close

GAYA

Kata Saya

Agustus: Bukan Bulan Lomba Saja!

pedestrian-752076_1920

Perkenalkan, namanya Djalil, seorang anak muda gaul di tengah beberapa gang perumahannya. Saking gaulnya, setiap kali dia lewat pasti ada saja orang yang menegurnya.

Memasuki bulan Agustus, Si Djalil sudah sangat sibuk bersiap ikut lomba 17 Agustus. Menurut dia, ini kesempatan yang berharga. Saking berharganya, dia mempersiapkan strategi untuk menang dengan cara yang boleh dibilang sedikit curang.

Itulah gambaran yang mungkin lumayan banyak kita temui. Sangat disayangkan, karena banyak hal positif yang bisa kita ambil dari sebuah lomba. Dan seharusnya kita memaknainya sebagai bentuk rasa nasionalisme yang hidup!

Oleh: Reylando 

 

*Pentigraf alias Cerpen Tiga Paragraf ini merupakan salah satu hasil karya peserta dalam workshop yang diadakan Majalah Litera di Mall of Indonesia 25 Agustus 2017 lalu. Nantikan karya-karya selanjutnya yang akan diposting berkala!

 

read more
Kata Saya

Terpukau Kejayaan Bagan di Masa Lalu

umbrella-1807513_1920

Jalan sempit menuju Pagoda Shwezigon berdebu bukan main. Masih berpermukaan tanah dan batu, Saya dan Diyan mengayuh sepeda sewaan dari hotel melewati jalanini. Saingan kami adalahpara pejalan kaki, pengendara motor, hingga truk barang. Banyak dari mereka yang mengenakan sarung panjang, baik lelaki maupun perempuan, dan dengan lincahnya mengayuh sepeda lebih cepat daripada saya yang bercelana panjang.

 

Pagoda yang kami tuju ramai dikunjungi wisatawan, pedagang, dan para penganut agama Budha. Ternyata saat itu sedang berlangsung Festival Shwezigon, yang selalu jatuh di bulan Oktober atau November. Kegiatan para pengunjung berpusat pada bangunan pagoda berwarna emas setinggi 48 meter, yang dikelilingi koridor di empat penjuru. Di salah satu sisi pagoda, para biksu berbaris rapi, mengantre untuk pembagian makanan dan uang. Sementara di semua sisi tersebar para wisatawan yang sibuk memotret pagoda dan para biksu. Di salah satu koridor, berderet meja yang menjajakan dagangan berupa suvenir, kudapan, pakaian, dan sarung.

“Aha! Ini dia sarungnya!” saya berseru ketika melihat tumpukan sarung, yang ternyata disebut ‘longyi’,beraneka warna. Sesungguhnya, sejak melihat banyak warga Myanmar yang memakai sarung sejak saya turun dari pesawat di Yangon International Airport, ingin sekali saya mencoba memakainya, karena mereka terlihat anggun dan unik. Langsung saya memilih-milih dan akhirnya membeli dua potong sarung, dan Diyan satu potong. Dengan bantuan si gadis penjual, longyi baru berwarna hijau dengan garis-garis emas terlilit di pinggang saya dan langsung saya pakai untuk berkeliling pagoda.

Memakai longyi, yang rasanya mirip memakai rok span panjang, ternyata agak repot. Mungkin karena saya tidak terbiasa memakai rok panjang. Untuk duduk di pinggiran koridor yang rendah, saya harus berhati-hati agar kainnya tidak robek.Ketika sudah berhasil duduk dengan nyaman, saya memerhatikan orang lalu-lalang. Mata saya kemudian menangkap beberapa orang biksu yang sedang duduk dan merokok di bawah pohon rindang, agak jauh dari keramaian. ‘Oh, ternyata biksu juga ada yang merokok, seperti orang biasa,’ batin saya.

Menjelang sore, kami melanjutkan jalan-jalan ke pasar, dekat dari Shwezigon. Masih memakai longyi, saya berusaha naik sepeda. Gagal. Daripada terserimpet longyi sendiri, saya copot kain itu dan simpan di tas.

