close
Sebastian & Fam

Dua kata yang menjadi ciri dirinya.

Lelaki kelahiran Balige ini seorang yang ramah dan rileks. Kepada siapa pun ia mudah membuka diri. Sebaliknya, dari siapa pun ia tak segan menarik pelajaran dan nilai-nilai hidup.

Satu kali ia pergi ke Huta Ginjang. Itu adalah satu tempat favorit warga untuk berfoto dengan latar danau Toba. Seorang gadis fotografer mendekatinya, menawari jasa mengambil foto. Ia setuju. Sambil berpose, ia memperhatikan si gadis menentukan sudut pandang, yang menurutnya kurang menguntungkan dalam menghasilkan foto terbaik. Segera ia memberi tip singkat dalam mencari angle. Si fotografer girang apalagi setelah tahu orang yang menasihatinya punya studio foto. Itu hanyalah contoh dari mudahnya ia bergaul dengan orang yang bahkan baru dikenalnya.

Ayah dua putri cantik –Nada (15) dan Marchia (13 ) ini pun murah hati. Kemurahan serupa itu adalah keseharian yang ia saksikan di rumah. Bungsu dari sembilan bersaudara ini meneladani ayahnya, Oscar Hutabarat, dalam hal kejujuran dan kesederhanaan. Ayahnya mempunyai usaha pompa bensin tahun 60-an, yang menerima estafet usaha dari ayahnya, Kilian Hutabarat, yang tahun 1930-an adalah salah satu tauke di Balige. Kekayaan materi bukan untuk dipertontonkan tetapi untuk dirawat dengan tanggung jawab, itu pesan ayahnya. Ibunya, Mutiara Napitupulu, adalah ibu rumah tangga yang juga turut membantu usaha keluarga. Bekerja adalah tradisi keluarganya.

Ketika ayahnya meninggal tahun 2004, ibunya memintanya untuk membantu usaha keluarga. Kala itu stasiun pompa masih model lama. Ia memonitor pembangunan stasiun baru (SPBU) sambil melihat kemungkinan dan terobosan dalam memberi pelayanan lebih baik bagi pelanggan. Dari satu SPBU di Medan yang berulang kali mendapat penghargaan, ia menerapkan aturan kepada pegawainya, untuk sigap melayani dan peduli kebersihan di sekitar pompa.

Dan selama mengurus pompa bensin itu ia menghayati makna kata kalibrasi. Dalam beberapa bidang pekerjaan, istilah itu dipakai untuk mengukur secara tepat. Salah satunya menera volume bahan bakar minyak pompa bensin. Agar ukuran pas, alat itu perlu dikalibrasi dari waktu-ke-waktu. Kalau tidak, ukuran akan lari-lari, melenceng dari yang seharusnya. Dalam hal pompa bensin, alat disesuaikan dan dikembalikan ke angka 0 (nol). Baginya, kalibrasi adalah sesuatu yang amat penting, tidak boleh tidak. Dan bagi dirinya, Yesus Sang Kristus adalah kalibrasi, pribadi tempat ia kembali ke titik nol, menyesuaikan ulang standar-standar dalam hidupnya.

Selesai SPBU berdiri, ia tertantang untuk lepas dari usaha keluarga. Ia beruntung karena belahan jiwanya, Imelda Napitupulu, pianis kelahiran Jakarta yang dikenalnya sejak kuliah di Bandung, bersedia tinggal di Balige ketika mereka memulai hidup baru, tahun 1995. Masa-masa awal tidak mudah bagi mereka untuk menyesuaikan diri. Tapi ia setia mencari cara dan peluang.

Lalu satu peristiwa ini. Ia pergi ke rumah Ratna Gultom dan Thomas Heinle. Pasangan sahabatnya ini adalah aktivis lingkungan yang mengembangkan Eco Village Silimalombu, di Samosir. Di sana ia melihat Thomas bikin pizza dengan bahan yang tumbuh di sekitar rumah. Kelak menu itu menjadi cikal bakal Pizza Andaliman, restoran miliknya, yang mulai beroperasi dengan modal Rp500 ribu. Tahun lalu, lima tahun kemudian, pizza rasa andaliman itu termasuk dalam 10 top kuliner favorit ala dinas pariwisata Sumatera Utara.

