close

Cerpen

Cerpen

April di Bulan Desember

dance-1657494_1920

Ada sebuah pertanyaan yang dulu tidak pernah terjawab, sebuah pertanyaan mengenai namaku.
Namaku April, lahir bulan Desember.

 

***

“April masih demam? Nanti malam kita ke dokter ya.”

Ibu berjalan tergesa, melongok April yang terbaring lemah. Si kecil April yang kurus, yang sakit-sakitan sejak kecil. Rumah sudah sepi karena ayah sedang dikirim ke luar kota. Ibu sebentar lagi harus berangkat ke kantor, seperti biasa meninggalkan April berdua dengan Mbok Juminten.

Mata April berkaca-kaca. Sudah beberapa hari ini ia lemas dan demam. Bukan barang baru baginya, tapi ada yang berbeda kali ini. Ia melihat sosok bersetelan krem itu menjauh, ponsel menempel di telinga. Ia merasa sesak dan sedih.

Jangan pergi, Ibu…

***

Malam tiba. April menatap jam.

Jam praktik dokter Diandra adalah jam 7 sampai 9 malam.

Sekarang sudah jam 7.30.

Tadi rapat mendadak. Ibu akan segera pulang, kok. Kamu sudah didaftarkan kok. Tunggu ya, April.

Jam 8.30

Ibu masih di jalan. Kita ke dokter besok saja ya, April. Yang penting kamu minum obat yang biasa malam ini. Minum air putih yang banyak. Demam kamu pasti cepat turun.

Jam 9.30

April memejamkan matanya, bermimpi mengenai pesawat yang terbang tinggi sekali, seperti cerita ayahnya. Bermimpi mengenai boneka salju yang dijanjikan ayah untuk dibawa pulang.

Bermimpi pulang.

***

Lima belas tahun kemudian.

April tidak pernah tahu kenapa ia begitu takut menatap mata ibunya. Terkadang mata ibu memancarkan kengerian yang tidak terjelaskan oleh April. Padahal ibu selalu memanjakan April-atau, setelah dipikir kembali, sebenarnya ibu yang manja pada April. Ibu selalu menempel pada April. Setahu April, sejak ia lahir ibu selalu di rumah, bersama April. Ibu mengantar April ke sekolah, ke tempat les, kemanapun. Ibu selalu memastikan April baik-baik saja.

Teman-teman April sering berkomentar betapa beruntungnya April, karena punya ibu yang begitu perhatian. Tetapi entah kenapa April tidak merasa seberuntung itu.

***

Di rumah, banyak barang yang muncul begitu saja tanpa April ketahui asal usulnya.

April ingat, ketika SD ibu pernah memaksanya mengikuti kursus balet. Padahal April lebih suka olahraga. April menolak, tetapi satu set baju balet lengkap dengan rok tutu dan sepatu warna senada sudah ada di atas tempat tidurnya esok pagi. Baju itu bukan baju baru. Entah darimana ibu mendapatkannya.

Ballet Shoes, Pink, Ballet, Dance, Girl, Ballerina

“Ayo, April. Kita pergi menari ballet.”

April diajak ke sebuah ruangan yang dindingnya kaca semua, penuh anak-anak yang berjuang untuk menjinjitkan kakinya. Di sanalah April berkenalan dengan Mbak Rossi, si guru balet. Si guru balet yang berbincang lama dengan ibu. Si guru balet yang sering April pergoki menatap dirinya dengan…aneh.

***

“Bu, kenapa aku dinamai April? Aku kan lahir bulan Desember?”

Ibu hanya menjawab itu dengan senyum. Lalu tatapan itu. Ibu sering menatap April sambil tersenyum. Ibu sering merangkul April dan mencium kedua pipinya. Ibu sering masuk ke kamar April malam-malam, hanya untuk memeluknya. Terkadang sambil menangis.

April tidak pernah mengerti.

