close

GAYA

Galeri

Pameran Seni Rupa: Keadilan dan Perdamaian di Awal Tahun

WhatsApp Image 2018-01-05 at 17.11.55

 

Tiga puluh seniman berkarya dengan berbagai medium dan gaya mengusung tema keadilan dan perdamaian di Gedung Balai Budaya Jakarta yang bersejarah.

Awal tahun diisi dengan semangat perdamaian dan lantang menyuarakan keadilan.
Inilah pesan yang diselipkan 30 seniman yang menggelar rangkaian pameran bertajuk Solidarity Peace and Justice di Balai Budaya, sejak 4 hingga 11 Januari 2018. “Ini merupakan silaturahmi kami di awal tahun,” ujar RB Ali kepada Litera di pembukaan pameran, Kamis (4/1).
Ali menampilkan karya bertajuk Keseimbangan dengan karya  menyerupai nuansa kubisme. Sebagaimana pendapatnya, inilah ikatan para seniman membaca gejolak lokal, nasional dan global belakangan ini.


Kegelisahan tentang keadilan dan perdamaian diperlihatkan oleh Idris Brandy dengan obyek timbangan  berukuran besar dan manusia mini yang meliuk menyerupai zigot. Judul karya terasa menyindir, Timbang Menimbang tak Berimbang. “Kebetulan obyeknya sama dengan tema yang disepakati. Aku sedang menangkap kondisi bangsa yang terjadi sekarang ini,” ujar perupa yang merintis Studio Bongkar Otak di Tangerang itu.
Karya pameran 30 perupa menghasilkan beragam obyek. Aisul Yanto  menyertakan karya berjudul Energi Perdamaian menampilkan abstraksi hitam-putih, Syahnagra Ismail mengusung karya bertajuk Doa dari Pinggir Sawah yang memperlihatkan nuansa pointilisme – titik di antara lukisan menjadi bidang warna. Syahnagra, kini nampak lebih tenang dalam menuangkan abstraksi lanskap. Tak begitu riuh, baik dalam pilihan warna dan guratan.
Para seniman menampilkan karya yang beragam. Permaknaan yang universal ini tak hanya di karya yang verbal tapi juga yang bernuansa abstrak sebagaimana pada karya Cak Kandar bertajuk Forever Happy, FX Jeffrey sumampouw lukisan Percakapan Kemaren dan Sri Warso Wahono bertajuk Optimisme.

Perupa Edy Bonetski membuat karya media campuran dengan panel terpisah yang menarik perhatian pengunjung dengan karya bertajuk Bonetski Kode.  Tak hanya dengan kanvas, dia  menjadikan kaos sebagai medium.
Seniman lain yang ikut serta di pameran ini adalah Ahmad Musoni, Anfield Wibowo, Ireng Halimun, Anthony Sutanto, Koko Rajasa, AR Sudarto, Maria Tiwi, Bambang Win, Remy Silado, Chrisnanda Dwilaksana, Ridwan Manantik, Daniel Rudi Haryanto, Robby Lukita, Satya B Pranaya, Egi Sae, Emmy Go, Sohieb Toyaroja, Greg Susanto, Yahya TS, Ika Umy Hay dan Yayat Lesmana.

Energi Positif
Bagi Aisul Yanto, perupa yang  menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Balai Budaya Jakarta ini, kesemua rekannya telah memancarkan greget dan fibrasi dalam karyanya, dari taksu masing-masing ke penjuru ruang dan kehidupan dengan energi positif.
Kondisi sosial saat ini, antara mayoritas dan minoritas belakangan cenderung ingin menguasai atau memanipulasi situasi yang ada. Keduanya berhadapan untuk saling menguasai, saling menegaskan keberadaan masing-masing. Bagi Aisul, seharusnya hal itu tidak terjadi, bila masing-masing mengedepankan rasa kebersamaan, perdamaian dan keadilan. Tegasnya, di sinilah posisi seniman, untuk menyikapi situasi tadi.
Ika Ismurdiyahwati yang lulusan S-2 dan S-3 di Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung mengatakan pameran seniman di Balai Budaya Jakarta sekalugus juga untuk menghidupkan kembali tempat yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia.
Menurutnya, menjadikan keberadaan Balai  Budaya semakin membumi bagi kita adalah bermakna juga mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa depan. Agar menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat sebagai bangsa yang besar: Indonesia. *

 

Oleh: Sihar Ramses Simatupang

read more
Serba-Serbi

Obituari: Ibu Dr Dorothy Irene Marx (16 Februari 1923-17 Desember 2017)

Ibu Dorothy Marx

Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.
–Mazmur 113:9

Pagi di Wisma Nav Dago Pojok Bandung itu hening dan dingin. Saya duduk membaca sambil berselimut. Setelah beberapa waktu saya bangkit ke jendela untuk memeriksa keadaan udara di luar. Jendela terbuka lebar dan mata saya segera disambut oleh sesosok tubuh yang sedang berdiri menatap ke kejauhan. Tetangga kamar saya. Tadinya saya berpikir saya sendiri yang menginap di sini.

