close
foto singgih

Oleh Ita Siregar

Ia mendesain sepeda bambu dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Ia membuat konsep pasar kebun bambu dan melibatkan warga dalam merevitalisasi kehidupan di Dusun Ngadiprono.

Singgih Kartono kecil membaca biografi Thomas Alva Edison –penemu lampu pijar- dan terinspirasi untuk menjadi seorang penemu. Ia masih kelas 4 SD ketika itu. Saat membaca kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang, ia terpanggil untuk memaknai 21 April, tanggal kelahirannya. Memang kurang dari sepuluh buku yang tuntas dibaca -termasuk kisah gadis cilik Toto Chan-  namun itu cukup mewarnai hidupnya.

Dik Ton – dari nama Kartono- begitulah keluarga dan teman dekat memanggilnya. Ia merasa anak yang beruntung. Ayahnya seorang guru yang kemudian menjadi kepala dinas kecamatan. Ia mewarisi kesederhanaan, jiwa kepemimpinan dan pioneership ayahnya. Meski keluarganya tidak tergolong berada tetapi sang ayah mengupayakan agar kelima anaknya mendapat pendidikan tinggi.

Singgih lahir dan besar di Kandangan Temanggung. Ia kuliah di Jurusan Desain dan Produk FSRD ITB. Suami dari Tri Wahyuni –teman SMA- ini mengaku berat pada tahun-tahun pertama kuliah. Pasalnya di SMA ia kurang serius melatih keterampilan kesenirupaan. Baru pada tahun kedua, kegemaran ngoprek  di masa kecil memberinya kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Setelah lulus tahun 1992, ia bekerja di PT Prasidha Adhikriya Bandung yang bergerak di bidang industri kerajinan kayu. Ia belajar langsung dari pendirinya, Surya Pernawa. Tahun 1995 ia balik ke desa dan merintis usaha mainan anak dari bahan kayu, bersama seorang partner. Ia memang tidak menyukai kehidupan kota yang ramai dan padat. Di antara lima saudara, hanya ia yang kembali ke desanya, hingga sekarang.

Tahun 2003 ia memulai usaha sendiri yang diberi nama: Magno. Tahun 2005 Magno memproduksi dan merambah pasar. Melalui proses berliku, Magno mendapat banyak penghargaan desain internasional. Tahun 2008 Magno meraih penghargaan Good Design Award Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Pada 2009 Brit Insurance Design Award/Product of the Year Design Museum London. Magno dikenal luas di Jepang, Eropa, dan Amerika.

Semua itu dimulai dari kecintaannya pada materi kayu. Sewaktu kecil, ia betah berjam-jam nonton tukang kayu bekerja. Ia bikin mainan kayu atau bahan apa saja yang ada di desa. Mainan buatan pabrik masih langka saat itu. Kalau pun ada, tidak terjangkau harganya.

Penyuka teh manis panas pagi hari ini sebenarnya tidak suka berolah raga. Namun pada usia 44 tahun ia bersepeda nyaris setiap hari untuk menjaga kesehatan. Lalu ia melihat desain sepeda bambu karya Craig Calfee dan sangat terkesan. Terinspirasi, ia mendesain sepeda bambu pada 2013. Ia menggunakan Bambu Petung atau Dendrocalamus asper yang tersedia melimpah di desa dan sekitar tempat tinggalnya. Diameternya besar dan dindingnya tebal sehingga memungkinkan membuat rangka sepeda dengan ukuran seragam. Konstruksi bilah tangkup usuk bambu kerangka atap rumah menjadi sumber inspirasinya untuk meningkatkan kekakuan batang bambu. Bilah tangkup dihubungkan dengan sambungan metal dan membentuk kerangka sepeda. Desainnya lolos uji laboratorium dan kendara jarak jauh Jakarta-Madiun sejauh 750 km, dengan beban 90 kg tanpa kerusakan apapun.

Sepeda bambu itu diberi merk Spedagi – dari kata sepeda dan pagi. Para perajin lokal diberdayakan. Spedagi menarik orang luar ke desa. Fenomena inilah kemudian menginspirasi Singgih dalam menemukan solusi dari masalah umum desa, yaitu brain drain SDM terdidik dari desa ke kota. Kelak Spedagi bukan hanya merk namun gerakan yang mengajak anak-anak muda balik ke desa.

