close

Cerbung

Cerbung

Mawar Ingatan (7-tamat)

book-1291164_1920

Di sana, di rak paling atas, berjajar buku-buku Rosi yang telah diterbitkan. Aku mengusapnya satu persatu, seperti mengusap tuts-tuts piano yang berjajar dan hanya menggaungkan nada-nada yang sunyi. Aku kembali mendengar isakku sendiri. Isakan yang kelewat lirih, bahkan pada malam sehening ini. Mengapa aku cengeng sekali? Si tua yang cengeng.

Aku terduduk di depan mesin ketik tua Rosi dan membuka-buka naskah novel terbaru Rosi yang berhenti di halaman 50. Aku sudah membaca semua novel yang ditulis Rosi. Hampir semua berisi tentang episode-episode kecil kehidupan kami yang romantis dengan bumbu-bumbu isu sosial dan politik sesekali. Soal mengarang, Rosi memang ahlinya. Terkadang, diam-diam aku salut padanya. Aku tak pernah paham bagaimana cara Rosi merangkai kata demi kata dan menyusunnya menjadi kalimat hingga beratus-ratus halaman.

Menilik karya-karya Rosi, rasanya aku tak bisa percaya bahwa detik ini ia tak bisa mengingat apapun. Kadang-kadang aku berpikir bahwa semua isi kepala Rosi telah berpindah ke dalam novel-novel yang ia tulis, dan ia lupa menyisakan sedikit ingatan untuk kami kunyah di hari tua kami ini. Novel-novel karya Rosi, semuanya kubaca setelah Rosi menyelesaikannya. Tuntas. Rosi tak pernah mengizinkan aku membaca novel-novelnya yang belum jadi. Kata Rosi, itu seperti melihatnya selesai mandi tapi belum berpakaian. Aku tak paham apa maksud Rosi, tapi aku menurutinya. Aku tak pernah membaca tulisan-tulisannya sebelum selesai dan ia sendiri mempersilahkanku untuk membacanya.

Dan naskah novel terbaru Rosi, yang baru 50 halaman ini, tiba-tiba aku ingin membacanya. Melihat keadaan Rosi sekarang, rasanya mustahil naskah ini akan selesai. Dan itu berarti, kalau aku tak berinisiatif mencuri-curi baca sendiri, aku tak akan pernah membacanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu apa yang dipikirkan Rosi sebelum semua ingatannya mengabur dan tak bersisa sedikit pun. Mungkin, naskah novel barunya ini bisa sedikit mengobati kesedihan mahaluas yang telah mendarah daging dalam kepala tuaku.

Lembar naskah yang mulai kusam itu kini sudah ada di tanganku. Tampak sebuah judul di halaman paling depan. Ditulis dengan huruf kapital: MAWAR INGATAN. Novel terbaru Rosi ini berjudul ‘Mawar Ingatan’. Saat itu juga aku mulai membacanya. Tiba-tiba dadaku menggempa. Seakan aku hendak berhadapan dengan Rosi langsung dan berbincang-bincang dengannya. Dan Rosi memulai kalimat paragraf pertama dari novel barunya dengan dua buah pertanyaan.

Kapan pertama kali seseorang mengingat?

Kapan terakhir kali seseorang mengingat?

Kalimat-kalimat berikutnya begitu mengalir begitu lancar dan penuh metafora. Itulah gaya khas Rosi. Aku pun mulai larut dalam pembacaanku. Hinggga sampai pada paragraf terakhir. Tepat di halaman 50.

Aku sudah menduga, suatu ketika kepalaku hanya akan berisi kabut tebal. Aku tak dapat melihat apa pun. Aku hanya tertatih-tatih meraba-raba arah. Dan udara begitu dingin. Sewaktu bayi, hal pertama yang kuingat adalah aroma keringat ibuku. Dan detik ini, ketika usia melangkahi segalanya. Satu hal yang kuingat hanyalah aroma mawar. Aroma suamiku. Aroma mawar dan aroma suamiku adalah satu. Desah napas suamiku adalah aroma mawar itu. Bau tubuhnya adalah aroma mawar itu. Lekuk suara seraknya adalah aroma mawar itu.

Ke mana angin membawa aroma itu?

Dalam kabut pekat itu aku terus berjalan. Mengendus aroma-aroma yang mungkin masih tersisa dalam kepalaku. Namun semuanya sia-sia. Segala bentuk dan rupa yang kasat mata telah menjelma kabut. Aku tak mendapti apapun dalam lautan kabut. Namun aku terus berjalan, mencari arah. Hingga tiba-tiba, semak-semak mawar menghentikan langkahku. Ada duri yang menusuk di sana. Tapi aroma itu membuatku lega. Rasanya aku ingin tertidur pulas di antara semak-semak mawar yang wangi itu. Tidur yang tak perlu bangun lagi.

 

Sampai pada kata terakhir itu, aku tak bisa menghentikan tangisku. Cerita dalam naskah novel terbaru Rosi ini nyaris seperti nyata. Seperti apa yang terjadi pada detik ini. Antara aku dan Rosi. Novel itu mengisahkan tentang sepasang suami istri yang kehilangan ingatannya karena lanjut usia. Bedanya dengan kondisi kami sekarang adalah, kalau dalam novel itu, sang suami juga hilang ingatan, dan keduanya tak saling mengenal. Sedangkan dalam dunia nyata ini, ingatan si suami, tepatnya ingatanku, masih utuh. Masih cukup bagus, bahkan untuk menyimpan rasa sakit yang bertumpuk menjadi gunung kesedihan.

Dalam naskah itu, sepasang suami istri yang hilang ingatan itu tinggal di sebuah panti sosial karena mereka tak mempunyai anak. Di tempat itu, mereka telah menjadi orang asing satu sama lain. Tak saling mengenal. Aku benar-benar penasaran dengan ending cerita itu. Tapi sayang, novel itu tak akan menemukan ending. Seperti juga aku dan Rosi yang tak pernah tahu seperti apa ending dari kisah kami.

“Tidurlah, sudah malam,” suara itu membuatku terhenyak, nyaris seperti tersengat.

Aku menoleh, Rosi berdiri gontai di ambang pintu dengan gaun pengantinnya yang merumbai. Jam dinding dalam ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih beberapa menit. Aku tak sadar kalau sudah melamun cukup lama. Dan aku lebih tak sadar lagi ketika melihat Rosi berdiri di sana dan tersenyum padaku. Aku bergegas menghampirinya dan kembali membawanya ke ranjang. Aku tak tahu kalau dada tuaku masih bisa bekerja dengan normal: berdetak begitu kencang karena senang.

“Rosi,” aku menatapnya tak percaya.

Rosi tersenyum padaku. Mata itu tak lagi kosong. Hanya saja tubuh Rosi tampak begitu lemas. Mendadak aku ingat, malam ini Rosi hanya menyantap beberapa suap kue. Lambungnya pasti perih. Aku juga ingat, di rumah ini tak ada makanan apapun kecuali seonggok kue yang hancur dan beberapa helai roti tawar yang belum dipanggang.

“Kau harus makan Rosi, tunggu sebentar, biar kusiapkan,” ucapku. Ketika aku hendak beranjak, tapi Rosi menarik tanganku.

“Aku tak ingin makan,” lirihnya, “aku hanya ingin berbaring di sini bersamamu.”

Malam itu kami berpelukan dalam tidur yang terasa sangat panjang. Dengus napas Rosi menyaput wajah tuaku. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum lunas. Kami berduapun melayang ke alam tidur yang indah. Hingga ketika pagi tiba, dengan semangat meluap-luap, aku bergegas menyiapkan sarapan di dapur. Aku memanggang roti tawar dan menyeduh teh hijau dalam cangkir besar.

Sebentar aku menengok Rosi, tampaknya ia masih tertidur pulas. Aku meneruskan membersihkan rumah dan menyiram semak-semak mawar di halaman depan. Aku kembali menengok Rosi di kamar, ia masih meringkuk dengan bibir menyunggingkan senyum. Roti panggang sudah hampir layu dan teh hijau dalam cangkir besar sudah dingin. Aku ingin membangunkan Rosi tapi tak sampai hati. Kurasa aku bisa menahan lapar sampai Rosi terbangun nanti. Sekitar pukul sepuluh.

Bel berbunyi. Aku yakin, itu pasti paket hadiah dari Fredie yang datang terlambat. Aku bergegas membuka pintu depan. Dan aku kembali dihadapkan dengan sebuah kejutan: Fredie dan keluarganya tersenyum di ambang pintu. Mereka diapit beberapa koper besar.

Dua kakiku terasa goyah. Fredie menghambur ke arahku, memelukku kelewat erat. Aku mencium kening Fredie dan istrinya. Aku mencium pipi bocah-bocah mungil di hadapanku. Aku masih tak percaya kalau mereka adalah cucu-cucuku. Sangking girangnya, aku berteriak-teriak, memanggil-manggil Rosi. Rasa laparku hilang. Aku berlari ke kamar. Tiba-tiba aku merasa usiaku kembali muda. Sendi-sendiku terasa begitu kuat. Fredie dan keluarganya menyusulku ke kamar.

“Rosi, ada kejutan untukmu, Rosi. Bangunlah, Sayang! Lihatlah siapa yang datang!”

Tapi Rosi masih saja tertidur lelap dengan posisi tak berubah sedikitpun semenjak tadi pagi.

“Rosi!” aku menggenggam tangan Rosi yang telah begitu kaku dan dingin. Lantai dan langit-langit seperti berputar kencang sekali.

“Rosi,” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.

Aku terpaku menjadi arca ketika menyadari bahwa tubuh Rosi terlalu kaku dan dingin untuk seseorang yang masih bernapas. Aku mendekap tubuh kaku itu. Menciumnya. Tak ada napas hangat mengusap wajahku. Dan tak ada lagi sesuatu yang berdetak di dada Rosi. Setelah lantai dan langit-langit terasa berputar kencang sekali. Tiba-tiba semuanya terasa melambat. Semakin lambat. Hingga akhirnya berhenti. Waktu berhenti.

Diam. Hening.***

 

Mashdar Zainal

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (6)

cake-2459944_1920

Semuanya terdiam, tampak turut prihatin. “Sebentar, akan kujemput bidadariku yang pemalu itu,” lanjutku dengan senyum mengembang. Para undangan yang segelintir itu tertawa sekilas dan kembali terdiam. Aku beranjak ke kamar menjemput Rosi.

Aku menuntun Rosi ke ruang tengah. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Senyum yang teramat datar. Dan sepasang matanya tetaplah sepasang mata yang kosong. Aku mendudukannya di kursi. Di tengah-tengah para tamu yang menatapnya iba.