Lorong-lorong pasar terasa familier. Kios-kios kayu menjajakan sayur-mayur, buah-buahan, bumbu masak, peralatan dapur dari plastik, hingga pakaian dengan berbagai motif dan warna mencolok. Bedanya, berkali-kali kami disapa dalam bahasa Myanmar, mungkin karena tipe wajah melayu kamiyang mirip mereka. Satu hal lagi yang terasa asing, yaitu ketika saya melihat dua orang biksu dengan jubah kuning khasnya. Tentu tak ada larangan biksu ke pasar. Namun, salah satu dari mereka mencolek lengan seorang pembeli di pasar, kemudian menengadahkan telapak tangan seperti meminta sesuatu. Saya hampir tak percaya, tapi itulah yang saya lihat. Saya tak mengerti, apakah memang hidup biksu di sana sangat sulit sehingga harus meminta-minta.

Hari berikutnya saya mengajak Diyan untuk memakai longyi seharian penuh. Tentunya kami tak akan bersepeda, melainkan menyewa delman. Delman di sana agak berbeda dengan di Indonesia. Tempat duduk bagian belakang tidak ada bangku, hanya ada matras. Pilihan saya, yang masih beradaptasi dengan longyi, hanya duduk dengan kaki diluruskan, atau duduk menghadap belakang dengan kaki bergantung ke luar. Posisi paling nyaman adalah duduk di samping Pak Kusir, apalagi dengan pemandangan yang lebih terlihat jelas dan luas di depan. Maka, atas nama keadilan, saya dan Diyan duduk bergantian di depan pada hari itu.

Tur delman dimulai dengan menyaksikan matahari terbit dari atas pagoda Bulethi. Menaiki tangga pagoda yang curam sungguh menantang kemahiran kami mengatur langkah dalam lilitan longyi. Namun ketika sampai di atas, jerih payah kami terbayar kontan dengan pemandangan romantis pagi itu. Seiring naiknya matahari dari ufuk timur, terlihat hamparan tanah luas dengan pagoda dan kuil yang tersebar. Inilah alasan Bagan dijuluki sebagai ‘the city of temples’. Berbagai sumber menyatakan bahwa dulu terdapat lebih dari 10.000 bangunan peribadatan, terdiri dari pagoda, biara, dan kuil, dan mencapai kejayaannya pada zaman Kerajaan Pagan. Waktu itu, Bagan bahkan menjadi tempat para biksu dan pelajar dari negeri-negeri tetangga untuk menuntut ilmu.

Kejayaan masa itu menjadi sulit dibayangkan, melihat kenyataan kini hanya tersisa sekitar 2.000 pagoda, dan kehidupan masyarakat yang tidak terlalu makmur. Salah satu penyebabnya adalah gempa bumi besar pada tahun 1975. Namun, 2.000 pagoda tetaplah banyak. Jika di Jakarta hampir setiap 100 meter saya melihat mini market, di Bagan tak sampai tiap 50 meter rasanya saya melihat pagoda atau kuil, baik di tepi jalan raya ataupun membelusuk di antara semak belukar.

 

Pagi itu balon udara beterbangan di atas lahan seluas sekitar 100 kilometer persegi, membawa para wisatawan yang beruntung menyaksikan sebaran pagoda dan kuil dari atas, dilatari langit yang bersemu merah dan jingga. Di antara ribuan pagoda dan kuil yang tersisa, terdapat beberapa yang paling menarik bagi wisatawan karena paling besar, mewah, dan sarat sejarah, selain Shwezigon yang tadi saya ceritakan. Kuil Ananda merupakan kuil tercantik yang saya kunjungi. Ia dianggap sebagai pencapaian tertinggi seni arsitektur kerajaan Pagan karena berbagai teknik yang digunakan dalam membangunnya. Teknik-teknik itu meliputi ukiran batu dan kayu, pencetakan besi, serta lapisan batu bata.

Sedangkan kuil Dhammayangyi, bentuknya menyerupai piramida dan dibangun atas perintah Raja Narathu yang kejam dan perfeksionis. Sedikit saja celah tersisa di sela-sela batu bata, pekerja bangunan bisa dihukum mati. Kuil ini menjadi favorit saya bukan karena kekejaman rajanya, tapi karena bentuknya yang berbeda dari yang lain, paling sederhana tapi tetap terkesan megah.

