close

Buku

BukuGAYATERASWARA-WARA

Lapis-Lapis Intertekstualitas dalam Buku Puisi Pelajaran dari Orang Samaria

Kaver Depan Pelajaran Orang Samaria

Orang Samaria yang baik hati (the Good Samaritan) adalah dongeng Yesus untuk murid-muridnya dalam rangka merenungkan siapa itu sesama manusia. Karena pesan universalnya, cerita dengan plot sederhana ini, populer dan mendunia. Kisah ini telah diterjemahkan ke beragam bentuk kreatif seperti cerita anak, komik, film, tari, selain kotbah pendeta di mimbar tentu saja.

Orang Samaria dibenci setengah mati oleh orang Yahudi lantaran mereka warga campuran. Mereka adalah hasil perkawinan dengan warga Asyur setelah mereka kalah perang, dan tinggal di kota Samaria, di utara Yudea. Di sana mereka mengadopsi agama baru dan meninggalkan agama lama.

Dan kebencian itu diturunkan dari generasi ke generasi. Mereka tidak saling cakap. Tidak saling anggap. Tembok Berlin di antara mereka belum dihancurkan. Sampai ada cerita orang Samaria versi Yesus: Ada seorang Yahudi tergolek tak berdaya di jalan sehabis dirampok, tidak ditolong oleh sesamanya Yahudi, malah ditolong habis-habisan oleh musuh mereka: orang Samaria.

Puisi-puisi dari buku Pelajaran dari Orang Samaria karya Giovanni A.L. Arum ini seluruhnya biblis, artinya, diilhami oleh teks kitab suci.

Ketika penyair menulis puisi dengan meminjam dari teks-teks lain, maka karyanya menumpuk dengan lapisan makna. Bila sebuah teks dibaca berdasarkan teks lain, maka segala asumsi dan efek dari teks lain itu, memberi kebaruan dan mempengaruhi cara orang menafsir teks asli. Itu disebut intertekstualitas.

Alkitab adalah contoh konsep intertekstualitas karena teks dalam perjanjian baru (setelah Yesus lahir) ada dalam perjanjian lama, dengan kemungkinan lapis makna tadi.

Mari kita perhatikan petikan puisi Pelajaran dari Orang Samaria ini.

Di kedalaman dukamu yang porak-poranda

Ingin kukunjungi engkau dengan rindu paling mulia

Di sana, kutuntaskan ibadahku

Dengan cara sederhana

Membersihkan luka-luka cintamu

Dengan minyak dan anggur

Dengan cinta yang melampaui

Sekat-sekat hukum kenajisan

Puisi ini dapat dibaca mandiri tanpa pembaca pernah membaca kisah Orang Samaria sebelumnya. Makna bisa ditemukan melalui latar dan pengalaman pembaca. Barthes (1992) mengatakan bahwa suatu teks bukanlah satu baris kata yang melepaskan makna “teologis” tunggal (pesan pengarang atau Tuhan) tetapi merupakan ruang multi-dimensi berbagai tulisan, yang nyatanya tidak satupun asli, saling bercampur dan berbenturan. Teks adalah kutipan yang diambil dari esensi budaya yang tak terhitung jumlah(di dalam)-nya.

Frase duka yang porak-poranda mudah dipahami sebagai suatu keadaan duka berganda (keadaan membenci secara turun-temurun); yang pada beberapa orang dapat memunculkan rindu paling mulia, yaitu kerinduan hati yang berusaha mewujud setelah banyak kontemplasi; bahwa ibadah dengan cara sederhana yaitu spiritualitas pribadi yang dekat dan intim, yaitu membersihkan luka-luka cintamu, satu tindakan nyata yang dapat melampaui sekadar luka fisik; dengan minyak dan anggur, yang dalam tradisi kitab suci adalah simbol roh suci dan sukacita.

 Coba kita tampilkan satu puisi lain dengan gaya intertekstualitas ini.

 

Iman adalah sebuah siasat jatuh

Ke dalam gaya Tarik-Mu

 

Puisi di atas berjudul Sebagai benih yang harus jatuh. Penyair mengutip perkataan Yesus yang menganalogikan manusia sebagai benih. Bahwa manusia, sebagaimana benih, dapat tumbuh bersemi bila ia jatuh dan pecah di dalam tanah. Kematian yang memunculkan kehidupan baru. Lalu lapisan makna tadi dibenturkan dengan iman, sebuah keyakinan yang utuh dan bulat tak perlu bukti, dengan sifat gravitasi bahwa apa pun benda memang akan jatuh ke bawah. Sebuah temuan yang rajin, bukan?

Sekarang coba yang satu ini.

Cinta pada pandangan berbahaya

Tatapan Tuhan sungguh berbahaya

Jauh lebih tajam dari pedang bermata dua

 

Lagi-lagi penyair menunjukkan ketekunannya dalam menemukan dan menghadirkan suasana intertekstualitas antara sebuah ungkapan kearifan dan baris teks dalam kitab suci.

Dalam buku Divine Love Story (2019), penulis Naek S Meliala, memberi subjudul yang menarik: Dalam permainan cinta, Dia pun kalah. D huruf besar merujuk pada Tuhan. Bab-bab dalam buku itu menjelaskan sebuah konsep (yang gawat) bahwa begitu cinta Tuhan kepada manusia -makhluk ciptaan-Nya, sehingga dalam interaksi untuk mendapat perhatian manusia sepenuhnya kepada-Nya, Tuhan pun menyerah, kalah.

Buku itu mengutip banyak teks kitab suci yang menunjukkan Tuhan menangis, Tuhan menyesal, Tuhan Haus. Intinya, Dia yang Maha Segala dikecilkan oleh manusia yang serba terbatas. Bagaimana penjelasannya?

Pintu maaf Tuhan selalu terbuka bagi setiap manusia yang meminta ampun, berapa kali dan seberapa parahnya pun dosa itu. Sementara pada teks yang berbeda, ada teks yang mengatakan setiap dosa berujung maut. Bukanlah dengan demikian artinya Tuhan berkali-kali menyerah, demi manusia dapat abadi bersama-Nya?

Dalam konteks sekarang, bisa saja hal ini dianggap sebagai sebuah penistaan terhadap ke-Maha-an Tuhan (tunggu saja didemo). Tetapi itulah cinta. Sesuatu yang zahir. Sebuah kegilaan. Seperti penyair yang coba katakan dalam baris-baris puisi ini.