Pasar Papringan Ngadiprono misalnya. Pasar itu adalah salah satu proyek Revitalisasi Desa Spedagi. Papringan (kebun bambu) merupakan aset desa. Sayangnya papringan tidak terpelihara, hanya jadi tempat buang sampah. Atas ajakan Imam Abdul Rofiq, anak muda lokal, ia dan tim Spedagi, juga Fransisca Callista sebagai project manager, menyulap papringan yang kumuh, gelap, dan banyak nyamuk, menjadi bersih tertata. Di sana warga menjual kuliner, kerajinan tangan dan hasil pertanian.

Memulainya tidak dapat dibilang mudah. Tim melakukan pemetaan sosial. Warga didatangi dari pintu ke pintu. Puluhan kali pertemuan formal dan informal dilakukan barulah ditemukan konsep yang paling sesuai dengan warga dan potensi lokal. Sejak awal warga diajak turut memikirkan agar tidak terjadi kesan mereka akan menerima bantuan. Singgih ingin bukan sekadar pasar dalam arti fisik, namun sebuah aktivitas yang terorganisasi baik.

Mereka pun merekoleksi penganan desa. Gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, mainan kayu, dll. Lantas mereka merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas dan berjualan. Mereka hanya memakai bahan lokal. Tanpa  terigu, MSG dan pewarna buatan. Sebagai ganti warga membuat tepung dari beras dan ketela.

Sebagai alat pembayaran dipakai koin pring. Ide ini datang dari Liris, putri kedua Singgih yang membuat bazar sekolah dengan alat pembayaran khusus. Pring dicetak dan ditentukan nilainya. Satu pring senilai Rp2 ribu. Cara itu efektif dalam mengontrol penjualan.

Pasar tambah ramai karena propaganda gratis pengunjung yang menceritakan keunikan pasar melalui media sosial mereka. Orang berduyun-duyun datang dan menikmati desa tempo dulu, lengkap dengan penganan khas desa dan gending Jawa.

Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80%  dari 110 kepala keluarga turut berdagang. Pasar dibuka dua kali selapan (35 hari) setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 12. Dibuka dua kali selapan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.

Sabtu adalah hari desa gotong-royong menyiapkan segala untuk ditampilkan di pasar. Keberadaan Pasar memberi kesegaran baru bagi warga desa. Petani menjadi lebih berpengetahuan sehingga hasil lebih produktif. Mereka pun diajar mengelola uang sehingga pendapat naik tidak dibarengi dengan menjadi konsumtif.  Sekarang ada sekitar 3000 pengunjung setiap kali pasar buka.

Kini banyak berdiri pasar dengan konsep serupa. Pada satu sisi menggembirakan, sayangnya mereka tidak menyebut sumber inspirasi. Padahal dalam dunia kreatif hal tersebut diperlukan sebagai kepatutan dan etika. Karena itu ayah dua putri ini berharap pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat mendorong terbangunnya iklim kreatif dan endorsement bagi para kreator. Apa yang dilakukan Spedagi sebenarnya membantu pemerintah dalam memberdayakan masyarakat dengan hasil yang dapat dibanggakan. Sudah semestinya pemerintah mendukung secara aktif dan rendah hati dalam mengadopsi ke konsep perencanaan pembangunan daerah.

Seterusnya ia ingin mengembangkan hal-hal yang mendorong kemandirian desa. Secara internal mandiri dalam hal keuangan dan pendidikan sehingga dapat tetap tinggal di desa. Secara eksternal, konsep pasar menjadi inspirasi dalam merevitalisasi desa lain.

“Ke depan kami akan membuka kelas agar desa-desa lain dapat belajar apa yang sudah kami lakukan dan capai,ungkap penyuka T-shirt abu-abu ini.

Masih banyak gagasan di kepalanya, siap ditelurkan. Ia sering merasa diri terlalu keras dan to-the-point dalam bekerja dan berbicara, yang dirasanya kurang pas untuk masyarakat desa. Untunglah ada anak-anak muda di Spedagi yang membantu mewujudkan gagasannya.

Ngomong-ngomong, kenapa T-shirt abu-abu, Mas? Tertawa, ia menjawab, “Warnanya paling cocok untuk kulit saya.” (is/15/12/18)

Foto Singgih Kartono

Tags : Pasar Papringanrevitalisasi desasepeda bambuSinggih Kartono
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response