close

CERITA

Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

book-707388_1920

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

Tema: Perintis Gereja Tradisional

Pernahkah membaca kisah Kyai Sadrakh (1835-1924) atau Nommensen (1834-1918) dan terkesan dengan kehidupannya? Ini saat yang tepat untuk mengungkap kisah mereka dalam bentuk cerpen atau puisi.

Anda juga dapat memilih Denninger (1865-) yang berkarya di Gunung Sitoli Nias, Joseph Kam (1769-1833) di Maluku, Antonie Anis van de Loosdrecht (1885-1917) di Toraja, Johann Geissler (1830-1870) di Irian/Papua, Ibrahim Tunggul Wulung (1840-1885), Paulus Tosari (1813-1882), atau sila memilih sendiri nama yang Anda minati.

Syarat:
1. Peserta adalah mahasiswa teologi atau masyarakat umum.
2. Memilih satu tokoh di atas atau memilih sendiri.
3. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya untuk masing-masing kategori tulisan.
4. Panjang cerpen maksimal 1300 kata. Puisi bebas.
5. Naskah di-email ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas data diri (KTP/ SIM).
6. Naskah sudah diterima oleh Panitia selambatnya 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
7. Panitia akan menentukan 10 naskah terbaik untuk kedua kategori.
8. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan bpr.pgi.or.id
9. Setiap pemenang akan mendapat hadiah Rp 750.000,00
10. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap paling inspiratif akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
11. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: http://wp.me/p8ZXIg-bO

read more
Cerpen

Insang Merah Muda

Insang Merah

Teks Yetti A.KA

Ilustrasi Ersta Andantino

Dalam kurungan tikar pandan, Kimori mendengar suara arus sungai dan tawa teman-temannya. “Buka yang lebar,” bisik perempuan tua—tukang sunat yang telah memegang jarum kecil di tangan kanan.

Kimori tersentak, tawa teman-temannya menghilang. Ia ingat mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia yang berubah menjadi seekor ikan di hari sunatannya. “Buka yang lebar,” sekali lagi perempuan tua berbisik. Ragu-ragu Kimori membuka selangkangannya yang ditutup kain mandi dari belacu. Suara teman-temannya kembali riuh—sepertinya ada seorang anak yang menyimburkan air ke tepian sungai dan membasahi orang-orang yang sedang duduk bergerombol. Ia merasa lega mendengar keriuhan itu. Rasa takutnya berkurang. Dalam mimpi itu, selain dirinya, ia melihat begitu banyak ikan berwajah anak perempuan yang pernah dibawa ke sungai untuk disunat dan dimandikan dengan jampi  di ubun-ubun. Sebentar lagi ia mungkin akan benar-benar menjadi ikan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seekor ikan dan berada di dalam sungai.

“Jangan berpikir yang tidak-tidak,” kata perempuan tua pelan seolah dapat melihat isi tempurung kepala Kimori.

Kimori menggigiti bibirnya.

Ujung jarum dibalut kapas sudah ditempelkan pada kulit klitoris Kimori yang merah pucat. Rasa dingin menjalar dan menimbulkan sedikit ngilu—dan ia bertahan agar tidak menjerit. Kimori tidak tahu dari mana rasa dingin itu berasal. Mungkin dari rasa takutnya. Mungkin dari ujung jarum yang menembus serat-serat kapas dan mengalirkan teror kepadanya.

“Tidak apa-apa,” bisik perempuan tua. Perempuan yang sudah puluhan tahun menjadi tukang sunat dan hanya satu-satunya di kampung itu.

“Cuma sebentar. Tidak sakit,” bujuk ibunya tidak henti-henti sepanjang bulan lalu. Jauh sebelum bulan lalu, ibunya terus membujuknya agar mau disunat—dibawa pergi ke tepi sungai, dikurung dalam tikar pandan bersama tukang sunat yang sudah menyunat ratusan anak perempuan, dikeramas dengan limau, dan diarak pulang ke rumah dalam pakaian pengantin perempuan cilik berwarna merah. “Nanti kau akan diiringi bunyi rebana yang meriah,” tambah ibunya dengan mata berseri. Semua ibu selalu memancarkan mata seperti itu tiap membicarakan anak perempuannya yang akan segera disunat karena artinya mereka siap-siap menyaksikan anak itu tumbuh menjadi seorang gadis di tahun-tahun berikutnya. Anak yang akan segera belajar mengenai aturan-aturan bagi seorang perempuan. “Bila kau tidak juga disunat, kau tetap akan  menjadi anak-anak. Main sembarangan. Tidak bisa menjaga diri. Tidak ada anak perempuan yang tak mau disunat di sini. Tidak ada yang menjadi perempuan liar, membiarkan tubuhnya dikotori tangan lelaki.” Ibunya meneruskan desakannya.

Kimori tidak tertarik dengan upacara sunatan seperti yang digambarkan ibunya. Ia tidak terlalu tergiur mengenakan baju pengantin dengan kalung dan gelang besi keemasan, diarak pulang ke rumah, menari sambil mengelilingi sebatang cambah kelapa, dan diakhiri dengan jamuan makan. Namun, ia sudah sembilan tahun. Semua teman-teman perempuannya sudah disunat saat usia lima atau enam tahun dan setelah itu diajari untuk tidak lagi mandi telanjang di sungai, tidak lagi sembarangan bermain bersama anak lelaki, tahu batasan, mengerti mana yang harus dijaga dengan baik.

“Setelah ini kau akan menjadi seorang gadis,” bujuk ibunya sebelum Kimori masuk ke dalam kurungan tikar pandan.

“Nanti kau bisa gabung bersama kami saat mandi,” ujar temannya yang sudah disunat lebih dulu sambil memamerkan sisa tawa polos kanak-kanak.

Kimori tidak ingin menjadi seorang gadis. Ia tidak ingin mandi di sungai mengenakan kain hingga menutupi dada seakan ia sedang menyembunyikan sesuatu yang terlarang dan menjijikkan. Ia tidak ingin memakai bedak kemiri campur kunyit untuk menghaluskan wajahnya, menggiling daun serai di atas batu dan melangiri rambutnya, hingga membuat seluruh tubuhnya berbau rempah. Ia mau tetap beraroma tubuh anak-anak yang suka main kotor di kampungnya. Mereka yang masih mandi telanjang, berendam lama-lama dan bersenda gurau. Mereka yang berjemur di atas batu besar sampai kulit mereka terbakar dan rambut menjadi kering dan melompat kembali ke dalam sungai. Ia senang bermain kejar-kejaran di lubuk yang dalam di sungai itu bersama teman-teman lelaki tanpa batasan, tanpa kecemasan, sebab jiwa mereka begitu murni dan tanpa dosa.

“Sudah selesai,” kata perempuan tua meletakkan jarum ke atas talam. Terdengar bunyi denting dan getar halus. Kurungan tikar dibuka. Kimori melihat teman-temannya berkumpul dan menantikannya dengan senyum terkembang. Agak kikuk Kimori berdiri. Ibunya benar, semua ini sangat cepat. Ia bahkan tidak tahu kapan tukang sunat melakukannya: mengambil sesuatu yang entah apa dalam vaginanya.

“Apa yang diambil dari sana?” tanya Kimori sebelum ia terpaksa memutuskan mau disunat karena ibu dan bapaknya terus mendesak. Ibunya berkata, “Tidak seorang pun yang membicarakan hal-hal tidak pantas seperti itu.” Malam harinya, Kimori bermimpi menjadi seekor ikan untuk pertama kali.

Kimori dibawa masuk ke dalam air. Rambutnya dibasahi, diberi air limau nipis, kepalanya dijampi, lalu ia disuruh mandi. Kimori menyelam ragu-ragu.

“Menyelamlah ke tempat yang dalam,” kata perempuan tua.

Kimori bergerak ke bagian sungai yang dalam. Setelah mengalami ketakutan dalam gulungan tikar, Kimori membebaskan dirinya di dalam air dan tidak ingin memikirkan apa-apa lagi. Ia sudah biasa mandi dan menyelam di sungai—hampir seluruh hari-harinya lebih banyak berada di sini seperti juga anak-anak lain. Ia menuju dasar sungai dan menempelkan badannya ke batu hitam. Kimori terus berada di dasar sungai dan ia merasa perlahan di dadanya tumbuh sepasang insang. Ibunya berseru dari pinggir sungai agar Kimori segera berenang ke tepi sebab pemasangan baju pengantin cilik harus segera dilakukan, sebab matahari akan segera tinggi, sebab arak-arakan harus segera bergerak dan tak membiarkan rombongan rebana gelisah menunggu. Namun, Kimori tidak mendengar suara itu. Ia begitu terpesona dengan sepasang insang merah muda di dadanya. Matanya mengerjap-ngerjap dan ia membuka insang itu lebar-lebar.

Di tepi sungai, orang-orang saling melempar pandangan bertanya-tanya. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi. Mereka tidak tahu Kimori ada di bagian mana di dasar sungai itu.

Ibunya meneriakkan nama Kimori berkali-kali.

Sungai demikian hening. Seolah mati. Seolah tak ada siapa-siapa di dalamnya.

Setelah lama berlalu, Kimori baru naik ke atas, tapi ia tak menemukan siapa pun lagi di tepi sungai. Semua perlengkapan sunatannya masih berada di tempat, kecuali sebatang jarum. Kimori memakai sendiri baju pengantin cilik yang sudah kekecilan di tubuhnya, memasang singal di kepala, dan menambahkan hiasan daun di rambutnya. Ia berjalan pulang, dalam langkah yang lambat dan sunyi. Di depan pintu, ia melihat ibunya berdiri dengan sepasang mata yang sudah buta dan berkata, “Setelah tiga ribu hari, kau akhirnya kembali, Kimori. Masuklah.”

***

Tukang sunat menjawil pipi Kimori yang merah lembut sehabis ia dimandikan dan dikeringkan, “Jangan melamun,” bisiknya, “tidak elok”.

Kimori tergeragap. Matanya langsung mencari-cari ibunya.

“Ibu tidak ke mana-mana, dari tadi di sini saja,” tukas ibunya seolah mengerti apa yang dirasakan anak perempuan itu.

Kimori langsung bernapas lega begitu melihat ibunya, begitu menatap sepasang mata yang sama sekali tak buta.

“Sebentar lagi semua akan selesai,” tambah ibunya.

Kimori memang tidak sabar ingin menyelesaikan prosesi sunatannya. Ia mau segera bermain kembali dan bertanya kepada teman-teman perempuannya, apakah mereka juga pernah merasa sepasang insang tumbuh di dada saat mereka menyelam di dasar sungai di hari sunatan?

***

Di halaman rumah, Bapak Kimori sudah menanam cambah kelapa setinggi setengah  meter. Bunyi rebana telah terdengar. Riuh suara anak-anak mengiringi arak-arakan itu. Begitu tiba di halaman nanti, Kimori akan menari—kedua lengan tangannya direntangkan, tangan kanan dan kiri memegang ujung selendang—sebanyak tujuh putaran. Begitu tariannya selesai, permen bercampur uang koin dan beras akan dihamburkan di udara dan anak-anak berebutan mendapatkannya.

Lelaki itu menunggu saat itu tiba dan hatinya akan bahagia melihat anak perempuannya menari bagai burung enggang di halaman rumahnya sendiri. Burung yang mengepak-ngepakkan sayap sebelum akhirnya hinggap ke rumahnya dan belajar berhenti terbang.

Kimori dan pengiringnya semakin mendekat.

Lelaki itu memberi isyarat agar orang-orang bergerak ke depan, menyambut kedatangan rombongan pengantin cilik dalam suasana bahagia sekaligus haru. Kimori tidak mengerti kenapa perasaan sedih yang justru menyusup kuat ke dirinya, sebuah perasaan yang sama saat ia melihat sepasang mata teman bapaknya di balik timbunan kayu bakar di bawah rumah ketika lelaki itu memasukkan jemari ke dalam lubang vaginanya dan berbisik, “Jangan pernah katakan apa pun.” Perasaan yang membuatnya kembali ketakutan dan membuatnya makin menciut. Ia memang tak pernah mengatakan apa pun kepada ibunya. Perempuan itu pasti akan menyalahkannya karena tak mau disunat di usia lima atau enam tahun dan karena itu ia tak bisa menjaga diri dengan baik. “Awas pokoknya!” kata lelaki gemuk itu. Kimori makin merasa takut. Tubuhnya kita gemetar dan telapak tangannya menjadi lembap sekali.

Ibunya yang memegang tangan Kimori sejak mereka berjalan meninggalkan tepi sungai, tidak henti memberikan dorongan kepada anak perempuannya. Kalau Kimori berjalan dengan wajah kosong, maka ibunya cepat-cepat mengingatkan, “Tersenyum ya, Kimori.”

Kimori pun menarik kedua ujung bibirnya dengan terpaksa. Ia merasa tidak berada di antara orang-orang yang tengah berpesta ini. Ia merasa ingin sekali kembali ke sungai, sebab di sungai ia bisa bebas tanpa sayap sekali pun.

Begitu mereka sampai, Bapak Kimori buru-buru memberi jalan untuk pengantin cilik dan langsung mengantarnya ke cambah kelapa. Ibunya memberikan selendang kepada Kimori dan berkata, “Sekarang kau menari.”

Kimori sudah sering melihat teman-temannya menari mengelilingi cambah kelapa. Ia sudah tahu gerakan tarian sederhana itu. Ia berjalan lambat-lambat mengelilingi batang cambah kelapa. Setiap putaran ia selesaikan tanpa kesalahan, sampai ibunya menghentikan langkahnya, dan itu berarti ia sudah menyelesaikan putaran ketujuh.

Uang bercampur beras dan permen segera berhamburan di udara. Suara pekikan dan tawa menggetarkan pekarangan rumah Kimori.

