close
Foto Buku Lusifer

Teks Ita Siregar

Bila Anda mahasiswa Kristen tahun 80-an, di Bandung misalnya, mungkin novela ini akan mengingatkan Anda pada suatu ketika. Sebuah gerilya rohani yang sangat kuat terjadi di kampus-kampus.

Mahasiswa-mahasiswi yang berlatar Kristen “dikristenkan” ulang. Keyakinan kepada Kristus dicek kembali, jangan-jangan selama ini percaya dengan cara yang salah, tidak alkitabiah, masih terbelenggu roh-roh nenek moyang, atau yang lain. Kalau itu yang terjadi, maka mesti dibersihkan hingga ke akar-akarnya, agar hidup yang benar dapat dimulai. Anda menjadi Kristen lahir baru.

Banyak mahasiswa terperangah dengan pengetahuan itu. Kristen sejak kecil, tapi ke mana saja selama ini? Syukurlah, mata yang dulu buta jadi celik. Sekarang jelas, kenapa Yesus mesti lahir di dunia dan mati disalibkan. Bagi mereka yang mendapat pencerahan, diberi tanggung jawab sama:  memberitahu kabar baik ini kepada yang lain, agar mereka pun mendapat hidayah.

Seperti memperoleh tugas yang mulia, banyak mahasiswa terlibat dalam pusaran yang baru, lupa dengan tujuan utama ke Bandung: kuliah. Mereka disibukkan dengan pertemuan dengan pembimbing rohani, belajar kitab suci, meneliti ayat-ayat, mendoakan orang lain, dan kegiatan lain. Sangat sangat sibuk. Tapi semua tak terasa berat karena baru kali ini hidup menjadi berarti. Bahkan menyesal, kenapa berita hebat ini baru terbuka sekarang?

Lantas mahasiswa-mahasiswa menjadi pembimbing rohani, pemimpin kelompok, pembicara, pendoa, konselor, pendengar, penggerak, dan yang lain, demi keselamatan orang lain. Persekutuan kecil di mana-mana. Kelompok doa 4-5 orang di perpustakaan kampus, di taman-taman kota, di rumah-rumah kos, di mana saja.

Tak jarang mahasiswa berhenti di semester 6 atau cuti untuk sementara waktu karena terlalu banyak hal rohani mendesak harus dilakukan. Hal surgawi lebih penting daripada hal duniawi. Menjadi sarjana bisa kapan-kapan. Tetapi siapa peduli jiwa-jiwa yang akan binasa? Setiap orang yang tidak bayar harga tidak layak untuk pekerjaan ini.

Mahasiswa-mahasiswa garda depan itu pun melapor ke orangtua masing-masing, bahwa mereka telah menerima panggilan yang lain di Bandung. Menjadi penjala manusia. Bukan menjadi sarjana dunia.

Lalu mereka membuka pelayanan baru, berkembang menjadi besar, menjadi gereja. Tahun demi tahun berlalu. Mahasiswa-mahasiswa baru direkrut untuk menjadi pekerja baru. Setiap mahasiswa yang tergerak melayani jiwa-jiwa, menjadi pelayan penuh waktu. Hidup menjadi lebih fokus.

Namun, tak sedikit mereka yang dulu merasa terpanggil tetapi ternyata tidak benar-benar terpanggil, mengalami burnt out. Mereka terbakar dan gosong luar dalam. Mereka minggat dari keluarga Allah, menjadi manusia biasa. Bahkan menjadi penentang, musuh.

*

Saya tidak tahu kapan gerakan karismatik kekristenan Indonesia dimulai. Mungkin tahun 70-an atau lebih awal. Yang saya tahu banyak gereja baru muncul dengan pemimpin mahasiswa-mahasiwa yang dalam cerita saya di atas. Tidak perlu sekolah teologi untuk menjadi pendeta. Roh Kudus sendiri akan menjadi gurunya. Kira-kira begitu keyakinannya.

Gereja yang berawal dari gerakan karismatik memiliki ciri-ciri pentakostalisme. Seorang karismatik percaya bahwa sedikitnya orang Kristen (baca: orang percaya) punya satu karunia roh. Tuhan tidak pilih kasih. Dianalogikan sebagai anggota tubuh Kristus, maka setiap orang Kristen mempunyai peran –besar atau kecil- yang menyebabkan tubuh itu berfungsi dengan baik.

Salah satu karunia roh yang dimaksud adalah glossolalia atau bahasa roh atau bahasa lidah. Bahasa lidah menjadi penanda bahwa orang tersebut dipenuhi oleh Roh Kudus. Manifestasi Roh Kudus ditandai dengan kesembuhan ilahi, mukjizat-mukjizat, atau glosolalia. Sebenarnya hal ini biasa seperti halnya kegiatan jemaat perdana setelah Yesus wafat atau semasa Paulus.

Pada kenyataannya, glossolalia tidak mengena pada semua orang. Namun sudah keburu terpatri dalam hati bahwa ketiadaan bahasa lidah berarti orang tersebut kurang percaya. Itulah sebabnya, di beberapa gereja karismatik, bahasa lidah dipelajari, dengan menyebutkan dahulu beberapa kata untuk memancing kehadiran Roh Kudus.

Novela Lusifer! Lusifer! yang ditulis oleh Venerdi Handoyo dan diterbitkan oleh POST Press ini, menurut saya, adalah cermin dari apa yang terjadi pada beberapa gereja karismatik, pada level ekstrem. Tidak semua gereja. Tetapi banyak gereja.

Istilah-istilah dalam percakapan, ayat-ayat kitab suci yang dipakai, nama-nama tokoh, cara berdoa, kalimat-kalimat dalam dialog di dalam buku, menggambarkan kejadian sebenarnya di dunia nyata. Tertarik untuk mengetahuinya, sila baca buku ini.

 

Novela Lusifer! Lusifer!

Penulis Venerdi Handoyo

Xii + 126 halaman 13x19cm

Penerbit POST Press

Juli 2019

 

Itasiregar/11 Sept/2019

 

Tags : Resensi Buku Menyibak Praktik Karismatik Gereja
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response