close

GAYA

GAYA

Seorang Lelaki dari Nazaret: Cerita dan Kenangan

The Robe

Judul : The Robe (Jubah Kristus)
Penulis : Lloyd C. Douglas
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Pertama, 2018
Tebal : 940 halaman
ISBN : 978-602-03-8136-7
Yesus telah mewahyukan ingatan bagi orang-orang terdekat dan terkasih. Dari ingatan orang-orang yang bersaksi, kita merasakan kembali jiwa cerita dari raga yang pernah tersalib. Lloyd C. Douglas dalam novel 940 halaman, The Robe atau Jubah Kristus (2018), meramu kembali cerita-cerita yang bermuara dari mulut ke mulut, dari pengingatan ke kenangan. Cerita tentang Yesus serupa legenda bagi orang-orang di masanya dan bahkan sanggup menciptakan kenangan bagi orang-orang di masa kini. Kematian di kayu salib semakin menghidupkan risalah tentang kasih, keindahan, ketercukupan, syukur, berbagi. Lelaki tukang kayu dari Nazaret itu telah menyemai benih-benih bunga kebaikan di setiap ucap yang disabdakan dan raga yang diadakan.
Di pengantar, Andrew M. Greeley mengingat bahwa cara bertutur Douglas yang rasional dan natural atas mukjizat Yesus, sempat membuat novel mendapatkan cela begitu diterbitkan. Greeley membaca The Robe saat berumur 14 tahun dan mengalami dilema kepercayaan sekaligus pengalaman religius yang wah. Penuturan tidak langsung dari Douglas justru tidak menjadikan tokoh-tokoh dalam kitab suci sebagai manusia super di awang-awang. Cara ini membuat para sosok suci menjadi sedemikian manusiawi, dekat, dan tidak berjarak dengan mukjizat yang memang sulit dinalar. Bagi Greeley, Douglas mempertahankan apa yang sangat penting di dalam diri Yesus: diri-Nya yang tidak seperti apa yang disangka orang, kemampuan-Nya mengejutkan orang, serta ketidaksediaan-Nya yang membingungkan untuk menyesuaikan diri ke dalam kategori apa pun yang berusaha kita gunakan untuk menangkap dan memahami-Nya. Dengan narasi, dan tidak melulu dalil falsafah atau pakem teologis, Douglas mengantarkan pada keterkejutan.
Dalam novel ini, dua tokoh yang dibuat terkejut itu, Marcellus sang Panglima Legiun Romawi dan budaknya, Demetrius. Demetrius adalah tokoh Douglas yang mewakili suara perbudakan dari Yunani oleh kedigdayaan Romawi. Ia dipilih untuk menjembatani pengaminan Marcellus atas Yesus. Sejak Marcellus ditugaskan Pilatus menyalib Yesus atas perintah Gubernur Herodes tanpa mengerti sebab keterhukuman, ia menjadi frustrasi dan sial. Apalagi, Marcellus memenangkan jubah Yesus lewat undi-undi. Jubah yang tidak diharapkan membawa rasa ngeri dan bersalah bertubi, tapi sekaligus menjadi jubah keagungan yang menyembuhkan. Jubah Kristus mengantarkan Marcellus ke tempat-tempat Yesus pernah singgah. Ia mendengarkan tentang Yesus dari orang-orang yang pernah bertemu, berteman, dan terciprat mukjizat.
Ketuntasan rasa bersalah Marcellus pun berakhir ketersentuhan yang dilematis, pertempuran antara logika dan mukjizat. Sudah berminggu-minggu benda itu melambangkan kejahatan yang dilakukannya, sekaligus hukuman yang harus diterimanya. Sekarang benda itu melambangkan kebebasannya. Penyesalannya telah mencapai puncak takaran, dan sudah saatnya dia meninggalkan kejahatan itu di belakangnya. pada jubah itu hanya menandai berakhirnya hukuman atas mentalnya. Dia tidak akan mengakui jubah itu mengandung semacam kekuatan.
Rasa Mengenali
Demetrius duluan mengamini Yesus dalam keterhubungan batin yang tercipta hanya dari pandangan mata. Kita bisa merasakan bahwa saat itu adalah momentum yang liris seolah Demetrius bertemu seorang terkasih yang lama tidak dijumpai. Saat itu, Demetrius juga turut ke Yerusalem saat orang-orang Yahudi merayakan Paskah tahunan di bulan Nisan. Demetrius menyaksikan arak-arakan pengikut-pemuja Yesus yang justru menampakkan wajah sedih dan gundah dari Sang Kristus. Ia seperti tidak ingin disanjung penuh gempita sekaligus histeria seolah raja.
Dari wajah itulah, Demetrius takzim merekam rasa mengenali Yesus. Kita cerap, Namun, dengan cara tak terlukiskan, sepasang mata itu mencengkeram Demetrius begitu kuat hingga seperti memaksa secara fisik. Pesan yang terkandung di dalamnya bukan rasa simpati, melainkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian seorang sahabat. Semacam kekuatan yang memantapkan hati dan mampu menghapus semua bentuk penindasan, misalnya perbudakan, kemiskinan, dan penderitaan. Demetrius dilingkupi kehangatan kekeluargaan yang aneh ini. Nyaris buta karena air mata yang mendadak berlinang, dia menyeruak di antara kerumuman orang dan tiba di tepi jalan. Pertemuan singkat itu begitu mengesankan.
Demetrius mendapatkan jalan menjadi manusia penuh pembebasan meski baru di pikiran dan perasaan. Intensitasnya menjaga jubah Yesus pun memberikan keterikatan yang berlanjutan, Jika aku sedang letih, benda ini membuatku tenang kembali. Jika aku merasa sedih, jubah ini memulihkan semangatku. Jika aku melawan perbudakan yang mengungkungku, benda ini memberiku kedamaian. Kurasa karenasetiap kali aku memegang jubah iniaku teringat kekuatandan ketabahan-Nya.
Berlatar masa Romawi di bawah pimpinan Tiberius yang kuyu dan akhirnya si kejam Caligula, Douglas menggabarkan situasi politik keagamaan yang penuh konflik. Seorang Nazaret yang tidak memiliki senjata, pasukan, ambisi politik, ataupun wilayah kekuasaan, dianggap membahayakan bagi kekuasaan para iman dan menebar benih revolusi di tanah kaum-kaum tertindas. Mengamini Yesus adalah dosa di hadapan Kaisar. Namun, Marcellus terlanjut meyakini Yesus yang mencintai bebungaan, mengubah air menjadi anggur, memberikan suara bagi Miriam yang lumpuh. Ia menyimak Yesus yang mencintai anak-anak dari sahabat Yustus.
Kelahiran Yesus telah mengabadi dalam cerita. Kita mungkin bisa mengingat pernyataan Maria Luisa Motaal Lozora di novel apik The High Mountains of Portugal (2017) garapan Yann Martell bahwa Yesus memilih hidup dalam cerita, bukan sejarah, Yesus hadir di dunia dengan kepastian menenangkan bahwa dia akan tetap bersama kita dan kita akan tetap bersamanya selama dia bisa menyentuh kita melalui cerita, selama dia meninggalkan sidik jarinya di imajinasi kita yang terpesona. Maka, dia tidak melaju dengan kudanya tetapi dengan tenang menunggang cerita. Penyaliban itu telah mematikan sekaligus menghidupkan Yesus di perigi religius, mewujud sebagai kasih dan segala tindak mahabaik yang hidup dalam setiap jiwa manusia. Kita, sekali lagi, merasuki Yesus dalam dedai cerita Douglas.

