close

Serba-Serbi

Serba-Serbi

One-Stop Shopping untuk Jasa Pelayanan Acara Istimewa & Hari Pernikahan

Honey Lane Indonesia

Dengan mengangkat suatu filosofi yang terinspirasi dari Bunga Calla Lily bermakna indah dan cantik, Vvednue Indonesia menginspirasi semua orang untuk mendapatkan tempat yang indah dalam merayakan acara istimewa & hari pernikahan mereka dengan pelayanan yang baik dan menakjubkan. Bertujuan juga menjaga hubungan timbal balik yang baik dengan Para Vendor, Kami memberikan bebas publikasi pada akun media sosial bagi mereka yang sudah memberikan bentuk kerjasama.

 

Bentuk kerjasama yang kami jalankan beraneka ragam dari yang berupa komisi maupun harga spesial yang sudah diberikan. Dengan bentukan seperti ini, kami menjadi tidak terbatas untuk bekerjasama dengan berbagai vendor yang ada. Adapun yang kami butuhkan dari para vendor untuk meningkatkan penjualan mereka.

 

Kami membutuhkan berupa softcopy katalog & paket harga yang nantinya dikirimkan melalui Email. Kami juga membutuhkan hasil dokumentasi yang sudah pernah terjadi sebelum-nya untuk dapat kami publikasikan secara gratis di-akun media sosial, kemudian dimohon untuk penjelasan dari keuntungan yang tertera pada katalog & paket harga tersebut. Melalui penawaran yang kami berikan kepada para vendor ini, mereka menjadi tertarik untuk bekerja sama dengan kami.

Beberapa Vendor yang sudah bekerjasama diantara-nya adalah hotel, gedung, kenang-kenangan, tata rias, food stall, kue pernikahan, dan dokumentasi. Vendor hotel yang sudah bergabung, yaitu: Atria Hotel Gading Serpong, Grand Mercure Jakarta Harmoni, HARRIS Vertu Hotel Harmoni, Ibis Jakarta Cawang, dan Mambruk Hotel Anyer. Vendor gedung dengan Palma One Grand Ballroom, kenang-kenangan dari Honey Lane Indonesia, tata rias bersama D’Loyal, EMB & Yashmine, food stall dari Nada Safa, kue pernikahan dengan Bread Season, dan Dokumentasi bersama videomegavision.

 

“Kami berharap dengan adanya Vvednue Indonesia dapat membantu untuk meningkatkan penjualan bagi para vendor yang sudah turut bergabung dan berbisnis kedepan-nya,” jelas Yohanes Tjitra selaku Founder dari Vvednue Indonesia,”disatu sisi kami juga memohon bantuan dari berbagai rekanan untuk mengarahkan kenalan mereka yang sedang mencari jasa pelayanan acara & pernikahan kepada kami dan dihargai dengan komisi sharing profit sebesar 25%.”

 

Untuk mengetahui informasi tentang Vvednue Indonesia lebih lanjut, Kalian bisa langsung melihat ke Instagram kami di ido.vvedue

read more
Serba-Serbi

Kuliner Berkelas di Kota Cilegon

IMG_5155 copy

Soft launching 14 September 2017 lalu, menjadi titik awal diperkenalkannya The Sapphire Restaurant di tengah kancah penikmat kuliner di Cilegon dan sekitarnya. Dengan mendapat respon yang sangat positif, The Sapphire Restaurant secara resmi dibuka dengan pemukulan gong yang dilakukan oleh President Director PT Krakatau Industrial Estate Cilegon, Bapak Priyo Budianto.

 

Acara yang dimeriahkan dengan berbagai acara menarik seperti Pemberian Penghargaan kepada Loyal Customer The Royale Krakatau Hotel dan juga dihibur dengan performance sempurna oleh group band Maliq N D’Essentials ini berlangsung sangat meriah dan sukses dan dihadiri oleh Jajaran Direksi PT KIEC, dan juga Pejabat, Muspida dan juga Pimpinan serta Person In Charge dari sejumlah Perusahaan yang bekerjasama dengan The Royale Krakatau Hotel. “The Sapphire Restaurant merupakan bagian dari The Royale Krakatau yang sudah menjadi icon kuliner sejak dulu di Kota Cilegon, dan kami merupakan Group dari Krakatau Steel dibawah naungan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon yang menjadi ciri khas dari Kota Cilegon itu sendiri”, ujar Ibu Mila Wulansari, selaku GM Commercial Property.

