close

CERITA

Cerbung

Karavansara

headscarf-1683164_960_720

AKU YAKIN akulah yang dilirik Tuan Babak ketika mendapati kami tengah berlari-larian di Pasar Shiraz. Tapi kakak perempuanku, Shirin, bersikeras dialah yang pertama kali dilirik oleh Tuan Babak. Kelak, meski tetap teguh pada keyakinanku, aku tak pernah mendebat pendapat Shirin.

Tuan Babak, seorang saudagar dengan turban besar dan senyum lebar yang melancong dari utara, bertanya macam-macam tentang kami. Kakakku memperkenalkan namanya dan memberitahu bahwa namaku Surin. Dia jelaskan bahwa umurnya enam belas tahun dan aku dua tahun lebih muda darinya, kami -kakak beradik yang sudah yatim-piatu dan bertaruh semata-mata pada kemurahan hati orang-orang pasar untuk bertahan hidup. Mendengar itu senyum Tuan Babak yang begitu lebar hilang seketika, diganti dengan mata iba dan raut tersentuh kebapakan yang membuat mukanya jadi terlihat lebih tua dari semestinya. Tuan Babak pun mengajak kami untuk ikut dengannya. Dia belikan Shirin gaun sutra baru dan untukku baju dari kain lampas bercorak benang perak dan emas, lengkap dengan kaus kaki dan sepatu baru. Tuan Babak tersenyum melihat penampilan baru kami, secara khusus dia memuji ketampananku lalu berkata, “Lampas ini didatangkan langsung dari lokakarya terbaik di Isfahan, aku tahu itu sebab aku yang memasoknya kemari.”

Selanjutnya Tuan Babak mengajak kami makan dan untuk pertama kalinya aku dan Shirin mencicipi sup delima dan daging domba buatan kedai paling mewah di Shiraz. Dan ketika itulah tiba-tiba saja Tuan Babak melempar ajakan untuk ikut bersamanya, dia bahkan berjanji akan mengurus kami dengan baik. Shirin bertanya apa yang perlu kami lakukan sebagai balasannya dan Tuan Babak menjawab, kami boleh saja membantu pekerjaannya kalau kami mau.

Aku tidak tahu harus menjawab apa sementara Tuan Babak terus menatapiku. Kulihat Shirin sepertinya tidak terlalu keberatan dengan ide itu, dan ketika dia bilang setuju, aku pun mau tidak mau harus ikut bersetuju dengan kakakku itu.

Selanjutnya Tuan Babak memperkenalkan kami pada Shahzad, pemuda yang sudah lama bekerja dengannya. Umurnya baru 19 tahun, lebih muda dari yang kuduga. Seketika saja aku kagum melihat Shahzad, lebih-lebih ketika menyaksikan dia, dengan otot-otot lengan yang kurus tapi kuat, mengangkut semua buntalan berat ke atas punuk masing-masing unta, sendirian.

Setelah Tuan Babak selesai bertawar-tawaran dengan seorang pedagang di salah satu loka, kami langsung berangkat. Shirin meminta ikut bersama unta Tuan Babak, maka aku menumpang unta yang ditunggangi Shahzad. Delapan unta lainnya yang membawa bekal perjalanan dan barang-barang dagangan, mengikuti dari belakang. Itulah kali pertama aku dan Shirin betul-betul keluar dari kota Shiraz. Kutatapi lekat-lekat jalur yang akan kami lewati dan bukit-bukit batu yang mengapitnya. Barangkali menyadari rasa kagumku itu, Shahzad berkata, “Kau sudah ikut Tuan Babak, jadi kau akan bertualang nanti. Kau akan jelajahi banyak tempat.” Sepanjang sisa hari itu aku diam bersandar padanya sambil menahan panas, haus, dan lesu. Bukit pasir dan tebing batu di sekitar yang kesemuanya terlihat begitu-gitu saja sejauh apapun kami melaju, ikut campur memupuk rasa bosanku, membuat kepalaku beberapa kali terkantuk-kantuk dan meluncur jatuh dari dada Shahzad, sampai dia perlu menahan dan membetulkan posisi kepalaku kembali, dan aku pun terbangun malu. Dari belakang kudengar samar-samar percakapan Shirin dan Tuan Babak, meski aku tak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, dan sekali Shirin bahkan tertawa keras, begitu keras sampai digemakan oleh tebing sekitar.

Dua kali Shahzad menawariku minum dan aku tetap diam saja, pada kali ketiga dia menawari, aku benar-benar haus dan kusambar kantung air yang terbuat dari kandung kemih sapi itu. Ketika itu hari mulai gelap dan Shahzad berkata kepada Tuan Babak  sekarang sebaiknya istirahat, desa atau karavansara—semacam tempat peristirahatan—terdekat masih jauh dan sia-sia saja melanjutkan malam hari. Shahzad menunjuk batu bagian di kaki bukit depan kami, yang menurutnya tepat dan kami berempat pun tolong-menolong mendirikan kemah.

Shahzad membuat api unggun, dan sambil memasak rebusan daging, dia menjelaskan bahwa Tuan Babak semestinya bersabar menunggu pagi, tapi beliau begitu terburu-buru, ada pembeli yang ingin dikejar di Isfahan nanti, seorang dari kedutaan Inggris yang sudi membayar mahal barang-barang antik dari semenanjung Arabia, dan dia juga mendapat pesanan hadam-talka terbaik yang didatangkan langsung dari Gujarat. Dan  kami juga tidak  dapat membasuh badan karena harus menghemat air, sebab Tuan Babak kemungkinan tidak akan berhenti lama di karavansara terdekat. “Berharap saja tidak ada bandit yang menunggu kita di jalan,” kata Shahzad, entah bercanda atau tidak.

Tak lama setelah itu Shahzad mengajak kami bertayammum, dan kami pun bersembahyang dengan Tuan Babak sebagai imam. Di Shiraz, aku tak pernah betul-betul taat bersembahyang, dan entah kenapa, mungkin untuk menunjukkan rasa syukurku atas kebaikan yang kami terima, kali ini aku ingin betul-betul mengkhusyuki laku tersebut.

Karena sudah begitu lelah, aku memutuskan untuk langsung tidur setelah menghabiskan rebusan dagingku. Aku tidur di tenda yang sama dengan Shahzad dan Shirin sementara Tuan Babak punya tenda sendiri yang besar dan lapang.

Besoknya kami kembali melanjutkan perjalanan, dan sebagaimana yang sudah dijelaskan Shahzad malam harinya, kami tidak beristirahat ketika tiba di karavansara terdekat, hanya mampir sebentar untuk mengisi kantung air dan memasok perbekalan. Kami menyempatkan diri membasuh badan sebentar, dan aku bisa melihat Shahzad membasahi badan liatnya dan aku semakin terkagum-kagum padanya.

Dalam perjalanan Shahzad bercerita panjang padaku. Dia hasil hubungan haram seorang bangsawan Anatolia dengan perempuan Azeri yang hina dan papa. Ibunya meninggal ketika melahirkan dan ayahnya tak sudi mengakuinya. Dia diasuh oleh tangan keras pamannya, seorang pandai besi di Nishapur, yang telah menyisakan memar dan jejak cemeti di punggungnya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Tuan Babak yang ketika itu mampir di penginapan, di seberang pandai besi pamannya. Tuan Babak pun mengasuh Shahzad, membawanya sebagai teman seperjalanan dan orang kepercayaan, mengajarinya banyak hal tentang perdagangan.

Shahzad bercerita tentang kota-kota yang telah dia kunjungi bersama Tuan Babak, dari Zirra ke gudang-gudang anggur di Herat, dari Tabriz ke Dyar-Bakr, dari Arzinjan ke Tehran, jauh sampai menembus perbatasan orang-orang Mongol cuma untuk mengambil barang-barang dari Malaka, menyeberangi semenanjung Arab, pada satu kesempatan mereka bahkan mengarungi Laut Mazandaran menuju Rusia, sampai akhirnya Tuan Babak memutuskan untuk tidak lagi melancong sampai keluar perbatasan negeri karena pajak pedagang luar yang begitu tinggi dan urusan administrasi yang membuat mereka harus menunggu berhari-hari.

Kami kembali berkemah di dekat bukit-bukit batu. Ketika kami tengah makan tiba-tiba saja Shirin mengajukan permintaan yang cukup mengejutkan, “Bolehkah aku tidur di tendamu, Tuan Babak?” Tuan Babak menolak, “Aku laki-laki beristri, A-nakku,” senyum lebarnya merekah dan dia pun melanjutkan makanannya.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku mendapat giliran jaga, bergantian dengan Tuan Babak dan Shahzad. Aku terbangun sebelum giliranku, ketika itu Shirin sudah tertidur pulas dan aku tidak menemukan Shahzad di manapun ketika mengintip keluar tenda. Aku keluar dan mencari-cari sampai akhirnya kusadari ada bunyi samar-samar dari tenda Tuan Babak. Diam-diam aku mengintip melalui satu lubang kecil dan di bawah cahaya temaram tenda kudapati Tuan Babak tengah mengelus dan meremas tubuh Shahzad yang telanjang. Kuperhatikan juga muka Shahzad sekarang berpupur dan matanya diberi celak, tangan dan kakinya juga digambar dengan hena. Sesekali Tuan Babak mengelus-elus rambut Shahzad lalu kembali meremaskan tangannya keras-keras, dan Shahzad akan mendesah dan merintih sesuai dengan irama Tuan Babak di belakang. Aku tertegun dan bergeming, merasa takut juga jijik, tapi aku terus memberanikan diri menyaksikan tiap-tiap perlakukan yang menimpa tubuh liat Shahzad. Dan ketika mereka usai, ketika Shahzad membersihkan diri dan bersiap-siap berpakaian, aku bersegera berlari ke tendaku, berpura-pura tidur. Sebisa mungkin aku redam gemetar tubuhku dan pura-pura bangun ketika Shahzad masuk, membangunkanku dan mengabarkan bahwa sekarang giliranku jaga.

Setelah salat subuh keesokan harinya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Aku merasa ragu dan takut duduk di atas unta bersama Shahzad, lebih-lebih ketika aku melihat sisa-sisa hena pada tangannya. Tapi pada akhirnya, karena merasa kelelahan, tetap kusandarkan kepalaku pada dada Shahzad. Dia tetap bersikap baik padaku, dan karena itu aku merasa serba salah. Sepanjang perjalanan itu sebisa mungkin kuredam semua pikiran buruk tentang Shahzad dan terus membalas obrolannya sebisa dan sebaik mungkin.

