close

GAYA

Galeri

Pameran Mencari Wajah-Mu: Ekspresi Pengalaman Iman

20170930_152234

Seruni (Senirupa Kristiani Indonesia) menggelar pameran di VIP Fine Arts, Karang Tengah Raya 7, Lebak Bulus (30/9/17), Jakarta Selatan. Pameran bertema Mencari Wajah-Mu ini akan berlangsung selama tiga puluh hari sampai 30 Oktober 2017, menampilkan tiga perupa: Ferry Agustian, Setiyoko Hadi dan Wisnu Sasongko.

Pameran menampilkan tiga pendekatan olah tema maupun tema artistik media. Ketiganya mengekspresikan pengalaman imani ke dalam tafsir-tafsir yang lebih segar dan menampilkan keberanian untuk keluar dari tradisi narasi Biblis. Seni Biblis biasanya mencirikan narasi kisah-kisah di Alkitab dengan tokoh Yesus atau Bunda Maria sebagai subyek.

Pada tradisi Renaisans, seni mengikuti kaidah-kaidah klasikisme serta pola-pola simbolik-ikonik dari aspek pewarnaan atau komposisi segitiga transendental untuk mengarahkan orang pada spirit teosentrisme.

 

Eddy Soetriyono sebagai kurator menekankan bahwa proses penggalian kreatif seni harus seperti garam yang memberi dampak citarasa khas pada aspek kekaryaan mau pun latar belakang ideologis. Kesadaran sejarah menjadi modal penting dalam proses kesenian, begitu juga kedasaran akan persoalan zaman.

Eka Darmaputra, dalam bukunya Karya Seni Sebagai Ekspresi Teologis, berkata bahwa seni tidak cuma memampukan kita melihat dengan cermat apa yang kita lihat, juga membuat kita berpartisipasi dalam apa yang kita lihat. Dengan begitu kita melihat apa yang tidak terlihat. Yang transenden menjadi imanen. Lebih tepat, yang imanen mempunyai dimensia transendental.

Demikian pula landasan para perupa Seruni memaknai potensi seni dalam penghayatan imani. Perupa Ferry Agustian memilih jalur ekspresi seni grafis dengan gaya impresif khas hitam-putih karya cetakan cukilan kayu. Setiyono Hadi menggali pengalaman meditatif dengan melahirkan “litani gambar” dalam mengimitasi gambar kerohanian Yesus melalui narasi optikal. Sedangkan Wisnu Sasongko menampilkan pengalaman spiritualitas kasih dalam narasi gerak hidup kesederhanaan dengan pendekatan imajinatif yang bergaya dekoratif-impresif.

 

Sebanyak 35 karya ditampilkan, beberapa di antaranya karya lama. Lukisan Mencari Wajah-MU, sekaligus menjadi judul pameran, adalah lukisan Wisnu Sasongko, dengan teknik melukis-memotong-menyatukan kembali, seperti sebuah puzzle, wajah Yesus yang samar.

“Ini pertama kalinya Seruni pameran di “luar”,” ujar Gunawan, juga perupa Seruni. Sebelumnya Seruni telah berpameran di beberapa lembaga pendidikan dan festival seni.  (is)

read more
Kata Saya

Petualangan ke Kamboja: Sebuah Goresan Tinta Peradaban

kamboja8

Melangkahkan kaki  menuju negara Kamboja,  menilik jejak  sejarah  di sudut kota Siem Riep dan Pnom Penh , yang memperlihatkan sebuah misteri, keindahan, keagungan, eksotisme, tragedi berdarah hingga keberanian mencicipi kuliner  ekstrimnya.

 

Perjalanan ini  dimulai dari Bangkok pagi hari menggunakan bis umum menuju kota Aranyaprathet-Poipet perbatasan negara Thailand dan Kamboja . Suatu perjalanan darat selama lebih kurang 6 jam yang sarat pengalaman, seru, dan mendebarkan. Sebuah  catatan kertas “healthy declare” yang harus diisi disodorkan petugas sesampai diperbatasan, dilanjutkan proses imigrasi.  Menuju terminal bis di Poi Pet tersedia “free shuttle bus”. Perjalanan berlanjut menuju Siem Riep, ada kejadian menarik saat bis menepi di Phkayproek Kralanh untuk istirahat dan makan. Terdapat sekelompok anak kecil dengan wajah dekil dan kuyu terlihat menyerbu penumpang untuk sekedar meminta dan menawarkan kerajinan gelang nylon yang dibuatnya

Hari mulai gelap, tibalah di Siem Riep kota kecil yang menyedot perhatian turis asing. Seorang sopir tuk-tuk dengan sopan menawarkan jasanya. Mr. Chantol namanya, seorang sarjana komunikasi (bersyukur mendapatkan sopir yg bisa bahasa Inggris).

Negara dengan Seribu Candi

Tuk-tuk,  telah melaju membelah kota Siem Riep dalam keremangan subuh, menyusuri jalanan menuju kawasan Angkor Wat, tiket seharga 20  $ US  menjadi pilihan untuk seharian bisa keluar masuk kawasan candi. Berjalan, berpacu menahan hawa dingin yang menusuk tulang meraba-raba dikegelapan  dengan cahaya senter yg mulai meredup bersama dengan ratusan turis menuju lokasi  sunrise yang menyembul diantara celah 3 stupa candi Angkor Wat yang kesohor itu. Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan menuju ” Chong Kreas Floating Village” sebuah perkampungan unik yang mengapung diatas sungai. Pemandangan bangunan warung kelontong, beragam rumah tinggal, gereja, kantor polisi, bengkel kecil dan rumah makan yang mengapung diatas air cukup menarik, sebuah potret utuh dari realita kemiskinan tercermin disini. Dengan menyewa perahu mengelilingi kampung sambil mendengar kisah Chantol, bahwa orang tuanya pernah tinggal disini dan dia menjadi tulang punggung keluarga. Kemiskinan tidak menyurutkan usaha menyelesaikan kuliahnya meskipun putus sambung. Pekerjaan layak sangat sulit didapatkan sehingga dia pun mencoba peruntungan sebagai sopir tuk tuk dan saya merupakan tamu pertama baginya.

Mengelilingi kompleks candi di Angkor Wat seperti membuka album sejarah masa lalu Siem Riep. Turis manca negara memenuhi kawasan ini. Angkor Thomb dan candi-candi disekitarnya, menjadi pilihan untuk menyaksikan tenggelamnya sang surya, sebuah candi dengan stupa berwajah manusia . Hampir setiap candi dikawasan Angkor  Wat dipenuhi dengan relief ”Apsara Dance” sepasang wanita penari yang eksotik, sosok penari tersebut telah menjadi salah satu ikon negara Kamboja, yang banyak ditemukan dalam bentuk souvenir khas kamboja seperti lukisan cat minyak, kertas bahkan menjadi hiasan dibeberapa pintu perkantoran.

 Pesona ”Apsara Dance”  dan Keremangan Malam Siem Riep

Kehidupan di Siem Riep hampir mirip daerah Kute di Bali. Hotel, bungalow yang cantik, resto-resto yang memanjakan lidah hampir terlihat ditiap sudut kota dengan dominasi kehidupan turis manca negara yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kehidupan Phnom Penh penh ibukotanya sendiri.

