close

Puisi

CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Sang Ratu

400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

read more
PuisiTERASWARA-WARA

Hari Minggu Ramai Sekali

wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018Puisi

Babel *

IMG_20180904_074708 (1)

gerbang para dewa
markah kekacaubalauan
syahwat
yang tak pernah manusia
lupakan

setelah petaka banjir mematikan itu
elohim berjanji takkan lagi bah
menghukum bumi

lalu sem
ham
yafet

ham melahirkan kush
kush melahirkan nimrod
pertama manusia terkuat di bumi
istrinya simeramus
jalan menuju neraka

700 tahun kemudian
ke negeri timur mereka pergi
di tanah Sinear
mari kita buat menara tinggi
surga kita sendiri
kata nimrod

satu bahasa mereka
membakar bata seperti batu
tanah liat sebagai perekat
di atas tanah datar segi empat
selama seratus tujuh tahun
mereka berpeluh keringat
mendirikan bata demi bata
dua puluh lima gerbang
seribu pintu
warna merah tua
hingga 2484 meter menjulang

namun di menara tinggi babel
hanya bertemu kediaman roh-roh jahat
persembunyian roh najis
tempat bercabul
sampai elohim turun dari surga
melipatgandakan lidah mereka
tak lagi satu
melainkan tujuh puluh dua
bahasa

15 untuk yafet
30 untuk ham
27 untuk sem

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

sudah rubuh babel
sudah rubuh babel

dan hari ini
jutaan tahun kemudian
kami kerasukan roh
gerbang para dewa
markah kekacaubalauan

kami membangun kembali
babel
si menara tinggi
dengan kebiasaan kami
ritual kami
bahasa kami
agama kami
demi kami
kami

betapa kacau
betapa balau
syahwat itu

dan di tepi-tepi sungaimu, babel
kami hanya duduk dan menangis
bila mengingat Zion

itasiregar/18/8/18

*puisi ini dibuat untuk lukisan Setiyoko Hadi yang diberi judul Yang Diserakkan. Perupa merasa menara Babel sebagai simbol dari kemampuan manusia purba untuk melawan Tuhan, yang tetap relevan sepanjang masa. Telepon sebagai simbol dari sebuah komunikasi dua arah. Posisi gagang yang terjatuh di lantai mengisyaratkan putusnya sebuah komunikasi. Kemampuan manusia membangun menara yang menjulang sampai ke langit digambarkan susunan bata yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Tidak digambar sesuatu yang kokoh melainkan seperti sesuatu yang mudah runtuh. Yang diserakkan adalah cara Tuhan menyadarkan akan keberadaannya di hadapan kekuatan Tuhan

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

book-707388_1920

Sayembara Menulis Cerpen ATAU Puisi

Tema: Perintis Gereja Tradisional

Pernahkah membaca kisah Kyai Sadrakh (1835-1924) atau Nommensen (1834-1918) dan terkesan dengan kehidupannya? Ini saat yang tepat untuk mengungkap kisah mereka dalam bentuk cerpen atau puisi.

Anda juga dapat memilih Denninger (1865-) yang berkarya di Gunung Sitoli Nias, Joseph Kam (1769-1833) di Maluku, Antonie Anis van de Loosdrecht (1885-1917) di Toraja, Johann Geissler (1830-1870) di Irian/Papua, Ibrahim Tunggul Wulung (1840-1885), Paulus Tosari (1813-1882), atau sila memilih sendiri nama yang Anda minati.

Syarat:
1. Peserta adalah mahasiswa teologi atau masyarakat umum.
2. Memilih satu tokoh di atas atau memilih sendiri.
3. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya untuk masing-masing kategori tulisan.
4. Panjang cerpen maksimal 1300 kata. Puisi bebas.
5. Naskah di-email ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas data diri (KTP/ SIM).
6. Naskah sudah diterima oleh Panitia selambatnya 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
7. Panitia akan menentukan 10 naskah terbaik untuk kedua kategori.
8. Nama-nama pemenang akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan bpr.pgi.or.id
9. Setiap pemenang akan mendapat hadiah Rp 750.000,00
10. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap paling inspiratif akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
11. Keputusan juri mengikat dan tidak dapat diganggu gugat.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: http://wp.me/p8ZXIg-bO

read more
Puisi

Mosi Tidak Percaya Saul

trust

 

Saul, Saul

Mengapa kau membebani Tuhan dengan segala perkara lancungmu?

