close

GAYA

Galeri

Diskusi Buku dengan Secangkir Kopi

Foto Diskusi Rida 2

Penyair Rida K. Liamsi meluncurkan dan mendiskusikan bukunya yang bertajuk Secangkir Kopi Sekanak di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/11).

Lantunan Andong khas Gayo meningkahi pembacaan puisi penyair L.K. Ara tentang Serambi Mekah karya Rida K. Liamsi.

Selain L.K. Ara, penyair kelahiran Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943 itu juga mengundang penyair lain seperti Rini Intama, Asrizal Nur, Ewith Bahar, Jimmy S. Johansyah dan Hoesnizar Hood di momen peluncuran buku puisinya di Perpustakaan Nasional Lantai 2 Jl. Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

Membuka acara, Rinidiyanti Ayahbi, melantun dengan petikan gitar karya Rida dalam sajian musikalisasi puisi.

Setelah itu penyair Sutardji Calzoum Bachri meluncurkan buku Rida. Lelaki yang berjuluk Presiden Penyair itu mengungkap tugas penyair yang membangkitkan kata-kata yang semula terendam lalu mencipta sejarah dan membuat kata-kata menjadi hidup.

Di acara, juga ditayangkan kehidupan kepenyairan Rida yang bernama asli Ismail Kadir. Kedekatannya dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri kemudian membuat lelaki yang dikenal sebagai pengusaha ini terus menulis dan karyanya dimuat di berbagai media massa, membaca di beberapa tempat dan dibukukan.

Tentang proses kreatif, pada momen diskusi, Rida mengatakan bahwa ketika menjadi pengusaha, dia mengaku setiap tahun selalu saja ada yang dikerjakan membuat perusahaan. Ketika tak ada ruang untuk membuat perusahaan maka dia pun berniat untuk membuat buku setiap tahunnya.

“Itu saya lakukan untuk mengobati kegelisahan saya, mediumnya adalah buku. Saya tak terlalu produktif. Tempuling itu puisi hampir 25 tahun. Kalau ada puisi tak bagus maka saya drop atau tarik kembali. Di buku ini pun sempat 29 puisi lalu saya cari kembali untuk menjadi 30 puisi,” kata pendiri Yayasan Hari Puisi juga lembaga penggerak kebudayaan seperti Yayasan Sagang dan Yayasan Jembia Emas.

Dia pun mengatakan bahwa menulis puisi tak selalu di tempat sepi, bisa saja dia menulisnya di warung kopi. “Saya terus menulis puisi, tak akan berhenti. Menulis puisi sampai mati,” paparnya.

Tentang Sejarah dan Anak Muda

Diskusi buku sesi pertama Secangkir Kopi Sekanak dimoderatori Sofyan RH Zaid,  menampilkan Ahmadun Yosi Herfanda dan Hasan Aspahani.

Ahmadun mengatakan, dalam buku ini Rida dominan mengangkat sejarah. Puisi ini menurutnya hampir kesemuanya disajikan dalam bentuk puisi naratif dan dalam strukturnya disajikan seolah berbentuk paragraf. “Pak Rida banyak menulis sejarah karena minatnya ke sana. Ini berpeluang untuk abadi sebagaimana abadinya puisi,” ujarnya sambil menyebut penyair Leon Agusta dan Chairil Anwar sebagai penyair yang kerap mengangkat tema sejarah.

Meski banyak menyerap bahasa Melayu, dalam pola pengucapan, menurut Ahmadun, Rida tak lagi mempertahankan pola pantun melainkan nuansa kontemporer yang terasa sekali. “Rida membebaskan ikatan struktur teks terutama rima pantun a-b-a-b. Kalau puisi diibaratkan gadis, puisi Rida tak lagi mengenakan kostum Melayu. Jadi Melayukah puisi ini? Lalu apakah sastra Melayu harus pantun dan gurindam, bagaimana dengan puisi yang kontemporer?” katanya, retoris.

Penyair Hasan Aspahani, membuka pendapat dengan mengutip dari sajak Chairil Anwar bertajuk “Rumahku”. “Sajak adalah rumah penyair, kita dari luar dapat melihat penyair lagi ngapain. Seolah Chairil berkata, saya dapat melihat ke luar tapi hai pembaca, kalian pun dapat melihat ngapain saya di dalam. Meski kerap dikatakan, sajak tak selalu berhubungan dengan kehidupan penyairnya, tapi pendapat Chairil dapat dilakukan,” paparnya.

Di “rumah”nya pada kumpulan puisi Tempuling, dapat dilihat bagaimana seorang Rida. Kehidupan laut, ombak, narasi maritim, nampak dalam karya. Di buku puisinya yang kedua, bertajuk Perjalanan Kelekatu, terlihat perjalanannya yang mulai mengglobal seperti kunjungan ke Gedung Putih atau ke tempat lain, meski tak semua tempat dia tulis dalam bentuk sajak.