Setyaningsih

Setyaningsih, seorang esais dan peresensi bermukim di Boyolali. Menjadi tukang sapu paruh waktu di Bilik Literasi Solo. Mengelola edaran resensi Bukulah! Setya bisa dicari di maosbocah.wordpress.com atau surel langit_abjad@yahoo.com. Buku kumpulan esai pernah terbit berjudul Melulu Buku (2015) dan Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Menulis cerita anak Peri Buah-buahan Bekerja dihimpun di Kacamata Onde (2018).

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Lomba Resensi Buku Rahel

LombaResensiBukuRahel

Lomba Resensi Buku “Rahel Pergi ke Surga Sendiri”

Kami mengundang siapa saja untuk mengapresiasi buku antologi cerpen Rahel Pergi ke Surga Sendiri yang diterbitkan oleh Litera.id. Ada sebelas cerpen pilihan di dalamnya.

Persyaratan:
1. Peserta adalah warga Negara Indonesia tidak dibatasi usia.
2. Panjang tulisan sekitar 500 kata.
3. Tulisan dikirim ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas diri (KTP atau SIM).
4. Peserta hanya diperbolehkan mengirim satu naskah.
5. Naskah paling terlambat diterima pada 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
6. Lima (5) resensi terbaik akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan http://bpr.pgi.or.id dan akan mendapat hadiah Rp500.000.
7. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap memberi kesegaran dan pandangan baru akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
8. Keputusan juri mengikat.

NB. Buku Rahel Pergi ke Surga Sendiri dapat dibeli melalui Susan (WA 081287022316) dengan harga Rp50ribu. Bebas ongkir untuk wilayah Jabodetabek.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: Lomba Resensi Buku Rahel http://wp.me/p8ZXIg-bh

read more
Perjalanan

Ketika Siswa SMP Meresensi Buku

WhatsApp Image 2018-03-23 at 11.38.19

Inferno karangan Dan Brown,” tukas Rio, siswa kelas 7 SMPK 7 Penabur.  Ia menjawab pertanyaan buku apa yang sudah dibacanya untuk diresensi hari itu. Hebatnya, buku setebal 602 halaman itu, dalam bahasa Inggris. Ia pun fasih menjelaskan istilah cliffhanger dan twist, yang menurutnya banyak ditemui di buku.

Tidak hanya Rio yang membaca dalam bahasa Inggris. Beberapa siswa yang mengikuti pelatihan pagi itu, pun sama. Sayangnya, Rio mengalami kesulitan saat menulis dalam bahasa Indonesia. Dia mengaku lebih mudah menulis dalam bahasa Inggris. Memang sejak playgroup, ia disekolahkan di sekolah berbahasa Inggris oleh orangtuanya.

Pelatihan menulis resensi buku kerjasama Litera.id dan SMPK 1 ini dihadiri 53 siswa dari 15 sekolah berbendera Penabur. Murid yang berkisar usia antara 13-14 tahun itu mengaku membaca di waktu luang mereka. Seorang pustakawan pendamping siswa hari itu mengaku anak-anak di sekolahnya memang suka membaca buku.

“Sekolah memberi jatah Rp2,5 juta untuk beli buku baru per bulan. Tapi harga buku sekarang mahal. Uang segitu paling dapat beberapa buku. Padahal anak-anak perlu banyak buku baru dalam sebulan. Asal perpustakaan ada buku baru dan kita rajin-rajin memberitahu isi buku, siswa suka kok membaca,” tambahnya.

Tiga buku karangan Tereliye yang tampil diresensi adalah Bintang (380 hal), Hujan (320 hal) dan Bumi (440 hal). Juga novel  lawas yang diterbitkan ulang, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka (236 hal). Buku Raditya Dika, penulis favorit kebanyakan siswa, yang diresensi adalah Ubur-ubur Lembur (232 hal). Juga buku yang ceritanya sedang tren sekarang Mile “Suara dari Dilan” karya Pigi Baiq(360 hal). Buku-buku lain adalah novel remaja populer dan buku terjemahan beragam topik.

Berikut  sepuluh resensi siswa (bukan berdasarkan ranking) tentang buku yang mereka baca. Ditulis tangan dalam waktu sekitar 30 menit, di kelas. Penyelenggara kegiatan ini adalah SMPK 1 Penabur yang sedang berpameran entrepreneurship, yang mengundang Litera.id untuk melakukan pelatihan menulis resensi buku dan menulis puisi.  (is/maret/2018)

 

 

 

No Nama/Sekolah Keterangan Buku Tulisan Resensi Buku
1. Weilina C/8A SMPK 2 The After Dinner Mysteries

Higashigawa Tokuya

Penerbit Haru

Cetakan Feb 2014

291 hal

Pelayan Atau Detektif?

Bagaimana biasa ada mayat bersepatu bot di kamar apartmen? Bagaimana bisa ada racun di dalam botol anggur yang masih tertutup rapat? Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang terdengar mustahil. Namun, seorang pelayan dapat menyingkap trik di balik itu semua.

Seorang petugas polisi seharusnya mempunyai daya pikir yang lebih dan pelayan adalah seorang yang tidak berpendidikan dan bodoh. Namun, nampaknya hal itu tidak berlalu bagi Hosho Reiko dan pelayannya, Kageyama.

Reiko yang baru-baru ini menjadi penyelidik di kepolisian Kunitachi sudah menghadapi kasus-kasus yang rumit. Semuanya terlihat tidak masuk akal. Namun, pelayannya itu justru mengejeknya habis-habisan. Semua itu harus ditelah Reiko bulat-bulat karena hanya Kageyama yang bisa membuat kasus yang mustahil menjadi pasti.

Buku kumpulan cerpen komedi detektif ini memuat tujuh kasus yang sangat menarik sekaligus terlihat tidak masuk akal. Trik yang terkandung di dalamnya benar-benar tidak terpikirkan dan mind blown. Meskipun buku ini adalah cerita detektif, Higashigawa Tokuya berhasil membawakannya dengan simple dan lucu. Namun, banyak istilah dalam Bahasa Jepang yang sulit dipahami. Belum lagi ada beberapa bagian pemecahan kasus yang dirasa mustahil. Meskipun begitu, buku ini mendatangkan banyak pengetahuan baru dan cocok dengan penggemar misteri komedi.

2. Cherry P4/8F/8 Ruby Red

Krestin Crier

Elex Media

312

Misteri

 

Menjelajahi waktu tidak seperti yang kita bayangkan. Pada realitas, menjelajah waktu berbahaya dan melelahkan. Jika bisa memilih, Gwendolyn tidak ingin menjadi penerus dalam hal ini. Dia hanya menginginkan hidup yang sederhana. Namun, darah yang ia bawa sejak lahir adalah darah seorang penjelajah waktu.

 

Tanpa terduga, Gwendolyn terlembar ke era yang berbeda tanpa persiapan. Di masa lalu, orang memandangnya dengan aneh dari cara berpakaiannya. Mereka bahkan ingin memburunya karena menganggap dia seorang penyihir. Kini dia harus menjalani kewajibannya sebagai seorang penjelajah waktu. Menyamar dan sekaligus menjalani misi-misi yang diberikan. Bersama dengan Gideon, penjelajah waktu dari keluarga dengan garis keturunan laki-laki, Gwendolyn harus mengungkapkan misteri tentang tokoh-tokoh di sekitar mereka.
Kerstin Gier telah merancang bukunya dengan imajinasi yang luar biasa. Dia berhasil membuat pembaca penasaran dengan misteri-misteri yang ada di bukunya. Dia mampu membuat pembaca merasakan pengalaman emosional yang sangat kuat dalam cerita ini. Cara dia mengilustrasikan suasana mampu membuat kita bervisualisasi seperti sedang berada di dalam dunianya itu. Namun, permasalahan yang kompleks dalam buku ini sukar dipahami. Tokoh-tokoh yang terlibat juga berlebihan sehingga menimbulkan perasaan bingung dan terkadang terlupa identitasnya. Secara umum, novel Ruby Red sangat menghibur dan mengesankan.

