close

Cerpen

Cerpen

BUAH KARMA SANG KATAK

waters-3095682__340

(Plesetan Dongeng, diinspirasi dari kumpulan Fable Aesop: Seekor Katak yang Ingin Menjadi Raja)

 

Teks Rien al-Anshari*

 

Renang Renung Seekor Katak

 

Itu adalah renanganku yang terakhir

Di danau luas berpesisir indah

Sekarang aku telah duduk di tengah-

tengahnya, di bawah pohon raksasa

bernama Karma. Apa yang telah

terjadi padaku hari ini? Aku kerap

membayangkan pesisir jauh dan bunga-

bunga indah di penjuru timur.

Warna-warni itu, apakah artinya?

Aku kerap berandai-andai pada bukit

dan gunung tinggi di penjuru barat.

Batu-batu itu, seperti apa menyentuhnya?

Renunganku pun berenang. Renanganku

pun melayang. Aku ke sana dan kemari,

berulang kali. Tapi jika aku tak pernah

menjejakkan kakiku pada tujuan?

Apakah gunanya keadaan?

 

Pohon raksasa ini adalah rumah besarku

yang nyaman. Daun-daunnya rindang

melindungiku dari panas terik. Namun

kenapa aku tak diperkenankan untuk

memanjatnya? Kenapa aku tak diperkenankan

menyentuh dedaunan dan merasakan

lezatnya buah-buah Karma di percabangan?
Sungguh mereka ranum, lagi wangi.

 

Selembar daun jatuh ke air.

Aku membayangkan dirikulah yang

mengambang laksana daun yang terpisah

dari rantingnya. Tapi apakah ia, kini?

Apakah daun itu tetap sama seperti saat ia

bergelayut mesra pada ranting Pohon

Karma? Apakah ia tetaplah daun si pohon

Karma? Atau ia hanya daun semata-mata?

 

Oh, apa yang terjadi padaku?

Aku tak dapat melihatnya lagi sebagai rumahku.

Mataku telah membawaku hilang ke tempat

yang jauh, melesat membayangkan apa

yang ada dibaliknya. Mataku tidak di sini

melihat air. Mataku tidak di sini melihat akar.

Mataku tidak di sini melihat pohon Karma

seperti aku dulu melihatnya. Mataku telah pergi.

Mataku telah berenang bersama renungku

merenangi tempat yang jauh.

 

 

 

INILAH cerita seekor katak yang hidup di bawah pohon bernama Karma. Pohon itu berada di tengah-tengah sebuah danau yang amat luas, begitu luasnya danau itu hingga kedua pesisirnya nyaris tak tampak sama sekali. Pohon Karma menjadi rumah bagi sang Katak, tempat baginya beristirahat dan melepas lelah.

Katak berenang ke sana ke mari, sepanjang waktu, setiap hari. Dinginnya air dan udara yang sejuk membuatnya merasa begitu puas dan nyaman. Sampai tibalah ia di suatu hari, ketika sang Katak sampai di kedua penjuru yang amat jauh. Dari permukaan air di sebelah timur, ia dapat melihat hamparan rumput luas dan bunga berwarna warni. Dari permukaan air di sebelah barat, ia menemukan bukit dan gunung batu menjulang tinggi.

Sepanjang perjalanannya menuju kembali ke rumahnya, sang Katak mulai bertanya-tanya. Apakah yang ia lihat itu tadi? Kenapa yang satu tampak begitu menarik baginya sementara yang lain menakutkan sekali? Dan Katak pun tiba di rumahnya, mendapati Pohon Karma berdiri kokoh seakan menyambut kehadirannya.

Pohon Karma adalah sebuah pohon raksasa yang amat besar dan rindang. Sebagian tubuh akarnya menjadi celah bagi katak dan menjadi rumahnya di permukaan air. Tubuh akar pohon tersebut, setengah mengambang namun sebagian besarnya begitu kokoh menghujam menembus jauh ke dasar danau. Batang pohon Karma begitu besar hingga tampak seperti seribu kali lebar katak. Cabang dan rantingnya menutupi langit di seputaran danau dengan daun-daun besar menempel kuat. Tak pernah sekalipun selembar daun jatuh mengotori danau. Buah-buah berwarna jingga kemerahan selalu berkeliau di antara celah batang dan ranting, mereka laksana perhiasaan yang menambah keindahanan pohon Karma. Rindangnya dedaunan pohon Karma menutupi seluruh permukaan danau dan melindungi Katak dari sinar yang begitu terang dan menyengat, seperti yang terlihat di pesisir jauh. Pohon Karma pun tidak hanya selalu memberikan perlindungan, ia juga mengeluarkan udara yang selalu membuat Katak merasa begitu tentram dan nyaman.

Namun ketentraman Katak sedang terusik. Ia mulai membayangkan rupa-rupa yang ditemuinya di pesisir-pesisir jauh. Katak duduk di sebatang akar yang mencuat dan mendapati selembar daun Karma jatuh untuk pertama kalinya.

“Apa yang sedang kau lamunkan itu, Katak?”

Sebuah suara mengejutkan sang Katak, ia menengadah dan mendapati Tuhan sedang berayun-ayun di dahan pohon Karma.

“Aku telah sampai ke pesisir timur dan barat dan mendapati keduanya menarik perhatianku,” jawab sang Katak.

“Apakah gerangan yang menarik perhatianmu?”

“Sesuatu yang berwarna-warni dan sesuatu yang begitu keras dan tinggi. Apakah itu?”

“Yang berwarna-warni di sebelah timur itu adalah bunga, sementara yang terlihat keras dan tinggi di sebelah barat adalah gunung dan batu.”

“Tidak bolehkah aku menyentuhnya?” tanya sang Katak, lagi.

“Tidak puaskah kau dengan apa yang kuberikan padamu di sini, wahai Katak?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, wahai Tuhan. Aku hanya ingin mengenal mereka; bunga-bunga dan bebatuan itu. Meski yang satu tampak menggoda dan yang lain menakutkan, aku ingin mengenal mereka; menyentuh dan mungkin menggenggamnya. Apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah buruk jika aku ingin mengenal sesuatu selain aku?”

Tuhan pun tertawa. Tawanya mengguncang dahan dan ranting Karma sehingga beberapa lembar daun kembali berjatuhan.

“Sama sekali tidak. Aku hanya merasa belum saatnya itu tiba. Suatu hari kau akan mengetahuinya, wahai Katak. Bersabarlah,” dan Tuhan pun lalu menghilang.

Katak menggerutu di dalam batinnya, Tuhan selalu seperti itu. Ia datang kapanpun ia mau. Seperti di satu waktu, tiba-tiba saja ia bisa berjalan di atas air mengelilingi pohon Karma. Di lain waktu, ia dapat tiba-tiba duduk di atas dahan dan memakan buah Karma yang sudah tampak merah. Yang lebih menjengkelkan si Katak, tidak pernah sekalipun Tuhan memperkenankan Katak untuk mencicipi buah-buah tersebut. Ia bahkan melarang Katak untuk mencoba membayangkan bagaimana rasanya.

Katak memperhatikan selembar daun besar yang mengambang di atas air, ia pun membayangkan bagaimana daun yang tampak kokoh itu dapat patah dan melayang? Katak pun menengadahkan kepalanya untuk kembali melihat percabangan Pohon Karma dan menemukan seekor Bangau sedang duduk dan bersandar di tempat yang biasa diduduki Tuhan. Katak begitu terkejut.

“Siapa kau?” tanya Katak yang tak pernah mendapati makhluk lain yang bergerak, selain dirinya dan Tuhan.

“Aku Bangau.”

“Sejak kapan kau berada di situ? Apa yang kau lakukan di tempat duduk Tuhan?”

“Apa salahnya jika aku menduduki tempat duduk Tuhan? Aku punya sayap dan aku bisa terbang. Kau tak diperkenankannya kemari karena tempat ini begitu tinggi,” kata Bangau sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. berlagak seolah hendak memetik Karma.

“Begitukah? Bagaimana jika aku memanjat? Apakah aku boleh duduk di tempat duduk Tuhan dan memakan buah-buahan itu?” tanya Katak, setelah ia melihat bahwa Bangau pun akan memakan buah jingga kemerahan yang biasa dimakan Tuhan itu.

“Tentu saja,” jawab Bangau singkat.

Katak pun memanjat. Ia baru tahu bahwa kedua tangan dan kakinya dapat dipergunakan untuk sesuatu yang lain, selain bergerak di air.

Katak telah tiba di ketinggian. Di sana ia mendapati sebuah pemandangan yang sangat indah mengitarinya.

“Ini luar biasa. Aku harus bersusah payah berenang mencapai tiap sisi untuk melihat semua ini, sementara dengan memanjat, aku dapat menyaksikan keindahan semuanya sekaligus.”

“Ya, benar. Tapi dari ketinggian ini, tetap saja kau tak bisa menyentuh bunga atau menggenggam batu,” kata Bangau lagi.

“Sejak kapan kau ada di sini? Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Tuhan?

“Aku diciptakan mempunyai sayap, sehingga aku dapat terbang mengawasi seluruh tempat dan bergerak dengan cepat. Aku sudah berada di sini sejak kau bercakap-cakap dengan Tuhan tadi.”

“Bagaimana aku bisa tidak mengetahui keberadaanmu selama itu?”

“Sebab aku bergerak lebih cepat darimu, wahai Katak yang malang. Aku diciptakan lebih dulu, tentulah aku lebih baik daripadamu.”

“Begitukah? Apakah dengan begitu kau pun terbang sampai ke pesisir-pesisir jauh itu dan melihat apa saja yang ada di sana?”

“Tentu,” jawab Bangau, singkat. “Kau pun dapat melakukannya jika kau mau. Kau dapat melakukan lebih dari sekedar melihat, menyentuh atau menggenggam, seperti yang kau katakan.”

“Begitukah?” tanya Katak sangat penasaran. “Tapi aku tidak punya sayap dan aku tak dapat bergerak cepat menuju ke pesisiran. Aku berenang terlalu lambat dan Tuhan akan segera mengetahui tujuanku.”

“Kau dapat memakan buah ini dan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Tapi Tuhan melarangku. Ia bahkan melarangku untuk memikirkan bagaimana rasanya.”

“Ia melarangmu, sebab ia tak ingin kau menjadi sepertinya. Buah ini adalah makanan Tuhan. Jika kau memakan buah yang dimakannya, maka kau dapat menjadi sepertinya. Kau dapat berpindah-pindah dengan cepat, melihat-lihat bunga dengan berbagai warna, berdiri di atas batuan tinggi dan bahkan menggenggam gunung batu itu di kedua tanganmu. Sungguh, kau tak perlu berenang lagi dan bersusah payah. Percayalah padaku.”

Katak terpesona, ia sungguh percaya apa yang dikatakan Bangau setelah apa yang ia alami beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang hidupnya, ia berenang-renang tanpa pernah tahu bahwa air memiliki suatu batasan, namun sekalipun ia telah mencapai apa yang disebutnya sebagai pesisir jauh, ia bahkan tak punya keberanian untuk melangkah meninggalkan air. Lalu seketika pikirannya menjadi semakin resah ketika membayangkan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu selain ia; sesosok makhluk yang lebih perkasa, mempunyai dua buah sayap dan kaki-kaki ramping yang sangat indah, dan bahkan, makhluk itu dapat terbang sangat cepat. Bagaimana mungkin?

“Aku akan memakannya!” ujar Katak penuh keyakinan. “Aku akan memakannya dan menjadi sesuatu yang bergerak lebih cepat darimu, Bangau! Aku akan seperti cahaya atau lebih daripada itu! Aku akan melihat lebih dari apapun yang pernah kau lihat selama ini. Aku akan mengetahui apapun lebih dari apapun yang diketahui!”

Katak pun memakan buah Karma dan menemukan dirinya hanyut dalam kegelapan. Hilang. Lalu timbul dan mengambang di antara semburat warna warni megah. Terseret. Gepeng. Terdorong. Remuk. Terbentur. Pecah menjadi keping-keping. Anehnya, dalam tiap-tiap kepingan ia masih menyadari dirinya dalam kepingan yang lain. Ia melihat semuanya, seakan-akan tubuhnya adalah sesuatu yang banyak dan dapat dibagi-bagi. Bunga. Batu. Bangau. Air. Pohon Karma. Segala sesuatu menjadi matanya. Segala sesuatu menjadi gerak-geriknya. Sang Katak terpesona. Namun keterpesonaan tak berujung lama lama. Katak kemudian kembali tersedot dan terseret menuju kepada cahaya yang amat panas dan berkilau, sebelum dirinya hancur tanpa sisa.

Katak membuka mata. Kali ini, ia mendapati tubuhnya telah jatuh ke dalam air; tenggelam di antara akar Pohon Karma, bersedekap memeluk diri. Sang Katak dapat merasakan hatinya bergetar hebat, hingga rasanya ia dapat pecah dan hancur kapan saja.

“Kau telah melanggar laranganku, wahai Katak,” ujar Tuhan yang kini berada di hadapannya.

“Benar. Aku pun merasa malu dan bersalah,” ujar Katak dari dalam hatinya. Ia masih saja bersedekap dan tak mampu menatap Tuhan, namun ia tahu bahwa tak ada apapun yang dapat mencegah Tuhan untuk mengetahui apa yang ia ketahui.

Katak tenggelam melewati akar-akar Pohon Karma. Pelan tapi pasti, tubuhnya jatuh ke dasar danau yang tak berujung; semakin gelap, semakin sunyi dan semakin jauh.”

