close

OASE

OASETERASWARA-WARA

Teologi Membaca: Demi Kasih, Curiositas atau Cupiditas?

Ilustrasi Membaca

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Kita dikerubuti oleh kata-kata. Dalam dunia nyata dan maya. Kata-kata dari buku, surat kabar, novel, majalah, twitter, facebook, whatsapp, billboard, spanduk, layar kaca, blog, online. Ditambah buku-buku teks bagi mahasiswa. Kitab Suci bagi kaum beragama. Kata-kata mengendap dalam bawah sadar kita.

Seberapa banyak waktu dan energi kita habiskan untuk membaca per hari? Dan apa relasi teologisnya?

Teologi membaca (theology of reading) berbeda dengan teologi untuk membaca (theology for reading). Teologi untuk membaca bertujuan menolong kita memahami pikiran yang disampaikan oleh sumber, buku misalnya. Dari sana kita dapat menilai pengarang menganut pemikiran arus utama atau heterodoks atau bidah. Atau pesan yang disampaikan sekadar manis-manis iklan atau propaganda politik. Jadi teologi untuk membaca difokuskan pada konten yang dibaca.

Sedangkan theology of reading melampaui proses tindakan membaca. Alih-alih menerima atau menolak pesan dari tulisan, membaca adalah sebuah tindakan kasih –saat mulai sampai akhir membaca- dengan dasar Yesus Kristus, Sang Pengarang Kasih.

Membaca adalah tema refleksi teologi remeh-temeh kita kali ini. Sumbernya terutama dari Teology of Reading: The Hermeneutics of Love, Alan Jacobs, 2001.

Hukum Kasih

Setiap kristiani diikat oleh Hukum Kasih. Termasuk penulis maupun pembaca, dong? Iya.

Jika seorang penulis bertanya kepada Yesus tentang apa hukum apa yang terutama dan utama, maka tetap saja jawabNya seperti yang tertulis dalam injil: yang utama pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu”; dan yang utama kedua: “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.”

Sebuah tulisan ditulis oleh seseorang di luar kita. Seseorang itulah sesama. Menurut Jacobs, tulisan adalah perpanjangan dari sesama kita (baik yang terhisab dengan Hukum Kasih atau yang tidak).

Tulisan merupakan medium yang mengaitkan dua pikiran, melalui jarak waktu dan ruang. Artinya, setiap kali membaca, kita menjumpai sesama kita. Dalam hal menghindari kesalahan dalam memahami maksud si sesama (baca: penulis) bukanlah tujuan utama dari kegiatan membaca.

Membaca dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan meski tulisan yang dibaca adalah sebongkah teks kaku yang panjang dan membosankan. Bagaimana pun, kita harus mengasihi tulisan tersebut –bahkan dalam keadaan kita tidak setuju dengan isi tulisan- sambil mengharapkan sesuatu yang baik muncul dari sana. Membaca dengan kasih menghadapkan kita pada satu risiko, dan risiko itu secara teologis, harus dirangkul.

Kontroversial, ya? Pastinya. Apalagi dalam kondisi sekarang, di mana kata-kata disengaja dibuat salah dan diproduksi scara besar-besaran demi sebuah tujuan jahat. Itu yang lebih sering mengemuka daripada yang benar. Mari kita menelusuri gagasan Jacobs tentang teologi membaca –dengan kasih- agar harapan sebuah perspektif baru, muncul.

Bahwa tak seorang pun dapat memenuhi Hukum Kasih bila ia tidak mengasihi. Sebaliknya, seorang yang mengasihi akan, seperti kata mazmur, gemar dalam ketetapan Allah dan merindukan hukum Allah setiap waktu (Mazmur 119: 16, 20). Artinya, kalau kita mengaku paham Kitab Suci -seluruh atau sebagian- tetapi tidak mengasihi Tuhan dan sesama, bohonglah itu semua.

Setiap hari kita berdoa jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Artinya, kita berharap melihat kasih diwujudkan pada saat kerja dan santai, saat mengurus keluarga dan beribadah kepada Tuhan, dalam segala waktu. Kasih mestinya dibuktikan dalam cara berpikir –termasuk menulis- dan berbicara –termasuk membaca.

Membaca dengan Kasih

Apa maksud interpretasi/tafsir berdasarkan Hukum Kasih?

