close

OASE

OASETERASWARA-WARA

Sodom, Homofobia dan Paus

gay-tangan

Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dengan sepenuh hati, siapakah saya berani menghakimi dia? –Paus Francis

Ingat Sodom, ingat homoseksual. Dua kata serupa iklan saking keduanya terbenam dalam ingatan yang bertradisi Protestan ini. Apakah Sodom identik dengan kejahatan homoseksual?

Mari kita memeriksa kota purba Sodom.

Sedikitnya kata Sodom disebut 21 kali di Alkitab. Kebanyakan teks menganalogikan Sodom dengan segala hal yang tidak mulia. Ulangan 32:32, anggur dari Sodom beracun dan pahit. Yeremia 23:14, yang berzinah dan berkelakuan tidak jujur. Yesaya 13: 19, seperti Babel –kacau-balau. Zefanya 2:9, akan menjadi tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Yudas 7, yang melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Yehezkiel 16: 49, kesalahan Sodom adalah kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Jadi, kota Sodom bukan melulu kejahatan homoseksual. Segala macam kejahatan, iya.

*

Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa). Bukan Adam dan Steve. Sebuah petunjuk bahwa sejak awal Allah menciptakan (pernikahan) laki-laki dan perempuan. Bukan laki-laki dan laki-laki.

Teks Kejadian 1:28,” Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, kerap dijadikan pijakan bahwa itu adalah perintah Allah (dalam pernikahan) agar manusia beranak-cucu.

Coba kita runut dari awal penciptaan.

Kejadian 1:27, berbunyi, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambarNya diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Kejadian Pasal 2. Di sini (seolah) terjadi pengulangan (penciptaan), namun hanya pada tiga  makhluk hidup, yaitu manusia, tumbuhan, binatang.

Berikut teks-teksnya:

Kejadian 2: 7, “Tuhan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2: 9, “Lalu Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi.”

Kejadian 2: 19, “Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.”

Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Berdasar urutan di atas, teks Kejadian 1:28 tidak mengisyaratkan agar manusia berkembang biak (melalui perkawinan laki-laki dan perempuan). Tetapi agar manusia menguasai dan mengelola dan memenuhi tanah/bumi. Ingat, Adam dan Hawa belum “dihidupkan” oleh Tuhan Allah.

Teks Kejadian 2:24, bukan sebuah perintah agar manusia laki-laki dan perempuan menikah namun lebih pada pernyataan tentang penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Artinya, manusia menikah atau melajang bukan hal yang dogmatis sifatnya. Itu keputusan pribadi manusia yang bersangkutan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan.

*

Pekan lalu saya mengikuti diskusi bertajuk Tuhan, Anakku LGBT, Apa yang Harus Kulakukan. Ini kali pertama saya berada di lingkungan ini, dalam arti memahami apa yang sedang terjadi di kalangan mereka, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang pertama.

Seorang muda Tionghoa, aktivis gereja, sejak belia sudah merasakan perbedaan dalam dirinya. Tidak berani membuka diri karena mengkhawatirkan perasaan orangtua. Lama menyimpan rahasia itu sendirian, memutuskan coming out (istilah mengaku identitas di kalangan LGBT) pada usia 25. Di luar dugaannya, respons orangtua hanya kaget pertama mendengar, setelah itu menerima keberadaannya. Ia membesarkan hati orangtua bahwa keadaan dirinya bukan karena kesalahan orangtua. Bahwa tidak ada yang berubah dalam relasi mereka setelah pengakuan ini. Selama ini ia menjalani selibasi dan merasa hubungannya baik-baik saja dengan Tuhan.

Samuel Mulia, kolumnis di koran harian, salah satu narasumber, berbagi pengalaman yang segar. Keluarganya cukup demokratis, bahkan ayahnya membebaskan dia melakukan apa yang dia inginkan, selama ia dapat bertanggung jawab dengan pilihannya. Ziarah perjalanan rohaninya dengan Tuhan sebagai gay, menghidupkan cerita, dan sungguh bermakna. Tidak ada yang salah hidup sebagai gay.

Pengalaman seorang ibu dengan anak transgender sungguh melelehkan hati yang beku. Ia dan suaminya –yang adalah penatua- luar biasa kaget saat mendengar salah satu anaknya coming out pada usia 17 tahun. Mereka sangat bingung bagaimana merespons ketika anaknya berkata bahwa dia sebenarnya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Lebih bingung karena tidak ada tempat berbagi. Keluarga besar tidak. Apalagi gereja. Sangat lega mendengarkan dia tetap dan masih dan akan mengasihi anaknya yang itu.

Seorang aktivis menyebut data bahwa LGBT di Indonesia adalah fenemona gunung es. Mereka yang coming out hanya pada posisi puncak. Jumlah terbanyak justru berada di bawah gunung, yang tidak terlihat.

Sayang sekali mendengar pernyataan seorang psikilog yang mengatakan bahwa di kalangan mereka pun belum sepakat dalam hal melayani LGBT. Padahal sebagai intelektual mereka diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan kalangan LGBT untuk saling memahami. Menyedihkan mendengar pengalaman seorang individu dengan orientasi homoseksual yang berada di ruang konsultasi, malah dinasihati untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkinkah ruang-ruang nyaman bagi LGBT diciptakan pada tingkat keluarga, sosial, Negara?

*

Dan baru saja saya mendapat lontaran pesan di dinding WA saya. Tulisan seorang ahli saraf. Judulnya provokatif, Mari kita basmi bersama (maksudnya LGBT). Dia menorehkan ingatan dengan segala informasi negatif tentang LGBT. Himbauan agar setiap keluarga mengamankan anggota keluarga dari dari serangan LGBT.

Tulisan itu memberi isyarat bahwa sebagian besar masyarakat dan gereja bersikap homofobik terhadap masalah ini. Pada beberapa kasus pada tingkat banal dan traumatik.

Homofobia adalah diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Bentuk yang muncul dari ketakutan adalah tindak kekerasan atau penolakan terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap LGBT kebanyakan didasarkan atas ketakutan karena kurangnya pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada mereka, tidak mau tahu dan langsung menghakimi. Mungkin ingatan mereka yang dimulai dari duo Sodom-homoseksual, perlu sedikit demi sedikit dikikis. Kitab suci berkata, di mana ada ketakutan, di situ kasih lenyap.

Pengarang Narnia, C.S. Lewis, menulis sesuatu yang indah tentang iman. Ia berujar bahwa iman adalah sebuah proses perjalanan hidup dan proses dialogis dengan Tuhan dan dengan diri sendiri. Keraguan adalah bagian dari iman. Mempertanyakan akan membuat kita mencari tahu, tidak berhenti di tempat. Iman sejatinya selalu bertumbuh.

Paus Francis, bapa suci umat Katolik, telah menyerukan agar kita tidak menyingkirkan mereka ke pinggiran. Kita seharusnya menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya pula kita menyambut seruan itu dengan sepenuh kemanusiaan kita.

Kalau Yesus pernah bertanya kepada Petrus yang tiga kali menyangkal, dengan tiga pertanyaan sama, apakah kamu mengasihi Aku, perlu berapa kali Yesus bertanya kepada kita pertanyaan sama, sampai kita menerima seorang dengan LGBT di tengah kita?  (itasiregar10/10/2018)

 

 

 

read more
FeaturedOASETERASWARA-WARA

Makan-Minum: Sebuah Drama Hidup dan Mati

Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018OASETERAS

Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya*

hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

read more
OASETERASWARA-WARA

Kata Kunci Donggala

Masjid apung di Donggala

 

Saya sedang mengobrol intens bersama teman di ruang tamunya ketika stasiun televisi menampilkan gambar-gambar hidup. Teks berlari pada layar mengatakan gempa 7,7 skala Richter sedang menimpa Palu.

Kami menahan obrolan. Dalam diam teman saya bangkit dari duduk, membesarkan volume televisi, meyakinkan bahwa gempa memang terjadi waktu itu. Skala 7,7 adalah goncangan dahsyat. Gempa yang menggentarkan di Lombok Juli lalu berskala 7,0.

Kami berdiri di depan televisi, tidak berkomentar sesuatu pun. Televisi terus menampilkan gambar-gambar akibat gempa. Kami bertahan dalam posisi itu mungkin satu menit. Setelah itu tiba-tiba kami mendapati diri kami duduk di tempat semula.

Obrolan macam apa yang menahan kami dari rasa ingin tahu tentang bencana di Donggala?

Sambil mengobrol, setiap lima belas menit –atau kurang- adik teman saya keluar dari kamarnya untuk berbagai urusan. Kencing atau bertanya sesuatu kepada teman saya yang sudah pasti adalah halusinasinya.

“Mau makan sekarang?” tanya teman saya, pada kemunculan ke sekian kali adiknya di mulut pintu kamar.

Si adik terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Teman saya membimbingnya duduk di meja makan sementara ia mengambil piring di dapur. Dari belakang punggungnya kami menyaksikan aktivitas makan si adik.

“Kenapa kepalanya miring ke kanan?” bisik saya.

“Dalam pikirannya, seseorang sedang menaruh beban besar di leher kirinya,” jawab teman saya.

Nasi dan lauk masih menumpuk di piring, si adik sudah berpindah duduk ke kursi panjang, di seberang televisi. Penampilannya membuat mata sedih memandang. Kelopak matanya berat. Bibir bawahnya tertarik turun. Napas tak beraturan. Tubuh hendak rubuh.

Dalam kondisi normal ia makan kurang dari lima menit, bisik teman saya.

Semua ini bermula dua minggu lalu. Psikiater adiknya -yang sudah empat tahun menjadi dokter si adik- memutuskan untuk mengurangi dosis obat. Alasannya supaya si sakit mandiri.

Namun akibatnya fatal. Adiknya menjadi lebih sering halusinasi. Gelisah dan tidak dapat tidur. Suara-suara di dalam kepala makin mengacau. Sakit kepala hebat. Berat badannya sudah turun empat kilo.

