close
Detail-Religion-Charles-Sprague-1897

Saya mengkhawatirkan banyak hal sampai kami tiba di rumah setengah kayu sederhana dan beratap seng itu. Kepala saya belum lagi selesai merangkum pertanyaan-pertanyaan untuk dilontarkan nanti. Padahal seluruh diri saya dipenuhi rasa ingin tahu.

Orang yang kami kunjungi itu membuka pintu rumahnya, menyambut. Di palang pintu, jeruk purut dan kemangi bergelantung pada tali-tali. Kami memasuki rumah, langsung ke ruang tengah. Ini ruang kerja saya, katanya. Di sana ada komputer layar cekung lebar -yang sedang aktif- dan meja makan dengan beberapa kursi. Kami duduk dan  kami langsung mengobrol.

Kenapa berpakaian putih saat beribadah, tanya saya, ragu. Menangkap keraguan saya, suaranya menghardik saya halus: siapa berpakaian putih? Telinga saya mendengar: hati-hati membuat pertanyaan. Bersyukur ingatan tak berkhianat. Di dalam kepala saya melihat laki-laki-perempuan berbaris rapi, ulos yang disampirkan pada bahu kanan, kedua tangan ditangkup di tengah, dagu ditekuk, mata mengarah ke bawah. O, sorban yang putih ternyata.

Kawan yang datang bersama saya tak kurang sengit melempar pertanyaan-pertanyaan absurd seolah-olah ia tak dapat berpikir sendiri untuk menjawabnya. Saya geli ketika satu pertanyaannya tak seharusnya ditanyakan di sini. Ittor sude do disungkun ho tu ahu, kata tuan rumah sambil mendelik dengan cara khas, dari balik kacamatanya.

Tetapi pertanyaan saya tak kalah ajaib. Siapa memberi nama kepada Debata Mula Jadi Na Bolon? Orang Batak, jawabnya segera, dengan logat kental, seperti balik mempertanyakan: apa kau tak dapat berpikir sederhana soal itu? Kesadaran saya mampir lebih cepat. Tentu saja orang Batak. Tak mungkin Nommensen.

Saya menyimak penjelasan tentang teritori bius yang sudah diatur sejak masa purba. Jenius leluhur dalam mengatur tata cara hidup mereka . Ilustrasi empat sudut ampang (semacam keranjang) mengisyaratkan tugas raja maropat, yang sekaligus berperan raja parbaringin (imam). Onan alias pasar sebagai pusat kegiatan sosial.

Segala peraturan dilakoni dalam diam. Tak perlu dibahas, diperdebatkan, apalagi dipertontonkan. Bila dua sedang berselisih misalnya, bertemu di onan, pantang menunjukkan bahwa mereka berselisih, meski kulit mereka saling bersinggungan. Betapa kesadaran dan kepatuhan yang tinggi pada hukum. Kelak kita hanya bangga dengan dalihan na tolu (tiga kaki tungku). Padahal itu disebabkan tuan penjajah yang dengan sengaja meniadakan sistem teritori. Agar kita tercerai-berai dan lemah.

Tapi apa betul cerita asal-muasal Raja Batak yang madabu sian langit dan mapultak sian bulu? Bah! Ompung kita adalah orang paling keren sejagad raya, ucapnya. Dia mengatakan itu untuk menghentikan pertanyaan bocah kecil ceriwis dan menantang orang dewasa untuk berpikir.

“Sekaranglah kutanyalah kalian. Apa di Pusuk Buhit tempat lahir orang Batak pertama? Kita harus kritis mempertanyakan apa saja yang tidak masuk akal meski itu warisan leluhur.” Matanya kembali mendelik.

Seperti orang buta melihat saya girang. Menyadari orang di hadapan kami ini menganggap Sisingamangaraja adalah manusia biasa. Bukan raja keturunan dewa. Dia sakti karena dia menjalani laku. Melakoni hamalimon. Seorang yang marsolam. Membatasi diri dengan segala nafsu demi membersihkan diri. Agar eling nan waspada.

