga.

Waktu ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar, ia pergi ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Setiap hari ia harus berjalan bolak-balik melewati dua desa. Beberapa teman kelasnya mempunyai sepeda khusus perempuan. Sesekali ia ikut dibonceng. Tapi karena arah rumah tidak sama, lebih sering ia harus berpeluh meneruskan berjalan kaki sampai rumah. Sementara itu sepeda ayahnya menganggur, sepeda orang dewasa yang bahkan tidak dilirik oleh kedua abangnya. Dini kecil begitu memimpikan sepeda, tapi ia sangat memahami kondisi keuangan keluarga. Ketika ibunya menyarankan untuk mencoba belajar mengayuh sepeda ayahnya yang besar itu, ia segera setuju. Ia menerima nasihat ibunya bahwa kendaraan adalah alat untuk memudahkan hidupnya. Ia mulai berlatih mengayuh dengan bersusah payah. Setelah terampil ia ke sekolah dengan sepeda itu, tanpa menghiraukan apa kata orang. Pengaruh ibunya amat besar dalam memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan lain di luar rumah dan kota lain dan ia mulai bisa menilai perbedaan-perbedaan yang ada.

Dini kecil sudah tergabung dengan perkumpulan seni tari Eka Kapti. Ia membayar iuran secara teratur setiap bulan, mengikuti latihan, memperhatikan peran-peran yang dibawakan para tokohnya. Ia menerima ketika terkadang ia tidak kebagian peran karena suaranya terlalu kecil. Tapi kemudian kelak ia mendapat peran-peran yang cocok untuknya dalam pementasan-pementasan tari yang secara teratur digelar setiap tahun.

Lakon-lakon itu juga membuatnya peka dengan baik-buruk kehidupan dan sikap-sikap manusia dalam menanggapi hidupnya. Dalam hal berbahasa dan menulis, sudah terlihat sejak dia di SD. Guru bahasa Indonesianya memuji karangannya, tapi sedikit mengritik bahwa seharusnya ia menggunakan kata ‘khawatir’ daripada ‘kewatir’, yang adalah bahasa Jawa. Menanggapi hal itu, Dini menjawab dengan tegas bahwa kata khawatir berasal dari bahasa Arab. Itu sebabnya ia memilih untuk menggunakan kata kewatir, yang artinya sama namun diambil dari bahasa Jawa. Ia katakan bahwa bahasa lokal akan terasa lebih dekat dengan masyarakat daerah pemakai bahasa.

Dini remaja peka membaca gelagat teman-temannya. Bila ia tidak menyukai seseorang, ia akan bisa merasakan dan menentukan sendiri sikapnya. Ia akan mundur, tidak bertegur sapa dengan mesra, hanya bergaul sekedarnya saja. Tapi bila ia suka, ia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, berbicara apa saja dan sangat menghargai hubungan itu. Di masa remajanya ia pernah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia tidak bisa makan tidak bisa tidur. Tapi ketika kemudian ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia mundur secara teratur. Meskipun sedih ia memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Di usia 15 tahun, ia mulai menulis cerita atau naskah drama secara teratur ke RRI Semarang. Ketika pertama kali akan mengambil honor ke kantor itu, satu petugas RRI tidak percaya bahwa ialah penulisnya. Dini tidak tersinggung, hanya berkata bahwa apa tidak mungkin seorang yang kecil bisa menulis secara itu? Ketika petugas itu mengantar Dini pamit dan melihatnya mengambil sepeda besar untuk laki-laki, ia tidak berkomentar lagi. Pada masa kecil dan remajanya, ia sudah memikirkan banyak hal, baik keluarga, lingkungan, dan kegemarannya sendiri. Ia sudah mampu mengelola banyak konflik dalam memutuskan, menerima, menilai, memilih. Dan itu adalah sebuah keterampilan untuk menjadi mandiri.