Saat menjelang malam, bisa temukan pertunjukan tarian ”Apsara dance” live show, namun tarifnya begitu mahal. Alternatif lain untuk melihat pertunjukan sejenis bisa didapatkan di resto ” Angkor Mondial Restaurant” ditemani jamuan makan malam khas Khmer, yang berlokasi di Pokambor Avenue, Wat Bo Bridge. Cukup mengeluarkan budget Rp. 120,000,- sudah mendapatkan makan malam dan menonton pertunjukan tari tradisional Kamboja. Menutup malam di Siem Riep, dengan berburu keunikan kerajinan khas Kamboja di ”Angkor Night  Market”, sebuah pasar malam yang menyediakan macam-2 souvenir seperti : patung kecil ”apsara dance”, gantungan kunci,dompet ,sarung bantal home made dengan sulaman bergambar Khmer, phasmina, kaos dll, harganya cukup terjangkau jika pandai menawar.

Sebelum meninggalkan Siem Riep keesokan hari, tidak lengkap rasanya jika melewatkan ”Musium Nasional Angkor”, disini informasi dan pengetahuan seputar sejarah,candi dan kebudayaan Kamboja dengan tatananan modern dan cerita yang runut dikemas dalam audio-video sangat menarik dan mengagumkan. Tak lupa berburu  phasmina dan vcd/dvd instrumen perkusi pin peath dan  mohory musik tradisional Kamboja.

Ibukota Phnom Penh dan Peninggalan Tragedi Khmer Merah

Perjalanan menuju ibu kota Kamboja dimulai dengan jarak tempuh +/- 5 jam. Hamparan sawah dan bulir padi menguning serta  rumah-rumah kecil dengan tumpukan jerami sisa panen mewarnai perjalanan ini. Perpisahan dengan Chantol cukup mengharukan, selama 2 hari di Siem Riep bersamanya menjadikan seperti saudara sendiri, sikap ramah, bercanda dan tanggungjawabnya tidak akan terlupakan. Secarik surat darinya dan stiker bendera Kamboja yang diselipkan tak mampu membendung air mata haru.

Daya tarik kota Pnomh Penh yang tidak seramai layaknya ibu kota besar, berupa  peninggalan tragedi bersejarah Khmer Merah, yang menjadi saksi bisu kekejaman Pol Pot saat berkuasa th. 1975 – 1979, membuat hati menjadi miris seperti di iris-iris. Coeung Ek Genocidal sebuah lokasi pembantaian yang telah dijadikan monumen untuk mengenang para korban pembunuhan, lokasinya 15 km dari Pnomh Penh arah luar kota. Tempat ini terkenal dengan sebutan ” The Killing Fields” yang  pernah difilmkan dilayar lebar. Tengkorak dan tulang-tulang wanita, pria dewasa dan anak-anak yang meninggal serta beberapa pakainan saat kejadian turut dipajang. Sebuah pohon besar di areal tersebut menambah kesan mistis, konon pohon ini mampu meredam suara, sehingga tidak ada seorangpun diluar sana dapat mendengar tangisan dan permintaan tolong korban kekejaman. Masyarakat setempat menamakan ”magic tree”.

Musium Toel Sleng  adalah bekas gedung sekolah berlantai 3 yang dijadikan penjara bagi tersangka yang tidak mematuhi paham dan ajaran Rezim Khmer Merah. Bangunan bekas penjara dengan tempat tidur, borgol besi dan kaleng air minum serta ceceran darah mengering disepanjang lantai membuktikan kekejaman dan siksaan yang dalami penduduk Kamboja kala itu. Gambaran foto para tersangka, berbagai macam jenis penyiksaan terhadap manusia seperti pembakaran hidup-hidup, sengatan serangga sciorpion, bayi-bayi yang dipenggal dan dibenturkan tubuhnya ke pohon sampai mati didepan orang tuanya, pencambukan massal dan benda-benda yang menjadi saksi bisu atas kekejaman Pol Pot membuat bulu kuduk merinding dan hati semakin tersayat. Adanya penampakan hantu yang tertangkap kamera, pernah juga ditulis oleh koran lokal.

 

Belanja dan Kuliner Ekstrim Seputar Pnomh Penh

Russian Market menjadi pilihan belanja souvenir, kain tenun dan selendang sutra  khas Kamboja bisa didapatkan dengan harga cukup kompetitif. Beberapa souvenir kecil seperti tempat pulpen,kartu nama,kaos dll juga terdapat disini.  Sekedar mencoba kuliner sore hari di alun-alun kota,  pedagang asongan menawarkan Lotus yang diambil bijinya sebagai camilan, ringan rasanya mirip belinjo. Kuliner yang ekstrim juga terdapat diantaranya seperti : kebab tarantula, aneka serangga goreng dan ”phon tea khon” telur itik atau ayam yang direbus berisi fetus  di dalamnya….hhhhmmm berani mencobanya??? Kekayaan budaya, peninggalan sejarah dan kuliner Kamboja cukup unik dan menarik, sayang jika dilewatkan.

Oleh: Henny Hendarjanti

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Perjalanan

JIWA YANG MENARI LEWAT TUBUH

Dariah, lengger Banyumas

Dari sisi Barat, penari itu berjalan sangat pelan menapaki lantai pendapa yang mengilat. Berpasang mata mengikut sepasang kaki kurus milik tubuh renta berkemben hitam. Selendang merah tersampir menutup bahu tipisnya.

Seluruh penonton seolah turut menanggung beban usia penari sehingga sesekali terdengar helaan napas, sampai sang penari berada tepat di depan grup pemusik pengiring, memberi isyarat, kemudian ia menari di hadapan puluhan pasang mata dan lensa kamera.

Dialah Dariah (89), penari lengger asal Banyumas,  satu dari enam maestro tari yang dihadirkan dalam Festival Payung ke-4 pada 15-17 September 2017, di Pura Mangkunegaran, Solo. Mereka menerima penghargaan atas sumbangsihnya melestarikan seni tari tradisi.

Dariah terlahir dengan nama Saddam, berjenis kelamin laki-laki. Tetapi indang lengger telah memilihnya. Sejak ia mendapati tubuhnya ingin menari, penduduk desa memberinya nama Dariah. Dan sejak saat itu tari menjadi hidupnya. Sang maestro terus belajar tentang kesejatian dalam hidup yang dijalani. Hingga usia senja, ia setia menggembalakan jiwa penarinya.

Apa yang dikatakan Phytagoras, ahli matematika Yunani, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, tidak berlaku bagi Dariah. Ia lebih cenderung pada apa yang dikatakan Plato bahwa tubuh adalah cermin jiwa. Tubuh Dariah mengikuti dan mencerminkan jiwa feminin seorang lengger dan meng-iya-kan semesta. Jiwanya menari melalui tubuhnya.

Lima maestro tari lainnya yang juga mendapat penghormatan adalah Munasiah Daeng Jinne dari Makassar, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Retno Maruti dari Jakarta, Rusini dari Solo dan Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, yang termuda di antara mereka alias berusia 63 tahun.

Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali

Meski sudah tidak muda, selain Dariah, mereka masih menari dan berkarya. Masing-masing mempresentasikan karya ciptaannya malam itu. Rusini (Roncen) dan Retno Maruti (Sekar Puri) kental dengan tari gaya Surakarta seperti yang digeluti selama memilih jalan tari. Munasiah membawakan nomor tari Pakarena, salah satu dari 19 karya koreo-nya. Berkostum dominan warna emas, ia menari sambil membawa kipas, diiringi seorang penari laki-laki dan dua perempuan. Ayu Bulantrisna meragakan Joged Pingitan dalam iringan musik bumbung dan gamelan khas Bali. Didik Nini Thowok menghadirkan beberapa karakter topeng, dengan tubuh lenturnya yang memukau penonton karena bermetamorfosis sangat detil dan terampil dengan topeng yang dikenakannya.