“Pada buku ketiga Secangkir Kopi Sekanak, pada puisi Kucing Musim Sakal membuat saya ambil kesimpulan bahwa penyair berusia 74 tahun ini sama sekali tak terkesan tua. Pada puisi itu terkesan (ditulis) anak muda, lincah bahkan tak adanya melulu bicara soal kematian. Ada sedikit terselip hal itu, tapi ditulis tetap bersemangat dan tak dalam suasana dicekam maut,” Hasan menambahkan.

Pembicara lain, Fakhrunnas MA Jabbar dan Kurnia Effendi yang mengisi diskusi sesi kedua, juga mengulik teks buku Secangkir Kopi Sekanak sekaligus membicarakan proses kreatif karyanya, sekaligus interaksi Rida dengan kemelayuan.

Kurnia Effendi mengatakan bahwa karya Rida bertema intens mengangkat warna lokal yang justru menjadi kekhasan sekaligus kekuatan dia. Kekuatan tutur dan melodius dengan memunculkan kata-kata arkhaik, denyut kemelayuan nampak dalam puisi Rida, dijabarkan oleh Fakhrunas MA Jabbar. “Hal lain yang nampak adalah semangat orang yang meski telah dikalahkan tetap berjuang, nafas dan semangat perlawanan selalu nampak di dalam karyanya,” pungkas Fakhrunas. (sihar ramses simatupang)

 

 

*Foto oleh Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang

read more
Galeri

Lounge ‘Casual Business’ di Tengah Kota Jakarta

22 Sky Lounge

Terletak di daerah Jakarta Barat yang dikelilingi oleh kawasan sejarah dan kuliner, Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta memperkenalkan lounge terbaru untuk memenuhi kebutuhan yang mulai meningkat akan keperluan tempat untuk sekedar bersantai atau melakukan pertemuan bisnis yang informal.

Oleh karena itu, konsep “Casual Business Lounge” pun diusung oleh salah satu lounge tertinggi di kawasan ini, yaitu 22 Sky Lounge yang mendeskripsikan tinggi lantai yaitu di lantai 22 yang dapat menampilkan view terbaik sehingga para tamu dapat menikmati pemandangan mulai dari sekitar tengah kota Jakarta, hingga panorama laut dari sekitar Ancol.

Lounge merupakan salah satu point kelebihan dari sebuah hotel yang perlu untuk dikembangkan. Sebab itu, kami merencanakan dan menyiapkan sebuah konsep baru, yang berbeda dari lounge pada umumnya, untuk menciptakan kesegaran yang baru di kalangan masyarakat,” ucap Dhaniel H. Prabowo selaku General Manager dari Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

Letak posisi yang strategis dan pemandangan yang memukau menjadi daya tarik sendiri, terlebih dengan hadirnya event Friday Memory Jazz pada setiap Jumat yang dimulai dari pukul 19.00 – 22.00 WIB. Event ini menjadi sebagai salah satu dari rangkaian konsep baru dari 22 Sky Lounge dimana akan ada live music performance dengan genre music jazz dan easy listening, untuk menemani hari Senin – Sabtu Anda.

Selain itu, konsep menu makanan signature yang ditawarkan 22 Sky Lounge adalah western a la fusion, peleburan antara menu tradisional dan western seperti Sushi Rendang, Tekwan Norwegian Salmon, Pepes Salmon Rempah dan Es Teller Mousse untuk hidangan penutupnya. Dengan menghadirkan konsep unik dan live music performance diharapkan dapat menjawab kebutuhan dan menumbuhkan ketertarikan bagi para tamu maupun masyarakat sekitar.

Bagi para tamu yang menginap di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta, khususnya yang menginap di tipe kamar ExecutivePremierePremiere Suite – serta Santika Suite akan mendapatkan benefit untuk akses ke 22 Sky Lounge secara gratis. Kenikmatan dan kenyamanan yang diciptakan oleh 22 Sky Lounge dapat menjadi pilihan terbaik saat anda berada di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta.

read more
Buku

Milenial Membaca Mirah

Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

read more
Galeri

Selamat Ulang Tahun Eyang Tersayang: Sebuah Kompetisi Menulis Surat

surat untuk eyang

Hotel Santika Premier Bintaro mengadakan kompetisi menulis surat yang unik, khusus untuk anak-anak!

 

Ya, dalam program ini, anak-anak ditantang untuk menulis sepucuk surat ungkapan rasa sayang dengan tema “Selamat Ulang Tahun Eyang Tersayang”. Anak-anak, yang disyaratkan berusia 7 – 14 tahun, diharapkan terbiasa mengungkapkan rasa sayang, harapan, cerita menyenangkan dan hal lain yang membahagiakan hati Kakek atau Nenek, dengan usia diatas 65 tahun, di hari ulang tahun mereka, dalam selembar surat.  Peserta cukup menyertakan data diri, surat ijin orang tua dan melampirkan foto terbaru bersama Kakek atau Nenek yang akan berulang tahun.

