close

Perjalanan

Perjalanan

Ketika Siswa SMP Meresensi Buku

WhatsApp Image 2018-03-23 at 11.38.19

Inferno karangan Dan Brown,” tukas Rio, siswa kelas 7 SMPK 7 Penabur.  Ia menjawab pertanyaan buku apa yang sudah dibacanya untuk diresensi hari itu. Hebatnya, buku setebal 602 halaman itu, dalam bahasa Inggris. Ia pun fasih menjelaskan istilah cliffhanger dan twist, yang menurutnya banyak ditemui di buku.

Tidak hanya Rio yang membaca dalam bahasa Inggris. Beberapa siswa yang mengikuti pelatihan pagi itu, pun sama. Sayangnya, Rio mengalami kesulitan saat menulis dalam bahasa Indonesia. Dia mengaku lebih mudah menulis dalam bahasa Inggris. Memang sejak playgroup, ia disekolahkan di sekolah berbahasa Inggris oleh orangtuanya.

Pelatihan menulis resensi buku kerjasama Litera.id dan SMPK 1 ini dihadiri 53 siswa dari 15 sekolah berbendera Penabur. Murid yang berkisar usia antara 13-14 tahun itu mengaku membaca di waktu luang mereka. Seorang pustakawan pendamping siswa hari itu mengaku anak-anak di sekolahnya memang suka membaca buku.

“Sekolah memberi jatah Rp2,5 juta untuk beli buku baru per bulan. Tapi harga buku sekarang mahal. Uang segitu paling dapat beberapa buku. Padahal anak-anak perlu banyak buku baru dalam sebulan. Asal perpustakaan ada buku baru dan kita rajin-rajin memberitahu isi buku, siswa suka kok membaca,” tambahnya.

Tiga buku karangan Tereliye yang tampil diresensi adalah Bintang (380 hal), Hujan (320 hal) dan Bumi (440 hal). Juga novel  lawas yang diterbitkan ulang, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka (236 hal). Buku Raditya Dika, penulis favorit kebanyakan siswa, yang diresensi adalah Ubur-ubur Lembur (232 hal). Juga buku yang ceritanya sedang tren sekarang Mile “Suara dari Dilan” karya Pigi Baiq(360 hal). Buku-buku lain adalah novel remaja populer dan buku terjemahan beragam topik.

Berikut  sepuluh resensi siswa (bukan berdasarkan ranking) tentang buku yang mereka baca. Ditulis tangan dalam waktu sekitar 30 menit, di kelas. Penyelenggara kegiatan ini adalah SMPK 1 Penabur yang sedang berpameran entrepreneurship, yang mengundang Litera.id untuk melakukan pelatihan menulis resensi buku dan menulis puisi.  (is/maret/2018)

 

 

 

No Nama/Sekolah Keterangan Buku Tulisan Resensi Buku
1. Weilina C/8A SMPK 2 The After Dinner Mysteries

Higashigawa Tokuya

Penerbit Haru

Cetakan Feb 2014

291 hal

Pelayan Atau Detektif?

Bagaimana biasa ada mayat bersepatu bot di kamar apartmen? Bagaimana bisa ada racun di dalam botol anggur yang masih tertutup rapat? Kedua hal tersebut adalah sesuatu yang terdengar mustahil. Namun, seorang pelayan dapat menyingkap trik di balik itu semua.

Seorang petugas polisi seharusnya mempunyai daya pikir yang lebih dan pelayan adalah seorang yang tidak berpendidikan dan bodoh. Namun, nampaknya hal itu tidak berlalu bagi Hosho Reiko dan pelayannya, Kageyama.

Reiko yang baru-baru ini menjadi penyelidik di kepolisian Kunitachi sudah menghadapi kasus-kasus yang rumit. Semuanya terlihat tidak masuk akal. Namun, pelayannya itu justru mengejeknya habis-habisan. Semua itu harus ditelah Reiko bulat-bulat karena hanya Kageyama yang bisa membuat kasus yang mustahil menjadi pasti.

Buku kumpulan cerpen komedi detektif ini memuat tujuh kasus yang sangat menarik sekaligus terlihat tidak masuk akal. Trik yang terkandung di dalamnya benar-benar tidak terpikirkan dan mind blown. Meskipun buku ini adalah cerita detektif, Higashigawa Tokuya berhasil membawakannya dengan simple dan lucu. Namun, banyak istilah dalam Bahasa Jepang yang sulit dipahami. Belum lagi ada beberapa bagian pemecahan kasus yang dirasa mustahil. Meskipun begitu, buku ini mendatangkan banyak pengetahuan baru dan cocok dengan penggemar misteri komedi.

2. Cherry P4/8F/8 Ruby Red

Krestin Crier

Elex Media

312

Misteri

 

Menjelajahi waktu tidak seperti yang kita bayangkan. Pada realitas, menjelajah waktu berbahaya dan melelahkan. Jika bisa memilih, Gwendolyn tidak ingin menjadi penerus dalam hal ini. Dia hanya menginginkan hidup yang sederhana. Namun, darah yang ia bawa sejak lahir adalah darah seorang penjelajah waktu.

 

Tanpa terduga, Gwendolyn terlembar ke era yang berbeda tanpa persiapan. Di masa lalu, orang memandangnya dengan aneh dari cara berpakaiannya. Mereka bahkan ingin memburunya karena menganggap dia seorang penyihir. Kini dia harus menjalani kewajibannya sebagai seorang penjelajah waktu. Menyamar dan sekaligus menjalani misi-misi yang diberikan. Bersama dengan Gideon, penjelajah waktu dari keluarga dengan garis keturunan laki-laki, Gwendolyn harus mengungkapkan misteri tentang tokoh-tokoh di sekitar mereka.
Kerstin Gier telah merancang bukunya dengan imajinasi yang luar biasa. Dia berhasil membuat pembaca penasaran dengan misteri-misteri yang ada di bukunya. Dia mampu membuat pembaca merasakan pengalaman emosional yang sangat kuat dalam cerita ini. Cara dia mengilustrasikan suasana mampu membuat kita bervisualisasi seperti sedang berada di dalam dunianya itu. Namun, permasalahan yang kompleks dalam buku ini sukar dipahami. Tokoh-tokoh yang terlibat juga berlebihan sehingga menimbulkan perasaan bingung dan terkadang terlupa identitasnya. Secara umum, novel Ruby Red sangat menghibur dan mengesankan.