Rambut orang itu pendek ikal berwarna perak. Ataukah uban? Tubuhnya kurus, kecil. Ia menoleh ke arah saya, dan kami sama-sama tersenyum, sama-sama mengangguk. Wajah itu saya kenali. Ibu Dorothy Marx, yang banyak diceritakan teman-teman ITB.

“Ibu Dorothy Marx?” sapa saya.

Iya mengiyakan, bertanya, “Anda siapa?”

Saya menyebutkan nama. Saya bilang saya mengenali wajah dan namanya dari cerita teman-teman persekutuan. Ketika saya menjawab pertanyaan Ibu soal urusan saya menginap di Wisma itu, dia berkata, “Pekerjaan yang menarik. Silakan bekerja, maaf mengganggu,” lalu ia undur diri.

Itulah perjumpaan tiga menit saya dengan Ibu Dr. Dorothy Irene Marx.

Hari Minggu tanggal 17 Desember Ibu Dorothy Marx berpulang ke rumah Bapa. Halaman WA hape saya mengabarkan itu, di beberapa grup. Secara emosi saya tidak merasa terganggu karena saya tidak mengenalnya. Kecuali obrolan singkat di jendela pagi itu.

Karena itu saya tak berencana melayat. Namun seorang teman memberitahu agenda ibadah penghiburan oleh OMF. Saya sekarang bagian kecil dari OMF –lembaga pertama Ibu ke Indonesia- jadilah saya hadir. Barulah di Rumah Duka Husada, saya mengenal sedikit lagi tentang Ibu Dorothy.

Beberapa orang bergantian menceritakan pengalaman indah mereka bersama Ibu. Selama tiga hari disemayamkan di Rumah Duka, kamar duka dipadati mereka yang mengenal Ibu. Kesaksian demi kesaksian terus mengalir tak berhenti, pengalaman-pengalaman yang sungguh indah, bersama Ibu.

Semua itu memberi saya potongan-potongan kisah tentang siapa Ibu. Tetapi saya berhutang cerita pada Pendeta RAS Pandiangan –Pak Kaleb Tong menganggap Pak RAS anak angkat Ibu, yang membuat saya mengenal Ibu secara lengkap, saat itu.

Pak RAS Pandiangan adalah mahasiswa teologi di Duta Wacana Yogyakarta. Ia mahasiswa semester 6 ketika menghadiri KKR 5 hari yang dilayani oleh Ibu Dorothy.

Dalam mendengarkan penjelasan dan khotbah Ibu, Pak RAS bingung. Apa yang dia pahami selama ini tentang keyakinannya, menjadi tidak jelas. Karena itu ketika ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Ibu, dialah yang pertama unjuk jari.

Di hadapan Ibu Dorothy, Pak RAS mengakui kebingungannya setelah mendengar khotbah Ibu, yang ditanggapi Ibu Dorothy dengan tenang dan berkata, “Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Air mata dan ingus berleleran berderai-derai membanjiri pipi dan seluruh wajah Pak RAS, saat Ibu Dorothy berdoa untuknya, sehingga ia repot betul mengelapnya dengan ujung bajunya. Doa yang pendek tapi menggempur dada mahasiswa yang masih hijau tanpa ampun. Setelah itu ia merasa dirinya melayang menyusul sukacita besar yang memenuhi seluruh dirinya, entah apa.

Dari peristiwa itu, di perpustakaan kampus, Pak RAS memutuskan untuk berhadapan sendiri dengan Tuhan, berbicara seperti laki-laki, menunggu Tuhan menjawabnya. Dia sungguh tak tahan dengan segala perasaan yang mengubek-ubek hatinya menjadi melankolik dan ringan sekaligus.

Tiba-tiba dalam dialog mereka berdua itu, Pak RAS melihat sebuah penglihatan, seperti slide yang nampak di dinding perpustakaan, persis di depan dirinya duduk. Slide yang menyatakan semua kesalahan yang pernah dia lakukan termasuk mencuri jambu tetangga, menyontek, berbohong, dan lainnya —sebuah daftar yang panjang. Ia mencatat dengan pensil dengan kekuatan tangannya, sampai ia berseru, “Berhenti, tangan saya pegal”, barulah slide itu berhenti, berganti tulisan I Yoh 3: 1, yang kemudian diketahuinya berbunyi, “Tengoklah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan memang kita adalah anak-anak Allah.”

Itulah awal relasi mereka sebagai ibu-anak yang intim, secara spiritual.

Bahwa selama tiga hari Ibu disemayamkan di rumah duka, dan para pelayat mengisahkan hubungan-hubungan pribadi mereka dengan Ibu, Pak RAS menyimpulkan bahwa sedikit apa pun persentuhan seseorang dengan Ibu, ada energi di dalam diri Ibu yang terpancar keluar, yang tidak pernah padam, tak pernah kompromi, tak pernah berhenti, untuk menjadi hamba Yesus, Tuhannya.

Energi yang kuat, pun secara jasmani. Ibu Dorothy bersepeda sepanjang 14 km Bandung-Cimahi tanpa kepayahan, meski hanya sedikit asupan makan, sedikit tidur, tetapi banyak berlutut di atas bantal doanya. Itulah sebuah rahasia kekuatan, yang tak pernah menjadi rahasia.