Setelah sebelas hari perjalanan, dengan perhentian di beberapa desa dan karavansara, kami tiba di Isfahan. Kota tersebut lebih besar Shiraz dan kami langsung menuju pasarnya yang lebih ramai dan sesak dari dugaanku. Kami disambut oleh dua orang karyawan ketika kami berhenti di toko sekaligus lokakarya khusus perempuan milik Tuan Babak. Shahzad langsung mengurus unta-unta dan menurunkan semua bawaan, sementara aku dan Shirin diserahkan pada seorang perempuan yang kemudian mengaku sebagai istri kedua Tuan Babak.

Perempuan itu mengajak kami naik kereta kuda dan kami pun berjalan-jalan keluar dari bazaar, melewati pagar istana, Masjid Shah yang begitu megah, pemukiman orang-orang Armenia; keluar dari kota tua dan menuju bagian kota yang lebih selesa, dan tibalah kami di sebuah pemukiman yang lebih mewah dan asri, dengan rumah-rumah yang besar dan taman-taman yang luas dan tertata. Kami berhenti di salah satu rumah besar, itulah kediaman Tuan Babak. Perempuan itu mempersilakan kami masuk dan kami langsung disambut oleh beberapa pembantu dan satu perempuan yang paling tua dan berkuasa di situ, yang kemudian mengaku sebagai istri pertama Tuan Babak. Aku dan Shirin dipersilakan membersihkan diri di tempat pemandian yang besar, pakaian bagus lengkap dengan aksesoris dan wangi-wangian sudah disiapkan untuk kami. Ketika siap kami langsung dijamu buah-buah dan makanan oleh kedua istri Tuan Babak. Kedua perempuan tersebut menanyai macam-macam sampai-sampai aku merasa seperti sedang diinterogasi, tapi Shirin selalu mampu menjawab dengan tenang dan tepat.

Sorenya Tuan Babak tiba bersama Shahzad dan di depan kedua istrinya dia menjelaskan niatnya untuk mengasuh dan mengurus kami, mendidik kami berdua sebagaimana yang dia lakukan pada Shahzad dulu. Kuperhatikan baik-baik raut muka kedua perempuan yang umurnya pasti tak jauh beda dan kulihat garis-garis ketidaksetujuan pada mata dan dahi mereka.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

read more
Puisi

Kumpulan Puisi Ben Sadhana

dandelion-1557110_1920

TUA

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

 

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

 

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

 

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

 

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

Ben Sadhana

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

Ben Sadhana

 

 

 

Ben Sadhana, alias Benediktus Agung Widyatmoko dilahirkan di Yogyakarta pada 30 Maret 1972. Ia mengawali prestasi menulisnya ketika pada tahun 1989 karyanya berjudul Serba Ada Belum Tentu Sayang Anak berhasil memenangi lomba mengarang tingkat SMA se-Kalimantan Tengah dalam rangka peringatan hari anak nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Kalimantan Tengah. Menjadi kontributor dalam buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran yang diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tahun 2011.Tahun 2009, Karyanya berjudul Becik Ketithik Ala Ketara meraih juara ke-2 Lomba Nasional Blog bertema Aku Untuk Negeriku.Karya puisinya berjudul Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai masuk sebagai nomine pemenang dalam Krakatau Award 2017.

Bermukim di Surabaya, Penulis penyuka travelling yang tergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG) ini dapat dikenal lebih jauh melalui blog pribadinya https://bentoelisan.wordpress.com dan juga email-nya : benwidyatmoko_agung@outlook.co.id.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

read more
Cerpen

CERPEN: Pohon Uang

corrections-70322_960_720

Sejak keluar dari penjara, sulit bagiku untuk mencari pekerjaan. Aku berkeliling ke setiap bagian di kota kecil ini, tetapi tidak satu pun orang sudi mempekerjakanku. Aku hanya berakhir di depan televisi busukku, satu-satunya harta berharga yang tak disentuh oleh siapa pun selama aku di penjara (karena benda itu sudah tua dan tidak mungkin laku dijual), dan menonton acara-acara tidak bermutu, lalu tidur sambil menahan lapar dari waktu ke waktu.

Uang tabunganku selama bekerja menggotong tumpukan kertas atau membungkus produk-produk mebel di penjara, tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Pada akhirnya semua uangku akan habis, dan jika itu terjadi, bagaimana caraku melanjutkan hidup?

“Andai saja di dunia ini ada pohon uang, tentu tidak akan ada penjara. Orang-orang bisa menanam pohon uang mereka sendiri sehingga tidak perlu ada kekacauan di muka bumi,” pikirku.

Aku terus bertanya-tanya dan tidak ingin terjebak ke dunia kriminal. Aku putuskan tidak ada lagi kejahatan yang kulakukan demi uang. Tidak ada pohon uang di dunia ini, dan jika seseorang mengharapkan uang, maka dia harus bekerja. Tetapi, mencari kerjaan halal tidak mudah bagi orang sepertiku.

Pernikahanku yang gagal setelah aku masuk penjara, orangtua yang tidak pernah mengakui keberadaanku, teman-teman yang secara pelan dan pasti menjauhiku hingga hilang sama sekali; semua itu adalah bukti betapa tidak berartinya hidupku. Aku hanya bisa melamunkan itu tanpa mampu memperbaiki segalanya.

Karena televisi membosankan, kadang-kadang aku tidur, dan kurasa itu efektif untuk membuang pikiran-pikiran masa depan suram untuk sementara waktu, tetapi seluruh kesialan kembali menghadang setelah aku terbangun.

Aku bangun dan menyadari, betapa setiap hari aku butuh makan dan minum. Tentu saja aku akan tetap berjalan ke beberapa bagian kota yang mungkin tidak tahu bahwa aku pernah di penjara. Lalu, di tempat itu, seseorang sudi memberiku pekerjaan. Apakah ada suatu tempat yang menerimamu bekerja tanpa surat keterangan atau semacamnya?

Aku tidak terlalu yakin dengan usahaku. Di suatu titik aku mengira dompetku tidak berisi uang. Tabunganku sudah berkurang terlalu banyak sejak aku bebas dari kurungan. Di depan sebuah toko yang baru saja menolakku, aku duduk dan menyalakan sebatang rokok terakhir. Seorang pengemis melintasi jalanan sepi di depan toko, dan terjatuh, lalu bangkit untuk kembali berjalan. Pengemis itu pincang, berbadan penuh luka, dan satu kakinya seperti meleleh serupa karet terbakar, tetapi ia memaksa untuk terus berjalan.

“Sebaiknya Bapak berhenti dulu, kalau tidak mau mati,” kataku.

Pengemis itu berhenti dan menatapku. Lalu, ia menoleh ke depan, ke arah yang dia tuju, dan setelah menghela napas panjang, dia putuskan duduk di sampingku. Aku tidak mengajaknya berbicara apa-apa, tetapi pengemis itu mulai mengatakan soal mimpi lamanya.

“Bapak tahu,” katanya penuh antusias, “mimpi-mimpi saya itu sebentar lagi bakal terwujud! Dan, saya pikir, saya harus berterima kasih kepada Bapak.”

“Saya benar-benar tidak paham,” kataku.

Pengemis itu menjelaskan pertemuannya dengan seorang gadis yang dia curigai adalah malaikat. Gadis malaikat yang menyamar jadi manusia, begitulah yang ia katakan, sambil bersumpah bersedia kehilangan dua bola matanya kalau perasaan yang baru saja dia sampaikan ini dusta.

“Saya benar-benar merasakan itu. Saya merasa dia memang malaikat.”

“Apa yang terjadi?” tanyaku, mulai tertarik.

Pengemis itu menyebut-nyebut tentang pohon uang; sebuah gagasan yang tak pernah terwujud nyata di kehidupan fana, sebuah gagasan yang hanya ada di kepala manusia yang membutuhkan masa depan yang jelas. Tentu saja aku heran; bagaimana ia atau gadis yang dianggapnya malaikat tadi dapat memikirkan hal sama yang juga aku pikirkan belakangan ini? Tapi, aku tetap diam dan menyimak kesaksian si pengemis ini dengan lebih saksama.

Katanya, gadis itu tahu sebuah tempat rahasia di mana seseorang bisa meraih mimpi terbesarnya lewat pohon uang. Pengemis itu mendapat informasinya begitu saja sebab si gadis iba. Gadis itu mengatakan sebuah syarat, “Jika Bapak mau, boleh pergi dan ambil uang sebanyak mungkin dari pohon uang agar Bapak dapat melakukan operasi kaki Bapak, tetapi ajaklah satu orang agar Bapak tidak lupa diri.”

Pengemis itu mengaku, sebelum kuperingatkan agar berhenti, dia lupa tentang syarat terakhir itu. Dan karena itulah dia berterima kasih dan berharap diriku mau pergi bersamanya, menuju ke pohon uang.

“Saya benar-benar tidak mengerti,” kataku setelah terdiam beberapa lama, karena ini sungguh aneh. “Bapak main-main, ya? Saya tidak ingin kembali ke masa itu. Dan jika Bapak bermaksud begini, saya akan hajar Bapak sekarang juga!”

Aku berdiri dan melempar rokok terakhir yang masih tersisa setengah batang, dan akan pergi meninggalkan pengemis itu sebelum dia menarik-narik celanaku.

“Saya juga tidak percaya, Pak. Tidak ada pohon uang di dunia ini. Itu setahu saya, tetapi gadis itu lugu dan bermata jernih, dan saya tahu dia benar-benar memberi kita informasi ini. Bagaimana?”

“Kalau benar apa yang dia katakan, kenapa saya? Dan jika syarat itu berlaku untuk Bapak, apakah saya juga harus mengajak seseorang?”

“Itu terserah saja. Tetapi, yang jelas, syarat itu ditujukan untuk saya, karena gadis itu bilang, jika saya pergi ke sana seorang diri, saya bisa kehilangan akal, tidak ada yang  mengingatkan diri untuk merasa cukup!”

Entah apa yang ada di pikiranku. Segera saja acara-acara sampah dari layar kaca mengelebat di otakku, kata-kata menyakitkan dari mantan istriku, menyambangi pikiranku. Segala luka dan kepastian sialnya hidupku di hari tua, berdatangan dan menghantam pikiranku secara telak. Apakah ini cuma mimpi? Kupandangi kaki pengemis itu; benar-benar terlihat meleleh bagaikan karet. Dan baunya itu, sungguh memuakkan. Aku pikir ini bukan mimpi.

Kami pun pergi ke tempat yang dimaksud. Jaraknya dari tempat kami bertemu tidak terlalu jauh. Hanya dua kilometer saja berjalan kaki. Kami berjalan pelan dan pasti menuju arah itu, ke pinggir kota kecil ini, ke sebuah danau yang jarang didatangi orang karena konon kawasan itu ada yang memiliki. Properti pribadi yang dipagari khusus, yang mampu membuatmu terkena sengatan listrik jika berani main-main.