“Pohon Karma berbuah Kesadaran. Siapapun yang memakannya tak bisa menolak perbuatan, demikianlah segalanya menjadi,” suara Tuhan mulai terdengar bergaung. “Karena perbuatanmu itu, aku menurunkan engkau dari tempatmu ini. Engkau akan turun pada suatu tempat yang disebut Bumi. Di sana kau beranak-pinak dan berkembang-biak; bergerak, tumbuh, hidup, mati, terus berputar dalam rotasi sampai waktu yang ditentukan. Sebagian daripadamu akan menjadi musuh daripada yang lain. Di setiap lahan akan selalu ada perebutan. Dan Bangau akan menjadi bagian dari setiap perebutan, itu. Serupa engkau, ia pun beranak pinak dan berkembang biak, dan sepanjang hidupnya ia ditakdirkan untuk mengintaimu dari segala penjuru. Manakala kau lengah, kau dan anakmu akan menjadi mangsa utamanya. Manakala kau waspada, engkau menjadi jauh lebih perkasa darinya.”

Lalu, percikan bunga api listrik mulai tampak menjalar, pecah mewarnai kegelapan dan kekosongan. Setitik cahaya putih di ujung lorong mulai tampak, memancarkan satu garis sinar lurus yang sangat indah. Pancarannnya menembus partikel-partikel kristal dan pecah dalam warna warni mempesona.

“Sejak saat ini, engkau akan mengenali sekaligus juga dikenali. Kau akan menyentuh dan disentuh, meraba dan diraba, menggenggam dan digenggam, melihat dan dilihat. Semuanya akan terjadi. Semuanya akan kau alami,” suara Tuhan mulai terdengar semakin jauh. “Selamat mengalami, Katak.”

 

******

 

Tiba-tiba sekumpulan kecebong putih melesat dan meluncur dengan kencang. Mereka berkejaran, berhimpit, tumpang tindih, tertinggal, berserakan, mengambang dan lebih dari sebagiannya, mati. Beberapa dari mereka mulai tampak mencapai tujuan, berkerumun pada sebongkah benda bulat bercangkang keras. Mereka mulai mematuk-matukan kepalanya berusaha menemukan celah masuk. Namun hanya sang Katak yang dapat membuat celah pada cangkang keras tersebut. Ia terdorong oleh semacam tenaga yang aneh, masuk dan menemukan sebuah rumah yang nyaman. Tak lama kemudian, ekor yang semula ia pergunakan untuk bergerak pun terlepas dari tubuhnya, meninggalkan ia hanya dengan kepalanya saja. Namun Katak tak berbuat apapun, ia hanya dapat diam dan melambat dan membiarkan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, yang dua menjadi empat, delapan, enam-belas hingga bertumpuk-tumpuk membentuk gumpalan. Gumpalan-gumpalan berkumpul membentuk kepala, membentuk batang tubuh, membentuk tangan dan kaki-kaki. Demikianlah sampai pada suatu hari, Sang Katak kembali menemukan pintu dan seberkas cahaya dengan campuran berbagai warna yang tak lagi berpendar. Untuk pertama kalinya, ketika Katak telah melewati pintu, ia menemukan sekumpulan makhluk yang sangat aneh berkelakar dengan bahasa yang tidak dimengertinya.

“Bayi! Bayi Lelaki!” demikian, teriak mereka.

 

***

 

 

*Rien al-Anshari adalah penulis, tinggal di Jakarta.

 

read more
Cerpen

CERPEN: Teropong Kembang Goyang

pexels-photo-733475 (1)

Ruhut menatap keluar, menyadari malam yang semakin pekat. Angin menukik dari daun kelapa sawit berusia dua tahun, menerobos ia ke hati lelaki yang hanya bisa merenungi sebatang pohon kelapa sawit apabila rindu mencabik-cabik dirinya. Kelapa sawit itu dulunya sesosok perempuan yang tiba-tiba menjadi kabar kepedihan pada satu malam Natal.

Di hadapan tungku yang baru menyala, lekas-lekas Ruhut mengelapkan ingus. Sejentik air mata runtuh ke adonan kue kembang goyang, secara refleks tangannya membuang bagian yang tercemar itu, kemudian mengaduk adonan lebih cepat dan cepat tersebab mesti disegerakan ke dalam minyak panas. Serenauli anak gadisnya yang berusia tujuh tahun sudah merengek menyerukan kue kembang goyang semenjak di gereja tadi.

Membuat kue kembang goyang tidaklah sulit. Ruhut dulu kerap membantu Duma melakukannya malam hari, sekembali dari ladang sawit. Tepung beras dicampur telur dan gula pasir. Santan dan air. Komposisi pertama Duma yang mengurus. Komposisi kedua, Ruhut yang menuangi perlahan-lahan, dengan penuh penghayatan, sementara mereka terus mengaduk dengan gerakan searah hingga adonan merata dan siap dicelup loyang panas. Loyang didiamkan beberapa detik dalam minyak di kuali, lantas digoyang-goyang. Minyak akan membusa, lapisan kue akan terlepas dari loyang, lalu lubang kue akan sempurna, tempat mereka meneropong bintang setelah bergantian meneropong mata masing-masing, dan beberapa bulan setelah itu seluruh desa mendengar berita lahirnya seorang bayi perempuan. Serenauli.

Namun mengenang-ngenang peristiwa itu sama dengan mengorek luka di atas luka. Pagi itu tubuhnya gemetaran mendapati punggung tangannya retak dan bengkak, berdenyut-denyut, merasa kian parah mengingat tiada lagi kekasih hati yang bisa ia mintai tolong untuk sekadar menyendokkan nasi. Ia dulu akan manja berprotes, “Kau masih tega memarahi orang demam?”, sembari mengambil tangan Duma lalu melekatkannya di dahi sendiri. Dan Duma selalu luluh setelah itu. Ia akan menggelitiki tapak kaki Ruhut sampai lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Sekarang ia tak bisa menahan air mata yang deras berjatuhan begitu saja. Bila bukan karena permintaan anak gadisnya yang bermata jeli, ia lebih memilih tidur untuk melupakan apa pun yang berhubungan dengan Natal lalu esoknya ke ladang sawit. Di sana ia bisa membersihkan rumput, memotong pelepah-pelepah tua serta sesekali memperhatikan batang bagian akar apakah kokoh ataukah bila datang badai pokok-pokok itu tumbang mendadak. Itu cukup untuk mengelabui hatinya yang sendu.

“Kue kembang goyangnya apa sudah masak, Pak?”

“O-o, sudah, sudah,” Ruhut pura-pura sibuk memegangi saringan alumunium padahal tak ada apa-apa dalam kuali.

Dengan suara kecilnya Serenauli sungguh-sungguh berkata bahwa mereka harus merayakan Natal untuk Ibu di langit: Ibu yang menembus awan dengan cara berdarah-darah demi tinggal di surganya Tuhan. Tak membantah Ruhut memantik korek api. Kemudian tiga lilin putih memancarkan cahaya lembut di pekarangan rumah. Pohon kelapa sawit di sudut sana seakan memelototi keduanya.

“Apa Ibu melihat kita, Pak?” bisik Serenauli, menengadahkan dagu ke langit.

Ia mengambil satu kue kembang goyang untuk meneropong tiga bintang yang berkedip-kedip, seperti saling bicara dalam keheningan. Satu bintang nun jauh di sana, lebih terang dibanding yang lain. Kepala kecilnya membayangkan itulah bintang timur, bintang yang dalam kitab suci pertanda Yesus lahir sebagaimana diceritakan guru sekolah minggunya. Kata Serenauli, dari bintang besar itulah ibunya menatap mereka ke bumi.

Dua bintang yang berdekatan bisa jadi dirinya dengan Ruhut yang saat itu mendekap jemari kecilnya. Ruhut mencium jemari Serenauli, meletakkan seluruhnya di depan jantung yang kini berdebar lebih sakit—ia merasa dirinya hanya ayah tak berguna karena tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan gadis kecilnya.

“Bila Ibu melihat kita, apakah nanti dia akan menjumpai kita dalam mimpi, Pak?” Suara Serenauli terdengar lagi. Ruhut terkejut sekaligus kagum mendengar kata-kata yang entah berasal dari mana keluar dari mulut kekasih kecilnya. Ruhut tahu ini karena Duma. Selagi  masih ada dulu, menjelang tidur Serenauli kerap dibacakan cerita oleh Duma. Dan Duma selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan putri mereka. Sekarang, bagaimana mencari perempuan itu lagi? Perempuan yang kini tinggal kenangan.

“Kau ingin Ibu datang sekarang, Sere?”

“Memangnya bisa, Pak?”

“Bisa. Tutup matamu dan pikirkanlah Ibu.”

“Tapi aku ingin kita merayakan Natal bersama Ibu.”

“Ya?”

“Apa itu bisa juga, Pak?”

“Ummm, ya ….”

Serenauli berhenti meneropong langit. Ia meletakkan kue kembang goyang ke atas bangku lalu menutup mata seraya mengatupkan tangan. Kue kembang goyang terjatuh tersentuh Serenauli yang merapatkan anggota tubuh tersebab kedinginan. Memang ini sudah kelewat larut. Daun-daun kelapa sawit pasti sudah sangat lembab.

Di belakang anaknya, Ruhut menggebuki dada, merasa tolol setolol-tololnya mengapa dirinya begitu melankolis. Ia merasa kelelakiannya tercoreng. Tak ada laki-laki secengeng sepertinya sekarang. Ia kenal seseorang, panggilannya Senu, baru beberapa bulan istrinya meninggal, sudah berjalan dengan dada membusung, membiarkan diri menjadi rebutan gadis-gadis.  Ia takkan mampu seperti itu, meskipun ia mencobanya. Hari ketika Ruhut memeluk tubuh kaku Duma dan tak lagi ia dengar desah napasnya, ia berjanji kepada dirinya: aku akan bersetia pada kesendirian meski itu kesepian yang paling mematikan.

Di belakang Serenauli Ruhut mundur untuk membuang ingus. Pohon sawit berusia dua tahun memelototi dirinya hingga ke dasar jiwa. Sawit yang ia sengaja tanam di sana tempat jasad Duma tidak jauh di bawahnya. Sawit yang menjelma Duma sendiri. Bijinya berasal dari pokok kelapa sawit tua yang tumbang lalu menimpa tubuh Duma dikala dirinya sedang sakit hampir seminggu dan akan segera dibawa berobat ke kota kabupaten namun mereka hanya memiliki sedikit tabungan. Maka itu, atas kehendaknya sendiri, Duma berbohong pada Ruhut. Duma bilang pada Ruhut ia hanya mencari kayu bakar di pinggir hutan menunggu keberangkatan mereka esok pagi yang mendekati masa-masa Natal.

Tetapi sampai pukul delapan Duma tak kunjung pulang. Hari itu Senin. Setiap orang biasanya pergi ke simpang tiga untuk berbelanja. Membeli ikan kering, beras, gula, tepung, minyak, baju-baju baru, sepatu, tas dan lainnya. Malam itu Ruhut menyakini sesuatu telah terjadi. Mengingat itu dadanya tiba-tiba berdebur keras. Perasaannya sungguh lain. Tiba-tiba matanya melihat seekor kupu-kupu cokelat mengilap memaksa diri masuk melewati celah dinding, dan berhasil.

Kupu-kupu itu mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia berputar-putar di kamar hingga berhenti di foto Duma kemudian berputar-putar lagi. Memandang itu, Ruhut bergerak, kepalanya terasa menggasing serta mata berkunang-kunang. Ia lebarkan tangan untuk menangkap kupu-kupu yang ia tahu pasti jatuh. Lalu tangannya dipenuhi serbuk cokelat. Sayap kupu-kupu patah. Kupu-kupu tergeletak tak berdaya di telapak tangan Ruhut.

Ruhut bergegas ke pintu setelah disuruhnya Serenauli menunggu di rumah. Terseok-seok ia berjalan sambil mengenakan pengikat kepala mengetuk pintu demi pintu yang dipenuhi aroma minyak sawit di atas penggorengan. Sambil berjalan ia terbayang seharusnya malam itu Duma membuat kue kembang goyang. Ia akan mendengar denting sendok. Suara adonan diaduk, setelah itu mungkin mereka akan melakukannya, berharap seorang anak laki-laki akan lahir beberapa bulan kemudian.

Ruhut membayangkan anak laki-lakinya itu: matanya, mulutnya, oh, hidungnya, apakah nanti akan mirip hidungnya atau Duma?  Ah, lebih baik mirip Duma supaya tidak pesek seperti hidungku, ujarnya dalam hati. Lalu ia bayangkan anak laki-lakinya bertumbuh besar. Usianya tujuh tahun. Namanya Tona. Ia kemudian meninju lembut lengan Tona karena anak laki-lakinya itu menangis saat tali layangannya tersangkut di pucuk sebatang kelapa sawit. Jangan menangis, katanya. Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Tahu-tahu Ruhut sendirilah yang menangis membayangkan semua itu.

Dua jam Ruhut melakukan pencarian di sekitar rumah tetangganya. Dalam waktu cepat warga berkumpul, berembuk, lalu berpencar. Seorang perempuan pemilik ladang sawit berhektar, berseru, “Coba kalian ke ladangku”. Warga mendelik agak marah. Perempuan kaya itu memang sering nyinyir. Ia menuduh Duma berada di ladangnya untuk mencuri sesuatu? Seharusnya ia menjaga mulutnya agar tak melukai perasaan orang tak berpunya. Tetapi perempuan itu ngotot, berkata, pernah melihat Duma di ladangnya sehabis panen, mengumpulkan brondolan sawit yang tersisa. Mau tak mau orang pun ke sana.

Malam yang tak membuahkan hasil. Hari sudah pagi ketika Ruhut mendengar kabar melumpuhkan pikiran. Tubuhnya runtuh seketika. Orang-orang membawa peralatan ke ladang perempuan pemilik ladang sawit yang luas itu. Bukan hanya parang dan kayu, melainkan gergaji mesin.

