close

GAYA

Serba-Serbi

One-Stop Shopping untuk Jasa Pelayanan Acara Istimewa & Hari Pernikahan

Honey Lane Indonesia

Dengan mengangkat suatu filosofi yang terinspirasi dari Bunga Calla Lily bermakna indah dan cantik, Vvednue Indonesia menginspirasi semua orang untuk mendapatkan tempat yang indah dalam merayakan acara istimewa & hari pernikahan mereka dengan pelayanan yang baik dan menakjubkan. Bertujuan juga menjaga hubungan timbal balik yang baik dengan Para Vendor, Kami memberikan bebas publikasi pada akun media sosial bagi mereka yang sudah memberikan bentuk kerjasama.

 

Bentuk kerjasama yang kami jalankan beraneka ragam dari yang berupa komisi maupun harga spesial yang sudah diberikan. Dengan bentukan seperti ini, kami menjadi tidak terbatas untuk bekerjasama dengan berbagai vendor yang ada. Adapun yang kami butuhkan dari para vendor untuk meningkatkan penjualan mereka.

 

Kami membutuhkan berupa softcopy katalog & paket harga yang nantinya dikirimkan melalui Email. Kami juga membutuhkan hasil dokumentasi yang sudah pernah terjadi sebelum-nya untuk dapat kami publikasikan secara gratis di-akun media sosial, kemudian dimohon untuk penjelasan dari keuntungan yang tertera pada katalog & paket harga tersebut. Melalui penawaran yang kami berikan kepada para vendor ini, mereka menjadi tertarik untuk bekerja sama dengan kami.

Beberapa Vendor yang sudah bekerjasama diantara-nya adalah hotel, gedung, kenang-kenangan, tata rias, food stall, kue pernikahan, dan dokumentasi. Vendor hotel yang sudah bergabung, yaitu: Atria Hotel Gading Serpong, Grand Mercure Jakarta Harmoni, HARRIS Vertu Hotel Harmoni, Ibis Jakarta Cawang, dan Mambruk Hotel Anyer. Vendor gedung dengan Palma One Grand Ballroom, kenang-kenangan dari Honey Lane Indonesia, tata rias bersama D’Loyal, EMB & Yashmine, food stall dari Nada Safa, kue pernikahan dengan Bread Season, dan Dokumentasi bersama videomegavision.

 

“Kami berharap dengan adanya Vvednue Indonesia dapat membantu untuk meningkatkan penjualan bagi para vendor yang sudah turut bergabung dan berbisnis kedepan-nya,” jelas Yohanes Tjitra selaku Founder dari Vvednue Indonesia,”disatu sisi kami juga memohon bantuan dari berbagai rekanan untuk mengarahkan kenalan mereka yang sedang mencari jasa pelayanan acara & pernikahan kepada kami dan dihargai dengan komisi sharing profit sebesar 25%.”

 

Untuk mengetahui informasi tentang Vvednue Indonesia lebih lanjut, Kalian bisa langsung melihat ke Instagram kami di ido.vvedue

read more
Galeri

Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia

girl-32403_1280

Yayasan Rumah Rachel merayakan Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia dengan instalasi “Living Wall” raksasa di Cilandak Town Square, dan mengimbau pemerintah agar asuhan paliatif diintegrasikan dalam Kebijakan Kesehatan Nasional dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Pada pembukaan instalasi The Living Wall di Cilandak Town Square (Citos) dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, penyedia layanan asuhan paliatif anak Yayasan Rumah Rachel menyerukan Pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan asuhan paliatif dalam setiap jenjang sistem kesehatan Indonesia agar ratusan ribu anak Indonesia dapat hidup terbebas dari nyeri.

Didirikan pada tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor asuhan paliatif di Indonesia, menyediakan pengelolaan nyeri serta dukungan emosional dan sosial bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di daerah Jakarta dan sekitarnya yang hidup dengan kanker stadium akhir dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat dalam usahanya untuk meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua warga Indonesia.

“Visi kami adalah tidak ada lagi anak yang harus hidup atau meninggal dalam kesakitan,” tutur Kartika Kurniasari, CEO Yayasan Rumah Rachel. “Dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, kami bermaksud mengajak masyarakat untuk mendukung asuhan paliatif bagi begitu banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat serta keluarganya di Jakarta. Tapi kami pun menyadari bahwa pekerjaan kami belum selesai, mengingat besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Diperkirakan kurang dari satu persen dari hampir 700.000 anak-anak Indonesia yang hidup dengan penyakit berat bisa mengakses asuhan paliatif, sementara anak-anak lainnya terus hidup dalam kesakitan,” jelas Kartika.

“Jaminan Kesehatan Nasional telah memungkinkan jutaan warga Indonesia mendapat perawatan yang mereka butuhkan sejak 2014. Dengan segala hormat, kami mengimbau Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan JKN ke jenjang yang bahkan lebih baik lagi, dengan mencakup layanan asuhan paliatif dan biaya-biaya terkait baik dalam lingkungan rumah sakit maupun rumah pasien. Pemerintah juga dapat membantu memastikan penerapan asuhan paliatif berjalan baik dengan menerbitkan panduan dan kebijakan untuk memasukkan asuhan paliatif sebagai komponen inti sistem kesehatan nasional. Jika kita bekerja bersama, semua hal di atas bisa merubah hidup ratusan ribu anak-anak yang hidup dengan penyakit berat dan keluarga mereka di berbagai penjuru Indonesia,” tambahnya.

 

The Living Wall adalah serangkaian Papan Tulis Raksasa yang didirikan di atrium Cilandak Town Square, di mana masyarakat diundang untuk menjawab pertanyaan berikut: apa yang akan Kamu lakukan jika ini hari terakhirmu?

“The Living Wall mengundang warga Jakarta untuk merenungkan betapa berharganya setiap hari yang kita miliki dan menyadari bahwa ada banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak memiliki hari esok,” terang Kartika.

“Dengan bertanya ke masyarakat apa yang akan mereka lakukan ‘jika ini hari terakhir’, kami berharap dapat memicu dialog tentang asuhan paliatif dan kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup dengan penyakit berat. Bagi mereka, setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir.”

Instalasi The Living Wall akan berlangsung mulai hari Jumat, 13 Oktober, hingga hari Minggu, 15 Oktober, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta.

