close

GAYA

Galeri

Banten Biennale #01: Bata Keberanian dan Karang Keteguhan

Ill 1

Dari karya-karya yang dipamerkan, keberanian dan keteguhan mendapat ruang yang lebar dan mendalam. Gebar Sasmita, pelukis senior asal Pandeglang,  murid maestro Hendra Gunawan, menampilkan lukisan ekspresionistik berjudul Sungai Merah. Pelukis muda, Hilmi Fabeta, menampilkan The President Club: Introducing Mr. Sjaf dengan gaya realisme klasik. Keduanya seolah mewakili yang tua dan yang muda, bahwa sejarah Indonesia harus ditinjau ulang dan Banten menjadi pintu masuknya.

Menolak lupa adalah keberanian menerima sejarah sebagai pelajaran untuk melangkah dengan kejujuran dan keterbukaan. Aktor-aktor sejarah menjadi teladan yang otentik, luput dari gincu pencitraan yang meninabobokan generasi penerus bangsa. Gebar Sasmita mendorong bangsa ini tetap mengingat ketika sungai-sungai di Negeri menjadi semerah darah, agar peristiwa berdarah sepanjang republik ini berdiri, tidak terulang. Di sisi lain, Hilmi Fabeta mengingatkan bahwa Sjafroeddin Prawiranegara adalah Presiden RI ke-2, meski ia menjadi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kurang dari 7 bulan, namun posisinya menentukan eksistensi negeri kala itu. Tanpa keberanian Sjafroedin yang adalah putra Banten, sejarah Republik ini selesai dengan ditangkapnya Soekarno dan Hatta di Yogyakarta, dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.

Putra Banten sekaligus ulama Masyumi itu adalah Gubernur Bank Indonesia pertama. Namun sayang, rekam jejaknya digeser dari buku sejarah. Maka, untuk membangun negeri ini, untuk gawe nagari baluwarti, kita butuh keberanian menolak lupa. Revitalisasi kebudayaan bangsa harus dimulai dari rekonstruksi sejarah yang jujur.

Gawe Nagari Baluwarti

Banten Biennale #01 mengangkat tema Gawe Nagari Baluwarti. Tema ini bersumber dari moto kesultanan Banten dahulu, yakni gawe kuta baluwarti bata kalawng kawis  atau membangun benteng kota dengan bata dan karang. Bata adalah simbol keberanian dan karang adalah simbol keteguhan, dua arus yang mengalir menuju kerja-kerja pembangunan bangsa dan negara. Tak ada bangsa besar yang dibangun dari onggokan mentalitas pecundang seperti tak ada negara makmur tanpa keteguhan dalam kerja nyata.

Dalam karya instalasinya, Aidil Usman membangun susunan batu bata dalam ikatan-ikatan kecil dan rangka perahu dalam balutan benang warna-warni. Ia memberi petanda puncak peradaban Banten masa lalu pada kejayaan bidang maritim yang dibangun dengan semangat inklusivisme dalam penataan perniagaan hingga kebudayaan umumnya.

Dalam kondisi lebih terkini, karya Hendi Jalu yang berjudul White Army, dibentuk dari TV LCD 60 inci bekas, seolah menjadi respons atas strategi ketahanan budaya hari ini. Jalu menghadirkan wajah baru peperangan dalam era multimedia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyulut peperangan baru, yang memerlukan bentuk-bentuk diplomasi baru seperti tergambar dalam patung karya Inu Yushanan berjudul Diplomasi.

Patung yang dibangun dari pedestal kayu dengan tiga kaleng cat, mempresentasikan diplomasi-diplomasi kebudayaan perlu dihadirkan secara cair dan merembes ke bawah. Tanpa diplomasi budaya yang cair dan merembes ke berbagai sektor kehidupan, kegagapan masyarakat hari ini akan terjadi dalam bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, sebagaimana tersirat dalam lukisan karya Mhaex Maranoes Komunitas Tak Berjarak, Afriani Millenial, Ahmad Nazili The Hunted and the Forgotten, Angela Irena Lifestyle, Alfin Luthviandi Where Is My Door, Imelda Ameliasari With Us, Dik Doank  Populasi, Politik, Balance, dan Edo Pop Indek Peradaban Tubuh.