Minat masyarakat berkunjung ke resto Pizza Andaliman memberinya pengalaman baru. Setiap akhir tahun ia menyaksikan Balige dibanjiri perantau yang pulang kampung. Mereka mencicipi pizza dan memberi apresiasi. East dan west menyatu. Andaliman bumbu lokal bersanding dengan pizza, makanan impor, dalam mencipta rasa, yang menginspirasi lahirnya menu lain berbumbu khas tanah Batak itu. Bandrek andaliman, bakso andaliman, dan yang lain. Keberhasilan itu membuatnya rajin memprovokasi Batak perantau untuk melirik Toba untuk berinvestasi. Membuat homestay, hotel, rumah sakit, restoran, apa pun. “Kalau bilang cinta Toba, buktikan dengan membuat sesuatu di sini,” katanya, tertawa.

Ia menularkan virus cinta Toba sambil mengajak masyarakat peduli lingkungan. Setiap kali melihat orang buang sampah sembarangan, suasana hatinya terganggu. Ia pun resah melihat ketidakadilan dalam bentuk apa pun. Ia tak tahan  untuk tidak bersuara. Nampaknya warga Balige mahfum soal itu. Bahkan Jenderal Purnawirawan TB Silalahi pernah kelakar bahwa ia adalah satu-satunya anak muda yang berani bertentangan pendapat dengannya.

Menurut Imelda, ia seorang perenung. Ia sejenis orang yang mempertanyakan kenapa harus ini, bukan itu. Itu sebabnya ia spontan mempertanyakan keberadaan mesin stone crusher di sisi pantai Danau Toba yang ia tahu daerah C alias dilarang ada penambangan. Dan sepanjang ingatan Imelda, suaminya tak pernah menghina orang lain. “Apa yang dituduhkan pengadilan kepadanya itu bertentangan dengan kenyataan,” lanjut Imelda.

Selama delapan bulan ia telah berupaya menjadi warga negara yang baik. Ia menghormati persidangan dengan kehadirannya, tanpa mangkir. Tim pengacaranya pun melakukan tugas dengan baik. Saksi-saksi dihadirkan. Meminta maaf dan berdoa bersama orang yang melaporkannya ke polisi, pun sudah. Artinya, semua upaya telah dijalankan.

Lalu ketika pengadilan memutuskan dua bulan penjara dengan tidak memperhatikan saksi-saksi dipersidangan, jelas ia kesal, dan prihatin. Ia dan tim pengacara memutuskan naik banding. Baginya sekarang, inilah momen ia berjuang mengupayakan keadilan agar ketidakadilan yang menimpanya, berhenti pada dirinya. Ketidakadilan yang terjadi di satu tempat akan menjadi ancaman ketidakadilan di mana-mana, begitu kata Martin Luther King II.

Peristiwa ini pula telah memberinya sinyal untuk bersikap lebih hati-hati. Namun ini tak menyurutkannya untuk mencintai Toba dan lingkungan. Kejadian ini menjadi semacam kekuatan baginya untuk berkata tegas tentang keadilan.

Di atas semuanya, ia merasa bebas. Peristiwa ini mungkin mempengaruhinya tetapi tidak membuatnya tertekan. Dukungan kepadanya karena peristiwa ini ia dapat dari banyak pihak, dan kian meluas. Hal itu amat ia syukuri. Dan ia tetap bekerja. Sekarang ia dan Imelda sedang mempersiapkan peluncuran The Boat, homestay dengan inspirasi bahtera Nuh, milik mereka. Kesibukan harian yang memberinya atmosfer menyenangkan, jauh dari tekanan hukum.

 

(is/15/01/20)

Tags : DiplomasiKalibrasiSebastian Hutabarat
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response