Peristiwa dalam karya

Buku pertama Dini, Dua Dunia, merupakan kumpulan cerpen, terbit tahun 1956. Ia dicatat sebagai penulis dengan karya sastra angkatan 50-60-an. Menyusul setelah itu novel Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973. Karya ini dianggap sangat diperhitungkan oleh para pengamat sastra Indonesia. Pada tahun yang sama, Marga T. meluncurkan novel Karmila. Kritikus sastra A. Teew menjuluki karya-karya tersebut sebagai sastra pop, untuk membedakan tulisan mereka dengan sastra serius dan menggarisbawahi kelarisan (dan ketidakseriusan) karya. Tak lama setelah itu, tahun 1975, Raumanen, novel Marianne Katoppo yang memenangkan Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta, diterbitkan. Jejak ini diikuti banyak pengarang lain, di antaranya Aryanti, Ike Soepomo, La Rose, Maria A. Sardjono, Mira W., Titie Said,, Veronika, Yati Maryati Wiharja, juga Selasih, Rahma Asa, Nina Pane, Lili Munir, seiring dengan munculnya majalah wanita dengan oplah besar di sekitar tahun 70-an.

Sekitar tahun itu perekonomian Indonesia mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat dan muncul permintaan baru, termasuk koran, majalah, buku. Kantor penerbitan dan media massa mulai berkembang. Sejumlah besar majalah mingguan atau bulanan yang di antaranya ditujukan bagi pembaca perempuan. Perbaikan ekonomi merupakan sebuah prasyarat untuk membangun lingkungan yang mau menerima sastra dan seni, papar seorang. Sastra populer harus diakui telah mempunyai pengaruh yang lebih luas pada pembaca, dan membantu meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia karena jumlah pembaca yang besar.

Sementara itu menurut Budi Darma, sastra Indonesia juga penuh dengan sastra kabur. Ada puisi gelap, novel antihero dan anti plot, drama yang tidak jelas, dan lain-lain, mulai bangkit tahun 1970-an dan masih berlanjut hingga kini. Mengapa sastra kabur memukau, apakah mempunyai dimensi masa depan yang baik ataukah hanya sesaat, menurut Budi, jawabannya bisa banyak.

Namun nama Nh Dini adalah satu dari sedikit pengarang perempuan yang penting di negeri ini. Karya-karyanya dianggap sangat reprensentatif bagi banyak persoalan wanita yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Putu Wijaya berkomentar ‘kebawelan yang panjang’ untuk menyebut Dini sebagai pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif.

Dini memilih kalimat-kalimat sederhana untuk menggambarnya satu peristiwa. Mudah menebak arah simpatinya. Satu hari, kakaknya, Maryam, menikah. Waktu upacara pidakan, yaitu kaki pengantin lelaki menginjak telur lalu kakinya dibasuh pengantin wanita, Dini tidak merasa terharu dengan simbol seorang istri melayani suami itu. Waktu itu hatinya malah merana melihat telur dibuang-buang hanya digunakan sebagai perlambang (Sekayu, 174). Ia menulis berbagai peristiwa dengan latar belakang kesulitan ekonomi yang merata di mana-mana. Ia menampilkan sistem transportasi buruk. Naik bis untel-untelan, penumpang seperti ikan tongkol dipaksa masuk lebih banyak, juga masalah kereta api. Hingga kini, lukisan tersebut masih tetap abadi, bahkan mungkin lebih buruk dengan banyaknya kecelakaan yang mengiringinya di akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Sungguh ironis tapi itulah yang terjadi.

Dini menata kalimat-kalimatnya dengan cermat, tak terburu-buru, tekun, runut. Ia memperhitungkan kata-katanya. Ia sudah berbahasa dengan baik, bahkan sejak awal ia memulai debut menulis dan mendapat keuntungan dari sana, dimulai di masa SMP. Ia menyukai proses dalam menulis. Baginya, hal yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, ia tulis dulu di catatannya dengan tulis tangan.

