close
Dialog dalam Diam

Teks oleh Jasman Fery Simanjuntak

Ilustrasi Dialog dalam Diam oleh Surajiya

 

Sedikit banyak saya mengenalmu, dan saya kagum akan apa yang kamu perbuat untuk banyak orang, Tuan Raus. Setelah tiga bulan kebersamaan kita, saya semakin mengenalmu dan kini saya punya pengertian betapa saya keliru menilaimu.

Tak sepatutnya saya menilaimu, atau menilai siapa pun orangnya. Namun, saya tak bisa melepas pandang darimu, Tuan Raus. Kamu seumpama air segar bagi kerongkongan yang kering. Ketika pendeta-pendeta berkhotbah melulu soal memberikan perpuluhan adalah kewajiban yang tak bisa diabaikan, atau sibuk menambah jumlah jemaat dan proyek pembangunan gedung gereja yang lebih besar lagi, kamu berada pada jalur yang berlainan dari itu. Saya ingat, kamu bilang sedikit dan banyak domba sama berharganya di hadapan Tuhan. Setiap domba adalah domba, tidak peduli dari mana ia berasal. Dan begitulah, saya adalah domba yang butuh gembala. Saya domba; lelaki yang mencintai lelaki adalah domba; perempuan yang bercinta dengan sesama perempuan adalah juga domba; buruh kasar di pabrik yang menuntut agar upah mereka yang sedikit itu ditambahkan adalah domba; orang-orang yang berkubang dalam kecemasan adalah domba; orang-orang yang menginginkan kemerdekaan karena tanah mereka dijajah adalah juga domba. Kami semua, kita semua, adalah domba. Kerajaan Tuhan hadir di sini bagi setiap domba dan semua ciptaan, begitu katamu, Tuan Raus. Dan salahkah saya bila menganggapmu hamba Tuhan yang sebetulnya?

Saya domba yang cemas lagi goyah arah, Tuan Raus. Hubungan saya dengan pacar saya baru saja berakhir. Cinta saya kepadanya memang sedikit berkurang, tetapi saya tahu saya masih mencintainya. Entahlah, barangkali karena saya kelewat khawatir atau tidak sampai hati berbagi kesesakan dengannya. Saya dipecat dari kantor, dan ibu pacar saya tengah dirawat di rumah sakit yang membutuhkan banyak biaya. Saya benar-benar tidak tega menyampaikan unek-unek dan betapa saya tidak tahu lagi bagaimana membayar sewa kamar tinggal saya. Saya sungguh khawatir akan hidup saya esok hari. Saya tidak punya iman seteguh imanmu, Tuan Raus, bahwa Tuhan akan merawat saya. Saya terlalu fokus hanya pada masalah yang menimpa saya sampai-sampai saat itu komunikasi saya dengan pacar berantakan. Kami jadi gampang bersitegang. Kami jadi sering bersitegang hingga mencapai titik jenuh, dan akhirnya kami memutuskan tidak lagi berhubungan sebagai kekasih.

Tak lama setelah itu, saya menghubungimu, Tuan Raus. Saya ingin sekali bertemu denganmu dan menceritakan nasib buruk yang mendera saya. Saat itu saya pikir tidak salah memintamu untuk kita bertemu. Saya belum lupa bahwa dalam beberapa khotbahmu, kamu menyisipkan bahwa kamu pernah kuliah psikologi, dan bekal ilmu itu kamu gunakan untuk memahami orang-orang. Oya, sesungguhnya saya berharap kamu bisa membantu saya meneduhkan kegusaran hati saya.