Dan entah bagaimana semua ini mulai terasa masuk akal. Apakah benar seluruh hal di pikiran manusia, yang aneh dan mustahil, tidak pernah benar-benar ada? Berbagai hal telah manusia temukan dan seluruh keanehan, seperti pesawat terbang, memang ada dan nyata pada masa kini. Mungkinkah pohon uang itu nyata?

Pagar berlistrik itu memperkuat dugaan kami. Aku dan si pengemis curiga bahwa sang gadis adalah malaikat yang menjelma manusia untuk memberi pelajaran si pemilik properti agar tidak kikir dan menjaga pohon uangnya sedemikian rupa. Tentu saja aku sedikit banyak tahu tentang pemilik properti ini, yakni orang yang menguasai nyaris segala aspek kehidupan di kota ini, sekaligus orang yang kebal hukum dan apa pun yang terkait masalah keuangan.

“Ya, siapa lagi kalau bukan walikota korup itu?” bisik si pengemis sinis ketika dia mencoba mencari cara menjebol salah satu bagian pagar yang tak berlapis di pinggir danau.

Usahanya berhasil. Kami masuk tanpa takut tersengat dan mati. Kami telusuri tepi danau berkabut itu sampai kira-kira dua jam, lalu kami beristirahat. Pukul 11 malam ini. Kami mencari lagi dan lagi, sampai kami menemukan pohon yang dimaksud.

Pohon itu terletak di sebuah goa kecil yang agak menjorok ke bagian hutan, di tepi danau yang menuju kaki bukit. Kami masuk ke goa itu sejauh lima belas meter sebelum menemukan pohon kuning yang menumbuhkan uang pecahan seratus ribu rupiah. Aku benar-benar tertawa dan takjub, memastikan bahwa uang itu memang terkait dengan bagian pohon selaiknya berhelai daun. Kami makin takjub ketika memeriksa keaslian uang tersebut: dilihat, diraba, diterawang. Sungguh, mereka benar-benar asli!

Aku dan si pengemis melepas baju masing-masing dan membentuk semacam karung dari itu, mengambil uang sebanyak yang kami sanggup. Pengemis itu berhenti saat hari mulai pagi dan nyaris telanjang bulat karena sarung yang harusnya dia kenakan, dilepas demi menampung lebih banyak uang. Aku, yang memang mengenakan jaket, jaket itu bisa membawa lebih banyak uang. Pengemis itu pergi lebih dulu, sementara aku masih sibuk, memutuskan akan keluar dari sana sore hari.

Tetapi aku merasakan tubuhku letih. Aku memutuskan untuk tidur. Bangun keesokan harinya, aku keluar dan bingung menemukan jalan pulang. Bagaimana mungkin aku tersesat padahal kota kecil ini kukenal seperti aku mengenal tubuhku sendiri? Aku malah tiba di satu tempat dengan gedung-gedung pencakar langit. Sebuah kota modern yang belum pernah kulihat.

Maka, kusembunyikan uangku sebaik mungkin, dan masuk ke satu toko kecil untuk bertanya. Aku berhenti melangkah ketika kulihat cermin diriku memantul dari pintu kaca toko. Aku tidak melihat diriku yang dua hari lalu keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Aku melihat seorang laki-laki tua berkeriput dan seluruh rambut di kepalaku putih.

-Gempol, 26 September 2017

 

Ken Hanggara menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017).

read more
Puisi

Mangumbai*

indonesia-2700382_1920

 

 

Pada tubuh biru itu,

yang kelak menerimaku dan nasib yang kian kerut ini.

Dan ikan-ikan disana

: Penunggu setia bagi doa dan seserahan

yang turut menemaniku menemui laut dan berkata

“Tersenyumlah bila bertemu laut, sebab ia bakal suamimu

bakal rumahmu.”

 

Akulah bunga bakal pengantin laut

yang kerap menangkup angin

meningkup matahari

menangkap doa-doa.

Dan warna pelangi meranggas

: Tumpang tindih bersama warna lain di kapal kencana

menggambarkan keyakinan serupa bulir cahaya lampu jalan

atau denting ranum hujan.

 

Maka padamu, lautku

jemputlah tubuh dalam kapal ini

bersama rona pelangi dan doa yang kusimpan dalam pundi

: Kepala Kerbau teman sepenantianku ini.

 

Lalu, mereka berdoa dan bersorai

begitu kau datang menarikku

ke dalam gelombang

dalam arus

dalam buih

dalam kau

dalam aku

: Ke kedalaman sunyi lagi asing

Maka dari laut, tuhanku

kuhantar seribu cita, seribu doa menjadi pundi

dalam kerbau yang tenggelam ke rumahmu di langit.

Keringat mereka yang bersorai sekilau kunang-kunang

kerap melukiskan harap, asa, luka atau kejatuhan

namun juga menggambar tawa, cita dan bahagia tersebab percaya

tuhan selalu berkunjung dan tinggal dimana saja.

 

Akulah bunga yang diperistri laut

sekarang tenggelam di tubuh suamiku.

Hanya ada biru, selain dari bau arus

Bau air

Bau pesisir

Bau gelombang

Bau kau

Bau kami

 

 

Lalu, doa dalam kerbau menjalar

lahir serupa ikan dan berenang ke langit.

Ikan-ikan doa bertemu tuhan

membawa asa

membawa asma yang berdenting serupa kata baru dieja

dari ranumku

: Dari kelopak yang tak lagi kerut baik disapu waktu atau keheningan.

 

Eko Ragil Ar-Rahman 
Riau 2017

 

*Terinspirasi dari tradisi Ngumbai Lawok, tradisi rakyat pesisir Lampung dalam mengucapkan syukur dengan melepas kepala kerbau yang disembelih ke tengah laut

read more
Cerpen

CERPEN: CIUMAN DARI SAMARKAND

mountains-2320358_1920

Musim salju di Asia Tengah amat dingin menusuk dan suram. Sementara, musim panas yang terik membakar membawa serta kolera, disentri, dan nyamuk. Namun, pada bulan April, udara membelai lembut seperti sentuhan kulit paha dalam yang halus mulus dan aroma segar segenap pepohonan yang sedang berbunga memenuhi seluruh penjuru kota.

Teks Angela Carter*
Penerjemah Anton Kurnia**

Setiap kota punya logika tersendiri. Bayangkanlah sebuah kota yang digambar dengan bentuk-bentuk geometris dalam garis-garis lebar dengan krayon dari kotak pewarna seorang bocah, berwarna nila, putih, dan cokelat muda. Serambi-serambi rumah yang rendah dan pucat tampak mencuat dari bumi. Putih semu merah jambu. Seakan-akan terlahir dari bumi, bukan dibangun di atasnya. Ada selaput samar debu di atas segala benda, seperti lapisan debu yang ditinggalkan krayon-krayon itu di jemarimu.

Di hadapan serambi-serambi pucat ini, petak-petak lantai keramik yang menutupi mausoleum-mausoleum kuno menggoda mata. Nuansa warna Islam yang biru mengubah diri menjadi hijau ketika kau memandangnya. Di bawah sebuah kubah yang berwarna antara lazuardi dan nila, tulang belulang Timurleng—sang momok Asia—terbaring di dalam sebuah makam sewarna zamrud. Kita sedang mengunjungi sebuah kota luar biasa yang tiada duanya. Kita tengah berada di Samarkand.

Revolusi menjanjikan para perempuan petani Uzbekistan baju-baju sutra yang indah. Kebanyakan dari mereka mengenakan gaun-gaun tunik dari bahan satin lembut, berwarna merah jambu dan kuning, merah dan putih, hitam dan putih, merah, hijau dan putih, dengan garis-garis berwarna terang yang menyilaukan seperti ilusi optik. Dan mereka menghias diri dengan amat banyak perhiasan terbuat dari kristal kaca.

Mereka selalu tampak seperti sedang cemberut karena mereka menggambar garis hitam tebal tepat pada dahi mereka, menyatukan alis mereka dari satu sisi ke sisi lain. Mereka menghiasi pinggiran mata mereka dengan kohl, mereka tampak menggemaskan. Rambut panjang mereka dikepang menjadi dua atau tiga jalinan kecil-kecil. Gadis-gadis belia memakai topi beludru mungil bersulam benang emas dan manik-manik. Para wanita yang lebih tua menutupi kepala mereka dengan dua helai kerudung dari bahan wol bersulam motif bunga. Yang satu diikat ketat ke dahi, yang lainnya disampirkan longgar ke bahu. Namun, tak seorang pun memakai cadar selama enam puluh tahun.

Mereka berjalan begitu pasti, seakan-akan mereka tidak hidup di sebuah kota khayali. Mereka tak tahu bahwa mereka beserta turban, mantel kulit domba, dan sepatu but lelaki mereka adalah makhluk-makhluk istimewa bagi orang asing. Sama ajaibnya dengan kuda bertanduk.

Mereka ada dalam segenap eksotisme mereka yang kemilau dan lugu, dalam pertentangan langsung dengan sejarah. Mereka tak tahu apa yang kutahu tentang mereka. Mereka tak tahu bahwa kota ini bukanlah seluruh isi dunia. Yang mereka tahu tentang dunia hanyalah kota ini. Indah seperti ilusi. Tempat bunga-bunga bakung tumbuh subur di selokan. Sementara itu, di sebuah kedai teh seekor burung nuri hijau mematuk-matuk jeruji kurungannya.

Pasar berbau tajam dan hijau. Seorang gadis beralis alami legam menuangkan air segar dari gelas ke jejeran lobak. Pada awal tahun ini, kau hanya bisa membeli buah-buahan kering sisa musim panas lalu—aprikot, prem, kismis—kecuali beberapa butir delima keriput yang diperam di antara serbuk gergaji sepanjang musim dingin dan kini dibelah rekah di sebuah kios, menunjukkan betapa tetap basah butir-butir kemilau yang bersarang di dalamnya. Penganan khas Samarkand adalah asinan biji aprikot yang rasanya bahkan lebih sedap dan gurih daripada kacang pistachio.

Seorang wanita tua menjual bunga bakung gunung. Pagi ini dia datang dari gunung tempat tulip-tulip liar berbunga seperti gelembung darah yang ditiup dan burung-burung merpati liar bersarang di sela batu cadas. Wanita tua ini mencelupkan roti ke dalam secangkir susu kental untuk makan siangnya dan makan pelan-pelan. Ketika dagangannya telah habis, dia akan pulang ke kampung asalnya.

Dia nyaris tampak berada di luar putaran waktu. Seakan-akan dia sedang menunggu Syahrazad menghadapi fajar terakhir tiba, sedangkan kisah terakhir yang harus diceritakannya kelu dalam lidahnya. Maka, si penjual bakung itu barangkali akan mati.