Duma ditemukan sedang duduk telungkup seperti bersujud. Sebatang kelapa sawit tua gugur menimpa dirinya. Badannya memar di banyak tempat. Tangan bajunya robek menembus daging. Dahinya mengesumba.

Seorang lelaki menggergaji batang sawit besar, yang lain menggulingkan tubuh itu. Semua mata memandang dengan perasaan ngeri. Pemandangan yang merobek jiwa. Tangis Ruhut memantul ke daun-daun kelapa sawit. Sebagian jiwanya menguap pergi. Ruhut meninju batang sawit berkali-kali sampai tangannya merekah dan robek, tidak berhenti bila orang-orang tak menahannya.

“Apa Bapak menangis?”

Ruhut menangkap anak gadisnya dan merangkul tubuh mungil itu erat-erat.

“Aku sudah memikirkan Ibu, dan Ibu akan selamanya hidup di hatiku,” kata Serenauli membuat bentuk hati di bawah dagunya.

“Tentu saja, Nak. Tentu.”

Pohon sawit berusia dua tahun di sudut rumah ditiup angin. Langit tak lagi temaram. Bintang paling besar sudah pergi dan tak ada lagi kedip di sana. Serenauli membuka toples. Ia meneropong wajah Ruhut melalui kue itu.

“Selamat Natal, Bapakku.”

“Selamat Natal, Sereku.”

Kue kembang goyang di tangan keduanya retak tiba-tiba. Seekor kupu-kupu cokelat menabrak, lalu pergi setelah meninggalkan sebelah sayapnya hinggap di bahu Ruhut.

Riau, Oktober 2017

 

Jeli Manalu tinggal di Rengat-Riau. Cerpennya pernah hadir di Analisa, Sumut Pos, Media Indonesia, Majalah Litera, Lombok Pos, Rakyat Sultra, Haluan Padang, Merapi Pembaruan, Padang Ekspres, Banjarmasin Post, Suara NTB, Medan Bisnis, Apajake.com. Cerpennya Bahagia Tak Mesti dengan Manusia, menjadi judul buku antologi kumpulan cerita yang akan segera terbit.

read more
Cerpen

CERPEN: Pohon Uang

corrections-70322_960_720

Sejak keluar dari penjara, sulit bagiku untuk mencari pekerjaan. Aku berkeliling ke setiap bagian di kota kecil ini, tetapi tidak satu pun orang sudi mempekerjakanku. Aku hanya berakhir di depan televisi busukku, satu-satunya harta berharga yang tak disentuh oleh siapa pun selama aku di penjara (karena benda itu sudah tua dan tidak mungkin laku dijual), dan menonton acara-acara tidak bermutu, lalu tidur sambil menahan lapar dari waktu ke waktu.

Uang tabunganku selama bekerja menggotong tumpukan kertas atau membungkus produk-produk mebel di penjara, tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Pada akhirnya semua uangku akan habis, dan jika itu terjadi, bagaimana caraku melanjutkan hidup?

“Andai saja di dunia ini ada pohon uang, tentu tidak akan ada penjara. Orang-orang bisa menanam pohon uang mereka sendiri sehingga tidak perlu ada kekacauan di muka bumi,” pikirku.

Aku terus bertanya-tanya dan tidak ingin terjebak ke dunia kriminal. Aku putuskan tidak ada lagi kejahatan yang kulakukan demi uang. Tidak ada pohon uang di dunia ini, dan jika seseorang mengharapkan uang, maka dia harus bekerja. Tetapi, mencari kerjaan halal tidak mudah bagi orang sepertiku.

Pernikahanku yang gagal setelah aku masuk penjara, orangtua yang tidak pernah mengakui keberadaanku, teman-teman yang secara pelan dan pasti menjauhiku hingga hilang sama sekali; semua itu adalah bukti betapa tidak berartinya hidupku. Aku hanya bisa melamunkan itu tanpa mampu memperbaiki segalanya.

Karena televisi membosankan, kadang-kadang aku tidur, dan kurasa itu efektif untuk membuang pikiran-pikiran masa depan suram untuk sementara waktu, tetapi seluruh kesialan kembali menghadang setelah aku terbangun.

Aku bangun dan menyadari, betapa setiap hari aku butuh makan dan minum. Tentu saja aku akan tetap berjalan ke beberapa bagian kota yang mungkin tidak tahu bahwa aku pernah di penjara. Lalu, di tempat itu, seseorang sudi memberiku pekerjaan. Apakah ada suatu tempat yang menerimamu bekerja tanpa surat keterangan atau semacamnya?

Aku tidak terlalu yakin dengan usahaku. Di suatu titik aku mengira dompetku tidak berisi uang. Tabunganku sudah berkurang terlalu banyak sejak aku bebas dari kurungan. Di depan sebuah toko yang baru saja menolakku, aku duduk dan menyalakan sebatang rokok terakhir. Seorang pengemis melintasi jalanan sepi di depan toko, dan terjatuh, lalu bangkit untuk kembali berjalan. Pengemis itu pincang, berbadan penuh luka, dan satu kakinya seperti meleleh serupa karet terbakar, tetapi ia memaksa untuk terus berjalan.

“Sebaiknya Bapak berhenti dulu, kalau tidak mau mati,” kataku.

Pengemis itu berhenti dan menatapku. Lalu, ia menoleh ke depan, ke arah yang dia tuju, dan setelah menghela napas panjang, dia putuskan duduk di sampingku. Aku tidak mengajaknya berbicara apa-apa, tetapi pengemis itu mulai mengatakan soal mimpi lamanya.

“Bapak tahu,” katanya penuh antusias, “mimpi-mimpi saya itu sebentar lagi bakal terwujud! Dan, saya pikir, saya harus berterima kasih kepada Bapak.”

“Saya benar-benar tidak paham,” kataku.

Pengemis itu menjelaskan pertemuannya dengan seorang gadis yang dia curigai adalah malaikat. Gadis malaikat yang menyamar jadi manusia, begitulah yang ia katakan, sambil bersumpah bersedia kehilangan dua bola matanya kalau perasaan yang baru saja dia sampaikan ini dusta.

“Saya benar-benar merasakan itu. Saya merasa dia memang malaikat.”

“Apa yang terjadi?” tanyaku, mulai tertarik.

Pengemis itu menyebut-nyebut tentang pohon uang; sebuah gagasan yang tak pernah terwujud nyata di kehidupan fana, sebuah gagasan yang hanya ada di kepala manusia yang membutuhkan masa depan yang jelas. Tentu saja aku heran; bagaimana ia atau gadis yang dianggapnya malaikat tadi dapat memikirkan hal sama yang juga aku pikirkan belakangan ini? Tapi, aku tetap diam dan menyimak kesaksian si pengemis ini dengan lebih saksama.

Katanya, gadis itu tahu sebuah tempat rahasia di mana seseorang bisa meraih mimpi terbesarnya lewat pohon uang. Pengemis itu mendapat informasinya begitu saja sebab si gadis iba. Gadis itu mengatakan sebuah syarat, “Jika Bapak mau, boleh pergi dan ambil uang sebanyak mungkin dari pohon uang agar Bapak dapat melakukan operasi kaki Bapak, tetapi ajaklah satu orang agar Bapak tidak lupa diri.”

Pengemis itu mengaku, sebelum kuperingatkan agar berhenti, dia lupa tentang syarat terakhir itu. Dan karena itulah dia berterima kasih dan berharap diriku mau pergi bersamanya, menuju ke pohon uang.

“Saya benar-benar tidak mengerti,” kataku setelah terdiam beberapa lama, karena ini sungguh aneh. “Bapak main-main, ya? Saya tidak ingin kembali ke masa itu. Dan jika Bapak bermaksud begini, saya akan hajar Bapak sekarang juga!”

Aku berdiri dan melempar rokok terakhir yang masih tersisa setengah batang, dan akan pergi meninggalkan pengemis itu sebelum dia menarik-narik celanaku.

“Saya juga tidak percaya, Pak. Tidak ada pohon uang di dunia ini. Itu setahu saya, tetapi gadis itu lugu dan bermata jernih, dan saya tahu dia benar-benar memberi kita informasi ini. Bagaimana?”

“Kalau benar apa yang dia katakan, kenapa saya? Dan jika syarat itu berlaku untuk Bapak, apakah saya juga harus mengajak seseorang?”

“Itu terserah saja. Tetapi, yang jelas, syarat itu ditujukan untuk saya, karena gadis itu bilang, jika saya pergi ke sana seorang diri, saya bisa kehilangan akal, tidak ada yang  mengingatkan diri untuk merasa cukup!”

Entah apa yang ada di pikiranku. Segera saja acara-acara sampah dari layar kaca mengelebat di otakku, kata-kata menyakitkan dari mantan istriku, menyambangi pikiranku. Segala luka dan kepastian sialnya hidupku di hari tua, berdatangan dan menghantam pikiranku secara telak. Apakah ini cuma mimpi? Kupandangi kaki pengemis itu; benar-benar terlihat meleleh bagaikan karet. Dan baunya itu, sungguh memuakkan. Aku pikir ini bukan mimpi.

Kami pun pergi ke tempat yang dimaksud. Jaraknya dari tempat kami bertemu tidak terlalu jauh. Hanya dua kilometer saja berjalan kaki. Kami berjalan pelan dan pasti menuju arah itu, ke pinggir kota kecil ini, ke sebuah danau yang jarang didatangi orang karena konon kawasan itu ada yang memiliki. Properti pribadi yang dipagari khusus, yang mampu membuatmu terkena sengatan listrik jika berani main-main.

Dan entah bagaimana semua ini mulai terasa masuk akal. Apakah benar seluruh hal di pikiran manusia, yang aneh dan mustahil, tidak pernah benar-benar ada? Berbagai hal telah manusia temukan dan seluruh keanehan, seperti pesawat terbang, memang ada dan nyata pada masa kini. Mungkinkah pohon uang itu nyata?

Pagar berlistrik itu memperkuat dugaan kami. Aku dan si pengemis curiga bahwa sang gadis adalah malaikat yang menjelma manusia untuk memberi pelajaran si pemilik properti agar tidak kikir dan menjaga pohon uangnya sedemikian rupa. Tentu saja aku sedikit banyak tahu tentang pemilik properti ini, yakni orang yang menguasai nyaris segala aspek kehidupan di kota ini, sekaligus orang yang kebal hukum dan apa pun yang terkait masalah keuangan.

“Ya, siapa lagi kalau bukan walikota korup itu?” bisik si pengemis sinis ketika dia mencoba mencari cara menjebol salah satu bagian pagar yang tak berlapis di pinggir danau.

Usahanya berhasil. Kami masuk tanpa takut tersengat dan mati. Kami telusuri tepi danau berkabut itu sampai kira-kira dua jam, lalu kami beristirahat. Pukul 11 malam ini. Kami mencari lagi dan lagi, sampai kami menemukan pohon yang dimaksud.

Pohon itu terletak di sebuah goa kecil yang agak menjorok ke bagian hutan, di tepi danau yang menuju kaki bukit. Kami masuk ke goa itu sejauh lima belas meter sebelum menemukan pohon kuning yang menumbuhkan uang pecahan seratus ribu rupiah. Aku benar-benar tertawa dan takjub, memastikan bahwa uang itu memang terkait dengan bagian pohon selaiknya berhelai daun. Kami makin takjub ketika memeriksa keaslian uang tersebut: dilihat, diraba, diterawang. Sungguh, mereka benar-benar asli!

Aku dan si pengemis melepas baju masing-masing dan membentuk semacam karung dari itu, mengambil uang sebanyak yang kami sanggup. Pengemis itu berhenti saat hari mulai pagi dan nyaris telanjang bulat karena sarung yang harusnya dia kenakan, dilepas demi menampung lebih banyak uang. Aku, yang memang mengenakan jaket, jaket itu bisa membawa lebih banyak uang. Pengemis itu pergi lebih dulu, sementara aku masih sibuk, memutuskan akan keluar dari sana sore hari.

Tetapi aku merasakan tubuhku letih. Aku memutuskan untuk tidur. Bangun keesokan harinya, aku keluar dan bingung menemukan jalan pulang. Bagaimana mungkin aku tersesat padahal kota kecil ini kukenal seperti aku mengenal tubuhku sendiri? Aku malah tiba di satu tempat dengan gedung-gedung pencakar langit. Sebuah kota modern yang belum pernah kulihat.

Maka, kusembunyikan uangku sebaik mungkin, dan masuk ke satu toko kecil untuk bertanya. Aku berhenti melangkah ketika kulihat cermin diriku memantul dari pintu kaca toko. Aku tidak melihat diriku yang dua hari lalu keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Aku melihat seorang laki-laki tua berkeriput dan seluruh rambut di kepalaku putih.

-Gempol, 26 September 2017

 

Ken Hanggara menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017).

read more
Cerpen

CERPEN: CIUMAN DARI SAMARKAND

mountains-2320358_1920

Musim salju di Asia Tengah amat dingin menusuk dan suram. Sementara, musim panas yang terik membakar membawa serta kolera, disentri, dan nyamuk. Namun, pada bulan April, udara membelai lembut seperti sentuhan kulit paha dalam yang halus mulus dan aroma segar segenap pepohonan yang sedang berbunga memenuhi seluruh penjuru kota.

Teks Angela Carter*
Penerjemah Anton Kurnia**

Setiap kota punya logika tersendiri. Bayangkanlah sebuah kota yang digambar dengan bentuk-bentuk geometris dalam garis-garis lebar dengan krayon dari kotak pewarna seorang bocah, berwarna nila, putih, dan cokelat muda. Serambi-serambi rumah yang rendah dan pucat tampak mencuat dari bumi. Putih semu merah jambu. Seakan-akan terlahir dari bumi, bukan dibangun di atasnya. Ada selaput samar debu di atas segala benda, seperti lapisan debu yang ditinggalkan krayon-krayon itu di jemarimu.