Ibu Dorothy, seorang keturunan Yahudi yang memenuhi panggilan Tuhan, pergi ke Indonesia pada usia 30 tahun, menanggalkan kewarganegaraan Inggrisnya tanpa ragu, menjadi Indonesia dan membela Indonesia dengan kebenaran, sebagai hamba Tuhan yang setia dan tak berhenti mencintai. Ia bersentuhan dengan banyak lembaga banyak gereja banyak sekolah banyak pemuda banyak hati. Dengan energi yang tak tergoncangkan, yang ia dapat dari Langit.

Di ruang duka yang berdraperi bernuansa putih-ungu yang agung, harum lembut dari wangi bebungaan mawar putih, pink, oranye, lily, seruni kecil, chrysanthemum, aster putih, sedap malam, daun kubis, daun bunga kol, pandan iris, kuncup melati, setiap orang merayakan Ibu. Saling menghibur saling  menghangatkan hati. Bila tak diatur, mungkin kesaksian-kesaksian tentang Ibu dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia, takkan selesai sampai besok, atau lusa. Belum pernah saya merasa sedemikian betah, di rumah duka.

Di pagi hujan jam 10 ini, Ibu akan diberangkatkan dari GKI Gunung Sahari, menuju San Diego Hills, untuk dimakamkan. Rumah jasadnya. Sementara dirinya telah bersama Yesus, cinta satu-satunya Ibu.  Selamat jalan, Ibu. Berharap mengenal Ibu sedikit lagi kelak, di rumah Bapa. (itasiregar, 20des2017)

read more
Galeri

Banten Biennale #01: Bata Keberanian dan Karang Keteguhan

Ill 1

Dari karya-karya yang dipamerkan, keberanian dan keteguhan mendapat ruang yang lebar dan mendalam. Gebar Sasmita, pelukis senior asal Pandeglang,  murid maestro Hendra Gunawan, menampilkan lukisan ekspresionistik berjudul Sungai Merah. Pelukis muda, Hilmi Fabeta, menampilkan The President Club: Introducing Mr. Sjaf dengan gaya realisme klasik. Keduanya seolah mewakili yang tua dan yang muda, bahwa sejarah Indonesia harus ditinjau ulang dan Banten menjadi pintu masuknya.

Menolak lupa adalah keberanian menerima sejarah sebagai pelajaran untuk melangkah dengan kejujuran dan keterbukaan. Aktor-aktor sejarah menjadi teladan yang otentik, luput dari gincu pencitraan yang meninabobokan generasi penerus bangsa. Gebar Sasmita mendorong bangsa ini tetap mengingat ketika sungai-sungai di Negeri menjadi semerah darah, agar peristiwa berdarah sepanjang republik ini berdiri, tidak terulang. Di sisi lain, Hilmi Fabeta mengingatkan bahwa Sjafroeddin Prawiranegara adalah Presiden RI ke-2, meski ia menjadi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kurang dari 7 bulan, namun posisinya menentukan eksistensi negeri kala itu. Tanpa keberanian Sjafroedin yang adalah putra Banten, sejarah Republik ini selesai dengan ditangkapnya Soekarno dan Hatta di Yogyakarta, dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.

Putra Banten sekaligus ulama Masyumi itu adalah Gubernur Bank Indonesia pertama. Namun sayang, rekam jejaknya digeser dari buku sejarah. Maka, untuk membangun negeri ini, untuk gawe nagari baluwarti, kita butuh keberanian menolak lupa. Revitalisasi kebudayaan bangsa harus dimulai dari rekonstruksi sejarah yang jujur.

Gawe Nagari Baluwarti

Banten Biennale #01 mengangkat tema Gawe Nagari Baluwarti. Tema ini bersumber dari moto kesultanan Banten dahulu, yakni gawe kuta baluwarti bata kalawng kawis  atau membangun benteng kota dengan bata dan karang. Bata adalah simbol keberanian dan karang adalah simbol keteguhan, dua arus yang mengalir menuju kerja-kerja pembangunan bangsa dan negara. Tak ada bangsa besar yang dibangun dari onggokan mentalitas pecundang seperti tak ada negara makmur tanpa keteguhan dalam kerja nyata.

Dalam karya instalasinya, Aidil Usman membangun susunan batu bata dalam ikatan-ikatan kecil dan rangka perahu dalam balutan benang warna-warni. Ia memberi petanda puncak peradaban Banten masa lalu pada kejayaan bidang maritim yang dibangun dengan semangat inklusivisme dalam penataan perniagaan hingga kebudayaan umumnya.

Dalam kondisi lebih terkini, karya Hendi Jalu yang berjudul White Army, dibentuk dari TV LCD 60 inci bekas, seolah menjadi respons atas strategi ketahanan budaya hari ini. Jalu menghadirkan wajah baru peperangan dalam era multimedia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyulut peperangan baru, yang memerlukan bentuk-bentuk diplomasi baru seperti tergambar dalam patung karya Inu Yushanan berjudul Diplomasi.