“Menulis surat merupakan kegiatan kreatif yang tidak boleh dilupakan. Ungkapan hati akan lebih menyentuh dalam bentuk tulisan. Menulis untuk mengungkapkan rasa sayang kepada Kakek atau Nenek tercinta akan menjadi pintu restu bagi masa depan anak-anak kita. Program ini untuk mengajak anak berkreasi sekaligus bentuk rasa sayang dan hormat kepada warga senior dari generasi masa depan”, ujar Ariestra, General Manager, Hotel Santika Premiere Bintaro.

Program ini berlangsung hingga 30 November, 2017. Hasil karya dapat dikirimkan secara langsung melalui email di: pr@bintaropremiere.santika.com. Peserta yang terbaik akan mendapatkan kesempatan menginap 1 malam di Connecting Room Hotel Santika Premiere Bintaro bersama orang tua serta tentu saja Kakek dan Nenek tercinta yang sedang merayakan hari ulang tahunnya.

read more
Buku

Calabai yang Menjadi Bissu

calabai

1

Epos tertulis La Galigo -naskah sastra terpanjang di dunia dengan 225.000 baris- bandingkan dengan 200.000 baris Mahabharata– senantiasa melibatkan peran bissu dan Puang Matoa (pemimpin bissu) dalam cerita, sebagai pembantu kalangan bangsawan menjalankan segala upacara.

Bissu, tokoh spiritual dalam tradisi Bugis –masih ada sampai sekarang meski tanpa Puang Matoa- sebelumnya adalah calabai. Calabai, dalam bahasa Bugis, adalah laki-laki dengan jiwa perempuan.  Bissu dianggap telah melampaui sifat laki-laki dan perempuan di dalam dirinya.

Semua bissu adalah calabai namun tidak semua calabai dapat menjadi bissu karena alasan-alasan kemurnian dan bakat spiritual. Kebanyakan bissu adalah laki-laki meski bissu pertama  -konon adalah We Tanrieabeng dalam naskah La Galigo- adalah perempuan, saudara kembar Sawerigading.

Buku ini mengisahkan biografi bissu secara umum dan proses seorang calabai bernama Saidi menjadi bissu, kemudian Puang Matoa. Saidi lahir di kampung Waekeccee, Lappariaja, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Ia memiliki naluri calabai sejak kecil. Ayahnya telah melakukan segala sesuatu untuk menormalkan Saidi menjadi laki-laki sejati, namun sia-sia.

Usia 17 tahun, Saidi merantau ke Segeri, kabupaten Pangkep, tempat komunitas bissu berada. Masyarakat di sini memiliki tradisi memanggil bissu untuk memimpin upacara panen, memanggil hujan, dan yang serupa. Di lain tempat, bissu diburu oleh sekelompok ekstremis Islam –dalam hal ini peristiwa DI/TII di Sulawesi Selatan, yang menganggap bissu adalah syirik.

Setelah mengalami banyak pengalaman rohani yang diluar akal, Saidi diangkat Puang Matoa. Bakat dan kepekaannya sebagai spiritualis mengangkat komunitas bissu kembali berjaya di masyarakat. Berawal seorang peneliti Makassar yang mengundang Saidi tampil di televisi lokal, seorang teaterawan Inggris mengajaknya tur dalam pertunjukan I La Galigo, ke kota-kota besar dunia.

Popularitas bissu yang mendunia itu membawa banyak masalah di kalangan bissu. Puang Matoa Saidi mengundurkan diri sebelum selesai tur, karena sakit. Ia kembali bertirakat dalam rangka mengembalikan kedamaian di komunitas bissu. Akhirnya pada usia 53 tahun, ia menutup usia karena sakit. Sejak itu sampai sekarang belum lagi dilantik Puang Matoa selanjutnya.

2

Bagaimana seorang waria alias banci alias transvestite menjadi pendeta? Pertanyaan dan keterkejutan yang sama menerpa saya ketika pertama kali mengenal bissu dari film dokumenter tentang Puang Matoa Saidi, di satu kegiatan sastra di Bali, tahun 2005. Dalam satu dialog di di film itu mengisahkan Saidi berkata kepada seorang laki-laki muda, bahwa  keberadaan mereka sebagai calabai bukanlah sebuah aib karena tidak ada yang tahu, apakah Tuhan itu laki-laki dan perempuan.

Menjelaskan hal mendasar tersebut, buku ini memanfaatkan pertemuan Puang Matoa Saidi dengan seorang kiai, untuk menjelaskan perilaku homoseksual yang dilaknat oleh agama –dalam hadis dituliskan Allah melaknat tindakan Nabi Luth. Kata tindakan di sana menjadi kata kunci bahwa kecenderungan seksual adalah perkara jiwa. Hasrat yang bersifat naluriah, sama sekali tidak bisa diatur dan sudah terlahir demikian (hal. 301).

Sementara homoseksual yang dikenal dalam masyarakat modern lebih pada penerimaan tindakan-tindakan yang dianggap melanggar tradisi pernikahan dalam perspektif agama, yaitu melanjutkan keturunan. Peran dan keberadaan bissu akan terus tergerus akibat menyempitnya pemahaman tentang keberagaman keberadaan manusia.