Di hadapan serambi-serambi pucat ini, petak-petak lantai keramik yang menutupi mausoleum-mausoleum kuno menggoda mata. Nuansa warna Islam yang biru mengubah diri menjadi hijau ketika kau memandangnya. Di bawah sebuah kubah yang berwarna antara lazuardi dan nila, tulang belulang Timurleng—sang momok Asia—terbaring di dalam sebuah makam sewarna zamrud. Kita sedang mengunjungi sebuah kota luar biasa yang tiada duanya. Kita tengah berada di Samarkand.

Revolusi menjanjikan para perempuan petani Uzbekistan baju-baju sutra yang indah. Kebanyakan dari mereka mengenakan gaun-gaun tunik dari bahan satin lembut, berwarna merah jambu dan kuning, merah dan putih, hitam dan putih, merah, hijau dan putih, dengan garis-garis berwarna terang yang menyilaukan seperti ilusi optik. Dan mereka menghias diri dengan amat banyak perhiasan terbuat dari kristal kaca.

Mereka selalu tampak seperti sedang cemberut karena mereka menggambar garis hitam tebal tepat pada dahi mereka, menyatukan alis mereka dari satu sisi ke sisi lain. Mereka menghiasi pinggiran mata mereka dengan kohl, mereka tampak menggemaskan. Rambut panjang mereka dikepang menjadi dua atau tiga jalinan kecil-kecil. Gadis-gadis belia memakai topi beludru mungil bersulam benang emas dan manik-manik. Para wanita yang lebih tua menutupi kepala mereka dengan dua helai kerudung dari bahan wol bersulam motif bunga. Yang satu diikat ketat ke dahi, yang lainnya disampirkan longgar ke bahu. Namun, tak seorang pun memakai cadar selama enam puluh tahun.

Mereka berjalan begitu pasti, seakan-akan mereka tidak hidup di sebuah kota khayali. Mereka tak tahu bahwa mereka beserta turban, mantel kulit domba, dan sepatu but lelaki mereka adalah makhluk-makhluk istimewa bagi orang asing. Sama ajaibnya dengan kuda bertanduk.

Mereka ada dalam segenap eksotisme mereka yang kemilau dan lugu, dalam pertentangan langsung dengan sejarah. Mereka tak tahu apa yang kutahu tentang mereka. Mereka tak tahu bahwa kota ini bukanlah seluruh isi dunia. Yang mereka tahu tentang dunia hanyalah kota ini. Indah seperti ilusi. Tempat bunga-bunga bakung tumbuh subur di selokan. Sementara itu, di sebuah kedai teh seekor burung nuri hijau mematuk-matuk jeruji kurungannya.

Pasar berbau tajam dan hijau. Seorang gadis beralis alami legam menuangkan air segar dari gelas ke jejeran lobak. Pada awal tahun ini, kau hanya bisa membeli buah-buahan kering sisa musim panas lalu—aprikot, prem, kismis—kecuali beberapa butir delima keriput yang diperam di antara serbuk gergaji sepanjang musim dingin dan kini dibelah rekah di sebuah kios, menunjukkan betapa tetap basah butir-butir kemilau yang bersarang di dalamnya. Penganan khas Samarkand adalah asinan biji aprikot yang rasanya bahkan lebih sedap dan gurih daripada kacang pistachio.

Seorang wanita tua menjual bunga bakung gunung. Pagi ini dia datang dari gunung tempat tulip-tulip liar berbunga seperti gelembung darah yang ditiup dan burung-burung merpati liar bersarang di sela batu cadas. Wanita tua ini mencelupkan roti ke dalam secangkir susu kental untuk makan siangnya dan makan pelan-pelan. Ketika dagangannya telah habis, dia akan pulang ke kampung asalnya.

Dia nyaris tampak berada di luar putaran waktu. Seakan-akan dia sedang menunggu Syahrazad menghadapi fajar terakhir tiba, sedangkan kisah terakhir yang harus diceritakannya kelu dalam lidahnya. Maka, si penjual bakung itu barangkali akan mati.

Seekor kambing menggigit-gigit melati liar di antara reruntuhan sebuah masjid kuno yang dibangun oleh istri Timurleng.

Istri Timurleng mulai membangun masjid ini untuk suaminya sebagai hadiah kejutan ketika dia pergi berperang. Namun, ketika sang istri diberi tahu tentang saat kepulangan suaminya yang sudah dekat, satu kubah masih belum selesai dikerjakan. Perempuan cantik yang mencintai suaminya itu bergegas pergi menemui si arsitek dan memohon kepadanya agar segera menyelesaikan pembuatan kubah terakhir sebelum suaminya pulang. Namun, si arsitek yang jatuh cinta kepada istri sang penguasa itu malah berkata bahwa dia hanya akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu apabila sang wanita jelita bersedia mencium bibirnya. Satu ciuman saja. Hanya sebuah kecupan.

Istri Timurleng tidak hanya sangat ayu dan berbudi luhur, tapi juga amat pintar. Dia pergi ke pasar, membeli sekeranjang telur, merebus telur-telur itu hingga matang, dan mewarnai kulit mereka dengan selusin warna yang berlainan. Dia lalu memanggil si arsitek ke istana, menunjukkan kepadanya keranjang berisi telur berwarna-warni, lalu memintanya memilih telur yang paling disukainya dan memakannya. Lelaki itu mengambil telur berwarna merah.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur.”

“Makanlah telur yang lain.”

Ia pun mengambil telur berwarna hijau.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur yang merah.”

“Coba lagi.”

Lelaki itu memakan telur berwarna ungu.

“Semua telur sama saja rasanya jika masih segar,” ujar si arsitek.

“Nah!” tukas istri Timurleng. “Setiap telur tampak berbeda dari yang lainnya, tapi pada akhirnya rasanya sama. Maka, kau boleh mencium siapa pun di antara dayang-dayangku yang paling kausukai. Namun, janganlah kau menggodaku.”

“Baiklah,” sahut si arsitek dan bergegas pergi. Namun, tak lama kemudian dia kembali. Kali ini dia membawa sebuah nampan berisi tiga mangkuk penuh air.

“Minumlah dari setiap mangkuk ini,” katanya.

Istri Timurleng minum dari mangkuk pertama lalu dari mangkuk kedua. Namun, dia tersedak dan memuntahkan air yang sempat direguknya ketika dia minum dari mangkuk ketiga. Isi mangkuk yang itu memang bukan air, melainkan vodka.

“Vodka ini dan air itu tampak sama, tapi masing-masing berbeda rasanya,” ujar si arsitek. “Dan itu sama dengan cinta.”

Kemudian, istri Timurleng mencium bibir sang arsitek. Setelahnya, lelaki itu kembali ke masjid yang sedang dibangunnya dan menyelesaikan pembuatan kubah terakhir tepat pada hari yang sama ketika Timurleng yang jaya berkuda pulang ke Samarkand bersama bala tentaranya diiringi panji-panji kebesaran dan kurungan berisi raja-raja musuh yang ditaklukkan.

Namun, ketika Timurleng menemui istrinya, wanita molek itu menolaknya karena tak satu perempuan pun akan mau kembali ke harem setelah tahu nikmatnya vodka. Timurleng yang murka menderanya dengan cambuk kuda hingga akhirnya wanita malang itu mengatakan kepada suaminya bahwa dia telah mencium si arsitek yang telah membangun masjid untuknya.

Dalam gejolak amarah, Timurleng segera mengirim algojo-algojonya menuju masjid itu. Para algojo melihat sang arsitek sedang berdiri di atas kubah dan segera berlarian menaiki tangga masjid dengan belati terhunus. Namun, ketika lelaki itu mendengar mereka datang, tumbuhlah sayap di kedua lengannya. Dan dia pun terbang melarikan diri ke Persia.

Sebuah kisah dalam bentuk-bentuk geometris sederhana dan warna-warna cerah krayon seorang bocah …

Istri Timurleng dalam kisah ini akan mengecat garis hitam di atas dahinya dan mengepang rambutnya menjadi selusin jalinan kecil-kecil seperti para wanita Uzbek lainnya. Dia akan membeli lobak merah dan putih di pasar untuk makan malam suaminya. Setelah dia lari dari suaminya yang kejam, mungkin dia akan mencari nafkah di pasar. Barangkali di sana dia akan berjualan bunga bakung.

*

 

*Angela Carter (19401992) adalah pengarang Inggris terkemuka yang juga seorang penerjemah dan editor. Dia dikenal dengan karya-karyanya yang kental dengan nuansa feminisme dan bergaya realisme magis. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari judul semula “The Kiss” dalam antologi The Oxford Book of English Short Stories, Oxford University Press, Oxford, 1998, susunan Antonia S. Byatt.

*Anton Kurnia, pembaca dan penulis, hobi menerjemahkan karya sastra. Penggemar setia Persib dan Real Madrid.

read more
Cerpen

Cerpen: OLIVIA*

woman-58558_1280

Sayangku Olivia,

Kematianmu mengheningkanku. Ketiadaanmu di sisiku menciptakan rasa lengang yang aneh. Sembilan tahun delapan bulan dua belas hari waktu kita bersama, seperti kemarin saja.

Usiaku empat belas ketika aku mulai bekerja di British East India Company, tahun 1795. Bertahun-tahun aku menghayati pekerjaanku sebagai klerk. Sampai pada satu musim gugur aku melihat wajahmu di antara dokumen yang mengatakan kau janda Jacob Cassivelaun Fancourt, seorang asisten bedah yang wafat dalam perang Anglo-Mysore di Madras, tahun 1800. Kau sedang di London waktu itu, hanya meratapi kematiannya dalam sunyi, sendiri.

Kau sepuluh tahun lahir lebih dulu dariku. Tetapi pesonamu melampaui kekuatanku. Kau adalah sebuah buku terbuka yang mudah dibaca. Ayahmu George Devenish dari Casheltauna Four Mile House. Ibumu seorang Sirkasia India.

Masa remajamu tertinggal di Irlandia. Usiamu enam belas tatkala berlayar ke India untuk mendekatkan diri dengan kerabat ibumu. Tanpa penyesalan kau mengisahkan, bahwa di satu kabin kapal Rose, di atas Samudera Hindia yang hitam dan dalam, hasrat mudamu takluk pada daya pukau sang kapten. Cinta sesaat yang membuahkan bayi perempuan, yang kau titip kepadanya, karena kau terlalu muda menjadi ibu.

Gayamu mewarnai kebosanan keseharianku. Dan hatiku jatuh di pintumu. Pada 14 Maret 1805, gereja St George Bloomsbury menjadi saksi bisu pernikahan kita.

Aku mencinta dirimu. Dan aku bersedia menyelesaikan remeh-temeh kekacauan di sekitar hidupmu, meski itu menyedot banyak energiku. Kau telah memberiku kebahagiaan. Matamu hitam. Gerakmu lincah. Kecerdasanmu berlandas kebijaksanaan seorang perempuan.

Kenyataan bahwa kau cucu John Hamilton Dempster, salah seorang direktur kantor dan tokoh pergerakan Skotlandia, menjadi jalan kita menumpang kapal Ganges yang berlayar ke Pulau Prince of Wales, sebulan setelah kita menikah.

George Town, Penang. Kota tempat tinggal kita yang baru. Atasanku Philip Dundas, seorang Skotlandia dan orang nomor satu di pemerintahan. Kepadanya aku bekerja sebagai asisten sekretaris.

Di negeri timur yang jauh ini aku mengenal wajahmu yang lain. Kulitmu berkilau seperti bintang di antara perempuan-perempuan Melayu yang berkulit sawo matang. Bahkan Abdullah Abdul Kadir, sekertarisku, yang adalah penulis, terhisap kegemilanganmu. Ceritanya tentangmu terangkum dalam Hikayat Abdullah.

Istri Tuan Raffles berbeda dari perempuan umumnya. Dia tampak tenang, berhati-hati, dan menarik mata memandang. Keramahannya menular. Perilakunya sopan kepada si kaya seperti kepada si miskin. Hasrat belajarnya tentang Melayu seperti bayi yang senantiasa haus susu ibunya. Mulutnya tak berhenti bertanya: apa ini apa itu dalam bahasa Melayu.

Kepadanya, Tuan Raffles selalu memandang. Bila berencana sesuatu, beliau tidak akan bertindak sebelum istrinya bersetuju. Seperti Tuan Raffles, istrinya seorang yang rajin dan tidak nampak kikuk bertemu sesuatu yang baru. Melihatnya kapan saja, tangannya sedang bekerja, entah apa. Sungguhlah Tuhan Allah menganugrahi pasangan ini serasi, sperti raja dan penasihatnya, seperti cincin dan batu permatanya.

Seorang istri yang cakap lebih berharga daripada permata, kata kitab suci. Itulah dirimu. Dan aku beruntung memilikimu.

Olivia kekasihku,

Tentang John Caspar Leyden, penyair Skotlandia itu, izinkan aku membahasnya di sini, supaya lega hatiku melerainya.

Dari Madras John datang. Dia berangkat ke Penang demi menyembuhkan sakitnya. Dia terkena lever karena terlalu keras bekerja. Sejarah Melayu, buku yang ia terjemahkan dari bahasa Melayu ke bahasa Inggris, adalah awal perkenalan kita dengan namanya. Kehadirannya menyalakan semangat kita. Betapa indah ia menguasai kata-kata.