***

Kimori sesungguhnya tidak pernah kembali ke rumahnya. Ia tak pernah melihat ibunya berdiri di pintu dengan kedua matanya yang buta. Ia juga tak pernah pulang dalam arak-arakan pengantin cilik yang dimeriahkan oleh rebana.

Di dasar sungai, Kimori menempel di batu-batu berlumut, licin dan gelap.

Dan Kimori tidak sendirian. Ia bersama begitu banyak anak perempuan yang menempel di batu-batu dan memiliki sepasang insang merah muda di dada. Anak-anak itu teman sekolah dan teman bermainnya, tapi di dasar sungai mereka tak membawa ingatan apa-apa. (*)

 

Rumah Kinoli, 2017

 

 

Keterangan:

Sunat dalam cerita adalah tradisi di Bengkulu, khususnya di daerah Bengkulu bagian selatan seperti Padang Guci dan Kedurang.

 

 

 

Yetti A.KA, lahir dan besar di Bengkulu. Buku kumpulan cerpen terbaru, Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).

Ersta Andantino, ilustrator dan penulis. Tinggal di Bogor.

 

 

read more
Puisi

Mosi Tidak Percaya Saul

trust

 

Saul, Saul

Mengapa kau membebani Tuhan dengan segala perkara lancungmu?

Bukankah karena kau mencurigai ketulusan-Nya dan bersandar pada persepsimu sendiri?

 

Saul, Saul

Mengapa kau memegang punca jubah Samuel dengan mengoyaknya?

Bukankah karena hatimu kesal Tuhan telah mengoyak jabatanmu sebagai raja?

 

Saul, Saul

Mengapa kau menyerahkan korban sembelihan ganti mengindahkan suara-Nya?

Mengapa kau mempersembahkan lemak domba jantan sebagai tukar menggubris sabda-Nya?

Bukankah karena kau berpura-pura menerka-nerka kebajikan Tuhan?

 

 

Is/April/2018

read more
Puisi

Saul Menjadi Raja -Senandung Samuel

images

Wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

dari kaum Benyamin kau berasal,

matamu muda dan segar,

engkau sungguh elok

bahumu lebih tinggi dari orang-orang sebangsamu,

dan Tuhan telah memilihmu di antara anak-anak ayahmu

 

Ayahmu kehilangan keledai-keledai betina,

bersama abdimu, kau pergi mencari keledai-keledai itu,

meniti pegunungan Efraim,

melintasi tanah Salisa,

tetapi hewan-hewan itu bersembunyi dari matamu

 

Lalu kau memintas tanah Sahalim,

ke tanah Benyamin.

Setiba di tanah Zuf,

kau bertitah kepada abdimu,

“Marilah kita kembali,

tiga hari sudah kita mencari,

sekarang ayahku tidak lagi mengkhawatirkan keledai-keledai itu,

tetapi kitalah yang dikhawatirkannya.”

 

Namun abdimu menyanggah,

“Marilah kita menemui seorang pelihat,

seorang yang terhormat,

segala yang dikatakannya pasti terjadi,

barangkali ia akan memberitahukan kita tentang perjalanan ini”

 

Dengan seperempat syikal perak kau pergi menyambangi pelihat itu

Tiba di kota, gadis-gadis perigi berseru kepadamu,

“Cepatlah ke kota,

ada perjamuan korban di bukit,

kau akan menemui pelihat itu di sana”

 

Tetapi saat kau mendaki ke kota,

kau beradu kening dengannya.

 

Pelihat itu memandang matamu, dan tak terkesiap,

karena kemarin Tuhan telah memperingatkannya, bahwa

“Besok sesiang ini,

akan datang laki-laki muda dari tanah Benyamin,

urapilah dia menjadi raja atas umat-Ku Israel”

 

Tetapi kau bersoal, “Di manakah rumah pelihat itu?”

“Akulah pelihat itu,

naiklah ke bukit, dan makanlah bersamaku,

besok pagi aku akan memberitahu kepadamu,

segala sesuatu yang ada dalam hatimu”

 

Siapakah yang  memiliki segala yang diingini orang Israel, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?

 

Dan di pendopo, di bukit itu,

kau dan abdimu duduk di tempat utama,

di hadapan tiga puluh orang yang telah diundang,

untuk menjadi saksi bagimu.

Seorang juru masak menghidangkan paha dari anak kambing muda tak bercacat,

dan segala jamuan terbaik, disajikan di hadapanmu,

“Lihatlah, makanlah, sebab perayaan ini telah disimpan untukmu”

 

Kau duduk makan berhadap-hadapan pelihat itu,

dan turun ke kota bersamanya,

kau duduk di sotoh rumahnya,

bercakap-cakap mesra dengannya

 

Saat fajar menyingsing pelihat itu berkata kepadamu,

“Bangunlah,

biarlah abdimu itu pergi mendahului kita,

saat itulah aku akan memberitahukan perkataan Tuhan tentangmu”

 

Kau hanya diam dan melihat,

pelihat itu dengan buli-buli di tangannya,

menuangkan minyak ke atas kepalamu,

menciummu dengan rasa sayang, dan berkata,

“Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?”

 

Inilah tandanya bagimu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

ketika kau pergi nanti,

kau akan bertemu dua laki-laki di dekat kubur Rahel,

di daerah Benyamin, di Zelzah.

Mereka akan berkata, “Keledai-keledai ayahmu telah ditemukan,

dan sekarang lihatlah, ayahmu mencemaskan keadaanmu”

 

Lalu kau terus berjalan,

sampai ke pohon tarbantin Tabor,

kau akan disongsong tiga laki-laki yang akan menghadap Allah di Betel,

seorang membawa tiga ekor anak kambing,

seorang membawa tiga ketul roti,

yang lain sebuyung anggur.

Mereka akan mengucapkan salam,

dan memberimu dua ketul roti,

lalu kau akan tiba di Gibea Allah,

tempat kedudukan pasukan Filistin.

 

Dan kau akan masuk kota, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

kau akan berjumpa serombongan nabi,

yang menuruni bukit,

ketika itulah Roh Tuhan berkuasa atasmu,

kau akan kepenuhan bersama mereka,

berubah menjadi manusia lain,

apa saja yang didapat oleh tanganmu,

Allah menyertai engkau

 

Dan pergilah ke Gilgal mendahului aku, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku akan datang kepadamu,

mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan,

dan kau harus menungguku selama tujuh hari,

sampai aku datang kepadamu

 

Namun segala tanda itu terjadi pada hari itu juga,

karena itu orang banyak bertanya-tanya,

“Apakah Saul termasuk golongan nabi?”

 

Lalu pamanmu bertanya, “Dari mana kamu?”

Kau menjawab, mencari keledai-keledai ayahku

Tetapi tentang aku, pelihat itu, dan bahwa kau telah diurapi menjadi raja,

tak kau ceritakan kepadanya

 

Kemudian di hadapan Tuhan di Mizpa, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku menghimpun umat Israel dan berkata kepada mereka,

“Tuhan telah mendengar permintaanmu seorang raja.

Sekarang berdirilah di hadapan Tuhan menurut suku dan kaummu”

Lalu didapatilah suku Benyamin.

Dan suku Benyamin tampil menurut kaum keluarga mereka,

didapatilah kaum keluarga Matri,

dari keluarga Matri, tampillah seorang demi seorang,

dan didapatilah engkau, wahai Saul bin Kisy bin Abiel

 

Tetapi engkau bersembunyi di antara barang-barang,

mereka mencarimu dan membawamu ke hadapan bangsa itu,

lalu mereka bersorak gembira karenamu, “Hidup raja!”

 

Dan inilah hakmu sebagai raja, wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

anak laki-laki dari bangsamu akan bekerja untukmu,

pada kereta pada kuda,

mereka akan berlari di depan keretanya di depanmu,

kau akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu pasukan lima puluh,

mereka akan membajak ladangmu dan mengerjakan tuaianmu,

akan membuat senjata-senjata dan perkakas kereta untukmu

 

Anak-anak perempuan bangsa itu akan menjadi juru campur rempah-rempah

juru masak

juru makanan

 

Kau akan mendapat sepersepuluh dari bagian yang terbaik dari ladang mereka

dari kebun anggur mereka

dari kebun zaitun mereka

dari ladang gandum mereka

 

Mereka akan memberikan kepadamu

budak-budak laki-laki mereka

budak-budak perempuan mereka

ternak mereka

dan keledai

dan kambing domba

sepersepuluh yang terbaik menjadi bagianmu

dan bangsa itu akan menjadi budakmu, hambamu

 

Lalu kau pulang ke rumahmu di Gibea,

bersama orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah

 

Demikianlah dengan undian kau menjadi raja.

 

Bukankah segala yang diingini orang Israel itu ada padamu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

 

 

(is/Apr2018)

 

 

read more
Puisi

Pengadilan Kaisar

download (10)

Teks Cynthia Putri Utama*

 

 

Dalam sejarah profesiku sebagai hakim

Belum pernah aku menghukum orang yang tak bersalah

Dan merasa begitu menyesal

 

Tapi apa yang harus kulakukan

Orang banyak itu bersikeras

Dan aku tak punya pilihan

 

Waktu itu hari masih sangat pagi

Aku baru bangun dari tidurku

Ada banyak orang berteriak-teriak di luar gedung pengadilan

Mereka tidak mau masuk, jadi aku yang keluar

 

Di hadapanku ada banyak sekali orang

Membawa seorang pria

Tubuh-Nya cukup besar

Entah kenapa dia tidak melawan sama sekali

 

Aku melihat orang itu

Tatapannya bertemu dengan tatapanku

Aku sudah bertemu dengan banyak sekali orang jahat

Aku tahu tatapan liar mereka

Seperti Barnabas …

Orang gila yang sudah membunuh banyak orang

 

Tapi tatapan orang ini berbeda

Begitu tenang, begitu damai

Dia tidak terlihat jahat …

 

“Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?”

 

Dia tidak seperti penjahat …

Malah sebaliknya

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

 

“Tentu saja Dia penjahat. Itu sebabnya kami serahkan padamu”

 

Mereka tidak mengatakan kejahatan-Nya

Aku jadi penasaran

Apakah Dia pemberontak?

Apakah Dia pembunuh

 

“Sebaiknya kalian adili saja dengan hukum Tauratmu”

 

Aku tak mau menumpahkan darah orang tak bersalah

Aku tak mau berurusan dengan agama orang-orang Yahudi itu

 

“Tidak! Kami tidak diperbolehkan membunuh orang”

 

Membunuh? Berarti mereka ingin agar orang ini mati?

Aku benar-benar penasaran …

Apa yang sudah dibuat-Nya?

 

Jadi aku menyuruh Dia masuk ke gedung pengadilan

Akan aku tanyai Dia

Siapa tahu aku dapat membantu-Nya

 

“Apakah Engkau Raja Orang Yahudi?”

 

Sekilas aku mendengar begitu banyak pengikut-Nya

Mungkin Dia adalah Raja yang tertolak

Entahlah

 

“Apakah kau menanyakannya karena mendengar dari orang?

Atau dari hatimu sendiri?” jawab-Nya.

 

Aneh sekali pertanyaan-Nya

Bagaimana pendapatku?

Hmm … dia tidak terlihat sebagai penjahat …

Dia memiliki banyak pengikut …

Apa pendapatku?

 

“Tapi orang-orang-Mu menyerahkan-Mu kepadaku.

Apa yang Kauperbuat?”

 

Mengapa seorang raja diserahkan oleh bangsanya sendiri?

 

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini

Kalau Kerajaan-Ku di sini …

Tentulah aku memiliki prajurit yang akan melawan mereka”

 

Aku benar-benar tak mengerti ucapan-Nya

Jadi benar Dia adalah Raja

Tapi di mana kerajaannya?

 

“Jadi Engkau adalah Raja?”

 

Memang ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

Aku sih percaya saja kalau Dia itu Raja

Aku hanya tak percaya kalau dia itu penjahat

 

“Untuk itulah Aku lahir

Untuk itulah Aku datang dalam dunia

Untuk memberitakan kebenaran

Mereka yang berasal dari kebenaran

mendengarkan Aku”

 

Kebenaran? Aku ini hakim

Aku yang mengadili

Seharusnya aku mengetahui kebenaran itu

Seharusnya aku mendengarkan Dia

 

“Apakah kebenaran itu?”

 

Lalu aku keluar … menemui mereka

Aku akan membuat suatu penawaran

Aku ingin membebaskan-Nya

 

“Aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Maukah kalian membebaskan-Nya?”

Karena ini adalah paskah, dan saat paskah

Aku dapat membebaskan satu orang tawanan bagimu”

 

Aku berpikir mungkin ada dari banyak orang itu

Ada sebagian orang yang dapat membela orang ini

Pengikut-Nya … orang-orang yang mempercayai-Nya

Aku kaget sekali ketika kudengar kata sepakat

“Bebaskan Barnabas!”

 

Walau enggan, kubebaskan Barnabas

Namun aku tak mau menghukum mati Orang Benar ini

Aku yakin Dia tak bersalah

 

Jadi aku menyuruh orang untuk menyiksa Dia

Hanya menyiksa, bukan membunuh

Agar mereka tenang

Dan nanti akan kubebaskan

Itu pun sudah membuat hatiku merasa sangat bersalah

 

Prajurit melukai Dia mulai dari kepala hingga kaki-Nya’

Ah, andai memang Dia Raja …

Semestinya ada orang yang membela-Nya

Ke mana mereka semua?

 

Stelah mereka puas melukai Dia

Aku membawa Dia lagi ke hadapan bangsa itu

 

“Aku benar-benar tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Dia sungguh benar …”

 

“Salibkan Dia, Dia mengaku anak dari Tuhan kami …

Menurut hukum kami Dia harus mati”

 

Aku sangat takut mendengarnya

Tuhannya orang Israel terkenal sejak zaman dahulu

Membebaskan mereka dari Mesir

Membantu mereka melawan bangsa Filistin

 

Tidak … aku tak akan mau berurusan dengan hal itu

Tapi … bagaimana kalau Dia memang Tuhan …

Aku merasa sangat takut

Aku dihadapkan dengan dua pilihan sulit

 

Siapa yang harus aku percayai?

