close

CERITA

CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Sang Ratu

400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

read more
PuisiTERASWARA-WARA

Hari Minggu Ramai Sekali

wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Puisi

Babel *

IMG_20180904_074708 (1)

gerbang para dewa
markah kekacaubalauan
syahwat
yang tak pernah manusia
lupakan

setelah petaka banjir mematikan itu
elohim berjanji takkan lagi bah
menghukum bumi

lalu sem
ham
yafet

ham melahirkan kush
kush melahirkan nimrod
pertama manusia terkuat di bumi
istrinya simeramus
jalan menuju neraka

700 tahun kemudian
ke negeri timur mereka pergi
di tanah Sinear
mari kita buat menara tinggi
surga kita sendiri
kata nimrod

satu bahasa mereka
membakar bata seperti batu
tanah liat sebagai perekat
di atas tanah datar segi empat
selama seratus tujuh tahun
mereka berpeluh keringat
mendirikan bata demi bata
dua puluh lima gerbang
seribu pintu
warna merah tua
hingga 2484 meter menjulang

namun di menara tinggi babel
hanya bertemu kediaman roh-roh jahat
persembunyian roh najis
tempat bercabul
sampai elohim turun dari surga
melipatgandakan lidah mereka
tak lagi satu
melainkan tujuh puluh dua
bahasa

15 untuk yafet
30 untuk ham
27 untuk sem

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

sudah rubuh babel
sudah rubuh babel

dan hari ini
jutaan tahun kemudian
kami kerasukan roh
gerbang para dewa
markah kekacaubalauan

kami membangun kembali
babel
si menara tinggi
dengan kebiasaan kami
ritual kami
bahasa kami
agama kami
demi kami
kami

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

dan di tepi-tepi sungaimu, babel
kami hanya duduk dan menangis
bila mengingat Zion

itasiregar/18/8/18

*puisi ini dibuat untuk lukisan Setiyoko Hadi yang diberi judul Yang Diserakkan. Perupa merasa menara Babel sebagai simbol dari kemampuan manusia purba untuk melawan Tuhan, yang tetap relevan sepanjang masa. Telepon sebagai simbol dari sebuah komunikasi dua arah. Posisi gagang yang terjatuh di lantai mengisyaratkan putusnya sebuah komunikasi. Kemampuan manusia membangun menara yang menjulang sampai ke langit digambarkan susunan bata yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Tidak digambar sesuatu yang kokoh melainkan seperti sesuatu yang mudah runtuh. Yang diserakkan adalah cara Tuhan menyadarkan akan keberadaannya di hadapan kekuatan Tuhan

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

book-707388_1920

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

Tema: Perintis Gereja Tradisional

Pernahkah membaca kisah Kyai Sadrakh (1835-1924) atau Nommensen (1834-1918) dan terkesan dengan kehidupannya? Ini saat yang tepat untuk mengungkap kisah mereka dalam bentuk cerpen atau puisi.

Anda juga dapat memilih Denninger (1865-) yang berkarya di Gunung Sitoli Nias, Joseph Kam (1769-1833) di Maluku, Antonie Anis van de Loosdrecht (1885-1917) di Toraja, Johann Geissler (1830-1870) di Irian/Papua, Ibrahim Tunggul Wulung (1840-1885), Paulus Tosari (1813-1882), atau sila memilih sendiri nama yang Anda minati.

Syarat:
1. Peserta adalah mahasiswa teologi atau masyarakat umum.
2. Memilih satu tokoh di atas atau memilih sendiri.
3. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya untuk masing-masing kategori tulisan.
4. Panjang cerpen maksimal 1300 kata. Puisi bebas.
5. Naskah di-email ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas data diri (KTP/ SIM).
6. Naskah sudah diterima oleh Panitia selambatnya 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
7. Panitia akan menentukan 10 naskah terbaik untuk kedua kategori.
8. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan bpr.pgi.or.id
9. Setiap pemenang akan mendapat hadiah Rp 750.000,00
10. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap paling inspiratif akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
11. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: http://wp.me/p8ZXIg-bO

read more
Cerpen

Insang Merah Muda

Insang Merah

Teks Yetti A.KA

Ilustrasi Ersta Andantino

Dalam kurungan tikar pandan, Kimori mendengar suara arus sungai dan tawa teman-temannya. “Buka yang lebar,” bisik perempuan tua—tukang sunat yang telah memegang jarum kecil di tangan kanan.

Kimori tersentak, tawa teman-temannya menghilang. Ia ingat mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia yang berubah menjadi seekor ikan di hari sunatannya. “Buka yang lebar,” sekali lagi perempuan tua berbisik. Ragu-ragu Kimori membuka selangkangannya yang ditutup kain mandi dari belacu. Suara teman-temannya kembali riuh—sepertinya ada seorang anak yang menyimburkan air ke tepian sungai dan membasahi orang-orang yang sedang duduk bergerombol. Ia merasa lega mendengar keriuhan itu. Rasa takutnya berkurang. Dalam mimpi itu, selain dirinya, ia melihat begitu banyak ikan berwajah anak perempuan yang pernah dibawa ke sungai untuk disunat dan dimandikan dengan jampi  di ubun-ubun. Sebentar lagi ia mungkin akan benar-benar menjadi ikan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seekor ikan dan berada di dalam sungai.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” kata perempuan tua pelan seolah dapat melihat isi tempurung kepala Kimori.

Kimori menggigiti bibirnya.

Ujung jarum dibalut kapas sudah ditempelkan pada kulit klitoris Kimori yang merah pucat. Rasa dingin menjalar dan menimbulkan sedikit ngilu—dan ia bertahan agar tidak menjerit. Kimori tidak tahu dari mana rasa dingin itu berasal. Mungkin dari rasa takutnya. Mungkin dari ujung jarum yang menembus serat-serat kapas dan mengalirkan teror kepadanya.

“Tidak apa-apa,” bisik perempuan tua. Perempuan yang sudah puluhan tahun menjadi tukang sunat dan hanya satu-satunya di kampung itu.

“Cuma sebentar. Tidak sakit,” bujuk ibunya tidak henti-henti sepanjang bulan lalu. Jauh sebelum bulan lalu, ibunya terus membujuknya agar mau disunat—dibawa pergi ke tepi sungai, dikurung dalam tikar pandan bersama tukang sunat yang sudah menyunat ratusan anak perempuan, dikeramas dengan limau, dan diarak pulang ke rumah dalam pakaian pengantin perempuan cilik berwarna merah. “Nanti kau akan diiringi bunyi rebana yang meriah,” tambah ibunya dengan mata berseri. Semua ibu selalu memancarkan mata seperti itu tiap membicarakan anak perempuannya yang akan segera disunat karena artinya mereka siap-siap menyaksikan anak itu tumbuh menjadi seorang gadis di tahun-tahun berikutnya. Anak yang akan segera belajar mengenai aturan-aturan bagi seorang perempuan. “Bila kau tidak juga disunat, kau tetap akan  menjadi anak-anak. Main sembarangan. Tidak bisa menjaga diri. Tidak ada anak perempuan yang tak mau disunat di sini. Tidak ada yang menjadi perempuan liar, membiarkan tubuhnya dikotori tangan lelaki.” Ibunya meneruskan desakannya.