Restaurant yang terletak di gedung bagian depan Hotel The Royale Krakatau ini dipenuhi dengan tidak kurang dari 300 tamu undangan yang tidak hanya ingin menikmati hidangan-hidangan terbaik yang disajikan Team Kitchen The Sapphire Restaurant, namun juga ingin menikmati sajian musik oleh Maliq N D’Essentials yang menampilkan 12 hits terbaik album mereka.

Tampilan modern kontemporer yang dimiliki The Sapphire Restaurant kini terdiri dari 2 lantai, dengan fasilitas private meeting room, area makan indoor & outdoor serta coffee corner untuk mengakomodasi customer dari generasi millenial. Desain yang futuristik serta pemandangan langsung menuju hijaunya lapangan Golf menjadi poin plus Restaurant dengan luas area 1.030m2 ini. “Luas keseluruhan dari The Sapphire Restaurant ini adalah 1.030m2, jadi sangat memungkinkan untuk dapat mengadakan event apapun disini”, ujar Ibu Elok Sofa selaku Hotel Executive Manager The Royale Krakatau Hotel.

Berbagai kelezatan hidangan baru yang ditampilkan The Sapphire mulai dari Asia hingga Eropa sebagai Menu Unggulannya, “Kami memiliki banyak sekali pilihan menu baru yang disajikan di The Sapphire Restaurant, namun menu lama yang masih menjadi andalan dan juga ciri khas juga masih kami sajikan, salah satunya adalah Oxtail Soup atau Sup Buntut.”, ujar Bapak Iwan Abdurrahman selaku Food & Beverage Manager The Royale Krakatau Hotel. Dengan kapasitas hingga 300 pax, Restaurant ini cukup mampu mengakomodasi apapun acara anda, mulai dari sekedar berkumpul bersama teman, keluarga dan rekan kerja, sebagai lokasi private meeting, arisan, ulang tahun, hingga acara pernikahan sekalipun. “Seating Capacity dari The Sapphire Restaurant ini adalah 300 pax, namun untuk standing capacity kami bisa lebih dari itu. Bahkan sudah ada yang me-reserve untuk mengadakan Wedding disini untuk 1000 Pax. Lokasi strategis, tempat yang cozy dan elegant serta indahnya view lapangan golf seperti ini, The Sapphire Restaurant adalah venue terbaik untuk apapun event anda, bahkan Wedding sekalipun”, ujar Tyas Ayudhia selaku Promotions & Public Relations The Royale Krakatau Hotel.

The Sapphire Restaurant ini adalah The Sapphire Restaurant juga memiliki area Coffee Corner yang dapat mengakomodasi para pecinta kopi untuk sekedar ngopi cantik atau meeting non formal. “Biji kopi yang kami gunakan merupakan biji kopi terbaik dari vendor kopi terkenal, Illy Coffee, yang sudah sangat dikenal oleh para pecinta kopi di nusantara”, ujar Bapak Susaedi, Rooms Division Manager yang sebelumnya adalah Food & Beverage Manager The Royale Krakatau.

Berbagai program promosi dan paket telah siap mengakomodasi dan memanjakan para customer The Sapphire Restaurant, mulai dari Live Music yang menemani dan menyemarakkan momen bersantap para tamu setiap hari Senin hingga Rabu malam, dan juga setiap Sabtu siang; begitu juga dengan paket-paket yang cukup terjangkau bahkan oleh kaum Millenials dengan paket Light Meals-nya dengan harga mulai dari Rp 20.000++. Bagi customer yang sudah memiliki rencana untuk mengadakan event di The Sapphire Restaurant, dapat menikmati potongan harga hingga 15% dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. (tyas666)

read more
Serba-Serbi

Jelajah Ala Komunitas Sraddha

Rendra Agusta (baju merah) membimbing anggotanya membaca relief di candi sukuh (1)

Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat budaya Jawa di Indonesia menyimpan banyak keunikan. Utamanya adalah dalam hal komunitas. Salah satu komunitas unik yang berasal dari Kota Bengawan ini adalah komunitas Sradhha.

