close
BukuGAYATERASWARA-WARA

Lapis-Lapis Intertekstualitas dalam Buku Puisi Pelajaran dari Orang Samaria

Kaver Depan Pelajaran Orang Samaria

Orang Samaria yang baik hati (the Good Samaritan) adalah dongeng Yesus untuk murid-muridnya dalam rangka merenungkan siapa itu sesama manusia. Karena pesan universalnya, cerita dengan plot sederhana ini, populer dan mendunia. Kisah ini telah diterjemahkan ke beragam bentuk kreatif seperti cerita anak, komik, film, tari, selain kotbah pendeta di mimbar tentu saja.

Orang Samaria dibenci setengah mati oleh orang Yahudi lantaran mereka warga campuran. Mereka adalah hasil perkawinan dengan warga Asyur setelah mereka kalah perang, dan tinggal di kota Samaria, di utara Yudea. Di sana mereka mengadopsi agama baru dan meninggalkan agama lama.

Dan kebencian itu diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tidak saling cakap. Tidak saling anggap. Tembok Berlin di antara mereka belum dihancurkan. Sampai ada cerita orang Samaria versi Yesus: Ada seorang Yahudi tergolek tak berdaya di jalan sehabis dirampok, tidak ditolong oleh sesamanya Yahudi, malah ditolong habis-habisan oleh musuh mereka: orang Samaria.

Puisi-puisi dari buku Pelajaran dari Orang Samaria karya Giovanni A.L. Arum ini seluruhnya biblis, artinya, diilhami oleh teks kitab suci.

Ketika penyair menulis puisi dengan meminjam dari teks-teks lain, maka karyanya menumpuk dengan lapisan makna. Bila sebuah teks dibaca berdasarkan teks lain, maka segala asumsi dan efek dari teks lain itu, memberi kebaruan dan mempengaruhi cara orang menafsir teks asli. Itu disebut intertekstualitas.

Alkitab adalah contoh konsep intertekstualitas karena teks dalam perjanjian baru (setelah Yesus lahir) ada dalam perjanjian lama, dengan kemungkinan lapis makna tadi.

Mari kita perhatikan petikan puisi Pelajaran dari Orang Samaria ini.

Di kedalaman dukamu yang porak-poranda

Ingin kukunjungi engkau dengan rindu paling mulia

Di sana, kutuntaskan ibadahku

Dengan cara sederhana

Membersihkan luka-luka cintamu

Dengan minyak dan anggur

Dengan cinta yang melampaui

Sekat-sekat hukum kenajisan

Puisi ini dapat dibaca mandiri tanpa pembaca pernah membaca kisah Orang Samaria sebelumnya. Makna bisa ditemukan melalui latar dan pengalaman pembaca. Barthes (1992) mengatakan bahwa suatu teks bukanlah satu baris kata yang melepaskan makna “teologis” tunggal (pesan pengarang atau Tuhan) tetapi merupakan ruang multi-dimensi berbagai tulisan, yang nyatanya tidak satupun asli, saling bercampur dan berbenturan. Teks adalah kutipan yang diambil dari esensi budaya yang tak terhitung jumlah(di dalam)-nya.

Frase duka yang porak-poranda mudah dipahami sebagai suatu keadaan duka berganda (keadaan membenci secara turun-temurun); yang pada beberapa orang dapat memunculkan rindu paling mulia, yaitu kerinduan hati yang berusaha mewujud setelah banyak kontemplasi; bahwa ibadah dengan cara sederhana yaitu spiritualitas pribadi yang dekat dan intim, yaitu membersihkan luka-luka cintamu, satu tindakan nyata yang dapat melampaui sekadar luka fisik; dengan minyak dan anggur, yang dalam tradisi kitab suci adalah simbol roh suci dan sukacita.

 Coba kita tampilkan satu puisi lain dengan gaya intertekstualitas ini.

