close

CERITA

Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (1)

pexels-photo-459319 (1)

Siapa mencari surga sendiri untuk menyelamatkan jiwanya,

Mungkin mengikhtiarkan jalannya, namun tidak akan mencapai tujuan

Ia yang berjalan dalam kasih mungkin mengembara ke tempat-tempat yang jauh,

Namun Tuhan akan menibakannya ke tempat di mana ada berkat.

 

Pengantar dari Pengarang

Bertahun tahun sudah kisah ini dilempar ke sebuah lautan buku. Ini bukanlah kisah untuk dipersaingkan atau dagangan yang harus dipajang paling depan. Ini hanyalah perahu layar yang kecil dan tenang. Sebuah petualangan perjalanan.

Dua kali kisah ini jatuh ke tangan perompak. Ombak pasang membawanya ke negeri-negeri yang jauh. Kisah ini sudah melewati pelabuhan-pelabuhan penerjemahan ketika memasuki Jerman, Prancis, Armenia, Turki, dan barangkali beberapa wilayah asing lain. Sekali waktu mata saya menangkap bendera pelabuhan tempat terpencil yang memperlihatkan bahasa fonetik baru di sepanjang pantai Prancis. Kisah ini pernah sekali diaku oleh seorang pedagang barang kuno dan menyebutnya sebagai legenda Asia Timur yang telah lama hilang. Yang terhebat di antara semuanya, kisah ini pernah terselip diam-diam di beberapa pelabuhan yang sangat jauh yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kisah ini disambut hangat dan ramah, membawa pesan-pesan gembira yang mengesankan dari teman-teman yang belum saya kenal.

Sekarang kisah ini telah kembali dengan tali pancang baru dan siap untuk melakukan perjalanan berikutnya. Dan sebelum kisah ini disebar saya diminta untuk menceritakan dari mana kisah ini berawal dan apa maknanya.

Saya tidak tahu dari mana kisah ini berawal—dari udara, barangkali. Namun yang pasti, kisah ini tidak pernah ditulis di buku mana pun. Juga tidak akan ditemukan di antara adat kuno orang Timur. Saya juga tidak pernah merasa kisah ini milik saya sendiri. Kisah ini sebuah anugerah. Dikirim untuk saya, seolah-olah saya mengetahuinya dari Sang Pemberi, meski nama-Nya tidak disebut.

Tahun itu penuh dengan kesakitan dan penderitaan. Setiap hari selalu saja ada yang bikin susah. Setiap malam didera rasa sakit. Malam-malam panjang—malam-malam di mana seseorang masih terjaga, saya mendengar jantung berdetak yang memompa dengan kepayahan, sembari menunggu pagi datang, bahkan tidak tahu apakah akan dapat bertemu fajar lagi. Itu bukan malam-malam yang dipenuhi ketakutan. Pikiran tentang kematian tidak lagi menakutkan karena saya sudah mengakrabinya bertahun-tahun. Di samping itu, setelah sekian waktu merasa seperti seorang prajurit yang berdiri lama di dekat perapian, satu perubahan kecil akan terasa melegakan. Namun bahwa itu adalah malam-malam kesepian, itu benar. Malam-malam yang sangat berat. Bayangkankan bila bebannya seperti ini:

Kamu memikirkan bahwa tugas di dunia hampir berakhir, tetapi belum.

Kamu belum juga berhasil mengurai masalah yang membuat bingung selama ini. Tujuan semula pun belum. Kamu belum menyelesaikan tugas besar yang dirancang khusus untukmu. Kamu masih dalam perjalanan. Barangkali kisahnya harus berakhir di sini, di satu tempat—entah di mana—dalam kegelapan mungkin.

Lalu pada satu malam yang panjang dan sepi, kisah ini muncul begitu saja di kepala saya. Sebelumnya saya memang sudah tahu dan penasaran soal kisah Tiga Orang Majus dari Timur ketika mereka disebut dalam “Legenda Emas” Jacobus de Voragine dan buku-buku serupa. Kisah tentang Orang Majus Keempat belum pernah saya dengar. Saat itulah saya melihatnya dengan jelas, ceritanya bergerak melalui bayang-bayang dalam satu lingkaran cahaya yang temaram. Air mukanya begitu jelas saya lihat, sejelas ingatan saya tentang wajah ayah saya ketika saya terakhir melihatnya. Narasi tentang perjalanan Artaban dan segala ujian dan kekecewaannya, terus bergerak dalam benak saya tanpa jeda. Bahkan beberapa kalimat tertentu muncul lengkap dan tak terlupakan, sangat jelas seperti sebuah kameo. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti ziarah Artaban, selangkah demi selangkah, sebagaimana sebuah kisah dari permulaan sampai akhir.

Saya seringkali ditanya mengapa saya menulis Orang Majus Keempat itu mengatakan kebohongan di kota kecil di Betlehem, demi menyelamatkan hidup seorang anak.

Saya bilang, itu bukan cerita kebohongan. Apa yang Artaban katakan kepada para prajurit, dia berkata kepada dirinya sendiri karena dia tidak dapat menolongnya.

Apakah sebuah kebohongan dapat dibenarkan? Barangkali tidak. Tetapi bukankah kadang-kadang itu tampak tidak ternilai harganya?

Dan jika itu adalah dosa, mungkin bukan dimaksud untuk seseorang mengakuinya, dan diampuni, itu lebih mudah daripada dosa yang lebih besar yaitu rasa ego spiritual atau pengabaian, atau pengkhianatan dari darah orang tidak berdosa? Begitulah yang saya lihat tentang Artaban. Itulah yang telingat saya dengar apa yang dia katakan. Seluruh hidupnya dia upayakan untuk melakukan yang terbaik semampu yang dapat dilakukannya. Memang tidak sempurna. Tetapi ada beberapa jenis kegagalan yang lebih baik daripada keberhasilan.

Meski cerita Orang Majus Keempat datang kepada saya secara tiba-tiba dan tanpa usaha, ada banyak hal yang harus dipelajari dan kerja keras yang harus dilakukan sebelum menuliskan kisahnya. Sebuah gagasan datang tanpa upaya. Sebuah bentuk harus dibuat dengan kesabaran. Jika ceritamu bermakna untuk diceritakan, kamu sendiri harus benar-benar menyukainya sehingga rela mengerjakan ulang sampai menjadi benar—benar tidak dalam arti ideal, tetapi benar yang sesungguhnya. Cahaya itu sebuah anugerah. Namun warnanya hanya dapat dilihat oleh seorang yang melihatnya untuk waktu lama dan terus-menerus. Artaban berjalan bersama saya ketika saya bekerja keras melewati sejumlah kisah perjalanan kuno dalam sejarah. Saya melihat sosoknya sementara saya melakukan perjalanan di laut yang tenang di gurun dan di kota-kota yang asing di Timur.

Dan setelah itu, maknanya apa?

Bagaimana saya menjawabnya? Apa makna dari hidup? Jika artinya dapat dituliskan dalam satu kalimat maka saya tidak perlu lagi menceritakan kisah ini.

Anda tahu kisah Tiga Orang Majus dari Timur, dan bagaimana mereka berjalan dari tempat yang jauh untuk mempersembahkan hadiah mereka di sebuah palungan sederhana di kota Betlehem. Kamu pasti belum pernah mendengar kisah Orang Majus yang Lain, yang juga sama melihat bintang terang itu, dan mengikuti arahnya, tetapi tidak sampai tiba di hadapan bayi kecil Yesus, seperti saudara-saduaranya yang lain. Mulai dari keinginan terbesar peziarah keempat ini, bagaimana  kisahnya ditolak, namun penyangkalannya berhasil, dan dari banyak perjalanan dan percobaan jiwanya, perjalanan jauhnya untuk mencari, jalan asing yang dia temukan, Seseorang yang dia lihat—saya dapat katakan bahwa fragmen-fragmen kisahnya sudah saya dengar di Lorong Mimpi-Mimpi, dalam kerajaan Hati Manusia.

-Henry Van Dyke

 

Tanda di Langit (1)

PADA masa Kaisar Agustus mendominasi banyak kerajaan dan Herodes memerintah di kota Yerusalem, adalah seorang Media bernama Artaban. Ia tinggal di kota Ekbatana, di pegunungan Persia. Ia seorang muda bestari. Kediamannya dikelilingi tujuh dinding kompleks istana yang indah permai. Dari atap rumahnya, ia dapat memandang ke loteng-loteng hitam dan putih dan merah dan biru dan perak dan emas, terus hingga ke bukit kastil musim panas kekaisaran Partia yang berkilau bak mahkota tujuh lapis permata.

Di sana terhampar seluas taman yang rapi tersusun pepohonan bebuahan dan bebungaan, selalu segar karena air dari lereng Gunung Orontes tak henti mengalir, mencipta bebunyian riang seperti nyanyian ratusan burung. Kelembutan aroma malam-malam di penghujung bulan September, seperti bisik-bisik pada kedalaman yang senyap, yang menyimpan percik air yang bersuara antara tangis atau tawa halus di bawah bayang-bayang. Jauh di pepucuk pohon, setitik cahaya bersinar lemah, mengintip lewat keluk tirai kediaman tuan rumah yang sedang mengadakan musyawarah bersama tetamunya.

Tuan rumah berdiri di dekat pintu masuk, menyambut tamu-tamunya dengan wajah tersenyum sopan. Tubuhnya tinggi langsing, berkulit agak gelap. Usianya sekitar 40 tahun. Kedua matanya berdekatan, menonjol di bawah sepasang alis yang lebat, garis bibir tipis namun tegas; alis mata seperti seorang pemimpi dan mulut seorang tentara. Ia laki-laki berperasaan anteng namun berkemauan keras—seseorang yang di dalam dirinya, pada usia kapan pun, senantiasa menyimpan konflik batin yang kentara dan kepala yang tak berhenti bertanya.

Jubah putih wolnya jatuh mengenai tunik suteranya, dengan tutup kepala meruncing berwarna senada, dengan kerah panjang pada kedua sisi telinga, rebah di rambutnya yang legam. Itulah pakaian yang menandakan ia pendeta Magi kuno, para penyembah api.

“Mari!” katanya dengan suara rendah dan ringan, menyapa tetamunya yang memasuki ruangan. “Selamat datang, Abdus. Salam damai, Rhodaspes, Tigranes, dan ayahanda Abgarus. Anggaplah berada di rumah sendiri. Tempat ini menjadi hangat karena kehadiran kalian. Mari!”

Ada sembilan laki-laki beragam usia, berasal dari kelas hartawan dan cendekiawan yang nampak dari sutera halus yang mereka pakai, kerah-kerah motif keemasan pada leher mereka, para kaum Partia terhormat, tanda lingkaran emas bersayap di dada mereka, yang menandakan pengikut Zoroaster.

Mereka mengelilingi sebuah altar hitam kecil di ujung ruang. Api kecil terus menyala. Lalu Artaban berdiri di samping altar, melambaikan sebuah barsom -ranting tamarisk (yang digunakan pendeta Zoroaster untuk merayakan upacara sakral tertentu) di atas api, menambahkan pinus kering lalu minyak harum ke arah api. Mulutnya mulai melantunkan ayat-ayat Yasna, tetamunya tak dikomando ikut bergumam mengikuti ayat-ayat indah yang dipersembahkan sepenuh hati kepada Ahura-Mazda:

 

Kami menyembah Roh Suci,

pemilik segala kebijaksanaan dan kebaikan,
Dan para kudus yang abadi,
Pemberi segala berkat dan kelimpahan,
Kami bersukacita atas karya tangan-Nya,
Kebenaran-Nya dan kekuasaan-Nya.
Kami memuja segala yang murni,
Ciptaan-Nya,
Pikiran-pikiran yang lurus,
Pekerjaan dan perilaku yang menang atas pencobaan,
Yang ditolong oleh-Nya,
Yang karena itu kami memuji setinggi-tingginya.
Dengarlah kami, O Mazda! Engkau yang berdiam dalam

Kebenaran dan kegembiraan surgawi

Bersihkan kami dari segala kesalahan, dan jagalah kami
Dari kejahatan dan kemelekatan pada kejahatan,
Curahkan terang dan sukacita Kehidupan dari-Mu
Atas kegelapan dan kesedihan kami.
Bersinarlah atas kebun dan ladang kami,
Bersinarlah atas pekerjaan dan alat tenun kami,
Bersinarlah atas seluruh umat manusia,
Mereka yang percaya dan yang tidak,
Bersinarlah atas kami sepanjang malam,
Bersinarlah sekarang dengan kekuasaanMu,
Engkaulah kobar dalam cinta suci kami
Serta pujian atas penerimaan penyembahan kami.

 

Api menyala bersama lantunan doa, berdenyut seperti musik yang bernyanyi, sampai api menyemburkan sinar terang ke seluruh bagian, alami dan semarak.

Lantai biru tua bergaris putih dengan pilar-pilar berwarna perak motif berjalin, tegak menghadap dinding-dinding biru. Loteng setengah lingkaran dengan jendela-jendela berhias kain halus sutera biru. Kubah langit-langit yang ditutupi permata safir berbentuk dadu, serupa tubuh surga dalam puncak kejernihan yang memanen bintang-bintang perak. Pada keempat sudut atap bergantungan lidah-lidah para dewa yang eksotis keemasan. Di ujung timur, di belakang altar, tampak dua pilar porfiri –batu merah yang dihias ornamen kristal putih. Di pucuknya sebuah batu ukir pemanah bersayap, dengan panah yang diarahkan pada benang dan jalinan pita.

Pintu keluar diapit dua pilar, yang terbuka menghadap teras loteng, bertudung tirai tebal berwarna delima matang, bersulam ratusan garis emas yang seperti muncul dari lantai. Anjungan serupa malam tenang penuh bintang, bernuansa biru perak, matang kemerahan serupa ufuk matahari di sayap timur. Sebuah paduan kemuliaan yang merupakan ekspresi karakter dan semangat tuan rumah.

Ketika lantunan tiba pada bait terakhir, ia memandang para tamu, mempersilakan mereka pindah ke sofa di ujung barat anjungan.

“Terimakasih atas kedatangan kalian, para pengikut Zoroater yang setia,” katanya sambil mengedarkan pandangan, “Kita berada di sini untuk memperbaharui dan memperbaiki iman kita kepada Allah Segala yang Murni, juga api baru di altar ini. Kita bukan menyembah api tetapi apilah termurni dari seluruh benda. Api berbicara kepada kita soal seseorang yang adalah Terang dan Kebenaran. Bukan begitu, Ayahanda?”