3. Tito Tobing/8A/28 Percy Jackson: The Last Olympion (Novel Grafis)

Rick Riordan

381 hal

Dapatkah kau melawan babi Terbang?

 

Terbangun di pagi hari sebagai “anak dewa” bukanlah hal yang menyenangkan bagi Percy Jackson. Ketika kita berandai untuk memiliki ayah atau ibu seorang dewa, tentu kita berpikir kita akan dipuja dan dilayani selayaknya seorang raja. Namun tidak seperti itu nyatanya para blasteran –setengah dewa setengah manusia – harus menjalani hidup yang penuh rteror, termasuk Percy sendiri. Dendam kesumat para titan dilampiaskan dengan kembalinya kronos –raja para titan. Terjangan dan bentak amarah serta perang angkasa yang berkecamuk membuat kehidupan manusia harus menghadapi kesudahakannya.

 

Tinggal bergantung pada Percy Jackson dan pasukan blasterannya untuk menjadi penyelamai dunia atau malah menjadi awal kehancuran manusia. Lagipula masalah dengan para babi terbang saja belum selesai pula.

 

Cara sang penulis, Rick Riordan mengangkat cerita sangat antimainstream. Penggunaan bahasa yang “dekat” dengan hidup orang zaman sekarang membuat buku ini sangat mudah dimengerti dan dibaca. Saya sebagai pembaca juga merasa nyaman saat membaca. Penggunaan diksi dalam buku ini begitu bagus dan membuat pembaca terpana. Dengan adanya plot twist juga membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca dan dinikmati.

4. Stefanie Thamrin/8C, SMPK 1 Second Heart

Luna Torashyngu

PT GPU

Januari 2016

352 hal

Penyelamatan Sang Putri

Kabar penyanderaan SMAN 123, sekolah sang putri Presiden, menggemparkan rakyat Indonesia. Penyanderaan yang dilakukan oleh sebuah kelompok tak dikenal bernama Neo Indonesian State. Bertujuan untuk menggulingkan kekuasaan kursi pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Hediyono. Melibatkan sang putri dan teman-teman ke dalam bahasa, upaya penyelamatkan diperintahkan langsung dari Presiden Hediyono.

Dipimpin oleh Jatayu, pasukan pengamanan putra dan putri Presiden dan wakil Presiden. Bersama kopassus, kepolisian, dan Tim Densus 99 menyusun strategi upaya penyelamatan putri presiden dan anggota sekolah SMAN 123. Andra sebagai pengawal Jatayu Tiara ikut menyelamatkan sebagai perwakilan dari Jatayu. Terjadi baku tembak antara pihak penyandera dengan pihak penyelamatan.

Cerita ini berakhir di mana terselamatkannya sang putri dan seluruh teman-temannya.

Buku ini merupakan hasil karya penulis yang imajinatif dan kreatif. Membuat para pembaca tenggelam dalam cerita. Sang Penulis menyertakan berbagai info tentang militer, pasukan pengawal hingga politik yang jarang kita ketahui. Cerita yang seru dan mengagumkan ini cocok untuk semua kalangan usia baik anak-anak maupun orangtua. Cerita yang imaginatif, cocok untuk mengisi waktu luang serta kaver dikemas dengan apik, bisa dibawa ke mana saja.

5. Santasila Bryan Kusno/8A/27 Menaburkan Benih Kebahagiaan

Shih Cheng Yen

301 halaman

2013

Resensi Buku

Jika buku merupakan jendela dunia,maka buku Menaburkan Benih Kebahagiaan” merupakan buku yang membuka jendela kehidupan kita sebagai seorang remaja. Masa remaja pasti dilalui oleh setiap orang, baik kaya atau pun miskin. Penulis buku ini memberikan doa bagi generasi muda yang terbagi dalam 12 bagian, dengan harapan agar para generasi muda dapat mengerti dan menerakpkan pola hidup bersumbangsih. Shih Cheng Yen merupakan seorang biksuni dan pendidi Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah menerima banyak penghargaan di bidang humanis.

Pada buku ini kita diajarkan untuk menanamkan cinta kasih universal dalam pribadi masing-masing. Bab yang paling saya minati adalah “Berebut Waku”, tidak mengenang masa lalu, begitu juga tidak membayangkan masa depan. Masa lalu adalah tumpulan dari pikiran yang kacau, sedangkan masa depan adalah angan-angan. Berharap agar setiap orang dapat melewati saat ini dengan sungguh-sungguh. Ilustrasi yang diberikan merupakan realitas dalam  kehidupan sehari-hari kita.

Buku ini menggunakan bahasa yang baku dan kalimatnya mudah dimengerti. Buku ini sukses membuka hati si pembaca karena kata-kata yang digunakan memiliki arti yang dalam. Di setiap bab buku ini diberikan ilustrasi yang sesuai dengan judul bab. Saya merekomedasikan buku ini agar dibaca oleh para remaja karena buku ini dapat memjawab semua pertanyaan tentang kehidupan. Secara keseluruhan penulisan buku ini sudah sukses membekan pencerahan bagi saya.

6. Geoffrey Antonio A/7C/II/SMPK 7 Student Hidjo

Mas Marco Kartodikromo

2018

Ulasan Buku

Novel karya Mas Marco Kartodikromo ini menceritakan tentang kisah kehidupan seorang Radhen Hidjo, dari awal anak-anak, remaja, hingga masa di mana ia harus meninggalkan ibu dan kekasihnya untuk sekolah insinyur di Belanda. Meskipun dilema melanda hatinya, ia tetap berangkat ke Hindia Belanda dengan sedih dan sedikit terpukul. Ayahnya, Raden Potronojo yang merupakan seorang saudagar, mengirimnya ke Belanda agar dengan tujuan keluarganya tidak diremehkan oleh pegawai-pegawai Gouverment Belanda. Perjalanannya menuju Belanda ditemani oleh guru HBS, dengan menggunakan Kapal Api Gunung.

Banyak kisah yang dialaminya di Belanda. Mulai dari awal perjalanannya menuju Belanda, kisah percintaan, hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan sekolah insinyurnya di Belanda. Menurut observasi saya, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dan diserapi oleh siapa pun pembacanya. Hanya saja, buku ini menggunakan beberapa istilah Jawa atau Belanda yang sulit untuk dimengerti karena tidak ada bagian glosariumnya.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan pendapat untuk buku ini. Menurut saya, buku ini sangat menarik untuk dibaca karena isinya yang menarik. Menarik dalam arti walau kisah ini bertemakan sejarah tidak menjadi alasan untuk tidak membaca buku ini karena isi dari buku ini juga mengandung kisah romantis yang pernah dialami tokoh dalam kehidupannya. Dengan harga yang cukup terjangkau, buku ini dapat dibeli oleh semua kalangan/lapisan masyarakat (atas, menengah maupun bawah).