Kimori tidak tertarik dengan upacara sunatan seperti yang digambarkan ibunya. Ia tidak terlalu tergiur mengenakan baju pengantin dengan kalung dan gelang besi keemasan, diarak pulang ke rumah, menari sambil mengelilingi sebatang cambah kelapa, dan diakhiri dengan jamuan makan. Namun, ia sudah sembilan tahun. Semua teman-teman perempuannya sudah disunat saat usia lima atau enam tahun dan setelah itu diajari untuk tidak lagi mandi telanjang di sungai, tidak lagi sembarangan bermain bersama anak lelaki, tahu batasan, mengerti mana yang harus dijaga dengan baik.

“Setelah ini kau akan menjadi seorang gadis,” bujuk ibunya sebelum Kimori masuk ke dalam kurungan tikar pandan.

“Nanti kau bisa gabung bersama kami saat mandi,” ujar temannya yang sudah disunat lebih dulu sambil memamerkan sisa tawa polos kanak-kanak.

Kimori tidak ingin menjadi seorang gadis. Ia tidak ingin mandi di sungai mengenakan kain hingga menutupi dada seakan ia sedang menyembunyikan sesuatu yang terlarang dan menjijikkan. Ia tidak ingin memakai bedak kemiri campur kunyit untuk menghaluskan wajahnya, menggiling daun serai di atas batu dan melangiri rambutnya, hingga membuat seluruh tubuhnya berbau rempah. Ia mau tetap beraroma tubuh anak-anak yang suka main kotor di kampungnya. Mereka yang masih mandi telanjang, berendam lama-lama dan bersenda gurau. Mereka yang berjemur di atas batu besar sampai kulit mereka terbakar dan rambut menjadi kering dan melompat kembali ke dalam sungai. Ia senang bermain kejar-kejaran di lubuk yang dalam di sungai itu bersama teman-teman lelaki tanpa batasan, tanpa kecemasan, sebab jiwa mereka begitu murni dan tanpa dosa.

“Sudah selesai,” kata perempuan tua meletakkan jarum ke atas talam. Terdengar bunyi denting dan getar halus. Kurungan tikar dibuka. Kimori melihat teman-temannya berkumpul dan menantikannya dengan senyum terkembang. Agak kikuk Kimori berdiri. Ibunya benar, semua ini sangat cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan tukang sunat melakukannya: mengambil sesuatu yang entah apa dalam vaginanya.

“Apa yang diambil dari sana?” tanya Kimori sebelum ia terpaksa memutuskan mau disunat karena ibu dan bapaknya terus mendesak. Ibunya berkata, “Tidak seorang pun yang membicarakan hal-hal tidak pantas seperti itu.” Malam harinya, Kimori bermimpi menjadi seekor ikan untuk pertama kali.

Kimori dibawa masuk ke dalam air. Rambutnya dibasahi, diberi air limau nipis, kepalanya dijampi, lalu ia disuruh mandi. Kimori menyelam ragu-ragu.

“Menyelamlah ke tempat yang dalam,” kata perempuan tua.

Kimori bergerak ke bagian sungai yang dalam. Setelah mengalami ketakutan dalam gulungan tikar, Kimori membebaskan dirinya di dalam air dan tidak ingin memikirkan apa-apa lagi. Ia sudah biasa mandi dan menyelam di sungai—hampir seluruh hari-harinya lebih banyak berada di sini seperti juga anak-anak lain. Ia menuju dasar sungai dan menempelkan badannya ke batu hitam. Kimori terus berada di dasar sungai dan ia merasa perlahan di dadanya tumbuh sepasang insang. Ibunya berseru dari pinggir sungai agar Kimori segera berenang ke tepi sebab pemasangan baju pengantin cilik harus segera dilakukan, sebab matahari akan segera tinggi, sebab arak-arakan harus segera bergerak dan tak membiarkan rombongan rebana gelisah menunggu. Namun, Kimori tidak mendengar suara itu. Ia begitu terpesona dengan sepasang insang merah muda di dadanya. Matanya mengerjap-ngerjap dan ia membuka insang itu lebar-lebar.

Di tepi sungai, orang-orang saling melempar pandangan bertanya-tanya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka tidak tahu Kimori ada di bagian mana di dasar sungai itu.

Ibunya meneriakkan nama Kimori berkali-kali.

Sungai demikian hening. Seolah mati. Seolah tak ada siapa-siapa di dalamnya.

Setelah lama berlalu, Kimori baru naik ke atas, tapi ia tak menemukan siapa pun lagi di tepi sungai. Semua perlengkapan sunatannya masih berada di tempat, kecuali sebatang jarum. Kimori memakai sendiri baju pengantin cilik yang sudah kekecilan di tubuhnya, memasang singal di kepala, dan menambahkan hiasan daun di rambutnya. Ia berjalan pulang, dalam langkah yang lambat dan sunyi. Di depan pintu, ia melihat ibunya berdiri dengan sepasang mata yang sudah buta dan berkata, “Setelah tiga ribu hari, kau akhirnya kembali, Kimori. Masuklah.”

***

Tukang sunat menjawil pipi Kimori yang merah lembut sehabis ia dimandikan dan dikeringkan, “Jangan melamun,” bisiknya, “tidak elok”.

Kimori tergeragap. Matanya langsung mencari-cari ibunya.

“Ibu tidak ke mana-mana, dari tadi di sini saja,” tukas ibunya seolah mengerti apa yang dirasakan anak perempuan itu.

Kimori langsung bernapas lega begitu melihat ibunya, begitu menatap sepasang mata yang sama sekali tak buta.

“Sebentar lagi semua akan selesai,” tambah ibunya.

Kimori memang tidak sabar ingin menyelesaikan prosesi sunatannya. Ia mau segera bermain kembali dan bertanya kepada teman-teman perempuannya, apakah mereka juga pernah merasa sepasang insang tumbuh di dada saat mereka menyelam di dasar sungai di hari sunatan?

***

Di halaman rumah, Bapak Kimori sudah menanam cambah kelapa setinggi setengah  meter. Bunyi rebana telah terdengar. Riuh suara anak-anak mengiringi arak-arakan itu. Begitu tiba di halaman nanti, Kimori akan menari—kedua lengan tangannya direntangkan, tangan kanan dan kiri memegang ujung selendang—sebanyak tujuh putaran. Begitu tariannya selesai, permen bercampur uang koin dan beras akan dihamburkan di udara dan anak-anak berebutan mendapatkannya.

Lelaki itu menunggu saat itu tiba dan hatinya akan bahagia melihat anak perempuannya menari bagai burung enggang di halaman rumahnya sendiri. Burung yang mengepak-ngepakkan sayap sebelum akhirnya hinggap ke rumahnya dan belajar berhenti terbang.

Kimori dan pengiringnya semakin mendekat.

Lelaki itu memberi isyarat agar orang-orang bergerak ke depan, menyambut kedatangan rombongan pengantin cilik dalam suasana bahagia sekaligus haru. Kimori tidak mengerti kenapa perasaan sedih yang justru menyusup kuat ke dirinya, sebuah perasaan yang sama saat ia melihat sepasang mata teman bapaknya di balik timbunan kayu bakar di bawah rumah ketika lelaki itu memasukkan jemari ke dalam lubang vaginanya dan berbisik, “Jangan pernah katakan apa pun.” Perasaan yang membuatnya kembali ketakutan dan membuatnya makin menciut. Ia memang tak pernah mengatakan apa pun kepada ibunya. Perempuan itu pasti akan menyalahkannya karena tak mau disunat di usia lima atau enam tahun dan karena itu ia tak bisa menjaga diri dengan baik. “Awas pokoknya!” kata lelaki gemuk itu. Kimori makin merasa takut. Tubuhnya kita gemetar dan telapak tangannya menjadi lembap sekali.