Bapak Gereja, St Augustine (354-430), mengkritik bahwa teologi kristiani tidak memberi penjelasan sistematis soal tafsir yang berdasarkan kasih. Baik dalam konteks eksegesis dan eksposisi, secara alkitabiah. Bila ada yang merespons dengan mengatakan, pengertian akan didapat dari Tuhan, Augustine akan mengejar, berkata, tetapi Tuhan kan tidak pernah mengajar membaca alfabet.

Jika kita memahami kasih kepada Allah dan sesama sebagai persyaratan utama dalam membaca teks apa saja –termasuk novel, dokumen hukum, dan lainnya- maka kita memenuhi hukum kasih dalam pemikiran, perkataan dan perilaku kita. St Agustine mengabaikan soal kesalahan (dalam menafsir makna). Menurutnya, seorang pembaca kristiani yang dapat membangun kasih pada saat membaca namun tidak memahami maksud pengarang, dia tidak sedang ditipu atau merasa tertipu.

Orang yang salah menafsir itu seperti orang yang salah jalan. Ia meninggalkan jalan itu, melewati daerah lain, dan tiba pada tujuan yang sama, dengan jalan pertama tadi. Dalam rangka mengoreksi kesalahan, lebih bermanfaat bila orang tadi tidak putar balik, ambil jalan pintas atau jalan yang berlawanan. Jalan pintas mungkin akan menibakan orang itu pada teritori yang justru tidak dikenali dan berpotensi berbahaya, karena membuatnya lebih jauh dari tujuan semula.

Menurut Augustine, seseorang dapat abai terhadap maksud penulis Kitab Suci atau gagal memahami ayat atau pasal tertentu. Dia harus belajar agar tidak lagi melakukannya karena tujuan Allah adalah satu, begitu pula makna teks alkitab. Jika teks gagal dipahami, begitu pula kita gagal memahami maksud si penulis. Jika pembaca terus-menerus salah (dalam menafsir) dia akan dikalahkan terus.

Ketidakmampuan itu disebabkan manusia adalah makhluk yang sudah jatuh dalam dosa. Satu kali Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya, kenapa Ia berbicara dalam bentuk perumpamaan atau cerita. Jawabannya, karena meski melihat mereka tidak melihat, meski mendengar tetapi tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Dalam teks lain dikatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (2 Korintus 3:15).

Teks yang dipadati dengan pesan-pesan moral cenderung membosankan. Pemahaman yang rigid tidak menyisakan kesenangan bagi pembaca dalam membaca. Teori tafsir modern telah sangat menghilangkan kesenangan itu padahal tulisan untuk dinikmati, untuk diambil manfaat, dan membuat pembaca diberkati.

Kesenangan (voluptas) dalam membaca ada setelah merasakan apa yang indah, yang manis didengar, dicium, dirasa, disentuh. Curiositas adalah demi pengalaman membaca itu sendiri, bahwa membaca bukan untuk menderita ketidaknyamanan tetapi sebuah nafsu untuk mencari dan mengetahui. Curiositas dan voluptas adalah versi lain dari cupiditas, yaitu keinginan yang salah. Alasannya, keduanya mewakili kecacatan fokus: yaity berfokus pada hal yang salah atau pada hal benar dengan cara yang salah.

Dalam karya Confession, Augustine memunculkan curiositas berkorelasi negatif dengan memoria. Dengan memoria segala (ingatan) yang tersebar dapat ditarik kembali. Membaca melibatkan memoria dan curiositas – di dalam dan di luar batin. Memoria merupakan aktualisasi seseorang untuk merekonfigurasi pengalaman dan memperbaharui pemahaman yang ilahi.

Ngomong-ngomong, apa boleh baca puisi atau cerita atau drama? Membaca karya sastra tidak dapat dikatakan dosa. Alasannya, kita mengerahkan seluruh perhatian pada tulisan atas dasar ordo amoris: bahwa manusia seharusnya mencintai segala ciptaan dalam relasinya dengan Allah. Nyatanya, karya seni adalah kesempatan untuk mendapat kesegaran dan rekresi dan kesenangan. Bahwa membaca sastra atau membaca secara mendalam merupakan cara tak tergantikan dalam mengasah ketajaman dan kebijakan.

Dalam hal jenis bacaan, pembaca adalah raja, yang menentukan tulisan apa yang akan dibaca. Jika berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama maka digambarkan dengan caritas. Jika berdasarkan keinginan sendiri merujuk pada cupiditas. Istilah ini menjadi pembeda antara orang yang hidup saleh dan tidak.

