close

Kata Saya

Kata Saya

Petualangan ke Kamboja: Sebuah Goresan Tinta Peradaban

kamboja8

Melangkahkan kaki  menuju negara Kamboja,  menilik jejak  sejarah  di sudut kota Siem Riep dan Pnom Penh , yang memperlihatkan sebuah misteri, keindahan, keagungan, eksotisme, tragedi berdarah hingga keberanian mencicipi kuliner  ekstrimnya.

 

Perjalanan ini  dimulai dari Bangkok pagi hari menggunakan bis umum menuju kota Aranyaprathet-Poipet perbatasan negara Thailand dan Kamboja . Suatu perjalanan darat selama lebih kurang 6 jam yang sarat pengalaman, seru, dan mendebarkan. Sebuah  catatan kertas “healthy declare” yang harus diisi disodorkan petugas sesampai diperbatasan, dilanjutkan proses imigrasi.  Menuju terminal bis di Poi Pet tersedia “free shuttle bus”. Perjalanan berlanjut menuju Siem Riep, ada kejadian menarik saat bis menepi di Phkayproek Kralanh untuk istirahat dan makan. Terdapat sekelompok anak kecil dengan wajah dekil dan kuyu terlihat menyerbu penumpang untuk sekedar meminta dan menawarkan kerajinan gelang nylon yang dibuatnya

Hari mulai gelap, tibalah di Siem Riep kota kecil yang menyedot perhatian turis asing. Seorang sopir tuk-tuk dengan sopan menawarkan jasanya. Mr. Chantol namanya, seorang sarjana komunikasi (bersyukur mendapatkan sopir yg bisa bahasa Inggris).

Negara dengan Seribu Candi

Tuk-tuk,  telah melaju membelah kota Siem Riep dalam keremangan subuh, menyusuri jalanan menuju kawasan Angkor Wat, tiket seharga 20  $ US  menjadi pilihan untuk seharian bisa keluar masuk kawasan candi. Berjalan, berpacu menahan hawa dingin yang menusuk tulang meraba-raba dikegelapan  dengan cahaya senter yg mulai meredup bersama dengan ratusan turis menuju lokasi  sunrise yang menyembul diantara celah 3 stupa candi Angkor Wat yang kesohor itu. Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju ” Chong Kreas Floating Village” sebuah perkampungan unik yang mengapung diatas sungai. Pemandangan bangunan warung kelontong, beragam rumah tinggal, gereja, kantor polisi, bengkel kecil dan rumah makan yang mengapung diatas air cukup menarik, sebuah potret utuh dari realita kemiskinan tercermin disini. Dengan menyewa perahu mengelilingi kampung sambil mendengar kisah Chantol, bahwa orang tuanya pernah tinggal disini dan dia menjadi tulang punggung keluarga. Kemiskinan tidak menyurutkan usaha menyelesaikan kuliahnya meskipun putus sambung. Pekerjaan layak sangat sulit didapatkan sehingga dia pun mencoba peruntungan sebagai sopir tuk tuk dan saya merupakan tamu pertama baginya.

Mengelilingi kompleks candi di Angkor Wat seperti membuka album sejarah masa lalu Siem Riep. Turis manca negara memenuhi kawasan ini. Angkor Thomb dan candi-candi disekitarnya, menjadi pilihan untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya, sebuah candi dengan stupa berwajah manusia . Hampir setiap candi dikawasan Angkor  Wat dipenuhi dengan relief ”Apsara Dance” sepasang wanita penari yang eksotik, sosok penari tersebut telah menjadi salah satu ikon negara Kamboja, yang banyak ditemukan dalam bentuk souvenir khas kamboja seperti lukisan cat minyak, kertas bahkan menjadi hiasan dibeberapa pintu perkantoran.

 Pesona ”Apsara Dance”  dan Keremangan Malam Siem Riep

Kehidupan di Siem Riep hampir mirip daerah Kute di Bali. Hotel, bungalow yang cantik, resto-resto yang memanjakan lidah hampir terlihat ditiap sudut kota dengan dominasi kehidupan turis manca negara yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kehidupan Phnom Penh penh ibukotanya sendiri.

Saat menjelang malam, bisa temukan pertunjukan tarian ”Apsara dance” live show, namun tarifnya begitu mahal. Alternatif lain untuk melihat pertunjukan sejenis bisa didapatkan di resto ” Angkor Mondial Restaurant” ditemani jamuan makan malam khas Khmer, yang berlokasi di Pokambor Avenue, Wat Bo Bridge. Cukup mengeluarkan budget Rp. 120,000,- sudah mendapatkan makan malam dan menonton pertunjukan tari tradisional Kamboja. Menutup malam di Siem Riep, dengan berburu keunikan kerajinan khas Kamboja di ”Angkor Night  Market”, sebuah pasar malam yang menyediakan macam-2 souvenir seperti : patung kecil ”apsara dance”, gantungan kunci,dompet ,sarung bantal home made dengan sulaman bergambar Khmer, phasmina, kaos dll, harganya cukup terjangkau jika pandai menawar.