Seekor kambing menggigit-gigit melati liar di antara reruntuhan sebuah masjid kuno yang dibangun oleh istri Timurleng.

Istri Timurleng mulai membangun masjid ini untuk suaminya sebagai hadiah kejutan ketika dia pergi berperang. Namun, ketika sang istri diberi tahu tentang saat kepulangan suaminya yang sudah dekat, satu kubah masih belum selesai dikerjakan. Perempuan cantik yang mencintai suaminya itu bergegas pergi menemui si arsitek dan memohon kepadanya agar segera menyelesaikan pembuatan kubah terakhir sebelum suaminya pulang. Namun, si arsitek yang jatuh cinta kepada istri sang penguasa itu malah berkata bahwa dia hanya akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu apabila sang wanita jelita bersedia mencium bibirnya. Satu ciuman saja. Hanya sebuah kecupan.

Istri Timurleng tidak hanya sangat ayu dan berbudi luhur, tapi juga amat pintar. Dia pergi ke pasar, membeli sekeranjang telur, merebus telur-telur itu hingga matang, dan mewarnai kulit mereka dengan selusin warna yang berlainan. Dia lalu memanggil si arsitek ke istana, menunjukkan kepadanya keranjang berisi telur berwarna-warni, lalu memintanya memilih telur yang paling disukainya dan memakannya. Lelaki itu mengambil telur berwarna merah.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur.”

“Makanlah telur yang lain.”

Ia pun mengambil telur berwarna hijau.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur yang merah.”

“Coba lagi.”

Lelaki itu memakan telur berwarna ungu.

“Semua telur sama saja rasanya jika masih segar,” ujar si arsitek.

“Nah!” tukas istri Timurleng. “Setiap telur tampak berbeda dari yang lainnya, tapi pada akhirnya rasanya sama. Maka, kau boleh mencium siapa pun di antara dayang-dayangku yang paling kausukai. Namun, janganlah kau menggodaku.”

“Baiklah,” sahut si arsitek dan bergegas pergi. Namun, tak lama kemudian dia kembali. Kali ini dia membawa sebuah nampan berisi tiga mangkuk penuh air.

“Minumlah dari setiap mangkuk ini,” katanya.

Istri Timurleng minum dari mangkuk pertama lalu dari mangkuk kedua. Namun, dia tersedak dan memuntahkan air yang sempat direguknya ketika dia minum dari mangkuk ketiga. Isi mangkuk yang itu memang bukan air, melainkan vodka.

“Vodka ini dan air itu tampak sama, tapi masing-masing berbeda rasanya,” ujar si arsitek. “Dan itu sama dengan cinta.”

Kemudian, istri Timurleng mencium bibir sang arsitek. Setelahnya, lelaki itu kembali ke masjid yang sedang dibangunnya dan menyelesaikan pembuatan kubah terakhir tepat pada hari yang sama ketika Timurleng yang jaya berkuda pulang ke Samarkand bersama bala tentaranya diiringi panji-panji kebesaran dan kurungan berisi raja-raja musuh yang ditaklukkan.

Namun, ketika Timurleng menemui istrinya, wanita molek itu menolaknya karena tak satu perempuan pun akan mau kembali ke harem setelah tahu nikmatnya vodka. Timurleng yang murka menderanya dengan cambuk kuda hingga akhirnya wanita malang itu mengatakan kepada suaminya bahwa dia telah mencium si arsitek yang telah membangun masjid untuknya.

Dalam gejolak amarah, Timurleng segera mengirim algojo-algojonya menuju masjid itu. Para algojo melihat sang arsitek sedang berdiri di atas kubah dan segera berlarian menaiki tangga masjid dengan belati terhunus. Namun, ketika lelaki itu mendengar mereka datang, tumbuhlah sayap di kedua lengannya. Dan dia pun terbang melarikan diri ke Persia.

Sebuah kisah dalam bentuk-bentuk geometris sederhana dan warna-warna cerah krayon seorang bocah …

Istri Timurleng dalam kisah ini akan mengecat garis hitam di atas dahinya dan mengepang rambutnya menjadi selusin jalinan kecil-kecil seperti para wanita Uzbek lainnya. Dia akan membeli lobak merah dan putih di pasar untuk makan malam suaminya. Setelah dia lari dari suaminya yang kejam, mungkin dia akan mencari nafkah di pasar. Barangkali di sana dia akan berjualan bunga bakung.

*

 

*Angela Carter (19401992) adalah pengarang Inggris terkemuka yang juga seorang penerjemah dan editor. Dia dikenal dengan karya-karyanya yang kental dengan nuansa feminisme dan bergaya realisme magis. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari judul semula “The Kiss” dalam antologi The Oxford Book of English Short Stories, Oxford University Press, Oxford, 1998, susunan Antonia S. Byatt.

*Anton Kurnia, pembaca dan penulis, hobi menerjemahkan karya sastra. Penggemar setia Persib dan Real Madrid.

read more
Puisi

Sajak-Sajak Sengat Ibrahim

solo-2051508_1920

Dramatik Kasih

—Radhika Rao & Vinay Sapru

 

saraswati

rinduku padamu

bangkit di musim gugur

mendarah-daging di tubuhku

bersama botol-botol anggur.

 

di akhir cerita

kita tak memilih apa-apa

selain budak bagi perasaan

yang di mata orang lain sebagai penyiiksa

sedang di dada kita penyempurna.

 

“cinta membawa pada kemenangan

dan kekalahan dalam satu keadaan”    

 

dunia seolah dibentangkan

bukan di bawah kibaran bendera

di taman anak-anak riang menghirup udara.

 

ruang-ruang berjalan tanpa diatur waktu

sepi adalah ibu bagi mereka yang riang merindu

bangkai-bangkai kenangan tumbuh menjadi mawar.

 

di luar kamar orang-orang tertawa

fikirannya ditumbuhi perasaan curiga

menyulap benda mati menjelma srigala

kemudian mencari mangsa dengan tergesa.

 

 

Cabean, Yogyakarta 2017

 

 

Dramatik Hidup

 

Michael Damian

 

aku ingin mencari permainan

yang bisa menghindar dari keseriusan hidup

seperti memainkan lagu dengan biola di sebuah pagi

 

di sepanjang lorong kota atau di kedalaman sebuah desa

di mana kau dan aku pernah berjalan tanpa sedikitpun tergesa.

 

aku ingin selamanya memainkan biola

membuatmu faham kenapa orang sepertiku

harus tidak berhenti melagukan bahasa cinta

 

sambil asyik mebangun kastil dalam ruang-ruang imaji

di mana segala hal yang katamu mustahil dapat kunikmati.

 

aku hanya ingin bermain sekali lagi

tanpa merencanakan yang  bakal datang

atau menyesalkan sesuatu yang telah pergi.

 

Cabean, Yogyakarta 2017

 

 

Dramatik Bigulian

 

ia kenakan segenap luka

dari ujung rambut sampai kaki

ia ingin punya wajah mengembara

yang dilahirkan masa lalu dan masa kini.

 

suara-suara berbusa dimulutnya

mengemban derita yang ditanggung puisi

serupa al-kitab yang ditulis dengan bahasa purba

sedang pembaca mendapat kebenaran melalui ilusi.

 

ia mencoba mempertetemukan siang dan malam

tanpa sedikitpun memahami sebuah kegagalan

ia melihat dunia memang luas sekaligus datar

yang akan terus berada dalam satu ruang.

 

suluruh bahasa ia buru, seluruh cerita ia tiru

ia ingin membangun rumah tanpa  berpintu

memanjakan setiap tamunya penuh lagu

sedang ia belum mengerti hakikat rindu.

 

Cabean, Yogyakarta 2017

 

 

 

 

 

 

 

Dramatik Bacaan

 

Brian Klugman & Lee Stemthal

 

 

barangkali benar aku sebatas bahasa

dari padakulah segalanya akan bermola.

 

barangkali benar aku sebatas abjad

dari padakulah segalanya terikat.

 

barangkali benar aku sebatas khuruf

dari padakulah segalanya hidup.

 

bagaimana mungkin kau menghindar

sedang Sang Pencipta saja memakai.

 

Cabean, Yogyakarta 2017

 

 

 

Dramatik Kenangan

 

—John Carney

 

 

seterusnya,

aku

adalah

pecundang

yang

mengatakan

sayang

kepada

kuburan.

 

 

Cabean, Yogyakarta 2017

 

Sengat Ibrahim, Penulis muda kelahiran Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Sekarang tinggal di Yogyakarta. Karya-karyanya pernah dimuat di koran; Medeia Indonesia, Republika, Suara Merdeka, Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Merapi, Radar Surabaya, Banjarmasin Post, Harian Rakyat Sultra dan LiniFiksi.Com

 

 

 

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (7-tamat)

book-1291164_1920

Di sana, di rak paling atas, berjajar buku-buku Rosi yang telah diterbitkan. Aku mengusapnya satu persatu, seperti mengusap tuts-tuts piano yang berjajar dan hanya menggaungkan nada-nada yang sunyi. Aku kembali mendengar isakku sendiri. Isakan yang kelewat lirih, bahkan pada malam sehening ini. Mengapa aku cengeng sekali? Si tua yang cengeng.

Aku terduduk di depan mesin ketik tua Rosi dan membuka-buka naskah novel terbaru Rosi yang berhenti di halaman 50. Aku sudah membaca semua novel yang ditulis Rosi. Hampir semua berisi tentang episode-episode kecil kehidupan kami yang romantis dengan bumbu-bumbu isu sosial dan politik sesekali. Soal mengarang, Rosi memang ahlinya. Terkadang, diam-diam aku salut padanya. Aku tak pernah paham bagaimana cara Rosi merangkai kata demi kata dan menyusunnya menjadi kalimat hingga beratus-ratus halaman.

Menilik karya-karya Rosi, rasanya aku tak bisa percaya bahwa detik ini ia tak bisa mengingat apapun. Kadang-kadang aku berpikir bahwa semua isi kepala Rosi telah berpindah ke dalam novel-novel yang ia tulis, dan ia lupa menyisakan sedikit ingatan untuk kami kunyah di hari tua kami ini. Novel-novel karya Rosi, semuanya kubaca setelah Rosi menyelesaikannya. Tuntas. Rosi tak pernah mengizinkan aku membaca novel-novelnya yang belum jadi. Kata Rosi, itu seperti melihatnya selesai mandi tapi belum berpakaian. Aku tak paham apa maksud Rosi, tapi aku menurutinya. Aku tak pernah membaca tulisan-tulisannya sebelum selesai dan ia sendiri mempersilahkanku untuk membacanya.