7. Derren M 8D/8/SMPK 1 The School for Good and Evil

Sophie Carson

Fantasi

Ringkasan

Sophie dan Agatha adalah dua sahabat dengan karakter yang bertolak belakang. Mereka tinggal di sebuah desa dengan sebuah legenda tentang sebuah sekolah untuk yang baik dan yang jahat. Setiap empat tahun kepala sekolah itu menculik dua orang anak, yang satu baik dan yang satu jahat. Mereka akan diajarkan cara-cara untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang penjahat. Sophie yang berparas cantik dan selalu terlihat baik tampak cocok untuk bersekolah di sekolah untuk yang baik dan Agatha yang berparas buruk dan bermata kantung tampak cocok untuk bersekolah di sekolah untuk yang jahat.

Suatu hari mereka berdua diculik kepala sekolah. Namun Agatha terdampar di sekolah untuk yang baik dan Sophie di sekolah untuk yang jahat. Berbagai konflik pun menimpa mereka dan menunjukkan diri mereka yang sebenarnya. Persahabatan mereka diuji dan walau mereka ingin kembali ke rumah, satu-satunya jalan keluar melalui sebuah dongeng. Sementara mereka berdua menjalani hidup baru mereka, sebuah figur tersenyum dengan misterius sambil mengawasi mereka berdua.

Novel ini adalah sebuah karya hebat! Ceritanya disajikan dengan sangat baik. Alur ceritanya menegangkan dan sulit ditebak. Konflik yang dialami tokoh sangat rumit dan menarik. Membaca buku ini membuat kita seakan-akan berada di dalam novel itu. Saya memberi buku ini nilai sembilan dari sepuluh karena cerita yang ditawarkan dan berbagai kelebihan yang dimiliki novel ini.

8. Nathan J/SMPK 4 Surat Kecil untuk Tuhan

Agnes Daronar

Falcon Publishing

214 halaman

Kemanusiaan

Setiap orang pasti memiliki batas untuk melakukan sesuatu yaitu yang baik ataupun jahat. Tindakan kejahatan manusia dibatasi oleh dosa yang seringkali dihindari. Tetapi tidak sedikit juga orang yang bisa melakukan kejahtan seperti cerita dalam buku ini.

Cerita ini dimulai dari kisah kakak beradik yang bernama Anton dan Angel. Orangtua mereka meninggal oleh kecelakaan sehingga mereka harus tinggal bersama anak-anak yatim piatu lainnya dengan seorang bernama Om Rudy. Diam-diam Om Rudy memiliki niat jahat tersembunyi yaitu menjual organ tubuh anak-anak yatim piatu kepada pasar gelap. Perjalanan kisah hidup mereka masih panjang dan sayang jika tidak membaca buku ini.

Buku ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang menginspirasi pembaca untuk tidak mudah percaya kepada orang lain yang belum pernah kita temui atau lihat. Sangat bermanfaat untuk dibaca oleh semua umur karena tidak ada kata-kata yang sulit dimengerti. Menurut saya kekurangannya hanya satu yaitu buku ini tidak bergambar sehingga sulit untuk memahami kejadian sebenarnya tetapi semoga keseluruhan sudah baik dan direkomendasikan untuk membaca buku ini sampai akhir cerita.

9. Grace Aletta Ruth/SMPK Penabur Depok Ayah

Andrea Hirata

Mizan

396 hal

Kasih sayang seorang ayah

Kasih sayang dari seorang ayah memang tidak terbatas. Dalam buku ini kita akan mengetahui perjuangan seorang ayah dalam mencari anaknya yang hilang. Buki ini dapat membuat kita menyadari betapa besarnya peran seorang ayah dalam hidup kita. Cerita yang ditampilkan oleh Andrea Hirata pun mengambil kegiatan yang kita lakukan sehari-hari, jadi pembaca dapat membayangkan dengan mudah.

Andrea Hirata pun sebagai penulis telah berhasil menggambarkan citraan seorang ayah dengan baik. Alur dalam buku ini pun sulit ditebak karena itulah para pembaca akan dibuat ingin membaca lagi. Alur yang digunakan juga maju-mundur jadi kita harus membaca  seluruh isi cerita agar mengerti intinya. Namun kekurangan dalam buku ini adalah ada banyak kata yang tidak umum untuk diucapkan, jadinya ada beberapa bagian yang hanya sedikit orang yang mengerti.

Di dalam buku ini adalah banyak konflik. Jadi kita akan terpengaruh untuk membaca buku ini sampai selesai. Pikiran pembaca seakan diputar-putar oleh sang penulis. Namun secara keseluruhan buku ini sangat disarankan karena perasaan kita saat membaca buku ini dapat diputar-putar dan sangat bagus dalam mengisi waktu luang.

10. Debby/7C/SMPK TMP1 Keluarga Tak Kasat Mata

Bonaventura Genta

118 hal

Ringkasan

Bertemu dan melihat hantu bukanlah hal yang menyenangkan. Inilah yang dialami Genda dan teman-teman satu kantornya. Melihat dan mengalami keusilan hantu-hantu telah menjadi kebiasaan sehari-hari mereka di kantor. Mereka melihat hantu dari umur paling kecil hingga lanjut usia.

Mereka mengalami hal-hal supernatural di berbagai tempat. Dimulai dari kamar mandi, ruang kerja, ruang tamu, lorong, gudang hingga ke halaman depan dan tengah. Dan lebih mengesalkan lagi, mereka bertemu dengan lebih dari satu macam makhluk. Dimulai dari anak kecil, nenek berkerudung, dan lain-lain.

Mereka pun mencari kebenaran salah satu makhluk gaib yang dinamakan “si boss” atau Langgeng. Di perjalanan mereka untuk mencari kebenaran Langgeng, mereka juga dengan tidak sengaja mengungkapkan kebenaran dari makhluk lain yang telah mereka temui. Dan terjadi perdebatan tentang kebenaran Langgeng.

