close

GAYA

Kata Saya

Menyusuri Sungai Sarawak

sunset-1902317_1920

Banyak tempat dan ragam wisata di Kota Kuching, Negeri Sarawak, Malaysia. Salah satu ragam wisata di kota itu adalah menyusuri Sungai Sarawak. Sungai ini membelah Kuching menjadi dua bagian, satu kawasan disebut sebagai kota lama di mana difungsikan sebagai tempat niaga dengan penduduk mayoritas keturunan China. Sedang di bagian seberang adalah pusat pemerintahan Sarawak dengan mayoritas penghuni adalah kaum bumi putera (etnis Melayu).

Sungai ini menjadi penghubung kedua kawasan. Bila orang seberang ingin belanja ke pusat niaga, mereka ada yang menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tarif naik sampan sebesar 1 RM (Ringgit Malaysia).

Meski sungai itu memiliki panjang 217 km namun paket wisata menyusuri sungai hanya sekitar Water Front. Water Front merupakan pusat wisata, niaga, bisnis, dan hotel di Kota Kuching. Untuk itu bila kita ingin menikmati wisata susur sungai, kita harus ke Water Front. Kapal yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar 4 meter ini ditambatkan di salah satu dermaga Water Front.

“Kalau membeli di awal harganya 54 RM,” ujar penjual tiket. Ia menawarkan potongan harga dengan tujuan agar wisatawan yang lalu lalang di Water Front segera ikut tour itu. Harga resminya adalah 60 RM untuk dewasa dan 30 RM untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Di tengah lalu lalang orang, satu persatu orang membeli tiket. Waktu menyusuri sungai pukul 17.30 waktu setempat. Dalam sehari paket wisata susur sungai hanya sekali. Tepat pukul 17.00, peserta wisata susur sungai diperkenankan masuk ke dalam kapal yang di badannya tertulis Sarawak River Cruise itu. Peserta wisata susur sungai rupanya terbilang banyak, terlihat orang berduyun-duyun bergegas naik ke kapal.

Berada di dalam kapal, kita akan melihat kemewahan, ada restoran dengan fasilitas bardan café. Meski di ruangan ini suasana lebih mewah namun sepertinya penumpang lebih memilih naik ke bagian atas. Di bagian ini suasananya terbuka sehingga pandangan lebih luas. Berada di bagian atas, pramusaji langsung menyambut penumpang dengan menyodorkan roti yang berada di atas piring kecil dan segelas es jeruk. Sepasang roti dan minuman itu adalah bagian dari pelayanan tour.

Menjelang pukul 17.30, terdengar bunyi terompet kapal yang keras dan panjang. Klakson dibunyikan sebagai tanda kapal hendak lepas tali. Tak lama kemudian, kapal bergerak pelan meninggalkan dermaga. Ketika kapal sudah menengah, terlihat kawasan Water Front, seperti Main Bazaar. Main Bazaar adalah pusat belanja souvenir dan oleh-oleh khas Kuching dan Sarawak. Tak lama kemudian kita akan melihat bangunan wisata seperti Fort Margherita, Mahkamah Lama, dan Galangan Kapal Brooke. Bangunan-bangunan itu merupakan bangunan tua dan berfungsi pada masa ketika Sarawak berada di bawah kekuasaan bangsa asing, seperti pada masa Charles Brooke di tahun 1800-an. Charles Brooke merupakan orang Inggris yang pernah menjadi sekutu Sultan Brunai yang masih menguasai Sarawak.

Tak lama kemudian, pengunjung akan melihat megahnya Masjid Kota Kuching. Masjid ini umurnya setua pemerintahan Kota Kuching, dibangun mulai tahun 1852 dan mengalami masa pengembangan dari waktu ke waktu. Bangunan yang sekarang kita lihat merupakan renovasi terakhir yang dilakukan pada tahun 1962. Di kanan kiri masjid merupakan pemakaman Muslim.

Selepas melintasi masjid yang bercat pink itu, kapal berputar haluan, balik arah. Di sisi sebelah sungai, peserta susur sungai akan melihat dua bangunan penting Negeri Sarawak, yakni Astana dan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak. Astana adalah tempat tinggal Yang di-Pertuan Negeri Sarawak, jabatan setingkat gubernur. Tempat ini bak istana presiden di Indonesia. Dalam kesempatan itu, saya ingin mengunjungi Astana, ehrupanya tempat itu dibuka pada saat-saat tertentu seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Tepat di samping Astana ada DUN. DUN kalau di Indonesia adalah DPRD.

Sebagai urat nadi masyarakat, di kanan-kiri sungai juga ada hunian penduduk. Saat susur sungai kita akan melihat Kampung Boyan. Kampung ini bisa jadi dulu adalah tempat hunian orang-orang Indonesia, di kampung itu ada lorong yang bernama Lorong Gersikan. Tak jauh dari Kampung Boyan, ada Kampung yang bernama Surabaya. Di Kampung Surabaya, ada lorong-lorong yang namanya para Wali Songo. Seperti Lorong Sunan Bonang.

Agar suasana susur sungai itu tidak menjenuhkan, pengelola memberikan hiburan tari di atas kapal. Di ujung perjalanan, peserta wisata disuguhi beragam tari tradisional, tari dari etnis dayak, melayu, dan etnis lain yang ada di Sarawak. Dengan suguhan tari tradisional itulah membuat wisata susur sungai menjadi lebih meriah dan menyenangkan. Pengelola tour pun memberi kesempatan kepada penumpang bila ingin foto bareng dengan para penari.

 

Ardi Winangun adalah seorang penulis traveller yang biasa menulis di Jawa Pos, Republika, dan Koran Tempo. Ia adalah founder komunitas Backpacker International. Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Buku

Menziarahi Malam, Menziarahi Kota

jakarta-1948146_1920

Dunia di malam hari memang begitu kompleks. Bagi penyair, “malam” bukan cuma segudang inspirasi, tetapi juga merupakan sebuah tema yang cukup jarang digarap. Rata-rata penyair lebih memilih tema cinta, kematian, sampai dengan kesedihan. Bisa jadi karena tema “malam” begitu luas, sehingga orang jarang memilih tema itu.

 

Judul buku                                                       : Kota, Kita, Malam
Penulis                                                               : Isbedy Stiawan ZS
Penerbit                                                             : Basabasi
Tahun                                                                 : Desember 2016
Halaman                                                            : 76 Halaman
ISBN                                                                   : 978-602-391-340-4

Isbedy cenderung berani memadukan tiga tema sekaligus di buku puisinya. Buku puisi berjudul Kota, Kita, Malam (2016). Ketiga tema itu dikuliti satu persatu kedalam kurang lebih 47 puisinya. Penyair justru memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membaca puisinya dari mana. Ketiga tema itu, sebenarnya bertalian yang mencerminkan seseorang yang sedang menelusuri malam.