Orang banyak itu

Atau orang ini …

Yang bahkan tak melawan ketika dianiaya

Beda sekali dengan penjahat yang lain

 

Jadi aku masuk … dan menanyai Dia

 

“Kau dari mana sebenarnya?”

 

Dia diam

 

“Tahukah Kau bahwa saat ini hidupmu dalam tanganku?”

 

Jawaban berikutnya membuatku kaget

Belum pernah aku mendapat jawaban seperti itu

 

“Kau memiliki kuasa itu karena diberikan kepadamu dari atas.

Mereka, yang menyerahkan aku padamu, lebih besar dosanya”

 

Apakah Dia bermaksud untuk membelaku?

Tatapan-Nya begitu lembut

Sama sekali tidak ada kebencian

 

Dia seolah mengatakan padaku

Bahwa semuanya baik-baik saja …

 

Aku ingin sekali membebaskan-Nya

Tapi orang banyak itu

Ah, apa yang harus kulakukan?

 

“Kalau kau membebaskan Dia,

kau bukan sahabat kaisar!”

 

Tidak!

Menjadi sahabat kaisar itu penting

Itu untuk reputasiku

Utu untuk karirku

 

Apa yang harus kulakukan pada Yesus ini?

Kalau aku membela-Nya, artinya karirku hancur

Kalau aku membela-Nya, orang-orang ini akan menghancurkan aku

 

Aku tak bisa berbuat apa-apa

Istriku mengatakan padaku untuk tidak ikut camput

 

Kuserahkan Dia pada mereka

Untuk disalibkan

Dan saat ini …

aku menyesal sekali

 

 

*Saat menulis puisi ini, Cynthia Putri Utama duduk di kelas 8D SMPK 1 Penabur Jakarta

 

(Dipetik dari buku Pesan dari Kayu Salib, antologi puisi Paskah, dikumpulkan oleh Keke Taruli Aritonang, Gorga Pituluik, 2017, halam

read more
Cerpen

BUAH KARMA SANG KATAK

waters-3095682__340

(Plesetan Dongeng, diinspirasi dari kumpulan Fable Aesop: Seekor Katak yang Ingin Menjadi Raja)

 

Teks Rien al-Anshari*

 

Renang Renung Seekor Katak

 

Itu adalah renanganku yang terakhir

Di danau luas berpesisir indah

Sekarang aku telah duduk di tengah-

tengahnya, di bawah pohon raksasa

bernama Karma. Apa yang telah

terjadi padaku hari ini? Aku kerap

membayangkan pesisir jauh dan bunga-

bunga indah di penjuru timur.

Warna-warni itu, apakah artinya?

Aku kerap berandai-andai pada bukit

dan gunung tinggi di penjuru barat.

Batu-batu itu, seperti apa menyentuhnya?

Renunganku pun berenang. Renanganku

pun melayang. Aku ke sana dan kemari,

berulang kali. Tapi jika aku tak pernah

menjejakkan kakiku pada tujuan?

Apakah gunanya keadaan?

 

Pohon raksasa ini adalah rumah besarku

yang nyaman. Daun-daunnya rindang

melindungiku dari panas terik. Namun

kenapa aku tak diperkenankan untuk

memanjatnya? Kenapa aku tak diperkenankan

menyentuh dedaunan dan merasakan

lezatnya buah-buah Karma di percabangan?
Sungguh mereka ranum, lagi wangi.

 

Selembar daun jatuh ke air.

Aku membayangkan dirikulah yang

mengambang laksana daun yang terpisah

dari rantingnya. Tapi apakah ia, kini?

Apakah daun itu tetap sama seperti saat ia

bergelayut mesra pada ranting Pohon

Karma? Apakah ia tetaplah daun si pohon

Karma? Atau ia hanya daun semata-mata?

 

Oh, apa yang terjadi padaku?

Aku tak dapat melihatnya lagi sebagai rumahku.

Mataku telah membawaku hilang ke tempat

yang jauh, melesat membayangkan apa

yang ada dibaliknya. Mataku tidak di sini

melihat air. Mataku tidak di sini melihat akar.

Mataku tidak di sini melihat pohon Karma

seperti aku dulu melihatnya. Mataku telah pergi.

Mataku telah berenang bersama renungku

merenangi tempat yang jauh.

 

 

 

INILAH cerita seekor katak yang hidup di bawah pohon bernama Karma. Pohon itu berada di tengah-tengah sebuah danau yang amat luas, begitu luasnya danau itu hingga kedua pesisirnya nyaris tak tampak sama sekali. Pohon Karma menjadi rumah bagi sang Katak, tempat baginya beristirahat dan melepas lelah.

Katak berenang ke sana ke mari, sepanjang waktu, setiap hari. Dinginnya air dan udara yang sejuk membuatnya merasa begitu puas dan nyaman. Sampai tibalah ia di suatu hari, ketika sang Katak sampai di kedua penjuru yang amat jauh. Dari permukaan air di sebelah timur, ia dapat melihat hamparan rumput luas dan bunga berwarna warni. Dari permukaan air di sebelah barat, ia menemukan bukit dan gunung batu menjulang tinggi.

Sepanjang perjalanannya menuju kembali ke rumahnya, sang Katak mulai bertanya-tanya. Apakah yang ia lihat itu tadi? Kenapa yang satu tampak begitu menarik baginya sementara yang lain menakutkan sekali? Dan Katak pun tiba di rumahnya, mendapati Pohon Karma berdiri kokoh seakan menyambut kehadirannya.

Pohon Karma adalah sebuah pohon raksasa yang amat besar dan rindang. Sebagian tubuh akarnya menjadi celah bagi katak dan menjadi rumahnya di permukaan air. Tubuh akar pohon tersebut, setengah mengambang namun sebagian besarnya begitu kokoh menghujam menembus jauh ke dasar danau. Batang pohon Karma begitu besar hingga tampak seperti seribu kali lebar katak. Cabang dan rantingnya menutupi langit di seputaran danau dengan daun-daun besar menempel kuat. Tak pernah sekalipun selembar daun jatuh mengotori danau. Buah-buah berwarna jingga kemerahan selalu berkeliau di antara celah batang dan ranting, mereka laksana perhiasaan yang menambah keindahanan pohon Karma. Rindangnya dedaunan pohon Karma menutupi seluruh permukaan danau dan melindungi Katak dari sinar yang begitu terang dan menyengat, seperti yang terlihat di pesisir jauh. Pohon Karma pun tidak hanya selalu memberikan perlindungan, ia juga mengeluarkan udara yang selalu membuat Katak merasa begitu tentram dan nyaman.

Namun ketentraman Katak sedang terusik. Ia mulai membayangkan rupa-rupa yang ditemuinya di pesisir-pesisir jauh. Katak duduk di sebatang akar yang mencuat dan mendapati selembar daun Karma jatuh untuk pertama kalinya.

“Apa yang sedang kau lamunkan itu, Katak?”

Sebuah suara mengejutkan sang Katak, ia menengadah dan mendapati Tuhan sedang berayun-ayun di dahan pohon Karma.

“Aku telah sampai ke pesisir timur dan barat dan mendapati keduanya menarik perhatianku,” jawab sang Katak.

“Apakah gerangan yang menarik perhatianmu?”

“Sesuatu yang berwarna-warni dan sesuatu yang begitu keras dan tinggi. Apakah itu?”

“Yang berwarna-warni di sebelah timur itu adalah bunga, sementara yang terlihat keras dan tinggi di sebelah barat adalah gunung dan batu.”

“Tidak bolehkah aku menyentuhnya?” tanya sang Katak, lagi.

“Tidak puaskah kau dengan apa yang kuberikan padamu di sini, wahai Katak?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, wahai Tuhan. Aku hanya ingin mengenal mereka; bunga-bunga dan bebatuan itu. Meski yang satu tampak menggoda dan yang lain menakutkan, aku ingin mengenal mereka; menyentuh dan mungkin menggenggamnya. Apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah buruk jika aku ingin mengenal sesuatu selain aku?”

Tuhan pun tertawa. Tawanya mengguncang dahan dan ranting Karma sehingga beberapa lembar daun kembali berjatuhan.

“Sama sekali tidak. Aku hanya merasa belum saatnya itu tiba. Suatu hari kau akan mengetahuinya, wahai Katak. Bersabarlah,” dan Tuhan pun lalu menghilang.

Katak menggerutu di dalam batinnya, Tuhan selalu seperti itu. Ia datang kapanpun ia mau. Seperti di satu waktu, tiba-tiba saja ia bisa berjalan di atas air mengelilingi pohon Karma. Di lain waktu, ia dapat tiba-tiba duduk di atas dahan dan memakan buah Karma yang sudah tampak merah. Yang lebih menjengkelkan si Katak, tidak pernah sekalipun Tuhan memperkenankan Katak untuk mencicipi buah-buah tersebut. Ia bahkan melarang Katak untuk mencoba membayangkan bagaimana rasanya.

Katak memperhatikan selembar daun besar yang mengambang di atas air, ia pun membayangkan bagaimana daun yang tampak kokoh itu dapat patah dan melayang? Katak pun menengadahkan kepalanya untuk kembali melihat percabangan Pohon Karma dan menemukan seekor Bangau sedang duduk dan bersandar di tempat yang biasa diduduki Tuhan. Katak begitu terkejut.

“Siapa kau?” tanya Katak yang tak pernah mendapati makhluk lain yang bergerak, selain dirinya dan Tuhan.

“Aku Bangau.”

“Sejak kapan kau berada di situ? Apa yang kau lakukan di tempat duduk Tuhan?”

“Apa salahnya jika aku menduduki tempat duduk Tuhan? Aku punya sayap dan aku bisa terbang. Kau tak diperkenankannya kemari karena tempat ini begitu tinggi,” kata Bangau sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. berlagak seolah hendak memetik Karma.

“Begitukah? Bagaimana jika aku memanjat? Apakah aku boleh duduk di tempat duduk Tuhan dan memakan buah-buahan itu?” tanya Katak, setelah ia melihat bahwa Bangau pun akan memakan buah jingga kemerahan yang biasa dimakan Tuhan itu.

“Tentu saja,” jawab Bangau singkat.

Katak pun memanjat. Ia baru tahu bahwa kedua tangan dan kakinya dapat dipergunakan untuk sesuatu yang lain, selain bergerak di air.

Katak telah tiba di ketinggian. Di sana ia mendapati sebuah pemandangan yang sangat indah mengitarinya.

“Ini luar biasa. Aku harus bersusah payah berenang mencapai tiap sisi untuk melihat semua ini, sementara dengan memanjat, aku dapat menyaksikan keindahan semuanya sekaligus.”

“Ya, benar. Tapi dari ketinggian ini, tetap saja kau tak bisa menyentuh bunga atau menggenggam batu,” kata Bangau lagi.

“Sejak kapan kau ada di sini? Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Tuhan?

“Aku diciptakan mempunyai sayap, sehingga aku dapat terbang mengawasi seluruh tempat dan bergerak dengan cepat. Aku sudah berada di sini sejak kau bercakap-cakap dengan Tuhan tadi.”

“Bagaimana aku bisa tidak mengetahui keberadaanmu selama itu?”

“Sebab aku bergerak lebih cepat darimu, wahai Katak yang malang. Aku diciptakan lebih dulu, tentulah aku lebih baik daripadamu.”

“Begitukah? Apakah dengan begitu kau pun terbang sampai ke pesisir-pesisir jauh itu dan melihat apa saja yang ada di sana?”

“Tentu,” jawab Bangau, singkat. “Kau pun dapat melakukannya jika kau mau. Kau dapat melakukan lebih dari sekedar melihat, menyentuh atau menggenggam, seperti yang kau katakan.”

“Begitukah?” tanya Katak sangat penasaran. “Tapi aku tidak punya sayap dan aku tak dapat bergerak cepat menuju ke pesisiran. Aku berenang terlalu lambat dan Tuhan akan segera mengetahui tujuanku.”

“Kau dapat memakan buah ini dan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Tapi Tuhan melarangku. Ia bahkan melarangku untuk memikirkan bagaimana rasanya.”

“Ia melarangmu, sebab ia tak ingin kau menjadi sepertinya. Buah ini adalah makanan Tuhan. Jika kau memakan buah yang dimakannya, maka kau dapat menjadi sepertinya. Kau dapat berpindah-pindah dengan cepat, melihat-lihat bunga dengan berbagai warna, berdiri di atas batuan tinggi dan bahkan menggenggam gunung batu itu di kedua tanganmu. Sungguh, kau tak perlu berenang lagi dan bersusah payah. Percayalah padaku.”

Katak terpesona, ia sungguh percaya apa yang dikatakan Bangau setelah apa yang ia alami beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang hidupnya, ia berenang-renang tanpa pernah tahu bahwa air memiliki suatu batasan, namun sekalipun ia telah mencapai apa yang disebutnya sebagai pesisir jauh, ia bahkan tak punya keberanian untuk melangkah meninggalkan air. Lalu seketika pikirannya menjadi semakin resah ketika membayangkan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu selain ia; sesosok makhluk yang lebih perkasa, mempunyai dua buah sayap dan kaki-kaki ramping yang sangat indah, dan bahkan, makhluk itu dapat terbang sangat cepat. Bagaimana mungkin?

“Aku akan memakannya!” ujar Katak penuh keyakinan. “Aku akan memakannya dan menjadi sesuatu yang bergerak lebih cepat darimu, Bangau! Aku akan seperti cahaya atau lebih daripada itu! Aku akan melihat lebih dari apapun yang pernah kau lihat selama ini. Aku akan mengetahui apapun lebih dari apapun yang diketahui!”