Dan naskah novel terbaru Rosi, yang baru 50 halaman ini, tiba-tiba aku ingin membacanya. Melihat keadaan Rosi sekarang, rasanya mustahil naskah ini akan selesai. Dan itu berarti, kalau aku tak berinisiatif mencuri-curi baca sendiri, aku tak akan pernah membacanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu apa yang dipikirkan Rosi sebelum semua ingatannya mengabur dan tak bersisa sedikit pun. Mungkin, naskah novel barunya ini bisa sedikit mengobati kesedihan mahaluas yang telah mendarah daging dalam kepala tuaku.

Lembar naskah yang mulai kusam itu kini sudah ada di tanganku. Tampak sebuah judul di halaman paling depan. Ditulis dengan huruf kapital: MAWAR INGATAN. Novel terbaru Rosi ini berjudul ‘Mawar Ingatan’. Saat itu juga aku mulai membacanya. Tiba-tiba dadaku menggempa. Seakan aku hendak berhadapan dengan Rosi langsung dan berbincang-bincang dengannya. Dan Rosi memulai kalimat paragraf pertama dari novel barunya dengan dua buah pertanyaan.

Kapan pertama kali seseorang mengingat?

Kapan terakhir kali seseorang mengingat?

Kalimat-kalimat berikutnya begitu mengalir begitu lancar dan penuh metafora. Itulah gaya khas Rosi. Aku pun mulai larut dalam pembacaanku. Hinggga sampai pada paragraf terakhir. Tepat di halaman 50.

Aku sudah menduga, suatu ketika kepalaku hanya akan berisi kabut tebal. Aku tak dapat melihat apa pun. Aku hanya tertatih-tatih meraba-raba arah. Dan udara begitu dingin. Sewaktu bayi, hal pertama yang kuingat adalah aroma keringat ibuku. Dan detik ini, ketika usia melangkahi segalanya. Satu hal yang kuingat hanyalah aroma mawar. Aroma suamiku. Aroma mawar dan aroma suamiku adalah satu. Desah napas suamiku adalah aroma mawar itu. Bau tubuhnya adalah aroma mawar itu. Lekuk suara seraknya adalah aroma mawar itu.

Ke mana angin membawa aroma itu?

Dalam kabut pekat itu aku terus berjalan. Mengendus aroma-aroma yang mungkin masih tersisa dalam kepalaku. Namun semuanya sia-sia. Segala bentuk dan rupa yang kasat mata telah menjelma kabut. Aku tak mendapti apapun dalam lautan kabut. Namun aku terus berjalan, mencari arah. Hingga tiba-tiba, semak-semak mawar menghentikan langkahku. Ada duri yang menusuk di sana. Tapi aroma itu membuatku lega. Rasanya aku ingin tertidur pulas di antara semak-semak mawar yang wangi itu. Tidur yang tak perlu bangun lagi.

 

Sampai pada kata terakhir itu, aku tak bisa menghentikan tangisku. Cerita dalam naskah novel terbaru Rosi ini nyaris seperti nyata. Seperti apa yang terjadi pada detik ini. Antara aku dan Rosi. Novel itu mengisahkan tentang sepasang suami istri yang kehilangan ingatannya karena lanjut usia. Bedanya dengan kondisi kami sekarang adalah, kalau dalam novel itu, sang suami juga hilang ingatan, dan keduanya tak saling mengenal. Sedangkan dalam dunia nyata ini, ingatan si suami, tepatnya ingatanku, masih utuh. Masih cukup bagus, bahkan untuk menyimpan rasa sakit yang bertumpuk menjadi gunung kesedihan.

Dalam naskah itu, sepasang suami istri yang hilang ingatan itu tinggal di sebuah panti sosial karena mereka tak mempunyai anak. Di tempat itu, mereka telah menjadi orang asing satu sama lain. Tak saling mengenal. Aku benar-benar penasaran dengan ending cerita itu. Tapi sayang, novel itu tak akan menemukan ending. Seperti juga aku dan Rosi yang tak pernah tahu seperti apa ending dari kisah kami.

“Tidurlah, sudah malam,” suara itu membuatku terhenyak, nyaris seperti tersengat.

Aku menoleh, Rosi berdiri gontai di ambang pintu dengan gaun pengantinnya yang merumbai. Jam dinding dalam ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih beberapa menit. Aku tak sadar kalau sudah melamun cukup lama. Dan aku lebih tak sadar lagi ketika melihat Rosi berdiri di sana dan tersenyum padaku. Aku bergegas menghampirinya dan kembali membawanya ke ranjang. Aku tak tahu kalau dada tuaku masih bisa bekerja dengan normal: berdetak begitu kencang karena senang.

“Rosi,” aku menatapnya tak percaya.

Rosi tersenyum padaku. Mata itu tak lagi kosong. Hanya saja tubuh Rosi tampak begitu lemas. Mendadak aku ingat, malam ini Rosi hanya menyantap beberapa suap kue. Lambungnya pasti perih. Aku juga ingat, di rumah ini tak ada makanan apapun kecuali seonggok kue yang hancur dan beberapa helai roti tawar yang belum dipanggang.

“Kau harus makan Rosi, tunggu sebentar, biar kusiapkan,” ucapku. Ketika aku hendak beranjak, tapi Rosi menarik tanganku.

“Aku tak ingin makan,” lirihnya, “aku hanya ingin berbaring di sini bersamamu.”

Malam itu kami berpelukan dalam tidur yang terasa sangat panjang. Dengus napas Rosi menyaput wajah tuaku. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum lunas. Kami berduapun melayang ke alam tidur yang indah. Hingga ketika pagi tiba, dengan semangat meluap-luap, aku bergegas menyiapkan sarapan di dapur. Aku memanggang roti tawar dan menyeduh teh hijau dalam cangkir besar.

Sebentar aku menengok Rosi, tampaknya ia masih tertidur pulas. Aku meneruskan membersihkan rumah dan menyiram semak-semak mawar di halaman depan. Aku kembali menengok Rosi di kamar, ia masih meringkuk dengan bibir menyunggingkan senyum. Roti panggang sudah hampir layu dan teh hijau dalam cangkir besar sudah dingin. Aku ingin membangunkan Rosi tapi tak sampai hati. Kurasa aku bisa menahan lapar sampai Rosi terbangun nanti. Sekitar pukul sepuluh.

Bel berbunyi. Aku yakin, itu pasti paket hadiah dari Fredie yang datang terlambat. Aku bergegas membuka pintu depan. Dan aku kembali dihadapkan dengan sebuah kejutan: Fredie dan keluarganya tersenyum di ambang pintu. Mereka diapit beberapa koper besar.

Dua kakiku terasa goyah. Fredie menghambur ke arahku, memelukku kelewat erat. Aku mencium kening Fredie dan istrinya. Aku mencium pipi bocah-bocah mungil di hadapanku. Aku masih tak percaya kalau mereka adalah cucu-cucuku. Sangking girangnya, aku berteriak-teriak, memanggil-manggil Rosi. Rasa laparku hilang. Aku berlari ke kamar. Tiba-tiba aku merasa usiaku kembali muda. Sendi-sendiku terasa begitu kuat. Fredie dan keluarganya menyusulku ke kamar.

“Rosi, ada kejutan untukmu, Rosi. Bangunlah, Sayang! Lihatlah siapa yang datang!”

Tapi Rosi masih saja tertidur lelap dengan posisi tak berubah sedikitpun semenjak tadi pagi.

“Rosi!” aku menggenggam tangan Rosi yang telah begitu kaku dan dingin. Lantai dan langit-langit seperti berputar kencang sekali.

“Rosi,” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.

Aku terpaku menjadi arca ketika menyadari bahwa tubuh Rosi terlalu kaku dan dingin untuk seseorang yang masih bernapas. Aku mendekap tubuh kaku itu. Menciumnya. Tak ada napas hangat mengusap wajahku. Dan tak ada lagi sesuatu yang berdetak di dada Rosi. Setelah lantai dan langit-langit terasa berputar kencang sekali. Tiba-tiba semuanya terasa melambat. Semakin lambat. Hingga akhirnya berhenti. Waktu berhenti.

Diam. Hening.***

 

Mashdar Zainal

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (6)

cake-2459944_1920

Semuanya terdiam, tampak turut prihatin. “Sebentar, akan kujemput bidadariku yang pemalu itu,” lanjutku dengan senyum mengembang. Para undangan yang segelintir itu tertawa sekilas dan kembali terdiam. Aku beranjak ke kamar menjemput Rosi.

Aku menuntun Rosi ke ruang tengah. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Senyum yang teramat datar. Dan sepasang matanya tetaplah sepasang mata yang kosong. Aku mendudukannya di kursi. Di tengah-tengah para tamu yang menatapnya iba.

“Ini dia, Rosiku, bidadariku,” aku menggenggam tangan Rosi erat-erat dan diam-diam melayangkan ribuan permohonan kepada Tuhan.

Satu persatu tamu kami menyalami Rosi. Aku membantu menggerakkan tangan Rosi untuk menyambut jabatan tangan mereka.

“Ini para tetangga kita, Rosi,” aku menatap istriku dan terus menggenggam tangannya, “Ini Rudi dan Amelia, mereka baru menikah.”

Rudi dan Amelia tersenyum. Tapi jelas, Rosi hanya bengong.

“Dan ini Jeri,” aku menegenalkan Jeri. Kepala Rosi menoleh sekilas dan kembali ke posisi semula.

Aku mulai menyodorkan kue mungil itu ke hadapan Rosi. “Selamat ulang tahun pernikahan, Rosi. Aku mencintaimu,” bisikku. Mata Amelia tampak berkaca-kaca. Sementara dua lelaki yang lain hanya tersenyum.

Dan Rosi tetaplah Rosi yang lebih banyak diam. Para tamu menatap kami, seolah begitu pensaran dengan apa yang akan terjadi.

“Sekarang kau sudah boleh memotong kuenya,” kataku sambil menyerahkan pisau plastik pemotong kue.

Di luar dugaanku, mendadak Rosi mendorong kue kecil itu hingga terlempar ke lantai. Aku menghela napas, tak marah. Aku berjongkok memungut kue tak berupa bentuk itu dibantu Rudi, dan menyisihkan kue itu ke meja lain. Di tengah-tengah kami kini tinggal satu kue ukuran besar, aku berdoa supaya Rosi tidak melempar kue itu juga.

Aku menghela napas sekali lagi, dan menatap para tamuku, “Ini yang kumaksud dengan ‘mohon dimaklumi’. Beginilah manusia, kalau mereka sudah tua, beberapa dari mereka terkadang kembali menjadi bayi.”

Semuanya mengangguk paham.

“Amelia, bisakah aku minta tolong,” aku menyodorkan pisau pemotong kue pada Amelia, “tinggal ini kue yang kita punya.”.