“Ini dia, Rosiku, bidadariku,” aku menggenggam tangan Rosi erat-erat dan diam-diam melayangkan ribuan permohonan kepada Tuhan.

Satu persatu tamu kami menyalami Rosi. Aku membantu menggerakkan tangan Rosi untuk menyambut jabatan tangan mereka.

“Ini para tetangga kita, Rosi,” aku menatap istriku dan terus menggenggam tangannya, “Ini Rudi dan Amelia, mereka baru menikah.”

Rudi dan Amelia tersenyum. Tapi jelas, Rosi hanya bengong.

“Dan ini Jeri,” aku menegenalkan Jeri. Kepala Rosi menoleh sekilas dan kembali ke posisi semula.

Aku mulai menyodorkan kue mungil itu ke hadapan Rosi. “Selamat ulang tahun pernikahan, Rosi. Aku mencintaimu,” bisikku. Mata Amelia tampak berkaca-kaca. Sementara dua lelaki yang lain hanya tersenyum.

Dan Rosi tetaplah Rosi yang lebih banyak diam. Para tamu menatap kami, seolah begitu pensaran dengan apa yang akan terjadi.

“Sekarang kau sudah boleh memotong kuenya,” kataku sambil menyerahkan pisau plastik pemotong kue.

Di luar dugaanku, mendadak Rosi mendorong kue kecil itu hingga terlempar ke lantai. Aku menghela napas, tak marah. Aku berjongkok memungut kue tak berupa bentuk itu dibantu Rudi, dan menyisihkan kue itu ke meja lain. Di tengah-tengah kami kini tinggal satu kue ukuran besar, aku berdoa supaya Rosi tidak melempar kue itu juga.

Aku menghela napas sekali lagi, dan menatap para tamuku, “Ini yang kumaksud dengan ‘mohon dimaklumi’. Beginilah manusia, kalau mereka sudah tua, beberapa dari mereka terkadang kembali menjadi bayi.”

Semuanya mengangguk paham.

“Amelia, bisakah aku minta tolong,” aku menyodorkan pisau pemotong kue pada Amelia, “tinggal ini kue yang kita punya.”.

“Tentu saja,” Amelia mulai memotong kue itu menjadi beberapa bagian. Ia menyerahkan potongan pertama padaku.

“Selamat ulang tahun pernikahan, kami semua berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan kalian, senantiasa,” Amelia melirik Rosi dan kemudian suaminya.

“Terima kasih,” balasku penuh haru.

Setelah berdoa sebentar, kami pun mulai menyantap kue itu. Mendadak aku ingat bahwa aku belum menyiapkan minuman sama sekali.

“Ya Tuhan, minumannya,” aku menepuk jidat, “aku benar-benar minta maaf. Sebelum kalian tersedak, aku akan ke dapur sebentar untuk membuat sirup, aku titip Rosi dulu.”

“Biar kubantu,” Amelia membuntutiku ke dapur.

“Mengapa Anda tidak mencari pembantu saja?” tanya Amelia sambil menuangkan sirup dan mengaduknya.

“Aku sempat memikirkanya, tapi akhirnya kuputuskan untuk tidak mencari pembantu,” aku mengeluarkan lima gelas bertangkai dari laci kaca, “aku rasa aku masih cukup mampu mengurus Rosi dan rumah ini.”

“Oh,” Amelia meraih gelas-gelas bertangkai yang kukeluarkan dari laci dan mengelapnya.

“Dulu kami pernah punya seorang pembantu. Ia bekerja tak sampai satu tahun.”

“Tak betah?”

Aku menggeleng, “Ia kabur membawa beberapa perhiasan Rosi.”

“Lalu?”

“Ya, kami membiarkannya. Aku bermaksud menelpon polisi, tapi Rosi melarangku. Katanya, barangkali pembantu kami itu sedang kesulitan finansial. Mungkin anaknya sedang butuh susu, atau mungkin keluarganya ada yang sakit.”

“Rosimu memang malaikat.”

“Aku juga menganggapnya begitu.”

“Memang susah cari orang yang bisa dipercaya.”

Dan satu teko sirup sudah siap. Juga satu teko air putih.

“Oke, siap? Kau bawa gelasnya, dan aku bawa sirup dan air putihnya.”

“Oke,” Amelia mengelap tangannya sebentar dan membawa gelas-gelas itu hati-hati.

Ketika kami hendak beranjak ke depan, Jeri sudah menyusul kami ke dapur, “Nyonya Rosi, berontak, sepertinya hendak menuju pintu depan. Sekarang Mas Rudi sedang menahannya, takut kalau Nyonya Rosi menghilang lagi.”

Jeri meraih teko dari tanganku, aku bergegas ke depan dan meraih Rosi lalu kembali mendudukannya di kursi.

“Aku benar-benar minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Tak masalah.”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan kuenya.”

Kami pun kembali duduk mengitari meja. Aku menyuapi Rosi beberapa suapan. Krim gula belepotan di bibirnya. Persis anak kecil. Aku mengelapnya dengan tisu.

“Kalian romantis sekali,” sindir Amelia, lantas menoleh ke suaminya, “Kalau sudah tua nanti, aku berharap bisa seperti kalian.”

Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Setelah mengobrolkan beberapa hal yang tak terlalu penting, mereka pun berpamitan. Aku menyuruh mereka membawa pulang sisa potongan kue yang masih lumayan banyak.

“Di sini tak ada yang makan,” kataku, “dan sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Jangan sungkan-sungkan,” kata Rudi, “kalau butuh sesuatu, ketuk saja pintu rumah kami.”

Amelia dan Jeri mengangguk. Sepakat. Aku mengantar mereka sampai pintu depan. Mereka melambaikan tangan dan melangkah menjauh. Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, aku mendekap tubuh Rosi dan kembali menuntunnya ke meja.

“Aku ada sesuatu untukmu, Rosi. Tunggu sebentar, jangan beranjak.”

Aku berjalan menuju kamar dan kembali dengan seikat mawar dengan hiasan pita merah yang berkilap-kilap. Aroma mawar segera meliputi kami.

“Ini untukmu,” aku menyerahkan seikat mawar itu padanya dan mengecup keningnya yang telah dipenuhi kerutan.

Rosi menerima seikat mawar itu dengan kaku dan tanpa sepatah kata pun. Namun ia membawa rangkaian bunga itu ke dadanya, memeluknya, hingga beberapa kelopaknya terlepas. Beberapa jenak kemudian, diciumnya bunga-bunga itu penuh hasrat, sebelum dipandanginya berlama-lama.

“Kau ingat, Rosi, bunga-bunga ini dulu yang mempertemukan kita.”

Rosi masih memandangi bunga-bunga itu.

“Aku selalu berharap, mawar-mawar ini bisa mengembalikan ingatanmu. Kedengarannya seperti mustahil, bukan?”

Aku bicara sendiri, diselingi tawa kecil yang getir. Sementara Rosi masih seperti orang yang melamun. Sepasang matanya masih terpaku pada rangkaian mawar di tangannya.

“Waktu kita sudah sangat dekat, Rosi. Barangkali, tak lama lagi, mawar-mawar ini yang akan tertanam di atas pusara kita.”

Aku menatap Rosi lekat-lekat. Tiba-tiba dari sudut mata tuanya yang bergaris-garis itu, meleleh cairan bening yang tampaknya mengalir begitu saja, tak bisa ia tahan. Rosi terisak, lantas kembali memeluk seikat mawar itu. Ia menatapku sekilas, tersenyum, tapi air matanya terus meleleh. Beberapa membasahi kelopak mawar di dadanya. Hingga bunga-bunga itu tampak berembun.

Aku terus membiarkan Rosi menangis. Aku tak menghapus air matanya. Aku hanya memeluknya. Setelah tangisnya berhenti, tubuh Rosi tampak lemas, hingga aku harus membawanya ke tempat tidur. Di sana Rosi berbaring miring masih dengan gaun pengantinnya. Masih dengan seikat mawar yang ia dekap di dadanya. Aku mengusap rambutnya yang telah memutih, seperti juga rambutku. Aku menatapnya, seperti menatap bocah kecil yang begitu polos. Rosi memejamkan matanya. Malam menjadi begitu hening.

Aku meninggalkan Rosi yang tampak tenang di ranjangnya. Aku berjalan seorang diri menyusuri ruang demi ruang. Rumah ini adalah saksi bahwa aku dan Rosi tak pernah bisa dipisahkan. Waktu rasanya berjalan cepat sekali. Setelah tahun-tahun yang kami lalui, tiba-tiba rasanya kami menjadi tua begitu saja.

Aku berjalan ke ruang depan, membuka korden, dan menengok keluar jendela. Kesunyian ini terasa ganjil. Di halaman, semak-semak mawar tampak bergoyang dihalau angin.

Entah siapa yang menuntunku, tiba-tiba aku berjalan ke tempat favorit Rosi. Sebuah ruangan penuh buku.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan Edisi Terakhir-nya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (5)

roses-983972_1920

Aku mulai mencari Rosi di seputaran rumah dan menanyai beberapa tetangga. Tapi tak seorang pun melihatnya. Bocah-bocah cilik yang bermain sepeda di lapangan juga tidak melihatnya. Seharusnya Rosi ada di sekitar sini. Ia buta arah dan ia tak mungkin bisa berjalan gegas. Aku terus mencari dan bertanya pada setiap orang yang kutemui. Dibantu beberapa tetangga yang peduli. Tapi Rosi tak juga menampakkan batang hidungnya.

Aku pun mulai berpikir yang aneh-aneh, seperti misalnya Rosi diculik orang dan dimasukkan ke dalam mobil, lalu disekap di sebuah tempat, lantas si penculik itu meminta tebusan. Ah, tapi itu tak mungkin. Tak pernah ada cerita seseorang menculik  nenek-nenek dan meminta tebusan pada kakek-kakek. Lantas Rosi ke mana? Kepalaku mulai pening dan berkunang-kunang.

Setelah sekitar dua jam lebih pencarian tidak membuahkan hasil, beberapa tetangga mengantarku pulang. Setelah menenangkanku sejenak, para tetangga itu berpamitan. Mereka minta aku segera menghubungi mereka jika terjadi apa-apa. Rumah kembali hening. Aku terisak lirih, menyesali kerentaan yang begitu rapuh. Setelah lumayan tenang, aku menelepon neurolog yang memeriksa Rosi. Dan ia menyuruhku memeriksa kembali ruang demi ruang dalam rumah kami dengan saksama, misalnya dalam lemari, di bawah ranjang, di bak mandi, atau di tempat-tempat yang tak kuduga.

