close
HMRS

Teks Arie Saptaji*

 

“Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa menyimak pesan Tuhan peduli kepada mereka yang tersingkir, yang terinjak-injak, yang tertindas!” kata Philip Yancey, penulis Amerika yang kerap menyuarakan kegelisahannya atas gereja.

Eko Saputra Poceratu dalam buku puisinya Hari Minggu Ramai Sekali (HRMS), menangkap pesan itu. Sembari mengumandangkan latar Papua dan Maluku, penyair muda ini memberi kredo pada awal buku:

Pada awalnya Tuhan menciptakan kata,/lalu sastra,/ maka kutulis puisi sebagai bentuk/ paling realistis untuk melayani/ yang tertindas.

Menggemakan Doa Bapa Kami, yang memohon agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga, Eko dalam Ada Neraka di Papua menyatakan bahwa surga dan neraka itu dihadirkan. Puisi ini mengingatkan kita hidup bukan sekadar untuk antre masuk surga, tetapi berjuang menghadirkan surga di bumi.

Sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua

 Puisi sebagai Sikap Politik

Puisi-puisi Eko menawarkan dua latar yang jarang dalam khasanah sastra Indonesia, yaitu kristiani dan wilayah Timur Indonesia.

Gaya tuturnya mengingatkan kita pada puisi-puisi balada Rendra. Namun, Eko lebih lugas dan hemat metafora.

Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal,/ sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima,/ siapa yang tiba” (HMRS, h. 24).

Hal paling menyegarkan tak lain kredo kepenyairannya: bahwa Eko menulis puisi sebagai bentuk pelayanan bagi mereka “yang tertindas”. Baginya, menulis puisi adalah sikap politik.

Sastra kita banyak dipengaruhi oleh ideologi Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang mempromosikan konsep “seni untuk seni”, suatu sikap berkesenian yang apolitis. Mengutip cuitan Mikael Johani tentang Manikebu: an ideology that voices not dissent, but a divorce from everyday,  reality that has sterilized Indonesian literature, especially poetry, sucked the politics out of it, and turned it into spineless, hallmark drivel that helps prop up the status quo.

Eko memilih menyempal dan memasuki barisan penyair yang menggunakan puisi untuk menyuarakan sikap politik. Dan, betapa tajam suara yang tersiar melalui kumpulan puisi ini!

Terantuk dan Tersentak

Sebagai orang Jawa yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan Maluku, saya terantuk konteks lokal. Sageru atau kusu-kusu, misalnya. Apa itu? Mungkin seperti ini rasanya orang Indonesia Timur membaca Pengakuan Pariyem atau puisi-puisi Wiji Thukul.

Saya teringat komentar seorang teman Toraja saat membaca novel saya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Terlalu Jawa, keluhnya. Tapi, saya tak ingin mengeluh. Saya ingin menikmati dan merayakan keragaman warna lokal, yang menolong saya untuk menengok keragaman Indonesia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Sebagai pembaca Kristen, saya tersentak menyimak kegelisahan Eko terhadap gereja dan lingkungannya. Gereja cenderung menyukai puisi-puisi religius ala Hallmark, sejenis yang ditawarkan oleh Manikebu tadi. Orang Kristen lebih suka gambar-gambar elok dengan kutipan ayat atau kata-kata menggugah. Puisi-puisi Eko, sebaliknya, meski dibumbui humor, lebih mirip pil pahit.

Saya tepekur, betapa gereja (baca: saya) lebih menelanjangi dosa-dosa personal, tetapi memalingkan muka dari dosa-dosa sosial. Kita sibuk berebut masuk surga, tetapi alpa berjuang menghadirkan surga di dunia. Puisi-puisi Eko menempelak kecenderungan tersebut.

Mariana dan Maria Zaitun

Salah satu (atau salah enam) puisi yang mencekam adalah Episode Mariana (1) sampai Episode Mariana (6). Perempuan yang mati beranak di Papua  adalah puisi pedih tentang perempuan yang tertindas.

Saya menyandingkan puisi itu dengan puisi Rendra, Nyanyian Angsa. Bagaimana nasib Mariana dalam puisi Eko dan Maria Zaitun dalam puisi Rendra?

Maria Zaitun terusir dari rumah pelacuran, pergi ke dokter yang memberinya suntikan vitamin C, lalu ke gereja. Koster gereja menahannya di luar pintu. Pastor menemuinya untuk menghakimi. Dan Malaikat penjaga firdaus menguntit dengan wajah dengki. Sampai di tepi kali ia bertemu Sang Mempelai. Ia mengalami penebusan dan pembebasan: Pelacur dan pengantin adalah saya. Simul justus et peccator.

Mariana mirip-mirip nasibnya. Ia terusir dari pernikahannya, dikhianati suaminya, dalam kondisi hamil lima bulan. Tanpa uang, ia tersaruk-saruk di jalanan. Naik angkot, seorang lelaki membayar ongkosnya, namun menggagahinya: tanda-tanda sudah tak memihak seorang janda. Ia mendapat pekerjaan di pabrik kayu setelah mandor menidurinya: Dari kasur ke kasur. Mariana mati saat melahirkan, bayinya diadopsi orang.

Berbeda dari Rendra, Eko mengeliminasi kehadiran Tuhan dan gereja dalam puisinya. Tuhan dan gereja hadir saat Mariana dan suami menikah, menguap setelah mereka bercerai. Mengapa Mariana tidak mengadukan nasibnya kepada Tuhan atau gereja? Seandainya Mariana lari ke gereja, akankah nasibnya lebih baik? Atau senasib dengan Maria Zaitun?

 Tenggelam di Jakarta

Pesan kumpulan puisi ini menjadi relevan di tengah kondisi Papua sekarang. Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.

“Tingkat pelanggaran kemanusiaan yang terlalu dahsyat. Ini bencana besar bagi Indonesia sebenarnya, tapi Jakarta santai-santai saja,” kata John Jonga, anggota tim.

Ketidakadilan di Papua terekam dalam puisi Matahari Papua. Benar Matahari turun di Papua. Namun, alih-alih menerbitkan harapan, matahari bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan.

Bukan matahari yang mengkhianati mereka tapi kota (baca: Jakarta). Puisi itu menutup diri dengan pahit: matahari memang terbit di papua dan tenggelam di jakarta”. Matahari harapan yang terbit di Papua (di-)tenggelam(-kan) di (atau oleh) Jakarta. Maka nerakalah yang tersisa.

Buku HMRS tipis saja. Namun, ia lantang mengumandangkan suara kenabian. Puisi-puisinya adalah suara kenabian, penyambung lidah kaum yang tertindas.

***

*Penulis dan peresensi, tinggal di Yogyakarta

 

Hari Minggu Ramai Sekali

Penulis: Eko Saputra Poceratu

Penerbit: Bentara

Tahun 2019

Tebal 84 halaman

13x19cm

 

Tags : surga/neraka puisi papua gereja tertindas
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response