close

Buku

Buku

Milenial Membaca Mirah

Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

read more
Buku

Calabai yang Menjadi Bissu

calabai

1

Epos tertulis La Galigo -naskah sastra terpanjang di dunia dengan 225.000 baris- bandingkan dengan 200.000 baris Mahabharata– senantiasa melibatkan peran bissu dan Puang Matoa (pemimpin bissu) dalam cerita, sebagai pembantu kalangan bangsawan menjalankan segala upacara.

Bissu, tokoh spiritual dalam tradisi Bugis –masih ada sampai sekarang meski tanpa Puang Matoa- sebelumnya adalah calabai. Calabai, dalam bahasa Bugis, adalah laki-laki dengan jiwa perempuan.  Bissu dianggap telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya.

Semua bissu adalah calabai namun tidak semua calabai dapat menjadi bissu karena alasan-alasan kemurnian dan bakat spiritual. Kebanyakan bissu adalah laki-laki meski bissu pertama  -konon adalah We Tanrieabeng dalam naskah La Galigo- adalah perempuan, saudara kembar Sawerigading.

Buku ini mengisahkan biografi bissu secara umum dan proses seorang calabai bernama Saidi menjadi bissu, kemudian Puang Matoa. Saidi lahir di kampung Waekeccee, Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia memiliki naluri calabai sejak kecil. Ayahnya telah melakukan segala sesuatu untuk menormalkan Saidi menjadi laki-laki sejati, namun sia-sia.

Usia 17 tahun, Saidi merantau ke Segeri, kabupaten Pangkep, tempat komunitas bissu berada. Masyarakat di sini memiliki tradisi memanggil bissu untuk memimpin upacara panen, memanggil hujan, dan yang serupa. Di lain tempat, bissu diburu oleh sekelompok ekstremis Islam –dalam hal ini peristiwa DI/TII di Sulawesi Selatan, yang menganggap bissu adalah syirik.

Setelah mengalami banyak pengalaman rohani yang diluar akal, Saidi diangkat Puang Matoa. Bakat dan kepekaannya sebagai spiritualis mengangkat komunitas bissu kembali berjaya di masyarakat. Berawal seorang peneliti Makassar yang mengundang Saidi tampil di televisi lokal, seorang teaterawan Inggris mengajaknya tur dalam pertunjukan I La Galigo, ke kota-kota besar dunia.

Popularitas bissu yang mendunia itu membawa banyak masalah di kalangan bissu. Puang Matoa Saidi mengundurkan diri sebelum selesai tur, karena sakit. Ia kembali bertirakat dalam rangka mengembalikan kedamaian di komunitas bissu. Akhirnya pada usia 53 tahun, ia menutup usia karena sakit. Sejak itu sampai sekarang belum lagi dilantik Puang Matoa selanjutnya.

2

Bagaimana seorang waria alias banci alias transvestite menjadi pendeta? Pertanyaan dan keterkejutan yang sama menerpa saya ketika pertama kali mengenal bissu dari film dokumenter tentang Puang Matoa Saidi, di satu kegiatan sastra di Bali, tahun 2005. Dalam satu dialog di di film itu mengisahkan Saidi berkata kepada seorang laki-laki muda, bahwa  keberadaan mereka sebagai calabai bukanlah sebuah aib karena tidak ada yang tahu, apakah Tuhan itu laki-laki dan perempuan.

Menjelaskan hal mendasar tersebut, buku ini memanfaatkan pertemuan Puang Matoa Saidi dengan seorang kiai, untuk menjelaskan perilaku homoseksual yang dilaknat oleh agama –dalam hadis dituliskan Allah melaknat tindakan Nabi Luth. Kata tindakan di sana menjadi kata kunci bahwa kecenderungan seksual adalah perkara jiwa. Hasrat yang bersifat naluriah, sama sekali tidak bisa diatur dan sudah terlahir demikian (hal. 301).