Mencintai sesama selalu berisiko. Entah sesama itu akan membalas atau menolak kasih kita, dan kita tetap berjuang untuk menunjukkan kebaikan. Jika mengasihi Allah dalam membaca maka kita akan memperhatikan apa yang kita baca, yang memiliki otoritas kebenaran atau tidak.

Mengejar Pengertian

Fenomena teks –demi memperoleh kebijakan dan otoritas – dikenal dalam tradisi agama Yahudi. Zohar, seorang mistis Yahudi, mengibaratkan Taurat bagai gadis yang cantik dan terhormat, dipingit di istana yang indah dan terpencil. Ia punya kekasih yang hanya gadis itu yang tahu.

Sang kekasih terus lewat-lewat di gerbang, matanya memonitor sekeliling. Gadis itu menyadari keberadaan sang kekasih, dan ia memikirkan untuk melakukan sesuatu. Perlahan ia mendorong pintu hingga sedikit celah terbuka, menunjukkan diri kepada sang kekasih, lalu cepat-cepat menutup pintu. Meski sekilas, sang kekasih melihat. Dia mahfum bahwa karena cintanyalah gadis itu memperlihatkan  diri. Sejak itu hatinya tertuju kepada si gadis. Begitu juga Taurat, hanya terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh cinta. Orang harus mengejar Taurat dengan sepenuh kekuatan, seperti mengejar seorang kekasih.

Talmud (catatan hukum, etika, kebiasa, sejarah Yahudi) bagi orang Yahudi pun didedikasikan bagi Allah. Bahwa, “Satu kali kamu mungkin meninggalkan Aku, tetapi tidak TauratKu” digambarkan oleh Emanuel Levinas (1906-1995) tentang orang Yahudi yang harus “mencintai Taurat lebih daripada mencintai Tuhan” (bayangan Ulangan 6:4-9).

Dalam Sejarah Membaca, Alberto Manguel (1948-   ) menulis, “Pada hari raya Shavout, memperingati hari Musa menerima Hukum Taurat dari tangan Allah, seorang anak laki-laki siap ditahbiskan. Tubuhnya dibelitkan selendang doa dan diserahkan oleh ayahnya kepada gurunya. Guru itu menempatkan si anak di pangkuannya, memperlihatkan kepada si anak sebuah piring yang di atasnya tertera huruf Ibrani dan kutipan ayat dari Kitab Suci, berikut tulisan, “Kiranya Taurat menjadi kesukaanmu.” Lalu piring itu dilumuri madu dan anak itu menjilatnya, demikianlah tubuhnya digambarkan mencerna kata-kata kudus. (bayangan Mazmur 19:10 dan Yehezkiel 3:3).

Perlakuan yang sama terhadap otoritatif teks terjadi di biara-biara pada abad pertengahan. Mereka mempraktikkan lectio (membaca) dan meditatio (meditasi, merenungkan) yang digabung, dan hasilnya adalah ruminatio –mengunyah firman/kata.

Merenungkan adalah mendekatkan diri selekat mungkin pada kalimat yang diucapkan dan menimbang semua kata dengan cara diperdengarkan bersuara dengan maksud memahami kedalaman maknanya. Mencerna isi teks dengan mengunyah untuk memunculkan seluruh rasa. Itu yang disebut oleh St Augustine palatum cordis atau in ore cordis, artinya kurang lebih the taste of the heart dan the ear of the heart. Pembaca atau pendengar dalam hati dapat merasakan makna saat mempelajari puisi atau bagian-bagian musik karena hati mencapai teks atau musik sebagai sebuah kejernihan dan kekuatan dalam hidup.

Mencerna sebuah teks suci atau yang kuat diekspresikan dengan cara hikmat oleh pendengar yang membaca demi pengertian. Petrach (1304-1307) misalnya, mencium teks Virgil (70-19BC) sebelum ia membukanya. Erasmus (1469-1536) melakukan hal sama kepada teks Cicero (106-43BC). Machiavelli (1469-1527) berpakaian resmi setiap kali akan membaca sebagai tanda penghargaan terhadap teks. Sikap tersebut merupakan penghargaan secara langsung. Dan kritik sastra adalah sebuah bentuk penghargaan.

Petrarch menjelaskan alasan dia mengutip tulisan pengarang-pengarang klasik: Tidak ada yang sangat menyentuh daripada aksioma orang-orang besar. Saya pakai itu untuk menguji diri saya, untuk melihat apakah itu berisi sesuatu yang solid dan mulia, kokoh atau tegar dalam menghadapi keberuntungan yang buruk, atau untuk menemukan jangan-jangan pikiran saya cupet. Saya berterima kasih kepada pengarang yang memberi saya kesempatan untuk menguji pikiran saya.