Sebelum meninggalkan Siem Riep keesokan hari, tidak lengkap rasanya jika melewatkan ”Musium Nasional Angkor”, disini informasi dan pengetahuan seputar sejarah,candi dan kebudayaan Kamboja dengan tatananan modern dan cerita yang runut dikemas dalam audio-video sangat menarik dan mengagumkan. Tak lupa berburu  phasmina dan vcd/dvd instrumen perkusi pin peath dan  mohory musik tradisional Kamboja.

Ibukota Phnom Penh dan Peninggalan Tragedi Khmer Merah

Perjalanan menuju ibu kota Kamboja dimulai dengan jarak tempuh +/- 5 jam. Hamparan sawah dan bulir padi menguning serta  rumah-rumah kecil dengan tumpukan jerami sisa panen mewarnai perjalanan ini. Perpisahan dengan Chantol cukup mengharukan, selama 2 hari di Siem Riep bersamanya menjadikan seperti saudara sendiri, sikap ramah, bercanda dan tanggungjawabnya tidak akan terlupakan. Secarik surat darinya dan stiker bendera Kamboja yang diselipkan tak mampu membendung air mata haru.

Daya tarik kota Pnomh Penh yang tidak seramai layaknya ibu kota besar, berupa  peninggalan tragedi bersejarah Khmer Merah, yang menjadi saksi bisu kekejaman Pol Pot saat berkuasa th. 1975 – 1979, membuat hati menjadi miris seperti di iris-iris. Coeung Ek Genocidal sebuah lokasi pembantaian yang telah dijadikan monumen untuk mengenang para korban pembunuhan, lokasinya 15 km dari Pnomh Penh arah luar kota. Tempat ini terkenal dengan sebutan ” The Killing Fields” yang  pernah difilmkan dilayar lebar. Tengkorak dan tulang-tulang wanita, pria dewasa dan anak-anak yang meninggal serta beberapa pakainan saat kejadian turut dipajang. Sebuah pohon besar di areal tersebut menambah kesan mistis, konon pohon ini mampu meredam suara, sehingga tidak ada seorangpun diluar sana dapat mendengar tangisan dan permintaan tolong korban kekejaman. Masyarakat setempat menamakan ”magic tree”.

Musium Toel Sleng  adalah bekas gedung sekolah berlantai 3 yang dijadikan penjara bagi tersangka yang tidak mematuhi paham dan ajaran Rezim Khmer Merah. Bangunan bekas penjara dengan tempat tidur, borgol besi dan kaleng air minum serta ceceran darah mengering disepanjang lantai membuktikan kekejaman dan siksaan yang dalami penduduk Kamboja kala itu. Gambaran foto para tersangka, berbagai macam jenis penyiksaan terhadap manusia seperti pembakaran hidup-hidup, sengatan serangga sciorpion, bayi-bayi yang dipenggal dan dibenturkan tubuhnya ke pohon sampai mati didepan orang tuanya, pencambukan massal dan benda-benda yang menjadi saksi bisu atas kekejaman Pol Pot membuat bulu kuduk merinding dan hati semakin tersayat. Adanya penampakan hantu yang tertangkap kamera, pernah juga ditulis oleh koran lokal.

 

Belanja dan Kuliner Ekstrim Seputar Pnomh Penh

Russian Market menjadi pilihan belanja souvenir, kain tenun dan selendang sutra  khas Kamboja bisa didapatkan dengan harga cukup kompetitif. Beberapa souvenir kecil seperti tempat pulpen,kartu nama,kaos dll juga terdapat disini.  Sekedar mencoba kuliner sore hari di alun-alun kota,  pedagang asongan menawarkan Lotus yang diambil bijinya sebagai camilan, ringan rasanya mirip belinjo. Kuliner yang ekstrim juga terdapat diantaranya seperti : kebab tarantula, aneka serangga goreng dan ”phon tea khon” telur itik atau ayam yang direbus berisi fetus  di dalamnya….hhhhmmm berani mencobanya??? Kekayaan budaya, peninggalan sejarah dan kuliner Kamboja cukup unik dan menarik, sayang jika dilewatkan.

Oleh: Henny Hendarjanti

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Kata Saya

Pameran Lukisan Wayang Yogyakarta

WhatsApp Image 2017-09-22 at 19.35.31

Semalam saya dapat souvenir dari salah satu perupa Yogya yang membuat wayang alternatif. Namanya Wayang Uwuh.

 

“Uwuh” artinya “sampah”. Perupanya bernama Iskandar. Dia mengembangkan karya seni dari sampah. Berbeda halnya dengan minuman yang dinamakan Wedang Uwuh yang terkenal sebaga minuman raja di Mataram. Wayang uwuh ini dibuat dari botol minuman bekas yang disetrika dengan cara tertentu agar pipih. Lalu dilukis dan kemudian diberi pengait kayu. Pembuatan wayang uwuh ini sangat mudah. Jika nggak bisa menggambar, pakailah kopi gambar pada kertas hvs, lalu di-blad (dicontoh) di atas plastik yang siap dipakai. Maka, jadilaaah… Wayang uwuh, membuat semua orang bisa menjadi seniman.