3. Tito Tobing/8A/28 Percy Jackson: The Last Olympion (Novel Grafis)

Rick Riordan

381 hal

Dapatkah kau melawan babi Terbang?

 

Terbangun di pagi hari sebagai “anak dewa” bukanlah hal yang menyenangkan bagi Percy Jackson. Ketika kita berandai untuk memiliki ayah atau ibu seorang dewa, tentu kita berpikir kita akan dipuja dan dilayani selayaknya seorang raja. Namun tidak seperti itu nyatanya para blasteran –setengah dewa setengah manusia – harus menjalani hidup yang penuh rteror, termasuk Percy sendiri. Dendam kesumat para titan dilampiaskan dengan kembalinya kronos –raja para titan. Terjangan dan bentak amarah serta perang angkasa yang berkecamuk membuat kehidupan manusia harus menghadapi kesudahakannya.

 

Tinggal bergantung pada Percy Jackson dan pasukan blasterannya untuk menjadi penyelamai dunia atau malah menjadi awal kehancuran manusia. Lagipula masalah dengan para babi terbang saja belum selesai pula.

 

Cara sang penulis, Rick Riordan mengangkat cerita sangat antimainstream. Penggunaan bahasa yang “dekat” dengan hidup orang zaman sekarang membuat buku ini sangat mudah dimengerti dan dibaca. Saya sebagai pembaca juga merasa nyaman saat membaca. Penggunaan diksi dalam buku ini begitu bagus dan membuat pembaca terpana. Dengan adanya plot twist juga membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca dan dinikmati.

4. Stefanie Thamrin/8C, SMPK 1 Second Heart

Luna Torashyngu

PT GPU

Januari 2016

352 hal

Penyelamatan Sang Putri

Kabar penyanderaan SMAN 123, sekolah sang putri Presiden, menggemparkan rakyat Indonesia. Penyanderaan yang dilakukan oleh sebuah kelompok tak dikenal bernama Neo Indonesian State. Bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan kursi pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Hediyono. Melibatkan sang putri dan teman-teman ke dalam bahasa, upaya penyelamatkan diperintahkan langsung dari Presiden Hediyono.

Dipimpin oleh Jatayu, pasukan pengamanan putra dan putri Presiden dan wakil Presiden. Bersama kopassus, kepolisian, dan Tim Densus 99 menyusun strategi upaya penyelamatan putri presiden dan anggota sekolah SMAN 123. Andra sebagai pengawal Jatayu Tiara ikut menyelamatkan sebagai perwakilan dari Jatayu. Terjadi baku tembak antara pihak penyandera dengan pihak penyelamatan.

Cerita ini berakhir di mana terselamatkannya sang putri dan seluruh teman-temannya.

Buku ini merupakan hasil karya penulis yang imajinatif dan kreatif. Membuat para pembaca tenggelam dalam cerita. Sang Penulis menyertakan berbagai info tentang militer, pasukan pengawal hingga politik yang jarang kita ketahui. Cerita yang seru dan mengagumkan ini cocok untuk semua kalangan usia baik anak-anak maupun orangtua. Cerita yang imaginatif, cocok untuk mengisi waktu luang serta kaver dikemas dengan apik, bisa dibawa ke mana saja.

5. Santasila Bryan Kusno/8A/27 Menaburkan Benih Kebahagiaan

Shih Cheng Yen

301 halaman

2013

Resensi Buku

Jika buku merupakan jendela dunia,maka buku Menaburkan Benih Kebahagiaan” merupakan buku yang membuka jendela kehidupan kita sebagai seorang remaja. Masa remaja pasti dilalui oleh setiap orang, baik kaya atau pun miskin. Penulis buku ini memberikan doa bagi generasi muda yang terbagi dalam 12 bagian, dengan harapan agar para generasi muda dapat mengerti dan menerakpkan pola hidup bersumbangsih. Shih Cheng Yen merupakan seorang biksuni dan pendidi Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah menerima banyak penghargaan di bidang humanis.

Pada buku ini kita diajarkan untuk menanamkan cinta kasih universal dalam pribadi masing-masing. Bab yang paling saya minati adalah “Berebut Waku”, tidak mengenang masa lalu, begitu juga tidak membayangkan masa depan. Masa lalu adalah tumpulan dari pikiran yang kacau, sedangkan masa depan adalah angan-angan. Berharap agar setiap orang dapat melewati saat ini dengan sungguh-sungguh. Ilustrasi yang diberikan merupakan realitas dalam  kehidupan sehari-hari kita.

Buku ini menggunakan bahasa yang baku dan kalimatnya mudah dimengerti. Buku ini sukses membuka hati si pembaca karena kata-kata yang digunakan memiliki arti yang dalam. Di setiap bab buku ini diberikan ilustrasi yang sesuai dengan judul bab. Saya merekomedasikan buku ini agar dibaca oleh para remaja karena buku ini dapat memjawab semua pertanyaan tentang kehidupan. Secara keseluruhan penulisan buku ini sudah sukses membekan pencerahan bagi saya.

6. Geoffrey Antonio A/7C/II/SMPK 7 Student Hidjo

Mas Marco Kartodikromo

2018

Ulasan Buku

Novel karya Mas Marco Kartodikromo ini menceritakan tentang kisah kehidupan seorang Radhen Hidjo, dari awal anak-anak, remaja, hingga masa di mana ia harus meninggalkan ibu dan kekasihnya untuk sekolah insinyur di Belanda. Meskipun dilema melanda hatinya, ia tetap berangkat ke Hindia Belanda dengan sedih dan sedikit terpukul. Ayahnya, Raden Potronojo yang merupakan seorang saudagar, mengirimnya ke Belanda agar dengan tujuan keluarganya tidak diremehkan oleh pegawai-pegawai Gouverment Belanda. Perjalanannya menuju Belanda ditemani oleh guru HBS, dengan menggunakan Kapal Api Gunung.

Banyak kisah yang dialaminya di Belanda. Mulai dari awal perjalanannya menuju Belanda, kisah percintaan, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan sekolah insinyurnya di Belanda. Menurut observasi saya, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan diserapi oleh siapa pun pembacanya. Hanya saja, buku ini menggunakan beberapa istilah Jawa atau Belanda yang sulit untuk dimengerti karena tidak ada bagian glosariumnya.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan pendapat untuk buku ini. Menurut saya, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena isinya yang menarik. Menarik dalam arti walau kisah ini bertemakan sejarah tidak menjadi alasan untuk tidak membaca buku ini karena isi dari buku ini juga mengandung kisah romantis yang pernah dialami tokoh dalam kehidupannya. Dengan harga yang cukup terjangkau, buku ini dapat dibeli oleh semua kalangan/lapisan masyarakat (atas, menengah maupun bawah).

7. Derren M 8D/8/SMPK 1 The School for Good and Evil

Sophie Carson

Fantasi

Ringkasan

Sophie dan Agatha adalah dua sahabat dengan karakter yang bertolak belakang. Mereka tinggal di sebuah desa dengan sebuah legenda tentang sebuah sekolah untuk yang baik dan yang jahat. Setiap empat tahun kepala sekolah itu menculik dua orang anak, yang satu baik dan yang satu jahat. Mereka akan diajarkan cara-cara untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang penjahat. Sophie yang berparas cantik dan selalu terlihat baik tampak cocok untuk bersekolah di sekolah untuk yang baik dan Agatha yang berparas buruk dan bermata kantung tampak cocok untuk bersekolah di sekolah untuk yang jahat.