Untuk menata diri ke depan, Banten mulai mengeksplorasi pencapaian nilai-nilai spiritual yang transendental dan menancap sebagai akar tradisi yang unik. Para ulama dan jawara telah lebih dahulu mengilhami perjuangan Banten menjadi satu entitas dalam pergaulan masyarakat global abad 17 dan 18.  Hal itu tercermin dalam lukisan-lukisan karya Ade Pasker Moslem Theologian from Banten, Nuryasin Legenda (Rangkasbetung), Ibrohim Risalah Karangantu, Jamaluddin visuAl-Madad, dan Wita Delvi Berbagi Berkah.

Tanpa perhatian dan eksplorasi pencapaian peradaban masa silam, pengembangan kebudayaan ke depan akan mengalami disorientasi dan paradoks yang panjang. Hal tersebut diantisipasi dalam tiga karya fotografi Galih AP yang diberi judul Redefinisi Tanpa Pengindera, Nurhaipin La Manna Genggam Laten Kapitalisme, dan Raden Eka Sutrisna Seba Baduy. Foto-foto dengan teknik blur seolah mengingatkan cara kita mendefinisikan orang Banten yang masih belum jelas dalam konteks pluralisme sosial dan politik.

Pesta seni Banten Biennale #01 berlangsung di Museum Negeri Banten dan Taman Budaya Banten, pada 9-16 September 2017. Kegiatan itu telah meninggalkan kesan amat dalam bagi para perupa Banten dan masyarakat umum. Pesta seni ini pertama kali dalam sejarah Banten dan menyedot perhatian publik secara luas sehingga satu minggu pelaksanaan dipadati tamu, bahkan sebelum pintu dibuka, calon pengunjung sudah mengantre dengan sabar. Antusiasme ini dapat dikembangkan menjadi sebuah apresiasi dan kritik seni rupa nasional, juga harapan bagi pangsa pasar seni rupa Indonesia.

Banten Biennale #01 merupakan agenda pameran dan atraksi seni rupa yang menampilkan karya-karya fenomenal dan monumental perupa. Di sana-sini kita dapat menemukan pencapaian artistik luar biasa. Sesuai namanya, bienalle, kegiatan Banten Biennale akan berlangsung setiap 2 tahun.

Pameran menampilkan 60 perupa yang terdiri dari 40 peserta utama dan 20 peserta undangan. Selain dari Banten, perupa datang dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Ke-40 peserta adalah Achdi Gunawan, Ade Pasker, Ahmad Musoni, Alfin Luthviandi, Andru Agus Kamto, Angela, Arifin, Budiman, Catherine Nadia Alexandra, Deri Hamid, Deden Mulyana, Diki Arifiana, Galih, Gunawan, Hendi Jalu, Hance Saputra, Ibrohim, Ika Kurnia Mulyati, Imelda, Inu Yushanan, J.Budi Santoso, Jamaluddin, Maria Tiwiq, Mhaek Maranoes, MT Harsana, Mulyono, Munadi, Nur Yasin, R. Zaglix, Rachman, Raden Eka Sutrisna, RB Ali, Seno Purwanto Aji, Sudrajat, Asehuo, Tubagus Pathoni, Wahyudi, Wita Delvi, Yayat Lesmana, dan YB Roy.

Sebanyak 20 peserta undangan, yaitu Ali Bone, Aidil Usman, Ahmad Nazili, Afriani, Bedi Zubaedi (alm), Edi Bonetski, Edo Pop, Dik Doank, Gebar Sasmita, Hilmi Fabeta, Ibnu Alwan, Iwan Ismael, Kokok P. Sancoko, Komroden Haro, Leonardo SK (alm), Q’bro Pandam, Rady Bonek (alm), Sukamto, Uci Sanusi, dan Wahyu Widyantono.

*Chavchay Saefullah adalah Ketua Dewan Kesenian Banten periode 2017-2022

 

read more
Galeri

Quo Vadis, Sastra Indonesia?

WhatsApp Image 2017-12-03 at 02.44.41

Sebuah perbincangan yang perlu kita lakukan demi kemajuan Sastra Indonesia telah diadakan pada Minggu 3 Desember lalu di Balai Budaya. Seperti apa suasananya?

Acara yang mempertemukan Komunitas Apresiasi Sastra dan Majalah Litera itu berlangsung hangat dengan berbagai diskusi yang penting mengenai situasi Sastra Indonesia saat ini. Narasumber Saut Situmorang dan Nuruddin Asyhadie membuat para peserta tidak beranjak dari kursinya hingga acara berakhir (silakan simak isi diskusi di artikel Sastraku Sayang Sastraku Malang).

