close
Piltik 4a

Kopi Black Apron Siborongborong membawanya pulang kampung.

Pada satu hari tahun 2007, di Jakarta. Seorang  laki-laki berkaca-mata memasuki kedai kopi Starbucks di bilangan Setiabudi. Apa perlunya ke sana kalau bukan ngopi?

Ia masuk, dan sekilas ia melihat deretan kemasan kopi yang dipajang di satu rak. Seperti sudah ditentukan berjodoh, matanya tertancap pada tulisan Black Apron Siborongborong. Ia mematung seketika. Seperti kesetrum listrik.

Siborongborong? Ia heran. Itu nama kampungnya. Ia mengenal kopi sebaik ia mengenal Siborongborong. Sejak kecil ia dan keluarganya dan tetangga dan siapa saja di sana, minum kopi. Tak ada yang istimewa. Setiap orang dapat dipastikan punya pohon kopi di halaman rumahnya. Sekarang, apa alasan Starbucks memajangnya?

Lantas ia membaca catatan Starbucks: dijamin organik karena kebun berada di alam terbaiknya, di antara rumah, sawah, kerbau. Dirawat dalam suasana hangat keluarga. Dipanen secara manual, dengan tangan. Cahaya matahari berlimpah. Jauhlah dari kesan kopi industri yang dingin dan monoton.

Yang benar saja, batinnya. Tapi hari itu ia melihat kopi dan kampungnya dari angle berbeda. Pedagang kelas dunia mengakui kopi asal kampungku, batinnya.

Sayangnya, tak banyak petani kopi lokal merespons dengan antusias pengakuan tersebut. Dalam arti, mereka kurang tertantang untuk “mengambil keuntungan” dari promosi gratis itu. Tampaknya memang tidak mudah mempertahankan sebuah pujian di lapangan. Sesuatu harus dilakukan, pikirnya.

Pendek kata, ia galau memikirkan itu. Orang luar mengakui produk kampungnya, sementara apa yang kulakukan? Aku tinggal di kota dan jauh dari kenyataan itu, ia membatin.

Sebagai fotografer profesional, lulusan dari London itu menemui produsen kamera Sony. Dengan pede ia meminta Sony membiayai risetnya tentang kopi di Siborongborong. Kegiatan itu semacam akan memberinya kesempatan untuk “melihat lagi” kampungnya.

Sony langsung setuju. Maka dua tahun setelah peristiwa di kafe Starbucks, tahun 2009, ayah dua anak ini terbang ke kampungnya. Dengan sepenuh kemampuan ia menatap lama-lama, menulis, membidik, mengamati, memikirkan, segala hal berkenaan kopi dan Siborongborong.

Di kampung, ia menemui realitas berbeda. Para petani kopi tidak minum kopi dari kebun mereka sendiri. Mereka malah membeli dan minum kopi kemasan di pasar, yang sudah dicampur susu atau gula. Iklan telah mengubah cara pandang mereka dalam memandang kopi.

Fakta itu membuatnya tambah galau. Boro-boro mereka percaya kopi sendiri. Mendengar kopi Siborongborong disebut Starbucks pun, mungkin petani hanya komentar, so what gitu, lo? Sekarang, bagaimana mendidik petani agar mereka tahu nilai sebutir kopi mereka?

Tak ada jalan lain, aku harus pulang kampung, tekadnya. Tidak bisa sekadar hit and run. Orang desa perlu contoh. Para petani perlu ekosistem. Petani perlu identitas diri. Mereka perlu komunitas. Dari sanalah kekuatan dan kepercayaan diri dan kolektivitas akan terbangun. Persepsi petani soal kopi dan kampungnya, harus berubah.

Kopi Siborongborong tumbuh pada ketinggian di atas 1200 meter di atas permukaan laut. Itu lingkungan ideal pohon kopi menghasilkan yang terbaik dari dirinya. Semakin tinggi semakin baik. Menurut Tigor sendiri, setelah bergaul dengan bermacam kopi selama ini, ia menemukan keunggulan kopi Siborongborong, yaitu aroma kuat dan punya after taste yang panjang. Tidak semua kopi punya keistimewaan ini.

Sebuah tekad takkan jadi apa-apa sebelum direalisasikan. Jadi bagaimana? Setiap orang mungkin terpanggil tetapi bagaimana merespons dengan kerelaan dan bukan mati sia-sia.