Bukankah karena kau mencurigai ketulusan-Nya dan bersandar pada persepsimu sendiri?

 

Saul, Saul

Mengapa kau memegang punca jubah Samuel dengan mengoyaknya?

Bukankah karena hatimu kesal Tuhan telah mengoyak jabatanmu sebagai raja?

 

Saul, Saul

Mengapa kau menyerahkan korban sembelihan ganti mengindahkan suara-Nya?

Mengapa kau mempersembahkan lemak domba jantan sebagai tukar menggubris sabda-Nya?

Bukankah karena kau berpura-pura menerka-nerka kebajikan Tuhan?

 

 

Is/April/2018

read more
Puisi

Saul Menjadi Raja -Senandung Samuel

images

Wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

dari kaum Benyamin kau berasal,

matamu muda dan segar,

engkau sungguh elok

bahumu lebih tinggi dari orang-orang sebangsamu,

dan Tuhan telah memilihmu di antara anak-anak ayahmu

 

Ayahmu kehilangan keledai-keledai betina,

bersama abdimu, kau pergi mencari keledai-keledai itu,

meniti pegunungan Efraim,

melintasi tanah Salisa,

tetapi hewan-hewan itu bersembunyi dari matamu

 

Lalu kau memintas tanah Sahalim,

ke tanah Benyamin.

Setiba di tanah Zuf,

kau bertitah kepada abdimu,

“Marilah kita kembali,

tiga hari sudah kita mencari,

sekarang ayahku tidak lagi mengkhawatirkan keledai-keledai itu,

tetapi kitalah yang dikhawatirkannya.”

 

Namun abdimu menyanggah,

“Marilah kita menemui seorang pelihat,

seorang yang terhormat,

segala yang dikatakannya pasti terjadi,

barangkali ia akan memberitahukan kita tentang perjalanan ini”

 

Dengan seperempat syikal perak kau pergi menyambangi pelihat itu

Tiba di kota, gadis-gadis perigi berseru kepadamu,

“Cepatlah ke kota,

ada perjamuan korban di bukit,

kau akan menemui pelihat itu di sana”

 

Tetapi saat kau mendaki ke kota,

kau beradu kening dengannya.

 

Pelihat itu memandang matamu, dan tak terkesiap,

karena kemarin Tuhan telah memperingatkannya, bahwa

“Besok sesiang ini,

akan datang laki-laki muda dari tanah Benyamin,

urapilah dia menjadi raja atas umat-Ku Israel”

 

Tetapi kau bersoal, “Di manakah rumah pelihat itu?”

“Akulah pelihat itu,

naiklah ke bukit, dan makanlah bersamaku,

besok pagi aku akan memberitahu kepadamu,

segala sesuatu yang ada dalam hatimu”

 

Siapakah yang  memiliki segala yang diingini orang Israel, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

Bukankah itu ada padamu dan pada seluruh kaum keluargamu?

 

Dan di pendopo, di bukit itu,

kau dan abdimu duduk di tempat utama,

di hadapan tiga puluh orang yang telah diundang,

untuk menjadi saksi bagimu.

Seorang juru masak menghidangkan paha dari anak kambing muda tak bercacat,

dan segala jamuan terbaik, disajikan di hadapanmu,

“Lihatlah, makanlah, sebab perayaan ini telah disimpan untukmu”

 

Kau duduk makan berhadap-hadapan pelihat itu,

dan turun ke kota bersamanya,

kau duduk di sotoh rumahnya,

bercakap-cakap mesra dengannya

 

Saat fajar menyingsing pelihat itu berkata kepadamu,

“Bangunlah,

biarlah abdimu itu pergi mendahului kita,

saat itulah aku akan memberitahukan perkataan Tuhan tentangmu”

 

Kau hanya diam dan melihat,

pelihat itu dengan buli-buli di tangannya,

menuangkan minyak ke atas kepalamu,

menciummu dengan rasa sayang, dan berkata,

“Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?”

 

Inilah tandanya bagimu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

ketika kau pergi nanti,

kau akan bertemu dua laki-laki di dekat kubur Rahel,

di daerah Benyamin, di Zelzah.