 

Iman adalah sebuah siasat jatuh

Ke dalam gaya Tarik-Mu

 

Puisi di atas berjudul Sebagai benih yang harus jatuh. Penyair mengutip perkataan Yesus yang menganalogikan manusia sebagai benih. Bahwa manusia, sebagaimana benih, dapat tumbuh bersemi bila ia jatuh dan pecah di dalam tanah. Kematian yang memunculkan kehidupan baru. Lalu lapisan makna tadi dibenturkan dengan iman, sebuah keyakinan yang utuh dan bulat tak perlu bukti, dengan sifat gravitasi bahwa apa pun benda memang akan jatuh ke bawah. Sebuah temuan yang rajin, bukan?

Sekarang coba yang satu ini.

Cinta pada pandangan berbahaya

Tatapan Tuhan sungguh berbahaya

Jauh lebih tajam dari pedang bermata dua

 

Lagi-lagi penyair menunjukkan ketekunannya dalam menemukan dan menghadirkan suasana intertekstualitas antara sebuah ungkapan kearifan dan baris teks dalam kitab suci.

Dalam buku Divine Love Story (2019), penulis Naek S Meliala, memberi subjudul yang menarik: Dalam permainan cinta, Dia pun kalah. D huruf besar merujuk pada Tuhan. Bab-bab dalam buku itu menjelaskan sebuah konsep (yang gawat) bahwa begitu cinta Tuhan kepada manusia -makhluk ciptaan-Nya, sehingga dalam interaksi untuk mendapat perhatian manusia sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan pun menyerah, kalah.

Buku itu mengutip banyak teks kitab suci yang menunjukkan Tuhan menangis, Tuhan menyesal, Tuhan Haus. Intinya, Dia yang Maha Segala dikecilkan oleh manusia yang serba terbatas. Bagaimana penjelasannya?

Pintu maaf Tuhan selalu terbuka bagi setiap manusia yang meminta ampun, berapa kali dan seberapa parahnya pun dosa itu. Sementara pada teks yang berbeda, ada teks yang mengatakan setiap dosa berujung maut. Bukanlah dengan demikian artinya Tuhan berkali-kali menyerah, demi manusia dapat abadi bersama-Nya?

Dalam konteks sekarang, bisa saja hal ini dianggap sebagai sebuah penistaan terhadap ke-Maha-an Tuhan (tunggu saja didemo). Tetapi itulah cinta. Sesuatu yang zahir. Sebuah kegilaan. Seperti penyair yang coba katakan dalam baris-baris puisi ini.

Karena iman adalah lintasan kegilaan

Maka Nuh bersiteguh mengerjakan bahtera

 

Sebenarnya tipis garis antara menggunakan intertekstualitas sebagai perangkat sastra dan menjiplak, bahkan seandainya pun tidak pernah dimaksudkan. Sementara penggunaan intertekstualitas yang kompleks dianggap sebagai alat canggih dalam penulisan. Pemanfaatan intertekstualitas akan melibatkan ideologi, konsep, atau yang lain, cerita atau sumber teks.

Penulisan ulang cerita yang populer dalam konteks modern dapat dipandang sebagai penggunaan intertekstualitas yang berbudaya. Yang pasti, intertekstualitas adalah alat penulisan yang sayang bila diabaikan. Ia membuka kemungkinan dan perspektif untuk membangun sebuah cerita dan menghadirkan makna baru dalam lapisan-lapisannya.

Ada 52 puisi dalam buku ini, namun saya mengambil hanya 4 di sini. Selamat membaca dan menemukan lapisan makna, yang bagi saya telah memberi rasa seperti melompat-lompat atau sukacita yang mengharukan, melihat bagaimana frase kata memberi kepuasan dalam spiritualitas.

 

Pelajaran dari Orang Samaria

Oleh Giovanni A.L. Arum

13x19cm

86 halaman

Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora

2119

 

itasiregar/09/12/19

Tags : Pelajaran dari Orang dari Samaria
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response