Patung yang dibangun dari pedestal kayu dengan tiga kaleng cat, mempresentasikan diplomasi-diplomasi kebudayaan perlu dihadirkan secara cair dan merembes ke bawah. Tanpa diplomasi budaya yang cair dan merembes ke berbagai sektor kehidupan, kegagapan masyarakat hari ini akan terjadi dalam bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, sebagaimana tersirat dalam lukisan karya Mhaex Maranoes Komunitas Tak Berjarak, Afriani Millenial, Ahmad Nazili The Hunted and the Forgotten, Angela Irena Lifestyle, Alfin Luthviandi Where Is My Door, Imelda Ameliasari With Us, Dik Doank  Populasi, Politik, Balance, dan Edo Pop Indek Peradaban Tubuh.

Untuk menata diri ke depan, Banten mulai mengeksplorasi pencapaian nilai-nilai spiritual yang transendental dan menancap sebagai akar tradisi yang unik. Para ulama dan jawara telah lebih dahulu mengilhami perjuangan Banten menjadi satu entitas dalam pergaulan masyarakat global abad 17 dan 18.  Hal itu tercermin dalam lukisan-lukisan karya Ade Pasker Moslem Theologian from Banten, Nuryasin Legenda (Rangkasbetung), Ibrohim Risalah Karangantu, Jamaluddin visuAl-Madad, dan Wita Delvi Berbagi Berkah.

Tanpa perhatian dan eksplorasi pencapaian peradaban masa silam, pengembangan kebudayaan ke depan akan mengalami disorientasi dan paradoks yang panjang. Hal tersebut diantisipasi dalam tiga karya fotografi Galih AP yang diberi judul Redefinisi Tanpa Pengindera, Nurhaipin La Manna Genggam Laten Kapitalisme, dan Raden Eka Sutrisna Seba Baduy. Foto-foto dengan teknik blur seolah mengingatkan cara kita mendefinisikan orang Banten yang masih belum jelas dalam konteks pluralisme sosial dan politik.

Pesta seni Banten Biennale #01 berlangsung di Museum Negeri Banten dan Taman Budaya Banten, pada 9-16 September 2017. Kegiatan itu telah meninggalkan kesan amat dalam bagi para perupa Banten dan masyarakat umum. Pesta seni ini pertama kali dalam sejarah Banten dan menyedot perhatian publik secara luas sehingga satu minggu pelaksanaan dipadati tamu, bahkan sebelum pintu dibuka, calon pengunjung sudah mengantre dengan sabar. Antusiasme ini dapat dikembangkan menjadi sebuah apresiasi dan kritik seni rupa nasional, juga harapan bagi pangsa pasar seni rupa Indonesia.

Banten Biennale #01 merupakan agenda pameran dan atraksi seni rupa yang menampilkan karya-karya fenomenal dan monumental perupa. Di sana-sini kita dapat menemukan pencapaian artistik luar biasa. Sesuai namanya, bienalle, kegiatan Banten Biennale akan berlangsung setiap 2 tahun.

Pameran menampilkan 60 perupa yang terdiri dari 40 peserta utama dan 20 peserta undangan. Selain dari Banten, perupa datang dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Ke-40 peserta adalah Achdi Gunawan, Ade Pasker, Ahmad Musoni, Alfin Luthviandi, Andru Agus Kamto, Angela, Arifin, Budiman, Catherine Nadia Alexandra, Deri Hamid, Deden Mulyana, Diki Arifiana, Galih, Gunawan, Hendi Jalu, Hance Saputra, Ibrohim, Ika Kurnia Mulyati, Imelda, Inu Yushanan, J.Budi Santoso, Jamaluddin, Maria Tiwiq, Mhaek Maranoes, MT Harsana, Mulyono, Munadi, Nur Yasin, R. Zaglix, Rachman, Raden Eka Sutrisna, RB Ali, Seno Purwanto Aji, Sudrajat, Asehuo, Tubagus Pathoni, Wahyudi, Wita Delvi, Yayat Lesmana, dan YB Roy.

Sebanyak 20 peserta undangan, yaitu Ali Bone, Aidil Usman, Ahmad Nazili, Afriani, Bedi Zubaedi (alm), Edi Bonetski, Edo Pop, Dik Doank, Gebar Sasmita, Hilmi Fabeta, Ibnu Alwan, Iwan Ismael, Kokok P. Sancoko, Komroden Haro, Leonardo SK (alm), Q’bro Pandam, Rady Bonek (alm), Sukamto, Uci Sanusi, dan Wahyu Widyantono.

*Chavchay Saefullah adalah Ketua Dewan Kesenian Banten periode 2017-2022

 

read more
Galeri

Quo Vadis, Sastra Indonesia?

WhatsApp Image 2017-12-03 at 02.44.41

Sebuah perbincangan yang perlu kita lakukan demi kemajuan Sastra Indonesia telah diadakan pada Minggu 3 Desember lalu di Balai Budaya. Seperti apa suasananya?