Aku mengundangnya untuk tinggal di bungalow kita. Dia akan mendapat segala yang dibutuhkannya, di sini. Sebuah tempat yang tenang. Dan kau menjelma perawat pribadinya. Dengan kasih sayang, tanganmu mencampur obat dengan air di badan sebuah sendok, memastikan John betul-betul menelan pahit obatnya. Tampak betul kau kenal perangai bengal seorang seniman yang tak adil saat memperlakukan kesehatannya sendiri.

Di tempat tidur kita hampir setiap malam, kau menceritakan perilaku John sepanjang hari itu. Sambil tertawa dan nada berbeda, kau mengulang perkataan spontan John, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas perhatianmu. Kalian telah saling mengikat diri dengan puisi.

Beberapa kali aku memergoki kalian berduaan. Aku tak sampai hati mengusik. John memerlukanmu lebih daripadaku. Meski rasanya kau belum melakukan hal-hal mesra seperti itu kepadaku. Aku tidak sedang dilanda cemburu mengatakan ini, malah bangga dengan kecerdasan seleramu.

John memang sejenis makhluk yang tahu segala sesuatu. Dia bukan seorang intelek yang diam di menara gading. Kakinya menyusuri jalan-jalan kecil untuk bertemu segala jenis manusia dan masalahnya. Kau mengagumi pengalaman dan pengetahuannya, seperti halnya aku.

Di beranda rumah kita yang hangat, bertiga kita duduk bertukar cerita sambil menikmati char kway teow, asam laksa, dan teh yang kita bawa dari Inggris. Apa yang tidak kau tahu, John? desakmu girang, setelah John berkata bahwa Penang adalah kota yang menarik, seperti gerabah berisi leburan akar budaya Melayu, Cina, India, peranakan, Thailand, Eropa.  Dan kau bertanya lagi. Dan lagi. Terkadang kau menyesali malam menjemput terlalu cepat.

Atas provokasi John, aku rakus mempelajari sejarah, kebudayaan, politik dunia Melayu. Apa yang dikatakannya benar, kelak. Bahwa pengetahuan akan membawamu ke tempat-tempat baru yang belum pernah terpikirkan.

Itulah jalan kita ke Melaka. Waktu itu Belanda mengangkat raja seorang Prancis untuk memerintah. Secepat itu pula British East India Company mengambil langkah, mengusir Belanda dari pulau yang disebut Jawa. Sebuah tempat strategis yang nanti menjadi pos jalur lintas perdagangan ke Tiongkok.

Akhirnya pada 11 Juni 1811, atas perintah pusat, kita berlayar ke pulau Jawa. John ikut bersama kita. Gubernur Jenderal Lord Minto memimpin invasi, dan pada 4 Agustus 1811, kapal kita merapat di pelabuhan Cilincing.

Kita tinggal di istana indah bercat putih di Buitenzorg. Sebuah kota hujan, 65 km jaraknya dari Batavia. Aku memperindah halaman kediaman kita yang luas dengan mendatangkan puluhan ahli botani, menanami segala tanaman, agar menjadi kebun yang luar biasa kayanya.

Sementara itu tugas-tugas berat sebagai Gubernur menyerbuku seperti bah. Aku melakukan pelbagai transaksi menguntungkan, meningkatkan pajak, merombak peraturan-peraturan yang merugikan, memperbaiki administrasi hukum dan kepolisian, menghapuskan perdagangan budak, mengumpulkan data statistik yang penting dari seluruh negeri, memberi napas baru bagi seni dan sastra komunitas Batavia.

Seperti kau mencintai Penang, kau membuka dirimu kepada Jawa.  Manusia-manusia sederhana dan baik hati. Tulang pipi mereka yang menonjol, rambut mereka yang hitam. Kulit mereka yang kuning seperti emas muda. Pergelangan tangan yang kurus bertulang. Dan hidung itu. Kecil dan pendek. Bentuk bibir yang paling kusuka. Tebal dan mudah tersenyum.

Matamu melihat tanah yang luar biasa. Anak-anak sungainya dialiri air jernih. Matahari bersinar setiap pagi. Udara hangat. Hujan secara teratur membasahi kebun luas kita. Keringat mengucur di dahimu saat kemarau tiba.

Dan kita mencicipi manisnya buah-buahan tropis. Manggis, durian, rambutan, nangka. Bermacam jenis mangga, nanas, jambu batu, pepaya, delima. Asam, jeruk, lemon, sitrun, pir. Tanah negeri ini menyediakan segala yang dibutuhkan penduduknya. Apakah surga seperti Jawa, tanyamu heran, menyadari segala rempah penting Eropa berasal dari timur negeri ini. Aku tak berhenti mencatat dengan tanganku.

Lalu tanpa kita sadari, malaria menyerang John seperti perang. Usianya berhenti menjelang 36 tahun. Dengan duka mendalam kita menanam tubuhnya di Pemakaman Tanah Abang. John, sahabat kita tersayang, meninggalkan kita.

Lukamu kehilangan John, melebihi yang kurasakan. Aku didera rasa cemburu yang aneh namun tak mampu mengusikmu merayakan kepedihan dengan caramu. Aku terbalut sepi ketika menemukan satu puisi yang indah dari John, untukmu.

Di pulau timur ini,Aku tersulut gelombang hijau berkilau,Senyum Olivia yang menawanYang akan mengingatkanku dari kubur.Ketika, jauh melewati laut Malaya,Aku menyusur jejak gelap hutan-hutan Soonda,Olivia! Aku akan mengingatmu;Merahmati langkahmu, saat perpisahan kita

 

Setiap pagi dan petang menghabiskan waktu bersamamu,Berkhayal belantara di dalamku berangkat pulih,Dan semua pesonanya, akan menjadi,Hari-hari manis yang takkan kembali.

 

Dua bulan kita di Jawa, persis 19 Oktober 1811, aku diangkat menjadi Letnan Gubernur Jawa oleh kantor pusat. John tak sempat menyaksikanku mencapai mimpi terbesarku. Dan kau, pun tidak terlalu lama membiarkan diri diterpa duka. Kau kembali menjadi Olivia, milikku.

Pertama kali menghadiri resepsi, kau kehabisan kata-kata untuk mengomentari gaya primitif perempuan-perempuan Batavia. Mereka merokok, main dadu, dengan mulut belepotan merah akibat mengunyah daun sirih.  Langsing tubuh mereka tertutup sarung dan semua perhiasan untuk mempermanis penampilan, malah bergantungan di leher seperti pameran. Apakah mereka tidak tahu apa itu keindahan?

Dengan kegemasanmu, tradisi mengunyah sirih di istana putih, tidak ada lagi. Kau menambah sedikit lagi pendidikan dan pengetahuan, bagi mereka. Kau sungguh baik. Perhatian yang kau tunjukkan kepada mereka, setulusnya berasal dari hatimu.

Dan wajahku sebagai Gubernur Jawa bersinar karena keberadaanmu di sisiku. Keluwesanmu memudahkan diplomasi dan gerak tawarku. Kau melembutkan suasana pertemuan dengan raja-raja lokal. Di istana putih, kau membuat resepsi yang tak terlupakan bagi Sultan Cirebon.

Kita melakukan perjalanan ke Semarang, ke Yogya. Saat itulah kau mengenali tubuhmu yang rentan diterpa angin dan matahari Asia. Di pegunungan sejuk di Salatiga ku tinggal beberapa saat untuk mengembalikan kekuatanmu. Tetapi tubuhmu enggan pulih. Kembali ke istana putih, dokter mengharuskanmu berada di tempat tidur, sepanjang hari dan malam.

Sampai kau merasa bosan dan mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhanmu. Kau memerintahkan dapur mengolah makanan yang terbuat dari 2000 butir telur, 26 bebek, 120 ayam, 666 botol bir, 397 botol Madeira, 24 ayam kebiri, 72 botol anggur, 400 potong roti, dua biri-biri, seekor sapi, satu ton daging asin, untuk memanjakan perut 400 tamu yang kau undang.

Dengan gaun anggun kau duduk dekat sebuah meja yang berhias cantik. Bibirmu tak berhenti tersenyum. Pesta kembang api pecah di langit malam kebun. Sebuah pesta yang ambisius karena baru selesai pukul 4 dini hari.

Kau menguji tubuhmu dengan melakukan perjalanan ke Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang. Kau berhenti selama lima hari di tiap kota, memberi jeda pada tubuhmu. Dan kau tidak bisa menolak undangan makan malam, pertemuan, sarapan bersama. Lalu kau kembali ke Salatiga, kota favoritmu, kota kesembuhanmu, sampai kau tiba di rumah, beberapa hari sebelum ulang tahunmu.

Tanggal 16 Februari 1814, sebuah  pesta dibuat untukmu. Orang-orang ingin melihatmu muncul. Tetapi dokter istana dengan keras melarangmu muncul, di pesta di rumahmu sendiri. Tubuhmu sungguh genting, meringkuk lemas di atas tempat tidur.

Lama setelah itu, pada 14 Oktober 1814, Mayor Jenderal dan Lady Nightingal ingin membuat kejutan manis untukmu. Ratu Inggris memberimu penghargaan atas jasa-jasamu, dalam mendampingku, dan sebuah pesta harus digelar sebagai penghormatan bagimu. Kali ini kau muncul dengan segala kejayaanmu, suara ramahmu, senyummu. Kau bahagia malam itu.

Tetapi itulah kemunculan terakhirmu, di depan publik.

Setelah itu tubuhmu tak pernah beranjak dari peraduan. Kau kian lemah. Sebulan setelah pesta itu, dokter tidak lagi mempunyai obat untuk masalahmu. Dan malam 26 November 1814, malaikat kematian terbang di atas istana putih, bersembunyi di antara pepohonan hijau kebun kita, menunggu waktu yang tepat membawamu, dalam sayapnya yang lembut. Kau pergi ke tempat yang lebih baik, dalam damai. Maut membebaskanmu dari kelemahan tubuhmu.

Istana putih menjadi buram sejak kepergianmu. Semua orang menangisimu.

Aku menanam jasadmu di sisi John. Kupikir kalian akan saling menghibur. Lalu aku membangun sebuah monumen di halaman kebun istana kita, untuk mengenangmu. Bahwa kita telah melewatkan hari-hari gemilang, di sini. Di atasnya, aku menggoreskan ini:

“Tempat suci untuk mengenang Olivia Marianne, istri Thomas Stamford Raffles, Letnan-Gubernur Jawa, meninggal di Buitenzorg pada 26 November 1814.Oh engkau, yang kepadamu hatiku tetap, satu momen telah terlupa, meski takdir memisahkan kita, namun tidak pernah dilupakan.” Selamat tinggal, Sayang.  Izinkan aku pulang kampung, tanpamu.

*

 

Catatan:
Olivia Mariamne Devenish (16 Februari 1771-26 November 1814)
Thomas Stamford Raffles (6 Juli 1781-5 Juli 1826)
John Caspar Leyden (8 September 1775-28 Agustus 1811)

*Diambil dari buku Raffles dan Kita, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), 2017.

Ita Siregar, cerpenis dan novelis.

 

 

read more
Cerpen

Nunung Pakai Kain Kebaya (Sebuah Cerpen oleh Hanna Rambe)

woman-148297_1280

Setelah mematut-matut diri di muka cermin,  Nunung mencoba berjalan normal. Artinya, berjalan gaya wartawati yang mau pergi dinas. Hampir ia terjatuh. Duuuh, keluhnya.

Ia berjalan perlahan, seperti sedang ikut upacara resmi. Kain batik dan selendangnya itu, menghalangi langkah besarnya. Tapi apa boleh buat. Kain kebaya itu dikenakannya karena diminta oleh Tuan Prasad, orang yang menjamunya makan siang hari ini.

Mereka bertemu dua tahun sebelumnya di Bali. Ada konperensi internasional tentang lingkungan hidup waktu itu. Tuan Prasad memakai pakaian India asli, celana panjang yang ketat dan kemeja selutut yang lehernya tinggi.

Nunung boleh datang ke India untuk urusan pelestarian harimau asalkan dengan biaya sendiri, ujar Tuan Prasad. Tuan Prasad juga menambahkan bahwa dia menyukai wanita yang pakai kain kebaya, bunga di telinga atau di sanggulnya.

“Kalau ke New Delhi, pakai kain kebaya ya, supaya istriku dapat sama-sama mengagumi,” harap Tuan Prasad.

Sekarang Nunung berada di India meski tidak dengan biaya sendiri. Ia menyempatkan diri mampir memenuhi undangan Tuan Prasad.

Nunung menundukkan kepalanya masuk ke taksi, dan segera memberikan alamat kepada si supir. Sekarang dia di India. Ternyata jaraknya tak jauh dari hotel tempat ia menginap. Seperti tak percaya ia memandang ke sekitar. Kompleks itu luas sekali, di tengah gedung-gedung kuno gaya Inggris lama atau pencakar langit.

Lho, seperti rumah Perumnas tahun 70an, pikirnya. Semi permanen, satu lantai tapi ada sedikit halaman. Inikah rumah Direktur Jenderal Taman Nasional  Surya, pembantu dekat Ny. Indira Gandhi, Perdana Menteri India? Ia tidak percaya saat supir taksi menyilakannya turun.

“Mungkinkah alamatnya salah? Orang  yang saya cari ini orang besar di pemerintahan, Pak Supir,” kata Nunung dalam bahasa Inggris dengan penuh hormat. Dalam benaknya terbayang gaya hidup orang pemerintahan di negerinya sendiri, yang malas jalan kaki, senang pakai jas walau udara panas dan kediamannya ‘representatif”. Apalagi pangkat dirjen, pikirnya.

Madam saya tidak kenal orang yang Anda cari. Tapi alamatnya memang di sini. Ini kompleks rumah pegawai negeri,” jawab supir taksi tak peduli.

