close

CERITA

BukuCERITAPuisiTERASWARA-WARA

Surga/Neraka Itu Dihadirkan

HMRS

Teks Arie Saptaji*

 

“Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa menyimak pesan Tuhan peduli kepada mereka yang tersingkir, yang terinjak-injak, yang tertindas!” kata Philip Yancey, penulis Amerika yang kerap menyuarakan kegelisahannya atas gereja.

Eko Saputra Poceratu dalam buku puisinya Hari Minggu Ramai Sekali (HRMS), menangkap pesan itu. Sembari mengumandangkan latar Papua dan Maluku, penyair muda ini memberi kredo pada awal buku:

Pada awalnya Tuhan menciptakan kata,/lalu sastra,/ maka kutulis puisi sebagai bentuk/ paling realistis untuk melayani/ yang tertindas.

Menggemakan Doa Bapa Kami, yang memohon agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga, Eko dalam Ada Neraka di Papua menyatakan bahwa surga dan neraka itu dihadirkan. Puisi ini mengingatkan kita hidup bukan sekadar untuk antre masuk surga, tetapi berjuang menghadirkan surga di bumi.

Sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua

 Puisi sebagai Sikap Politik

Puisi-puisi Eko menawarkan dua latar yang jarang dalam khasanah sastra Indonesia, yaitu kristiani dan wilayah Timur Indonesia.

Gaya tuturnya mengingatkan kita pada puisi-puisi balada Rendra. Namun, Eko lebih lugas dan hemat metafora.

Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal,/ sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima,/ siapa yang tiba” (HMRS, h. 24).

Hal paling menyegarkan tak lain kredo kepenyairannya: bahwa Eko menulis puisi sebagai bentuk pelayanan bagi mereka “yang tertindas”. Baginya, menulis puisi adalah sikap politik.

Sastra kita banyak dipengaruhi oleh ideologi Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang mempromosikan konsep “seni untuk seni”, suatu sikap berkesenian yang apolitis. Mengutip cuitan Mikael Johani tentang Manikebu: an ideology that voices not dissent, but a divorce from everyday,  reality that has sterilized Indonesian literature, especially poetry, sucked the politics out of it, and turned it into spineless, hallmark drivel that helps prop up the status quo.

Eko memilih menyempal dan memasuki barisan penyair yang menggunakan puisi untuk menyuarakan sikap politik. Dan, betapa tajam suara yang tersiar melalui kumpulan puisi ini!

Terantuk dan Tersentak

Sebagai orang Jawa yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan Maluku, saya terantuk konteks lokal. Sageru atau kusu-kusu, misalnya. Apa itu? Mungkin seperti ini rasanya orang Indonesia Timur membaca Pengakuan Pariyem atau puisi-puisi Wiji Thukul.

Saya teringat komentar seorang teman Toraja saat membaca novel saya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Terlalu Jawa, keluhnya. Tapi, saya tak ingin mengeluh. Saya ingin menikmati dan merayakan keragaman warna lokal, yang menolong saya untuk menengok keragaman Indonesia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Sebagai pembaca Kristen, saya tersentak menyimak kegelisahan Eko terhadap gereja dan lingkungannya. Gereja cenderung menyukai puisi-puisi religius ala Hallmark, sejenis yang ditawarkan oleh Manikebu tadi. Orang Kristen lebih suka gambar-gambar elok dengan kutipan ayat atau kata-kata menggugah. Puisi-puisi Eko, sebaliknya, meski dibumbui humor, lebih mirip pil pahit.

Saya tepekur, betapa gereja (baca: saya) lebih menelanjangi dosa-dosa personal, tetapi memalingkan muka dari dosa-dosa sosial. Kita sibuk berebut masuk surga, tetapi alpa berjuang menghadirkan surga di dunia. Puisi-puisi Eko menempelak kecenderungan tersebut.

Mariana dan Maria Zaitun

Salah satu (atau salah enam) puisi yang mencekam adalah Episode Mariana (1) sampai Episode Mariana (6). Perempuan yang mati beranak di Papua  adalah puisi pedih tentang perempuan yang tertindas.

Saya menyandingkan puisi itu dengan puisi Rendra, Nyanyian Angsa. Bagaimana nasib Mariana dalam puisi Eko dan Maria Zaitun dalam puisi Rendra?

Maria Zaitun terusir dari rumah pelacuran, pergi ke dokter yang memberinya suntikan vitamin C, lalu ke gereja. Koster gereja menahannya di luar pintu. Pastor menemuinya untuk menghakimi. Dan Malaikat penjaga firdaus menguntit dengan wajah dengki. Sampai di tepi kali ia bertemu Sang Mempelai. Ia mengalami penebusan dan pembebasan: Pelacur dan pengantin adalah saya. Simul justus et peccator.

Mariana mirip-mirip nasibnya. Ia terusir dari pernikahannya, dikhianati suaminya, dalam kondisi hamil lima bulan. Tanpa uang, ia tersaruk-saruk di jalanan. Naik angkot, seorang lelaki membayar ongkosnya, namun menggagahinya: tanda-tanda sudah tak memihak seorang janda. Ia mendapat pekerjaan di pabrik kayu setelah mandor menidurinya: Dari kasur ke kasur. Mariana mati saat melahirkan, bayinya diadopsi orang.

Berbeda dari Rendra, Eko mengeliminasi kehadiran Tuhan dan gereja dalam puisinya. Tuhan dan gereja hadir saat Mariana dan suami menikah, menguap setelah mereka bercerai. Mengapa Mariana tidak mengadukan nasibnya kepada Tuhan atau gereja? Seandainya Mariana lari ke gereja, akankah nasibnya lebih baik? Atau senasib dengan Maria Zaitun?

 Tenggelam di Jakarta

Pesan kumpulan puisi ini menjadi relevan di tengah kondisi Papua sekarang. Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.

“Tingkat pelanggaran kemanusiaan yang terlalu dahsyat. Ini bencana besar bagi Indonesia sebenarnya, tapi Jakarta santai-santai saja,” kata John Jonga, anggota tim.

Ketidakadilan di Papua terekam dalam puisi Matahari Papua. Benar Matahari turun di Papua. Namun, alih-alih menerbitkan harapan, matahari bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan.