Rutinitas teman saya pun terganggu. Beberapa kali pulang lebih cepat dari kantor. Dua hari terakhir ia terpaksa cuti mendadak karena adiknya harus didampingi detik demi detik, dalam arti yang sesungguhnya.

Delapan tahun sudah teman saya merawat adik lelakinya itu. Fakta mengatakan bahwa mereka bersepuluh saudara. Kecuali teman saya, tak satu pun pasang badan untuk saudara mereka yang schizofrenia sejak usia muda itu. Teman saya menerima tongkat estafet sebagai caregiver dari ibunya, yang meninggal delapan tahun lalu.

Teman saya menjalani rutinitas baru sejak adiknya menumpang di rumah. Satu dua tahun dia masih berharap salah satu dari saudaranya akan berubah sikap. Sayangnya waktu yang diharapkan belum muncul.

Dari koceknya sendiri, teman saya meyakinkan adiknya mendapat pengawasan dari psikiater terbaik dan obat-obat paten berkualitas. Sekarang ini dia sudah yakin seratus persen bahwa si adik hanya tergantung kepadanya, seorang.

Lalu terjadilah pada tahun kelima adiknya di rumah, manajemen kantor teman saya –entah karena apa- memintanya untuk pensiun dini. Singkatnya, kantor tidak lagi membutuhkan keahliannya. Mendengar ultimatum itu, yang muncul dalam benaknya adalah wajah adiknya.

Saya harus mencari pekerjaan baru. Kalau tidak, bagaimana membeli obat-obat untuk adiknya?

Saat itulah ia terserang napas pendek. Kadang-kadang tidak bisa bernapas. Ia merasa setiap hari akan mati.

Ia sudah memasang beberapa kaca pada dinding rumahnya untuk memberi kesan lega. Berkonsultasi dengan rohaniwan. Membaca buku-buku yang menguatkan jiwa. Mendengarkan musik-musik bagus. Mengikuti nasihat-nasihat modern untuk menenangkan diri. Namun penderitaan tidak berkurang panjangnya. Tubuh tidak menerima terapi semacam itu. Setiap hari ia menjelajahi dasar bumi yang paling gelap dan sunyi.

Berapa banyak orang berbalik dari Tuhan karena penderitaan?

Samuel Beckett, pengarang Inggris salah satu penerima hadiah Nobel, menulis banyak karya gelap dan pesimistik, bukan tanpa alasan. Karyanya yang penting, Menunggu Godot (1952), adalah kisah dua orang yang menunggu kedatangan seseorang yang tidak pernah terjadi.

Tahun 1920, jalanan di Dublin, kota kelahirannya, dipenuhi tentara-tentara yang nyaris gila setelah kembali dari Perang Dunia I. Pemandangan itu menusuk kemanusiaannya. Sekitar waktu yang sama kawan sekolahnya menolak Tuhan dan kekristenan.

Dibesarkan dalam keluarga penganut Anglican, Beckett diajak oleh ayahnya ke gereja setiap Minggu sore untuk mendengar khotbah. Ayahnya wafat tahun 1933. Ibunya meninggal tahun 1950 karena komplikasi Parkinson dan patah tulang paha. Selama tiga setelah bulan tahun 1954, ia menemani adiknya yang sekarat karena kanker paru.

Kalau memang Tuhan ada, gugatnya, Tuhan seperti apa yang mengatur dunia semacam ini? Menghibur seorang yang sedang menderita dengan kata-kata surga, menurutnya adalah penghinaan.

Pengarang dunia lainnya, CS Lewis, menghadapi realitas lain saat kematian istrinya. Dalam bukunya A Grief Observed (1961), ia menulis Tuhan hanya berdiri di belakang pintu, mengunci rapat-rapat, terhadap penderitaannya.

Namun pada akhir buku ia menulis, “Ketika saya bertanya kepada Tuhan dan mendapat jawaban tidak, itu tidak yang khusus. Bukan pintu terkunci. Bukan tatapan tanpa belas kasihan. Saya hanya melihat Dia menggeleng, memberi lambaian pada pertanyaan saya, seperti berkata, “Berdamailah, Nak, kamu belum mengerti.”

Dapatkah yang fana bertanya Tuhan tidak punya jawaban atas satu pertanyaan? Itu seperti bertanya, berapa jam yang diperlukan untuk satu mil? Kuning itu bentuknya segi empat atau bulat?

Pada akhir buku, ia menulis Poi si tornò all’ eterna Fontana. Istrinya berdamai dan tersenyum, kembali kepada Sumber Mata Air Abadi (baca: Tuhan).

Mengetahui bahwa kita menderita bukan karena Allah membenci kita itu penting. Bahwa penderitaan selalu ada batas akhirnya. Bahwa kehadiran Allah akan membuat kita kuat menghadapi keadaan-keadaan yang tak terpikirkan dalam hidup.

Akhirnya, teman saya menemukan kata kunci saat berkonsultasi dengan psikiaternya. Panic attack biasanya menyerang seseorang dengan tanggung jawab besar, ucap si dokter. Jawaban yang sederhana dan berharga. Seharusnya ia sudah tahu jawaban itu. Ketika sesak napas menyingkir, dia mendapat pekerjaan baru begitu saja.

“Planet bumi ini diatur oleh sistem interdependen yang sangat teliti dan khusus. Saya pernah baca di mana gitu. Termasuk perubahan-perubahan permukaan bumi yang tengah bergerak ini,” ucap teman saya lirih, tanpa bermaksud mengecilkan bencana hebat yang kami saksikan di televisi.

Saya mengangguk-angguk pendek. Tidak kuasa menimpali.

Hampir larut saya pamit. Dia berkata akan mengabari apa pun yang terjadi pada adiknya. Kepala saya penuh. Sementara saya tidak memberinya nasihat apa pun. Dia memang tidak butuh nasihat saya yang amatir ini. Dia ahlinya. Sudah menemukan kata kunci bagi penderitaan-penderitaannya. (itasiregar/1/10/18)

 

*Foto Intisari.grid.id

read more
OASETERASWARA-WARA

Kecemasan: Jalan Merengkuh Keutuhan?

Di Ambang Batas 2018

Teks Alan Darmasaputra*

Gambar Diambang Batas (2018) karya Surajiya

 

Bahagia itu tidak penting. Masalahnya, kita tak tahu apa yang kita mau. Yang bikin bahagia bukan karena kita mendapat apa yang kita mau. Tetapi karena memimpikannya. Bahagia itu bagi para oportunis. Kepuasan hidup yang mendalam adalah hidup yang senantiasa bergumul, terutama dengan diri sendiri. Jadi mau bahagia terus, tetaplah bodoh.” – Slavoj Žižek dalam The Puppet and The Dwarf

Pada 2013, grup band metal Dream Theater asal Amerika, sudah menulis lagu The Enemy Inside. Liriknya menggambarkan pergulatan seseorang menghadapi pengalaman pasca trauma, menghadapi musuh imajiner yang tak lain adalah diri (dan imaji) sendiri. Lagu itu berlatar para veteran dan korban perang.

I’m running from the enemy inside/looking for the life I left behind/these suffocating memories are etched upon my mind/and I can’t escape from the enemy inside. (aku lari dari musuh dalam diriku/mencari hidupku yang lama/goresan kenangan yang menindas benakku/dan aku tak mampu kabur dari musuh di dalam diriku).

Mana lebih mengerikan: menghadapi obyek yang mustahil ditaklukkan atau ketidakjelasan obyek yang dihadapi?

Konon, masalah utama manusia jaman now adalah kecemasan. Kecemasan adalah musuh di dalam diri yang gagal diobyektifikasi. Kecemasan menghantui keseharian. Sejak boker pagi sampai berkeringat malam di kamar ber-AC. Ia nyelonong ketika kita ingin rileks. Sialnya, ketika kita berusaha menjelaskan keberadaannya, seketika ia lenyap.

Kecemasan adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak familier, tidak dapat dikendalikan. Pada sisi lain, manusia merindu kebaruan, terobosan, sesuatu yang lebih daripada hari ini.

Kita coba tengok ke belakang dari perspektif penciptaan. “Bumi belum berbentuk dan kosong (formless void; KJV); gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kejadian 1:2).

Ada dua hal menarik di sana. Pertama, penciptaan berangkat dari stabilitas (void) yang dirusak. Dalam prinsip sains, void dilukiskan sebagai kondisi atom yang berada dalam kondisi tidak aktif sepenuhnya. Diam dan stabil. Di tengah kestabilan itulah, penciptaan menerabas.

Kedua, penciptaan ditandai dengan Yang Ilahi menghampiri kekacauan (dilambangkan dengan air dalam tradisi Yahudi kuno). Artinya, yang melampaui dan baru tak jarang beriringan dengan sesuatu yang asing, acak, tak tertebak.

Kita melihat dua sisi penciptaan. Kestabilan yang dirusak dan kebaruan yang asing. Dari kacamata ini, alih-alih memandang ironi kecemasan, barangkali kita dapat melihatnya sebagai bagian dari citra Ilahi yang senantiasa merindu pembaruan, hasrat yang melampaui hari ini.

Hans Urs von Balthasar, seorang teolog Swiss, menyebut kecemasan didesain oleh Allah sebagai alarm yang mengingatkan kita pada realitas. Alih-alih berkubang pada mimpi-mimpi kosong bahwa segala sesuatu tunduk di bawah kuasa pikiran.

Pasca kejatuhan manusia pertama, kecemasan turut mengalami pergeseran makna. Dosa merusak berbagai relasi manusia (dengan Allah, sesama, diri sendiri). Juga berdampak pada cara manusia memandang keterbatasannya. Keterbatasan yang seharusnya mendorong manusia tertuju pada Allah, malah membuat manusia lari dan bersembunyi dari Allah, Sang Obyektif.

Jawaban manusia pada Kejadian 3:10 kepada Allah menggambarkannya dengan baik. “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Balthasar menggambarkan naluri pendosa untuk menyembunyikan rasa bersalah di balik tirai keterlupaan. Manusia tidak hanya ingin melupakan tetapi juga ingin dilupakan oleh Allah. Karena dosa, Allah menjadi sumber sekaligus obyek kecemasan itu sendiri.