Acara yang mempertemukan Komunitas Apresiasi Sastra dan Majalah Litera itu berlangsung hangat dengan berbagai diskusi yang penting mengenai situasi Sastra Indonesia saat ini. Narasumber Saut Situmorang dan Nuruddin Asyhadie membuat para peserta tidak beranjak dari kursinya hingga acara berakhir (silakan simak isi diskusi di artikel Sastraku Sayang Sastraku Malang).

Komunitas ApSas sendiri dibentuk secara cair dari milis apresiasi sastra pada 5 Januari 2005.  Ada 7 moderator yang memotori, yaitu Hernadi Tanzil (Bandung), Yahya TP –Pemulung Cerita (Purwantoro), Dorsey Silalahi (Jakarta), Cak Bono (Surabaya), Mega Vristian dan Djodi Setiawan (dulu Hongkong, sekarang Jakarta), Sigit Susanto (Swiss).

ApSas sudah menerbitkan 3 buku: Selasar Kenangan (2007), Gempa Padang (2009), buku kumcer Apsas, The Graveside Ritual (2017), dan memiliki sejumlah acara tahunan:

  • Bedah 10 karya ApSas semalaman sudah berjalan selama 9 tahun di Jogyakarta.
  • Parade Obrolan Sastra. Di Boja, Jawa Tengah sudah berjalan 6 tahun. Yang pernah diundang Kurnia Effendi, Agus Noor, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Saut Situmorang, Wayan Jengki Sunarta, F Rahardi, Anindita, Shiho Sawai, Remy Silado, Iman Budhi Santosa, Martin Aleida
  • Sejak 2014, Kemah Sastra di Lereng Kebuh Teh Medini, sudah 3 kali. Narsum yang pernah diundang: Korrie Layun Rampan, Ahmadun Yosi Hermawan, Eka Kurniawan, Gus Tf dari Padang, Martin aleida (kedua kali), F. Rahardi dan Iman Budhi Santoso menjadi rutin hadir karena pernah bekerja di sini. Iman sebagai ketua afdeling, semacam sinder, manager dan F. Rahardi kepala SD persis di bawah pabrik teh medini.
  • Mei 2018, akan mengundang Triyanto Triwikromo untuk berbicara tentang Program Residensi di Berlin
  • Peserta pada umumnya mahasiswa sastra dari berbagai perguruan tinggi Semarang, UNY Jogya, dan UIN. Ada juga dari Tangerang dan Madura.

Sementara itu untuk yang mungkin belum mengenalnya, Majalah Litera adalah majalah yang mengusung tema-tema kemanusiaan-keberagaman-spiritualitas, dan menggabungkan sastra dan rupa. Terbit perdana Desember 2016, belum rutin terbit. Sampai saat ini telah terbit 3 edisi, Agustus dan September 2017. Situs resminya adalah Litera.id. Majalah Litera dan Litera.id menerima kiriman naskah cerpen dan puisi dan tulisan lain melalui email ke redaksi@litera.id atau literamagz@gmail.com.

Penulis yang pernah menulis di sini di antaranya Gerson Poyk, Iksaka Banu, Sanie B. Kuncoro, Hanna Rambe, Mario F. Lawi, Sunlie Thomas Alexander, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang, Jeli Manalu, Gayatri W.M, Bresman Siregar, dan banyak yang lain. Bulan ini akan menerbitkan buku kumpulan 11 cerpen pilihan Majalah Litera 2017. Majalah Litera digagas oleh Ita Siregar, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang.

 

read more
Galeri

Mengunjungi Komunitas Literasi di Kota Hujan

WhatsApp Image 2017-11-25 at 03.29.09

Kali ini, tim Majalah Litera melakukan perjalanan ke Kota Bogor nan sejuk untuk mengenal komunitas literasi yang hidup di kota mungil yang penuh pesona itu!

 

Pada hari Sabtu, 25 November 2017 kami hadir dalam rangka undangan mengupas buku terbaru sekaligus personal essay perdana karya Nur Utami, Berbagi Ruang. Acara digelar sore hari di Warung Hitz di Jalan Pajajaran, bersama komunitas Ngopi Buku: Menyoal Buku Sambil Ngopi. Ternyata komunitas ini telah rutin berkumpul, menyesap kopi legendaris Bogor, Liong Bulan, sambil membahas mengenai buku-buku terbaru. Dan betapa cocoknya kopi dan buku!

Redaktur Puisi Majalah Litera, Dedy Tri Riyadi, berbagi mengenai ‘bobot’ tersendiri yang terkandung dalam rangkaian tulisan-tulisan keseharian Utami; dalam tuturannya yang sederhana, terkandung ilmu-ilmu yang bernas! Membaca buku terasa seperti kuliah Komunikasi beberapa SKS. Sangat terasa kekayaan ilmu Nur Utami, yang dengan murah hati itu amalkan dan bagikan pada masyarakat dalam bahasa yang mudah dikunyah, bahkan oleh pembaca paling awam sekalipun.