Katak pun memakan buah Karma dan menemukan dirinya hanyut dalam kegelapan. Hilang. Lalu timbul dan mengambang di antara semburat warna warni megah. Terseret. Gepeng. Terdorong. Remuk. Terbentur. Pecah menjadi keping-keping. Anehnya, dalam tiap-tiap kepingan ia masih menyadari dirinya dalam kepingan yang lain. Ia melihat semuanya, seakan-akan tubuhnya adalah sesuatu yang banyak dan dapat dibagi-bagi. Bunga. Batu. Bangau. Air. Pohon Karma. Segala sesuatu menjadi matanya. Segala sesuatu menjadi gerak-geriknya. Sang Katak terpesona. Namun keterpesonaan tak berujung lama lama. Katak kemudian kembali tersedot dan terseret menuju kepada cahaya yang amat panas dan berkilau, sebelum dirinya hancur tanpa sisa.

Katak membuka mata. Kali ini, ia mendapati tubuhnya telah jatuh ke dalam air; tenggelam di antara akar Pohon Karma, bersedekap memeluk diri. Sang Katak dapat merasakan hatinya bergetar hebat, hingga rasanya ia dapat pecah dan hancur kapan saja.

“Kau telah melanggar laranganku, wahai Katak,” ujar Tuhan yang kini berada di hadapannya.

“Benar. Aku pun merasa malu dan bersalah,” ujar Katak dari dalam hatinya. Ia masih saja bersedekap dan tak mampu menatap Tuhan, namun ia tahu bahwa tak ada apapun yang dapat mencegah Tuhan untuk mengetahui apa yang ia ketahui.

Katak tenggelam melewati akar-akar Pohon Karma. Pelan tapi pasti, tubuhnya jatuh ke dasar danau yang tak berujung; semakin gelap, semakin sunyi dan semakin jauh.”

“Pohon Karma berbuah Kesadaran. Siapapun yang memakannya tak bisa menolak perbuatan, demikianlah segalanya menjadi,” suara Tuhan mulai terdengar bergaung. “Karena perbuatanmu itu, aku menurunkan engkau dari tempatmu ini. Engkau akan turun pada suatu tempat yang disebut Bumi. Di sana kau beranak-pinak dan berkembang-biak; bergerak, tumbuh, hidup, mati, terus berputar dalam rotasi sampai waktu yang ditentukan. Sebagian daripadamu akan menjadi musuh daripada yang lain. Di setiap lahan akan selalu ada perebutan. Dan Bangau akan menjadi bagian dari setiap perebutan, itu. Serupa engkau, ia pun beranak pinak dan berkembang biak, dan sepanjang hidupnya ia ditakdirkan untuk mengintaimu dari segala penjuru. Manakala kau lengah, kau dan anakmu akan menjadi mangsa utamanya. Manakala kau waspada, engkau menjadi jauh lebih perkasa darinya.”

Lalu, percikan bunga api listrik mulai tampak menjalar, pecah mewarnai kegelapan dan kekosongan. Setitik cahaya putih di ujung lorong mulai tampak, memancarkan satu garis sinar lurus yang sangat indah. Pancarannnya menembus partikel-partikel kristal dan pecah dalam warna warni mempesona.

“Sejak saat ini, engkau akan mengenali sekaligus juga dikenali. Kau akan menyentuh dan disentuh, meraba dan diraba, menggenggam dan digenggam, melihat dan dilihat. Semuanya akan terjadi. Semuanya akan kau alami,” suara Tuhan mulai terdengar semakin jauh. “Selamat mengalami, Katak.”

 

******

 

Tiba-tiba sekumpulan kecebong putih melesat dan meluncur dengan kencang. Mereka berkejaran, berhimpit, tumpang tindih, tertinggal, berserakan, mengambang dan lebih dari sebagiannya, mati. Beberapa dari mereka mulai tampak mencapai tujuan, berkerumun pada sebongkah benda bulat bercangkang keras. Mereka mulai mematuk-matukan kepalanya berusaha menemukan celah masuk. Namun hanya sang Katak yang dapat membuat celah pada cangkang keras tersebut. Ia terdorong oleh semacam tenaga yang aneh, masuk dan menemukan sebuah rumah yang nyaman. Tak lama kemudian, ekor yang semula ia pergunakan untuk bergerak pun terlepas dari tubuhnya, meninggalkan ia hanya dengan kepalanya saja. Namun Katak tak berbuat apapun, ia hanya dapat diam dan melambat dan membiarkan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, yang dua menjadi empat, delapan, enam-belas hingga bertumpuk-tumpuk membentuk gumpalan. Gumpalan-gumpalan berkumpul membentuk kepala, membentuk batang tubuh, membentuk tangan dan kaki-kaki. Demikianlah sampai pada suatu hari, Sang Katak kembali menemukan pintu dan seberkas cahaya dengan campuran berbagai warna yang tak lagi berpendar. Untuk pertama kalinya, ketika Katak telah melewati pintu, ia menemukan sekumpulan makhluk yang sangat aneh berkelakar dengan bahasa yang tidak dimengertinya.

“Bayi! Bayi Lelaki!” demikian, teriak mereka.

 

***

 

 

*Rien al-Anshari adalah penulis, tinggal di Jakarta.

 

read more
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (3)

diamond-704072_960_720

Demi Seorang yang Kecil

Artaban terus menekuni perjalanannya melewati padang gurun bergelombang dan suram, di atas punggung untanya, bergerak seperti mengambang di sebuah kapal di tengah samudera.

Tanah kematian menyebarkan jaring durjana ke dalam tubuhnya. Padang pasir yang luas kering tiada pohon atau pohon buah, hanya onak dan tanaman berduri. Bingkai gelap batu karang menusuk di atas permukaan di sini dan di sana, seperti tulang-tulang makhluk monster yang mati merana. Barisan gunung yang kersang dan tak ramah menghadangnya, berkerenyut bersama saluran-saluran yang sudah ada sejak zaman purba namun kering tak berait, gambaran mengerikan seperti luka gores pada wajah alam.

Bukit-bukit bergerak karena pasir mematikan yang bertumpu seperti sederet kuburan di bawah kaki langit. Pada siang hari, panas yang ganas menggigit hingga tak dapat ditoleransi pada udara yang menggigil; tak satu pun makhluk hidup akan berjalan dalam kedunguan seperti ini, bumi yang nyaris pingsan, celurut kecil terbirit-birit menerobos semak  kering, atau cecak-cecak kabur lalu raib di langit-langit batu karang. Pada malam hari, ancaman segerolombolan serigala mencari mangsa dan lolongnya yang menggetarkan hati, auman singa bergaung dari jurang-jurang dalam dan gelap, sementara udara dingin yang sengit dan membinasakan, setelah demam siang hari. Melewati panas dan dingin yang ekstrem, ia terus berjalan.

Lalu ia melewati taman-taman dan kebun buah-buahan kota Damaskus, yang diairi arus Abana dan Pharpar, dengan lereng tanah berumput yang bertatahkan sekumpulan bunga, dan harum belukar damar dan kembang-kembang mawar. Ia melihat punggung bukit Hermon yang luas dan bersalju, hutan kecil cedar dan lembah Yordan, air Danau Galilea yang biru jernih, tanah subur Esdraelon, bukit-bukit Efraim, dan tanah tinggi Yehuda. Melalui semua ini Artaban terus bergerak, sampai dia tiba di Betlehem. Itu adalah hari ketiga setelah tiga kawannya tiba dan bertemu Maria dan Yusuf, dan bayi Yesus, dan sudah meletakkan persembahan-persembahan berupa emas dan kemenyan dan mur, di kaki bayi Yesus.

Dan Artaban mendekat, dengan rasa letih, namun penuh harapan, membawa batu merah delima dan mutiara kepada Raja itu. “Akhirnya,” katanya. “Aku akan menemuinya, meski sendirian, dan lebih lama dari saudara-saudaraku. Inilah tempat yang dikatakan oleh pelarian orang Ibrani kepadanya, yang sudah dikatakan kepada nabi-nabi, dan di sana ia dapat melihat munculnya cahaya agung. Tetapi ia harus meneliti kunjungan kawan-kawannya, ke rumah mana bintang mengarahkan mereka, dan mempersembahkan persembahan mereka.”

Jalan-jalan di desa tampak sunyi dan ditinggalkan. Artaban bertanya-tanya apakah semua laki-laki sudah pergi ke bukit-bukit padang rumput untuk mengangon. Di situ ia melihat satu pintu terbuka, sebuah pondok beratap rendah. Ia mendengar suara halus yang sedang menyanyi dengan suara lembut. Dia masuk dan melihat seorang ibu muda sedang meninabobokan bayinya. Kepadanya, perempuan muda itu berkata soal tiga orang asing dari Timur yang muncul di desa tiga hari lalu, dan mereka bilang, kedatangan mereka itu karena merkea mengikut petunjuk satu bintang besar di langit, sampai tiba di tempat Yusuf dari Nazaret menginap di pondok kecil, dengan istri dan bayi mereka yang baru lahir, dan mereka membayar biaya penginapan dengan penuh hormat, dan memberikan hadiah yang sangat mahal harganya.

“Para peziarah itu kemudian menghilang, mendadak seperti kedatangan mereka,” tambahnya. “Kami merasa khawatir dengan ganjilnya kunjungan mereka. Kami tidak dapat memahaminya. Kemudian orang Nazaret itu membawa istri dan anaknya, malam itu juga, sembunyi-sembunyi, ke Mesir. Sejak kepergian mereka, desa ini seperti terkena kutuk; sesuatu yang jahat meliputi kami. Mereka bilang prajurit-prajurit Romawi datang dari Yerusalem untuk memaksakan pajak baru kepada kami. Banyak orang desa membawa ternak-ternak mereka ke belakang bukit-bukit yang jauh di sana, untuk bersembunyi.”

Artaban mendengarkan perkataan ibu muda itu baik-baik, sementara anak kecil di tangannya, menatap wajahnya yang letih, mengulurkan tangan mungilnya yang montok dan merah muda, seolah-olah merenggut lingkaran emas yang bersayap di dada bajunya. Tingkah bayi itu menghangatkan hati Artaban yang letih. Sentuhan itu seperti sapaan sayang dan rasa percaya kepada seorang peziarah yang berjalan jauh sendirian dan sering kebingungan, berjuang atas keraguan dan ketakutannya sendiri, mengikuti terang yang diselubungi awan gemawan.

“Mungkinkah anak itu Raja yang dijanjikan?” batin Artaban, ketika bayi itu menyentuh pipinya dengan lembut. “Raja-raja lahir di sini, di rumah-rumah yang lebih sederhana dari pondok ini, dan bintang dapat muncul dari rumah kecil itu. Tetapi tampaknya tidak baik untuk memberi hadiah dengan cepat dan mudah. Ia yang kucari sudah pergi; dan sekarang aku harus mengikut Raja itu ke Mesir.”

Ibu muda itu meletakkan bayinya ke dalam ayunan, lalu bangkit untuk menyediakan makanan sederhana ala petani kepada Artaban, namun dengan rasa rela. Makanan itu sungguh menyegarkan tubuh dan jiwa tamunya. Artaban pun menerima semua yang disajikan dengan penuh syukur. Ketika dia sedang makan, bayi di ayunan tertidur dengan wajah bahagia, bergumam lembut dalam mimpi dan suara bayinya. Kedamaian meliputi pondok sederhana itu.

Namun tiba-tiba terdengar keributan dan kegaduhan di jalanan desa, pekik dan ratap para perempuan, gemerincing suara terompet dan denting pedang yang menciptakan suasana horor, dan jerit yang terdengar putus asa, “Tentara! Tentara Herodes! Mereka membunuhi anak-anak kita.”

Wajah ibu muda itu berubah pucat ketakutan. Dia mendekap anaknya dekat ke dadanya, meringkuk tegang di sudut gelap rumah, menutupi bayinya dengan baju lebar, menjaganya agar ia tidak terjaga atau menangis.

Artaban sendiri dengan cepat menyelinap ke luar pondok, berdiri di depan pintu. Bahunya yang lebar memenuhi seluruh pintu , ujung penutup kepalanya menyentuh kusen.

Dalam sekejab tentara memenuhi jalan dengan tangan dan pedang yang meneteskan darah. Penampilan tak biasa asing dan pakaian Artaban membuat mereka sedikit ragu. Kapten gerombolan itu berjalan mendekati ambang pintu, dengan maksud menyingkirkan Artaban agar ia dapat memeriksa rumah. Tetapi Artaban tidak bergerak. Wajahnya tenang seperti ia sedang memandang bintang-bintang. Nyala di matanya bersinar teguh bahkan akan membuat seekor leopard bersembunyi dalam ragu, dan darah memburu yang liar itu menghentikan langkahnya. Ia menahan tentara itu dengan tenang, lalu dengan suara rendah ia berkata, “Aku sendiri di tempat ini, dan aku sedang menunggu untuk memberikan permata ini kepada kapten yang bijaksana, yang akan meninggalkan tempat ini dalam damai.”

Artaban memperlihatkan batu delima di telapak tangannya, kilaunya yang rupawan nampak seperti tetesan darah seorang yang luhur mulia.

Kapten itu terkesima menatap gemerlap batu permata yang menakjubkan itu. Bola matanya membesar seperti juga hasrat di dalam dirinya. Garis-garis serakah mengerutkan sekeliling bibirnya. Dia segera mengulurkan tangannya, mengambil batu itu.

“Jalan terus!” teriaknya kepada pasukannya, “tidak ada anak di sini. Rumah ini aman.”

Kegegeran dan suara gemerincing senjata segera lewat seperti juga kemarahan yang tidak berpikir, yang bermaksud menyapu buruan, yang membuat rusa bergetar bersembunyi. Artaban kembali memasuki pondok itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah timur dan berdoa,

“Allah yang benar, ampuni dosaku! Aku telah berkata sesuatu yang tidak benar, demi menyelamatkan hidup seorang anak. Dua persembahanku sudah tidak ada lagi padaku. Aku sudah memberikannya kepada seseorang di tengah jalan, yang kumaksudkan adalah untuk Allah. Layakkah aku untuk melihat wajah Sang Raja?”