“Tepat, Ananda,” suara Abgarus tegas. “Mereka yang mendapat pencerahan bukanlah para pemuja berhala. Mereka adalah yang mengangkat topi mereka, pergi ke kuil sejati, kepada terang dan kebenaran baru yang sedang datang melalui tanda dan simbol-simbol purba.”

“Ayahanda dan sahabatku sekalian, bila berkenan, mohon kiranya mendengarkan apa yang akan kukatakan ini,” kata Artaban pelan, dengan penekanan yang jelas.  “Aku akan memberitahu kalian tentang terang dan kebenaran baru yang telah datang kepadaku melalui semua tanda yang paling purba. Kami bersama telah meneliti rahasia-rahasia dan mempelajari faedah air dan api dan segala tumbuhan. Kami sudah menekuni buku-buku ramalan masa depan yang ditulis dalam kata-kata yang sulit dipahami. Namun di antara semua yang kami pelajari, yang termulia adalah pengetahuan tentang bintang-bintang. Meneliti jejak-jejak mereka adalah seperti memanasyrihkan benang-benang misteri kehidupan awal hingga akhir. Jika kami mampu mengikuti semua itu dengan sempurna, tak ada satu rahasia pun tersembunyi. Namun, bukankah pengetahuan tentang itu masih belum lengkap? Bukankah masih banyak bintang yang berada diluar pengamatan kita—terang yang hanya dipahami oleh mereka yang tinggal jauh di tanah selatan, di antara pepohonan rempah Punt dan tambang-tambang emas Ophir?”

Mendengar perkataan Artaban mereka berbisik-bisik, mengiyakan.

“Bintang-bintang,” ujar Tigranes, “adalah akal budi yang Abadi. Mereka tak terhitung jumlahnya. Segala akal budi seorang manusia dapat dihitung, seperti tahun-tahun dalam hidupnya. Kearifan para Magi adalah yang tertinggi dari semua kemahardikaan bumi, karena ia mampu memahami ketidaktahuan. Itulah rahasia kedigdayaan. Kita memiliki mereka yang senantiasa mengamati dan menantikan fajar baru. Kita memahami kegelapan yang senantiasa setara dengan terang, dan bahwa sengketa di antara keduanya takkan pernah berakhir.”

“Namun kenyataan itu tidak memuaskanku, kawan,” sela Artaban, “karena, jika penantian itu tiada berakhir, jika dari semua itu tiada penggenapan, lantas apa makna kearifan dalam merenung dan menanti. Kita semestinya seperti guru-guru Yunani, yang mengatakan tidak ada kebenaran, bahwa hanya para Magi yang menghabiskan hidup mereka demi menemukan dan memperlihatkan kebohongan-kebohongan yang dipercayai dunia. Fajar baru akan terbit pada waktunya. Bukankah buku-buku membuka rahasia kepada kita bahwa ini akan terjadi, bahwa manusia akan melihat cahaya terang yang paling terang?”

“Benar,” kata Abgarus, lalu melanjutkan, “setiap murid Zoroaster yang setia memahami nubuat Avesta dan menyimpan perkataan itu di dalam hatinya. ‘Pada hari itu Sosiosh the Victorious (satu dari tiga putra Zoroaster) akan bangkit dari antara para nabi di timur. Di sekelilingnya akan terbit yang paling terang, yang akan membuat kehidupan abadi, tegak bermoral, kekal, yang mati akan hidup kembali.'”

“Ada kegelapan yang berbicara,” tambah Tigranes, “yang mungkin tidak akan pernah bisa kita pahami. Lebih baik kita mempertimbangkan hal-hal yang dekat, meningkatkan pengaruh kita di negeri sendiri, daripada mencari-cari seorang yang mungkin asing bagi kita, dan kita mesti mempertaruhkan kekuasaan kita kepadanya.”

Pemirsa tampak setuju dengan perkataan yang terakhir. Sebuah kesepakatan tak terucap di antara mereka telah nyata. Ekspresi yang tak dapat dilukiskan yang telah menenangkan para pendengarnya. Namun Artaban dengan sinar di wajahnya, berpaling ke arah Abgarus, yang tertua di antara mereka, berkata:

“Ayahanda, aku telah menyimpan nubuat di tempat yang paling rahasia dalam hatiku. Agama tanpa harapan adalah seperti altar tanpa api yang menyala. Dan sekarang api itu telah menyala terang, dan oleh terang itu aku dapat membaca kata-kata lain yang juga berasal dari sumber Kebenaran, dan berkata lebih jelas tentang munculnya Sang Pemenang dalam segala kecemerlangannya.”

Lalu ia mengeluarkan dua gulungan kecil yang terbuat dari kain halus dari tuniknya, dan membukanya hati-hati di atas lututnya.

“Dalam tahun-tahun yang hilang di masa lalu, lama sebelum leluhur kita tiba di tanah Babilonia, ada para bijaksana dari Kasdim, yang dari mereka para Magi mempelajari rahasia-rahasia surga. Bileam putra Beor adalah satu yang terbesar. Ia mengatakan nubuat ini: ‘Kelak akan muncul bintang dari keturunan Yakub, dan tongkat dari Israel.'”

Tigranes menarik bibirnya ke bawah, berkata, “Yehuda telah terpenjara oleh air Babilonia, dan putra Yakub telah takluk kepada raja-raja kita. Suku-suku Israel telah terserak di seluruh gunung-gunung seperti domba-domba yang hilang, dan sisanya yang tinggal di Yehuda, berada di bawah tekanan Romawi, karena itu bintang atau tongkat tak mungkin akan muncul dari sana.”

“Namun,” kata Artaban cepat, “Daniel orang Ibrani itu, seorang pengarti mimpi yang wahid, penasihat raja-raja, Beltsazar yang bestari, yang paling dihormati dan disayangi oleh raja agung kita, Koresh. Daniel telah membuktikan dirinya kepada bangsa kita sebagai seorang nabi sejati dan seorang yang dapat membaca pikiran-pikiran Allah. Dan inilah kata-kata yang dia tulis.” (Artaban membacanya dari gulungan kedua:) “’Maka ketahuilah bahwa Yerusalem akan dipulihkan, sampai kedatangan Yang Diurapi, Seorang Raja, ada tujuh kali tujuh masa dan enam puluh dan dua kali tujuh masa.'”

“Tetapi, Ananda,” sela Abgarus, dengan suara ragu berkata, “angka-angka itu adalah simbol. Siapa yang dapat menafsir, atau siapa yang dapat menemukan kunci untuk mengartikannya?”

Artaban menjawab: “Ayahanda, telah ditunjukkan kepadaku dan kepada tiga rekanku—Kaspar, Melkhior, dan Baltazar. Kami telah meneliti loh-loh purba orang Kasdim dan menghitung waktunya. Jatuhnya tahun ini. Kami sudah mempelajari langit, dan pada musim semi tahun ini kami melihat ada dua bintang besar yang berdekatan dalam bentuk Ikan, yang berada di kediaman orang Ibrani. Kami juga melihat satu bintang baru di sana, yang bersinar hanya satu malam setelah itu hilang. Kemudian ada dua planet besar akan bertemu. Dan malam inilah pertemuannya. Ketiga kawanku sedang mengamati tanda-tanda itu di Kuil kuno Tujuh Kubah di Borsippa, di tanah Babilonia, sementara aku mengamatinya di sini. Kami bersepakat, jika bintang itu bersinar kembali, mereka akan menungguku di Kuil selama sepuluh hari, dan dari sana kami akan ke Yerusalem, untuk melihat dan menyembah seorang yang telah dijanjikan lahir sebagai Raja Israel. Aku percaya tanda itu akan datang. Dan aku sudah menyiapkan sebuah perjalanan. Aku sudah menjual rumah dan seluruh harta milikku, dan membeli tiga batu permata ini—batu safir, batu delima, mutiara—untuk kubawa sebagai persembahan untuk Raja itu. Dan aku memintamu untuk pergi bersamaku dalam ziarah ini, agar kita bersama-sama bersukacita ketika menemukan Raja yang layak disembah itu.”

Sementara berkata-kata, ia memasukkan tangannya ke lipatan korset yang paling dalam dan menarik ketiga batu pertama—satu berwarna biru cemerlang seperti langit, satu lebih merah daripada matahari terbit, dan satu putih seperti senja di puncak gunung salju—lalu ia menaruhnya dalam gulungan linen.

Seluruh kawannya menatap ganjil dan mata yang asing. Sebuah purdah seperti telah menyungkup wajah mereka, serupa kabut yang merayap naik ke atas dari rawa-rawa yang menutupi pebukitan. Mereka saling berpandangan dengan penuh syak dan syafakat, seperti sekelompok orang yang baru saja mendengar sesuatu yang mencengangkan, cerita binal tentang penglihatan, atau usulan sebuah upaya yang musykil dilaksanakan.

Akhirnya Tigranes berkata, “Artaban, ini adalah mimpi yang sia-sia. Mimpi yang disebabkan terlalu banyak menatap bintang dan membesar-besarkan pikiran yang tinggi. Menurutku, lebih bijaksana menghabiskan waktu mengumpulkan uang untuk membangun kuil api baru di Chala. Tidak akan ada yang muncul dari ras bangsa Israel yang sudah menyerah itu, tidak ada akhir bagi keabadian makna terang dan gelap. Orang yang mencari-cari itu hanyalah mengejar bayangan. Karena itu, selamat tinggal, kawan.”

Yang lain berkata, “Artaban, aku tidak tahu-menahu masalah ini, dan kantorku tiap hari sibuk mengurus properti kerajaan. Misi ini bukan untukku. Seandainya engkau akan berangkat juga, persiapkan dirimu dengan baik.”

Yang lain menambahkan, “Aku masih pengantin baru, dan aku tidak dapat meninggalkan dia atau membawanya bersamaku dalam perjalanan ini. Misi ini bukan untukku. Semoga perjalananmu berhasil. Jadi, selamat tinggal.”

Yang lain berkata, “Aku sedang sakit dan tidak siap melakukan perjalanan yang sulit, tetapi aku punya beberapa asisten yang aku bisa kirim untuk menemanimu, untuk membawa kabar tentangmu kepadaku.”

Abgarus, yang tertua dan yang paling mengasihi Artaban, masih berada di sana ketika yang lain pergi, berkata dengan nada murung, “Ananda, mungkin cahaya kebenaran yang muncul di langit akan memimpinmu kepada Raja dan cahaya paling terang itu. Atau itu hanyalah bayangan terang, seperti yang dikatakan Tigranes, dan siapa pun yang mengikuti cahaya itu hanya akan melakukan ziarah panjang tanpa makna. Tetapi, lebih baik mengikuti bayangan yang terbaik daripada merasa puas dengan yang terburuk. Mereka yang akan melihat hal-hal yang menakjubkan seringkali akan siap melakukan perjalanan itu, sendiri. Aku terlalu tua untuk perjalanan ini, tetapi hatiku akan mengikuti ziarah ini siang dan malam, dan aku akan mengetahui akhirnya. Pergilah dalam damai.”

Lalu di ruang biru sublim dengan bintang-bintang perak itu, hanya ada Artaban sendiri.

Ia mengumpulkan ketiga permata dan menyimpannya di belakang sabuknya. Matanya memandang jentik api yang meletup lalu menghilang di altar. Kemudian dia berjalan melintasi lorong, mengangkat tirai yang berat itu, melewati pilar-pilar porfori di teras loteng.

Getar digelorakan bumi yang sedang terlelap dan siap terjaga, angin sejuk memberitahu fajar menyingsing dari ketinggian, jejak-jejak salju turun dari Gunung Orontes ke jurang-jurang. Burung-burung, setengah terjaga, bangun dan bersuara riang di antara dedaunan yang berderak, aroma ranum bebuahan anggur tercium samar dari arah rerumah tanaman yang dipenuhi tumbuhan menjalar.

Jauh di timur kabut putih diam-diam melebar membentuk danau yang mengambang. Di ujung barat puncak cakrawala Zagros yang seperti bergerigi, langit tampak bersih. Planet Yupiter dan Saturnus sedang bergulung-guling bersama dengan sinar lembut yang bergerak perlahan, bersiap menyatu.

Ketika Artaban memperhatikannya, lihatlah, sebuah sinar biru tampak dalam kegelapan di bawah, mengitari warna ungu, mengitari sebidang merah, lalu bergerak ke atas dengan sinar berwarna safron dan lembayung, lalu menjadi putih cemerlang. Kecil dan nun di sana, namun setiap bagiannya sempurna, berdenyut dalam kubah seolah-olah tiga permata di dada orang Magi itu, bersatu dan berubah diri menjadi sinar yang benderang.

Dia menundukkan kepalanya. Dia menutupi alis dengan kedua tangannya.

“Inilah tandanya,” gumamnya. “Raja itu sedang datang. Aku akan ke sana untuk melihatnya.”

 

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

 

 

read more
Cerbung

Karavansara (7) – TAMAT

pexels-photo-432812

Aku merangkak menjauh dan berpegangan pada sisi pembaringan, tapi sebelum dapat berdiri Tuan Babak sudah melingkarkan kedua tangannya pada leherku. Aku ingin bersuara tapi tenggorokanku seperti tersedak dan badanku serasa begitu ditekan pada kaki pembaringan, aku begitu sesak sampai-sampai kabur atas apa-apa saja yang terjadi selanjutnya, sampai akhirnya genggaman Tuan Babak melemah dan yang berikutnya aku tahu dia sudah bersimpuh di hadapanku, memohon ampunanku dan meracaukan rasa cinta dan kasihnya padaku.

Dia hendak mengusap telapak kakiku dengan kecupan-kecupan ketika Shirin tiba-tiba muncul di belakang dan menghantamkan arca batu kecil dari India pada kepala Tuan Babak, lagi, lagi, lagi, dan lagi, sampai tubuh laki-laki tua itu terkapar dan dari batok kepalanya yang sudah hancur, merembes darah segar.

