close
Foto Linda Christanty

Lahir pada 18 Maret 1970 di Pulau Bangka, provinsi kepulauan Bangka Belitung. Ia adalah penulis dan jurnalis.

Karya pertamanya, berupa cerita pendek, dipublikasikan harian nasional Kompas. Cerita pendeknya, “Daun-Daun Kering” menerima penghargaan Cerita Pendek Terbaik Harian itu pada 1989.

Sempat menjadi penulis drama radio untuk isu transformasi konflik, ia kemudian bekerja sebagai peneliti untuk isu gender dan gerakan perempuan di Indonesia. Setelah pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, ia pergi ke Aceh dan mendirikan kantor berita Aceh Features di Banda Aceh untuk mempublikasikan berita pascakonflik dan pascabencana, dan memimpin kantor itu hingga akhir 2011.

Ia pernah bekerja sebagai pengurus Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi anggota Komite Sastra lembaga tersebut selama dua periode.

Karya-karyanya telah meraih berbagai penghargaan, antara lain penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award untuk kategori Buku Fiksi Terbaik untuk buku cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto (2004) and Rahasia Selma (2010) dan Penghargaan Prosa dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk buku esainya Dari Jawa Menuju Atjeh (2010) dan buku cerita pendeknya Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013).

Ia juga menulis naskah drama, Tongkat Sultan, tentang bencana dan perdamaian di Aceh dan dipentaskan di World P.E.N Forum yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, pada 2008. Karya ini dipentaskan bersama karya beberapa sastrawan lain, seperti karya Mo Yan, Air di Musim Gugur.

Pada 2013, ia menerima penghargaan sastra Asia Tenggara atau S.E.A Write Award dari Kerajaan Thailand di Bangkok, Thailand.

Ia telah menerbitkan sejumlah buku fiksi dan non-fiksi. Buku-bukunya antara lain Kuda Terbang Maria Pinto (2004), Dari Jawa Menuju Atjeh/Hikayat Kebo (2008), Kumpulan Cerita Nyata dari Aceh: dari KTP Merah Putih hingga Buku Nikah (2009), Rahasia Selma (2010), Jangan Tulis Kami Teroris (2011), Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013), Seekor Burung Kecil Biru di Naha; Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi (2015), Para Raja dan Revolusi (2016), dan Adakah Air Mata untuk Orang-Orang Tak Bersalah (2021).

Sebuah buku esainya diterjemahkan dalam Bahasa Jerman, Schreib ja nicht, dass wir Terroristen sind! dan diterbitkan penerbit Horlemann di Berlin. Buku kumpulan cerita Pendeknya dalam Bahasa Thai, Sua Sib Jed Tua Khong Luta, diterbitkan Wailalak University Press and The Writers Assosiation of Thailand.

Di Festival ini ia akan menjadi pembicara pada acara Bincang-Bincang dengan Naldo Rei –penulis buku memoar Timor Timur (2017) pada 23 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

Tags : Festival SaPa Kristiani 2020-2021sapa kristiani
Ita Siregar

The author Ita Siregar

Leave a Response