Banyak lagi kuil dan pagoda yang kami kunjungi selama lima hari di Bagan. Di sela-sela kunjungan itu tentunya kami mencoba makanan di restoran dan warung yang berbeda-beda, dari makanan lokal hingga internasional. Hal yang paling berkesan bagi saya justru bukan makanannya, tapi suatu kejadian di sebuah restoran. Selesai makan, saya hendak mencuci tangan di wastafel. Tak disangka-sangka, seorang pegawai restoran menuangkan air dari teko untuk saya cuci tangan. Wah, belum pernah saya alami ini sebelumnya. Rasanya bak putri raja, air cuci tangan dituangkan.

 

Lima hari di Bagan tidaklah cukup. Masih banyak kuil dan pagoda yang belum sempat kami kunjungi, dan aspek kehidupan masyarakatnya yang belum sempat kami perhatikan. Namun begitu, kami sudah cukup terpukau akan peninggalan-peninggalan kejayaan Bagan yang kami saksikan langsung. Jika ada punya mesin waktu, sudah pasti Bagan di masa itu menjadi destinasi perjalanan kami selanjutnya.

 

oleh: Saphira Zoelfikar

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

read more
Galeri

Rayakan Keberagaman Kuliner Nusantara!

DSC04509

Lengkapi petualangan kuliner Anda di tempat ini, dimana lidah akan dimanjakan dengan olahan terbaik dari tangan dingin para koki!

 

Indonesia merupakan negara dengan beragam kebudayaan dan adat istiadat. Namun, ada satu yang menjadikan Indonesia lebih dikenal di kalangan dunia, yaitu rempah-rempah yang memperkaya cita rasa makanan Indonesia, dimana setiap daerah mampu menciptakan ciri khas makanan masing-masing dengan menggunakan berbagai jenis rempah. Swiss-Belhotel Airport, Jakarta menghadirkan promosi menu baru dengan tema resep khas daerah di Restoran Swiss-Café™ yang mulai diperkenalkan pada tanggal 25 Agustus 2017.

Rangkaian menu andalan Chef Andi Nuraji, Executive Chef Swiss-Belhotel Airport, Jakarta yang ditawarkan merupakan paduan rempah pilihan dan diolah menggunakan teknik memasak berstandard Internasional, diantaranya: Iga Bakar Sambal Rica yang terdiri dari potongan Iga Sapi yang dipanggang dengan tingkat kematangan yang pas, sehingga menghasilkan cita rasa yang gurih namun tetap lembut, disajikan bersama sambal rica. Selain itu, ada pula Bebek Bakar Sambal Matah merupakan olahan bebek bakar dengan bumbu rempah disajikan bersama sambal matah khas Bali sehingga menciptakan kombinasi rasa pedas dan segar. Selain kedua masakan tersebut, Chef Andi Nuraji juga menyajikan beberapa kreasi lainnya seperti, Nasi Timbel Parahyangan, Lontong Kuah Kari Ayam, dan Nasi Krawu Gresik ke dalam menu rekomendasi.

Rangkaian menu masakan tersebut akan tersedia dan dapat dinikmati di Restoran Swiss-Café™ mulai tanggal 1 September mendatang. “Swiss-Belhotel Airport, Jakarta secara berkesinambungan akan terus berkreasi dan menghadirkan menu-menu khas Nusantara dalam upaya kami untuk berpartisipasi dalam mengangkat cita rasa khas nusantara dalam hidangan berstandar international. Kami berharap dengan hadirnya menu-menu baru di Restoran Swiss-Café™ ini, kami dapat lebih memperkenalkan makanan khas Indonesia kepada para pelaku bisnis dan wisatawan mancanegara yang datang ke Jakarta,” ujar Deddy Sasmita selaku General Manager SwissBelhotel Airport & Zest Hotel Airport, Jakarta.

read more
Perjalanan

‘Green Opening’ POP! Hotel di Bandung!