Mata ibu…tidak dapat April pahami. Mata yang menatap April, justru membuat April merasa asing.

***

Ibu memang sulit dipahami. Terkadang ia menatap April lekat-lekat dari atas ke bawah, lalu kembali membawa baju-baju.

“Kamu harus pakai ini. Kamu pasti cantik sekali. Cobalah.”

Lalu, aku ingat ibu menangis ketika melihatku memakai baju itu, entah kenapa. Ia peluk aku keras-keras sampai aku tidak bisa bernapas.

“April, anakku…ibu sayang padamu…maafkan ibu, maafkan ibu….”

Aku melihat ayah dari balik punggung ibu.

Matanya bulat dan hitam.

***

Terkadang ibu datang membawa buku, boneka, dan tas.

“April, ini barangmu.”

“Bukan, Bu…”

“Nggak April, ini punya kamu! Simpan baik-baik!”

April tidak tahu darimana barang-barang ini datang. Tetapi ibu April begitu lembut dan penyayang, April terlalu sungkan untuk menolak apapun. Ibu April begitu halus, April tidak ingin melukainya. Jadi April hanya berterima kasih.

Sama seperti baju baletnya, barang-barang itu tidak ada yang baru.

***

1 April, hari pertunjukkan baletku yang pertama, satu hari sebelum aku memasuki kelas SMP 2, adalah hari dimana ibuku masuk rumah sakit jiwa.

Ballet, Sneaker, Dress, Ballet Dancer, Dance

Aku hanya mendengar berita itu dari ayah. Ayah memang tidak pernah tampak menyukai ibu. Sama seperti Mbak Rossi. Terkadang, mereka tampak seakan ingin berbicara, tetapi tidak jadi. Mereka tampak seperti orang-orang yang menyimpan rahasia, oleh karena itu April terbiasa membenci mereka. April ingin melindungi ibunya yang lemah dari mereka. Tapi ternyata ibu kalah.
Ibuku masuk rumah sakit jiwa dan ayahku membuka pintu gudang…

***

Ada satu ruangan dalam rumahku yang tidak pernah kumasuki. Gudang.

“April…ayah ingin kau terbebas dari penderitaanmu selama ini.”

April menggaruk rambut, menatap ayahnya dengan tidak mengerti. Ia masih memakai kostum baletnya.

“Ibumu melarang ayah untuk memberitahu ini. Tetapi kamu sudah besar…ayah ingin membebaskanmu.”

“Dengan cara mengurung ibu?”

“Ibumu sakit, April. Apa kamu tidak pernah menyadarinya?”

Memori April berputar. Banyak orang yang sering membicarakan ibu di belakang. Banyak orang yang menatap ibunya seperti orang asing yang aneh. April pernah bermimpi membunuhi semua orang itu. Karena di dunia ini, hanya ada April yang bisa melindungi ibu dari orang-orang kejam. Ibu terlalu halus, terlalu lembut.

April mengepalkan tangannya.

“Ayah ngomong apa sih? Ayah, cepat keluarkan ibu. Ibu nggak gila.”

April bergolak oleh kemarahan. Ibu membutuhkan April. April tidak dapat membayangkan ibunya sendirian di tempat asing seperti itu.

Ayah menunduk, menatap April. April melihat bola mata hitam kental seperti obat batuk. April menatap mata ayah.

“April, dengarkan cerita ayah…”

Pintu gudang terbuka. April memasuki sebuah kamar yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Kamar milik seorang anak perempuan bernama April yang meninggal saat kecil karena demam berdarah. Fotonya masih terpajang di meja belajarnya. Gadis itu memakai baju balet, persis yang ia kenakan saat pertama kali menginjak studio Mbak Rossi.

April mendengar suara ayah terisak.

“April…maaf. Seharunya ayah melakukan ini dari dulu. Tapi ibumu begitu rapuh…April, maaf.”