Semua itu terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, dan tanpa kusadari orang-orang dari lokakarya sudah mengintip segala sesuatu yang ada di pojok bilik. Istri kedua Tuan Babak masuk bersama Shahzad dan pandangan mata mereka secara spontan langsung tertuju pada mayat Tuan Babak dan arca batu di tangan Shirin yang ujungnya berlumuran darah. Untuk sekian detik yang sangat singkat mereka semua tertegun, mencoba mencerna semuanya dan berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku agak kaget melihat tak ada satupun dari mereka yang hendak bergerak cepat memberikan pertolongan kepada Tuan Babak, meski kukira itu sia-sia belaka sebab aku yakin beliau sudah tak lagi bernyawa.

Istri kedua Tuan Babak yang pertama bergerak, dengan cepat dan terkesan tergesa-gesa keluar entah ke mana dan hendak melakukan apa; aku tak tahu apa yang ada di kepalanya dan cuma bisa berharap kesumat pada Tuan Babak yang serupa dengan yang dirasakan Shirin, cukup untuk tak meletakkan kami pada posisi yang lebih menyulitkan. Tapi lantas beberapa pekerja lokakarya ikut berhamburan keluar dan Shahzad langsung menarik aku dan Shirin, meninggalkan bilik tersebut. Dia berkata bahwa kami bertiga sebaiknya pergi selagi masih ada kesempatan. Tapi ketika kami baru beberapa langkah meninggalkan toko, Shirin berhenti dan berkata bahwa dia tidak bisa ikut dengan kami. Dia berkata, “Harus ada yang bertanggung jawab agar kalian tidak ikut dipersalahkan dan jadi buronan.” Aku menolak dan berkata akan tetap di sini kalau Shirin tetap di sini. Tapi Shirin bersikeras, “Aku ingin kau pergi dari sini, Adikku, dan bebas dari gari-gari Tuan Babak seperti yang kukatakan tadi.” Aku membantah sekali lagi tapi Shahzad menengahi dengan mengingatkan bahwa kami tidak punya banyak waktu.

Aku merasa begitu enggan dan terluka harus meninggalkan Shirin, tapi Shahzad terus menarikku berlari menembus lorong-lorong dan pasar-pasar tanpa memberi kesempatan untuk bahkan melirik kembali ke arah kakakku. Tahu-tahu kami sudah tiba di kediaman Tuan Babak, membuat kebingungan istri pertama dan para pembantu dengan lagak kami yang begitu terburu-buru. Setelah menyiapkan bekal secukupnya, sebagaimana yang diperintahkan Shahzad, aku menemui Shahzad di kandang kuda Tuan Babak di belakang. Dan selanjutnya, dengan menunggang kuda Tuan Babak, kami sudah berhasil menjauh dari Isfahan ketika matahari terbenam.

Kami terus memacu kuda sesuai dengan Shahzad sebagai haluan, melewati jalur-jalur yang asing belaka bagiku. Shahzad berkata tujuan kami Khanat Bukhara. Setelah hampir satu hari dua malam berkuda, dengan sedikit perhentian untuk sekedar istirahat sekadarnya, kami tiba di sebuah karavansara. Barangkali tersebab kelelahan dan tak bisa tidak membuang pikiran tentang petaka-petaka apa yang mungkin menimpa Shirin, aku jatuh sakit dan kami pun harus tinggal untuk beberapa hari. Shahzad merawatku dengan telaten dan pada hari ketiga aku mulai membaik. Pada hari itu juga aku mendengar seorang musafir duduk di halaman karavansara dan bercerita tentang seorang pedagang kaya dari Isfahan yang baru-baru ini mati di tangan istri mudanya. Sebab musababnya, si istri muda merasa ditipu ketika mengetahui laki-laki itu ternyata seorang Sunni bertopeng Syiah. “Sungguh culas, ‘kan?” kata si musafir meminta persetujuanku.

Aku tidak menjawab musafir itu. Aku agak terkejut Shirin tahu cukup dalam tentang Tuan Babak—meski sebetulnya tak perlu mengingat apa yang dia tahu antara aku dan Tuan Babak—tapi aku lebih terkejut dia memanfaatkannya sebagai tipu daya yang barangkali bisa meringankan petakanya. Aku berharap dengan begitu Shirin setidaknya dapat baik-baik saja, tapi aku juga kembali teringat cerita yang dituturkan Tuan Babak dan entah bagaimana bangkitlah sedikit rasa bersalah atas harapanku tadi.

Aku juga teringat kisah Siavash, dan meski tak betul-betul sama, mungkin yang kurasa serupa dengan apa yang pangeran Majusi rasakan sewaktu pergi mengasingkan diri dari ayah tercinta.

Menyadari resah di mukaku, Shahzad berkata bahwa Shirin akan baik-baik saja. Aku tak teryakinkan, tapi cukup terhibur, dan ketika itu aku menyadari Shahzad sekarang berada di sampingku.

“Ke mana tujuan kalian?” tanya musafir tadi.

“Saya dan adik saya cuma musafir seperti Anda,” kata Shahzad.

Aku senang, dan sebetulnya tersipu, mendengar Shahzad menyebutku sebagai adiknya. Suatu bisikan dalam diriku bahkan berkata bahwa dalam perjalanan ini aku bisa jadi “istri di perjalanan” milik Shahzad. Tapi aku teringat pada Shirin dan merasa pikiran itu cabul dan tak pantas.

Karena aku sudah cukup sehat, Shahzad berkata kami sebaiknya melanjutkan perjalanan besok pagi setelah salat subuh, dengan dia sebagai imamnya.

 

 

*Rio Johan adalah penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

 

 

 

read more
Cerbung

Karavansara (6)

pexels-photo-191295 (1)

Tapi Tuan Babak muda tidak menyesali kejadian tersebut, dia malah mengakui kalau sejak dari pelarian sampai sekarang, apa yang dilakukan ayahnya kepada dirinyalah yang paling dia rindukan; dia menyesalkan keputusan ayahnya untuk mengasingkan diri. Tuan Babak merasa dirinya bagai seorang Siavash. Tuan Babak pernah menceritakan kerinduannya yang teramat-sangat tersebut pada pamannya dan nekat meminta agar pamannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayahnya, tapi pamannya menolak. Pada satu perjalanan bersama pamannya, Tuan Babak berjumpa dengan seorang saudagar yang memberikan tatapan ganjil serupa tatapan ayahnya. Tuan Babak memutuskan untuk meninggalkan pamannya dan mengabdi pada saudagar yang dianggap paria oleh orang-orang sekitar karena menolak punya harem atau seorang istri sama sekali. Bertahun-tahun mereka bersama sampai akhirnya sang saudagar meninggal dan Tuan Babak mewarisi semua hartanya.

Tuan Babak menghentikan ceritanya sampai di situ dan merangkul dan menciumiku sampai kami akhirnya tertidur lelap.

Kerman sedang menggelar suatu perayaan yang besar sewaktu kami tiba. Ini penghujung Zulhijah, Shahzad membisikiku, seluruh negeri sedang merayakan keberhasilan pembunuhan Umar bin Khattab oleh Firuzan. Aku ingat di Shiraz juga rutin diadakan perayaan pada penghujung Zulhijah; tanpa pernah tahu latar belakangnya, aku dan Shirin akan senantiasa ikut serta dalam hiruk-pikuknya dan kami akan mendapat makanan cuma-cuma tanpa perlu terlebih dahulu meminta. Di pusat Kerman kami menyaksikan sebuah patung kayu yang didandani dan dipahat seadanya dipajang tepat di tengah-tengah; orang-orang berkerubun mengelilingi patung yang dimaksudkan sebagai Umar bin Khattab tersebut, dan mereka pun berebutan melempari batu dan cacian (aku sempat mendengar seseorang berteriak begitu lantang, “O khalifah, masih sanggupkah berdiri di Gunung Arafah?”). Pada puncaknya, patung tersebut dibakar dan orang-orang tak berhenti menari-nari dan bersorak-sorai sampai Umar bin Khattab tumpas menjadi abu.

Aku melihat Tuan Babak terus berjalan menembus segala hingar-bingar tersebut. Tak ada perubahan berarti pada air mukanya, bahkan ketika tadi seseorang menawarinya batu dan dia harus mengambil dan ikut melempari patung Umar bin Khattab. Melihat itu, rasa iba pada Tuan Babak yang muncul sebelumnya, berubah menjadi suatu kekaguman pada ketabahannya.

Kami singgah di Kerman selama tiga hari dan enam belas hari kemudian sudah kembali ke Isfahan. Shirin menyambut bersama kedua istri Tuan Babak, tapi dia tidak mengucapkan apapun kepadaku. Aku agak terluka sebenarnya, tapi aku juga tak berani menyapanya. Anggapanku bahwa Tuan Babak akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri-istri yang dia rindukan dan memberiku lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Shahzad terbukti salah besar: kenyataannya adalah sebuah mukjizat kalau Tuan Babak sudi menyinggahi haremnya sekali atau dua kali dalam seminggu.

Belum sempat aku memikirkan bagaimana sebaiknya menjalin ulang hubungan baik dengan Shirin maupun Shahzad, Tuan Babak sudah merencanakan perjalanan lagi, satu yang terakhir tahun ini sebelum musim dingin membuat jajaran jabal mustahil dilewati. Tuan Babak hendak melancong ke timur laut menuju Asterabad, tempat di mana pelancong-pelancong dari Cina, India, dan Jawa akan singgah dengan barang-barang yang akan dibawa ke Eropa untuk persediaan musim dingin. Itu kesempatan bagus, menurut Tuan Babak.

Perjalanan tersebut baru dimulai dua minggu lagi sebab Tuan Babak ingin persiapan yang lebih matang dan lengkap. Dan aku bertekad kebisuanku dengan Shirin harus segera diakhiri sebelum itu, sebelum perjalanan dimulai dan situasinya niscaya mustahil diperbaiki. Titik nekatku muncul setelah tiga hari berturut-turut menyaksikan Shirin melintas menuju lokakarya dan berpikir keras tentang bagaimana memulai percakapan dengannya; aku menyerbu masuk ke lokakarya, membuat kaget pekerja-pekerja yang sedang menenun dan menggambari kain. Kulihat Shirin juga terkejut, kumanfaatkan kegentingan tersebut dengan menariknya masuk ke sebuah bilik istirahat di belakang dan langsung kutembakkan pertanyaan, “Apa sebetulnya salahku?”

Shirin tidak langsung menjawab, dia duduk di ujung pembaringan dan menatapku sejenak sebelum akhirnya membalasku dengan pertanyaan lain, “Tahu kau alasan sebetulnya Tuan Babak menjadikanku istri ketiganya?”

Tentu saja aku tak mampu menjawab dan Shirin mencibir dan menertawai ketidaktahuanku itu. Dia katakan akulah penyebab kenapa Tuan Babak harus menikahinya, dan dia mengucapkannya dengan penekanan yang membuatku tampak menyedihkan. Shirin menjelaskan, Pêro Dias sudah menikah, si orang Portugis  menegaskan itu di suratnya. Di Tehran Shirin sempat berdebat dengan Tuan Babak soal itu: Shirin yang keras kepala bersikeras menuntut Pêro Dias, mencarinya sampai ke negerinya yang jauh itu kalau perlu, tapi Tuan Babak berkata bahwa semua itu akan sia-sia semata dan Shirin harus berpikir lebih jernih. Betapapun Shirin terus membantah, dan pada satu titik dia berkata akan membawaku dalam misi merebut kembali kekasih Portugisnya. Pada titik itulah, menurut Shirin, Tuan Babak menjadi gusar. Pada Shirin dia tegaskan bagaimana keinginan bebalnya itu hanya akan membawa nasib bodoh padaku dan dirinya sendiri, juga betapa Shirin dengan keinginan bebalnya itu hanya akan menunjukkan bahwa dia betul-betul tak tahu berterima kasih atas segala kebaikan yang telah takdir curahkan padanya.

“Tuan Babak bahkan berkata kalau membiarkanku melakukan semua itu akan membuatnya merasa begitu berdosa dan hina,” kata Shirin yang kemudian diikuti dengan tawa lirih tapi cukup untuk menunjukkan kekalutannya.

Tuan Babak terus memojokkannya. Dan ketika Shirin sudah merasa begitu dungu dan putus asa, dengan lagak seorang bapak yang begitu bijak dan penuh tanggung jawab, Tuan Babak menawarkan diri untuk menikahi Shirin. Tawaran yang diikuti dengan iming-iming kemakmuran dan kebahagiaan itu terdengar tak terbantahkan, dan dalam kalut Shirin menerima satu lagi uluran kemurahan hati dari Tuan Babak.

“Seharusnya aku tahu… bodohnya aku…,” isak Shirin, dan aku dengan canggung meraih pundaknya dan mencoba menenangkannya. Tapi dia malah semakin menjadi dan dalam rintihnya dia menuding bahwa Tuan Babak menikahinya untuk mendapatkanku. Kukatakan kepada Shirin bahwa tidak semestinya dia berkata demikian kepada Tuan Babak dan barangkali sebaiknya dia istirahat dan menenangkan diri dulu. Tapi Shirin malah menyerapahi Tuan Babak, lalu menatapku nyalang dan mengajakku kabur dari gari-gari berwujud Tuan Babak. Aku mundur dan hendak mengatakan sesuatu tapi Shirin keburu memotongku, menyergapku, dan kembali mendesakkan kepadaku ajakan untuk kabur entah ke mana. Kukatakan pada Shirin bahwa idenya itu sinting dan pikirannya sedang lindap oleh kekalutan. Tapi Shirin malah mendakwaku telah terbutakan oleh segala yang telah Tuan Babak lakukan padaku, dengan sengit dia bahkan berkata, “Atau jangan-jangan kau sudah kecanduan jadi istrinya di perjalanan?” Entah bagaimana pertanyaan tersebut memantik gelisah, aku jadi merasa begitu buta kepada diriku sendiri dan Shirin terus-terusan memojokkanku dengan tudingan-tudingannya. “Kau tak akan menduga rahasia apa saja yang sudah merayap ke telingaku,” kata Shirin sambil melonggarkan sabuk celanaku lalu menancapkan genggamannya pada selangkanganku.

“Coba kulihat apa yang membuat laki-laki tua itu tergila-gila padamu!” Shirin mendengus seperti sedang kerasukan.

Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Shirin yang kuat dan menyakitkan, dan itu membuat semuanya jadi bertambah gaduh. Ketika itulah Tuan Babak tiba-tiba menyerbu masuk bersama seorang pekerja lokakarya, dan mukanya langsung beringas melihat aku dan Shirin di pojok bilik. Dengan ganas dia mendorong Shirin hingga terjatuh lantas dengan cepat buku tangannya langsung menampar keras pipiku. Tuan Babak berteriak bahwa aku telah mengecewakannya dan sebelum aku bisa menjelaskan satu tamparan sudah bersarang di pipiku yang satu lagi.