DSC01718

Setelah menjalani renovasi yang memakan waktu sekitar 6 (enam) bulan, POP! Hotel Festival Citylink telah siap untuk beroperasi kembali dengan konsep yang lebih segar dan lebih inovatif.  Terhitung sejak tanggal 19 Juni 2017 yang lalu POP! Hotel Festival Citylink Bandung resmi menerima tamu dengan membuka sebagian besar kamar dari total kamar yang dimiliki.

 

Kamis, 3 Agustus 2017, POP! Hotel Festival Citylink Bandung mengadakan acara “Green Opening” untuk menandakan bahwa hotel telah  beroperasi 100% dan turut serta meramaikan perhotelan kota Bandung.  Memiliki 175 Kamar dengan interior desain yang baru, lebih fresh dan modern yang diberi nama POP! Room. POP! Room sendiri  terdiri dari dua jenis kamar, yaitu POP! Room single dan POP! Room twin.

Hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas khas POP! Hotels yaitu  PIT STOP Cafe yang beroperasi 24 jam dan menyajikan aneka makanan serta minuman cepat saji, Ruang Rapat yang menjadi satu dengan HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink Bandung dan Internet Corner di area lobby hotel.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh POP! Hotel Festival Citylink ini adalah terintregasi dengan Mall Festival Citylink serta HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink.  Fasilitas yang dimiliki oleh HARRIS  Hotel and Convention Festival Citylink dapat digunakan juga oleh tamu-tamu POP! Hotel Festival Citylink, seperti misalnya kolam renang, fasilitas kebugaran dan Dino Kid’s Club.

Renovasi yang dijalani oleh hotel ini telah mengubah image POP! Hotel yang pada awalnya kental dengan nuansa orange dan hijau berubah ke nuansa warna biru.  POP! Hotel Festival Citylink yang baru ini merupakan wujud dari POP! Hotel generasi baru yang dikelola oleh  Manajemen Hotel TAUZIA.

Pada acara “Green Opening” yang diadakan pada hari ini, Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung juga mengumumkan kerjasama dengan organisasi HUTAN ITU INDONESIA (HII) yang sesuai dengan konsep ‘Eco Friendly Hotel’ yang diusung oleh POP! Hotel secara keseluruhan di seluruh Indonesia.

Kerjasama yang dijalin oleh pihak Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung dengan Hutan Itu Indonesia adalah dalam bentuk mengadopsi 10 (sepuluh) pohon yang ada di Hutan Adat Rantau Kermas, Jambi.  Tujuan daripada mengadopsi pohon ini adalah sebagai bentuk kepedulian dari pihak Management atas pentingnya keberadaan pohon sebagai penyuplai oksigen, menyerap karbon dioksida, sebagai tempat bernaung nya aneka satwa dan juga sebagai penyuplai cadangan air.

Operation Manager POP! Hotel Festival Citylink Bandung, Johnny Darmawan berharap bahwa dengan dijalinnya kerjasama antara pihak management dan Hutan Itu Indonesia, POP! Hotel Festival Citylink Bandung dapat membawa warna baru bagi hotel budget di Bandung.  POP! Hotel Festival Citylink Bandung diharapkan dapat memberikan alternatif pilihan akomodasi yang segar bagi para traveler yang ingin mengeksplor kota Bandung.

read more
Kata Saya

Keramahan Masjid di Singapura

singapore-2463786_1920

Udara dingin menyergap saya di Terminal Cicaheum. Saya buru-buru melekatkan jaket pada badan. Jalanan pun masih berembun. Namun, terminal ini sudah ramai dengan aktivitas para supir dan para pedagang. Saya bersama teman saya menyusuri jalanan dan mencari masjid. Terdengar selawat nabi menguar melalui corong-corong masjid. Tapi kami tak kunjung menemukan asal suara.

 

“Bu, masjid terdekat di sebelah mana ya?” tanya Arif pada penjual kue pukis.

Kami berjalan sesuai dengan petunjuk penjual kue pukis. Berselang berapa menit, kami sudah sampai di masjid. Gelap dan ditutup rapat. Kami duduk di teras masjid. Sekedar berselonjor untuk melepas rasa pegal setelah perjalanan panjang dari Yogyakarta.