Karena iman adalah lintasan kegilaan

Maka Nuh bersiteguh mengerjakan bahtera

 

Sebenarnya tipis garis antara menggunakan intertekstualitas sebagai perangkat sastra dan menjiplak, bahkan seandainya pun tidak pernah dimaksudkan. Sementara penggunaan intertekstualitas yang kompleks dianggap sebagai alat canggih dalam penulisan. Pemanfaatan intertekstualitas akan melibatkan ideologi, konsep, atau yang lain, cerita atau sumber teks.

Penulisan ulang cerita yang populer dalam konteks modern dapat dipandang sebagai penggunaan intertekstualitas yang berbudaya. Yang pasti, intertekstualitas adalah alat penulisan yang sayang bila diabaikan. Ia membuka kemungkinan dan perspektif untuk membangun sebuah cerita dan menghadirkan makna baru dalam lapisan-lapisannya.

Ada 52 puisi dalam buku ini, namun saya mengambil hanya 4 di sini. Selamat membaca dan menemukan lapisan makna, yang bagi saya telah memberi rasa seperti melompat-lompat atau sukacita yang mengharukan, melihat bagaimana frase kata memberi kepuasan dalam spiritualitas.

 

Pelajaran dari Orang Samaria

Oleh Giovanni A.L. Arum

13x19cm

86 halaman

Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora

2119

 

itasiregar/09/12/19

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Menyibak Praktik Karismatik     

Foto Buku Lusifer

Teks Ita Siregar

Bila Anda mahasiswa Kristen tahun 80-an, di Bandung misalnya, mungkin novela ini akan mengingatkan Anda pada suatu ketika. Sebuah gerilya rohani yang sangat kuat terjadi di kampus-kampus.

Mahasiswa-mahasiswi yang berlatar Kristen “dikristenkan” ulang. Keyakinan kepada Kristus dicek kembali, jangan-jangan selama ini percaya dengan cara yang salah, tidak alkitabiah, masih terbelenggu roh-roh nenek moyang, atau yang lain. Kalau itu yang terjadi, maka mesti dibersihkan hingga ke akar-akarnya, agar hidup yang benar dapat dimulai. Anda menjadi Kristen lahir baru.

Banyak mahasiswa terperangah dengan pengetahuan itu. Kristen sejak kecil, tapi ke mana saja selama ini? Syukurlah, mata yang dulu buta jadi celik. Sekarang jelas, kenapa Yesus mesti lahir di dunia dan mati disalibkan. Bagi mereka yang mendapat pencerahan, diberi tanggung jawab sama:  memberitahu kabar baik ini kepada yang lain, agar mereka pun mendapat hidayah.

Seperti memperoleh tugas yang mulia, banyak mahasiswa terlibat dalam pusaran yang baru, lupa dengan tujuan utama ke Bandung: kuliah. Mereka disibukkan dengan pertemuan dengan pembimbing rohani, belajar kitab suci, meneliti ayat-ayat, mendoakan orang lain, dan kegiatan lain. Sangat sangat sibuk. Tapi semua tak terasa berat karena baru kali ini hidup menjadi berarti. Bahkan menyesal, kenapa berita hebat ini baru terbuka sekarang?

Lantas mahasiswa-mahasiswa menjadi pembimbing rohani, pemimpin kelompok, pembicara, pendoa, konselor, pendengar, penggerak, dan yang lain, demi keselamatan orang lain. Persekutuan kecil di mana-mana. Kelompok doa 4-5 orang di perpustakaan kampus, di taman-taman kota, di rumah-rumah kos, di mana saja.

Tak jarang mahasiswa berhenti di semester 6 atau cuti untuk sementara waktu karena terlalu banyak hal rohani mendesak harus dilakukan. Hal surgawi lebih penting daripada hal duniawi. Menjadi sarjana bisa kapan-kapan. Tetapi siapa peduli jiwa-jiwa yang akan binasa? Setiap orang yang tidak bayar harga tidak layak untuk pekerjaan ini.

Mahasiswa-mahasiswa garda depan itu pun melapor ke orangtua masing-masing, bahwa mereka telah menerima panggilan yang lain di Bandung. Menjadi penjala manusia. Bukan menjadi sarjana dunia.

Lalu mereka membuka pelayanan baru, berkembang menjadi besar, menjadi gereja. Tahun demi tahun berlalu. Mahasiswa-mahasiswa baru direkrut untuk menjadi pekerja baru. Setiap mahasiswa yang tergerak melayani jiwa-jiwa, menjadi pelayan penuh waktu. Hidup menjadi lebih fokus.

Namun, tak sedikit mereka yang dulu merasa terpanggil tetapi ternyata tidak benar-benar terpanggil, mengalami burnt out. Mereka terbakar dan gosong luar dalam. Mereka minggat dari keluarga Allah, menjadi manusia biasa. Bahkan menjadi penentang, musuh.

*

Saya tidak tahu kapan gerakan karismatik kekristenan Indonesia dimulai. Mungkin tahun 70-an atau lebih awal. Yang saya tahu banyak gereja baru muncul dengan pemimpin mahasiswa-mahasiwa yang dalam cerita saya di atas. Tidak perlu sekolah teologi untuk menjadi pendeta. Roh Kudus sendiri akan menjadi gurunya. Kira-kira begitu keyakinannya.

Gereja yang berawal dari gerakan karismatik memiliki ciri-ciri pentakostalisme. Seorang karismatik percaya bahwa sedikitnya orang Kristen (baca: orang percaya) punya satu karunia roh. Tuhan tidak pilih kasih. Dianalogikan sebagai anggota tubuh Kristus, maka setiap orang Kristen mempunyai peran –besar atau kecil- yang menyebabkan tubuh itu berfungsi dengan baik.

Salah satu karunia roh yang dimaksud adalah glossolalia atau bahasa roh atau bahasa lidah. Bahasa lidah menjadi penanda bahwa orang tersebut dipenuhi oleh Roh Kudus. Manifestasi Roh Kudus ditandai dengan kesembuhan ilahi, mukjizat-mukjizat, atau glosolalia. Sebenarnya hal ini biasa seperti halnya kegiatan jemaat perdana setelah Yesus wafat atau semasa Paulus.

Pada kenyataannya, glossolalia tidak mengena pada semua orang. Namun sudah keburu terpatri dalam hati bahwa ketiadaan bahasa lidah berarti orang tersebut kurang percaya. Itulah sebabnya, di beberapa gereja karismatik, bahasa lidah dipelajari, dengan menyebutkan dahulu beberapa kata untuk memancing kehadiran Roh Kudus.