Ibunya yang memegang tangan Kimori sejak mereka berjalan meninggalkan tepi sungai, tidak henti memberikan dorongan kepada anak perempuannya. Kalau Kimori berjalan dengan wajah kosong, maka ibunya cepat-cepat mengingatkan, “Tersenyum ya, Kimori.”

Kimori pun menarik kedua ujung bibirnya dengan terpaksa. Ia merasa tidak berada di antara orang-orang yang tengah berpesta ini. Ia merasa ingin sekali kembali ke sungai, sebab di sungai ia bisa bebas tanpa sayap sekali pun.

Begitu mereka sampai, Bapak Kimori buru-buru memberi jalan untuk pengantin cilik dan langsung mengantarnya ke cambah kelapa. Ibunya memberikan selendang kepada Kimori dan berkata, “Sekarang kau menari.”

Kimori sudah sering melihat teman-temannya menari mengelilingi cambah kelapa. Ia sudah tahu gerakan tarian sederhana itu. Ia berjalan lambat-lambat mengelilingi batang cambah kelapa. Setiap putaran ia selesaikan tanpa kesalahan, sampai ibunya menghentikan langkahnya, dan itu berarti ia sudah menyelesaikan putaran ketujuh.

Uang bercampur beras dan permen segera berhamburan di udara. Suara pekikan dan tawa menggetarkan pekarangan rumah Kimori.

***

Kimori sesungguhnya tidak pernah kembali ke rumahnya. Ia tak pernah melihat ibunya berdiri di pintu dengan kedua matanya yang buta. Ia juga tak pernah pulang dalam arak-arakan pengantin cilik yang dimeriahkan oleh rebana.

Di dasar sungai, Kimori menempel di batu-batu berlumut, licin dan gelap.

Dan Kimori tidak sendirian. Ia bersama begitu banyak anak perempuan yang menempel di batu-batu dan memiliki sepasang insang merah muda di dada. Anak-anak itu teman sekolah dan teman bermainnya, tapi di dasar sungai mereka tak membawa ingatan apa-apa. (*)

 

Rumah Kinoli, 2017

 

 

Keterangan:

Sunat dalam cerita adalah tradisi di Bengkulu, khususnya di daerah Bengkulu bagian selatan seperti Padang Guci dan Kedurang.

 

 

 

Yetti A.KA, lahir dan besar di Bengkulu. Buku kumpulan cerpen terbaru, Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Ersta Andantino, ilustrator dan penulis. Tinggal di Bogor.

 

 

read more
Puisi

Mosi Tidak Percaya Saul

trust

 

Saul, Saul

Mengapa kau membebani Tuhan dengan segala perkara lancungmu?

Bukankah karena kau mencurigai ketulusan-Nya dan bersandar pada persepsimu sendiri?

 

Saul, Saul

Mengapa kau memegang punca jubah Samuel dengan mengoyaknya?

Bukankah karena hatimu kesal Tuhan telah mengoyak jabatanmu sebagai raja?

 

Saul, Saul

Mengapa kau menyerahkan korban sembelihan ganti mengindahkan suara-Nya?

Mengapa kau mempersembahkan lemak domba jantan sebagai tukar menggubris sabda-Nya?

Bukankah karena kau berpura-pura menerka-nerka kebajikan Tuhan?

 

 

Is/April/2018

read more
Puisi

Saul Menjadi Raja -Senandung Samuel

images

Wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

dari kaum Benyamin kau berasal,

matamu muda dan segar,

engkau sungguh elok

bahumu lebih tinggi dari orang-orang sebangsamu,

dan Tuhan telah memilihmu di antara anak-anak ayahmu

 

Ayahmu kehilangan keledai-keledai betina,

bersama abdimu, kau pergi mencari keledai-keledai itu,

meniti pegunungan Efraim,

melintasi tanah Salisa,

tetapi hewan-hewan itu bersembunyi dari matamu

 

Lalu kau memintas tanah Sahalim,

ke tanah Benyamin.

Setiba di tanah Zuf,

kau bertitah kepada abdimu,

“Marilah kita kembali,

tiga hari sudah kita mencari,

sekarang ayahku tidak lagi mengkhawatirkan keledai-keledai itu,

tetapi kitalah yang dikhawatirkannya.”

 

Namun abdimu menyanggah,

“Marilah kita menemui seorang pelihat,

seorang yang terhormat,

segala yang dikatakannya pasti terjadi,

barangkali ia akan memberitahukan kita tentang perjalanan ini”

 

Dengan seperempat syikal perak kau pergi menyambangi pelihat itu

Tiba di kota, gadis-gadis perigi berseru kepadamu,

“Cepatlah ke kota,

ada perjamuan korban di bukit,

kau akan menemui pelihat itu di sana”

 

Tetapi saat kau mendaki ke kota,

kau beradu kening dengannya.

 

Pelihat itu memandang matamu, dan tak terkesiap,

karena kemarin Tuhan telah memperingatkannya, bahwa

“Besok sesiang ini,

akan datang laki-laki muda dari tanah Benyamin,

urapilah dia menjadi raja atas umat-Ku Israel”

 

Tetapi kau bersoal, “Di manakah rumah pelihat itu?”

“Akulah pelihat itu,

naiklah ke bukit, dan makanlah bersamaku,

besok pagi aku akan memberitahu kepadamu,

segala sesuatu yang ada dalam hatimu”

 

Siapakah yang  memiliki segala yang diingini orang Israel, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?

 

Dan di pendopo, di bukit itu,

kau dan abdimu duduk di tempat utama,

di hadapan tiga puluh orang yang telah diundang,

untuk menjadi saksi bagimu.

Seorang juru masak menghidangkan paha dari anak kambing muda tak bercacat,

dan segala jamuan terbaik, disajikan di hadapanmu,

“Lihatlah, makanlah, sebab perayaan ini telah disimpan untukmu”

 

Kau duduk makan berhadap-hadapan pelihat itu,

dan turun ke kota bersamanya,

kau duduk di sotoh rumahnya,

bercakap-cakap mesra dengannya

 

Saat fajar menyingsing pelihat itu berkata kepadamu,

“Bangunlah,

biarlah abdimu itu pergi mendahului kita,

saat itulah aku akan memberitahukan perkataan Tuhan tentangmu”

 

Kau hanya diam dan melihat,

pelihat itu dengan buli-buli di tangannya,

menuangkan minyak ke atas kepalamu,

menciummu dengan rasa sayang, dan berkata,

“Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?”

 

Inilah tandanya bagimu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

ketika kau pergi nanti,

kau akan bertemu dua laki-laki di dekat kubur Rahel,

di daerah Benyamin, di Zelzah.

Mereka akan berkata, “Keledai-keledai ayahmu telah ditemukan,

dan sekarang lihatlah, ayahmu mencemaskan keadaanmu”

 

Lalu kau terus berjalan,

sampai ke pohon tarbantin Tabor,

kau akan disongsong tiga laki-laki yang akan menghadap Allah di Betel,

seorang membawa tiga ekor anak kambing,

seorang membawa tiga ketul roti,

yang lain sebuyung anggur.

Mereka akan mengucapkan salam,

dan memberimu dua ketul roti,

lalu kau akan tiba di Gibea Allah,

tempat kedudukan pasukan Filistin.