Tak lama kemudian, datang seorang bapak separuh baya. Membuka kunci pintu masjid. Wajah kami cerah. Kami masuk, menyimpan tas, lalu membersihkan muka, berwudu dan salat. Kami telah memutuskan untuk menunggu langit terang di masjid ini. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan untuk menghadiri sebuah pelatihan tentang peace education (2013).

Teh, sudah doanya?” tanya bapak-bapak separuh baya itu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya sudahi doa saya. Bapak itu menyuruh saya segera keluar. Saya bergegas melipat mukena. Saya hanya menyimpaikan kerudung ala kadarnya. Masjid dikunci kembali. Lampu dimatikan semua. Hanya ada terang bulan dan cahaya lampu dari rumah-rumah sekeliling masjid. Dua teman saya sudah duduk di teras. Kami diam tak saling bicara. Lalu bergegas keluar gang mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Saya tahu ada yang sedang bergejolak di dalam pikiran kami masing-masing. Saya terus berjalan sembari meyakinkan diri ada banyak masjid inklusif di kota ini.

***

Langit biru di Singapura. Jalanan pun lengang. Saya dan rombongan berjalan dengan gairah penuh. Ini hari pertama kami tiba di Singapura. Kami ada di sini dalam rangka memperingati World Interfaith Harmony Week yang selalu diperingati pada tanggal 1-7 Februari setiap tahun di seluruh belahan dunia.

 

Tujuan pertama kami adalah Masjid Abdul Ghafoor. Beberapa teman belum menunaikan kewajibannya. Sembari menunggu, saya dan teman-teman berkeliling di masjid bercat hijau berpadu dengan warna emas dan putih. Masjid ini terletak di Dunlop Street di area Rochor, dekat penginapan kami. Tepat di depan masjid di samping pintu gerbang, ada sebuah ruangan untuk pengunjung. Di dalamnya terdapat informasi-informasi tentang Islam dalam bentuk pamflet dan buku. Salah satu buku berjudul Apa yang Harus Diketahui oleh Kristiani tentang Islam menjadi buku menarik bagi teman Kristiani saya. Di sini juga terdapat Alquran dalam berbagai bahasa. Pakaian-pakaian Muslim dan Muslimah dipajang dan dapat dipinjam untuk berfoto. Melengkapi itu semua, di pojok ruangan ada kulkas berisi minuman botol. Di atasnya tertulis ‘Gratis untuk Pengunjung Non-Muslim.’ Teman-teman Kristiani senang bukan main.

Lha terus buat kita yang Muslim gimana?” Teman saya nyeletuk. Barangkali dia sedang kehausan.

“Minta aja sama teman Kristiani. Suruh mereka ambil dua botol per orang,” teman saya yang lain menimpali. Ide ‘brilian’ muncul. Hahaha. Lalu, saya pun mengikuti ide brilian itu, mengingat perjalanan kami masih panjang dan pasti akan membutuhkan asupan air yang banyak. Alasan lainnya, tentu saja untuk menghemat pengeluaran. Keluar dari masjid cantik tersebut, tas teman-teman Kristiani bertambah berat. Di dalamnya terdapat buku-buku dan Alquran.

Tak lengkap rasanya ke Singapura tanpa berbelanja ke ChinaTown. Di sepanjang jalan,  aksesoris perayaan Tahun Baru Cina menghiasi kota ini. Tahun ini dinobatkan sebagai tahun Ayam. Nuansa merah dan kuning memanjakan mata kami, menambah keceriaan berbelanja di sini. Perjalanan saat itu, melangkahkan kaki kami ke Masjid Jami (Chulia).

Wishing All Chinese Friends a Happy Lunar New Year

Tulisan di atas menyambut kedatangan kami di Masjid Jami (Chulia). Bagi saya, ini momen apik. Harus diabadikan. Buru-buru saya dan teman saya mengambil foto di sini. Ada kehangatan yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam batin saya. Lagi, saya menemukan masjid yang ramah pada etnis lain. Masuk ke dalamnya, tentu saja di dinding-dinding penuh dengan penjelasan-penjelasan tentang Islam. Apa itu Islam. Siapa itu Nabi Muhammad?