11. Jea A/PKJ 8B The Kill Order (2012)

James Dashner

Mizan

426 halaman

Petualangan

The Kill Order merupakan sebuah novel karya James Dashner, penulis asal Georgia. Novel ini merupakan prequel dari seri the maze runner. Bercerita tentang ledakan sinar matahari yang mengakibatkan virus flare menyebar. Flare adalah virus yang menyerang dan memakan otak.

Mark, Trina, Lana, dan Alex adalah tokoh utama dari novel ini. Mereka berpetualang mencari asal-usul virus tersebut. Mereka mengalami banyak hal, seperti Mark dan Alex berpisah dengan Trina dan Lana. Tak disangkat, jawaban yang dicari mereka akhirnya terjawab. Virus flare disebarkan oleh KPF (Koalisi Pasca Flare) di bawah tangan pemerintah untuk mengendalikan populasi manusia.

Novel ini memiliki alur yang menarik, tidak bisa ditebak. Bahasanya juga mudah dipahami. Buku ini juga cukup mengejutkan. Bagaimana bisa sebuah pemerintah menyebarkan virus tersebut kepada rakyatnya. Kekurangan buku ini adalah sadisnya cara pembunuhan Mark saat melawan pasukan KPF, sehingga tidak cocok untuk dibaca kalangan anak-anak.

 

read more
Perjalanan

Obituari: Ibu Dr Dorothy Irene Marx (16 Februari 1923-17 Desember 2017)

Ibu Dorothy Marx

Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.
–Mazmur 113:9

Pagi di Wisma Nav Dago Pojok Bandung itu hening dan dingin. Saya duduk membaca sambil berselimut. Setelah beberapa waktu saya bangkit ke jendela untuk memeriksa keadaan udara di luar. Jendela terbuka lebar dan mata saya segera disambut oleh sesosok tubuh yang sedang berdiri menatap ke kejauhan. Tetangga kamar saya. Tadinya saya berpikir saya sendiri yang menginap di sini.

Rambut orang itu pendek ikal berwarna perak. Ataukah uban? Tubuhnya kurus, kecil. Ia menoleh ke arah saya, dan kami sama-sama tersenyum, sama-sama mengangguk. Wajah itu saya kenali. Ibu Dorothy Marx, yang banyak diceritakan teman-teman ITB.

“Ibu Dorothy Marx?” sapa saya.

Iya mengiyakan, bertanya, “Anda siapa?”

Saya menyebutkan nama. Saya bilang saya mengenali wajah dan namanya dari cerita teman-teman persekutuan. Ketika saya menjawab pertanyaan Ibu soal urusan saya menginap di Wisma itu, dia berkata, “Pekerjaan yang menarik. Silakan bekerja, maaf mengganggu,” lalu ia undur diri.

Itulah perjumpaan tiga menit saya dengan Ibu Dr. Dorothy Irene Marx.

Hari Minggu tanggal 17 Desember Ibu Dorothy Marx berpulang ke rumah Bapa. Halaman WA hape saya mengabarkan itu, di beberapa grup. Secara emosi saya tidak merasa terganggu karena saya tidak mengenalnya. Kecuali obrolan singkat di jendela pagi itu.

Karena itu saya tak berencana melayat. Namun seorang teman memberitahu agenda ibadah penghiburan oleh OMF. Saya sekarang bagian kecil dari OMF –lembaga pertama Ibu ke Indonesia- jadilah saya hadir. Barulah di Rumah Duka Husada, saya mengenal sedikit lagi tentang Ibu Dorothy.

Beberapa orang bergantian menceritakan pengalaman indah mereka bersama Ibu. Selama tiga hari disemayamkan di Rumah Duka, kamar duka dipadati mereka yang mengenal Ibu. Kesaksian demi kesaksian terus mengalir tak berhenti, pengalaman-pengalaman yang sungguh indah, bersama Ibu.

Semua itu memberi saya potongan-potongan kisah tentang siapa Ibu. Tetapi saya berhutang cerita pada Pendeta RAS Pandiangan –Pak Kaleb Tong menganggap Pak RAS anak angkat Ibu, yang membuat saya mengenal Ibu secara lengkap, saat itu.

Pak RAS Pandiangan adalah mahasiswa teologi di Duta Wacana Yogyakarta. Ia mahasiswa semester 6 ketika menghadiri KKR 5 hari yang dilayani oleh Ibu Dorothy.

Dalam mendengarkan penjelasan dan khotbah Ibu, Pak RAS bingung. Apa yang dia pahami selama ini tentang keyakinannya, menjadi tidak jelas. Karena itu ketika ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Ibu, dialah yang pertama unjuk jari.

Di hadapan Ibu Dorothy, Pak RAS mengakui kebingungannya setelah mendengar khotbah Ibu, yang ditanggapi Ibu Dorothy dengan tenang dan berkata, “Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Air mata dan ingus berleleran berderai-derai membanjiri pipi dan seluruh wajah Pak RAS, saat Ibu Dorothy berdoa untuknya, sehingga ia repot betul mengelapnya dengan ujung bajunya. Doa yang pendek tapi menggempur dada mahasiswa yang masih hijau tanpa ampun. Setelah itu ia merasa dirinya melayang menyusul sukacita besar yang memenuhi seluruh dirinya, entah apa.

Dari peristiwa itu, di perpustakaan kampus, Pak RAS memutuskan untuk berhadapan sendiri dengan Tuhan, berbicara seperti laki-laki, menunggu Tuhan menjawabnya. Dia sungguh tak tahan dengan segala perasaan yang mengubek-ubek hatinya menjadi melankolik dan ringan sekaligus.

Tiba-tiba dalam dialog mereka berdua itu, Pak RAS melihat sebuah penglihatan, seperti slide yang nampak di dinding perpustakaan, persis di depan dirinya duduk. Slide yang menyatakan semua kesalahan yang pernah dia lakukan termasuk mencuri jambu tetangga, menyontek, berbohong, dan lainnya —sebuah daftar yang panjang. Ia mencatat dengan pensil dengan kekuatan tangannya, sampai ia berseru, “Berhenti, tangan saya pegal”, barulah slide itu berhenti, berganti tulisan I Yoh 3: 1, yang kemudian diketahuinya berbunyi, “Tengoklah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan memang kita adalah anak-anak Allah.”

Itulah awal relasi mereka sebagai ibu-anak yang intim, secara spiritual.

Bahwa selama tiga hari Ibu disemayamkan di rumah duka, dan para pelayat mengisahkan hubungan-hubungan pribadi mereka dengan Ibu, Pak RAS menyimpulkan bahwa sedikit apa pun persentuhan seseorang dengan Ibu, ada energi di dalam diri Ibu yang terpancar keluar, yang tidak pernah padam, tak pernah kompromi, tak pernah berhenti, untuk menjadi hamba Yesus, Tuhannya.