Dan Singa Mangaraja. Singa berarti mangarahon, merancang. Singa Mangaraja adalah orang yang maningahon. Yang bermarifat. Sebagai parbaringin, dia pun imam yang memimpin umat menghadap Mula Jadi Na Bolon. Bahwa seorang disebut pemimpin karena ada sekumpulan orang yang dipimpin. Dan yang dipimpin mengakui kepemimpinan itu, dengan sukarela.

Hau Sangkamadeha adalah analogi kehidupan orang Batak yang digambarkan secara indah. (Mungkin seperti pohon welenreng dalam kisah I La Galigo?) Ketika ranting-ranting muda, ia mandeha alias membentang. Hingga burung-burung, segala binatang kecil, bahkan ular dapat menumpang di sana. Berteduh dan beristirahat. Dan di puncaknya, sundung ke langit. Berfokus diri pada Pencipta. Tak ada penyesalan selama hidup karena telah dijalani dengan sebaik-baiknya.

Itulah yang disebut hidup semasa hidup dan hidup setelah mati. Serupa belalang. Belalang yang sudah mati kelihatan hidup karena sikap tubuhnya. Ketika tangan kita menyentuhnya dan ia rebah, barulah kita tahu dia sudah mati.

Saksang itu bukan jenis makanan, katanya. Itu adalah cara memotong daging secara kecil-kecil. Seharusnya Sibahue. Sibahue na disaksang. Sibahue na ditanggo. Sibahue na disahe. Kenapa tidak makan babi? Karena sejak dulu memang kerbau atau lembu yang disajikan di pesta-pesta. Kalau kepala kerbau ditaruh di atas tampah, berarti nanti daging kerbau yang akan terhidang. Hanya seorang penipu yang berani menaruh kepala kerbau di tampah tetapi menyisipkan lomok-lomok babi dalam penyajian. Sekarang kepala babi nampak di pesta-pesta tetapi kita tak pernah mempersoalkannya, bukan?

Sementara mengobrol kami menghirup harum di udara. Orang itu memang menyalakan aroma terapi. “Ambil kemangi kering itu,” katanya kepada saya. Saya memetik beberapa butirnya yang sudah kering. Harum. Semakin lama semakin wangi, katanya.

Ompung-ompung kita sejak lama akrab dengan wewangian. Lalu dia sebut saesae, bonangbonang, rugirugi, sanggesangge. Kecuali sanggesangge yang berarti serai, yang lain adalah akar-akar liar. Mereka tidak pernah ditanam namun tumbuh begitu saja di hutan-hutan, menyediakan diri bagi manusia yang mau memanfaatkannya. Tetapi kita sibuk menuduhnya perdukunan, bukan?

Adakah semua yang Abang bilang itu tercatat, tanya kawan saya. Memang ada pustaha tapi kami jarang lagi membacanya. Itu sudah ada di dalam diri karena kami menjalaninya sehari-hari. Bagaimana lupa kalau sudah ada di sini, katanya sambil menunjuk dada. Sekarang kita hidup dengan sekitar 235 ribu butir hukum tertulis tetapi masih juga banyak persoalan. Perlu berapa ribu lagi peraturan agar kita menjadi manusia yang seutuhnya?

“Tapi kenapa anak-anak sekarang sulit belajar bahasa Batak?” desak kawan saya.

“Jangan kau tanyakan itu sama aku. Aku tak bisa menjawab. Kau sendiri yang tahu. Karena semua anak di sini berbahasa Batak,” jawabnya.

Enam jam kami mengobrol. Intens. Diam-diam saya tersipu. Sebelum tiba di sini saya berharap terlalu banyak atau bahkan telah salah menerima kesan tentang beliau ini, dan pengikutnya.

Langit gelap di luar. Saya merasa tenang setelah kita berbicara tadi, kata teman saya. Saya membatin, saya juga. Tanpa membedakan apa pun siapa pun, kalau demikian ceritanya, bukankah artinya setiap kita adalah malim? Par malim? Apa pun agamanya. Kalau kita beragama.

Itasiregar/24/11/2019

Keterangan foto: Religion, Charles Sprague Pearce, 1897, Library of Congress, Thomas Jefferson Building, Washington, DC.

Tags : malim par malimparmalim
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response