Tindakan kelompok yang merasa lebih bermoral dan mengikutsertakan nama Tuhan sambil meniadakan eksistensi manusia lain, sungguhlah menyedihkan dan tak tertahan arusnya. Buku karangan Pepi Al-Bauyqunie ini layak dibaca oleh kalangan siapa pun selain fakta mengatakan buku ini termasuk dalam nominasi Kusala Literary Award 2017. Pengarang Pepi telah memberi gambaran yang mulia tentang peran bissu dalam masyarakat kuno dan pemahaman yang penuh hormat tentang kehidupan bissu. (is)

 

Judul Buku: Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki

Penulis : Pepi Al-Bayqunie

Penerbit: JAVANICA

Cetakan I: Oktober 2016

383 halaman

 

read more
Perjalanan

One-Stop Shopping untuk Jasa Pelayanan Acara Istimewa & Hari Pernikahan

Honey Lane Indonesia

Dengan mengangkat suatu filosofi yang terinspirasi dari Bunga Calla Lily bermakna indah dan cantik, Vvednue Indonesia menginspirasi semua orang untuk mendapatkan tempat yang indah dalam merayakan acara istimewa & hari pernikahan mereka dengan pelayanan yang baik dan menakjubkan. Bertujuan juga menjaga hubungan timbal balik yang baik dengan Para Vendor, Kami memberikan bebas publikasi pada akun media sosial bagi mereka yang sudah memberikan bentuk kerjasama.

 

Bentuk kerjasama yang kami jalankan beraneka ragam dari yang berupa komisi maupun harga spesial yang sudah diberikan. Dengan bentukan seperti ini, kami menjadi tidak terbatas untuk bekerjasama dengan berbagai vendor yang ada. Adapun yang kami butuhkan dari para vendor untuk meningkatkan penjualan mereka.

 

Kami membutuhkan berupa softcopy katalog & paket harga yang nantinya dikirimkan melalui Email. Kami juga membutuhkan hasil dokumentasi yang sudah pernah terjadi sebelum-nya untuk dapat kami publikasikan secara gratis di-akun media sosial, kemudian dimohon untuk penjelasan dari keuntungan yang tertera pada katalog & paket harga tersebut. Melalui penawaran yang kami berikan kepada para vendor ini, mereka menjadi tertarik untuk bekerja sama dengan kami.

Beberapa Vendor yang sudah bekerjasama diantara-nya adalah hotel, gedung, kenang-kenangan, tata rias, food stall, kue pernikahan, dan dokumentasi. Vendor hotel yang sudah bergabung, yaitu: Atria Hotel Gading Serpong, Grand Mercure Jakarta Harmoni, HARRIS Vertu Hotel Harmoni, Ibis Jakarta Cawang, dan Mambruk Hotel Anyer. Vendor gedung dengan Palma One Grand Ballroom, kenang-kenangan dari Honey Lane Indonesia, tata rias bersama D’Loyal, EMB & Yashmine, food stall dari Nada Safa, kue pernikahan dengan Bread Season, dan Dokumentasi bersama videomegavision.

 

“Kami berharap dengan adanya Vvednue Indonesia dapat membantu untuk meningkatkan penjualan bagi para vendor yang sudah turut bergabung dan berbisnis kedepan-nya,” jelas Yohanes Tjitra selaku Founder dari Vvednue Indonesia,”disatu sisi kami juga memohon bantuan dari berbagai rekanan untuk mengarahkan kenalan mereka yang sedang mencari jasa pelayanan acara & pernikahan kepada kami dan dihargai dengan komisi sharing profit sebesar 25%.”

 

Untuk mengetahui informasi tentang Vvednue Indonesia lebih lanjut, Kalian bisa langsung melihat ke Instagram kami di ido.vvedue

read more
Galeri

Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia

girl-32403_1280

Yayasan Rumah Rachel merayakan Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia dengan instalasi “Living Wall” raksasa di Cilandak Town Square, dan mengimbau pemerintah agar asuhan paliatif diintegrasikan dalam Kebijakan Kesehatan Nasional dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Pada pembukaan instalasi The Living Wall di Cilandak Town Square (Citos) dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, penyedia layanan asuhan paliatif anak Yayasan Rumah Rachel menyerukan Pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan asuhan paliatif dalam setiap jenjang sistem kesehatan Indonesia agar ratusan ribu anak Indonesia dapat hidup terbebas dari nyeri.

Didirikan pada tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor asuhan paliatif di Indonesia, menyediakan pengelolaan nyeri serta dukungan emosional dan sosial bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di daerah Jakarta dan sekitarnya yang hidup dengan kanker stadium akhir dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat dalam usahanya untuk meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua warga Indonesia.

“Visi kami adalah tidak ada lagi anak yang harus hidup atau meninggal dalam kesakitan,” tutur Kartika Kurniasari, CEO Yayasan Rumah Rachel. “Dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, kami bermaksud mengajak masyarakat untuk mendukung asuhan paliatif bagi begitu banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat serta keluarganya di Jakarta. Tapi kami pun menyadari bahwa pekerjaan kami belum selesai, mengingat besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Diperkirakan kurang dari satu persen dari hampir 700.000 anak-anak Indonesia yang hidup dengan penyakit berat bisa mengakses asuhan paliatif, sementara anak-anak lainnya terus hidup dalam kesakitan,” jelas Kartika.