Redaktur Online Majalah Litera, Olivia Elena Hakim, mengekspresikan apresiasinya atas Nur Utami yang percaya pada proses, dimana buku ini merupakan kumpulan tulisan selama bertahun-tahun. Di era digital, karya literasi yang hadir dalam kemasan tercetak masih memiliki pesona dan kualitas tersendiri karena tidak instan. Bergizi, seperti slow-cooking.

Acara ditutup dengan diskusi, tanya-jawab dan ramah-tamah ditemani hidangan yang lezat sementara semilir angin Kota Bogor makin terasa. Kebersamaan yang indah! Sampai berjumpa di event Ngopi Buku berikutnya, yang akan membahas antologi puisi Kang Dedy Tri Riyadi, Berlatih Solmisasi. 

 

read more
Galeri

Peluncuran Bambu Spa Tebet

bambu3
Pada tanggal 18 November 2017 lalu, Bambu Spa Tebet membuka pintunya untuk pertama kali, dan mulai melayani para klien dengan berbagai paket spa berkualitas, dari ujung kepala ke ujung kaki!
Bambu Spa Tebet merupakan cabang terbaru dari PT Bambu Ayu Sejati dengan desain terbaru,  terlengkap dalam hal varian paket spa: Hair Spa Salon, Heritage Indonesia Spa, Luxury Spa, Waxing, Women Care Treatments (Slimming, Bust Treatment, V-Spa), Relaxation, Pre-Wedding Spa Package, dan Kids Spa.
Selain itu di cabang Bambu Spa yang terletak di Tebet Timur Raya 91 C ini, disediakan fasilitas Kids Area, Musholla, sarana parkir dan free-wifi beserta Area Healthy Juice yang sangat cocok dikombinasikan dengan paket perawatan terbaru Bambu Spa, yakni Slimming Bambu.
Tim manajemen berharap dengan dibukanya cabang @bambuspatebet dapat mengobati rasa rindu para pelanggan setia mereka di Jakarta Selatan dan menyediakan pilihan tempat spa terbaru dengan pelayanan unik,tapi harga terjangkau.  Meski ekonomis, Bambu Spa menjamin fasilitas serta pelayanan mereka tetap bintang 5. Pssst….ada promosi pembukaan khusus hanya selama bulan November ini!
Cantik Hatimu, Cantik Parasmu, Sukses Menantimu.
Salam Cantik selalu,
www.bambuspa.co.id
WA: 081294282880
IG: @bambuspaindonesia
FB: Bambu Spa
read more
Galeri

Pendaftaran (ulang) Anggota Satupena

WhatsApp Image 2017-11-17 at 16.23.44

Mengingat makin banyaknya minat publik untuk menjadi anggota, sekaligus bagian dari proses administratif pasca Kongres I Satupena di Solo pada awal 2017 yang lalu, maka dengan ini kami para pengurus mengimbau kepada rekan-rekan untuk mendaftar ulang keanggotaannya. Dengan pendaftaran ulang ini diharapkan Satupena memiliki data mutakhir yang jelas dan terarah.

Dipersilakan semua anggota yang ada dalam WAG SATUPENA INDONESIA untuk mendaftar sebagai anggota reguler. Setelah mendaftar Anda dianggap telah mendapat hak dan kewajiban yang sama, misalnya untuk berbagai kepentingan individual maupun institusional, termasuk sebagai rekomendator anggota baru selanjutnya.

Berikut syarat-syarat keanggotaan Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA):
1. Warga Negara Indonesia, baik yang tinggal di dalam dan di luar negeri. Penulis warga negara asing dapat menjadi anggota khusus sesuai syarat yang diberlakukan dalam akte notaris.
2. Telah menulis setidaknya 1 (satu) buku ber-ISBN dan/atau menulis setidaknya 2 (dua) artikel, esai, karya sastra di media massa nasional dan/atau menerbitkan tulisan akademik di jurnal dengan ISSN dan/atau yang terakreditasi.
3. Melampirkan salinan cover dan sinopsis buku dan/atau artikel yang dimaksud pada poin nomor 2. Lampiran dapat berupa salinan soft copy yang dikirim ke surel pengurus dan/atau tautan kepada buku dan/atau artikel yang dimaksud.
4. Bagi penulis media daring harus dapat menunjukan konsistensi produktivitas sedikitnya menulis 12 artikel publik dalam 12 bulan.
5. Mendapat rekomendasi dari 3 anggota Satupena.
6. Bersedia menjadi anggota dengan memenuhi berbagai syarat dan menyetujui visi misi organisasi.
7. Mengisi dan melengkapi formulir keanggotaan yang telah disiapkan oleh organisasi, secara online yakni pada alamat http://bit.ly/PENDAFTARAN-SATUPENA atau mengirimnya ke alamat email Satupena: perkumpulansatupena@gmail.com
8. Membayar iuran keanggotaan sebesar Rp200.000,00 per tahun. Iuran langsung ditransfer ke: Bank BII no rekening 2 596 003 855 – a.n. Satupena.