Begitu telepon kututup, aku bergegas ke kamar dan berjongkok mengintip ke bawah ranjang. Aku lemas seketika karena perasaan lega. Seonggok tubuh terbaring di sana, di bawah ranjang, di sebelah keranjang mawar yang membisu. Perlahan aku menarik tubuh Rosi yang terasa lebih berat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Rosi? Mengapa kau selalu membuatku cemas?” aku memeluknya erat-erat, seolah kami telah terpisah begitu lama.

Aku membaringkan tubuh Rosi ke atas ranjang dan menghubungi para tetangga bahwa aku sudah menemukan Rosiku. Aku menyiapkan makan siang yang terlambat dan menyuapi Rosi di atas ranjang, lantas melanjutkan pekerjaanku. Pekerjaan yang harus tuntas sebelum senja. Apapun yang terjadi, pesta kecil-kecilan ini harus tetap berlangsung. Untuk melangsungkan pesta ini, aku hanya butuh Rosi, dan ia sudah kembali.

***

 

Jelang senja, semua pekerjaan telah beres. Biasanya paket hadiah dari Fredie datang pada pagi menjelang siang, atau siang menjelang sore. Namun, sampai detik ini paket itu belum sampai ke tangan kami. Barangkali paket hadiah itu datang terlambat. Lagi pula, paket hadiah itu kini tak lagi terasa istimewa. Dulu, sewaktu Rosi masih ‘sehat’, kami berdua selalu bermain tebak-tebakkan perihal isi paket hadiah yang dikirim Fredie. Dan Rosi selalu menang. Tebakan Rosi selalu benar. Ketika Rosi mengatakan paket ini berisi perkakas dapur, maka paket itupun berisi perkakas dapur. Ketika Rosi mengatakan paket itu berisi pakaian, maka paket itu benar-benar berisi pakaian. Rosi bisa tahu isi paket itu hanya dengan mengangkatnya dan menempelkan kupingnya ke kotak paket. Seolah ada seseorang yang berbisik ke Rosi dan memberi tahukan isinya. Sementara aku, tak pernah tepat. Satu-satunya tebakanku yang tepat adalah ketika paket itu berisi makanan atau kue-kue kering. Dari suara dan aromanya aku sudah tahu.

Sayang, semenjak Rosi didera penyakit aneh itu, paket-paket dari Fredie menjadi paket hadiah yang hambar. Aku tak bisa lagi bermain tebak-tebakkan dengan Rosi. Dan isi paket itu hanya akan menjadi penghuni gudang. Dan karenanya, diam-diam aku merasa bersalah pada Fredie. Suatu kali aku mengatakan pada Fredie, suapaya ia menghentikan kiriman paket-paket hadiah itu pada hari ulang tahun kami. Tapi kata Fredie, “Aku tak bisa datang langsung. Kalau ayah melarangku mengirim paket hadiah itu, aku merasa seperti bukan anak kalian. Dan itu membuatku merasa bersalah.”

Aku pun bungkam dan tak pernah membahasnya lagi. Dan paket-paket hadiah dari Fredie terus berdatangan pada hari ulang tahunku, hari ulang tahun Rosi, dan tentu saja pada hari ulang tahun pernikahan kami. Aku jadi bertanya-tanya, kira-kira paket hadiah apalagi yang akan dikirim Fredie pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60 ini?

***

Selepas petang, rumah sederhana ini telah tampak seperti ruang pengantin, bersih, wangi, dan penuh mawar. Aku juga telah memandikan Rosi seperti biasanya. Pada hari istimewa ini, aku mengenakannya gaun pengantin berwarna putih gading yang telah kami simpan selama puluhan tahun dan rasanya tak pernah berubah. Rosi selalu tampak cantik berkali-kali lipat ketika mengenakan gaun itu.

Setiap vas telah kuisi dengan mawar-mawar segar yang baru kupetik tadi pagi. Kue yang kupesan juga sudah datang. Melihat kue itu mendadak aku teringat beberapa tetangga yang siang tadi membantuku mencari Rosi. Mungkin akan bagus kalau aku juga mengundang mereka. Tapi bagaimana mungkin, kue ini terlalu kecil bahkan untuk dua orang. Saat itu juga aku menghubungi kios kue yang sama dan menanyakan apakah ada stok kue yang kira-kira bisa diantar langsung, dan mereka memilikinya. Tak sampai satu jam kue dengan ukuran besar itu pun sudah tertata di meja.

Aku kembali menelpon para tetangga, beberapa dari mereka menyanggupi datang. Dan beberapa yang lain meminta maaf karena sudah ada agenda. Aku pun balik meminta maaf pada mereka karena undangan yang sangat mendadak itu.

Tepat pukul delapan malam, tiga dari tujuh tetangga yang kuundang sudah hadir. Sepasang pasangan muda yang tampaknya baru menikah dan seorang pemuda berusia dua puluhan. Kami tidak saling mengenal dekat. Kami hanya tetangga yang bertemu dan saling menyapa sesekali. Kami menjadi sedikit lebih akrab ketika mereka membantuku mencari Rosi siang tadi. Bisa dibilang, aku dan Rosi adalah salah satu penghuni paling awet di komplek perumahan ini. Beberapa yang lain datang dan pergi. Sebab itulah, kami tak begitu kenal dekat dengan tetangga. Semenjak menikah dengan Rosi, kami sudah pindah rumah sebanyak tiga kali. Dan rumah ini sepertinya akan menjadi rumah terakhir kami. Aku membeli rumah ini sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu, dan sampai sekarang kami tak berniat pindah-pindah lagi. Usia kami tinggal sejengkal, dan kami sudah terlalu capek dengan urusan keduniaan yang melelahkan.

“Sepertinya Anda sudah lama tinggal di komplek ini,” ujar salah satu dari pasangan muda itu. Siang tadi mereka mengenalkan diri, yang laki-laki bernama Rudi dan yang perempuan bernama Amelia. Meski wajahku dipenuhi kerutan, tapi ingatanku masih cukup bagus.

“Sudah sekitar tiga puluh lima tahun.” Sahutku.

“Wah. Lumayan. Kami belum ada apa-apanya?”

“Adik sepertinya baru pindahan, ya?”

“Tepat setahun, tanggal dua lima bulan ini.”

“Kalau adik?” aku menyapa pemuda berusia dua puluhan itu. Aku juga masih ingat, pemuda itu bernama Jeri.

“Saya sebenarnya sudah hampir dua tahun di sini, tapi jarang keluar-keluar,” jawab Jeri.

“Baru juga berarti,” sela Rudi.

“Wah, berarti saya memang paling tua di sini, bahkan di komplek ini. Mungkin saya sepantaran dengan kakek kalian.”

“Jadi ini pesta ulang tahun pernikahan kalian yang ke-60?” Amelia mengeluarkan suara.

“Ya, yang ke-60.”

“Wah, salut. Bikin terharu.”

“Kesetiaan yang patut dicontoh,” ujar si Jeri lagi.

“Dan Nyonya mana?” Amelia kembali bertanya.

“Tak usah panggil, Nyonya,” kataku, “Namanya Rosana, tapi panggil saja dia Rosi.”

“Kalau tak keberatan, kami akan panggil Ibu saja, dan kami akan panggil Anda Bapak,” ujar Amelia sambil melirik suaminya.

Aku tersenyum dan merasa haru tiba-tiba, “Dengan senang hati, Nak.” Setelah memanggil mereka ‘Adik’, kini aku memanggil mereka ‘Nak’. Rasanya sudah lama sekali tak ada yang memanggilku ‘Bapak’ atau menyebut Rosi dengan sebutan ‘Ibu’ secara langsung, kecuali suara kecil dari balik telepon. Suara Fredie. Mungkin kami benar-benar merindukan panggilan itu secara langsung.

“Oh ya, seperti yang telah kuceritakan siang tadi. Rosiku ini, ia agak berbeda. Jadi, jika nanti kalian mendapati yang aneh-aneh, mohon dimaklumi,” ujarku lagi.

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (4)

flower-2577944_1920

Ditodong seperti itu aku tak bisa berkutik.

“Aku tahu sesuatu telah terjadi pada ibu. Aku punya firasat,” suara Fredie mulai goyah.

“Kalau ayah tak mau cerita, sebaiknya aku segera memesan tiket pesawat, aku akan ke sana,” kata Fredie tergesa-gesa.

Aku tak punya pilihan lain kecuali menceritakannya pada Fredie. Kukatakan, bahwa usia tua telah menggerogoti ingatan ibunya. Ibunya sudah mulai pikun dan tidak bisa diajak bicara dengan normal. Aku tak bilang pada Fredie bahwa ibunya menderita Alzheimer, dan keadaannya lebih buruk dari yang kuceritakan. Aku hanya bilang bahwa ibunya mulai pikun. Dan itu normal untuk usia tua. Setelah mendengar ceritaku, Fredie sedikit tenang, meski ia sempat terisak. Berkali-kali ia meminta maaf karena tak berada di sini kami. Ia berjanji, kalau ada kesempatan, ia akan segera terbang menjenguk kami. Atau membawa kami ke Amerika, kalau kami bersedia.

Aku mengiyakan semua kata-kata Fredie agar ia tenang. Aku memang tak ingin membebaninya. Kalau Rosi sadar secara penuh tentu ia juga tak mau Fredie terbebani olehnya. Aku tahu seperti apa Rosi menyayangi bocah itu. Selama aku bisa menjaga Rosi, aku akan menjaganya dengan tanganku sendiri, sampai Tuhan menjemput kami dari dunia yang menyedihkan ini.

Semenjak mengetahui keadaan ibunya, Fredie menelepon lebih sering. Seperti biasanya, ia selalu meminta maaf. Ia bilang belum ada waktu luang. Hingga bulan demi bulan berlalu menjadi tahun.

Pada suatu malam. Aku terkejut ketika mendapati Rosi duduk di atas ranjang seperti orang normal. Ia membolak-balik album foto yang ia ambil sendiri dari laci. Pasti ia tak sengaja menggeledah laci-laci itu hingga menemukan album foto tua berisi gambar-gambar kami sewaktu muda. Rosi tampak termangu ketika aku mendekatinya dan terduduk di bibir ranjang. Rupanya ia tengah memandangi foto Fredie kecil. Pasti ia sangat merindukan bocah itu. Sudah lama sekali. Mendadak dadaku sesak.