 

Perjalanan kami selanjutnya mengunjungi Harmony Center. Bertempat di Masjid An-Nahdah. Terletak di Bishan Street 14. Masjid ini menyimpan keunikan tersendiri. Jika di dua masjid sebelumnya ada penjelasan-penjelasan tentang Islam, maka di sini ada penjelasan-penjelasan agama lain yang eksis di Singapura. Tercatat ada 10 agama: Bahai, Sikh, Tao, Yahudi, Jain, Zoroaster Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam.

“Hal ini mengundang kontroversi sebenarnya. Orang-orang berkomentar, kok di masjid ada penjelasan tentang agama lain?” ucap lelaki lulusan Al-Azhar Mesir ini. Ia menjadi pemandu kami mengelilingi Harmony Center.

“Kendati demikian, telah banyak orang, lembaga, bahkan negara-negara datang ke sini untuk belajar tentang keberagaman,” lanjutnya.

Di sini, saya ditunjukkan bagaimana seharusnya masjid menjalankan perannya, yakni menjaga keberagaman dan menjadi penyatu umat. Tempat ini memang dimotori oleh Majelis Ulama Islam Singapura. Tujuannya untuk mempromosikan pemahaman Islam yang sejati di tengah-tengah kehidupan multi-etnik dan agama di Singapura.

 

Menutup perjalanan saya, selepas berkunjung ke komunitas agama Jain, saya dan beberapa teman singgah di salah satu masjid – saya lupa nama masjidnya – selepas menunaikan salat, dan bercengkrama ala kadarnya. Kami diberi beberapa gelas air minum. Di raut wajah kami memang tersurat lelah dan haus setelah melakukan aktivitas dialog dan berkunjung ke beberapa komunitas agama di sana. Segelas air minum mampu mencerahkan kembali wajah kami, juga batin kami di negara tetangga. Negara ini memberikan perjalanan yang manis. Kunjungan demi kunjungan ke beberapa masjid membuat saya terenyuh apa artinya persaudaraan sesama manusia.

 

Oleh: Layla Badra Sundari  
Kediri, 30 Juli 2017

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

 

 

read more
Teater

Bengkel Teater Rendra: Untaian Doa untuk Si Burung Merak

comedy-tragedy-masks-1715466_1920

GELAP menyelimuti pendopo Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, Minggu (6/8). Di tengah lingkungan yang sepi, tempat itu dipenuhi oleh kerabat, seniman, dan masyarakat pencinta karya Si Burung Merak. Inilah peringatan sederhana dalam rangka mengenang delapan tahun berpulangnya Rendra,  sastrawan dan teaterawan yang mendapat tempat khusus dalam kesusasteraan Indonesia.

Malam itu tampak sejumlah teaterawan dan kerabat Rendra: Iwan Burnani, penyair Amin Kamil, teaterawan Gus Jur, sastrawan Abdullah Wong, dan pencipta lagu Areng Widodo. Selain membaca Surat Yasin dan bershalawat, yang hadir saling berkisah pengalaman ketika berguru dan bergabung sejak Bengkel Teater Yogya berdiri, hingga saat Bengkel pindah ke Depok.

Iwan Burnani sempat diinterogasi menjelang pementasan – ketika itu Rendra sedang ditahan. “Kamu itu ibarat rebung yang tak jauh dari pohonnya. Bos kamu ditahan!” ia mengenang teguran aparat kepadanya waktu itu. Iwan diminta mengedit beberapa bagian  naskah yang dipentaskan. Namun, teater tetap berjalan sebagaimana yang diinginkan oleh Rendra.

Iwan Burnani juga berkisah pengalaman pahit Rendra ketika pindah dan bekerja di Jakarta. Almarhum mengalami kesulitan karena terus dipantau oleh rezim Soeharto. Rendra sempat bekerja di sebuah klab malam untuk mencari nafkah. Sementara rumahnya masih saja menampung awak Bengkel Teater. “Bagi saya, Rendra adalah guru, kakak, sahabat sekaligus teman debat,” ujar Iwan Burnani.