Suatu hari mereka berdua diculik kepala sekolah. Namun Agatha terdampar di sekolah untuk yang baik dan Sophie di sekolah untuk yang jahat. Berbagai konflik pun menimpa mereka dan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Persahabatan mereka diuji dan walau mereka ingin kembali ke rumah, satu-satunya jalan keluar melalui sebuah dongeng. Sementara mereka berdua menjalani hidup baru mereka, sebuah figur tersenyum dengan misterius sambil mengawasi mereka berdua.

Novel ini adalah sebuah karya hebat! Ceritanya disajikan dengan sangat baik. Alur ceritanya menegangkan dan sulit ditebak. Konflik yang dialami tokoh sangat rumit dan menarik. Membaca buku ini membuat kita seakan-akan berada di dalam novel itu. Saya memberi buku ini nilai sembilan dari sepuluh karena cerita yang ditawarkan dan berbagai kelebihan yang dimiliki novel ini.

8. Nathan J/SMPK 4 Surat Kecil untuk Tuhan

Agnes Daronar

Falcon Publishing

214 halaman

Kemanusiaan

Setiap orang pasti memiliki batas untuk melakukan sesuatu yaitu yang baik ataupun jahat. Tindakan kejahatan manusia dibatasi oleh dosa yang seringkali dihindari. Tetapi tidak sedikit juga orang yang bisa melakukan kejahtan seperti cerita dalam buku ini.

Cerita ini dimulai dari kisah kakak beradik yang bernama Anton dan Angel. Orangtua mereka meninggal oleh kecelakaan sehingga mereka harus tinggal bersama anak-anak yatim piatu lainnya dengan seorang bernama Om Rudy. Diam-diam Om Rudy memiliki niat jahat tersembunyi yaitu menjual organ tubuh anak-anak yatim piatu kepada pasar gelap. Perjalanan kisah hidup mereka masih panjang dan sayang jika tidak membaca buku ini.

Buku ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang menginspirasi pembaca untuk tidak mudah percaya kepada orang lain yang belum pernah kita temui atau lihat. Sangat bermanfaat untuk dibaca oleh semua umur karena tidak ada kata-kata yang sulit dimengerti. Menurut saya kekurangannya hanya satu yaitu buku ini tidak bergambar sehingga sulit untuk memahami kejadian sebenarnya tetapi semoga keseluruhan sudah baik dan direkomendasikan untuk membaca buku ini sampai akhir cerita.

9. Grace Aletta Ruth/SMPK Penabur Depok Ayah

Andrea Hirata

Mizan

396 hal

Kasih sayang seorang ayah

Kasih sayang dari seorang ayah memang tidak terbatas. Dalam buku ini kita akan mengetahui perjuangan seorang ayah dalam mencari anaknya yang hilang. Buki ini dapat membuat kita menyadari betapa besarnya peran seorang ayah dalam hidup kita. Cerita yang ditampilkan oleh Andrea Hirata pun mengambil kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, jadi pembaca dapat membayangkan dengan mudah.

Andrea Hirata pun sebagai penulis telah berhasil menggambarkan citraan seorang ayah dengan baik. Alur dalam buku ini pun sulit ditebak karena itulah para pembaca akan dibuat ingin membaca lagi. Alur yang digunakan juga maju-mundur jadi kita harus membaca  seluruh isi cerita agar mengerti intinya. Namun kekurangan dalam buku ini adalah ada banyak kata yang tidak umum untuk diucapkan, jadinya ada beberapa bagian yang hanya sedikit orang yang mengerti.

Di dalam buku ini adalah banyak konflik. Jadi kita akan terpengaruh untuk membaca buku ini sampai selesai. Pikiran pembaca seakan diputar-putar oleh sang penulis. Namun secara keseluruhan buku ini sangat disarankan karena perasaan kita saat membaca buku ini dapat diputar-putar dan sangat bagus dalam mengisi waktu luang.

10. Debby/7C/SMPK TMP1 Keluarga Tak Kasat Mata

Bonaventura Genta

118 hal

Ringkasan

Bertemu dan melihat hantu bukanlah hal yang menyenangkan. Inilah yang dialami Genda dan teman-teman satu kantornya. Melihat dan mengalami keusilan hantu-hantu telah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka di kantor. Mereka melihat hantu dari umur paling kecil hingga lanjut usia.

Mereka mengalami hal-hal supernatural di berbagai tempat. Dimulai dari kamar mandi, ruang kerja, ruang tamu, lorong, gudang hingga ke halaman depan dan tengah. Dan lebih mengesalkan lagi, mereka bertemu dengan lebih dari satu macam makhluk. Dimulai dari anak kecil, nenek berkerudung, dan lain-lain.

Mereka pun mencari kebenaran salah satu makhluk gaib yang dinamakan “si boss” atau Langgeng. Di perjalanan mereka untuk mencari kebenaran Langgeng, mereka juga dengan tidak sengaja mengungkapkan kebenaran dari makhluk lain yang telah mereka temui. Dan terjadi perdebatan tentang kebenaran Langgeng.

11. Jea A/PKJ 8B The Kill Order (2012)

James Dashner

Mizan

426 halaman

Petualangan

The Kill Order merupakan sebuah novel karya James Dashner, penulis asal Georgia. Novel ini merupakan prequel dari seri the maze runner. Bercerita tentang ledakan sinar matahari yang mengakibatkan virus flare menyebar. Flare adalah virus yang menyerang dan memakan otak.

Mark, Trina, Lana, dan Alex adalah tokoh utama dari novel ini. Mereka berpetualang mencari asal-usul virus tersebut. Mereka mengalami banyak hal, seperti Mark dan Alex berpisah dengan Trina dan Lana. Tak disangkat, jawaban yang dicari mereka akhirnya terjawab. Virus flare disebarkan oleh KPF (Koalisi Pasca Flare) di bawah tangan pemerintah untuk mengendalikan populasi manusia.

Novel ini memiliki alur yang menarik, tidak bisa ditebak. Bahasanya juga mudah dipahami. Buku ini juga cukup mengejutkan. Bagaimana bisa sebuah pemerintah menyebarkan virus tersebut kepada rakyatnya. Kekurangan buku ini adalah sadisnya cara pembunuhan Mark saat melawan pasukan KPF, sehingga tidak cocok untuk dibaca kalangan anak-anak.

 

read more
Galeri

Pameran Seni Rupa: Keadilan dan Perdamaian di Awal Tahun

WhatsApp Image 2018-01-05 at 17.11.55

 

Tiga puluh seniman berkarya dengan berbagai medium dan gaya mengusung tema keadilan dan perdamaian di Gedung Balai Budaya Jakarta yang bersejarah.

Awal tahun diisi dengan semangat perdamaian dan lantang menyuarakan keadilan.
Inilah pesan yang diselipkan 30 seniman yang menggelar rangkaian pameran bertajuk Solidarity Peace and Justice di Balai Budaya, sejak 4 hingga 11 Januari 2018. “Ini merupakan silaturahmi kami di awal tahun,” ujar RB Ali kepada Litera di pembukaan pameran, Kamis (4/1).
Ali menampilkan karya bertajuk Keseimbangan dengan karya  menyerupai nuansa kubisme. Sebagaimana pendapatnya, inilah ikatan para seniman membaca gejolak lokal, nasional dan global belakangan ini.