Malam itu juga aku menelepon Fredie yang mengatakan bahwa ibunya terus memandangi fotonya dalam album. Mendengar itu, dari suaranya, Fredie tampak bahagia karena ibunya masih bisa mengingatnya. Sebenarnya, dengan menelepon Fredie malam-malam seperti itu. Aku ingin agar Fredie tahu, bahwa kami, aku dan ibunya sangat merindukannya dan mengharapkan ia datang meski hanya sekejap. Tapi aku tak pernah bisa memohon pada Fredie. Aku sudah berjanji tidak akan membebani anak itu.

Dan begitulah. Di akhir pembicaraan kami, Fredie hanya meminta maaf. Ya, ia memang ahlinya meminta maaf. Dan aku, seperti juga Rosi, tak pernah bisa untuk tidak memaafkannya.

***

 

Hari ini adalah hari istimewa: hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60. Kupastikan hari ini akan datang sepaket hadiah dari Fredie. Terlampau seringnya mengirim paket-paket seperti itu, Fredie jadi hapal betul kapan paket hadiah itu harus ia kirim supaya sampai tepat waktu: pada hari istimewa kami. Memang, terkadang paket itu telat satu hari atau malah kadang datang lebih cepat. Tapi biasanya ia datang tepat waktu.

Hari ini aku bangun lebih pagi. Selepas menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah, dengan sepatu bot dan topi rotan yang kusam aku mulai mendekam di halaman. Di antara semak-semak mawar yang penuh duri. Sementara Rosi, aku mendudukkannya di beranda, beberapa meter dari tempatku bekerja, mengguntingi tangkai-tangkai mawar yang telah mekar dan memasukkannya ke dalam keranjang. Aku senang sekali melakukan pekerjaan ini: memetik mawar-mawar ini, sambil ditunggui Rosi di beranda.

Malam ini rumah kita akan dipenuhi mawar, Rosi. Kuharap, malam ini, aku bisa membuatmu bahagia, atau setidaknya tersenyum.

Malam ini aku merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan, pesta ulang tahun pernikahan kami. Dengan kue tar mungil yang diatasnya dihiasi gula-gula berwarna merah muda berbentuk mawar, serta sepasang mempelai yang tersenyum, yang terbuat dari cokelat beku yang lezat. Rosi akan memotong kue itu dan kami akan menyantapnya sambil mengenang masa lalu.

Oh Rosiku yang cantik, apa ingatan itu masih utuh dalam kepalamu?

Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini, kami melewatkan banyak pesta dan hari-hari istimewa. Aku terlalu sibuk mengurus Rosi hingga terkadang lupa pada hari-hari istimewa kami. Hingga paket-paket dari Fredie datang tiba-tiba dan mengingatkanku. Tapi hari ini, hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60, harus dirayakan. Meski hanya dengan memetik mawar dan memotong kue kecil-kecilan.

Sambil memilah-milah kuntum mawar yang bagus, aku melirik Rosi yang duduk di beranda. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Sekuntum mawar merah terkulai di tangan kanannya. Aku tersenyum padanya dari kejauhan. Dan ia masih seperti sebelum-sebelumnya, menatapku tanpa ekspresi. Untuk menarik perhatiannya, aku mencoba mengangkat keranjang berisi mawar itu.

“Lihatlah mawar-mawar ini, Rosi. Sepertinya malam ini kita akan tidur berselimutkan mawar.”

Rosi tak menggubris. Aku sudah tahu itu. Dan aku masih berusaha tersenyum.

Setelah keranjang itu pernuh. Aku beranjak ke teras dan meletakkan sekeranjang mawar itu di atas meja kaca, di sebelah Rosi. Lantas beringsut menuju gudang kecil di teritis kanan rumah kami. Sebuah ruangan kecil tempat kami menyimpan alat-alat berkebun. Aku meletakkan topi jerami dan sepatu bot, pada tempatnya. Sejenak aku mengawasi ruangan itu, ruangan yang kian waktu kian using dan menyedihkan. Dulu, Rosi yang selalu merawat tempat ini.

Di sudut ruang, sebuah sekop dan cangkul tampak membatu seperti sepasang mempelai tua yang kesepian. Sekop dan cangkul itu kubeli saat pertama kali kami menanam mawar-mawar di halaman. Di dalam laci-laci kayu, beberapa alat berkebun yang bentuknya sedikit aneh, juga tampak kesepian, itu semua hadiah kiriman dari Fredie. Aku dan Rosi jarang menggunakannya. Sebuah topi jerami dengan hiasan bunga-bunga rumput, itu juga pemberian Fredie. Sepasang dengan topi jerami tua milikku. Sudah tiga tahun lebih Rosi tidak mengenakan topi itu. Aku menghela napas berat dan kembali beranjak ke teras.

“Saatnya kita membersihkan mawar-mawar itu, Rosi,” ujarku sambil ngeloyor menuju beranda.

“Rosi?” Aku terhenyak ketika tidak mendapati Rosi di tempat duduknya.

Aku berlari ke dalam rumah. Memanggil-manggil nama Rosi. Tapi tidak ada tanda-tanda Rosi masuk ke dalam. Aku menengok kamar demi kamar, dapur, kamar mandi, gudang dalam, halaman belakang. Dan Rosi tidak ada di sana. Kepanikan menjalari kepala tuaku. Aku kembali ke beranda. Sekeranjang mawar itu juga sudah tidak ada di tempatnya. Aku baru ingat, dalam keranjang mawar itu ada sebuah gunting pemetik bunga yang cukup tajam. Ya Tuhan, mengapa aku ceroboh sekali.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (3)

typewriter-1215868_1920

Kami terus merawat Fredie. Menyekolahkannya sampai jenjang tertinggi. Hingga pria kecil kami itu tumbuh menjadi seorang lelaki yang gagah.

 

Kini, Fredie telah menikah dan memiliki dua putra. Ia dan keluarga kecilnya tinggal di Amerika. Sesekali ia masih menelepon kami dan menanyakan kabar. Setiap hari ulang tahunku, atau hari ulang tahun Rosi, atau hari ulang tahun pernikahan kami, Fredie selalu mengirim paket hadiah beserta ucapa selamat buat kami. Paket itu berisi pakaian-pakaian mahal, kadang berisi perkakas-perkakas dapur dan berkebun. Dan kadang berisi makanan.

Setiap kali barang-barang itu sudah sampai di tangan kami, Fredie menelepon dan menanyakan apakah hadiah darinya sudah sampai. Fredie selalu meminta maaf karena tak bisa menemani hari tua kami. Kami tahu, Fredie juga sangat menyayangi kami. Dan kami sangat memakluminya, ia punya istri, anak-anak, dan pekerjaan yang harus ia prioritaskan. Aku sering mengatakan itu padanya, supaya ia tak terlalu merasa bersalah.

***

Aku seorang pensiunan pegawai negeri, dan Rosi, meski namanya tak terlalu masyhur, ia adalah seorang penulis novel yang cukup produktif. Puluhan novelnya telah terpajang di rak-rak toko buku. Beberapa novelnya, meski tak terlalu ribut-ribut, sempat mendapat ‘gelar’ best seller. Novel terbarunya mulai ia tulis sekitar empat tahun lalu, baru dapat sekitar 50 halaman. Sayangnya, naskah itu tak selesai. Takkan selesai. Ada sesuatu yang pelik yang menimpa diri Rosi, yang membuat banyak hal tak selesai.

Sekitar tiga tahun lalu, pukul dua dini hari lebih sedikit, aku terbangun dan tidak menemukan Rosi di sebelahku. Ketika aku bangkit dan mencarinya, aku mendapatinya tengah duduk di depan mesin ketik tuanya. Tapi ia tak mengetik apapun, ia hanya mengawasi vas berisi lima tangkai mawar—yang sudah lebih dari tiga hari dan belum diganti. Aku menyalakan lampu. Tubuh Rosi terhenyak sesasat.

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam, Rosi,” di tengah keheningan malam, suaraku terdengar seperti dentuman yang lantang.

Rosi tak menjawab, aku menyentuh pundaknya dan ia terlonjak seperti orang kaget, “Aku harus menyelesaikan novelku,” bisiknya.

Sejurus kemudian, sambil mengangkat vas mawar yang semula membatu di samping mesin ketiknya, ia mengatakan, “Mawar ini sudah hampir layu dan harus diganti, yang di dapur dan di ruang depan juga.”

“Iya, besok aku akan memetik lebih banyak lagi,” aku duduk di sebelahnya. Ia menoleh, menatapku dengan tatapan ganjil. Lalu kembali menatap mesin ketiknya.

“Apa yang kita lakukan di sini malam-malam, sebaiknya kita tidur,” ia bangkit dan beranjak ke dapur.

“Apa kau lapar?” aku menyusulnya.

“Aku mau tidur.”

“Tapi kenapa kau berjalan ke dapur?”

Rosi menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya seperti orang bingung. Aku meraih tangannya dan menuntunnya ke kamar. Dan kami pun kembali tertidur seolah tak terjadi apa-apa. Aku tak berpikir yang macam-macam dan tak mencurigai apapun, karena esok paginya, Rosi telah menyiapkan sarapan seperti biasa, menyeduh teh hijau dalam cangkir besar, dan menyirami semak-semak mawar di halaman rumah.

Aku memerhatikannya dari beranda. Beberapa kali Rosi tampak menunduk, seperti menatap tanah yang ia pijak, sejurus kemudian ia mendongak seakan memastikan bahwa langit di ketinggian tak akan runtuh menimpa kepalanya. Ketika kutanya mengapa ia melakukan itu, menunduk dan mendongakkan kepala berkali-kali, ia menyangkal. Pada suatu hari yang lain, tiba-tiba aku menemukan puluhan tangkai mawar yang baru kupetik dicampakkan ke keranjang sampah.

“Apa kau yang membuang mawar-mawar itu ke tong sampah, Rosi?” aku tak harus mencurigai siapapun, di rumah ini hanya ada kami berdua.

Rosi, yang duduk di kursi goyangnya menatapku dingin, “Bunga-bunga itu sudah lama tidak diganti, dan kau selalu lupa menggantinya.”

Aku mengerutkan dahi, “tapi mawar-mawar itu baru kupetik tadi pagi,” aku meyakinkan diriku sendiri, dan kembali menengok ke keranjang sampah yang dipenuhi kuntum-kuntum mawar yang masih segar. Aku yakin aku belum pikun.

Ketika aku kembali ke hadapan Rosi, Rosi menampakkan wajahnya yang cemberut sambil berujar dengan sangat yakin, “Kau juga harus bersikap tegas pada bocah-bocah nakal itu.”

“Bocah-bocah nakal?” aku semakin bingung.