Komunitas ini dikatakan unik karena lebih memfokuskan diri untuk mempelajari aksara Jawa Kuno yang terdapat pada naskah-naskah kuno dan sejumlah prasasti-prasasti peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha. Oleh karena lebih fokus  dalam mempelajari aksara Jawa kuno, maka tidaklah mengherankan jika aneka kegiatan yang dilakukan pun berbeda dengan komunitas lainnya.

Komunitas ini didirikan oleh Rendra Agusta pada 2016 silam. Saat ini setidaknya ada 70 orang anggota yang aktif terlibat dalam komunitas ini.

“Lahirnya komunitas ini karena di Kota Solo ini minat masyarakat yang ingin mempelajari Jawa Kuno cukup banyak. Mereka seringkali kesulitan untuk menyalurkan minatnya tersebut. Di sisi lain sampai saat ini kajian-kajian mengenai Jawa Kuna juga masih sangat sedikit. Dengan alasan itulah komunitas ini didirikan,” ujar Rendra.

Biasanya komunitas ini akan berkumpul untuk melakukan kajian bersama di Musium Radya Pustaka, Solo, setiap sabtu. Untuk waktunya biasanya diberitahukan melalui akun instagram resmi dari komintas ini. Komunitas ini terbuka plus gratis bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui aksara Jawa Kuno secara mendalam. Aktifitas yang dilakukan oleh komunitas ini dalam mempelajari aksara Jawa Kuno tidak hanya dihabiskan di dalam ruangan saja. praktek langsung di lapangan juga menjadi agenda rutin dari komunitas ini.

Seperti yang dilakukan baru-baru ini, komunitas Sraddha melakukan penjelajahan peninggalan sejarah yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu. Adapun peninggalan yang didatangi okeh komunitas Sraddha untuk dikuak nilai kesejarahannya oleh komunitas ini adalah Situs Planggatan dan Candi Sukuh yang kesemuanya masih dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh dan Situs Planggatan merupakan peninggalan masa lalu yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Baik secara wujud dan nilai kesejarahannya. Banyak pengetahuan yang diambil dari dua tempat tersebut. Misalnya kita akan tahu fungsi bangunan itu untuk apa dari prasasti dan ke arah arah mana peninggalan itu menghadap.

“Ada beberapa hal yang menarik dari Candi Sukuh. Selain bentuknya yang tidak asimetris, di sana juga juga bisa dijumpai banyak angka tahun yang berbeda-beda. Adanya perbedaan angka tahun yang ditemukan di Candi Sukuh bisa dijadikan bukti bahwa candi tersebut dibangun secara bertahap,” ujar Rendra.

Lebih dari itu Rendra juga menambahkan jika beberapa sengkalan memet, seperti  yang ada di bagian gapura yang mana apabila dibaca berbunyi gapura buta anahut buntut (gapura raksasa menggit ekor ular). Adalah sengkalan yang berarti tahun 1359 Saka atau 1437 M. Angka tahun itu bisa ditafsirkan sebagai tahun selesainya pembuatan candi.

Sementara itu di dalam kompleks candi, di belakang dua arca garuda juga ditemukan angka yang berbeda. Pada bagian garuda yang satu menunjukkan angka 1363 Saka atau 1441 M dan pada bagian satunya lagi dapat dilihat angka 1364 Saka atau 1442 M. Tentang perbedaan angka tahun ini dengan sengkalan di gapura tadi adalah petunjuk bahwa candi sukuh tidak selesai dalam satu kali pembagunan.