Didik Nini Thowok dari Yogyakarta

Jalan Tari

Masing-masing maestro memiliki keunggulan dalam bentuk dan ciri khas daerah mereka berasal. Mereka pun mempunyai kesamaan yaitu menggunakan kewenangan untuk memilih jalan tari sebagai laku hidup. Totalitas dan loyalitas menjadi pembuktian bahwa tari adalah persembahan bagi Sang Hidup.

Mereka menerima penghargaan bukan dihitung dari berapa lama mereka menjadi penari, tetapi konsistensi melestarikan seni tradisi dan sumbangsihnya pada kekayaan seni budaya Nusantara. Itulah letak penghormatannya.

Pada saat tari bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi mengintegrasikan seluruh unsur budi, kehalusan, filosofi dan keindahan, di situlah pernyataan tubuh tentang pengabdian dan meng-iya-kan kehidupan, muncul ke permukaan. Penghayatan setiap pengalaman, pengamatan setiap peristiwa zaman diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan luhur. Itulah yang segera tertangkap ketika enam maestro tari tradisi berhimpun.

Melalui tubuh, jiwa mereka menari. Mereka menjadi pendoa dan pengagung nilai-nilai kehidupan. Menari bukan lagi kerja berkesenian, tetapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, melatih rasa agar tajam dan taji.

Tari tradisi yang telah terintegrasi dengan diri para maestro bukan ilmu yang jatuh dari langit atau didapat secara instan. Mereka telah memulainya puluhan tahun di belakang dan dihidupi oleh lingkungan yang membentuknya. Meski Rusini mewarisi darah seni dari ibunya, Yohana Darsi Pudyorini, penari wayang orang Sriwedari, ia tak akan menjadi maestro seandainya tidak menanggapi panggilan jiwanya.

Ayu Bulantrisna Djelantik, Indo-Belanda yang lahir di Deventer 8 September 1947. Ia cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik, raja terakhir Kerajaan Karangasem, Bali. Ia tak mungkin  menjadi maestro tari seandainya hanya berfokus pada profesinya sebagai dokter THT dan mengabaikan semesta Bali yang kental aroma tari. Bulantrisna telah memilih dan memulai menapaki jalan tari sejak usia 7 tahun.

Retno Maruti dari Jakarta

Tari sebagai Salah Satu Pilar

Seperti bahasa ibu, bahasa penubuhan tari pun menjadi salah satu pilar penyangga indentitas sebuah bangsa. Meski para maestro pernah belajar tari daerah lain, mereka tetap mengakar dari tradisi yang mengalir dalam darah tarinya. Didik Nini Thowok, misalnya. Ia mendalami tari tradisi Cirebon, Sunda, Bali bahkan flamenco hingga Noh dari Jepang, namun dasar tarinya tetap Jawa. Munasiah, ia mempelajari tari Jawa dan Bali dan beberapa tari daerah lain, namun konsisten dengan seni tradisi Sulawesi.

Retno Maruti dan Rusini terus setia dengan gaya klasik Jawa (Surakarta) serta Dariah dengan lengger Banyumas. Tari tradisi adalah bahasa ibu tubuh tarinya.

Penghormatan

Upacara penghormatan bagi enam maesto pada Festival Payung ini adalah ajakan kepada generasi kini untuk menyusu pada jiwa-jiwa yang menari melalui tubuh, supaya tak tercerabut akar di tengah gempuran globalisasi budaya yang tak terbendung ini. Sumbangsih dan kekuatan cinta seni tradisi para maestro telah mengindahkan wajah Indonesia yang bermartabat dan bernilai luhur.

Munasiah Daeng Jinne dari Makassar

Reportase: Indah Darmastuti
Fotografer: Joko Sarwedhi

 

*Indah Darmastuti lahir dan bermukim di Solo. Menulis tentang seni pertunjukan khususnya tari. Ia juga menulis cerpen, puisi, novel. Karyanya antara lain novel Kepompong (2006), kumpulan novelet Cundamanik (2012) dan Kumpulan Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2015). Ia pengurus aktif Buletin Sastra Pawon Solo.

read more
Kata Saya

Pameran Lukisan Wayang Yogyakarta

WhatsApp Image 2017-09-22 at 19.35.31

Semalam saya dapat souvenir dari salah satu perupa Yogya yang membuat wayang alternatif. Namanya Wayang Uwuh.

 

“Uwuh” artinya “sampah”. Perupanya bernama Iskandar. Dia mengembangkan karya seni dari sampah. Berbeda halnya dengan minuman yang dinamakan Wedang Uwuh yang terkenal sebaga minuman raja di Mataram. Wayang uwuh ini dibuat dari botol minuman bekas yang disetrika dengan cara tertentu agar pipih. Lalu dilukis dan kemudian diberi pengait kayu. Pembuatan wayang uwuh ini sangat mudah. Jika nggak bisa menggambar, pakailah kopi gambar pada kertas hvs, lalu di-blad (dicontoh) di atas plastik yang siap dipakai. Maka, jadilaaah… Wayang uwuh, membuat semua orang bisa menjadi seniman.

Sejak beberapa tahun ini, karya Iskandar sudah beberapa kali dipamerkan. Salah satu karyanya juga menggunakan kulit kacang tanah sebagai karya, sekaligus piguranya. Wayang uwuh ini sudah di-workshopkan di Thailand dan mendapat respon sangat positif.

Lesson on wayang, 23 Sep 2017
Mikke Susanto

read more
Galeri

Hari Puisi Indonesia 2017: Dari Sayembara Buku Puisi, Parade Puisi hingga Siapkan Biografi Penyair

14795976_10154758039113945_992165000_o(1)
Pelaksanaan Hari Puisi Indonesia ke-5 yang puncaknya akan digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 1-4 Oktober 2017 mendatang, sebelumnya telah disemarakkan dengan perayaan se-Indonesia dari Aceh hingga Papua. Pada tahun 2017 ini, disamping Sayembara Buku Puisi, Parade Puisi, Malam Anugerah, Panggung Apresiasi, panitia juga akan menerbitkan dan meluncurkan Buku Biografi Penyair – Apa dan Siapa Penyair Indonesia.
 
 
Hari Puisi Indonesia (HPI) sebagai perayaan rutin tahunan berjalan sejak lima tahun silam, dimulai dengan deklarasi HPI yang diprakarsai oleh penyair Rida K. Liamsi dan para inisiator lainnya pada 22 November 2012. Mereka kemudian menghimpun para penyair Indonesia dari Aceh hingga Papua sebagai deklarator yang bersepakat mendeklarasikan HPI di Pekanbaru. Deklarasi dibacakan oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri yang didampingi 40 penyair se-Indonesia. Deklarasi tersebut, menetapkan bahwa Hari Puisi Indonesia jatuh pada hari lahirnya penyair Chairil Anwar, yaitu 26 Juli sebagai wujud penghormatan bangsa ini kepada penyair yang telah mengangkat nama Indonesia.
 