Bukan matahari yang mengkhianati mereka tapi kota (baca: Jakarta). Puisi itu menutup diri dengan pahit: matahari memang terbit di papua dan tenggelam di jakarta”. Matahari harapan yang terbit di Papua (di-)tenggelam(-kan) di (atau oleh) Jakarta. Maka nerakalah yang tersisa.

Buku HMRS tipis saja. Namun, ia lantang mengumandangkan suara kenabian. Puisi-puisinya adalah suara kenabian, penyambung lidah kaum yang tertindas.

***

*Penulis dan peresensi, tinggal di Yogyakarta

 

Hari Minggu Ramai Sekali

Penulis: Eko Saputra Poceratu

Penerbit: Bentara

Tahun 2019

Tebal 84 halaman

13x19cm

 

read more
CERITACerpenTERASWARA-WARA

Ingatan yang Ganjil

Ingatan yang Ganjil

Teks & Ilustrasi L Surajiya

Sepertinya ada yang aneh hari ini. Bukan persoalan matahari terbit, embun yang bergulir dari daun-daun ataupun cuaca. Semua baik adanya. Tak ada bedanya dengan hari-hari lain yang aku lalui. Matahari, tetap saja muncul dari timur, air tetap mengalir ke bawah, tumbuh-tumbuhan tetap juga tumbuh sebagaimana biasanya, begitu pula dengan kehidupanku yang terus berjalan: dari pagi, siang, sore, malam, lancar-lancar saja. Tak ada pikiran apapun yang terlintas kecuali apa yang sudah kuputuskan untuk aku lakukan hari ini.

Lalu apa yang aneh?

Yang aneh adalah kiriman WA yang tiba-tiba di saat aku sendiri. Istriku pergi ke pasar dan anak-anak masih di sekolah, belum pulang. WA dikirim sekitar pukul 10 pagi ini, mengagetkanku. Ya, masih pagi bagiku, sebab segelas teh dan secangkir kopi belum diganti. Teh sudah kuminum separuh dan asap masih mengepul tipis di atas kopi, kacang goreng masih kelihatan minyaknya, belum kering.

Aku bilang: WA aneh. Ya, karena selama ini belum pernah terpikirkan olehku bahwa aku akan menerima WA dari seseorang yang tidak tertera namanya. Siapa orang ini? Aku harus memberi nama dalam kontakku. Kalau perlu dengan nama asing. Tapi untuk apa aku menyimpannya? Kalau aku tidak tahu? Tidak kenal? Apa aku namai saja ‘Ana’ yang dalam bahasa Jawa berarti, ada. Ya, Ana mungkin lebih baik, sebagai pertanda bahwa orang ini, ada.

“Apakah kau masih mencintaiku?” Itu bunyi WA-nya.

Nah, apa tidak aneh? Bayangkan saat kamu larut dalam kesendirian, pikiran melayang, belum melakukan apapun selain menyeruput kopi yang masih hangat. Muncul di ponselmu pertanyaan begitu? Tidak tertera namanya, artinya nomor itu belum ke-save atau belum pernah ada. Pasti diri bertanya. Ini nomor siapa? Mungkinkah salah kirim? Bisa jadi orang iseng, pikirku! Coba kalau itu kamu? Pasti juga akan melakukan hal yang sama. Pertama, mencari nomor itu di berbagai group. Mencoba misscall, barangkali salah satu dari puluhan group yang diikuti, namanya ada.

Aku menarik napas, membuat jarak dengan layar ponsel di tangan. Pikiranku mengembara setelah tidak kutemukan nama. Mataku agak sedikit pedih karena berjam-jam mengotak-atik hape.

“Ini siapa, ya?” tanyaku, dan pada akhir kalimat kuberi nama: Mas Yas. Aku pun mengirimkan balasan sama persis seperti yang sering dilakukan banyak orang, yaitu: Ini Siapa? Atau ini nomer siapa?

Sekian lamanya tak ada jawab. Namun satu profil muncul, seorang perempuan yang bersyal merah jambu memandang laut lepas, rambut tergerai, dan buih-buih putih serta gelombang tampak di kejauhan. Tak satu pun pohon besar, pohon kelapa misalnya, hanya gundukan pasir yang berjarak jauh.

“Lihat DP-ku apa kamu masih belum ingat?” begitu balasannya.

Aku membongkar ingatan demi ingatan yang menumpuk dari tahun ke tahun. Tak ada, dalam kotak ingatanku hanya ada abu hitam yang berserak. Tak ada tanda, tak ada gambar, tak ada suara, tak ada secercah di bilik ingatan yang berwarna. Semua telah menjadi abu. Abu-abu!

Aku sadar betul bahwa setelah menikah, aku sudah tidak punya ingatan. Semua hilang, seolah sudah terbakar habis. Memang aku sengaja membakarnya bersama ribuan rasa sakit yang tak kunjung usai, dan dengan sepenuh hati aku ingin lupa. Aku ingin terlahir kembali, hidup baru sepenuhnya dengan keluarga kecilku. Tak ada, tak ada di ingatanku di masa lalu, hidupku sudah mengalir seperti air, berhembus seperti angin, tak ingin sekalipun meninggalkan jejak-jejak yang bisa dibaca.

“Benar, aku ini tidak ingat. Kau siapa?”

“Dasar sombong, bajingan, kurang ajar!”

Membaca balasan itu aku menjadi tersenyum. Sebuah godaan, menguji hati agar tetap tabah dan sabar. Pagi ini, ada orang yang mengumpat tidak jelas. Ditanyai nama juga tidak menjawab. Aku mencoba membayangkan orang ini, namun tetap sulit kuraih wajahnya dalam ingatan. Jujur, aku sudah lupa benar siapa orang ini?

Aku mengurut dada, menahan napas, menjaga pikiran agar tetap jernih, tidak kalut oleh ucapan atau makian, yang sebenarnya tidak perlu aku pikirkan. Bagiku umpatan tidak mengubah apapun. Aku tidak memikirkannya sama sekali, mungkin dia sedang marah dengan impian, harapan, dan keinginannya sendiri.

“Lihat, nih!”