Energi yang kuat, pun secara jasmani. Ibu Dorothy bersepeda sepanjang 14 km Bandung-Cimahi tanpa kepayahan, meski hanya sedikit asupan makan, sedikit tidur, tetapi banyak berlutut di atas bantal doanya. Itulah sebuah rahasia kekuatan, yang tak pernah menjadi rahasia.

Ibu Dorothy, seorang keturunan Yahudi yang memenuhi panggilan Tuhan, pergi ke Indonesia pada usia 30 tahun, menanggalkan kewarganegaraan Inggrisnya tanpa ragu, menjadi Indonesia dan membela Indonesia dengan kebenaran, sebagai hamba Tuhan yang setia dan tak berhenti mencintai. Ia bersentuhan dengan banyak lembaga banyak gereja banyak sekolah banyak pemuda banyak hati. Dengan energi yang tak tergoncangkan, yang ia dapat dari Langit.

Di ruang duka yang berdraperi bernuansa putih-ungu yang agung, harum lembut dari wangi bebungaan mawar putih, pink, oranye, lily, seruni kecil, chrysanthemum, aster putih, sedap malam, daun kubis, daun bunga kol, pandan iris, kuncup melati, setiap orang merayakan Ibu. Saling menghibur saling  menghangatkan hati. Bila tak diatur, mungkin kesaksian-kesaksian tentang Ibu dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia, takkan selesai sampai besok, atau lusa. Belum pernah saya merasa sedemikian betah, di rumah duka.

Di pagi hujan jam 10 ini, Ibu akan diberangkatkan dari GKI Gunung Sahari, menuju San Diego Hills, untuk dimakamkan. Rumah jasadnya. Sementara dirinya telah bersama Yesus, cinta satu-satunya Ibu.  Selamat jalan, Ibu. Berharap mengenal Ibu sedikit lagi kelak, di rumah Bapa. (itasiregar, 20des2017)

read more
Perjalanan

One-Stop Shopping untuk Jasa Pelayanan Acara Istimewa & Hari Pernikahan

Honey Lane Indonesia

Dengan mengangkat suatu filosofi yang terinspirasi dari Bunga Calla Lily bermakna indah dan cantik, Vvednue Indonesia menginspirasi semua orang untuk mendapatkan tempat yang indah dalam merayakan acara istimewa & hari pernikahan mereka dengan pelayanan yang baik dan menakjubkan. Bertujuan juga menjaga hubungan timbal balik yang baik dengan Para Vendor, Kami memberikan bebas publikasi pada akun media sosial bagi mereka yang sudah memberikan bentuk kerjasama.

 

Bentuk kerjasama yang kami jalankan beraneka ragam dari yang berupa komisi maupun harga spesial yang sudah diberikan. Dengan bentukan seperti ini, kami menjadi tidak terbatas untuk bekerjasama dengan berbagai vendor yang ada. Adapun yang kami butuhkan dari para vendor untuk meningkatkan penjualan mereka.

 

Kami membutuhkan berupa softcopy katalog & paket harga yang nantinya dikirimkan melalui Email. Kami juga membutuhkan hasil dokumentasi yang sudah pernah terjadi sebelum-nya untuk dapat kami publikasikan secara gratis di-akun media sosial, kemudian dimohon untuk penjelasan dari keuntungan yang tertera pada katalog & paket harga tersebut. Melalui penawaran yang kami berikan kepada para vendor ini, mereka menjadi tertarik untuk bekerja sama dengan kami.

Beberapa Vendor yang sudah bekerjasama diantara-nya adalah hotel, gedung, kenang-kenangan, tata rias, food stall, kue pernikahan, dan dokumentasi. Vendor hotel yang sudah bergabung, yaitu: Atria Hotel Gading Serpong, Grand Mercure Jakarta Harmoni, HARRIS Vertu Hotel Harmoni, Ibis Jakarta Cawang, dan Mambruk Hotel Anyer. Vendor gedung dengan Palma One Grand Ballroom, kenang-kenangan dari Honey Lane Indonesia, tata rias bersama D’Loyal, EMB & Yashmine, food stall dari Nada Safa, kue pernikahan dengan Bread Season, dan Dokumentasi bersama videomegavision.

 

“Kami berharap dengan adanya Vvednue Indonesia dapat membantu untuk meningkatkan penjualan bagi para vendor yang sudah turut bergabung dan berbisnis kedepan-nya,” jelas Yohanes Tjitra selaku Founder dari Vvednue Indonesia,”disatu sisi kami juga memohon bantuan dari berbagai rekanan untuk mengarahkan kenalan mereka yang sedang mencari jasa pelayanan acara & pernikahan kepada kami dan dihargai dengan komisi sharing profit sebesar 25%.”

 

Untuk mengetahui informasi tentang Vvednue Indonesia lebih lanjut, Kalian bisa langsung melihat ke Instagram kami di ido.vvedue

read more
Perjalanan

Kuliner Berkelas di Kota Cilegon

IMG_5155 copy

Soft launching 14 September 2017 lalu, menjadi titik awal diperkenalkannya The Sapphire Restaurant di tengah kancah penikmat kuliner di Cilegon dan sekitarnya. Dengan mendapat respon yang sangat positif, The Sapphire Restaurant secara resmi dibuka dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh President Director PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Bapak Priyo Budianto.

 

Acara yang dimeriahkan dengan berbagai acara menarik seperti Pemberian Penghargaan kepada Loyal Customer The Royale Krakatau Hotel dan juga dihibur dengan performance sempurna oleh group band Maliq N D’Essentials ini berlangsung sangat meriah dan sukses dan dihadiri oleh Jajaran Direksi PT KIEC, dan juga Pejabat, Muspida dan juga Pimpinan serta Person In Charge dari sejumlah Perusahaan yang bekerjasama dengan The Royale Krakatau Hotel. “The Sapphire Restaurant merupakan bagian dari The Royale Krakatau yang sudah menjadi icon kuliner sejak dulu di Kota Cilegon, dan kami merupakan Group dari Krakatau Steel dibawah naungan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon yang menjadi ciri khas dari Kota Cilegon itu sendiri”, ujar Ibu Mila Wulansari, selaku GM Commercial Property.