 

Dan kau akan masuk kota, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

kau akan berjumpa serombongan nabi,

yang menuruni bukit,

ketika itulah Roh Tuhan berkuasa atasmu,

kau akan kepenuhan bersama mereka,

berubah menjadi manusia lain,

apa saja yang didapat oleh tanganmu,

Allah menyertai engkau

 

Dan pergilah ke Gilgal mendahului aku, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku akan datang kepadamu,

mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan,

dan kau harus menungguku selama tujuh hari,

sampai aku datang kepadamu

 

Namun segala tanda itu terjadi pada hari itu juga,

karena itu orang banyak bertanya-tanya,

“Apakah Saul termasuk golongan nabi?”

 

Lalu pamanmu bertanya, “Dari mana kamu?”

Kau menjawab, mencari keledai-keledai ayahku

Tetapi tentang aku, pelihat itu, dan bahwa kau telah diurapi menjadi raja,

tak kau ceritakan kepadanya

 

Kemudian di hadapan Tuhan di Mizpa, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku menghimpun umat Israel dan berkata kepada mereka,

“Tuhan telah mendengar permintaanmu seorang raja.

Sekarang berdirilah di hadapan Tuhan menurut suku dan kaummu”

Lalu didapatilah suku Benyamin.

Dan suku Benyamin tampil menurut kaum keluarga mereka,

didapatilah kaum keluarga Matri,

dari keluarga Matri, tampillah seorang demi seorang,

dan didapatilah engkau, wahai Saul bin Kisy bin Abiel

 

Tetapi engkau bersembunyi di antara barang-barang,

mereka mencarimu dan membawamu ke hadapan bangsa itu,

lalu mereka bersorak gembira karenamu, “Hidup raja!”

 

Dan inilah hakmu sebagai raja, wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

anak laki-laki dari bangsamu akan bekerja untukmu,

pada kereta pada kuda,

mereka akan berlari di depan keretanya di depanmu,

kau akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu pasukan lima puluh,

mereka akan membajak ladangmu dan mengerjakan tuaianmu,

akan membuat senjata-senjata dan perkakas kereta untukmu

 

Anak-anak perempuan bangsa itu akan menjadi juru campur rempah-rempah

juru masak

juru makanan

 

Kau akan mendapat sepersepuluh dari bagian yang terbaik dari ladang mereka

dari kebun anggur mereka

dari kebun zaitun mereka

dari ladang gandum mereka

 

Mereka akan memberikan kepadamu

budak-budak laki-laki mereka

budak-budak perempuan mereka

ternak mereka

dan keledai

dan kambing domba

sepersepuluh yang terbaik menjadi bagianmu

dan bangsa itu akan menjadi budakmu, hambamu

 

Lalu kau pulang ke rumahmu di Gibea,

bersama orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah

 

Demikianlah dengan undian kau menjadi raja.

 

Bukankah segala yang diingini orang Israel itu ada padamu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

 

 

(is/Apr2018)

 

 

read more
Puisi

Pengadilan Kaisar

download (10)

Teks Cynthia Putri Utama*

 

 

Dalam sejarah profesiku sebagai hakim

Belum pernah aku menghukum orang yang tak bersalah

Dan merasa begitu menyesal

 

Tapi apa yang harus kulakukan

Orang banyak itu bersikeras

Dan aku tak punya pilihan

 

Waktu itu hari masih sangat pagi

Aku baru bangun dari tidurku

Ada banyak orang berteriak-teriak di luar gedung pengadilan

Mereka tidak mau masuk, jadi aku yang keluar

 

Di hadapanku ada banyak sekali orang

Membawa seorang pria

Tubuh-Nya cukup besar

Entah kenapa dia tidak melawan sama sekali

 

Aku melihat orang itu

Tatapannya bertemu dengan tatapanku

Aku sudah bertemu dengan banyak sekali orang jahat

Aku tahu tatapan liar mereka

Seperti Barnabas …

Orang gila yang sudah membunuh banyak orang

 

Tapi tatapan orang ini berbeda

Begitu tenang, begitu damai

Dia tidak terlihat jahat …

 

“Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?”

 

Dia tidak seperti penjahat …

Malah sebaliknya

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

 

“Tentu saja Dia penjahat. Itu sebabnya kami serahkan padamu”

 

Mereka tidak mengatakan kejahatan-Nya

Aku jadi penasaran

Apakah Dia pemberontak?

Apakah Dia pembunuh

 

“Sebaiknya kalian adili saja dengan hukum Tauratmu”

 

Aku tak mau menumpahkan darah orang tak bersalah

Aku tak mau berurusan dengan agama orang-orang Yahudi itu

 

“Tidak! Kami tidak diperbolehkan membunuh orang”

 

Membunuh? Berarti mereka ingin agar orang ini mati?

Aku benar-benar penasaran …

Apa yang sudah dibuat-Nya?

 

Jadi aku menyuruh Dia masuk ke gedung pengadilan

Akan aku tanyai Dia

Siapa tahu aku dapat membantu-Nya

 

“Apakah Engkau Raja Orang Yahudi?”

 

Sekilas aku mendengar begitu banyak pengikut-Nya

Mungkin Dia adalah Raja yang tertolak

Entahlah

 

“Apakah kau menanyakannya karena mendengar dari orang?

Atau dari hatimu sendiri?” jawab-Nya.

 

Aneh sekali pertanyaan-Nya

Bagaimana pendapatku?

Hmm … dia tidak terlihat sebagai penjahat …

Dia memiliki banyak pengikut …

Apa pendapatku?

 

“Tapi orang-orang-Mu menyerahkan-Mu kepadaku.

Apa yang Kauperbuat?”

 

Mengapa seorang raja diserahkan oleh bangsanya sendiri?

 

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini

Kalau Kerajaan-Ku di sini …

Tentulah aku memiliki prajurit yang akan melawan mereka”

 

Aku benar-benar tak mengerti ucapan-Nya

Jadi benar Dia adalah Raja

Tapi di mana kerajaannya?

 

“Jadi Engkau adalah Raja?”

 

Memang ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

Aku sih percaya saja kalau Dia itu Raja

Aku hanya tak percaya kalau dia itu penjahat

 

“Untuk itulah Aku lahir

Untuk itulah Aku datang dalam dunia

Untuk memberitakan kebenaran

Mereka yang berasal dari kebenaran

mendengarkan Aku”

 

Kebenaran? Aku ini hakim

Aku yang mengadili

Seharusnya aku mengetahui kebenaran itu

Seharusnya aku mendengarkan Dia

 

“Apakah kebenaran itu?”

 

Lalu aku keluar … menemui mereka

Aku akan membuat suatu penawaran

Aku ingin membebaskan-Nya

 

“Aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Maukah kalian membebaskan-Nya?”

Karena ini adalah paskah, dan saat paskah

Aku dapat membebaskan satu orang tawanan bagimu”

 

Aku berpikir mungkin ada dari banyak orang itu

Ada sebagian orang yang dapat membela orang ini

Pengikut-Nya … orang-orang yang mempercayai-Nya

Aku kaget sekali ketika kudengar kata sepakat

“Bebaskan Barnabas!”