Sejak beberapa tahun ini, karya Iskandar sudah beberapa kali dipamerkan. Salah satu karyanya juga menggunakan kulit kacang tanah sebagai karya, sekaligus piguranya. Wayang uwuh ini sudah di-workshopkan di Thailand dan mendapat respon sangat positif.

Lesson on wayang, 23 Sep 2017
Mikke Susanto

read more
Kata Saya

Menyusuri Sungai Sarawak

sunset-1902317_1920

Banyak tempat dan ragam wisata di Kota Kuching, Negeri Sarawak, Malaysia. Salah satu ragam wisata di kota itu adalah menyusuri Sungai Sarawak. Sungai ini membelah Kuching menjadi dua bagian, satu kawasan disebut sebagai kota lama di mana difungsikan sebagai tempat niaga dengan penduduk mayoritas keturunan China. Sedang di bagian seberang adalah pusat pemerintahan Sarawak dengan mayoritas penghuni adalah kaum bumi putera (etnis Melayu).

Sungai ini menjadi penghubung kedua kawasan. Bila orang seberang ingin belanja ke pusat niaga, mereka ada yang menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tarif naik sampan sebesar 1 RM (Ringgit Malaysia).

Meski sungai itu memiliki panjang 217 km namun paket wisata menyusuri sungai hanya sekitar Water Front. Water Front merupakan pusat wisata, niaga, bisnis, dan hotel di Kota Kuching. Untuk itu bila kita ingin menikmati wisata susur sungai, kita harus ke Water Front. Kapal yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar 4 meter ini ditambatkan di salah satu dermaga Water Front.

“Kalau membeli di awal harganya 54 RM,” ujar penjual tiket. Ia menawarkan potongan harga dengan tujuan agar wisatawan yang lalu lalang di Water Front segera ikut tour itu. Harga resminya adalah 60 RM untuk dewasa dan 30 RM untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Di tengah lalu lalang orang, satu persatu orang membeli tiket. Waktu menyusuri sungai pukul 17.30 waktu setempat. Dalam sehari paket wisata susur sungai hanya sekali. Tepat pukul 17.00, peserta wisata susur sungai diperkenankan masuk ke dalam kapal yang di badannya tertulis Sarawak River Cruise itu. Peserta wisata susur sungai rupanya terbilang banyak, terlihat orang berduyun-duyun bergegas naik ke kapal.

Berada di dalam kapal, kita akan melihat kemewahan, ada restoran dengan fasilitas bardan café. Meski di ruangan ini suasana lebih mewah namun sepertinya penumpang lebih memilih naik ke bagian atas. Di bagian ini suasananya terbuka sehingga pandangan lebih luas. Berada di bagian atas, pramusaji langsung menyambut penumpang dengan menyodorkan roti yang berada di atas piring kecil dan segelas es jeruk. Sepasang roti dan minuman itu adalah bagian dari pelayanan tour.

Menjelang pukul 17.30, terdengar bunyi terompet kapal yang keras dan panjang. Klakson dibunyikan sebagai tanda kapal hendak lepas tali. Tak lama kemudian, kapal bergerak pelan meninggalkan dermaga. Ketika kapal sudah menengah, terlihat kawasan Water Front, seperti Main Bazaar. Main Bazaar adalah pusat belanja souvenir dan oleh-oleh khas Kuching dan Sarawak. Tak lama kemudian kita akan melihat bangunan wisata seperti Fort Margherita, Mahkamah Lama, dan Galangan Kapal Brooke. Bangunan-bangunan itu merupakan bangunan tua dan berfungsi pada masa ketika Sarawak berada di bawah kekuasaan bangsa asing, seperti pada masa Charles Brooke di tahun 1800-an. Charles Brooke merupakan orang Inggris yang pernah menjadi sekutu Sultan Brunai yang masih menguasai Sarawak.

Tak lama kemudian, pengunjung akan melihat megahnya Masjid Kota Kuching. Masjid ini umurnya setua pemerintahan Kota Kuching, dibangun mulai tahun 1852 dan mengalami masa pengembangan dari waktu ke waktu. Bangunan yang sekarang kita lihat merupakan renovasi terakhir yang dilakukan pada tahun 1962. Di kanan kiri masjid merupakan pemakaman Muslim.

Selepas melintasi masjid yang bercat pink itu, kapal berputar haluan, balik arah. Di sisi sebelah sungai, peserta susur sungai akan melihat dua bangunan penting Negeri Sarawak, yakni Astana dan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak. Astana adalah tempat tinggal Yang di-Pertuan Negeri Sarawak, jabatan setingkat gubernur. Tempat ini bak istana presiden di Indonesia. Dalam kesempatan itu, saya ingin mengunjungi Astana, ehrupanya tempat itu dibuka pada saat-saat tertentu seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Tepat di samping Astana ada DUN. DUN kalau di Indonesia adalah DPRD.