“Jaminan Kesehatan Nasional telah memungkinkan jutaan warga Indonesia mendapat perawatan yang mereka butuhkan sejak 2014. Dengan segala hormat, kami mengimbau Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan JKN ke jenjang yang bahkan lebih baik lagi, dengan mencakup layanan asuhan paliatif dan biaya-biaya terkait baik dalam lingkungan rumah sakit maupun rumah pasien. Pemerintah juga dapat membantu memastikan penerapan asuhan paliatif berjalan baik dengan menerbitkan panduan dan kebijakan untuk memasukkan asuhan paliatif sebagai komponen inti sistem kesehatan nasional. Jika kita bekerja bersama, semua hal di atas bisa merubah hidup ratusan ribu anak-anak yang hidup dengan penyakit berat dan keluarga mereka di berbagai penjuru Indonesia,” tambahnya.

 

The Living Wall adalah serangkaian Papan Tulis Raksasa yang didirikan di atrium Cilandak Town Square, di mana masyarakat diundang untuk menjawab pertanyaan berikut: apa yang akan Kamu lakukan jika ini hari terakhirmu?

“The Living Wall mengundang warga Jakarta untuk merenungkan betapa berharganya setiap hari yang kita miliki dan menyadari bahwa ada banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak memiliki hari esok,” terang Kartika.

“Dengan bertanya ke masyarakat apa yang akan mereka lakukan ‘jika ini hari terakhir’, kami berharap dapat memicu dialog tentang asuhan paliatif dan kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup dengan penyakit berat. Bagi mereka, setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir.”

Instalasi The Living Wall akan berlangsung mulai hari Jumat, 13 Oktober, hingga hari Minggu, 15 Oktober, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta.

​​

Informasi tambahan tentang Asuhan Paliatif:              

·       Asuhan paliatif adalah suatu spesialisasi ilmu medis bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit berat beserta keluarganya. Asuhan paliatif mengatasi nyeri dan gejala, serta menyediakan dukungan emosional dan sosial agar pasien dapat hidup terbebas dari nyeri dan menikmati kualitas hidup terbaik.

·       Di Indonesia, terdapat hampir 700.000 anak yang hidup dengan penyakit berat – sumber: Estimating the Global Need for Palliative Care for Children: A Cross-sectional Analysis; Journal of Pain and Symptom Management; Vol. 53 No. 2 Februari 2017

·       Diperkirakan kurang dari satu persen anak-anak ini memiliki akses akan penanganan nyeri atau asuhan paliatif – sumber: Hidden Lives, Hidden Patients; Worldwide Hospice Palliative Care Alliance and International Children’s Palliative Care Network; 2015

·       Dalam laporan tentang layanan asuhan paliatif, majalah The Economist menempatkan Indonesia di peringkat ke-53 dari 80 negara dalam perihal kualitas kematian – sumber: Economist Intelligence Unit 2015 Quality of Death Index

·       Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) menerbitkan resolusi tentang asuhan paliatif pada tahun 2014, menyatakan bahwa asuhan paliatif wajib tersedia bagi semua yang hidup dengan penyakit berat. Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa demi mencapai “kualitas hidup, rasa nyaman, dan martabat manusia, setiap orang perlu mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan mereka, yang disesuaikan dengan tiap individu dan budaya, serta memiliki peran inti dalam membuat keputusan”.

Tentang Yayasan Rumah Rachel:

·       Berdiri sejak tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor layanan asuhan paliatif berbasis rawat rumah bagi anak-anak yang hidup dengan penyakit serius seperti kanker dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat demi meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua.

·       Layanan asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah menjangkau 2.612 anak dan keluarga. Program pelatihan dan edukasi asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah melatih 3.095 tenaga kesehatan, 2.332 anggota masyarakat, serta 636 mahasiswa kedokteran dan keperawatan.

·       Yayasan Rumah Rachel bekerja dengan anggota masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk membangun jaringan asuhan paliatif se-Indonesia.

·       Pada Agustus 2017, pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra, diakui sebagai salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) atas kontribusinya dalam membuat asuhan paliatif tersedia bagi semua, khususnya anak, di Indonesia.

 

 
 
 
read more
Perjalanan

Kuliner Berkelas di Kota Cilegon

IMG_5155 copy

Soft launching 14 September 2017 lalu, menjadi titik awal diperkenalkannya The Sapphire Restaurant di tengah kancah penikmat kuliner di Cilegon dan sekitarnya. Dengan mendapat respon yang sangat positif, The Sapphire Restaurant secara resmi dibuka dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh President Director PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Bapak Priyo Budianto.