Restaurant yang terletak di gedung bagian depan Hotel The Royale Krakatau ini dipenuhi dengan tidak kurang dari 300 tamu undangan yang tidak hanya ingin menikmati hidangan-hidangan terbaik yang disajikan Team Kitchen The Sapphire Restaurant, namun juga ingin menikmati sajian musik oleh Maliq N D’Essentials yang menampilkan 12 hits terbaik album mereka.

Tampilan modern kontemporer yang dimiliki The Sapphire Restaurant kini terdiri dari 2 lantai, dengan fasilitas private meeting room, area makan indoor & outdoor serta coffee corner untuk mengakomodasi customer dari generasi millenial. Desain yang futuristik serta pemandangan langsung menuju hijaunya lapangan Golf menjadi poin plus Restaurant dengan luas area 1.030m2 ini. “Luas keseluruhan dari The Sapphire Restaurant ini adalah 1.030m2, jadi sangat memungkinkan untuk dapat mengadakan event apapun disini”, ujar Ibu Elok Sofa selaku Hotel Executive Manager The Royale Krakatau Hotel.

Berbagai kelezatan hidangan baru yang ditampilkan The Sapphire mulai dari Asia hingga Eropa sebagai Menu Unggulannya, “Kami memiliki banyak sekali pilihan menu baru yang disajikan di The Sapphire Restaurant, namun menu lama yang masih menjadi andalan dan juga ciri khas juga masih kami sajikan, salah satunya adalah Oxtail Soup atau Sup Buntut.”, ujar Bapak Iwan Abdurrahman selaku Food & Beverage Manager The Royale Krakatau Hotel. Dengan kapasitas hingga 300 pax, Restaurant ini cukup mampu mengakomodasi apapun acara anda, mulai dari sekedar berkumpul bersama teman, keluarga dan rekan kerja, sebagai lokasi private meeting, arisan, ulang tahun, hingga acara pernikahan sekalipun. “Seating Capacity dari The Sapphire Restaurant ini adalah 300 pax, namun untuk standing capacity kami bisa lebih dari itu. Bahkan sudah ada yang me-reserve untuk mengadakan Wedding disini untuk 1000 Pax. Lokasi strategis, tempat yang cozy dan elegant serta indahnya view lapangan golf seperti ini, The Sapphire Restaurant adalah venue terbaik untuk apapun event anda, bahkan Wedding sekalipun”, ujar Tyas Ayudhia selaku Promotions & Public Relations The Royale Krakatau Hotel.

The Sapphire Restaurant ini adalah The Sapphire Restaurant juga memiliki area Coffee Corner yang dapat mengakomodasi para pecinta kopi untuk sekedar ngopi cantik atau meeting non formal. “Biji kopi yang kami gunakan merupakan biji kopi terbaik dari vendor kopi terkenal, Illy Coffee, yang sudah sangat dikenal oleh para pecinta kopi di nusantara”, ujar Bapak Susaedi, Rooms Division Manager yang sebelumnya adalah Food & Beverage Manager The Royale Krakatau.

Berbagai program promosi dan paket telah siap mengakomodasi dan memanjakan para customer The Sapphire Restaurant, mulai dari Live Music yang menemani dan menyemarakkan momen bersantap para tamu setiap hari Senin hingga Rabu malam, dan juga setiap Sabtu siang; begitu juga dengan paket-paket yang cukup terjangkau bahkan oleh kaum Millenials dengan paket Light Meals-nya dengan harga mulai dari Rp 20.000++. Bagi customer yang sudah memiliki rencana untuk mengadakan event di The Sapphire Restaurant, dapat menikmati potongan harga hingga 15% dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. (tyas666)

read more
Perjalanan

Jelajah Ala Komunitas Sraddha

Rendra Agusta (baju merah) membimbing anggotanya membaca relief di candi sukuh (1)

Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat budaya Jawa di Indonesia menyimpan banyak keunikan. Utamanya adalah dalam hal komunitas. Salah satu komunitas unik yang berasal dari Kota Bengawan ini adalah komunitas Sradhha.

Komunitas ini dikatakan unik karena lebih memfokuskan diri untuk mempelajari aksara Jawa Kuno yang terdapat pada naskah-naskah kuno dan sejumlah prasasti-prasasti peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha. Oleh karena lebih fokus  dalam mempelajari aksara Jawa kuno, maka tidaklah mengherankan jika aneka kegiatan yang dilakukan pun berbeda dengan komunitas lainnya.

Komunitas ini didirikan oleh Rendra Agusta pada 2016 silam. Saat ini setidaknya ada 70 orang anggota yang aktif terlibat dalam komunitas ini.

“Lahirnya komunitas ini karena di Kota Solo ini minat masyarakat yang ingin mempelajari Jawa Kuno cukup banyak. Mereka seringkali kesulitan untuk menyalurkan minatnya tersebut. Di sisi lain sampai saat ini kajian-kajian mengenai Jawa Kuna juga masih sangat sedikit. Dengan alasan itulah komunitas ini didirikan,” ujar Rendra.

Biasanya komunitas ini akan berkumpul untuk melakukan kajian bersama di Musium Radya Pustaka, Solo, setiap sabtu. Untuk waktunya biasanya diberitahukan melalui akun instagram resmi dari komintas ini. Komunitas ini terbuka plus gratis bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui aksara Jawa Kuno secara mendalam. Aktifitas yang dilakukan oleh komunitas ini dalam mempelajari aksara Jawa Kuno tidak hanya dihabiskan di dalam ruangan saja. praktek langsung di lapangan juga menjadi agenda rutin dari komunitas ini.

Seperti yang dilakukan baru-baru ini, komunitas Sraddha melakukan penjelajahan peninggalan sejarah yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu. Adapun peninggalan yang didatangi okeh komunitas Sraddha untuk dikuak nilai kesejarahannya oleh komunitas ini adalah Situs Planggatan dan Candi Sukuh yang kesemuanya masih dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh dan Situs Planggatan merupakan peninggalan masa lalu yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Baik secara wujud dan nilai kesejarahannya. Banyak pengetahuan yang diambil dari dua tempat tersebut. Misalnya kita akan tahu fungsi bangunan itu untuk apa dari prasasti dan ke arah arah mana peninggalan itu menghadap.

“Ada beberapa hal yang menarik dari Candi Sukuh. Selain bentuknya yang tidak asimetris, di sana juga juga bisa dijumpai banyak angka tahun yang berbeda-beda. Adanya perbedaan angka tahun yang ditemukan di Candi Sukuh bisa dijadikan bukti bahwa candi tersebut dibangun secara bertahap,” ujar Rendra.