Setelah deklarasi, Perayaan HPI digelar untuk pertama kalinya tahun 2013, bertajuk Pekan Hari Puisi Indonesia, pada tanggal 25-29 Juli 2013 di Taman Ismail Marzuki. Hari Puisi pertama ini diselenggarakan oleh Yayasan Panggung Melayu dengan acara antara lain: Sayembara Buku Piala Indopos, Lomba Baca Puisi Piala Yayasan Sagang, Sayembara Kritis Sastra kerjasama dengan Komunitas Sastra Indonesia, Hibah 1000 Buku Sastra untuk 10 taman baca masyarakat se-Indonesia, Pidato Kebudayaan untuk pertama kalinya oleh Presiden Penyair Indonesia, Pembacaan Puisi oleh 10 penyair terkemuka dan Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2013. Selanjutnya, secara berturut-turut HPI diselenggarakan setiap tahunnya dengan semarak dan mendapat pengakuan dari pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada perayaan HPI yang ke-4 tahun 2016.
 
Perayaan Hari Puisi Indonesia 2017 yang bertema “Harga Hidup Puisi Indonesia sebagai Perekat Kebinekaan dan Semangat Keindonesiaan” kali ini menggelar rentetan kegiatan dan acara. Acara dimulai dengan Sayembara Buku Hari Puisi Indonesia 2017 yang dibuka sejak 20 April hingga 20 September 2017. Sayembara Buku Puisi sampai saat ini telah diikuti oleh 200 buku puisi yang telah sampai ke meja panitia. Kemudian Tim Penyusun Buku Biografi Penyair – Apa dan Siapa Penyair Indonesia yang dijalankan sejak Maret hingga 18 September  2017, setidaknya telah menerima sekitar 1000 biografi penyair seluruh Indonesia. Buku ini nantinya akan diluncurkan pada Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, tanggal 04 Oktober 2017.
 
Selain meluncurkan buku babon itu, Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia akan diisi dengan pembacaan puisi oleh tiga penyair pilihan: Gunawan Mohammad, Sutardji Calzoum Bachri, dan Abdul Hadi WM, beserta para Menteri pilihan, Duta Besar pilihan, dan Pidato Kebudayaan oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. Panitia pun saat ini sedang berusaha menghadirkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Malam Anugerah Hari Puisi Indonesia juga melaksanakan pemutaran video lima tahun perjalanan HPI dan pengumuman sekaligus penyerahan hadiah Sayembara Buku Hari Puisi Indonesia 2017.
 
Pengamat sastra yang juga Penggagas acara HPI, Maman S. Mahayana mengatakan, perayaan Hari Puisi Indonesia yang diselenggarakan setiap tahun oleh masyarakat di berbagai kota di Indonesia, dapat menumbuhkan kebanggaan pada kebudayaan bangsa. “Menempatkan puisi sebagai bagian dari perjuangan membangun karakter bangsa, juga memberikan perhargaan yang layak pada penyair dan karyanya. Masyarakat pun dapat mengapresiasi sebagai langkah menghargai karya kreatif bangsa sendiri,” papar Maman di Jakarta.
 
Rangkaian acara HPI 2017 dimulai dengan pelaksanaan Panggung Apresiasi Hari Puisi Indonesia 2017 tanggal 1-2 Oktober di selasar Taman Ismail Marzuki yang disemarakkan oleh penampilan perwakilan 75 penyelenggara Hari Puisi Indonesia, pembacaan puisi oleh wartawan (Mustofa Ismail, Iwan Kurniawan, Budi Awan, Jodhi Yudono, dll) dan artis (Reza Rahardian, Ine Febrianti, dll)
 
Kemudian tanggal 3 Oktober 2017 dilaksanakan Parade Baca Puisi yang diikuti oleh pejabat, pengusaha, tokoh, dan penyair di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Pejabat yang sudah mengkonfirmasi untuk membacakan puisi, antara lain: Anggota DPR RI (Lukman Edi, Arya Bima, dan Nurozi), Walikota dan Bupati, antara lain: Walikota Depok, Walikota Tanjung Balai, Walikota Banjarmasin, Wakil Walikota Batam, Bupati Lingga, Bupati Karang Anyar, Wakil Bupati Natuna. Sedangkan dari tokoh dan pengusaha antara lain: Siswono Yudohusodo, A. Slamet Widodo, Riri Satria, dan dari penyair antara lain: Radhar Panca Dahana, Ahmadun Yosi Herfanda, Sihar Ramses Simatupang, dan Nisa Ringganis.
 
 Untuk informasi lebih lanjut terkait acara ini dapat menguhubungi:

Sihar Ramses Simatupang

E-mail: blackpoems@yahoo.com, sihar.ramses@gmail.com
Hp: 081383244788
Twitter: @SiharRamses
read more
Kata Saya

Menyusuri Sungai Sarawak

sunset-1902317_1920

Banyak tempat dan ragam wisata di Kota Kuching, Negeri Sarawak, Malaysia. Salah satu ragam wisata di kota itu adalah menyusuri Sungai Sarawak. Sungai ini membelah Kuching menjadi dua bagian, satu kawasan disebut sebagai kota lama di mana difungsikan sebagai tempat niaga dengan penduduk mayoritas keturunan China. Sedang di bagian seberang adalah pusat pemerintahan Sarawak dengan mayoritas penghuni adalah kaum bumi putera (etnis Melayu).

Sungai ini menjadi penghubung kedua kawasan. Bila orang seberang ingin belanja ke pusat niaga, mereka ada yang menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tarif naik sampan sebesar 1 RM (Ringgit Malaysia).

Meski sungai itu memiliki panjang 217 km namun paket wisata menyusuri sungai hanya sekitar Water Front. Water Front merupakan pusat wisata, niaga, bisnis, dan hotel di Kota Kuching. Untuk itu bila kita ingin menikmati wisata susur sungai, kita harus ke Water Front. Kapal yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar 4 meter ini ditambatkan di salah satu dermaga Water Front.

“Kalau membeli di awal harganya 54 RM,” ujar penjual tiket. Ia menawarkan potongan harga dengan tujuan agar wisatawan yang lalu lalang di Water Front segera ikut tour itu. Harga resminya adalah 60 RM untuk dewasa dan 30 RM untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Di tengah lalu lalang orang, satu persatu orang membeli tiket. Waktu menyusuri sungai pukul 17.30 waktu setempat. Dalam sehari paket wisata susur sungai hanya sekali. Tepat pukul 17.00, peserta wisata susur sungai diperkenankan masuk ke dalam kapal yang di badannya tertulis Sarawak River Cruise itu. Peserta wisata susur sungai rupanya terbilang banyak, terlihat orang berduyun-duyun bergegas naik ke kapal.

Berada di dalam kapal, kita akan melihat kemewahan, ada restoran dengan fasilitas bardan café. Meski di ruangan ini suasana lebih mewah namun sepertinya penumpang lebih memilih naik ke bagian atas. Di bagian ini suasananya terbuka sehingga pandangan lebih luas. Berada di bagian atas, pramusaji langsung menyambut penumpang dengan menyodorkan roti yang berada di atas piring kecil dan segelas es jeruk. Sepasang roti dan minuman itu adalah bagian dari pelayanan tour.

