close
shechem_siezes_dinah

Pada suatu hari Dina
Berjalan-jalan ke Sikhem
Berkenalan kupu-kupu bebungaan kota itu
 
Wajah segar serupa embun
Mata rupawan serupa bulan
Senyum ranum serupa anggur musim panen
 
Konon, sedetik mata Sikhem tercucuk pandang gadis itu
Tertusuk ia oleh panah cinta
Tergiur liurnya
Terpukul-pukul jantungnya
Limbung hatinya tak tahan
 
Marilah, dik, naiklah ke sotoh istana yang dibuat ayahku
Yang membuat kota ini di atas namaku
Kau tengoklah pebukitan hijau di seberang sana
Itulah Gerizim
Gunung penghubung antara langit dan bumi
Dan lihat itu tarbantin
Pohon keramat tempat kami menyembah Asyera, dewi kesuburan kami
Yang di bawahnya kakekmu Abram bermezbah
dari letih hijrahnya
 
Dan Dina tak berpaling dari mulut manis Sikhem
Yang tak henti meneteskan madu
Tangannya mencengkeram lengan laki-laki muda itu
“Aku takkan kembali ke rumah ayahku
Sampai kau ceritakan padaku semua tentangmu
Sebab sakit asmara aku”
 
Pinang gadis itu menjadi istriku, Ayah, seru Sikhem kepada Hemor
Mari kita menjadi saudara, Saudaraku, ujar Hemor kepada Yakub
 
Berembug Yakub dengan kedua belas lelaki di kemahnya
Panas telinga mereka membara
Mendengar penghinaan suku tak bersunat itu
Menginjak-injak martabat mereka
 
“Mari kita beri satu pelajaran orang tak beradab itu,” sumpah mereka
Katakan kita sepakat menggelar kenduri tujuh hari tujuh malam
Asalkan mahar kulit khatan sebanyak laki-laki dewasa
 
Dan, dengan kegirangan meluap
Sikhem dan Hemor pulang ke kota mereka
Di pintu gerbang mereka berkampanye
“Hari ini sejarah baru bangsa kita toreh
Biarlah kitab-kitab mencatatnya
Kita akan merger dengan bangsa yang beradab
Ekonomi politik budaya militer
Kita akan menjadi satu yang besar disegani
Karena itu baiklah setiap laki-laki dewasa
Memotong kulit khatannya masing-masing
Di rumahnya sendiri”
 
Sementara itu dua anak lelaki Yakub
Mengasah mata pedang mereka baik-baik
Dan sepuluh lainnya
Menguatkan hati mereka baja
 
Pada hari ketiga
(ketika laki-laki dewasa kota Sikhem masih kesakitan)
Mereka mendatangi kota itu
Seperti pahlawan pergi perang
Dengan pedang di tangan kiri dan kanan
Simeon dan Lewi
Menebas setiap laki-laki dewasa tanpa kecuali
Sedang sepuluh lainnya
Menjarah kota itu bersih
Menarik Dina keluar dari sana
(Sedang ia menjerit menangisi masa muda Sikhem
Yang mati sia-sia)
 
Yakub, lihatlah
Langit hitam di atasmu
Tanah merah di bawahmu
Kota Sikhem berubah yatim
Ditinggalkan para lelakinya
 
Kau mengundang celaka ke rumah kita, anak-anakku
“Siapa suruh memperlakukan kita seperti kotoran?”
 
O Dina, o Sikhem
Kisah kalian
Bukankah kitab-kitab sudah mencatatnya?
 
Gambar diambil dari Wikipedia
 

is/15/1/19/

Tags : DinaKisah CintaSikhemTragedi
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response