Setiap anggota berhak dan berkewajiban atas hal-hal sebagai berikut:
1. Informasi terbaru asosiasi.
2. Mendapat Perlindungan Hukum dari Asosiasi, selama tidak melanggar hukum negara Republik Indonesia dan/atau melanggar norma kesusilaan.
3. Kartu Tanda Anggota dan pin keanggotaan.
4. Mengikuti program/kegiatan asosiasi (pendidikan, latihan, muhibah, book fair, dll. atas nama asosiasi).
5. Berhak mendapat rekomendasi yang bersifat organisasional untuk keperluan yang masing-masing personal dalam konteks penulisan, baik ke luar negeri maupun ke forum-forum kepenulisan.
6. Mendapat keuntungan usaha yang dilakukan oleh asosiasi yang dikelola oleh divisi usaha/ koperasi.
7. Berhak menjadi tim khusus atau representasi asosiasi dalam hal-hal atau isu-isu yang sedang kontekstual (misalnya soal pajak, persekusi, hoax news dan lain lain)
8. Menjunjung kode etik Satupena.
9. Bagi anggota yang belum memiliki BPJS Kesehatan, Pengurus Satupena dapat memediasi keikutsertaan bersama dengan BEKRAF dengan pembayaran premium yang lebih murah.
Segala hak anggota akan diberlakukan setelah melunasi iuran keanggotaaan.

Jakarta, 20 November 2017
Atas nama Pengurus Pusat Satupena
Ketua Umum Satupena
Bendahara Umum
Sekretaris Umum I & II

read more
Galeri

Diskusi Buku dengan Secangkir Kopi

Foto Diskusi Rida 2

Penyair Rida K. Liamsi meluncurkan dan mendiskusikan bukunya yang bertajuk Secangkir Kopi Sekanak di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/11).

Lantunan Andong khas Gayo meningkahi pembacaan puisi penyair L.K. Ara tentang Serambi Mekah karya Rida K. Liamsi.

Selain L.K. Ara, penyair kelahiran Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943 itu juga mengundang penyair lain seperti Rini Intama, Asrizal Nur, Ewith Bahar, Jimmy S. Johansyah dan Hoesnizar Hood di momen peluncuran buku puisinya di Perpustakaan Nasional Lantai 2 Jl. Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

Membuka acara, Rinidiyanti Ayahbi, melantun dengan petikan gitar karya Rida dalam sajian musikalisasi puisi.

Setelah itu penyair Sutardji Calzoum Bachri meluncurkan buku Rida. Lelaki yang berjuluk Presiden Penyair itu mengungkap tugas penyair yang membangkitkan kata-kata yang semula terendam lalu mencipta sejarah dan membuat kata-kata menjadi hidup.

Di acara, juga ditayangkan kehidupan kepenyairan Rida yang bernama asli Ismail Kadir. Kedekatannya dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri kemudian membuat lelaki yang dikenal sebagai pengusaha ini terus menulis dan karyanya dimuat di berbagai media massa, membaca di beberapa tempat dan dibukukan.

Tentang proses kreatif, pada momen diskusi, Rida mengatakan bahwa ketika menjadi pengusaha, dia mengaku setiap tahun selalu saja ada yang dikerjakan membuat perusahaan. Ketika tak ada ruang untuk membuat perusahaan maka dia pun berniat untuk membuat buku setiap tahunnya.

“Itu saya lakukan untuk mengobati kegelisahan saya, mediumnya adalah buku. Saya tak terlalu produktif. Tempuling itu puisi hampir 25 tahun. Kalau ada puisi tak bagus maka saya drop atau tarik kembali. Di buku ini pun sempat 29 puisi lalu saya cari kembali untuk menjadi 30 puisi,” kata pendiri Yayasan Hari Puisi juga lembaga penggerak kebudayaan seperti Yayasan Sagang dan Yayasan Jembia Emas.

Dia pun mengatakan bahwa menulis puisi tak selalu di tempat sepi, bisa saja dia menulisnya di warung kopi. “Saya terus menulis puisi, tak akan berhenti. Menulis puisi sampai mati,” paparnya.

Tentang Sejarah dan Anak Muda

Diskusi buku sesi pertama Secangkir Kopi Sekanak dimoderatori Sofyan RH Zaid,  menampilkan Ahmadun Yosi Herfanda dan Hasan Aspahani.

Ahmadun mengatakan, dalam buku ini Rida dominan mengangkat sejarah. Puisi ini menurutnya hampir kesemuanya disajikan dalam bentuk puisi naratif dan dalam strukturnya disajikan seolah berbentuk paragraf. “Pak Rida banyak menulis sejarah karena minatnya ke sana. Ini berpeluang untuk abadi sebagaimana abadinya puisi,” ujarnya sambil menyebut penyair Leon Agusta dan Chairil Anwar sebagai penyair yang kerap mengangkat tema sejarah.

Meski banyak menyerap bahasa Melayu, dalam pola pengucapan, menurut Ahmadun, Rida tak lagi mempertahankan pola pantun melainkan nuansa kontemporer yang terasa sekali. “Rida membebaskan ikatan struktur teks terutama rima pantun a-b-a-b. Kalau puisi diibaratkan gadis, puisi Rida tak lagi mengenakan kostum Melayu. Jadi Melayukah puisi ini? Lalu apakah sastra Melayu harus pantun dan gurindam, bagaimana dengan puisi yang kontemporer?” katanya, retoris.

