close
Romansa Puasa_preview

Teks Yuanita Maya

Ibu membuka jendela mobil sambil mengambil sebatang rokok dan menyulutnya, meminta maaf sekadarnya kepada Bapak yang tengah berpuasa. Yang dimintai maaf tenang-tenang saja, sementara istrinya mengembuskan asap Gudang Garam filter yang berbual-bual di udara. Asap menguarkan aroma manis yang pekat, yang hingga puluhan tahun kemudian dalam ingatan tetap saja lekat.

Para perokok sepakat bahwa menahan lapar kala puasa boleh dibilang mainan anak-anak. Tapi menahan hasrat merokok selama belasan jam adalah neraka lapis pertama. Masih beberapa jam lagi sebelum Bapak bisa menyalakan Bentoel Biru-nya, tapi Ibu cuek menyedot rokok dengan gayanya yang khas serta sedap dipandang itu.

“Sana yang puasa kenapa sini yang asem,” begitu komentar Ibu sambil lalu kalau ada yang protes semacam ini, ”Pengertian, dong, kasihan suami lagi puasa.”

Karena satu dan dua alasan, Tuhan mengaruniai ibu saya, perempuan paling cuek bebek di dunia, suami berbeda agama yang sabar luar biasa. Bapak Muslim dan Ibu Katolik. Bapak rajin menunaikan tradisi agama, Ibu cenderung mengabaikannya. Saya yakin, kalau dalam hidupnya sekali saja Ibu pernah berpantang sebulan pada masa prapaskah seperti Katolik saleh lainnya, maka ia akan paham betapa menderitanya menghirup wangi aroma kretek saat ia berpantang. Tapi bukan Ibu kalau tidak lihai berdalih.

“Puasa tidak ada yang maksa kok manja,” dengusnya berkelit.

Ibu janda canggih lima anak perempuan dan Bapak perjaka tingting dari desa yang lugu dan sederhana. Dari perkawinan mereka lahir dua anak perempuan tambahan. Mereka menikah di Catatan Sipil, sebab kala itu belum terbit peraturan pemerintah yang mewajibkan dua insan yang menikah wajib satu agama; satu aturan kelak sangat merepotkan dan tak jelas faedahnya.

Dalam rentang perkawinan yang berakhir oleh maut itu, Bapak dan Ibu sepakat untuk tidak merecoki keyakinan masing-masing. Perkawinan mereka bukan sejenis perkawinan yang tenang-tenang tanpa prahara; lagipula di mana ada pernikahan yang berjalan damai tanpa perkara? Mengingat sifat Ibu yang meledak-ledak dan tidak sabaran, apa pun bisa ia permasalahkan. Bapak dan Ibu bisa bertengkar soal mertua, ipar, keuangan, pekerjaan, sebut apa saja. Tapi sejauh yang saya ingat, tak pernah mereka meributkan keyakinan masing-masing.

Maka, jauh sebelum memasuki gerbang sekolah dan menghapalkan sila-sila Pancasila, kami sudah belajar di rumah. Tentu tidak secara sadar, karena Bapak –sebagai contoh- tidak pernah mengikuti ibadah keluarga besar Ibu sambil melantangkan butir-butir Pancasila sila Pertama. Ibu juga tidak pernah menyiapkan sahur untuk Bapak sambil berkata, ”Harusnya aku jadi juru tatar P-4”, misalnya. Bapak tidak merasa terganggu jika di rumah memasang lagu rohani Kristen keras-keras. Ibu dengan setia menemani Bapak bertarawih, walau mungkin ia menunggu dengan jemu sambil dalam hati menggerutu.

Dari ketujuh anak Bapak dan Ibu, seorang Muslimah dan sisanya Kristen. Tidak satupun beragama Katolik, sekalipun mengirimkan anak-anak ke sekolah Katolik terbaik adalah tradisi keluarga kami. Bisa dibilang Ibu cukup kesepian secara iman. Atau mungkin tidak, mengingat ia sendiri kurang berminat dalam menjalankan liturgi agama sebagai sebuah kebiasaan. Sejauh menjadi anaknya, saya melihat Ibu sebagai sosok yang lebih senang mengamalkan ajaran agama dalam perilaku sehari-hari ketimbang yang bersifat liturgis.

Jadi boleh dibilang merokok di samping suaminya yang sedang berpuasa adalah satu-satunya hal paling tidak sensitif yang dilakukan Ibu. Atau mungkin ini sudah menjadi konsensus di antara mereka, siapapun yang memegang kemudi punya hak untuk merokok di dalam mobil ber-AC. Apalagi perjalanan mudik Semarang-Jatisrono, desa kelahiran Bapak, makan waktu cukup lama, lebih kurang enam jam. Emang enak setir mulutnya asem?

Dalam ingatan kanak-kanak saya pada dekade 80-an, perjalanan mudik yang ditempuh dalam momen puasa memberi Bapak hak istimewa untuk duduk di kursi navigator. Sementara kami menghabiskan waktu dengan cekikikan atau mengobrol di kursi belakang, Ibu tidak mengganggu Bapak yang kadang tertidur lama di sebelahnya. “Duduk di samping sopir itu artinya navigator. Kalau tidak bisa memandu ya minimal jangan molor,” yang biasanya disemprotkan Ibu kepada navigator tukang ngorok, tidak berlaku bagi Bapak yang tertidur dalam lesi di sampingnya. Bapak gagal menjalankan fungsi sebagai navigator, tapi Ibu tetap melajukan gas tanpa kendor.

Berpuasa, sekalipun merupakan kebiasaan, tetap hal yang berat dilakukan. Setidaknya itu yang Ibu pahami, dan ia tidak keberatan dalam perjalanan panjang itu, ditinggal tidur navigatornya. Untuk membantunya berkonsentrasi, Ibu memasang tape sambil berdendang atau bersiul-siul. Atau menyalakan batang rokoknya yang kesekian.

Mobil melaju kencang, hingga waktu berbuka tiba dan kami akan singgah di rumah makan untuk menemani Bapak berbuka. Kami sudah bosan mengobrol, namun Ibu tetap setia dalam tugasnya menghantar kami ke rumah Simbah. Jatisrono adalah desa terpencil di Jawa Tengah dengan jalanan berkelok dan kerap berbatu-batu. Butuh keahlian khusus untuk menguasai medan semacam itu, tapi Ibu tidak menganggapnya beban dan menyetir penuh semangat, sementara suaminya terlelap dalam ibadah. Bukankah dalam Islam tidur kala puasa terhitung ibadah?

Mungkin tanpa Ibu sadari, sesosok malaikat melihat bahwa hari itu ada seorang istri yang rela menyetir sekian jam sepanjang jalan beraspal Semarang hingga jalanan berbatu-batu Jatisrono supaya suaminya bisa beribadah, dan mencatatnya sebagai ibadah pula. Siapa tahu?
*

*Yuanita Maya adalah penulis lepas, tinggal di Jakarta

Tags : Idul FitriindonesiaRomansa Puasa
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response