Dalam Summa Theologia, Thomas Aquinas menyebut kecemasan sebagai gairah jiwa (passion of the soul). Gairah tidak dipandang optimistik seperti obrolan kafe anak-anak Jaksel. Namun semacam dorongan menggebu yang tak dapat dihindari. Menghadapi kecemasan, seseorang cenderung berputar-putar pada diri sendiri. Ia “menggelapkan” diri dalam ketakutan lalu mencipta imaji-imaji kosong.

Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis, menyebut imaji-imaji kosong sebagai fantasi fundamental. Fantasi fundamental adalah impian ganjil seseorang bahwa ia akan mendapat kepuasan melalui obyek hasrat, yang juga ganjil.

Aquinas menjelaskan kecemasan didasari oleh kejahatan yang tak dapat dihindari dan tak terduga (unforeseen irresistible evil). Dalam konteks hari ini barangkali dapat ditafsir sebagai perasaan tidak aman (insecurity).

Aspek paling menakutkan dari kecemasan bukan kecemasan itu sendiri. Rasa cemas bahkan “menghasut” kita untuk punya kendali atas segala hal. Bukankah itu menggambarkan kecemasan umum generasi milenial hari-hari ini? Kecemasan finansial, masa depan, pasangan hidup, berkeluarga, dan sebagainya. Kita ingin semua berjalan seperti yang kita mau. Meleset, rasa tidak aman menanti di ambang pintu.

Solusi umum kecemasan (baca: laku dijual) adalah berbahagia. Jargon-jargon “jangan lupa bahagia”, “bahagia itu sederhana”, jamak kita dengar. Kita diminta untuk menerima segala ketidakamanan hidup, mengalihkannya pada kesenangan-kesenangan kecil.

Tidak salah dengan me time, tentu saja. Tetapi kebahagiaan bukan lawan dari kecemasan, melainkan sebuah prakondisi. Kecemasan tak jarang hadir kala situasi sedang stabil, tidak ada tekanan, semua baik-baik saja.

Maka, lagi-lagi, apakah kita benar-benar tahu apa yang kita mau? Bagaimana kita yakin apa yang kita hasrati adalah keinginan kita sendiri? Jangan-jangan kita menghasrati sesuatu yang didiktekan secara tak sadar oleh lingkungan dan “kewajaran masyarakat” sekitar kita. Dalam keberdosaan, kita dikutuk untuk tidak benar-benar tahu apa yang kita mau.

Perjanjian Lama mengontraskan “kecemasan orang fasik” dan “kecemasan orang baik”. Kecemasan orang fasik tidak aman (insecure) pada obyek yang ganjil, bahkan imajiner. Allah berpesan, “Jangan takut.” Perkataan ini lebih sebuah perintah. Bukan hiburan. Perintah jangan takut satu paket dengan Perjanjian Allah.

Alasan yang mendasari umat Allah dilarang takut adalah Perjanjian Allah. Allah mengimanenkan diri-Nya melalui Perjanjian. Ketakutan yang imajiner tidak dihilangkan tetapi dialihkan pada takut akan Allah (Yesaya 8:12-13), melalui hukum-hukum-Nya.

Dalam kerangka ini kita memahami “kecemasan orang baik”. Mereka yang taat pada hukum Allah pun mengalami masa-masa ragu, takut pada lawan lebih besar, pada ketidakjelasan sebab penderitaan yang dialami. Kecemasan kudus mendorong seseorang untuk berseru memohon belas kasihan Allah.

Pada Perjanjian Baru, makna kecemasan dipertajam. Balthasar menyebutnya sebagai kecemasan Sang Penebus (anxiety of The Redeemer). Sebegitu penting kita (manusia) dan dunia bagi-Nya, maka Sang Putra mengambil rupa manusia, dan sepanjang hidup merasakan kecemasan dalam berbagai ratap-tangis dan keluh (Ibrani 5:7).

Bila kecemasan orang fasik dan kecemasan orang kudus membuat manusia sama-sama takut (baca: ingin menghindari) bertatap langsung dengan Allah sebagai kengerian tertinggi, maka Sang Anak Manusia sudah menghadapinya dengan langsung meminum cawan murka Allah.

Peristiwa salib mengubah drastis makna kecemasan. Dalam Kristus, kecemasan tidak lagi dinilai sebagai ekspresi keberjarakan kita dengan Allah. Sebaliknya, kecemasan mengambil bagian dalam penderitaan dan kecemasan Yesus. Dengan kesadaran bahwa kita dicintai sepenuh-penuhnya oleh Allah, insecurity digantikan ketenangan bahwa kita dibenarkan sekalipun nurani merongrong (1 Yoh 3:19-21).

Menurut Balthasar, mereka yang hidup dalam karya penebusan Kristus akan mengalami reorientasi kecemasan. Kecemasan yang tadinya berputar-putar pada diri sendiri, menutup diri, dan membuat imaji ketakutan, menjadi terarah ke luar. Ia menyebutnya kecemasan yang ditanggung (anxiety that is borne). Arti lainnya, kecemasan seorang Kristen selalu komunal sifatnya.

Kita memandang pernyataan ini dalam beberapa arti. Komunitas berperan sebagai tempat berbagi beban kecemasan atau kecemasan struktural. Bahwa kecemasan bukan masalah individual yang solusinya dikembalikan ke penderita. Namun sebagai kecemasan yang bersolidaritas.

*Penulis adalah pengasuh Diskusi Selasaan, sebuah diskusi teologi yang diadakan oleh Gereja Komunitas Anugerah setiap Selasa pukul 19.30 WIB di Jalan Guntur 15 Jakarta.