April terdiam. Ia mengenali beberapa mainan masa kecilnya. Ia mengenali beberapa pakaian kesukaannya. Tepatnya, semua pakaian favoritnya di masa kecil. Yang hilang entah kemana, sama seperti kemunculannya yang juga entah dari mana.

“Sebenarnya…semua ini apa?”

“Ini adalah kamar almarhum kakakmu. Ya, kamu punya seorang kakak…yang meninggal sebelum kamu lahir.”

April memutar balik jalan hidupnya dalam kepala dan mendadak ia sadar bahwa ia…bukan April yang dimaksud ibunya. April yang sebenarnya memang lahir di bulan April. April yang sebenarnya mati terlalu muda, menyisakan penyesalan dan pelampiasan yang mengisi jalan hidup seorang anak yang dilahirkan untuk melipur lara.

“Maka dari itu, April…mulai hari ini, kamu bebas untuk menjadi dirimu sendiri…”

April menatap mata ayah. Bulat, hitam, kental, pahit. Seperti obat batuk. April mengamuk dan membanting semua barang tua yang ada di kamar itu dan menjerit memekik meraung.

“Ayah…aku tidak tahu apa arti kata-katamu…!!!”

*oleh Olivia Elena Hakim

read more
Cerpen

Lazarus Tak Ada di Sini*

Ilustrasi Lazarus Tak Ada Di Sini. Wisnu Sasongko

PANGGILAN itu sangat mendadak, dan menurut si pembawa berita tak bisa ditunda. Sambil melindungi Alkitab dari tetes hujan, kusibak pintu tenda peleton. Kujumpai wajah pucat kebiruan yang menjadi pangkal seonggok tubuh kurus-layu di atas dipan lipat itu. Ia menoleh, membetulkan letak selimut. Bau tak sedap  menguar, terutama setelah aku duduk tepat di sisinya.

Mungkinkah ada sisa kotoran di balik selimut itu? Ah, sudah puluhan kali aku berdekatan dengan penderita kolera. Penyakit ganas itu hanya menular melalui makanan yang tercemar lalat atau air minum yang tidak dimasak matang. Lagipula siapakah aku ini? Bila Tuhan menghendaki aku tertular, takkan ada yang bisa menahan.

Kupegang tangan orang itu. Kisut bergelambir, bagai kulit seorang nenek berusia delapan puluh tahun. Padahal menurut catatan di atas tempat tidurnya, usia Sang Letnan baru 45 tahun.

“Selamat malam, Letnan Lazarus Willem Stijfhart,” sapaku.

Kedua kelopak mata yang terkubur jauh di belakang dahi itu perlahan terangkat.

“Pater Verbraak?” ia melempar suara serak.

“Pater sedang di bangsal rumah sakit. Aku Van Knecht. Koleganya,” sahutku.

Godverdomme,” ia memaki perlahan. “Engkau di sini. Apakah itu berarti sebentar lagi aku akan mati? Apakah dokter keparat di sana itu yang memintamu datang?”

Dengan perasaan tak enak, kulirik Dokter Jaap Zijdehand yang sedang duduk dengan kepala terangguk-angguk dekat pintu masuk. Syukurlah kantuknya lebih kuat daripada gerutu Sang Letnan.

“Semua yang hidup akan mati, Anakku. Hanya saja tak ada yang tahu kapan dan apa penyebab kematian masing-masing. Oleh karena itu, alangkah beruntung bila kita diberi sedikit waktu untuk bersiap,” sahutku sambil  menyalakan lilin. Tetapi ketika aku hendak membuat tanda salib, ia menahan gerak tanganku.