Sementara homoseksual yang dikenal dalam masyarakat modern lebih pada penerimaan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar tradisi pernikahan dalam perspektif agama, yaitu melanjutkan keturunan. Peran dan keberadaan bissu akan terus tergerus akibat menyempitnya pemahaman tentang keberagaman keberadaan manusia.

Tindakan kelompok yang merasa lebih bermoral dan mengikutsertakan nama Tuhan sambil meniadakan eksistensi manusia lain, sungguhlah menyedihkan dan tak tertahan arusnya. Buku karangan Pepi Al-Bauyqunie ini layak dibaca oleh kalangan siapa pun selain fakta mengatakan buku ini termasuk dalam nominasi Kusala Literary Award 2017. Pengarang Pepi telah memberi gambaran yang mulia tentang peran bissu dalam masyarakat kuno dan pemahaman yang penuh hormat tentang kehidupan bissu. (is)

 

Judul Buku: Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki

Penulis : Pepi Al-Bayqunie

Penerbit: JAVANICA

Cetakan I: Oktober 2016

383 halaman

 

read more
Buku

Sai Rai: Cerita-cerita Timur dari Beranda Timur

cover sairai

Tulislah apa yang seharusnya tak boleh dilupakan, kata Isabel Allende. Dan Dicky Senda menggenapinya. Penulis menghadirkan 18 cerita lokal dengan penuh pengertian dan kepekaan sebagai pengarang yang bertanggung jawab menanggung beban cerita-cerita yang hidup di sekitarnya.

Dicky mengoleksi dongeng kuno, sejarah, tradisi, adat istiadat dan kebiasaan di dalam dirinya, mengolahnya dengan baik sebelum menjadi cerita baru dalam tulisan. Seperti ia ingin membalas kekasaran perbuatan dengan kehalusan bahasa dan ketepatan diksi. Telah pula ia berlaku sopan dengan tidak menghadirkan kesimpulan-kesimpulan dalam ceritanya, mewakili pembaca.

Penulis menahan diri saat mengisahkan kelam tahun 65 di Nusa Tenggara Timur –dalam Pulang ke Barat dari Hanga Loko Pedae, yang bahkan dia belum lahir ketika peristiwa itu terjadi. Emosinya tidak meledak kala mengisahkan keblingeran manusia modern dalam menafsir agama impor dalam kisah Pohon-pohon yang Dibunuh Tim Doa. Ia memperlihatkan empati mendalam kepada perempuan yang membunuh anak sendiri dalam kisah sedih Orpa. Meski mencintai desa kelahirannya sepenuh hati, namun ia seorang juru cerita yang adil bagi semesta.

Jika cerita-cerita dalam buku ini adalah makanan, maka pengarang menyajikan menu-menu yang bervariasi dan jarang saya cecap. Istilah dan nama orang dan pohon dan hantu dan dewa dan Tuhan dan segala rupa kemiskinan, jenis-jenis kesedihan dan keputusasaan, suasana alam yang terasa akrab sekaligus asing. Sebuah dunia yang lain namun berjarak tak jauh.

Pengarang memainkan kata ganti aku-kamu-dia-mereka seperti melempar puzzle agar pembaca tidak terburu-buru membaca, bahkan mengulangnya. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah perempuan dan laki-laki yang sering tak bernama. Mungkin itu tidak penting seperti kata Shakespeare. Atau karena mereka telah mewakili rasa komunal sehingga tidak perlu lagi dinamai.

Dua Ruangan dengan Seribu Ular adalah metafor dua saudara kandung yang saling mencintai namun harus terpisah karena berbeda dalam memandang segala sesuatu meski mereka berdekatan dan terjangkau. Keluhuran budi manusia dikisahkan dalam Wedang Uwuh. Sai Rai: Lelaki yang Meninggalkan Bumi merupakan konsep kekuasaan dan kepercayaan rakyat Sabu karena membapakkan laki-laki sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat seperti memohon hujan, membuat panen berhasil, menangkal bencana, dan yang serupa.  