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Cerbung

Karavansara (5)

indian-lady-1309048_1920

Di Isfahan Tuan Babak bergegas menyuruh aku dan Shahzad membongkar muatan lalu menyimpan dan menatanya di toko, lalu menghilang entah ke mana—jelas Tuan Babak tidak punya rencana pasti dengan barang-barang yang dia borong tersebut, dan menurut Shahzad ini bukan tabiat beliau. Sorenya, ketika aku dan Shahzad sedang begitu sibuk di toko, Tuan Babak langsung masuk ke lokakarya, menemui istri keduanya dan membawanya pulang; dari para pembantu yang kutanyai, ada suatu pembicaraan rahasia dan serius antara Tuan Babak dan kedua istrinya di harem.

Pada makam malam keesokan harinya barulah Tuan Babak, yang sekarang sudah jauh lebih tenang dan kembali tampak bijak dan berwibawa, menuturkan niatannya untuk menjadikan Shirin sebagai istri ketiganya. Dan yang jauh lebih mengejutkan lagi, Tuan Babak menjelaskan kalau Shirin sudah menerima pinangan tersebut di Tehran, untuk itu dia merasa bersalah sebab telah mendahului restu kedua istrinya dan merasa perlu mengucapkan terima kasih dan puji syukur yang berlebihan kepada mereka.

Malamnya aku bertanya pada Shirin tentang keputusannya dan dengan singkat dia menjawab bahwa semuanya sudah dipikirkan secara matang. Sewaktu aku bertanya tentang Pêro Cabral, dia diam saja dan aku perlu memancing lebih jauh lagi dengan bertanya apakah ini berkaitan dengan surat yang dia terima di Tehran.

“Pêro Dias de Cabral tidak akan kembali dan tidak akan menjemput dan membawaku keluar dari nasib ini,” jawab Shirin dingin.

Dan ketika aku hendak bertanya lagi, Shirin langsung memotong dan dengan agak kesal menegaskan bahwa selama ini akulah yang menyuruhnya untuk berterima kasih dan menunjukkan bakti kepada Tuan Babak; aku tidak tahu harus berkata apa lagi setelah itu

Pernikahan Shirin disiapkan dalam waktu singkat tapi megah dan besar-besaran. Setelah ijab yang begitu penuh sorak-sorai (Shirin berpura-pura malu dan perlu ditanya kebersediaannya menjadi istri sebanyak tiga kali, dan orang-orang perlu menyeru-nyerukan guyonan, sebelum akhirnya menjawab iya dan seisi ruangan pun melengking kegirangan) dan serangkaian upacara adat lainnya, pesta besar-besaran digelar tujuh hari tujuh malam.

Sepanjang itu kediaman Tuan Babak selalu terbuka dan undangan-undangan dari seluruh penjuru kota bebas masuk dan mencicipi jamuan-jamuan yang dimasak empat kali sehari. Sutra paling mahal didatangkan langsung dari Abrisham dan dibentang sebagai pembuka jalan menuju perjamuan mereka; sepasang kandil tinggi dengan dipasang di pangkal kain tersebut dan lilin besarnya dibiarkan terus menyala sampai pesta usai; di belakangnya berjajar dulang berisi beragam rumput dan rempah yang aromanya menjejali ruangan; gula-gula dan manisan; anglo kecil; roti berkaligrafi dan roti-roti lainnya; telur-telur berhias; badam, kenari, dan kemiri; delima, apel, dan rumpunan anggur merah; gentong yang penuh oleh emas dan perhiasan; air mawar dan sari mawar yang baunya ikut bercampur di ruangan; semangkuk madu di mana Tuan Babak akan menjilat madu dari jari Shirin dan Shirin dari jari Tuan Babak; Al Qur’an dan buku-buku puisi pilihan Tuan Babak; kain-kain sutra lainnya yang didatangkan dari berbagai penjuru negeri, saling bertumpuk di atas kain sutra utama. Tujuh pasang setelan baru lengkap dengan tujuh jenis turban mahal juga disiapkan untuk aku dan Shahzad, dan sepanjang pesta itu aku terus memperhatikan Shirin dan Tuan Babak yang duduk bersamping-sampingan: seharusnya aku merasa bahagia, setidak-tidaknya untuk Tuan Babak, tapi entah kenapa aku justru menahan sedih.

Malam ketika semua upacara yang panjang dan melelahkan itu selesai, kuceritakan pada Shahzad kalau aku tak yakin dengan pernikahan tersebut; tapi aku tidak menjawab apa-apa ketika Shahzad menanyakan alasanku. Aku terdiam cukup lama, kemudian Shahzad mendekatiku, meraih mukaku dan mengecup bibirku. Aku kaget, tapi ketika aku hendak membalas bibirnya, Shahzad malah menjauh dan berkata, “Aku tidak mau mengkhianati Tuan Babak.” Aku kecewa dan merasa yang diucapkannya barusan tidak adil, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.

Sejak Shirin resmi menjadi penghuni harem Tuan Babak, aku jadi jarang bertemu dengannya. Shirin tak lagi berkeliaran di toko dan lebih banyak menghabiskan waktu di lokakarya; dia tak lagi mengunjungi kamarku dan tak berkata banyak sewaktu makan malam, salat, atau sekedar berpapasan, belakangan, sebagaimana kedua istri Tuan Babak, dia bahkan perlu mengenakan jubah besar dan kerudung ketat—dua hal yang tak pernah menempel pada tubuhnya sebelumnya—tiap kali hendak berpergian ke luar. Suatu malam Shahzad datang ke kamarku dan berkata bahwa Tuan Babak memintaku ke kamarnya. Aku tidak tahu harus merasa bagaimana, aku tahu apa yang akan Tuan Babak lakukan padaku dan untuk itu aku merasa bersalah pada Shirin, tapi ada sesuatu dalam diriku—terlepas dari hal-ihwal seputar Shirin dan Shahzad yang sekarang malah jauh dari harapanku—yang tidak kuasa menolak Tuan Babak; ada bagian dari diriku yang merasa muak sebab telah dibutakan oleh rasa baktiku sendiri kepada Tuan Babak dan membiarkan semua itu terjadi begitu saja padaku, tapi ada bagian lain yang terus-menerus membiusku dengan segala kebaikan-kebaikan yang telah kuterima dan membuatku perlu merasa bahagia mengabdi kepada Tuan Babak. Pada akhirnya aku tetap mamenuhi panggilan Tuan Babak—juga panggilan-panggilan pada malam-malam selanjutnya—dan dengan sukarela menerima segala perlakukan Tuan Babak atas tubuhku.

Musim gugur baru akan dimulai dan Tuan Babak berkata akan melakukan perjalanan lagi, ketika itu belum genap satu bulan sejak pernikahannya dengan Shirin. Ada barang-barang yang harus diantar ke Yazd dan beliau juga berniat memasok beberapa barang baru dari Kerman. Parjalanan tersebut terasa berbeda bagiku, bukan hanya karena Shirin tak lagi diikutsertakan, tapi juga karena semua hal yang telah kualami secara keseluruhan. Aku merasa telah terbentang padang pasir yang begitu luas antara aku dan Shahzad, sumber dari segala dahaga dan siksa yang harus kutekan dalam-dalam; segala kebaikan dan ketulusan yang ditunjukkan Shahzad malah semakin membuatku sesak.

Aku merasa situasi ini malah membuat Tuan Babak makin leluasa menggilaiku; ketika aku berdua dengannya, dia akan bertindak sehalus mungkin, tangan lembutnya akan menghiasiku dengan macam-macam mainannya, dan tak lama kemudian dia akan meremasku dengan kasar; dia akan mencengkeram, memeras, menghimpit, dan mendesak tubuhku sekeras yang dia mampu. Setelah usai Tuan Babak sering memintaku tetap bersamanya, berbaring berdua dengannya, dan menemaninya sampai pagi.

Di karavansara terakhir sebelum kami tiba di Kerman, Tuan Babak bercerita ketika kami sedang berbaring menunggu syahwat dan keringat masing-masing kering:

Tuan Babak lahir di Tabriz dan baru berumur sembilan tahun ketika Shah Ismail mengutuk para pengikut Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ayahnya seorang ulama, cendekiawan, dan seniman Sunni, dan tak bisa berbuat banyak sewaktu semua yang dia miliki disita untuk pembangunan masjid Syiah; Tuan Babak bahkan percaya kalau ayahnya ikhlas ketika itu. Tapi dia tidak yakin—atau tidak mau meyakini—bahwa ayahnya tetap tulus hati ketika Shah Ismail menggunakan pedangnya untuk menyebarluaskan Syiah di negeri ini. Tuan Babak kecil menyaksikan sendiri masjid-masjid Sunni dibakar dan orang-orang yang menolak masuk Syiah dianiaya, dipenjara, diusir, bahkan dieksekusi langsung untuk dijadikan contoh. Sebelum keadaan makin memburuk, Tuan Babak dilarikan ke Soltaniyeh bersama seorang kerabat, seorang paman yang sudah menyerah dan melepaskan keyakinan Sunni-nya. Tuan Babak aman bersama pamannya, seorang pedagang yang kelak akan mewariskan segala kecapakan perdagangan padanya, tapi dia tidak dapat tidak merisaukan nasib keluarganya di Tabriz. Oleh pamannya, Tuan Babak diajari apa-apa saja yang harus dikatakan dan apa-apa yang pantang diucapkan ketika berhadapan dengan petugas-petugas pemeriksa tiap kali mereka keluar masuk kota. Ketika singgah di Shirvan, Tuan Babak menyaksikan secara langsung pembantaian orang-orang Sunni, dan dia kembali teringat pada keluarganya yang tak dia tahu lagi bagaimana nasibnya. Tuan Babak muda merasakan geram dan kalut, dan seorang  tentara Shah mendekat dan menyuruhnya melafalkan syahadat lengkap dengan nama dua belas imam, untungnya Tuan Babak berhasil melakukannya dan pamannya langsung dengan cerdik membawa mereka keluar dari kota itu sebelum keadaan semakin tak keruan.

Ayahnya tetap bersikeras menolak mengikuti ajaran Syiah dan sebagai salah satu pemuka Sunni di Tabriz, dia dijadikan contoh untuk orang-orang. Sementara ibunya konon mencoba melarikan diri menuju tanah orang-orang Kurdi bersama istri-istri ayahnya yang lain; itu kabar terakhir yang Tuan Babak dengar dan dia pun tak pernah mendapat kesempatan sama sekali untuk berjumpa dengan mereka.

Dari ayahnyalah Tuan Babak mengenal keindahan puisi: dari puisi-puisi pengobatan—begitu sang ayah menyebutnya—Abu Ali Sina sampai ghazal-ghazal Sufi yang sarat akan kecabulan tersembunyi; dari syair-syair kuno Akhmeniah, sajak puja-puji Sasaniyah, sampai nazam-nazam populer Safawiyah; dari kata-kata mulia dan luhung Asjadi sampai kecintaan Rudaki pada alam; puisi-puisi Sana’i, Nizami, Anvari, Shirvani, Sadi, Hafiz Shirazi, dan nama-nama yang tak mungkin dia sebut semuanya. Kadang-kadang, ayahnya akan membacakan beberapa lembar atau baris untuknya sambil memberi uraian dan tafsir atau malah membuka diskusi untuk perenungan. Pada satu kesempatan, ayahnya membacakan beberapa halaman tentang Siavash, seorang pangeran Majusi yang menunggangi kuda berwarna malam dan menolak kecamuk gairah Sudabeh, ibu tirinya, atas dirinya. Tak terima, sang ibu tiri lantas memalsukan pemerkosaan dan keguguran di mana Siavash yang dituding sebagai dalang utamanya. Siavash dituntut membuktikan ketidakbersalahannya dengan mengendarai kudanya menembus kobaran api raksasa, dan manakala berhasil, sang Shah, ayahnya, malah bersikap semakin dingin terhadap dirinya demi mempertahankan Sudabeh, putri kerajaan sekutu di Timur. Pangeran malang itu pun memutuskan untuk mengasingkan diri dan pada akhirnya berakhir nahas di negeri asing.

Tuan Babak tidak betul-betul ingat apa yang terjadi selanjutnya; yang dia yakini, ayahnya tidak melanjutkan epos tersebut dan dia menatap balik ayahnya, mengira barangkali beliau sekadar memberi jeda untuk perenungan. Tapi jeda itu terlalu lama dan tatapan ayahnya terlalu ganjil, dan Tuan Babak malah bercerita bahwa ayahnya memang sering melantunkan ghazal-ghazal tentang kerupawanan anak laki-laki yang membawakan lilin dan anggur, tentang rasa iba atas tubuh indah anak laki-laki malang Utsmani yang disiksa oleh pasukan Shah, tentang anak laki-laki gagah berani yang menunggangi kuda sembrani, tentang anak laki-laki dengan bibir semerah rubi, tentang anak laki-laki yang sanggup menjajah keteguhan hati dan keyakinan orang-orang—Tuan Babak merasa seakan-akan semua bait itu ditulis semata-mata hanya untuknya sebagaimana tatapan ganjil ayahnya ketika itu.

“Dia melakukannya dengan lembut dan pelan,” kata Tuan Babak, “Dia yakinkan bahwa aku akan baik-baik saja dan apa yang akan dia lakukan semata-mata adalah pendidikan yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya.”

Tiga hari setelah itulah ayahnya mengirim pamannya ke Soltaniyeh. “Sang Guru benar-benar memanfaatkan kesempatan terakhirnya,” gurau Tuan Babak.