“Jangan panggil ‘Anak’. Aku bukan anakmu. Dan tak usah repot. Aku pasti masuk neraka.” Bibir Letnan Stijfhart yang kering dan pecah-pecah itu bergetar. “Usiaku 18 tahun saat mendarat di pantai Ulee Lheue. Dari keraton Sultan, mereka menembaki kami dengan bedil Inggris. Terpaksa kami sapu dengan meriam dan senapan mesin. Aku ada di belakang salah satu senapan mesin itu. Anda tahu daging giling? Begitulah bentuk mayat mereka. Peluru-peluru itu kadang melesat terlalu jauh. Setelah benteng direbut, kami temukan juga mayat wanita dan anak-anak di perkampungan belakang istana. Seorang perempuan muda belum melepas nyawanya. Ususnya terburai. Kakinya menyepak-nyepak, mulutnya terus meracau ‘Allah…Allah’. Kuarahkan pistol ke dahinya. Tuhan pasti membenciku. Bukankah Alkitab melarang membunuh?”

“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat.” Aku menghela napas. “Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar. Aku yakin sebelum maju perang orang-orang itu juga berdoa, mohon kejayaan. Bisakah akal sehat menerima? Berdoa untuk membunuh. Dan sama seperti kita, para uleebalang itu pastilah merupakan ayah dan suami yang baik bagi suatu keluarga. Sebagian mungkin belum pernah mengangkat senjata, apalagi melenyapkan nyawa orang. Tetapi Tuhan  sangat cerdik dan waspada. Ia tahu persis siapa yang boleh datang menghadap kepadaNya, dan siapa yang harus menjumpai Lucifer. Tak perlu kita pikirkan.”

“Lucifer!” Letnan Stijfhart terpingkal. “Sejak dulu aku ingin tahu, mengapa penguasa kegelapan diberi nama semanis itu? Oh, ingin sekali melihat bedebah itu. Tapi jangan-jangan aku tak cukup berdosa untuk pergi ke neraka.”

“Lucifer, atau ‘Bintang Pagi’. Konon itu nama sebelum ia jatuh ke dalam dosa. Kitab suci orang Yahudi menyebutnya Heylel. Menghilangkan nyawa orang tentu sebuah dosa besar. Tetapi pintu ampunan selalu terbuka. Seperti tertulis dalam Alkitab…” tak kurampungkan kalimatku melihat Sang Letnan menggeleng-gelengkan kepala.

“Tolong jawab saja, adakah Hamba Tuhan yang pernah membunuh banyak orang?” sambung Letnan Stijfhart. Suaranya semakin sulit kutangkap. Aku sering melihat orang sekarat. Meski gejala itu mulai tergambar pada kedua pupil mata Sang Letnan, tampaknya Malaikat Maut masih berada cukup jauh darinya.

“Bagaimana dengan Gideon? Joshua?” Beberapa kali kutarik kerah cassock-ku agar leher terasa lebih sejuk. Meski di luar hujan, udara di dalam tenda ini seperti berhenti mengalir. Pasien yang dirawat di sini kebanyakan para perwira menengah. Di seberangku, seorang perawat wanita mengulurkan minuman sembari mengusap bahu seorang pria yang tubuhnya penuh bebat dan terus mengerang. Membuatku terkenang Ibunda, nun jauh di Zeeland, kampung halaman tercinta.

“Atau Daud?” kulanjutkan berbicara. “Setelah memenggal kepala Goliath, Daud masih membunuh ribuan musuh Israel. Bahkan mengirim Uria, pahlawannya yang perkasa, agar bertempur ke tempat berbahaya sehingga gugur, dengan demikian ia bisa mengawini Batsyeba, istri Uria yang cantik jelita. Bagaimana pula dengan Simson? Bersenjatakan rahang keledai ia menceraikan nyawa seribu orang Filistin. Jangan lupa Judith, wanita mulia yang sanggup menjagal Holofernus.”