Tetapi di belakangnya, ia mendengar suara ibu muda itu menangis dalam haru, menanggapi doanya, berkata lembut, “Karena engkau telah menyelamatkan nyawa anak kecil ini, kiranya Tuhan memberkati dan menjagamu; kiranya Tuhan menghadapkan wajahnya kepadamu dan kemurahan akan mengikutimu; kiranya Tuhan mengangkat wajahNya atasmu dan memberimu damai.”

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

read more
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (2)

pexels-photo-693776

Di Tepi Sungai Babilonia

SEPANJANG malam Vasda, kuda Artaban yang paling tangkas, telah bersiap di kandang dengan sadel dan kekang terpasang di pundaknya, menunggu sambil mengais-ngais kakinya di tanah seperti tak sabar, menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah-olah tertular semangat tuannya, meski dia tidak tahu apa maknanya.

Sebelum burung-burung berkicau dengan lengking suaranya, ramai riang menyanyi pagi itu, sebelum kabut putih yang malas menghilang dari pemandangan, orang majus satu ini sudah menaiki sadelnya, menunggang kudanya melesat di jalanan menanjak, menyusuri kaki Gunung Orontes, ke jurusan barat.

Betapa dekat dan intim relasi manusia dan kuda kesayangannya itu dalam perjalanan panjang ini. Sebuah kedekatan yang tenang, saling percaya, tanpa perlu penjelasan kata-kata.

Mereka meneguk air di mata air yang sama, tidur di bawah sekawanan bintang di langit. Mereka bersama mengatasi serangan malam dan terjaga dengan cepat sebelum fajar. Sang tuan berbagi makan malam dengan makhluk lapar itu, merasakan lembutnya bibir-bibir lembap sahabatnya menyentuh telapak tangannya saat memakan remah-remah roti. Menjelang fajar ia terjaga di tendanya dengan deru napas  hangat yang dekat ke wajahnya yang masih lelap, menatap teman seperjalanannya yang setia memandangnya, siap dan menunggu pekerjaan hari itu. Kepada Allah yang dia sebut nama-Nya, dia mengucapkan rasa syukur dengan khusyuk, dan ia memanjatkan doa paginya untuk mereka berdua mendapat berkat –berkatilah kami ya Allah, jagalah agar kaki kami tak tersandung dan jauhkan jiwa kami dari kematian!

Kemudian, melalui udara pagi yang menyengat, laju hentak kaki yang  berirama penuh semangat di sepanjang perjalanan, menjaga denyut jantung keduanya bergerak dengan gairah yang sama—menaklukkan ruang, mengalahkan jarak, mencapai tujuan perjalanan.

Artaban mengendalikan kudanya dengan baik dan bijaksana jika dia ingin mencapai tujuan bertemu teman-temannya pada waktu yang tepat. Rute yang harus ditempuhnya adalah seratus lima puluh parasang (parasang adalah ukuran jarak yang memungkinkan dicapai menurut ukuran Iran purba. Jarak diukur sesuai dengan karakter daerah dan kecepatan perjalanan. Di Eropa ukuran ini ekivalen dengan unit). Dalam kasus Artaban, lima belas adalah jarak paling cepat yang dapat dijalani dalam satu hari. Namun karena dia kenal betul kekuatan Vasda, dia mempercepat perjalanan tanpa menciptakan tekanan, mempertahankan jarak sama setiap hari, meski harus berjalan sampai larut malam dan berangkat sebelum fajar tiba.

Mereka melintasi lereng Gunung Orontes yang kecokelatan, berkerenyut oleh bidang-bidang berbatu dari derasnya seratus aliran air.

Ia memintasi tanah-tanah datar Nisasan, di mana sekawanan kuda sedang memamah rumput di hamparan padang yang luas, mendekatkan kepala mereka ke arah Vasda, dan menderapkan kudanya menjauh dengan suara guruh ratusan tapak kuda, yang membuat sekumpulan burung liar terbang serentak dari padang rumput yang berawa, berputar-putar dengan sayap-sayap bersinar yang tak terhitung jumlahnya dan berseru nyaring akibat keterkejutan.

Dia menyeberangi padang-padang Concabar, di mana debu lantai-lantai pengirik memenuhi udara dengan halimun keemasan, yang setengahnya mengaburkan kuil Astarte yang sangat besar dengan empat ratus pilar itu.

Di Baghistan, di antara taman-taman yang dialiri air yang memancar dari batu karang, ia menatap ke arah gunung, memaksa dengan seluruh kekuatannya agar dapat menyelusuri jalanan, melihat figur Raja Darius yang menginjak-injak para musuh, dan dengan arogan menunjukkan perang dan pampasan perangnya, yang terukir di atas wajah batu karang yang abadi.

Ia menempuh jalan-jalan yang dingin dan suram, setengah mati merangkak melintasi punggung-punggung bukit yang berangin; menuruni ngarai gunung yang gelap curam, di mana arus sungai bergemuruh dan mengalir deras di depan matanya seperti pemandu yang ganas; melangkahi lembah yang tersenyum, dengan teras-teras batu kapur yang kekuningan yang dipadati pohon buah-buahan; menembus belukar pohon oak di Carine dan gerbang-gerbang Zagros yang seram, mengelilingi tebing curam; menuju kota purba Chala, di mana orang Samaria sudah  memeliharanya pada waktu yang lalu; keluar ke dekat portal megah, merepih melalui pebukitan yang melingkupiya, di mana ia melihat gambar Pendeta Agung orang majus yang ditatah di dinding karang, dengan tangan terangkat ke atas seolah-olah memberkati abad-abad para peziarah; melewati jalan kecil jurang yang sempit, yang dari ujung ke ujung dipenuhi kebun buah persik dan buah ara, meniti buih sungai Gyndes yang bersentuhan dengannya; meninggalkan ladang-ladang padi yang luas, di mana uap air musim gugur menyebarkan kabut yang mematikan; membayangi sisi-sisi sungai, di bawah bayang-bayang semacam pohon dan tumbuhan asam yang padat, di antara bukit-bukit rendah; di luar dataran yang rata, di mana jalan tampak lurus serupa anak panah yang melewati tunggul ladang yang terbakar karena panas dan padang rumput yang kering; melewati kota Ctesiphon, di mana kaisar-kaisar bangsa Parthia memerintah, dan kota metropolis Seleucia yang sangat luas yang dibangun oleh Alexander; melewati luapan sungai Tigris yang berputar dan banyak kanal sungai Efrat, yang kuning mengalir melewati ladang-ladang jagung—Artaban terus membujuk Vasda agar dia tiba pada malam kesepuluh, di bawah dinding-dinding kota Babilonia yang berserakan dan padat penduduk.

Vasda hampir kehabisan tenaga, Artaban bisa saja dengan senang hati kembali ke kota untuk mencari tempat istirahat dan menyegarkan dirinya dan kudanya. Namun tempat itu hanya tinggal tiga jam perjalanan untuk tiba di Kuil Tujuh Kubah, dan dia harus mencapainya pada malam hari dia dia tidak ingin ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Jadi dia tidak berhenti, terus duduk di punggung Vasda, melewati ladang-ladang tunggul kering.

Hutan kecil kurma membuat suram lautan kuning ladang yang memucat. Ketika melewati bayangan, Vasda memperlambat langkahnya, seperti berhati-hati.

Mendekati kegelapan di ujung sana, seperti satu peringatan menyerang. Dia mencium bahaya; sesuatu yang bukan dari dirinya, berkata untuk berlari dari bahaya itu—dan dia hanya bisa bersiaga, mendekati dengan bijak, sebagaimana yang harus dilakukannya. Hutan kecil itu kian dekat dan sunyi seperti kuburan; tak terdengar selembar daun pun berdesau, tak seekor burung pun menyanyi.

Kuda itu merasakan langkah-langkah kaki di depannya, sambil menundukkan kepalanya, mengikik mengeluh dengan kecemasan. Akhirnya napasnya memburu, terdengar lemah dan letih, ia berdiri namun tubuhnya tak bergerak, kemudian seluruh ototnya bergetar lembut, di hadapannya tampak satu bayang gelap pepohonan palem yang paling ujung.

Artaban turun dari kuda. Sinar bintang yang suram menunjukkan adanya sebentuk tubuh manusia yang terbaring melintang di atas jalan. Pakaiannya bersahaja dan sketsa kepayahan nampak di wajahnya yang penat, menunjukkan ia seorang pelarian Ibrani miskin yang masih tinggal di wilayah itu. Kulitnya pucat, kering dan kuning seperti kertas kulit, menandakan serangan demam yang mematikan, seperti memorakporandakan rawa musim gugur. Kematian tampak dari tangannya yang terkulai, dan ketika Artaban melepaskannya, lengan itu tak bergerak di atas dadanya yang seperti tak berdetak.

Dia memalingkan wajahnya dalam rasa iba, menopang tubuh itu ke dekat pemakaman dan bersikap sebagai pendeta Majus berperilaku yang paling pantas—pemakaman gurun pasir, di mana layang-layang dan sayap-sayap burung hering akan muncul dari kegelapan, di mana binatang-binatang liar memangsa dengan sembunyi-sembunyi, hanya meninggalkan seonggok tulang-belulang putih di atas pasir.

Namun saat dia berbalik, terdengar rintihan kesakitan dari bibir laki-laki malang itu. Tulang-tulang jemari yang kecokelatan mengejang di ujung jubahnya, berpegangan erat.

Jantung Artaban seakan melompat dari tenggorokan, bukan karena takut, tetapi kepahitan tiba-tiba atas kesadaran akan kemungkinan ia menunda perjalanannya.

Bagaimana mungkin dia tinggal di sana dalam gelap demi menolong seorang asing yang sedang sekarat? Apakah tuntutan kemanusiaan yang tak bernama ini atas nama belas kasihan atau pelayanan? Jika dia di sana selama satu jam, mungkin pada waktu yang sama dia tiba di Borsippa. Teman-temannya mungkin akan berpikir dia sudah menyerah dan mereka akan melanjutkan perjalanan tanpanya. Lalu dia akan kehilangan misinya.

Kalau dia berangkat sekarang, orang itu pasti kehilangan nyawanya. Jika dia bertahan, mungkin hidupnya masih dapat diselamatkan. Semangat Artaban berdentam dan gugup secara bersamaan menghadapi krisis yang mendesak ini. Haruskah dia mengambil risiko iman demi satu tindakan kemanusiaan? Haruskah dia mengesampingkan, sekejap saja, dari mengikut bintang terang itu, demi memberi secangkir air dingin bagi seorang yang malang ini, seorang Ibrani yang hampir mati?

“Allah sumber kebenaran dan kemurnian,” doanya, “tunjukkan kepadaku jalan suci, jalan kebijaksanaan yang hanya Engkau sendiri mengetahui.”

Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke arah si sakit. Dia melonggarkan pegangan tangannya, menopang dan membaringkannya ke gundukan kecil di bawah pohon palem.

Artaban membuka turban dan pakaian atas si sakit. Dia mengambil air di kanal di dekat situ, membasahi alis dan mulut si sakit. Dia mencampur obat-obatan herbal kering yang dia selalu selipkan di balik korsetnya—sebagai seorang Pendeta Magi, dia juga adalah tabib dan ahli bintang—dan meneteskannya perlahan ke bibir pucat itu. Jam demi jam berlalu dia terus melakukan itu; sampai akhirnya kekuatan orang itu kembali. Dia duduk dan menatapnya.

“Saudara siapa?” tanyanya, dalam dialek kasar warga kampung, “dan mengapa Saudara menyembuhkan saya?”

“Saya Artaban, pendeta Magi, dari kota Ekbatana. Saya sedang menuju Yerusalem untuk mencari seorang yang lahir sebagai Raja Yahudi, Raja Agung dan Pembebas manusia. Saya tidak berani menunda lagi perjalanan ini, karena karavan yang menunggu saya mungkin sudah berangkat tanpa saya. Tetapi ini, saya punya roti dan anggur, dan ini obat-obatan herbal. Kalau Saudara sudah merasa kuat, carilah orang Ibrani di sekitar sini.”

Orang Yahudi itu mengangkat tangannya yang gemetar ke surga.

“Semoga Allah Abraham dan Ishak dan Yakub memberkati perjalanan Saudara dan membuatnya berhasil, dan damai sejahtera dari surga turun ke atas Saudara. Saya tidak memiliki sesuatu pun untuk diberikan sebagai tanda terima kasih—kecuali ini: saya  memberitahu Mesias yang Saudara cari. Nabi-nabi kami sudah berkata bahwa Dia tidak lahir di Yerusalem, tetapi di Betlehem, di tanah Yehuda. Semoga Tuhan menyelamatkan perjalanan Saudara sampai ke tujuan, karena telah menunjukkan belas kasihan kepada si sakit ini.”

Sudah hampir tengah malam. Artaban melarikan kudanya secepatnya. Vasda sudah pulih dari letihnya, berlari sepenuh semangat melewati tempat yang sunyi dan wilayah rawa-rawa dekat sungai. Kuda itu mengupayakan segala kekuatannya untuk berlari kencang dan lincah seperti rusa.

Namun sinar matahari pertama membentuk bayang sebelum dia memasuki gelanggang akhir perjalanannya. Kedua mata Artaban tampak cemas melihat ke arah bukit besar Nimrod dan Kuil Tujuh Kubah. Ia tidak melihat jejak kawan-kawannya di sana.

Teras-teras berwarna hitam dan lembayung dan merah dan kuning dan hijau dan biru dan putih, menyebar karena ledakan alam, meremuk di bawah tiupan kedegilan berulang akibat ulang manusia, bersinar seperti serpihan pelangi pagi hari.