Hal itu juga karena ia suka merenung, menganalisa kembali dan lebih mengutamakan kepuasannya dalam menyelesaikan tulisan. Satu cerita pendeknya yang panjang, Istri Konsul (2000) terasa berbeda dengan karya Dini lain yang terasa lebih longgar dan jelas. Di sini Dini merangkai kata dan kalimatnya secara rapat dan cepat. Bila dilihat dari rentang masa dan konflik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, Dini bisa membuatnya menjadi satu novel. Lompatan-lompatan plot yang dilakukannya tidak seperti kebiasaannya yang detail.

Hampir semua masa dalam kehidupan Dini tercatat dalam buku-bukunya. Tapi masa ketika ia menjadi pramugari Garuda, yang cukup lama, yaitu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960, tidak tampak dalam buku-bukunya atau saya belum menemukannya.

Perempuan dan seks dalam karya

Dini setiap kali menampilkan nama perempuan dalam tokoh-tokoh di novelnya. Seorang pengamat mengatakan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan lebih merupakan manusia perempuan dan bukan sekadar konsep mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Dalam satu tulisan Sapardi Djoko Damono, tokoh perempuan yang ‘diciptakan’ oleh laki-laki lebih merupakan konsep, yakni apa yang oleh laki-laki dianggap sebagai ‘perempuan.

Dra Sariyadi Nadjamuddin-Tome, MS, dosen FBS Unima Tondano meneliti dan membuat makalah tentang permasalahan wanita dalam novel Nh Dini, La Barka. Isu wanita di buku ini terutama berkaitan dengan pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, tindak deviasi, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Permasalahan yang ditampilkan dianggap memberi daya tarik tersendiri juga aktual karena sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar pakar sastra dan komunitas gerakan perempuan. La Barka memiliki potensi menjadi saksi di zamannya mengenai masalah wanita yang dianggap sebagai warga kelas dua (the second sex) akibat partiarchal power, paham yang dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Menurut Sariyadi, penelitian dengan teori kritis sastra feminis yang diterapkan dalam analisis teks La Barka, menghasilkan pembuktian bahwa teori kritis sastra feminis dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra yang bersifat ilmiah.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum, saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,” ujarnya. Melani Budianta, pemerhati sastra di Jakarta mengatakan, sastra populer hasil karya perempuan pengarang di akhir 1990-an telah memunculkan sebuah generasi baru, yang berani mengeksplorasi seksualitas lebih dalam, memakai cara penulisan yang berbeda dan bahasa yang lebih puitis. Namun karya mereka sama sekali tidak dipandang sebagai pornografi, misalnya Saman karya Ayu Utami dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Esais Nirwan Dewanto mengatakan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Nh Dini sudah menggarap masalah tersebut pada novel Pada Sebuah Kapal, hanya saja Dini tidak begitu radikal.

Di buku terbarunya, Dari Fontenay ke Magallianes, Dini menulis dengan gaya lebih segar dan memikat. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Prancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan tentu saja perselingkuhan yang menggetarkan dengan sang kapten. Tentang yang terakhir itu dia tulis secara gamblang dan terang-terangan. Ia mengungkapkan betapa tertekan hidup bersama (mantan) suami Prancisnya yang pelit dan garing.

Namun karakternya yang adil, Dini tetap memuji kebaikan hati suaminya yang memberinya beberapa kebebasan, misalnya berlibur ke Indonesia dan dapat bersekolah kembali sesuai cita-citanya. Buku ini indah dan semarak seperti musim semi meskipun lahir dari pengalaman pahit si pengarang. Sebentar lagi ia berusia 71 tahun. Sebenarnya bisa saja usianya lebih muda karena ia lahir 29 Februari 1936, artinya berulang tahun setiap empat tahun. Di satu buku kenangannya, ia mengutip sajak Rendra, bahwa hidup bukan untuk mengeluh, tapi tugas yang harus diselesaikan demi kehormatan.

Sebagai penulis, Dini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

Januari 2007

Tags : dalam kenanganNh Dinipengarang perempuan Indonesia
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response