Mereka akan berkata, “Keledai-keledai ayahmu telah ditemukan,

dan sekarang lihatlah, ayahmu mencemaskan keadaanmu”

 

Lalu kau terus berjalan,

sampai ke pohon tarbantin Tabor,

kau akan disongsong tiga laki-laki yang akan menghadap Allah di Betel,

seorang membawa tiga ekor anak kambing,

seorang membawa tiga ketul roti,

yang lain sebuyung anggur.

Mereka akan mengucapkan salam,

dan memberimu dua ketul roti,

lalu kau akan tiba di Gibea Allah,

tempat kedudukan pasukan Filistin.

 

Dan kau akan masuk kota, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

kau akan berjumpa serombongan nabi,

yang menuruni bukit,

ketika itulah Roh Tuhan berkuasa atasmu,

kau akan kepenuhan bersama mereka,

berubah menjadi manusia lain,

apa saja yang didapat oleh tanganmu,

Allah menyertai engkau

 

Dan pergilah ke Gilgal mendahului aku, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku akan datang kepadamu,

mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan,

dan kau harus menungguku selama tujuh hari,

sampai aku datang kepadamu

 

Namun segala tanda itu terjadi pada hari itu juga,

karena itu orang banyak bertanya-tanya,

“Apakah Saul termasuk golongan nabi?”

 

Lalu pamanmu bertanya, “Dari mana kamu?”

Kau menjawab, mencari keledai-keledai ayahku

Tetapi tentang aku, pelihat itu, dan bahwa kau telah diurapi menjadi raja,

tak kau ceritakan kepadanya

 

Kemudian di hadapan Tuhan di Mizpa, wahai Saul anak Kisy anak Abiel,

aku menghimpun umat Israel dan berkata kepada mereka,

“Tuhan telah mendengar permintaanmu seorang raja.

Sekarang berdirilah di hadapan Tuhan menurut suku dan kaummu”

Lalu didapatilah suku Benyamin.

Dan suku Benyamin tampil menurut kaum keluarga mereka,

didapatilah kaum keluarga Matri,

dari keluarga Matri, tampillah seorang demi seorang,

dan didapatilah engkau, wahai Saul bin Kisy bin Abiel

 

Tetapi engkau bersembunyi di antara barang-barang,

mereka mencarimu dan membawamu ke hadapan bangsa itu,

lalu mereka bersorak gembira karenamu, “Hidup raja!”

 

Dan inilah hakmu sebagai raja, wahai Saul, anak Kisy anak Abiel,

anak laki-laki dari bangsamu akan bekerja untukmu,

pada kereta pada kuda,

mereka akan berlari di depan keretanya di depanmu,

kau akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu pasukan lima puluh,

mereka akan membajak ladangmu dan mengerjakan tuaianmu,

akan membuat senjata-senjata dan perkakas kereta untukmu

 

Anak-anak perempuan bangsa itu akan menjadi juru campur rempah-rempah

juru masak

juru makanan

 

Kau akan mendapat sepersepuluh dari bagian yang terbaik dari ladang mereka

dari kebun anggur mereka

dari kebun zaitun mereka

dari ladang gandum mereka

 

Mereka akan memberikan kepadamu

budak-budak laki-laki mereka

budak-budak perempuan mereka

ternak mereka

dan keledai

dan kambing domba

sepersepuluh yang terbaik menjadi bagianmu

dan bangsa itu akan menjadi budakmu, hambamu

 

Lalu kau pulang ke rumahmu di Gibea,

bersama orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah

 

Demikianlah dengan undian kau menjadi raja.

 

Bukankah segala yang diingini orang Israel itu ada padamu, wahai Saul anak Kisy anak Abiel?

 

 

(is/Apr2018)

 

 

read more
Puisi

Pengadilan Kaisar

download (10)

Teks Cynthia Putri Utama*

 

 

Dalam sejarah profesiku sebagai hakim

Belum pernah aku menghukum orang yang tak bersalah

Dan merasa begitu menyesal

 

Tapi apa yang harus kulakukan

Orang banyak itu bersikeras

Dan aku tak punya pilihan

 

Waktu itu hari masih sangat pagi

Aku baru bangun dari tidurku

Ada banyak orang berteriak-teriak di luar gedung pengadilan

Mereka tidak mau masuk, jadi aku yang keluar

 

Di hadapanku ada banyak sekali orang

Membawa seorang pria

Tubuh-Nya cukup besar

Entah kenapa dia tidak melawan sama sekali

 

Aku melihat orang itu

Tatapannya bertemu dengan tatapanku

Aku sudah bertemu dengan banyak sekali orang jahat

Aku tahu tatapan liar mereka

Seperti Barnabas …

Orang gila yang sudah membunuh banyak orang

 

Tapi tatapan orang ini berbeda

Begitu tenang, begitu damai

Dia tidak terlihat jahat …

 

“Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?”