Kita bertemu di satu taman pada petang itu. Seperempat jam kita berputar-putar dalam pembicaraan yang bukan inti; saya berterima kasih sebab kamu sudah menyediakan waktumu yang berharga untuk saya dan mengucapkan beberapa basa-basi lainnya, dan kamu membalas dengan basa-basi pula. Kita memang hidup dalam budaya yang lekat dengan basa-basi. Setelah itu, saya mengutarakan kerumitan saya, dan kamu menanggapinya dengan tenang dan sepertinya tepat semata. “Kita harus terus berupaya merengkuh kerapuhan kita,” katamu, Tuan Raus. “Tuhan mengizinkan kerumitan terjadi pada hidup kita agar kita percaya bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang orang anggap mustahil kita lakukan.” Banyak ucapanmu yang bisa saya tangkap di antara riuh anak-anak muda, tidak jauh dari tempat kita duduk.

Saat itu saya ingin lebih lama lagi bercakap-cakap denganmu, tetapi itu pupus oleh petang yang telah berganti malam. Kamu mesti menjemput istrimu di kantornya, sementara saya harus cukup puas dengan perjumpaan kita.

Saya akui, kecemasan saya berkurang setelah perbincangan kita, Tuan Raus. Pikir-pikir, saya perlu bertemu denganmu lagi. Saya harap kamu bersedia. Namun, sebaiknya tempat pertemuan kita ganti, bukan lagi di taman itu. Sepanjang pertemuan kita terdahulu, saya kerap membagi perhatian antara menyimak omonganmu dan membayangkan orang-orang melihat kita. Kamu tahu, orang-orang telanjur menganggap sepasang manusia dewasa yang berlama-lama duduk berduaan di taman, pasangan kekasih. Saya risih dengan itu, Tuan Raus. Kita bukan sepasang kekasih, dan saya tidak mencintaimu.

Kita bukan sepasang kekasih, tetapi saya telah jatuh cinta padamu. Pertemuan-pertemuan berkuasa menumbuhkan rasa cinta di hati saya. Semestinya saya tak membiarkannya berkecambah. Kamu sudah beristri. Akan tetapi, bagaimana saya harus mengatakannya? Saya tak cukup kuat untuk menghalau rasa, Tuan Raus. Darah saya berdesir saat tanganmu menyentuh saya. Saya dibutakan oleh kharismamu, sehingga apa-apa yang kamu lakukan atau ucapkan betul belaka di mata saya.

“Kita tak boleh terus-terusan seperti ini, Tuan Raus.”

Kamu bersuara, tetapi tidak untuk merespons ajuan saya. “Besok temani saya mengunjungi tapol. Mau, ‘kan?”

Saya mesti bagaimana lagi? Menghindar darimu adalah jalan terbaik, sebab saya tak ingin semakin larut mencintaimu, Tuan Raus. Tetapi, menjadi apa saya nantinya, adakah moral baik saya, bila menolakmu setelah apa yang kamu perbuat dalam membantu saya menanggulangi kecemasan saya. Entahlah, Tuan Raus. Apakah tepat sekiranya mengumpamakan saya, domba yang satu ini, tersesat di padang rumput yang luas?

Pada akhirnya, saya ikut juga denganmu berkunjung ke penjara, tempat lima sahabat kita ditahan. Mereka, yang berasal dari ujung timur negeri berdemonstrasi di barat, diperkarakan makar. Saya kira, siapa dapat merasa, mereka tentu ingin memisahkan diri dari negeri ini. Anak-anak mereka kekurangan nutrisi sementara kekayaan alam mereka terus-menerus digerus; anak-anak muda mereka disiksa bahkan dibunuh manakala berunjuk rasa di jalanan; mereka disebut dan diperlakukan seperti binatang. Ah, saya tak tahan mengungkitnya, Tuan Raus. Saya, yang lahir dan hidup di barat negeri ini, hanya bisa menyumbang rasa kemanusiaan saya buat mereka. Sembari menekan gelora cinta yang mungkin kian tumbuh seiring persuaan kita, sekali dalam sepekan saya bersamamu mengunjungi lima sahabat kita di penjara atau di pengadilan.

Akan tetapi, saya gagal. Makin dalam saya mencintaimu, Tuan Raus.

“Kita tak boleh terus-terusan seperti ini, Tuan Raus.”