Sementara, Areng Widodo mengisahkan suka-duka hubungan ‘pelik’-nya dengan Rendra. Dia sempat heran karena lebih sering ditegur oleh Rendra ketimbang awak Bengkel Teater lainnya. Dia sempat pamit kepada Si Burung Merak, di satu dini hari.

Rendra dengan tenang memintanya mendekat, dan berkata, “Kamu tahu, kamu itu bukan pohon. Kamu saya beri nama Areng, sebagaimana arang.” Lalu Rendra mengisahkan filosofi arang yang seolah getas namun memberi sesuatu untuk yang lain. Pemuda Widodo yang baru mendapat julukan Areng dari seniornya itu pun berkisah kepada ibunya, yang malah memuji, “Areng itu nama yang bagus.”

Areng Widodo kelak dikenal sebagai pencipta lagu tersohor, diantaranya  Syair Kehidupan yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar dan Jarum Neraka, diciptakan bersama Ian Antono dan dinyanyikan oleh Nicky Astria. Namun ia mengaku sempat marah kepada Rendra karena lagu yang dia ciptakan bersama Si Burung Merak, malah diberikan kepada Iwan Fals. “Saya tak terima waktu itu. Saya sempat tak menegur Rendra beberapa tahun karena itu,” kenangnya.

Nyatanya, ketika Areng ke Jakarta, justru kepada Rendralah dia mencari dana dengan melelang buku-buku musiknya, untuk keperluan merantau. Rendra berkata, “Simpan bukumu.” Ia kemudian memberi sangu.

Areng berkisah bagaimana nama Wahyu Sulaiman dibaiat untuk Rendra, di sebuah mesjid di Aceh. Ia juga bercerita bagaimana dia diminta membuat komposisi musik untuk pertunjukan yang bernuansa Islami, atas permintaan Surya Paloh, yang ketika itu sudah memimpin Media Indonesia.

Mereka kaget karena Areng seorang musisi non-Muslim, namun buah karya yang sakral itu tetap dipentaskan dan meraih kesuksesan. Areng mengungkapkan betapa keragaman adalah hal yang universal dalam dunia seni dan kebudayaan.

Latar para seniman ini beragam sebelum mereka berlayar di kapal yang sama: Bengkel Teater Rendra. Selain Iwan Burnani – kawan yang kemudian menjadi ipar Rendra, juga Adi Kurdi, yang bertemu di Jakarta, dan diminta turut terlibat dalam pementasan awal, yang bertajuk Panembahan Reso.

Amin Kamil, mengisahkan pertemuannya di Jakarta, ketika Rendra tinggal di Depok. Ia masih anak bawang dan bertahan di teater itu, dengan para senior. Saat para awak Bengkel Teater masih tinggal di kediaman yang sesak, sebelum pindah ke Cipayung, dan Amin masih berdagang, dia malah diajari ilmu beladiri hingga kemudian berhasil menekuni dunia sastra dan teater.

Penikmat dan pengkarya sastra, Abdullah Wong, didaulat mengisi doa penghormatan terhadap mendiang Si Burung Merak.*

 

*Liputan oleh: Sihar Ramses S. 

read more
BukuGAYA

Saat Perempuan Mencari Keadilan

jesus-1138278_1920

NAMANYA Miryam. Ia adalah perempuan yang mengikuti Yesus (di buku disebut Yeshua) dan para murid, blusukan ke desa dan kota. Dia berasal dari Magdala, kota kecil di sekitar Danau Galilea, berdekatan dengan kota-kota Genesaret, Kapernaum, Korazin,  perempuan pertama yang bertemu Yesus setelah Ia bangkit.

Dikisahkan Miryam berusia 40-an. Ia pengusaha kain ungu yang sukses karena memiliki rahasia teknik pencelupan warna kirmizi, yang bila diarahkan ke matahari, berubah ungu yang sangat indah.

Suaminya Yaakov, seorang nelayan yang baik hati dan cinta keluarga. Mereka punya dua anak laki-laki. Avram, si sulung yang sudah menikah dan istrinya, Rachel, sedang hamil, dan Binyamin, si bungsu, masih bayi, dan tuli.