Penyair, dalam hal ini memposisikan diri sebagai pejalan, peziarah. Ia tak hanya melihat malam dalam kasat mata melalui mata biasa, tapi memandang “malam” sebagai “mata puisi”. Melalui puisinya, malam digubah kedalam berbagai suasana, peristiwa sampai dengan emosi yang mengaduk jiwa. Ada dunia pelaut, ada suasana sunyi, dan sepi yang direkam dalam puisi-puisi Isbedy.

Di awal kita bisa melihat bagaimana kota dihadirkan dalam berbagai peristiwa dan suasana. Kita bisa menengok petilan puisi berikut : Aku duduk teduh disini/ gerimis memandu/ cakap;cinta ditunda/ lidahku kelu/ langit kelabu/ beri aku senyum/ hapus duka itu/ harapku (Aku Teduh di Sini). Ada suasana batin yang dihadirkan oleh penyair seperti kesedihan, kepiluan serta kesendirian. Penyair berhasil memadukan antara cerita atau peristiwa berteduh, dengan suasana hati yang mengikutinya.

Pada puisi lain masih dalam tema “kota”, ada puisi yang begitu lugas, serta tanpa basa-basi. Metafora serta personifikasi tak dibangun sama sekali. Membaca puisi ini barangkali kita akan merasa klise atau biasa mendengar peristiwa semacam ini.

Pembaca boleh saja tak sepakat dengan saya saat membaca puisi berikut : kita hanya menunggu/ sedang halte dan jalan/ terus menjauh/ tanpa bus berkunjung/ jalanlah yang bergerak/ sedang kita hanya menanti/ sampai bus datang/ lalu mengangkut ke entah/ kita hanya menunggu/ya, hingga kau datang/ sekadar berdendang (Hanya Menunggu). Membaca larik-larik puisi ini, kita tak menemukan sesuatu yang istimewa, diksi pun biasa saja, di puisi ini, kita melihat penyair hanya sekadar mengamati sekilas. Kata menunggu benar-benar fulgar diartikan menanti seseorang datang.

Ada puisi di buku ini yang mencerminkan kekuatan penyair dalam mengolah diksi dipadukan dengan tema “kota” : mungkin kita sudah lupa warna kota/ seperti tak pernah ingat bagaimana/ denyut malam/ begitu lupa bahkan pelangi diwajahku/ yang diamdiam menyusup pula di halaman itu (Menulis Peristiwa Sendiri). Ada lanskap yang meloncat-loncat, dari layar satu ke layar lainnya. Dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Dari kota hingga ke denyut, dari lupa ke pelangi, dari halaman hingga aktifitas menyusup. Pada puisi ini, nampak kelihaian penyair mengecoh pembaca dengan judul. Ada upaya menautkan diri, kedirian, dengan imaji yang berlompatan.

Pada bagian tengah buku puisi ini, kita akan menemukan bagaimana penyair menyerap lebih dalam eksplorasi diri, baik eksplorasi batin, maupun eksplorasi pengalaman tubuh, atau pengalaman penyair mengundang orang lain masuk dalam puisinya. Ada nuansa percakapan yang hendak dimunculkan saat penyair menuliskan syairnya. Penyair justru nampak mengajak pembaca bukan orang lain. Puisi berikut menggambarkan suasana kearah sana : masuk ke dalam diri/ menyelamlah sedalam-dalamnya/ maka kepalamu akan tunduk/ hati mengembara ke ruang / hanya putih seluruh dindingnya/ masuklah ke dalam diri/ lihat sedalam-dalamnya (Menyelam Sedalam-Dalam).

Di puisi lain, kita bisa melihat ada semacam petuah, nasihat, serta ajakan untuk mendalami diri lebih jauh, masuk ke ruang jiwa lebih dalam. Kita bisa membaca puisi berjudul Kau Tersenyum  : bacalah/ embun telah menetes/ dari kedua alis mataku/ serupa pelangi begitu warnawarni/ kau bernyanyi dan menari/ sebutlah bukit-bukit berbaris/di mataku, aku pun tak lelah/ mendaki, begitu indah / kau tersenyum dan inginku sampai. Meski sekilas puisi ini menampakkan kekaguman pada orang, namun puisi ini seperti mengisyaratkan bagaimana kita memasuki relung jiwa seseorang begitu dalam meski hanya lewat tatapan wajah, ekspresi senyumannya.

Bila di puisi-puisi sebelumnya penyair mencoba untuk membuat bait terakhit begitu biasa, maka di puisi berikut ada usaha penyair mencari kejutan di bait terakhir. Setelah hujan/ aku berangkat/ hanya sendiri/ begitu sepi/ sebuah taman/ masih basah/ sangat berair /mungkin untuk basuhku sebentar lagi/ satusatunya air/ yang kutemui/ di taman itu/ air matamu? (Setelah Hujan).

Ada usaha mengaitkan antara air hujan, kesedihan, sampai dengan air mata seseorang (baca :kesedihan seseorang). Pada bait penutup, kita menemukan satu kejutan, meski masih satu makna antara kesedihan dengan air mata. Ada satu ketukan yang berlainan dengan baris-baris syair sebelumnya.

Mari kita menuju pada penutup buku puisi ini. Penutup buku puisi ini mencoba untuk menziarahi malam. Malam dalam pandangan buku puisi ini bisa berbagai macam. Kita bisa menyimak bagaimana malam ditafsir dalam puisi ekspresif. Puisi-puisi di bagian belakang ini lebih merupakan bentuk ekspresi seseorang yang bisa kita baca secara terang dan gamblang. Ada kejujuran pada satu sisi, tapi juga kita melihat ada rasa mampat saat penyair mencoba mencari metafora, atau diksi yang indah di puisinya. Tapi aku akan terus mencari meski/ laut dan udara dilintasi: petang/ mendekati kelam/ kemana kau pergi dirundung sunyi (Milikku Sunyi).

Nampak betul penyair kurang begitu lihai menelusup ke relung lebih dalam menyusuri sunyi. Makna sunyi saya kira tak sekadar kematian dan kesepian. Disini, kita hanya menangkap ekspresi kehilangan semata. Sementara kata sunyi sendiri lebih identik dengan alam.

Selain kesunyian yang coba digambarkan penyair, ada tema yang mengajak kita merenung pada persoalan religiusitas. Kita bisa membaca penggalan puisi berikut : setiap malam/ mataku jadi siang/kekasih yang disayang/ tak pernah pulang/ bergemuruh kedalam/ jalanjalan cemerlang/ sekiranya malam /telah menjadikan/ mataku siang/ apakah aku masih / bisa memiliki/ matahari pagi? (Kupulangkan Malam).