“Tentu saja,” Amelia mulai memotong kue itu menjadi beberapa bagian. Ia menyerahkan potongan pertama padaku.

“Selamat ulang tahun pernikahan, kami semua berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan kalian, senantiasa,” Amelia melirik Rosi dan kemudian suaminya.

“Terima kasih,” balasku penuh haru.

Setelah berdoa sebentar, kami pun mulai menyantap kue itu. Mendadak aku ingat bahwa aku belum menyiapkan minuman sama sekali.

“Ya Tuhan, minumannya,” aku menepuk jidat, “aku benar-benar minta maaf. Sebelum kalian tersedak, aku akan ke dapur sebentar untuk membuat sirup, aku titip Rosi dulu.”

“Biar kubantu,” Amelia membuntutiku ke dapur.

“Mengapa Anda tidak mencari pembantu saja?” tanya Amelia sambil menuangkan sirup dan mengaduknya.

“Aku sempat memikirkanya, tapi akhirnya kuputuskan untuk tidak mencari pembantu,” aku mengeluarkan lima gelas bertangkai dari laci kaca, “aku rasa aku masih cukup mampu mengurus Rosi dan rumah ini.”

“Oh,” Amelia meraih gelas-gelas bertangkai yang kukeluarkan dari laci dan mengelapnya.

“Dulu kami pernah punya seorang pembantu. Ia bekerja tak sampai satu tahun.”

“Tak betah?”

Aku menggeleng, “Ia kabur membawa beberapa perhiasan Rosi.”

“Lalu?”

“Ya, kami membiarkannya. Aku bermaksud menelpon polisi, tapi Rosi melarangku. Katanya, barangkali pembantu kami itu sedang kesulitan finansial. Mungkin anaknya sedang butuh susu, atau mungkin keluarganya ada yang sakit.”

“Rosimu memang malaikat.”

“Aku juga menganggapnya begitu.”

“Memang susah cari orang yang bisa dipercaya.”

Dan satu teko sirup sudah siap. Juga satu teko air putih.

“Oke, siap? Kau bawa gelasnya, dan aku bawa sirup dan air putihnya.”

“Oke,” Amelia mengelap tangannya sebentar dan membawa gelas-gelas itu hati-hati.

Ketika kami hendak beranjak ke depan, Jeri sudah menyusul kami ke dapur, “Nyonya Rosi, berontak, sepertinya hendak menuju pintu depan. Sekarang Mas Rudi sedang menahannya, takut kalau Nyonya Rosi menghilang lagi.”

Jeri meraih teko dari tanganku, aku bergegas ke depan dan meraih Rosi lalu kembali mendudukannya di kursi.

“Aku benar-benar minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Tak masalah.”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan kuenya.”

Kami pun kembali duduk mengitari meja. Aku menyuapi Rosi beberapa suapan. Krim gula belepotan di bibirnya. Persis anak kecil. Aku mengelapnya dengan tisu.

“Kalian romantis sekali,” sindir Amelia, lantas menoleh ke suaminya, “Kalau sudah tua nanti, aku berharap bisa seperti kalian.”

Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Setelah mengobrolkan beberapa hal yang tak terlalu penting, mereka pun berpamitan. Aku menyuruh mereka membawa pulang sisa potongan kue yang masih lumayan banyak.

“Di sini tak ada yang makan,” kataku, “dan sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Jangan sungkan-sungkan,” kata Rudi, “kalau butuh sesuatu, ketuk saja pintu rumah kami.”

Amelia dan Jeri mengangguk. Sepakat. Aku mengantar mereka sampai pintu depan. Mereka melambaikan tangan dan melangkah menjauh. Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, aku mendekap tubuh Rosi dan kembali menuntunnya ke meja.

“Aku ada sesuatu untukmu, Rosi. Tunggu sebentar, jangan beranjak.”

Aku berjalan menuju kamar dan kembali dengan seikat mawar dengan hiasan pita merah yang berkilap-kilap. Aroma mawar segera meliputi kami.

“Ini untukmu,” aku menyerahkan seikat mawar itu padanya dan mengecup keningnya yang telah dipenuhi kerutan.

Rosi menerima seikat mawar itu dengan kaku dan tanpa sepatah kata pun. Namun ia membawa rangkaian bunga itu ke dadanya, memeluknya, hingga beberapa kelopaknya terlepas. Beberapa jenak kemudian, diciumnya bunga-bunga itu penuh hasrat, sebelum dipandanginya berlama-lama.

“Kau ingat, Rosi, bunga-bunga ini dulu yang mempertemukan kita.”

Rosi masih memandangi bunga-bunga itu.

“Aku selalu berharap, mawar-mawar ini bisa mengembalikan ingatanmu. Kedengarannya seperti mustahil, bukan?”

Aku bicara sendiri, diselingi tawa kecil yang getir. Sementara Rosi masih seperti orang yang melamun. Sepasang matanya masih terpaku pada rangkaian mawar di tangannya.

“Waktu kita sudah sangat dekat, Rosi. Barangkali, tak lama lagi, mawar-mawar ini yang akan tertanam di atas pusara kita.”

Aku menatap Rosi lekat-lekat. Tiba-tiba dari sudut mata tuanya yang bergaris-garis itu, meleleh cairan bening yang tampaknya mengalir begitu saja, tak bisa ia tahan. Rosi terisak, lantas kembali memeluk seikat mawar itu. Ia menatapku sekilas, tersenyum, tapi air matanya terus meleleh. Beberapa membasahi kelopak mawar di dadanya. Hingga bunga-bunga itu tampak berembun.

Aku terus membiarkan Rosi menangis. Aku tak menghapus air matanya. Aku hanya memeluknya. Setelah tangisnya berhenti, tubuh Rosi tampak lemas, hingga aku harus membawanya ke tempat tidur. Di sana Rosi berbaring miring masih dengan gaun pengantinnya. Masih dengan seikat mawar yang ia dekap di dadanya. Aku mengusap rambutnya yang telah memutih, seperti juga rambutku. Aku menatapnya, seperti menatap bocah kecil yang begitu polos. Rosi memejamkan matanya. Malam menjadi begitu hening.

Aku meninggalkan Rosi yang tampak tenang di ranjangnya. Aku berjalan seorang diri menyusuri ruang demi ruang. Rumah ini adalah saksi bahwa aku dan Rosi tak pernah bisa dipisahkan. Waktu rasanya berjalan cepat sekali. Setelah tahun-tahun yang kami lalui, tiba-tiba rasanya kami menjadi tua begitu saja.

Aku berjalan ke ruang depan, membuka korden, dan menengok keluar jendela. Kesunyian ini terasa ganjil. Di halaman, semak-semak mawar tampak bergoyang dihalau angin.

Entah siapa yang menuntunku, tiba-tiba aku berjalan ke tempat favorit Rosi. Sebuah ruangan penuh buku.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan Edisi Terakhir-nya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
Cerpen

Cerpen: OLIVIA*

woman-58558_1280

Sayangku Olivia,

Kematianmu mengheningkanku. Ketiadaanmu di sisiku menciptakan rasa lengang yang aneh. Sembilan tahun delapan bulan dua belas hari waktu kita bersama, seperti kemarin saja.

Usiaku empat belas ketika aku mulai bekerja di British East India Company, tahun 1795. Bertahun-tahun aku menghayati pekerjaanku sebagai klerk. Sampai pada satu musim gugur aku melihat wajahmu di antara dokumen yang mengatakan kau janda Jacob Cassivelaun Fancourt, seorang asisten bedah yang wafat dalam perang Anglo-Mysore di Madras, tahun 1800. Kau sedang di London waktu itu, hanya meratapi kematiannya dalam sunyi, sendiri.

Kau sepuluh tahun lahir lebih dulu dariku. Tetapi pesonamu melampaui kekuatanku. Kau adalah sebuah buku terbuka yang mudah dibaca. Ayahmu George Devenish dari Casheltauna Four Mile House. Ibumu seorang Sirkasia India.

Masa remajamu tertinggal di Irlandia. Usiamu enam belas tatkala berlayar ke India untuk mendekatkan diri dengan kerabat ibumu. Tanpa penyesalan kau mengisahkan, bahwa di satu kabin kapal Rose, di atas Samudera Hindia yang hitam dan dalam, hasrat mudamu takluk pada daya pukau sang kapten. Cinta sesaat yang membuahkan bayi perempuan, yang kau titip kepadanya, karena kau terlalu muda menjadi ibu.

Gayamu mewarnai kebosanan keseharianku. Dan hatiku jatuh di pintumu. Pada 14 Maret 1805, gereja St George Bloomsbury menjadi saksi bisu pernikahan kita.

Aku mencinta dirimu. Dan aku bersedia menyelesaikan remeh-temeh kekacauan di sekitar hidupmu, meski itu menyedot banyak energiku. Kau telah memberiku kebahagiaan. Matamu hitam. Gerakmu lincah. Kecerdasanmu berlandas kebijaksanaan seorang perempuan.

Kenyataan bahwa kau cucu John Hamilton Dempster, salah seorang direktur kantor dan tokoh pergerakan Skotlandia, menjadi jalan kita menumpang kapal Ganges yang berlayar ke Pulau Prince of Wales, sebulan setelah kita menikah.

George Town, Penang. Kota tempat tinggal kita yang baru. Atasanku Philip Dundas, seorang Skotlandia dan orang nomor satu di pemerintahan. Kepadanya aku bekerja sebagai asisten sekretaris.

Di negeri timur yang jauh ini aku mengenal wajahmu yang lain. Kulitmu berkilau seperti bintang di antara perempuan-perempuan Melayu yang berkulit sawo matang. Bahkan Abdullah Abdul Kadir, sekertarisku, yang adalah penulis, terhisap kegemilanganmu. Ceritanya tentangmu terangkum dalam Hikayat Abdullah.

Istri Tuan Raffles berbeda dari perempuan umumnya. Dia tampak tenang, berhati-hati, dan menarik mata memandang. Keramahannya menular. Perilakunya sopan kepada si kaya seperti kepada si miskin. Hasrat belajarnya tentang Melayu seperti bayi yang senantiasa haus susu ibunya. Mulutnya tak berhenti bertanya: apa ini apa itu dalam bahasa Melayu.

Kepadanya, Tuan Raffles selalu memandang. Bila berencana sesuatu, beliau tidak akan bertindak sebelum istrinya bersetuju. Seperti Tuan Raffles, istrinya seorang yang rajin dan tidak nampak kikuk bertemu sesuatu yang baru. Melihatnya kapan saja, tangannya sedang bekerja, entah apa. Sungguhlah Tuhan Allah menganugrahi pasangan ini serasi, sperti raja dan penasihatnya, seperti cincin dan batu permatanya.