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Cerbung

Karavansara (4)

camel-172880_1920

Segalanya berangsur-angsur mereda. Kuraih bantal terdekat dan aku pun berbaring: terlentang, telanjang, dan basah oleh keringat. Aku ingin mengenakan pakaianku, juga ingin mencari Shahzad dan melihat apakah dia masih di sana memunggungiku, tapi aku begitu lelah dan tetap berbaring menghadap sarang lebah di atas sana. Tuan Babak berbaring di sampingku dan mengembuskan ucapan-ucapan semacam betapa cermin seharusnya tersipu malu atas kehadiranku; mengutip Kai Ka’us bin Iskandar, raja dari dinasti ratusan tahun silam yang ibundanya berleluhur mamluk Turki, “Aku akan seperti musim panas untuk laki-laki dan musim dingin untuk perempuan”; dengan berlebihan berkhayal bahwa berjumpa denganku membuatnya merasa menjadi seorang Beha ed-Din Zoheir, sang penyair Mesir, dan berkata adalah sebuah kerugian besar penyair Ahmed bin Yusuf al Tayfashi tidak berjumpa denganku semasa hidupnya; dan terakhir yang kuingat, sebelum akhirnya terlelap oleh lelah dan buai bualannya, dia janjikan kepadaku sebuah bungalo yang lebih besar dan megah daripada yang kami tempat sekarang ini, akan dia hiasi dengan bunga-bunga, buku-buku, anggur-anggur, dan burung-burung yang pandai berkicau setiap hari.

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, setelah Tuan Babak mengucapkan perpisahan pada kawan Azerinya, kami berangkat meninggalkan Qum dan langsung menuju Tehran. Perih yang ditinggalkan Tuan Babak semalam membuatku agak kerepotan duduk di atas unta, tapi sebisa mungkin aku berlaku bagai semuanya baik-baik dan nyaman-nyaman saja. Aku juga sempat khawatir bagaimana Shahzad akan bersikap padaku, tapi dia tetap ramah dan baik, tetap mengajakku bicara dan bergurau tanpa perlu mengungkit sekalipun kejadian malam itu. Shahzad tak berubah bagai tak terjadi apapun dan aku bersyukur, tapi aku tetap tidak bisa mengusir gambaran Shahzad yang memunggungiku, menjauh dan mengabur.

Sekitar separuh perjalanan mendekati Tehran kami berkemah. Di dekat api unggun Shirin bercerita tentang bagaimana penghuni harem saudagar Azeri di Qum betul antusias terhadapnya, menanyainya apakah dia sering melakukan perjalanan jauh seperti ini bersama laki-laki, bagaimana seorang perempuan bisa melakukan perjalanan jauh seperti itu, dan kenapa dia tidak memilih bersemayam di harem sebagaimana perempuan lain dan menunggu cinta dan belas kasih dari laki-laki yang dihormati. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran kakakku ketika itu, tapi Tuan Babak tidak membalasnya, aku dan Shahzad juga tetap diam saja, dan karena itu Shirin melanjutkan, “Aku sebentar lagi tujuh belas tahun.”

“Dan kau mau menukar kebebasan langka yang kuberikan padamu untuk sebuah kehidupan harem, Anakku?” tanya Tuan Babak.

“Setidaknya aku setuju tentang cinta dan belas kasih,” Shirin berkata lirih.

Malamnya Shahzad membangunkanku. Kupikir sudah giliranku jaga, tapi ternyata Shahzad membangunkanku atas perintah Tuan Babak. Aku masuk ke dalam tenda Tuan Babak dan beliau langsung menyuruhku melepaskan baju.

“Anakku, senangkanlah hatiku, makanlah anggur ini dan peluklah aku,” dengan suara yang seperti bernyanyi Tuan Babak berkata sambil memasukkan sebutir anggur hijau ke dalam mulutku. Tuan Babak mengeluarkan kain sutra yang lembut dan bercorak halus, lalu melilitkannya pada tubuh telanjangku, sambil memanggilku dengan berbagai sebutan, “Anakku! Wazirku! Pangeranku! Burung Kenari yang Akan Senantiasa Melantunkan Ghazal-ghazal Fuzuli dan Rumi Untukku!” Dia kenakan sehelai gaun yang begitu bening dan bersulam emas dan perak pada tubuhku, dia tambahkan beberapa gelang dan kalung manik-manik, pelan-pelan dia poleskan pupur pada mukaku dan dia ulaskan celak pada mataku; sembari melakukan semua itu bibirnya tak henti-henti mengarang julukan-julukan untukku, dan di antara semua itu ada satu yang berkali-kali dia ulang bahkan pada ritus-ritus kami kelak: “Istriku di Perjalanan.” Manakala dia sedang memberikan sentuhan terakhir pada ujung mataku—yang berujung pada julukan, “Mata Panahku! Tali Jeratku!”—aku bertanya, “Bagaimana dengan Shahzad?”

“Duhai Perangkap Kebijaksaanku, sudah habis aroma susu pada kuncup bibirnya, dan sekarang hanya engkaulah, Bahadurku, yang mampu membuat malu bulan dan bintang di langit sana.”

Setelah beres memulasku, Tuan Babak menyodorkan cermin, dan kulihat mukaku sekarang lebih menyerupai salah satu penghuni harem milik kawan Azeri-nya daripada seorang remaja jembel yang dia pungut dari Shiraz. Tanpa kusadari Tuan Babak sudah mendengusi kulitku dan tangannya sudah mencengkeram tubuhku, dan yang bisa kulakukan cuma pasrah dan berserah sampai semuanya selesai dan aku tertidur di tenda Tuan Babak karena terlalu lelah. Malam itu Shahzad berjaga di luar sendiri, sampai subuh datang dan dia membangunkan kami untuk salat. Aku jadi merasa begitu segan pada Shahzad, lebih-lebih atas apa yang telah aku dengar dari mulut Tuan Babak. Aku merasa telah mencuri sesuatu dari Shahzad, dan dia tetap begitu tulus padaku.

Sewaktu kami tiba di gerbang besar Tehran, seorang pemuda langsung menghampiri kami. Pemuda yang mengaku sebagai kurir itu berkuda langsung dari Isfahan dan sudah seminggu menunggu kedatangan kami. Dia mencari Shirin dan langsung saja menyerahkan surat dari Kedutaan Portugis. Bisa kulihat Shirin begitu berbinar menerima surat tersebut, tapi dia tidak langsung membacanya. Ketika kami tiba di penginapan, barulah Shirin begitu tak sabar pamit pada Tuan Babak untuk langsung ke kamar dan beristirahat sampai makan malam nanti.

Tuan Babak menyuruh aku dan Shahzad langsung memasok perbekalan kembali untuk perjalanan menuju Qazvin, sementara dia akan pergi cukup lama untuk bertransaksi dengan salah satu kenalannya di pasar. Karena Tuan Babak sudah berpesan demikian, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di kedai penginapan. Shirin bergabung dengan kami tak lama kemudian dan kulihat kegirangan pada mukanya sudah cukup berkurang. Kutebak dia sudah membaca surat tersebut, meskipun aku sudah tahu siapa pengirimnya, juga punya gambaran apa yang mungkin tertulis di dalamnya, aku tetap memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Tapi Shirin menolak bercerita, meskipun dia mengakui kalau surat tersebut memang ditulis oleh Pêro Cabral. Garis muka Shirin yang sekarang datar-datar saja, tak menunjukkan jejak-jejak beban maupun kegembiraan, membuatku bingung dan meragukan dugaanku sebelumnya.

Karena urusan tawar-menawar Tuan Babak belum selesai juga, kami perlu bermalam di Tehran sehari lagi. Aku dan Shahzad berniat mengajak Shirin keliling kota, tapi dia tidak di kamarnya. Shahzad bercerita ini sudah yang kelima belas kalinya dia mengunjungi Tehran bersama Tuan Babak; dia menjelaskan tentang tembok besar dan menara pengawas yang dibangun di empat titik kota, dan lantas dia bercerita tentang pengaruh-pengaruh orang-orang Yesuit di Tehran dan betapa Tuan Babak membenci hal itu; mendengar cerita-cerita yang menandakan betapa Shahzad sangat memahami Tuan Babak malah mengembalikan rasa bersalahku pada Shahzad.

Kami keluar dari pasar menuju jalanan yang lebih tenang, dan Shahzad bercerita bahwa dia bukanlah yang pertama, dan sebelum dia ada satu budak Makedonia dibeli dan diselundupkan Tuan Babak. Budak yang begitu menawan itu didandani dan diajari cara hidup orang-orang Farsi, tapi budak itu menolak, dia bahkan menolak mengganti namanya dari Alexander menjadi Iskandar, dan Tuan Babak mau tidak mau harus mengembalikan dia ke Anatolia, tempat beliau menemukannya; dia tidak menelantarkannya, dia menjual budak itu pada bangsawan Anatolia yang dia yakini akan memperlakukannya secara baik. Tak lama setelah itu Tuan Babak menemukan Shahzad di Nishapur, dan sampai sekarang kadang-kadang Shahzad merasa kalau dia tak lebih dari pengganti budak Makedonia itu, dan barangkali budak Makedonia itu sebetulnya pengganti orang sebelumnya lagi; Shahzad tidak tahu apakah kesemuanya itu sebetulnya menggantikan sesuatu atau sesosok yang utama atau sekedar rantai yang tak ada ujung-pangkalnya. “Ada yang aku pahami tentang Tuan Babak, tapi ada juga yang tidak aku pahami,” kata Shahzad.

“Tuan Babak begitu menyukai budak Makedonia itu tapi dia bersikeras mengubahnya jadi orang Farsi,” Shahzad berkata setelah jeda singkat dari ucapannya tadi, “Tuan Babak melakukan tawar-menawar dengan orang Inggris dan Portugis tapi menolak pengaruh orang-orang Yesuit di Tehran. Segigih apapun orang Portugis itu menawar, aku tidak yakin Tuan Babak sudi menyerahkan Shirin padanya.”

Bagai suatu kebetulan, tak lama setelah itu kami mendapati Shirin dari kejauhan, baru saja keluar dari Gedung Kedutaan Portugis. Aku memanggilnya tapi dia tidak mendengar dan terus saja berjalan. Aku yang dia lakukan di sana pastilah berkaitan dengan surat dari kekasih Portugisnya, tapi dia cuma tersenyum tipis dan tidak menjawab apa-apa ketika kutanyakan pada waktu makan malam. Tuan Babak muncul ketika kami hampir selesai makan malam, dia mengejutkan kami dengan keputusan baru, “Kita tidak jadi ke Tabriz. Kita akan kembali ke Isfahan besok.” Sebelum kami sempat bertanya, Tuan Babak menjelaskan bahwa dia sudah memberi kabar rekannya di Soltaniyeh dan Tabriz soal pembatalan perjanjian dan akan membayar kompensasinya; dia juga sudah menjual semua barang dagangan kepada kerabatnya di Tehran, hampir dua pertiga dari harga yang bisa dia dapat semestinya, tapi itu bukan masalah baginya; dia juga sudah memasok beberapa barang baru untuk dibawa ke Isfahan dan menyuruh Shahzad untuk mengurusi besok pagi. Secara spesifik dia tidak menjelaskan alasan keputusan tiba-tibanya itu, tapi dia katakan ada sesuatu yang sangat genting yang hendak dia lakukan di Isfahan. Dan seolah-olah tidak ingin mendapat pertanyaan sama sekali, dia langsung kembali ke kamarnya begitu saja. Malam itu Tuan Babak tidak memanggilku ke kamarnya, dan untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan ini akhirnya aku bisa mendapatkan kesempatan yang cukup berarti bersama Shahzad; namun, yang Shahzad lakukan di kamar setelah mengimamiku salat hanya menyuruhku cepat-cepat tidur dan bangun dini hari.

Barang-barang yang akan dibawa Tuan Babak kembali ke Isfahan ternyata tidak terlalu banyak, maka aku dan Shahzad bisa cepat membereskannya. Kami membuat buntalan-buntalan yang lebih kecil dari biasanya, dan agar pembagiannya lebih merata, kami membagi buntalan bekal perjalanan menjadi lebih kecil. Kami menghabiskan waktu cukup lama untuk membungkus barang-barang pecah-belah, dan sisanya kami padatkan seadanya. Ketika mulai siang, sedikit terlambat dari waktu yang ditargetkan Tuan Babak, kami sudah selesai mengikat masing-masing buntalan pada tiap unta, lalu kami pun berangkat.

Karena beban yang tak terlalu berat dan keinginan Tuan Babak untuk cepat sampai, kami tiba di Isfahan dua hari lebih cepat daripada perjalanan keberangkatan. Tuan Babak tidak banyak bicara di sepanjang perjalanan; dia bahkan cuma tiga kali saja memanggilku untuk masuk ke dalam tenda atau kamarnya di karavansara, dan ketika itu pun Tuan Babak tetap tergesa-gesa: tanpa  memolesku atau membuaiku dengan sanjungan-sanjungan terlebih dahulu dia langsung menancapkan berahinya padaku dan menyuruhku segera istirahat agar bisa berangkat cepat keesokan harinya.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Cerbung

Karavansara (3)

henna-2545152_1280

Shirin tidur di tempat khusus perempuan, sementara aku menghuni sebuah kamar yang lumayan besar dengan tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Sebelumnya aku sempat berkata kepada Tuan Babak kalau aku bisa sekamar dengan Shahzad untuk menghemat pengeluaran. Entah karena dorongan apa, mulutku spontan saja mengucapkannya.

Tuan Babak menolak dan berkata kalau Shahzad akan tidur di kamar lain. Ketika aku diam-diam mengikuti Shahzad dari belakang, barulah aku tahu kamar lain yang dimaksud ialah kamar Tuan Babak sendiri. Firasatku langsung membawaku kembali pada apa yang aku lihat di dalam tenda Tuan Babak pada perjalanan pertama kami. Dan dengan begitu jelas aku mulai mengkhayalkan semua kemungkinan yang bisa terjadi pada Shahzad di dalam kamar Tuan Babak, sampai akhirnya aku tertidur dan mendapati sela pahaku sudah basah ketika bangun.

Pagi-pagi sekali kami melanjutkan perjalanan, lebih dulu dari rombongan Turki yang ketika itu sedang sibuk membenahi tambahan bekal perjalanan mereka. Shahzad menyempatkan diri menggoda Shirin, menyindir apakah Shirin tidak ingin memberikan tanda perpisahan yang tak terlupakan kepada kawan-kawan Turki, atau semacam itu. Aku tidak betul-betul memerhatikan sebab kepalaku masih bersarang sisa-sisa lamunan seputar Shahzad dan Tuan Babak.