Novela Lusifer! Lusifer! yang ditulis oleh Venerdi Handoyo dan diterbitkan oleh POST Press ini, menurut saya, adalah cermin dari apa yang terjadi pada beberapa gereja karismatik, pada level ekstrem. Tidak semua gereja. Tetapi banyak gereja.

Istilah-istilah dalam percakapan, ayat-ayat kitab suci yang dipakai, nama-nama tokoh, cara berdoa, kalimat-kalimat dalam dialog di dalam buku, menggambarkan kejadian sebenarnya di dunia nyata. Tertarik untuk mengetahuinya, sila baca buku ini.

 

Novela Lusifer! Lusifer!

Penulis Venerdi Handoyo

Xii + 126 halaman 13x19cm

Penerbit POST Press

Juli 2019

 

Itasiregar/11 Sept/2019

 

read more
BukuCERITAPuisiTERASWARA-WARA

Surga/Neraka Itu Dihadirkan

HMRS

Teks Arie Saptaji*

 

“Anda tidak dapat membaca Alkitab tanpa menyimak pesan Tuhan peduli kepada mereka yang tersingkir, yang terinjak-injak, yang tertindas!” kata Philip Yancey, penulis Amerika yang kerap menyuarakan kegelisahannya atas gereja.

Eko Saputra Poceratu dalam buku puisinya Hari Minggu Ramai Sekali (HRMS), menangkap pesan itu. Sembari mengumandangkan latar Papua dan Maluku, penyair muda ini memberi kredo pada awal buku:

Pada awalnya Tuhan menciptakan kata,/lalu sastra,/ maka kutulis puisi sebagai bentuk/ paling realistis untuk melayani/ yang tertindas.

Menggemakan Doa Bapa Kami, yang memohon agar kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di surga, Eko dalam Ada Neraka di Papua menyatakan bahwa surga dan neraka itu dihadirkan. Puisi ini mengingatkan kita hidup bukan sekadar untuk antre masuk surga, tetapi berjuang menghadirkan surga di bumi.

Sekalipun neraka itu ada/ dia tidak cukup untuk tampung/ ketidakadilan di Papua

 Puisi sebagai Sikap Politik

Puisi-puisi Eko menawarkan dua latar yang jarang dalam khasanah sastra Indonesia, yaitu kristiani dan wilayah Timur Indonesia.

Gaya tuturnya mengingatkan kita pada puisi-puisi balada Rendra. Namun, Eko lebih lugas dan hemat metafora.

Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal,/ sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima,/ siapa yang tiba” (HMRS, h. 24).

Hal paling menyegarkan tak lain kredo kepenyairannya: bahwa Eko menulis puisi sebagai bentuk pelayanan bagi mereka “yang tertindas”. Baginya, menulis puisi adalah sikap politik.

Sastra kita banyak dipengaruhi oleh ideologi Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang mempromosikan konsep “seni untuk seni”, suatu sikap berkesenian yang apolitis. Mengutip cuitan Mikael Johani tentang Manikebu: an ideology that voices not dissent, but a divorce from everyday,  reality that has sterilized Indonesian literature, especially poetry, sucked the politics out of it, and turned it into spineless, hallmark drivel that helps prop up the status quo.

Eko memilih menyempal dan memasuki barisan penyair yang menggunakan puisi untuk menyuarakan sikap politik. Dan, betapa tajam suara yang tersiar melalui kumpulan puisi ini!

Terantuk dan Tersentak

Sebagai orang Jawa yang belum pernah menginjakkan kaki di Papua dan Maluku, saya terantuk konteks lokal. Sageru atau kusu-kusu, misalnya. Apa itu? Mungkin seperti ini rasanya orang Indonesia Timur membaca Pengakuan Pariyem atau puisi-puisi Wiji Thukul.

Saya teringat komentar seorang teman Toraja saat membaca novel saya, Warrior: Sepatu untuk Sahabat. Terlalu Jawa, keluhnya. Tapi, saya tak ingin mengeluh. Saya ingin menikmati dan merayakan keragaman warna lokal, yang menolong saya untuk menengok keragaman Indonesia tanpa perlu beranjak dari tempat duduk.

Sebagai pembaca Kristen, saya tersentak menyimak kegelisahan Eko terhadap gereja dan lingkungannya. Gereja cenderung menyukai puisi-puisi religius ala Hallmark, sejenis yang ditawarkan oleh Manikebu tadi. Orang Kristen lebih suka gambar-gambar elok dengan kutipan ayat atau kata-kata menggugah. Puisi-puisi Eko, sebaliknya, meski dibumbui humor, lebih mirip pil pahit.

Saya tepekur, betapa gereja (baca: saya) lebih menelanjangi dosa-dosa personal, tetapi memalingkan muka dari dosa-dosa sosial. Kita sibuk berebut masuk surga, tetapi alpa berjuang menghadirkan surga di dunia. Puisi-puisi Eko menempelak kecenderungan tersebut.

Mariana dan Maria Zaitun

Salah satu (atau salah enam) puisi yang mencekam adalah Episode Mariana (1) sampai Episode Mariana (6). Perempuan yang mati beranak di Papua  adalah puisi pedih tentang perempuan yang tertindas.

Saya menyandingkan puisi itu dengan puisi Rendra, Nyanyian Angsa. Bagaimana nasib Mariana dalam puisi Eko dan Maria Zaitun dalam puisi Rendra?

Maria Zaitun terusir dari rumah pelacuran, pergi ke dokter yang memberinya suntikan vitamin C, lalu ke gereja. Koster gereja menahannya di luar pintu. Pastor menemuinya untuk menghakimi. Dan Malaikat penjaga firdaus menguntit dengan wajah dengki. Sampai di tepi kali ia bertemu Sang Mempelai. Ia mengalami penebusan dan pembebasan: Pelacur dan pengantin adalah saya. Simul justus et peccator.

Mariana mirip-mirip nasibnya. Ia terusir dari pernikahannya, dikhianati suaminya, dalam kondisi hamil lima bulan. Tanpa uang, ia tersaruk-saruk di jalanan. Naik angkot, seorang lelaki membayar ongkosnya, namun menggagahinya: tanda-tanda sudah tak memihak seorang janda. Ia mendapat pekerjaan di pabrik kayu setelah mandor menidurinya: Dari kasur ke kasur. Mariana mati saat melahirkan, bayinya diadopsi orang.