Seorang istri yang cakap lebih berharga daripada permata, kata kitab suci. Itulah dirimu. Dan aku beruntung memilikimu.

Olivia kekasihku,

Tentang John Caspar Leyden, penyair Skotlandia itu, izinkan aku membahasnya di sini, supaya lega hatiku melerainya.

Dari Madras John datang. Dia berangkat ke Penang demi menyembuhkan sakitnya. Dia terkena lever karena terlalu keras bekerja. Sejarah Melayu, buku yang ia terjemahkan dari bahasa Melayu ke bahasa Inggris, adalah awal perkenalan kita dengan namanya. Kehadirannya menyalakan semangat kita. Betapa indah ia menguasai kata-kata.

Aku mengundangnya untuk tinggal di bungalow kita. Dia akan mendapat segala yang dibutuhkannya, di sini. Sebuah tempat yang tenang. Dan kau menjelma perawat pribadinya. Dengan kasih sayang, tanganmu mencampur obat dengan air di badan sebuah sendok, memastikan John betul-betul menelan pahit obatnya. Tampak betul kau kenal perangai bengal seorang seniman yang tak adil saat memperlakukan kesehatannya sendiri.

Di tempat tidur kita hampir setiap malam, kau menceritakan perilaku John sepanjang hari itu. Sambil tertawa dan nada berbeda, kau mengulang perkataan spontan John, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas perhatianmu. Kalian telah saling mengikat diri dengan puisi.

Beberapa kali aku memergoki kalian berduaan. Aku tak sampai hati mengusik. John memerlukanmu lebih daripadaku. Meski rasanya kau belum melakukan hal-hal mesra seperti itu kepadaku. Aku tidak sedang dilanda cemburu mengatakan ini, malah bangga dengan kecerdasan seleramu.

John memang sejenis makhluk yang tahu segala sesuatu. Dia bukan seorang intelek yang diam di menara gading. Kakinya menyusuri jalan-jalan kecil untuk bertemu segala jenis manusia dan masalahnya. Kau mengagumi pengalaman dan pengetahuannya, seperti halnya aku.

Di beranda rumah kita yang hangat, bertiga kita duduk bertukar cerita sambil menikmati char kway teow, asam laksa, dan teh yang kita bawa dari Inggris. Apa yang tidak kau tahu, John? desakmu girang, setelah John berkata bahwa Penang adalah kota yang menarik, seperti gerabah berisi leburan akar budaya Melayu, Cina, India, peranakan, Thailand, Eropa.  Dan kau bertanya lagi. Dan lagi. Terkadang kau menyesali malam menjemput terlalu cepat.

Atas provokasi John, aku rakus mempelajari sejarah, kebudayaan, politik dunia Melayu. Apa yang dikatakannya benar, kelak. Bahwa pengetahuan akan membawamu ke tempat-tempat baru yang belum pernah terpikirkan.

Itulah jalan kita ke Melaka. Waktu itu Belanda mengangkat raja seorang Prancis untuk memerintah. Secepat itu pula British East India Company mengambil langkah, mengusir Belanda dari pulau yang disebut Jawa. Sebuah tempat strategis yang nanti menjadi pos jalur lintas perdagangan ke Tiongkok.

Akhirnya pada 11 Juni 1811, atas perintah pusat, kita berlayar ke pulau Jawa. John ikut bersama kita. Gubernur Jenderal Lord Minto memimpin invasi, dan pada 4 Agustus 1811, kapal kita merapat di pelabuhan Cilincing.

Kita tinggal di istana indah bercat putih di Buitenzorg. Sebuah kota hujan, 65 km jaraknya dari Batavia. Aku memperindah halaman kediaman kita yang luas dengan mendatangkan puluhan ahli botani, menanami segala tanaman, agar menjadi kebun yang luar biasa kayanya.

Sementara itu tugas-tugas berat sebagai Gubernur menyerbuku seperti bah. Aku melakukan pelbagai transaksi menguntungkan, meningkatkan pajak, merombak peraturan-peraturan yang merugikan, memperbaiki administrasi hukum dan kepolisian, menghapuskan perdagangan budak, mengumpulkan data statistik yang penting dari seluruh negeri, memberi napas baru bagi seni dan sastra komunitas Batavia.

Seperti kau mencintai Penang, kau membuka dirimu kepada Jawa.  Manusia-manusia sederhana dan baik hati. Tulang pipi mereka yang menonjol, rambut mereka yang hitam. Kulit mereka yang kuning seperti emas muda. Pergelangan tangan yang kurus bertulang. Dan hidung itu. Kecil dan pendek. Bentuk bibir yang paling kusuka. Tebal dan mudah tersenyum.

Matamu melihat tanah yang luar biasa. Anak-anak sungainya dialiri air jernih. Matahari bersinar setiap pagi. Udara hangat. Hujan secara teratur membasahi kebun luas kita. Keringat mengucur di dahimu saat kemarau tiba.

Dan kita mencicipi manisnya buah-buahan tropis. Manggis, durian, rambutan, nangka. Bermacam jenis mangga, nanas, jambu batu, pepaya, delima. Asam, jeruk, lemon, sitrun, pir. Tanah negeri ini menyediakan segala yang dibutuhkan penduduknya. Apakah surga seperti Jawa, tanyamu heran, menyadari segala rempah penting Eropa berasal dari timur negeri ini. Aku tak berhenti mencatat dengan tanganku.

Lalu tanpa kita sadari, malaria menyerang John seperti perang. Usianya berhenti menjelang 36 tahun. Dengan duka mendalam kita menanam tubuhnya di Pemakaman Tanah Abang. John, sahabat kita tersayang, meninggalkan kita.

Lukamu kehilangan John, melebihi yang kurasakan. Aku didera rasa cemburu yang aneh namun tak mampu mengusikmu merayakan kepedihan dengan caramu. Aku terbalut sepi ketika menemukan satu puisi yang indah dari John, untukmu.

Di pulau timur ini,Aku tersulut gelombang hijau berkilau,Senyum Olivia yang menawanYang akan mengingatkanku dari kubur.Ketika, jauh melewati laut Malaya,Aku menyusur jejak gelap hutan-hutan Soonda,Olivia! Aku akan mengingatmu;Merahmati langkahmu, saat perpisahan kita

 

Setiap pagi dan petang menghabiskan waktu bersamamu,Berkhayal belantara di dalamku berangkat pulih,Dan semua pesonanya, akan menjadi,Hari-hari manis yang takkan kembali.

 

Dua bulan kita di Jawa, persis 19 Oktober 1811, aku diangkat menjadi Letnan Gubernur Jawa oleh kantor pusat. John tak sempat menyaksikanku mencapai mimpi terbesarku. Dan kau, pun tidak terlalu lama membiarkan diri diterpa duka. Kau kembali menjadi Olivia, milikku.

Pertama kali menghadiri resepsi, kau kehabisan kata-kata untuk mengomentari gaya primitif perempuan-perempuan Batavia. Mereka merokok, main dadu, dengan mulut belepotan merah akibat mengunyah daun sirih.  Langsing tubuh mereka tertutup sarung dan semua perhiasan untuk mempermanis penampilan, malah bergantungan di leher seperti pameran. Apakah mereka tidak tahu apa itu keindahan?

Dengan kegemasanmu, tradisi mengunyah sirih di istana putih, tidak ada lagi. Kau menambah sedikit lagi pendidikan dan pengetahuan, bagi mereka. Kau sungguh baik. Perhatian yang kau tunjukkan kepada mereka, setulusnya berasal dari hatimu.

Dan wajahku sebagai Gubernur Jawa bersinar karena keberadaanmu di sisiku. Keluwesanmu memudahkan diplomasi dan gerak tawarku. Kau melembutkan suasana pertemuan dengan raja-raja lokal. Di istana putih, kau membuat resepsi yang tak terlupakan bagi Sultan Cirebon.

Kita melakukan perjalanan ke Semarang, ke Yogya. Saat itulah kau mengenali tubuhmu yang rentan diterpa angin dan matahari Asia. Di pegunungan sejuk di Salatiga ku tinggal beberapa saat untuk mengembalikan kekuatanmu. Tetapi tubuhmu enggan pulih. Kembali ke istana putih, dokter mengharuskanmu berada di tempat tidur, sepanjang hari dan malam.

Sampai kau merasa bosan dan mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhanmu. Kau memerintahkan dapur mengolah makanan yang terbuat dari 2000 butir telur, 26 bebek, 120 ayam, 666 botol bir, 397 botol Madeira, 24 ayam kebiri, 72 botol anggur, 400 potong roti, dua biri-biri, seekor sapi, satu ton daging asin, untuk memanjakan perut 400 tamu yang kau undang.

Dengan gaun anggun kau duduk dekat sebuah meja yang berhias cantik. Bibirmu tak berhenti tersenyum. Pesta kembang api pecah di langit malam kebun. Sebuah pesta yang ambisius karena baru selesai pukul 4 dini hari.

Kau menguji tubuhmu dengan melakukan perjalanan ke Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang. Kau berhenti selama lima hari di tiap kota, memberi jeda pada tubuhmu. Dan kau tidak bisa menolak undangan makan malam, pertemuan, sarapan bersama. Lalu kau kembali ke Salatiga, kota favoritmu, kota kesembuhanmu, sampai kau tiba di rumah, beberapa hari sebelum ulang tahunmu.

Tanggal 16 Februari 1814, sebuah  pesta dibuat untukmu. Orang-orang ingin melihatmu muncul. Tetapi dokter istana dengan keras melarangmu muncul, di pesta di rumahmu sendiri. Tubuhmu sungguh genting, meringkuk lemas di atas tempat tidur.

Lama setelah itu, pada 14 Oktober 1814, Mayor Jenderal dan Lady Nightingal ingin membuat kejutan manis untukmu. Ratu Inggris memberimu penghargaan atas jasa-jasamu, dalam mendampingku, dan sebuah pesta harus digelar sebagai penghormatan bagimu. Kali ini kau muncul dengan segala kejayaanmu, suara ramahmu, senyummu. Kau bahagia malam itu.

Tetapi itulah kemunculan terakhirmu, di depan publik.

Setelah itu tubuhmu tak pernah beranjak dari peraduan. Kau kian lemah. Sebulan setelah pesta itu, dokter tidak lagi mempunyai obat untuk masalahmu. Dan malam 26 November 1814, malaikat kematian terbang di atas istana putih, bersembunyi di antara pepohonan hijau kebun kita, menunggu waktu yang tepat membawamu, dalam sayapnya yang lembut. Kau pergi ke tempat yang lebih baik, dalam damai. Maut membebaskanmu dari kelemahan tubuhmu.

Istana putih menjadi buram sejak kepergianmu. Semua orang menangisimu.