David Lyle Jeffrey (1941-    ) mengomentari frase Petrarch yang mengisyaratkan kebergantungan pada otoritas pengarang, dengan berkata, saya baru sadar telah ditipu oleh pikiran sendiri. Hal itu sekaligus menunjukkan sikap skeptik iman kristen terhadap masalah interpretasi yang diprivatisasi, seperti pernyataan St Augustine di atas.

Kenosis: Sebuah Gerakan

Apakah benar pembaca mencintai penulisnya? Mencintai dan menghargai, samakah?

Kasih yang murni bagi orang lain disebut kenosis, yang mensyaratkan pengosongan diri seseorang. Konsekuensinya, mengisi kekosongan itu dengan berfokus pada Yang Lain. Yesus adalah contoh kenosis, seperti kata Paulus, “ … dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, yang walau dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milih yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya …” (Filipi 2: 5-7)

Kenosis merupakan gerakan atau sikap penting dalam mengasihi sesama yang ditandai dengan kepedulian penuh. Jiwa dikosongkan demi menerima pada diri yang dipandang, dalam seluruh kebenarannya. Tradisi kenosis sebagai satu aliran besar dalam dunia Barat, yang ekspresinya ditemukan dalam frase  I am you – saya adalah kamu. Dalam hal ini, seseorang kehilangan dirinya dalam obyek yang dia kontemplasi.

Seorang yang sedang tenggelam, menyadari ketakberdayaannya, menyerahkan diri dengan memandang diri terus, sampai nyawanya terlepas. Dunia menjadi obyek kasih yang murni. Pengosongan diri dalam sikap penuh perhatian dan kasih yang sempurna. Ketika istrinya meninggal dunia (1864), penulis Rusia Dostoevsky berkata bahwa untuk mengasihi seseorang sebagai mana adanya sesuai perintah Kristus, itu tidak mungkin. Setelah kemunculan Kristus sebagai bentuk ideal manusia dalam daging, menjadi sangat jelas bahwa itulah yang tertinggi.

Penutup

Ada sekitar 90 kata baca –beserta turunannya- di Alkitab. Beberapa adalah alasan untuk membaca.

Allah mewajibkan umat Israel, “Apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.” Ulangan 31:11

Untuk mendapat pengertian, “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:8).

Memberi efek menenangkan, “Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah , lalu dibacakan di hadapan raja.” (Ester 6:1).

Untuk mengungkap rahasia, “Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja.” Daniel 5:8.

Untuk menghibur, “Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan (Kisah 15:31) dan kesaksian hidup, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” Markus 12: 10.

Perintah Yesus, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Lukas 10:26

Untuk Kekekalan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Is/12/7/18

 

 

 

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (2)

Komisi Ideologi

Pokok-pokok Pikiran Sidang Komisi Ideologi

  1. Ideologi Pancasila dibutuhkan untuk mengatasi problem kenegaraan dan kebangsaan, yang terkait dengan keberadaan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan saripati dari nilai bersama dalam masyarakat Indonesia. Butir-butirnya diuraikan dalam living values/ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Keragaman yang tak terbatas ini memerlukan ideologi untuk menyatukannya. Untuk itu, Pancasila perlu dimaknai dengan menguatkan aspek kosmologis dan kultural. Pancasila bukan sesuatu yang asing karena digali dari masyarakat kita. Kesatuan perlu dipahami bukan sebagai penyeragaman, tapi keterhubungan. Sebagai ideologi formal, Pancasila sudah “selesai”. Yang belum selesai adalah pemaknaannya. Seperti dalam masyarakat Bali yang memiliki hukum formal adat, Tri Hita Karana[1], tidak dapat diutak-atik. Tapi pada tingkat perarem, hal ini dapat dibicarakan dan direvisi kembali. Proyek kita sekarang adalah Pancasila ideologi lintas generasi dalam bangsa kita.
  2. Ideologi berarti gagasan-gagasan besar untuk membangun masyarakat. Membangun merupakan sesuatu yang abstrak tapi riil, mempengaruhi dan mengonstruksi cara hidup dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Saat ini ditemukan kesenjangan antara kesepakatan final terhadap Pancasila sebagai ideologi dengan penerapannya di dalam masyarakat. Kita perlu pembudayaan atau internalisasi nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini pada jiwa memiliki masyarakat terhadap Pancasila.
  3. Tantangan-tantangan yang dimaksud di atas adalah kecenderungan untuk mempertentangkan kesetiaan terhadap agama dan negara, monopoli interpretasi terhadap Pancasila, dan sakralisasi Pancasila. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu pendidikan kewarganegaraan/ civic education untuk menginternalisasi Pancasila sebagai representasi ideologi yang integratif dan inklusif melalui strategi partisipatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
  4. Pancasila merupakan nilai-nilai universal yang perlu diperkenalkan kepada dunia global.

