close

GAYA

Teater

Bengkel Teater Rendra: Untaian Doa untuk Si Burung Merak

comedy-tragedy-masks-1715466_1920

GELAP menyelimuti pendopo Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok, Minggu (6/8). Di tengah lingkungan yang sepi, tempat itu dipenuhi oleh kerabat, seniman, dan masyarakat pencinta karya Si Burung Merak. Inilah peringatan sederhana dalam rangka mengenang delapan tahun berpulangnya Rendra,  sastrawan dan teaterawan yang mendapat tempat khusus dalam kesusasteraan Indonesia.

Malam itu tampak sejumlah teaterawan dan kerabat Rendra: Iwan Burnani, penyair Amin Kamil, teaterawan Gus Jur, sastrawan Abdullah Wong, dan pencipta lagu Areng Widodo. Selain membaca Surat Yasin dan bershalawat, yang hadir saling berkisah pengalaman ketika berguru dan bergabung sejak Bengkel Teater Yogya berdiri, hingga saat Bengkel pindah ke Depok.

Iwan Burnani sempat diinterogasi menjelang pementasan – ketika itu Rendra sedang ditahan. “Kamu itu ibarat rebung yang tak jauh dari pohonnya. Bos kamu ditahan!” ia mengenang teguran aparat kepadanya waktu itu. Iwan diminta mengedit beberapa bagian  naskah yang dipentaskan. Namun, teater tetap berjalan sebagaimana yang diinginkan oleh Rendra.

Iwan Burnani juga berkisah pengalaman pahit Rendra ketika pindah dan bekerja di Jakarta. Almarhum mengalami kesulitan karena terus dipantau oleh rezim Soeharto. Rendra sempat bekerja di sebuah klab malam untuk mencari nafkah. Sementara rumahnya masih saja menampung awak Bengkel Teater. “Bagi saya, Rendra adalah guru, kakak, sahabat sekaligus teman debat,” ujar Iwan Burnani.

Sementara, Areng Widodo mengisahkan suka-duka hubungan ‘pelik’-nya dengan Rendra. Dia sempat heran karena lebih sering ditegur oleh Rendra ketimbang awak Bengkel Teater lainnya. Dia sempat pamit kepada Si Burung Merak, di satu dini hari.

Rendra dengan tenang memintanya mendekat, dan berkata, “Kamu tahu, kamu itu bukan pohon. Kamu saya beri nama Areng, sebagaimana arang.” Lalu Rendra mengisahkan filosofi arang yang seolah getas namun memberi sesuatu untuk yang lain. Pemuda Widodo yang baru mendapat julukan Areng dari seniornya itu pun berkisah kepada ibunya, yang malah memuji, “Areng itu nama yang bagus.”

Areng Widodo kelak dikenal sebagai pencipta lagu tersohor, diantaranya  Syair Kehidupan yang dinyanyikan oleh Ahmad Albar dan Jarum Neraka, diciptakan bersama Ian Antono dan dinyanyikan oleh Nicky Astria. Namun ia mengaku sempat marah kepada Rendra karena lagu yang dia ciptakan bersama Si Burung Merak, malah diberikan kepada Iwan Fals. “Saya tak terima waktu itu. Saya sempat tak menegur Rendra beberapa tahun karena itu,” kenangnya.

Nyatanya, ketika Areng ke Jakarta, justru kepada Rendralah dia mencari dana dengan melelang buku-buku musiknya, untuk keperluan merantau. Rendra berkata, “Simpan bukumu.” Ia kemudian memberi sangu.

Areng berkisah bagaimana nama Wahyu Sulaiman dibaiat untuk Rendra, di sebuah mesjid di Aceh. Ia juga bercerita bagaimana dia diminta membuat komposisi musik untuk pertunjukan yang bernuansa Islami, atas permintaan Surya Paloh, yang ketika itu sudah memimpin Media Indonesia.

Mereka kaget karena Areng seorang musisi non-Muslim, namun buah karya yang sakral itu tetap dipentaskan dan meraih kesuksesan. Areng mengungkapkan betapa keragaman adalah hal yang universal dalam dunia seni dan kebudayaan.

Latar para seniman ini beragam sebelum mereka berlayar di kapal yang sama: Bengkel Teater Rendra. Selain Iwan Burnani – kawan yang kemudian menjadi ipar Rendra, juga Adi Kurdi, yang bertemu di Jakarta, dan diminta turut terlibat dalam pementasan awal, yang bertajuk Panembahan Reso.

Amin Kamil, mengisahkan pertemuannya di Jakarta, ketika Rendra tinggal di Depok. Ia masih anak bawang dan bertahan di teater itu, dengan para senior. Saat para awak Bengkel Teater masih tinggal di kediaman yang sesak, sebelum pindah ke Cipayung, dan Amin masih berdagang, dia malah diajari ilmu beladiri hingga kemudian berhasil menekuni dunia sastra dan teater.