“Itu agak menenangkanku, Pater.” Kumis Letnan Stifjhart sedikit terangkat saat bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Sunyi sesaat. Di kejauhan terdengar dengking peluit kereta api yang semakin menjauh dari Stasiun Kotaraja. Esok pagi pasti rumah sakit yang sudah sangat padat penghuni ini akan kembali disibukkan dengan kedatangan para prajurit yang terluka atau tewas.  Entah akan diletakkan di mana mereka. Lima tenda peleton di halaman luar rumah sakit inipun sudah teramat padat. Kurasa petinggi militer Belanda terlalu meremehkan kemampuan tempur orang Aceh. Aku membayangkan kepanikan mereka saat melihat Jenderal Kohler tewas tertembak beberapa tahun yang lalu. Tetapi pembunuh terbesar di medan perang yang basah ini sesungguhnya bukan peluru atau kelewang, melainkan wabah kolera. Pihak Aceh pun banyak yang dimangsa penyakit mengerikan ini. Termasuk Sultan Mahmud Syah. Tetapi alih-alih menyerah, mereka segera mengangkat penggantinya, dan meneruskan pertempuran dengan cara gerilya.

“Apakah engkau juga rajin mengunjungi para pribumi seperti Pater Verbraak?” suara serak  Letnan Stijfhart kembali terdengar.

“Aku seorang imam almuseneer, Letnan. Sama seperti Pater Verbraaak. Tugas utamaku menjadi pelipur dan penguat tentara Hindia Belanda. Tetapi aku juga seorang pengabdi kemanusiaan. Apabila pekerjaanku selesai sebelum terlalu petang, kuusahakan menemani beliau pergi ke perbatasan. Berbincang dengan orang-orang itu, terutama wanita dan anak-anak yang sangat terlantar akibat perang berlarut ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran kami.  Aku sangat bangga menemani Pater Verbraak meski penghayatan keimananku sangat jauh dibandingkan beliau.”

“Engkau boleh tidak percaya. Saat berusia 12 tahun, aku pernah bercita-cita menjadi seorang pastor.” Letnan Stijfhart menahan tawa. “Ah, anak kecil mana yang tidak tertarik kisah-kisah mukjizat di Alkitab. Aku ingin menjadi seorang Santo, yang bisa begitu dekat bahkan bercakap dengan Tuhan lantaran kesalehan hati mereka. Yang bisa membuat, katakanlah, kepatuhan semesta lewat kata-kata bijak dan sedikit mujizat. Lalu mati, masuk surga. Tetapi suatu hari seorang tetangga baikku dipukuli hingga nyaris mati oleh suaminya, seorang pemabuk. Pastor kami berusaha melerai, tapi tak digubris.  Sampai akhirnya datang seorang tentara. Pemabuk itu dihajar hingga patah tangannya. Saat itu mendadak aku yakin bahwa untuk masa sekarang ini keadilan hanya bisa ditegakkan lewat kekuatan. Kutinggalkan impian menjadi pastor. Kudaftarkan diri menjadi siswa militer di Breda. Mungkin itu akan menambah daftar dosaku di hadapan Tuhan.“

“Tampaknya Anda senang menggoda Tuhan.” Aku ikut tersenyum. Tapi segera berubah cemas melihat mata Sang Letnan tiba-tiba tak berkedip. Kusentuh tangannya.

“Menggoda?” Matanya kembali bernyawa. “Anda harus dengar bagaimana Ia mengganggu hidupku,” dengusnya. “Aku lupa bagaimana awalnya keluargaku bisa punya utang sangat besar kepada lebih dari seorang rentenir. Yang jelas, setiap hari ada saja barang yang harus dijual atau digadaikan. Lalu pada suatu siang, Ibu meninggal kena pes. Setahun kemudian, setelah lama menatap surat-surat utangnya yang bertumpuk, Ayah kutemukan tergantung di kusen pintu. Pamanku bersama istri dan anak lelakinya mengambil alih rumah karena lebih dekat dengan tempat kerja Paman. Para jahanam itu jauh lebih kaya  dibandingkan Ayah. Utang keluargaku mereka bereskan. Tetapi setelah itu setiap hari mereka membuatku sibuk dengan aneka pekerjaan berujung hukuman yang tak sepadan dengan kesalahan yang kuperbuat. Setiap acara makan, aku adalah orang terakhir yang mengambil lauk. Jangan tanya apa yang tersisa. Aku  minggat dari rumah sebelum akhirnya bergabung di ketentaraan. Nah, kau tentu akan menghadirkan kisah ketabahan Ayub untuk menghiburku, bukan?”