 

Acara yang dimeriahkan dengan berbagai acara menarik seperti Pemberian Penghargaan kepada Loyal Customer The Royale Krakatau Hotel dan juga dihibur dengan performance sempurna oleh group band Maliq N D’Essentials ini berlangsung sangat meriah dan sukses dan dihadiri oleh Jajaran Direksi PT KIEC, dan juga Pejabat, Muspida dan juga Pimpinan serta Person In Charge dari sejumlah Perusahaan yang bekerjasama dengan The Royale Krakatau Hotel. “The Sapphire Restaurant merupakan bagian dari The Royale Krakatau yang sudah menjadi icon kuliner sejak dulu di Kota Cilegon, dan kami merupakan Group dari Krakatau Steel dibawah naungan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon yang menjadi ciri khas dari Kota Cilegon itu sendiri”, ujar Ibu Mila Wulansari, selaku GM Commercial Property.

Restaurant yang terletak di gedung bagian depan Hotel The Royale Krakatau ini dipenuhi dengan tidak kurang dari 300 tamu undangan yang tidak hanya ingin menikmati hidangan-hidangan terbaik yang disajikan Team Kitchen The Sapphire Restaurant, namun juga ingin menikmati sajian musik oleh Maliq N D’Essentials yang menampilkan 12 hits terbaik album mereka.

Tampilan modern kontemporer yang dimiliki The Sapphire Restaurant kini terdiri dari 2 lantai, dengan fasilitas private meeting room, area makan indoor & outdoor serta coffee corner untuk mengakomodasi customer dari generasi millenial. Desain yang futuristik serta pemandangan langsung menuju hijaunya lapangan Golf menjadi poin plus Restaurant dengan luas area 1.030m2 ini. “Luas keseluruhan dari The Sapphire Restaurant ini adalah 1.030m2, jadi sangat memungkinkan untuk dapat mengadakan event apapun disini”, ujar Ibu Elok Sofa selaku Hotel Executive Manager The Royale Krakatau Hotel.

Berbagai kelezatan hidangan baru yang ditampilkan The Sapphire mulai dari Asia hingga Eropa sebagai Menu Unggulannya, “Kami memiliki banyak sekali pilihan menu baru yang disajikan di The Sapphire Restaurant, namun menu lama yang masih menjadi andalan dan juga ciri khas juga masih kami sajikan, salah satunya adalah Oxtail Soup atau Sup Buntut.”, ujar Bapak Iwan Abdurrahman selaku Food & Beverage Manager The Royale Krakatau Hotel. Dengan kapasitas hingga 300 pax, Restaurant ini cukup mampu mengakomodasi apapun acara anda, mulai dari sekedar berkumpul bersama teman, keluarga dan rekan kerja, sebagai lokasi private meeting, arisan, ulang tahun, hingga acara pernikahan sekalipun. “Seating Capacity dari The Sapphire Restaurant ini adalah 300 pax, namun untuk standing capacity kami bisa lebih dari itu. Bahkan sudah ada yang me-reserve untuk mengadakan Wedding disini untuk 1000 Pax. Lokasi strategis, tempat yang cozy dan elegant serta indahnya view lapangan golf seperti ini, The Sapphire Restaurant adalah venue terbaik untuk apapun event anda, bahkan Wedding sekalipun”, ujar Tyas Ayudhia selaku Promotions & Public Relations The Royale Krakatau Hotel.

The Sapphire Restaurant ini adalah The Sapphire Restaurant juga memiliki area Coffee Corner yang dapat mengakomodasi para pecinta kopi untuk sekedar ngopi cantik atau meeting non formal. “Biji kopi yang kami gunakan merupakan biji kopi terbaik dari vendor kopi terkenal, Illy Coffee, yang sudah sangat dikenal oleh para pecinta kopi di nusantara”, ujar Bapak Susaedi, Rooms Division Manager yang sebelumnya adalah Food & Beverage Manager The Royale Krakatau.

Berbagai program promosi dan paket telah siap mengakomodasi dan memanjakan para customer The Sapphire Restaurant, mulai dari Live Music yang menemani dan menyemarakkan momen bersantap para tamu setiap hari Senin hingga Rabu malam, dan juga setiap Sabtu siang; begitu juga dengan paket-paket yang cukup terjangkau bahkan oleh kaum Millenials dengan paket Light Meals-nya dengan harga mulai dari Rp 20.000++. Bagi customer yang sudah memiliki rencana untuk mengadakan event di The Sapphire Restaurant, dapat menikmati potongan harga hingga 15% dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. (tyas666)

read more
Buku

Sai Rai: Cerita-cerita Timur dari Beranda Timur

cover sairai

Tulislah apa yang seharusnya tak boleh dilupakan, kata Isabel Allende. Dan Dicky Senda menggenapinya. Penulis menghadirkan 18 cerita lokal dengan penuh pengertian dan kepekaan sebagai pengarang yang bertanggung jawab menanggung beban cerita-cerita yang hidup di sekitarnya.