Puisi-puisi Isbedi memang lebih terkesan vulgar. Akan tetapi, melalui buku puisi ini, kita diajak untuk menziarahi diri, menziarahi malam, menziarahi kota. Melalui perjalanan ke kota-kota barangkali Isbedy bisa lebih matang dalam memilih “diksi”maupun metafora. Kekuatan sajak ini ada di cara pengungkapan. Cara Isbedy mengungkap refleksi kota, tentu berbeda dengan cara Afrizal. Kota dalam pandangan Isbedy tentu saja tak ditemukan relasi modernitas, spirit pembangunan, dan sebagainya. Saya merasa yang diangkat Isbedy adalah suasana, spiritual serta manusia yang ada pada peristiwa ketimbang mengangkat tema kota yang lain.

 Meminjam kata-kata penyair, buku ini memang berkesan untuk memberi pesan agar kota serta manusianya menjadi lebih baik.

 

 

 

*) Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

read more
Kata Saya

Menikmati Lebaran di Bandar Seri Begawan – Brunei Darussalam

Foto Fajar 2

Sudah menjadi tradisi bagi Muslim di Indonesia untuk merayakan Idul fitri atau berlebaran dengan mudik ke kampung halaman. Namun, untuk Lebaran tahun ini, saya memutuskan mengunjungi negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam karena ingin merasakan bagaimana atmosfir Idul Fitri di negara Islam tersebut sekaligus mengunjungi Istana Nurul Iman yang hanya dibuka untuk umum hanya pada saat hari raya Idul Fitri.

Perjalanan saya ke Brunei Darussalam tepatnya kota Bandar Seri Begawan (BSB) berdurasi 4 hari, yaitu 24 sampai 27 Juni 2017 dengan menggunakan salah satu maskapai low cost carrier dari Kuala Lumpur. Saya mendarat di Brunei International Airport sekitar pukul 9 pagi dan kesan pertama yang saya rasakan dari negara ini adalah ketenangan dengan nuansa islami. Bandara ini tidak terlalu besar, namun bersih dan modern serta letaknya juga tidak jauh dari pusat kota yaitu sekitar 10 km atau 15 menit berkendara. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hal menarik lainnya adalah tidak terlihat adanya kemacetan disini sehingga perjalanan saya menuju pusat kota BSB lancar jaya. Jangankan macet, kondisi jalanan juga sangat sepi padahal berdasarkan informasi yang saya peroleh hampir setiap keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi. Sekilas, kondisi jalan utama di Brunei sangat mirip dengan singapura, lebar dengan  masing masing memiliki 3 lajur disetiap sisi jalan.

Brunei Darussalam merupakan negara kaya penghasil minyak dan gas bumi yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah. Memang Brunei terlihat tidak terlalu fokus pada pariwisata dan objek wisata juga tidak seperti beberapa negara asean lainnya. Oleh karena itu, jangan berharap menemukan mall mewah dengan berbagai outlet branded atau jenis hiburan lainnya karena gak akan bisa didapatkan disini. namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilihat jika kita datang ke negara ini bahkan menurut saya, Brunei khususnya Bandar Seri Begawan memiliki daya tarik sendiri. Untuk urusan makanan, terdapat banyak restaurant yang masih sesuai dengan lidah Indonesia. Namun, biaya hidup di Brunei menurut saya masih terlalu mahal untuk kantong orang Indonesia. Mata uang yang digunakan adalah Dollar Brunei namun lebih akrab dikenal dengan sebutan ringgit. Oh iya, selain dollar Brunei, dollar Singapura berlaku loh di sini dengan nilai ekuivalen 1:1. artinya jika traveller memiliki Dollar Singapura (SGD) maka tidak perlu ditukar ke Dollar Brunei (BND) karna dapat langsung digunakan. Tidak perlu khawatir akan ditolak karena kedua negara ini memiliki perjanjian tentang penggunaan mata uang dikedua negara.

Karena negara ini merupakan negara Islam, tentu saja daya tarik wisata masih mengarah kepada hal yang berbau Islami. Namun seperti yang saya sebutkan tadi kota BSB sangat sepi sehingga lebih cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota yang sepi dan tenang.  Ada beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi selama berada di BSB, diantaranya adalah masjid, museum, dan Istana tentu saja. Namun tentu saja traveller jangan lupa bahwa fungsi utama masjid adalah tempat ibadah umat islam jadi bagi traveler non-Muslim diharapkan menaati peraturan terutama masalah pakaian. Tetapi bagi pengunjung non-Muslim atau bagi pengunjung yang auratnya tidak tertutup oleh pakaian, panitia/ penjaga mesjid menyediakan jubah yang dapat dipinjam untuk menutup aurat. Ada beberapa bangunan masjid yang selalu menjadi bucket list para traveller. Sebut saja dua masjid dengan kubah emasnya yaitu Masjid jame’Asr Hassanal Bolkiah dengan 29 kubah emas yang terletak di distrik gadong dan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang terletak di kawasan bandar/ pusat kota dan berseberangan langsung dengan Kampong Ayer yang merupakan kampung air terbesar di dunia dan disebut juga sebagai Venice of the East. Ada juga Masjid Ash Shalihee, berarsitektur Maroko – Mesir yang terletak dekat dengan komplek pemerintah Brunei Darussalam. Masjid di Brunei dibangun oleh Sultan Brunei sehingga sangat memperhatikan detail arsitektur serta kemegahannya. Selain masjid, tidak ada salahnya traveller mengunjungi museum yang ada di Bandar Seri Begawan. Mengunjungi museum sama seperti mempelajari sejarah bangsa tersebut bukan??

Ada beberapa museum yang juga dapat traveller kunjungi diantaranya Royal Regalia Building yang berisi koleksi Kesultanan Brunei, ada juga Museum Brunei atau dapat mengunjungi Museum Teknologi Melayu. Selain itu traveller juga dapat mengunjungi Museum Kampong Ayer yang terletak di Kampong Ayer tepatnya di Brunei River. Untuk mengunjungi Kampong Ayer, traveller bisa menuju dermaga di kawasan bandar yang berada di depan komplek perbelanjaan yayasan. Dengan menggunakan boat yang super cepat traveller dapat menyebrang ke Kampong Ayer dengan waktu kurang lebih 1 menit 40 detik saja loh, dengan tarif $1 pulang pergi.  Dan traveller nggak usah pusing memikirkan berapa biaya masuk ke museum, karena semua dapat dikunjungi secara gratis!.