Berbeda dari Rendra, Eko mengeliminasi kehadiran Tuhan dan gereja dalam puisinya. Tuhan dan gereja hadir saat Mariana dan suami menikah, menguap setelah mereka bercerai. Mengapa Mariana tidak mengadukan nasibnya kepada Tuhan atau gereja? Seandainya Mariana lari ke gereja, akankah nasibnya lebih baik? Atau senasib dengan Maria Zaitun?

 Tenggelam di Jakarta

Pesan kumpulan puisi ini menjadi relevan di tengah kondisi Papua sekarang. Tim Kemanusiaan yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Nduga menyatakan 182 pengungsi meninggal di tengah konflik bersenjata.

“Tingkat pelanggaran kemanusiaan yang terlalu dahsyat. Ini bencana besar bagi Indonesia sebenarnya, tapi Jakarta santai-santai saja,” kata John Jonga, anggota tim.

Ketidakadilan di Papua terekam dalam puisi Matahari Papua. Benar Matahari turun di Papua. Namun, alih-alih menerbitkan harapan, matahari bawa angin dua arah/ arah kemiskinan dan arah ketidakadilan.

Bukan matahari yang mengkhianati mereka tapi kota (baca: Jakarta). Puisi itu menutup diri dengan pahit: matahari memang terbit di papua dan tenggelam di jakarta”. Matahari harapan yang terbit di Papua (di-)tenggelam(-kan) di (atau oleh) Jakarta. Maka nerakalah yang tersisa.

Buku HMRS tipis saja. Namun, ia lantang mengumandangkan suara kenabian. Puisi-puisinya adalah suara kenabian, penyambung lidah kaum yang tertindas.

***

*Penulis dan peresensi, tinggal di Yogyakarta

 

Hari Minggu Ramai Sekali

Penulis: Eko Saputra Poceratu

Penerbit: Bentara

Tahun 2019

Tebal 84 halaman

13x19cm

 

read more
BukuGAYATERASWARA-WARA

Monolog Beruang di Dunia Manusia

Kenang-kenangan Mengejutkan

Teks oleh Setyaningsih*

“Singa laut maupun burung camar yang berkoak-koak tidak akan pernah menelantarkan sesamanya. Mengapa manusia begitu berbeda dalam hal ini?”

Pertanyaan ini barangkali tidak akan mudah terjawab dan cukup menghentak karena hadir dari beruang kutub, Baltazar, yang ditangkap pemburu lantas dikurung di kebun binatang Cile. Cendekiawan sekaligus politisi Cile, Claudio Orrego Vicuña, menggarap riwayat Baltazar dalam buku tipis manis-melankolis berjudul Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub (2018), diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.

Buku hadir pasca kudeta militer 1973 sebagai alegori politik sekaligus rekonsiliasi di bawah kediktatoran dan keterpenjaraan. Di pengantar, penulis mengajukan permintaan yang lebih sederhana, “Anggap saja penerbitan karya ini merupakan penghormatan oleh manusia kepada seekor beruang yang bisa merasakan belas kasih dan berbela rasa, meski hidupnya dirundung segala kesusahan. Saat masih berada di balik jeruji kebun binatang, ia mampu meraih kebebasannya.”

Monolog Baltazar barangkali sempat mengingatkan kita pada Ismael, gorila dalam novel Ishmael (Freshbook, 2006) garapan Daniel Quinn. Di sini, Ishmael ditempatkan dalam wilayah yang lebih superior karena ia berpikir dan menilai manusia (pengunjung). Manusia mungkin merasa berhak menonton binatang di kandang kebun binatang, tapi tidak sanggup memberi penilaian apa pun kecuali kehendak melihat-lihat. Hal ini bisa dibuktikan oleh pernyataan Ishmael yang “menonton” dengan segenap pikir, “…manusia-manusia yang mengunjungi kami jelas-jelas membedakan diri mereka dari kami para binatang, tapi aku tak mampu memahami kenapa. Jika aku memahami apa yang membuat kami binatang, aku tetap tidak dapat memahami apa yang membuat mereka bukan binatang.” Manusia tetap manusia sekalipun memiliki kebinatangan diri yang mungkin lebih biadab dan buas.

Penangkapan Baltazar telah membawa hidup yang berubah; dari koloni keluasan kutub menjadi soliter dalam kandang. Kandang Baltazar justu menjadi ruang paling jitu bermonolog tentang kemanusiaan dengan kejenakaan-melankolia tapi manusiawi. Dalam detak-detak peradaban, kebebasan sering meminta bayaran pertumpahan darah. Tema itu selalu memicu perang, perlawanan, atau kekerasan. Dalam kasus Baltazar, ia justru mengajukan tema krusial ini dalam jasmani yang terkungkung. Lantas siapa yang bisa mengungkung pikiran, bahkan manusia yang berbekal senjata atau teknologi penghancuran apa pun.

Namun, Baltazar harus sadar kebinatangannya. Dalam koloni beruang, raganya tidak mendapat konsekuensi ditakuti atau membahayakan. Rasa sosial di dunia sesama ini tentu tidak bisa dibawa begitu ke wilayah manusia. Baltazar justru mendapat hukuman saat mencoba “berteman” dengan anak-anak yang begitu ia kagumi sebagai sosok bebas tanpa kelelahan juga tendensi kepentingan selayaknya manusia dewasa. Ia mengatakan, “Hari itu aku paham bahwa pertemanan dengan manusia tidak akan pernah bisa melampaui perasaan ramahku kepada mereka. Rasa takut yang memisahkan kami sedalam perairan gelap dari masa kecilku. Rasa saling tidak percaya, meski tidak beralasan, begitu lebar sampai tidak bisa ditanggulangi.”

Dalam tatanan manusia modern yang mengebunkan binatang seolah mengoleksi benda-benda, wagu ada istilah hidup berdampingan dengan sesama makhluk. Apalagi, menurunkan derajat ketakdiran sebagai manusia untuk setara dengan binatang. Bahkan kepada semasa manusia, tetap ada batasan untuk merasa lebih tinggi. Merendahkan yang lain tetaplah jadi bagian dari naluri purba manusia. Baltazar mengatakan, “Kadang aku yakin bahwa manusia mengira beruang tidak punya perasaan. Itu sebabnya mereka tidak menghargai hidup kami, masa lalu kami, atau impian-impian kami. Barangkali mereka juga berbuat begitu satu sama lain. Tapi buatku sungguh jahat seseorang bisa direnggut begitu saja dari dunianya, dikurung dalam kandang, dan dilarang hidup seperti semua orang lainnya.”