Komunitas ApSas sendiri dibentuk secara cair dari milis apresiasi sastra pada 5 Januari 2005.  Ada 7 moderator yang memotori, yaitu Hernadi Tanzil (Bandung), Yahya TP –Pemulung Cerita (Purwantoro), Dorsey Silalahi (Jakarta), Cak Bono (Surabaya), Mega Vristian dan Djodi Setiawan (dulu Hongkong, sekarang Jakarta), Sigit Susanto (Swiss).

ApSas sudah menerbitkan 3 buku: Selasar Kenangan (2007), Gempa Padang (2009), buku kumcer Apsas, The Graveside Ritual (2017), dan memiliki sejumlah acara tahunan:

  • Bedah 10 karya ApSas semalaman sudah berjalan selama 9 tahun di Jogyakarta.
  • Parade Obrolan Sastra. Di Boja, Jawa Tengah sudah berjalan 6 tahun. Yang pernah diundang Kurnia Effendi, Agus Noor, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Saut Situmorang, Wayan Jengki Sunarta, F Rahardi, Anindita, Shiho Sawai, Remy Silado, Iman Budhi Santosa, Martin Aleida
  • Sejak 2014, Kemah Sastra di Lereng Kebuh Teh Medini, sudah 3 kali. Narsum yang pernah diundang: Korrie Layun Rampan, Ahmadun Yosi Hermawan, Eka Kurniawan, Gus Tf dari Padang, Martin aleida (kedua kali), F. Rahardi dan Iman Budhi Santoso menjadi rutin hadir karena pernah bekerja di sini. Iman sebagai ketua afdeling, semacam sinder, manager dan F. Rahardi kepala SD persis di bawah pabrik teh medini.
  • Mei 2018, akan mengundang Triyanto Triwikromo untuk berbicara tentang Program Residensi di Berlin
  • Peserta pada umumnya mahasiswa sastra dari berbagai perguruan tinggi Semarang, UNY Jogya, dan UIN. Ada juga dari Tangerang dan Madura.

Sementara itu untuk yang mungkin belum mengenalnya, Majalah Litera adalah majalah yang mengusung tema-tema kemanusiaan-keberagaman-spiritualitas, dan menggabungkan sastra dan rupa. Terbit perdana Desember 2016, belum rutin terbit. Sampai saat ini telah terbit 3 edisi, Agustus dan September 2017. Situs resminya adalah Litera.id. Majalah Litera dan Litera.id menerima kiriman naskah cerpen dan puisi dan tulisan lain melalui email ke redaksi@litera.id atau literamagz@gmail.com.

Penulis yang pernah menulis di sini di antaranya Gerson Poyk, Iksaka Banu, Sanie B. Kuncoro, Hanna Rambe, Mario F. Lawi, Sunlie Thomas Alexander, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang, Jeli Manalu, Gayatri W.M, Bresman Siregar, dan banyak yang lain. Bulan ini akan menerbitkan buku kumpulan 11 cerpen pilihan Majalah Litera 2017. Majalah Litera digagas oleh Ita Siregar, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang.

 

read more
Galeri

Mengunjungi Komunitas Literasi di Kota Hujan

WhatsApp Image 2017-11-25 at 03.29.09

Kali ini, tim Majalah Litera melakukan perjalanan ke Kota Bogor nan sejuk untuk mengenal komunitas literasi yang hidup di kota mungil yang penuh pesona itu!

 

Pada hari Sabtu, 25 November 2017 kami hadir dalam rangka undangan mengupas buku terbaru sekaligus personal essay perdana karya Nur Utami, Berbagi Ruang. Acara digelar sore hari di Warung Hitz di Jalan Pajajaran, bersama komunitas Ngopi Buku: Menyoal Buku Sambil Ngopi. Ternyata komunitas ini telah rutin berkumpul, menyesap kopi legendaris Bogor, Liong Bulan, sambil membahas mengenai buku-buku terbaru. Dan betapa cocoknya kopi dan buku!

Redaktur Puisi Majalah Litera, Dedy Tri Riyadi, berbagi mengenai ‘bobot’ tersendiri yang terkandung dalam rangkaian tulisan-tulisan keseharian Utami; dalam tuturannya yang sederhana, terkandung ilmu-ilmu yang bernas! Membaca buku terasa seperti kuliah Komunikasi beberapa SKS. Sangat terasa kekayaan ilmu Nur Utami, yang dengan murah hati itu amalkan dan bagikan pada masyarakat dalam bahasa yang mudah dikunyah, bahkan oleh pembaca paling awam sekalipun.