​​

Informasi tambahan tentang Asuhan Paliatif:              

·       Asuhan paliatif adalah suatu spesialisasi ilmu medis bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit berat beserta keluarganya. Asuhan paliatif mengatasi nyeri dan gejala, serta menyediakan dukungan emosional dan sosial agar pasien dapat hidup terbebas dari nyeri dan menikmati kualitas hidup terbaik.

·       Di Indonesia, terdapat hampir 700.000 anak yang hidup dengan penyakit berat – sumber: Estimating the Global Need for Palliative Care for Children: A Cross-sectional Analysis; Journal of Pain and Symptom Management; Vol. 53 No. 2 Februari 2017

·       Diperkirakan kurang dari satu persen anak-anak ini memiliki akses akan penanganan nyeri atau asuhan paliatif – sumber: Hidden Lives, Hidden Patients; Worldwide Hospice Palliative Care Alliance and International Children’s Palliative Care Network; 2015

·       Dalam laporan tentang layanan asuhan paliatif, majalah The Economist menempatkan Indonesia di peringkat ke-53 dari 80 negara dalam perihal kualitas kematian – sumber: Economist Intelligence Unit 2015 Quality of Death Index

·       Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) menerbitkan resolusi tentang asuhan paliatif pada tahun 2014, menyatakan bahwa asuhan paliatif wajib tersedia bagi semua yang hidup dengan penyakit berat. Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa demi mencapai “kualitas hidup, rasa nyaman, dan martabat manusia, setiap orang perlu mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan mereka, yang disesuaikan dengan tiap individu dan budaya, serta memiliki peran inti dalam membuat keputusan”.

Tentang Yayasan Rumah Rachel:

·       Berdiri sejak tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor layanan asuhan paliatif berbasis rawat rumah bagi anak-anak yang hidup dengan penyakit serius seperti kanker dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat demi meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua.

·       Layanan asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah menjangkau 2.612 anak dan keluarga. Program pelatihan dan edukasi asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah melatih 3.095 tenaga kesehatan, 2.332 anggota masyarakat, serta 636 mahasiswa kedokteran dan keperawatan.

·       Yayasan Rumah Rachel bekerja dengan anggota masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk membangun jaringan asuhan paliatif se-Indonesia.

·       Pada Agustus 2017, pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra, diakui sebagai salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) atas kontribusinya dalam membuat asuhan paliatif tersedia bagi semua, khususnya anak, di Indonesia.

 

 
 
 
read more
Serba-Serbi

Kuliner Berkelas di Kota Cilegon

IMG_5155 copy

Soft launching 14 September 2017 lalu, menjadi titik awal diperkenalkannya The Sapphire Restaurant di tengah kancah penikmat kuliner di Cilegon dan sekitarnya. Dengan mendapat respon yang sangat positif, The Sapphire Restaurant secara resmi dibuka dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh President Director PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Bapak Priyo Budianto.

 

Acara yang dimeriahkan dengan berbagai acara menarik seperti Pemberian Penghargaan kepada Loyal Customer The Royale Krakatau Hotel dan juga dihibur dengan performance sempurna oleh group band Maliq N D’Essentials ini berlangsung sangat meriah dan sukses dan dihadiri oleh Jajaran Direksi PT KIEC, dan juga Pejabat, Muspida dan juga Pimpinan serta Person In Charge dari sejumlah Perusahaan yang bekerjasama dengan The Royale Krakatau Hotel. “The Sapphire Restaurant merupakan bagian dari The Royale Krakatau yang sudah menjadi icon kuliner sejak dulu di Kota Cilegon, dan kami merupakan Group dari Krakatau Steel dibawah naungan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon yang menjadi ciri khas dari Kota Cilegon itu sendiri”, ujar Ibu Mila Wulansari, selaku GM Commercial Property.

Restaurant yang terletak di gedung bagian depan Hotel The Royale Krakatau ini dipenuhi dengan tidak kurang dari 300 tamu undangan yang tidak hanya ingin menikmati hidangan-hidangan terbaik yang disajikan Team Kitchen The Sapphire Restaurant, namun juga ingin menikmati sajian musik oleh Maliq N D’Essentials yang menampilkan 12 hits terbaik album mereka.

Tampilan modern kontemporer yang dimiliki The Sapphire Restaurant kini terdiri dari 2 lantai, dengan fasilitas private meeting room, area makan indoor & outdoor serta coffee corner untuk mengakomodasi customer dari generasi millenial. Desain yang futuristik serta pemandangan langsung menuju hijaunya lapangan Golf menjadi poin plus Restaurant dengan luas area 1.030m2 ini. “Luas keseluruhan dari The Sapphire Restaurant ini adalah 1.030m2, jadi sangat memungkinkan untuk dapat mengadakan event apapun disini”, ujar Ibu Elok Sofa selaku Hotel Executive Manager The Royale Krakatau Hotel.

Berbagai kelezatan hidangan baru yang ditampilkan The Sapphire mulai dari Asia hingga Eropa sebagai Menu Unggulannya, “Kami memiliki banyak sekali pilihan menu baru yang disajikan di The Sapphire Restaurant, namun menu lama yang masih menjadi andalan dan juga ciri khas juga masih kami sajikan, salah satunya adalah Oxtail Soup atau Sup Buntut.”, ujar Bapak Iwan Abdurrahman selaku Food & Beverage Manager The Royale Krakatau Hotel. Dengan kapasitas hingga 300 pax, Restaurant ini cukup mampu mengakomodasi apapun acara anda, mulai dari sekedar berkumpul bersama teman, keluarga dan rekan kerja, sebagai lokasi private meeting, arisan, ulang tahun, hingga acara pernikahan sekalipun. “Seating Capacity dari The Sapphire Restaurant ini adalah 300 pax, namun untuk standing capacity kami bisa lebih dari itu. Bahkan sudah ada yang me-reserve untuk mengadakan Wedding disini untuk 1000 Pax. Lokasi strategis, tempat yang cozy dan elegant serta indahnya view lapangan golf seperti ini, The Sapphire Restaurant adalah venue terbaik untuk apapun event anda, bahkan Wedding sekalipun”, ujar Tyas Ayudhia selaku Promotions & Public Relations The Royale Krakatau Hotel.