Dari layar ponselku, aku melihat seorang lelaki setengah telanjang seperti mau masuk kamar mandi dengan handuk warna kuning di tangan. Di sudut samping terlihat tempat tidur dengan sprei bermotif bunga-bunga, dindingnya warna kuning dan lantainya marmer agak kecoklatan. Ada kursi yang terlihat dekat cermin. Dari dalam cermin terlihat separuh ruangan kamar itu. Ada AC, tas, serta makanan kecil yang ditaruh dekat lampu duduk di atas meja. Ada dua botol air mineral, dua gelas teh yang masih tertutup, semacam welcome drink.

Aku kembali menyusuri jalan memori yang begitu panjang dan gelap, tak kutemukan satu ingatan pun. Laki-laki itu siapa? Sungguh! Tak ada gambar di pikiranku, yang ada hanya setumpuk keinginan dan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Masa laluku benar-benar sudah mati, sudah terbakar menjadi abu.

“Lihat, nih! Masih nyangkal?” Ia mengirim gambar yang lain ke ponselku.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Itu kamu!”

Aku mengambil cermin memastikan apakah itu benar wajahku. Itu aku? Kulihat laki-laki yang sedang berpelukan di bawah pohon besar, di sampingnya air terjun. Mataku bisa membaca sebuah tulisan yang berbunyi, hati-hati licin pada papan kayu di dekat air terjun yang berbatu.

Laki-laki dalam foto itu masih muda, memakai kaus bergaris horizontal, berlengan panjang, rambut pendek disisir ke belakang, dan mukanya cerah tak berkerut. Sementara perempuan yang nampak di sana begitu cantik, matanya bersinar, tangannya halus, lentik.

Berulang kali aku mengamati laki-laki dalam foto. Tak ada yang sama denganku. Kulihat dalam cermin di hadapanku ini. Di sini yang terlihat adalah laki-laki setengah baya, rambut memutih, mata berkerut, ada kumis dan jambang tidak rata.

“Itu bukan aku!” jawabku tegas.

Tidak begitu lama dia mengirim banyak foto lain dan mengancamku. Jika aku tidak mau mengakuinya, dia akan upload dan men-share ke medsos. Sebagian akan diprint dan ditempel di pasar-pasar, di jalan-jalan, dan di tempat keramaian. Aku malah jadi geli membaca teks yang terakhir itu.

Jam satu siang aku memutuskan untuk istirahat sejenak. Melupakan ingatan orang yang aneh, yang aku rasa amat ganjil. Aku dipaksa harus mengakui foto laki-laki itu. Aneh!
*

Aku terbangun pukul dua siang. Aku merasa ada yang tidak biasa dalam tidurku. Ada rasa gelisah tanpa sebab, pikiran tidak nyaman, dan entah, badan pun terasa gerah. Aku beranjak dari tempat tidur ke ruang depan. Aku melongok lewat jendela, kulihat istriku sudah duduk di teras, memegang ponselku sambil menangis.

Ada apa dengan dirinya di pasar? Kenapa menangis? Aku bertanya dalam hati. Istriku sudah lama kerja di pasar mulai subuh hingga pukul 2 siang.

Aku mendekatinya. Dia menatapku, matanya berkaca-kaca.

“Siapa Ana?” tanyanya.

“Tidak tahu,” jawabku.

“Ini foto-foto siapa dan siapa Ana? Tolong jawab dengan jujur?” desaknya.

“Aku tidak tahu Ana. Tidak tahu juga foto-foto dalam WA itu.”

“Bohong! Pendusta! Lihat, jelas-jelas ini Maria tapi kau beri nama Ana.”

Istriku menunjukkan foto-foto yang sudah ter-download. Meski dia ngotot bilang Maria, aku tetap menjawab: tidak tahu.

“Ini kamu!”

“Bukan, bukan aku!”

“Tukang bohong!”

Dan pyarrrrr … ponsel dibanting, pecah berkeping-keping.

Aku diam, dalam hatiku masih bisa berbisik, “Semoga ini yang terbaik!”
*

Sejak kejadian itu, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Ingatanku berkunang-kunang. Tak ada gambar jelas yang bisa kutangkap. Semua menghilang. Hari-hariku serasa sempurna tanpa hape. Aku menjadi lebih hening, lebih peka terhadap suara-suara alam, bisa menikmati keceriaan anak-anak yang bermain, serta mencermati dan mendengar suara yang datang dan pergi dalam diri.

Beberapa hari terlewati, tenang dan damai.

Sama, pada waktu pagi, sekitar pukul sepuluh juga, ada orang datang dari pasar. Katanya aku dipanggil polisi karena ada dua ibu bertengkar, dan akulah penyebabnya. Aku pun bergegas. Setiba di pasar, aku melihat istriku dikerumuni banyak orang.

“Sudah kubilang, sejak kita menikah, aku ini sudah tidak punya masa lalu. Tak ada yang kuingat selain janji perkawinan, sehidup semati dalam suka maupun duka,” kataku. “Dan kamu …,” aku menoleh seolah ingin minta maaf kepada perempuan di sebelahnya, “Tak usah merasa bersalah dengan ingatanmu yang ganjil. Tapi sesungguhnya, yang lalu sudah mati.”

Orang-orang yang berkerumun mulai pergi, Aku menunduk, dan ketika kupegang tangan kedua perempuan itu, ingatanku kembali. Dua perempuan –istriku dan Maria- dulu, di masa mudanya, mereka pernah pula bertengkar di dekat rel kereta, hatiku pun menjerit, “Kalianlah orang-orang yang kucintai. Tolonglah, jangan bertengkar lagi!”

Kulon Progo, 8 Juli 2019 13:06

Judul ilustrasi Ingatan yang Ganjil

Keterangan:
WA = WhatsApp, aplikasi pesan untuk ponsel cerdas (smartphone)
DP = Display Picture, foto profil di WA, dll.

Tentang Penulis & Perupa
L Surajiya lahir di Kulon Progo, 5 Juli 1974, pendidikan seni diperoleh di SMSR Yogyakarta (1991-1995), ISI Yogyakarta (1997-2005). Aktif menulis dan melukis. Salah satu pendiri Makna Media Para Perupa (2004). Tahun 2007 diundang ke Belanda untuk memamerkan karya puisi dan lukisannya. Ia menulis beberapa buku antologi puisi. Kumpulan cerpennya Aku, Istriku, dan Bukan Apel terbit tahun 2006. Bergiat di Komunitas Api Kata Bukit Menoreh. Tinggal dan berkarya di Studio Gunung, Kulon Progo, Yogyakarta.