Kami terus melaju mengikuti jalur yang dipilih oleh Shahzad, melintasi bukit-bukit gersang; sesekali angin kecil berhempus, menampar kulit bersama debu dan panas yang di bawahnya. Shirin sepertinya sudah mulai mampu berpikir sehat untuk tidak bertingkah kekanak-kanakan dan menghabiskan isi kantung airnya sekaligus. Petangnya, karena tidak berhasil mencapai desa terdekat dalam waktu yang sudah direncanakan, kami terpaksa berkemah di bawah naungan ngarai kokoh. Shahzad mendapat giliran jaga pertama dan aku diam-diam mengintip dari balik tenda. Shirin beberapa kali bertanya apa yang aku lakukan, tapi aku tidak menjawab, dan pun pada akhirnya tertidur sementara aku terus mengintip dan berharap sesuatu bakal terjadi. Dan sesuatu memang terjadi tak lama kemudian: sayup-sayup kudengar suara memanggil dari arah tenda Tuan Babak. Kemudian, alih-alih terus berwaspada di dekat api unggun, kulihat Shahzad menoleh, berdiri, lalu melangkah menuju tenda Tuan Babak. Sejenak aku tetap tertegun menatapi ruang kosong di luar tendaku, tempat sosok Shahzad sebelumnya ada dan kini tengah bersemayam dalam genggaman Tuan Babak. Aku mencoba merenungkan semua itu dan mendapati ada dua sosok Tuan Babak dalam kepalaku: Tuan Babak yang baik dan saleh, yang petang tadi menjadi imam salat kami; dan yang begitu dikuasai kehausan akan Shahzad. Aku mencoba memahami bagaimana kedua sosok tersebut bisa mewujud menjadi satu keutuhan Tuan Babak yang begitu kuhormati, dan karena pada satu sisi perhatianku terus mengarah pada gambaran tubuh Shahzad yang liat dan siap dijajahi tangan-tangan Tuan Babak, aku menyerah, satu-satunya yang bisa kusimpulkan adalah ada satu sisi dari kesetiaan Shahzad pada Tuan Babak yang tidak aku pahami sama sekali, dan aku merasa bersedih atas itu. Aku pasrah, kubiarkan sesuatu dalam diriku memuncak dan menyisakan jejak pada kelangkangku. Lalu aku pun berbaring dan tertidur tanpa peduli pada keringat dan sisa lengket di tubuhku.

Paginya, seusai salat subuh berjamaah. Aku maju mendekati Tuan Babak, sambil menunduk kuraih tangannya, lalu kucium pelan. Ketika itu aku tidak betul-betul yakin apa yang aku harapkan dari aksi spontan itu. Belakangan setelah kurenungkan lagi, barangkali aku sekedar ingin Tuan Babak betul-betul menyadari keberadaanku; barangkali dengan begitu satu gairah banal dalam diriku dapat terpenuhi: untuk merasakan apa yang dirasakan Shahzad. Penjelasan itu agaknya terdengar cukup aneh bahkan untukku sendiri, tapi itulah satu-satunya yang dapat kupikirkan tentang keputusanku ketika itu.

Sejak itu aku mulai misi mencuri perhatian Tuan Babak. Aku akan menyimak perkataannya dengan seksama, kata per kata, meski sekadar gurauan kosong belaka, bukan karena aku ingin betul-betul memahami tiap-tiap ucapan yang keluar dari mulutnya, tapi semata demi harapan Tuan Babak dapat menangkap mataku yang lurus menatap matanya dan menangkap apa yang aku inginkan darinya; aku akan senantiasa mengecup telapak tangan Tuan Babak, sesudah salat dan sebelum menuju pembaringan masing-masing, sesudah makan dan sebelum memulai kembali perjalanan; siang pada hari ketujuh, ketika kami tiba di Kashan dan baru saja menitipkan unta-unta di penginapan, aku bahkan dengan canggung menyampaikan suatu pernyataan terima kasih dan syukur yang janggal kepada Tuan Babak atas segala yang telah dia berikan kepadaku dan kakakku, yang sia-sia dan malah dimaknai sebagai pertanda kedewasaan oleh Tuan Babak sendiri (dan oleh Shahzad disalahartikan sebagai sikap salah tingkah akibat terlalu lama terpapar panas). Betapapun aku berusaha, tak kunjung juga kudapatkan tanda-tanda keberhasilan; sikap Tuan Babak kepadaku tetap tak ada bedanya, ketakacuhan yang sama dengan yang telah beliau tunjukkan kepada Shirin menjulang tinggi menghalangiku. Aku putus asa, dan dalam kenelangsaan aku malah merasa telah melakukan hal yang tak jauh beda dengan Shirin. Tiba-tiba aku merasa jahat dan mesum; kutanamkan bahwa setidak-tidaknya yang kulakukan tidak mencoreng rasa segala kebaikan hati yang telah Tuan Babak kucurkan kepadaku, suatu pembenaran yang membuatku malah merasa mereput di hadapan Shirin.

Aku seharusnya membantu Shahzad memasok perbekalan, tapi yang kukerjakan di pasar cuma melamun meratapi kemalangan. Sambil melangkah melintasi toko demi toko, Shahzad terus bercerita panjang lebar tentang khatifah khas Kashan dan perbedaan corak dengan buatan Qum, Nain, dan Isfahan; tak sekalipun dia protes padaku—Shahzad yang baik itu.

Kami meninggalkan Kashan keesokan pagi dan tiba di Qum lima hari selanjutnya. Berhubung Tuan Babak tidak ingin singgah lama dan ingin cepat-cepat tiba di Tehran yang kurang lebih tinggal empat hari perjalanan, kami cuma istirahat sekadarnya di penginapan murah di Qum. Sepanjang itu aku mencoba mengakrabi Tuan Babak, memancingnya bicara dan dia pun akan bercerita panjang lebar tentang ketegangan-ketegangan ketika memasuki perbatasan Utsmani, atau dihadang orang-orang Darazi di Jabal Amil. Pada satu titik tingkahku tersebut begitu banal sampai Shirin berkata, “Kau seperti orang pesakitan yang manja saja!” Aku agak tersinggung tapi tidak membalasnya sama sekali.

Dalam perjalanan dari Qum menuju Tehran, di atas unta aku kembali memancing Tuan Babak, dan dia bercerita tentang perjumpaannya dengan budak-budak Yunani yang dikirim ke Mesir melalui Semenanjung Anatolia. Sebagian dari mereka merupakan anak laki-laki yang masih begitu belia, mereka akan menjadi pembantu tentara atau pelayan di pemandian, dan Tuan Babak merasa iba. Ketika kutanya apa yang membuat Tuan Babak secara khusus bersedih kepada para anak laki-laki muda tersebut, dia terdiam cukup lama, lalu menoleh kepadaku dan tanpa kuduga menjawab, “Karena mereka muda dan tampan sepertimu, Anakku. Apa yang telah hidup tawarkan kepada mereka sungguh sesuatu yang sia-sia.”

Jawaban tersebut menumbuhkan sedikit harapan padaku, membuatku menunggu-nunggu suatu pertanda bahwa Tuan Babak tahu kalau aku sudah siap untuknya. Aku duduk bersila di kedai makan di Qum menghadap sajian lengkap hidangan khas wilayah barat yang disiapkan khusus oleh kerabat baik Tuan Babak, seorang Azeri kaya raya yang haremnya sarat oleh perempuan berbagai usia; aku duduk langsung berhadap-hadapan dengan Tuan Babak, dipisahkan oleh piring-piring berisi shekerbura, qurabiya, dushbara yang disusun sedemikian rupa, tapi Tuan Babak lebih tertarik menghabiskan waktu bernostalgia dengan kawan lamanya, bercerita tentang bagaimana tuan kami itu telah betul-betul berjasa membantunya di masa silam sewaktu terjadi penjagalan besar-besaran orang Sunni, juga tentang bagaimana pria Azeri tersebut membantu tuan kami keluar-masuk wilayah Utsmani; peluangku mustahil ada tapi aku terus menyimak dan menatap Tuan Babak sampai-sampai aku hampir luput menjawab tawaran dovga atau sekedar teh rempah dari tuan rumah.

Kami bermalam di kediaman megah laki-laki Azeri itu. Penghuni harem dan para pembantu yang kesemuanya berpakaian berlapis-lapis—keduanya dibedakan oleh kerumitan corak dan kemeriahan ornamennya—menyambut kedatangan kami. Shirin dibawa ke kamar perempuan oleh beberapa pembantu, sementara kami sisanya mendapat satu bungalo besar yang terpisah dari bangunan utama. Bagian dalamnya berupa satu ruangan segi delapan besar yang penuh dengan dinding berukiran dan berkaligrafi, lukisan-lukisan miniatur dipajang di beberapa tempat, dan khatifah yang menurut Tuan Babak didatangkan dari berbagai penjuru, sekilas tampak disusun secara acak tapi memberi kesan unik pada ruang peristirahatan tersebut; satu permadani besar bercorak pohon raksasa berwarna biru dengan puluhan, atau ratusan, jenis tanaman dan binatang kecil di sekitarnya terbentang tepat di tengah-tengah. Aku berbaring beralas bantal bersulam di atas permadani tersebut, mataku terkagum-kagum menatapi muqarnas yang menghiasi bagian dalam kupel di atas; “Mirip sarang lebah,” kata Shahzad, “dan semuanya mengerucut mengelilingi sarang induknya yang paling besar.”

“Di sinilah Husin al-Akbar bersenang-senang dengan salah satu atau lebih penghuni haremnya tiap malam,” kata Tuan Babak tentang kawan Azerinya, dan ketika itulah aku sadar kalau beliau sudah berbaring di sampingku, menatapiku dengan pandangan yang sudah berhari-hari ini kutunggu-tunggu. Shahzad menjauh, memisahkan diri di salah satu sudut ruang dan berbaring memunggungi kami. Sementara jari-jari Tuan Babak menjelajahi tubuhku sambil membuka lapis demi lapis pakaianku, aku terus menatap Shahzad, memikirkan apa yang dirasakannya sekarang, apa yang dirasakannya ketika Tuan Babak melakukan hal yang sama kepadanya. Sisanya terjadi begitu saja; bersama nyeri yang dibawa Tuan Babak pada tubuhku, datang juga nikmat dan syahwat, dan ketika semuanya mulai mengarah pada lonjakan puncak, aku kembali mencoba mencari Shahzad, tapi sinaran lilin-lilin di dinding bagai membiasi mataku, membuat sosok Shahzad bagai begitu jauh dan kabur.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Cerbung

Karavansara (2)

zagora-1541152_1920

Berhubung Tuan Babak menganggap sekolah sebagai sistem yang mubazir belaka, maka Shahzad ditugaskan untuk mengajari dan mendidik aku dan Shirin (khusus untuk Shirin, istri kedua Tuan Babak sempat protes, “Kenapa gadis dusun itu tidak menenun lampas di lokakarya saja?”; Tuan Babak tak acuh dan terus berlalu).

 

Sejak itu aku dan Shirin ditugasi banyak hal oleh Shahzad: belajar berhitung, membaca dan menulis Persia dan sedikit-sedikit Arab juga Azeri, menghapal harga dan jenis barang jualan, membedakan kopi, gula, dan rempah yang bagus dengan yang buruk, dan kadang-kadang kami diajari berkuda dan menggunakan belati untuk melindungi diri. Shahzad juga bertindak sebagai guru membaca Al-Quran dan imam salat pengganti Tuan Babak. Pada waktu lenggang Shahzad akan menunjukkan koleksi kuda Tuan Babak dan kami pun diajari menunggang kuda berkeliling Isfahan. Mau tidak mau aku dan Shirin harus patuh pada Shahzad. Suatu hari aku bercanda bahwa segala yang tengah aku jalani ini tiada lain adalah latihan untuk menjadi “tangan kanan kedua” Tuan Babak dan Shahzad membalas, “Bukan, tapi untuk jadi tangan kananku.” Entah kenapa aku merasa agak senang dan tersipu-sipu mendengarnya.

Agak berbeda denganku, Shirin tidak menikmati tugas-tugasnya. Dia tidak cekatan, lambat belajar, dan sering melakukan kesalahan. Shahzad tentu tak serta-merta menegur Shirin, dan Shahzad bukan jenis yang bisa memarahi orang lain. Suatu kali Shirin merusak seperangkat porselin yang didatangkan langsung dari Cina dan mendapat makian kasar dari salah satu karyawan Tuan Babak. Istri kedua Tuan Babak yang mengintip dari dalam lokakarya memaki-maki dan ketika Tuan Babak muncul berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan kami. Aku diam saja di samping Shahzad dan kulihat Shahzad pun tidak bisa melakukan apa-apa. Untungnya Tuan Babak tidak marah pada Shirin, dia cuma mengajak Shirin masuk ke ruangannya dan menasihatinya.

Malam harinya, di kamar kami, Shirin berkata padaku, “Kita harus memanfaatkan baik-baik kesempatan ini. Kita tidak bisa terus-terusan begini.” Aku tidak terlalu tahu apa yang Shirin maksud, yang jelas ucapannya itu tidak berkaitan dengan kerjanya, sebab dia sama saja malasnya dengan sebelum-sebelumnya. Tapi kemudian aku tahu apa yang diinginkan Shirin sewaktu menyaksikan dia dengan lancang dan genitnya mendekati salah satu pelanggan muda dan kaya raya. Pada kesempatan lain Shirin bahkan lebih berani lagi mengangkat gaunnya dan menyibakkan lututnya sambil mendekati seorang menteri dari Kartli yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Para karyawan dan kedua istri Tuan Babak gerah melihat tingkah Shirin tersebut, sebisa mungkin mereka meluangkan tiap kesempatan untuk mencibir dan menyindir Shirin, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tapi Shirin tak acuh dan terus melancarkan aksi-aksinya, berharap salah satu dari saudagar atau pelancong kaya, tua atau muda, yang datang itu, terjerat olehnya.

Shahzad tetap sabar menghadapi kebebalan Shirin. Dia tetap berusaha menunaikan tanggung jawabnya mengajari, mencoba menjelaskan ini itu kepada Shirin sekalipun perhatian kakakku meloncat ke sana-kemari. Shirin bahkan pernah terang-terangan meremehkan Shahzad yang ketika itu mengajarinya menakar berapa tuman yang bisa dia dapat dari rempah-rempah berdasarkan baunya, “Oh Shahzad, andai bau-bauan itu bisa membuatku langsung kaya raya ketika bangun besok pagi!”