Sebagai urat nadi masyarakat, di kanan-kiri sungai juga ada hunian penduduk. Saat susur sungai kita akan melihat Kampung Boyan. Kampung ini bisa jadi dulu adalah tempat hunian orang-orang Indonesia, di kampung itu ada lorong yang bernama Lorong Gersikan. Tak jauh dari Kampung Boyan, ada Kampung yang bernama Surabaya. Di Kampung Surabaya, ada lorong-lorong yang namanya para Wali Songo. Seperti Lorong Sunan Bonang.

Agar suasana susur sungai itu tidak menjenuhkan, pengelola memberikan hiburan tari di atas kapal. Di ujung perjalanan, peserta wisata disuguhi beragam tari tradisional, tari dari etnis dayak, melayu, dan etnis lain yang ada di Sarawak. Dengan suguhan tari tradisional itulah membuat wisata susur sungai menjadi lebih meriah dan menyenangkan. Pengelola tour pun memberi kesempatan kepada penumpang bila ingin foto bareng dengan para penari.

 

Ardi Winangun adalah seorang penulis traveller yang biasa menulis di Jawa Pos, Republika, dan Koran Tempo. Ia adalah founder komunitas Backpacker International. Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Kata Saya

Menikmati Lebaran di Bandar Seri Begawan – Brunei Darussalam

Foto Fajar 2

Sudah menjadi tradisi bagi Muslim di Indonesia untuk merayakan Idul fitri atau berlebaran dengan mudik ke kampung halaman. Namun, untuk Lebaran tahun ini, saya memutuskan mengunjungi negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam karena ingin merasakan bagaimana atmosfir Idul Fitri di negara Islam tersebut sekaligus mengunjungi Istana Nurul Iman yang hanya dibuka untuk umum hanya pada saat hari raya Idul Fitri.

Perjalanan saya ke Brunei Darussalam tepatnya kota Bandar Seri Begawan (BSB) berdurasi 4 hari, yaitu 24 sampai 27 Juni 2017 dengan menggunakan salah satu maskapai low cost carrier dari Kuala Lumpur. Saya mendarat di Brunei International Airport sekitar pukul 9 pagi dan kesan pertama yang saya rasakan dari negara ini adalah ketenangan dengan nuansa islami. Bandara ini tidak terlalu besar, namun bersih dan modern serta letaknya juga tidak jauh dari pusat kota yaitu sekitar 10 km atau 15 menit berkendara. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hal menarik lainnya adalah tidak terlihat adanya kemacetan disini sehingga perjalanan saya menuju pusat kota BSB lancar jaya. Jangankan macet, kondisi jalanan juga sangat sepi padahal berdasarkan informasi yang saya peroleh hampir setiap keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi. Sekilas, kondisi jalan utama di Brunei sangat mirip dengan singapura, lebar dengan  masing masing memiliki 3 lajur disetiap sisi jalan.

Brunei Darussalam merupakan negara kaya penghasil minyak dan gas bumi yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah. Memang Brunei terlihat tidak terlalu fokus pada pariwisata dan objek wisata juga tidak seperti beberapa negara asean lainnya. Oleh karena itu, jangan berharap menemukan mall mewah dengan berbagai outlet branded atau jenis hiburan lainnya karena gak akan bisa didapatkan disini. namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilihat jika kita datang ke negara ini bahkan menurut saya, Brunei khususnya Bandar Seri Begawan memiliki daya tarik sendiri. Untuk urusan makanan, terdapat banyak restaurant yang masih sesuai dengan lidah Indonesia. Namun, biaya hidup di Brunei menurut saya masih terlalu mahal untuk kantong orang Indonesia. Mata uang yang digunakan adalah Dollar Brunei namun lebih akrab dikenal dengan sebutan ringgit. Oh iya, selain dollar Brunei, dollar Singapura berlaku loh di sini dengan nilai ekuivalen 1:1. artinya jika traveller memiliki Dollar Singapura (SGD) maka tidak perlu ditukar ke Dollar Brunei (BND) karna dapat langsung digunakan. Tidak perlu khawatir akan ditolak karena kedua negara ini memiliki perjanjian tentang penggunaan mata uang dikedua negara.

Karena negara ini merupakan negara Islam, tentu saja daya tarik wisata masih mengarah kepada hal yang berbau Islami. Namun seperti yang saya sebutkan tadi kota BSB sangat sepi sehingga lebih cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota yang sepi dan tenang.  Ada beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi selama berada di BSB, diantaranya adalah masjid, museum, dan Istana tentu saja. Namun tentu saja traveller jangan lupa bahwa fungsi utama masjid adalah tempat ibadah umat islam jadi bagi traveler non-Muslim diharapkan menaati peraturan terutama masalah pakaian. Tetapi bagi pengunjung non-Muslim atau bagi pengunjung yang auratnya tidak tertutup oleh pakaian, panitia/ penjaga mesjid menyediakan jubah yang dapat dipinjam untuk menutup aurat. Ada beberapa bangunan masjid yang selalu menjadi bucket list para traveller. Sebut saja dua masjid dengan kubah emasnya yaitu Masjid jame’Asr Hassanal Bolkiah dengan 29 kubah emas yang terletak di distrik gadong dan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang terletak di kawasan bandar/ pusat kota dan berseberangan langsung dengan Kampong Ayer yang merupakan kampung air terbesar di dunia dan disebut juga sebagai Venice of the East. Ada juga Masjid Ash Shalihee, berarsitektur Maroko – Mesir yang terletak dekat dengan komplek pemerintah Brunei Darussalam. Masjid di Brunei dibangun oleh Sultan Brunei sehingga sangat memperhatikan detail arsitektur serta kemegahannya. Selain masjid, tidak ada salahnya traveller mengunjungi museum yang ada di Bandar Seri Begawan. Mengunjungi museum sama seperti mempelajari sejarah bangsa tersebut bukan??