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Parade Suci

Gerome_Bethseba

daud

di sotoh istana dua matamu
gagahi batsyeba mandi mulutmu
sumpahi setia anak buahmu

telunjukmu keji menindas
sepotong khilaf jelatamu
aduhai paduka dalam
bisu empat jari menudingmu

jera sesalmu daud
membasuh lubukmu bening
melantikmu raja
hingga keturunan kesatu
kedua keseribu sampai
abadi

salomo

gendam salomo
adalah tujuh ratus istri
tiga ratus gundik
sulamit gadis manis hitam
perigi seribu kidung cinta
cermin sang mahardika
dan mempelainya

musa

kau mengaku berat mulut
kau bilang tebal bibir
tapi firaun tunduk perintahmu
laut merah terbelah hardikmu

itu tongkatnya dalam genggamanmu

yunus

jangan kabur merpatiku
cintailah niniwe
kota menghamba dosa

jangan kabur burung jahilku
ikan besar mengintai
menelan amarah konyolmu
mendamparkanmu ke syeol
liang bawah laut terdalam

jangan kabur pendendam
tebarkan rahmat penuh rahim
kepada seratus dua puluh ribu
tak tahu jarak tangan kanan tangan kiri

jangan merajuk pemberang
ini sebatang pohon jarak
pelipurmu

ayub

menukar kala
benjut
lara
serapah
sendiri
sunyi
hampa
kosong
salib

dengan tujuh anak laki-laki
tiga anak perempuan
empat belas ribu kambing
enam ribu pasangan unta
seribu keledai betina
seratus empat puluh tahun nyawa

catatan
Perjanjian Lama dipenuhi kisah-kisah orang-orang biasa. Respons mereka pada romantika kehidupan menjadikan mereka luar biasa. Daud, Salomo, Musa, Yunus, Ayub. Mereka adalah raja, nabi, tokoh, awam. Spiritualitas mereka menjadi kenangan sepanjang masa. Kelemahan mereka sekaligus kekuatan mereka.

Gambar
Reproduksi imajinasi pelukis Prancis Jean-Leon Gerome (1824-1904) tentang sekuel Daud-Batsyeba. Pada lukisan asli, di sisi kiri gambar tampak Daud di sotoh. (gambar diambil dari electrummagazine.com)

itasiregar/12juli/2019

read more
CERITACerpenTERASWARA-WARA

Sang Kepala Keluarga

Perjalanan Diri

Teks Vitalia Ze*
Ilustrasi L. Surajiya**

Suatu hari datanglah seorang pemuda dari Ermera, kemenakan tetangga ibumu. Dia tinggalkan kampung halaman demi mencari kerja di kota Dili. Katanya ia lelah menjadi petani kopi dan ingin mengubah nasib. Kedatangan pertamanya ke rumah ibumu terjadi berkat ayam jago merah peliharaan kakekmu.

Tiu, ini ayam jago tangguh. Bawa ke arena sabung ayam.Yang lain akan kalah. Uang taruhannya pasti banyak.” Kakekmu tertegun.

Anó , kau tahu ciri-ciri ayam jago, hah? Tidak! Aku memeliharanya untuk kesenanganku saja.”

Dari sini obrolan kakekmu dan pemuda itu mengarah ke banyak hal. Kakekmu merasa nyaman dengan pemuda itu dan menawarkannya minum kopi.

Tak lama ibumu muncul di beranda rumah dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera, yang wanginya nikmat. Pemuda itu terpesona ibumu yang menoleh kepadanya sekilas sebelum berlalu. Itulah pertama kali pemuda itu minum kopi seduhan ibumu. Dihirupnya wangi kopi itu sedalam-dalamnya sambil memuja ibumu.

Pemuda itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Indonesia. Para laki-laki dipanggil bapak dan perempuan dipanggil ibu. Ia tidak lancar berbahasa Indonesia tapi yakin bisa kalau terbiasa. Setiap sore dia bercerita kisah para bapak dan ibu di kantornya kepada kakekmu. Kakekmu terlena. Sore hari kakekmu tidak lagi sehitam kopi kesukaannya.

Kala berbincang, ibumu lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumah. Pemuda itu segera pamit dengan berdalih hari telah sore. Padahal, ia mengincar ibumu dan menawarkan diri memompa air. Ibumu malu dan sungkan. Hari demi hari pemuda itu gencar menggoda dan merayu ibumu lalu menyatakan cinta. Dia melamar ibumu. Ibumu setuju dan meminta pemuda itu melamarnya kepada kakek nenekmu. Mereka setuju. Seminggu kemudian mereka menikah di gereja. Pemuda itu resmi menjadi ayahmu.

Sebulan kemudian ibumu hamil anak pertama. Dirimu. Sembilan bulan berlalu ibumu melahirkan lewat persalinan normal dengan sakit tidak parah. Menurutnya, ia dianugerahi rahmat melahirkan saat ia mengejan kuat sekali dan bayi keluar dengan mudah. Rahasianya, kata ibumu, minum satu dua sendok minyak kelapa sebelum melahirkan.

Rumah ibumu makin ramai dan sesak. Namun itu berlangsung beberapa bulan karena saudara-saudara perempuan ibumu satu per satu menikah dan ikut suami masing-masing kecuali ibumu.

Seharusnya ibumu sudah diboyong ayahmu ke Ermera jika kakekmu tidak menolak mahar pihak keluarga ayahmu. Kakekmu bersikeras ibumu harus tinggal karena dia putri sulung. Sementara adik-adiknya boleh diboyong suami-suami mereka dengan atau tanpa mahar. Keluarga ayahmu marah besar atas keputusan ini. Demi cinta, ayahmu terpaksa menerima keputusan kakekmu dan rela dicaci keluarga sendiri agar tetap tinggal bersama ibumu.

Kini tinggallah ayahmu, ibumu, kakek nenekmu, dua pamanmu yang remaja, dan dirimu yang masih bayi. Awalnya ayahmu mampu menghidupi keluarga. Tapi lama-lama ia kewalahan sejak kunjungan saudara-saudara ibumu menyampaikan recado. Recado adalah pemberitahuan antarkeluarga ketika ada yang meninggal dari keluarga pihak suami atau kerabat, persiapan lamaran, acara adat atau lainnya.