Menjelang pukul 17.30, terdengar bunyi terompet kapal yang keras dan panjang. Klakson dibunyikan sebagai tanda kapal hendak lepas tali. Tak lama kemudian, kapal bergerak pelan meninggalkan dermaga. Ketika kapal sudah menengah, terlihat kawasan Water Front, seperti Main Bazaar. Main Bazaar adalah pusat belanja souvenir dan oleh-oleh khas Kuching dan Sarawak. Tak lama kemudian kita akan melihat bangunan wisata seperti Fort Margherita, Mahkamah Lama, dan Galangan Kapal Brooke. Bangunan-bangunan itu merupakan bangunan tua dan berfungsi pada masa ketika Sarawak berada di bawah kekuasaan bangsa asing, seperti pada masa Charles Brooke di tahun 1800-an. Charles Brooke merupakan orang Inggris yang pernah menjadi sekutu Sultan Brunai yang masih menguasai Sarawak.

Tak lama kemudian, pengunjung akan melihat megahnya Masjid Kota Kuching. Masjid ini umurnya setua pemerintahan Kota Kuching, dibangun mulai tahun 1852 dan mengalami masa pengembangan dari waktu ke waktu. Bangunan yang sekarang kita lihat merupakan renovasi terakhir yang dilakukan pada tahun 1962. Di kanan kiri masjid merupakan pemakaman Muslim.

Selepas melintasi masjid yang bercat pink itu, kapal berputar haluan, balik arah. Di sisi sebelah sungai, peserta susur sungai akan melihat dua bangunan penting Negeri Sarawak, yakni Astana dan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak. Astana adalah tempat tinggal Yang di-Pertuan Negeri Sarawak, jabatan setingkat gubernur. Tempat ini bak istana presiden di Indonesia. Dalam kesempatan itu, saya ingin mengunjungi Astana, ehrupanya tempat itu dibuka pada saat-saat tertentu seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Tepat di samping Astana ada DUN. DUN kalau di Indonesia adalah DPRD.

Sebagai urat nadi masyarakat, di kanan-kiri sungai juga ada hunian penduduk. Saat susur sungai kita akan melihat Kampung Boyan. Kampung ini bisa jadi dulu adalah tempat hunian orang-orang Indonesia, di kampung itu ada lorong yang bernama Lorong Gersikan. Tak jauh dari Kampung Boyan, ada Kampung yang bernama Surabaya. Di Kampung Surabaya, ada lorong-lorong yang namanya para Wali Songo. Seperti Lorong Sunan Bonang.

Agar suasana susur sungai itu tidak menjenuhkan, pengelola memberikan hiburan tari di atas kapal. Di ujung perjalanan, peserta wisata disuguhi beragam tari tradisional, tari dari etnis dayak, melayu, dan etnis lain yang ada di Sarawak. Dengan suguhan tari tradisional itulah membuat wisata susur sungai menjadi lebih meriah dan menyenangkan. Pengelola tour pun memberi kesempatan kepada penumpang bila ingin foto bareng dengan para penari.

 

Ardi Winangun adalah seorang penulis traveller yang biasa menulis di Jawa Pos, Republika, dan Koran Tempo. Ia adalah founder komunitas Backpacker International. Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Buku

Menziarahi Malam, Menziarahi Kota

jakarta-1948146_1920

Dunia di malam hari memang begitu kompleks. Bagi penyair, “malam” bukan cuma segudang inspirasi, tetapi juga merupakan sebuah tema yang cukup jarang digarap. Rata-rata penyair lebih memilih tema cinta, kematian, sampai dengan kesedihan. Bisa jadi karena tema “malam” begitu luas, sehingga orang jarang memilih tema itu.

 

Judul buku                                                       : Kota, Kita, Malam
Penulis                                                               : Isbedy Stiawan ZS
Penerbit                                                             : Basabasi
Tahun                                                                 : Desember 2016
Halaman                                                            : 76 Halaman
ISBN                                                                   : 978-602-391-340-4

Isbedy cenderung berani memadukan tiga tema sekaligus di buku puisinya. Buku puisi berjudul Kota, Kita, Malam (2016). Ketiga tema itu dikuliti satu persatu kedalam kurang lebih 47 puisinya. Penyair justru memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membaca puisinya dari mana. Ketiga tema itu, sebenarnya bertalian yang mencerminkan seseorang yang sedang menelusuri malam.

Penyair, dalam hal ini memposisikan diri sebagai pejalan, peziarah. Ia tak hanya melihat malam dalam kasat mata melalui mata biasa, tapi memandang “malam” sebagai “mata puisi”. Melalui puisinya, malam digubah kedalam berbagai suasana, peristiwa sampai dengan emosi yang mengaduk jiwa. Ada dunia pelaut, ada suasana sunyi, dan sepi yang direkam dalam puisi-puisi Isbedy.

Di awal kita bisa melihat bagaimana kota dihadirkan dalam berbagai peristiwa dan suasana. Kita bisa menengok petilan puisi berikut : Aku duduk teduh disini/ gerimis memandu/ cakap;cinta ditunda/ lidahku kelu/ langit kelabu/ beri aku senyum/ hapus duka itu/ harapku (Aku Teduh di Sini). Ada suasana batin yang dihadirkan oleh penyair seperti kesedihan, kepiluan serta kesendirian. Penyair berhasil memadukan antara cerita atau peristiwa berteduh, dengan suasana hati yang mengikutinya.

Pada puisi lain masih dalam tema “kota”, ada puisi yang begitu lugas, serta tanpa basa-basi. Metafora serta personifikasi tak dibangun sama sekali. Membaca puisi ini barangkali kita akan merasa klise atau biasa mendengar peristiwa semacam ini.

Pembaca boleh saja tak sepakat dengan saya saat membaca puisi berikut : kita hanya menunggu/ sedang halte dan jalan/ terus menjauh/ tanpa bus berkunjung/ jalanlah yang bergerak/ sedang kita hanya menanti/ sampai bus datang/ lalu mengangkut ke entah/ kita hanya menunggu/ya, hingga kau datang/ sekadar berdendang (Hanya Menunggu). Membaca larik-larik puisi ini, kita tak menemukan sesuatu yang istimewa, diksi pun biasa saja, di puisi ini, kita melihat penyair hanya sekadar mengamati sekilas. Kata menunggu benar-benar fulgar diartikan menanti seseorang datang.

Ada puisi di buku ini yang mencerminkan kekuatan penyair dalam mengolah diksi dipadukan dengan tema “kota” : mungkin kita sudah lupa warna kota/ seperti tak pernah ingat bagaimana/ denyut malam/ begitu lupa bahkan pelangi diwajahku/ yang diamdiam menyusup pula di halaman itu (Menulis Peristiwa Sendiri). Ada lanskap yang meloncat-loncat, dari layar satu ke layar lainnya. Dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Dari kota hingga ke denyut, dari lupa ke pelangi, dari halaman hingga aktifitas menyusup. Pada puisi ini, nampak kelihaian penyair mengecoh pembaca dengan judul. Ada upaya menautkan diri, kedirian, dengan imaji yang berlompatan.

Pada bagian tengah buku puisi ini, kita akan menemukan bagaimana penyair menyerap lebih dalam eksplorasi diri, baik eksplorasi batin, maupun eksplorasi pengalaman tubuh, atau pengalaman penyair mengundang orang lain masuk dalam puisinya. Ada nuansa percakapan yang hendak dimunculkan saat penyair menuliskan syairnya. Penyair justru nampak mengajak pembaca bukan orang lain. Puisi berikut menggambarkan suasana kearah sana : masuk ke dalam diri/ menyelamlah sedalam-dalamnya/ maka kepalamu akan tunduk/ hati mengembara ke ruang / hanya putih seluruh dindingnya/ masuklah ke dalam diri/ lihat sedalam-dalamnya (Menyelam Sedalam-Dalam).