“Tidak,” sahutku. “Anda sudah menemukan sendiri jalan menuju perbaikan hidup, bukan?”

Letnan Stijfhart tak menjawab. Wajahnya berubah tegang seperti sedang menahan nyeri.  Kemudian ia mulai muntah-muntah hebat. Bau busuk yang akrab itu kembali merebak. Dokter Jaap mendekat bersama perawat, dan butuh sedikit perjuangan memasukkan beberapa sendok cairan ke dalam mulut Sang Letnan.

“Laudanum.” Dokter menoleh kepadaku. “Hanya itu yang bisa kami berikan.”

Ketika perawat hendak membersihkan tubuh bagian bawah Sang Letnan, pria itu menggeleng keras. Aku mencuri pandang ke arah mata Letnan Stijfhart. Kuputuskan segera mengisi ember hisop dengan air. Lalu  mulai membuka buku doa: “Semoga air suci ini mengingatkan saudara akan Sakramen Baptis yang telah saudara terima dan mengingatkan pula akan Yesus Kristus yang telah menebus kita melalui sengsara, wafat, dan kebangkitanNya.”

Kuperciki sedikit wajah dan tubuh Sang Letnan.  Kali ini ia diam.

“Mari kita dengarkan Injil Matius Bab 8 ayat 5-8 dan 10.13.  Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia…” Aku berhenti sebentar, kuputuskan mengubah bacaan di luar ketetapan liturgi.

“Apakah engkau mau dengar kisah Lazarus? Itu nama baptismu, bukan?” Letnan tak menjawab. Aku mulai membaca: “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.”

“Ya, itu aku.” Senyum Letnan mengembang. “Tadinya aku khawatir engkau akan membaca kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus.”

“Mengapa tak suka kisah yang itu?” tanyaku.

“Sebab Lazarus yang itu tak ada di sini.” sahut Letnan. “Sebab Lazarus yang ini tak pantas menerima kebangkitan. ”

“Semua akan dibangkitkan kelak,” kugenggam telapak tangannya, lalu kulanjutkan membaca: “…anjing-anjing datang menjilat boroknya.  Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.  Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

“Apakah Ia akan menerimaku? Apakah…” Kutunggu Letnan Stijfhart menuntaskan kalimatnya yang menggantung, tetapi tampaknya ia takkan bisa melakukan itu.

Kututup Kitab Suci, lantas menoleh ganti berganti ke arah mata Letnan yang tertutup, dan ke arah Dokter Jaap yang berdiri di sisi ranjang. Dokter memeriksa pergelangan tangan, lalu mencelikkan kedua mata Sang Letnan.

“Tolong catat, Suster.” Dokter melirik jam di sakunya. “Waktu kematian pukul 23.12.”

Kuperlukan sejumlah waktu menyelesaikan doa Penyerahan Arwah seraya memandang wajah Letnan Stijfhart sebelum Dokter menutup tubuh kurus itu dengan selimut.

*Iksaka Banu, cerpenis, tinggal di Jakarta. Kumpulan cerpennya, Semua untuk Hindia (KPG, 2014), mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Buku yang sama mengantar penulis diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 pada Oktober 2015.

