close
Natal Di Kampung Rote

Teks Gerson Poyk

Ilustrasi Ersta Andantino

AKU lahir di Pulau Rote yang disebut desa pantai bernama Namodale, bagian dari ibu kota Ba’a, ibu kota kabupaten Rote, (sekarang Kabupaten Rote Ndao). Rumahku sebuah rumah toko yang berderet-deret membelakangi pantai. Di petak ketiga, melalui pintunya aku bisa melihat mercusuar kecil, satu-satunya mercuar di Namodale.

Ibuku seorang bangsawan Rote. Cantik, berkulit putih, rambutnya lurus, tetapi karena kurang tebal ia selalu menambahnya dengan kabaleru (seikat rambut tambahan) agar sanggulnya terlihat lebih besar sedikit. Gadis-gadis bangsawan Rote, setelah tamat Sekolah Dasar, dididik di rumah pendeta orang Belanda, mereka diajarkan beragam pengetahuan yang hampir setingkat SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Setelah pandai mengurus rumah tangga, gadis-gadis itu ada yang menikah dengan guru-guru dan pendeta. Mereka disebut Mama Nyora, Mereka pintar sekali memasak makanan Belanda. Yang paling aku suka adalah masakan babi guling (kata orang Bali) dan juga kambing guling.

Aku suka sekali dengan telinga dan hidung dari babi guling, sebab jika dikunyah akan berbunyi kriuk…kriuk… Di samping itu, ibuku paling pintar membuat kue Belanda dari bahan terigu, mentega, telur, vanili dan kenari yang didatangkan dari pulau Alor. Bila Natal tiba, meja makan diatur rapi seperti meja makan di hotel internasional, walaupun rumahnya berlantai tanah, atapnya dari daun lontar dan ilalang.

Pesta Natal berbeda dengan pesta Tahun Baru. Di hari Natal, Bapak pendeta duduk di kepala meja dan di sebelah kanannya Papa Messen Malang (Bapa Guru Melayu), di kirinya Papa Raja (Manek). Mejanya panjang, di kiri dan kanan duduk rakyat biasa dengan anak dan isterinya. Aku biasa duduk di samping ibu. Khotbah pendeta memakai bahasa Melayu tinggi bercampur dengan bahasa Rote dari jenis syair yang dipelajari pendeta dari Manahelo (nama penyair Rote). Pidatonya rasanya terganggu oleh bau harum makanan, tapi aku masih bisa ingat isi dan arti pidato Bapa Pendeta walau ia memakai bahasa Melayu tinggi. Walaupun aku masih duduk di kelas tiga di sekolah Melayu yang diajar oleh Messe Malay (guru Melayu), namun aku aku bisa menangkap pidato Bapa Pendeta. Pidatonya tertangkap oleh otak Roteku.

Bapa Pendeta mengatakan bahwa manusia di dunia ini berada di bawah kekuasaan Sri Baginda, alias Raja Segala Raja, alias Sengsara Lara. Manusia lahir dari rahim duka nestapa. Mahkotanya Raja Belanda dari Inggris tapi mahkota itu berduri. Ketika seorang lelaki Rote duduk termangu didera lapar keparat di bawah pohon lontar, Seri Baginda Duka Nestapa membisik ke telinganya, “Ambillah haik (ember yang terbuat dari daun lontar), pisau tajam, lalu panjatlah ke atas, sampai di puncak, irislah batang bunga lontar dan akan ke luar nira yang manis dan harum, dengan begitu kau tidak lapar lagi!”

Maka si Ta’ek (lelaki Rote) itu memanjat dan mengiris batang bunga lontar, lalu haik yang penuh nira pun diturunkan. Baru setengah pohon si Taek turun, babi-babi di kandang melihatnya, lalu mereka ke luar dan berkeliaran lapar, seseorang membisikkan telinganya, seolah menyuruh lelaki itu untuk memberi minum pada babi-babi yang sedang lapar itu. Anak-anak dan nenek-nenek pun kebagian air nira. Mereka sudah memasak daging dan sayur kelor (Matungga dalam bahasa Rote, bahasa latinnya Mahina Olivera). Lalu babi dan manusia bisa kenyang atas perintah moral Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri.

Walaupun riwayat derita hidup orang Rote ditulis di atas tanah berselang karang, namun deritanya adalah derita Sri Baginda. Duka nestapa yang memerintah, “Itu air lautmu” masih bisa surut dan segeralah ke pantai, di sana ada latu (rumput laut), di sana ada ikan dan kerang, ada kepiting dan sebagainya, ambil dan masak, makan dan bernyanyi sambil bersesandu, tambur dan gong, mainkan sambil menari kabalai (tarian Rote). Begitulah Sri Baginda Duka Nestapa Mahkota Duri itu pada mulanya memperbaiki otak Rote dan kemudian mengenyangkan perut orang Rote.

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘gedebuk’ yang bersumber dari meja makan. Piring dan gelas pecah karena kepalaku membentur meja makan. Aku mengantuk, barangkali karena lapar atau karena pendeta berkhotbah tentang Sri Baginda Duka Nestapa bermahkota Duri terlalu lama? Ibu lalu membawaku ke luar, ke halaman dan menggendong aku sambil bernyanyi :

Bauh doka dodoka langga na

Tana be nem

Benem kamda langga

(Kalung tergantung tidur

Tanah pun hilang

Hilang juga kepala kerbau)

Setelah bangun dari tidur, aku habiskan satu piring nasi dan lauk daging babi guling, aku terguling bersama babi guling….