Redaktur Online Majalah Litera, Olivia Elena Hakim, mengekspresikan apresiasinya atas Nur Utami yang percaya pada proses, dimana buku ini merupakan kumpulan tulisan selama bertahun-tahun. Di era digital, karya literasi yang hadir dalam kemasan tercetak masih memiliki pesona dan kualitas tersendiri karena tidak instan. Bergizi, seperti slow-cooking.

Acara ditutup dengan diskusi, tanya-jawab dan ramah-tamah ditemani hidangan yang lezat sementara semilir angin Kota Bogor makin terasa. Kebersamaan yang indah! Sampai berjumpa di event Ngopi Buku berikutnya, yang akan membahas antologi puisi Kang Dedy Tri Riyadi, Berlatih Solmisasi. 

 

read more
Galeri

Peluncuran Bambu Spa Tebet

bambu3
Pada tanggal 18 November 2017 lalu, Bambu Spa Tebet membuka pintunya untuk pertama kali, dan mulai melayani para klien dengan berbagai paket spa berkualitas, dari ujung kepala ke ujung kaki!
Bambu Spa Tebet merupakan cabang terbaru dari PT Bambu Ayu Sejati dengan desain terbaru,  terlengkap dalam hal varian paket spa: Hair Spa Salon, Heritage Indonesia Spa, Luxury Spa, Waxing, Women Care Treatments (Slimming, Bust Treatment, V-Spa), Relaxation, Pre-Wedding Spa Package, dan Kids Spa.
Selain itu di cabang Bambu Spa yang terletak di Tebet Timur Raya 91 C ini, disediakan fasilitas Kids Area, Musholla, sarana parkir dan free-wifi beserta Area Healthy Juice yang sangat cocok dikombinasikan dengan paket perawatan terbaru Bambu Spa, yakni Slimming Bambu.
Tim manajemen berharap dengan dibukanya cabang @bambuspatebet dapat mengobati rasa rindu para pelanggan setia mereka di Jakarta Selatan dan menyediakan pilihan tempat spa terbaru dengan pelayanan unik,tapi harga terjangkau.  Meski ekonomis, Bambu Spa menjamin fasilitas serta pelayanan mereka tetap bintang 5. Pssst….ada promosi pembukaan khusus hanya selama bulan November ini!
Cantik Hatimu, Cantik Parasmu, Sukses Menantimu.
Salam Cantik selalu,
www.bambuspa.co.id
WA: 081294282880
IG: @bambuspaindonesia
FB: Bambu Spa
read more
Galeri

Pendaftaran (ulang) Anggota Satupena

WhatsApp Image 2017-11-17 at 16.23.44

Mengingat makin banyaknya minat publik untuk menjadi anggota, sekaligus bagian dari proses administratif pasca Kongres I Satupena di Solo pada awal 2017 yang lalu, maka dengan ini kami para pengurus mengimbau kepada rekan-rekan untuk mendaftar ulang keanggotaannya. Dengan pendaftaran ulang ini diharapkan Satupena memiliki data mutakhir yang jelas dan terarah.

Dipersilakan semua anggota yang ada dalam WAG SATUPENA INDONESIA untuk mendaftar sebagai anggota reguler. Setelah mendaftar Anda dianggap telah mendapat hak dan kewajiban yang sama, misalnya untuk berbagai kepentingan individual maupun institusional, termasuk sebagai rekomendator anggota baru selanjutnya.

Berikut syarat-syarat keanggotaan Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA):
1. Warga Negara Indonesia, baik yang tinggal di dalam dan di luar negeri. Penulis warga negara asing dapat menjadi anggota khusus sesuai syarat yang diberlakukan dalam akte notaris.
2. Telah menulis setidaknya 1 (satu) buku ber-ISBN dan/atau menulis setidaknya 2 (dua) artikel, esai, karya sastra di media massa nasional dan/atau menerbitkan tulisan akademik di jurnal dengan ISSN dan/atau yang terakreditasi.
3. Melampirkan salinan cover dan sinopsis buku dan/atau artikel yang dimaksud pada poin nomor 2. Lampiran dapat berupa salinan soft copy yang dikirim ke surel pengurus dan/atau tautan kepada buku dan/atau artikel yang dimaksud.
4. Bagi penulis media daring harus dapat menunjukan konsistensi produktivitas sedikitnya menulis 12 artikel publik dalam 12 bulan.
5. Mendapat rekomendasi dari 3 anggota Satupena.
6. Bersedia menjadi anggota dengan memenuhi berbagai syarat dan menyetujui visi misi organisasi.
7. Mengisi dan melengkapi formulir keanggotaan yang telah disiapkan oleh organisasi, secara online yakni pada alamat http://bit.ly/PENDAFTARAN-SATUPENA atau mengirimnya ke alamat email Satupena: perkumpulansatupena@gmail.com
8. Membayar iuran keanggotaan sebesar Rp200.000,00 per tahun. Iuran langsung ditransfer ke: Bank BII no rekening 2 596 003 855 – a.n. Satupena.