The Sapphire Restaurant ini adalah The Sapphire Restaurant juga memiliki area Coffee Corner yang dapat mengakomodasi para pecinta kopi untuk sekedar ngopi cantik atau meeting non formal. “Biji kopi yang kami gunakan merupakan biji kopi terbaik dari vendor kopi terkenal, Illy Coffee, yang sudah sangat dikenal oleh para pecinta kopi di nusantara”, ujar Bapak Susaedi, Rooms Division Manager yang sebelumnya adalah Food & Beverage Manager The Royale Krakatau.

Berbagai program promosi dan paket telah siap mengakomodasi dan memanjakan para customer The Sapphire Restaurant, mulai dari Live Music yang menemani dan menyemarakkan momen bersantap para tamu setiap hari Senin hingga Rabu malam, dan juga setiap Sabtu siang; begitu juga dengan paket-paket yang cukup terjangkau bahkan oleh kaum Millenials dengan paket Light Meals-nya dengan harga mulai dari Rp 20.000++. Bagi customer yang sudah memiliki rencana untuk mengadakan event di The Sapphire Restaurant, dapat menikmati potongan harga hingga 15% dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. (tyas666)

read more
Buku

Sai Rai: Cerita-cerita Timur dari Beranda Timur

cover sairai

Tulislah apa yang seharusnya tak boleh dilupakan, kata Isabel Allende. Dan Dicky Senda menggenapinya. Penulis menghadirkan 18 cerita lokal dengan penuh pengertian dan kepekaan sebagai pengarang yang bertanggung jawab menanggung beban cerita-cerita yang hidup di sekitarnya.

Dicky mengoleksi dongeng kuno, sejarah, tradisi, adat istiadat dan kebiasaan di dalam dirinya, mengolahnya dengan baik sebelum menjadi cerita baru dalam tulisan. Seperti ia ingin membalas kekasaran perbuatan dengan kehalusan bahasa dan ketepatan diksi. Telah pula ia berlaku sopan dengan tidak menghadirkan kesimpulan-kesimpulan dalam ceritanya, mewakili pembaca.

Penulis menahan diri saat mengisahkan kelam tahun 65 di Nusa Tenggara Timur –dalam Pulang ke Barat dari Hanga Loko Pedae, yang bahkan dia belum lahir ketika peristiwa itu terjadi. Emosinya tidak meledak kala mengisahkan keblingeran manusia modern dalam menafsir agama impor dalam kisah Pohon-pohon yang Dibunuh Tim Doa. Ia memperlihatkan empati mendalam kepada perempuan yang membunuh anak sendiri dalam kisah sedih Orpa. Meski mencintai desa kelahirannya sepenuh hati, namun ia seorang juru cerita yang adil bagi semesta.

Jika cerita-cerita dalam buku ini adalah makanan, maka pengarang menyajikan menu-menu yang bervariasi dan jarang saya cecap. Istilah dan nama orang dan pohon dan hantu dan dewa dan Tuhan dan segala rupa kemiskinan, jenis-jenis kesedihan dan keputusasaan, suasana alam yang terasa akrab sekaligus asing. Sebuah dunia yang lain namun berjarak tak jauh.

Pengarang memainkan kata ganti aku-kamu-dia-mereka seperti melempar puzzle agar pembaca tidak terburu-buru membaca, bahkan mengulangnya. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah perempuan dan laki-laki yang sering tak bernama. Mungkin itu tidak penting seperti kata Shakespeare. Atau karena mereka telah mewakili rasa komunal sehingga tidak perlu lagi dinamai.

Dua Ruangan dengan Seribu Ular adalah metafor dua saudara kandung yang saling mencintai namun harus terpisah karena berbeda dalam memandang segala sesuatu meski mereka berdekatan dan terjangkau. Keluhuran budi manusia dikisahkan dalam Wedang Uwuh. Sai Rai: Lelaki yang Meninggalkan Bumi merupakan konsep kekuasaan dan kepercayaan rakyat Sabu karena membapakkan laki-laki sebagai penanggung jawab kesejahteraan rakyat seperti memohon hujan, membuat panen berhasil, menangkal bencana, dan yang serupa.  

Apakah itu kisah nyata atau fiksi tidak lagi menjadi masalah ketika penulis mengungkap alam pikirannya dengan baik.  Ia meramu praktik politik kekuasaan menjadi cerita yang menggugah dalam Liuksaken dan OPK dan Kisah Lainnya. Kekesalan seorang anak dan kebawelan orangtua menjadi hiburan baru dalam cerita Bagaimana Jika Para Istri dan Gundil Ayah adalah Berbagai Jenis Hewan dan Tumbuhan.

Penulis bukan hanya rajin memungut cerita yang dekat atau jauh, namun juga seorang pendengar yang baik, tertib dalam berpikir, dan terampil berbahasa. Apa benar seperti dikatakan orang bahwa orang-orang Indonesia Timur berbahasa Indonesia dengan baik karena terbiasa membaca kitab suci (baca Alkitab)?

Apa pun itu, yang dimiliki penulis merupakan potensi  yang mendukung gagasan “17000 pulau imajinasi”.  Apresiasi semestinya diberikan kepada pengarang yang menerima panggilan darahnya untuk pulang dan membangun kampung, meski telah dalam posisi enak di negeri lain.

Bersama kawan-kawannya, Dicky membuat komunitas Lakoat.Kujawas di desa Mollo Utara, 130 km dari Kupang atau 18 km utara kota So’e. Ia meneliti keanekaragaman pangan lokal Mollo dengan resep pengolahan, mengembangkan homestay, dengan harapan satu kali desanya akan dikunjungi oleh orang-orang mancanegara.

Akhirnya, eksotisme timur telah meraja di seluruh cerita dan daya ungkap. Namun, ketenangan saya membaca agak terganggu karena menemukan kata-kata serapan di sana-sini. Sedikitnya saya menemukan enam kata ekspresi di seluruh badan. Apa alasan penulis tidak berupaya mencari padanan katanya, saya tak tahu. Seandainya kata-kata asing diganti dengan kata milik sendiri, mungkinkah cerita-cerita timur ini akan lebih timur rasa ketimurannya? (is)

 

Judul Buku: Sai Rai (kumpulan cerpen)

Penulis : Dicky Senda

Penerbit: GRASINDO

Cetakan I: Oktober 2017

145 halaman

read more
Serba-Serbi

Jelajah Ala Komunitas Sraddha

Rendra Agusta (baju merah) membimbing anggotanya membaca relief di candi sukuh (1)

Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat budaya Jawa di Indonesia menyimpan banyak keunikan. Utamanya adalah dalam hal komunitas. Salah satu komunitas unik yang berasal dari Kota Bengawan ini adalah komunitas Sradhha.