Penikmat dan pengkarya sastra, Abdullah Wong, didaulat mengisi doa penghormatan terhadap mendiang Si Burung Merak.*

 

*Liputan oleh: Sihar Ramses S. 

read more
BukuGAYA

Saat Perempuan Mencari Keadilan

jesus-1138278_1920

NAMANYA Miryam. Ia adalah perempuan yang mengikuti Yesus (di buku disebut Yeshua) dan para murid, blusukan ke desa dan kota. Dia berasal dari Magdala, kota kecil di sekitar Danau Galilea, berdekatan dengan kota-kota Genesaret, Kapernaum, Korazin,  perempuan pertama yang bertemu Yesus setelah Ia bangkit.

Dikisahkan Miryam berusia 40-an. Ia pengusaha kain ungu yang sukses karena memiliki rahasia teknik pencelupan warna kirmizi, yang bila diarahkan ke matahari, berubah ungu yang sangat indah.

Suaminya Yaakov, seorang nelayan yang baik hati dan cinta keluarga. Mereka punya dua anak laki-laki. Avram, si sulung yang sudah menikah dan istrinya, Rachel, sedang hamil, dan Binyamin, si bungsu, masih bayi, dan tuli.

Pada satu hari, Miryam ditimpa kemalangan hebat. Seorang gundik perwira Romawi membeli kaun ungu darinya seharga 10 dinar emas, namun balik mengancam ketiga ditagih. Rumah Miryam habis dibakar, keluarganya dibantai habis, kecuali Binyamin, yang diam-diam diselamatkan oleh prajurit Romawi berhati lembut, Atticus Aurelius. Bayi itu diangkat anak oleh Atticus, diberi nama Quintus.

Miryam tidak terima. Tragedi pilu itu membajakan tekadnya untuk menuntut dendam atas porak-poranda keluarganya. Ia pergi ke kota Tiberias, bertemu Herodes tapi tidak mendapat  bantuan. Dalam keadaan ruwet, ia bertemu Marisa di kota itu, seorang gadis Mesir penjual jimat. Kepadanya Marisa memperkenalkan Isis, dewi kebijaksanaan Mesir yang dapat menolong apa saja. Miryam kepincut, menerima jimat Isis.

Jiwanya yang tak stabil membawanya pada keadaan buruk terus menerus, sampai satu kali ia seperti mendengar suara-suara di kepalanya. Suara pertama mengaku bernama Natar. Lain waktu bernama Baath, atau Qinah, Avah, Azaph, Katakritos, Geah. Demikianlah tujuh suara (roh) memprovokasi Miryam untuk kian mengkristalkan dendam di hatinya. Ia begitu dikuasai ketujuh roh jahat itu sampai-sampai tak sadar (meski ia sadar sepenuhnya), tangannya membunuh seseorang.

Miryam pulang ke kotanya, dan ia dicap gila. Waktu itu Yesus baru memulai pelayanan di Galilea, dikerumuni banyak orang, dengan banyak kepentingan. Saat itulah ia bertemu Yesus, dan disembuhkan dari tujuh roh jahat. Setelah itu ia mengikut Yesus, ke manapun, menjadi semacam bendahara.

Di lain pihak, diceritakan Atticus bertemu dengan Cyrilla, seorang gadis bayaran asal Syria. Ia meminta gadis itu mengasuh Quintus. Dalam satu kesempatan, istri Pilatus, Nyonya Procula, mengajak Cyrilla dan Quintus, ke rumahnya. Nyonya itu jatuh kasihan kepada Quintus. Saat tersiar kabar seorang penyembuh dari Galilea, Nyonya Procula meminta Atticus untuk membawa Quintus, menemuinya. Itulah momen indah Atticus mengenal Yesus secara pribadi –sebuah pertemuan yang nyata- dan menjadi pengikut meski diam-diam. Dalam buku, Atticus disebut sebagai tentara Romawi yang menolong menurunkan mayat Yesus.

Setelah Yesus mati, hati Miryam masih dipenuhi roh penasaran, mencari pembunuh keluarganya. Akhir cerita yang tak terduga baik bagi Atticus, Quintus, dan Miryam sendiri.

Buku ini kaya dengan detil. Rujukan pengarang yang sangat melimpah, seolah ingin memanjakan pembaca dengan segenap tata cara masyarakat Yahudi kala itu seperti keseharian Yesus dan murid-murid dan keluarga, regulasi tentara Romawi, praktik sekte eksklusif dan rahasia, gaya hidup penguasa, tengiknya orang Farisi, persinggungan antarbudaya di Israel, masalah perempuan dan anak, jenis-jenis makanan, cuaca, pakaian, bahkan cara berpikir.

Sosok perempuan yang disembuhkan oleh Yesus dari tujuh roh jahat dalam kitab suci, menjadi jelas ketika selesai membaca buku ini. Memang, seyogyanyalah novel fiksi sejarah  menyajikan data selengkapnya sehingga puzzle masa lalu tersaji jelas di masa kini.

 

Miryam dari Magdala
Judul asli Magdalene
Penulis Angela Hunt
Penerjemah Arie Saptajie
Penerbit Gloria Graffa
Cetakan I 2009, 422 halaman

read more
1 2 3 4
Page 4 of 4