Lebih dari itu Rendra juga menambahkan jika beberapa sengkalan memet, seperti  yang ada di bagian gapura yang mana apabila dibaca berbunyi gapura buta anahut buntut (gapura raksasa menggit ekor ular). Adalah sengkalan yang berarti tahun 1359 Saka atau 1437 M. Angka tahun itu bisa ditafsirkan sebagai tahun selesainya pembuatan candi.

Sementara itu di dalam kompleks candi, di belakang dua arca garuda juga ditemukan angka yang berbeda. Pada bagian garuda yang satu menunjukkan angka 1363 Saka atau 1441 M dan pada bagian satunya lagi dapat dilihat angka 1364 Saka atau 1442 M. Tentang perbedaan angka tahun ini dengan sengkalan di gapura tadi adalah petunjuk bahwa candi sukuh tidak selesai dalam satu kali pembagunan.

Untuk Situs Palanggatan sendiri sampai kini belum banyak informasi yang diperoleh tentang situs ini. Diperkirakan situs ini merupakan reruntuhan candi yang dibangun pada masa era akhir dari majapahit. Secara fisik, situs ini bisa dikatakan benar-benar runtuh. Yang menarik dari Situs Planggatan ini adalah ditemukannya pahatan berupa sengalan memet yang bila dibanya berbunyi : gajah wiku mangan wulan. Sengkalan memet ini memiliki arti 1378 Saka atau 1456 M. Tahun tersebut kemungkinan adalah tahun selesainya pembangunan situs planggatan.

Di sisi lain yang membuat Candi Sukuh cukup menarik adalah bentuknya yang sering dianggap sedikit menyimpang dari ketentuan membuat bangunan suci Hindu sebagaimana yang dituliskan dalam kitab wastu widya. Dalam kitab tersebut sebuah candi seharusnya berdenah bujur sangkar dengan tempat yang paling suci berada di bagian tengah.

“Adanya penyimpangan ini mungkin karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa. Pudarnya pengaruh hindu ini menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat yang berasal dari jaman megalitikum. Buktiny adalah adanya kemiripan bentuk bangunan Candi Sukuh dengan teras berundak yang berasal dari jaman pra-Hindu,” jelasnya.

Untuk fungsi ada kemungkinan Candi Sukuh ini digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat peruwatan. Dugaan ini  dikuatkan melalui sejumlah panel relief yang menceritakan kisah-kisah peruwatan yang diwujudkan dalam cerita sudhamala, garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda di dinding candi.

 

Oleh : Sinung Santoso

 

read more
Perjalanan

JIWA YANG MENARI LEWAT TUBUH

Dariah, lengger Banyumas

Dari sisi Barat, penari itu berjalan sangat pelan menapaki lantai pendapa yang mengilat. Berpasang mata mengikut sepasang kaki kurus milik tubuh renta berkemben hitam. Selendang merah tersampir menutup bahu tipisnya.

Seluruh penonton seolah turut menanggung beban usia penari sehingga sesekali terdengar helaan napas, sampai sang penari berada tepat di depan grup pemusik pengiring, memberi isyarat, kemudian ia menari di hadapan puluhan pasang mata dan lensa kamera.

Dialah Dariah (89), penari lengger asal Banyumas,  satu dari enam maestro tari yang dihadirkan dalam Festival Payung ke-4 pada 15-17 September 2017, di Pura Mangkunegaran, Solo. Mereka menerima penghargaan atas sumbangsihnya melestarikan seni tari tradisi.

Dariah terlahir dengan nama Saddam, berjenis kelamin laki-laki. Tetapi indang lengger telah memilihnya. Sejak ia mendapati tubuhnya ingin menari, penduduk desa memberinya nama Dariah. Dan sejak saat itu tari menjadi hidupnya. Sang maestro terus belajar tentang kesejatian dalam hidup yang dijalani. Hingga usia senja, ia setia menggembalakan jiwa penarinya.

Apa yang dikatakan Phytagoras, ahli matematika Yunani, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, tidak berlaku bagi Dariah. Ia lebih cenderung pada apa yang dikatakan Plato bahwa tubuh adalah cermin jiwa. Tubuh Dariah mengikuti dan mencerminkan jiwa feminin seorang lengger dan meng-iya-kan semesta. Jiwanya menari melalui tubuhnya.

Lima maestro tari lainnya yang juga mendapat penghormatan adalah Munasiah Daeng Jinne dari Makassar, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Retno Maruti dari Jakarta, Rusini dari Solo dan Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, yang termuda di antara mereka alias berusia 63 tahun.

Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali

Meski sudah tidak muda, selain Dariah, mereka masih menari dan berkarya. Masing-masing mempresentasikan karya ciptaannya malam itu. Rusini (Roncen) dan Retno Maruti (Sekar Puri) kental dengan tari gaya Surakarta seperti yang digeluti selama memilih jalan tari. Munasiah membawakan nomor tari Pakarena, salah satu dari 19 karya koreo-nya. Berkostum dominan warna emas, ia menari sambil membawa kipas, diiringi seorang penari laki-laki dan dua perempuan. Ayu Bulantrisna meragakan Joged Pingitan dalam iringan musik bumbung dan gamelan khas Bali. Didik Nini Thowok menghadirkan beberapa karakter topeng, dengan tubuh lenturnya yang memukau penonton karena bermetamorfosis sangat detil dan terampil dengan topeng yang dikenakannya.

Didik Nini Thowok dari Yogyakarta

Jalan Tari

Masing-masing maestro memiliki keunggulan dalam bentuk dan ciri khas daerah mereka berasal. Mereka pun mempunyai kesamaan yaitu menggunakan kewenangan untuk memilih jalan tari sebagai laku hidup. Totalitas dan loyalitas menjadi pembuktian bahwa tari adalah persembahan bagi Sang Hidup.

Mereka menerima penghargaan bukan dihitung dari berapa lama mereka menjadi penari, tetapi konsistensi melestarikan seni tradisi dan sumbangsihnya pada kekayaan seni budaya Nusantara. Itulah letak penghormatannya.

Pada saat tari bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi mengintegrasikan seluruh unsur budi, kehalusan, filosofi dan keindahan, di situlah pernyataan tubuh tentang pengabdian dan meng-iya-kan kehidupan, muncul ke permukaan. Penghayatan setiap pengalaman, pengamatan setiap peristiwa zaman diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan luhur. Itulah yang segera tertangkap ketika enam maestro tari tradisi berhimpun.