Komunitas ini dikatakan unik karena lebih memfokuskan diri untuk mempelajari aksara Jawa Kuno yang terdapat pada naskah-naskah kuno dan sejumlah prasasti-prasasti peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha. Oleh karena lebih fokus  dalam mempelajari aksara Jawa kuno, maka tidaklah mengherankan jika aneka kegiatan yang dilakukan pun berbeda dengan komunitas lainnya.

Komunitas ini didirikan oleh Rendra Agusta pada 2016 silam. Saat ini setidaknya ada 70 orang anggota yang aktif terlibat dalam komunitas ini.

“Lahirnya komunitas ini karena di Kota Solo ini minat masyarakat yang ingin mempelajari Jawa Kuno cukup banyak. Mereka seringkali kesulitan untuk menyalurkan minatnya tersebut. Di sisi lain sampai saat ini kajian-kajian mengenai Jawa Kuna juga masih sangat sedikit. Dengan alasan itulah komunitas ini didirikan,” ujar Rendra.

Biasanya komunitas ini akan berkumpul untuk melakukan kajian bersama di Musium Radya Pustaka, Solo, setiap sabtu. Untuk waktunya biasanya diberitahukan melalui akun instagram resmi dari komintas ini. Komunitas ini terbuka plus gratis bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui aksara Jawa Kuno secara mendalam. Aktifitas yang dilakukan oleh komunitas ini dalam mempelajari aksara Jawa Kuno tidak hanya dihabiskan di dalam ruangan saja. praktek langsung di lapangan juga menjadi agenda rutin dari komunitas ini.

Seperti yang dilakukan baru-baru ini, komunitas Sraddha melakukan penjelajahan peninggalan sejarah yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu. Adapun peninggalan yang didatangi okeh komunitas Sraddha untuk dikuak nilai kesejarahannya oleh komunitas ini adalah Situs Planggatan dan Candi Sukuh yang kesemuanya masih dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh dan Situs Planggatan merupakan peninggalan masa lalu yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Baik secara wujud dan nilai kesejarahannya. Banyak pengetahuan yang diambil dari dua tempat tersebut. Misalnya kita akan tahu fungsi bangunan itu untuk apa dari prasasti dan ke arah arah mana peninggalan itu menghadap.

“Ada beberapa hal yang menarik dari Candi Sukuh. Selain bentuknya yang tidak asimetris, di sana juga juga bisa dijumpai banyak angka tahun yang berbeda-beda. Adanya perbedaan angka tahun yang ditemukan di Candi Sukuh bisa dijadikan bukti bahwa candi tersebut dibangun secara bertahap,” ujar Rendra.

Lebih dari itu Rendra juga menambahkan jika beberapa sengkalan memet, seperti  yang ada di bagian gapura yang mana apabila dibaca berbunyi gapura buta anahut buntut (gapura raksasa menggit ekor ular). Adalah sengkalan yang berarti tahun 1359 Saka atau 1437 M. Angka tahun itu bisa ditafsirkan sebagai tahun selesainya pembuatan candi.

Sementara itu di dalam kompleks candi, di belakang dua arca garuda juga ditemukan angka yang berbeda. Pada bagian garuda yang satu menunjukkan angka 1363 Saka atau 1441 M dan pada bagian satunya lagi dapat dilihat angka 1364 Saka atau 1442 M. Tentang perbedaan angka tahun ini dengan sengkalan di gapura tadi adalah petunjuk bahwa candi sukuh tidak selesai dalam satu kali pembagunan.

Untuk Situs Palanggatan sendiri sampai kini belum banyak informasi yang diperoleh tentang situs ini. Diperkirakan situs ini merupakan reruntuhan candi yang dibangun pada masa era akhir dari majapahit. Secara fisik, situs ini bisa dikatakan benar-benar runtuh. Yang menarik dari Situs Planggatan ini adalah ditemukannya pahatan berupa sengalan memet yang bila dibanya berbunyi : gajah wiku mangan wulan. Sengkalan memet ini memiliki arti 1378 Saka atau 1456 M. Tahun tersebut kemungkinan adalah tahun selesainya pembangunan situs planggatan.

Di sisi lain yang membuat Candi Sukuh cukup menarik adalah bentuknya yang sering dianggap sedikit menyimpang dari ketentuan membuat bangunan suci Hindu sebagaimana yang dituliskan dalam kitab wastu widya. Dalam kitab tersebut sebuah candi seharusnya berdenah bujur sangkar dengan tempat yang paling suci berada di bagian tengah.

“Adanya penyimpangan ini mungkin karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa. Pudarnya pengaruh hindu ini menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat yang berasal dari jaman megalitikum. Buktiny adalah adanya kemiripan bentuk bangunan Candi Sukuh dengan teras berundak yang berasal dari jaman pra-Hindu,” jelasnya.

Untuk fungsi ada kemungkinan Candi Sukuh ini digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat peruwatan. Dugaan ini  dikuatkan melalui sejumlah panel relief yang menceritakan kisah-kisah peruwatan yang diwujudkan dalam cerita sudhamala, garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda di dinding candi.

 

Oleh : Sinung Santoso

 

read more
Galeri

Pameran Mencari Wajah-Mu: Ekspresi Pengalaman Iman

20170930_152234

Seruni (Senirupa Kristiani Indonesia) menggelar pameran di VIP Fine Arts, Karang Tengah Raya 7, Lebak Bulus (30/9/17), Jakarta Selatan. Pameran bertema Mencari Wajah-Mu ini akan berlangsung selama tiga puluh hari sampai 30 Oktober 2017, menampilkan tiga perupa: Ferry Agustian, Setiyoko Hadi dan Wisnu Sasongko.

Pameran menampilkan tiga pendekatan olah tema maupun tema artistik media. Ketiganya mengekspresikan pengalaman imani ke dalam tafsir-tafsir yang lebih segar dan menampilkan keberanian untuk keluar dari tradisi narasi Biblis. Seni Biblis biasanya mencirikan narasi kisah-kisah di Alkitab dengan tokoh Yesus atau Bunda Maria sebagai subyek.