read more
OASE

Kedudukan

crown-759296_960_720

Orang Yahudi purba terancam genosida. Sebabnya sepele. Karena Haman benci Mordekhai. Benci sampai ke ubun-ubun. Haman orang Amalek. Mordekhai orang Yahudi asli.
Berawal dari Haman diangkat panglima. Kedudukannya dengan Raja Ahasyweros (Xerxes dalam bahasa Inggris, memerintah Persia Kuno 522-486 SM), sebelas dua belas.
Kekuasaan Persia saat itu tersebar dari India sampai Etiopia. Terbagi dalam 20 daerah administratif. Dibagi menjadi 127 wilayah. Masing-masing wilayah dipimpin oleh seorang bupati.
Saat ia diangkat, Raja memberi instruksi untuk hormat kepadanya. Dengan cara berlutut dan sujud.
Haman gila hormat. Mordekhai tidak berlutut dan sujud ketika berpapasan dengannya. Melihatnya, ia jengkel. Ia menelusuri asal-usul Mordekhai. Makin benci setelah tahu Mordekhai orang Yahudi.
Mordekhai juga punya masalah. Agama Yahudi punya banyak aturan. Menuntut mereka taat pada hukum Allah melalui Musa. Yaitu Hukum Taurat. Ia tidak boleh berlutut dan sujud melebihi Allahnya.
Haman orang Amalek. Ia keturunan raja Agag. Bangsa Amalek dan bangsa Yahudi bermusuhan sejak zaman Saul, raja pertama Israel (1030-1000 SM). Waktu perang, Saul diperintahkan untuk menghabisi orang Amalek. Namun ia selamatkan rajanya. Lalu Samuel, hakim Israel masa itu, mencincang Raja Agag. Haman lahir dari keturunan Agag yang berhasil kabur dari perang itu.
Karena dendam, Haman menyusun UU. Isinya, membunuh orang Yahudi adalah sah. UU dibuat pada bulan Nisan (bulan pertama kalender Yahudi). Pelaksanaan jatuh pada tanggal 13 bulan Adar (bulan ke-12).
Dalam rangka melaksanakan misi, butuh banyak uang. Honorarium penerjemah UU dari bahasa Aram ke bahasa masing-masing wilayah. Ongkos pesuruh cepat dan penyewaan kuda. Dan koordinator misi. Seluruhnya 375 ton perak (kurs perak hari ini Rp10.250).
Semua Haman siapkan. Terakhir ia UU perlu stempel kerajaan agar sah dan kuat. Stempel adalah cincin Raja. Ia menghadap raja dan menceritakan semuanya.
Dan dana operasional saya tanggung sendiri,” kata Haman.
Itu uang-uangmu. Laksanakan, jawab Raja.
Raja melepas cincinnya. Cincin ditekan pada 127 lelehan lilin untuk dibuat stempel. Lalu pesuruh-pesuruh cepat berangkatlah. (Pembawa surat berkuda ini merupakan sistem pos kuno yang dibuat sejak raja Koresy pada 535 SM).
UU itu bikin seluruh dunia gempar. Merespons UU tersebut, Mordekhai secara demonstratif meraung-raung di pintu gerbang. Kalau zaman sekarang, di bundaran HI atau di depan Istana Presiden.
Aksi Mordekhai sampai ke telinga Ester. Ester (Hadassah bahasa Ibrani) adalah ratu Persia. Ia sepupu Mordekhai. Namun identitas keyahudiannya tak seorang pun tahu.
Informan Ester mendapat info soal latar belakang aksi Mordekhai. Dan Mordekhai mengatakan satu rahasia kepadanya. Bahwa mungkin, alasan Ester masuk ke lingkaran kerajaan berkedudukan sebagai ratu- dipersiapkan untuk maksud seperti ini. Arti lainnya, ia harus melakukan sesuatu dengan posisinya sebagai Ratu.
Ester sangat tertekan. Empat tahun ia menjadi ratu. Semua aman-aman. Ia tak pernah terlibat dalam politik. Sampai peristiwa ini. Posisinya membingungkan. Dimakan ayah mati. Dibuang ibu dibunuh.
Ini risiko Ester kalau dia terlibat di sini. Satu, identitas keyahudiannya akan terbuka. Dua, UU itu akan membunuhnya juga.
Ester seperti mau mati rasanya. Saking tegangnya ia menetapkan puasa tiga hari. Dan pada hari ketiga, ia merasa tenang dan siap. Ia siap bukan untuk menghadap raja. Ia siap karena sudah menerima segala kemungkinan. Bila aku harus mati, matilah, batinnya.
Ia pun mengenakan gaun kebesarannya. Berdiri di pelata ran istana. Ia menunggu raja melihatnya. Lalu raja mengulurkan tongkat emas. Artinya, raja tidak tahu apa-apa soal intrik kerajaan. Tetapi ia masih waswas. Siapa tahu informan Haman mengendus rencananya.
Apa yang kauinginkan, Ratuku? Setengah kerajaan pun akan kuberikan, kata Raja kepada Ester. Suasana hatinya sedang bagus, pikir Ester.
Hambamu ini mengadakan perjamuan minum anggur. Kalau berkenan, biarlah Raja dan Haman, panglima raja, datang.
Haman pun dipanggil. Mereka duduk bertiga. Makan dan minum. Ester melempar senyum sambil mempelajari wajah Haman. Wajah Haman lurus saja.
Sekarang, sebutkan apa permintaanmu, Sayang?
“Rajaku, hamba mengadakan perjamuan minum besok pada jam seperti ini. Bila berkenan Raja dan Panglima Haman datang.
Mendapat undangan kedua kalinya, hati Haman melambung tinggi. Ester tidak langsung mengemukakan masalahnya tapi menunggu. Mungkin ia menunggu sampai Haman memperlihatkan jati dirinya. Atau memberi kesempatan raja untuk tahu siapa Haman.
Dalam perjalanan pulang, Haman berpapasan Mordekhai. Mordekhai masih tidak berlutut dan tidak sujud. Panas hati Haman kian membara. Satu rencana jahat tumbuh di pikirannya.
Di rumah, ia membeberkan kekesalan hatinya kepada Zeresy, istinya. Kalau dia selalu menjadi sumber masalahmu, gantung dia di tiang, saran istrinya. Sore itu juga Haman menyuruh orangnya membuat gantungan setinggi 25 meter. Besok pagi kupastikan ia sudah disula di sana, katanya. Malam itu ia tak sabar menunggu pagi.
Pada malam yang sama, Raja Ahasyweros tidak bisa tidur. Ia gelisah. Subuh-subuh, ia panggil pegawainya. Minta dibacakan peristiwa-peristiwa kerajaan. Salah satunya tentang Mordekhai yang pernah berbuat jasa. Dua sida-sida bersekutu membunuh Raja. Gagal karena laporan Mordekhai.
Mordekhai dapat apa atas jasanya itu?
Tidak ada, Raja.
Persis waktu itu Haman memasuki pelataran. Raja menyuruh Haman masuk.
“Haman, penghargaan apa yang layak bagi seorang yang telah berjasa kepada Raja?
Haman mengira, orang berjasa yang dimaksud raja adalah dirinya. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab, orang itu harus dipakaikan pakaian kebesaran, diberi mahkota, diarak keliling kota dengan kereta kerajaan, agar warga mengelu-elukan dia pahlawan.
“Usul yang bagus. Hari ini juga, lakukan apa yang kau bilang itu kepada Mordekhai.
Haman bagai disambar petir mendengarnya. Ia nyaris terserang stroke. Tetapi ia melaksanakan tugasnya. Membesarkan lawan politiknya.
Selesai acara, Haman pulang. Dan ia curhat kepada istrinya. Mendengar itu, istrinya berkata, Jika kamu sudah jatuh sekarang ini di depan Mordekhai, orang Yahudi itu, kau takkan sanggup melawan dia. Kecuali kamu bertindak hati-hati.”
Lalu persis magrib ia dijemput sida-sida kerajaan ke perjamuan minum Ratu.
Haman duduk bersama Raja dan Ratu, minum anggur. Ia merasa cemas.
Sekarang, katakan pemintaanmu, Sayang? kata Raja kepada Ester.
“Rajaku, bangsa hambamu ini telah terjual untuk dipunahkan, dibunuh, dan dibinasakan. Sekarang yang kuminta adalah nyawaku sendiri,” kata Ester.
Jantung Haman seperti tak berdetak mendengar penuturan Ratu. Jadi Ratu orang Yahudi?
Siapa orang yang merancang rencana keji itu, Sayangku?
Dialah Haman, orang jahat itu!
Wajah Haman putih seperti kapas.
Raja murka. Ia bergegas ke taman untuk menenangkan hatinya. Sementara itu Haman memohon nyawa kepada Ratu, yang berbaring di katilnya. Dari taman Raja melihat pemandangan itu, marahnya memuncak, Berani-beraninya si sontoloyo itu menggagahi Ratuku di istanaku sendiri!”
Mendengar itu, pegawai istana segera menutupi wajah Haman. (sebagai tanda akan dihukum mati karena melanggar peraturan istana). Dan Harbona, salah satu sida-sida, berkata, Haman membuat tiang gantungan untuk menyulakan Mordekhai.
Sulakan dia di tiang yang dia buat sendiri! titah Raja.
Cerita ini tidak berakhir bahagia. Pada 13 bulan Adar tetap berlumur darah. Kisah ini menjelaskan bahwa kedudukan bukanlah sarana untuk mengamankan diri. Kedudukan merupakan kekuatan strategis dalam memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi kemaslahatan umat manusia.
(itasiregar/Juni2018)

read more
OASE

Kartini-Kartini Era Perjanjian Lama

Zelophehad

Syukurlah sekarang Hari Kartini tak dirayakan dengan berkebaya semata. Memang seharusnyalah Kartini (1879-1904) diingat dari buah-buah pikirannya.

Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon (Agustus 1900) menerangkan kegelisahan Kartini. “Banyak sudah yang kulihat dan kudengar yang membuat hatiku hancur, sehingga dicambuknya hatiku supaya aku tegak berdiri melawan adat, kebiasaan, yang menjadi kutuk bagi perempuan dan anak-anak.”

Bukan hal-hal jauh yang dipikirkan Kartini. Namun dunia yang dia lihat sehari-hari. Ketika kakak perempuan tersayangnya berkata ia berpikir tidak wajar, Kartini mencurahkan isi hatinya kepada sahabat penanya yang jauh di Belanda, Stella Zeehandelaar (9 Januari 1901).  “Kemerdekaan perempuan telah terbayang di udara,” tulisnya.

Perjanjian Lama pun merayakan beberapa nama perempuan yang mempengaruhi dunia kecil mereka. Meski taruhannya maut.

Pada zaman Musa (sekitar 1300SM) adalah lima perempuan. Mahla, Noa, Hogla, Milka, Tirza. Kakak beradik ini memperdebatkan satu peraturan yang merugikan mereka. Ketika Zelafehad, ayah mereka, meninggal, tanah milik keluarga tidak serta-merta jatuh ke tangan mereka. Hukum saat itu mengatakan: warisan hanya untuk anak laki-laki.

Lantas mereka sepakat menghadap Musa, pemimpin agama dan pemimpin lainnya. Mereka  mempertanyakan hak sebagai anak perempuan. Keadaan mereka mungkin akan terjadi di masa datang atau pernah terjadi di masa lalu namun tidak ada yang memperkarakan. Berkat mereka, para pemimpin mempunyai wawasan untuk menerbitkan SK baru. Yaitu, pada keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, warisan dapat diturunkan kepada anak perempuan.

Pada masa lebih purba, terjadi satu peristiwa suram ini. Orang Israel tinggal di Mesir dan hidup di bawah tekanan. Namun populasi mereka terus bertambah. Ketakutan kaum minoritas menjadi ancaman kelak, Mesir mengeluarkan satu perintah kepada bidan: hukum mati bayi laki-laki Israel saat dilahirkan.

Perintah itu melanggar kemanusiaan, bagaimana pun. Tetapi perintah adalah perintah. Sifatnya mengikat dan hukuman bagi yang melanggar. Bagaimana melawan nurani dan hak hidup manusia? Dua bidan perempuan –Sifra dan Pua- melawan tanpa kekerasan. Mereka menolak membunuh. Saat diperhadapkan dengan hukum, mereka menjawab dengan cerdik, “Bayi-bayi itu sudah mbrojol sebelum pertolongan bidan tiba.”

Satu abad setelah peristiwa itu, nama satu perempuan pegari. Namanya Debora. Ia seorang nabiah atau nabi perempuan. Hidupnya bersahaja. Ruang konsultasinya saja di bawah pohon korma.

Satu kali ia mendapat wahyu. Memastikan bahwa wahyu itu benar, ia memanggil Barak, pemuda yang ia lihat dalam penglihatannya. Ia bertanya, “Barak, saya mendapat kesan Tuhan menyuruhmu memimpin perang melawan Raja Sisera? Apa kamu mendapat pesan yang sama?”

“Betul, Ibu Debora. Tetapi saya tak tahu harus bagaimana. Kalau Ibu mau maju bersama saya, saya akan maju,” jawab Barak.

Demi Barak, anak muda yang kurang percaya diri itu, nabi perempuan itu pun turun gunung. Ia ikut ke medan perang sebagai bentuk dukungan moralnya.

Dari kalangan bangsawan, Kitab Ester mencatat nama Wasti. Dialah istri Raja Ahasyweros atau Xerxes (sekitar 480 SM). Suaminya kaya-raya. Ia merajai 127 daerah, mulai dari India sampai Etiopia. Mertuanya, Raja Darius, dikenal sebagai prajurit sejati yang disegani kalangan militer.

Satu kali Xerxes, sebagai raja, harus memimpin perang melawan Yunani di laut Salamis. Xerxes bukan prajurit. Dan itu adalah perang pertamanya. Rakyat pesimistis raja mereka menang berhadapan dengan Spartan, tentara Yunani yang militan itu.

Dalam rangka mendapat dukungan rakyat dan kolega ayahnya, Xerxes mengadakan perjamuan. Selama 180 hari ia menjamu ribuan undangan. Ia memamerkan kebesaran kerajaan untuk membuat dirinya merasa besar.