“Iya, bocah-bocah yang suka memetik mawar-mawar kita sembarangan dan merusaknya. Kamu lihat saja sendiri sana…”

Aku mengalah dan memilih menengok ke halaman. Semuanya baik-baik saja, mawar-mawar itu. Tak ada yang ambruk ataupun rusak.

Aku kembali lagi ke hadapannya, “Apa kau baik-baik saja, Rosi?”

Rosi tidak menyahut dan malah berjalan mendekati mesin ketiknya, tapi ia tak mengetik apapun. Hanya duduk di sana dan menatap mesin ketik tuanya seolah-olah barang itu barang baru di rumah kami. Aku mulai cemas dengan sikapnya, tapi tak tahu harus berbuat apa. Puncaknya adalah pada sebuah pagi, ketika aku tak menemukan apapun di meja makan, tidak ada sarapan, tidak ada teh hijau dalam cangkir besar, dan tidak ada Rosi. Ketika aku beranjak ke dapur, aku mendapati Rosiku yang malang tengah duduk di depan lemari es yang terbuka sambil memeluk lututnya sendiri. Tatapan matanya kosong. Piamanya basah. Aroma sayur busuk dari dalam lemari es menguar, bercampur aroma pesing dari tubuhnya. Saat itu aku tak bisa berkata apa-apa. Aku memeluknya dan menangis begitu saja. Setelah kumandikan ia, aku menelpon seorang dokter kenalan kami. Aku menceritakan semua yang terjadi pada Rosi. Dan ia menyarankanku membawa Rosi ke neurolog.

Esok harinya, kami pergi neurolog. Ketika Rosi diperiksa, kecemasan itu kembali memberondongku, kecemasan yang nyaris sama dengan puluhan tahun lalu ketika dokter kandungan memeriksa kesuburan kami. Setelah pemeriksaan itu selesai, aku dan Rosi duduk bersebelahan di depan neurolog yang banyak senyum itu. Aku menggandeng tangan Rosi erat-erat. Seolah ingin menguatkannya.

“Nyonya Rosana, saya pernah membaca beberapa novel yang Anda tulis. Saya suka sekali dengan tulisan Anda. Dan saya benar-benar tak menyangka hari ini akan bertemu dengan Anda, seorang penulis yang saya kagumi,” neurolog itu memulai mengajak Rosi bicara.

Tapi Rosi tak menjawab. Hanya menatap kosong ke depan.

“Saya benar-benar menunggu karya baru Anda.”

Rosi masih seperti orang lupa. Bahkan matanya nyaris tak berkedip.

“Saya dengar, Anda sedang menyiapkan novel terbaru.”

Rosi seperti tidak mendengar kata-kata neurolog itu. Ia seperti berada dalam dunianya sendiri. Dunia yang sepi, yang ia huni seorang diri. Mataku mulai berkaca-kaca menatap wajah yang diam seperti manekin itu.

Sang dokter syaraf itu silih mengalihkan pandangannya padaku, “Maaf Tuan, sepertinya istri Anda sudah tidak tahu lagi satu tambah satu berapa. Jika Anda meninggalkannya dua blok saja dari rumah, maka ia takkan bisa pulang.”

Aku kurang paham dengan apa yang dimaksud neurolog itu.

“Istri anda menderita Alzheimer,” ujarnya lagi.

Meski tak tahu apa itu, tapi lututku mulai terasa lemas. “Apa itu?”

“Semacam gangguan pada otak, yang menyebabkan penderitanya kehilangan daya ingat, kesulitan berpikir, bahkan sindrom ini bisa menyebabkan perubahan perilaku dan emosi.”

“Apa ini ada hubungannya dengan kepikunan dan penuaan?” suaraku lirih dan gemetar.

Sang neurolog menggeleng, “Ini sebuah penyakit, dan bukan bagian normal dari penuaan. Saya pernah ada pasien yang usianya jauh lebih muda dari istri Anda dan mengalami hal yang sama.”

“Apa penyakit semacam itu bisa disembuhkan?”

Ia menggeleng lagi, meminta maaf.

Selanjutnya, penjelasan dokter syaraf yang panjang lebar itu terdengar seperti dengungan lebah yang tak begitu jelas. Seolah aku berjalan dalam keadaan tidak sadar, sambil menuntun Rosi keluar dari ruangan itu.

Aku ingin menelpon Fredie tapi kuurungkan. Hari itu aku kembali runtuh. Hidupku seperti dikerumuni keputusasaan yang wujudnya seperti kabut gelap. Hari itu, aku nyaris tidak melakukan apapun kecuali menemani Rosi di ranjang dan menatap wajahnya sepanjang malam. Esok harinya, aku mencoba bangkit. Aku mengambil alih semua pekerjaan Rosi. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, sampai menyiapkan sarapan. Rosi, ia masih sangat normal. Ia bisa menghabisnya sepiring mie goreng dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Ia masih bisa berjalan-jalan mengitari taman dan sesekali memetik mawar dan menatanya ke dalam vas. Tapi pada lain kesempatan, ia juga menumpahkan susu ke semak-semak mawar, tertidur di lantai, dan meletakan sepatu sandal di dalam lemari es.

Aku tak tahu apakah keadaan Rosi sudah sangat parah. Kami pun kembali berkunjung ke neurolog yang memeriksa Rosi. Ia baik sekali, ia meminjamiku banyak jurnal dan hasil penelitian yang berhubungan dengan penyakit aneh itu. Bagaimana cara merawat penderita, dan mengatasi hal-hal yang mungkin tidak terduga.

Dari jurnal-jurnal itu aku tahu bagaimana bersikap saat menghadapi ulah Rosi yang kadang-kadang sangat menjengkelkan. Dari tulisan-tulisan itu aku tahu bagaimana menanggapi kata-kata Rosi yang kadang tak masuk akal dan melantur. Seperti misalnya, ketika Rosi mengatakan bahwa dalam bak mandi kami ada seekor ular yang berenang-renang. Menurut jurnal yang kubaca, akan lebih baik kalau aku tak mematahkan keyakinan Rosi. Maka dengan pelan, kukatakan pada Rosi bahwa aku sudah mengusir ular itu, dan ia tak perlu takut pada ular atau apapun, karena aku selalu ada untuknya. Dan begitulah, semudah menggunakan tisu, Rosi melupakannya. Dan masih banyak ulah-ulah Rosi yang lain yang terkadang membuatku ingin menangis, sekaligus tertawa.

Waktu pun berjalan begitu saja, hingga lambat laun, aku menjadi sangat terbiasa. Sekitar hampir lima bulan setelah Rosi divonis menderita Alzheimer, Fredie menelepon dan bertanya kabar. Aku masih belum menceritakan penyakit Rosie. Aku belum siap menceritakannya. Ketika Fredie bertanya di mana ibunya, kukatakan bahwa ibunya sedang keluar. Beberapa minggu kemudian, Fredie menelepon lagi. Ketika ia bilang ingin bicara dengan ibunya, aku kembali mengada-ada. Kukatakan bahwa ibunya sedang tidur. Pada lain kesempatan, Fredie menelepon lagi. Ia mulai merasa curiga ketika ketiga kalinya, ia menelepon dan tak mendapati ibunya.

“Apa Ayah menyembunyikan sesuatu dariku?” kata Fredie dari seberang.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (2)

flowers-2427954_1920

Setahun berlalu, dan aku mulai bisa melupakan senyuman yang serupa mawar itu. Hingga pada tahun keenam hari kematian ibuku (yang kebetulan sama dengan hari ulang tahu ibunya Rosi), aku kembali mengunjungi toko bunga itu. Saat itu, ingatanku tentang senyuman mawar itu kambuh dan menggebu-gebu, seolah pertemuan setahun lalu itu baru saja terjadi.

“Mawar,” ujarku pada perempuan penjaga toko.
“Maaf,” perempuan penjaga toko itu menyelaku, “kalau boleh tahu, apakah mawar itu untuk akan kau letakkan di pusara ibumu? Untuk mengenang enam tahun hari kepergiannya?” Aku mengernyitkan dahi, bagaimana ia bisa tahu? “Benar sekali, dan bagaimana Anda tahu?”

Lantas ia menjelaskan, bahwa pagi-pagi sekali seorang perempuan datang ke toko itu dan mengatakan, kalau ada seorang lelaki dan mencari seikat mawar untuk diletakkan di pusara ibunya, untuk megenang tahun keenam kepergian ibunya, maka mawar untuknya telah lunas dibayar. Perempuan itu telah membayarnya. Mendengar penjelasan penjaga toko itu, jantungku berdetak cepat. Rasanya, sebuah anugerah yang besar akan segera mendatangiku.

“Apakah perempuan itu meninggalkan kartu nama, atau alamat, atau nomor telepon atau apa saja?” tanyaku terburu-buru. Perempuan penjaga toko itu mengangguk, “Ya, sepertinya ia meninggalkan alamat dan nomor telepon untuk pengiriman pemesanan rangkaian bunga.”

“Jadi ia memesan rangkaian bunga?”
Perempuan itu mengangguk.
“Apakah bunganya sudah dikirim?”
“Belum, bunganya sedang dirangkai di belakang, sepertinya sebntar lagi akan kami kirim,” jelasnya.

Aku tersenyum namun sedikit ragu untuk mengatakannya, “Mmm… apakah boleh aku yang mengirimkan rangkaian bunga itu? Maksudku, kalian tak perlu membayarku. Maksudku, aku hanya ingin datang dan berterima kasih pada gadis itu. Dan sepertinya akan bagus dan akan ada alasan yang tepat kalau aku datang bersama bunga pesanannya itu.”

Perempuan penjaga toko itu terlihat bingung sekaligus ragu, “Mmm bagimana, ya?”
“Aku bersumpah, bunga itu akan sampai pada alamat yang tepat.”
“Tapi,” perempuan itu masih tampak ragu. Keraguan yang utuh.

“Ya. Mungkin Anda tak kenal saya, tapi demi Tuhan, setiap tahun saya mendatangi toko ini, kalau saya butuh bunga, saya juga selalu mendatangi toko ini. Bisa dibilang saya termasuk pelanggan toko ini meskipun tak pernah beli bunga banyak-banyak.” Perempuan penjaga toko itu terus memberiku tatapan aneh. Dan entah mengapa, aku tak peduli, aku masih terus memaksanya. “Apakah bunga pesanan itu sudah dibayar?” tanyaku akhirnya.

“Belum, ia bilang akan membayar bunga itu kalau sudah sampai nanti.”
“Baiklah, aku yang bayar pesanan bunga itu, berapa?” Perempuan itu menengok ke belakang, seperti ingin meminta pertimbangan dari pegawai lain yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, ia menyebutkan juga nominal harga pesanan bunga itu. Aku segera membayarnya.