Melalui tubuh, jiwa mereka menari. Mereka menjadi pendoa dan pengagung nilai-nilai kehidupan. Menari bukan lagi kerja berkesenian, tetapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, melatih rasa agar tajam dan taji.

Tari tradisi yang telah terintegrasi dengan diri para maestro bukan ilmu yang jatuh dari langit atau didapat secara instan. Mereka telah memulainya puluhan tahun di belakang dan dihidupi oleh lingkungan yang membentuknya. Meski Rusini mewarisi darah seni dari ibunya, Yohana Darsi Pudyorini, penari wayang orang Sriwedari, ia tak akan menjadi maestro seandainya tidak menanggapi panggilan jiwanya.

Ayu Bulantrisna Djelantik, Indo-Belanda yang lahir di Deventer 8 September 1947. Ia cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik, raja terakhir Kerajaan Karangasem, Bali. Ia tak mungkin  menjadi maestro tari seandainya hanya berfokus pada profesinya sebagai dokter THT dan mengabaikan semesta Bali yang kental aroma tari. Bulantrisna telah memilih dan memulai menapaki jalan tari sejak usia 7 tahun.

Retno Maruti dari Jakarta

Tari sebagai Salah Satu Pilar

Seperti bahasa ibu, bahasa penubuhan tari pun menjadi salah satu pilar penyangga indentitas sebuah bangsa. Meski para maestro pernah belajar tari daerah lain, mereka tetap mengakar dari tradisi yang mengalir dalam darah tarinya. Didik Nini Thowok, misalnya. Ia mendalami tari tradisi Cirebon, Sunda, Bali bahkan flamenco hingga Noh dari Jepang, namun dasar tarinya tetap Jawa. Munasiah, ia mempelajari tari Jawa dan Bali dan beberapa tari daerah lain, namun konsisten dengan seni tradisi Sulawesi.

Retno Maruti dan Rusini terus setia dengan gaya klasik Jawa (Surakarta) serta Dariah dengan lengger Banyumas. Tari tradisi adalah bahasa ibu tubuh tarinya.

Penghormatan

Upacara penghormatan bagi enam maesto pada Festival Payung ini adalah ajakan kepada generasi kini untuk menyusu pada jiwa-jiwa yang menari melalui tubuh, supaya tak tercerabut akar di tengah gempuran globalisasi budaya yang tak terbendung ini. Sumbangsih dan kekuatan cinta seni tradisi para maestro telah mengindahkan wajah Indonesia yang bermartabat dan bernilai luhur.

Munasiah Daeng Jinne dari Makassar

Reportase: Indah Darmastuti
Fotografer: Joko Sarwedhi

 

*Indah Darmastuti lahir dan bermukim di Solo. Menulis tentang seni pertunjukan khususnya tari. Ia juga menulis cerpen, puisi, novel. Karyanya antara lain novel Kepompong (2006), kumpulan novelet Cundamanik (2012) dan Kumpulan Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2015). Ia pengurus aktif Buletin Sastra Pawon Solo.

read more
Perjalanan

‘Green Opening’ POP! Hotel di Bandung!

DSC01718

Setelah menjalani renovasi yang memakan waktu sekitar 6 (enam) bulan, POP! Hotel Festival Citylink telah siap untuk beroperasi kembali dengan konsep yang lebih segar dan lebih inovatif.  Terhitung sejak tanggal 19 Juni 2017 yang lalu POP! Hotel Festival Citylink Bandung resmi menerima tamu dengan membuka sebagian besar kamar dari total kamar yang dimiliki.

 

Kamis, 3 Agustus 2017, POP! Hotel Festival Citylink Bandung mengadakan acara “Green Opening” untuk menandakan bahwa hotel telah  beroperasi 100% dan turut serta meramaikan perhotelan kota Bandung.  Memiliki 175 Kamar dengan interior desain yang baru, lebih fresh dan modern yang diberi nama POP! Room. POP! Room sendiri  terdiri dari dua jenis kamar, yaitu POP! Room single dan POP! Room twin.

Hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas khas POP! Hotels yaitu  PIT STOP Cafe yang beroperasi 24 jam dan menyajikan aneka makanan serta minuman cepat saji, Ruang Rapat yang menjadi satu dengan HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink Bandung dan Internet Corner di area lobby hotel.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh POP! Hotel Festival Citylink ini adalah terintregasi dengan Mall Festival Citylink serta HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink.  Fasilitas yang dimiliki oleh HARRIS  Hotel and Convention Festival Citylink dapat digunakan juga oleh tamu-tamu POP! Hotel Festival Citylink, seperti misalnya kolam renang, fasilitas kebugaran dan Dino Kid’s Club.

Renovasi yang dijalani oleh hotel ini telah mengubah image POP! Hotel yang pada awalnya kental dengan nuansa orange dan hijau berubah ke nuansa warna biru.  POP! Hotel Festival Citylink yang baru ini merupakan wujud dari POP! Hotel generasi baru yang dikelola oleh  Manajemen Hotel TAUZIA.

Pada acara “Green Opening” yang diadakan pada hari ini, Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung juga mengumumkan kerjasama dengan organisasi HUTAN ITU INDONESIA (HII) yang sesuai dengan konsep ‘Eco Friendly Hotel’ yang diusung oleh POP! Hotel secara keseluruhan di seluruh Indonesia.

Kerjasama yang dijalin oleh pihak Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung dengan Hutan Itu Indonesia adalah dalam bentuk mengadopsi 10 (sepuluh) pohon yang ada di Hutan Adat Rantau Kermas, Jambi.  Tujuan daripada mengadopsi pohon ini adalah sebagai bentuk kepedulian dari pihak Management atas pentingnya keberadaan pohon sebagai penyuplai oksigen, menyerap karbon dioksida, sebagai tempat bernaung nya aneka satwa dan juga sebagai penyuplai cadangan air.

Operation Manager POP! Hotel Festival Citylink Bandung, Johnny Darmawan berharap bahwa dengan dijalinnya kerjasama antara pihak management dan Hutan Itu Indonesia, POP! Hotel Festival Citylink Bandung dapat membawa warna baru bagi hotel budget di Bandung.  POP! Hotel Festival Citylink Bandung diharapkan dapat memberikan alternatif pilihan akomodasi yang segar bagi para traveler yang ingin mengeksplor kota Bandung.

read more