Di puisi lain, kita bisa melihat ada semacam petuah, nasihat, serta ajakan untuk mendalami diri lebih jauh, masuk ke ruang jiwa lebih dalam. Kita bisa membaca puisi berjudul Kau Tersenyum  : bacalah/ embun telah menetes/ dari kedua alis mataku/ serupa pelangi begitu warnawarni/ kau bernyanyi dan menari/ sebutlah bukit-bukit berbaris/di mataku, aku pun tak lelah/ mendaki, begitu indah / kau tersenyum dan inginku sampai. Meski sekilas puisi ini menampakkan kekaguman pada orang, namun puisi ini seperti mengisyaratkan bagaimana kita memasuki relung jiwa seseorang begitu dalam meski hanya lewat tatapan wajah, ekspresi senyumannya.

Bila di puisi-puisi sebelumnya penyair mencoba untuk membuat bait terakhit begitu biasa, maka di puisi berikut ada usaha penyair mencari kejutan di bait terakhir. Setelah hujan/ aku berangkat/ hanya sendiri/ begitu sepi/ sebuah taman/ masih basah/ sangat berair /mungkin untuk basuhku sebentar lagi/ satusatunya air/ yang kutemui/ di taman itu/ air matamu? (Setelah Hujan).

Ada usaha mengaitkan antara air hujan, kesedihan, sampai dengan air mata seseorang (baca :kesedihan seseorang). Pada bait penutup, kita menemukan satu kejutan, meski masih satu makna antara kesedihan dengan air mata. Ada satu ketukan yang berlainan dengan baris-baris syair sebelumnya.

Mari kita menuju pada penutup buku puisi ini. Penutup buku puisi ini mencoba untuk menziarahi malam. Malam dalam pandangan buku puisi ini bisa berbagai macam. Kita bisa menyimak bagaimana malam ditafsir dalam puisi ekspresif. Puisi-puisi di bagian belakang ini lebih merupakan bentuk ekspresi seseorang yang bisa kita baca secara terang dan gamblang. Ada kejujuran pada satu sisi, tapi juga kita melihat ada rasa mampat saat penyair mencoba mencari metafora, atau diksi yang indah di puisinya. Tapi aku akan terus mencari meski/ laut dan udara dilintasi: petang/ mendekati kelam/ kemana kau pergi dirundung sunyi (Milikku Sunyi).

Nampak betul penyair kurang begitu lihai menelusup ke relung lebih dalam menyusuri sunyi. Makna sunyi saya kira tak sekadar kematian dan kesepian. Disini, kita hanya menangkap ekspresi kehilangan semata. Sementara kata sunyi sendiri lebih identik dengan alam.

Selain kesunyian yang coba digambarkan penyair, ada tema yang mengajak kita merenung pada persoalan religiusitas. Kita bisa membaca penggalan puisi berikut : setiap malam/ mataku jadi siang/kekasih yang disayang/ tak pernah pulang/ bergemuruh kedalam/ jalanjalan cemerlang/ sekiranya malam /telah menjadikan/ mataku siang/ apakah aku masih / bisa memiliki/ matahari pagi? (Kupulangkan Malam).

Puisi-puisi Isbedi memang lebih terkesan vulgar. Akan tetapi, melalui buku puisi ini, kita diajak untuk menziarahi diri, menziarahi malam, menziarahi kota. Melalui perjalanan ke kota-kota barangkali Isbedy bisa lebih matang dalam memilih “diksi”maupun metafora. Kekuatan sajak ini ada di cara pengungkapan. Cara Isbedy mengungkap refleksi kota, tentu berbeda dengan cara Afrizal. Kota dalam pandangan Isbedy tentu saja tak ditemukan relasi modernitas, spirit pembangunan, dan sebagainya. Saya merasa yang diangkat Isbedy adalah suasana, spiritual serta manusia yang ada pada peristiwa ketimbang mengangkat tema kota yang lain.

 Meminjam kata-kata penyair, buku ini memang berkesan untuk memberi pesan agar kota serta manusianya menjadi lebih baik.

 

 

 

*) Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

read more
Kata Saya

Menikmati Lebaran di Bandar Seri Begawan – Brunei Darussalam

Foto Fajar 2

Sudah menjadi tradisi bagi Muslim di Indonesia untuk merayakan Idul fitri atau berlebaran dengan mudik ke kampung halaman. Namun, untuk Lebaran tahun ini, saya memutuskan mengunjungi negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam karena ingin merasakan bagaimana atmosfir Idul Fitri di negara Islam tersebut sekaligus mengunjungi Istana Nurul Iman yang hanya dibuka untuk umum hanya pada saat hari raya Idul Fitri.

Perjalanan saya ke Brunei Darussalam tepatnya kota Bandar Seri Begawan (BSB) berdurasi 4 hari, yaitu 24 sampai 27 Juni 2017 dengan menggunakan salah satu maskapai low cost carrier dari Kuala Lumpur. Saya mendarat di Brunei International Airport sekitar pukul 9 pagi dan kesan pertama yang saya rasakan dari negara ini adalah ketenangan dengan nuansa islami. Bandara ini tidak terlalu besar, namun bersih dan modern serta letaknya juga tidak jauh dari pusat kota yaitu sekitar 10 km atau 15 menit berkendara. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hal menarik lainnya adalah tidak terlihat adanya kemacetan disini sehingga perjalanan saya menuju pusat kota BSB lancar jaya. Jangankan macet, kondisi jalanan juga sangat sepi padahal berdasarkan informasi yang saya peroleh hampir setiap keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi. Sekilas, kondisi jalan utama di Brunei sangat mirip dengan singapura, lebar dengan  masing masing memiliki 3 lajur disetiap sisi jalan.

Brunei Darussalam merupakan negara kaya penghasil minyak dan gas bumi yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah. Memang Brunei terlihat tidak terlalu fokus pada pariwisata dan objek wisata juga tidak seperti beberapa negara asean lainnya. Oleh karena itu, jangan berharap menemukan mall mewah dengan berbagai outlet branded atau jenis hiburan lainnya karena gak akan bisa didapatkan disini. namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilihat jika kita datang ke negara ini bahkan menurut saya, Brunei khususnya Bandar Seri Begawan memiliki daya tarik sendiri. Untuk urusan makanan, terdapat banyak restaurant yang masih sesuai dengan lidah Indonesia. Namun, biaya hidup di Brunei menurut saya masih terlalu mahal untuk kantong orang Indonesia. Mata uang yang digunakan adalah Dollar Brunei namun lebih akrab dikenal dengan sebutan ringgit. Oh iya, selain dollar Brunei, dollar Singapura berlaku loh di sini dengan nilai ekuivalen 1:1. artinya jika traveller memiliki Dollar Singapura (SGD) maka tidak perlu ditukar ke Dollar Brunei (BND) karna dapat langsung digunakan. Tidak perlu khawatir akan ditolak karena kedua negara ini memiliki perjanjian tentang penggunaan mata uang dikedua negara.