Ada beberapa museum yang juga dapat traveller kunjungi diantaranya Royal Regalia Building yang berisi koleksi Kesultanan Brunei, ada juga Museum Brunei atau dapat mengunjungi Museum Teknologi Melayu. Selain itu traveller juga dapat mengunjungi Museum Kampong Ayer yang terletak di Kampong Ayer tepatnya di Brunei River. Untuk mengunjungi Kampong Ayer, traveller bisa menuju dermaga di kawasan bandar yang berada di depan komplek perbelanjaan yayasan. Dengan menggunakan boat yang super cepat traveller dapat menyebrang ke Kampong Ayer dengan waktu kurang lebih 1 menit 40 detik saja loh, dengan tarif $1 pulang pergi.  Dan traveller nggak usah pusing memikirkan berapa biaya masuk ke museum, karena semua dapat dikunjungi secara gratis!.

Satu hal yang masih menjadi kekurangan di Brunei yaitu transportasi umum. Transportasi umum di Brunei masih tertinggal dari beberapa negara maju lainnya sebut saja Malaysia dan Singapura. Frekuensi kedatangan bus termasuk lama sekitar 30 sampai 60 menit dengan tarif flat sebesar $1. Meskipun Brunei negara kaya, namun transportasi di negara ini masih belum mencerminkan kekayaannya. mungkin karena hampir seluruh penduduk memiliki kendaraan pribadi sehingga pemerintah tidak terlalu fokus pada transportasi umum. Kendaraan umum di kota BSB biasa hanya dipakai oleh pengunjung seperti saya, pekerja asal Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

Selain masjid dan musem, tujuan utama kedatangan saya kali ini adalah mengunjungi Istana Nurul Iman. Istana Nurul Iman merupakan tempat tinggal raja dan keluarga. Berdasarkan luasnya Istana Nurul Iman merupakan kawasan kerajaan terluas di dunia. Sudah menjadi tradisi, setiap tahun Sultan Bolkiah akan membuka istana untuk umum selama tiga hari dan warga Brunei ataupun pengunjung dapat bertatap muka dan bersalaman langsung dengan Sultan dan Pengeran (untuk laki – laki) serta bersalaman dengan permaisuri dan putri (untuk perempuan). Selain itu, Sultan menjamu seluruh tamu dengan makanan yang  beraneka ragam dan luar biasanya banyaknya. Selama tiga hari tersebut, biasanya kerajaan dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

Kesempatan untuk masuk ke Istana Nurul Iman hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri. Oleh karena itu jika traveller berkunjung ke Brunei dan ingin mengunjungi Istana Nurul Iman serta bertemu langsung dengan keluarga kerajaan Brunei, sebaiknya traveller mulai merencanakan, ya. Kapan lagi coba mengunjungi istana, bertemu Sultan dan dijamu dengan makanan kerajaan.  Hehe…

Oleh: Fajar Sardi Syahputra

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

read more
Kata Saya

Agustus: Bukan Bulan Lomba Saja!

pedestrian-752076_1920

Perkenalkan, namanya Djalil, seorang anak muda gaul di tengah beberapa gang perumahannya. Saking gaulnya, setiap kali dia lewat pasti ada saja orang yang menegurnya.

Memasuki bulan Agustus, Si Djalil sudah sangat sibuk bersiap ikut lomba 17 Agustus. Menurut dia, ini kesempatan yang berharga. Saking berharganya, dia mempersiapkan strategi untuk menang dengan cara yang boleh dibilang sedikit curang.

Itulah gambaran yang mungkin lumayan banyak kita temui. Sangat disayangkan, karena banyak hal positif yang bisa kita ambil dari sebuah lomba. Dan seharusnya kita memaknainya sebagai bentuk rasa nasionalisme yang hidup!

Oleh: Reylando 

 

*Pentigraf alias Cerpen Tiga Paragraf ini merupakan salah satu hasil karya peserta dalam workshop yang diadakan Majalah Litera di Mall of Indonesia 25 Agustus 2017 lalu. Nantikan karya-karya selanjutnya yang akan diposting berkala!

 

read more
Kata Saya

Terpukau Kejayaan Bagan di Masa Lalu

umbrella-1807513_1920

Jalan sempit menuju Pagoda Shwezigon berdebu bukan main. Masih berpermukaan tanah dan batu, Saya dan Diyan mengayuh sepeda sewaan dari hotel melewati jalanini. Saingan kami adalahpara pejalan kaki, pengendara motor, hingga truk barang. Banyak dari mereka yang mengenakan sarung panjang, baik lelaki maupun perempuan, dan dengan lincahnya mengayuh sepeda lebih cepat daripada saya yang bercelana panjang.

