close
Ratna 2

Teks Ita Siregar
Foto Samot Hutagaol

Sebelas tahun setia kembangkan permakultur.

Pukul pagi 6 di desa Silimalombu. Udara dingin. Langit masih gelap. Air danau Toba tenang tak berisik.

“Jam berapa kasih makan ternak?” tanya Devin Lee, tamu asal Singapura, kepada sesama tamu homestay, di dapur.

Saat makan malam Ratna sudah mengundang tamunya untuk bangun pukul 6 bila ingin ikut memberi makan ternak: ayam, bebek, babi. Karena tak seorang pun di dapur, Devin dan kawannya berjalan ke kebun.

“Good morning!” Wajah Ratna muncul di jendela kamarnya. Rupanya pemilik homestay baru bangun. Mereka pun saling bersapa pagi dengan riang.

Ma Nina, asistennya di dapur, membawa biji jagung di tampah, menawarkan Devin dan kawannya untuk memberi makan ayam. Tangan mereka meraup biji-biji jagung dan menyebarkannya ke tanah sambil memanggil ayam-ayam ‘kerrrr’. Tak lama entah dari mana ayam-ayam berkumpul, sarapan.

Ratna segera bergabung dengan dua tamunya. Ia memimpin trip pagi itu: memberi makan bebek dan babi. Sungguh pengetahuan baru buat Devin dan kawannya. “Kelebihan homestay ecovillage adalah memberi pengalaman yang tak ada di homestay lain,” katanya.

Setelah itu ia mengajak mereka ke ladang. Ada pohon sirsak, mangga, markisa, kemiri, cokelat dan segala pohon lain, juga sayuran. “Setiap pohon diberi label. Itu kerjaan Thomas,” katanya, tertawa.

Kepada ratusan tamu yang sudah berkunjung ke desanya, ia menunjukkan kepedulian dalam menjaga dan melestarikan danau Toba, danau yang dicintainya sejak kecil. Pada waktu-waktu senggangnya ia bisa hanya berperahu sendiri, menikmati ketenangan dan keindahan danau, yang memberinya kesegaran baru dalam berkarya.

Peduli Bumi Sehat

Desa eko Silimalombu menganut konsep permakultur. Permakultur adalah desain ekologis lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. Permakultur digagas atas dasar peduli bumi yang sehat agar manusia sejahtera.

Berawal dari keluarga besarnya yang punya tanah puluhan hektar di desa Silimalombu, yang diwarisi dari ompung-ompung mereka. Di tanah itu sudah tumbuh pohon mangga Toba dan kemiri yang usianya ratusan tahun. Sekarang seluruh kegiatannya adalah mengelola sebagian tanah itu.

Sebelumnya, sebelas tahun ia malang-melintang di banyak kota besar dan bekerja di banyak perusahaan. Tahun 2009 ia memutuskan pulang kampung. Orangtuanya sempat khawatir karena orang desa biasanya berpikir sederhana: perantau yang balik ke desa oleh sebab gagal di kota.

Namun ia santai saja. Faktanya, ia sudah “mengalahkan” segala persaingan di kota. Bahkan perusahaan internasional, kantornya terakhir, memberinya jaminan untuk menerimanya kembali, kapanpun ia mau.

Dan ia memang berjodoh dengan desa. Sebulan di desa, ia bertemu Lea Jelinek, aktivis lingkungan dari Australia. Mereka langsung kompak bekerja sama. Bulan pertama mereka membersihkan pantai. Dibantu mahasiswa dan warga, dalam satu jam mereka mengumpulkan 21 karung sampah plastik. Terkejut ia dengan kenyataan banyaknya sampah dalam radius 50 meter pantai desanya. Dari pemkab Samosir ia meminta bantuan untuk mengangkut sampah yang banyak itu, keluar dari desanya.

Mereka menanam segala tanaman. Mereka mengedukasi warga soal sampah, air bersih, dan pentingnya menjaga lingkungan. Anak-anak diajari mencuci tangan dengan sabun, membaca, menggambar, berbicara dalam bahasa Inggris. Dan segala kegiatan itu diperhatikan oleh dunia. Lalu dunia pun datang membantu apa saja. Menyangkul, membabat, menanami hutan. Selama lima tahun relawan asing datang dan pergi. Keluarga besarnya ikut turun tangan, urunan dalam membiayai makan dan transportasi relawan dan urusan lain.

Tahun 2011, Thomas Heinle, aktivis lingkungan asal Jerman yang sudah lama di Tuktuk Samosir, berkunjung ke desanya. Ia ingin melihat lihat pohon-pohon di sana. Selama ini dia sudah berbicara serius dengan banyak bupati di sekitar Toba untuk mengembangkan desa eko. Bukan hanya ide yang sama, ia dan Thomas pun serasi dalam banyak hal, hingga mereka memutuskan menikah tahun 2013.