 

Walau enggan, kubebaskan Barnabas

Namun aku tak mau menghukum mati Orang Benar ini

Aku yakin Dia tak bersalah

 

Jadi aku menyuruh orang untuk menyiksa Dia

Hanya menyiksa, bukan membunuh

Agar mereka tenang

Dan nanti akan kubebaskan

Itu pun sudah membuat hatiku merasa sangat bersalah

 

Prajurit melukai Dia mulai dari kepala hingga kaki-Nya’

Ah, andai memang Dia Raja …

Semestinya ada orang yang membela-Nya

Ke mana mereka semua?

 

Stelah mereka puas melukai Dia

Aku membawa Dia lagi ke hadapan bangsa itu

 

“Aku benar-benar tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Dia sungguh benar …”

 

“Salibkan Dia, Dia mengaku anak dari Tuhan kami …

Menurut hukum kami Dia harus mati”

 

Aku sangat takut mendengarnya

Tuhannya orang Israel terkenal sejak zaman dahulu

Membebaskan mereka dari Mesir

Membantu mereka melawan bangsa Filistin

 

Tidak … aku tak akan mau berurusan dengan hal itu

Tapi … bagaimana kalau Dia memang Tuhan …

Aku merasa sangat takut

Aku dihadapkan dengan dua pilihan sulit

 

Siapa yang harus aku percayai?

Orang banyak itu

Atau orang ini …

Yang bahkan tak melawan ketika dianiaya

Beda sekali dengan penjahat yang lain

 

Jadi aku masuk … dan menanyai Dia

 

“Kau dari mana sebenarnya?”

 

Dia diam

 

“Tahukah Kau bahwa saat ini hidupmu dalam tanganku?”

 

Jawaban berikutnya membuatku kaget

Belum pernah aku mendapat jawaban seperti itu

 

“Kau memiliki kuasa itu karena diberikan kepadamu dari atas.

Mereka, yang menyerahkan aku padamu, lebih besar dosanya”

 

Apakah Dia bermaksud untuk membelaku?

Tatapan-Nya begitu lembut

Sama sekali tidak ada kebencian

 

Dia seolah mengatakan padaku

Bahwa semuanya baik-baik saja …

 

Aku ingin sekali membebaskan-Nya

Tapi orang banyak itu

Ah, apa yang harus kulakukan?

 

“Kalau kau membebaskan Dia,

kau bukan sahabat kaisar!”

 

Tidak!

Menjadi sahabat kaisar itu penting

Itu untuk reputasiku

Utu untuk karirku

 

Apa yang harus kulakukan pada Yesus ini?

Kalau aku membela-Nya, artinya karirku hancur

Kalau aku membela-Nya, orang-orang ini akan menghancurkan aku

 

Aku tak bisa berbuat apa-apa

Istriku mengatakan padaku untuk tidak ikut camput

 

Kuserahkan Dia pada mereka

Untuk disalibkan

Dan saat ini …

aku menyesal sekali

 

 

*Saat menulis puisi ini, Cynthia Putri Utama duduk di kelas 8D SMPK 1 Penabur Jakarta

 

(Dipetik dari buku Pesan dari Kayu Salib, antologi puisi Paskah, dikumpulkan oleh Keke Taruli Aritonang, Gorga Pituluik, 2017, halam

read more
Cerpen

BUAH KARMA SANG KATAK

waters-3095682__340

(Plesetan Dongeng, diinspirasi dari kumpulan Fable Aesop: Seekor Katak yang Ingin Menjadi Raja)

 

Teks Rien al-Anshari*

 

Renang Renung Seekor Katak

 

Itu adalah renanganku yang terakhir

Di danau luas berpesisir indah

Sekarang aku telah duduk di tengah-

tengahnya, di bawah pohon raksasa

bernama Karma. Apa yang telah

terjadi padaku hari ini? Aku kerap

membayangkan pesisir jauh dan bunga-

bunga indah di penjuru timur.

Warna-warni itu, apakah artinya?

Aku kerap berandai-andai pada bukit

dan gunung tinggi di penjuru barat.

Batu-batu itu, seperti apa menyentuhnya?

Renunganku pun berenang. Renanganku

pun melayang. Aku ke sana dan kemari,

berulang kali. Tapi jika aku tak pernah

menjejakkan kakiku pada tujuan?

Apakah gunanya keadaan?

 

Pohon raksasa ini adalah rumah besarku

yang nyaman. Daun-daunnya rindang

melindungiku dari panas terik. Namun

kenapa aku tak diperkenankan untuk

memanjatnya? Kenapa aku tak diperkenankan

menyentuh dedaunan dan merasakan

lezatnya buah-buah Karma di percabangan?
Sungguh mereka ranum, lagi wangi.

 

Selembar daun jatuh ke air.

Aku membayangkan dirikulah yang

mengambang laksana daun yang terpisah

dari rantingnya. Tapi apakah ia, kini?

Apakah daun itu tetap sama seperti saat ia

bergelayut mesra pada ranting Pohon

Karma? Apakah ia tetaplah daun si pohon

Karma? Atau ia hanya daun semata-mata?

 

Oh, apa yang terjadi padaku?

Aku tak dapat melihatnya lagi sebagai rumahku.

Mataku telah membawaku hilang ke tempat

yang jauh, melesat membayangkan apa

yang ada dibaliknya. Mataku tidak di sini

melihat air. Mataku tidak di sini melihat akar.

Mataku tidak di sini melihat pohon Karma

seperti aku dulu melihatnya. Mataku telah pergi.

Mataku telah berenang bersama renungku

merenangi tempat yang jauh.

 

 

 

INILAH cerita seekor katak yang hidup di bawah pohon bernama Karma. Pohon itu berada di tengah-tengah sebuah danau yang amat luas, begitu luasnya danau itu hingga kedua pesisirnya nyaris tak tampak sama sekali. Pohon Karma menjadi rumah bagi sang Katak, tempat baginya beristirahat dan melepas lelah.

Katak berenang ke sana ke mari, sepanjang waktu, setiap hari. Dinginnya air dan udara yang sejuk membuatnya merasa begitu puas dan nyaman. Sampai tibalah ia di suatu hari, ketika sang Katak sampai di kedua penjuru yang amat jauh. Dari permukaan air di sebelah timur, ia dapat melihat hamparan rumput luas dan bunga berwarna warni. Dari permukaan air di sebelah barat, ia menemukan bukit dan gunung batu menjulang tinggi.

Sepanjang perjalanannya menuju kembali ke rumahnya, sang Katak mulai bertanya-tanya. Apakah yang ia lihat itu tadi? Kenapa yang satu tampak begitu menarik baginya sementara yang lain menakutkan sekali? Dan Katak pun tiba di rumahnya, mendapati Pohon Karma berdiri kokoh seakan menyambut kehadirannya.

Pohon Karma adalah sebuah pohon raksasa yang amat besar dan rindang. Sebagian tubuh akarnya menjadi celah bagi katak dan menjadi rumahnya di permukaan air. Tubuh akar pohon tersebut, setengah mengambang namun sebagian besarnya begitu kokoh menghujam menembus jauh ke dasar danau. Batang pohon Karma begitu besar hingga tampak seperti seribu kali lebar katak. Cabang dan rantingnya menutupi langit di seputaran danau dengan daun-daun besar menempel kuat. Tak pernah sekalipun selembar daun jatuh mengotori danau. Buah-buah berwarna jingga kemerahan selalu berkeliau di antara celah batang dan ranting, mereka laksana perhiasaan yang menambah keindahanan pohon Karma. Rindangnya dedaunan pohon Karma menutupi seluruh permukaan danau dan melindungi Katak dari sinar yang begitu terang dan menyengat, seperti yang terlihat di pesisir jauh. Pohon Karma pun tidak hanya selalu memberikan perlindungan, ia juga mengeluarkan udara yang selalu membuat Katak merasa begitu tentram dan nyaman.

