close
lukisan nyanyi

Teks Windy Mulia Liem*
Ilustrasi Surajiya**

Masih ingat kapan dan di mana pertama kali bernyanyi? Dan lagu apa yang dilantunkan?

Jika tidak yakin jawabannya, mungkin karena pengalaman itu ketika Anda masih sangat muda. Orangtua atau kerabat mungkin adalah guru sekaligus penggemar pertama Anda ketika pertama bernyanyi.

Bernyanyi adalah salah satu cara bercerita. Lagu Rasa Sayange mungkin diperebutkan oleh dua negara karena tidak tercatat asal-usul dan penciptanya. Bagi masyarakat Maluku, lagu itu telah turun-temurun dilantunkan, mengisahkan kecintaan pada kampung halaman.

Bernyanyi juga menjadi satu ciri khas orang Kristen. Pertama kali saya ke Sekolah Minggu, aktivitas saya adalah bernyanyi. Partisipasi aktif jemaat gereja biasanya terdiri dari tiga: berdoa, mendengarkan (Firman Tuhan), bernyanyi.

Seorang teman Muslim saya pernah bertanya: kenapa orang Kristen bernyanyi di gereja? Giliran saya bingung, hmm … kenapa ya? Mari kita telusuri bersama.

Bernyanyi sebagai Tradisi

Dari mana berasal tradisi bernyanyi di gereja? Kita mungkin berpikir itu warisan tradisi ibadah Yahudi di sinagog. Namun, rujukan pada abad pertama menyebutkan urutan ibadah di sinagog: berdoa, mendaras Kitab Suci dan homili (khotbah). Bernyanyi dan bermain musik merupakan tugas kaum Lewi. Tidak terlacak tradisi kuno mereka di sinagog melibatkan aktivitas bernyanyi. (Smith, 1994).

Dalam tradisi Yahudi, bernyanyi ditemukan dalam perkumpulan religius yang lebih privat. Dilakukan di rumah saat Paska, pesta perkawinan dan upacara pemakaman. Bernyanyi solois, bernyanyi bersahutan atau paduan suara. Aktivitas bernyanyi juga tercatat dalam makan malam terakhir dalam Perjanjian Baru (Mat 26:30 & Mrk 14:26).

Persekutuan gereja Kristen mula-mula mirip perkumpulan privat Yahudi. Pada dua abad setelah Masehi, persekutuan biasanya diadakan di rumah-rumah. Selain beribadah, mereka makan bersama. Beberapa sumber menyebutkan mereka berjaga-jaga sepanjang malam setelah ibadah (Smith, 1994). Kemiripan-kemiripan tersebut menjadi dasar kemungkinan bernyanyi di gereja dipengaruhi oleh perkumpulan privat religius Yahudi.

Bernyanyi sebagai pernyataan teologis

Ada tiga jenis lagu ibadah Kristen yang kita kenal sekarang, yaitu kidung (hymn), mazmur (psalm) dan pujian dan penyembahan kontemporer (praise & worship songs).

Terutama kidung, lagu ibadah berisi pesan dasar iman kristiani, yaitu 1) karakter Allah, 2) gereja dalam masyarakat, 3) kemanusiaan, dan 4) pemahaman kehidupan Kristen (Roberts, 2014). Kidung adalah sebuah bentuk pernyataan teologis. Kidung membantu penyampaian keimanan melalui kata-kata sederhana atau yang puitis.

Menurut penulis himnologi, Paul Schilling (1983), ekspresi teologis sebuah kidung bukan hanya tertuang pada lirik tetapi juga nada. Nada digabung dengan lirik untuk memperkuat -atau melemahkan- pesan. Substansi pesan ada pada lirik. Nada dan irama bersifat komplementer.

Sementara lagu pujian dan penyembahan kontemporer menitikberatkan pada musik. Musik dan liriknya lebih mudah diingat, mudah dinyanyikan karena cenderung repetitif. Tradisi musik ini berakar dari penginjilan kepada kaum hippies di Amerika pada 1960-an, yang disebut Jesus People (atau Jesus Movement).

Melalui genre musik modern, gerakan penginjilan itu menarik perhatian ratusan ribu anak muda. Padahal genre itu dipandang duniawi oleh kalangan gereja konservatif kala itu. Gerakan Jesus Movement kelak melahirkan industri musik Kristen kontemporer dan memicu pergantian gaya bermusik pada banyak gereja hingga sekarang (Eskridge, 2017).

Jadi, apa tujuan bernyanyi (rohani) dalam kekristenan?