Malam harinya kuberanikan diri untuk menegur Shirin, menyuruhnya untuk lebih hati-hati lagi dalam bersikap dan mengingatkannya agar menyadari baik-baik posisi kami sekarang ini. Alih-alih membalas teguranku Shirin malah membahas hal lain, “Kau tahu apa masalah kedua istri Tuan Babak itu? Masalahnya mereka tidak punya keturunan dan Tuan Babak pastilah mau keturunan. Tahu tidak, istri kedua Tuan Babak cuma diajari memintal dan menenun di lokakarya dan istri pertamanya tak diajari apapun selain duduk di harem dan mengisap pipa, sedangkan aku, seorang perempuan seperti mereka, diajari macam-macam seperti ini! Kau tahu maksudku? Ada yang spesial pada diriku.” Betul saja, dua hari setelah berkata demikian, ketika Tuan Babak tengah berbicara dengan Pêro Dias de Cabral dari Kedutaan Portugis, sedang tawar-menawar, Shirin memotong mereka, dan dengan geliat genitnya, bertanya pada Tuan Babak apakah ada yang bisa dia bantu. Tapi Tuan Babak tampak tak terlalu terpengaruh oleh aksi rayu-merayu itu. Dengan santainya Tuan Babak malah tersenyum dan memperkenalkan Shirin kepada Pêro Cabral. Shirin menawari tamunya kopi atau madat, dan tak lama kemudian dia kembali membawa kopi panas. Dua hari berturut-turut Shirin mencoba keberuntungannya pada Tuan Babak, tapi laki-laki itu bagai tak punya kepekaan sama sekali terhadap tingkah mengundang yang terang-terangan dipaparkan melalui bahasa tubuh kakakku. Istri kedua Tuan Babak yang mengikuti tiap-tiap aksi Shirin tertawa dan melemparinya hinaan, “Pemburu tuman murahan, sungguh menyedihkan!”

Namun, yang terjadi beberapa hari kemudian malah di luar dugaanku. Pêro Cabral datang kembali ke toko dan kali ini dia tidak mencari Tuan Babak sama sekali. Dengan bahasa Farsi yang terdengar kaku dan aneh, Pêro Cabral memanggil Shirin. Sekembalinya sore hari, Shirin tersenyum lebar dan meloncat-loncat kegirangan. Si Portugis menemui Tuan Babak, meminta maaf karena telah lancang membawa Shirin pergi dan meminta izin pada Tuan Babak untuk membawanya pergi lagi lain hari. Dan begitulah, hampir setiap hari Shirin pergi bersama Pêro Cabral dan kembali dengan cerita-cerita tentang kemajuannya, tentang betapa baiknya orang Portugis itu padanya, tentang janji laki-laki itu untuk menjadikannya perempuan Portugis. Suatu hari Shirin dengan girangnya bercerita bahwa Pêro Cabral baru saja berkata akan menikahinya, dua hari lagi dia akan pulang ke Portugis dan mengabarkan pada keluarganya bahwa dia akan menikahi seorang perempuan, dan sekembalinya barulah mereka akan menikah. Kukatakan pada Shirin kalau itu kedengarannya lebih rumit dari yang diceritakan, dan aku ragu keluarga orang Portugis itu mau begitu saja menerima Shirin. Tapi Shirin tidak peduli.

Besoknya ketika kami baru tiba di toko, Tuan Babak langsung mengabarkan kalau dia sedang menyiapkan perjalanan baru. Perjalanan tersebut akan memakan waktu berhari-hari: melewati Tehran, Qazvin, Soltaniyeh, dan langsung menuju Tabriz. Ada barang yang harus diantar, ada barang-barang baru yang mungkin menarik, dan ada peluang kerja sama yang cukup menggiurkan di sana. Dua hari lagi dan kami berdua akan ikut. Shirin tidak terlalu gembira mendengar kabar itu. Secara halus dia mencoba menolak, menawarkan alasan kalau dia perempuan dan sebaiknya tak ikut dalam perjalanan sepanjang itu. Tapi Tuan Babak berkata bahwa Shirin sendiri sudah pernah berkaravan dari Shiraz ke Isfahan dan perjalanan kali ini tak akan jauh bedanya. Tuan Babak tidak memberi kesempatan Shirin untuk beralasan lagi dan langsung masuk menuju ruangannya.

Shirin kesal dan berkata padaku kalau dia ingin tetap di Isfahan dan menunggu Pêro Cabral. Dia ingin menyambut kekasih Portugisnya serta kabar baik yang akan dibawanya. Shirin menggerutui Tuan Babak, menyebutnya jahat dan tidak adil, maka aku merasa perlu kembali mengingatkannya bagaimana nasib kami tanpa kemurahan hati Tuan Babak.

Dengan muka kusut Shirin tetap ikut dalam perjalanan kami. Kali ini aku dan Shirin mendapat unta sendiri, iring-iringan unta yang mengangkut barang-barang dagangan dan perbekalan lebih banyak daripada perjalanan kami sebelumnya. Aku membantu Shahzad menyiapkan semua itu sore hari sebelumnya dan memeriksa kelengkapannya lagi subuh besoknya. Ketika hendak berangkat sempat kudengar istri kedua Tuan Babak berbisik kepada istri pertama bahwa dia tidak setuju Shirin ikut serta. Menyadari aku berada di dekat mereka, kedua perempuan itu cepat-cepat menutup mulut dengan ujung kerudung mereka dan bersungut-sungut pergi.

Meski dua malam sebelumnya sempat berkata hendak nekat kabur dari kediaman Tuan Babak dan menunggu di Gedung Kedutaan Portugis sampai kekasih hatinya datang, Shirin tetap muncul pada hari keberangkatan. Pagi itu dia langsung menaiki untanya dan abai padaku dan Shahzad yang sedang susah payah mengangkat dan mengikat buntalan-buntalan besar ke punuk tiap unta. Muka masam Shirin yang nyata langsung hilang dan berganti canggung sewaktu Tuan Babak dengan begitu ceria menyapanya dan menanyakan apakah dia sudah siap berangkat. Setelah Tuan Babak mengingatkan kembali beberapa hal kepada karyawan yang akan menjaga tokonya, kami pun berangkat dari Pasar Qarsariyya dan langsung keluar gerbang kota. Aku dan Shahzad memimpin di depan menyusuri setapak, Tuan Babak tepat di belakang kami, dan Shirin agak menjauh bersama unta-unta pengangkut barang. Ketika sudah beberapa langkah dari Isfahan, Tuan Babak tiba-tiba berteriak, “Shirin, ucapkan selama tinggal dan sampai jumpa lagi kepada ‘separuh dunia’,” tapi Shirin tetap diam saja di belakang. Begitulah Shirin sepanjang hari itu. Dan karena Tuan Babak sepertinya tidak cukup peka, dia terus saja berseru-seru dan mengikutsertakan Shirin pada percakapan kami.

Barulah ketika hampir petang, Shirin maju dan mendekat padaku, malu-malu dia berkata bahwa dia kehausan dan kantung airnya sudah kosong sejak siang tadi. Tanpa menunggu izin dariku, Shirin langsung menyambar kantung air di pinggangku. Melihat Shirin menegak isi kantung airku tanpa sisa, aku spontan marah dan menyebutnya kekanak-kanakan. Tapi Tuan Babak langsung muncul, menengahi kami dan berkata bahwa di depan ada karavansara, tak jauh lagi, kami—Shirin terutama—cuma perlu bersabar.

Kami tiba di karavansara tersebut hampir bersamaan dengan rombongan lain yang datang dari arah berlawanan. Mereka pedagang Turki dan menyapa kami dengan bahasa Farsi yang fasih ketika berjumpa di lobi. Ketika mereka sudah jauh di halaman, Tuan Babak mendesis kepada kami, “Orang-orang Turki sialan itu! Lihatlah betapa culasnya mereka menggunakan bahasa Farsi; tentara-tentara kita sekarang sudah berlogat Turki semua dan sekarang mereka mau mencomot perdagangan juga!”

Setelah salat berjamaah, kami memutuskan untuk makan malam. Ketika kami tiba di kedai, rombongan Turki tadi sudah ada di sana dan kami pun duduk di meja yang cukup berjarak dari mereka. Seorang pria yang sepertinya pemimpin mereka menyapa kami dan Tuan Babak membalas ramah sebelum diam-diam mencibir bagaimana bisa orang-orang Turki itu cocok dengan hidangan-hidangan agung Safawi dan kenapa mereka tidak pulang saja ke kampung mereka di Utsmani sana. Ketika itulah Shirin kembali bertingkah,  menoleh ke arah salah satu pemuda di rombongan tersebut dan mulai meragakan gerak-gerik tubuh yang genit dan mengundang. Sebegitu terang-terangannya tingkah Shirin di mataku dan Shahzad, tapi Tuan Babak tetap santai, melanjutkan lawakan sambil sesekali menyindir puak lawan di seberang. Bahkan ketika rombongan tersebut hendak pergi, Shirin tetap meneruskan gelagatnya, menguntiti sasarannya sampai si pemuda Turki hilang dari pandangan. Shahzad yang ketika itu sepertinya sudah gatal terang-terangan menembakkan sindiran, “Sebaiknya aku cepat habiskan makananku sebelum dicemari birahi di meja ini.”

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Puisi

Kumpulan Puisi Dadang Ari Murtono

buddha-56510_960_720

seh domba

 

pada halaman fotokopian itu

ia meminjamkan sebagian dirinya

yang ia datangkan dari abad ke enam belas

 

ia tahu, dalam tongkat bekas adipati itu

ia tak akan mendapat secuil emas

seperti yang dikatakan tiga laki-laki keliru di bakalan salatiga

 

dan ia mengerti, si bekas adipati akan mengucap

sepatah mantra yang mengubah paras rupawannya

jadi domba

 

namun tak ada yang sia-sia, seperti yang dikira

orang pada hari depan

sebab ia bertuhan, ia berguru, dan ia tahu ada dosa

di pundaknya yang mesti ia tebusi

 

maka ia tak perlu membayangkan dirinya bahagia

sewaktu menempuh kilometer demi kilometer

selama 35 hari

untuk mengangsu air dan mengisi padasan bocor di puncak jabalkat

 

sebab hanya dengan begitu

ia akan kembali jadi manusia, seutuhnya manusia

 

pada halaman fotokopian itu,

seorang lelaki yang terus menulis puisi

dan merasa tak berarti

lalu menyamakan diri dengan sisiphus,

seolah melihat bayangannya

yang berkepala domba

 

lantas ia, penyair itu,

memupus niatan bunuh diri

 

 

 

 

 

tembayat

 

sejak wali kali yang menyaru penjaja alang-alang

itu mengubah sebongkah tanah jadi seonggok emas

permata, ia mengerti segala hal bisa bercahaya di

tangan yang sungguh-sungguh

 

hanya tangan yang sungguh-sungguh

 

maka ia tinggalkan apa yang kata awam

berharga, dan sekian bulan kemudian, di pasar

wedi, pada suami istri tasik yang tiap hari

memanggang serabi namun lamur pada hakikat

api, ia singkirkan kayu bakar, dan ia munculkan

nyala api dari sepasang tangannya yang telanjang

 

sayangnya ia telah lama tak ada

sewaktu seorang penyair dari negeri tropis

bersajak tentang salju dan musim gugur

dan mengutuki segala yang berasal dari bahasa ibunya,

juga semesta sekitarnya sebagai sesuatu

yang tak punya tempat dalam larik-larik yang

bebas dari fana

 

 

 

 

 

 

brawijaya moksa

 

barangkali ia sesali kemelun asap dari dupa

terakhir yang ia bakar,

ia tak ingin kitab-kitab mengekalkannya sebagai

raja pengecut yang lari dari palagan,

tapi dewa-dewa yang kian susut

tahu hari tak ada lagi

 

“ini memang masa tuhan dari arab,”

ia dengar kalimat itu

dari suara tanpa bunyi

 

“apa yang lebih terhormat

bagi satria selain mati dalam area laga?”

ia keberatan

 

tapi dewa-dewa – juga kelak tuhan – tak pernah

setara untuk tawar menawar dengan hamba

 

ia tahu, pada akhirnya

ia akan baka dalam kemurungan

bersama keratonnya,

dan keinginan untuk mati

yang sia-sia

 

 

 

 

 

selamat pagi, dadung awuk

 

selamat pagi, dadung awuk,

malam tak ada lagi bagimu,

ke alun-alun itu kau akan datang

untuk mengalahkan kerbau liar dalam dirimu

tapi seseorang, sang cikal susuhunan jawa,

bakal mengakhirimu dengan ujung tumpul

sirih sadat

 

tapi dalam puisi ini,

kupanjangkan apa yang sementara,

kujaga kau dari fana

seperti kujaga diriku sendiri, penyair sekedar

yang tak henti bertarung melawan kerbau dalam diri

dari tikaman mereka, yang mengira dirinya susuhunan,

dan sibuk merangkai huruf-huruf yang tak mereka pahami

lalu tenggelam dalam ilusi, “aku tingkir, aku tingkir,

pendiri dinasti, yang baka dalam babad-babad agung”

 

 

 

 

 

asmayawati

 

dia ingin dewa-dewa datang

dan berbisik bahwa semua hanya mimpi

namun dewa-dewa terlalu sibuk

menyiapkan upacara kematian mereka sendiri

dan persoalan cinta, barangkali, terlampau sepele

 

ia belum tahu bahwa tuhan impor telah tiba

dan karenanya, ia tak lagi berdoa

 

ia meyakinkan diri sendiri, berulang kali

bila cinta sekadar perkara kebiasaan

 

maka ia terima buaya putih itu merangkak di atas

tubuh telanjangnya, dan dibisikkannya

“jangan menyaru laki-laki tampan lagi

 

dan akan kau dapati aku sebagai pecinta

paling sungguh”

 

namun buaya itu mengira ia tengah berakting

 

 

 

 

 

pengging

 

aum singa yang tak pernah ada itu

masih bergaung dalam halaman kitab dari penyair

yang suka menyamarkan nama,

yang menolak tanggung jawab dari apa yang dituliskannya

 

“ia memang begitu,

kerap membayangkan diri sebagai tuhan,

tuhan kecil” lelaki itu menggumamkan kalimat

yang sengaja diabaikan oleh sang penyair

 

“ia juga, sesungguhnya, tak pernah

memberi tokoh-tokohnya pilihan”

 

maka ketika senapati para sunan itu tiba

ia singsingkan lengan bajunya

 

“kanjeng senapati jimbun mengutusku,” kata sang sunan

“sebab seperti gurumu, kau tenggelam dalam genangan kesesatan

dan menyangka dirimu allah”

 

ia ingin menjawab tidak

dan mengarahkan telunjuknya pada diri sang penyair

yang membunyikan kisah-kisah dari balik persembunyian

 

tapi, toh, ia tidak punya pilihan

 

maka ia persilakan wali dari kudus itu menggores

sikunya, sedikit saja, dengan belati tumpul

untuk menggenapkan cerita, mengikis yang mustahil dalam alur

 

dalam kitab itu

bahkan sang penyair mengiranya tak ada lagi

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

read more
Cerbung

Karavansara

headscarf-1683164_960_720

AKU YAKIN akulah yang dilirik Tuan Babak ketika mendapati kami tengah berlari-larian di Pasar Shiraz. Tapi kakak perempuanku, Shirin, bersikeras dialah yang pertama kali dilirik oleh Tuan Babak. Kelak, meski tetap teguh pada keyakinanku, aku tak pernah mendebat pendapat Shirin.