“Saya juga jatuh cinta padamu,” katamu, Tuan Raus, bikin saya bergeming. “Saya tahu ini salah.”

Saya bertanya-tanya dalam hati apakah benar kamu jatuh cinta pada saya, sehingga saya kehilangan beberapa pokok ucapanmu. Ah, bodoh sekali saya. Tak sepantasnya saya memikirkan itu.

“Tidak. Kamu tidak boleh jatuh cinta pada saya, Tuan Raus.”

“Saya telah berpikir untuk menanggalkan jubah supaya bisa bersamamu.”

“Jangan pernah menanggalkan jubah untuk bisa hidup bersama saya.” Saya merasakan dada saya mengembang-mengempis begitu cepat. “Dengan jubah itu, kamu bisa mengabarkan kebenaran dari altar gereja, Tuan Raus.”

Kamu menyebut nama saya, Tuan Raus. Kamu menyebut sekali lagi nama saya. Air mukamu seperti air muka istri sahabat kita yang dipenjara. Saya membayangkan serupa itu pula kelak terjadi pada istrimu bila mengetahui apa yang terjadi antara kita tiga bulan terakhir ini.

“Saya tidak mencintainya. Saya tak pernah mencintainya.”

“Jangan katakan itu, Tuan Raus. Istrimu tengah hamil. Ia akan melahirkan anak kalian yang kedua.”

“Dia bukan anak saya. Bayi yang dikandung istri saya itu juga bukan anak saya. Saya tak pernah tidur dengan istri saya.”

Kali ini saya ragu padamu, Tuan Raus. Saya tak tahu apakah saya bisa percaya atau tidak padamu. Di depan orang banyak, kehidupan rumah tangga kalian kelihatan akur-akur saja. Sekarang kamu bilang bahwa kalian tak pernah seranjang, tidak cinta satu sama lain. Kamu juga bilang bahwa kamu tak ingin keluarga istrimu menanggung malu atas kehamilan tanpa suami, hamil yang bukan denganmu, dan karena itu kamu rela menikahi putri mereka.

Begitu rapi kamu memoles keretakan rumah tangga kalian. Ah ya, apakah saya keliru menyebutnya ‘keretakan’? Begitu rapi, sehingga seorang pun tak menyadarinya.

Tuan Raus, segala citra elok tentangmu yang terbangun di kepala saya kini runtuh.

“Saya…”

“Cukup, Tuan Raus!” Saya melakukannya. Saya benar-benar memotong omongan Tuan Raus. Saya tidak pernah begitu sebelumnya.

“Apa yang terjadi di antara kita adalah kesalahan, Tuan Raus.”

“Saya sungguh mencintaimu.”

“Tidak, Tuan Raus. Saya akan pergi, dan kamu jangan mencari saya.”

“Iya, di antara kita adalah kesalahan.” Saya melihat gerak dadamu seperti dada saya. “Sekarang sudah bulan Desember. Saya harap kamu mau ikut merayakan Natal bersama. Kita dan jemaat lain.”

“Jangan menarik saya lagi, Tuan Raus.”

“Kalau kamu menganggap saya menarikmu, izinkan itu saya lakukan untuk terakhir kalinya.”

Saya hanya diam.

“Saya harap kamu ikut merayakan Natal bersama.”

Saya menghela napas panjang. “Saya tak hendak merayakan Natal, Tuan Raus. Saya tak sanggup.”

Kamu menyebut nama saya, kemudian meminta maaf.

*

 

Jasman Fery Simanjuntak lahir dan tumbuh di Sibolga Sumatera Utara. Sejak tahun lalu ia belajar menulis cerita pendek, dan sudah tayang di Basabasi.co, Ruangliterasi.com, Magrib.id.

Surajiya, perupa, tinggal di Yogyakarta.

Keterangan ilustrasi 40x27cm, Tinta dan Cat Air di Kertas, 2020

 

Leave a Response