Namun ketentraman Katak sedang terusik. Ia mulai membayangkan rupa-rupa yang ditemuinya di pesisir-pesisir jauh. Katak duduk di sebatang akar yang mencuat dan mendapati selembar daun Karma jatuh untuk pertama kalinya.

“Apa yang sedang kau lamunkan itu, Katak?”

Sebuah suara mengejutkan sang Katak, ia menengadah dan mendapati Tuhan sedang berayun-ayun di dahan pohon Karma.

“Aku telah sampai ke pesisir timur dan barat dan mendapati keduanya menarik perhatianku,” jawab sang Katak.

“Apakah gerangan yang menarik perhatianmu?”

“Sesuatu yang berwarna-warni dan sesuatu yang begitu keras dan tinggi. Apakah itu?”

“Yang berwarna-warni di sebelah timur itu adalah bunga, sementara yang terlihat keras dan tinggi di sebelah barat adalah gunung dan batu.”

“Tidak bolehkah aku menyentuhnya?” tanya sang Katak, lagi.

“Tidak puaskah kau dengan apa yang kuberikan padamu di sini, wahai Katak?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, wahai Tuhan. Aku hanya ingin mengenal mereka; bunga-bunga dan bebatuan itu. Meski yang satu tampak menggoda dan yang lain menakutkan, aku ingin mengenal mereka; menyentuh dan mungkin menggenggamnya. Apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah buruk jika aku ingin mengenal sesuatu selain aku?”

Tuhan pun tertawa. Tawanya mengguncang dahan dan ranting Karma sehingga beberapa lembar daun kembali berjatuhan.

“Sama sekali tidak. Aku hanya merasa belum saatnya itu tiba. Suatu hari kau akan mengetahuinya, wahai Katak. Bersabarlah,” dan Tuhan pun lalu menghilang.

Katak menggerutu di dalam batinnya, Tuhan selalu seperti itu. Ia datang kapanpun ia mau. Seperti di satu waktu, tiba-tiba saja ia bisa berjalan di atas air mengelilingi pohon Karma. Di lain waktu, ia dapat tiba-tiba duduk di atas dahan dan memakan buah Karma yang sudah tampak merah. Yang lebih menjengkelkan si Katak, tidak pernah sekalipun Tuhan memperkenankan Katak untuk mencicipi buah-buah tersebut. Ia bahkan melarang Katak untuk mencoba membayangkan bagaimana rasanya.

Katak memperhatikan selembar daun besar yang mengambang di atas air, ia pun membayangkan bagaimana daun yang tampak kokoh itu dapat patah dan melayang? Katak pun menengadahkan kepalanya untuk kembali melihat percabangan Pohon Karma dan menemukan seekor Bangau sedang duduk dan bersandar di tempat yang biasa diduduki Tuhan. Katak begitu terkejut.

“Siapa kau?” tanya Katak yang tak pernah mendapati makhluk lain yang bergerak, selain dirinya dan Tuhan.

“Aku Bangau.”

“Sejak kapan kau berada di situ? Apa yang kau lakukan di tempat duduk Tuhan?”

“Apa salahnya jika aku menduduki tempat duduk Tuhan? Aku punya sayap dan aku bisa terbang. Kau tak diperkenankannya kemari karena tempat ini begitu tinggi,” kata Bangau sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. berlagak seolah hendak memetik Karma.

“Begitukah? Bagaimana jika aku memanjat? Apakah aku boleh duduk di tempat duduk Tuhan dan memakan buah-buahan itu?” tanya Katak, setelah ia melihat bahwa Bangau pun akan memakan buah jingga kemerahan yang biasa dimakan Tuhan itu.

“Tentu saja,” jawab Bangau singkat.

Katak pun memanjat. Ia baru tahu bahwa kedua tangan dan kakinya dapat dipergunakan untuk sesuatu yang lain, selain bergerak di air.

Katak telah tiba di ketinggian. Di sana ia mendapati sebuah pemandangan yang sangat indah mengitarinya.

“Ini luar biasa. Aku harus bersusah payah berenang mencapai tiap sisi untuk melihat semua ini, sementara dengan memanjat, aku dapat menyaksikan keindahan semuanya sekaligus.”

“Ya, benar. Tapi dari ketinggian ini, tetap saja kau tak bisa menyentuh bunga atau menggenggam batu,” kata Bangau lagi.

“Sejak kapan kau ada di sini? Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Tuhan?

“Aku diciptakan mempunyai sayap, sehingga aku dapat terbang mengawasi seluruh tempat dan bergerak dengan cepat. Aku sudah berada di sini sejak kau bercakap-cakap dengan Tuhan tadi.”

“Bagaimana aku bisa tidak mengetahui keberadaanmu selama itu?”

“Sebab aku bergerak lebih cepat darimu, wahai Katak yang malang. Aku diciptakan lebih dulu, tentulah aku lebih baik daripadamu.”

“Begitukah? Apakah dengan begitu kau pun terbang sampai ke pesisir-pesisir jauh itu dan melihat apa saja yang ada di sana?”

“Tentu,” jawab Bangau, singkat. “Kau pun dapat melakukannya jika kau mau. Kau dapat melakukan lebih dari sekedar melihat, menyentuh atau menggenggam, seperti yang kau katakan.”

“Begitukah?” tanya Katak sangat penasaran. “Tapi aku tidak punya sayap dan aku tak dapat bergerak cepat menuju ke pesisiran. Aku berenang terlalu lambat dan Tuhan akan segera mengetahui tujuanku.”

“Kau dapat memakan buah ini dan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Tapi Tuhan melarangku. Ia bahkan melarangku untuk memikirkan bagaimana rasanya.”

“Ia melarangmu, sebab ia tak ingin kau menjadi sepertinya. Buah ini adalah makanan Tuhan. Jika kau memakan buah yang dimakannya, maka kau dapat menjadi sepertinya. Kau dapat berpindah-pindah dengan cepat, melihat-lihat bunga dengan berbagai warna, berdiri di atas batuan tinggi dan bahkan menggenggam gunung batu itu di kedua tanganmu. Sungguh, kau tak perlu berenang lagi dan bersusah payah. Percayalah padaku.”

Katak terpesona, ia sungguh percaya apa yang dikatakan Bangau setelah apa yang ia alami beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang hidupnya, ia berenang-renang tanpa pernah tahu bahwa air memiliki suatu batasan, namun sekalipun ia telah mencapai apa yang disebutnya sebagai pesisir jauh, ia bahkan tak punya keberanian untuk melangkah meninggalkan air. Lalu seketika pikirannya menjadi semakin resah ketika membayangkan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu selain ia; sesosok makhluk yang lebih perkasa, mempunyai dua buah sayap dan kaki-kaki ramping yang sangat indah, dan bahkan, makhluk itu dapat terbang sangat cepat. Bagaimana mungkin?

“Aku akan memakannya!” ujar Katak penuh keyakinan. “Aku akan memakannya dan menjadi sesuatu yang bergerak lebih cepat darimu, Bangau! Aku akan seperti cahaya atau lebih daripada itu! Aku akan melihat lebih dari apapun yang pernah kau lihat selama ini. Aku akan mengetahui apapun lebih dari apapun yang diketahui!”