 

Dia tidak seperti penjahat …

Malah sebaliknya

Aku merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

 

“Tentu saja Dia penjahat. Itu sebabnya kami serahkan padamu”

 

Mereka tidak mengatakan kejahatan-Nya

Aku jadi penasaran

Apakah Dia pemberontak?

Apakah Dia pembunuh

 

“Sebaiknya kalian adili saja dengan hukum Tauratmu”

 

Aku tak mau menumpahkan darah orang tak bersalah

Aku tak mau berurusan dengan agama orang-orang Yahudi itu

 

“Tidak! Kami tidak diperbolehkan membunuh orang”

 

Membunuh? Berarti mereka ingin agar orang ini mati?

Aku benar-benar penasaran …

Apa yang sudah dibuat-Nya?

 

Jadi aku menyuruh Dia masuk ke gedung pengadilan

Akan aku tanyai Dia

Siapa tahu aku dapat membantu-Nya

 

“Apakah Engkau Raja Orang Yahudi?”

 

Sekilas aku mendengar begitu banyak pengikut-Nya

Mungkin Dia adalah Raja yang tertolak

Entahlah

 

“Apakah kau menanyakannya karena mendengar dari orang?

Atau dari hatimu sendiri?” jawab-Nya.

 

Aneh sekali pertanyaan-Nya

Bagaimana pendapatku?

Hmm … dia tidak terlihat sebagai penjahat …

Dia memiliki banyak pengikut …

Apa pendapatku?

 

“Tapi orang-orang-Mu menyerahkan-Mu kepadaku.

Apa yang Kauperbuat?”

 

Mengapa seorang raja diserahkan oleh bangsanya sendiri?

 

“Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini

Kalau Kerajaan-Ku di sini …

Tentulah aku memiliki prajurit yang akan melawan mereka”

 

Aku benar-benar tak mengerti ucapan-Nya

Jadi benar Dia adalah Raja

Tapi di mana kerajaannya?

 

“Jadi Engkau adalah Raja?”

 

Memang ada sesuatu yang berbeda dalam diri-Nya

Aku sih percaya saja kalau Dia itu Raja

Aku hanya tak percaya kalau dia itu penjahat

 

“Untuk itulah Aku lahir

Untuk itulah Aku datang dalam dunia

Untuk memberitakan kebenaran

Mereka yang berasal dari kebenaran

mendengarkan Aku”

 

Kebenaran? Aku ini hakim

Aku yang mengadili

Seharusnya aku mengetahui kebenaran itu

Seharusnya aku mendengarkan Dia

 

“Apakah kebenaran itu?”

 

Lalu aku keluar … menemui mereka

Aku akan membuat suatu penawaran

Aku ingin membebaskan-Nya

 

“Aku tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Maukah kalian membebaskan-Nya?”

Karena ini adalah paskah, dan saat paskah

Aku dapat membebaskan satu orang tawanan bagimu”

 

Aku berpikir mungkin ada dari banyak orang itu

Ada sebagian orang yang dapat membela orang ini

Pengikut-Nya … orang-orang yang mempercayai-Nya

Aku kaget sekali ketika kudengar kata sepakat

“Bebaskan Barnabas!”

 

Walau enggan, kubebaskan Barnabas

Namun aku tak mau menghukum mati Orang Benar ini

Aku yakin Dia tak bersalah

 

Jadi aku menyuruh orang untuk menyiksa Dia

Hanya menyiksa, bukan membunuh

Agar mereka tenang

Dan nanti akan kubebaskan

Itu pun sudah membuat hatiku merasa sangat bersalah

 

Prajurit melukai Dia mulai dari kepala hingga kaki-Nya’

Ah, andai memang Dia Raja …

Semestinya ada orang yang membela-Nya

Ke mana mereka semua?