[1] Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan) yaitu prinsip-prinsip universal berupa memiliki hubungan baik dengan Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Jakarta, 24 November 2018

Pimpinan Sidang Komisi Ideologi

Marko Mahin

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (1)

Foto 1

Temu Akbar 3 Mufakat Budaya Indonesia telah dilangsungkan di Jakarta pada 23-25 November 2018, terbagi dalam 5 sidang, yaitu Komisi Ideologi, Komisi Konstitusi, Komisi Kenegaraan, Komisi Kebangsaan, dan Komisi Kebudayaan. Berikut adalah Pokok-Pokok Pikiran Sidang Komisi Kebangsaan:  

  1. Realitas di era mutakhir, mengalami kemerosotan values dalam berbagai aspek kehidupan. Pewarisan nilai-nilai luhur suku bangsa belum mendapatkan wacana  yang memadai dalam praktik sosial-kultural di Indonesia. Terjadi perubahan tata nilai dan tata hidup bangsa membawa pada pola kehidupan yang pragmatis dan material. Karena itu Komisi Kebudayaan MBI merasa perlu mengembalikan nilai-nilai luhur yang selama ini dilupakan sebagai dasar berpikir yang relevan untuk kebudayaan masa depan Indonesia.
  2. Kebudayaan Indonesia dipahami dan diidentifikasi sebagai manifestasi dari nilai luhur tiap suku bangsa yang perlu diwariskan, dilestarikan, dan diciptakan kembali. Kebudayaan Indonesia mengikat 745 suku bangsa untuk berproses, berinteraksi, dan bereproduksi dalam hubungannya dengan pembentukan identitas kebangsaan yang bersifat multikultur, cair, dan dialektis antara gunungan (kontinental)-bahari.
  3. Praktik pewarisan, pengembangan, dan pelestarian didasarkan pada nilai-nilai kebaikan bersama sehingga kekayaan sumber daya di daerah-daerah seluruh Indonesia menjadi bagian dari strategi untuk memperkaya dan memberdayakan kebudayaan. Identitas kebangsaan yang sudah teridentifikasi sudah tecermin di dalam Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebebasan, kebersamaan, dan keadilan sosial. Fusi masing-masing unsur tersebut sangat bermanfaat untuk memperkaya kahazanah identitas kebudayaan Indonesia, dan meski terus menerus kita re-thinking, re-interpertasi, re-vitalisasi agar senantiasa mendapatkan aksentuasi-nya secara kontekstual dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Perlu pranata baru yang direkonstruksi tafsirnya tentang identitas melalui perkembangan ilmu dan teknologi untuk meneguhkan budaya Indonesia. Kebudayaan Indonesia perlu pola yang terbuka, inklusif, relasional, dan kesediaan belajar.
  5. Gagasan tentang nilai, pranata, hingga praksis kebudayaan perlu diarahkan pada nilai-nilai yang sudah disepakati di dalam kearifan lokal yanh telah digali melalui transliterasi, tranlasi, dan transformasi nilai. Contoh, “desa kala patra” sebagai bagian dari kearifan Bali memerlukan format yang tepat dalam praktik kebudayaan mutakhir. Sebagai tuntunan yang berbentuk kearifan lokal memerlukan kemasan dalam strategi tontonan sehingga dapat bermamfaat untuk proses tafsir identitas kebangsaan yang bertumbuh. Disinilah keterlibatan penyelenggara negara adalah niscaya. Perasan ide dan gagasan komisi budaya MBI perlu ditindaklanjuti secara nyata, menyentuh dan berkesinambungan.
  6. Kebudayaan memang tidak cukup dirumuskan karena diversitas kebudayaan begitu luas dan kaya. Diantaranya terdapat kearifan lokal yang perlu dikenal dan tidak dibiarkan terapung, yang perlu di reinterpretasi dan revitalisasi. Identitas kebudayaan Indonesia perlu “dikejar” mulai dari ke belakang sampai ke depan yang tidak terputus. Meskipun tidak mungkin dirumuskan bukan berarti tidak memiliki rumusan. Budaya di sini dilihat sebagai definisi yang mengalir, dan budaya adalah adiluhung. Tersebar di seluruh Nusantara, dia akan terbentuk sendiri secara alami dan menjadi suatu karakter yang dapat dirasakan oleh bangsa ini. Secara sosio-historis Indonesia mengalami penyusutan kultural dan simbolik hingga tak mengenal dirinya sendiri dan oleh karena itu mudah dimanipulasi melalui destruksi asing.
  7. Sastra adalah salah satu bentuk simbolik untuk mengenal kebudayaan. Pada tahun 1892 sastra Nusantara yang dikeluarkan oleh Inggris pada tahun 1977 dalam bentuk katalog. Bahkan tentu kita dapat menemukan jauh sebelumnya, terdapat sastra-sastra luhur dalam babad, serat, tabo, dan sejenisnya yang saat ini sulit sekali kita dapatkan, dan barangkali sebentar lagi akan musnah. Dalam teks-teks sastra tersebut kita dapat menggali sedemikian rupa zaman yang direkam dan diperlihatkan bagaimana menghadapi zaman. Kita bangsa Indonesia dapat belajar dari semua itu. Saati ini zaman ditentukan oleh teknologi informasi yang disebut internet, orang menyebutnya zaman milenial. Tidak ada masalah dengan zaman ini, sebab antar zaman dan peradaban semestinya tidak terputus. Yang menjadi masalah adalah apabila era teknologi informasi ini tidak diisi dengan pengetahuan kita soal Nusantara, soal kebudayaan yang telah disebutkan di atas: multi-diversitas.
  8. Oleh karena itu perlu ada re-thinking tentang kebudayaan Indonesia, dengan catatan tanpa menghilangkan jejak, simbol, kearifan lokal, sastra-sastra luhur, yang merupakan jejak itu sendiri dan perlu ditelusuri lagi. Kita memang telah kehilangan dan terputus dari jejak-jejak tersebut, sebab tidak terintegrasi dalam bidang pendidikan. Pendidikan menjadi produk budaya yang seharusnya dapat membantu kita dalam merumuskan hal ini, yang kemudian terpecah belah oleh urusan politik. Demikian forum Komisi Kebudayaan ini mencoba menjadikan diskusi sebagai intisari untuk sikap kita tentang Mufakat Budaya.

