close
FTI 2016

(1968-2020)

Sejak 2012 saya membantu Radhar Panca Dahana (RPD) membuat kegiatan –perhelatan dan pertunjukan teater terutama- di Taman Ismail Marzuki (TIM). Seringnya di Graha Bhakti Budaya (GBB).

Setiap tahun misalnya, Federasi Teater Indonesia (FTI) menyelenggarakan Malam Anugerah FTI. Acara ini dalam rangka mengapresiasi karya dan kerja senior teater, dan Maecenas-nya. Yang menyerahkan penghargaan para tokoh dan pembesar negeri ini.

Menjadi mediator antara RPD dan teman-teman pengurus TIM, tidaklah mudah. Yang satu idealis, yang satu saklek administratif. Pertama kali berurusan dengan keduanya, bikin sesak napas. Ini bagian paling menantang. Saya dipingpong dengan alasan masing-masing. Kalau saya lapor, “Ndak bisa, Mas, orang TIM bilang bla bla bla …”, eh saya malah didesak, “Ndak bisa gitu dong, Ta. Kamu bilang ke mereka bla bla bla ….” Dan pihak TIM bergeming. Oh, Tuhan!

Karena sering berada di antara dunia yang sama-sama keras dan mendesak, lama kelamaan saya menemukan mekanisme sendiri untuk “menyelamatkan “ diri dari “tekanan” keduanya. Saya makin tahu di mana celah “mengalahkan” keras kepala RPD dan paham gentingnya masa depan teman-teman TIM bila bersikap longgar dengan peraturan. Kepentingan saya hanya satu: pekerjaan selesai. Dan saya tidak spaning.

Alasan RPD menyelenggarakan kegiatan semacam ini bukan karena dia kelebihan duit. Tidak sama sekali. Tetapi bahwa teater adalah kegiatan paling mengekspresikan kehidupan. Saya menyetujui pendapat itu ketika belajar mengurus acaranya. Karena sebuah pertunjukan teater penting diselenggarakan dan perlu diselenggarakan secara serius, di tempat yang baik dan terhormat.

TIM (baca GBB) dan RPD, adalah dua tempat saya belajar. Saya bergelut dengan perasaan sendiri dalam memahami manusia-manusia selama proses kerja. Mental saya terbentuk saat berbicara dengan para undangan yang adalah para tokoh dan senior, seniman dan artis yang terlibat, media yang biasa diundang, teman-teman panitia, penonton, dan pihak keamanan (polisi). Selama acara saya bisa jadi apa saja, dan itu tak penting. Yang penting acara mengalir sebaik-baiknya. Saya menjadi host, memastikan kamar kecil bersih, memikirkan kesejahteraan perut teman-teman panitia, menjawab pertanyaan orang luar.

Ruang-ruang di GBB menjadi saksi saya kena semprot RPD, di depan orang-orang. Sekali lagi, itu tidak lagi penting. Bagi saya, mengenali kebutuhan diri dan sesama mekar bersama waktu itu. Artinya, menghargai seorang presiden sama pentingnya dengan menghargai tukang parkir.

Acara Dialog Presiden&Kebudayaan tahun 2014 menghadirkan Prabowo dan Jokowi. Ketika itu saya sadar, pada posisi kebudayaan, mereka adalah manusia dengan segala kekurangan-kelebihan. Saya masih ingat (dan geli) di ruang transit, Pak Prabowo berkata, “Makhluk apa itu kebudayaan.”

Tahun 2015, ketika FTI menghadirkan Kang Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, dan tokoh teater Akhudiat, saya tidak takut berdebat dengan kepala polisi dan ketua FPI Jakarta. Ketika kepala polisi berkata kepada saya untuk menghentikan kegiatan dengan alasan keamanan (waktu itu ratusan FPI sudah berkumpul di halaman TIM), saya menjawab, “Pak, ini acara kebudayaan, siapa pun bahkan presiden, tidak boleh menghentikan kegiatan ini. Kalau ada demontrasi di depan sana, ya Bapak tolong bantu amankan, dong. Jangan malah kami yang disuruh berhenti. Gimana sih Bapak ini?”

Dan acara lain, dan yang lain, pada tahun berbeda. Semua didokumentasikan abadi, direkam oleh dinding-dinding GBB. Dengan puluhan ingatan pernah dan sering beracara di sini, TIM adalah tempat yang dekat di hati. Saya biasa mampir –sendiri atau dengan kawan, sekadar makan Soto Surabaya, ngobrol atau nonton teater.

Terakhir tahun 2019 ke sana, saya melihat banyak wajah berubah. Kompleks warung pada sisi kanan lokasi, dirubuhkan. Itu saja sudah bikin hati sunyi. Melihat suasana berubah, mencipta rasa asing dan panik sendiri. Membaca rencana revitalisasi oleh penguasa, dan aksi-aksi #saveTIM oleh teman-teman seniman yang bergulat dengan pertanyaan, “Entah kapan usaha ini berakhir”, saya ikut bertanya-tanya, apa jadimu, TIM?

Semalam, membaca catatan emosional kawan-kawan di media sosial mereka, lalu foto GBB dirubuhkan oleh alat berat, mata saya hanya melihat dan jantung bekerja lebih cepat. Sejak berdiri tahun 1968 hingga kemarin, ia 52 tahun. Suka-duka ceritanya ada di jutaan hati yang pernah bersentuhan dengannya. Sepertinya badan saya gemetar karena tak mampu bilang, “Pak, ini tempat kami merayakan ekspresi kebudayaan. Presiden atau siapa pun tidak boleh merubuhkan ini. Jangan kami disuruh berhenti. Bapak ini gimana sih?” (is/06/02/20)

Keterangan Foto:
Acara Malam Anugerah FTI 2016 oleh Federasi Teater Indonesia

Tags : Federasi Teater IndonesiaGraha Bhakti BudayaRadhar Panca DahanateaterTIM
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response