Untuk Situs Palanggatan sendiri sampai kini belum banyak informasi yang diperoleh tentang situs ini. Diperkirakan situs ini merupakan reruntuhan candi yang dibangun pada masa era akhir dari majapahit. Secara fisik, situs ini bisa dikatakan benar-benar runtuh. Yang menarik dari Situs Planggatan ini adalah ditemukannya pahatan berupa sengalan memet yang bila dibanya berbunyi : gajah wiku mangan wulan. Sengkalan memet ini memiliki arti 1378 Saka atau 1456 M. Tahun tersebut kemungkinan adalah tahun selesainya pembangunan situs planggatan.

Di sisi lain yang membuat Candi Sukuh cukup menarik adalah bentuknya yang sering dianggap sedikit menyimpang dari ketentuan membuat bangunan suci Hindu sebagaimana yang dituliskan dalam kitab wastu widya. Dalam kitab tersebut sebuah candi seharusnya berdenah bujur sangkar dengan tempat yang paling suci berada di bagian tengah.

“Adanya penyimpangan ini mungkin karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa. Pudarnya pengaruh hindu ini menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat yang berasal dari jaman megalitikum. Buktiny adalah adanya kemiripan bentuk bangunan Candi Sukuh dengan teras berundak yang berasal dari jaman pra-Hindu,” jelasnya.

Untuk fungsi ada kemungkinan Candi Sukuh ini digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat peruwatan. Dugaan ini  dikuatkan melalui sejumlah panel relief yang menceritakan kisah-kisah peruwatan yang diwujudkan dalam cerita sudhamala, garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda di dinding candi.

 

Oleh : Sinung Santoso

 

read more
Serba-Serbi

JIWA YANG MENARI LEWAT TUBUH

Dariah, lengger Banyumas

Dari sisi Barat, penari itu berjalan sangat pelan menapaki lantai pendapa yang mengilat. Berpasang mata mengikut sepasang kaki kurus milik tubuh renta berkemben hitam. Selendang merah tersampir menutup bahu tipisnya.

Seluruh penonton seolah turut menanggung beban usia penari sehingga sesekali terdengar helaan napas, sampai sang penari berada tepat di depan grup pemusik pengiring, memberi isyarat, kemudian ia menari di hadapan puluhan pasang mata dan lensa kamera.

Dialah Dariah (89), penari lengger asal Banyumas,  satu dari enam maestro tari yang dihadirkan dalam Festival Payung ke-4 pada 15-17 September 2017, di Pura Mangkunegaran, Solo. Mereka menerima penghargaan atas sumbangsihnya melestarikan seni tari tradisi.

Dariah terlahir dengan nama Saddam, berjenis kelamin laki-laki. Tetapi indang lengger telah memilihnya. Sejak ia mendapati tubuhnya ingin menari, penduduk desa memberinya nama Dariah. Dan sejak saat itu tari menjadi hidupnya. Sang maestro terus belajar tentang kesejatian dalam hidup yang dijalani. Hingga usia senja, ia setia menggembalakan jiwa penarinya.

Apa yang dikatakan Phytagoras, ahli matematika Yunani, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, tidak berlaku bagi Dariah. Ia lebih cenderung pada apa yang dikatakan Plato bahwa tubuh adalah cermin jiwa. Tubuh Dariah mengikuti dan mencerminkan jiwa feminin seorang lengger dan meng-iya-kan semesta. Jiwanya menari melalui tubuhnya.

Lima maestro tari lainnya yang juga mendapat penghormatan adalah Munasiah Daeng Jinne dari Makassar, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Retno Maruti dari Jakarta, Rusini dari Solo dan Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, yang termuda di antara mereka alias berusia 63 tahun.

Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali

Meski sudah tidak muda, selain Dariah, mereka masih menari dan berkarya. Masing-masing mempresentasikan karya ciptaannya malam itu. Rusini (Roncen) dan Retno Maruti (Sekar Puri) kental dengan tari gaya Surakarta seperti yang digeluti selama memilih jalan tari. Munasiah membawakan nomor tari Pakarena, salah satu dari 19 karya koreo-nya. Berkostum dominan warna emas, ia menari sambil membawa kipas, diiringi seorang penari laki-laki dan dua perempuan. Ayu Bulantrisna meragakan Joged Pingitan dalam iringan musik bumbung dan gamelan khas Bali. Didik Nini Thowok menghadirkan beberapa karakter topeng, dengan tubuh lenturnya yang memukau penonton karena bermetamorfosis sangat detil dan terampil dengan topeng yang dikenakannya.