Pada puncak perayaan, dia mabuk berat. Di hadapan para undangan dia mengoceh, “Istriku ratu paling cantik sejagad raya.” Mereka mempermainkan raja, berkata, “Buktikan dulu ucapanmu!”

Dengan sembrono raja menyuruh sida-sidanya untuk menghadirkan ratu ke tengah-tengah pesta. Sejarah mencatat Wasti menolak tegas perintah itu. Pesta itu pun menjadi gempar. Siapa pun melawan raja, taruhannya adalah mati. Satu literatur berspekulasi bahwa keberanian Wasti menolak disebabkan ia harus tampil dalam keadaan tanpa busana.

Persia dipermalukan di mata dunia. Peristiwa itu menimbulkan kasak-kusuk dalam istana. Penolakan Wasti memicu kerajaan mengeluarkan satu undang-undang darurat, yang berbunyi, ”Setiap laki-laki harus menjadi kepala dalam rumah tangganya dan berbicara menurut bahasa bangsanya.” Meski akhirnya dihukum mati, tindakan Wasti dianggap menginspirasi perempua zaman itu.

Demikianlah perempuan-perempuan Perjanjian Lama mencipta ruang berpikir pada masyarakatnya. Seperti halnya Kartini pada masa hidupnya. (is/Apr21/2018)

 

 

read more
OASE

Penulis, Idealisme Profesi, dan Maecenas Cabe-cabean

Startup Stock Photos

Anindita Thaft menulis esai berjudul Pengarang Gurem, Pajak, dan Honor (dimuat di Harian Fajar 18/12/2017). Dalam tulisannya, novelis ini membuat istilah pengarang hiu dan pengarang gurem.

Pengarang hiu, menurut pemandangannya, adalah pengarang yang karena ketenaran namanya –setelah bekerja keras selama ini- memudahkan dia menjual tulisan. Karyanya ditunggu-tunggu oleh redaksi atau penerbit. Sementara pengarang gurem, karena belum dikenal, menjual satu dua tulisan saja sulitnya ampun-ampun.

Pengarang hiu meributkan pajak karena besarnya royalti yang diperoleh. Sementara energi pengarang gurem sudah habis ketika memperjuangkan tagih-menagih honor yang tidak seberapa, dari media atau penerbit.

Pertanyaannya, ke mana lari pengarang hiu atau pengarang gurem mengadu memperjuangkan hak-hak khas masing-masing? Konsumen yang kesal ditipu oleh produsen, dapat meminta bantuan YLKI. Yang  merasa diperlakukan tidak adil, bisa lapor Kontras. Pengarang ke Menteri Keuangan? Asosiasi profesi?

Sedikit lebih lama sebelum itu, Pasar Buku menyelenggarakan sebuah diskusi bertajuk Perlukah Asosiasi Pengarang? Salah satu nara sumbernya, Riri Satria, adalah konsultan manajemen dan juga penulis. Ia mencari tahu stakeholder atau para penyandang kepentingan dunia sastra. Ada sembilan yang ia temukan terlibat dalam sastra, dan salah satunya adalah maesenas.

Maesenas, menurut KBBI, adalah orang kaya pendukung kebudayaan, pelindung seni dari kalangan seniman. Federasi Teater Indonesia menggunakan istilah Maecenas untuk memberi penghargaan kepada mereka yang telah menyokong kerja-kerja kesenian secara luar biasa. Sebuah kelompok filontropi di Jerman memakai nama Maecenas untuk menyebut khas aktivitas dirinya.

Kata maesenas diilhami oleh nama Gaius Maecenas. Ia seorang diplomat dan penasihat kaisar di zaman Romawi baheula. Ia kaya-raya dan seorang yang royal. Secara penuh ia memberi segala fasilitas bagi Virgil dan Horace -dua penulis yang menulis karya epic setelah itu. Maecenas sendiri seorang penulis. Artinya, ia kenal kemampuan diri. Ia tidak menipu diri dengan “membeli” –katakanlah Virgil dan Horace- untuk menulis sesuatu demi glorifikasi dirinya. Ia membebaskan diri dari praktik kemunafikan macam itu. Ia percaya sebuah puisi –karena kekuatan kata-katanya- dapat menjadi alat yang mendukung atau mengkritik pemerintah atau penguasa yang korup.

Maesenas-maesenas dalam porsi kecil dan besar ada di sekitar kerja kesenian. Festival Ubud yang setiap tahun mengundang sekitar 150 penulis dunia, menulis nama-nama maesenas mereka dalam buku programnya. Ketika penulis senior Hanna Rambe tak punya ongkos menghadiri undangan sebuah universitas di Amerika Serikat, Toeti Heraty berperan maesenasnya. Gabriel Marques dapat duduk menyelsaikan Seribu Tahun Kesunyian, sementara istrinya menyingsingkan lengan baju agar dapur mereka tetap ngebul. Pemusik flamboyan Andre Rieu, akankah dijuluki raja waltz tanpa sang istri merelakan Rieu bekerja siang-malam demi musiknya?

Pepatah Papua mengatakan fa ido ma, ma ido fa. Memberi karena menerima, menerima karena memberi. Dunia ini menjadi indah karena bakat-bakat yang mengkilau karena dukungan para maesenas. Kebaikan-kebaikan semacam itu pasti dikenang, takkan dilupakan meski coba dirahasiakan.

Sekarang dunia sastra kita sedang disibukkan dengan sebuah mega proyek. Ratusan penulis dari seluruh pelosok negeri diajak terlibat dalam proyek menulis puisi esai. Setiap penulis yang tertarik menulis sebuah puisi esai akan diberi Rp5 juta. Setelah melewati proses, sebanyak 170 penulis dari 34 provinsi telah menyelesaikan tulisannya dan buku siap dicetak. Saya menganggap pastilah orang yang menggagas sekaligus menanggung semua biaya ini seorang maesenas. Tidak percaya? Mari kita berhitung.

Biaya honorarium 170 penulis x Rp5.000.000 adalah Rp850.000.000. Jasa administratif yang bertugas menghubungi, membuat dan mengirim surat kontrak, mengumpulkan karya, bila ada lima orang dan masing-masing honornya Rp25.000.000, maka seluruhnya Rp125.000.000. Honorarium para ahli yang ditugaskan menulis tentang fenomena puisi esai, bila satu tulisan dihargai Rp25.000.000 dan ada 10 orang ahli, maka diperlukan Rp250.000.000. Biaya mencetak buku, bila biaya produksi Rp40.000 x 10000 buku (untuk dibagikan cuma-cuma ke pihak-pihak yang bersangkutan) = Rp400.000.000. Biaya kurir dan ekspedisi, biaya peluncuran buku dan diskusi-diskusi yang diselenggarakan di 34 provinsi, bila masing-masing ongkos Rp25.000.000, diperlukan Rp850.000.000. Tanpa memasukkan biaya rapat mingguan, bulanan, biaya komunikasi, konsumsi, dan transportasi, termasuk membeli harga diri para kritik sastra yang khusus mengelu-elukan kerja ini, maka perhitungan kasar mega proyek ini adalah Rp2.475.000.000 (baca: dua milyar empat ratus tujuh puluh lima juta rupiah). Jumlah yang fantastis! Biaya ini mungkin melebihi yang uang dikeluarkan dari kocek Gaius Maecenas untuk Virgil dan Horace, pada zaman itu.

Mekanisme di atas, bila dilakukan secara berkesinambungan oleh siapa pun maesenas di sekitar sastra, maka istilah yang diusung oleh Anindita di awal tulisan, akan menjadi tidak penting.

Sayangnya, hal di atas masih dalam wacana seandainya. Pasalnya, maesenas mega proyek yang saya sebut di atas masih berlevel “cabe-cabean”. Belum bertindak maesenas seperti makna pada kamus dan merujuk Gaius Maecenas di zaman Romawi. Sayang sekali memang. (is/feb2018)

read more
OASE

Sastraku Sayang, Sastraku Malang

book-707388_1920

oleh: Saut Situmorang

I

Saya punya pertanyaan: Kenapa ya gak setiap orang berani mengklaim diri “mengerti” Kedokteran, atau Ekonomi, lalu membuat tulisan yang “membahas” Kedokteran/Ekonomi bahkan sampai mengklaim diri “pengamat Kedokteran/Ekonomi” atau pengetahuan-pengetahuan lain kayak Hukum, kayak Jurnalisme?

Tapi kenapa hal seperti di atas gak terjadi atas “Sastra”? Kenapa setiap orang di negeri ini, apalagi “penulis”, pasti akan merasa sudah “mengerti” Sastra dan berani membuat “opini” publik tentangnya bahkan sering gak merasa persoalan dianggap sebagai “pengamat” bahkan “kritikus” Sastra?!

Di Indonesia, seperti di negeri-negeri lain, Fakultas Sastra itu terdapat hampir di setiap universitas besarnya. Bahkan bisa dikatakan, secara melebih-lebihkan, bahwa “Sarjana Sastra” lebih banyak jumlahnya dibanding “Sarjana” lainnya.

Maksud saya adalah bahwa Sastra itu adalah sebuah Ilmu Pengetahuan (science, sains) , sama seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum atau Linguistik. Makanya dipelajari secara sistematis di tempat yang disebut “Fakultas Sastra”. Makanya mereka yang sudah tamat mempelajarinya secara sistematis begini disebut “Sarjana Sastra”. bahkan tingkat kesarjanaan ilmu pengetahuan ini mencapai level Doktor, sama kayak ilmu pengetahuan lainnya itu.

Dalam kata lain, sudah disadarikah di negeri ini bahwa Sastra itu adalah sebuah ilmu pengetahuan/sains yang untuk memahaminya diperlukan sebuah studi yang sistematis dan lama atas sejarahnya, teorinya dan tentu saja jenis-jenis karya yang disebut Karya Sastra?

Di sinilah persoalan besar terjadi.