 

Keterangan
Almuseneer: Pastor Tentara
Cassock: Baju Imam Katolik
Hisop: Alat pemercik air

 

_________________________________________

Proses Kreatif

Ketika diminta membuat cerpen yang mengacu pada salah satu bacaan Alkitab, kepala saya mendadak pening. Terus terang saya cukup jarang membaca Alkitab, kecuali hari Minggu di gereja. Itu kesulitan pertama. Kedua, sebagai seorang freelancer desain grafis, sebulan terakhir saya sedang dikejar sejumlah deadline pekerjaan yang anehnya tak kunjung rampung. Ketiga, sungguh sial, saat itu saya sedang tidak punya stok cerita sepotong pun di kepala.

Syukurlah, secara kebetulan Bacaan Pengantar Injil adalah kisah yang sangat terkenal sejak saya kecil, yaitu si miskin Lazarus yang kelewat mencerita di dunia. Seluruh badan penuh luka, makanannya pun remah-remah yang jatuh dari meja Si Kaya, bahkan boroknya pun dijilati anjing. Penderitaan itu berakhir setelah ia meninggal, masuk surga, dan duduk di pangkuan Abraham, sementara Si Kaya tercebur ke neraka karena ketamakannya, ganti mengemis belas kasih kepadanya.

Berbekal kisah ini, ditambah sepotong catatan pilu tentang Perang Aceh dan keganasan wabah kolera, serta jejak misionaris Pater Verbraak (1882-1907) di sana, saya coba gabungkan menjadi sebuah cerpen.

 

*Cerpen ini tayang di Majalah Litera Edisi Desember 2016

read more
CERITACerpen

Ceritaku, Sang Bumi

hands-600497_1920

Awalnya, Ia mencipta langit dan bumi. Aku masih kosong, tidak terbentuk, dan samudra diselimuti Gelap. Tetapi, Ia tidak membiarkanku merasa gelap di dalam kegelapan. Ia memberiku hadiah: Terang.

Karena pertengkaran antara Terang dan Gelap, Ia memisahkannya, memberi nama Terang itu Siang dan Gelap itu Malam. Kepada siang Ia berikan benda penerang, kepada langit malam Ia ciptakan bintang-bintang. Sejak itulah aku diciptakan.

Lalu Ia memisahkan air dengan air, mencipta cakrawala, daratan, sehingga terlihat yang kering dan yang basah. Ia memerintahkan tanah menumbuhkan tunas-tunas, tumbuhan berbiji,  dan segala jenis buah dan sayur supaya aku tampak hijau dan segar.

Laut merasa kesepian. Karena itu, Ia memberi segala makhluk air yang hidup, ke dalamnya. Keadilan-Nya sangat besar. Ia menciptakan burung beterbangan di udara, menembus cakrawala. Tak lupa Ia ciptakan hewan liar dan segala ternak, memenuhi darat.

Tetapi, ada yang kurang. Belum ada ciptaan-Nya yang mengurus aku. Melihat hal itu, Ia mencipta manusia. Manusia yang serupa dan segambar dengan-Nya, yang diberikan akal budi dan kepandaian. Ia memerintahkan manusia untuk beranak-cucu dan menguasai aku, bumi.

Sejak itulah aku terpelihara. Tetapi, manusia mulai berubah. Mereka tidak bertanggung jawab atas perintah yang Ia berikan. Manusia bersikap seenaknya terhadap kesejahteraanku. Melihatku disakiti terus-menerus, Ia menurunkan hujan selama 40 hari lamanya sehingga air memenuhiku. Hanya delapan orang selamat saat itu. Setelah kejadian mengerikan itu, manusia tidak lagi melakukan perbuatan kejam. Ia pun berjanji tidak akan menghukum dengan air bah.

Seiring berjalannya waktu, sikap serakah kembali memenuhi diri manusia. Mereka membuat alat-alat canggih yang menguntungkan mereka, menjadikan kegiatan mereka lebih mudah, waktu lebih singkat. Namun, alat-alat itu pun secara perlahan merusakku. Air mataku kembali turun.