Dicky mengoleksi dongeng kuno, sejarah, tradisi, adat istiadat dan kebiasaan di dalam dirinya, mengolahnya dengan baik sebelum menjadi cerita baru dalam tulisan. Seperti ia ingin membalas kekasaran perbuatan dengan kehalusan bahasa dan ketepatan diksi. Telah pula ia berlaku sopan dengan tidak menghadirkan kesimpulan-kesimpulan dalam ceritanya, mewakili pembaca.

Penulis menahan diri saat mengisahkan kelam tahun 65 di Nusa Tenggara Timur –dalam Pulang ke Barat dari Hanga Loko Pedae, yang bahkan dia belum lahir ketika peristiwa itu terjadi. Emosinya tidak meledak kala mengisahkan keblingeran manusia modern dalam menafsir agama impor dalam kisah Pohon-pohon yang Dibunuh Tim Doa. Ia memperlihatkan empati mendalam kepada perempuan yang membunuh anak sendiri dalam kisah sedih Orpa. Meski mencintai desa kelahirannya sepenuh hati, namun ia seorang juru cerita yang adil bagi semesta.

Jika cerita-cerita dalam buku ini adalah makanan, maka pengarang menyajikan menu-menu yang bervariasi dan jarang saya cecap. Istilah dan nama orang dan pohon dan hantu dan dewa dan Tuhan dan segala rupa kemiskinan, jenis-jenis kesedihan dan keputusasaan, suasana alam yang terasa akrab sekaligus asing. Sebuah dunia yang lain namun berjarak tak jauh.

Pengarang memainkan kata ganti aku-kamu-dia-mereka seperti melempar puzzle agar pembaca tidak terburu-buru membaca, bahkan mengulangnya. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah perempuan dan laki-laki yang sering tak bernama. Mungkin itu tidak penting seperti kata Shakespeare. Atau karena mereka telah mewakili rasa komunal sehingga tidak perlu lagi dinamai.

Dua Ruangan dengan Seribu Ular adalah metafor dua saudara kandung yang saling mencintai namun harus terpisah karena berbeda dalam memandang segala sesuatu meski mereka berdekatan dan terjangkau. Keluhuran budi manusia dikisahkan dalam Wedang Uwuh. Sai Rai: Lelaki yang Meninggalkan Bumi merupakan konsep kekuasaan dan kepercayaan rakyat Sabu karena membapakkan laki-laki sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat seperti memohon hujan, membuat panen berhasil, menangkal bencana, dan yang serupa.  

Apakah itu kisah nyata atau fiksi tidak lagi menjadi masalah ketika penulis mengungkap alam pikirannya dengan baik.  Ia meramu praktik politik kekuasaan menjadi cerita yang menggugah dalam Liuksaken dan OPK dan Kisah Lainnya. Kekesalan seorang anak dan kebawelan orangtua menjadi hiburan baru dalam cerita Bagaimana Jika Para Istri dan Gundil Ayah adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan.

Penulis bukan hanya rajin memungut cerita yang dekat atau jauh, namun juga seorang pendengar yang baik, tertib dalam berpikir, dan terampil berbahasa. Apa benar seperti dikatakan orang bahwa orang-orang Indonesia Timur berbahasa Indonesia dengan baik karena terbiasa membaca kitab suci (baca Alkitab)?

Apa pun itu, yang dimiliki penulis merupakan potensi  yang mendukung gagasan “17000 pulau imajinasi”.  Apresiasi semestinya diberikan kepada pengarang yang menerima panggilan darahnya untuk pulang dan membangun kampung, meski telah dalam posisi enak di negeri lain.

Bersama kawan-kawannya, Dicky membuat komunitas Lakoat.Kujawas di desa Mollo Utara, 130 km dari Kupang atau 18 km utara kota So’e. Ia meneliti keanekaragaman pangan lokal Mollo dengan resep pengolahan, mengembangkan homestay, dengan harapan satu kali desanya akan dikunjungi oleh orang-orang mancanegara.

Akhirnya, eksotisme timur telah meraja di seluruh cerita dan daya ungkap. Namun, ketenangan saya membaca agak terganggu karena menemukan kata-kata serapan di sana-sini. Sedikitnya saya menemukan enam kata ekspresi di seluruh badan. Apa alasan penulis tidak berupaya mencari padanan katanya, saya tak tahu. Seandainya kata-kata asing diganti dengan kata milik sendiri, mungkinkah cerita-cerita timur ini akan lebih timur rasa ketimurannya? (is)

 

Judul Buku: Sai Rai (kumpulan cerpen)

Penulis : Dicky Senda

Penerbit: GRASINDO

Cetakan I: Oktober 2017

145 halaman

read more
Perjalanan

Jelajah Ala Komunitas Sraddha

Rendra Agusta (baju merah) membimbing anggotanya membaca relief di candi sukuh (1)

Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat budaya Jawa di Indonesia menyimpan banyak keunikan. Utamanya adalah dalam hal komunitas. Salah satu komunitas unik yang berasal dari Kota Bengawan ini adalah komunitas Sradhha.