Walaupun ada Fakultas Sastra dan banyak Sarjana Sastra bertebaran di negeri ini tapi Sastra masih belum dianggap sebagai sebuah Ilmu Pengetahuan/Sains seperti Kedokteran, Ekonomi, Hukum dan lainnya oleh masyarakat umum Indonesia! Bahkan tragisnya oleh mereka yang menganggap dirinya Sastrawan! Setiap orang apalagi yang pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi walau non-Sastra akan merasa dirinya mampu bicara tentang Sastra, mengerti apa itu Sastra!

Maka parahlah kondisi pembicaraan tentang Sastra di negeri yang tak menghormati Sastra(wan) ini! Anarkisme pendapat/interpretasi dianggap bukti demokrasi! Sesuatu yang justru sama sekali tidak terjadi di Barat sana, tempat dari mana demokrasi yang diberhalakan tersebut berasal. Di Barat sana tradisi “divisi kerja” telah menyebabkan hanya para profesionallah yang dianggap “ahli atau pakar” dari bidang profesi tertentu. Dan sebagai sebuah profesi, Sastra hanya boleh dibicarakan oleh para professional Sastra yaitu para Kritikus Sastra dan para Akademisi Sastra. Tanggungjawab profesi membuat pembicaraan/pembahasan mereka atas Sastra (baik dalam bentuk esei riset atau buku) merupakan sesuatu yang serius, dalam, dan berbobot.

Di negeri ini yang bukan “orang Sastra” tidak merasa ada yang aneh kalau dia ikut membicarakan Sastra walau ala pseudo-akademis, alias debat kusir. Pembicaraan dan penafsiran yang terjadi pada umumnya sangat tergantung pada kata hati belaka, karena memang begitulah Sastra itu dianggap mereka: Sesuatu yang cuma berkaitan dengan “hati”, “perasaan”, bukan Ilmu Pengetahuan/Sains tadi. Ketidaktahuan mereka atas Sejarah dan Teori Sastra secara umum tidak dianggap faktor penting yang harus mereka pertimbangkan dalam membicarakan Sastra!

Dan kita masih belum lagi membicarakan Sastra sebagai sebuah Seni, sama seperti seni-seni lain kayak Teater, Seni Rupa, Musik, Film, Fotografi, Tari dan lain-lain!

Seperti seni-seni lain, seni Sastra juga memiliki hukum-hukum, peraturan-peraturan, pakemnya tersendiri, ciri khas yang menjadi hakekat Sastra. Ketidakpahaman atas Hukum-hukum Sastra inilah yang selalu membuat setiap “penulis” (yang sangat berambisius tentunya!) terheran-heran kok tulisannya gak dianggap Tulisan Sastra alias Karya Sastra! Dengan seenaknya aja segelintir penulis “fiksi pop/novel pop” mengklaim fiksi/novelnya sebagai Sastra cuma karena tulisannya itu memiliki hal-hal yang MIRIP karya Sastra, seperti plot dan tokoh. Bagi mereka, cuma begitulah “Sastra” itu!

Kalau kita ambil perbandingan, kan gak setiap yang dibuat pakai seluloid itu akan dianggap seni Film alias Sinema. Gak setiap gerak yang “indah” itu Tari. Gak setiap lukisan atau patung itu Seni Rupa. Tapi kok hal ini gak dianggap berlaku buat Seni Sastra?!

Klimaks dari kondisi yang menyedihkan ini: Sekarang sudah menjadi tren di universitas negeri kita, seperti yang sudah terjadi pada universitas negeri yang elite kayak Universitas Indonesia (Jakarta) dan Universitas Gajah Mada (Jogja), mengganti nama “Fakultas Sastra” menjadi sekedar “Fakultas Ilmu Budaya”! “Sastra” sebagai Sains dan Seni bukan saja sudah tidak diakui lagi statusnya oleh mereka-mereka yang justru punya kewajiban akademis untuk membelanya bahkan dijatuhkan statusnya menjadi sekedar “Ilmu Budaya”!

Kenapa Fakultas Sastra di universitas negeri di seluruh NKRI Harga Mati diganti namanya jadi Fakultas “Ilmu Budaya” tanpa ada Suara Protes sekalipun dari para Sarjana Sastra yang jadi dosen dan dekan bahkan profesor di Fakultas tersebut?! Apa mereka ini cuma hidup sebagai parasit saja di dunia Sastra?!

Saya menduga popularitas “Cultural Studies” terutama Cultural Studies versi Amerika Serikat yang membuat hal ini bisa terjadi. Betapa menyedihkan bahwa “Cultural Studies” yang memang tidak mengakui keberadaan Seni itu dianggap lebih relevan bagi kehidupan akademis sebuah negeri Dunia Ketiga Pascakolonial kayak Indonesia ketimbang sebuah “ilmu pengetahuan eksklusif” seperti Sastra! Dunia akademis kita yang sudah “tidak benar-benar akademis” itu mutunya (contohnya absennya Tradisi Kritik(us) Sastra yang pada dasarnya merupakan karya-karya Kritik Sastra yang dihasilkan oleh dunia akademis Sastra), sekarang bahkan menjadi makin tidak akademis lagi dalam konteks Pendidikan Sastra perguruan tinggi! Ironisnya, di dunia akademis Barat saja ilmu pengetahuan alias sains “Sastra” masih terus naik gengsinya dan dipelajari secara khusus sebagai sebuah “departemen/jurusan” di bawah nama “Faculty of Arts”!

II

Baru-baru ini di grup Facebook Apresiasi Sastra terjadi keramaian. Keramaian ini tersulut oleh isi status-status Facebook sebuah akun bernama “Narudin Pituin” yang rata-rata mengklaim dirinya sebagai “penyair” dan “kritikus sastra” paling top yang pernah muncul di Sastra Indonesia. Kata-kata superlatif yang dipakai Narudin Pituin dalam pembuatan klaim-klaim atas prestasi dirinya di Sastra Indonesia itu membuat mendidih darah para pembacanya hingga timbullah keramaian yang dimaksud.

Salah satu contoh pernyataan Narudin Pituin tentang karyanya adalah berikut ini:

“3 April 2016

Sekian buku kritik puisi telah saya baca. 1) buku kritik puisi A. Teeuw terlampau kaku secara sintaksis, dan banyak yang kering akibat terlampau fokus pada elemen-elemen bahasa secara berlebihan. Tak banyak wawasan di luar “makna tekstual deskriptif”, 2) buku kritik puisi Goenawan Mohamad terganggu oleh referensi sebagai komplemen pendapat, tapi pengolahan penafsirannya (interpretasi) masih longgar di sana-sini, sekadar mengonfirmasikan informasi ekstra-estetis secara historis-referensial, 3) buku kritik puisi M.S. Hutagalung, dari segi teknik analitik cukup menggerakkan, tapi faktor analisis yang berangkat sekadar dari analisis konvensi bahasa lalu bergerak ke analisis konvensi pseudo-sastra tampak masih lemah, 4) buku kritik puisi Hartojo Andangdjaja dari segi interpretasi cukup subtil, dengan menampilkan pokok-pokok yang penting dianalisis secara lebih dalam. Keterampilannya memperbagus bahasa pengantar dengan agak rapi, membuat buku kritik puisinya punya selera, 5) buku kritik puisi Subagio Sastrowardoyo punya sensitivitas yang bagus, walaupun tak sesensitif kritik-kritik puisi Sapardi Djoko Damono yang lebih bersahaja. Hanya kadang kedalaman fungsi estetis yang ditampilkan tak sepenuhnya mencukupi meskipun didukung oleh sekian daftar pustaka terkutip, dan 6) buku kritik puisi Rachmat Djoko Pradopo bergaya Strukturalisme-Semiotika (Dinamis) cukup telaten dan sistematis. Hanya sayang, terlalu tersekat-sekat/terkesan usang dalam memberikan contoh-contoh puisi yang dianalisis. Seharusnya puisi-puisi yang dianalisis termasuk puisi-puisi modern yang lebih banyak dan luas agar lebih teruji pendekatannya. Bahkan di buku kumpulan makalah sastranya, kesan metode analisisnya terasa menjemukan karena repetitif (berulang-ulang, baik konsep analisisnya maupun pelbagai gagasan dari daftar bacaan yang mendukung proses analisis). Belum tentu pendekatan ini dapat menganalisis buku puisi yang super-cerdas, yang super-mengancam dengan memuaskan. Dengan demikian saya merasa terpanggil untuk menerbitkan lagi buku kritik modern buku puisi saya, berisi 40 analisis modern terhadap 40 buku puisi setelah kemarin menerbitkan buku kritik puisi terhadap 29 buku puisi dan 11 puisi. Jadi, buku kritik puisi berikutnya berisi analisis 40 buku puisi itu diharapkan dapat memuaskan batin dan intelektualitas para pembaca dan berusaha memberikan sesuatu yang Anda takkan temukan di dalam 6 buku kritik puisi di atas (sekadar menyebut contoh beberapa buku kritik puisi). Insya Allah, amin.”

Keramaian tersebut menjadi makin panas setelah sebuah akun bernama “Bung Joss” – yang kemudian terungkap adalah Denny JA sendiri yang memakai nama samaran – ikut masuk ke grup dan nimbrung dengan komentar-komentar yang pada dasarnya sangat mendukung Narudin Pituin. Terutama setelah Narudin Pituin kembali membuat klaim superlatif atas sebuah buku berjudul Membawa Puisi Ke Tengah Gelanggang: Jejak dan Karya Denny J.A (2017) yang menurut pengakuannya dia tulis setelah melalui “riset/penelitian berbulan-bulan” dan merupakan sebuah “sumbangan besarnya bagi sastra Indonesia”. Buku dimaksud adalah buku yang konon membuktikan pencapaian dahsyat seorang bernama Denny JA dalam Sastra Indonesia terutama atas penemuan yang dilakukan Denny JA atas sebuah genre baru dalam Sastra Indonesia yang dinamainya “puisi esai”.