Setiap anggota berhak dan berkewajiban atas hal-hal sebagai berikut:
1. Informasi terbaru asosiasi.
2. Mendapat Perlindungan Hukum dari Asosiasi, selama tidak melanggar hukum negara Republik Indonesia dan/atau melanggar norma kesusilaan.
3. Kartu Tanda Anggota dan pin keanggotaan.
4. Mengikuti program/kegiatan asosiasi (pendidikan, latihan, muhibah, book fair, dll. atas nama asosiasi).
5. Berhak mendapat rekomendasi yang bersifat organisasional untuk keperluan yang masing-masing personal dalam konteks penulisan, baik ke luar negeri maupun ke forum-forum kepenulisan.
6. Mendapat keuntungan usaha yang dilakukan oleh asosiasi yang dikelola oleh divisi usaha/ koperasi.
7. Berhak menjadi tim khusus atau representasi asosiasi dalam hal-hal atau isu-isu yang sedang kontekstual (misalnya soal pajak, persekusi, hoax news dan lain lain)
8. Menjunjung kode etik Satupena.
9. Bagi anggota yang belum memiliki BPJS Kesehatan, Pengurus Satupena dapat memediasi keikutsertaan bersama dengan BEKRAF dengan pembayaran premium yang lebih murah.
Segala hak anggota akan diberlakukan setelah melunasi iuran keanggotaaan.

Jakarta, 20 November 2017
Atas nama Pengurus Pusat Satupena
Ketua Umum Satupena
Bendahara Umum
Sekretaris Umum I & II

read more
Galeri

Diskusi Buku dengan Secangkir Kopi

Foto Diskusi Rida 2

Penyair Rida K. Liamsi meluncurkan dan mendiskusikan bukunya yang bertajuk Secangkir Kopi Sekanak di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/11).

Lantunan Andong khas Gayo meningkahi pembacaan puisi penyair L.K. Ara tentang Serambi Mekah karya Rida K. Liamsi.

Selain L.K. Ara, penyair kelahiran Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943 itu juga mengundang penyair lain seperti Rini Intama, Asrizal Nur, Ewith Bahar, Jimmy S. Johansyah dan Hoesnizar Hood di momen peluncuran buku puisinya di Perpustakaan Nasional Lantai 2 Jl. Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

Membuka acara, Rinidiyanti Ayahbi, melantun dengan petikan gitar karya Rida dalam sajian musikalisasi puisi.

Setelah itu penyair Sutardji Calzoum Bachri meluncurkan buku Rida. Lelaki yang berjuluk Presiden Penyair itu mengungkap tugas penyair yang membangkitkan kata-kata yang semula terendam lalu mencipta sejarah dan membuat kata-kata menjadi hidup.

Di acara, juga ditayangkan kehidupan kepenyairan Rida yang bernama asli Ismail Kadir. Kedekatannya dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri kemudian membuat lelaki yang dikenal sebagai pengusaha ini terus menulis dan karyanya dimuat di berbagai media massa, membaca di beberapa tempat dan dibukukan.

Tentang proses kreatif, pada momen diskusi, Rida mengatakan bahwa ketika menjadi pengusaha, dia mengaku setiap tahun selalu saja ada yang dikerjakan membuat perusahaan. Ketika tak ada ruang untuk membuat perusahaan maka dia pun berniat untuk membuat buku setiap tahunnya.

“Itu saya lakukan untuk mengobati kegelisahan saya, mediumnya adalah buku. Saya tak terlalu produktif. Tempuling itu puisi hampir 25 tahun. Kalau ada puisi tak bagus maka saya drop atau tarik kembali. Di buku ini pun sempat 29 puisi lalu saya cari kembali untuk menjadi 30 puisi,” kata pendiri Yayasan Hari Puisi juga lembaga penggerak kebudayaan seperti Yayasan Sagang dan Yayasan Jembia Emas.