Menurut beberapa penulis himnologi, bernyanyi dalam konteks kekristenan bukan untuk memamerkan aspek seni penyanyinya. Bernyanyi lebih pada mempersilakan Allah berbicara melalui lirik lagu. Bernyanyi dan bermusik adalah medium atau pelayan pesan Firman Allah (Guthrie, 2003).

Bernyanyi sebagai aktivitas emosional
Emosi manusia dapat dipengaruhi oleh musik. Dalam buku Confessiones, Agustinus dari Hippo mengakui kekuatan musik dalam sebuah lagu penyembahan. Ketika kata-kata sakral berpadu dengan musik yang indah, jiwa umat akan tergerak dan dikobarkan menuju kesalehan (Guthrie, 2003).

Pendapat tersebut sejalan dengan bukti ilmiah tentang persepsi otak terhadap musik. Sebuah eksperimen tayangan Brain Games pada episode The God Brain menunjukkan musik dan akustik ruang gereja berperan dalam membangun persepsi kita tentang kehadiran Tuhan. Ritme dan susunan nada menuntun emosi umat seirama lirik yang dinyanyikan. Langit-langit berkubah dan alat musik orgel di gereja Katolik misalnya, gaungnya membangun kesan kemegahan dan kekuasaan Tuhan.

Secara teknis, bernyanyi adalah proses merekonstrusi apa yang kita dengar. Pengalaman pertama manusia dengan suara berawal dalam kandungan. Bukan hanya suara, janin juga dapat mengenali emosi yang terkorelasi dengan suara yang didengar. Kemampuan ini berkembang melalui suara ibu pada masa trimester akhir kehamilan. Pembentukan reaksi emosi terhadap suara dipengaruhi oleh reaksi neuro-endokrin yang dihasilkan ibu dan dikomunikasikan kepada janin melalui hormon dalam darah (Miel, MacDonald, & Hargreaves, 2005). Ketika lahir, bayi sudah membawa bias atas emosi yang ditimbulkan oleh suara semasa dalam kandungan.

Jika musik dapat memanipulasi otak untuk merasakan emosi tertentu, apakah perasaan yang ditimbulkan oleh bernyanyi di gereja merupakan respons sensori semata? Apakah gereja secara sengaja memanfaatkan sensasi untuk mengendalikan emosi dan melemahkan nalar?

Kalau ya, apa bedanya dengan lagu-lagu Adele yang mengaduk-aduk emosi atau lagu-lagu Queen yang menggerakkan kaki kita menari? Apakah musik menjebak kita pada kepuasan raga semata?

Kekhawatiran serupa diajukan oleh Agustinus dari Hippo. Menurutnya, kepuasan mendengarkan musik dapat menggiring pikiran menuju ketaatan (kepada Allah). Namun ketika musik menggerakan dirinya lebih dari subyek lagu, ia telah berdosa dan lebih baik tidak mendengarkan lagu itu (Guthrie, 2003).

Bermusik dan bernyanyi yang berfokus pada kepuasaan indera sensori akan mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Keutamaan lagu terkandung dalam lirik, bukan nada. Calvin berpendapat bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah rutinitas gerejawi yang dingin dan tidak bernyawa, menjadi pemujaan penuh semangat dan bergairah. Ia menganjurkan gereja untuk bernyanyi sekaligus berhati-hati agar fokus bukan pada pendengaran melodi, namun pada makna spiritual (Guthrie, 2003).

Pernyataan di atas kontras dengan apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat Efesus:
“… hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” (Efesus 5:18-19)

Sebelumnya Paulus menasihatkan agar jemaat menjauhi kehidupan yang bodoh dan didorong oleh hawa nafsu. Hidup sebagai anak-anak terang salah satunya ditandai dengan bernyanyi dan bersorak demi Tuhan. Atau, Paulus menyarankan umat untuk bernyanyi sebagai perlawanan terhadap kebodohan dan hawa nafsu.

Menurut Guthrie (2003), saran tersebut didasari asumsi bahwa musik melibatkan tubuh dan rasa, serta pelibatan Roh Kudus. Roh Kudus tidak hanya bekerja untuk merestorasi pikiran, tetapi juga tubuh dan perasaan manusia. Melalui lagu dan musik, orientasi pujian diubah. Dari sekadar sensasi ragawi menjadi penyembahan pada Allah dan bermanfaat bagi komunitas. Aspek rasa tidak ditekan, namun diangkat dan diarahkan pada Allah.