Katak pun memakan buah Karma dan menemukan dirinya hanyut dalam kegelapan. Hilang. Lalu timbul dan mengambang di antara semburat warna warni megah. Terseret. Gepeng. Terdorong. Remuk. Terbentur. Pecah menjadi keping-keping. Anehnya, dalam tiap-tiap kepingan ia masih menyadari dirinya dalam kepingan yang lain. Ia melihat semuanya, seakan-akan tubuhnya adalah sesuatu yang banyak dan dapat dibagi-bagi. Bunga. Batu. Bangau. Air. Pohon Karma. Segala sesuatu menjadi matanya. Segala sesuatu menjadi gerak-geriknya. Sang Katak terpesona. Namun keterpesonaan tak berujung lama lama. Katak kemudian kembali tersedot dan terseret menuju kepada cahaya yang amat panas dan berkilau, sebelum dirinya hancur tanpa sisa.

Katak membuka mata. Kali ini, ia mendapati tubuhnya telah jatuh ke dalam air; tenggelam di antara akar Pohon Karma, bersedekap memeluk diri. Sang Katak dapat merasakan hatinya bergetar hebat, hingga rasanya ia dapat pecah dan hancur kapan saja.

“Kau telah melanggar laranganku, wahai Katak,” ujar Tuhan yang kini berada di hadapannya.

“Benar. Aku pun merasa malu dan bersalah,” ujar Katak dari dalam hatinya. Ia masih saja bersedekap dan tak mampu menatap Tuhan, namun ia tahu bahwa tak ada apapun yang dapat mencegah Tuhan untuk mengetahui apa yang ia ketahui.

Katak tenggelam melewati akar-akar Pohon Karma. Pelan tapi pasti, tubuhnya jatuh ke dasar danau yang tak berujung; semakin gelap, semakin sunyi dan semakin jauh.”

“Pohon Karma berbuah Kesadaran. Siapapun yang memakannya tak bisa menolak perbuatan, demikianlah segalanya menjadi,” suara Tuhan mulai terdengar bergaung. “Karena perbuatanmu itu, aku menurunkan engkau dari tempatmu ini. Engkau akan turun pada suatu tempat yang disebut Bumi. Di sana kau beranak-pinak dan berkembang-biak; bergerak, tumbuh, hidup, mati, terus berputar dalam rotasi sampai waktu yang ditentukan. Sebagian daripadamu akan menjadi musuh daripada yang lain. Di setiap lahan akan selalu ada perebutan. Dan Bangau akan menjadi bagian dari setiap perebutan, itu. Serupa engkau, ia pun beranak pinak dan berkembang biak, dan sepanjang hidupnya ia ditakdirkan untuk mengintaimu dari segala penjuru. Manakala kau lengah, kau dan anakmu akan menjadi mangsa utamanya. Manakala kau waspada, engkau menjadi jauh lebih perkasa darinya.”

Lalu, percikan bunga api listrik mulai tampak menjalar, pecah mewarnai kegelapan dan kekosongan. Setitik cahaya putih di ujung lorong mulai tampak, memancarkan satu garis sinar lurus yang sangat indah. Pancarannnya menembus partikel-partikel kristal dan pecah dalam warna warni mempesona.

“Sejak saat ini, engkau akan mengenali sekaligus juga dikenali. Kau akan menyentuh dan disentuh, meraba dan diraba, menggenggam dan digenggam, melihat dan dilihat. Semuanya akan terjadi. Semuanya akan kau alami,” suara Tuhan mulai terdengar semakin jauh. “Selamat mengalami, Katak.”

 

******

 

Tiba-tiba sekumpulan kecebong putih melesat dan meluncur dengan kencang. Mereka berkejaran, berhimpit, tumpang tindih, tertinggal, berserakan, mengambang dan lebih dari sebagiannya, mati. Beberapa dari mereka mulai tampak mencapai tujuan, berkerumun pada sebongkah benda bulat bercangkang keras. Mereka mulai mematuk-matukan kepalanya berusaha menemukan celah masuk. Namun hanya sang Katak yang dapat membuat celah pada cangkang keras tersebut. Ia terdorong oleh semacam tenaga yang aneh, masuk dan menemukan sebuah rumah yang nyaman. Tak lama kemudian, ekor yang semula ia pergunakan untuk bergerak pun terlepas dari tubuhnya, meninggalkan ia hanya dengan kepalanya saja. Namun Katak tak berbuat apapun, ia hanya dapat diam dan melambat dan membiarkan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, yang dua menjadi empat, delapan, enam-belas hingga bertumpuk-tumpuk membentuk gumpalan. Gumpalan-gumpalan berkumpul membentuk kepala, membentuk batang tubuh, membentuk tangan dan kaki-kaki. Demikianlah sampai pada suatu hari, Sang Katak kembali menemukan pintu dan seberkas cahaya dengan campuran berbagai warna yang tak lagi berpendar. Untuk pertama kalinya, ketika Katak telah melewati pintu, ia menemukan sekumpulan makhluk yang sangat aneh berkelakar dengan bahasa yang tidak dimengertinya.

“Bayi! Bayi Lelaki!” demikian, teriak mereka.

 

***

 

 

*Rien al-Anshari adalah penulis, tinggal di Jakarta.

 

read more
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (3)

diamond-704072_960_720

Demi Seorang yang Kecil

Artaban terus menekuni perjalanannya melewati padang gurun bergelombang dan suram, di atas punggung untanya, bergerak seperti mengambang di sebuah kapal di tengah samudera.

Tanah kematian menyebarkan jaring durjana ke dalam tubuhnya. Padang pasir yang luas kering tiada pohon atau pohon buah, hanya onak dan tanaman berduri. Bingkai gelap batu karang menusuk di atas permukaan di sini dan di sana, seperti tulang-tulang makhluk monster yang mati merana. Barisan gunung yang kersang dan tak ramah menghadangnya, berkerenyut bersama saluran-saluran yang sudah ada sejak zaman purba namun kering tak berait, gambaran mengerikan seperti luka gores pada wajah alam.

Bukit-bukit bergerak karena pasir mematikan yang bertumpu seperti sederet kuburan di bawah kaki langit. Pada siang hari, panas yang ganas menggigit hingga tak dapat ditoleransi pada udara yang menggigil; tak satu pun makhluk hidup akan berjalan dalam kedunguan seperti ini, bumi yang nyaris pingsan, celurut kecil terbirit-birit menerobos semak  kering, atau cecak-cecak kabur lalu raib di langit-langit batu karang. Pada malam hari, ancaman segerolombolan serigala mencari mangsa dan lolongnya yang menggetarkan hati, auman singa bergaung dari jurang-jurang dalam dan gelap, sementara udara dingin yang sengit dan membinasakan, setelah demam siang hari. Melewati panas dan dingin yang ekstrem, ia terus berjalan.

Lalu ia melewati taman-taman dan kebun buah-buahan kota Damaskus, yang diairi arus Abana dan Pharpar, dengan lereng tanah berumput yang bertatahkan sekumpulan bunga, dan harum belukar damar dan kembang-kembang mawar. Ia melihat punggung bukit Hermon yang luas dan bersalju, hutan kecil cedar dan lembah Yordan, air Danau Galilea yang biru jernih, tanah subur Esdraelon, bukit-bukit Efraim, dan tanah tinggi Yehuda. Melalui semua ini Artaban terus bergerak, sampai dia tiba di Betlehem. Itu adalah hari ketiga setelah tiga kawannya tiba dan bertemu Maria dan Yusuf, dan bayi Yesus, dan sudah meletakkan persembahan-persembahan berupa emas dan kemenyan dan mur, di kaki bayi Yesus.