Aku menanam jasadmu di sisi John. Kupikir kalian akan saling menghibur. Lalu aku membangun sebuah monumen di halaman kebun istana kita, untuk mengenangmu. Bahwa kita telah melewatkan hari-hari gemilang, di sini. Di atasnya, aku menggoreskan ini:

“Tempat suci untuk mengenang Olivia Marianne, istri Thomas Stamford Raffles, Letnan-Gubernur Jawa, meninggal di Buitenzorg pada 26 November 1814.Oh engkau, yang kepadamu hatiku tetap, satu momen telah terlupa, meski takdir memisahkan kita, namun tidak pernah dilupakan.” Selamat tinggal, Sayang.  Izinkan aku pulang kampung, tanpamu.

*

 

Catatan:
Olivia Mariamne Devenish (16 Februari 1771-26 November 1814)
Thomas Stamford Raffles (6 Juli 1781-5 Juli 1826)
John Caspar Leyden (8 September 1775-28 Agustus 1811)

*Diambil dari buku Raffles dan Kita, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), 2017.

Ita Siregar, cerpenis dan novelis.

 

 

read more
Cerbung

Mawar Ingatan (5)

roses-983972_1920

Aku mulai mencari Rosi di seputaran rumah dan menanyai beberapa tetangga. Tapi tak seorang pun melihatnya. Bocah-bocah cilik yang bermain sepeda di lapangan juga tidak melihatnya. Seharusnya Rosi ada di sekitar sini. Ia buta arah dan ia tak mungkin bisa berjalan gegas. Aku terus mencari dan bertanya pada setiap orang yang kutemui. Dibantu beberapa tetangga yang peduli. Tapi Rosi tak juga menampakkan batang hidungnya.

Aku pun mulai berpikir yang aneh-aneh, seperti misalnya Rosi diculik orang dan dimasukkan ke dalam mobil, lalu disekap di sebuah tempat, lantas si penculik itu meminta tebusan. Ah, tapi itu tak mungkin. Tak pernah ada cerita seseorang menculik  nenek-nenek dan meminta tebusan pada kakek-kakek. Lantas Rosi ke mana? Kepalaku mulai pening dan berkunang-kunang.

Setelah sekitar dua jam lebih pencarian tidak membuahkan hasil, beberapa tetangga mengantarku pulang. Setelah menenangkanku sejenak, para tetangga itu berpamitan. Mereka minta aku segera menghubungi mereka jika terjadi apa-apa. Rumah kembali hening. Aku terisak lirih, menyesali kerentaan yang begitu rapuh. Setelah lumayan tenang, aku menelepon neurolog yang memeriksa Rosi. Dan ia menyuruhku memeriksa kembali ruang demi ruang dalam rumah kami dengan saksama, misalnya dalam lemari, di bawah ranjang, di bak mandi, atau di tempat-tempat yang tak kuduga.

Begitu telepon kututup, aku bergegas ke kamar dan berjongkok mengintip ke bawah ranjang. Aku lemas seketika karena perasaan lega. Seonggok tubuh terbaring di sana, di bawah ranjang, di sebelah keranjang mawar yang membisu. Perlahan aku menarik tubuh Rosi yang terasa lebih berat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Rosi? Mengapa kau selalu membuatku cemas?” aku memeluknya erat-erat, seolah kami telah terpisah begitu lama.

Aku membaringkan tubuh Rosi ke atas ranjang dan menghubungi para tetangga bahwa aku sudah menemukan Rosiku. Aku menyiapkan makan siang yang terlambat dan menyuapi Rosi di atas ranjang, lantas melanjutkan pekerjaanku. Pekerjaan yang harus tuntas sebelum senja. Apapun yang terjadi, pesta kecil-kecilan ini harus tetap berlangsung. Untuk melangsungkan pesta ini, aku hanya butuh Rosi, dan ia sudah kembali.

***

 

Jelang senja, semua pekerjaan telah beres. Biasanya paket hadiah dari Fredie datang pada pagi menjelang siang, atau siang menjelang sore. Namun, sampai detik ini paket itu belum sampai ke tangan kami. Barangkali paket hadiah itu datang terlambat. Lagi pula, paket hadiah itu kini tak lagi terasa istimewa. Dulu, sewaktu Rosi masih ‘sehat’, kami berdua selalu bermain tebak-tebakkan perihal isi paket hadiah yang dikirim Fredie. Dan Rosi selalu menang. Tebakan Rosi selalu benar. Ketika Rosi mengatakan paket ini berisi perkakas dapur, maka paket itupun berisi perkakas dapur. Ketika Rosi mengatakan paket itu berisi pakaian, maka paket itu benar-benar berisi pakaian. Rosi bisa tahu isi paket itu hanya dengan mengangkatnya dan menempelkan kupingnya ke kotak paket. Seolah ada seseorang yang berbisik ke Rosi dan memberi tahukan isinya. Sementara aku, tak pernah tepat. Satu-satunya tebakanku yang tepat adalah ketika paket itu berisi makanan atau kue-kue kering. Dari suara dan aromanya aku sudah tahu.

Sayang, semenjak Rosi didera penyakit aneh itu, paket-paket dari Fredie menjadi paket hadiah yang hambar. Aku tak bisa lagi bermain tebak-tebakkan dengan Rosi. Dan isi paket itu hanya akan menjadi penghuni gudang. Dan karenanya, diam-diam aku merasa bersalah pada Fredie. Suatu kali aku mengatakan pada Fredie, suapaya ia menghentikan kiriman paket-paket hadiah itu pada hari ulang tahun kami. Tapi kata Fredie, “Aku tak bisa datang langsung. Kalau ayah melarangku mengirim paket hadiah itu, aku merasa seperti bukan anak kalian. Dan itu membuatku merasa bersalah.”

Aku pun bungkam dan tak pernah membahasnya lagi. Dan paket-paket hadiah dari Fredie terus berdatangan pada hari ulang tahunku, hari ulang tahun Rosi, dan tentu saja pada hari ulang tahun pernikahan kami. Aku jadi bertanya-tanya, kira-kira paket hadiah apalagi yang akan dikirim Fredie pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60 ini?

***

Selepas petang, rumah sederhana ini telah tampak seperti ruang pengantin, bersih, wangi, dan penuh mawar. Aku juga telah memandikan Rosi seperti biasanya. Pada hari istimewa ini, aku mengenakannya gaun pengantin berwarna putih gading yang telah kami simpan selama puluhan tahun dan rasanya tak pernah berubah. Rosi selalu tampak cantik berkali-kali lipat ketika mengenakan gaun itu.

Setiap vas telah kuisi dengan mawar-mawar segar yang baru kupetik tadi pagi. Kue yang kupesan juga sudah datang. Melihat kue itu mendadak aku teringat beberapa tetangga yang siang tadi membantuku mencari Rosi. Mungkin akan bagus kalau aku juga mengundang mereka. Tapi bagaimana mungkin, kue ini terlalu kecil bahkan untuk dua orang. Saat itu juga aku menghubungi kios kue yang sama dan menanyakan apakah ada stok kue yang kira-kira bisa diantar langsung, dan mereka memilikinya. Tak sampai satu jam kue dengan ukuran besar itu pun sudah tertata di meja.

Aku kembali menelpon para tetangga, beberapa dari mereka menyanggupi datang. Dan beberapa yang lain meminta maaf karena sudah ada agenda. Aku pun balik meminta maaf pada mereka karena undangan yang sangat mendadak itu.

Tepat pukul delapan malam, tiga dari tujuh tetangga yang kuundang sudah hadir. Sepasang pasangan muda yang tampaknya baru menikah dan seorang pemuda berusia dua puluhan. Kami tidak saling mengenal dekat. Kami hanya tetangga yang bertemu dan saling menyapa sesekali. Kami menjadi sedikit lebih akrab ketika mereka membantuku mencari Rosi siang tadi. Bisa dibilang, aku dan Rosi adalah salah satu penghuni paling awet di komplek perumahan ini. Beberapa yang lain datang dan pergi. Sebab itulah, kami tak begitu kenal dekat dengan tetangga. Semenjak menikah dengan Rosi, kami sudah pindah rumah sebanyak tiga kali. Dan rumah ini sepertinya akan menjadi rumah terakhir kami. Aku membeli rumah ini sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu, dan sampai sekarang kami tak berniat pindah-pindah lagi. Usia kami tinggal sejengkal, dan kami sudah terlalu capek dengan urusan keduniaan yang melelahkan.

“Sepertinya Anda sudah lama tinggal di komplek ini,” ujar salah satu dari pasangan muda itu. Siang tadi mereka mengenalkan diri, yang laki-laki bernama Rudi dan yang perempuan bernama Amelia. Meski wajahku dipenuhi kerutan, tapi ingatanku masih cukup bagus.

“Sudah sekitar tiga puluh lima tahun.” Sahutku.

“Wah. Lumayan. Kami belum ada apa-apanya?”

“Adik sepertinya baru pindahan, ya?”

“Tepat setahun, tanggal dua lima bulan ini.”

“Kalau adik?” aku menyapa pemuda berusia dua puluhan itu. Aku juga masih ingat, pemuda itu bernama Jeri.

“Saya sebenarnya sudah hampir dua tahun di sini, tapi jarang keluar-keluar,” jawab Jeri.

“Baru juga berarti,” sela Rudi.

“Wah, berarti saya memang paling tua di sini, bahkan di komplek ini. Mungkin saya sepantaran dengan kakek kalian.”

“Jadi ini pesta ulang tahun pernikahan kalian yang ke-60?” Amelia mengeluarkan suara.

“Ya, yang ke-60.”

“Wah, salut. Bikin terharu.”

“Kesetiaan yang patut dicontoh,” ujar si Jeri lagi.

“Dan Nyonya mana?” Amelia kembali bertanya.

“Tak usah panggil, Nyonya,” kataku, “Namanya Rosana, tapi panggil saja dia Rosi.”

“Kalau tak keberatan, kami akan panggil Ibu saja, dan kami akan panggil Anda Bapak,” ujar Amelia sambil melirik suaminya.

Aku tersenyum dan merasa haru tiba-tiba, “Dengan senang hati, Nak.” Setelah memanggil mereka ‘Adik’, kini aku memanggil mereka ‘Nak’. Rasanya sudah lama sekali tak ada yang memanggilku ‘Bapak’ atau menyebut Rosi dengan sebutan ‘Ibu’ secara langsung, kecuali suara kecil dari balik telepon. Suara Fredie. Mungkin kami benar-benar merindukan panggilan itu secara langsung.

“Oh ya, seperti yang telah kuceritakan siang tadi. Rosiku ini, ia agak berbeda. Jadi, jika nanti kalian mendapati yang aneh-aneh, mohon dimaklumi,” ujarku lagi.

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

read more
1 2 3 4 5
Page 3 of 5