Di hikayat semacam pancatantra dari India, salah satunya yang amat tua serta terkenal seperti alegori politik para binatang dalam jagat Kalila dan Dimna, kita mendapati dunia hewan yang sepenuhnya terpisah dari kuasa manusia. Mereka membentuk dunia sendiri dengan dialog, bukan monolog, penuh pikiran, intrik, strategi, dan entitas moral sebagai percontohan bagi dan pencerminan dari umat manusia. Peran manusia dihilangkan, terganti oleh para binatang sebagai lakon yang ramai.

Kita membaca kenang-kenangan Baltazar sepertinya bukan sebagai fabel yang meriuh. Baltazar seperti harus sendirian mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kemanusiaan di dunia manusia. Bahkan meski dengan risiko ditembak oleh penjaga kandang kebun binatang yang merasa “direndahkan”, Baltazar telah berhasil merongrong dengan keprihatian atas kemapanan, egoisme, kekuasaan dunia manusia.

Judul : Kenang-kenangan Mengejutkan Si Beruang Kutub
Penulis : Claudio Orrego Vicuña
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetak : Pertama, November 2018
Tebal : x+68 halaman

*Esais, penulis cerita Peri Buah-buahan Bekerja (Kacamata Onde, 2018). Tinggal di Solo.

read more
BukuTERASWARA-WARA

Menuju Cahaya Jokowi   

buku jokowi

Oleh Ita Siregar

Ketika Albertheine Endah melempar kaver buku Jokowi terbaru ke WAG Satupena, saya terpana membaca judul: Menuju Cahaya. Benak saya segera saja memunculkan kata: moksa, damai, hening, bening. Saya berpikir judul pastinya telah melewati skrining makna beberapa kepala, termasuk penulis.

Petang kemarin (Kamis, 13/12/18) saat peluncuran buku di Hotel Mulia Jakarta, Prof Dr Dato Sri Tahir memberi kata sambutan, juga mempertanyakan hal sama, tetapi kemudian ia bersetuju dengan judul setelah membaca buku.

Menurutnya, ada tiga hal sehingga Jokowi bersesuaian dengan judul Menuju Cahaya, yaitu 1) dia dapat berdiri di atas matahari, artinya seluruh hidupnya boleh diteropong tiap waktu oleh siapa pun dan akan didapati tak tercela –bukan berarti dia tidak pernah salah, 2) rekam jejak (politik) Jokowi yang ternyata bersih sejak kecil, sebagai pengusaha kayu, sebagai walikota Solo, sebagai gubernur Jakarta, sebagai Presiden Indonesia, dan 3) keluarga, yang sepenuhnya mendukung dan mempercayai Jokowi –meski mereka tidak selalu setuju.

Setelah saya membaca buku, saya pun setuju dengan pendapat itu. Tak sulit memahaminya karena penulis dengan lancar menarasikan kisah seperti kita sedang didongengi oleh Jokowi sendiri.

Jokowi kecil yang hidup prihatin di bantaran sungai bersama orangtua, yang kemudian ia simpulkan bahwa kemiskinan telah menempa mentalnya menjadi kuat dan tabah. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan orangtua dan disimpulkan Jokowi, pas dan tak berlebihan. Segala kepahitan hidup di masa lalu ia pandang sebagai tonggak sejarah yang tak terlupa.  Bahwa tanpa itu semua takkan ada Jokowi sekarang.

Dalam dunia kuliah dan bekerja, ia tidak berspekulasi. Semua diraih melalui belajar dan bekerja keras. Persis ia menjadi pengusaha kayu, bisnis furniture di Tanah Air sedang bersemi. Kerja keras membuatnya melaju. Karakternya yang berbela rasa dan berbelas kasihan kian matang. Istri dan ketiga anaknya kian mempercayai bahtera keluarga yang dipimpin Jokowi.

Setelah urusan keluarga beres, Jokowi memperhatikan dunia sekeliling. Kepeduliannya yang nyata mendorong kawan-kawan memberinya jalan untuk menjadi pemimpin mereka, di Solo. Tantangan itu diterima meski Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi pengabdi Negara.

Blusukan adalah istilah kampanye yang diciptakan karena ia tak punya banyak uang. Keberhasilannya menangani Solo menarik perhatian Jakarta yang kala itu sedang mencari calon gubernur. Lagi-lagi ia tidak bermimpi hijrah ke Jakarta tetapi jalan sudah terbuka di depannya.

Bersama Ahok ia menunjukkan kepada warga Jakarta apa yang seharusnya sudah dicapai oleh ibukota negeri ini. Keberaniannya membongkar segala kegelapan sudut-sudut ibukota  membawa warga pada cahaya yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dan ketika Indonesia sedang mencari seorang calon presiden, lagi-lagi Jokowilah yang dilirik meski sekali lagi, ia tidak pernah bermimpi presiden menjadi takdirnya. Tetapi pintu-pintu telah terbuka di depannya. Ia hanya tinggal masuk. Demikianlah orang yang tidak menginginkan kekuasaan diberi kekuasaan penuh oleh alam semesta.

Sepanjang 382 halaman buku mendedah karya Jokowi sebagai presiden. Pada halaman-halaman tertentu saya terharu ketika berulang-ulang  –dalam bahasa yang berbeda- ia mengatakan bahwa pembangunan harus menghampiri rakyat sudut mana pun. Ia memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial. Pada halaman lain saya kagum ia memandang status presiden sebagai pelayan rakyat yang sedang bekerja untuk kebaikan negeri, bukan seorang pejabat yang sedang mempertahankan rating survei. Humor sinis muncul sebagai responsnya terhadap fitnah dan hoaks keji tentang dirinya. Dengan program Nawa Cita ia berharap takkan lagi ada kisah-kisah sedih dari dunia pertanian kita.

Dengan segala kerja, kerja, kerja yang dia lakukan secara konsisten bersama Kabinet Kerjanya, selangkah demi selangkah kita Menuju Cahaya itu.

Sekarang saya merasa judul itu pas. Dialah yang kita perlu saat ini. Memang dia tidak sempurna tetapi tidak ada yang mencintai dan mengabdi kepada Indonesia, sebesar dia.

Oya, istilah Jokowi diberikan oleh buyer Prancis bernama Bernard untuk membedakan dia dari Joko-Joko yang lain. Begitu.

