close

Featured

FeaturedTERASWARA-WARA

Apa Sebenarnya Kebudayaan Indonesia?

Foto BBJ Kompas

Pada Kamis lalu (18/10/2018) telah diselenggarakan Diskusi Publik bertajuk Apa Sebenarnya Kebudayaan Indonesia?  Bertempat di Bentara Budaya Jakarta, diskusi menghadirkan pembicara Taufik Abdullah, Mohamad Sobary, Erros Djarot, dan Radhar Panca Dahana. Diskusi selanjutnya akan diadakan bertema Ideologi, Kebangsaan, Konstitusi, Kenegaraan, hingga Temu Akbar 3 pada akhir November 2018.

Berikut ringkasan masing-masing narasumber.

Prof Dr. Taufik Abdullah

Secara rinci menguraikan pemetaan tentang fase-fase sejarah Indonesia di dalam masingmasing periode proses pembentukan Kebudayaan Indonesia berlangsung. Menurut sejarahwan senior tersebut, saat ini proses pembentukan Kebudayaan Indonesia sedang berada dalam situasi crisis of mutual trust, crisis of crisis management, dan the spiral of stupidity, dan krisis toleransi. Fase ini berlangsung setelah era polemik kebudayaan yang melahirkan dua kelompok besar cendikiawan Indonesia, yaitu kelompok pro barat dan pro timur. Bagi kelompok pro barat, eropa kiblat peradaban dunia, dan kalau kita ingin memiliki kebudayaan yang adiluhung, maka kita harus menghadapkan segala visi ke barat. Sementara kekompok pro timur, masih memercayai bahwa masih banyak yang bisa digali dari timur, dan tidak perlu menghadap ke barat. Singkatnya di masa itu, diskursus pemikiran memberi kontribusi pada proses pembentukan kebudayaan Indonesia. Persoalannya, saat ini Indonesia semakin jauh dari iklim diskursus pemikiran itu, dan justru bergerak menuju kedangkalan demi kedangkalan. Alih-alih merumuskan kembali Apa itu Kebudayaan Indonesia, kita semakin kehilangan arah, semakin tersesat dalam situasi yang mencemaskan bagi masa depan Indonesia.

Mohamad Sobary

Budayawan ini menggunakan satria dan pandita dalam khazanah pewayangan Jawa untuk menggambarkan seperti apa masyarakat Indonesia menatap masa depan. Satria adalah karakter yang memandang kegemilangan di masa depan, sementara pandita justru masa depan itu di belakang, atau di masa silam. Dari dua kategori tersebut, menurut Sobary, yang paling diperlukan dalam proses pembentukan kebudayaan adalah resistensi atau perlawanan yang terukur terhadap segala bentuk arus utama. Dengan begitu, kita tidak bisa menerima begitu saja apa yang datang dari barat. Bagi Sobary, modal utama pembentukan kebudayaan Indonesia adalah resistensi yang tak henti-henti terhadap segala macam gagasan arus utama. Di titik itulah dapat ditentukan, apakah kita dapat survive dengan jati diri kultural atau justru terseret jauh ke dalam euforia eropasentrisme yang dianggap adiluhung itu.

Erros Djarot

Budayawan ini tidak secara eksplisit mendefinisikan Kebudayaan Indonesia, tapi menggunakan terminologi kehendak kebudayaan, untuk menjelaskan proses terbentuknya kebudayaan Indonesia. Menurut seniman film ini, kehendak kebudayaan itu sudah tercantum dalam mukaddimah pembukaan UUD 45 dengan prinsip-prinsip utama seperti antikolonial, antipenjajahan, dan negara berketuhanan. Kehendak kebudayaan tersebut, adalah sebuah indikator bahwa Kebudayaan Indonesia tersebut masih mungkin terbentuk, sepanjang diimplementasi dalam praktik-praktik kehidupan kewarganegaraan. Persaoalannya adalah, rumusan kehendak kebudayaan yang telah tertuang dalam dasar konstitusi tersebut, tidak berjalan sesuai dengan idealisasi yang ditanamkan oleh founding of the father. Dalam hal ini, Eros mempertanyakan siapa yang sungguh-sungguh mengamalkan butir-butir sila Pancasila hari ini? Pancasila hanya menjadi jargon di forum- forum formal-seremonial, dan tak tercermin dalam iklim demokrasi, apalagi dalam berbagai kebijakan staregis sebagai panduan kehidupan kewarganegaraan. Jadi sepanjang kehendak kebudayaan itu belum menjadi bagian yang inheren dalam kehidupan kewarganegaraan, maka wajah kebudayaan Indonesia yang didambakan itu tidak akan pernah terlihat.

Radhar Panca Dahana

Secara tegas budawayan cum teaterawan ini menggarisbahawi bahwa sejak dari kurun politik etis hingga era pemerintahan Jokowi, arah kebudayaan Indonesia sudah tersesat begitu jauh. Sebab, sejak jaman kolonial, Indonesia dibesarkan dalam keadaban Eropa kontinental, sementara masyarakat pra-Indonesia tumbuh dalam ekosistem kepulauan. Radhar menggunakan simbol gunung atau piramid untuk kebudayaan Eropa kontinental, dan simbol air atau pantai untuk kebudayaan maritim. Piramid adalah sebuah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya, sehingga perspektif mereka senantiasa berada dalam hierarki atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya. Sementara simbol air atau pantai, adalah tanda yang memperlakukan orang lain sama dengan kita. Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan orang pantai, prinsipnya adalah rata-rata air. Tidak ada satu kelompok pun yang boleh memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Di titik inilah muncul egalitarianisme sebagai tonggak utama terbentuknya masyarakat multikultural. Sejak dari fase perkembangan yang paling purba, masyarakat bahari sudah bercorak multikultural. Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan sebuah proposisi “Aku di dalam Kamu, Kamu di dalam Aku.”Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada di pangkuan keadaban kontinental. Maka, bagi Radhar, kebudayaan Indonesia adalah kebudayaan bahari yang harus dijemput kembali. Ia mengajak kita untuk kembali ke pangkal jalan, agar tidak tersesat lebih jauh lagi.

