close
water-bottle

Membaca masalah plastik di satu harian minggu lalu, saya ingat satu peristiwa.

Pada Maret 2017 seorang budayawan negeri ini ingin bertemu sembilan sahabat mudanya. Kesembilan itu para intelektual dan penulis. Dalam rangka itu saya diminta mengurus. Mencari tempat nyaman dan tenang agar mereka dapat mengobrol bebas seharian.

Dari sembilan yang didamba, empat muncul (padahal sudah dibayar untuk semua). Kepada masing-masing budayawan kita menyerahkan tulisan 13 halaman spasi rapat, untuk dibaca. Tulisan berjudul Manifesto: Appelatio Fraternitatis Rosae Crucis dirilis tahun 2014.

Manifesto ini kedua kali diserukan oleh sekumpulan orang yang menyebut diri Fraternity. Tahun 1614 mereka menerbitkan Manifesto Fama Fraternitatis Rosae Crucis,yang adalah respons terhadap kekacauan atas krisis Eropa saat itu. Prancis misalnya, seratus tahun tak berhenti perang agama.

Manifesto Appelatio hasil pertemuan Fraternity ini melahirkan tiga fokus utama: spiritualitas, kemanusiaan, ekologi. Sejumlah pemikir dan pemimpin Negara -terutama Jerman, Prancis, Inggris-bereaksi serentak tahun yang sama.

Manifesto Appelatio mengurutkan fokus sebagai berikut. Pertama, spiritualitas. Bahwa agama-agama dunia dianggap tidak lagi mampu menjawab permasalahan global manusia. Nilai-nilai kemanusiaan dasar seperti kejujuran, integritas, kesamaan, persaudaraan, dinihilkan. Itulah ketika istilah money does not buy happiness, lahir.

Kedua, kemanusiaan. Bahwa seluruh umat manusia memiliki darah yang sama: kemanusiaan. Dan seluruh umat manusia bersaudara apa pun -kulit putih, kuning, hitam, merah. Sikap tidak toleran adalah bentuk kebodohan atau kesombongan pribadi atau golongan yang melukai kemanusiaan.

Ketiga, ekologi. Bahwa setiap manusia adalah ekolog. Logikanya, bagaimana manusia merasa bahagia tanpa peduli lingkungan tempat tinggalnya (baca: planet bumi)? Fakta mengatakan, segala jenis polusi, kerusakan ekosistem, penggundulan hutan yang massif, pembunuhan spesies hewan, dan hal-hal buruk lain adalah cermin ulah manusia.

Di antara ketiga, paling penting dan mendesak adalah ekologi. Jadi masalah ini dibidik sang budayawan? Saya mikir, apa dan bagaimana status Bumi sekarang ya?

Tan Malaka memberi pernyataan dalam Madilog (1943) bahwa bobot Bumi akan tetap sama. Dalam pengertian saya, pertambahan penduduk tidak akan membuatnya lebih berat. Pada keadaan tertentu Bumi akan melaksanakan seleksi alam dalam rangka membuat dirinya ajeg.

Thomas Malthus, filsuf abad 18, sudah bilang bahwa reproduksi manusia yang tidak dapat diredam akan berujung pada kelebihan manusia. Kematian prematur secara pasti mendatangi umat manusia.

PBB mencatat tren populasi global sejak tahun 1950. Sebagian besar keluarga mengalami penurunan dalam jumlah anak. Tingkat kesuburan mencapai ‘level pengganti’ yakni 2,1 anak per perempuan. Artinya, anak yang lahir kira-kira akan menggantikan orangtua mereka (mengisi ruang di Bumi).

Saat ini penduduk Bumi sekitar 7 miliar. Akan 9 miliar tahun 2050. Semua orang butuh makan. Pertambahan manusia akan mempengaruhi ketersediaan pangan.

Di sisi lain, tidak semua wilayah daratan Bumi dapat dihuni. Atau ditanami. Beberapa wilayah beriklim ekstrim atau tempat terlalu terpencil. Total wilayah yang dapat dihuni luasnya kurang dari tiga persen wilayah daratan Bumi. Dari luas itu, sekitar 35%-40% untuk pertanian.

Ketersediaan air bersih dan jumlah makanan –terutama daging- adalah masalah lain. Seandainya seluruh manusia vegetarian pun –artinya pangan yang dihasilkan cuma untuk manusia- maka lahan pertanian 1,4 miliar hektar cukup untuk kasih makan 10 miliar orang.

Solusi lain agar manusia tidak buang-buang makanan. Faktanya, 40% pangan dunia ternyata tidak dikonsumsi alias terbuang sia-sia (karena beberapa alasan).

Sampah adalah masalah mengerikan lainnya. Riset mencatat 150 juta penduduk Indonesia hidup di pesisir. Diperkirakan 38 juta ton per tahun sampah dibuang ke laut dan 30%-nya sampah plastik. Dari angka itu 80% sampah laut di Indonesia dominan dihasilan Pulau Jawa.

Sampah laut berupa plastik mempengaruhi lebih 800 spesies satwa laut karena menelan, terjerat atau tertransfer kontaminasi kimiawi. Lebih dari 25% sampel ikan yang diambil dari pasar-pasar ikan dunia mengandung plastik. Di Asia Tenggara, sampah plastik paling banyak adalah kemasan makanan dan puntung rokok.

Bersyukur kita sudah merespons dengan tindakan. Pada Agustus 2018 misalnya, pungut sampah di 91 titik di tanah air mengumpulkan 360 ton sampah laut dan pesisir. Pada hari bersih-bersih dunia September lalu, sekitar 13 juta manusia dunia membersihkan sampah di 144 negara, dan Indonesia partisipan terbesar dengan 3,3 juta orang.

Belakangan, mengganti sedotan bukan plastik diserukan. Produk sedotan bukan plastik banyak dijual. Pusat-pusat swalayan membuat peraturan tidak kasih plastik. Kalau ini bukan cerita baru.

Memang sebagian besar kita masih di koordinat agama. Dikit-dikit agama, dikit-dikit surga-neraka. Tetapi bayangkan, seandainya seluruh rumah ibadah keenam agama negeri ini punya program rutin bersih-bersih lingkungan. Setengah masalah kita selesai.

Kontribusi sebagai individu, yang kecil-kecil sajalah. Bawa kantong belanja sendiri, pilah-pilah sampah makanan dan plastik di dapur, tegur keras orang yang buang sampah di jalan.

Bumi butuh pertolongan kita, Manusia! Sudah pasti. Sudah pasti juga surga tempat bersih menyenangkan. Sebagai manusia spiritual, bagusnya kita membiasakan diri dengan lingkungan bersih, kalau mau betah di surga.

foto pixabay

is/29/1/2019

Tags : jangan kasih kendorplastiksampah
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response