Datangnya sebuah recado berarti permintaan sumbangan dari setiap kepala keluarga. Dalam hal ini ayahmu dan kakekmu sebagai kepala keluarga wajib menyumbang uang dan tais (kain tenun Timor) atau hewan ternak seperti babi, kambing, kerbau. Apabila kakekmu tak cukup dana maka ayahmu harus menambah atau mewakili sumbangan bagi kedua pihak keluarga.

Dan recado bisa datang setiap saat tanpa diduga dengan jumlah tak sedikit. Gaji ayahmu segenggam rupiah dan hanya cukup membeli sekarung beras serta bahan sembako. Sisanya dihemat. Jika gaji tidak cukup sebulan, ayahmu harus pandai berhutang pada atasannya dengan konsekuensi gaji bulanan rela dipotong. Kalau tidak cukup juga maka ayahmu akan berhutang kepada temannya.

Lahirnya anak kedua membuat kebutuhan rumah tangga bertambah sementara gaji ayahmu tetap. Frustrasi, ayahmu mulai minum tua sabu (arak Timor) atau whiski bersama teman-temannya hingga pulang malam karena mabuk berat. Ayahmu mulai rajin merokok sebungkus filter sehari. Awalnya ibumu maklum mengira ayahmu hanya ingin melepas lelah. Kata kakekmu lazim kalau ayahmu begitu. Dia adalah pencari nafkah utama.

Lama-kelamaan ibumu tidak tahan kelakuan pemabuk ayahmu. Ibumu mengandung lagi. Setiap dua hari sekali ayahmu pulang dalam keadaan mabuk dan lebih parah pada akhir pekan. Kadang ayahmu tertidur di tengah jalan dan digotong pulang oleh teman-temannya dan kedua pamanmu yang beranjak dewasa. Merasa malu, ibumu muak. Diambilnya ranting pohon kersen di depan rumah lalu memukul ayahmu sekerasnya sambil mencaci-maki ayahmu. Ayahmu tak membalas. Ia biarkan dirinya dipukul sampai ranting kersen patah. Begitulah rumah tangga ibumu.

Kakekmu yang awalnya diam ikut menegur ayahmu berhenti minum. Ayahmu segan terhadap kakekmu dan mencoba berhenti minum. Akan tetapi ketika ayahmu harus berhutang lagi karena gaji tidak cukup, ia kembali mabuk-mabukan. Kebutuhan harian keluarga membengkak setelah kelahiran anak ketiga.

Setelah menderita batuk-batuk seminggu, kakekmu yang biasanya bekerja sebagai kuli bangunan harus berhenti dan beristirahat di rumah karena saran seorang mantri. Pada malam kematiannya kakekmu berpesan kepada ayahmu agar menjadi kepala keluarga yang baik. Ayahmu hanya tertegun mendengar pesan itu. Kakekmu meninggal dengan senyum damai yang sendu.

Sepeninggal kakekmu, ayahmu kewalahan menjadi kepala keluarga. Ibumu tidak mau memutar otak ikut mencari nafkah. Menurutnya, itu tugas suami dan mengelola hasil nafkah suami adalah tugas istri. Ayahmu meminta ibumu berjualan sembako atau sayuran seperti perempuan-perempuan lain di pasar. Ibumu menolak. Ia tidak sudi menjadi penjual sayur atau pedagang karena merasa terhormat menjadi ibu rumah tangga. Ayahmu kecewa tapi tak sanggup mendebat. Belum genap anak ketiga setahun, hadir anak keempat.

Pada kelahiran adikmu, ibumu dinasihati bidan ikut KB. Kata bidan punya anak dengan jarak dekat berisiko bagi kesehatan. Ibumu bimbang. Dia tidak yakin suaminya akan mengerti dan setuju. Hadirnya anak keempat pun belum mengubah sifat pemabuk suaminya.

Saat anak keempat berusia delapan bulan, ibumu mengandung lagi sambil berharap kali ini anak laki-laki karena sebelumnya semua perempuan. Seperti biasa ayahmu tertekan.Untuk menutupinya, ia mabuk-mabukan lagi.

Meski kesal kepada ayahmu, ibumu bangga pada dirinya setiap tahun melahirkan anak. Ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya proses kelahiran anak-anaknya ketika berkumpul di hajatan sehingga saudara-saudaranya iri sebab mereka menanggung sakit berlebihan ketika ibumu tidak. Dipersalinan kelima, ibumu kembali diperingatkan jika jarak kelahiran berikutnya pendek, ia bisa mengalami prolapsus uteri. Sebenarnya ibumu cemas namun segan memberitahu saudara-saudaranya bahkan suaminya sendiri.

Anak keenam sembilan bulan, ibumu mengandung lagi. Kali ini ia resah tapi tidak berani memberitahu ayahmu. Dan ketika anak ketujuh lahir, ibumu mengalami pendarahan hebat. Uterus ibumu menonjol keluar dari vagina karena otot dindingnya melemah. Beruntung dia dan bayi selamat. Namun ibumu harus menjalani histerektomi, operasi pengangkatan rahim.

Sejak itu ibumu tidak lagi mengandung. Nenekmu meninggal. Kedua pamanmu menikah dan tinggal jauh dari rumah. Sekarang tinggal kalian bertujuh bersama ayah dan ibumu. Ayahmu masih mabuk-mabukan dan ibumu masih memukulnya dengan ranting pohon kersen.

Pada suatu hari datanglah aku, pemuda rantau dari Baucau, tetanggamu. Aku datang untuk mencari kerja di kota Dili.

Kedatangan pertamaku ke rumahmu adalah berkat ayam jago merah peliharaan ayahmu. Kusarankan ayahmu membawa ayam itu ke arena sabung ayam dan dia langsung setuju. Di situlah aku berteman dengan ayahmu dan ia menawarkanku minum kopi.

Lalu kau datang dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi arabika Ermera. Kata ayahmu itu kopi kesukaan keluarga kalian. Harumnya benar-benar enak. Aku terpesona kepadamu. Kau tersipu malu dan berlalu. Pertama kali minum kopi seduhanmu, kuseruput sedalam-dalamnya. Ayahmu memandangku dengan tatapan sinis mengejek. Aku langsung salah tingkah.

