close
Wajah Yesus

Dini hari Senin 9 April 1945 di kota kecil Flossenburg, Jerman. Seorang laki-laki 39 tahun memberi isyarat kepada petugas. Ia berlutut, berdoa khusyuk. Setelah itu ia berdiri, menanggalkan pakaian penjaranya.

Seorang perwira membacakan vonis hukuman mati. Bertelanjang dada, laki-laki itu melangkah tenang ke panggung tiang gantungan. Menaiki anak tangganya satu demi satu. Kedua tangannya menarik tali gantungan, ia memasukkan kepalanya.

Tubuhnya diam. Beberapa detik. Kini seluruh dirinya siap. Perwira memberi aba-aba. Algojo melaksanakan perintah. Dan dalam sekejap tubuh itu tergantung di udara. Sungguh suram pagi itu.

Laki-laki yang dihukum gantung itu adalah Dietrich Bonhoeffer. Dia martir di antara 12 juta yang dibunuh oleh kekejaman pemerintahan Adolf Hitler.

Dietrich kecil menghabiskan masa kecil di Breslau. Pada 1912 keluarganya pindah ke Berlin. Ayahnya, Karl Bonhoeffer, seorang ahli saraf terkenal. Sang ayah menanamkan disiplin kepada delapan anaknya, Dietrich anak keenam. Mereka dibesarkan dalam tradisi Lutheran. Mereka menentang Nazisme.

Semua kakaknya pengacara dan ilmuwan. Ketika ia memutuskan sekolah teologi, keluarga menentang. Gereja sangat membosankan, ketinggalan zaman, munafik, ujar mereka. Ia merespons, kalau begitu aku akan mengubahnya.

Tiga tahun ia kuliah di Universitas Tubingen. Usia 19 tahun ia menjadi doktor teologi dengan peringkat tertinggi. Khotbah pertamanya adalah, “Kekristenan berarti perubahan, penyangkalan, permusuhan terhadap masa lalu dan pikiran-pikiran kolot.”

Tahun 1928 pertama ia menjadi pendeta di gereja Barcelona Spanyol. Jemaatnya kebanyakan kaum elite. Sikap kolot jemaat membuatnya tak tahan. Hanya setahun, ia balik ke Jerman.

Waktu itu Jerman sedang dalam klimaks Depresi Besar. Dan pada masa bergejolak ia melahirkan dua buku The Communion of Saints dan Act and Being yang menjadi dasar teologisnya untuk bergerak. Kedua karya adalah upayanya untuk menarik gereja turun dari menara gading rohani, menyentuh masyarakat jalanan.

Usia 24 tahun ia menjadi dosen di Universitas Berlin. Mendapat beasiswa dari Union Teological Seminari New York, ia pun terbang ke sana, mengajar.

Di Amerika, ia melihat situasi politik negerinya dengan kaca mata asing. Ia sadar ancaman serius Nazi bentukan Hitler. Partai kecil Nazi sedang berubah menjadi gerakan nasional. Banyak kawan Jermannya bersimpati pada Nazi. Patriotisme yang penuh kebencian.

Nazi tak sama seperti komunis Rusia. Nazi mendukung gereja. Mereka ingin memulihkan wibawa Jerman, kata teman-temannya. Namun ia tidak percaya.

Franklin Fisher, koleganya yang berkulit hitam, mengajaknya ke Harlem. Gereja kulit hitam. Di sana pertama kali ia berpikir dari perspektif orang miskin dan tertindas. Hatinya galau melihat Fisher tidak dilayani di satu restoran gara-gara berkulit hitam.

Sejak itu di dalam dirinya bersikap melawan terhadap rasisme. Matanya terbuka melihat gereja terlalu sering mencari kesenangan dari kalangan terhormat. Bukan turut menderita dengan kelompok tertindas.

“Siapa Yesus tahun 1933 ini? Di mana Dia ditemukan? Di gereja yang tunduk kepada berhala? Tidak! Kalian akan menemukan Dia dalam diri tawanan, orang yang dianiaya, gelandangan di jalanan!” Khotbahnya sangat menyala di gereja.

Waktu itu Adolf Hitler sudah diangkat menjadi perdana menteri. Nazi menjadi gerakan politik kuat. Hitler menjanjikan masa depan Jerman yang gemilang tanpa unsur asing. Ia berambisi menjadikan bangsa Arya berkuasa.