Karena negara ini merupakan negara Islam, tentu saja daya tarik wisata masih mengarah kepada hal yang berbau Islami. Namun seperti yang saya sebutkan tadi kota BSB sangat sepi sehingga lebih cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota yang sepi dan tenang.  Ada beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi selama berada di BSB, diantaranya adalah masjid, museum, dan Istana tentu saja. Namun tentu saja traveller jangan lupa bahwa fungsi utama masjid adalah tempat ibadah umat islam jadi bagi traveler non-Muslim diharapkan menaati peraturan terutama masalah pakaian. Tetapi bagi pengunjung non-Muslim atau bagi pengunjung yang auratnya tidak tertutup oleh pakaian, panitia/ penjaga mesjid menyediakan jubah yang dapat dipinjam untuk menutup aurat. Ada beberapa bangunan masjid yang selalu menjadi bucket list para traveller. Sebut saja dua masjid dengan kubah emasnya yaitu Masjid jame’Asr Hassanal Bolkiah dengan 29 kubah emas yang terletak di distrik gadong dan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang terletak di kawasan bandar/ pusat kota dan berseberangan langsung dengan Kampong Ayer yang merupakan kampung air terbesar di dunia dan disebut juga sebagai Venice of the East. Ada juga Masjid Ash Shalihee, berarsitektur Maroko – Mesir yang terletak dekat dengan komplek pemerintah Brunei Darussalam. Masjid di Brunei dibangun oleh Sultan Brunei sehingga sangat memperhatikan detail arsitektur serta kemegahannya. Selain masjid, tidak ada salahnya traveller mengunjungi museum yang ada di Bandar Seri Begawan. Mengunjungi museum sama seperti mempelajari sejarah bangsa tersebut bukan??

Ada beberapa museum yang juga dapat traveller kunjungi diantaranya Royal Regalia Building yang berisi koleksi Kesultanan Brunei, ada juga Museum Brunei atau dapat mengunjungi Museum Teknologi Melayu. Selain itu traveller juga dapat mengunjungi Museum Kampong Ayer yang terletak di Kampong Ayer tepatnya di Brunei River. Untuk mengunjungi Kampong Ayer, traveller bisa menuju dermaga di kawasan bandar yang berada di depan komplek perbelanjaan yayasan. Dengan menggunakan boat yang super cepat traveller dapat menyebrang ke Kampong Ayer dengan waktu kurang lebih 1 menit 40 detik saja loh, dengan tarif $1 pulang pergi.  Dan traveller nggak usah pusing memikirkan berapa biaya masuk ke museum, karena semua dapat dikunjungi secara gratis!.

Satu hal yang masih menjadi kekurangan di Brunei yaitu transportasi umum. Transportasi umum di Brunei masih tertinggal dari beberapa negara maju lainnya sebut saja Malaysia dan Singapura. Frekuensi kedatangan bus termasuk lama sekitar 30 sampai 60 menit dengan tarif flat sebesar $1. Meskipun Brunei negara kaya, namun transportasi di negara ini masih belum mencerminkan kekayaannya. mungkin karena hampir seluruh penduduk memiliki kendaraan pribadi sehingga pemerintah tidak terlalu fokus pada transportasi umum. Kendaraan umum di kota BSB biasa hanya dipakai oleh pengunjung seperti saya, pekerja asal Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

Selain masjid dan musem, tujuan utama kedatangan saya kali ini adalah mengunjungi Istana Nurul Iman. Istana Nurul Iman merupakan tempat tinggal raja dan keluarga. Berdasarkan luasnya Istana Nurul Iman merupakan kawasan kerajaan terluas di dunia. Sudah menjadi tradisi, setiap tahun Sultan Bolkiah akan membuka istana untuk umum selama tiga hari dan warga Brunei ataupun pengunjung dapat bertatap muka dan bersalaman langsung dengan Sultan dan Pengeran (untuk laki – laki) serta bersalaman dengan permaisuri dan putri (untuk perempuan). Selain itu, Sultan menjamu seluruh tamu dengan makanan yang  beraneka ragam dan luar biasanya banyaknya. Selama tiga hari tersebut, biasanya kerajaan dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

Kesempatan untuk masuk ke Istana Nurul Iman hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri. Oleh karena itu jika traveller berkunjung ke Brunei dan ingin mengunjungi Istana Nurul Iman serta bertemu langsung dengan keluarga kerajaan Brunei, sebaiknya traveller mulai merencanakan, ya. Kapan lagi coba mengunjungi istana, bertemu Sultan dan dijamu dengan makanan kerajaan.  Hehe…

Oleh: Fajar Sardi Syahputra

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

read more
Sinema

Nyai Ahmad Dahlan: Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan

maxresdefault

ANDA mungkin pernah membaca ini: “Seorang suami yang membantu istrinya berbelanja derajat ketampanannya naik 180 derajat.” Atau kata-kata lain yang mirip dengan itu, yang hendak menegaskan bahwa hal-hal baik, mulia, atau luhur yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dapat menimbulkan kesan mendalam. “… derajat ketampanannya naik 180 derajat” hanyalah frasa guyonan yang dapat diganti dengan yang lebih serius atau puitis seperti “… sungguh tak akan terlupakan” atau “… adalah suami idaman semua istri”.

Mengapa kata-kata yang memuat guyonan, atau ungkapan kekaguman yang serius atau puitis itu bisa terlontar? Tanpa bermaksud seksis, sederhana saja alasannya: kebanyakan kaum pria lebih suka melihat-lihat, berkeliling, atau berjalan-jalan sendiri bila istrinya sedang berbelanja. Bagi (sebagian besar) istri, ditemani suami berbelanja jadi terasa istimewa.

Lalu, bagaimana dengan suami yang memutuskan menjadi sosok yang suka menemani istri berbelanja? Guyonan dan kekaguman itu tentu tak pernah terlontar. Saat hal-hal yang baik, luhur, atau mulia menjadi biasa, kebaikan malah bisa terasa hambar. Itulah kesan terkuat ketika menonton film Nyai Ahmad Dahlan.

Nyai Ahmad Dahlan (berikutnya disebut Nyai Dahlan, diperankan Tika Bravani) adalah sosok yang dekat dengan tiga kata itu: baik, luhur, dan mulia. Di bagian awal film, saat melihat beberapa teman wanitanya sembunyi-sembunyi menonton orang sedang mengaji, ia menyarankan agar teman-temannya diperbolehkan ikut. Teman-temannya yang sering bersamanya pun diajaknya rajin menabung saat mereka bertumbuh remaja.

Ketika sudah menikah dengan Kiai Dahlan (David Chalik), saat bertemu dengan petani perempuan yang sedang hamil, Nyai Dahlan pun memberi wejangan. Petani itu, yang mengenakan kalung dari bawang putih sebagai jimat untuk menolak bahaya, diberitahunya untuk bergantung kepada Tuhan. Kemudian, di dapur, waktu mengobrol dengan pembantunya, ia mengingatkan agar bila kelebihan makanan harus mau berbagi dengan orang yang kekurangan.

Begitulah kebaikan demi kebaikan lainnya pun terus bergulir di sepanjang film—dalam wejangan, dalam dakwah, juga dalam keseharian Nyai Dahlan.

Namun, saya terkesan dengan adegan ketika Kiai dan Nyai Dahlan berada di kamar. Di situ, Kiai Dahlan mengutarakan niatnya membangun Muhammadiyah. Terhadap niat itu Nyai Dahlan menyatakan siap mewakafkan hidupnya. Di situ sorot kamera bergerak tepat, wajah Nyai Dahlan ditampilkan terang; sementara wajah Kiai Dahlan redup, nyaris gelap—ya, ini film tentang Nyai Dahlan!