Pada tradisi Renaisans, seni mengikuti kaidah-kaidah klasikisme serta pola-pola simbolik-ikonik dari aspek pewarnaan atau komposisi segitiga transendental untuk mengarahkan orang pada spirit teosentrisme.

 

Eddy Soetriyono sebagai kurator menekankan bahwa proses penggalian kreatif seni harus seperti garam yang memberi dampak citarasa khas pada aspek kekaryaan mau pun latar belakang ideologis. Kesadaran sejarah menjadi modal penting dalam proses kesenian, begitu juga kedasaran akan persoalan zaman.

Eka Darmaputra, dalam bukunya Karya Seni Sebagai Ekspresi Teologis, berkata bahwa seni tidak cuma memampukan kita melihat dengan cermat apa yang kita lihat, juga membuat kita berpartisipasi dalam apa yang kita lihat. Dengan begitu kita melihat apa yang tidak terlihat. Yang transenden menjadi imanen. Lebih tepat, yang imanen mempunyai dimensia transendental.

Demikian pula landasan para perupa Seruni memaknai potensi seni dalam penghayatan imani. Perupa Ferry Agustian memilih jalur ekspresi seni grafis dengan gaya impresif khas hitam-putih karya cetakan cukilan kayu. Setiyono Hadi menggali pengalaman meditatif dengan melahirkan “litani gambar” dalam mengimitasi gambar kerohanian Yesus melalui narasi optikal. Sedangkan Wisnu Sasongko menampilkan pengalaman spiritualitas kasih dalam narasi gerak hidup kesederhanaan dengan pendekatan imajinatif yang bergaya dekoratif-impresif.

 

Sebanyak 35 karya ditampilkan, beberapa di antaranya karya lama. Lukisan Mencari Wajah-MU, sekaligus menjadi judul pameran, adalah lukisan Wisnu Sasongko, dengan teknik melukis-memotong-menyatukan kembali, seperti sebuah puzzle, wajah Yesus yang samar.

“Ini pertama kalinya Seruni pameran di “luar”,” ujar Gunawan, juga perupa Seruni. Sebelumnya Seruni telah berpameran di beberapa lembaga pendidikan dan festival seni.  (is)

read more
Kata Saya

Petualangan ke Kamboja: Sebuah Goresan Tinta Peradaban

kamboja8

Melangkahkan kaki  menuju negara Kamboja,  menilik jejak  sejarah  di sudut kota Siem Riep dan Pnom Penh , yang memperlihatkan sebuah misteri, keindahan, keagungan, eksotisme, tragedi berdarah hingga keberanian mencicipi kuliner  ekstrimnya.

 

Perjalanan ini  dimulai dari Bangkok pagi hari menggunakan bis umum menuju kota Aranyaprathet-Poipet perbatasan negara Thailand dan Kamboja . Suatu perjalanan darat selama lebih kurang 6 jam yang sarat pengalaman, seru, dan mendebarkan. Sebuah  catatan kertas “healthy declare” yang harus diisi disodorkan petugas sesampai diperbatasan, dilanjutkan proses imigrasi.  Menuju terminal bis di Poi Pet tersedia “free shuttle bus”. Perjalanan berlanjut menuju Siem Riep, ada kejadian menarik saat bis menepi di Phkayproek Kralanh untuk istirahat dan makan. Terdapat sekelompok anak kecil dengan wajah dekil dan kuyu terlihat menyerbu penumpang untuk sekedar meminta dan menawarkan kerajinan gelang nylon yang dibuatnya

Hari mulai gelap, tibalah di Siem Riep kota kecil yang menyedot perhatian turis asing. Seorang sopir tuk-tuk dengan sopan menawarkan jasanya. Mr. Chantol namanya, seorang sarjana komunikasi (bersyukur mendapatkan sopir yg bisa bahasa Inggris).

Negara dengan Seribu Candi

Tuk-tuk,  telah melaju membelah kota Siem Riep dalam keremangan subuh, menyusuri jalanan menuju kawasan Angkor Wat, tiket seharga 20  $ US  menjadi pilihan untuk seharian bisa keluar masuk kawasan candi. Berjalan, berpacu menahan hawa dingin yang menusuk tulang meraba-raba dikegelapan  dengan cahaya senter yg mulai meredup bersama dengan ratusan turis menuju lokasi  sunrise yang menyembul diantara celah 3 stupa candi Angkor Wat yang kesohor itu. Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju ” Chong Kreas Floating Village” sebuah perkampungan unik yang mengapung diatas sungai. Pemandangan bangunan warung kelontong, beragam rumah tinggal, gereja, kantor polisi, bengkel kecil dan rumah makan yang mengapung diatas air cukup menarik, sebuah potret utuh dari realita kemiskinan tercermin disini. Dengan menyewa perahu mengelilingi kampung sambil mendengar kisah Chantol, bahwa orang tuanya pernah tinggal disini dan dia menjadi tulang punggung keluarga. Kemiskinan tidak menyurutkan usaha menyelesaikan kuliahnya meskipun putus sambung. Pekerjaan layak sangat sulit didapatkan sehingga dia pun mencoba peruntungan sebagai sopir tuk tuk dan saya merupakan tamu pertama baginya.

Mengelilingi kompleks candi di Angkor Wat seperti membuka album sejarah masa lalu Siem Riep. Turis manca negara memenuhi kawasan ini. Angkor Thomb dan candi-candi disekitarnya, menjadi pilihan untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya, sebuah candi dengan stupa berwajah manusia . Hampir setiap candi dikawasan Angkor  Wat dipenuhi dengan relief ”Apsara Dance” sepasang wanita penari yang eksotik, sosok penari tersebut telah menjadi salah satu ikon negara Kamboja, yang banyak ditemukan dalam bentuk souvenir khas kamboja seperti lukisan cat minyak, kertas bahkan menjadi hiasan dibeberapa pintu perkantoran.

 Pesona ”Apsara Dance”  dan Keremangan Malam Siem Riep

Kehidupan di Siem Riep hampir mirip daerah Kute di Bali. Hotel, bungalow yang cantik, resto-resto yang memanjakan lidah hampir terlihat ditiap sudut kota dengan dominasi kehidupan turis manca negara yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kehidupan Phnom Penh penh ibukotanya sendiri.