Apakah itu kisah nyata atau fiksi tidak lagi menjadi masalah ketika penulis mengungkap alam pikirannya dengan baik.  Ia meramu praktik politik kekuasaan menjadi cerita yang menggugah dalam Liuksaken dan OPK dan Kisah Lainnya. Kekesalan seorang anak dan kebawelan orangtua menjadi hiburan baru dalam cerita Bagaimana Jika Para Istri dan Gundil Ayah adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan.

Penulis bukan hanya rajin memungut cerita yang dekat atau jauh, namun juga seorang pendengar yang baik, tertib dalam berpikir, dan terampil berbahasa. Apa benar seperti dikatakan orang bahwa orang-orang Indonesia Timur berbahasa Indonesia dengan baik karena terbiasa membaca kitab suci (baca Alkitab)?

Apa pun itu, yang dimiliki penulis merupakan potensi  yang mendukung gagasan “17000 pulau imajinasi”.  Apresiasi semestinya diberikan kepada pengarang yang menerima panggilan darahnya untuk pulang dan membangun kampung, meski telah dalam posisi enak di negeri lain.

Bersama kawan-kawannya, Dicky membuat komunitas Lakoat.Kujawas di desa Mollo Utara, 130 km dari Kupang atau 18 km utara kota So’e. Ia meneliti keanekaragaman pangan lokal Mollo dengan resep pengolahan, mengembangkan homestay, dengan harapan satu kali desanya akan dikunjungi oleh orang-orang mancanegara.

Akhirnya, eksotisme timur telah meraja di seluruh cerita dan daya ungkap. Namun, ketenangan saya membaca agak terganggu karena menemukan kata-kata serapan di sana-sini. Sedikitnya saya menemukan enam kata ekspresi di seluruh badan. Apa alasan penulis tidak berupaya mencari padanan katanya, saya tak tahu. Seandainya kata-kata asing diganti dengan kata milik sendiri, mungkinkah cerita-cerita timur ini akan lebih timur rasa ketimurannya? (is)

 

Judul Buku: Sai Rai (kumpulan cerpen)

Penulis : Dicky Senda

Penerbit: GRASINDO

Cetakan I: Oktober 2017

145 halaman

read more
Buku

Menziarahi Malam, Menziarahi Kota

jakarta-1948146_1920

Dunia di malam hari memang begitu kompleks. Bagi penyair, “malam” bukan cuma segudang inspirasi, tetapi juga merupakan sebuah tema yang cukup jarang digarap. Rata-rata penyair lebih memilih tema cinta, kematian, sampai dengan kesedihan. Bisa jadi karena tema “malam” begitu luas, sehingga orang jarang memilih tema itu.

 

Judul buku                                                       : Kota, Kita, Malam
Penulis                                                               : Isbedy Stiawan ZS
Penerbit                                                             : Basabasi
Tahun                                                                 : Desember 2016
Halaman                                                            : 76 Halaman
ISBN                                                                   : 978-602-391-340-4

Isbedy cenderung berani memadukan tiga tema sekaligus di buku puisinya. Buku puisi berjudul Kota, Kita, Malam (2016). Ketiga tema itu dikuliti satu persatu kedalam kurang lebih 47 puisinya. Penyair justru memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membaca puisinya dari mana. Ketiga tema itu, sebenarnya bertalian yang mencerminkan seseorang yang sedang menelusuri malam.

Penyair, dalam hal ini memposisikan diri sebagai pejalan, peziarah. Ia tak hanya melihat malam dalam kasat mata melalui mata biasa, tapi memandang “malam” sebagai “mata puisi”. Melalui puisinya, malam digubah kedalam berbagai suasana, peristiwa sampai dengan emosi yang mengaduk jiwa. Ada dunia pelaut, ada suasana sunyi, dan sepi yang direkam dalam puisi-puisi Isbedy.