Nunung berjanji akan mencarter taksi itu karena khawatir sulit mencari kendaraan untuk pulang. Ia turun dan berjalan seperti peragawati di jalurnya, menuju rumah nomor sekian yang diberikan Tuan Prasad.

Tuan Prasad menyambutnya di beranda, didampingi istri dan Kamala, anak perempuan mereka yang cantik. Suasana hangat dan gembira menggema. Mana kursi mejanya, pikir Nunung. Mungkin di dalam rumah, jawabnya sendiri.

Tuan Prasad menyilakannya masuk. Di ruang dalam itu hanya ada permadani terbentang. Tidak ada  meja kursi, atau bangku panjang, apalagi sofa. Tuan Prasad sibuk meminta istrinya memerhatikan pakaian daerah yang dikenakan Nunung. Nunung pun jadi  sibuk mendemo panjang kain, panjang ikat pinggang yang disebut setagen, selendang yang harus satu setel warnanya, dan lain-lain soal kebaya.

Hanya, ia meminta maaf karena rambutnya terlalu pendek sehingga tidak dapat disanggul, apalagi disematkan bunga. Rasanya undangan makan siang jarang yang berdiri, Nunung membatin.

Mereka menyilakan Nunung duduk  beralas permadani. Ia tidak biasa melakukan itu di negerinya, bahkan di  mana pun. Maka ia duduk dengan cara membanting dirinya ke permadani, sementara tuan rumah bergerak luwes, duduk dengan baik di atas permadani.

Nunung merasa tak nyaman. Nanti waktu mau berdiri, lebih celaka lagi, pikirnya. Aku harus berpegangan dinding.

Mereka berbincang dengan nikmat. Nyonya Prasad banyak bertanya tentang Bali karena mendengar cerita suaminya yang ke sana dua tahun sebelumnya. Ia heran penduduk Bali  beragama Hindu seperti di India, padahal sekelilingnya beragama lain.

“Oh itu kan persoalan politik, Madam, seperti  India juga. Kami berdekatan tetapi berbeda nenek moyang, mungkin. Namun karena sama-sama menderita oleh penjajahan orang Barat, jadi sependeritaan sepenanggungan. Jadi seperti orang bersaudara, saling berbagi, saling menikmati.”

“Hebat ya. Saya kagum,” kata Nyonya Prasad sambil menggerak-gerakkan kepala, seperti orang India pada umumnya.

Obrolan terus ke mana-mana, mulai dari teh, lada, cendana, Himalaya, Ramayana, Mahabharata dan sebagainya. Nyonya Prasad dan putrinya banyak bertanya tentang gunung-gunung berapi. Juga tentang gajah dan harimau, perbedaan dengan hewan yang sejenis dari India.  Mereka seperti bagian Tuan Prasad sebagai kepala bagian pelestarian hewan pemangsa berukuran besar, di negerinya.

Mungkin tiba saatnya makan karena tiba-tiba Kamala berdiri dan meninggalkan obrolan. Tak lama terciumlah bau makanan yang harum, wangi rempah-rempah. Nunung beribu dari Sumatra. Jadi harum kapulaga, cengkeh,  poka, kayu manis, cabai dan entah apa lagi,  langsung menggugah selera makannya.

Sambil bergurau ia melirik ke  arah lebih jauh dari ruangan duduk. Sama juga, lapang, tanpa kursi dan meja. Ya  ampun, pikirnya, berapa kali lagi aku harus banting diri ke permadani?

Tak lama ajakan makan siang  diucapkan. Tuan Prasad berdiri. Nyonya Prasad khusus berdiri di sebelah Nunung, menyorongkan kedua tangannya dan membantu  Nunung mengangkat tubuhnya dari lantai. Mereka tertawa gelak-gelak,

“Aduh, saya seperti bayi belajar berdiri,” ucap Nunung manja.

“Apakah di negeri  Anda orang tidak duduk di permadani?” tanya Nyonya Prasad.

“Sehari-hari tidak. Namun pada waktu ada upacara adat yang dikunjungi oleh banyak kerabat, kami menghamparkan tikar atau permadani. Jika ada kematian pun biasanya kami duduk di ubin beralas. Namun tidak kalau sedang berkain sempit seperti ini. Kebaya kurung orang Sumatera pada umumnya lebar, berbentuk lingkaran,” jawab Nunung, tertawa, seperti menertawakan keadaannya.

“Apakah indahnya sama seperti yang Anda kenakan sekarang?”

“Agak berbeda. Blusnya lebih panjang. Gerakan kami lebih bebas.”

“Sehari-hari Anda pergi kerja dengan kain yang seperti lingkaran itu?”

“Tidak, Madam. Pakaian seperti ini sangat menyusahkan gerakan. Umumnya kami memakai pakaian seperti orang Barat atau orang Muslim yang membuat gerakan bebas karena lebar atau berbentuk celana panjang,”

Obrolan pindah ke masalah hidangan di atas meja. Mereka makan bukan dari piring berbentuk bundar, melainkan dari  semacam baki besar, berbantuk persegi. Baki sudah dibagi untuk tempat lauk pauk dan makanan utama, yakni nan  atau chapatti. Baki disebut thali.

Mula-mula mereka takut saya tak suka makanan mereka. Melihat saya tanpa basa basi bolak-balik mengambil nan dan lauknya, mereka heran.

“Di Indonesia nan dijual dalam ukuran besar, diisi dengan daging cincang yang telah dimasak. Kami menyebutnya martabak,” kata Nunung, sebelum mereka bertanya.

Daging yang diutamakan untuk tamu biasanya kambing, kata mereka. Mereka tak makan sapi atau babi dan hidangan penutup selalu yang manis-manis. Nunung suka berbagai cara mengolah susu asam (yoghurt) mereka.

“Mungkin saya tamu Anda yang rakus. Semua dimakan dengan lahap,” Nunung mencoba berseloroh  mengapa ia makan banyak siang itu. Mendengar itu mereka tertawa riang.

Lalu tibalah saat untuk berdiri. Waduh, keluh Nunung dalam hati. Dengan perut penuh dia akan lebih sulit bergerak. Untung Nyonya Prasad ingat pembicaraan mereka sebelumnya. Ia menjulurkan lengan ke arah Nunung, lalu Nunung menyambut menangkap tangan nyonya rumah.  Kemala tersenyum lebar menyaksikan.

Nunung yang enggan duduk lagi di lantai, cepat-cepat menanyakan soal bunga mungil warna-warni di halaman. Kelopak bunganya mirip tulip tetapi berenda-renda. Indah sekali.  Saya belum pernah melihatnya, katanya.

“Baguslah kalau begitu. Itu memang tanaman jahanam, pembawa maut,” jawab Tuan Prasad.

Mereka lalu berjalan ke halaman. Untung, pikir Nunung. Ternyata itulah tanaman candu yang pada masa dahulu menjadi alat pemati rasa untuk pasien yang akan menjalani operasi sebagai pengobatan.

Bunganya indah, mungil, berwarna merah, ungu, biru, merah jambu, jingga dan putih. Nunung tidak melihat yang berwarna kuning. Entah memang Tuhan tak menciptakan atau tak ada dalam koleksi itu.

‘Semua penduduk kompleks ini saya beri tahu, inilah candu yang sekarang jadi obat untuk menyenangkan diri. Kalian harus kenal dan menghindarinya. Siapa mau mati kurus kering, pelan-pelan dalam ketagihan yang menyakitkan?”

“Jika bunganya mulai  ada benjolan, semua bunga saya tuai. Jika benjolan dianggap sudah tua, akan diiris sampai getah keluar. Getah itulah yang diolah jadi bubuk jahanam,” katanya.

Nunung manggut-manggut.

Mereka lalu mengobrol tentang bahaya narkotika sampai ke obat-obat aphrodisiac (pembangkit nafsu seksual) yang diyakini berasal dari bagian tubuh hewan tertentu seperti cula badak, kumis harimau, ekor gajah, rahang buaya, dan entah apa lagi.

Ada kelompok orang yang mencari itu semua dan mereka memusuhi hewan besar berkaki empat. Rakus hendak jadi kaya cepat dan tak peduli bahayanya. Orang-orang semacam Prasad dan Nunung yang sibuk melindungi  hewan-hewan besar demi keseimbangan  alam beserta isinya. Sebagai  bentuk penghormatan juga kepada Pencipta alam semesta.

“Apakah di India juga ada pabrik bubuk-bubuk jahanam, terutama yang gelap tapi berkuasa karena uangnya?”

“Ada.”

“Apakah ada upaya membasminya? Dari Pemerintah?”

“Ada. Tapi kadang-kadang alat-alat Pemerintah  kurang canggih dibanding alat-alat para bandit itu. Ada juga pegawai yang ingin kaya, bekerja sama atau menerima suap dari mereka.”

“Apa nama badan yag bekerja melawan mereka, termasuk pemburu hewan liar?”

“Saya lupa persisnya. Tapi kami dari lingkungan hidup bekerja sama. Itu juga dukacita kami, para orangtua yang jadi pegawai negeri. Saya kerap  khawatir kedua anak saya yang belajar di Inggris jatuh, dibodohi oleh  mereka. Mudah-mudahan mereka kuat iman.”

“Anak Anda tiga sesungguhnya?” sela Nunung.

“Ya, yang dua di perguruan tinggi. Biayanya mahal. Kalau mereka tamat, biar mereka yang bantu biaya Kamala ke Inggris. Saya hanya sanggup membeli rumah seperti ini untuk hari tua saya. Sedikitnya saya ada atap di kepala. Saya enggan menempati rumah dinas. Mentereng, tetapi bukan milik saya. Belum lagi kalau rusak, kita harus betulkan padahal milik orang lain. Hidup sederhana pun bahagia,” katanya melirik istrinya yang manggut-manggut.

Sejenak Nunung termenung. Ia seperti berada di alam lain. Sudah lama ia tak mendengar kebahagiaan hidup dalam kesederhanaan, dengan contoh jelas di hadapan matanya.

Ia ingat di negerinya hutan dibabat habis demi …, entahlah, sampai badak, beruang, gajah, orangutan, ular, tapir kehilangan habitat mereka. Siapa peduli? Nyonya Gandhi dengan  suaka harimaunya dapat menyebabkan harimau berbiak sedikit sehingga mengecilkan peluang kepunahan.

Itulah alasan Nunung datang, hendak menyaksikan sendiri hasil sukses Tuan Prasad. Sayang ia harus terbang jauh sekali untuk itu.

(New Delhi, Maret 1984. Saat cerita ini ditulis, di Indonesia belum ada KPK).

 

Hanna Rambe (23 November 1940) seorang penulis dan wartawan. Ia lahir dan besar di
di Jakarta. Kuliah bahasa Inggris di Universitas Indonesia tetapi tidak sampai lulus. Dia bekerja
sebagai editor bahasa di the Indonesian Observer, sebagai penerjemah dan wartawan di Indonesia
Raya hingga (1974,) kontributor majalah Intisari (1972–1977), dan wartawan majalah
Mutiara (1977–1992).
Pekerjaannya sebagai wartawan memberinya kesempatan bepergian. Sebagai penulis, ia dengan
rinci meneliti subjeknya. Sebelum menulis Mirah dari Banda ia tinggal selama sebulan di Banda.
Ketika menulis Seorang Lelaki dari Waimitai Hanna bepergian bolak-balik ke Seram, ke tempat-

tempat yang sulit dijangkau di pulau tersebut.

Ia baru kembali dari Amerika Serikat atas undangan Universitas Wesleyan, Middleton karena
bukunya Mirah dari Banda. Pada kesempatan itu ia juga menziarahi Ground Zero World Trade Center New York
yang dibangun kembali setelah peristiwa 9/11. Saat ini Hanna Rambe mengisi hari-harinya dengan menulis dan
mengajar Bahasa Inggris.
Karya-karyanya: Mencari Makna Hidupku: Bunga Rampai Perjalanan Sujatin Kartowijono ,1983,
Sinar Harapan; Seorang Lelaki di Waimital, 1983, Sinar Harapan; Petualangan Effendy Soleman
dengan Cadik Nusantara, 1992, Sinar Harapan; Dua Permata Nusantara, 1999, Persetia;
Pertarungan, sebuah novel ekologi, IndonesiaTera; Mirah dari Banda, 2003, IndonesiaTera, Mirah of
Banda, 2010, Lontar; Aimuna dan Sobori, 2013, Yayasan Pustaka Obor Indonesia

 

 

read more
Cerpen

Pentigraf: Toba Ingin Jadi Polisi

police-651504_1920

 

Toba ingin jadi polisi. Ia tak ingin menjadi petani sama seperti ayahnya, setiap hari masuk ke dalam lumpur, kurus dibakar matahari. Tulangku memang kecil, kata ayahnya suatu hari. Toba tak percaya.

Ia berangkat ke kota dan hidup menumpang di rumah saudara, tetapi tak betah, disuruh membersihkan rumah dan menjaga adik sepupu. Toba lalu minggat, menggelandang di jalanan sampai akhirnya bertemu seorang teman baru yang ternyata adalah penjual narkoba. Ia diberi makan dan tumpangan. Teman lebih baik daripada saudara, kata Toba dalam hati.

Aku ingin jadi polisi, kata Toba suatu hari kepada teman barunya di sebuah kedai minuman. Teman barunya tertawa, memberikan selinting ganja kepada Toba lalu memesan bir. Pemabuk mana bisa jadi polisi, kata temannya. Toba batuk-batuk tersedak asap mendengar ucapan temannya. Diraihnya gelas bir dan menandaskan isinya. Pokoknya aku harus jadi polisi, kata Toba dalam hati. Polisi harus tahu mana kiri mana kanan, kata temannya lagi. Kita nyanyi saja, kata Toba malas dikotbahi. Lalu mereka bernyanyi. Lagu Michael Bolton, To Love Somebody, merem melek penuh penghayatan. Kau pesan lagi birnya, aku mau terima telepon dulu, kata temannya. Toba mengangguk sambil terus bernyanyi. You don’t know what is like, Baby you don’t know what is like… Tarik suara tiga padahal sendiri.