 

Stelah mereka puas melukai Dia

Aku membawa Dia lagi ke hadapan bangsa itu

 

“Aku benar-benar tidak menemukan kesalahan pada-Nya.

Dia sungguh benar …”

 

“Salibkan Dia, Dia mengaku anak dari Tuhan kami …

Menurut hukum kami Dia harus mati”

 

Aku sangat takut mendengarnya

Tuhannya orang Israel terkenal sejak zaman dahulu

Membebaskan mereka dari Mesir

Membantu mereka melawan bangsa Filistin

 

Tidak … aku tak akan mau berurusan dengan hal itu

Tapi … bagaimana kalau Dia memang Tuhan …

Aku merasa sangat takut

Aku dihadapkan dengan dua pilihan sulit

 

Siapa yang harus aku percayai?

Orang banyak itu

Atau orang ini …

Yang bahkan tak melawan ketika dianiaya

Beda sekali dengan penjahat yang lain

 

Jadi aku masuk … dan menanyai Dia

 

“Kau dari mana sebenarnya?”

 

Dia diam

 

“Tahukah Kau bahwa saat ini hidupmu dalam tanganku?”

 

Jawaban berikutnya membuatku kaget

Belum pernah aku mendapat jawaban seperti itu

 

“Kau memiliki kuasa itu karena diberikan kepadamu dari atas.

Mereka, yang menyerahkan aku padamu, lebih besar dosanya”

 

Apakah Dia bermaksud untuk membelaku?

Tatapan-Nya begitu lembut

Sama sekali tidak ada kebencian

 

Dia seolah mengatakan padaku

Bahwa semuanya baik-baik saja …

 

Aku ingin sekali membebaskan-Nya

Tapi orang banyak itu

Ah, apa yang harus kulakukan?

 

“Kalau kau membebaskan Dia,

kau bukan sahabat kaisar!”

 

Tidak!

Menjadi sahabat kaisar itu penting

Itu untuk reputasiku

Utu untuk karirku

 

Apa yang harus kulakukan pada Yesus ini?

Kalau aku membela-Nya, artinya karirku hancur

Kalau aku membela-Nya, orang-orang ini akan menghancurkan aku

 

Aku tak bisa berbuat apa-apa

Istriku mengatakan padaku untuk tidak ikut camput

 

Kuserahkan Dia pada mereka

Untuk disalibkan

Dan saat ini …

aku menyesal sekali

 

 

*Saat menulis puisi ini, Cynthia Putri Utama duduk di kelas 8D SMPK 1 Penabur Jakarta

 

(Dipetik dari buku Pesan dari Kayu Salib, antologi puisi Paskah, dikumpulkan oleh Keke Taruli Aritonang, Gorga Pituluik, 2017, halam

read more
Puisi

Kumpulan Puisi Dadang Ari Murtono

buddha-56510_960_720

seh domba

 

pada halaman fotokopian itu

ia meminjamkan sebagian dirinya

yang ia datangkan dari abad ke enam belas

 

ia tahu, dalam tongkat bekas adipati itu

ia tak akan mendapat secuil emas

seperti yang dikatakan tiga laki-laki keliru di bakalan salatiga

 

dan ia mengerti, si bekas adipati akan mengucap

sepatah mantra yang mengubah paras rupawannya

jadi domba

 

namun tak ada yang sia-sia, seperti yang dikira

orang pada hari depan

sebab ia bertuhan, ia berguru, dan ia tahu ada dosa

di pundaknya yang mesti ia tebusi

 

maka ia tak perlu membayangkan dirinya bahagia

sewaktu menempuh kilometer demi kilometer

selama 35 hari

untuk mengangsu air dan mengisi padasan bocor di puncak jabalkat

 

sebab hanya dengan begitu

ia akan kembali jadi manusia, seutuhnya manusia

 

pada halaman fotokopian itu,

seorang lelaki yang terus menulis puisi

dan merasa tak berarti

lalu menyamakan diri dengan sisiphus,

seolah melihat bayangannya

yang berkepala domba

 

lantas ia, penyair itu,

memupus niatan bunuh diri

 

 

 

 