Aku bekerja sebagai tukang bersih-bersih di satu kantor pemerintah. Di sana orang-orang berbahasa Portugis. Laki-laki dipanggil senhor dan perempuan senhora. Aku tidak berbahasa Portugis tapi bisa belajar. Setiap sore kuceritakan kisah para senhor dan senhora kepada ayahmu. Ayahmu tertegun ceritaku. Katanya itu seperti kisahnya waktu masih muda dulu.

Lalu kau lewat sambil membawa jeriken plastik menuju mata air pompa seberang rumahmu. Kuhabiskan kopiku segera lalu pamit kepada ayahmu.

“Tidak usah buru-buru. Aku tahu ke mana kau akan pergi setelah ini, anó.”

Aku heran atas perkataan ayahmu. Lalu ayahmu menceritakan bagaimana ia melakukan pendekatan kepada ibumu di mata air pompa. Aku jadi malu.

Tidak butuh waktu lama aku mendekatimu, menggodamu, merayumu, menyatakan cinta kepadamu serta keinginan melamarmu. Kau setuju. Ayah dan ibumu setuju. Kita menikah di gereja. Aku resmi menjadi suamimu.

Kau mengandung anak kita pertama dan setelah sembilan bulan ia lahir normal. Katamu sakit melahirkan tidak parah karena seperti ibumu, kau dianugrahi rahmat melahirkan.

Rumah kita ramai dan sesak. Saudara-saudaramu yang masih bersekolah bergantung pada gajiku dan uang sisa pensiun ayahmu yang tidak seberapa.

Seharusnya sudah kuboyong kau kekampungku di Baucau jika keluargamu setuju menerima mahar keluargaku. Seperti kakekmu, ayahmu menolak mahar dan bersikeras bahwa aku harus tinggal bersamamu di rumahnya karena kau putri sulung. Adik-adikmu boleh meninggalkan rumah jika menikah. Keluargaku marah besar atas keputusan ini dan merasa terhina.Tapi demi cintaku padamu, terpaksa kuterima keputusan ayahmu dan dicaci keluarga agar tetap bersamamu.

Sejak itu, tinggal aku, kau, ayah ibumu, empat saudara perempuanmu, dua adik laki-lakimu yang beranjak remaja, dan bayi kita.

Ayahmu mulai batuk-batuk selama seminggu. Dokter menyarankan ayahmu dirawat inap karena komplikasi paru akibat merokok dan minum alkohol.

Pada malam kematiannya, ayahmu memanggilku dan menceritakan kisahnya sebagai kepala keluarga.

“Sekarang, kaulah kepala keluarga selanjutnya, anó. Di tanganmu kuserahkan semua beban keluarga ini. Terima dan jalanilah. Ketika kau merasa tertekan, minumlah tua sabu sampai mabuk. Kau akan lupa masalahmu. Kalau istrimu memukulmu dengan ranting pohon kersen, terima saja. Sekarang aku lepas dari jabatan ini, kepala keluarga. Dan kau, jadilah kepala keluarga yang baik. Kalau kau tidak bisa, jangan lari, karena itu bukanlah laki-laki sejati.”

Begitulah pesannya kepadaku dengan senyum mengejek dan napas serak bak kucing sekarat. Ia tertidur dengan wajah menyedihkan. Aku termenung.

Sekarang akulah kepala keluarga selanjutnya namun aku tidak mau menjalani hidup menyedihkan seperti ayahmu.

Dili-Timor-Leste, April 2018

*

Tiu = om/paman, sebutan hormat untuk laki-laki yang lebih tua
Anó = nak, sebutan untuk anak laki-laki atau pemuda.
Senhor = tuan (bhs. Portugis)
Senhora = nyonya (bhs. Portugis)

*Penulis asal Timor Leste, tinggal di Dili. Ia peserta Asean & Japan Writers Residency and Literary Festival 2016 di Jakarta. Ia menulis dalam bahasa Indonesia namun lebih aktif menulis cerpen dan puisi dalam bahasa Tetun. Novelet pertamanya Knananuk iha Akamutu (bahasa Tetun, Nyanyian dari Akamutu) terbit tahun 2013.

**L. Surajiya, alumni ISI Yogyakarta, tinggal di Yogyakarta. Berpameran sejak 1993. Termutakhir Standing with the Masters, Jababeka Convention Center Cikarang. Pameran tunggalnya di antaranya Silent Conversation, Yogyakarta 2011.

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

balada buat asnat istriku

Joseph Asenath

lalu firaun menamai yusuf zafnat-paaneah, serta memberikan asnat, anak potifera, imam di on, kepadanya menjadi istrinya. –kejadian 41: 45

pengantar:
setelah yusuf menjadi orang nomor dua di mesir, empat bulan kemudian, firaun menyuruhnya pergi ke kota heliopolis –atau on- untuk bertemu potifera (pentephres dalam bahasa mesir), imam tinggi yang sangat dihormati di seluruh mesir.

imam di mesir bertugas hanya di kuil untuk merayakan dewa-dewa. ia bertanggung jawab membuka segel pintu kuil, menyalakan obor di seluruh dinding kuil, mendaras doa-doa, menyalakan dupa, membersihkan patung dewa-dewa dalam kuil (yang terbuat dari emas solid), menaruh pakaian bersih dan perhiasan, mempersembahkan makanan dan minuman, mengatur para penyanyi mencanting lagu-lagu pujian. petang hari, dia membersihkan jejak kaki di lantai kuil, menyegel pintu kuil kembali.

potifera punya anak gadis perawan bernama asnat (as-neith dalam bahasa mesir, artinya favorit dewi neith, asenath dalam bahasa inggris). asnat sangat cantik jelita. banyak putra raja dan bangsawan mesir ingin menyuntingnya. konon putra firaun pun ingin mengawini asnat, dilarang oleh firaun karena menganggap mereka beda status.

imam di mesir hidup sejahtera. asnat tinggal di dekat kuil, di rumah orangtuanya. ia diberitahu oleh ayahnya bahwa yusuf akan datang menemuinya, atas perintah firaun. asnat sangat bersusah hati karena ia sudah mendengar siapa yusuf. yusuf anak yang dibuang oleh keluarga, penggembala domba (pekerjaan yang menjijikkan bagi orang mesir), mantan budak, berselingkuh dengan istri majikan, pemimpi. dia hanya beruntung karena dapat mengartikan mimpi firaun. ia tak sudi diperistri oleh yusuf.