Bernyanyi di Gereja = Mendengarkan

Bernyanyi turut andil membentuk identitas gereja. Peneliti Ronald L. Warren menulis bahwa kidung rohani berperan sebagai kontrol sosial. Menyanyikan kidung berkontribusi dalam membentuk identitas kongregasional. Ketika bernyanyi di gereja, tiap individu melafalkan kata-kata yang mengafirmasi iman, kata-kata yang mungkin terdengar memalukan jika diucapkan sendiri. Namun ketika mendengarkan pengakuan iman dilakukan bersama orang sekitarnya, pengukuhan iman menjadi lebih dalam. Ini disebut interstimulasi, yaitu ketika sekelompok orang yang sebelumnya asing, terhubung melalui perspektif yang sama. Interstimulasi dapat dicapai melalui simbol-simbol yang memiliki makna emosional, ritual, pengakuan iman atau bernyanyi bersama (Roberts, 2014).

Surat Paulus kepada jemaat Efesus berkonteks memberi penekanan pada bernyanyi secara kongregasional. Saat gereja bernyanyi, tiap individu menghasilkan suara yang berbeda namun saling mendapat bagian dalam lagu yang sama. Dalam musik, kita bertemu dengan berbagai identitas yang disatukan dalam ruang dan waktu, tanpa saling menghancurkan atau menegasi (Guthrie, 2003).

Ketika seseorang bernyanyi bersama di gereja, pada momen yang sama ia mendengarkan suara jemaat yang melebur dengan suaranya, menjadi suatu arus gelombang. Bernyanyi seperti menyuarakan cermin kehidupan jemaat Allah sebagai komunitas. Perbedaan dalam individu tidak lagi saling bertentangan namun disatukan melalui kasih Kristus.

Bernyanyi dalam Kerajaan Allah

Bagaimana imajinasi bernyanyi ketika Kerajaan Allah digenapi?
Jika Anda pernah ber-Sekolah Minggu, mungkin masa kecil Anda diisi dengan imajinasi tentang surga sebagai tempat manusia bernyanyi bersama malaikat, terus-menerus memuji Allah. Seperti KKR nonstop atau radio 24 jam. Bernyanyi di gereja adalah mencicipi sensasi surgawi.

Namun anggapan tersebut tidak didukung dengan landasan alkitabiah. Pandangan itu mungkin berasal dari anggapan populer pada masa prareformasi Kristen yang menitikberatkan pengalaman melihat Allah (visio Dei) sebagai sukacita yang utama dan tujuan akhir. Keselamatan diwujudkan dalam mistisisme, kontemplasi dan penyembahan dalam kondisi ekstasi mistis (Balke, 1992; van Wyk, 2001).

Imajinasi mengenai langit dan bumi yang baru memang tercatat dalam Perjanjian Lama dan Baru (Yes 65:17, 66:22; Why 21:1; 2 Ptr 3:13). Berkenaan nyanyian, Wahyu sedikit memberi gambaran tentang nyanyian baru (Why 5:9; 14:3) pada ciptaan dan dunia yang telah direstorasi. Seperti apa wujudnya, tidak banyak informasi dari Alkitab.

Beberapa kidung dan nyanyian, baik tradisional atau kontemporer, mencantumkan imajinasi Kerajaan Allah. Kehidupan di surga terasa pada bait terakhir lagu Di dalam Palungan (KJ 102) yang berbunyi: Dan hidup serta-Mu di surga kelak atau penggalan bait dua dalam lagu “Bila sangkakala menggegap” (KJ 278): Bila orang yang telah meninggal dalam Tuhannya dibangkitkan/Pada pagi mulia dan berkumpul dalam rumah lestari dan megah.

Beberapa kidung menggambarkan nuansa penyembahan yang berkesinambungan:
Hai Kristen, nyanyilah (NKB 1):
Di surga yang baka kita menyembah-Nya/ Bernyanyi s’lamanya. Haleluya! Amin!
Atau bait terakhir lagu Ya Yesus terkasih” (KJ 382):
Di surga mulia ku pasti senang memujimu, Yesus/Di dalam terang, nyanyianku ini tetap terdengar/Kasihku padaMu semakin besar

Pandangan tentang surga sebagai rumah atau tujuan akhir yang tergambar dalam kidung-kidung tersebut mendapat kritik dari teolog Aiden Wilson Tozer. Ia menyindir, “Orang Kristen tidak mengatakan kebohongan. Mereka hanya pergi ke gereja dan menyanyikannya.” Gambaran surga sebagai tujuan akhir setelah kematian tidak diturunkan oleh ajaran Yahudi dan Alkitab.

Teolog Richard Middleton dalam bukunya yang bertema eskatologi alkitabiah berpendapat bahwa gambaran pergi menuju tempat bernama surga kemungkinan dipengaruhi oleh ajaran Plato abad kelima. Menurut dualisme Platonis, manusia terbagi menjadi tubuh mortal dan jiwa yang immortal. Begitu pula penggambaran semesta: alam suprasensori (transenden) dan alam sensori.