Tragisnya, seorang anggota grup yang sudah membaca masterpiece Kritik Sastra Indonesia itu menemukan bahwa hampir sebagian besar isi buku tersebut ternyata cuma copy-paste dari beberapa buku dan artikel tentang Denny JA yang sudah terbit sebelumnya! Begitulah realitas dari riset berbulan-bulan itu! Dan klimaksnya: buku kritik sastra yang sangat penting itu ternyata dibagikan secara gratis ke seluruh Indonesia tanpa diminta dan akhirnya dikembalikan ke pengirimnya secara massal!

Beginilah reaksi sang Kritikus Sastra Narudin Pituin atas peristiwa pengembalian massal secara nasional buku masterpiece Kritik Sastra Indonesia tulisannya tersebut:

“Buku hasil penelitian saya berjudul Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang: Jejak dan Karya Denny JA (2017) telah menimbulkan polemik kebudayaan yang panas sekaligus keras saat ini. Sebagai penulis buku tersebut, saya telah dapat menduga hal demikian akan terjadi karena—seperti aneka pengalaman sebelumnya—umumnya “para sastrawan palsu” atau “orang-orang tak bertanggungjawab dalam sastra itu” belum membaca buku dengan tenang, teliti, dan tuntas. Akibatnya, mereka hanya meluapkan kata-kata emosional dan anti-kecerdasan belaka.

Orang-orang tak bertanggung jawab dalam sastra itu, contohnya, Saut Situmorang, Nuruddin Asyhadie, Ahmad Yulden Erwin, termasuk tim sorak mereka, misalnya, Eimond E., Sunlie Thomas Alexander, Dino Umahuk, Malkan Junaidi, dan beberapa nama yang tak juga penting disebut di sini.

Saut Situmorang, Nuruddin Asyhadie, Ahmad Yulden Erwin, dan Eimond E. hanya mengumbar hawa nafsu mereka secara membabi-buta berikut kata-kata cacian kotor penuh dengan kosa kata kebun binatang atau bahasa iblis dan setan, mencoba menggugat buku tentang Jejak dan Karya Denny JA itu. Karena mereka bermodalkan nafsu liar belaka, maka komentar-komentar mereka tak ada yang berharga sedikit pun, selain ucapan yang tak patut secara moral (budi pekerti, akhlak mulia, tata-krama, sopan-santun, dan semacamnya).

Tim sorak mereka, misalnya, Sunlie Thomas Alexander, Dino Umahuk, Malkan Junaidi, dan beberapa lagi hanyalah cerminan kelabu dari empat orang di atas itu. Bukti kepayahan atau kelemahan tim sorak ialah dengan dalih buruknya mencari-cari cacat saya dan Denny JA secara pribadi; mencaci-maki foto-foto, postingan masa silam, termasuk mencari-cari bahan fitnah murahan dari sesama tim sorak juga yang enggan disebut namanya. Sesungguhnya, orang-orang penyebar fitnah murahan itu pun sama-sama rendah dan liar nafsunya.

Dengan demikian, polemik kebudayaan tentang buku jejak dan karya Denny JA ini sangat tak mulia karena hanya berisi gagasan-gagasan sampah, keji, penuh fitnah yang tak bermanfaat. Maka, kesimpulannya, buku saya Membawa Puisi ke Tengah Gelanggang: Jejak dan Karya Denny JA (2017) tetap berdiri secara gagah, megah, belum tertandingi, belum terkalahkan. Martabat-nya tetap agung di atas singgasana-nya.

Masalah kedua, tentang pengembalian buku itu oleh sekian puluh orang yang memang tak bertanggung jawab dalam sastra pula. Pengembalian buku itu termasuk sikap anti-intelektual, tidak arif-bijaksana, tidak cemerlang, tidak cerdas sama sekali alias memble—apalagi buku dikembalikan sebelum dibaca, sangat tidak kesatria! Alasan apa pun yang dibuat oleh mereka dengan dalih tak kenal si pengirim buku, tak kenal si anu, tetap saja tak pernah meninggikan derajat kecerdasan mereka akibat tindakan ceroboh mereka itu. Dalih pengembalian buku secara serentak atau dikumpulkan dulu pun sebenarnya prinsip mengada-ada yang amat lucu dari segi etika, hukum-hukum kepatutan, hukum-hukum kelayakan moralitas—sebab pemberian apa pun yang ikhlas itu hadiah, suka atau tak suka, simpanlah, tidak usah dikembalikan—lebih baik baca sampai usai isi buku itu agar pemahaman mereka penuh, sempurna, tidak setengah-setengah, sangat berbahaya!”

III  

Awalnya Sutardji Calzoum Bachri tak pernah diakui para penyair angkatannya sebagai penyair. Cuma pelukis Popo Iskandar dan para sesama penulis nonsens yang disebut “puisi mbeling” dari Bandung yang mengganggapnya penyair. Bahkan A. Teeuw pun tidak anggap dia penyair! Makanya dia pura-pura mabuk bir waktu pertama kali diundang baca nonsensnya di TIM biar terkesan macam dukun kampung kesurupan yang lagi baca “mantra”, yaitu Kredo Puisi yang dibuatnya sebagai legitimasi atas Kesastraan nonsensnya tersebut dan yang tragisnya diterima mentah-mentah oleh dunia Sastra Indonesia termasuk dunia akademis Sastra di seluruh Fakultas Sastra di Indonesia!

Untung bagi Tardji – si impostor terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia itu – bahwa Sastra Indonesia waktu itu sedang dikuasai ideologi artistik tunggal bernama “seni untuk seni” makanya nonsensnya itu diterima begitu saja sebagai karya “seni” oleh mabes (markas besar) “seni untuk seni” yaitu Jakarta dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM) dan majalah Horison-nya. Gaya baca pseudo-dadaisnya pun menambah eksotisme “art for art’s sake” nonsensnya tersebut!

Maman S Mahayana dan para komentator sastra lain mengklaim bahwa sajak-sajak mbeling nonsens Tardji yang dikumpulkan dalam buku O Amuk Kapak adalah puisi sufi. Sejak kapan genre Puisi Sufi cuma main-main nonsens huruf, kata, bunyi dan tipografi? Main-main linguistik yang gak jelas juntrungannya lagi! Kenapa jenis sajak yang sama yang ditulis pada waktu yang bersamaan dengan nonsens-nonsens Tardji itu di Bandung (di mana Tardji juga nulis nonsensnya itu dan diakui sebagai “penyair” sebelum pindah ke Jakarta) disebut “puisi mbeling”, BUKAN puisi sufi kayak pada kasus Tardji? Dan adakah contoh lain dari khazanah Sastra Sufi yang memang bisa dibandingkan dengan nonsens Tardji itu, misalnya Mantra sebagai genre Puisi Sufi? Juga, apa Puisi Sufi itu cirinya dibacakan sambil pura-pura mabuk bir dengan mengacung-acungkan kapak ke penonton?!

Sutardji Calzoum Bachri memang benar seorang penyair SUFI. Yaitu “Suka Uang Freedom Institute”. Bukankah dia tidak merasa ada persoalan moral-relijius waktu bersedia menerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008, pemilik perusahaan Lapindo yang menyebabkan kerusakan ekologis dan sosial-ekonomis berat di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur?

Tardji jugalah dan sesamanya Horisonis, yaitu Sapardi Djoko Damono dan Leon Agusta, yang gak malu-malu membaptis tulisan-tulisan yang konon ditulis sendiri oleh seseorang bernama Denny JA dan disebutnya “puisi esai” itu sebagai BENAR-BENAR puisi! Mereka ini bisa begitu remeh memandang Sejarah Sastra Indonesia dalam konteks Denny JA, dan duitnya, gampang dimengerti penyebabnya. Mereka sendiri pun lahir dari sejarah Sastra Indonesia yang dimanipulasi HB Jassin dan kaum Manikebuis lainnya maka wajar saja dan bahkan sesuai dengan ideologi mereka untuk mengklaim Denny JA sebagai “penyair” berdasarkan main-mainnya yang diberi gelar mentereng “puisi esai” itu.

Menulis prosa seperti yang dilakukan Denny JA dan yang diklaim Sutardji Calzoum Bachri sebagai “puisi esai” itu apa susahnya dibanding nulis sajak mbeling nonsens yang diklaim Sutardji Calzoum Bachri sendiri sebagai “mantera tak punya makna” itu?!

IV

Politik Kanon(isasi) Sastra yang sangat digemari kaum Manikebuis Humanis Universal itu (mulai dari Balai Pustaka ke HB Jassin ke Goenawan Mohamad-TUK-Salihara dan memuncak pada Skandal Denny JA) adalah ciri dari ideologi Politik adalah Panglima, yang ironisnya tak malu-malu mereka fitnahkan ke musuh mereka yang sudah kaput dibantai Harto dan para algojonya yaitu almarhum LEKRA. Sebuah kelakuan yang benar-benar “kelakuan for kelakuan’s sake” yang tak bermoral, ahistoris dan atheis. Cuma mereka yang tak percaya sama Tuhan yang sanggup melakukan kebiadaban intelektual begini!

Bukankah hal yang sama yang terus menerus difitnahkan Denny JA kepada mereka yang menolak statusnya sebagai Penyair dan terutama sebagai salah seorang dari “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” seperti yang berusaha dia wujudkan lewat buku sampah berjudul sama yang disusun orang-orang prabayarnya itu? Dia memaki para penentangnya sebagai anti demokrasi, pembakar buku bahkan disamakannya dengan FPI. Tapi Sejarah dengan sangat manis dan puitis membuktikan betapa dialah sebenarnya contoh dari apa-apa yang dia makikan itu! Dialah yang telah berusaha membungkam Suara yang menentang Manipulasi Sejarah Sastra Indonesia yang sedang dia lakukan itu dengan cara mempolisikan dua sastrawan penentangnya melalui seorang anggota Klub Denny JA-nya dengan memakai sebuah undang-undang anti demokrasi dan kebebasan berpendapat yang dimusuhi secara universal oleh gerakan pro demokrasi di Indonesia yaitu UU ITE. Dan Sejarah dengan manis puitis pula membuktikan bahkan di usaha terakhirnya ini pun dia gagal total dengan begitu dahsyatnya dukungan yang diberikan di mana-mana (bukan cuma dari dunia Sastra belaka) atas perjuangan melawan Kriminalisasi Sastrawan yang dia lakukan dan makin tercium bau busuk dirinya yang ingin disembunyikannya di balik omong kosong gerakan Anti Diskriminasi taik kucingnya itu!