Memang aku dicipta untuk dipergunakan dengan baik, dan manusia tidak boleh bersikap seenaknya. Setelah aku dimanfaatkan, mereka harus mengembalikan agar keadaanku mendekati seperti semula. Apakah mereka tidak tahu aku sangat berjasa bagi kehidupan? Coba bayangkan! Bila aku tidak ada, mereka tinggal di mana? Dari mana mereka mengambil sumber alam?

Sekarang aku merasa sedih bercampur marah, kecewa, pahit, melihat tubuhku hancur berantakan. Aku kepanasan, kadang kedinginan. Mungkin aku akan mati dalam waktu singkat. Sementara manusia terus menambang, meninggalkan lubang-lubang raksasa di tubuhku. Mereka melakukan pengeboman luar biasa di dasar-dasar laut. Mereka membuat udara makin berpolusi. Air segar jadi keruh. Tanah makin kering. Manusialah yang menyebabkan segala bencana banjir, angin topan, gempa, dan yang lain.

Aku menyaksikan mereka dari atas dan bawah. Manusia belum sepenuhnya sadar. Masih ada saja yang melakukan hal-hal buruk. Apakah mereka belum puas dengan bencana-bencana yang melanda mereka? Tidakkah mereka sengsara akibat semua itu?

Kendaraan-kendaraan bertambah jumlah dan menyebabkan polusi. Pertambangan membuat lubang-lubang di tanah kian menganga. Pohon-pohon hutan ditebang sampai gundul dan binatang-binatang terusir dari habitatnya, bahkan punah. Padahal pepohonan adalah paru-paru kehidupan, mengapa mereka tega menghabisinya? Apakah mereka ingin mengakhiri kehidupan?

Mereka tentu boleh mengambil apa  saja dari tubuhku. Mereka boleh menebang pohon tetapi memilih pohon yang sudah layak tebang, membiarkan yang lain terus tumbuh, dan menanam yang baru. Seperti mereka boleh menambang sampai batas-batas keamanan bagi kesejahteraanku.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh mereka untuk memeliharaku. Pilihan ada ditangan mereka. Aku tidak dapat melakukan apa-apa.

Syukurlah akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka. Mereka membangun organisasi-organisasi untuk menyelamatkanku, bumi. Mereka membuat poster, iklan, dan lainnya, untuk mempraktikkan hal-hal yang melindungiku. Mereka bekerja sama melakukannya di sekolah, di rumah, di lingkungan sekitar.

Aku senang mereka mulai melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam tumbuh-tumbuhan di pekarangan rumah, mematikan AC di rumah apabila tidak digunakan, bersepeda atau berjalan kaki ke tempat yang dekat. Walau terdengar sederhana, tetapi hal tersebut membuat perubahan cukup besar bagiku.

Lalu mereka mengerjakan hal-hal lebih besar seperti mereboisasi hutan, kerja bakti membersihkan sungai dari sampah-sampah, mendaur ulang sampah plastik, membuat pupuk sampah makanan, membuat kendaraan  ramah lingkungan yang sedikit membuat polusi udara, mengembalikan tanah-tanah pertambangan berfungsi kembali.

Mereka berfokus pada konservasi hutan, air tawar, samudera, pantai. Mereka menangani masalah spesies yang terancam punah, polusi global, perubahan iklim. Mereka melakukan aksi langsung tanpa kekerasan untuk menghentikan uji nuklir angkasa dan bawah tanah, menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pemerintah-pemerintah dunia mengeluarkan peraturan keras demi menjaga lingkungan. Siapa melanggar akan dihukum.

Kehidupanku lebih baik. Manusia sudah lebih bertanggung jawab meski sedikit terlambat. Walau beberapa bagianku mengalami rusak tetap, aku merasa dilindungi, disayang.

 

*Calista, siswa SMPK Penabur 1 Jakarta angkatan 2014-2015

 

read more
1 2
Page 2 of 2