Pak Jokowi, terima kasih telah bersedia menjadi Presiden kami. Salute!   (is/14/12/18)

 

read more
GAYA

Seorang Lelaki dari Nazaret: Cerita dan Kenangan

The Robe

Judul : The Robe (Jubah Kristus)
Penulis : Lloyd C. Douglas
Penerjemah : Lanny Murtihardjana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetak : Pertama, 2018
Tebal : 940 halaman
ISBN : 978-602-03-8136-7
Yesus telah mewahyukan ingatan bagi orang-orang terdekat dan terkasih. Dari ingatan orang-orang yang bersaksi, kita merasakan kembali jiwa cerita dari raga yang pernah tersalib. Lloyd C. Douglas dalam novel 940 halaman, The Robe atau Jubah Kristus (2018), meramu kembali cerita-cerita yang bermuara dari mulut ke mulut, dari pengingatan ke kenangan. Cerita tentang Yesus serupa legenda bagi orang-orang di masanya dan bahkan sanggup menciptakan kenangan bagi orang-orang di masa kini. Kematian di kayu salib semakin menghidupkan risalah tentang kasih, keindahan, ketercukupan, syukur, berbagi. Lelaki tukang kayu dari Nazaret itu telah menyemai benih-benih bunga kebaikan di setiap ucap yang disabdakan dan raga yang diadakan.
Di pengantar, Andrew M. Greeley mengingat bahwa cara bertutur Douglas yang rasional dan natural atas mukjizat Yesus, sempat membuat novel mendapatkan cela begitu diterbitkan. Greeley membaca The Robe saat berumur 14 tahun dan mengalami dilema kepercayaan sekaligus pengalaman religius yang wah. Penuturan tidak langsung dari Douglas justru tidak menjadikan tokoh-tokoh dalam kitab suci sebagai manusia super di awang-awang. Cara ini membuat para sosok suci menjadi sedemikian manusiawi, dekat, dan tidak berjarak dengan mukjizat yang memang sulit dinalar. Bagi Greeley, Douglas mempertahankan apa yang sangat penting di dalam diri Yesus: diri-Nya yang tidak seperti apa yang disangka orang, kemampuan-Nya mengejutkan orang, serta ketidaksediaan-Nya yang membingungkan untuk menyesuaikan diri ke dalam kategori apa pun yang berusaha kita gunakan untuk menangkap dan memahami-Nya. Dengan narasi, dan tidak melulu dalil falsafah atau pakem teologis, Douglas mengantarkan pada keterkejutan.
Dalam novel ini, dua tokoh yang dibuat terkejut itu, Marcellus sang Panglima Legiun Romawi dan budaknya, Demetrius. Demetrius adalah tokoh Douglas yang mewakili suara perbudakan dari Yunani oleh kedigdayaan Romawi. Ia dipilih untuk menjembatani pengaminan Marcellus atas Yesus. Sejak Marcellus ditugaskan Pilatus menyalib Yesus atas perintah Gubernur Herodes tanpa mengerti sebab keterhukuman, ia menjadi frustrasi dan sial. Apalagi, Marcellus memenangkan jubah Yesus lewat undi-undi. Jubah yang tidak diharapkan membawa rasa ngeri dan bersalah bertubi, tapi sekaligus menjadi jubah keagungan yang menyembuhkan. Jubah Kristus mengantarkan Marcellus ke tempat-tempat Yesus pernah singgah. Ia mendengarkan tentang Yesus dari orang-orang yang pernah bertemu, berteman, dan terciprat mukjizat.
Ketuntasan rasa bersalah Marcellus pun berakhir ketersentuhan yang dilematis, pertempuran antara logika dan mukjizat. Sudah berminggu-minggu benda itu melambangkan kejahatan yang dilakukannya, sekaligus hukuman yang harus diterimanya. Sekarang benda itu melambangkan kebebasannya. Penyesalannya telah mencapai puncak takaran, dan sudah saatnya dia meninggalkan kejahatan itu di belakangnya. pada jubah itu hanya menandai berakhirnya hukuman atas mentalnya. Dia tidak akan mengakui jubah itu mengandung semacam kekuatan.
Rasa Mengenali
Demetrius duluan mengamini Yesus dalam keterhubungan batin yang tercipta hanya dari pandangan mata. Kita bisa merasakan bahwa saat itu adalah momentum yang liris seolah Demetrius bertemu seorang terkasih yang lama tidak dijumpai. Saat itu, Demetrius juga turut ke Yerusalem saat orang-orang Yahudi merayakan Paskah tahunan di bulan Nisan. Demetrius menyaksikan arak-arakan pengikut-pemuja Yesus yang justru menampakkan wajah sedih dan gundah dari Sang Kristus. Ia seperti tidak ingin disanjung penuh gempita sekaligus histeria seolah raja.
Dari wajah itulah, Demetrius takzim merekam rasa mengenali Yesus. Kita cerap, Namun, dengan cara tak terlukiskan, sepasang mata itu mencengkeram Demetrius begitu kuat hingga seperti memaksa secara fisik. Pesan yang terkandung di dalamnya bukan rasa simpati, melainkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perhatian seorang sahabat. Semacam kekuatan yang memantapkan hati dan mampu menghapus semua bentuk penindasan, misalnya perbudakan, kemiskinan, dan penderitaan. Demetrius dilingkupi kehangatan kekeluargaan yang aneh ini. Nyaris buta karena air mata yang mendadak berlinang, dia menyeruak di antara kerumuman orang dan tiba di tepi jalan. Pertemuan singkat itu begitu mengesankan.
Demetrius mendapatkan jalan menjadi manusia penuh pembebasan meski baru di pikiran dan perasaan. Intensitasnya menjaga jubah Yesus pun memberikan keterikatan yang berlanjutan, Jika aku sedang letih, benda ini membuatku tenang kembali. Jika aku merasa sedih, jubah ini memulihkan semangatku. Jika aku melawan perbudakan yang mengungkungku, benda ini memberiku kedamaian. Kurasa karenasetiap kali aku memegang jubah iniaku teringat kekuatandan ketabahan-Nya.
Berlatar masa Romawi di bawah pimpinan Tiberius yang kuyu dan akhirnya si kejam Caligula, Douglas menggabarkan situasi politik keagamaan yang penuh konflik. Seorang Nazaret yang tidak memiliki senjata, pasukan, ambisi politik, ataupun wilayah kekuasaan, dianggap membahayakan bagi kekuasaan para iman dan menebar benih revolusi di tanah kaum-kaum tertindas. Mengamini Yesus adalah dosa di hadapan Kaisar. Namun, Marcellus terlanjut meyakini Yesus yang mencintai bebungaan, mengubah air menjadi anggur, memberikan suara bagi Miriam yang lumpuh. Ia menyimak Yesus yang mencintai anak-anak dari sahabat Yustus.
Kelahiran Yesus telah mengabadi dalam cerita. Kita mungkin bisa mengingat pernyataan Maria Luisa Motaal Lozora di novel apik The High Mountains of Portugal (2017) garapan Yann Martell bahwa Yesus memilih hidup dalam cerita, bukan sejarah, Yesus hadir di dunia dengan kepastian menenangkan bahwa dia akan tetap bersama kita dan kita akan tetap bersamanya selama dia bisa menyentuh kita melalui cerita, selama dia meninggalkan sidik jarinya di imajinasi kita yang terpesona. Maka, dia tidak melaju dengan kudanya tetapi dengan tenang menunggang cerita. Penyaliban itu telah mematikan sekaligus menghidupkan Yesus di perigi religius, mewujud sebagai kasih dan segala tindak mahabaik yang hidup dalam setiap jiwa manusia. Kita, sekali lagi, merasuki Yesus dalam dedai cerita Douglas.