 

Pagoda yang kami tuju ramai dikunjungi wisatawan, pedagang, dan para penganut agama Budha. Ternyata saat itu sedang berlangsung Festival Shwezigon, yang selalu jatuh di bulan Oktober atau November. Kegiatan para pengunjung berpusat pada bangunan pagoda berwarna emas setinggi 48 meter, yang dikelilingi koridor di empat penjuru. Di salah satu sisi pagoda, para biksu berbaris rapi, mengantre untuk pembagian makanan dan uang. Sementara di semua sisi tersebar para wisatawan yang sibuk memotret pagoda dan para biksu. Di salah satu koridor, berderet meja yang menjajakan dagangan berupa suvenir, kudapan, pakaian, dan sarung.

“Aha! Ini dia sarungnya!” saya berseru ketika melihat tumpukan sarung, yang ternyata disebut ‘longyi’,beraneka warna. Sesungguhnya, sejak melihat banyak warga Myanmar yang memakai sarung sejak saya turun dari pesawat di Yangon International Airport, ingin sekali saya mencoba memakainya, karena mereka terlihat anggun dan unik. Langsung saya memilih-milih dan akhirnya membeli dua potong sarung, dan Diyan satu potong. Dengan bantuan si gadis penjual, longyi baru berwarna hijau dengan garis-garis emas terlilit di pinggang saya dan langsung saya pakai untuk berkeliling pagoda.

Memakai longyi, yang rasanya mirip memakai rok span panjang, ternyata agak repot. Mungkin karena saya tidak terbiasa memakai rok panjang. Untuk duduk di pinggiran koridor yang rendah, saya harus berhati-hati agar kainnya tidak robek.Ketika sudah berhasil duduk dengan nyaman, saya memerhatikan orang lalu-lalang. Mata saya kemudian menangkap beberapa orang biksu yang sedang duduk dan merokok di bawah pohon rindang, agak jauh dari keramaian. ‘Oh, ternyata biksu juga ada yang merokok, seperti orang biasa,’ batin saya.

Menjelang sore, kami melanjutkan jalan-jalan ke pasar, dekat dari Shwezigon. Masih memakai longyi, saya berusaha naik sepeda. Gagal. Daripada terserimpet longyi sendiri, saya copot kain itu dan simpan di tas.

Lorong-lorong pasar terasa familier. Kios-kios kayu menjajakan sayur-mayur, buah-buahan, bumbu masak, peralatan dapur dari plastik, hingga pakaian dengan berbagai motif dan warna mencolok. Bedanya, berkali-kali kami disapa dalam bahasa Myanmar, mungkin karena tipe wajah melayu kamiyang mirip mereka. Satu hal lagi yang terasa asing, yaitu ketika saya melihat dua orang biksu dengan jubah kuning khasnya. Tentu tak ada larangan biksu ke pasar. Namun, salah satu dari mereka mencolek lengan seorang pembeli di pasar, kemudian menengadahkan telapak tangan seperti meminta sesuatu. Saya hampir tak percaya, tapi itulah yang saya lihat. Saya tak mengerti, apakah memang hidup biksu di sana sangat sulit sehingga harus meminta-minta.

Hari berikutnya saya mengajak Diyan untuk memakai longyi seharian penuh. Tentunya kami tak akan bersepeda, melainkan menyewa delman. Delman di sana agak berbeda dengan di Indonesia. Tempat duduk bagian belakang tidak ada bangku, hanya ada matras. Pilihan saya, yang masih beradaptasi dengan longyi, hanya duduk dengan kaki diluruskan, atau duduk menghadap belakang dengan kaki bergantung ke luar. Posisi paling nyaman adalah duduk di samping Pak Kusir, apalagi dengan pemandangan yang lebih terlihat jelas dan luas di depan. Maka, atas nama keadilan, saya dan Diyan duduk bergantian di depan pada hari itu.

Tur delman dimulai dengan menyaksikan matahari terbit dari atas pagoda Bulethi. Menaiki tangga pagoda yang curam sungguh menantang kemahiran kami mengatur langkah dalam lilitan longyi. Namun ketika sampai di atas, jerih payah kami terbayar kontan dengan pemandangan romantis pagi itu. Seiring naiknya matahari dari ufuk timur, terlihat hamparan tanah luas dengan pagoda dan kuil yang tersebar. Inilah alasan Bagan dijuluki sebagai ‘the city of temples’. Berbagai sumber menyatakan bahwa dulu terdapat lebih dari 10.000 bangunan peribadatan, terdiri dari pagoda, biara, dan kuil, dan mencapai kejayaannya pada zaman Kerajaan Pagan. Waktu itu, Bagan bahkan menjadi tempat para biksu dan pelajar dari negeri-negeri tetangga untuk menuntut ilmu.