Dan Artaban mendekat, dengan rasa letih, namun penuh harapan, membawa batu merah delima dan mutiara kepada Raja itu. “Akhirnya,” katanya. “Aku akan menemuinya, meski sendirian, dan lebih lama dari saudara-saudaraku. Inilah tempat yang dikatakan oleh pelarian orang Ibrani kepadanya, yang sudah dikatakan kepada nabi-nabi, dan di sana ia dapat melihat munculnya cahaya agung. Tetapi ia harus meneliti kunjungan kawan-kawannya, ke rumah mana bintang mengarahkan mereka, dan mempersembahkan persembahan mereka.”

Jalan-jalan di desa tampak sunyi dan ditinggalkan. Artaban bertanya-tanya apakah semua laki-laki sudah pergi ke bukit-bukit padang rumput untuk mengangon. Di situ ia melihat satu pintu terbuka, sebuah pondok beratap rendah. Ia mendengar suara halus yang sedang menyanyi dengan suara lembut. Dia masuk dan melihat seorang ibu muda sedang meninabobokan bayinya. Kepadanya, perempuan muda itu berkata soal tiga orang asing dari Timur yang muncul di desa tiga hari lalu, dan mereka bilang, kedatangan mereka itu karena merkea mengikut petunjuk satu bintang besar di langit, sampai tiba di tempat Yusuf dari Nazaret menginap di pondok kecil, dengan istri dan bayi mereka yang baru lahir, dan mereka membayar biaya penginapan dengan penuh hormat, dan memberikan hadiah yang sangat mahal harganya.

“Para peziarah itu kemudian menghilang, mendadak seperti kedatangan mereka,” tambahnya. “Kami merasa khawatir dengan ganjilnya kunjungan mereka. Kami tidak dapat memahaminya. Kemudian orang Nazaret itu membawa istri dan anaknya, malam itu juga, sembunyi-sembunyi, ke Mesir. Sejak kepergian mereka, desa ini seperti terkena kutuk; sesuatu yang jahat meliputi kami. Mereka bilang prajurit-prajurit Romawi datang dari Yerusalem untuk memaksakan pajak baru kepada kami. Banyak orang desa membawa ternak-ternak mereka ke belakang bukit-bukit yang jauh di sana, untuk bersembunyi.”

Artaban mendengarkan perkataan ibu muda itu baik-baik, sementara anak kecil di tangannya, menatap wajahnya yang letih, mengulurkan tangan mungilnya yang montok dan merah muda, seolah-olah merenggut lingkaran emas yang bersayap di dada bajunya. Tingkah bayi itu menghangatkan hati Artaban yang letih. Sentuhan itu seperti sapaan sayang dan rasa percaya kepada seorang peziarah yang berjalan jauh sendirian dan sering kebingungan, berjuang atas keraguan dan ketakutannya sendiri, mengikuti terang yang diselubungi awan gemawan.

“Mungkinkah anak itu Raja yang dijanjikan?” batin Artaban, ketika bayi itu menyentuh pipinya dengan lembut. “Raja-raja lahir di sini, di rumah-rumah yang lebih sederhana dari pondok ini, dan bintang dapat muncul dari rumah kecil itu. Tetapi tampaknya tidak baik untuk memberi hadiah dengan cepat dan mudah. Ia yang kucari sudah pergi; dan sekarang aku harus mengikut Raja itu ke Mesir.”

Ibu muda itu meletakkan bayinya ke dalam ayunan, lalu bangkit untuk menyediakan makanan sederhana ala petani kepada Artaban, namun dengan rasa rela. Makanan itu sungguh menyegarkan tubuh dan jiwa tamunya. Artaban pun menerima semua yang disajikan dengan penuh syukur. Ketika dia sedang makan, bayi di ayunan tertidur dengan wajah bahagia, bergumam lembut dalam mimpi dan suara bayinya. Kedamaian meliputi pondok sederhana itu.

Namun tiba-tiba terdengar keributan dan kegaduhan di jalanan desa, pekik dan ratap para perempuan, gemerincing suara terompet dan denting pedang yang menciptakan suasana horor, dan jerit yang terdengar putus asa, “Tentara! Tentara Herodes! Mereka membunuhi anak-anak kita.”

Wajah ibu muda itu berubah pucat ketakutan. Dia mendekap anaknya dekat ke dadanya, meringkuk tegang di sudut gelap rumah, menutupi bayinya dengan baju lebar, menjaganya agar ia tidak terjaga atau menangis.

Artaban sendiri dengan cepat menyelinap ke luar pondok, berdiri di depan pintu. Bahunya yang lebar memenuhi seluruh pintu , ujung penutup kepalanya menyentuh kusen.

Dalam sekejab tentara memenuhi jalan dengan tangan dan pedang yang meneteskan darah. Penampilan tak biasa asing dan pakaian Artaban membuat mereka sedikit ragu. Kapten gerombolan itu berjalan mendekati ambang pintu, dengan maksud menyingkirkan Artaban agar ia dapat memeriksa rumah. Tetapi Artaban tidak bergerak. Wajahnya tenang seperti ia sedang memandang bintang-bintang. Nyala di matanya bersinar teguh bahkan akan membuat seekor leopard bersembunyi dalam ragu, dan darah memburu yang liar itu menghentikan langkahnya. Ia menahan tentara itu dengan tenang, lalu dengan suara rendah ia berkata, “Aku sendiri di tempat ini, dan aku sedang menunggu untuk memberikan permata ini kepada kapten yang bijaksana, yang akan meninggalkan tempat ini dalam damai.”

Artaban memperlihatkan batu delima di telapak tangannya, kilaunya yang rupawan nampak seperti tetesan darah seorang yang luhur mulia.

Kapten itu terkesima menatap gemerlap batu permata yang menakjubkan itu. Bola matanya membesar seperti juga hasrat di dalam dirinya. Garis-garis serakah mengerutkan sekeliling bibirnya. Dia segera mengulurkan tangannya, mengambil batu itu.

“Jalan terus!” teriaknya kepada pasukannya, “tidak ada anak di sini. Rumah ini aman.”

Kegegeran dan suara gemerincing senjata segera lewat seperti juga kemarahan yang tidak berpikir, yang bermaksud menyapu buruan, yang membuat rusa bergetar bersembunyi. Artaban kembali memasuki pondok itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah timur dan berdoa,

“Allah yang benar, ampuni dosaku! Aku telah berkata sesuatu yang tidak benar, demi menyelamatkan hidup seorang anak. Dua persembahanku sudah tidak ada lagi padaku. Aku sudah memberikannya kepada seseorang di tengah jalan, yang kumaksudkan adalah untuk Allah. Layakkah aku untuk melihat wajah Sang Raja?”

Tetapi di belakangnya, ia mendengar suara ibu muda itu menangis dalam haru, menanggapi doanya, berkata lembut, “Karena engkau telah menyelamatkan nyawa anak kecil ini, kiranya Tuhan memberkati dan menjagamu; kiranya Tuhan menghadapkan wajahnya kepadamu dan kemurahan akan mengikutimu; kiranya Tuhan mengangkat wajahNya atasmu dan memberimu damai.”

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

read more
1 2 3 5
Page 1 of 5