Kegelisahan tentang keadilan dan perdamaian diperlihatkan oleh Idris Brandy dengan obyek timbangan  berukuran besar dan manusia mini yang meliuk menyerupai zigot. Judul karya terasa menyindir, Timbang Menimbang tak Berimbang. “Kebetulan obyeknya sama dengan tema yang disepakati. Aku sedang menangkap kondisi bangsa yang terjadi sekarang ini,” ujar perupa yang merintis Studio Bongkar Otak di Tangerang itu.
Karya pameran 30 perupa menghasilkan beragam obyek. Aisul Yanto  menyertakan karya berjudul Energi Perdamaian menampilkan abstraksi hitam-putih, Syahnagra Ismail mengusung karya bertajuk Doa dari Pinggir Sawah yang memperlihatkan nuansa pointilisme – titik di antara lukisan menjadi bidang warna. Syahnagra, kini nampak lebih tenang dalam menuangkan abstraksi lanskap. Tak begitu riuh, baik dalam pilihan warna dan guratan.
Para seniman menampilkan karya yang beragam. Permaknaan yang universal ini tak hanya di karya yang verbal tapi juga yang bernuansa abstrak sebagaimana pada karya Cak Kandar bertajuk Forever Happy, FX Jeffrey sumampouw lukisan Percakapan Kemaren dan Sri Warso Wahono bertajuk Optimisme.

Perupa Edy Bonetski membuat karya media campuran dengan panel terpisah yang menarik perhatian pengunjung dengan karya bertajuk Bonetski Kode.  Tak hanya dengan kanvas, dia  menjadikan kaos sebagai medium.
Seniman lain yang ikut serta di pameran ini adalah Ahmad Musoni, Anfield Wibowo, Ireng Halimun, Anthony Sutanto, Koko Rajasa, AR Sudarto, Maria Tiwi, Bambang Win, Remy Silado, Chrisnanda Dwilaksana, Ridwan Manantik, Daniel Rudi Haryanto, Robby Lukita, Satya B Pranaya, Egi Sae, Emmy Go, Sohieb Toyaroja, Greg Susanto, Yahya TS, Ika Umy Hay dan Yayat Lesmana.

Energi Positif
Bagi Aisul Yanto, perupa yang  menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Balai Budaya Jakarta ini, kesemua rekannya telah memancarkan greget dan fibrasi dalam karyanya, dari taksu masing-masing ke penjuru ruang dan kehidupan dengan energi positif.
Kondisi sosial saat ini, antara mayoritas dan minoritas belakangan cenderung ingin menguasai atau memanipulasi situasi yang ada. Keduanya berhadapan untuk saling menguasai, saling menegaskan keberadaan masing-masing. Bagi Aisul, seharusnya hal itu tidak terjadi, bila masing-masing mengedepankan rasa kebersamaan, perdamaian dan keadilan. Tegasnya, di sinilah posisi seniman, untuk menyikapi situasi tadi.
Ika Ismurdiyahwati yang lulusan S-2 dan S-3 di Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung mengatakan pameran seniman di Balai Budaya Jakarta sekalugus juga untuk menghidupkan kembali tempat yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia.
Menurutnya, menjadikan keberadaan Balai  Budaya semakin membumi bagi kita adalah bermakna juga mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa depan. Agar menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat sebagai bangsa yang besar: Indonesia. *

 

Oleh: Sihar Ramses Simatupang

read more
Perjalanan

Obituari: Ibu Dr Dorothy Irene Marx (16 Februari 1923-17 Desember 2017)

Ibu Dorothy Marx

Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.
–Mazmur 113:9

Pagi di Wisma Nav Dago Pojok Bandung itu hening dan dingin. Saya duduk membaca sambil berselimut. Setelah beberapa waktu saya bangkit ke jendela untuk memeriksa keadaan udara di luar. Jendela terbuka lebar dan mata saya segera disambut oleh sesosok tubuh yang sedang berdiri menatap ke kejauhan. Tetangga kamar saya. Tadinya saya berpikir saya sendiri yang menginap di sini.

Rambut orang itu pendek ikal berwarna perak. Ataukah uban? Tubuhnya kurus, kecil. Ia menoleh ke arah saya, dan kami sama-sama tersenyum, sama-sama mengangguk. Wajah itu saya kenali. Ibu Dorothy Marx, yang banyak diceritakan teman-teman ITB.

“Ibu Dorothy Marx?” sapa saya.

Iya mengiyakan, bertanya, “Anda siapa?”

Saya menyebutkan nama. Saya bilang saya mengenali wajah dan namanya dari cerita teman-teman persekutuan. Ketika saya menjawab pertanyaan Ibu soal urusan saya menginap di Wisma itu, dia berkata, “Pekerjaan yang menarik. Silakan bekerja, maaf mengganggu,” lalu ia undur diri.

Itulah perjumpaan tiga menit saya dengan Ibu Dr. Dorothy Irene Marx.

Hari Minggu tanggal 17 Desember Ibu Dorothy Marx berpulang ke rumah Bapa. Halaman WA hape saya mengabarkan itu, di beberapa grup. Secara emosi saya tidak merasa terganggu karena saya tidak mengenalnya. Kecuali obrolan singkat di jendela pagi itu.

Karena itu saya tak berencana melayat. Namun seorang teman memberitahu agenda ibadah penghiburan oleh OMF. Saya sekarang bagian kecil dari OMF –lembaga pertama Ibu ke Indonesia- jadilah saya hadir. Barulah di Rumah Duka Husada, saya mengenal sedikit lagi tentang Ibu Dorothy.

Beberapa orang bergantian menceritakan pengalaman indah mereka bersama Ibu. Selama tiga hari disemayamkan di Rumah Duka, kamar duka dipadati mereka yang mengenal Ibu. Kesaksian demi kesaksian terus mengalir tak berhenti, pengalaman-pengalaman yang sungguh indah, bersama Ibu.

Semua itu memberi saya potongan-potongan kisah tentang siapa Ibu. Tetapi saya berhutang cerita pada Pendeta RAS Pandiangan –Pak Kaleb Tong menganggap Pak RAS anak angkat Ibu, yang membuat saya mengenal Ibu secara lengkap, saat itu.

Pak RAS Pandiangan adalah mahasiswa teologi di Duta Wacana Yogyakarta. Ia mahasiswa semester 6 ketika menghadiri KKR 5 hari yang dilayani oleh Ibu Dorothy.

Dalam mendengarkan penjelasan dan khotbah Ibu, Pak RAS bingung. Apa yang dia pahami selama ini tentang keyakinannya, menjadi tidak jelas. Karena itu ketika ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Ibu, dialah yang pertama unjuk jari.

Di hadapan Ibu Dorothy, Pak RAS mengakui kebingungannya setelah mendengar khotbah Ibu, yang ditanggapi Ibu Dorothy dengan tenang dan berkata, “Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Air mata dan ingus berleleran berderai-derai membanjiri pipi dan seluruh wajah Pak RAS, saat Ibu Dorothy berdoa untuknya, sehingga ia repot betul mengelapnya dengan ujung bajunya. Doa yang pendek tapi menggempur dada mahasiswa yang masih hijau tanpa ampun. Setelah itu ia merasa dirinya melayang menyusul sukacita besar yang memenuhi seluruh dirinya, entah apa.

Dari peristiwa itu, di perpustakaan kampus, Pak RAS memutuskan untuk berhadapan sendiri dengan Tuhan, berbicara seperti laki-laki, menunggu Tuhan menjawabnya. Dia sungguh tak tahan dengan segala perasaan yang mengubek-ubek hatinya menjadi melankolik dan ringan sekaligus.