Kejayaan masa itu menjadi sulit dibayangkan, melihat kenyataan kini hanya tersisa sekitar 2.000 pagoda, dan kehidupan masyarakat yang tidak terlalu makmur. Salah satu penyebabnya adalah gempa bumi besar pada tahun 1975. Namun, 2.000 pagoda tetaplah banyak. Jika di Jakarta hampir setiap 100 meter saya melihat mini market, di Bagan tak sampai tiap 50 meter rasanya saya melihat pagoda atau kuil, baik di tepi jalan raya ataupun membelusuk di antara semak belukar.

 

Pagi itu balon udara beterbangan di atas lahan seluas sekitar 100 kilometer persegi, membawa para wisatawan yang beruntung menyaksikan sebaran pagoda dan kuil dari atas, dilatari langit yang bersemu merah dan jingga. Di antara ribuan pagoda dan kuil yang tersisa, terdapat beberapa yang paling menarik bagi wisatawan karena paling besar, mewah, dan sarat sejarah, selain Shwezigon yang tadi saya ceritakan. Kuil Ananda merupakan kuil tercantik yang saya kunjungi. Ia dianggap sebagai pencapaian tertinggi seni arsitektur kerajaan Pagan karena berbagai teknik yang digunakan dalam membangunnya. Teknik-teknik itu meliputi ukiran batu dan kayu, pencetakan besi, serta lapisan batu bata.

Sedangkan kuil Dhammayangyi, bentuknya menyerupai piramida dan dibangun atas perintah Raja Narathu yang kejam dan perfeksionis. Sedikit saja celah tersisa di sela-sela batu bata, pekerja bangunan bisa dihukum mati. Kuil ini menjadi favorit saya bukan karena kekejaman rajanya, tapi karena bentuknya yang berbeda dari yang lain, paling sederhana tapi tetap terkesan megah.

Banyak lagi kuil dan pagoda yang kami kunjungi selama lima hari di Bagan. Di sela-sela kunjungan itu tentunya kami mencoba makanan di restoran dan warung yang berbeda-beda, dari makanan lokal hingga internasional. Hal yang paling berkesan bagi saya justru bukan makanannya, tapi suatu kejadian di sebuah restoran. Selesai makan, saya hendak mencuci tangan di wastafel. Tak disangka-sangka, seorang pegawai restoran menuangkan air dari teko untuk saya cuci tangan. Wah, belum pernah saya alami ini sebelumnya. Rasanya bak putri raja, air cuci tangan dituangkan.

 

Lima hari di Bagan tidaklah cukup. Masih banyak kuil dan pagoda yang belum sempat kami kunjungi, dan aspek kehidupan masyarakatnya yang belum sempat kami perhatikan. Namun begitu, kami sudah cukup terpukau akan peninggalan-peninggalan kejayaan Bagan yang kami saksikan langsung. Jika ada punya mesin waktu, sudah pasti Bagan di masa itu menjadi destinasi perjalanan kami selanjutnya.

 

oleh: Saphira Zoelfikar

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Kata Saya

Keramahan Masjid di Singapura

singapore-2463786_1920

Udara dingin menyergap saya di Terminal Cicaheum. Saya buru-buru melekatkan jaket pada badan. Jalanan pun masih berembun. Namun, terminal ini sudah ramai dengan aktivitas para supir dan para pedagang. Saya bersama teman saya menyusuri jalanan dan mencari masjid. Terdengar selawat nabi menguar melalui corong-corong masjid. Tapi kami tak kunjung menemukan asal suara.

 

“Bu, masjid terdekat di sebelah mana ya?” tanya Arif pada penjual kue pukis.

Kami berjalan sesuai dengan petunjuk penjual kue pukis. Berselang berapa menit, kami sudah sampai di masjid. Gelap dan ditutup rapat. Kami duduk di teras masjid. Sekedar berselonjor untuk melepas rasa pegal setelah perjalanan panjang dari Yogyakarta.

Tak lama kemudian, datang seorang bapak separuh baya. Membuka kunci pintu masjid. Wajah kami cerah. Kami masuk, menyimpan tas, lalu membersihkan muka, berwudu dan salat. Kami telah memutuskan untuk menunggu langit terang di masjid ini. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan untuk menghadiri sebuah pelatihan tentang peace education (2013).

Teh, sudah doanya?” tanya bapak-bapak separuh baya itu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya sudahi doa saya. Bapak itu menyuruh saya segera keluar. Saya bergegas melipat mukena. Saya hanya menyimpaikan kerudung ala kadarnya. Masjid dikunci kembali. Lampu dimatikan semua. Hanya ada terang bulan dan cahaya lampu dari rumah-rumah sekeliling masjid. Dua teman saya sudah duduk di teras. Kami diam tak saling bicara. Lalu bergegas keluar gang mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Saya tahu ada yang sedang bergejolak di dalam pikiran kami masing-masing. Saya terus berjalan sembari meyakinkan diri ada banyak masjid inklusif di kota ini.