Dia pun mengatakan bahwa menulis puisi tak selalu di tempat sepi, bisa saja dia menulisnya di warung kopi. “Saya terus menulis puisi, tak akan berhenti. Menulis puisi sampai mati,” paparnya.

Tentang Sejarah dan Anak Muda

Diskusi buku sesi pertama Secangkir Kopi Sekanak dimoderatori Sofyan RH Zaid,  menampilkan Ahmadun Yosi Herfanda dan Hasan Aspahani.

Ahmadun mengatakan, dalam buku ini Rida dominan mengangkat sejarah. Puisi ini menurutnya hampir kesemuanya disajikan dalam bentuk puisi naratif dan dalam strukturnya disajikan seolah berbentuk paragraf. “Pak Rida banyak menulis sejarah karena minatnya ke sana. Ini berpeluang untuk abadi sebagaimana abadinya puisi,” ujarnya sambil menyebut penyair Leon Agusta dan Chairil Anwar sebagai penyair yang kerap mengangkat tema sejarah.

Meski banyak menyerap bahasa Melayu, dalam pola pengucapan, menurut Ahmadun, Rida tak lagi mempertahankan pola pantun melainkan nuansa kontemporer yang terasa sekali. “Rida membebaskan ikatan struktur teks terutama rima pantun a-b-a-b. Kalau puisi diibaratkan gadis, puisi Rida tak lagi mengenakan kostum Melayu. Jadi Melayukah puisi ini? Lalu apakah sastra Melayu harus pantun dan gurindam, bagaimana dengan puisi yang kontemporer?” katanya, retoris.

Penyair Hasan Aspahani, membuka pendapat dengan mengutip dari sajak Chairil Anwar bertajuk “Rumahku”. “Sajak adalah rumah penyair, kita dari luar dapat melihat penyair lagi ngapain. Seolah Chairil berkata, saya dapat melihat ke luar tapi hai pembaca, kalian pun dapat melihat ngapain saya di dalam. Meski kerap dikatakan, sajak tak selalu berhubungan dengan kehidupan penyairnya, tapi pendapat Chairil dapat dilakukan,” paparnya.

Di “rumah”nya pada kumpulan puisi Tempuling, dapat dilihat bagaimana seorang Rida. Kehidupan laut, ombak, narasi maritim, nampak dalam karya. Di buku puisinya yang kedua, bertajuk Perjalanan Kelekatu, terlihat perjalanannya yang mulai mengglobal seperti kunjungan ke Gedung Putih atau ke tempat lain, meski tak semua tempat dia tulis dalam bentuk sajak.

“Pada buku ketiga Secangkir Kopi Sekanak, pada puisi Kucing Musim Sakal membuat saya ambil kesimpulan bahwa penyair berusia 74 tahun ini sama sekali tak terkesan tua. Pada puisi itu terkesan (ditulis) anak muda, lincah bahkan tak adanya melulu bicara soal kematian. Ada sedikit terselip hal itu, tapi ditulis tetap bersemangat dan tak dalam suasana dicekam maut,” Hasan menambahkan.

Pembicara lain, Fakhrunnas MA Jabbar dan Kurnia Effendi yang mengisi diskusi sesi kedua, juga mengulik teks buku Secangkir Kopi Sekanak sekaligus membicarakan proses kreatif karyanya, sekaligus interaksi Rida dengan kemelayuan.

Kurnia Effendi mengatakan bahwa karya Rida bertema intens mengangkat warna lokal yang justru menjadi kekhasan sekaligus kekuatan dia. Kekuatan tutur dan melodius dengan memunculkan kata-kata arkhaik, denyut kemelayuan nampak dalam puisi Rida, dijabarkan oleh Fakhrunas MA Jabbar. “Hal lain yang nampak adalah semangat orang yang meski telah dikalahkan tetap berjuang, nafas dan semangat perlawanan selalu nampak di dalam karyanya,” pungkas Fakhrunas. (sihar ramses simatupang)

 

 

*Foto oleh Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang

read more
Galeri

Lounge ‘Casual Business’ di Tengah Kota Jakarta

22 Sky Lounge

Terletak di daerah Jakarta Barat yang dikelilingi oleh kawasan sejarah dan kuliner, Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta memperkenalkan lounge terbaru untuk memenuhi kebutuhan yang mulai meningkat akan keperluan tempat untuk sekedar bersantai atau melakukan pertemuan bisnis yang informal.