Tiba-tiba dalam dialog mereka berdua itu, Pak RAS melihat sebuah penglihatan, seperti slide yang nampak di dinding perpustakaan, persis di depan dirinya duduk. Slide yang menyatakan semua kesalahan yang pernah dia lakukan termasuk mencuri jambu tetangga, menyontek, berbohong, dan lainnya —sebuah daftar yang panjang. Ia mencatat dengan pensil dengan kekuatan tangannya, sampai ia berseru, “Berhenti, tangan saya pegal”, barulah slide itu berhenti, berganti tulisan I Yoh 3: 1, yang kemudian diketahuinya berbunyi, “Tengoklah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan memang kita adalah anak-anak Allah.”

Itulah awal relasi mereka sebagai ibu-anak yang intim, secara spiritual.

Bahwa selama tiga hari Ibu disemayamkan di rumah duka, dan para pelayat mengisahkan hubungan-hubungan pribadi mereka dengan Ibu, Pak RAS menyimpulkan bahwa sedikit apa pun persentuhan seseorang dengan Ibu, ada energi di dalam diri Ibu yang terpancar keluar, yang tidak pernah padam, tak pernah kompromi, tak pernah berhenti, untuk menjadi hamba Yesus, Tuhannya.

Energi yang kuat, pun secara jasmani. Ibu Dorothy bersepeda sepanjang 14 km Bandung-Cimahi tanpa kepayahan, meski hanya sedikit asupan makan, sedikit tidur, tetapi banyak berlutut di atas bantal doanya. Itulah sebuah rahasia kekuatan, yang tak pernah menjadi rahasia.

Ibu Dorothy, seorang keturunan Yahudi yang memenuhi panggilan Tuhan, pergi ke Indonesia pada usia 30 tahun, menanggalkan kewarganegaraan Inggrisnya tanpa ragu, menjadi Indonesia dan membela Indonesia dengan kebenaran, sebagai hamba Tuhan yang setia dan tak berhenti mencintai. Ia bersentuhan dengan banyak lembaga banyak gereja banyak sekolah banyak pemuda banyak hati. Dengan energi yang tak tergoncangkan, yang ia dapat dari Langit.

Di ruang duka yang berdraperi bernuansa putih-ungu yang agung, harum lembut dari wangi bebungaan mawar putih, pink, oranye, lily, seruni kecil, chrysanthemum, aster putih, sedap malam, daun kubis, daun bunga kol, pandan iris, kuncup melati, setiap orang merayakan Ibu. Saling menghibur saling  menghangatkan hati. Bila tak diatur, mungkin kesaksian-kesaksian tentang Ibu dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia, takkan selesai sampai besok, atau lusa. Belum pernah saya merasa sedemikian betah, di rumah duka.

Di pagi hujan jam 10 ini, Ibu akan diberangkatkan dari GKI Gunung Sahari, menuju San Diego Hills, untuk dimakamkan. Rumah jasadnya. Sementara dirinya telah bersama Yesus, cinta satu-satunya Ibu.  Selamat jalan, Ibu. Berharap mengenal Ibu sedikit lagi kelak, di rumah Bapa. (itasiregar, 20des2017)

read more
Galeri

Banten Biennale #01: Bata Keberanian dan Karang Keteguhan

Ill 1

Dari karya-karya yang dipamerkan, keberanian dan keteguhan mendapat ruang yang lebar dan mendalam. Gebar Sasmita, pelukis senior asal Pandeglang,  murid maestro Hendra Gunawan, menampilkan lukisan ekspresionistik berjudul Sungai Merah. Pelukis muda, Hilmi Fabeta, menampilkan The President Club: Introducing Mr. Sjaf dengan gaya realisme klasik. Keduanya seolah mewakili yang tua dan yang muda, bahwa sejarah Indonesia harus ditinjau ulang dan Banten menjadi pintu masuknya.

Menolak lupa adalah keberanian menerima sejarah sebagai pelajaran untuk melangkah dengan kejujuran dan keterbukaan. Aktor-aktor sejarah menjadi teladan yang otentik, luput dari gincu pencitraan yang meninabobokan generasi penerus bangsa. Gebar Sasmita mendorong bangsa ini tetap mengingat ketika sungai-sungai di Negeri menjadi semerah darah, agar peristiwa berdarah sepanjang republik ini berdiri, tidak terulang. Di sisi lain, Hilmi Fabeta mengingatkan bahwa Sjafroeddin Prawiranegara adalah Presiden RI ke-2, meski ia menjadi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kurang dari 7 bulan, namun posisinya menentukan eksistensi negeri kala itu. Tanpa keberanian Sjafroedin yang adalah putra Banten, sejarah Republik ini selesai dengan ditangkapnya Soekarno dan Hatta di Yogyakarta, dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.

Putra Banten sekaligus ulama Masyumi itu adalah Gubernur Bank Indonesia pertama. Namun sayang, rekam jejaknya digeser dari buku sejarah. Maka, untuk membangun negeri ini, untuk gawe nagari baluwarti, kita butuh keberanian menolak lupa. Revitalisasi kebudayaan bangsa harus dimulai dari rekonstruksi sejarah yang jujur.

Gawe Nagari Baluwarti

Banten Biennale #01 mengangkat tema Gawe Nagari Baluwarti. Tema ini bersumber dari moto kesultanan Banten dahulu, yakni gawe kuta baluwarti bata kalawng kawis  atau membangun benteng kota dengan bata dan karang. Bata adalah simbol keberanian dan karang adalah simbol keteguhan, dua arus yang mengalir menuju kerja-kerja pembangunan bangsa dan negara. Tak ada bangsa besar yang dibangun dari onggokan mentalitas pecundang seperti tak ada negara makmur tanpa keteguhan dalam kerja nyata.

Dalam karya instalasinya, Aidil Usman membangun susunan batu bata dalam ikatan-ikatan kecil dan rangka perahu dalam balutan benang warna-warni. Ia memberi petanda puncak peradaban Banten masa lalu pada kejayaan bidang maritim yang dibangun dengan semangat inklusivisme dalam penataan perniagaan hingga kebudayaan umumnya.

Dalam kondisi lebih terkini, karya Hendi Jalu yang berjudul White Army, dibentuk dari TV LCD 60 inci bekas, seolah menjadi respons atas strategi ketahanan budaya hari ini. Jalu menghadirkan wajah baru peperangan dalam era multimedia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyulut peperangan baru, yang memerlukan bentuk-bentuk diplomasi baru seperti tergambar dalam patung karya Inu Yushanan berjudul Diplomasi.

Patung yang dibangun dari pedestal kayu dengan tiga kaleng cat, mempresentasikan diplomasi-diplomasi kebudayaan perlu dihadirkan secara cair dan merembes ke bawah. Tanpa diplomasi budaya yang cair dan merembes ke berbagai sektor kehidupan, kegagapan masyarakat hari ini akan terjadi dalam bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, sebagaimana tersirat dalam lukisan karya Mhaex Maranoes Komunitas Tak Berjarak, Afriani Millenial, Ahmad Nazili The Hunted and the Forgotten, Angela Irena Lifestyle, Alfin Luthviandi Where Is My Door, Imelda Ameliasari With Us, Dik Doank  Populasi, Politik, Balance, dan Edo Pop Indek Peradaban Tubuh.

Untuk menata diri ke depan, Banten mulai mengeksplorasi pencapaian nilai-nilai spiritual yang transendental dan menancap sebagai akar tradisi yang unik. Para ulama dan jawara telah lebih dahulu mengilhami perjuangan Banten menjadi satu entitas dalam pergaulan masyarakat global abad 17 dan 18.  Hal itu tercermin dalam lukisan-lukisan karya Ade Pasker Moslem Theologian from Banten, Nuryasin Legenda (Rangkasbetung), Ibrohim Risalah Karangantu, Jamaluddin visuAl-Madad, dan Wita Delvi Berbagi Berkah.