Pandangan Platonis meluas berkat pemikiran filsuf Yunani Plotinus (204-270) yang dikenal sebagai Neoplatonisme. Neoplatonisme turut mempengaruhi pandangan bapak-bapak gereja yang mengartikulasikan injil dengan kultur dan pengetahuan yang berkembang di masanya, termasuk Agustinus dan Pseudo-Dionysius. Karena itu gereja perlu berhati-hati pada asimilasi ide-ide yang mungkin tidak sejalan dengan ajaran Kristen (Middleton, 2014).
Kembali ke bernyanyi dalam Kerajaan Allah.

Orang Kristen diajarkan bahwa tujuan hidup adalah menyembah dan memuliakan Allah. Makna tersebut kerap direduksi menjadi ekspresi verbal dan emosional untuk memuji Allah. Sementara Paulus mengajarkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2). Menyembah Allah mencakup apapun yang kita lakukan (Middleton, 2014).

Menurut C. S. Lewis (1946), tidak ada yang boleh dinyanyikan atau dikatakan di gereja yang tidak bertujuan -langsung atau tidak langsung- untuk memuliakan Allah atau mendidik umat. Jika gereja adalah gambaran cara hidup manusia yang ditebus, maka kegiatan bernyanyi mencerminkan hal itu. Bernyanyi dalam konteks dunia yang sudah direstorasi dalam Kerajaan Allah bertujuan sama dengan aktivitas lain. Bernyanyi adalah bagian dari kerangka tujuan penciptaan, yaitu untuk kemuliaan Allah, bukan kepuasan manusia.

Tidak suka bernyanyi?

Kecintaan saya pada bernyanyi sedikit banyak dipengaruhi oleh kultur dan dukungan orang sekitar. Mereka meyakinkan saya pandai bernyanyi. Saya pun kagum pada musik yang menggerakkan emosi, apalagi lirik lagu yang begitu dekat dengan pengalaman pribadi. Saya bernyanyi karena alasan yang egois.

Dengan alasan di atas, Anda mungkin berpikir bahwa bernyanyi di gereja mudah untuk saya karena saya menyukainya. Namun saya masih punya kesulitan menyanyikan lagu yang tidak saya nikmati secara sensori, termasuk kidung-kidung gereja. Beberapa kidung terasa kaku, kurang puitis, kurang estetis atau progresi akordnya kurang indah. Banyak penilaian subyektif yang saya diam-diam layangkan pada kidung Kristen karena kurang enak didengar. Padahal liriknya justru bermakna mendalam.

Saya juga sadar bahwa tidak semua orang suka bernyanyi. Ada yang menganggap diri tidak dapat bernyanyi atau tuli nada (meskipun penelitian memperkirakan sangat sedikit orang yang benar-benar tuli dana, dalam Henry & McAuley, 2010).

Siapa pun tidak dapat memaksa Anda untuk bernyanyi. Perlu dipahami bahwa kepuasan individu bernyanyi di gereja tidak sepenting yang diyakini. Mungkin ada anggapan, kalau saya menikmati lagu, tentu Tuhan senang. Hingga tanpa sadar, kita menempatkan diri lebih dulu daripada Tuhan.

Literatur yang saya temukan untuk tulisan ini justru mengatakan bahwa kepuasan pribadi dan sensasi emosional bukan inti bernyanyi di gereja. Sebaliknya, kita diminta untuk mereduksi kepuasan ragawi dan berfokus pada subyek nyanyian.
Hal ini mengingatkan saya pada saran salah seorang pelatih paduan suara. Menurutnya, ketika bernyanyi dalam paduan suara, semakin kita berfokus pada kepuasan diri, maka kita sedang mengorbankan kepuasan pendengar (Yohanes, 2018). Banyak aspek yang tidak kalah penting dari kepuasan pribadi saat bernyanyi bersama. Harmonisasi suara kita dengan orang lain, kepuasan pendengar, hingga pesan yang ditangkap melalui nyanyian. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati musik yang dinyanyikan, namun kita bukan bernyanyi hanya untuk diri sendiri.

Ketika kita ingin memaknai bernyanyi di gereja, kita perlu bertanya, siapakah subyek utama dalam nyanyian kita? Apakah diri sendiri, orang lain atau Dia?

*
(Daftar rujukan tersedia)
*Jemaat dan pelatih paduan suara di Gereja Komunitas Anugerah
*Perupa, tinggal di Yogyakarta

Tags : kidunglagumenyanyipujianTeologi Remeh Temeh
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response