Oleh karena itu, konsep “Casual Business Lounge” pun diusung oleh salah satu lounge tertinggi di kawasan ini, yaitu 22 Sky Lounge yang mendeskripsikan tinggi lantai yaitu di lantai 22 yang dapat menampilkan view terbaik sehingga para tamu dapat menikmati pemandangan mulai dari sekitar tengah kota Jakarta, hingga panorama laut dari sekitar Ancol.

Lounge merupakan salah satu point kelebihan dari sebuah hotel yang perlu untuk dikembangkan. Sebab itu, kami merencanakan dan menyiapkan sebuah konsep baru, yang berbeda dari lounge pada umumnya, untuk menciptakan kesegaran yang baru di kalangan masyarakat,” ucap Dhaniel H. Prabowo selaku General Manager dari Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

Letak posisi yang strategis dan pemandangan yang memukau menjadi daya tarik sendiri, terlebih dengan hadirnya event Friday Memory Jazz pada setiap Jumat yang dimulai dari pukul 19.00 – 22.00 WIB. Event ini menjadi sebagai salah satu dari rangkaian konsep baru dari 22 Sky Lounge dimana akan ada live music performance dengan genre music jazz dan easy listening, untuk menemani hari Senin – Sabtu Anda.

Selain itu, konsep menu makanan signature yang ditawarkan 22 Sky Lounge adalah western a la fusion, peleburan antara menu tradisional dan western seperti Sushi Rendang, Tekwan Norwegian Salmon, Pepes Salmon Rempah dan Es Teller Mousse untuk hidangan penutupnya. Dengan menghadirkan konsep unik dan live music performance diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan menumbuhkan ketertarikan bagi para tamu maupun masyarakat sekitar.

Bagi para tamu yang menginap di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta, khususnya yang menginap di tipe kamar ExecutivePremierePremiere Suite – serta Santika Suite akan mendapatkan benefit untuk akses ke 22 Sky Lounge secara gratis. Kenikmatan dan kenyamanan yang diciptakan oleh 22 Sky Lounge dapat menjadi pilihan terbaik saat anda berada di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

read more
Buku

Milenial Membaca Mirah

Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

read more
Galeri

Selamat Ulang Tahun Eyang Tersayang: Sebuah Kompetisi Menulis Surat

surat untuk eyang

Hotel Santika Premier Bintaro mengadakan kompetisi menulis surat yang unik, khusus untuk anak-anak!

 

Ya, dalam program ini, anak-anak ditantang untuk menulis sepucuk surat ungkapan rasa sayang dengan tema “Selamat Ulang Tahun Eyang Tersayang”. Anak-anak, yang disyaratkan berusia 7 – 14 tahun, diharapkan terbiasa mengungkapkan rasa sayang, harapan, cerita menyenangkan dan hal lain yang membahagiakan hati Kakek atau Nenek, dengan usia diatas 65 tahun, di hari ulang tahun mereka, dalam selembar surat.  Peserta cukup menyertakan data diri, surat ijin orang tua dan melampirkan foto terbaru bersama Kakek atau Nenek yang akan berulang tahun.

“Menulis surat merupakan kegiatan kreatif yang tidak boleh dilupakan. Ungkapan hati akan lebih menyentuh dalam bentuk tulisan. Menulis untuk mengungkapkan rasa sayang kepada Kakek atau Nenek tercinta akan menjadi pintu restu bagi masa depan anak-anak kita. Program ini untuk mengajak anak berkreasi sekaligus bentuk rasa sayang dan hormat kepada warga senior dari generasi masa depan”, ujar Ariestra, General Manager, Hotel Santika Premiere Bintaro.

Program ini berlangsung hingga 30 November, 2017. Hasil karya dapat dikirimkan secara langsung melalui email di: pr@bintaropremiere.santika.com. Peserta yang terbaik akan mendapatkan kesempatan menginap 1 malam di Connecting Room Hotel Santika Premiere Bintaro bersama orang tua serta tentu saja Kakek dan Nenek tercinta yang sedang merayakan hari ulang tahunnya.

read more
Buku

Calabai yang Menjadi Bissu

calabai

1

Epos tertulis La Galigo -naskah sastra terpanjang di dunia dengan 225.000 baris- bandingkan dengan 200.000 baris Mahabharata– senantiasa melibatkan peran bissu dan Puang Matoa (pemimpin bissu) dalam cerita, sebagai pembantu kalangan bangsawan menjalankan segala upacara.