Bagaimana pun dapur keluarga harus tetap ngebul. Istri dan dua anaknya perlu tempat tinggal layak. Dan suara bonapasogit memanggil-manggil sudah tak mungkin diabaikan lagi.

Maka, tahun 2013, setelah melewati diskusi panjang dengan keluarga kecilnya, Tigor memutuskan untuk mengundurkan diri dari London School, tempatnya mengajar selama 16 tahun. Ia meletakkan profesi fotografer profesional yang telah disandangnya selama ini.

Dan ia beruntung karena istrinya, Vera Paskahlena Hutauruk, punya semangat yang sama. Ia setuju mengundurkan diri dari pekerjaan di satu hotel bintang lima di Jakarta. Bahkan ia bergerak lebih dulu.

Sebagai mantan personel hotel, bahasa Inggris adalah makanan sehari-hari Vera. Mereka akan mulai dengan pendekatan yang rasanya akan diterima: kursus bahasa Inggris. Gratis. Ini proposal paling mudah. Lalu pindahlah mereka, ke kampung.

Kursus itu menjadi pembuka jalan. Tidak mudah meyakinkan banyak pihak. Sekolah dan orangtua menyambut dengan setengah hati. Warga curiga dengan kehadiran mereka. Tetapi mereka jalan terus. Rumput ilalang yang tinggi harus ditebas agar pemandangan indah itu terlihat.

Sampai kegiatan Vera diperhatikan orang di belahan dunia sana. Seorang mahasiswa dari Belanda mengirim pesan bahwa ia bersedia magang di tempat kursus Vera, asal tersedia akomodasi.

Berita yang bagus. Mereka merespons dengan segera membangun satu kamar. Mahasiswa Belanda magang selama tiga bulan. Setelah itu relawan Jerman, Belanda, Cheko, dan lain-lain negara, berdatangan. Mereka bergantian mengajar. Kamar pun satu per satu bertambah jumlahnya. Waktu itu melihat bule berkeliaran di kampong, hal biasa bagi warga Siborongborong.

Kemudian kamar-kamar yang dibangun itu dinamai Piltik Homestay. Piltik, dalam bahasa Batak, salah satu artinya adalah klik, saat menjepret kamera. Itu kata bermakna bagi Tigor. Karir memotretnya yang sudah dijalani sejak 1985. Itu telah memberinya banyak kesempatan dan pengalaman.

“Setelah homestay, jadi rarat,” katanya. Rarat, bahasa Batak, artinya, merambat ke mana-mana.

Relawan yang tinggal di homestay bagaimana pun perlu tempat kongkow. Lalu muncul ide kedai kopi. Kedai yang menyediakan kopi dan makanan. Kedai itu pun dinamai Kopi Piltik.

Tigor sendiri terus margumbak soal kopi. Learning by doing. Dia ingin pengetahuannya tentang kopi tak setengah-setengah. Ia terbang ke Bali untuk belajar serius tentang kopi, meracik kopi, mendapat sertifikasi. Dan pengetahuan itu ia teruskan ke koleganya: para petani. Relasi dengan petani terjalin mutualisme. Petani senang menjual kopi ke Kedai Piltik. Kedai Piltik suka membeli kopi yang jelas kualitasnya.

Dan ia belum melupakan profesi awalnya. Sesekali ia mengajak siapa saja yang tertarik untuk belajar memotret keindahan Danau Toba. Bukan sekadar memotret tetapi mencintai dan merawat lingkungan di sekitarnya.

Itu cerita sepuluh tahun. Sekarang coba googling piltik atau Siborongborong. Ceritanya akan ke mana-mana. Presiden Jokowi hampir mampir ke sana. Sekarang setiap orang berencana untuk mampir ke kedai yang indah dan bersih itu.

Itulah kontribusinya menjawab dengungan orang soal cintai dan rawat Danau Toba. Persepsi turis terhadap orang desa yang keburu dianggap jorok, buang sampah sembarangan, tak ramah, perlu diubah, katanya. Dan Tigor sudah melakukannya. Dengan caranya.

(is/07/11/19)

 

 

Tags : Kopi Siborongborong Piltik Edward Tigor SiahaanVera Hutauruk
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response