Saat menjelang malam, bisa temukan pertunjukan tarian ”Apsara dance” live show, namun tarifnya begitu mahal. Alternatif lain untuk melihat pertunjukan sejenis bisa didapatkan di resto ” Angkor Mondial Restaurant” ditemani jamuan makan malam khas Khmer, yang berlokasi di Pokambor Avenue, Wat Bo Bridge. Cukup mengeluarkan budget Rp. 120,000,- sudah mendapatkan makan malam dan menonton pertunjukan tari tradisional Kamboja. Menutup malam di Siem Riep, dengan berburu keunikan kerajinan khas Kamboja di ”Angkor Night  Market”, sebuah pasar malam yang menyediakan macam-2 souvenir seperti : patung kecil ”apsara dance”, gantungan kunci,dompet ,sarung bantal home made dengan sulaman bergambar Khmer, phasmina, kaos dll, harganya cukup terjangkau jika pandai menawar.

Sebelum meninggalkan Siem Riep keesokan hari, tidak lengkap rasanya jika melewatkan ”Musium Nasional Angkor”, disini informasi dan pengetahuan seputar sejarah,candi dan kebudayaan Kamboja dengan tatananan modern dan cerita yang runut dikemas dalam audio-video sangat menarik dan mengagumkan. Tak lupa berburu  phasmina dan vcd/dvd instrumen perkusi pin peath dan  mohory musik tradisional Kamboja.

Ibukota Phnom Penh dan Peninggalan Tragedi Khmer Merah

Perjalanan menuju ibu kota Kamboja dimulai dengan jarak tempuh +/- 5 jam. Hamparan sawah dan bulir padi menguning serta  rumah-rumah kecil dengan tumpukan jerami sisa panen mewarnai perjalanan ini. Perpisahan dengan Chantol cukup mengharukan, selama 2 hari di Siem Riep bersamanya menjadikan seperti saudara sendiri, sikap ramah, bercanda dan tanggungjawabnya tidak akan terlupakan. Secarik surat darinya dan stiker bendera Kamboja yang diselipkan tak mampu membendung air mata haru.

Daya tarik kota Pnomh Penh yang tidak seramai layaknya ibu kota besar, berupa  peninggalan tragedi bersejarah Khmer Merah, yang menjadi saksi bisu kekejaman Pol Pot saat berkuasa th. 1975 – 1979, membuat hati menjadi miris seperti di iris-iris. Coeung Ek Genocidal sebuah lokasi pembantaian yang telah dijadikan monumen untuk mengenang para korban pembunuhan, lokasinya 15 km dari Pnomh Penh arah luar kota. Tempat ini terkenal dengan sebutan ” The Killing Fields” yang  pernah difilmkan dilayar lebar. Tengkorak dan tulang-tulang wanita, pria dewasa dan anak-anak yang meninggal serta beberapa pakainan saat kejadian turut dipajang. Sebuah pohon besar di areal tersebut menambah kesan mistis, konon pohon ini mampu meredam suara, sehingga tidak ada seorangpun diluar sana dapat mendengar tangisan dan permintaan tolong korban kekejaman. Masyarakat setempat menamakan ”magic tree”.

Musium Toel Sleng  adalah bekas gedung sekolah berlantai 3 yang dijadikan penjara bagi tersangka yang tidak mematuhi paham dan ajaran Rezim Khmer Merah. Bangunan bekas penjara dengan tempat tidur, borgol besi dan kaleng air minum serta ceceran darah mengering disepanjang lantai membuktikan kekejaman dan siksaan yang dalami penduduk Kamboja kala itu. Gambaran foto para tersangka, berbagai macam jenis penyiksaan terhadap manusia seperti pembakaran hidup-hidup, sengatan serangga sciorpion, bayi-bayi yang dipenggal dan dibenturkan tubuhnya ke pohon sampai mati didepan orang tuanya, pencambukan massal dan benda-benda yang menjadi saksi bisu atas kekejaman Pol Pot membuat bulu kuduk merinding dan hati semakin tersayat. Adanya penampakan hantu yang tertangkap kamera, pernah juga ditulis oleh koran lokal.

 

Belanja dan Kuliner Ekstrim Seputar Pnomh Penh

Russian Market menjadi pilihan belanja souvenir, kain tenun dan selendang sutra  khas Kamboja bisa didapatkan dengan harga cukup kompetitif. Beberapa souvenir kecil seperti tempat pulpen,kartu nama,kaos dll juga terdapat disini.  Sekedar mencoba kuliner sore hari di alun-alun kota,  pedagang asongan menawarkan Lotus yang diambil bijinya sebagai camilan, ringan rasanya mirip belinjo. Kuliner yang ekstrim juga terdapat diantaranya seperti : kebab tarantula, aneka serangga goreng dan ”phon tea khon” telur itik atau ayam yang direbus berisi fetus  di dalamnya….hhhhmmm berani mencobanya??? Kekayaan budaya, peninggalan sejarah dan kuliner Kamboja cukup unik dan menarik, sayang jika dilewatkan.

Oleh: Henny Hendarjanti

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Serba-Serbi

JIWA YANG MENARI LEWAT TUBUH

Dariah, lengger Banyumas

Dari sisi Barat, penari itu berjalan sangat pelan menapaki lantai pendapa yang mengilat. Berpasang mata mengikut sepasang kaki kurus milik tubuh renta berkemben hitam. Selendang merah tersampir menutup bahu tipisnya.

Seluruh penonton seolah turut menanggung beban usia penari sehingga sesekali terdengar helaan napas, sampai sang penari berada tepat di depan grup pemusik pengiring, memberi isyarat, kemudian ia menari di hadapan puluhan pasang mata dan lensa kamera.

Dialah Dariah (89), penari lengger asal Banyumas,  satu dari enam maestro tari yang dihadirkan dalam Festival Payung ke-4 pada 15-17 September 2017, di Pura Mangkunegaran, Solo. Mereka menerima penghargaan atas sumbangsihnya melestarikan seni tari tradisi.

Dariah terlahir dengan nama Saddam, berjenis kelamin laki-laki. Tetapi indang lengger telah memilihnya. Sejak ia mendapati tubuhnya ingin menari, penduduk desa memberinya nama Dariah. Dan sejak saat itu tari menjadi hidupnya. Sang maestro terus belajar tentang kesejatian dalam hidup yang dijalani. Hingga usia senja, ia setia menggembalakan jiwa penarinya.