Didik Nini Thowok dari Yogyakarta

Jalan Tari

Masing-masing maestro memiliki keunggulan dalam bentuk dan ciri khas daerah mereka berasal. Mereka pun mempunyai kesamaan yaitu menggunakan kewenangan untuk memilih jalan tari sebagai laku hidup. Totalitas dan loyalitas menjadi pembuktian bahwa tari adalah persembahan bagi Sang Hidup.

Mereka menerima penghargaan bukan dihitung dari berapa lama mereka menjadi penari, tetapi konsistensi melestarikan seni tradisi dan sumbangsihnya pada kekayaan seni budaya Nusantara. Itulah letak penghormatannya.

Pada saat tari bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi mengintegrasikan seluruh unsur budi, kehalusan, filosofi dan keindahan, di situlah pernyataan tubuh tentang pengabdian dan meng-iya-kan kehidupan, muncul ke permukaan. Penghayatan setiap pengalaman, pengamatan setiap peristiwa zaman diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan luhur. Itulah yang segera tertangkap ketika enam maestro tari tradisi berhimpun.

Melalui tubuh, jiwa mereka menari. Mereka menjadi pendoa dan pengagung nilai-nilai kehidupan. Menari bukan lagi kerja berkesenian, tetapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, melatih rasa agar tajam dan taji.

Tari tradisi yang telah terintegrasi dengan diri para maestro bukan ilmu yang jatuh dari langit atau didapat secara instan. Mereka telah memulainya puluhan tahun di belakang dan dihidupi oleh lingkungan yang membentuknya. Meski Rusini mewarisi darah seni dari ibunya, Yohana Darsi Pudyorini, penari wayang orang Sriwedari, ia tak akan menjadi maestro seandainya tidak menanggapi panggilan jiwanya.

Ayu Bulantrisna Djelantik, Indo-Belanda yang lahir di Deventer 8 September 1947. Ia cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik, raja terakhir Kerajaan Karangasem, Bali. Ia tak mungkin  menjadi maestro tari seandainya hanya berfokus pada profesinya sebagai dokter THT dan mengabaikan semesta Bali yang kental aroma tari. Bulantrisna telah memilih dan memulai menapaki jalan tari sejak usia 7 tahun.

Retno Maruti dari Jakarta

Tari sebagai Salah Satu Pilar

Seperti bahasa ibu, bahasa penubuhan tari pun menjadi salah satu pilar penyangga indentitas sebuah bangsa. Meski para maestro pernah belajar tari daerah lain, mereka tetap mengakar dari tradisi yang mengalir dalam darah tarinya. Didik Nini Thowok, misalnya. Ia mendalami tari tradisi Cirebon, Sunda, Bali bahkan flamenco hingga Noh dari Jepang, namun dasar tarinya tetap Jawa. Munasiah, ia mempelajari tari Jawa dan Bali dan beberapa tari daerah lain, namun konsisten dengan seni tradisi Sulawesi.

Retno Maruti dan Rusini terus setia dengan gaya klasik Jawa (Surakarta) serta Dariah dengan lengger Banyumas. Tari tradisi adalah bahasa ibu tubuh tarinya.

Penghormatan

Upacara penghormatan bagi enam maesto pada Festival Payung ini adalah ajakan kepada generasi kini untuk menyusu pada jiwa-jiwa yang menari melalui tubuh, supaya tak tercerabut akar di tengah gempuran globalisasi budaya yang tak terbendung ini. Sumbangsih dan kekuatan cinta seni tradisi para maestro telah mengindahkan wajah Indonesia yang bermartabat dan bernilai luhur.