Pada satu hari, Miryam ditimpa kemalangan hebat. Seorang gundik perwira Romawi membeli kaun ungu darinya seharga 10 dinar emas, namun balik mengancam ketiga ditagih. Rumah Miryam habis dibakar, keluarganya dibantai habis, kecuali Binyamin, yang diam-diam diselamatkan oleh prajurit Romawi berhati lembut, Atticus Aurelius. Bayi itu diangkat anak oleh Atticus, diberi nama Quintus.

Miryam tidak terima. Tragedi pilu itu membajakan tekadnya untuk menuntut dendam atas porak-poranda keluarganya. Ia pergi ke kota Tiberias, bertemu Herodes tapi tidak mendapat  bantuan. Dalam keadaan ruwet, ia bertemu Marisa di kota itu, seorang gadis Mesir penjual jimat. Kepadanya Marisa memperkenalkan Isis, dewi kebijaksanaan Mesir yang dapat menolong apa saja. Miryam kepincut, menerima jimat Isis.

Jiwanya yang tak stabil membawanya pada keadaan buruk terus menerus, sampai satu kali ia seperti mendengar suara-suara di kepalanya. Suara pertama mengaku bernama Natar. Lain waktu bernama Baath, atau Qinah, Avah, Azaph, Katakritos, Geah. Demikianlah tujuh suara (roh) memprovokasi Miryam untuk kian mengkristalkan dendam di hatinya. Ia begitu dikuasai ketujuh roh jahat itu sampai-sampai tak sadar (meski ia sadar sepenuhnya), tangannya membunuh seseorang.

Miryam pulang ke kotanya, dan ia dicap gila. Waktu itu Yesus baru memulai pelayanan di Galilea, dikerumuni banyak orang, dengan banyak kepentingan. Saat itulah ia bertemu Yesus, dan disembuhkan dari tujuh roh jahat. Setelah itu ia mengikut Yesus, ke manapun, menjadi semacam bendahara.

Di lain pihak, diceritakan Atticus bertemu dengan Cyrilla, seorang gadis bayaran asal Syria. Ia meminta gadis itu mengasuh Quintus. Dalam satu kesempatan, istri Pilatus, Nyonya Procula, mengajak Cyrilla dan Quintus, ke rumahnya. Nyonya itu jatuh kasihan kepada Quintus. Saat tersiar kabar seorang penyembuh dari Galilea, Nyonya Procula meminta Atticus untuk membawa Quintus, menemuinya. Itulah momen indah Atticus mengenal Yesus secara pribadi –sebuah pertemuan yang nyata- dan menjadi pengikut meski diam-diam. Dalam buku, Atticus disebut sebagai tentara Romawi yang menolong menurunkan mayat Yesus.

Setelah Yesus mati, hati Miryam masih dipenuhi roh penasaran, mencari pembunuh keluarganya. Akhir cerita yang tak terduga baik bagi Atticus, Quintus, dan Miryam sendiri.

Buku ini kaya dengan detil. Rujukan pengarang yang sangat melimpah, seolah ingin memanjakan pembaca dengan segenap tata cara masyarakat Yahudi kala itu seperti keseharian Yesus dan murid-murid dan keluarga, regulasi tentara Romawi, praktik sekte eksklusif dan rahasia, gaya hidup penguasa, tengiknya orang Farisi, persinggungan antarbudaya di Israel, masalah perempuan dan anak, jenis-jenis makanan, cuaca, pakaian, bahkan cara berpikir.

Sosok perempuan yang disembuhkan oleh Yesus dari tujuh roh jahat dalam kitab suci, menjadi jelas ketika selesai membaca buku ini. Memang, seyogyanyalah novel fiksi sejarah  menyajikan data selengkapnya sehingga puzzle masa lalu tersaji jelas di masa kini.

 

Miryam dari Magdala
Judul asli Magdalene
Penulis Angela Hunt
Penerjemah Arie Saptajie
Penerbit Gloria Graffa
Cetakan I 2009, 422 halaman

read more
1 2 3 4
Page 4 of 4