Bissu, tokoh spiritual dalam tradisi Bugis –masih ada sampai sekarang meski tanpa Puang Matoa- sebelumnya adalah calabai. Calabai, dalam bahasa Bugis, adalah laki-laki dengan jiwa perempuan.  Bissu dianggap telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya.

Semua bissu adalah calabai namun tidak semua calabai dapat menjadi bissu karena alasan-alasan kemurnian dan bakat spiritual. Kebanyakan bissu adalah laki-laki meski bissu pertama  -konon adalah We Tanrieabeng dalam naskah La Galigo- adalah perempuan, saudara kembar Sawerigading.

Buku ini mengisahkan biografi bissu secara umum dan proses seorang calabai bernama Saidi menjadi bissu, kemudian Puang Matoa. Saidi lahir di kampung Waekeccee, Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia memiliki naluri calabai sejak kecil. Ayahnya telah melakukan segala sesuatu untuk menormalkan Saidi menjadi laki-laki sejati, namun sia-sia.

Usia 17 tahun, Saidi merantau ke Segeri, kabupaten Pangkep, tempat komunitas bissu berada. Masyarakat di sini memiliki tradisi memanggil bissu untuk memimpin upacara panen, memanggil hujan, dan yang serupa. Di lain tempat, bissu diburu oleh sekelompok ekstremis Islam –dalam hal ini peristiwa DI/TII di Sulawesi Selatan, yang menganggap bissu adalah syirik.

Setelah mengalami banyak pengalaman rohani yang diluar akal, Saidi diangkat Puang Matoa. Bakat dan kepekaannya sebagai spiritualis mengangkat komunitas bissu kembali berjaya di masyarakat. Berawal seorang peneliti Makassar yang mengundang Saidi tampil di televisi lokal, seorang teaterawan Inggris mengajaknya tur dalam pertunjukan I La Galigo, ke kota-kota besar dunia.

Popularitas bissu yang mendunia itu membawa banyak masalah di kalangan bissu. Puang Matoa Saidi mengundurkan diri sebelum selesai tur, karena sakit. Ia kembali bertirakat dalam rangka mengembalikan kedamaian di komunitas bissu. Akhirnya pada usia 53 tahun, ia menutup usia karena sakit. Sejak itu sampai sekarang belum lagi dilantik Puang Matoa selanjutnya.

2

Bagaimana seorang waria alias banci alias transvestite menjadi pendeta? Pertanyaan dan keterkejutan yang sama menerpa saya ketika pertama kali mengenal bissu dari film dokumenter tentang Puang Matoa Saidi, di satu kegiatan sastra di Bali, tahun 2005. Dalam satu dialog di di film itu mengisahkan Saidi berkata kepada seorang laki-laki muda, bahwa  keberadaan mereka sebagai calabai bukanlah sebuah aib karena tidak ada yang tahu, apakah Tuhan itu laki-laki dan perempuan.

Menjelaskan hal mendasar tersebut, buku ini memanfaatkan pertemuan Puang Matoa Saidi dengan seorang kiai, untuk menjelaskan perilaku homoseksual yang dilaknat oleh agama –dalam hadis dituliskan Allah melaknat tindakan Nabi Luth. Kata tindakan di sana menjadi kata kunci bahwa kecenderungan seksual adalah perkara jiwa. Hasrat yang bersifat naluriah, sama sekali tidak bisa diatur dan sudah terlahir demikian (hal. 301).

Sementara homoseksual yang dikenal dalam masyarakat modern lebih pada penerimaan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar tradisi pernikahan dalam perspektif agama, yaitu melanjutkan keturunan. Peran dan keberadaan bissu akan terus tergerus akibat menyempitnya pemahaman tentang keberagaman keberadaan manusia.

Tindakan kelompok yang merasa lebih bermoral dan mengikutsertakan nama Tuhan sambil meniadakan eksistensi manusia lain, sungguhlah menyedihkan dan tak tertahan arusnya. Buku karangan Pepi Al-Bauyqunie ini layak dibaca oleh kalangan siapa pun selain fakta mengatakan buku ini termasuk dalam nominasi Kusala Literary Award 2017. Pengarang Pepi telah memberi gambaran yang mulia tentang peran bissu dalam masyarakat kuno dan pemahaman yang penuh hormat tentang kehidupan bissu. (is)

 

Judul Buku: Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki

Penulis : Pepi Al-Bayqunie

Penerbit: JAVANICA

Cetakan I: Oktober 2016

383 halaman

 

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4