Munasiah Daeng Jinne dari Makassar

Reportase: Indah Darmastuti
Fotografer: Joko Sarwedhi

 

*Indah Darmastuti lahir dan bermukim di Solo. Menulis tentang seni pertunjukan khususnya tari. Ia juga menulis cerpen, puisi, novel. Karyanya antara lain novel Kepompong (2006), kumpulan novelet Cundamanik (2012) dan Kumpulan Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2015). Ia pengurus aktif Buletin Sastra Pawon Solo.

read more
Serba-Serbi

‘Green Opening’ POP! Hotel di Bandung!

DSC01718

Setelah menjalani renovasi yang memakan waktu sekitar 6 (enam) bulan, POP! Hotel Festival Citylink telah siap untuk beroperasi kembali dengan konsep yang lebih segar dan lebih inovatif.  Terhitung sejak tanggal 19 Juni 2017 yang lalu POP! Hotel Festival Citylink Bandung resmi menerima tamu dengan membuka sebagian besar kamar dari total kamar yang dimiliki.

 

Kamis, 3 Agustus 2017, POP! Hotel Festival Citylink Bandung mengadakan acara “Green Opening” untuk menandakan bahwa hotel telah  beroperasi 100% dan turut serta meramaikan perhotelan kota Bandung.  Memiliki 175 Kamar dengan interior desain yang baru, lebih fresh dan modern yang diberi nama POP! Room. POP! Room sendiri  terdiri dari dua jenis kamar, yaitu POP! Room single dan POP! Room twin.

Hotel ini juga dilengkapi dengan fasilitas khas POP! Hotels yaitu  PIT STOP Cafe yang beroperasi 24 jam dan menyajikan aneka makanan serta minuman cepat saji, Ruang Rapat yang menjadi satu dengan HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink Bandung dan Internet Corner di area lobby hotel.

Kelebihan lain yang dimiliki oleh POP! Hotel Festival Citylink ini adalah terintregasi dengan Mall Festival Citylink serta HARRIS Hotel and Convention Festival Citylink.  Fasilitas yang dimiliki oleh HARRIS  Hotel and Convention Festival Citylink dapat digunakan juga oleh tamu-tamu POP! Hotel Festival Citylink, seperti misalnya kolam renang, fasilitas kebugaran dan Dino Kid’s Club.

Renovasi yang dijalani oleh hotel ini telah mengubah image POP! Hotel yang pada awalnya kental dengan nuansa orange dan hijau berubah ke nuansa warna biru.  POP! Hotel Festival Citylink yang baru ini merupakan wujud dari POP! Hotel generasi baru yang dikelola oleh  Manajemen Hotel TAUZIA.

Pada acara “Green Opening” yang diadakan pada hari ini, Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung juga mengumumkan kerjasama dengan organisasi HUTAN ITU INDONESIA (HII) yang sesuai dengan konsep ‘Eco Friendly Hotel’ yang diusung oleh POP! Hotel secara keseluruhan di seluruh Indonesia.

Kerjasama yang dijalin oleh pihak Management POP! Hotel Festival Citylink Bandung dengan Hutan Itu Indonesia adalah dalam bentuk mengadopsi 10 (sepuluh) pohon yang ada di Hutan Adat Rantau Kermas, Jambi.  Tujuan daripada mengadopsi pohon ini adalah sebagai bentuk kepedulian dari pihak Management atas pentingnya keberadaan pohon sebagai penyuplai oksigen, menyerap karbon dioksida, sebagai tempat bernaung nya aneka satwa dan juga sebagai penyuplai cadangan air.

Operation Manager POP! Hotel Festival Citylink Bandung, Johnny Darmawan berharap bahwa dengan dijalinnya kerjasama antara pihak management dan Hutan Itu Indonesia, POP! Hotel Festival Citylink Bandung dapat membawa warna baru bagi hotel budget di Bandung.  POP! Hotel Festival Citylink Bandung diharapkan dapat memberikan alternatif pilihan akomodasi yang segar bagi para traveler yang ingin mengeksplor kota Bandung.

read more