Setyaningsih

Setyaningsih, seorang esais dan peresensi bermukim di Boyolali. Menjadi tukang sapu paruh waktu di Bilik Literasi Solo. Mengelola edaran resensi Bukulah! Setya bisa dicari di maosbocah.wordpress.com atau surel langit_abjad@yahoo.com. Buku kumpulan esai pernah terbit berjudul Melulu Buku (2015) dan Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016). Menulis cerita anak Peri Buah-buahan Bekerja dihimpun di Kacamata Onde (2018).

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Lomba Resensi Buku Rahel

LombaResensiBukuRahel

Lomba Resensi Buku “Rahel Pergi ke Surga Sendiri”

Kami mengundang siapa saja untuk mengapresiasi buku antologi cerpen Rahel Pergi ke Surga Sendiri yang diterbitkan oleh Litera.id. Ada sebelas cerpen pilihan di dalamnya.

Persyaratan:
1. Peserta adalah warga Negara Indonesia tidak dibatasi usia.
2. Panjang tulisan sekitar 500 kata.
3. Tulisan dikirim ke festivalsa.pa2018@gmail.com dengan menyertakan identitas diri (KTP atau SIM).
4. Peserta hanya diperbolehkan mengirim satu naskah.
5. Naskah paling terlambat diterima pada 15 31 Juli 2018 pukul 24.00.
6. Lima (5) resensi terbaik akan diumumkan pada 30 Juli 2018 15 Agustus 2018 di Litera.id dan http://bpr.pgi.or.id dan akan mendapat hadiah Rp500.000.
7. Satu pemenang dari tulisan yang dianggap memberi kesegaran dan pandangan baru akan diundang ke Festival Sa-Pa 2018 dan berhak mengikuti seluruh rangkaian acara.
8. Keputusan juri mengikat.

NB. Buku Rahel Pergi ke Surga Sendiri dapat dibeli melalui Susan (WA 081287022316) dengan harga Rp50ribu. Bebas ongkir untuk wilayah Jabodetabek.

Terima kasih atas partisipasinya.
Panitia Festival Sa-Pa 2018

Shortlink: Lomba Resensi Buku Rahel http://wp.me/p8ZXIg-bh

read more
Buku

Milenial Membaca Mirah

Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

read more
Buku

Calabai yang Menjadi Bissu

calabai

1

Epos tertulis La Galigo -naskah sastra terpanjang di dunia dengan 225.000 baris- bandingkan dengan 200.000 baris Mahabharata– senantiasa melibatkan peran bissu dan Puang Matoa (pemimpin bissu) dalam cerita, sebagai pembantu kalangan bangsawan menjalankan segala upacara.

Bissu, tokoh spiritual dalam tradisi Bugis –masih ada sampai sekarang meski tanpa Puang Matoa- sebelumnya adalah calabai. Calabai, dalam bahasa Bugis, adalah laki-laki dengan jiwa perempuan.  Bissu dianggap telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya.

Semua bissu adalah calabai namun tidak semua calabai dapat menjadi bissu karena alasan-alasan kemurnian dan bakat spiritual. Kebanyakan bissu adalah laki-laki meski bissu pertama  -konon adalah We Tanrieabeng dalam naskah La Galigo- adalah perempuan, saudara kembar Sawerigading.

Buku ini mengisahkan biografi bissu secara umum dan proses seorang calabai bernama Saidi menjadi bissu, kemudian Puang Matoa. Saidi lahir di kampung Waekeccee, Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia memiliki naluri calabai sejak kecil. Ayahnya telah melakukan segala sesuatu untuk menormalkan Saidi menjadi laki-laki sejati, namun sia-sia.

Usia 17 tahun, Saidi merantau ke Segeri, kabupaten Pangkep, tempat komunitas bissu berada. Masyarakat di sini memiliki tradisi memanggil bissu untuk memimpin upacara panen, memanggil hujan, dan yang serupa. Di lain tempat, bissu diburu oleh sekelompok ekstremis Islam –dalam hal ini peristiwa DI/TII di Sulawesi Selatan, yang menganggap bissu adalah syirik.

Setelah mengalami banyak pengalaman rohani yang diluar akal, Saidi diangkat Puang Matoa. Bakat dan kepekaannya sebagai spiritualis mengangkat komunitas bissu kembali berjaya di masyarakat. Berawal seorang peneliti Makassar yang mengundang Saidi tampil di televisi lokal, seorang teaterawan Inggris mengajaknya tur dalam pertunjukan I La Galigo, ke kota-kota besar dunia.

Popularitas bissu yang mendunia itu membawa banyak masalah di kalangan bissu. Puang Matoa Saidi mengundurkan diri sebelum selesai tur, karena sakit. Ia kembali bertirakat dalam rangka mengembalikan kedamaian di komunitas bissu. Akhirnya pada usia 53 tahun, ia menutup usia karena sakit. Sejak itu sampai sekarang belum lagi dilantik Puang Matoa selanjutnya.

2

Bagaimana seorang waria alias banci alias transvestite menjadi pendeta? Pertanyaan dan keterkejutan yang sama menerpa saya ketika pertama kali mengenal bissu dari film dokumenter tentang Puang Matoa Saidi, di satu kegiatan sastra di Bali, tahun 2005. Dalam satu dialog di di film itu mengisahkan Saidi berkata kepada seorang laki-laki muda, bahwa  keberadaan mereka sebagai calabai bukanlah sebuah aib karena tidak ada yang tahu, apakah Tuhan itu laki-laki dan perempuan.