Tiba-tiba Toba merasakan tubuhnya didorong lalu ditarik keras. Botol-botol bir berjatuhan dari atas meja. Gitar di tangannya terlepas. Apa-apaan ini? tanya Toba. Beberapa orang mengelilinginya dengan wajah bengis. Diam! Kami polisi, kata salah seorang pria berjaket hitam yang mengepungnya. Teman yang dipikirnya lebih baik daripada saudara entah di mana. Lalu Toba dibawa ke kantor polisi, tempat dia ingin menjadi. Melihat foto Jokowi di dinding, Toba teringat ayahnya yang kurus. Hatinya remuk, lalu menangis seperti bayi.

 

*Pentigraf alias Cerpen Tiga Paragraf ini dipersembahkan oleh Fidelis Situmorang, cerpenis yang tinggal di Jakarta.

read more
Cerpen

Berbicaralah Tuhan

people-2562694_1920

Sepuluh tahun mengajar di Sekolah Minggu bukanlah waktu yang pendek bagi Budi. Kejenuhan mulai menghantui dirinya.  Apalagi usianya sudah mencapai kepala lima. Anak-anak mulai besar dan meminta perhatian lebih darinya. Hatinya bimbang antara mundur atau tetap mengajar.

 

“Ma, bagaimana baiknya, ya? Apakah aku mundur saja dari mengajar?”
“Terserah Papa saja. Mana yang Papa anggap baiklah.”

Kegelisahan hati Budi memuncak. Malam itu ia bergumul hebat. Sudah dua minggu berturut-turut ia tidak mengajar. “Ya Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu, apa yang sebaiknya aku lakukan?” Berhari-hari Budi berdoa dan memohon jawaban, namun seakan-akan Tuhan tidak pernah mendengar doanya. Ia diam. Hatinya semakin resah. “Keputusan harus kuambil!” demikian ia berkata dalam hatinya. Sabtu malam itu, Budi beranjak dari tempat tidurnya. Diambilnya sebuah amplop putih dan selembar kertas. Ia menulis sebuah surat pengunduran diri. Hatinya mantap. Ia tidak akan mengajar Sekolah Minggu lagi.

Minggu pagi Budi ke gereja untuk beribadah. Sambil digenggamnya surat yang ia tulis semalam, ia memasuki ruang ibadah. Tiba-tiba didengarnya suara memanggil dari belakang,”Kaaaak … Kakaaaaak …!” Budi menoleh cepat. Dilihatnya Susan murid di kelasnya berlari menghampiri. Dipegangnya tangan Budi, ditempelkan ke dahinya, Susan berkata lirih, ”Kakaaak … kenapa Kakak nggak ngajar lagiii …?” Budi terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Digenggamnya erat tangan Susan. Sambil menghapus air mata yang mulai menetes, Budi berbisik, ”Susan, minggu depan Kakak mengajar lagi, ya. Pasti!”

“Iya, Kak, Susan tunggu.”
Budi memasuki ruang ibadah dengan hati sangat ringan. Akhirnya Tuhan menjawab doanya dengan jelas. Sangat jelas. (26/8/2017

Oleh Julianto Dj.

read more
Cerpen

April di Bulan Desember

dance-1657494_1920

Ada sebuah pertanyaan yang dulu tidak pernah terjawab, sebuah pertanyaan mengenai namaku.
Namaku April, lahir bulan Desember.

 

***

“April masih demam? Nanti malam kita ke dokter ya.”

Ibu berjalan tergesa, melongok April yang terbaring lemah. Si kecil April yang kurus, yang sakit-sakitan sejak kecil. Rumah sudah sepi karena ayah sedang dikirim ke luar kota. Ibu sebentar lagi harus berangkat ke kantor, seperti biasa meninggalkan April berdua dengan Mbok Juminten.

Mata April berkaca-kaca. Sudah beberapa hari ini ia lemas dan demam. Bukan barang baru baginya, tapi ada yang berbeda kali ini. Ia melihat sosok bersetelan krem itu menjauh, ponsel menempel di telinga. Ia merasa sesak dan sedih.

Jangan pergi, Ibu…

***

Malam tiba. April menatap jam.

Jam praktik dokter Diandra adalah jam 7 sampai 9 malam.

Sekarang sudah jam 7.30.

Tadi rapat mendadak. Ibu akan segera pulang, kok. Kamu sudah didaftarkan kok. Tunggu ya, April.

Jam 8.30

Ibu masih di jalan. Kita ke dokter besok saja ya, April. Yang penting kamu minum obat yang biasa malam ini. Minum air putih yang banyak. Demam kamu pasti cepat turun.

Jam 9.30

April memejamkan matanya, bermimpi mengenai pesawat yang terbang tinggi sekali, seperti cerita ayahnya. Bermimpi mengenai boneka salju yang dijanjikan ayah untuk dibawa pulang.

Bermimpi pulang.

***

Lima belas tahun kemudian.

April tidak pernah tahu kenapa ia begitu takut menatap mata ibunya. Terkadang mata ibu memancarkan kengerian yang tidak terjelaskan oleh April. Padahal ibu selalu memanjakan April-atau, setelah dipikir kembali, sebenarnya ibu yang manja pada April. Ibu selalu menempel pada April. Setahu April, sejak ia lahir ibu selalu di rumah, bersama April. Ibu mengantar April ke sekolah, ke tempat les, kemanapun. Ibu selalu memastikan April baik-baik saja.

Teman-teman April sering berkomentar betapa beruntungnya April, karena punya ibu yang begitu perhatian. Tetapi entah kenapa April tidak merasa seberuntung itu.

***

Di rumah, banyak barang yang muncul begitu saja tanpa April ketahui asal usulnya.

April ingat, ketika SD ibu pernah memaksanya mengikuti kursus balet. Padahal April lebih suka olahraga. April menolak, tetapi satu set baju balet lengkap dengan rok tutu dan sepatu warna senada sudah ada di atas tempat tidurnya esok pagi. Baju itu bukan baju baru. Entah darimana ibu mendapatkannya.

Ballet Shoes, Pink, Ballet, Dance, Girl, Ballerina

“Ayo, April. Kita pergi menari ballet.”

April diajak ke sebuah ruangan yang dindingnya kaca semua, penuh anak-anak yang berjuang untuk menjinjitkan kakinya. Di sanalah April berkenalan dengan Mbak Rossi, si guru balet. Si guru balet yang berbincang lama dengan ibu. Si guru balet yang sering April pergoki menatap dirinya dengan…aneh.

***

“Bu, kenapa aku dinamai April? Aku kan lahir bulan Desember?”

Ibu hanya menjawab itu dengan senyum. Lalu tatapan itu. Ibu sering menatap April sambil tersenyum. Ibu sering merangkul April dan mencium kedua pipinya. Ibu sering masuk ke kamar April malam-malam, hanya untuk memeluknya. Terkadang sambil menangis.

April tidak pernah mengerti.

Mata ibu…tidak dapat April pahami. Mata yang menatap April, justru membuat April merasa asing.

***

Ibu memang sulit dipahami. Terkadang ia menatap April lekat-lekat dari atas ke bawah, lalu kembali membawa baju-baju.

“Kamu harus pakai ini. Kamu pasti cantik sekali. Cobalah.”

Lalu, aku ingat ibu menangis ketika melihatku memakai baju itu, entah kenapa. Ia peluk aku keras-keras sampai aku tidak bisa bernapas.

“April, anakku…ibu sayang padamu…maafkan ibu, maafkan ibu….”

Aku melihat ayah dari balik punggung ibu.

Matanya bulat dan hitam.

***

Terkadang ibu datang membawa buku, boneka, dan tas.

“April, ini barangmu.”

“Bukan, Bu…”

“Nggak April, ini punya kamu! Simpan baik-baik!”

April tidak tahu darimana barang-barang ini datang. Tetapi ibu April begitu lembut dan penyayang, April terlalu sungkan untuk menolak apapun. Ibu April begitu halus, April tidak ingin melukainya. Jadi April hanya berterima kasih.

Sama seperti baju baletnya, barang-barang itu tidak ada yang baru.

***

1 April, hari pertunjukkan baletku yang pertama, satu hari sebelum aku memasuki kelas SMP 2, adalah hari dimana ibuku masuk rumah sakit jiwa.

Ballet, Sneaker, Dress, Ballet Dancer, Dance

Aku hanya mendengar berita itu dari ayah. Ayah memang tidak pernah tampak menyukai ibu. Sama seperti Mbak Rossi. Terkadang, mereka tampak seakan ingin berbicara, tetapi tidak jadi. Mereka tampak seperti orang-orang yang menyimpan rahasia, oleh karena itu April terbiasa membenci mereka. April ingin melindungi ibunya yang lemah dari mereka. Tapi ternyata ibu kalah.
Ibuku masuk rumah sakit jiwa dan ayahku membuka pintu gudang…

***

Ada satu ruangan dalam rumahku yang tidak pernah kumasuki. Gudang.

“April…ayah ingin kau terbebas dari penderitaanmu selama ini.”

April menggaruk rambut, menatap ayahnya dengan tidak mengerti. Ia masih memakai kostum baletnya.

“Ibumu melarang ayah untuk memberitahu ini. Tetapi kamu sudah besar…ayah ingin membebaskanmu.”

“Dengan cara mengurung ibu?”

“Ibumu sakit, April. Apa kamu tidak pernah menyadarinya?”

Memori April berputar. Banyak orang yang sering membicarakan ibu di belakang. Banyak orang yang menatap ibunya seperti orang asing yang aneh. April pernah bermimpi membunuhi semua orang itu. Karena di dunia ini, hanya ada April yang bisa melindungi ibu dari orang-orang kejam. Ibu terlalu halus, terlalu lembut.

April mengepalkan tangannya.

“Ayah ngomong apa sih? Ayah, cepat keluarkan ibu. Ibu nggak gila.”

April bergolak oleh kemarahan. Ibu membutuhkan April. April tidak dapat membayangkan ibunya sendirian di tempat asing seperti itu.

Ayah menunduk, menatap April. April melihat bola mata hitam kental seperti obat batuk. April menatap mata ayah.

“April, dengarkan cerita ayah…”

Pintu gudang terbuka. April memasuki sebuah kamar yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Kamar milik seorang anak perempuan bernama April yang meninggal saat kecil karena demam berdarah. Fotonya masih terpajang di meja belajarnya. Gadis itu memakai baju balet, persis yang ia kenakan saat pertama kali menginjak studio Mbak Rossi.

April mendengar suara ayah terisak.

“April…maaf. Seharunya ayah melakukan ini dari dulu. Tapi ibumu begitu rapuh…April, maaf.”

April terdiam. Ia mengenali beberapa mainan masa kecilnya. Ia mengenali beberapa pakaian kesukaannya. Tepatnya, semua pakaian favoritnya di masa kecil. Yang hilang entah kemana, sama seperti kemunculannya yang juga entah dari mana.

“Sebenarnya…semua ini apa?”

“Ini adalah kamar almarhum kakakmu. Ya, kamu punya seorang kakak…yang meninggal sebelum kamu lahir.”

April memutar balik jalan hidupnya dalam kepala dan mendadak ia sadar bahwa ia…bukan April yang dimaksud ibunya. April yang sebenarnya memang lahir di bulan April. April yang sebenarnya mati terlalu muda, menyisakan penyesalan dan pelampiasan yang mengisi jalan hidup seorang anak yang dilahirkan untuk melipur lara.

“Maka dari itu, April…mulai hari ini, kamu bebas untuk menjadi dirimu sendiri…”

April menatap mata ayah. Bulat, hitam, kental, pahit. Seperti obat batuk. April mengamuk dan membanting semua barang tua yang ada di kamar itu dan menjerit memekik meraung.

“Ayah…aku tidak tahu apa arti kata-katamu…!!!”

*oleh Olivia Elena Hakim

read more
Cerpen

Lazarus Tak Ada di Sini*

Ilustrasi Lazarus Tak Ada Di Sini. Wisnu Sasongko

PANGGILAN itu sangat mendadak, dan menurut si pembawa berita tak bisa ditunda. Sambil melindungi Alkitab dari tetes hujan, kusibak pintu tenda peleton. Kujumpai wajah pucat kebiruan yang menjadi pangkal seonggok tubuh kurus-layu di atas dipan lipat itu. Ia menoleh, membetulkan letak selimut. Bau tak sedap  menguar, terutama setelah aku duduk tepat di sisinya.

Mungkinkah ada sisa kotoran di balik selimut itu? Ah, sudah puluhan kali aku berdekatan dengan penderita kolera. Penyakit ganas itu hanya menular melalui makanan yang tercemar lalat atau air minum yang tidak dimasak matang. Lagipula siapakah aku ini? Bila Tuhan menghendaki aku tertular, takkan ada yang bisa menahan.

Kupegang tangan orang itu. Kisut bergelambir, bagai kulit seorang nenek berusia delapan puluh tahun. Padahal menurut catatan di atas tempat tidurnya, usia Sang Letnan baru 45 tahun.

“Selamat malam, Letnan Lazarus Willem Stijfhart,” sapaku.

Kedua kelopak mata yang terkubur jauh di belakang dahi itu perlahan terangkat.

“Pater Verbraak?” ia melempar suara serak.

“Pater sedang di bangsal rumah sakit. Aku Van Knecht. Koleganya,” sahutku.