 

tembayat

 

sejak wali kali yang menyaru penjaja alang-alang

itu mengubah sebongkah tanah jadi seonggok emas

permata, ia mengerti segala hal bisa bercahaya di

tangan yang sungguh-sungguh

 

hanya tangan yang sungguh-sungguh

 

maka ia tinggalkan apa yang kata awam

berharga, dan sekian bulan kemudian, di pasar

wedi, pada suami istri tasik yang tiap hari

memanggang serabi namun lamur pada hakikat

api, ia singkirkan kayu bakar, dan ia munculkan

nyala api dari sepasang tangannya yang telanjang

 

sayangnya ia telah lama tak ada

sewaktu seorang penyair dari negeri tropis

bersajak tentang salju dan musim gugur

dan mengutuki segala yang berasal dari bahasa ibunya,

juga semesta sekitarnya sebagai sesuatu

yang tak punya tempat dalam larik-larik yang

bebas dari fana

 

 

 

 

 

 

brawijaya moksa

 

barangkali ia sesali kemelun asap dari dupa

terakhir yang ia bakar,

ia tak ingin kitab-kitab mengekalkannya sebagai

raja pengecut yang lari dari palagan,

tapi dewa-dewa yang kian susut

tahu hari tak ada lagi

 

“ini memang masa tuhan dari arab,”

ia dengar kalimat itu

dari suara tanpa bunyi

 

“apa yang lebih terhormat

bagi satria selain mati dalam area laga?”

ia keberatan

 

tapi dewa-dewa – juga kelak tuhan – tak pernah

setara untuk tawar menawar dengan hamba

 

ia tahu, pada akhirnya

ia akan baka dalam kemurungan

bersama keratonnya,

dan keinginan untuk mati

yang sia-sia

 

 

 

 

 

selamat pagi, dadung awuk

 

selamat pagi, dadung awuk,

malam tak ada lagi bagimu,

ke alun-alun itu kau akan datang

untuk mengalahkan kerbau liar dalam dirimu

tapi seseorang, sang cikal susuhunan jawa,

bakal mengakhirimu dengan ujung tumpul

sirih sadat

 

tapi dalam puisi ini,

kupanjangkan apa yang sementara,

kujaga kau dari fana

seperti kujaga diriku sendiri, penyair sekedar

yang tak henti bertarung melawan kerbau dalam diri

dari tikaman mereka, yang mengira dirinya susuhunan,

dan sibuk merangkai huruf-huruf yang tak mereka pahami

lalu tenggelam dalam ilusi, “aku tingkir, aku tingkir,

pendiri dinasti, yang baka dalam babad-babad agung”

 

 

 

 

 

asmayawati

 

dia ingin dewa-dewa datang

dan berbisik bahwa semua hanya mimpi

namun dewa-dewa terlalu sibuk

menyiapkan upacara kematian mereka sendiri

dan persoalan cinta, barangkali, terlampau sepele

 

ia belum tahu bahwa tuhan impor telah tiba

dan karenanya, ia tak lagi berdoa

 

ia meyakinkan diri sendiri, berulang kali

bila cinta sekadar perkara kebiasaan

 

maka ia terima buaya putih itu merangkak di atas

tubuh telanjangnya, dan dibisikkannya

“jangan menyaru laki-laki tampan lagi

 

dan akan kau dapati aku sebagai pecinta

paling sungguh”

 

namun buaya itu mengira ia tengah berakting

 

 

 

 

 

pengging

 

aum singa yang tak pernah ada itu

masih bergaung dalam halaman kitab dari penyair

yang suka menyamarkan nama,

yang menolak tanggung jawab dari apa yang dituliskannya

 

“ia memang begitu,

kerap membayangkan diri sebagai tuhan,

tuhan kecil” lelaki itu menggumamkan kalimat

yang sengaja diabaikan oleh sang penyair

 

“ia juga, sesungguhnya, tak pernah

memberi tokoh-tokohnya pilihan”

 

maka ketika senapati para sunan itu tiba

ia singsingkan lengan bajunya

 

“kanjeng senapati jimbun mengutusku,” kata sang sunan

“sebab seperti gurumu, kau tenggelam dalam genangan kesesatan

dan menyangka dirimu allah”