Di awal kita bisa melihat bagaimana kota dihadirkan dalam berbagai peristiwa dan suasana. Kita bisa menengok petilan puisi berikut : Aku duduk teduh disini/ gerimis memandu/ cakap;cinta ditunda/ lidahku kelu/ langit kelabu/ beri aku senyum/ hapus duka itu/ harapku (Aku Teduh di Sini). Ada suasana batin yang dihadirkan oleh penyair seperti kesedihan, kepiluan serta kesendirian. Penyair berhasil memadukan antara cerita atau peristiwa berteduh, dengan suasana hati yang mengikutinya.

Pada puisi lain masih dalam tema “kota”, ada puisi yang begitu lugas, serta tanpa basa-basi. Metafora serta personifikasi tak dibangun sama sekali. Membaca puisi ini barangkali kita akan merasa klise atau biasa mendengar peristiwa semacam ini.

Pembaca boleh saja tak sepakat dengan saya saat membaca puisi berikut : kita hanya menunggu/ sedang halte dan jalan/ terus menjauh/ tanpa bus berkunjung/ jalanlah yang bergerak/ sedang kita hanya menanti/ sampai bus datang/ lalu mengangkut ke entah/ kita hanya menunggu/ya, hingga kau datang/ sekadar berdendang (Hanya Menunggu). Membaca larik-larik puisi ini, kita tak menemukan sesuatu yang istimewa, diksi pun biasa saja, di puisi ini, kita melihat penyair hanya sekadar mengamati sekilas. Kata menunggu benar-benar fulgar diartikan menanti seseorang datang.

Ada puisi di buku ini yang mencerminkan kekuatan penyair dalam mengolah diksi dipadukan dengan tema “kota” : mungkin kita sudah lupa warna kota/ seperti tak pernah ingat bagaimana/ denyut malam/ begitu lupa bahkan pelangi diwajahku/ yang diamdiam menyusup pula di halaman itu (Menulis Peristiwa Sendiri). Ada lanskap yang meloncat-loncat, dari layar satu ke layar lainnya. Dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Dari kota hingga ke denyut, dari lupa ke pelangi, dari halaman hingga aktifitas menyusup. Pada puisi ini, nampak kelihaian penyair mengecoh pembaca dengan judul. Ada upaya menautkan diri, kedirian, dengan imaji yang berlompatan.

Pada bagian tengah buku puisi ini, kita akan menemukan bagaimana penyair menyerap lebih dalam eksplorasi diri, baik eksplorasi batin, maupun eksplorasi pengalaman tubuh, atau pengalaman penyair mengundang orang lain masuk dalam puisinya. Ada nuansa percakapan yang hendak dimunculkan saat penyair menuliskan syairnya. Penyair justru nampak mengajak pembaca bukan orang lain. Puisi berikut menggambarkan suasana kearah sana : masuk ke dalam diri/ menyelamlah sedalam-dalamnya/ maka kepalamu akan tunduk/ hati mengembara ke ruang / hanya putih seluruh dindingnya/ masuklah ke dalam diri/ lihat sedalam-dalamnya (Menyelam Sedalam-Dalam).

Di puisi lain, kita bisa melihat ada semacam petuah, nasihat, serta ajakan untuk mendalami diri lebih jauh, masuk ke ruang jiwa lebih dalam. Kita bisa membaca puisi berjudul Kau Tersenyum  : bacalah/ embun telah menetes/ dari kedua alis mataku/ serupa pelangi begitu warnawarni/ kau bernyanyi dan menari/ sebutlah bukit-bukit berbaris/di mataku, aku pun tak lelah/ mendaki, begitu indah / kau tersenyum dan inginku sampai. Meski sekilas puisi ini menampakkan kekaguman pada orang, namun puisi ini seperti mengisyaratkan bagaimana kita memasuki relung jiwa seseorang begitu dalam meski hanya lewat tatapan wajah, ekspresi senyumannya.

Bila di puisi-puisi sebelumnya penyair mencoba untuk membuat bait terakhit begitu biasa, maka di puisi berikut ada usaha penyair mencari kejutan di bait terakhir. Setelah hujan/ aku berangkat/ hanya sendiri/ begitu sepi/ sebuah taman/ masih basah/ sangat berair /mungkin untuk basuhku sebentar lagi/ satusatunya air/ yang kutemui/ di taman itu/ air matamu? (Setelah Hujan).