Satu hal yang masih menjadi kekurangan di Brunei yaitu transportasi umum. Transportasi umum di Brunei masih tertinggal dari beberapa negara maju lainnya sebut saja Malaysia dan Singapura. Frekuensi kedatangan bus termasuk lama sekitar 30 sampai 60 menit dengan tarif flat sebesar $1. Meskipun Brunei negara kaya, namun transportasi di negara ini masih belum mencerminkan kekayaannya. mungkin karena hampir seluruh penduduk memiliki kendaraan pribadi sehingga pemerintah tidak terlalu fokus pada transportasi umum. Kendaraan umum di kota BSB biasa hanya dipakai oleh pengunjung seperti saya, pekerja asal Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

Selain masjid dan musem, tujuan utama kedatangan saya kali ini adalah mengunjungi Istana Nurul Iman. Istana Nurul Iman merupakan tempat tinggal raja dan keluarga. Berdasarkan luasnya Istana Nurul Iman merupakan kawasan kerajaan terluas di dunia. Sudah menjadi tradisi, setiap tahun Sultan Bolkiah akan membuka istana untuk umum selama tiga hari dan warga Brunei ataupun pengunjung dapat bertatap muka dan bersalaman langsung dengan Sultan dan Pengeran (untuk laki – laki) serta bersalaman dengan permaisuri dan putri (untuk perempuan). Selain itu, Sultan menjamu seluruh tamu dengan makanan yang  beraneka ragam dan luar biasanya banyaknya. Selama tiga hari tersebut, biasanya kerajaan dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

Kesempatan untuk masuk ke Istana Nurul Iman hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri. Oleh karena itu jika traveller berkunjung ke Brunei dan ingin mengunjungi Istana Nurul Iman serta bertemu langsung dengan keluarga kerajaan Brunei, sebaiknya traveller mulai merencanakan, ya. Kapan lagi coba mengunjungi istana, bertemu Sultan dan dijamu dengan makanan kerajaan.  Hehe…

Oleh: Fajar Sardi Syahputra

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

read more
Sinema

Nyai Ahmad Dahlan: Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan

maxresdefault

ANDA mungkin pernah membaca ini: “Seorang suami yang membantu istrinya berbelanja derajat ketampanannya naik 180 derajat.” Atau kata-kata lain yang mirip dengan itu, yang hendak menegaskan bahwa hal-hal baik, mulia, atau luhur yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dapat menimbulkan kesan mendalam. “… derajat ketampanannya naik 180 derajat” hanyalah frasa guyonan yang dapat diganti dengan yang lebih serius atau puitis seperti “… sungguh tak akan terlupakan” atau “… adalah suami idaman semua istri”.

Mengapa kata-kata yang memuat guyonan, atau ungkapan kekaguman yang serius atau puitis itu bisa terlontar? Tanpa bermaksud seksis, sederhana saja alasannya: kebanyakan kaum pria lebih suka melihat-lihat, berkeliling, atau berjalan-jalan sendiri bila istrinya sedang berbelanja. Bagi (sebagian besar) istri, ditemani suami berbelanja jadi terasa istimewa.

Lalu, bagaimana dengan suami yang memutuskan menjadi sosok yang suka menemani istri berbelanja? Guyonan dan kekaguman itu tentu tak pernah terlontar. Saat hal-hal yang baik, luhur, atau mulia menjadi biasa, kebaikan malah bisa terasa hambar. Itulah kesan terkuat ketika menonton film Nyai Ahmad Dahlan.

Nyai Ahmad Dahlan (berikutnya disebut Nyai Dahlan, diperankan Tika Bravani) adalah sosok yang dekat dengan tiga kata itu: baik, luhur, dan mulia. Di bagian awal film, saat melihat beberapa teman wanitanya sembunyi-sembunyi menonton orang sedang mengaji, ia menyarankan agar teman-temannya diperbolehkan ikut. Teman-temannya yang sering bersamanya pun diajaknya rajin menabung saat mereka bertumbuh remaja.

Ketika sudah menikah dengan Kiai Dahlan (David Chalik), saat bertemu dengan petani perempuan yang sedang hamil, Nyai Dahlan pun memberi wejangan. Petani itu, yang mengenakan kalung dari bawang putih sebagai jimat untuk menolak bahaya, diberitahunya untuk bergantung kepada Tuhan. Kemudian, di dapur, waktu mengobrol dengan pembantunya, ia mengingatkan agar bila kelebihan makanan harus mau berbagi dengan orang yang kekurangan.

Begitulah kebaikan demi kebaikan lainnya pun terus bergulir di sepanjang film—dalam wejangan, dalam dakwah, juga dalam keseharian Nyai Dahlan.

Namun, saya terkesan dengan adegan ketika Kiai dan Nyai Dahlan berada di kamar. Di situ, Kiai Dahlan mengutarakan niatnya membangun Muhammadiyah. Terhadap niat itu Nyai Dahlan menyatakan siap mewakafkan hidupnya. Di situ sorot kamera bergerak tepat, wajah Nyai Dahlan ditampilkan terang; sementara wajah Kiai Dahlan redup, nyaris gelap—ya, ini film tentang Nyai Dahlan!

 

Judul               : Nyai Ahmad Dahlan

Sutradara         : Olla Atta Adonara

Produser          : Dyah Kalsitorini, Widyastuti, Siti Muthmainah

Penulis             : Dyah Kalsitorini

Pemeran          : Tika Bravani, David Chalik, Cok Simbara

Rilis                 : 24 Agustus 2017

 

Adegan lain yang menghibur adalah pelajaran bahasa Latin. Di papan, seorang guru menulis ‘ajam’ (ejaan lama) sambil menggambar ayam. Di antara para wanita yang belajar ada yang menyahut, huruf-huruf itu dibaca ‘pitik’ (bahasa Jawa untuk ayam) karena belum bisa membaca, hanya melihat gambar. Murid-murid lainnya pun tergelak. Setelah semua tertawa, sebuah lagu tentang hakikat belajar dalam bahasa Jawa terlantun merdu.

Selebihnya, tak banyak adegan memukau. Datar, dan malah menimbulkan kesan yang samar tentang Nyai Dahlan. Bila menyebut Ahmad Dahlan, orang akan langsung mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Saya yang tidak akrab dengan sosok Nyai Dahlan sebelumnya jadi merenung setelah menonton film ini: Jadi, siapa sebenarnya Nyai Dahlan yang mau ditunjukkan dalam film ini?

Kalau ia penting sebagai pendamping suami yang bervisi memajukan pendidikan bercorak Islam, mestinya beragam konflik yang mereka temui saat pendirian Muhammadiyah bisa dikisahkan lebih banyak. Atau kalau ia penting sebagai sosok pendiri Aisyiyah, yang berdiri pada 19 Mei 1917, mestinya perjuangan dan kiprahnya di organisasi yang mengangkat derajat perempuan itu diberi porsi lebih besar. Di biopik ini penonton disuguhi kisah dari kecil hingga dewasa yang rentang masanya sangat panjang. Porsi tiap masa nyaris sama, tanpa ada penekanan penting tentang suatu peristiwa yang (diharapkan dapat) identik dengan sosok Nyai Dahlan.

Padahal, peluang untuk memunculkan konflik atau dramatisasi di film ini sebenarnya cukup banyak. Bila dikembangkan lebih jauh, pertentangan Kiai Dahlan dengan orang-orang di Banyuwangi yang tidak mau menerima ajarannya, musuh misterius mirip ninja yang melempar surat kaleng, atau tentara-tentara Jepang yang menyerang pribumi bisa mempertebal latar atau suasana perjuangan di dalam film ini.