Tuan Babak, seorang saudagar dengan turban besar dan senyum lebar yang melancong dari utara, bertanya macam-macam tentang kami. Kakakku memperkenalkan namanya dan memberitahu bahwa namaku Surin. Dia jelaskan bahwa umurnya enam belas tahun dan aku dua tahun lebih muda darinya, kami -kakak beradik yang sudah yatim-piatu dan bertaruh semata-mata pada kemurahan hati orang-orang pasar untuk bertahan hidup. Mendengar itu senyum Tuan Babak yang begitu lebar hilang seketika, diganti dengan mata iba dan raut tersentuh kebapakan yang membuat mukanya jadi terlihat lebih tua dari semestinya. Tuan Babak pun mengajak kami untuk ikut dengannya. Dia belikan Shirin gaun sutra baru dan untukku baju dari kain lampas bercorak benang perak dan emas, lengkap dengan kaus kaki dan sepatu baru. Tuan Babak tersenyum melihat penampilan baru kami, secara khusus dia memuji ketampananku lalu berkata, “Lampas ini didatangkan langsung dari lokakarya terbaik di Isfahan, aku tahu itu sebab aku yang memasoknya kemari.”

Selanjutnya Tuan Babak mengajak kami makan dan untuk pertama kalinya aku dan Shirin mencicipi sup delima dan daging domba buatan kedai paling mewah di Shiraz. Dan ketika itulah tiba-tiba saja Tuan Babak melempar ajakan untuk ikut bersamanya, dia bahkan berjanji akan mengurus kami dengan baik. Shirin bertanya apa yang perlu kami lakukan sebagai balasannya dan Tuan Babak menjawab, kami boleh saja membantu pekerjaannya kalau kami mau.

Aku tidak tahu harus menjawab apa sementara Tuan Babak terus menatapiku. Kulihat Shirin sepertinya tidak terlalu keberatan dengan ide itu, dan ketika dia bilang setuju, aku pun mau tidak mau harus ikut bersetuju dengan kakakku itu.

Selanjutnya Tuan Babak memperkenalkan kami pada Shahzad, pemuda yang sudah lama bekerja dengannya. Umurnya baru 19 tahun, lebih muda dari yang kuduga. Seketika saja aku kagum melihat Shahzad, lebih-lebih ketika menyaksikan dia, dengan otot-otot lengan yang kurus tapi kuat, mengangkut semua buntalan berat ke atas punuk masing-masing unta, sendirian.

Setelah Tuan Babak selesai bertawar-tawaran dengan seorang pedagang di salah satu loka, kami langsung berangkat. Shirin meminta ikut bersama unta Tuan Babak, maka aku menumpang unta yang ditunggangi Shahzad. Delapan unta lainnya yang membawa bekal perjalanan dan barang-barang dagangan, mengikuti dari belakang. Itulah kali pertama aku dan Shirin betul-betul keluar dari kota Shiraz. Kutatapi lekat-lekat jalur yang akan kami lewati dan bukit-bukit batu yang mengapitnya. Barangkali menyadari rasa kagumku itu, Shahzad berkata, “Kau sudah ikut Tuan Babak, jadi kau akan bertualang nanti. Kau akan jelajahi banyak tempat.” Sepanjang sisa hari itu aku diam bersandar padanya sambil menahan panas, haus, dan lesu. Bukit pasir dan tebing batu di sekitar yang kesemuanya terlihat begitu-gitu saja sejauh apapun kami melaju, ikut campur memupuk rasa bosanku, membuat kepalaku beberapa kali terkantuk-kantuk dan meluncur jatuh dari dada Shahzad, sampai dia perlu menahan dan membetulkan posisi kepalaku kembali, dan aku pun terbangun malu. Dari belakang kudengar samar-samar percakapan Shirin dan Tuan Babak, meski aku tak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, dan sekali Shirin bahkan tertawa keras, begitu keras sampai digemakan oleh tebing sekitar.

Dua kali Shahzad menawariku minum dan aku tetap diam saja, pada kali ketiga dia menawari, aku benar-benar haus dan kusambar kantung air yang terbuat dari kandung kemih sapi itu. Ketika itu hari mulai gelap dan Shahzad berkata kepada Tuan Babak  sekarang sebaiknya istirahat, desa atau karavansara—semacam tempat peristirahatan—terdekat masih jauh dan sia-sia saja melanjutkan malam hari. Shahzad menunjuk batu bagian di kaki bukit depan kami, yang menurutnya tepat dan kami berempat pun tolong-menolong mendirikan kemah.

Shahzad membuat api unggun, dan sambil memasak rebusan daging, dia menjelaskan bahwa Tuan Babak semestinya bersabar menunggu pagi, tapi beliau begitu terburu-buru, ada pembeli yang ingin dikejar di Isfahan nanti, seorang dari kedutaan Inggris yang sudi membayar mahal barang-barang antik dari semenanjung Arabia, dan dia juga mendapat pesanan hadam-talka terbaik yang didatangkan langsung dari Gujarat. Dan  kami juga tidak  dapat membasuh badan karena harus menghemat air, sebab Tuan Babak kemungkinan tidak akan berhenti lama di karavansara terdekat. “Berharap saja tidak ada bandit yang menunggu kita di jalan,” kata Shahzad, entah bercanda atau tidak.

Tak lama setelah itu Shahzad mengajak kami bertayammum, dan kami pun bersembahyang dengan Tuan Babak sebagai imam. Di Shiraz, aku tak pernah betul-betul taat bersembahyang, dan entah kenapa, mungkin untuk menunjukkan rasa syukurku atas kebaikan yang kami terima, kali ini aku ingin betul-betul mengkhusyuki laku tersebut.

Karena sudah begitu lelah, aku memutuskan untuk langsung tidur setelah menghabiskan rebusan dagingku. Aku tidur di tenda yang sama dengan Shahzad dan Shirin sementara Tuan Babak punya tenda sendiri yang besar dan lapang.

Besoknya kami kembali melanjutkan perjalanan, dan sebagaimana yang sudah dijelaskan Shahzad malam harinya, kami tidak beristirahat ketika tiba di karavansara terdekat, hanya mampir sebentar untuk mengisi kantung air dan memasok perbekalan. Kami menyempatkan diri membasuh badan sebentar, dan aku bisa melihat Shahzad membasahi badan liatnya dan aku semakin terkagum-kagum padanya.

Dalam perjalanan Shahzad bercerita panjang padaku. Dia hasil hubungan haram seorang bangsawan Anatolia dengan perempuan Azeri yang hina dan papa. Ibunya meninggal ketika melahirkan dan ayahnya tak sudi mengakuinya. Dia diasuh oleh tangan keras pamannya, seorang pandai besi di Nishapur, yang telah menyisakan memar dan jejak cemeti di punggungnya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Tuan Babak yang ketika itu mampir di penginapan, di seberang pandai besi pamannya. Tuan Babak pun mengasuh Shahzad, membawanya sebagai teman seperjalanan dan orang kepercayaan, mengajarinya banyak hal tentang perdagangan.

Shahzad bercerita tentang kota-kota yang telah dia kunjungi bersama Tuan Babak, dari Zirra ke gudang-gudang anggur di Herat, dari Tabriz ke Dyar-Bakr, dari Arzinjan ke Tehran, jauh sampai menembus perbatasan orang-orang Mongol cuma untuk mengambil barang-barang dari Malaka, menyeberangi semenanjung Arab, pada satu kesempatan mereka bahkan mengarungi Laut Mazandaran menuju Rusia, sampai akhirnya Tuan Babak memutuskan untuk tidak lagi melancong sampai keluar perbatasan negeri karena pajak pedagang luar yang begitu tinggi dan urusan administrasi yang membuat mereka harus menunggu berhari-hari.

Kami kembali berkemah di dekat bukit-bukit batu. Ketika kami tengah makan tiba-tiba saja Shirin mengajukan permintaan yang cukup mengejutkan, “Bolehkah aku tidur di tendamu, Tuan Babak?” Tuan Babak menolak, “Aku laki-laki beristri, A-nakku,” senyum lebarnya merekah dan dia pun melanjutkan makanannya.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku mendapat giliran jaga, bergantian dengan Tuan Babak dan Shahzad. Aku terbangun sebelum giliranku, ketika itu Shirin sudah tertidur pulas dan aku tidak menemukan Shahzad di manapun ketika mengintip keluar tenda. Aku keluar dan mencari-cari sampai akhirnya kusadari ada bunyi samar-samar dari tenda Tuan Babak. Diam-diam aku mengintip melalui satu lubang kecil dan di bawah cahaya temaram tenda kudapati Tuan Babak tengah mengelus dan meremas tubuh Shahzad yang telanjang. Kuperhatikan juga muka Shahzad sekarang berpupur dan matanya diberi celak, tangan dan kakinya juga digambar dengan hena. Sesekali Tuan Babak mengelus-elus rambut Shahzad lalu kembali meremaskan tangannya keras-keras, dan Shahzad akan mendesah dan merintih sesuai dengan irama Tuan Babak di belakang. Aku tertegun dan bergeming, merasa takut juga jijik, tapi aku terus memberanikan diri menyaksikan tiap-tiap perlakukan yang menimpa tubuh liat Shahzad. Dan ketika mereka usai, ketika Shahzad membersihkan diri dan bersiap-siap berpakaian, aku bersegera berlari ke tendaku, berpura-pura tidur. Sebisa mungkin aku redam gemetar tubuhku dan pura-pura bangun ketika Shahzad masuk, membangunkanku dan mengabarkan bahwa sekarang giliranku jaga.

Setelah salat subuh keesokan harinya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Aku merasa ragu dan takut duduk di atas unta bersama Shahzad, lebih-lebih ketika aku melihat sisa-sisa hena pada tangannya. Tapi pada akhirnya, karena merasa kelelahan, tetap kusandarkan kepalaku pada dada Shahzad. Dia tetap bersikap baik padaku, dan karena itu aku merasa serba salah. Sepanjang perjalanan itu sebisa mungkin kuredam semua pikiran buruk tentang Shahzad dan terus membalas obrolannya sebisa dan sebaik mungkin.

Setelah sebelas hari perjalanan, dengan perhentian di beberapa desa dan karavansara, kami tiba di Isfahan. Kota tersebut lebih besar Shiraz dan kami langsung menuju pasarnya yang lebih ramai dan sesak dari dugaanku. Kami disambut oleh dua orang karyawan ketika kami berhenti di toko sekaligus lokakarya khusus perempuan milik Tuan Babak. Shahzad langsung mengurus unta-unta dan menurunkan semua bawaan, sementara aku dan Shirin diserahkan pada seorang perempuan yang kemudian mengaku sebagai istri kedua Tuan Babak.

Perempuan itu mengajak kami naik kereta kuda dan kami pun berjalan-jalan keluar dari bazaar, melewati pagar istana, Masjid Shah yang begitu megah, pemukiman orang-orang Armenia; keluar dari kota tua dan menuju bagian kota yang lebih selesa, dan tibalah kami di sebuah pemukiman yang lebih mewah dan asri, dengan rumah-rumah yang besar dan taman-taman yang luas dan tertata. Kami berhenti di salah satu rumah besar, itulah kediaman Tuan Babak. Perempuan itu mempersilakan kami masuk dan kami langsung disambut oleh beberapa pembantu dan satu perempuan yang paling tua dan berkuasa di situ, yang kemudian mengaku sebagai istri pertama Tuan Babak. Aku dan Shirin dipersilakan membersihkan diri di tempat pemandian yang besar, pakaian bagus lengkap dengan aksesoris dan wangi-wangian sudah disiapkan untuk kami. Ketika siap kami langsung dijamu buah-buah dan makanan oleh kedua istri Tuan Babak. Kedua perempuan tersebut menanyai macam-macam sampai-sampai aku merasa seperti sedang diinterogasi, tapi Shirin selalu mampu menjawab dengan tenang dan tepat.

Sorenya Tuan Babak tiba bersama Shahzad dan di depan kedua istrinya dia menjelaskan niatnya untuk mengasuh dan mengurus kami, mendidik kami berdua sebagaimana yang dia lakukan pada Shahzad dulu. Kuperhatikan baik-baik raut muka kedua perempuan yang umurnya pasti tak jauh beda dan kulihat garis-garis ketidaksetujuan pada mata dan dahi mereka.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Puisi

Kumpulan Puisi Ben Sadhana

dandelion-1557110_1920

TUA

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

 

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

 

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

 

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

 

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

Ben Sadhana

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

Ben Sadhana

 

 

 

Ben Sadhana, alias Benediktus Agung Widyatmoko dilahirkan di Yogyakarta pada 30 Maret 1972. Ia mengawali prestasi menulisnya ketika pada tahun 1989 karyanya berjudul Serba Ada Belum Tentu Sayang Anak berhasil memenangi lomba mengarang tingkat SMA se-Kalimantan Tengah dalam rangka peringatan hari anak nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Kalimantan Tengah. Menjadi kontributor dalam buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran yang diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tahun 2011.Tahun 2009, Karyanya berjudul Becik Ketithik Ala Ketara meraih juara ke-2 Lomba Nasional Blog bertema Aku Untuk Negeriku.Karya puisinya berjudul Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai masuk sebagai nomine pemenang dalam Krakatau Award 2017.

Bermukim di Surabaya, Penulis penyuka travelling yang tergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG) ini dapat dikenal lebih jauh melalui blog pribadinya https://bentoelisan.wordpress.com dan juga email-nya : benwidyatmoko_agung@outlook.co.id.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4