Komunitas ini dikatakan unik karena lebih memfokuskan diri untuk mempelajari aksara Jawa Kuno yang terdapat pada naskah-naskah kuno dan sejumlah prasasti-prasasti peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha. Oleh karena lebih fokus  dalam mempelajari aksara Jawa kuno, maka tidaklah mengherankan jika aneka kegiatan yang dilakukan pun berbeda dengan komunitas lainnya.

Komunitas ini didirikan oleh Rendra Agusta pada 2016 silam. Saat ini setidaknya ada 70 orang anggota yang aktif terlibat dalam komunitas ini.

“Lahirnya komunitas ini karena di Kota Solo ini minat masyarakat yang ingin mempelajari Jawa Kuno cukup banyak. Mereka seringkali kesulitan untuk menyalurkan minatnya tersebut. Di sisi lain sampai saat ini kajian-kajian mengenai Jawa Kuna juga masih sangat sedikit. Dengan alasan itulah komunitas ini didirikan,” ujar Rendra.

Biasanya komunitas ini akan berkumpul untuk melakukan kajian bersama di Musium Radya Pustaka, Solo, setiap sabtu. Untuk waktunya biasanya diberitahukan melalui akun instagram resmi dari komintas ini. Komunitas ini terbuka plus gratis bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui aksara Jawa Kuno secara mendalam. Aktifitas yang dilakukan oleh komunitas ini dalam mempelajari aksara Jawa Kuno tidak hanya dihabiskan di dalam ruangan saja. praktek langsung di lapangan juga menjadi agenda rutin dari komunitas ini.

Seperti yang dilakukan baru-baru ini, komunitas Sraddha melakukan penjelajahan peninggalan sejarah yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu. Adapun peninggalan yang didatangi okeh komunitas Sraddha untuk dikuak nilai kesejarahannya oleh komunitas ini adalah Situs Planggatan dan Candi Sukuh yang kesemuanya masih dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh dan Situs Planggatan merupakan peninggalan masa lalu yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Baik secara wujud dan nilai kesejarahannya. Banyak pengetahuan yang diambil dari dua tempat tersebut. Misalnya kita akan tahu fungsi bangunan itu untuk apa dari prasasti dan ke arah arah mana peninggalan itu menghadap.

“Ada beberapa hal yang menarik dari Candi Sukuh. Selain bentuknya yang tidak asimetris, di sana juga juga bisa dijumpai banyak angka tahun yang berbeda-beda. Adanya perbedaan angka tahun yang ditemukan di Candi Sukuh bisa dijadikan bukti bahwa candi tersebut dibangun secara bertahap,” ujar Rendra.

Lebih dari itu Rendra juga menambahkan jika beberapa sengkalan memet, seperti  yang ada di bagian gapura yang mana apabila dibaca berbunyi gapura buta anahut buntut (gapura raksasa menggit ekor ular). Adalah sengkalan yang berarti tahun 1359 Saka atau 1437 M. Angka tahun itu bisa ditafsirkan sebagai tahun selesainya pembuatan candi.

Sementara itu di dalam kompleks candi, di belakang dua arca garuda juga ditemukan angka yang berbeda. Pada bagian garuda yang satu menunjukkan angka 1363 Saka atau 1441 M dan pada bagian satunya lagi dapat dilihat angka 1364 Saka atau 1442 M. Tentang perbedaan angka tahun ini dengan sengkalan di gapura tadi adalah petunjuk bahwa candi sukuh tidak selesai dalam satu kali pembagunan.

Untuk Situs Palanggatan sendiri sampai kini belum banyak informasi yang diperoleh tentang situs ini. Diperkirakan situs ini merupakan reruntuhan candi yang dibangun pada masa era akhir dari majapahit. Secara fisik, situs ini bisa dikatakan benar-benar runtuh. Yang menarik dari Situs Planggatan ini adalah ditemukannya pahatan berupa sengalan memet yang bila dibanya berbunyi : gajah wiku mangan wulan. Sengkalan memet ini memiliki arti 1378 Saka atau 1456 M. Tahun tersebut kemungkinan adalah tahun selesainya pembangunan situs planggatan.

Di sisi lain yang membuat Candi Sukuh cukup menarik adalah bentuknya yang sering dianggap sedikit menyimpang dari ketentuan membuat bangunan suci Hindu sebagaimana yang dituliskan dalam kitab wastu widya. Dalam kitab tersebut sebuah candi seharusnya berdenah bujur sangkar dengan tempat yang paling suci berada di bagian tengah.

“Adanya penyimpangan ini mungkin karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa. Pudarnya pengaruh hindu ini menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat yang berasal dari jaman megalitikum. Buktiny adalah adanya kemiripan bentuk bangunan Candi Sukuh dengan teras berundak yang berasal dari jaman pra-Hindu,” jelasnya.

Untuk fungsi ada kemungkinan Candi Sukuh ini digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat peruwatan. Dugaan ini  dikuatkan melalui sejumlah panel relief yang menceritakan kisah-kisah peruwatan yang diwujudkan dalam cerita sudhamala, garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda di dinding candi.

 

Oleh : Sinung Santoso

 

read more
1 2 3 4
Page 2 of 4