Kurangnya dramatisasi dalam skenario—atau mungkin malah peniadaan dramatisasi dalam beberapa peristiwa tertentu—membuatnya datar mirip film dokumenter, bukan film cerita. Padahal Tika Bravani berakting bagus, terutama saat menjadi Nyai Dahlan yang tua. Ia tampil lebih karismatis, berwibawa, dan gigih melanjutkan perjuangan suaminya. Biopik ini kehilangan daya pikat karena skenarionya tampak terlalu membawa beban berat menampilkan Nyai Dahlan sebagai sosok penting dan mulia, berjasa bagi agama dan bangsa, tapi di sisi lain kurang menonjolkan kiprahnya yang paling signifikan dalam perjuangan bangsa maupun Muhammadiyah. (*)

 

*) Sidik Nugroho adalah penulis lepas dan penyuka film. Cek tulisan-tulisannya di http://sidiknugroho.com

 

 

 

 

read more
Galeri

Facebook Kampanyekan Empati di Media Sosial

Foto 2

Hari ini, Facebook bergabung dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB Foundation), sebuah lembaga non-profit yang berfokus pada pengembangan kaum remaja, untuk meluncurkan Program Literasi Digital. Program yang berlangsung selama 6 bulan ini bertujuan untuk membekali remaja dengan keterampilan berpikir kritis dan empati saat menggunakan media sosial. YCAB dan Facebook akan menyelenggarakan 100 acara di 100 sekolah menengah atas untuk pelajar di seluruh Jakarta dan kota-kota sekitarnya. Konten dikembangkan oleh YCAB dan Facebook dengan fokus pada tips dasar keamanan internet dan kemampuan literasi digital yang relevan untuk anak muda Indonesia.

 

Facebook bertujuan untuk memberi orang Indonesia kekuatan dalam membangun komunitas

dan menjadikan dunia jauh lebih dekat. Komunitas Facebook di Indonesia hidup dan aktif

dengan 115 juta orang. Dan seiring dengan perkembangannya, Facebook ingin

memberdayakan penggunanya untuk terus membangun komunitas yang aman dan otentik.

Clair Deevy, Head of Economic Growth Initiatives, APAC, Facebook, mengatakan, “Komunitas

di Indonesia saat ini terus berkembang dan mereka menggunakan Facebook untuk terhubung

dengan teman, kelompok, bisnis dan momen-momen yang paling berarti bagi mereka. Kami

bangga dapat melanjutkan kerja sama kami dengan YCAB untuk mendukung anak muda agar

bisa terus membangun kemampuan Literasi Digital mereka dan memastikan mereka menjadi

bagian dari komunitas online yang aman dan saling menghargai. Pada tahun 2016, kami

melatih 1.400 pemuda secara offline dan tahun ini kami berharap bisa menjangkau 10.000

pemuda di 100 sekolah.”

M.Farhan, Sekretaris Jenderal dari YCAB Foundation, mengatakan, “Misi YCAB adalah untuk

membantu anak muda Indonesia agar menjadi mandiri. Program Literasi Digital merupakan

bagian penting dari pekerjaan kami untuk mendukung keamanan online anak muda dan

memastikan mereka mempunyai keterampilan yang tepat untuk berkontribusi dalam membuat

komunitas online yang positif. Program ini dirancang untuk membantu pelajar menganalisa

konten di media sosial dan menerapkan pemikiran kritis dan empati mereka sendiri untuk

memahami bagaimana informasi tersebut membentuk opini mereka. Kami ingin

memberdayakan pelajar untuk mempertimbangkan konten yang mereka bagikan ke media

sosial dan dampak dari apa yang dibagikan di media sosial.”

Sebanyak 100 workshop Literasi Digital di 100 sekolah menengah atas ini juga akan

ditindaklanjuti dengan sebuah kampanye online dan Campaign Day Out yang didukung oleh Do

Something Indonesia. Campaign Day Out akan mempertemukan kelompok terbaik dari sekolahsekolah

yang akan diberikan penghargaan pada Safer Internet Day pada tanggal 6 Februari

2018.

Demas Ryan, Senior Program Specialist Do Something Indonesia mengatakan, “Melalui

kesuksesan program Think Before You Share tahun lalu, Do Something Indonesia berharap

untuk melangkah lebih jauh dalam hal dampak dan perubahan perilaku. Hal inilah yang

mendasari Think Before You Share kembali dilaksanakan dalam periode waktu yang lebih lama

dan kampanye online yang menarik untuk mempromosikan hal positif di dunia digital. Kami

percaya bahwa sebuah tindakan kecil seperti memposting sesuatu yang positif secara online,

dapat menghasilkan sesuatu yang lebih besar dalam membangun ekosistem digital yang

sehat.”

Program tahun ini memperluas panduan awal “Think Before You Share”, yang diluncurkan pada

tahun 2016 dan diselenggarakan oleh Facebook, YCAB dan gerakan anti-bullying Sudah Dong

dalam rangka mendorong remaja agar “Berbagi Hal Baik”. Tur sepanjang bulan ini termasuk 7

kota yaitu Jakarta, Malang, Denpasar, Balikpapan, Palembang, Bandung, dan Surabaya,

melibatkan 3,5 juta orang, termasuk 1.400 pemuda di 101 komunitas lokal.

read more
Kata Saya

Agustus: Bukan Bulan Lomba Saja!

pedestrian-752076_1920

Perkenalkan, namanya Djalil, seorang anak muda gaul di tengah beberapa gang perumahannya. Saking gaulnya, setiap kali dia lewat pasti ada saja orang yang menegurnya.

Memasuki bulan Agustus, Si Djalil sudah sangat sibuk bersiap ikut lomba 17 Agustus. Menurut dia, ini kesempatan yang berharga. Saking berharganya, dia mempersiapkan strategi untuk menang dengan cara yang boleh dibilang sedikit curang.

Itulah gambaran yang mungkin lumayan banyak kita temui. Sangat disayangkan, karena banyak hal positif yang bisa kita ambil dari sebuah lomba. Dan seharusnya kita memaknainya sebagai bentuk rasa nasionalisme yang hidup!

Oleh: Reylando 

 

*Pentigraf alias Cerpen Tiga Paragraf ini merupakan salah satu hasil karya peserta dalam workshop yang diadakan Majalah Litera di Mall of Indonesia 25 Agustus 2017 lalu. Nantikan karya-karya selanjutnya yang akan diposting berkala!

 

read more
Kata Saya

Terpukau Kejayaan Bagan di Masa Lalu

umbrella-1807513_1920

Jalan sempit menuju Pagoda Shwezigon berdebu bukan main. Masih berpermukaan tanah dan batu, Saya dan Diyan mengayuh sepeda sewaan dari hotel melewati jalanini. Saingan kami adalahpara pejalan kaki, pengendara motor, hingga truk barang. Banyak dari mereka yang mengenakan sarung panjang, baik lelaki maupun perempuan, dan dengan lincahnya mengayuh sepeda lebih cepat daripada saya yang bercelana panjang.