*

Ayahku tamatan sekolah Melayu Angka Loro. Ayah dipindahkan ke Flores, tepatnya ke Ruteng. Di Ruteng aku dimasukkan ke sekolah dasar tiga tahun, kemudian ke Sekolah Standar Katolik tiga tahun sampai kelas enam, dihitung dari tiga tahun pertama di sekolah dasar desa. Agama Protestan minoritas, yang Protestan hanya beberapa kepala keluarga, termasuk orang Rote dan keluargaku. Meski orang Rote minoritas, mereka tersisip di mana-mana. Kepala polisi di ruteng orang Rote, hakim, jaksa, bestuur asisten, klerk dan beberapa tukang (tukang besi dan kayu) semuanya dari Rote. Beberapa orang rote kawin-mawin dengan gadis-gadis Manggarai (Ruteng).

Hari Minggu kadang aku mengikuti misa secara Katolik, meski sesungguhnya aku Protestan. Sempat terpikir untuk masuk seminari dan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Tapi kemudian, setelah besar aku dituntun oleh filsuf Katolik Jaques Maritain melalui beragam bukunya. Di atas segalanya, yang penting aku dekat dengan Kristus, baik di gereja Katolik maupun Protestan. Walaupun anak-anak Protestan sedikit, terdiri dari anak-anak polisi, beberapa orang Rote dan juga Manado, di hari Natal kami rayakan dengan sukacita.

Di masa penjajahan Jepang, ketika banyak orang tidak punya apa-apa, termasuk pakaian Natal, kami tetap merayakannya dengan penuh rasa bahagia. Terkadang hujan membasahi pakaian yang kami kenakan, di hari Natal tak jarang aku mengeringkan pakaianku yang terkena hujan di depan api unggun yang aku dan teman-teman nyalakan, kami memutar-mutar pakaian itu di atas lidah api sampai kering, tetapi bau asapnya tetap menganggu hidung. Di masa penjajahan Jepang ada wabah tuma, kutu yang tinggal di pakaian yang menyebabkan koreng, aku terkena wabah itu, dan koreng kian berkembang karena gatal dan sering digaruk.

Suatu hari sebelum Natal, aku membersihkan badanku dengan obat koreng yang berbau belerang, lalu mandi di kali dengan sabun cuci. Kulitku tak berbau lagi, tapi lukanya masih terbuka. Untuk mengobatinya, kutempelkan pil kinina yang sudah dihancurkan ke kulitku. Perih dan rasa sakitnya memang luar biasa. Aku berlari sembari mengaduh ke belakang rumah dan kuceburkan badanku sampai pil kinina tepung itu ke luar dari badanku. Sesudahnya aku memakai pakaian berbau asap itu dan pergi merayakan Natal dengan sejuta bau asap, tetapi tubuhku segarnya luar biasa, rasa sakit hilang!

Kami sudah beberapa kali berlatih drama Natal yang disebut tonil. Waktu kebaktian, aku dan teman-teman sebaya, ditentukan menjadi setan. Ada juga yang menjadi orang Majus, Maria dan Malaikat di Padang Efrata. Kami muncul dengan wajah bengkak-bengkak dan muka kami dilebur arang dan pupur putih dari tepung sagu. Kami bernyanyi, nyanyiannya demikian :

Kami adalah setan-setan neraka

Di neraka ada banyak sapi

Banyak uang

Mari…mari masuk neraka

Kak…kak…kak…

Tiba-tiba Bapak pendeta berbisik ke telingaku, “Saya sudah bilang jangan sebut sapi. Nanti Tuan Raja Manggarai tersinggung karena dia suka sapi.” Namun suara Kak…kak…kak… kami dikeraskan oleh loud speaker gereja, sehingga seakan-akan atap seng gereja Protestan itu bergoyang. Yang menarik adalah, tiga orang anak yang memerankan orang Majus nyanyiannya bagus sekali, di antaranya aku. Aku sudah lupa siapa yang menjadi Bunda Maria, bayi Yesus dan malaikat. Barangkali mereka merupakan boneka.

Begitulah hari Natal. Terasa indah di gereja Protestan yang kecil di Ruteng dengan jemaatnya yang juga kecil. Tanpa kue, tanpa minuman, tapi segar. Pulang ke rumah, hanya ada kacang goreng dan kolak. Setelah aku dewasa, aku berlibur ke Ruteng, gereja Protestan tua itu sudah tiada, telah dibongkar diganti baru, tapi kenangan tentangnya tak hilang. Begitu pula rumah bambu yang dibangun oleh ayah dan aku (si kecil korengan berpakaian bau asap). Tapi Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri, menuntun aku berjalan di atas jalan berdebu. Sampai tua perjalanan hidupku penuh debu. Dan Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri memberiku ketabahan, kesehatan dan intuisi kreatif….

*

Cerpen ini termasuk dalam buku kumpulan cerpen Rahel Pergi ke Surga Sendiri (2018)

Tags : CerpenGerson PoykNatal di Kampung Rote

Leave a Response