 

ia ingin menjawab tidak

dan mengarahkan telunjuknya pada diri sang penyair

yang membunyikan kisah-kisah dari balik persembunyian

 

tapi, toh, ia tidak punya pilihan

 

maka ia persilakan wali dari kudus itu menggores

sikunya, sedikit saja, dengan belati tumpul

untuk menggenapkan cerita, mengikis yang mustahil dalam alur

 

dalam kitab itu

bahkan sang penyair mengiranya tak ada lagi

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

read more
Puisi

Kumpulan Puisi Ben Sadhana

dandelion-1557110_1920

TUA

Tua itu identik dengan kusam,
Lihatlah kota tua di kotamu

Tua identik dengan jaman dulu,
lihatlah monumen monumen di kotamu

Tua itu aneh,
Lihatlah jika kau berkeliling kota dengan sepeda onthel,
dan busana komprang

Tua itu tinggal kenangan,
Lihatlah puing puing loji dan candi yang tidak terawat
rapuh tergerus waktu

Tua itu jelek,
Lihatlah bejana jiwa yang terbungkuk,
Tertatih dan lemah

Tua itu menyakitkan,
Lihatlah segala simbol kebesaran
itu perlahan menjauh

Tua itu sepi
Lihatlah keheningan itu
di bilik panti wredha

Membuatku takut
Ingin berlari namun kaki ini terkunci
Ingin berteriak namun mulut ini tercekik

Sekonyong konyong
Sayup sayup aku mendengar suara
merdu membelai telingaku
Melekat terasa meski aku
telah terjaga dari buaian nyenyakku

Tua itu indah, kekal
Keindahan tidak muncul dipandang
melainkan dirasakan
dinikmati

Tua sudah pasti datang
Tua hanya selembar kulit
Tua itu sebuah perubahan pasti
menuju peleburan dengan semesta
menuju keabadian

Lihatlah prasasti itu
Tua namun dikenang dan meneladan
Bagi bejana bejana muda
dalam perjalanan menuju ketuaannya
hingga menjadi indah pada akhirnya

Warisan abadi
tuk generasi berikutnya

Menuju tua itu bukan menuju akhir,
Menjadi tua itu permulaan baik
bagi anak anak kita
Menyambut musim panen
menuai benih yang telah kita tanam
di masa kita

Dan
Kita akan merasakan indahnya
pernah menjadi muda

 

Ben Sadhana

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

EMBUN

 

Embun bening menyapa
kemilau membuai netra
mengalirkan sejuk sanubari, menyegarkan raga

 

Mengejawantahkan jejak jejak kontemplatif
Tanah semak daun menggelinjang
Dijejak kaki berpesta

 

Embun
bening
sejuk
segar
Bening di setiap wadahya
menyegarkan sekeliling
menyemburatkan kedamaian
di relung relung kehidupan

 

Oh embun
segala berkat keindahan
kerinduan mendayu tak tertahan
hingga hadirmu

 

Embun
bening
sejuk
segar
belailah jiwa ini
rengkuhlah
jadikankanlah
bening sejuk segar

Membeningkan
menyejukkan
dan menyegarkan

 

O Embun
bening
sejuk
segar

Ben Sadhana

 

KITA BERBICARA TENTANG KEPEDULIAN

 

Aku sering dengar soal kepedulian terucapkan

Kepedulian yang entah asal mulanya

Sekejab menjelma kepedulian yang jamak

Ada kebanggan heroisme di dalamnya

 

Darimu, darinya, dari mereka, dariku sendiri

Belarasa, pendoktrinan, pemulihan, pembalasan

Nafsumu, nafsunya, nafsu mereka, nafsu kita

Menyatu dalam syahwat yang membias

 

Engkau punya kepedulian

Dia punya kepedulian

Mereka punya kepedulian

Aku punya kepedulian

 

Engkau menentangku

Dia menentangmu

Mereka menentang kita

Dan kita pun bertentangan

 

Kau peduli karena dia saudaramu

Dia peduli karena mereka sekongsi

Mereka peduli karena kita seperjuangan

Kita pun kembali terpecah

 

Kita berseberangan

Kita bersitegang

Kita bersekutu

Kita berselisih

 

Pernahkah sejenak kita berpikir

Untuk apa dan siapa kah sesungguhnya kepedulian itu

Mengapakah kepedulian itu menjadi sekuler dan sektarian

Mengapakah kepedulian itu tidak satu

 

Masih adakah kepedulian

Jika karenanya saudara kita tersakiti

Masihkah layak kepedulian

Jika karenanya kita mengabaikan yang tidak sedogma

 