 

Pagoda yang kami tuju ramai dikunjungi wisatawan, pedagang, dan para penganut agama Budha. Ternyata saat itu sedang berlangsung Festival Shwezigon, yang selalu jatuh di bulan Oktober atau November. Kegiatan para pengunjung berpusat pada bangunan pagoda berwarna emas setinggi 48 meter, yang dikelilingi koridor di empat penjuru. Di salah satu sisi pagoda, para biksu berbaris rapi, mengantre untuk pembagian makanan dan uang. Sementara di semua sisi tersebar para wisatawan yang sibuk memotret pagoda dan para biksu. Di salah satu koridor, berderet meja yang menjajakan dagangan berupa suvenir, kudapan, pakaian, dan sarung.

“Aha! Ini dia sarungnya!” saya berseru ketika melihat tumpukan sarung, yang ternyata disebut ‘longyi’,beraneka warna. Sesungguhnya, sejak melihat banyak warga Myanmar yang memakai sarung sejak saya turun dari pesawat di Yangon International Airport, ingin sekali saya mencoba memakainya, karena mereka terlihat anggun dan unik. Langsung saya memilih-milih dan akhirnya membeli dua potong sarung, dan Diyan satu potong. Dengan bantuan si gadis penjual, longyi baru berwarna hijau dengan garis-garis emas terlilit di pinggang saya dan langsung saya pakai untuk berkeliling pagoda.

Memakai longyi, yang rasanya mirip memakai rok span panjang, ternyata agak repot. Mungkin karena saya tidak terbiasa memakai rok panjang. Untuk duduk di pinggiran koridor yang rendah, saya harus berhati-hati agar kainnya tidak robek.Ketika sudah berhasil duduk dengan nyaman, saya memerhatikan orang lalu-lalang. Mata saya kemudian menangkap beberapa orang biksu yang sedang duduk dan merokok di bawah pohon rindang, agak jauh dari keramaian. ‘Oh, ternyata biksu juga ada yang merokok, seperti orang biasa,’ batin saya.

Menjelang sore, kami melanjutkan jalan-jalan ke pasar, dekat dari Shwezigon. Masih memakai longyi, saya berusaha naik sepeda. Gagal. Daripada terserimpet longyi sendiri, saya copot kain itu dan simpan di tas.

Lorong-lorong pasar terasa familier. Kios-kios kayu menjajakan sayur-mayur, buah-buahan, bumbu masak, peralatan dapur dari plastik, hingga pakaian dengan berbagai motif dan warna mencolok. Bedanya, berkali-kali kami disapa dalam bahasa Myanmar, mungkin karena tipe wajah melayu kamiyang mirip mereka. Satu hal lagi yang terasa asing, yaitu ketika saya melihat dua orang biksu dengan jubah kuning khasnya. Tentu tak ada larangan biksu ke pasar. Namun, salah satu dari mereka mencolek lengan seorang pembeli di pasar, kemudian menengadahkan telapak tangan seperti meminta sesuatu. Saya hampir tak percaya, tapi itulah yang saya lihat. Saya tak mengerti, apakah memang hidup biksu di sana sangat sulit sehingga harus meminta-minta.

Hari berikutnya saya mengajak Diyan untuk memakai longyi seharian penuh. Tentunya kami tak akan bersepeda, melainkan menyewa delman. Delman di sana agak berbeda dengan di Indonesia. Tempat duduk bagian belakang tidak ada bangku, hanya ada matras. Pilihan saya, yang masih beradaptasi dengan longyi, hanya duduk dengan kaki diluruskan, atau duduk menghadap belakang dengan kaki bergantung ke luar. Posisi paling nyaman adalah duduk di samping Pak Kusir, apalagi dengan pemandangan yang lebih terlihat jelas dan luas di depan. Maka, atas nama keadilan, saya dan Diyan duduk bergantian di depan pada hari itu.

Tur delman dimulai dengan menyaksikan matahari terbit dari atas pagoda Bulethi. Menaiki tangga pagoda yang curam sungguh menantang kemahiran kami mengatur langkah dalam lilitan longyi. Namun ketika sampai di atas, jerih payah kami terbayar kontan dengan pemandangan romantis pagi itu. Seiring naiknya matahari dari ufuk timur, terlihat hamparan tanah luas dengan pagoda dan kuil yang tersebar. Inilah alasan Bagan dijuluki sebagai ‘the city of temples’. Berbagai sumber menyatakan bahwa dulu terdapat lebih dari 10.000 bangunan peribadatan, terdiri dari pagoda, biara, dan kuil, dan mencapai kejayaannya pada zaman Kerajaan Pagan. Waktu itu, Bagan bahkan menjadi tempat para biksu dan pelajar dari negeri-negeri tetangga untuk menuntut ilmu.

Kejayaan masa itu menjadi sulit dibayangkan, melihat kenyataan kini hanya tersisa sekitar 2.000 pagoda, dan kehidupan masyarakat yang tidak terlalu makmur. Salah satu penyebabnya adalah gempa bumi besar pada tahun 1975. Namun, 2.000 pagoda tetaplah banyak. Jika di Jakarta hampir setiap 100 meter saya melihat mini market, di Bagan tak sampai tiap 50 meter rasanya saya melihat pagoda atau kuil, baik di tepi jalan raya ataupun membelusuk di antara semak belukar.

 

Pagi itu balon udara beterbangan di atas lahan seluas sekitar 100 kilometer persegi, membawa para wisatawan yang beruntung menyaksikan sebaran pagoda dan kuil dari atas, dilatari langit yang bersemu merah dan jingga. Di antara ribuan pagoda dan kuil yang tersisa, terdapat beberapa yang paling menarik bagi wisatawan karena paling besar, mewah, dan sarat sejarah, selain Shwezigon yang tadi saya ceritakan. Kuil Ananda merupakan kuil tercantik yang saya kunjungi. Ia dianggap sebagai pencapaian tertinggi seni arsitektur kerajaan Pagan karena berbagai teknik yang digunakan dalam membangunnya. Teknik-teknik itu meliputi ukiran batu dan kayu, pencetakan besi, serta lapisan batu bata.

Sedangkan kuil Dhammayangyi, bentuknya menyerupai piramida dan dibangun atas perintah Raja Narathu yang kejam dan perfeksionis. Sedikit saja celah tersisa di sela-sela batu bata, pekerja bangunan bisa dihukum mati. Kuil ini menjadi favorit saya bukan karena kekejaman rajanya, tapi karena bentuknya yang berbeda dari yang lain, paling sederhana tapi tetap terkesan megah.

Banyak lagi kuil dan pagoda yang kami kunjungi selama lima hari di Bagan. Di sela-sela kunjungan itu tentunya kami mencoba makanan di restoran dan warung yang berbeda-beda, dari makanan lokal hingga internasional. Hal yang paling berkesan bagi saya justru bukan makanannya, tapi suatu kejadian di sebuah restoran. Selesai makan, saya hendak mencuci tangan di wastafel. Tak disangka-sangka, seorang pegawai restoran menuangkan air dari teko untuk saya cuci tangan. Wah, belum pernah saya alami ini sebelumnya. Rasanya bak putri raja, air cuci tangan dituangkan.