Apa yang dikatakan Phytagoras, ahli matematika Yunani, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, tidak berlaku bagi Dariah. Ia lebih cenderung pada apa yang dikatakan Plato bahwa tubuh adalah cermin jiwa. Tubuh Dariah mengikuti dan mencerminkan jiwa feminin seorang lengger dan meng-iya-kan semesta. Jiwanya menari melalui tubuhnya.

Lima maestro tari lainnya yang juga mendapat penghormatan adalah Munasiah Daeng Jinne dari Makassar, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Retno Maruti dari Jakarta, Rusini dari Solo dan Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, yang termuda di antara mereka alias berusia 63 tahun.

Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali

Meski sudah tidak muda, selain Dariah, mereka masih menari dan berkarya. Masing-masing mempresentasikan karya ciptaannya malam itu. Rusini (Roncen) dan Retno Maruti (Sekar Puri) kental dengan tari gaya Surakarta seperti yang digeluti selama memilih jalan tari. Munasiah membawakan nomor tari Pakarena, salah satu dari 19 karya koreo-nya. Berkostum dominan warna emas, ia menari sambil membawa kipas, diiringi seorang penari laki-laki dan dua perempuan. Ayu Bulantrisna meragakan Joged Pingitan dalam iringan musik bumbung dan gamelan khas Bali. Didik Nini Thowok menghadirkan beberapa karakter topeng, dengan tubuh lenturnya yang memukau penonton karena bermetamorfosis sangat detil dan terampil dengan topeng yang dikenakannya.

Didik Nini Thowok dari Yogyakarta

Jalan Tari

Masing-masing maestro memiliki keunggulan dalam bentuk dan ciri khas daerah mereka berasal. Mereka pun mempunyai kesamaan yaitu menggunakan kewenangan untuk memilih jalan tari sebagai laku hidup. Totalitas dan loyalitas menjadi pembuktian bahwa tari adalah persembahan bagi Sang Hidup.

Mereka menerima penghargaan bukan dihitung dari berapa lama mereka menjadi penari, tetapi konsistensi melestarikan seni tradisi dan sumbangsihnya pada kekayaan seni budaya Nusantara. Itulah letak penghormatannya.

Pada saat tari bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi mengintegrasikan seluruh unsur budi, kehalusan, filosofi dan keindahan, di situlah pernyataan tubuh tentang pengabdian dan meng-iya-kan kehidupan, muncul ke permukaan. Penghayatan setiap pengalaman, pengamatan setiap peristiwa zaman diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan luhur. Itulah yang segera tertangkap ketika enam maestro tari tradisi berhimpun.

Melalui tubuh, jiwa mereka menari. Mereka menjadi pendoa dan pengagung nilai-nilai kehidupan. Menari bukan lagi kerja berkesenian, tetapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, melatih rasa agar tajam dan taji.

Tari tradisi yang telah terintegrasi dengan diri para maestro bukan ilmu yang jatuh dari langit atau didapat secara instan. Mereka telah memulainya puluhan tahun di belakang dan dihidupi oleh lingkungan yang membentuknya. Meski Rusini mewarisi darah seni dari ibunya, Yohana Darsi Pudyorini, penari wayang orang Sriwedari, ia tak akan menjadi maestro seandainya tidak menanggapi panggilan jiwanya.

Ayu Bulantrisna Djelantik, Indo-Belanda yang lahir di Deventer 8 September 1947. Ia cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik, raja terakhir Kerajaan Karangasem, Bali. Ia tak mungkin  menjadi maestro tari seandainya hanya berfokus pada profesinya sebagai dokter THT dan mengabaikan semesta Bali yang kental aroma tari. Bulantrisna telah memilih dan memulai menapaki jalan tari sejak usia 7 tahun.

Retno Maruti dari Jakarta

Tari sebagai Salah Satu Pilar

Seperti bahasa ibu, bahasa penubuhan tari pun menjadi salah satu pilar penyangga indentitas sebuah bangsa. Meski para maestro pernah belajar tari daerah lain, mereka tetap mengakar dari tradisi yang mengalir dalam darah tarinya. Didik Nini Thowok, misalnya. Ia mendalami tari tradisi Cirebon, Sunda, Bali bahkan flamenco hingga Noh dari Jepang, namun dasar tarinya tetap Jawa. Munasiah, ia mempelajari tari Jawa dan Bali dan beberapa tari daerah lain, namun konsisten dengan seni tradisi Sulawesi.

Retno Maruti dan Rusini terus setia dengan gaya klasik Jawa (Surakarta) serta Dariah dengan lengger Banyumas. Tari tradisi adalah bahasa ibu tubuh tarinya.

Penghormatan

Upacara penghormatan bagi enam maesto pada Festival Payung ini adalah ajakan kepada generasi kini untuk menyusu pada jiwa-jiwa yang menari melalui tubuh, supaya tak tercerabut akar di tengah gempuran globalisasi budaya yang tak terbendung ini. Sumbangsih dan kekuatan cinta seni tradisi para maestro telah mengindahkan wajah Indonesia yang bermartabat dan bernilai luhur.

Munasiah Daeng Jinne dari Makassar

Reportase: Indah Darmastuti
Fotografer: Joko Sarwedhi

 

*Indah Darmastuti lahir dan bermukim di Solo. Menulis tentang seni pertunjukan khususnya tari. Ia juga menulis cerpen, puisi, novel. Karyanya antara lain novel Kepompong (2006), kumpulan novelet Cundamanik (2012) dan Kumpulan Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2015). Ia pengurus aktif Buletin Sastra Pawon Solo.

read more
Kata Saya

Pameran Lukisan Wayang Yogyakarta

WhatsApp Image 2017-09-22 at 19.35.31

Semalam saya dapat souvenir dari salah satu perupa Yogya yang membuat wayang alternatif. Namanya Wayang Uwuh.

 

“Uwuh” artinya “sampah”. Perupanya bernama Iskandar. Dia mengembangkan karya seni dari sampah. Berbeda halnya dengan minuman yang dinamakan Wedang Uwuh yang terkenal sebaga minuman raja di Mataram. Wayang uwuh ini dibuat dari botol minuman bekas yang disetrika dengan cara tertentu agar pipih. Lalu dilukis dan kemudian diberi pengait kayu. Pembuatan wayang uwuh ini sangat mudah. Jika nggak bisa menggambar, pakailah kopi gambar pada kertas hvs, lalu di-blad (dicontoh) di atas plastik yang siap dipakai. Maka, jadilaaah… Wayang uwuh, membuat semua orang bisa menjadi seniman.