“Apakah sekarang aku boleh mengantarkannya?”
“Baiklah, sepertinya Anda sangat memaksa, tapi tunggu dulu, rangkaian bunganya belum selesai sebentar lagi.”
“Aku akan menunggu.”

Sekitar lima belas menit, aku menunggu dengan degup jantung yang terus berpacu serta luapan harapan yang melayang-layang dalam benak. Sekali lagi, aku merasakan keanehan itu, tepatnya kekonyolan itu. Ya, aku melakukannya lagi. Membayangkan dan mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Lima belas menit berlalu, seorag lelaki datang menghampiriku.

“Apakah Anda yang ingin mengantar bunga ini?” Aku segera berdiri, “Oh ya, aku.” Lelaki itu menyerahkan serangkaian bunga yang telah terbungkus plastik dengan sangat rapi, serta sebuah ucapan. Dari situ, aku tahu bahwa nama gadis itu adalah Rosana.

“Alamatnya?”
“Alamatnya di sini,” perempuan penjaga toko menyahut dari belakang meja kasir. Aku beranjak mendatanginya. Ia menyerahkan selembar kertas berisi nama dan alamat, “Maaf, kalau tak keberatan, bisakah Anda meningggalkan nomor telepon atau alamat rumah? Sebagai data pelanggan, maksudku.”

“Oh tentu,” aku menuliskan nama dan alamat rumah beserta nomor telepon. “Apa aku perlu meninggalkan Kartu Tanda Penduduk juga?” sambungku. Perempuan penjaga toko itu tersenyum, “Oh, tak perlu.” Ia tahu aku sedang bercanda. Selanjutnya, aku sudah melaju dengan taksi dan mencari alamat gadis bernama Rosana itu.

Tak sampai satu jam, aku sudah sampai di alamat yang kucari. Rumah itu mungil dan berhimpitan, khas sebuah perumahan. Halamannya kecil. Ada beberapa pot yang ditanami mawar-mawar mungil. Bunga-bunganya juga begitu mungil, tak seperti mawar pada umumnya. Aku mengetuk pintu dan tepat sekali, Rosi yang membukanya. Kami saling tatap sesaat dan saling tunjuk. Aku bersyukur ia masih mengenaliku. Rosi mempersilahkan aku duduk dan menyuguhkan secangkir teh serta stoples kue kering yang tak kutahu namanya.

Awalnya kami saling diam, hingga Rosi membuka percakapan, “Rupanya kau bekerja di toko bunga itu.”
“Oh, aku hanya mengantarkann pesanan, aku yang memaksa. Ya, supaya aku tahu alamatmu dan bisa mengucapkan terima kasih atas niat baikmu membayarkan seikat mawar ini.”
“Oh, aku hanya ingin balas budi.”
“Ah, kau masih mengingatnya rupanya.”
“Aku tak pernah lupa,” balas Rosi dengan wajah bersemu merah.
“Sebenarnya kau tak perlu repot-repot. Aku jadi berpikir apakah ini sebuah kebetulan atau apa. Maksudku, bagaimana kalau aku tak membeli mawar di toko itu.”

“Jujur saja, pagi ini aku mendatangi tiga toko bunga langgananku dan mengatakan hal yang sama, aku berharap, paling tidak kau mendatangi salah satunya. Dan itulah yang terjadi.” Aku tercengang dan hanya bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi. Dan semenjak hari itu, kami mulai sering bertemu. Kami membuat janji untuk bertemu di suatu tempat dan mengobrolkan hal-hal yang tidak penting tapi teramat penting untuk keberlangsungan pertemuan kami. Seperti yang sudah kau tebak. Aku jatuh cinta padanya dan ia jatuh cinta padaku. Dan dengan kisah romantis yang terlalu panjang untuk dijabarkan di sini, akhirnya kami pun menikah.

***

Kami menikah sudah 60 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk umur seseorang. Kami sangat bahagia menerima kehadiran satu sama lain, meski kami tidak dikaruniai momongan. Aku memang lelaki mandul semenjak lahir. Pada awal-awal tahun pernikahan kami, aku sempat runtuh ketika mendengar keterangan dari dokter yang memeriksaku, bahwa aku tak mungkin bisa memiliki anak. Aku, bukan Rosi.

Melihat ekspresi Rosi ketika itu aku sempat menyesal karena telah dilahirkan ke dunia dan menikahi Rosiku yang malang. Seharusnya Rosi bisa lebih bahagia dengan lelaki lain yang bisa memberinya anak. Maka, pada suatu hari, dengan kemurungan yang tak tertanggungkan kukakatakan padanya, bahwa aku siap menandatangani surat cerai, kapan pun, jika ia bermaksud mengajukannya.

“Itu hakmu,” lirihku, “aku memang lelaki tak berguna yang tak bisa memberimu keturunan. Aku benar-benar sudah rela melepasmu, kalau kau ingin mencari laki-laki lain. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.” Dan apa yang terjadi, Rosi malah menamparku. Ia sangat marah mendengar perkataanku. “Bicara apa kau ini, siapa yang mau melayangkan surat cerai? Dunia takkan berakhir hanya karena kita tak bisa memiliki anak. Ada banyak bocah-bocah manis yang bisa kita adopsi kalau kita mau.” Aku ingat, Rosi mengatakan itu, dengan gemetar. Dan kami pun berpelukan. Dengan napasnya yang terasa hangat di telingaku, ia berbisik, “Kumohon, jangan pernah berkata seperti itu lagi.”

Dan hari-hari yang berat itu pun berhasil kulalui, Rosi menguatkanku. Pada hari ulang tahun kelima pernikahan kami, kami mengadopsi seorang bocah lelaki, bahkan ia belum diberi nama ketika kami mengangkatnya sebagai anak. Kami pun memberinya nama Fredie. Kami menyayanginya sepenuh kehidupan kami, memperlakukannya seperti darah daging kami sendiri. Hari-hari kami menjadi sangat sempurna. Rosi memasak masakan kesukaan Fredie dan memandangi Fredie kecil makan dengan lahap. Kami tidur bertiga. Fredie meringkuk di tengah, diapit pelukan dua orang. Diam-diam aku sering mengamati Rosi yang begitu suka memandangi wajah Fredie kecil ketika bocah itu tertidur. Sebuah kenyataan kecil kemudian menusukku: Bagaimanapun kami menyayangi bocah ini, bocah ini bukanlah darah daging kami…

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

Cerbung: Mawar Ingatan (1)

letters-2213632_1920

Jika suatu saat kau kebetulan melewati jalan itu, kau akan melihat sebuah rumah yang bagai tumbuh dari semak-semak mawar. Rumah itu memiliki pekarangan penuh mawar, dengan pagar kayu bercat putih salju. Saat angin menggoyangkan semak-semak tumbuhan berduri itu, rumah itu pun bagai ikut bergoyang. Tak jarang, aroma bunga-bunga itu mengembara sampai ke ruas jalan.

Beberapa kali, para pejalan kaki, khususnya para perempuan, suka menghentikan langkah kakinya begitu sampai di ruas jalan itu. Mungkin mereka membaui aroma itu. Lantas, tanpa izin mereka berjingkat memetik setangkai mawar yang menjulur keluar pagar. Pemilik rumah itu memerhatikan mereka dari balik kaca jendela dan hanya tersenyum. “Petiklah sesukamu, Nona. Mawar memang diciptakan untuk para perempuan.”

Ketika para perempuan itu memetik sekuntum mawarnya sembunyi-sembunyi, ia selalu menganggap perempuan-perempuan itu pasti sangat menyukai mawar, seperti istrinya. Sebab itu ia tak pernah menegur mereka. Ia paham perasaan istrinya. Ia paham tabiat perempuan yang menyukai mawar. Lagipula, masih ada puluhan atau mungkin ratusan kuntum mawar di halamannya. Sungguh keterlaluan jika ia tak membiarkan para pejalan kaki itu mengagumi keindahannya dengan memetiknya barang setangkai.

Pada hari-hari tertentu, terutama di akhir pekan seperti hari ini, pemilik rumah itu akan berjibaku di antara bunga-bunga penuh duri itu. Ia adalah seorang lelaki tua dengan rambut penuh uban hingga seluruh kepalanya tampak kelabu. Saat matahari lunas menumpahkan teriknya, barangkali kau akan kesulitan membedakan mana lelaki tua itu dan mana pohon mawar yang kering layu. Di bawah matahari, keduanya berwarna nyaris sama: kelabu. Dan kalau kau mau tahu, lelaki tua itu adalah aku. Ia adalah aku.

Barangkali terlihat aneh, seorang lelaki tua dengan keranjang bunga di tangannya, memetik tangkai-tangkai mawar dengan cermat. Berjingkat menyisihkan duri dan menepikan serangga-serangga kecil yang hinggap dan merayap di antara bunga-bunga berseri itu. Ya, barangkali itu akan terlihat aneh. Tapi barangkali juga tidak terlihat aneh kalau lirikanmu bergeser sedikit lebih detail, ke arah beranda.

Apa kau melihatnya? Ya, wanita itu. Wanita yang duduk di beranda, di sebelah meja kaca dengan vas mawar di atasnya. Wanita yang mengenakan sweater rajut warna merah tua dan mengayun-ayunkan setangkai mawar putih di tangan kanannya. Ya. Ia yang duduk di sana. Mungkin kau kerap melihatnya.

Ia istriku. Namanya Rosana. Tapi aku lebih suka memanggilnya Rosi. Hanya Rosi. Rosiku yang manis dan beraroma mawar. Aku mengenalnya lebih baik dari mengenal diriku sendiri.

Lihatlah! Lima detik ke depan ia akan mengembalikan setangkai mawar putih yang ia pegang itu ke dalam vas, dan mengambil mawar merah sebagai gantinya, dan mengayun-ayunkannya lagi. Ia suka melakukannya. Satu dua kelopak terkadang berguguran mengotori lantai. Dan Rosi hanya memelototinya, sampai aku datang dan memunguti kelopak-kelopak itu lalu memasukkannya ke dalam saku.

Kami punya banyak vas mawar yang sama dalam rumah. Vas mawar kecil—yang terbuat dari keramik, yang selalu kami isi dengan tiga tangkai mawar, dua merah satu putih, atau satu merah dua putih. Aku dan Rosi selalu menyukai mawar, dan karenanya, halaman dan teritis rumah kami sesak dengan semak mawar. Merah dan putih. Juga biru, kuning, dan jingga. Tapi, selain merah dan putih, mereka jarang sekali berbunga. Kalaupun berbunga, bunganya cenderung kerdil dan kurang cocok dipajang dalam jambangan.