 

Jakarta, 19 Oktober 2018

Damhuri Muhammad

read more
FeaturedOASETERASWARA-WARA

Makan-Minum: Sebuah Drama Hidup dan Mati

Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018OASETERAS

Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya*

hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018TERAS

Lukisan Aku dalam Kamu dan Takdirnya

Lukisan & David Tobing

Jumat itu (21/9) langit Jakarta mendung. Di beberapa wilayah hujan deras. Sedianya pukul 10 pagi kami bertemu. Setuju mundur demi keamanan lukisan dari hujan dan turunannya, pertemuan menjadi pukul 1 siang.

Destinasi kami rumah David Tobing. Dia seorang pengacara perlindungan konsumen. Dia baru saja membeli satu lukisan dari Pameran Lukisan di Festival.

Mewakili Panitia Festival, kami bertiga datang. Abdiel, Setiyoko Hadi, pelukisnya, dan saya. Setiyoko berangkat dari Cinere memboyong lukisan Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku (AdKKdA). Lukisan berukuran 120 x 280 cm itu ajeg di atap mobilnya.

“Lima tahun saya mencari lukisan ukuran besar untuk di sini,” aku David Tobing, ketika kami bersama memperhatikan pemasangan pada dinding ruang makan lantai 2, di kediamannya, di bilangan Sentul.

Rumah Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) ini hanya ditinggali akhir pekan. Bernuansa Bali dan berornamen Batak pada beberapa sudutnya. Bagian muka rumah terpajang gorga yang menandai kebatakan dan profesi pemilik rumah. Pada gorga diukir neraca. Pada neraca tertera Amsal 11:1 pada sisi aksara Batak. Di bawahnya tertulis Sitiop Dasing Na So Ra Teleng. Artinya, pemegang timbangan yang tak kunjung oleng.

Ayah tiga anak ini mengaku tidak fanatik benda tertentu untuk mengisi rumahnya. Saat bepergian di dalam negeri atau luar negeri, ia hanya membeli benda yang dirasanya cocok ditempatkan di rumah keduanya itu. Sembilan jam dinding manual ia kumpulkan dari belahan dunia. Perisai beragam model. Lampu-lampu dengan lukisan kontemporer dari Paris. Lukisan 31 dari seratus pintu dari Turki. Pintu bermotif Madura. Kayu-kayu bekas rel kereta.

Lukisan AdKKdA istimewa karena judulnya mengilhami tema Festival. Pada ruang kanan lukisan adalah wajah Yesus yang diilhami Ecce Homo (Behold the Man) karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez (1858-1934). Pada ruang kiri kira-kira dua pertiga ukuran, terpampang 60 wajah “lain” Yesus ukuran kecil. AdKKdA dipamerkan selama dua minggu bersama 36 karya lain di Festival.

Setiyoko mulai memikirkan AdKKda sekitar tahun 2015. Sempat terhenti melukis karena mengurus hal lain. Bila dipadatkan, dua bulan waktu yang ia habiskan untuk melahirkan AdKKda. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana wajah Yesus sesungguhnya. Mengumpulkan wajah-wajah Yesus yang dilukis oleh pelukis belahan bumi mana pun. Dan tak satu pun sama. Dalam proses itu ia memahami makna kemahahadiran Tuhan. Bahwa kehadiranNya berbeda dan dipahami berbeda oleh tiap individu (baca: tiap budaya).

Bagi David Tobing, ketertarikannya pada lukisan itu sederhana. Selama pencarian ia tidak berpikir akan “berakhir” dengan wajah Yesus. Di lobi Grha Oikoumene PGI, tempat ia tidak sengaja lewat, ia melihat masa depan lukisan. Waktu itu pameran sudah selesai. Lukisan-lukisan sudah diturunkan dari panel.

AdKKda telah memilih David Tobing. Begitu pula sebaiknya. Menurutnya, penampilan beragam wajah Yesus adalah gagasan berani. Dan seyogyanyalah melihat wajah Yesus adalah dengan memandang sesama dari berbagai latar belakang.

Pelukis dan pemilik lukisan sama-sama berbagi senang. AdKKdA siap dinikmati dan ditafsir siapa pun yang mampir ke rumah eklektik sang pengacara. (is/26/9)

read more
FeaturedWARA-WARA

Majalah Litera Hadir di ASEAN Literary Festival

WhatsApp Image 2017-07-11 at 19.24.00

ASEAN Literary Festival kembali hadir untuk ke-4 kalinya, kali ini dengan Kota Tua Jakarta sebagai tuan rumahnya.

 

Panggilan untuk para kutu buku dan terutama pecinta sastra! Kosongkan jadual kalian pada 3-6 Agustus 2017 ini, karena Majalah Litera dan ASEAN Literary Festival akan hadir memanjakan kamu dengan bacaan berkualitas. Selain bisa mendapatkan Majalah Litera edisi terbaru, kamu juga bisa berkesempatan memenangkan aneka hadiah seru dalam tantangan Cerita Berantai ala Litera! Sampai bertemu di Kota Tua!

read more