close
buku jokowi

Oleh Ita Siregar

Ketika Albertheine Endah melempar kaver buku Jokowi terbaru ke WAG Satupena, saya terpana membaca judul: Menuju Cahaya. Benak saya segera saja memunculkan kata: moksa, damai, hening, bening. Saya berpikir judul pastinya telah melewati skrining makna beberapa kepala, termasuk penulis.

Petang kemarin (Kamis, 13/12/18) saat peluncuran buku di Hotel Mulia Jakarta, Prof Dr Dato Sri Tahir memberi kata sambutan, juga mempertanyakan hal sama, tetapi kemudian ia bersetuju dengan judul setelah membaca buku.

Menurutnya, ada tiga hal sehingga Jokowi bersesuaian dengan judul Menuju Cahaya, yaitu 1) dia dapat berdiri di atas matahari, artinya seluruh hidupnya boleh diteropong tiap waktu oleh siapa pun dan akan didapati tak tercela –bukan berarti dia tidak pernah salah, 2) rekam jejak (politik) Jokowi yang ternyata bersih sejak kecil, sebagai pengusaha kayu, sebagai walikota Solo, sebagai gubernur Jakarta, sebagai Presiden Indonesia, dan 3) keluarga, yang sepenuhnya mendukung dan mempercayai Jokowi –meski mereka tidak selalu setuju.

Setelah saya membaca buku, saya pun setuju dengan pendapat itu. Tak sulit memahaminya karena penulis dengan lancar menarasikan kisah seperti kita sedang didongengi oleh Jokowi sendiri.

Jokowi kecil yang hidup prihatin di bantaran sungai bersama orangtua, yang kemudian ia simpulkan bahwa kemiskinan telah menempa mentalnya menjadi kuat dan tabah. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan orangtua dan disimpulkan Jokowi, pas dan tak berlebihan. Segala kepahitan hidup di masa lalu ia pandang sebagai tonggak sejarah yang tak terlupa.  Bahwa tanpa itu semua takkan ada Jokowi sekarang.

Dalam dunia kuliah dan bekerja, ia tidak berspekulasi. Semua diraih melalui belajar dan bekerja keras. Persis ia menjadi pengusaha kayu, bisnis furniture di Tanah Air sedang bersemi. Kerja keras membuatnya melaju. Karakternya yang berbela rasa dan berbelas kasihan kian matang. Istri dan ketiga anaknya kian mempercayai bahtera keluarga yang dipimpin Jokowi.

Setelah urusan keluarga beres, Jokowi memperhatikan dunia sekeliling. Kepeduliannya yang nyata mendorong kawan-kawan memberinya jalan untuk menjadi pemimpin mereka, di Solo. Tantangan itu diterima meski Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi pengabdi Negara.

Blusukan adalah istilah kampanye yang diciptakan karena ia tak punya banyak uang. Keberhasilannya menangani Solo menarik perhatian Jakarta yang kala itu sedang mencari calon gubernur. Lagi-lagi ia tidak bermimpi hijrah ke Jakarta tetapi jalan sudah terbuka di depannya.

Bersama Ahok ia menunjukkan kepada warga Jakarta apa yang seharusnya sudah dicapai oleh ibukota negeri ini. Keberaniannya membongkar segala kegelapan sudut-sudut ibukota  membawa warga pada cahaya yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dan ketika Indonesia sedang mencari seorang calon presiden, lagi-lagi Jokowilah yang dilirik meski sekali lagi, ia tidak pernah bermimpi presiden menjadi takdirnya. Tetapi pintu-pintu telah terbuka di depannya. Ia hanya tinggal masuk. Demikianlah orang yang tidak menginginkan kekuasaan diberi kekuasaan penuh oleh alam semesta.

Sepanjang 382 halaman buku mendedah karya Jokowi sebagai presiden. Pada halaman-halaman tertentu saya terharu ketika berulang-ulang  –dalam bahasa yang berbeda- ia mengatakan bahwa pembangunan harus menghampiri rakyat sudut mana pun. Ia memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial. Pada halaman lain saya kagum ia memandang status presiden sebagai pelayan rakyat yang sedang bekerja untuk kebaikan negeri, bukan seorang pejabat yang sedang mempertahankan rating survei. Humor sinis muncul sebagai responsnya terhadap fitnah dan hoaks keji tentang dirinya. Dengan program Nawa Cita ia berharap takkan lagi ada kisah-kisah sedih dari dunia pertanian kita.

Dengan segala kerja, kerja, kerja yang dia lakukan secara konsisten bersama Kabinet Kerjanya, selangkah demi selangkah kita Menuju Cahaya itu.

Sekarang saya merasa judul itu pas. Dialah yang kita perlu saat ini. Memang dia tidak sempurna tetapi tidak ada yang mencintai dan mengabdi kepada Indonesia, sebesar dia.

Oya, istilah Jokowi diberikan oleh buyer Prancis bernama Bernard untuk membedakan dia dari Joko-Joko yang lain. Begitu.

Pak Jokowi, terima kasih telah bersedia menjadi Presiden kami. Salute!   (is/14/12/18)

 

Tags : BukuJokowiMenuju CahayaPresiden
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response