 

Lima hari di Bagan tidaklah cukup. Masih banyak kuil dan pagoda yang belum sempat kami kunjungi, dan aspek kehidupan masyarakatnya yang belum sempat kami perhatikan. Namun begitu, kami sudah cukup terpukau akan peninggalan-peninggalan kejayaan Bagan yang kami saksikan langsung. Jika ada punya mesin waktu, sudah pasti Bagan di masa itu menjadi destinasi perjalanan kami selanjutnya.

 

oleh: Saphira Zoelfikar

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Galeri

Rayakan Keberagaman Kuliner Nusantara!

DSC04509

Lengkapi petualangan kuliner Anda di tempat ini, dimana lidah akan dimanjakan dengan olahan terbaik dari tangan dingin para koki!

 

Indonesia merupakan negara dengan beragam kebudayaan dan adat istiadat. Namun, ada satu yang menjadikan Indonesia lebih dikenal di kalangan dunia, yaitu rempah-rempah yang memperkaya cita rasa makanan Indonesia, dimana setiap daerah mampu menciptakan ciri khas makanan masing-masing dengan menggunakan berbagai jenis rempah. Swiss-Belhotel Airport, Jakarta menghadirkan promosi menu baru dengan tema resep khas daerah di Restoran Swiss-Café™ yang mulai diperkenalkan pada tanggal 25 Agustus 2017.

Rangkaian menu andalan Chef Andi Nuraji, Executive Chef Swiss-Belhotel Airport, Jakarta yang ditawarkan merupakan paduan rempah pilihan dan diolah menggunakan teknik memasak berstandard Internasional, diantaranya: Iga Bakar Sambal Rica yang terdiri dari potongan Iga Sapi yang dipanggang dengan tingkat kematangan yang pas, sehingga menghasilkan cita rasa yang gurih namun tetap lembut, disajikan bersama sambal rica. Selain itu, ada pula Bebek Bakar Sambal Matah merupakan olahan bebek bakar dengan bumbu rempah disajikan bersama sambal matah khas Bali sehingga menciptakan kombinasi rasa pedas dan segar. Selain kedua masakan tersebut, Chef Andi Nuraji juga menyajikan beberapa kreasi lainnya seperti, Nasi Timbel Parahyangan, Lontong Kuah Kari Ayam, dan Nasi Krawu Gresik ke dalam menu rekomendasi.

Rangkaian menu masakan tersebut akan tersedia dan dapat dinikmati di Restoran Swiss-Café™ mulai tanggal 1 September mendatang. “Swiss-Belhotel Airport, Jakarta secara berkesinambungan akan terus berkreasi dan menghadirkan menu-menu khas Nusantara dalam upaya kami untuk berpartisipasi dalam mengangkat cita rasa khas nusantara dalam hidangan berstandar international. Kami berharap dengan hadirnya menu-menu baru di Restoran Swiss-Café™ ini, kami dapat lebih memperkenalkan makanan khas Indonesia kepada para pelaku bisnis dan wisatawan mancanegara yang datang ke Jakarta,” ujar Deddy Sasmita selaku General Manager SwissBelhotel Airport & Zest Hotel Airport, Jakarta.

read more
Serba-Serbi

‘Green Opening’ POP! Hotel di Bandung!

DSC01718

Setelah menjalani renovasi yang memakan waktu sekitar 6 (enam) bulan, POP! Hotel Festival Citylink telah siap untuk beroperasi kembali dengan konsep yang lebih segar dan lebih inovatif.  Terhitung sejak tanggal 19 Juni 2017 yang lalu POP! Hotel Festival Citylink Bandung resmi menerima tamu dengan membuka sebagian besar kamar dari total kamar yang dimiliki.

 

Kamis, 3 Agustus 2017, POP! Hotel Festival Citylink Bandung mengadakan acara “Green Opening” untuk menandakan bahwa hotel telah  beroperasi 100% dan turut serta meramaikan perhotelan kota Bandung.  Memiliki 175 Kamar dengan interior desain yang baru, lebih fresh dan modern yang diberi nama POP! Room. POP! Room sendiri  terdiri dari dua jenis kamar, yaitu POP! Room single dan POP! Room twin.

Hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas khas POP! Hotels yaitu  PIT STOP Cafe yang beroperasi 24 jam dan menyajikan aneka makanan serta minuman cepat saji, Ruang Rapat yang menjadi satu dengan HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink Bandung dan Internet Corner di area lobby hotel.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh POP! Hotel Festival Citylink ini adalah terintregasi dengan Mall Festival Citylink serta HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink.  Fasilitas yang dimiliki oleh HARRIS  Hotel and Convention Festival Citylink dapat digunakan juga oleh tamu-tamu POP! Hotel Festival Citylink, seperti misalnya kolam renang, fasilitas kebugaran dan Dino Kid’s Club.

Renovasi yang dijalani oleh hotel ini telah mengubah image POP! Hotel yang pada awalnya kental dengan nuansa orange dan hijau berubah ke nuansa warna biru.  POP! Hotel Festival Citylink yang baru ini merupakan wujud dari POP! Hotel generasi baru yang dikelola oleh  Manajemen Hotel TAUZIA.

Pada acara “Green Opening” yang diadakan pada hari ini, Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung juga mengumumkan kerjasama dengan organisasi HUTAN ITU INDONESIA (HII) yang sesuai dengan konsep ‘Eco Friendly Hotel’ yang diusung oleh POP! Hotel secara keseluruhan di seluruh Indonesia.

Kerjasama yang dijalin oleh pihak Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung dengan Hutan Itu Indonesia adalah dalam bentuk mengadopsi 10 (sepuluh) pohon yang ada di Hutan Adat Rantau Kermas, Jambi.  Tujuan daripada mengadopsi pohon ini adalah sebagai bentuk kepedulian dari pihak Management atas pentingnya keberadaan pohon sebagai penyuplai oksigen, menyerap karbon dioksida, sebagai tempat bernaung nya aneka satwa dan juga sebagai penyuplai cadangan air.

Operation Manager POP! Hotel Festival Citylink Bandung, Johnny Darmawan berharap bahwa dengan dijalinnya kerjasama antara pihak management dan Hutan Itu Indonesia, POP! Hotel Festival Citylink Bandung dapat membawa warna baru bagi hotel budget di Bandung.  POP! Hotel Festival Citylink Bandung diharapkan dapat memberikan alternatif pilihan akomodasi yang segar bagi para traveler yang ingin mengeksplor kota Bandung.

read more
Kata Saya

Keramahan Masjid di Singapura

singapore-2463786_1920

Udara dingin menyergap saya di Terminal Cicaheum. Saya buru-buru melekatkan jaket pada badan. Jalanan pun masih berembun. Namun, terminal ini sudah ramai dengan aktivitas para supir dan para pedagang. Saya bersama teman saya menyusuri jalanan dan mencari masjid. Terdengar selawat nabi menguar melalui corong-corong masjid. Tapi kami tak kunjung menemukan asal suara.