Ide-ide permakultur terus berlanjut. Markisa, misalnya. Setelah dikonsumsi, bijinya dibuang ke tanah begitu saja, akan tumbuh tunas baru. Tanah menumbuhkan. Begitu juga dengan pisang, ubi jalar, rengge-rengge, tomat ceri, cabai, sorghum, dan yang lain. Sekali ditanam, ada selamanya. Tidak banyak usaha untuk mengurusnya.

Para relawan terus berdatangan. Untuk kepentingan mereka itulah ia buatkan kamar-kamar. Tapi kemudian mereka ingin menikmati ecovillage Silimalombu sebagai tamu. Bukan relawan. Artinya mereka tak keberatan untuk berbayar. Itulah awalnya ia membuat homestay di mulut danau Toba. Bangunan homestay terus berkembang sampai yang sekarang ini, dengan teras nyaman di lantai dua yang menyambung dengan ruang makan dan dapur, yang menghadap danau dan diteduhi tanaman markisa dan labu.

Untuk memudahkan transportasi mereka membuat dermaga sendiri. Mereka menggeser batu besar secara manual dengan cara diungkit, lalu digeser. Ratusan relawan sudah menyambung tenaga. Menggeser senti demi senti. Satu minggu satu meter. Sampai batu bergeser ke depan sepanjang 3 meter dan jadilah dermana. Karena itu tamu dapat naik kapal dari Ajibata langsung ke dermaganya, dan sebaliknya.

Terhambat Izin Produk

Sementara itu mereka membuat dan mengembangkan produk. Hasil mangga selalu berlimpah di Samosir. Begitu melimpah sampai 2-5 ton terbuang tak dikonsumsi setiap hari. Mengetahui kenyataan itu, para relawan mengusulkan membuat selai, sambal, bahkan wine. Bagaimana caranya? Mereka sama-sama mencoba. Sekali gagal. Tak putus asa. Coba lagi, gagal lagi. Sampai berhasil.

Sekarang mereka sudah memproduksi wine. Selai manga, sambal manga. Cokelat batangan, wine cokelat, cokelat fermentasi, cuka cokelat. Teh dari daun sirsak. Biji papaya yang ternyata sehat dikonsumsi tubuh. Ribuan tamu sudah berdatangan membawa pengetahuan mereka dan membeli produk-produk dari desa eko Silimalombu. Produk-produk itu diberi label namun belum mendapat nomor registrasi dari pihak berwenang.

“Kami punya lebih dari 15 produk tetapi belum terdaftar. Saya sudah ke Balai POM Medan di Balige. Sudah ke koperindag. Lebih 4 tahun saya mengurus, hasilnya nol. Soal Mango Wine, misalnya. Kata mereka karena mengandung alkohol, tidak bisa diproduksi. Lalu saya bertanya, tapi kenapa brem Bali di Bali bisa didaftar? Apakah karena otoritasnya berbeda?“ tanya Ratna.

Ia merasa sudah bersuara keras terhadap pemerintah untuk memperhatikan masalahnya, dan petani lain di Samosir. “Katanya rakyat harus kreatif menghasilkan produk. Sekarang ada rakyat yang kreatif ternyata masih sulit izinnya,” katanya. Ia rajin menitipkan produk-produknya ke banyak instansi dalam rangka diperhatikan keberadaannya, lalu dibantu. Tapi cara itu pun belum membuahkan hasil.

Menurut pengalamannya diundang ke pelbagai Negara untuk berbagi pengalaman, produk Indonesia di market Eropa kalah bersaing dengan produk Thailand, Filipina. Padahal dalam kualitas boleh diadu. “Hanya produk yang punya lisensi berstandar SNI yang bisa dijual. Sementara untuk mendapat label SNI, habis waktu kami ke sana-sini. Kalau akhirnya jelas, saya sebenarnya tidak keberatan mengurus,” ungkapnya.

Ia berharap Pemerintah memberi bantuan nyata dengan menginformasikan peraturan yang tidak membingungkan tentang pendaftaran produk. Itulah penghalang dia menjual produk secara online. Selama ini hanya kalangan keluarga, kawan, tamu-tamunya yang tahu, dan upaya dari mulut-ke-mulut yang membeli produk-produknya.

Meski demikian ia dan Thomas terus bekerja. Sekarang mereka sedang sibuk mengadakan beberapa perbaikan karena desa mereka menjadi salah satu destinasi Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima dari Belanda yang akan berkunjung ke Danau Toba, pada Maret mendatang.

25/01/2020

Tags : DesaEcovillageRatnauli GultomSilimalombu
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response