Mawar merah dan putih selalu menjadi andalan kami, mereka berbunga sepanjang musim dan begitu setia mengisi vas-vas mungil kami. Dan keduanya memang warna istimewa. Seperti warna bendera yang gagah sekaligus anggun. Seperti sebuah simbol dalam sebuah lagu. Merah seperti warna darah kami, dan putih seperti warna tulang kami. Merah darahku, putih tulangku. Merah cintaku. Putih kasihku. Sungguh indah.

Flower Shop, Meissen Impression, Hdr

Aku dan Rosi sangat karib dengan mawar. Bunga anggun dengan kelopak berjejalan itulah yang mempertemukan kami. Cerita itu dimulai pada suatu pagi yang bening, puluhan tahun silam. Aku dan Rosi tak sengaja bertemu di sebuah toko bunga. Rosi datang beberapa menit setelahku. Ia datang untuk seikat mawar. Tapi ia terlambat. Seikat mawar terakhir sudah kubayar dan siap kubawa pulang. Kami saling tatap sebentar, sebelum akhirnya Rosi menghampiriku.

Dengan sedikit basa-basi Rosi menyapaku, “Mawar yang indah,” tuturnya dengan senyum mengembang.

“Terima kasih. Mawar memang selalu indah,” balasku spontan, tanpa menyangka bahwa Rosi muda yang anggun itu akan menyapaku.

“Apa kau sangat menyukai mawar?” Rosi mengedarkan pandangan ke bunga-bunga yang tertata dalam vas raksasa. Dahlia dan amaryllis. Juga krisan dan seruni. Serta beberapa bunga lain. Tiga vas besar yang semula berisi mawar sudah kosong.

Mendengar pertanyaan Rosi aku langsung mengangguk dan menatap mawar yang tiba- tiba terasa jauh lebih indah itu.

“Apa itu untuk kekasihmu?” tanyanya kemudian.

“Oh,” aku menggeleng, “aku masih sendiri.”

Rosi terlihat canggung. Jelas sekali ia tak tahan lagi dengan basa-basi yang dibuatnya sendiri. Maka setelah kami terdiam beberapa saat Rosi pun mengatakannya, “Mmm… sebenarnya aku butuh mawar itu. Mmm… maksudku, kalau kau tak keberatan aku rela membayar mawarmu itu dua atau tiga kali lipat.”

Silih aku yang terlihat canggung. Perempuan penjaga toko bunga tampak memerhatikan kami. Sesekali Rosi meliriknya.

“Apa mawar ini sangat penting untukkmu?” aku menggigit sedikit bibirku, takut kalau pertanyaanku salah atau malah konyol.

“Oh, penting. Tentu saja mawar itu sangat penting.”

“Bukankah biasanya lelaki yang memberikan mawar untuk kekasihnya, dan bukan malah sebaliknya.”

“Ou, itu bukan untuk kekasihku, aku belum punya kekasih,” balas Rosi tampak antusias.

“Lalu?”

“Mawar itu untuk ibuku. Hari ini ia berulang tahun. Dan ia sangat menyukai mawar. Aku hanya ingin menyertakan mawar itu sebagai pelengkap kado untuknya. Sejujurnya, aku sudah berkeliling ke tiga toko bunga. Tapi semua mawar telah ludas. Mereka bilang hari ini ada dua kampus yang tengah menyelenggarakan wisuda kelulusan. Dan pada saat-saat seperti itu, mawar selalu laku. Ya, ini salahku juga, seharusnya aku datang lebih pagi, atau paling tidak memesan jauh-jauh hari.”

Rosi terdiam sejenak, lalu tertawa masam, sedikit malu-malu, “Yah, baiklah. Mungkin aku memang belum beruntung. Tak masalah. Hari ini akan tetap berlanjut dan ibuku akan tetap meniup kue ulang tahun meski tanpa mawar. Maaf, sudah menahanmu. Kau pasti terburu-buru. Aku duluan kalau begitu,” lanjutnya, dengan seuntai senyum yang keindahannya nyaris mirip dengan seikat mawar yang kupegang.

Rosi melenggang meninggalkanku yang hanya diam seperti patung. Entah siapa yang menyuruhku, tiba-tiba aku berlari menyusul Rosi. Di sebuah trotoar, tepat di bawah tiang lampu jalan, di depan toko bunga itu, aku menghadangnya, “Ini untukmu,” kataku tanpa berpikir panjang, “mawar ini untukmu saja.”

Seikat mawar itu segera berpindah ke tangannya.

“Itu untuk ibumu,” kataku lagi.

Rosi tampak sedikit canggung, sambil menatap seikat mawar itu ia bertanya “Mengapa tiba-tiba kau memberikan mawar ini padaku?”

Dengan pelan kujawab, “Mawar itu akan lebih bermanfaat untukmu.”

“Apakah mawar itu tidak terlalu penting untukmu?” ia bertanya lagi.

“Penting,” jawabku, “tapi mawar itu akan lebih bermanfaat untukmu.”

Sebelum ia bertanya lagi, segera kujelaskan, bahwa hari itu bertepatan dengan lima tahun hari kematian ibuku. Dan seikat mawar itu, rencananya akan kubawa ke makam ibuku dan kuletakkan di atas pusaranya, seperti yang kulakukan setiap tahun.

Mendengar penjelasanku, Rosi hanya terbengong. Ia menatapku agak lama sebelum mengembalikan seikat mawar itu padaku.

“Aku sangat berterima kasih. Sungguh. Tapi mawar ini untukmu saja.”

“Tidak. Ini untukmu saja. Aku tak keberatan.”

“Tapi aku tak mungkin menerimanya, mawar itu sudah kausiapkan untuk ibumu. Untuk kau letakkan di pusaranya. Jadi sebaiknya kau melanjutkan rencanamu. Tradisi penghormatan itu. Dan maaf, aku turut berduka atas ibumu. Aku yakin, ia seorang ibu yang beruntung.”

“Sesungguhnya, dengan atau tanpa mawar di atas pusaranya, penghormatan dan doa-doaku untuk ibu tak berkurang sedikitpun.” Seikat mawar itu kembali kuserahkan padanya, “Ibumu lebih membutuhkannya,” lanjutku.

Begitu mawar itu sudah berpindah ke tangannya untuk kedua kali, aku tersenyum padanya dan segera berlalu.

“Hei, aku belum membayarnya,” ia bersuara sedikit lantang.

“Itu hadiah,” balasku sedikit berteriak, yang dibalasnya dengan teriakan terima kasih yang lebih lantang.

Dan kami pun berpisah.

Entah sebab apa, sesampainya di rumah, wajah itu tiba-tiba terus membayang dalam benakku. Senyumnya berkelebat serupa mawar merah yang ranum. Tiba-tiba aku menyesalkan kebodohanku, yang pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meninggalkan jejak, bahkan namapun tidak. Semenjak hari itu, aku jadi sedikit konyol dan tak masuk akal. Saat aku ingin pergi ke suatu tempat, aku sengaja berjalan melewati beberapa toko bunga. Tentu saja termasuk toko bunga tempatku dan Rosi bertemu untuk pertama kalinya.

Dengan melewati toko-toko bunga itu, aku berharap sebuah keajaiban agar kami dipertemukan kembali. Terkadang, aku merasa seperti tengah bermain lotre. Menerka-nerka, berharap-harap, dan tak pernah mendapatkan apapun.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Orang Majus yang Lain (4)

pexels-photo-262786

Dalam Jalan Sedih yang Tersembunyi

TAHUN-tahun Artaban berlalu cepat di bawah keheningan kabut, di sini dan di sana. Sungai kehidupannya bersinar melewati bayang-bayang yang menyembunyikan jalannya.

Ia berada di kerumuman manusia kota-kota Mesir yang padat, demi mencari jejak-jejak keluarga kecil dari Betlehem itu. Ia menemui pohon-pohon sikamor di kota Heliopolis, di bawah dinding-dinding benteng Romawi di kota Babilonia Baru di sisi Sungai Nil. Jejak-jejak itu begitu redup, menghilang berkali-kali, seperti bekas jejak-jejak kaki di pasir yang berkilau sejenak, lalu menguap pergi.

Artaban pergi ke kaki piramid-piramid, memandang ujung puncaknya yang menghadap sinar safron dari curahan cahaya matahari, monumen-monumen abadi jejak kejayaan dan harapan manusia yang mudah runtuh. Dia menatap wajah Sphinx yang lebar,  mencoba membaca makna tersirat dari mata yang tenang dan mulut yang tersenyum.

Apakah semua usaha ini sia-sia seperti yang dikatakan oleh Tigranes? Sebuah teka-teki yang tidak ada jawabannya, sebuah pencarian yang tidak akan berhasil? Apakah ini perjalanan yang menyedihkan, yang didukung oleh senyum yang sulit dimengerti, atau sebuah janji yang akan dikalahkan, pemburuan mendapatkan hadiah yang berakhir dengan kekecewaan? Apakah ini perjalanan seorang bodoh yang akan menjadi bijaksana, seorang buta yang akan melihat, seorang pengembara yang akan tiba pada sebuah persinggahan, pada akhirnya?

Di rumah-rumah ibadah di Alexandria, Artaban berbincang-bincang dengan pendeta-pendeta kaum Ibrani. Kaum terhormat, yang membungkuk pada gulungan perkamen tulisan para nabi Israel. Dengan suara keras mereka membaca ayat-ayat suram tentang penderitaan Sang Mesias yang dijanjikan—yang hina dan tertolak, manusia yang menderita dan penuh dukacita.

“Ingatlah, anakku,” kata seorang pendeta sambil memandang mata Artaban lekat-lekat, “Raja yang engkau cari itu tidak akan ditemukan di istana atau di antara orang kaya dan berkuasa. Tidak ada kemuliaan anak Abraham yang akan melawan kekuasaan Yusuf di istana-istana Mesir. Atau singgasana keagungan Solomo di Yerusalem. Namun. Terang yang dinantikan itu adalah terang yang baru, kemuliaan yang muncul dari penderitaan panjang, dan akhirnya menang. Kerajaan yang akan didirikan oleh-Nya adalah kekal, keagungan yang sempurna, kasih yang tak terkalahkan.

“Aku tidak tahu bagaimana ini akan terjadi atau bagaimana raja-raja di bumi akan dibawa mengenal Mesias, dan memberi penghormatan kepada-Nya. Tetapi ini yang kutahu, bahwa mereka yang mencari Dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, mencari yang miskin dan rendah, mencari yang paling menderita dan tertekan,” ujar pendeta itu.