ketika diberitahu bahwa kereta yusuf sudah mendekat gerbang rumah, asnat lari ke loteng. ia mengintip yusuf dari jendela kamar. ia melihat yusuf turun dari kereta kencana yang ditarik empat kuda putih. yusuf mengenakan tunik putih, jubah linen ungu, mahkota dua belas permata. tongkat raja di tangan kanan dan di tangan kirinya ranting zaitun. ternyata yusuf luar biasa tampan. asnat jatuh cinta kepada yusuf pada pandangan pertama.

asnat dipanggil turun oleh orangtuanya untuk bertemu yusuf. ketika yusuf pamit pulang, potifera memintanya untuk mencium asnat, yusuf menolak. dalam tradisi ibrani, tidak diperkenankan seorang laki-laki mencium perempuan yang belum menjadi istri, katanya. kala itulah asnat sadar bahwa seperti dirinya, yusuf pun masih perawan. perjaka tingting.

asnat berusia 18 tahun ketika itu. dan yusuf sekitar 33 tahun. asnat adalah satu-satunya perempuan yang dalam hidup yusuf, seumur hidupnya.
 
balada buat asnat istriku
-dari yusuf, nyanyian

asnat, putri potifera
tinggi semampai tubuhmu
keindahanmu melebihi hator
milik dewi neith engkau
aku datang kepadamu
dengan hati gentar

ini buah tanganku
anggur dan kurma
buah delima bunga ara
dan sepasang merpati
untukmu
 
jangan kau pandang aku
seperti jubah dan mahkota ini
tongkat dan cincin ini
kereta kencana ini
ini hanyalah hiasan firaun
untukku
aku bukan raja muda mesir
aku hanya laki-laki ibrani rudin
yang terusir
dari negeri sendiri
 
aku tinggal di rumah ayahku
di betel tanah yang subur
ayahku seorang pahlawan
melahirkan ribuan ternak
ayahku seorang pendongeng
melahirkan ribuan cerita
heroik masa mudanya
ia seperti allah bagiku
aku aman berada dekatnya
 
ayahku punya dua istri dua gundik
aku anak dari rahel ibuku
saudara laki-lakiku sebelas
satu kakak perempuanku
aku mencintai mereka
mereka mencintaiku
dengan cara mereka
 
memang terbuang aku
memang budak aku
memang terpenjara aku
memang pemimpi aku
namun tak kubiarkan kedua tanganku
mereka-reka yang jahat
karena kuingat pesan ayahku
sepasang mata di tempat tinggi
mengawasiku
 
asnat, kekasihku
di rumah potifar
aku dijadikan cabul
dijebloskan ke sel busuk
namun aku luput
dari azab dan penalti
dari mutilasi
karena allah ayahku allah kakekku
melindungi aku
 
di tahanan
juru minuman raja
juru roti raja
menjadi ikhwanku
mereka bermimpi
dan aku membaca mimpi mereka
lalu juru roti dibebaskan
tapi juru minuman diputus mati
 
dua tahun berlalu
aku dilupakan
tapi ubin sel belum berlumut
ketika firaun telah bermimpi
dan gelisah
karena apa yang ia lihat
 
tujuh lembu gemuk
tujuh lembu kurus
tujuh bulir gandum bernas
tujuh bulir gandum kurus
 
berbekal gelar si penafsir mimpi
aku dibawa ke istana megah
bertemu firaun
kalau mampu membaca mimpiku, katanya
hanya ada dua pilihanmu
hidup seperti raja mesir
atau lenyap seperti kutu busuk
 
kala itu aku berpikir
inilah akhir hidupku
mati terhukum
tetapi asnat, cintaku
allah mengingatku
langit terbuka
angin berembus berbisik ke telingaku
rahasia mimpi firaun
tentang tujuh tahun kelimpahan
dan tujuh tahun kekeringan
sehingga terbebaslah firaun
dari beban mimpi
lalu ia memberiku nama baru
zafnat-paaneah
sebab katanya
allah bersabda ia hidup
 
dan segala kebesaran ini
yang ia berikan kepadaku
begitu agung
begitu mulia
tetapi dibanding kebebasanku
bukan apa-apa
aku diberi kesempatan kedua
untuk hidup bermakna
 
sekarang mari
kita berhadap-hadapan
bimbinglah aku
menjadi seorang kekasih
karena aku tak pernah kenal
apa itu perempuan
 
lagi asnat, istriku
aku bersumpah
takkan mendua hati seperti ayahku
meski ia pahlawanku
karena kau satu-satunya perempuan bagiku
waktu ini
dan selamanya
 
 

Lukisan Joseph & Asenath oleh tidak dikenal, dipamerkan di Staatliche Museen
 

is/17/1/19

 

 

 

 

 

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Tragedi Cinta Dina dan Sikhem

shechem_siezes_dinah

Pada suatu hari Dina
Berjalan-jalan ke Sikhem
Berkenalan kupu-kupu bebungaan kota itu
 
Wajah segar serupa embun
Mata rupawan serupa bulan
Senyum ranum serupa anggur musim panen
 
Konon, sedetik mata Sikhem tercucuk pandang gadis itu
Tertusuk ia oleh panah cinta
Tergiur liurnya
Terpukul-pukul jantungnya
Limbung hatinya tak tahan
 
Marilah, dik, naiklah ke sotoh istana yang dibuat ayahku
Yang membuat kota ini di atas namaku
Kau tengoklah pebukitan hijau di seberang sana
Itulah Gerizim
Gunung penghubung antara langit dan bumi
Dan lihat itu tarbantin
Pohon keramat tempat kami menyembah Asyera, dewi kesuburan kami
Yang di bawahnya kakekmu Abram bermezbah
dari letih hijrahnya
 
Dan Dina tak berpaling dari mulut manis Sikhem
Yang tak henti meneteskan madu
Tangannya mencengkeram lengan laki-laki muda itu
“Aku takkan kembali ke rumah ayahku
Sampai kau ceritakan padaku semua tentangmu
Sebab sakit asmara aku”
 