***

Langit biru di Singapura. Jalanan pun lengang. Saya dan rombongan berjalan dengan gairah penuh. Ini hari pertama kami tiba di Singapura. Kami ada di sini dalam rangka memperingati World Interfaith Harmony Week yang selalu diperingati pada tanggal 1-7 Februari setiap tahun di seluruh belahan dunia.

 

Tujuan pertama kami adalah Masjid Abdul Ghafoor. Beberapa teman belum menunaikan kewajibannya. Sembari menunggu, saya dan teman-teman berkeliling di masjid bercat hijau berpadu dengan warna emas dan putih. Masjid ini terletak di Dunlop Street di area Rochor, dekat penginapan kami. Tepat di depan masjid di samping pintu gerbang, ada sebuah ruangan untuk pengunjung. Di dalamnya terdapat informasi-informasi tentang Islam dalam bentuk pamflet dan buku. Salah satu buku berjudul Apa yang Harus Diketahui oleh Kristiani tentang Islam menjadi buku menarik bagi teman Kristiani saya. Di sini juga terdapat Alquran dalam berbagai bahasa. Pakaian-pakaian Muslim dan Muslimah dipajang dan dapat dipinjam untuk berfoto. Melengkapi itu semua, di pojok ruangan ada kulkas berisi minuman botol. Di atasnya tertulis ‘Gratis untuk Pengunjung Non-Muslim.’ Teman-teman Kristiani senang bukan main.

Lha terus buat kita yang Muslim gimana?” Teman saya nyeletuk. Barangkali dia sedang kehausan.

“Minta aja sama teman Kristiani. Suruh mereka ambil dua botol per orang,” teman saya yang lain menimpali. Ide ‘brilian’ muncul. Hahaha. Lalu, saya pun mengikuti ide brilian itu, mengingat perjalanan kami masih panjang dan pasti akan membutuhkan asupan air yang banyak. Alasan lainnya, tentu saja untuk menghemat pengeluaran. Keluar dari masjid cantik tersebut, tas teman-teman Kristiani bertambah berat. Di dalamnya terdapat buku-buku dan Alquran.

Tak lengkap rasanya ke Singapura tanpa berbelanja ke ChinaTown. Di sepanjang jalan,  aksesoris perayaan Tahun Baru Cina menghiasi kota ini. Tahun ini dinobatkan sebagai tahun Ayam. Nuansa merah dan kuning memanjakan mata kami, menambah keceriaan berbelanja di sini. Perjalanan saat itu, melangkahkan kaki kami ke Masjid Jami (Chulia).

Wishing All Chinese Friends a Happy Lunar New Year

Tulisan di atas menyambut kedatangan kami di Masjid Jami (Chulia). Bagi saya, ini momen apik. Harus diabadikan. Buru-buru saya dan teman saya mengambil foto di sini. Ada kehangatan yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam batin saya. Lagi, saya menemukan masjid yang ramah pada etnis lain. Masuk ke dalamnya, tentu saja di dinding-dinding penuh dengan penjelasan-penjelasan tentang Islam. Apa itu Islam. Siapa itu Nabi Muhammad?

 

Perjalanan kami selanjutnya mengunjungi Harmony Center. Bertempat di Masjid An-Nahdah. Terletak di Bishan Street 14. Masjid ini menyimpan keunikan tersendiri. Jika di dua masjid sebelumnya ada penjelasan-penjelasan tentang Islam, maka di sini ada penjelasan-penjelasan agama lain yang eksis di Singapura. Tercatat ada 10 agama: Bahai, Sikh, Tao, Yahudi, Jain, Zoroaster Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam.

“Hal ini mengundang kontroversi sebenarnya. Orang-orang berkomentar, kok di masjid ada penjelasan tentang agama lain?” ucap lelaki lulusan Al-Azhar Mesir ini. Ia menjadi pemandu kami mengelilingi Harmony Center.

“Kendati demikian, telah banyak orang, lembaga, bahkan negara-negara datang ke sini untuk belajar tentang keberagaman,” lanjutnya.

Di sini, saya ditunjukkan bagaimana seharusnya masjid menjalankan perannya, yakni menjaga keberagaman dan menjadi penyatu umat. Tempat ini memang dimotori oleh Majelis Ulama Islam Singapura. Tujuannya untuk mempromosikan pemahaman Islam yang sejati di tengah-tengah kehidupan multi-etnik dan agama di Singapura.

 

Menutup perjalanan saya, selepas berkunjung ke komunitas agama Jain, saya dan beberapa teman singgah di salah satu masjid – saya lupa nama masjidnya – selepas menunaikan salat, dan bercengkrama ala kadarnya. Kami diberi beberapa gelas air minum. Di raut wajah kami memang tersurat lelah dan haus setelah melakukan aktivitas dialog dan berkunjung ke beberapa komunitas agama di sana. Segelas air minum mampu mencerahkan kembali wajah kami, juga batin kami di negara tetangga. Negara ini memberikan perjalanan yang manis. Kunjungan demi kunjungan ke beberapa masjid membuat saya terenyuh apa artinya persaudaraan sesama manusia.

 

Oleh: Layla Badra Sundari  
Kediri, 30 Juli 2017

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

 

 

read more