Artaban menaiki bukit, menanjak, menaiki teras tertinggi dan memandang ke arah barat.

Kesunyian yang paling sunyi di atas rawa-rawa di seluruh horizon dan batas-batas gurun. Kegetiran nampak di kolam-kolam yang tak mengalir, serigala mengendap-endap di belukar yang rendah; tetapi tidak ada tanda-tanda karavan para majus, di kejauhan atau di dekat sana.

Dan di ujung teras matanya menepukan setumpukan kecil pecahan batu bata yang dibentuk pirami, dan di bawahnya tergeletak kain perkamen. Dia mengambil dan membaca pesan di sana: “Kami menunggumu sampai melewati malam, tidak bisa menunda lagi. Kami pergi mencari Raja itu. Ikutilah kami melewati gurun.”

Artaban terduduk di tanah, lemas, menutupi kepalanya dalam keputusasaan.

“Bagaimana aku melewati gurun tanpa makanan dan dengan kuda yang sudah kelelahan,” pikirnya sedih. “Aku harus kembali ke kota Babilonia, menjual batu safir ini lalu  membeli beberapa unta dan perlengkapan untuk perjalanan ini. Tak mungkin aku dapat menyusul teman-temanku. Hanya Allah Maha Pemurah yang tahu apakah aku akan kehilangan kesempatan melihat Raja itu karena aku terlambat untuk menunjukkan belas kasihan bagi orang itu.”

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

read more
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (1)

pexels-photo-459319 (1)

Siapa mencari surga sendiri untuk menyelamatkan jiwanya,

Mungkin mengikhtiarkan jalannya, namun tidak akan mencapai tujuan

Ia yang berjalan dalam kasih mungkin mengembara ke tempat-tempat yang jauh,

Namun Tuhan akan menibakannya ke tempat di mana ada berkat.

 

Pengantar dari Pengarang

Bertahun tahun sudah kisah ini dilempar ke sebuah lautan buku. Ini bukanlah kisah untuk dipersaingkan atau dagangan yang harus dipajang paling depan. Ini hanyalah perahu layar yang kecil dan tenang. Sebuah petualangan perjalanan.

Dua kali kisah ini jatuh ke tangan perompak. Ombak pasang membawanya ke negeri-negeri yang jauh. Kisah ini sudah melewati pelabuhan-pelabuhan penerjemahan ketika memasuki Jerman, Prancis, Armenia, Turki, dan barangkali beberapa wilayah asing lain. Sekali waktu mata saya menangkap bendera pelabuhan tempat terpencil yang memperlihatkan bahasa fonetik baru di sepanjang pantai Prancis. Kisah ini pernah sekali diaku oleh seorang pedagang barang kuno dan menyebutnya sebagai legenda Asia Timur yang telah lama hilang. Yang terhebat di antara semuanya, kisah ini pernah terselip diam-diam di beberapa pelabuhan yang sangat jauh yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kisah ini disambut hangat dan ramah, membawa pesan-pesan gembira yang mengesankan dari teman-teman yang belum saya kenal.

Sekarang kisah ini telah kembali dengan tali pancang baru dan siap untuk melakukan perjalanan berikutnya. Dan sebelum kisah ini disebar saya diminta untuk menceritakan dari mana kisah ini berawal dan apa maknanya.

Saya tidak tahu dari mana kisah ini berawal—dari udara, barangkali. Namun yang pasti, kisah ini tidak pernah ditulis di buku mana pun. Juga tidak akan ditemukan di antara adat kuno orang Timur. Saya juga tidak pernah merasa kisah ini milik saya sendiri. Kisah ini sebuah anugerah. Dikirim untuk saya, seolah-olah saya mengetahuinya dari Sang Pemberi, meski nama-Nya tidak disebut.

Tahun itu penuh dengan kesakitan dan penderitaan. Setiap hari selalu saja ada yang bikin susah. Setiap malam didera rasa sakit. Malam-malam panjang—malam-malam di mana seseorang masih terjaga, saya mendengar jantung berdetak yang memompa dengan kepayahan, sembari menunggu pagi datang, bahkan tidak tahu apakah akan dapat bertemu fajar lagi. Itu bukan malam-malam yang dipenuhi ketakutan. Pikiran tentang kematian tidak lagi menakutkan karena saya sudah mengakrabinya bertahun-tahun. Di samping itu, setelah sekian waktu merasa seperti seorang prajurit yang berdiri lama di dekat perapian, satu perubahan kecil akan terasa melegakan. Namun bahwa itu adalah malam-malam kesepian, itu benar. Malam-malam yang sangat berat. Bayangkankan bila bebannya seperti ini:

Kamu memikirkan bahwa tugas di dunia hampir berakhir, tetapi belum.

Kamu belum juga berhasil mengurai masalah yang membuat bingung selama ini. Tujuan semula pun belum. Kamu belum menyelesaikan tugas besar yang dirancang khusus untukmu. Kamu masih dalam perjalanan. Barangkali kisahnya harus berakhir di sini, di satu tempat—entah di mana—dalam kegelapan mungkin.

Lalu pada satu malam yang panjang dan sepi, kisah ini muncul begitu saja di kepala saya. Sebelumnya saya memang sudah tahu dan penasaran soal kisah Tiga Orang Majus dari Timur ketika mereka disebut dalam “Legenda Emas” Jacobus de Voragine dan buku-buku serupa. Kisah tentang Orang Majus Keempat belum pernah saya dengar. Saat itulah saya melihatnya dengan jelas, ceritanya bergerak melalui bayang-bayang dalam satu lingkaran cahaya yang temaram. Air mukanya begitu jelas saya lihat, sejelas ingatan saya tentang wajah ayah saya ketika saya terakhir melihatnya. Narasi tentang perjalanan Artaban dan segala ujian dan kekecewaannya, terus bergerak dalam benak saya tanpa jeda. Bahkan beberapa kalimat tertentu muncul lengkap dan tak terlupakan, sangat jelas seperti sebuah kameo. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti ziarah Artaban, selangkah demi selangkah, sebagaimana sebuah kisah dari permulaan sampai akhir.

Saya seringkali ditanya mengapa saya menulis Orang Majus Keempat itu mengatakan kebohongan di kota kecil di Betlehem, demi menyelamatkan hidup seorang anak.

Saya bilang, itu bukan cerita kebohongan. Apa yang Artaban katakan kepada para prajurit, dia berkata kepada dirinya sendiri karena dia tidak dapat menolongnya.

Apakah sebuah kebohongan dapat dibenarkan? Barangkali tidak. Tetapi bukankah kadang-kadang itu tampak tidak ternilai harganya?

Dan jika itu adalah dosa, mungkin bukan dimaksud untuk seseorang mengakuinya, dan diampuni, itu lebih mudah daripada dosa yang lebih besar yaitu rasa ego spiritual atau pengabaian, atau pengkhianatan dari darah orang tidak berdosa? Begitulah yang saya lihat tentang Artaban. Itulah yang telingat saya dengar apa yang dia katakan. Seluruh hidupnya dia upayakan untuk melakukan yang terbaik semampu yang dapat dilakukannya. Memang tidak sempurna. Tetapi ada beberapa jenis kegagalan yang lebih baik daripada keberhasilan.

Meski cerita Orang Majus Keempat datang kepada saya secara tiba-tiba dan tanpa usaha, ada banyak hal yang harus dipelajari dan kerja keras yang harus dilakukan sebelum menuliskan kisahnya. Sebuah gagasan datang tanpa upaya. Sebuah bentuk harus dibuat dengan kesabaran. Jika ceritamu bermakna untuk diceritakan, kamu sendiri harus benar-benar menyukainya sehingga rela mengerjakan ulang sampai menjadi benar—benar tidak dalam arti ideal, tetapi benar yang sesungguhnya. Cahaya itu sebuah anugerah. Namun warnanya hanya dapat dilihat oleh seorang yang melihatnya untuk waktu lama dan terus-menerus. Artaban berjalan bersama saya ketika saya bekerja keras melewati sejumlah kisah perjalanan kuno dalam sejarah. Saya melihat sosoknya sementara saya melakukan perjalanan di laut yang tenang di gurun dan di kota-kota yang asing di Timur.

Dan setelah itu, maknanya apa?

Bagaimana saya menjawabnya? Apa makna dari hidup? Jika artinya dapat dituliskan dalam satu kalimat maka saya tidak perlu lagi menceritakan kisah ini.

Anda tahu kisah Tiga Orang Majus dari Timur, dan bagaimana mereka berjalan dari tempat yang jauh untuk mempersembahkan hadiah mereka di sebuah palungan sederhana di kota Betlehem. Kamu pasti belum pernah mendengar kisah Orang Majus yang Lain, yang juga sama melihat bintang terang itu, dan mengikuti arahnya, tetapi tidak sampai tiba di hadapan bayi kecil Yesus, seperti saudara-saduaranya yang lain. Mulai dari keinginan terbesar peziarah keempat ini, bagaimana  kisahnya ditolak, namun penyangkalannya berhasil, dan dari banyak perjalanan dan percobaan jiwanya, perjalanan jauhnya untuk mencari, jalan asing yang dia temukan, Seseorang yang dia lihat—saya dapat katakan bahwa fragmen-fragmen kisahnya sudah saya dengar di Lorong Mimpi-Mimpi, dalam kerajaan Hati Manusia.

-Henry Van Dyke

 

Tanda di Langit (1)

PADA masa Kaisar Agustus mendominasi banyak kerajaan dan Herodes memerintah di kota Yerusalem, adalah seorang Media bernama Artaban. Ia tinggal di kota Ekbatana, di pegunungan Persia. Ia seorang muda bestari. Kediamannya dikelilingi tujuh dinding kompleks istana yang indah permai. Dari atap rumahnya, ia dapat memandang ke loteng-loteng hitam dan putih dan merah dan biru dan perak dan emas, terus hingga ke bukit kastil musim panas kekaisaran Partia yang berkilau bak mahkota tujuh lapis permata.

Di sana terhampar seluas taman yang rapi tersusun pepohonan bebuahan dan bebungaan, selalu segar karena air dari lereng Gunung Orontes tak henti mengalir, mencipta bebunyian riang seperti nyanyian ratusan burung. Kelembutan aroma malam-malam di penghujung bulan September, seperti bisik-bisik pada kedalaman yang senyap, yang menyimpan percik air yang bersuara antara tangis atau tawa halus di bawah bayang-bayang. Jauh di pepucuk pohon, setitik cahaya bersinar lemah, mengintip lewat keluk tirai kediaman tuan rumah yang sedang mengadakan musyawarah bersama tetamunya.

Tuan rumah berdiri di dekat pintu masuk, menyambut tamu-tamunya dengan wajah tersenyum sopan. Tubuhnya tinggi langsing, berkulit agak gelap. Usianya sekitar 40 tahun. Kedua matanya berdekatan, menonjol di bawah sepasang alis yang lebat, garis bibir tipis namun tegas; alis mata seperti seorang pemimpi dan mulut seorang tentara. Ia laki-laki berperasaan anteng namun berkemauan keras—seseorang yang di dalam dirinya, pada usia kapan pun, senantiasa menyimpan konflik batin yang kentara dan kepala yang tak berhenti bertanya.

Jubah putih wolnya jatuh mengenai tunik suteranya, dengan tutup kepala meruncing berwarna senada, dengan kerah panjang pada kedua sisi telinga, rebah di rambutnya yang legam. Itulah pakaian yang menandakan ia pendeta Magi kuno, para penyembah api.

“Mari!” katanya dengan suara rendah dan ringan, menyapa tetamunya yang memasuki ruangan. “Selamat datang, Abdus. Salam damai, Rhodaspes, Tigranes, dan ayahanda Abgarus. Anggaplah berada di rumah sendiri. Tempat ini menjadi hangat karena kehadiran kalian. Mari!”

Ada sembilan laki-laki beragam usia, berasal dari kelas hartawan dan cendekiawan yang nampak dari sutera halus yang mereka pakai, kerah-kerah motif keemasan pada leher mereka, para kaum Partia terhormat, tanda lingkaran emas bersayap di dada mereka, yang menandakan pengikut Zoroaster.

Mereka mengelilingi sebuah altar hitam kecil di ujung ruang. Api kecil terus menyala. Lalu Artaban berdiri di samping altar, melambaikan sebuah barsom -ranting tamarisk (yang digunakan pendeta Zoroaster untuk merayakan upacara sakral tertentu) di atas api, menambahkan pinus kering lalu minyak harum ke arah api. Mulutnya mulai melantunkan ayat-ayat Yasna, tetamunya tak dikomando ikut bergumam mengikuti ayat-ayat indah yang dipersembahkan sepenuh hati kepada Ahura-Mazda:

 

Kami menyembah Roh Suci,

pemilik segala kebijaksanaan dan kebaikan,
Dan para kudus yang abadi,
Pemberi segala berkat dan kelimpahan,
Kami bersukacita atas karya tangan-Nya,
Kebenaran-Nya dan kekuasaan-Nya.
Kami memuja segala yang murni,
Ciptaan-Nya,
Pikiran-pikiran yang lurus,
Pekerjaan dan perilaku yang menang atas pencobaan,
Yang ditolong oleh-Nya,
Yang karena itu kami memuji setinggi-tingginya.
Dengarlah kami, O Mazda! Engkau yang berdiam dalam

Kebenaran dan kegembiraan surgawi

Bersihkan kami dari segala kesalahan, dan jagalah kami
Dari kejahatan dan kemelekatan pada kejahatan,
Curahkan terang dan sukacita Kehidupan dari-Mu
Atas kegelapan dan kesedihan kami.
Bersinarlah atas kebun dan ladang kami,
Bersinarlah atas pekerjaan dan alat tenun kami,
Bersinarlah atas seluruh umat manusia,
Mereka yang percaya dan yang tidak,
Bersinarlah atas kami sepanjang malam,
Bersinarlah sekarang dengan kekuasaanMu,
Engkaulah kobar dalam cinta suci kami
Serta pujian atas penerimaan penyembahan kami.