Dua hari setelah Hitler berkuasa pada Februari 1933, Bonhoeffer berpidato melalui radio. Secara terbuka ia menentang Hitler. Sayangnya tidak didukung gereja. Gereja tengah mesra dengan Hitler.

Sepanjang masa Republik Jerman, gereja kehilangan dukungan pemerintah. Sekarang Hitler menyambut gereja. Ia menjanjikan gereja yang kuat. Banyak pemimpin gereja terpesona dengan gagasan Hitler. Mereka pasang bendera Nazi saat ibadah.

“Karena Hitler maka Kristus menjadi nyata di tengah kita,” teriak satu gereja.

“Di puncak kekacauan sejarah gereja, Hitler menjadi kejernihan yang indah! Melalui dia kita mampu melihat Sang Juruselamat.”

“Kristus telah datang kepada kita melalui Adolf Hitler!”

Gereja dipenuhi skandal. Ia tak berhenti berjuang. Bersama kawannya, Martin Niemoller, ia memimpin gerakan Kristen bawah tanah yang menentang Gereja Nazi Jerman.

Saat di London tahun 1934, ia mengumpulkan 5000 pendeta dan kaum awam dan membentuk Gereja yang Mengaku (Confessing Church) disingkat GyM. Mereka menggugat gereja yang bebas alias tak terikat negara.

GyM menyelenggarakan pertemuan nasional di Wuppertal-Barmen. Peserta menandatangani Deklarasi Barmen. Mereka menentang Gereja Nazi Jerman yang bertentangan dengan iman Kristen.

Dua bulan kemudian Presiden Von Hindenburg wafat. Hitler perdana menteri merangkap Presiden. Uskup Nazi menyerukan semua pendeta mengucapkan sumpah patuh kepada Sang Fuhrer.

Konflik antara Gereja Nazi dan GyM memuncak. Gereja-Gereja Sedunia mengadakan konperensi di Denmark tetapi tidak tahu perpecahan dua gereja di Jerman. Mereka mengundang Dietrich sebagai pembicara. Ia berkotbah pagi yang tak terlupakan tentang perdamaian dunia.

Pada musim panas 1935, GyM memperlengkapi 25 murid untuk peperangan spiritual. Tahun 1937 Gestapo membatasi GyM. Pendeta-pendetanya ditangkap. Murid-murid yang dilatih Dietrich diinterogasi dan dianiaya. Polisi Hitler menutup seminari. Tahun 1938 orang Yahudi secara terbuka dibedakan hak-haknya dari warga Jerman.

Malam Kristal (Kristallnacht). Pada 10 November 1938. Pengikut Hitler membakar dan menjarah 195 sinagoge dan 8000 toko Yahudi. Penghancuran, penjarahan dan pembakaran berlangsung setiap hari. Kerumuman melihat tetapi tidak membantu. Dunia marah tetapi tak ada yang bertindak sebagai penengah.

Pada masa itu ia sudah menjauh dari gereja. Ia menjadi orang Kristen tanpa gereja. Ia pergi ke Amerika Serikat tahun 1939. Baru sebulan ia pulang untuk kembali berjuang melawan pemerintah negerinya.

Ia tak mungkin mundur. Ia menjadi agen sipil inteligen. Ia membocorkan rahasia kepada sekutu. Tahun 1943 ia ditangkap dan dipenjara militer di Berlin atas tuduhan upaya membunuh Hitler. Hari-hari terakhirnya di Buchenwald dan Flossenburg, ia menulis buku Cost of Discipleship –harga menjadi murid.

Mengupayakan kesejahteraan masyarakat adalah wujud hukum kasih. Jadi apa kita sekarang? Dalam konteks Indonesia, apa arti beriman mengingat pembantaian 1965, korupsi yang keji, pembodohan intelektual, ketidakadilan bagi LGBT, kekerasan terhadap perempuan dan anak, diskriminasi kelas, perebutan ruang-ruang publik olehsekelompok elite, konflik Papua, ujaran kebencian yang massif, buka-bukaan sangat tak tahu malu, dan kejahatan lainnya?

Bapak-ibu gereja, para martir sudah memulai. Tak mungkin kita tinggal tenang. Gelisahlah. Upayakanlah kesejahteraan. Lawanlah kebatilan. Siapa Yesus hari ini?

*

Lukisan Wajah Yesus (2011)
Acrylic on paper
37x52cm

is/11/12/18
versi lengkap tayang di buletin profetika eklesia edisi desember 2018

Tags : Siapa Yesus Hari Ini
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response