Tanpa perhatian dan eksplorasi pencapaian peradaban masa silam, pengembangan kebudayaan ke depan akan mengalami disorientasi dan paradoks yang panjang. Hal tersebut diantisipasi dalam tiga karya fotografi Galih AP yang diberi judul Redefinisi Tanpa Pengindera, Nurhaipin La Manna Genggam Laten Kapitalisme, dan Raden Eka Sutrisna Seba Baduy. Foto-foto dengan teknik blur seolah mengingatkan cara kita mendefinisikan orang Banten yang masih belum jelas dalam konteks pluralisme sosial dan politik.

Pesta seni Banten Biennale #01 berlangsung di Museum Negeri Banten dan Taman Budaya Banten, pada 9-16 September 2017. Kegiatan itu telah meninggalkan kesan amat dalam bagi para perupa Banten dan masyarakat umum. Pesta seni ini pertama kali dalam sejarah Banten dan menyedot perhatian publik secara luas sehingga satu minggu pelaksanaan dipadati tamu, bahkan sebelum pintu dibuka, calon pengunjung sudah mengantre dengan sabar. Antusiasme ini dapat dikembangkan menjadi sebuah apresiasi dan kritik seni rupa nasional, juga harapan bagi pangsa pasar seni rupa Indonesia.

Banten Biennale #01 merupakan agenda pameran dan atraksi seni rupa yang menampilkan karya-karya fenomenal dan monumental perupa. Di sana-sini kita dapat menemukan pencapaian artistik luar biasa. Sesuai namanya, bienalle, kegiatan Banten Biennale akan berlangsung setiap 2 tahun.

Pameran menampilkan 60 perupa yang terdiri dari 40 peserta utama dan 20 peserta undangan. Selain dari Banten, perupa datang dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Ke-40 peserta adalah Achdi Gunawan, Ade Pasker, Ahmad Musoni, Alfin Luthviandi, Andru Agus Kamto, Angela, Arifin, Budiman, Catherine Nadia Alexandra, Deri Hamid, Deden Mulyana, Diki Arifiana, Galih, Gunawan, Hendi Jalu, Hance Saputra, Ibrohim, Ika Kurnia Mulyati, Imelda, Inu Yushanan, J.Budi Santoso, Jamaluddin, Maria Tiwiq, Mhaek Maranoes, MT Harsana, Mulyono, Munadi, Nur Yasin, R. Zaglix, Rachman, Raden Eka Sutrisna, RB Ali, Seno Purwanto Aji, Sudrajat, Asehuo, Tubagus Pathoni, Wahyudi, Wita Delvi, Yayat Lesmana, dan YB Roy.

Sebanyak 20 peserta undangan, yaitu Ali Bone, Aidil Usman, Ahmad Nazili, Afriani, Bedi Zubaedi (alm), Edi Bonetski, Edo Pop, Dik Doank, Gebar Sasmita, Hilmi Fabeta, Ibnu Alwan, Iwan Ismael, Kokok P. Sancoko, Komroden Haro, Leonardo SK (alm), Q’bro Pandam, Rady Bonek (alm), Sukamto, Uci Sanusi, dan Wahyu Widyantono.

*Chavchay Saefullah adalah Ketua Dewan Kesenian Banten periode 2017-2022

 

read more
Galeri

Quo Vadis, Sastra Indonesia?

WhatsApp Image 2017-12-03 at 02.44.41

Sebuah perbincangan yang perlu kita lakukan demi kemajuan Sastra Indonesia telah diadakan pada Minggu 3 Desember lalu di Balai Budaya. Seperti apa suasananya?

Acara yang mempertemukan Komunitas Apresiasi Sastra dan Majalah Litera itu berlangsung hangat dengan berbagai diskusi yang penting mengenai situasi Sastra Indonesia saat ini. Narasumber Saut Situmorang dan Nuruddin Asyhadie membuat para peserta tidak beranjak dari kursinya hingga acara berakhir (silakan simak isi diskusi di artikel Sastraku Sayang Sastraku Malang).

Komunitas ApSas sendiri dibentuk secara cair dari milis apresiasi sastra pada 5 Januari 2005.  Ada 7 moderator yang memotori, yaitu Hernadi Tanzil (Bandung), Yahya TP –Pemulung Cerita (Purwantoro), Dorsey Silalahi (Jakarta), Cak Bono (Surabaya), Mega Vristian dan Djodi Setiawan (dulu Hongkong, sekarang Jakarta), Sigit Susanto (Swiss).

ApSas sudah menerbitkan 3 buku: Selasar Kenangan (2007), Gempa Padang (2009), buku kumcer Apsas, The Graveside Ritual (2017), dan memiliki sejumlah acara tahunan:

  • Bedah 10 karya ApSas semalaman sudah berjalan selama 9 tahun di Jogyakarta.
  • Parade Obrolan Sastra. Di Boja, Jawa Tengah sudah berjalan 6 tahun. Yang pernah diundang Kurnia Effendi, Agus Noor, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Saut Situmorang, Wayan Jengki Sunarta, F Rahardi, Anindita, Shiho Sawai, Remy Silado, Iman Budhi Santosa, Martin Aleida
  • Sejak 2014, Kemah Sastra di Lereng Kebuh Teh Medini, sudah 3 kali. Narsum yang pernah diundang: Korrie Layun Rampan, Ahmadun Yosi Hermawan, Eka Kurniawan, Gus Tf dari Padang, Martin aleida (kedua kali), F. Rahardi dan Iman Budhi Santoso menjadi rutin hadir karena pernah bekerja di sini. Iman sebagai ketua afdeling, semacam sinder, manager dan F. Rahardi kepala SD persis di bawah pabrik teh medini.
  • Mei 2018, akan mengundang Triyanto Triwikromo untuk berbicara tentang Program Residensi di Berlin
  • Peserta pada umumnya mahasiswa sastra dari berbagai perguruan tinggi Semarang, UNY Jogya, dan UIN. Ada juga dari Tangerang dan Madura.

Sementara itu untuk yang mungkin belum mengenalnya, Majalah Litera adalah majalah yang mengusung tema-tema kemanusiaan-keberagaman-spiritualitas, dan menggabungkan sastra dan rupa. Terbit perdana Desember 2016, belum rutin terbit. Sampai saat ini telah terbit 3 edisi, Agustus dan September 2017. Situs resminya adalah Litera.id. Majalah Litera dan Litera.id menerima kiriman naskah cerpen dan puisi dan tulisan lain melalui email ke redaksi@litera.id atau literamagz@gmail.com.

Penulis yang pernah menulis di sini di antaranya Gerson Poyk, Iksaka Banu, Sanie B. Kuncoro, Hanna Rambe, Mario F. Lawi, Sunlie Thomas Alexander, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang, Jeli Manalu, Gayatri W.M, Bresman Siregar, dan banyak yang lain. Bulan ini akan menerbitkan buku kumpulan 11 cerpen pilihan Majalah Litera 2017. Majalah Litera digagas oleh Ita Siregar, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang.

 

read more
Galeri

Mengunjungi Komunitas Literasi di Kota Hujan

WhatsApp Image 2017-11-25 at 03.29.09

Kali ini, tim Majalah Litera melakukan perjalanan ke Kota Bogor nan sejuk untuk mengenal komunitas literasi yang hidup di kota mungil yang penuh pesona itu!