Ada usaha mengaitkan antara air hujan, kesedihan, sampai dengan air mata seseorang (baca :kesedihan seseorang). Pada bait penutup, kita menemukan satu kejutan, meski masih satu makna antara kesedihan dengan air mata. Ada satu ketukan yang berlainan dengan baris-baris syair sebelumnya.

Mari kita menuju pada penutup buku puisi ini. Penutup buku puisi ini mencoba untuk menziarahi malam. Malam dalam pandangan buku puisi ini bisa berbagai macam. Kita bisa menyimak bagaimana malam ditafsir dalam puisi ekspresif. Puisi-puisi di bagian belakang ini lebih merupakan bentuk ekspresi seseorang yang bisa kita baca secara terang dan gamblang. Ada kejujuran pada satu sisi, tapi juga kita melihat ada rasa mampat saat penyair mencoba mencari metafora, atau diksi yang indah di puisinya. Tapi aku akan terus mencari meski/ laut dan udara dilintasi: petang/ mendekati kelam/ kemana kau pergi dirundung sunyi (Milikku Sunyi).

Nampak betul penyair kurang begitu lihai menelusup ke relung lebih dalam menyusuri sunyi. Makna sunyi saya kira tak sekadar kematian dan kesepian. Disini, kita hanya menangkap ekspresi kehilangan semata. Sementara kata sunyi sendiri lebih identik dengan alam.

Selain kesunyian yang coba digambarkan penyair, ada tema yang mengajak kita merenung pada persoalan religiusitas. Kita bisa membaca penggalan puisi berikut : setiap malam/ mataku jadi siang/kekasih yang disayang/ tak pernah pulang/ bergemuruh kedalam/ jalanjalan cemerlang/ sekiranya malam /telah menjadikan/ mataku siang/ apakah aku masih / bisa memiliki/ matahari pagi? (Kupulangkan Malam).

Puisi-puisi Isbedi memang lebih terkesan vulgar. Akan tetapi, melalui buku puisi ini, kita diajak untuk menziarahi diri, menziarahi malam, menziarahi kota. Melalui perjalanan ke kota-kota barangkali Isbedy bisa lebih matang dalam memilih “diksi”maupun metafora. Kekuatan sajak ini ada di cara pengungkapan. Cara Isbedy mengungkap refleksi kota, tentu berbeda dengan cara Afrizal. Kota dalam pandangan Isbedy tentu saja tak ditemukan relasi modernitas, spirit pembangunan, dan sebagainya. Saya merasa yang diangkat Isbedy adalah suasana, spiritual serta manusia yang ada pada peristiwa ketimbang mengangkat tema kota yang lain.

 Meminjam kata-kata penyair, buku ini memang berkesan untuk memberi pesan agar kota serta manusianya menjadi lebih baik.

 

 

 

*) Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

read more
BukuGAYA

Saat Perempuan Mencari Keadilan

jesus-1138278_1920

NAMANYA Miryam. Ia adalah perempuan yang mengikuti Yesus (di buku disebut Yeshua) dan para murid, blusukan ke desa dan kota. Dia berasal dari Magdala, kota kecil di sekitar Danau Galilea, berdekatan dengan kota-kota Genesaret, Kapernaum, Korazin,  perempuan pertama yang bertemu Yesus setelah Ia bangkit.

Dikisahkan Miryam berusia 40-an. Ia pengusaha kain ungu yang sukses karena memiliki rahasia teknik pencelupan warna kirmizi, yang bila diarahkan ke matahari, berubah ungu yang sangat indah.

Suaminya Yaakov, seorang nelayan yang baik hati dan cinta keluarga. Mereka punya dua anak laki-laki. Avram, si sulung yang sudah menikah dan istrinya, Rachel, sedang hamil, dan Binyamin, si bungsu, masih bayi, dan tuli.