Pinang gadis itu menjadi istriku, Ayah, seru Sikhem kepada Hemor
Mari kita menjadi saudara, Saudaraku, ujar Hemor kepada Yakub
 
Berembug Yakub dengan kedua belas lelaki di kemahnya
Panas telinga mereka membara
Mendengar penghinaan suku tak bersunat itu
Menginjak-injak martabat mereka
 
“Mari kita beri satu pelajaran orang tak beradab itu,” sumpah mereka
Katakan kita sepakat menggelar kenduri tujuh hari tujuh malam
Asalkan mahar kulit khatan sebanyak laki-laki dewasa
 
Dan, dengan kegirangan meluap
Sikhem dan Hemor pulang ke kota mereka
Di pintu gerbang mereka berkampanye
“Hari ini sejarah baru bangsa kita toreh
Biarlah kitab-kitab mencatatnya
Kita akan merger dengan bangsa yang beradab
Ekonomi politik budaya militer
Kita akan menjadi satu yang besar disegani
Karena itu baiklah setiap laki-laki dewasa
Memotong kulit khatannya masing-masing
Di rumahnya sendiri”
 
Sementara itu dua anak lelaki Yakub
Mengasah mata pedang mereka baik-baik
Dan sepuluh lainnya
Menguatkan hati mereka baja
 
Pada hari ketiga
(ketika laki-laki dewasa kota Sikhem masih kesakitan)
Mereka mendatangi kota itu
Seperti pahlawan pergi perang
Dengan pedang di tangan kiri dan kanan
Simeon dan Lewi
Menebas setiap laki-laki dewasa tanpa kecuali
Sedang sepuluh lainnya
Menjarah kota itu bersih
Menarik Dina keluar dari sana
(Sedang ia menjerit menangisi masa muda Sikhem
Yang mati sia-sia)
 
Yakub, lihatlah
Langit hitam di atasmu
Tanah merah di bawahmu
Kota Sikhem berubah yatim
Ditinggalkan para lelakinya
 
Kau mengundang celaka ke rumah kita, anak-anakku
“Siapa suruh memperlakukan kita seperti kotoran?”
 
O Dina, o Sikhem
Kisah kalian
Bukankah kitab-kitab sudah mencatatnya?
 
Gambar diambil dari Wikipedia
 

is/15/1/19/

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Sang Ratu

400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

read more
PuisiTERASWARA-WARA

Hari Minggu Ramai Sekali

wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Puisi

Babel *

IMG_20180904_074708 (1)

gerbang para dewa
markah kekacaubalauan
syahwat
yang tak pernah manusia
lupakan

setelah petaka banjir mematikan itu
elohim berjanji takkan lagi bah
menghukum bumi

lalu sem
ham
yafet

ham melahirkan kush
kush melahirkan nimrod
pertama manusia terkuat di bumi
istrinya simeramus
jalan menuju neraka

700 tahun kemudian
ke negeri timur mereka pergi
di tanah Sinear
mari kita buat menara tinggi
surga kita sendiri
kata nimrod

satu bahasa mereka
membakar bata seperti batu
tanah liat sebagai perekat
di atas tanah datar segi empat
selama seratus tujuh tahun
mereka berpeluh keringat
mendirikan bata demi bata
dua puluh lima gerbang
seribu pintu
warna merah tua
hingga 2484 meter menjulang

namun di menara tinggi babel
hanya bertemu kediaman roh-roh jahat
persembunyian roh najis
tempat bercabul
sampai elohim turun dari surga
melipatgandakan lidah mereka
tak lagi satu
melainkan tujuh puluh dua
bahasa

15 untuk yafet
30 untuk ham
27 untuk sem

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

sudah rubuh babel
sudah rubuh babel

dan hari ini
jutaan tahun kemudian
kami kerasukan roh
gerbang para dewa
markah kekacaubalauan

kami membangun kembali
babel
si menara tinggi
dengan kebiasaan kami
ritual kami
bahasa kami
agama kami
demi kami
kami

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

dan di tepi-tepi sungaimu, babel
kami hanya duduk dan menangis
bila mengingat Zion

itasiregar/18/8/18

*puisi ini dibuat untuk lukisan Setiyoko Hadi yang diberi judul Yang Diserakkan. Perupa merasa menara Babel sebagai simbol dari kemampuan manusia purba untuk melawan Tuhan, yang tetap relevan sepanjang masa. Telepon sebagai simbol dari sebuah komunikasi dua arah. Posisi gagang yang terjatuh di lantai mengisyaratkan putusnya sebuah komunikasi. Kemampuan manusia membangun menara yang menjulang sampai ke langit digambarkan susunan bata yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Tidak digambar sesuatu yang kokoh melainkan seperti sesuatu yang mudah runtuh. Yang diserakkan adalah cara Tuhan menyadarkan akan keberadaannya di hadapan kekuatan Tuhan

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

book-707388_1920

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

Tema: Perintis Gereja Tradisional

Pernahkah membaca kisah Kyai Sadrakh (1835-1924) atau Nommensen (1834-1918) dan terkesan dengan kehidupannya? Ini saat yang tepat untuk mengungkap kisah mereka dalam bentuk cerpen atau puisi.

Anda juga dapat memilih Denninger (1865-) yang berkarya di Gunung Sitoli Nias, Joseph Kam (1769-1833) di Maluku, Antonie Anis van de Loosdrecht (1885-1917) di Toraja, Johann Geissler (1830-1870) di Irian/Papua, Ibrahim Tunggul Wulung (1840-1885), Paulus Tosari (1813-1882), atau sila memilih sendiri nama yang Anda minati.

Syarat:
1. Peserta adalah mahasiswa teologi atau masyarakat umum.
2. Memilih satu tokoh di atas atau memilih sendiri.
3. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya untuk masing-masing kategori tulisan.
4. Panjang cerpen maksimal 1300 kata. Puisi bebas.
5. Naskah di-email ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas data diri (KTP/ SIM).
6. Naskah sudah diterima oleh Panitia selambatnya 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
7. Panitia akan menentukan 10 naskah terbaik untuk kedua kategori.
8. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan bpr.pgi.or.id
9. Setiap pemenang akan mendapat hadiah Rp 750.000,00
10. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap paling inspiratif akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
11. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: http://wp.me/p8ZXIg-bO

read more
1 2 3 6
Page 1 of 6