 

Pada hari Sabtu, 25 November 2017 kami hadir dalam rangka undangan mengupas buku terbaru sekaligus personal essay perdana karya Nur Utami, Berbagi Ruang. Acara digelar sore hari di Warung Hitz di Jalan Pajajaran, bersama komunitas Ngopi Buku: Menyoal Buku Sambil Ngopi. Ternyata komunitas ini telah rutin berkumpul, menyesap kopi legendaris Bogor, Liong Bulan, sambil membahas mengenai buku-buku terbaru. Dan betapa cocoknya kopi dan buku!

Redaktur Puisi Majalah Litera, Dedy Tri Riyadi, berbagi mengenai ‘bobot’ tersendiri yang terkandung dalam rangkaian tulisan-tulisan keseharian Utami; dalam tuturannya yang sederhana, terkandung ilmu-ilmu yang bernas! Membaca buku terasa seperti kuliah Komunikasi beberapa SKS. Sangat terasa kekayaan ilmu Nur Utami, yang dengan murah hati itu amalkan dan bagikan pada masyarakat dalam bahasa yang mudah dikunyah, bahkan oleh pembaca paling awam sekalipun.

Redaktur Online Majalah Litera, Olivia Elena Hakim, mengekspresikan apresiasinya atas Nur Utami yang percaya pada proses, dimana buku ini merupakan kumpulan tulisan selama bertahun-tahun. Di era digital, karya literasi yang hadir dalam kemasan tercetak masih memiliki pesona dan kualitas tersendiri karena tidak instan. Bergizi, seperti slow-cooking.

Acara ditutup dengan diskusi, tanya-jawab dan ramah-tamah ditemani hidangan yang lezat sementara semilir angin Kota Bogor makin terasa. Kebersamaan yang indah! Sampai berjumpa di event Ngopi Buku berikutnya, yang akan membahas antologi puisi Kang Dedy Tri Riyadi, Berlatih Solmisasi. 

 

read more
Galeri

Peluncuran Bambu Spa Tebet

bambu3
Pada tanggal 18 November 2017 lalu, Bambu Spa Tebet membuka pintunya untuk pertama kali, dan mulai melayani para klien dengan berbagai paket spa berkualitas, dari ujung kepala ke ujung kaki!
Bambu Spa Tebet merupakan cabang terbaru dari PT Bambu Ayu Sejati dengan desain terbaru,  terlengkap dalam hal varian paket spa: Hair Spa Salon, Heritage Indonesia Spa, Luxury Spa, Waxing, Women Care Treatments (Slimming, Bust Treatment, V-Spa), Relaxation, Pre-Wedding Spa Package, dan Kids Spa.
Selain itu di cabang Bambu Spa yang terletak di Tebet Timur Raya 91 C ini, disediakan fasilitas Kids Area, Musholla, sarana parkir dan free-wifi beserta Area Healthy Juice yang sangat cocok dikombinasikan dengan paket perawatan terbaru Bambu Spa, yakni Slimming Bambu.
Tim manajemen berharap dengan dibukanya cabang @bambuspatebet dapat mengobati rasa rindu para pelanggan setia mereka di Jakarta Selatan dan menyediakan pilihan tempat spa terbaru dengan pelayanan unik,tapi harga terjangkau.  Meski ekonomis, Bambu Spa menjamin fasilitas serta pelayanan mereka tetap bintang 5. Pssst….ada promosi pembukaan khusus hanya selama bulan November ini!
Cantik Hatimu, Cantik Parasmu, Sukses Menantimu.
Salam Cantik selalu,
www.bambuspa.co.id
WA: 081294282880
IG: @bambuspaindonesia
FB: Bambu Spa
read more
Galeri

Pendaftaran (ulang) Anggota Satupena

WhatsApp Image 2017-11-17 at 16.23.44

Mengingat makin banyaknya minat publik untuk menjadi anggota, sekaligus bagian dari proses administratif pasca Kongres I Satupena di Solo pada awal 2017 yang lalu, maka dengan ini kami para pengurus mengimbau kepada rekan-rekan untuk mendaftar ulang keanggotaannya. Dengan pendaftaran ulang ini diharapkan Satupena memiliki data mutakhir yang jelas dan terarah.

Dipersilakan semua anggota yang ada dalam WAG SATUPENA INDONESIA untuk mendaftar sebagai anggota reguler. Setelah mendaftar Anda dianggap telah mendapat hak dan kewajiban yang sama, misalnya untuk berbagai kepentingan individual maupun institusional, termasuk sebagai rekomendator anggota baru selanjutnya.

Berikut syarat-syarat keanggotaan Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA):
1. Warga Negara Indonesia, baik yang tinggal di dalam dan di luar negeri. Penulis warga negara asing dapat menjadi anggota khusus sesuai syarat yang diberlakukan dalam akte notaris.
2. Telah menulis setidaknya 1 (satu) buku ber-ISBN dan/atau menulis setidaknya 2 (dua) artikel, esai, karya sastra di media massa nasional dan/atau menerbitkan tulisan akademik di jurnal dengan ISSN dan/atau yang terakreditasi.
3. Melampirkan salinan cover dan sinopsis buku dan/atau artikel yang dimaksud pada poin nomor 2. Lampiran dapat berupa salinan soft copy yang dikirim ke surel pengurus dan/atau tautan kepada buku dan/atau artikel yang dimaksud.
4. Bagi penulis media daring harus dapat menunjukan konsistensi produktivitas sedikitnya menulis 12 artikel publik dalam 12 bulan.
5. Mendapat rekomendasi dari 3 anggota Satupena.
6. Bersedia menjadi anggota dengan memenuhi berbagai syarat dan menyetujui visi misi organisasi.
7. Mengisi dan melengkapi formulir keanggotaan yang telah disiapkan oleh organisasi, secara online yakni pada alamat http://bit.ly/PENDAFTARAN-SATUPENA atau mengirimnya ke alamat email Satupena: perkumpulansatupena@gmail.com
8. Membayar iuran keanggotaan sebesar Rp200.000,00 per tahun. Iuran langsung ditransfer ke: Bank BII no rekening 2 596 003 855 – a.n. Satupena.

Setiap anggota berhak dan berkewajiban atas hal-hal sebagai berikut:
1. Informasi terbaru asosiasi.
2. Mendapat Perlindungan Hukum dari Asosiasi, selama tidak melanggar hukum negara Republik Indonesia dan/atau melanggar norma kesusilaan.
3. Kartu Tanda Anggota dan pin keanggotaan.
4. Mengikuti program/kegiatan asosiasi (pendidikan, latihan, muhibah, book fair, dll. atas nama asosiasi).
5. Berhak mendapat rekomendasi yang bersifat organisasional untuk keperluan yang masing-masing personal dalam konteks penulisan, baik ke luar negeri maupun ke forum-forum kepenulisan.
6. Mendapat keuntungan usaha yang dilakukan oleh asosiasi yang dikelola oleh divisi usaha/ koperasi.
7. Berhak menjadi tim khusus atau representasi asosiasi dalam hal-hal atau isu-isu yang sedang kontekstual (misalnya soal pajak, persekusi, hoax news dan lain lain)
8. Menjunjung kode etik Satupena.
9. Bagi anggota yang belum memiliki BPJS Kesehatan, Pengurus Satupena dapat memediasi keikutsertaan bersama dengan BEKRAF dengan pembayaran premium yang lebih murah.
Segala hak anggota akan diberlakukan setelah melunasi iuran keanggotaaan.

Jakarta, 20 November 2017
Atas nama Pengurus Pusat Satupena
Ketua Umum Satupena
Bendahara Umum
Sekretaris Umum I & II

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4