 

Api menyala bersama lantunan doa, berdenyut seperti musik yang bernyanyi, sampai api menyemburkan sinar terang ke seluruh bagian, alami dan semarak.

Lantai biru tua bergaris putih dengan pilar-pilar berwarna perak motif berjalin, tegak menghadap dinding-dinding biru. Loteng setengah lingkaran dengan jendela-jendela berhias kain halus sutera biru. Kubah langit-langit yang ditutupi permata safir berbentuk dadu, serupa tubuh surga dalam puncak kejernihan yang memanen bintang-bintang perak. Pada keempat sudut atap bergantungan lidah-lidah para dewa yang eksotis keemasan. Di ujung timur, di belakang altar, tampak dua pilar porfiri –batu merah yang dihias ornamen kristal putih. Di pucuknya sebuah batu ukir pemanah bersayap, dengan panah yang diarahkan pada benang dan jalinan pita.

Pintu keluar diapit dua pilar, yang terbuka menghadap teras loteng, bertudung tirai tebal berwarna delima matang, bersulam ratusan garis emas yang seperti muncul dari lantai. Anjungan serupa malam tenang penuh bintang, bernuansa biru perak, matang kemerahan serupa ufuk matahari di sayap timur. Sebuah paduan kemuliaan yang merupakan ekspresi karakter dan semangat tuan rumah.

Ketika lantunan tiba pada bait terakhir, ia memandang para tamu, mempersilakan mereka pindah ke sofa di ujung barat anjungan.

“Terimakasih atas kedatangan kalian, para pengikut Zoroater yang setia,” katanya sambil mengedarkan pandangan, “Kita berada di sini untuk memperbaharui dan memperbaiki iman kita kepada Allah Segala yang Murni, juga api baru di altar ini. Kita bukan menyembah api tetapi apilah termurni dari seluruh benda. Api berbicara kepada kita soal seseorang yang adalah Terang dan Kebenaran. Bukan begitu, Ayahanda?”

“Tepat, Ananda,” suara Abgarus tegas. “Mereka yang mendapat pencerahan bukanlah para pemuja berhala. Mereka adalah yang mengangkat topi mereka, pergi ke kuil sejati, kepada terang dan kebenaran baru yang sedang datang melalui tanda dan simbol-simbol purba.”

“Ayahanda dan sahabatku sekalian, bila berkenan, mohon kiranya mendengarkan apa yang akan kukatakan ini,” kata Artaban pelan, dengan penekanan yang jelas.  “Aku akan memberitahu kalian tentang terang dan kebenaran baru yang telah datang kepadaku melalui semua tanda yang paling purba. Kami bersama telah meneliti rahasia-rahasia dan mempelajari faedah air dan api dan segala tumbuhan. Kami sudah menekuni buku-buku ramalan masa depan yang ditulis dalam kata-kata yang sulit dipahami. Namun di antara semua yang kami pelajari, yang termulia adalah pengetahuan tentang bintang-bintang. Meneliti jejak-jejak mereka adalah seperti memanasyrihkan benang-benang misteri kehidupan awal hingga akhir. Jika kami mampu mengikuti semua itu dengan sempurna, tak ada satu rahasia pun tersembunyi. Namun, bukankah pengetahuan tentang itu masih belum lengkap? Bukankah masih banyak bintang yang berada diluar pengamatan kita—terang yang hanya dipahami oleh mereka yang tinggal jauh di tanah selatan, di antara pepohonan rempah Punt dan tambang-tambang emas Ophir?”

Mendengar perkataan Artaban mereka berbisik-bisik, mengiyakan.

“Bintang-bintang,” ujar Tigranes, “adalah akal budi yang Abadi. Mereka tak terhitung jumlahnya. Segala akal budi seorang manusia dapat dihitung, seperti tahun-tahun dalam hidupnya. Kearifan para Magi adalah yang tertinggi dari semua kemahardikaan bumi, karena ia mampu memahami ketidaktahuan. Itulah rahasia kedigdayaan. Kita memiliki mereka yang senantiasa mengamati dan menantikan fajar baru. Kita memahami kegelapan yang senantiasa setara dengan terang, dan bahwa sengketa di antara keduanya takkan pernah berakhir.”

“Namun kenyataan itu tidak memuaskanku, kawan,” sela Artaban, “karena, jika penantian itu tiada berakhir, jika dari semua itu tiada penggenapan, lantas apa makna kearifan dalam merenung dan menanti. Kita semestinya seperti guru-guru Yunani, yang mengatakan tidak ada kebenaran, bahwa hanya para Magi yang menghabiskan hidup mereka demi menemukan dan memperlihatkan kebohongan-kebohongan yang dipercayai dunia. Fajar baru akan terbit pada waktunya. Bukankah buku-buku membuka rahasia kepada kita bahwa ini akan terjadi, bahwa manusia akan melihat cahaya terang yang paling terang?”

“Benar,” kata Abgarus, lalu melanjutkan, “setiap murid Zoroaster yang setia memahami nubuat Avesta dan menyimpan perkataan itu di dalam hatinya. ‘Pada hari itu Sosiosh the Victorious (satu dari tiga putra Zoroaster) akan bangkit dari antara para nabi di timur. Di sekelilingnya akan terbit yang paling terang, yang akan membuat kehidupan abadi, tegak bermoral, kekal, yang mati akan hidup kembali.'”

“Ada kegelapan yang berbicara,” tambah Tigranes, “yang mungkin tidak akan pernah bisa kita pahami. Lebih baik kita mempertimbangkan hal-hal yang dekat, meningkatkan pengaruh kita di negeri sendiri, daripada mencari-cari seorang yang mungkin asing bagi kita, dan kita mesti mempertaruhkan kekuasaan kita kepadanya.”

Pemirsa tampak setuju dengan perkataan yang terakhir. Sebuah kesepakatan tak terucap di antara mereka telah nyata. Ekspresi yang tak dapat dilukiskan yang telah menenangkan para pendengarnya. Namun Artaban dengan sinar di wajahnya, berpaling ke arah Abgarus, yang tertua di antara mereka, berkata:

“Ayahanda, aku telah menyimpan nubuat di tempat yang paling rahasia dalam hatiku. Agama tanpa harapan adalah seperti altar tanpa api yang menyala. Dan sekarang api itu telah menyala terang, dan oleh terang itu aku dapat membaca kata-kata lain yang juga berasal dari sumber Kebenaran, dan berkata lebih jelas tentang munculnya Sang Pemenang dalam segala kecemerlangannya.”

Lalu ia mengeluarkan dua gulungan kecil yang terbuat dari kain halus dari tuniknya, dan membukanya hati-hati di atas lututnya.

“Dalam tahun-tahun yang hilang di masa lalu, lama sebelum leluhur kita tiba di tanah Babilonia, ada para bijaksana dari Kasdim, yang dari mereka para Magi mempelajari rahasia-rahasia surga. Bileam putra Beor adalah satu yang terbesar. Ia mengatakan nubuat ini: ‘Kelak akan muncul bintang dari keturunan Yakub, dan tongkat dari Israel.'”

Tigranes menarik bibirnya ke bawah, berkata, “Yehuda telah terpenjara oleh air Babilonia, dan putra Yakub telah takluk kepada raja-raja kita. Suku-suku Israel telah terserak di seluruh gunung-gunung seperti domba-domba yang hilang, dan sisanya yang tinggal di Yehuda, berada di bawah tekanan Romawi, karena itu bintang atau tongkat tak mungkin akan muncul dari sana.”

“Namun,” kata Artaban cepat, “Daniel orang Ibrani itu, seorang pengarti mimpi yang wahid, penasihat raja-raja, Beltsazar yang bestari, yang paling dihormati dan disayangi oleh raja agung kita, Koresh. Daniel telah membuktikan dirinya kepada bangsa kita sebagai seorang nabi sejati dan seorang yang dapat membaca pikiran-pikiran Allah. Dan inilah kata-kata yang dia tulis.” (Artaban membacanya dari gulungan kedua:) “’Maka ketahuilah bahwa Yerusalem akan dipulihkan, sampai kedatangan Yang Diurapi, Seorang Raja, ada tujuh kali tujuh masa dan enam puluh dan dua kali tujuh masa.'”

“Tetapi, Ananda,” sela Abgarus, dengan suara ragu berkata, “angka-angka itu adalah simbol. Siapa yang dapat menafsir, atau siapa yang dapat menemukan kunci untuk mengartikannya?”

Artaban menjawab: “Ayahanda, telah ditunjukkan kepadaku dan kepada tiga rekanku—Kaspar, Melkhior, dan Baltazar. Kami telah meneliti loh-loh purba orang Kasdim dan menghitung waktunya. Jatuhnya tahun ini. Kami sudah mempelajari langit, dan pada musim semi tahun ini kami melihat ada dua bintang besar yang berdekatan dalam bentuk Ikan, yang berada di kediaman orang Ibrani. Kami juga melihat satu bintang baru di sana, yang bersinar hanya satu malam setelah itu hilang. Kemudian ada dua planet besar akan bertemu. Dan malam inilah pertemuannya. Ketiga kawanku sedang mengamati tanda-tanda itu di Kuil kuno Tujuh Kubah di Borsippa, di tanah Babilonia, sementara aku mengamatinya di sini. Kami bersepakat, jika bintang itu bersinar kembali, mereka akan menungguku di Kuil selama sepuluh hari, dan dari sana kami akan ke Yerusalem, untuk melihat dan menyembah seorang yang telah dijanjikan lahir sebagai Raja Israel. Aku percaya tanda itu akan datang. Dan aku sudah menyiapkan sebuah perjalanan. Aku sudah menjual rumah dan seluruh harta milikku, dan membeli tiga batu permata ini—batu safir, batu delima, mutiara—untuk kubawa sebagai persembahan untuk Raja itu. Dan aku memintamu untuk pergi bersamaku dalam ziarah ini, agar kita bersama-sama bersukacita ketika menemukan Raja yang layak disembah itu.”

Sementara berkata-kata, ia memasukkan tangannya ke lipatan korset yang paling dalam dan menarik ketiga batu pertama—satu berwarna biru cemerlang seperti langit, satu lebih merah daripada matahari terbit, dan satu putih seperti senja di puncak gunung salju—lalu ia menaruhnya dalam gulungan linen.

Seluruh kawannya menatap ganjil dan mata yang asing. Sebuah purdah seperti telah menyungkup wajah mereka, serupa kabut yang merayap naik ke atas dari rawa-rawa yang menutupi pebukitan. Mereka saling berpandangan dengan penuh syak dan syafakat, seperti sekelompok orang yang baru saja mendengar sesuatu yang mencengangkan, cerita binal tentang penglihatan, atau usulan sebuah upaya yang musykil dilaksanakan.

Akhirnya Tigranes berkata, “Artaban, ini adalah mimpi yang sia-sia. Mimpi yang disebabkan terlalu banyak menatap bintang dan membesar-besarkan pikiran yang tinggi. Menurutku, lebih bijaksana menghabiskan waktu mengumpulkan uang untuk membangun kuil api baru di Chala. Tidak akan ada yang muncul dari ras bangsa Israel yang sudah menyerah itu, tidak ada akhir bagi keabadian makna terang dan gelap. Orang yang mencari-cari itu hanyalah mengejar bayangan. Karena itu, selamat tinggal, kawan.”

Yang lain berkata, “Artaban, aku tidak tahu-menahu masalah ini, dan kantorku tiap hari sibuk mengurus properti kerajaan. Misi ini bukan untukku. Seandainya engkau akan berangkat juga, persiapkan dirimu dengan baik.”

Yang lain menambahkan, “Aku masih pengantin baru, dan aku tidak dapat meninggalkan dia atau membawanya bersamaku dalam perjalanan ini. Misi ini bukan untukku. Semoga perjalananmu berhasil. Jadi, selamat tinggal.”

Yang lain berkata, “Aku sedang sakit dan tidak siap melakukan perjalanan yang sulit, tetapi aku punya beberapa asisten yang aku bisa kirim untuk menemanimu, untuk membawa kabar tentangmu kepadaku.”

Abgarus, yang tertua dan yang paling mengasihi Artaban, masih berada di sana ketika yang lain pergi, berkata dengan nada murung, “Ananda, mungkin cahaya kebenaran yang muncul di langit akan memimpinmu kepada Raja dan cahaya paling terang itu. Atau itu hanyalah bayangan terang, seperti yang dikatakan Tigranes, dan siapa pun yang mengikuti cahaya itu hanya akan melakukan ziarah panjang tanpa makna. Tetapi, lebih baik mengikuti bayangan yang terbaik daripada merasa puas dengan yang terburuk. Mereka yang akan melihat hal-hal yang menakjubkan seringkali akan siap melakukan perjalanan itu, sendiri. Aku terlalu tua untuk perjalanan ini, tetapi hatiku akan mengikuti ziarah ini siang dan malam, dan aku akan mengetahui akhirnya. Pergilah dalam damai.”

Lalu di ruang biru sublim dengan bintang-bintang perak itu, hanya ada Artaban sendiri.

Ia mengumpulkan ketiga permata dan menyimpannya di belakang sabuknya. Matanya memandang jentik api yang meletup lalu menghilang di altar. Kemudian dia berjalan melintasi lorong, mengangkat tirai yang berat itu, melewati pilar-pilar porfori di teras loteng.

Getar digelorakan bumi yang sedang terlelap dan siap terjaga, angin sejuk memberitahu fajar menyingsing dari ketinggian, jejak-jejak salju turun dari Gunung Orontes ke jurang-jurang. Burung-burung, setengah terjaga, bangun dan bersuara riang di antara dedaunan yang berderak, aroma ranum bebuahan anggur tercium samar dari arah rerumah tanaman yang dipenuhi tumbuhan menjalar.