Pada satu hari, Miryam ditimpa kemalangan hebat. Seorang gundik perwira Romawi membeli kaun ungu darinya seharga 10 dinar emas, namun balik mengancam ketiga ditagih. Rumah Miryam habis dibakar, keluarganya dibantai habis, kecuali Binyamin, yang diam-diam diselamatkan oleh prajurit Romawi berhati lembut, Atticus Aurelius. Bayi itu diangkat anak oleh Atticus, diberi nama Quintus.

Miryam tidak terima. Tragedi pilu itu membajakan tekadnya untuk menuntut dendam atas porak-poranda keluarganya. Ia pergi ke kota Tiberias, bertemu Herodes tapi tidak mendapat  bantuan. Dalam keadaan ruwet, ia bertemu Marisa di kota itu, seorang gadis Mesir penjual jimat. Kepadanya Marisa memperkenalkan Isis, dewi kebijaksanaan Mesir yang dapat menolong apa saja. Miryam kepincut, menerima jimat Isis.

Jiwanya yang tak stabil membawanya pada keadaan buruk terus menerus, sampai satu kali ia seperti mendengar suara-suara di kepalanya. Suara pertama mengaku bernama Natar. Lain waktu bernama Baath, atau Qinah, Avah, Azaph, Katakritos, Geah. Demikianlah tujuh suara (roh) memprovokasi Miryam untuk kian mengkristalkan dendam di hatinya. Ia begitu dikuasai ketujuh roh jahat itu sampai-sampai tak sadar (meski ia sadar sepenuhnya), tangannya membunuh seseorang.

Miryam pulang ke kotanya, dan ia dicap gila. Waktu itu Yesus baru memulai pelayanan di Galilea, dikerumuni banyak orang, dengan banyak kepentingan. Saat itulah ia bertemu Yesus, dan disembuhkan dari tujuh roh jahat. Setelah itu ia mengikut Yesus, ke manapun, menjadi semacam bendahara.

Di lain pihak, diceritakan Atticus bertemu dengan Cyrilla, seorang gadis bayaran asal Syria. Ia meminta gadis itu mengasuh Quintus. Dalam satu kesempatan, istri Pilatus, Nyonya Procula, mengajak Cyrilla dan Quintus, ke rumahnya. Nyonya itu jatuh kasihan kepada Quintus. Saat tersiar kabar seorang penyembuh dari Galilea, Nyonya Procula meminta Atticus untuk membawa Quintus, menemuinya. Itulah momen indah Atticus mengenal Yesus secara pribadi –sebuah pertemuan yang nyata- dan menjadi pengikut meski diam-diam. Dalam buku, Atticus disebut sebagai tentara Romawi yang menolong menurunkan mayat Yesus.

Setelah Yesus mati, hati Miryam masih dipenuhi roh penasaran, mencari pembunuh keluarganya. Akhir cerita yang tak terduga baik bagi Atticus, Quintus, dan Miryam sendiri.

Buku ini kaya dengan detil. Rujukan pengarang yang sangat melimpah, seolah ingin memanjakan pembaca dengan segenap tata cara masyarakat Yahudi kala itu seperti keseharian Yesus dan murid-murid dan keluarga, regulasi tentara Romawi, praktik sekte eksklusif dan rahasia, gaya hidup penguasa, tengiknya orang Farisi, persinggungan antarbudaya di Israel, masalah perempuan dan anak, jenis-jenis makanan, cuaca, pakaian, bahkan cara berpikir.

Sosok perempuan yang disembuhkan oleh Yesus dari tujuh roh jahat dalam kitab suci, menjadi jelas ketika selesai membaca buku ini. Memang, seyogyanyalah novel fiksi sejarah  menyajikan data selengkapnya sehingga puzzle masa lalu tersaji jelas di masa kini.

 

Miryam dari Magdala
Judul asli Magdalene
Penulis Angela Hunt
Penerjemah Arie Saptajie
Penerbit Gloria Graffa
Cetakan I 2009, 422 halaman

read more