Mengapakah kepedulian menjadi tidak adil

Ketika pekik kepedulian bukan juga untuk mereka

Meski mereka terima penindasan dan derita yang sama

Mengapa kepedulian menjadi tendensius dan tidak menerus

 

Kita hadir melalui jalan rahim yang berbeda

Namun Esa yang meniupkan ruh kepada kita

Kita hadir kini berkat adanya cinta kasih

Hukum tunggal yang semestinya engka maklumkan

 

Di manakah pedulimu bila ada rasa berhak memilih

Bisakah engkau jelaskan secara jernih

Aku bukan sedang ingin menghakimimu

Sebab kita sedang berbicara tentang kepedulian

 

Ben Sadhana

 

 

 

Ben Sadhana, alias Benediktus Agung Widyatmoko dilahirkan di Yogyakarta pada 30 Maret 1972. Ia mengawali prestasi menulisnya ketika pada tahun 1989 karyanya berjudul Serba Ada Belum Tentu Sayang Anak berhasil memenangi lomba mengarang tingkat SMA se-Kalimantan Tengah dalam rangka peringatan hari anak nasional yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Kalimantan Tengah. Menjadi kontributor dalam buku Indonesia Memahami Kahlil Gibran yang diterbitkan oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) pada tahun 2011.Tahun 2009, Karyanya berjudul Becik Ketithik Ala Ketara meraih juara ke-2 Lomba Nasional Blog bertema Aku Untuk Negeriku.Karya puisinya berjudul Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai masuk sebagai nomine pemenang dalam Krakatau Award 2017.

Bermukim di Surabaya, Penulis penyuka travelling yang tergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG) ini dapat dikenal lebih jauh melalui blog pribadinya https://bentoelisan.wordpress.com dan juga email-nya : benwidyatmoko_agung@outlook.co.id.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

read more
Puisi

Mangumbai*

indonesia-2700382_1920

 

 

Pada tubuh biru itu,

yang kelak menerimaku dan nasib yang kian kerut ini.

Dan ikan-ikan disana

: Penunggu setia bagi doa dan seserahan

yang turut menemaniku menemui laut dan berkata

“Tersenyumlah bila bertemu laut, sebab ia bakal suamimu

bakal rumahmu.”

 

Akulah bunga bakal pengantin laut

yang kerap menangkup angin

meningkup matahari

menangkap doa-doa.

Dan warna pelangi meranggas

: Tumpang tindih bersama warna lain di kapal kencana

menggambarkan keyakinan serupa bulir cahaya lampu jalan

atau denting ranum hujan.

 

Maka padamu, lautku

jemputlah tubuh dalam kapal ini

bersama rona pelangi dan doa yang kusimpan dalam pundi

: Kepala Kerbau teman sepenantianku ini.

 

Lalu, mereka berdoa dan bersorai

begitu kau datang menarikku

ke dalam gelombang

dalam arus

dalam buih

dalam kau

dalam aku

: Ke kedalaman sunyi lagi asing

Maka dari laut, tuhanku

kuhantar seribu cita, seribu doa menjadi pundi

dalam kerbau yang tenggelam ke rumahmu di langit.

Keringat mereka yang bersorai sekilau kunang-kunang

kerap melukiskan harap, asa, luka atau kejatuhan

namun juga menggambar tawa, cita dan bahagia tersebab percaya

tuhan selalu berkunjung dan tinggal dimana saja.

 

Akulah bunga yang diperistri laut

sekarang tenggelam di tubuh suamiku.

Hanya ada biru, selain dari bau arus

Bau air

Bau pesisir

Bau gelombang

Bau kau

Bau kami

 

 

Lalu, doa dalam kerbau menjalar

lahir serupa ikan dan berenang ke langit.

Ikan-ikan doa bertemu tuhan

membawa asa

membawa asma yang berdenting serupa kata baru dieja

dari ranumku

: Dari kelopak yang tak lagi kerut baik disapu waktu atau keheningan.

 

Eko Ragil Ar-Rahman 
Riau 2017

 

*Terinspirasi dari tradisi Ngumbai Lawok, tradisi rakyat pesisir Lampung dalam mengucapkan syukur dengan melepas kepala kerbau yang disembelih ke tengah laut

read more
1 2
Page 1 of 2