Jauh di timur kabut putih diam-diam melebar membentuk danau yang mengambang. Di ujung barat puncak cakrawala Zagros yang seperti bergerigi, langit tampak bersih. Planet Yupiter dan Saturnus sedang bergulung-guling bersama dengan sinar lembut yang bergerak perlahan, bersiap menyatu.

Ketika Artaban memperhatikannya, lihatlah, sebuah sinar biru tampak dalam kegelapan di bawah, mengitari warna ungu, mengitari sebidang merah, lalu bergerak ke atas dengan sinar berwarna safron dan lembayung, lalu menjadi putih cemerlang. Kecil dan nun di sana, namun setiap bagiannya sempurna, berdenyut dalam kubah seolah-olah tiga permata di dada orang Magi itu, bersatu dan berubah diri menjadi sinar yang benderang.

Dia menundukkan kepalanya. Dia menutupi alis dengan kedua tangannya.

“Inilah tandanya,” gumamnya. “Raja itu sedang datang. Aku akan ke sana untuk melihatnya.”

 

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

 

 

read more
Cerpen

CERPEN: Teropong Kembang Goyang

pexels-photo-733475 (1)

Ruhut menatap keluar, menyadari malam yang semakin pekat. Angin menukik dari daun kelapa sawit berusia dua tahun, menerobos ia ke hati lelaki yang hanya bisa merenungi sebatang pohon kelapa sawit apabila rindu mencabik-cabik dirinya. Kelapa sawit itu dulunya sesosok perempuan yang tiba-tiba menjadi kabar kepedihan pada satu malam Natal.

Di hadapan tungku yang baru menyala, lekas-lekas Ruhut mengelapkan ingus. Sejentik air mata runtuh ke adonan kue kembang goyang, secara refleks tangannya membuang bagian yang tercemar itu, kemudian mengaduk adonan lebih cepat dan cepat tersebab mesti disegerakan ke dalam minyak panas. Serenauli anak gadisnya yang berusia tujuh tahun sudah merengek menyerukan kue kembang goyang semenjak di gereja tadi.

Membuat kue kembang goyang tidaklah sulit. Ruhut dulu kerap membantu Duma melakukannya malam hari, sekembali dari ladang sawit. Tepung beras dicampur telur dan gula pasir. Santan dan air. Komposisi pertama Duma yang mengurus. Komposisi kedua, Ruhut yang menuangi perlahan-lahan, dengan penuh penghayatan, sementara mereka terus mengaduk dengan gerakan searah hingga adonan merata dan siap dicelup loyang panas. Loyang didiamkan beberapa detik dalam minyak di kuali, lantas digoyang-goyang. Minyak akan membusa, lapisan kue akan terlepas dari loyang, lalu lubang kue akan sempurna, tempat mereka meneropong bintang setelah bergantian meneropong mata masing-masing, dan beberapa bulan setelah itu seluruh desa mendengar berita lahirnya seorang bayi perempuan. Serenauli.

Namun mengenang-ngenang peristiwa itu sama dengan mengorek luka di atas luka. Pagi itu tubuhnya gemetaran mendapati punggung tangannya retak dan bengkak, berdenyut-denyut, merasa kian parah mengingat tiada lagi kekasih hati yang bisa ia mintai tolong untuk sekadar menyendokkan nasi. Ia dulu akan manja berprotes, “Kau masih tega memarahi orang demam?”, sembari mengambil tangan Duma lalu melekatkannya di dahi sendiri. Dan Duma selalu luluh setelah itu. Ia akan menggelitiki tapak kaki Ruhut sampai lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Sekarang ia tak bisa menahan air mata yang deras berjatuhan begitu saja. Bila bukan karena permintaan anak gadisnya yang bermata jeli, ia lebih memilih tidur untuk melupakan apa pun yang berhubungan dengan Natal lalu esoknya ke ladang sawit. Di sana ia bisa membersihkan rumput, memotong pelepah-pelepah tua serta sesekali memperhatikan batang bagian akar apakah kokoh ataukah bila datang badai pokok-pokok itu tumbang mendadak. Itu cukup untuk mengelabui hatinya yang sendu.

“Kue kembang goyangnya apa sudah masak, Pak?”

“O-o, sudah, sudah,” Ruhut pura-pura sibuk memegangi saringan alumunium padahal tak ada apa-apa dalam kuali.

Dengan suara kecilnya Serenauli sungguh-sungguh berkata bahwa mereka harus merayakan Natal untuk Ibu di langit: Ibu yang menembus awan dengan cara berdarah-darah demi tinggal di surganya Tuhan. Tak membantah Ruhut memantik korek api. Kemudian tiga lilin putih memancarkan cahaya lembut di pekarangan rumah. Pohon kelapa sawit di sudut sana seakan memelototi keduanya.

“Apa Ibu melihat kita, Pak?” bisik Serenauli, menengadahkan dagu ke langit.

Ia mengambil satu kue kembang goyang untuk meneropong tiga bintang yang berkedip-kedip, seperti saling bicara dalam keheningan. Satu bintang nun jauh di sana, lebih terang dibanding yang lain. Kepala kecilnya membayangkan itulah bintang timur, bintang yang dalam kitab suci pertanda Yesus lahir sebagaimana diceritakan guru sekolah minggunya. Kata Serenauli, dari bintang besar itulah ibunya menatap mereka ke bumi.

Dua bintang yang berdekatan bisa jadi dirinya dengan Ruhut yang saat itu mendekap jemari kecilnya. Ruhut mencium jemari Serenauli, meletakkan seluruhnya di depan jantung yang kini berdebar lebih sakit—ia merasa dirinya hanya ayah tak berguna karena tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan gadis kecilnya.

“Bila Ibu melihat kita, apakah nanti dia akan menjumpai kita dalam mimpi, Pak?” Suara Serenauli terdengar lagi. Ruhut terkejut sekaligus kagum mendengar kata-kata yang entah berasal dari mana keluar dari mulut kekasih kecilnya. Ruhut tahu ini karena Duma. Selagi  masih ada dulu, menjelang tidur Serenauli kerap dibacakan cerita oleh Duma. Dan Duma selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan putri mereka. Sekarang, bagaimana mencari perempuan itu lagi? Perempuan yang kini tinggal kenangan.

“Kau ingin Ibu datang sekarang, Sere?”

“Memangnya bisa, Pak?”

“Bisa. Tutup matamu dan pikirkanlah Ibu.”

“Tapi aku ingin kita merayakan Natal bersama Ibu.”

“Ya?”

“Apa itu bisa juga, Pak?”

“Ummm, ya ….”

Serenauli berhenti meneropong langit. Ia meletakkan kue kembang goyang ke atas bangku lalu menutup mata seraya mengatupkan tangan. Kue kembang goyang terjatuh tersentuh Serenauli yang merapatkan anggota tubuh tersebab kedinginan. Memang ini sudah kelewat larut. Daun-daun kelapa sawit pasti sudah sangat lembab.

Di belakang anaknya, Ruhut menggebuki dada, merasa tolol setolol-tololnya mengapa dirinya begitu melankolis. Ia merasa kelelakiannya tercoreng. Tak ada laki-laki secengeng sepertinya sekarang. Ia kenal seseorang, panggilannya Senu, baru beberapa bulan istrinya meninggal, sudah berjalan dengan dada membusung, membiarkan diri menjadi rebutan gadis-gadis.  Ia takkan mampu seperti itu, meskipun ia mencobanya. Hari ketika Ruhut memeluk tubuh kaku Duma dan tak lagi ia dengar desah napasnya, ia berjanji kepada dirinya: aku akan bersetia pada kesendirian meski itu kesepian yang paling mematikan.

Di belakang Serenauli Ruhut mundur untuk membuang ingus. Pohon sawit berusia dua tahun memelototi dirinya hingga ke dasar jiwa. Sawit yang ia sengaja tanam di sana tempat jasad Duma tidak jauh di bawahnya. Sawit yang menjelma Duma sendiri. Bijinya berasal dari pokok kelapa sawit tua yang tumbang lalu menimpa tubuh Duma dikala dirinya sedang sakit hampir seminggu dan akan segera dibawa berobat ke kota kabupaten namun mereka hanya memiliki sedikit tabungan. Maka itu, atas kehendaknya sendiri, Duma berbohong pada Ruhut. Duma bilang pada Ruhut ia hanya mencari kayu bakar di pinggir hutan menunggu keberangkatan mereka esok pagi yang mendekati masa-masa Natal.

Tetapi sampai pukul delapan Duma tak kunjung pulang. Hari itu Senin. Setiap orang biasanya pergi ke simpang tiga untuk berbelanja. Membeli ikan kering, beras, gula, tepung, minyak, baju-baju baru, sepatu, tas dan lainnya. Malam itu Ruhut menyakini sesuatu telah terjadi. Mengingat itu dadanya tiba-tiba berdebur keras. Perasaannya sungguh lain. Tiba-tiba matanya melihat seekor kupu-kupu cokelat mengilap memaksa diri masuk melewati celah dinding, dan berhasil.

Kupu-kupu itu mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia berputar-putar di kamar hingga berhenti di foto Duma kemudian berputar-putar lagi. Memandang itu, Ruhut bergerak, kepalanya terasa menggasing serta mata berkunang-kunang. Ia lebarkan tangan untuk menangkap kupu-kupu yang ia tahu pasti jatuh. Lalu tangannya dipenuhi serbuk cokelat. Sayap kupu-kupu patah. Kupu-kupu tergeletak tak berdaya di telapak tangan Ruhut.

Ruhut bergegas ke pintu setelah disuruhnya Serenauli menunggu di rumah. Terseok-seok ia berjalan sambil mengenakan pengikat kepala mengetuk pintu demi pintu yang dipenuhi aroma minyak sawit di atas penggorengan. Sambil berjalan ia terbayang seharusnya malam itu Duma membuat kue kembang goyang. Ia akan mendengar denting sendok. Suara adonan diaduk, setelah itu mungkin mereka akan melakukannya, berharap seorang anak laki-laki akan lahir beberapa bulan kemudian.

Ruhut membayangkan anak laki-lakinya itu: matanya, mulutnya, oh, hidungnya, apakah nanti akan mirip hidungnya atau Duma?  Ah, lebih baik mirip Duma supaya tidak pesek seperti hidungku, ujarnya dalam hati. Lalu ia bayangkan anak laki-lakinya bertumbuh besar. Usianya tujuh tahun. Namanya Tona. Ia kemudian meninju lembut lengan Tona karena anak laki-lakinya itu menangis saat tali layangannya tersangkut di pucuk sebatang kelapa sawit. Jangan menangis, katanya. Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Tahu-tahu Ruhut sendirilah yang menangis membayangkan semua itu.

Dua jam Ruhut melakukan pencarian di sekitar rumah tetangganya. Dalam waktu cepat warga berkumpul, berembuk, lalu berpencar. Seorang perempuan pemilik ladang sawit berhektar, berseru, “Coba kalian ke ladangku”. Warga mendelik agak marah. Perempuan kaya itu memang sering nyinyir. Ia menuduh Duma berada di ladangnya untuk mencuri sesuatu? Seharusnya ia menjaga mulutnya agar tak melukai perasaan orang tak berpunya. Tetapi perempuan itu ngotot, berkata, pernah melihat Duma di ladangnya sehabis panen, mengumpulkan brondolan sawit yang tersisa. Mau tak mau orang pun ke sana.

Malam yang tak membuahkan hasil. Hari sudah pagi ketika Ruhut mendengar kabar melumpuhkan pikiran. Tubuhnya runtuh seketika. Orang-orang membawa peralatan ke ladang perempuan pemilik ladang sawit yang luas itu. Bukan hanya parang dan kayu, melainkan gergaji mesin.

Duma ditemukan sedang duduk telungkup seperti bersujud. Sebatang kelapa sawit tua gugur menimpa dirinya. Badannya memar di banyak tempat. Tangan bajunya robek menembus daging. Dahinya mengesumba.

Seorang lelaki menggergaji batang sawit besar, yang lain menggulingkan tubuh itu. Semua mata memandang dengan perasaan ngeri. Pemandangan yang merobek jiwa. Tangis Ruhut memantul ke daun-daun kelapa sawit. Sebagian jiwanya menguap pergi. Ruhut meninju batang sawit berkali-kali sampai tangannya merekah dan robek, tidak berhenti bila orang-orang tak menahannya.

“Apa Bapak menangis?”

Ruhut menangkap anak gadisnya dan merangkul tubuh mungil itu erat-erat.

“Aku sudah memikirkan Ibu, dan Ibu akan selamanya hidup di hatiku,” kata Serenauli membuat bentuk hati di bawah dagunya.

“Tentu saja, Nak. Tentu.”

Pohon sawit berusia dua tahun di sudut rumah ditiup angin. Langit tak lagi temaram. Bintang paling besar sudah pergi dan tak ada lagi kedip di sana. Serenauli membuka toples. Ia meneropong wajah Ruhut melalui kue itu.

“Selamat Natal, Bapakku.”

“Selamat Natal, Sereku.”

Kue kembang goyang di tangan keduanya retak tiba-tiba. Seekor kupu-kupu cokelat menabrak, lalu pergi setelah meninggalkan sebelah sayapnya hinggap di bahu Ruhut.

Riau, Oktober 2017

 

Jeli Manalu tinggal di Rengat-Riau. Cerpennya pernah hadir di Analisa, Sumut Pos, Media Indonesia, Majalah Litera, Lombok Pos, Rakyat Sultra, Haluan Padang, Merapi Pembaruan, Padang Ekspres, Banjarmasin Post, Suara NTB, Medan Bisnis, Apajake.com. Cerpennya Bahagia Tak Mesti dengan Manusia, menjadi judul buku antologi kumpulan cerita yang akan segera terbit.

read more
1 2 3 5
Page 1 of 5