Sejak beberapa tahun ini, karya Iskandar sudah beberapa kali dipamerkan. Salah satu karyanya juga menggunakan kulit kacang tanah sebagai karya, sekaligus piguranya. Wayang uwuh ini sudah di-workshopkan di Thailand dan mendapat respon sangat positif.

Lesson on wayang, 23 Sep 2017
Mikke Susanto

read more
Galeri

Hari Puisi Indonesia 2017: Dari Sayembara Buku Puisi, Parade Puisi hingga Siapkan Biografi Penyair

14795976_10154758039113945_992165000_o(1)
Pelaksanaan Hari Puisi Indonesia ke-5 yang puncaknya akan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1-4 Oktober 2017 mendatang, sebelumnya telah disemarakkan dengan perayaan se-Indonesia dari Aceh hingga Papua. Pada tahun 2017 ini, disamping Sayembara Buku Puisi, Parade Puisi, Malam Anugerah, Panggung Apresiasi, panitia juga akan menerbitkan dan meluncurkan Buku Biografi Penyair – Apa dan Siapa Penyair Indonesia.
 
 
Hari Puisi Indonesia (HPI) sebagai perayaan rutin tahunan berjalan sejak lima tahun silam, dimulai dengan deklarasi HPI yang diprakarsai oleh penyair Rida K. Liamsi dan para inisiator lainnya pada 22 November 2012. Mereka kemudian menghimpun para penyair Indonesia dari Aceh hingga Papua sebagai deklarator yang bersepakat mendeklarasikan HPI di Pekanbaru. Deklarasi dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang didampingi 40 penyair se-Indonesia. Deklarasi tersebut, menetapkan bahwa Hari Puisi Indonesia jatuh pada hari lahirnya penyair Chairil Anwar, yaitu 26 Juli sebagai wujud penghormatan bangsa ini kepada penyair yang telah mengangkat nama Indonesia.
 
Setelah deklarasi, Perayaan HPI digelar untuk pertama kalinya tahun 2013, bertajuk Pekan Hari Puisi Indonesia, pada tanggal 25-29 Juli 2013 di Taman Ismail Marzuki. Hari Puisi pertama ini diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu dengan acara antara lain: Sayembara Buku Piala Indopos, Lomba Baca Puisi Piala Yayasan Sagang, Sayembara Kritis Sastra kerjasama dengan Komunitas Sastra Indonesia, Hibah 1000 Buku Sastra untuk 10 taman baca masyarakat se-Indonesia, Pidato Kebudayaan untuk pertama kalinya oleh Presiden Penyair Indonesia, Pembacaan Puisi oleh 10 penyair terkemuka dan Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013. Selanjutnya, secara berturut-turut HPI diselenggarakan setiap tahunnya dengan semarak dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada perayaan HPI yang ke-4 tahun 2016.
 
Perayaan Hari Puisi Indonesia 2017 yang bertema “Harga Hidup Puisi Indonesia sebagai Perekat Kebinekaan dan Semangat Keindonesiaan” kali ini menggelar rentetan kegiatan dan acara. Acara dimulai dengan Sayembara Buku Hari Puisi Indonesia 2017 yang dibuka sejak 20 April hingga 20 September 2017. Sayembara Buku Puisi sampai saat ini telah diikuti oleh 200 buku puisi yang telah sampai ke meja panitia. Kemudian Tim Penyusun Buku Biografi Penyair – Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang dijalankan sejak Maret hingga 18 September  2017, setidaknya telah menerima sekitar 1000 biografi penyair seluruh Indonesia. Buku ini nantinya akan diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tanggal 04 Oktober 2017.
 
Selain meluncurkan buku babon itu, Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia akan diisi dengan pembacaan puisi oleh tiga penyair pilihan: Gunawan Mohammad, Sutardji Calzoum Bachri, dan Abdul Hadi WM, beserta para Menteri pilihan, Duta Besar pilihan, dan Pidato Kebudayaan oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. Panitia pun saat ini sedang berusaha menghadirkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia juga melaksanakan pemutaran video lima tahun perjalanan HPI dan pengumuman sekaligus penyerahan hadiah Sayembara Buku Hari Puisi Indonesia 2017.
 
Pengamat sastra yang juga Penggagas acara HPI, Maman S. Mahayana mengatakan, perayaan Hari Puisi Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat di berbagai kota di Indonesia, dapat menumbuhkan kebanggaan pada kebudayaan bangsa. “Menempatkan puisi sebagai bagian dari perjuangan membangun karakter bangsa, juga memberikan perhargaan yang layak pada penyair dan karyanya. Masyarakat pun dapat mengapresiasi sebagai langkah menghargai karya kreatif bangsa sendiri,” papar Maman di Jakarta.
 
Rangkaian acara HPI 2017 dimulai dengan pelaksanaan Panggung Apresiasi Hari Puisi Indonesia 2017 tanggal 1-2 Oktober di selasar Taman Ismail Marzuki yang disemarakkan oleh penampilan perwakilan 75 penyelenggara Hari Puisi Indonesia, pembacaan puisi oleh wartawan (Mustofa Ismail, Iwan Kurniawan, Budi Awan, Jodhi Yudono, dll) dan artis (Reza Rahardian, Ine Febrianti, dll)
 
Kemudian tanggal 3 Oktober 2017 dilaksanakan Parade Baca Puisi yang diikuti oleh pejabat, pengusaha, tokoh, dan penyair di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pejabat yang sudah mengkonfirmasi untuk membacakan puisi, antara lain: Anggota DPR RI (Lukman Edi, Arya Bima, dan Nurozi), Walikota dan Bupati, antara lain: Walikota Depok, Walikota Tanjung Balai, Walikota Banjarmasin, Wakil Walikota Batam, Bupati Lingga, Bupati Karang Anyar, Wakil Bupati Natuna. Sedangkan dari tokoh dan pengusaha antara lain: Siswono Yudohusodo, A. Slamet Widodo, Riri Satria, dan dari penyair antara lain: Radhar Panca Dahana, Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, dan Nisa Ringganis.
 
 Untuk informasi lebih lanjut terkait acara ini dapat menguhubungi:

Sihar Ramses Simatupang

E-mail: blackpoems@yahoo.com, sihar.ramses@gmail.com
Hp: 081383244788
Twitter: @SiharRamses
read more
1 2 3 4
Page 2 of 4