 

“Bu, masjid terdekat di sebelah mana ya?” tanya Arif pada penjual kue pukis.

Kami berjalan sesuai dengan petunjuk penjual kue pukis. Berselang berapa menit, kami sudah sampai di masjid. Gelap dan ditutup rapat. Kami duduk di teras masjid. Sekedar berselonjor untuk melepas rasa pegal setelah perjalanan panjang dari Yogyakarta.

Tak lama kemudian, datang seorang bapak separuh baya. Membuka kunci pintu masjid. Wajah kami cerah. Kami masuk, menyimpan tas, lalu membersihkan muka, berwudu dan salat. Kami telah memutuskan untuk menunggu langit terang di masjid ini. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan untuk menghadiri sebuah pelatihan tentang peace education (2013).

Teh, sudah doanya?” tanya bapak-bapak separuh baya itu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya sudahi doa saya. Bapak itu menyuruh saya segera keluar. Saya bergegas melipat mukena. Saya hanya menyimpaikan kerudung ala kadarnya. Masjid dikunci kembali. Lampu dimatikan semua. Hanya ada terang bulan dan cahaya lampu dari rumah-rumah sekeliling masjid. Dua teman saya sudah duduk di teras. Kami diam tak saling bicara. Lalu bergegas keluar gang mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Saya tahu ada yang sedang bergejolak di dalam pikiran kami masing-masing. Saya terus berjalan sembari meyakinkan diri ada banyak masjid inklusif di kota ini.

***

Langit biru di Singapura. Jalanan pun lengang. Saya dan rombongan berjalan dengan gairah penuh. Ini hari pertama kami tiba di Singapura. Kami ada di sini dalam rangka memperingati World Interfaith Harmony Week yang selalu diperingati pada tanggal 1-7 Februari setiap tahun di seluruh belahan dunia.

 

Tujuan pertama kami adalah Masjid Abdul Ghafoor. Beberapa teman belum menunaikan kewajibannya. Sembari menunggu, saya dan teman-teman berkeliling di masjid bercat hijau berpadu dengan warna emas dan putih. Masjid ini terletak di Dunlop Street di area Rochor, dekat penginapan kami. Tepat di depan masjid di samping pintu gerbang, ada sebuah ruangan untuk pengunjung. Di dalamnya terdapat informasi-informasi tentang Islam dalam bentuk pamflet dan buku. Salah satu buku berjudul Apa yang Harus Diketahui oleh Kristiani tentang Islam menjadi buku menarik bagi teman Kristiani saya. Di sini juga terdapat Alquran dalam berbagai bahasa. Pakaian-pakaian Muslim dan Muslimah dipajang dan dapat dipinjam untuk berfoto. Melengkapi itu semua, di pojok ruangan ada kulkas berisi minuman botol. Di atasnya tertulis ‘Gratis untuk Pengunjung Non-Muslim.’ Teman-teman Kristiani senang bukan main.

Lha terus buat kita yang Muslim gimana?” Teman saya nyeletuk. Barangkali dia sedang kehausan.

“Minta aja sama teman Kristiani. Suruh mereka ambil dua botol per orang,” teman saya yang lain menimpali. Ide ‘brilian’ muncul. Hahaha. Lalu, saya pun mengikuti ide brilian itu, mengingat perjalanan kami masih panjang dan pasti akan membutuhkan asupan air yang banyak. Alasan lainnya, tentu saja untuk menghemat pengeluaran. Keluar dari masjid cantik tersebut, tas teman-teman Kristiani bertambah berat. Di dalamnya terdapat buku-buku dan Alquran.

Tak lengkap rasanya ke Singapura tanpa berbelanja ke ChinaTown. Di sepanjang jalan,  aksesoris perayaan Tahun Baru Cina menghiasi kota ini. Tahun ini dinobatkan sebagai tahun Ayam. Nuansa merah dan kuning memanjakan mata kami, menambah keceriaan berbelanja di sini. Perjalanan saat itu, melangkahkan kaki kami ke Masjid Jami (Chulia).

Wishing All Chinese Friends a Happy Lunar New Year

Tulisan di atas menyambut kedatangan kami di Masjid Jami (Chulia). Bagi saya, ini momen apik. Harus diabadikan. Buru-buru saya dan teman saya mengambil foto di sini. Ada kehangatan yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam batin saya. Lagi, saya menemukan masjid yang ramah pada etnis lain. Masuk ke dalamnya, tentu saja di dinding-dinding penuh dengan penjelasan-penjelasan tentang Islam. Apa itu Islam. Siapa itu Nabi Muhammad?

 

Perjalanan kami selanjutnya mengunjungi Harmony Center. Bertempat di Masjid An-Nahdah. Terletak di Bishan Street 14. Masjid ini menyimpan keunikan tersendiri. Jika di dua masjid sebelumnya ada penjelasan-penjelasan tentang Islam, maka di sini ada penjelasan-penjelasan agama lain yang eksis di Singapura. Tercatat ada 10 agama: Bahai, Sikh, Tao, Yahudi, Jain, Zoroaster Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam.

“Hal ini mengundang kontroversi sebenarnya. Orang-orang berkomentar, kok di masjid ada penjelasan tentang agama lain?” ucap lelaki lulusan Al-Azhar Mesir ini. Ia menjadi pemandu kami mengelilingi Harmony Center.

“Kendati demikian, telah banyak orang, lembaga, bahkan negara-negara datang ke sini untuk belajar tentang keberagaman,” lanjutnya.

Di sini, saya ditunjukkan bagaimana seharusnya masjid menjalankan perannya, yakni menjaga keberagaman dan menjadi penyatu umat. Tempat ini memang dimotori oleh Majelis Ulama Islam Singapura. Tujuannya untuk mempromosikan pemahaman Islam yang sejati di tengah-tengah kehidupan multi-etnik dan agama di Singapura.

 

Menutup perjalanan saya, selepas berkunjung ke komunitas agama Jain, saya dan beberapa teman singgah di salah satu masjid – saya lupa nama masjidnya – selepas menunaikan salat, dan bercengkrama ala kadarnya. Kami diberi beberapa gelas air minum. Di raut wajah kami memang tersurat lelah dan haus setelah melakukan aktivitas dialog dan berkunjung ke beberapa komunitas agama di sana. Segelas air minum mampu mencerahkan kembali wajah kami, juga batin kami di negara tetangga. Negara ini memberikan perjalanan yang manis. Kunjungan demi kunjungan ke beberapa masjid membuat saya terenyuh apa artinya persaudaraan sesama manusia.

 

Oleh: Layla Badra Sundari  
Kediri, 30 Juli 2017

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

 

 

read more
1 2 3 4
Page 3 of 4