Kriminalisasi Sastrawan adalah respon dari status quo yang legitimasi status kanonnya dipermasalahkan. Itulah sebabnya mereka yang disebut sebagai “dewa sastra” oleh Denny JA itu diam saja dan tidak melakukan apa-apa atas skandal memalukan yang menista harga diri Sastra Indonesia ini! Bukankah para Humanis Universal ini juga diam saja waktu para pengarang LEKRA dikriminalisasi (dibunuh atau diasingkan jadi budak paksa di Pulau Buru) oleh rezim diktator militer Jendral Suharto yang notabene mereka dukung untuk berkuasa dengan mengkudeta presiden Sukarno yang sedang berkuasa saat itu!

Pertanyaan besar yang timbul dari semua Skandal Sastra kontemporer kita ini adalah kenapa semua ini bisa terjadi. Apa penyebabnya? Dan apa yang sudah dilakukan untuk meresponnya, kalau memang tidak mau menghentikannya?

Mari kita bongkar mitos-mitos kosong dalam Sastra Indonesia biar Sastra Kita bersih dari dusta dan manipulasi politik kanon sastra!

Mereka pikir kita bodoh dan penakut seperti mereka. Mari kita tunjukkan ke mereka bahwa kita mengerti merekalah yang bodoh dan penakut!***

 

Jogjakarta, 6 Oktober 2017

read more
OASE

Dongeng: Upacara dan Mesin

dreams-2904682_960_720

SEJAK ratusan tahun silam, mendongeng itu upacara bahasa, ingatan, imajinasi, identitas, dan kebersamaan. Pada suatu tempat, orang-orang berkumpul membagi peran sebagai pendongeng atau penikmat dongeng. Mulut memberi edaran imajinasi dengan bahasa terdengar. Di telinga, dongeng itu memiliki musikalitas dalam memberi kepahaman atas tokoh, waktu, peristiwa, suasana, tempat.

Upacara mendongeng lazim memenuhi adab berpatokan tradisi dan anutan-anutan lokal. Penikmat dongeng mungkin membuka atau memejamkan mata menempuhi jalan-jalan imajinasi dari tuturan memikat. Dongeng tentu tak melulu kata-kata. Di pelbagai tempat, mendongeng terasa sakral dengan alunan musik atau pameran gambar. Sekian benda pun mungkin terpakai dalam memberi penguatan cerita dan percik imajinasi bermula di penglihatan. Upacara itu berlangsung ratusan tahun, diwariskan sesuai ketetapan atau perubahan.

Di Jawa, upacara agak dikejutkan kedatangan para pejabat, pendidik, pendakwah, dan sarjana asal Eropa. Di negeri berlimpahan dongeng, mereka takjub. Hasrat menikmati dongeng pun terpenuhi dengan mesin, berbeda dari upacara milik bumiputra. Sejak abad XV, mereka sudah bermesin untuk mengabarkan kitab suci, dongeng, ilmu, dan kekuasaan. Mesin ajaib buatan Gutenberg turut mempengaruhi adab berdongeng di Jawa. Pengaruh akibat perintah atau bujukan bernalar Eropa. Upacara tetap berlangsung di Jawa tapi mesin-mesin perlahan mengubah tata cara mendongeng, sejak pertengahan abad XIX.

Pada 1864, terbit buku berjudul Dongeng Isi Woelang Becik susunan CF Winter. Cetakan menggunakan huruf Jawa. Dongeng telah memasuki zaman mesin cetak, tak melulu mulut dan telinga. Dongeng-dongeng khas Jawa muncul berwujud cetakan di kertas bernama buku (Mochtar, Sari Literatur Jawa, 1986). Dalil terpokok adalah buku meminta mata-membaca. Penerbit memang memilih aksara Jawa tapi tampak sengaja mengalihkan upacara bersama berdongeng menjadi adegan membaca. Di kalangan sarjana Eropa dan pujangga keraton, siasat untuk tak terlalu jauh dari upacara lama adalah pembacaan (buku) dongeng dengan kehadiran para pendengar. Siasat itu pasti berbeda dari sakralitas mendongeng. Pembacaan menuruti kata-kata di buku, bergerak dengan struktur kebahasaan telah tercampuri nalar linguistik si  pengumpul dongeng, dan embusan imajinasi tak selalu semilir.

Upacara ingatan bersama berubah setelah mesin cetak memamerkan keampuhan adab Barat. Peran CF Winter tak cuma pengumpul. Pilihan mencetak dongeng seperti mengabarkan penggerogotan ingatan bersubstitusi ke sistem aksara cetak. Tata bahasa tentu berubah, tak lagi memberikan kelihaian tuturan. Bahasa sudah dicetak. Mata diperintah membaca urut, jelas, tertib, dan padu. Dongeng bermesin agak “mengejek” kegirangan dan kesakralan mendongeng di Jawa. Girang itu ungkapan hiburan. Sakral itu kenikmatan menuai pelbagai petuah dan panggilan mengalami hidup bergelimang makna.

Pengarsipan dongeng di Jawa dengan penerbitan buku-buku meniru kebijakan-kebijakan di Eropa. Pada abad XIX, para sarjana di Eropa melakukan pengarsipan dan pembuatan indeks dongeng-dongeng. Mereka mengerjakan studi dengan mencetak dan menerbitkan dongeng-dongeng mengacu klasifikasi modern. Katalog dongeng pun digarap dan dipelajari bermisi keilmuan dan kekuasaan. Para sarjana Belanda ketularan dengan menerapkan studi di Hindia Belanda. H Kern mengadakan penelitian dari kumpulan dongeng kancil bernalar menjadi teks-teks cetak. Studi Kern berjudul Losse Aantekeningen op het Boek van den Kancil (1880). BC Hummen juga mengarsip dan meneliti dongeng kancil di Jawa, menghasilkan artikel “ilmiah” berjudul Javaansche Sprookjes (1883). Detik-detik pengalihan dongeng-dongeng Jawa ke buku-buku sebagai berkah mesin cetak ajaib perlahan dikerjakan secara sistematis, mendapat restu dari universitas dan pemerintah kolonial (James Danandjaja, 1984). Jawa sebagai negeri berlimpahan dongeng “dibajak” para sarjana Eropa dengan mesin, bersimpang jalan dari upacara.

Pada abad XX, studi dongeng bersumber dan menghasilkan buku semakin deras melalui peran Balai Pustaka dan pelbagai institusi penerbitan atau pendidikan. Zaman melek aksara cetak semakin menjauhkan dongeng-dongeng dari upacara. Para sarjana Belanda masih keranjingan menekuni dongeng-dongeng tercetak, bukan dongeng dalam tuturan. Mesin cetak memungkinkan pemberlakuan klasifikasi dan pembuatan katalog modern. C Hooykas di Panjedar Sastra (1952) menjelaskan bahwa pelbagai misi mencetak ribuan dongeng menjadi buku, sejak abad XIX. Para sarjana bertugas mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng dengan pengharapan memiliki data-data dalam mempelajari bahasa-bahasa. Studi kebahasaan berlanjut ke sosial, politik, kultural, seni, dan pendidikan. Corak itu ditularkan ke elite pelajar Indonesia saat mempelajari sastra di AMS dan universitas-universitas di Belanda, sejak masa 1930-an.

Mesin terpilih ketimbang upacara. Abad XIX dan XX mengingatkan dongeng dalam dilema kolonialisme dan janji-janji pendidikan modern. Dongeng perlahan terdefinisikan bermukim di buku-buku atau berwujud cetak. Konon, cara itu membuat dongeng-dongeng terselamatkan dan memiliki jalan baru pewarisan secara canggih. Pada abad XXI, dongeng-dongeng tetap jadi pilihan pemerintah dan perusahaan-perusahaan untuk berpihak ke “tradisi” berdalih pendidikan karakter atau pelestarian nilai-nilai tradisional. Dongeng tentu buku! Pemerintah mencetak ratusan dongeng berwujud buku menggunakan anggaran negara. Buku-buku dongeng disebar gratis seantero Indonesia  melalui perpustakaan dan komunitas.

Kebijakan itu disaingi perusahaan-perusahaan beruntung besar untuk pamer “prihatin” pada dongeng dan nasib bocah Indonesia. Penerbitan buku-buku dongeng bercap pelbagai perusahaan adalah tindakan baik agak “mengelabui” pemaknaan dongeng berlatar sejarah peradaban di Nusantara. Perusahaan-restoran berlogo “pak tua” asal Amerika Serika berjualan chicken mempersembahkan buku berjudul 10 Kisah Dongeng untuk Anak Indonesia (2010). Buku-buku sejenis pun diusahakan pelbagai perusahaan nasional atau internasional. Restoran kondang itu menganggap penerbitan buku dan pembagian secara gratis dengan pelbagai ketentuan bisnis adalah bukti “menemani” anak-anak di seluruh Nusantara menggapai impian melalui dongeng. Kita mungkin menduga si bocah berpikiran bersantap di restoran berlogo “pak tua” bakal menuai buku dongeng  secara “gratis.”

Mesin telah membuat keajaiban-keajaiban baru. Dongeng semakin buku, berimbuhan dongeng di mesin-mesin elektronik. Dongeng semakin tak berupacara. Dongeng itu mesin bertarung kepentingan dalam kebijakan pemerintahan kolonial, nalar universitas modern, dan bisnis berlimpahan untung perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Kita cuma memberi sangkaan saja, tak bermaksud mengadakan penelitian kolosal dan memberi seribu argumentasi paling bermutu. Begitu.  

 

Bandung Mawardi, esais dan kuncen Bilik Literasi di Solo.

read more