Menjelaskan hal mendasar tersebut, buku ini memanfaatkan pertemuan Puang Matoa Saidi dengan seorang kiai, untuk menjelaskan perilaku homoseksual yang dilaknat oleh agama –dalam hadis dituliskan Allah melaknat tindakan Nabi Luth. Kata tindakan di sana menjadi kata kunci bahwa kecenderungan seksual adalah perkara jiwa. Hasrat yang bersifat naluriah, sama sekali tidak bisa diatur dan sudah terlahir demikian (hal. 301).

Sementara homoseksual yang dikenal dalam masyarakat modern lebih pada penerimaan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar tradisi pernikahan dalam perspektif agama, yaitu melanjutkan keturunan. Peran dan keberadaan bissu akan terus tergerus akibat menyempitnya pemahaman tentang keberagaman keberadaan manusia.

Tindakan kelompok yang merasa lebih bermoral dan mengikutsertakan nama Tuhan sambil meniadakan eksistensi manusia lain, sungguhlah menyedihkan dan tak tertahan arusnya. Buku karangan Pepi Al-Bauyqunie ini layak dibaca oleh kalangan siapa pun selain fakta mengatakan buku ini termasuk dalam nominasi Kusala Literary Award 2017. Pengarang Pepi telah memberi gambaran yang mulia tentang peran bissu dalam masyarakat kuno dan pemahaman yang penuh hormat tentang kehidupan bissu. (is)

 

Judul Buku: Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki

Penulis : Pepi Al-Bayqunie

Penerbit: JAVANICA

Cetakan I: Oktober 2016

383 halaman

 

read more
Buku

Sai Rai: Cerita-cerita Timur dari Beranda Timur

cover sairai

Tulislah apa yang seharusnya tak boleh dilupakan, kata Isabel Allende. Dan Dicky Senda menggenapinya. Penulis menghadirkan 18 cerita lokal dengan penuh pengertian dan kepekaan sebagai pengarang yang bertanggung jawab menanggung beban cerita-cerita yang hidup di sekitarnya.

Dicky mengoleksi dongeng kuno, sejarah, tradisi, adat istiadat dan kebiasaan di dalam dirinya, mengolahnya dengan baik sebelum menjadi cerita baru dalam tulisan. Seperti ia ingin membalas kekasaran perbuatan dengan kehalusan bahasa dan ketepatan diksi. Telah pula ia berlaku sopan dengan tidak menghadirkan kesimpulan-kesimpulan dalam ceritanya, mewakili pembaca.

Penulis menahan diri saat mengisahkan kelam tahun 65 di Nusa Tenggara Timur –dalam Pulang ke Barat dari Hanga Loko Pedae, yang bahkan dia belum lahir ketika peristiwa itu terjadi. Emosinya tidak meledak kala mengisahkan keblingeran manusia modern dalam menafsir agama impor dalam kisah Pohon-pohon yang Dibunuh Tim Doa. Ia memperlihatkan empati mendalam kepada perempuan yang membunuh anak sendiri dalam kisah sedih Orpa. Meski mencintai desa kelahirannya sepenuh hati, namun ia seorang juru cerita yang adil bagi semesta.

Jika cerita-cerita dalam buku ini adalah makanan, maka pengarang menyajikan menu-menu yang bervariasi dan jarang saya cecap. Istilah dan nama orang dan pohon dan hantu dan dewa dan Tuhan dan segala rupa kemiskinan, jenis-jenis kesedihan dan keputusasaan, suasana alam yang terasa akrab sekaligus asing. Sebuah dunia yang lain namun berjarak tak jauh.

Pengarang memainkan kata ganti aku-kamu-dia-mereka seperti melempar puzzle agar pembaca tidak terburu-buru membaca, bahkan mengulangnya. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah perempuan dan laki-laki yang sering tak bernama. Mungkin itu tidak penting seperti kata Shakespeare. Atau karena mereka telah mewakili rasa komunal sehingga tidak perlu lagi dinamai.

Dua Ruangan dengan Seribu Ular adalah metafor dua saudara kandung yang saling mencintai namun harus terpisah karena berbeda dalam memandang segala sesuatu meski mereka berdekatan dan terjangkau. Keluhuran budi manusia dikisahkan dalam Wedang Uwuh. Sai Rai: Lelaki yang Meninggalkan Bumi merupakan konsep kekuasaan dan kepercayaan rakyat Sabu karena membapakkan laki-laki sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat seperti memohon hujan, membuat panen berhasil, menangkal bencana, dan yang serupa.  

Apakah itu kisah nyata atau fiksi tidak lagi menjadi masalah ketika penulis mengungkap alam pikirannya dengan baik.  Ia meramu praktik politik kekuasaan menjadi cerita yang menggugah dalam Liuksaken dan OPK dan Kisah Lainnya. Kekesalan seorang anak dan kebawelan orangtua menjadi hiburan baru dalam cerita Bagaimana Jika Para Istri dan Gundil Ayah adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan.

Penulis bukan hanya rajin memungut cerita yang dekat atau jauh, namun juga seorang pendengar yang baik, tertib dalam berpikir, dan terampil berbahasa. Apa benar seperti dikatakan orang bahwa orang-orang Indonesia Timur berbahasa Indonesia dengan baik karena terbiasa membaca kitab suci (baca Alkitab)?

Apa pun itu, yang dimiliki penulis merupakan potensi  yang mendukung gagasan “17000 pulau imajinasi”.  Apresiasi semestinya diberikan kepada pengarang yang menerima panggilan darahnya untuk pulang dan membangun kampung, meski telah dalam posisi enak di negeri lain.

Bersama kawan-kawannya, Dicky membuat komunitas Lakoat.Kujawas di desa Mollo Utara, 130 km dari Kupang atau 18 km utara kota So’e. Ia meneliti keanekaragaman pangan lokal Mollo dengan resep pengolahan, mengembangkan homestay, dengan harapan satu kali desanya akan dikunjungi oleh orang-orang mancanegara.

Akhirnya, eksotisme timur telah meraja di seluruh cerita dan daya ungkap. Namun, ketenangan saya membaca agak terganggu karena menemukan kata-kata serapan di sana-sini. Sedikitnya saya menemukan enam kata ekspresi di seluruh badan. Apa alasan penulis tidak berupaya mencari padanan katanya, saya tak tahu. Seandainya kata-kata asing diganti dengan kata milik sendiri, mungkinkah cerita-cerita timur ini akan lebih timur rasa ketimurannya? (is)

 

Judul Buku: Sai Rai (kumpulan cerpen)

Penulis : Dicky Senda

Penerbit: GRASINDO

Cetakan I: Oktober 2017

145 halaman

read more
1 2
Page 1 of 2