 

Judul               : Nyai Ahmad Dahlan

Sutradara         : Olla Atta Adonara

Produser          : Dyah Kalsitorini, Widyastuti, Siti Muthmainah

Penulis             : Dyah Kalsitorini

Pemeran          : Tika Bravani, David Chalik, Cok Simbara

Rilis                 : 24 Agustus 2017

 

Adegan lain yang menghibur adalah pelajaran bahasa Latin. Di papan, seorang guru menulis ‘ajam’ (ejaan lama) sambil menggambar ayam. Di antara para wanita yang belajar ada yang menyahut, huruf-huruf itu dibaca ‘pitik’ (bahasa Jawa untuk ayam) karena belum bisa membaca, hanya melihat gambar. Murid-murid lainnya pun tergelak. Setelah semua tertawa, sebuah lagu tentang hakikat belajar dalam bahasa Jawa terlantun merdu.

Selebihnya, tak banyak adegan memukau. Datar, dan malah menimbulkan kesan yang samar tentang Nyai Dahlan. Bila menyebut Ahmad Dahlan, orang akan langsung mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Saya yang tidak akrab dengan sosok Nyai Dahlan sebelumnya jadi merenung setelah menonton film ini: Jadi, siapa sebenarnya Nyai Dahlan yang mau ditunjukkan dalam film ini?

Kalau ia penting sebagai pendamping suami yang bervisi memajukan pendidikan bercorak Islam, mestinya beragam konflik yang mereka temui saat pendirian Muhammadiyah bisa dikisahkan lebih banyak. Atau kalau ia penting sebagai sosok pendiri Aisyiyah, yang berdiri pada 19 Mei 1917, mestinya perjuangan dan kiprahnya di organisasi yang mengangkat derajat perempuan itu diberi porsi lebih besar. Di biopik ini penonton disuguhi kisah dari kecil hingga dewasa yang rentang masanya sangat panjang. Porsi tiap masa nyaris sama, tanpa ada penekanan penting tentang suatu peristiwa yang (diharapkan dapat) identik dengan sosok Nyai Dahlan.

Padahal, peluang untuk memunculkan konflik atau dramatisasi di film ini sebenarnya cukup banyak. Bila dikembangkan lebih jauh, pertentangan Kiai Dahlan dengan orang-orang di Banyuwangi yang tidak mau menerima ajarannya, musuh misterius mirip ninja yang melempar surat kaleng, atau tentara-tentara Jepang yang menyerang pribumi bisa mempertebal latar atau suasana perjuangan di dalam film ini.

Kurangnya dramatisasi dalam skenario—atau mungkin malah peniadaan dramatisasi dalam beberapa peristiwa tertentu—membuatnya datar mirip film dokumenter, bukan film cerita. Padahal Tika Bravani berakting bagus, terutama saat menjadi Nyai Dahlan yang tua. Ia tampil lebih karismatis, berwibawa, dan gigih melanjutkan perjuangan suaminya. Biopik ini kehilangan daya pikat karena skenarionya tampak terlalu membawa beban berat menampilkan Nyai Dahlan sebagai sosok penting dan mulia, berjasa bagi agama dan bangsa, tapi di sisi lain kurang menonjolkan kiprahnya yang paling signifikan dalam perjuangan bangsa maupun Muhammadiyah. (*)

 

*) Sidik Nugroho adalah penulis lepas dan penyuka film. Cek tulisan-tulisannya di http://sidiknugroho.com

 

 

 

 

read more
Galeri

Facebook Kampanyekan Empati di Media Sosial

Foto 2

Hari ini, Facebook bergabung dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB Foundation), sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada pengembangan kaum remaja, untuk meluncurkan Program Literasi Digital. Program yang berlangsung selama 6 bulan ini bertujuan untuk membekali remaja dengan keterampilan berpikir kritis dan empati saat menggunakan media sosial. YCAB dan Facebook akan menyelenggarakan 100 acara di 100 sekolah menengah atas untuk pelajar di seluruh Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Konten dikembangkan oleh YCAB dan Facebook dengan fokus pada tips dasar keamanan internet dan kemampuan literasi digital yang relevan untuk anak muda Indonesia.

 

Facebook bertujuan untuk memberi orang Indonesia kekuatan dalam membangun komunitas

dan menjadikan dunia jauh lebih dekat. Komunitas Facebook di Indonesia hidup dan aktif

dengan 115 juta orang. Dan seiring dengan perkembangannya, Facebook ingin

memberdayakan penggunanya untuk terus membangun komunitas yang aman dan otentik.

Clair Deevy, Head of Economic Growth Initiatives, APAC, Facebook, mengatakan, “Komunitas

di Indonesia saat ini terus berkembang dan mereka menggunakan Facebook untuk terhubung

dengan teman, kelompok, bisnis dan momen-momen yang paling berarti bagi mereka. Kami

bangga dapat melanjutkan kerja sama kami dengan YCAB untuk mendukung anak muda agar

bisa terus membangun kemampuan Literasi Digital mereka dan memastikan mereka menjadi

bagian dari komunitas online yang aman dan saling menghargai. Pada tahun 2016, kami

melatih 1.400 pemuda secara offline dan tahun ini kami berharap bisa menjangkau 10.000

pemuda di 100 sekolah.”

M.Farhan, Sekretaris Jenderal dari YCAB Foundation, mengatakan, “Misi YCAB adalah untuk

membantu anak muda Indonesia agar menjadi mandiri. Program Literasi Digital merupakan

bagian penting dari pekerjaan kami untuk mendukung keamanan online anak muda dan

memastikan mereka mempunyai keterampilan yang tepat untuk berkontribusi dalam membuat

komunitas online yang positif. Program ini dirancang untuk membantu pelajar menganalisa

konten di media sosial dan menerapkan pemikiran kritis dan empati mereka sendiri untuk

memahami bagaimana informasi tersebut membentuk opini mereka. Kami ingin

memberdayakan pelajar untuk mempertimbangkan konten yang mereka bagikan ke media

sosial dan dampak dari apa yang dibagikan di media sosial.”

Sebanyak 100 workshop Literasi Digital di 100 sekolah menengah atas ini juga akan

ditindaklanjuti dengan sebuah kampanye online dan Campaign Day Out yang didukung oleh Do

Something Indonesia. Campaign Day Out akan mempertemukan kelompok terbaik dari sekolahsekolah

yang akan diberikan penghargaan pada Safer Internet Day pada tanggal 6 Februari

2018.

Demas Ryan, Senior Program Specialist Do Something Indonesia mengatakan, “Melalui

kesuksesan program Think Before You Share tahun lalu, Do Something Indonesia berharap

untuk melangkah lebih jauh dalam hal dampak dan perubahan perilaku. Hal inilah yang

mendasari Think Before You Share kembali dilaksanakan dalam periode waktu yang lebih lama

dan kampanye online yang menarik untuk mempromosikan hal positif di dunia digital. Kami

percaya bahwa sebuah tindakan kecil seperti memposting sesuatu yang positif secara online,

dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar dalam membangun ekosistem digital yang

sehat.”

Program tahun ini memperluas panduan awal “Think Before You Share”, yang diluncurkan pada

tahun 2016 dan diselenggarakan oleh Facebook, YCAB dan gerakan anti-bullying Sudah Dong

dalam rangka mendorong remaja agar “Berbagi Hal Baik”. Tur sepanjang bulan ini termasuk 7

kota yaitu Jakarta, Malang, Denpasar, Balikpapan, Palembang, Bandung, dan Surabaya,

melibatkan 3,5 juta orang, termasuk 1.400 pemuda di 101 komunitas lokal.

read more
1 2 3 4
Page 3 of 4