Setelah itu Artaban terus mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ia mencari di antara manusia yang terserak, keluarga kecil dari Betlehem yang mungkin sudah menemukan tempat pengungsian. Dia melewati seluruh wilayah, bertemu dengan orang-orang menangis karena tidak ada makanan. Dia tinggal di kota yang sedang ditimpa wabah penyakit dan bertemu orang-orang rang merana akibat penderitaan yang nyaris tak tertolong. Dia mengunjungi penjara-penjara bawah tanah yang suram, menatap wajah-wajah para budak yang membanting tulang di pasar-pasar, merenungi mata-mata letih karena terlalu bekerja keras.

Di antara dunia yang rumit dan letih, dia menemukan banyak orang untuk ditolong. Dia memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, merawat yang sakit, menghibur yang tertawan. Begitulah tahun-tahunnya berlalu cepat, lebih cepat melebihi gerakan kumparan penenun yang menyusun benang, membentuk pola-pola yang jelas.

Ia seperti telah melupakan apa yang dia cari. Sendirian dia menunggu matahari terbit, menanti di pintu gerbang penjara Romawi. Lalu tangannya menyentuh sesuatu di dadanya, tempat mutiara itu, satu-satu harta yang tersisa. Dia menatap permata indah itu. Kilaunya lembut, cahaya biru dan merah muda bergantian muncul, seolah menyerap pantulan batu safir dan merah delima, yang telah ia berikan dulu.

Sebuah tujuan rahasia, menariknya pada kenangan-kenangan kebahagiaan dan penderitaan di masa lalu. Semua itu telah menolong sekaligus merintanginya, sebuah keajaiban yang jalin menjalin. Benda berharga itu begitu dekat  dengan detak jantungnya, dengan hatinya.

Mutiara yang Tak Ternilai

TIGA puluh tiga tahun kini telah berlalu, dan Artaban masih mencari. Rambutnya yang dulu hitam seperti batu karang di Zagros, kini putih seperti salju yang menutupi bukit itu. Kedua matanya yang dulu tajam dan bersinar seperti api, kini lamur seperti bara api yang berubah abu.

Dia kelihatan tua dan letih, tubuhnya renta, tetapi dia masih mencari Raja itu. Kali ini untuk terakhir kalinya ia ke Yerusalem. Dulu ia pernah mengunjungi kota suci itu, menyusuri sudut-sudut kotanya, melewati jalan-jalan kecil dan pondok-pondok yang padat, penjara-penjara yang gelap, demi mencair keluarga kecil dari Nazaret, yang pergi dari Betlehem. Dulu sekali.

Sekarang Yerusalem sedang menyambut Paskah. Kota itu dipadati orang-orang Israel yang berdatangan dari seluruh dunia untuk merayakan perayaan agung. Namun, kali ini terasa berbeda. Selama beberapa hari ini ia telah mendengar desas-desus yang ia tidak mengerti.

Dan hari ini, desas-desus itu seperti nyata. Langit tampak murung. Sukacita perayaan seperti hilang terbawa angin yang menggoyangkan hutan pada malam badai, tersapu dalam sekali jalan. Hanya ada suara kaki-kaki manusia yang menyeret sandal mereka melewati batu-batu dan debu jalanan, menuju gerbang Damaskus. Dan Artaban bergabung dengan gerombolan dari negerinya, Partia.

“Kita akan ke mana?” tanya Artaban dalam bahasa mereka.

Orang-orang itu menatap Artaban, dan salah seorang menjawab, “Kita akan pergi ke tempat yang disebut Golgota, di luar benteng kota. Di sana akan ada eksekusi. Kau belum mendengar cerita itu? Dua perampok yang sangat jahat akan disalibkan, dan juga seorang yang disebut Yesus, orang dari Nazaret. Yesus ini telah melakukan banyak hal ajaib di antara umat, dan mereka mencintainya. Tetapi para imam dan tua-tua rumah ibadah telah menetapkan dia mati karena ia menyebut dirinya Anak Allah. Dan Pilatus menjatuhkan hukuman kepadanya, untuk disalib dan memberinya gelar ‘Raja Orang Yahudi.”

Mendengar penjelasan itu hati Artaban tersentuh! Tubuhnya gemetar. Ia merasa dekat dengan semua cerita itu, cerita tentang Yesus. Dia telah melakukan perjalanan seumur hidupnya, melewati darat dan laut, demi mencari Raja itu, dan sekarang dia mendengar pesan yang kedengarannya sangat putus asa. Bahwa Dia ditolak dan dibuang. Bahkan Dia nyaris binasa, sekarat.

Hati Artaban terasa berat. Apakah dia orang yang sama dengan bayi yang lahir di Betlehem tiga puluh tiga tahun lalu, yang kelahirannya ditandai bintang terang di langit, dan kedatangannya diceritakan dalam perkamen para nabi?

Jantung Artaban berdetak kencang saat ia bergumam sendirian, “Sungguh jalan-jalan Tuhan tak terpikirkan manusia. Aku menemukan Raja itu, yang sekarang sedang berada di tangan musuh-musuh-Nya. Aku akan menemuinya, memberikan mutiara ini, sebelum dia meninggal.”

Dia terus berada dalam rombongan, sementara hatinya diliputi kesedihan yang pedih, menuju gerbang Damaskus. Sekonyong-konyong ia melihat tentara-tentara Makedonia memasuki benteng, dalam sebuah gerakan cepat dan riuh, seperti huru-hara. Mereka menyeret seorang perempuan muda berpakaian compang-camping dan rambut yang kusut masai menutupi wajahnya. Namun ia melihat gadis itu mengangkat kepalanya, dan pada satu detik melihat ke arahnya, melihat topi putih Artaban dan lingkaran kuning di dadanya. Lalu gadis itu meronta-ronta dengan keras, membebaskan dirinya dari cengkeraman tangan-tangan penyiksanya, berlari ke arah Artaban.

“Tolong aku,” raung gadis itu, “selamatkan aku, demi Allah yang Maha Suci! Aku juga putri agama sejati, para Magi. Ayahku seorang pedagang, dia sudah mati, dan aku akan dijual menjadi budak. Tolong aku, aku tidak mau jadi budak. Aku tidak mau mati.”

Melihat gadis itu, tubuh Artaban bergetar. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia seperti tiba di hutan palem di Babilonia dan pondok di Betlehem, sekaligus. Batinnya bergejolak konflik antara harapan iman dan denyut kasih. Dua batu permatanya sudah dia berikan atas nama kemanusiaan. Lalu ini.

Apakah ini kesempatan besar atau pencobaan terakhir? Apakah ini sesuatu yang tak dapat ditawar, dan datangnya dari Allah?

Sesuatu di dalam hatinya terpecah, terbagi-bagi. Menolong perempuan muda ini adalah sebuah perbuatan kasih. Bukanlah kasih yang akan menerangi jiwa? Dia harus memutuskan dengan segera demi membebaskan si gadis. Secepat itu tangannya menyelinap ke dadanya, mengambil mutiara itu, lalu menaruhnya di telapak tangan si gadis malang.

“Ini untukmu, anakku! Inilah hartaku yang terakhir. Pergilah.”

Sementara dia berbicara, langit gelap dan bumi bergetar karena gempa. Terdengar derak keras akibat dinding-dinding bangunan yang retak. Batu-batu berpindah tempat, terlempar ke jalan, pecah berkeping. Debu beterbangkan ke udara, menutupi pemandangan. Tentara-tentara menjadi panik, bergerak ke sana-kemari seperti mabuk. Artaban dan gadis malang itu menjatuhkan diri ke tanah, merangkak pelan di bawah dinding kuil Praetorium.

Apa yang harus kutakutkan? Untuk apa lagi aku hidup, pikir Artaban. Dia sudah memberikan persembahan terakhir untuk Raja itu, kepada si gadis. Pencarian itu sudah berlalu, dan ia telah gagal. Meskipun begitu, ia merasa hatinya damai. Ia tidak sedang menyerah atau putus asa. Ia malah merasakan sesuatu yang dalam dan bermakna. Dia telah melakukan yang terbaik, dari hari ke hari, sampai hari ini. Hatinya tetap  lurus dalam menanggapi sinar yang menampakkan diri kepadanya. Dia sudah mencari. Jika dia tidak menemukan apa yang ia cari, sampai hari ini, tidak berarti dia tidak berhasil bertemu kekekalan itu. Karena, seandainya ia mendapat kesempatan mengulang hidup, dia tidak akan melewati jalan lain, seperti yang dijalaninya sekarang.

Lalu bumi bergerak sekali lagi, dengan keras. Saat itu, satu ubin yang berat, tergeser di atap bangunan akibat guncangan, melayang dari atas, jatuh, mengenai tubuh tua Artaban. Wajahnya memucat seketika. Napasnya seperti tergentu. Kepalanya terkulai di bahu di gadis dan darah mengalir entah dari mana. Waktu itu senja telah jatuh.

Melihat itu, tubuh sang gadis ikut bergetar, berusaha memindahkan tubuh tua Artaban, ke sampingnya, dan pada saat itu telinganya seperti mendengar suara pelan, seperti musik indah dari kejauhan, yang jernih dan jelas. Gadis itu menoleh cepat ke arah jendela bangunan kalau-kalau seseorang sedang berkata-kata dari sana, tetapi dia tidak melihat siapa pun.

Lalu ia melihat bibir laki-laki tua bergerak pelan, seolah-olah menjawab seseorang, berbicara dalam bahasa Partia yang ia pahami,

“Bukan begitu, Tuhanku.  Kapan aku melihat-Mu lapar dan aku memberi-Mu makan? Kapan aku melihat-Mu haus dan aku memberi-Mu minum? Kapan aku melihatmu sebagai orang asing dan aku melayani-Mu? Atau telanjang, dan aku memberiMu pakaian? Kapan aku melihat-Mu sakit, dan merawat-Mu? Selama tiga puluh tiga tahun aku mencari-Mu, aku belum pernah melihat wajah-Mu, belum pernah melayani-Mu, ya Rajaku.”

Artaban mengatakan itu dengan mata setengah tertutup, dengan suara lemah. Dan gadis itu kembali mendengar suara manis lembut dari kejauhan itu, berkata:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sebuah sinar lembut mengenai wajah pucat Artaban seperti salju yang turun dari puncak gunung, lalu mulutnya menghembuskan napasnya yang terakhir, dalam damai.

Perjalanannya selesai. Persembahannya telah diterima. Orang majus peziarah itu, kini telah menemukan Rajanya.

 

Selesai

 

*Cerita Bersambung ini diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

read more
1 2
Page 2 of 2