Penyair Hasan Aspahani, membuka pendapat dengan mengutip dari sajak Chairil Anwar bertajuk “Rumahku”. “Sajak adalah rumah penyair, kita dari luar dapat melihat penyair lagi ngapain. Seolah Chairil berkata, saya dapat melihat ke luar tapi hai pembaca, kalian pun dapat melihat ngapain saya di dalam. Meski kerap dikatakan, sajak tak selalu berhubungan dengan kehidupan penyairnya, tapi pendapat Chairil dapat dilakukan,” paparnya.

Di “rumah”nya pada kumpulan puisi Tempuling, dapat dilihat bagaimana seorang Rida. Kehidupan laut, ombak, narasi maritim, nampak dalam karya. Di buku puisinya yang kedua, bertajuk Perjalanan Kelekatu, terlihat perjalanannya yang mulai mengglobal seperti kunjungan ke Gedung Putih atau ke tempat lain, meski tak semua tempat dia tulis dalam bentuk sajak.

“Pada buku ketiga Secangkir Kopi Sekanak, pada puisi Kucing Musim Sakal membuat saya ambil kesimpulan bahwa penyair berusia 74 tahun ini sama sekali tak terkesan tua. Pada puisi itu terkesan (ditulis) anak muda, lincah bahkan tak adanya melulu bicara soal kematian. Ada sedikit terselip hal itu, tapi ditulis tetap bersemangat dan tak dalam suasana dicekam maut,” Hasan menambahkan.

Pembicara lain, Fakhrunnas MA Jabbar dan Kurnia Effendi yang mengisi diskusi sesi kedua, juga mengulik teks buku Secangkir Kopi Sekanak sekaligus membicarakan proses kreatif karyanya, sekaligus interaksi Rida dengan kemelayuan.

Kurnia Effendi mengatakan bahwa karya Rida bertema intens mengangkat warna lokal yang justru menjadi kekhasan sekaligus kekuatan dia. Kekuatan tutur dan melodius dengan memunculkan kata-kata arkhaik, denyut kemelayuan nampak dalam puisi Rida, dijabarkan oleh Fakhrunas MA Jabbar. “Hal lain yang nampak adalah semangat orang yang meski telah dikalahkan tetap berjuang, nafas dan semangat perlawanan selalu nampak di dalam karyanya,” pungkas Fakhrunas. (sihar ramses simatupang)

 

 

*Foto oleh Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang

read more
Galeri

Lounge ‘Casual Business’ di Tengah Kota Jakarta

22 Sky Lounge

Terletak di daerah Jakarta Barat yang dikelilingi oleh kawasan sejarah dan kuliner, Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta memperkenalkan lounge terbaru untuk memenuhi kebutuhan yang mulai meningkat akan keperluan tempat untuk sekedar bersantai atau melakukan pertemuan bisnis yang informal.

Oleh karena itu, konsep “Casual Business Lounge” pun diusung oleh salah satu lounge tertinggi di kawasan ini, yaitu 22 Sky Lounge yang mendeskripsikan tinggi lantai yaitu di lantai 22 yang dapat menampilkan view terbaik sehingga para tamu dapat menikmati pemandangan mulai dari sekitar tengah kota Jakarta, hingga panorama laut dari sekitar Ancol.

Lounge merupakan salah satu point kelebihan dari sebuah hotel yang perlu untuk dikembangkan. Sebab itu, kami merencanakan dan menyiapkan sebuah konsep baru, yang berbeda dari lounge pada umumnya, untuk menciptakan kesegaran yang baru di kalangan masyarakat,” ucap Dhaniel H. Prabowo selaku General Manager dari Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

Letak posisi yang strategis dan pemandangan yang memukau menjadi daya tarik sendiri, terlebih dengan hadirnya event Friday Memory Jazz pada setiap Jumat yang dimulai dari pukul 19.00 – 22.00 WIB. Event ini menjadi sebagai salah satu dari rangkaian konsep baru dari 22 Sky Lounge dimana akan ada live music performance dengan genre music jazz dan easy listening, untuk menemani hari Senin – Sabtu Anda.

Selain itu, konsep menu makanan signature yang ditawarkan 22 Sky Lounge adalah western a la fusion, peleburan antara menu tradisional dan western seperti Sushi Rendang, Tekwan Norwegian Salmon, Pepes Salmon Rempah dan Es Teller Mousse untuk hidangan penutupnya. Dengan menghadirkan konsep unik dan live music performance diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan menumbuhkan ketertarikan bagi para tamu maupun masyarakat sekitar.

Bagi para tamu yang menginap di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta, khususnya yang menginap di tipe kamar ExecutivePremierePremiere Suite – serta Santika Suite akan mendapatkan benefit untuk akses ke 22 Sky Lounge secara gratis. Kenikmatan dan kenyamanan yang diciptakan oleh 22 Sky Lounge dapat menjadi pilihan terbaik saat anda berada di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

read more
Buku

Milenial Membaca Mirah

Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4