Godverdomme,” ia memaki perlahan. “Engkau di sini. Apakah itu berarti sebentar lagi aku akan mati? Apakah dokter keparat di sana itu yang memintamu datang?”

Dengan perasaan tak enak, kulirik Dokter Jaap Zijdehand yang sedang duduk dengan kepala terangguk-angguk dekat pintu masuk. Syukurlah kantuknya lebih kuat daripada gerutu Sang Letnan.

“Semua yang hidup akan mati, Anakku. Hanya saja tak ada yang tahu kapan dan apa penyebab kematian masing-masing. Oleh karena itu, alangkah beruntung bila kita diberi sedikit waktu untuk bersiap,” sahutku sambil  menyalakan lilin. Tetapi ketika aku hendak membuat tanda salib, ia menahan gerak tanganku.

“Jangan panggil ‘Anak’. Aku bukan anakmu. Dan tak usah repot. Aku pasti masuk neraka.” Bibir Letnan Stijfhart yang kering dan pecah-pecah itu bergetar. “Usiaku 18 tahun saat mendarat di pantai Ulee Lheue. Dari keraton Sultan, mereka menembaki kami dengan bedil Inggris. Terpaksa kami sapu dengan meriam dan senapan mesin. Aku ada di belakang salah satu senapan mesin itu. Anda tahu daging giling? Begitulah bentuk mayat mereka. Peluru-peluru itu kadang melesat terlalu jauh. Setelah benteng direbut, kami temukan juga mayat wanita dan anak-anak di perkampungan belakang istana. Seorang perempuan muda belum melepas nyawanya. Ususnya terburai. Kakinya menyepak-nyepak, mulutnya terus meracau ‘Allah…Allah’. Kuarahkan pistol ke dahinya. Tuhan pasti membenciku. Bukankah Alkitab melarang membunuh?”

“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat.” Aku menghela napas. “Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar. Aku yakin sebelum maju perang orang-orang itu juga berdoa, mohon kejayaan. Bisakah akal sehat menerima? Berdoa untuk membunuh. Dan sama seperti kita, para uleebalang itu pastilah merupakan ayah dan suami yang baik bagi suatu keluarga. Sebagian mungkin belum pernah mengangkat senjata, apalagi melenyapkan nyawa orang. Tetapi Tuhan  sangat cerdik dan waspada. Ia tahu persis siapa yang boleh datang menghadap kepadaNya, dan siapa yang harus menjumpai Lucifer. Tak perlu kita pikirkan.”

“Lucifer!” Letnan Stijfhart terpingkal. “Sejak dulu aku ingin tahu, mengapa penguasa kegelapan diberi nama semanis itu? Oh, ingin sekali melihat bedebah itu. Tapi jangan-jangan aku tak cukup berdosa untuk pergi ke neraka.”

“Lucifer, atau ‘Bintang Pagi’. Konon itu nama sebelum ia jatuh ke dalam dosa. Kitab suci orang Yahudi menyebutnya Heylel. Menghilangkan nyawa orang tentu sebuah dosa besar. Tetapi pintu ampunan selalu terbuka. Seperti tertulis dalam Alkitab…” tak kurampungkan kalimatku melihat Sang Letnan menggeleng-gelengkan kepala.

“Tolong jawab saja, adakah Hamba Tuhan yang pernah membunuh banyak orang?” sambung Letnan Stijfhart. Suaranya semakin sulit kutangkap. Aku sering melihat orang sekarat. Meski gejala itu mulai tergambar pada kedua pupil mata Sang Letnan, tampaknya Malaikat Maut masih berada cukup jauh darinya.

“Bagaimana dengan Gideon? Joshua?” Beberapa kali kutarik kerah cassock-ku agar leher terasa lebih sejuk. Meski di luar hujan, udara di dalam tenda ini seperti berhenti mengalir. Pasien yang dirawat di sini kebanyakan para perwira menengah. Di seberangku, seorang perawat wanita mengulurkan minuman sembari mengusap bahu seorang pria yang tubuhnya penuh bebat dan terus mengerang. Membuatku terkenang Ibunda, nun jauh di Zeeland, kampung halaman tercinta.

“Atau Daud?” kulanjutkan berbicara. “Setelah memenggal kepala Goliath, Daud masih membunuh ribuan musuh Israel. Bahkan mengirim Uria, pahlawannya yang perkasa, agar bertempur ke tempat berbahaya sehingga gugur, dengan demikian ia bisa mengawini Batsyeba, istri Uria yang cantik jelita. Bagaimana pula dengan Simson? Bersenjatakan rahang keledai ia menceraikan nyawa seribu orang Filistin. Jangan lupa Judith, wanita mulia yang sanggup menjagal Holofernus.”

“Itu agak menenangkanku, Pater.” Kumis Letnan Stifjhart sedikit terangkat saat bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Sunyi sesaat. Di kejauhan terdengar dengking peluit kereta api yang semakin menjauh dari Stasiun Kotaraja. Esok pagi pasti rumah sakit yang sudah sangat padat penghuni ini akan kembali disibukkan dengan kedatangan para prajurit yang terluka atau tewas.  Entah akan diletakkan di mana mereka. Lima tenda peleton di halaman luar rumah sakit inipun sudah teramat padat. Kurasa petinggi militer Belanda terlalu meremehkan kemampuan tempur orang Aceh. Aku membayangkan kepanikan mereka saat melihat Jenderal Kohler tewas tertembak beberapa tahun yang lalu. Tetapi pembunuh terbesar di medan perang yang basah ini sesungguhnya bukan peluru atau kelewang, melainkan wabah kolera. Pihak Aceh pun banyak yang dimangsa penyakit mengerikan ini. Termasuk Sultan Mahmud Syah. Tetapi alih-alih menyerah, mereka segera mengangkat penggantinya, dan meneruskan pertempuran dengan cara gerilya.

“Apakah engkau juga rajin mengunjungi para pribumi seperti Pater Verbraak?” suara serak  Letnan Stijfhart kembali terdengar.

“Aku seorang imam almuseneer, Letnan. Sama seperti Pater Verbraaak. Tugas utamaku menjadi pelipur dan penguat tentara Hindia Belanda. Tetapi aku juga seorang pengabdi kemanusiaan. Apabila pekerjaanku selesai sebelum terlalu petang, kuusahakan menemani beliau pergi ke perbatasan. Berbincang dengan orang-orang itu, terutama wanita dan anak-anak yang sangat terlantar akibat perang berlarut ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran kami.  Aku sangat bangga menemani Pater Verbraak meski penghayatan keimananku sangat jauh dibandingkan beliau.”

“Engkau boleh tidak percaya. Saat berusia 12 tahun, aku pernah bercita-cita menjadi seorang pastor.” Letnan Stijfhart menahan tawa. “Ah, anak kecil mana yang tidak tertarik kisah-kisah mukjizat di Alkitab. Aku ingin menjadi seorang Santo, yang bisa begitu dekat bahkan bercakap dengan Tuhan lantaran kesalehan hati mereka. Yang bisa membuat, katakanlah, kepatuhan semesta lewat kata-kata bijak dan sedikit mujizat. Lalu mati, masuk surga. Tetapi suatu hari seorang tetangga baikku dipukuli hingga nyaris mati oleh suaminya, seorang pemabuk. Pastor kami berusaha melerai, tapi tak digubris.  Sampai akhirnya datang seorang tentara. Pemabuk itu dihajar hingga patah tangannya. Saat itu mendadak aku yakin bahwa untuk masa sekarang ini keadilan hanya bisa ditegakkan lewat kekuatan. Kutinggalkan impian menjadi pastor. Kudaftarkan diri menjadi siswa militer di Breda. Mungkin itu akan menambah daftar dosaku di hadapan Tuhan.“

“Tampaknya Anda senang menggoda Tuhan.” Aku ikut tersenyum. Tapi segera berubah cemas melihat mata Sang Letnan tiba-tiba tak berkedip. Kusentuh tangannya.

“Menggoda?” Matanya kembali bernyawa. “Anda harus dengar bagaimana Ia mengganggu hidupku,” dengusnya. “Aku lupa bagaimana awalnya keluargaku bisa punya utang sangat besar kepada lebih dari seorang rentenir. Yang jelas, setiap hari ada saja barang yang harus dijual atau digadaikan. Lalu pada suatu siang, Ibu meninggal kena pes. Setahun kemudian, setelah lama menatap surat-surat utangnya yang bertumpuk, Ayah kutemukan tergantung di kusen pintu. Pamanku bersama istri dan anak lelakinya mengambil alih rumah karena lebih dekat dengan tempat kerja Paman. Para jahanam itu jauh lebih kaya  dibandingkan Ayah. Utang keluargaku mereka bereskan. Tetapi setelah itu setiap hari mereka membuatku sibuk dengan aneka pekerjaan berujung hukuman yang tak sepadan dengan kesalahan yang kuperbuat. Setiap acara makan, aku adalah orang terakhir yang mengambil lauk. Jangan tanya apa yang tersisa. Aku  minggat dari rumah sebelum akhirnya bergabung di ketentaraan. Nah, kau tentu akan menghadirkan kisah ketabahan Ayub untuk menghiburku, bukan?”

“Tidak,” sahutku. “Anda sudah menemukan sendiri jalan menuju perbaikan hidup, bukan?”

Letnan Stijfhart tak menjawab. Wajahnya berubah tegang seperti sedang menahan nyeri.  Kemudian ia mulai muntah-muntah hebat. Bau busuk yang akrab itu kembali merebak. Dokter Jaap mendekat bersama perawat, dan butuh sedikit perjuangan memasukkan beberapa sendok cairan ke dalam mulut Sang Letnan.

“Laudanum.” Dokter menoleh kepadaku. “Hanya itu yang bisa kami berikan.”

Ketika perawat hendak membersihkan tubuh bagian bawah Sang Letnan, pria itu menggeleng keras. Aku mencuri pandang ke arah mata Letnan Stijfhart. Kuputuskan segera mengisi ember hisop dengan air. Lalu  mulai membuka buku doa: “Semoga air suci ini mengingatkan saudara akan Sakramen Baptis yang telah saudara terima dan mengingatkan pula akan Yesus Kristus yang telah menebus kita melalui sengsara, wafat, dan kebangkitanNya.”

Kuperciki sedikit wajah dan tubuh Sang Letnan.  Kali ini ia diam.

“Mari kita dengarkan Injil Matius Bab 8 ayat 5-8 dan 10.13.  Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia…” Aku berhenti sebentar, kuputuskan mengubah bacaan di luar ketetapan liturgi.

“Apakah engkau mau dengar kisah Lazarus? Itu nama baptismu, bukan?” Letnan tak menjawab. Aku mulai membaca: “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.”

“Ya, itu aku.” Senyum Letnan mengembang. “Tadinya aku khawatir engkau akan membaca kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus.”

“Mengapa tak suka kisah yang itu?” tanyaku.

“Sebab Lazarus yang itu tak ada di sini.” sahut Letnan. “Sebab Lazarus yang ini tak pantas menerima kebangkitan. ”

“Semua akan dibangkitkan kelak,” kugenggam telapak tangannya, lalu kulanjutkan membaca: “…anjing-anjing datang menjilat boroknya.  Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.  Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

“Apakah Ia akan menerimaku? Apakah…” Kutunggu Letnan Stijfhart menuntaskan kalimatnya yang menggantung, tetapi tampaknya ia takkan bisa melakukan itu.

Kututup Kitab Suci, lantas menoleh ganti berganti ke arah mata Letnan yang tertutup, dan ke arah Dokter Jaap yang berdiri di sisi ranjang. Dokter memeriksa pergelangan tangan, lalu mencelikkan kedua mata Sang Letnan.

“Tolong catat, Suster.” Dokter melirik jam di sakunya. “Waktu kematian pukul 23.12.”

Kuperlukan sejumlah waktu menyelesaikan doa Penyerahan Arwah seraya memandang wajah Letnan Stijfhart sebelum Dokter menutup tubuh kurus itu dengan selimut.

*Iksaka Banu, cerpenis, tinggal di Jakarta. Kumpulan cerpennya, Semua untuk Hindia (KPG, 2014), mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Buku yang sama mengantar penulis diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 pada Oktober 2015.

 

Keterangan
Almuseneer: Pastor Tentara
Cassock: Baju Imam Katolik
Hisop: Alat pemercik air

 

_________________________________________

Proses Kreatif

Ketika diminta membuat cerpen yang mengacu pada salah satu bacaan Alkitab, kepala saya mendadak pening. Terus terang saya cukup jarang membaca Alkitab, kecuali hari Minggu di gereja. Itu kesulitan pertama. Kedua, sebagai seorang freelancer desain grafis, sebulan terakhir saya sedang dikejar sejumlah deadline pekerjaan yang anehnya tak kunjung rampung. Ketiga, sungguh sial, saat itu saya sedang tidak punya stok cerita sepotong pun di kepala.

Syukurlah, secara kebetulan Bacaan Pengantar Injil adalah kisah yang sangat terkenal sejak saya kecil, yaitu si miskin Lazarus yang kelewat mencerita di dunia. Seluruh badan penuh luka, makanannya pun remah-remah yang jatuh dari meja Si Kaya, bahkan boroknya pun dijilati anjing. Penderitaan itu berakhir setelah ia meninggal, masuk surga, dan duduk di pangkuan Abraham, sementara Si Kaya tercebur ke neraka karena ketamakannya, ganti mengemis belas kasih kepadanya.

Berbekal kisah ini, ditambah sepotong catatan pilu tentang Perang Aceh dan keganasan wabah kolera, serta jejak misionaris Pater Verbraak (1882-1907) di sana, saya coba gabungkan menjadi sebuah cerpen.

 

*Cerpen ini tayang di Majalah Litera Edisi Desember 2016

read more
1 2
Page 1 of 2