 

Jakarta, 24 2018

Pimpinan Sidang Komisi Kebudayaan

Saifur Rohman

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Bermalas-Malas yang Alkitabiah

mendekap sayap sendiri

Teks Rinto Pangaribuan

Ilustrasi Surajiya

Kemalasan tak pernah mendapat tempat dalam kekristenan. Ia laksana hama. Bahkan dalam tradisi Kristen, ia termasuk salah satu tujuh dosa maut. Label yang bukan main-main. Ini indikator kuat betapa kemalasan adalah momok mengerikan.

Masyarakat kita mencaci-maki kemalasan. Rajin pangkal pandai. Malas pangkal bodoh. Begitu kata peribahasa kita. Orang-orang malas akan ditendang dari pergaulan. Tidak ada bos suka karyawan malas. Seorang ibu akan menjewer anak yang malas. Pun orang malas benci orang malas.

Pada sisi lain, sumpah serapah pada kemalasan adalah pemujaan terhadap kerja. Kita meluhurkan kerja sampai langit ketiga. Cita-cita masa kecil memuncak pada profesi kerja. Presiden kita menyerukan, ”Kerja! Kerja! Kerja!” Guru kita memerintah, “Kerjakan tugasmu!”

Pemujaan terhadap kerja adalah tindakan pilih kasih. Pasalnya, manusia juga diciptakan untuk malas-malasan. Tuhan mencipta manusia untuk selow dan santai menikmati dunia (Kejadian 2:16). Tuhan memberi kita hak untuk bermalas-malas atau malas-malasan. Bukan hanya hak. Bermalas-malas adalah kodrat manusia. Karena Allah telah meletakkan itu pada manusia, sejak semula.

Bagaimana membuktikan pandangan ini? Tetapi, bukankah banyak nukilan Alkitab mengatakan kemalasan—dan semua turunannya— terhisap dalam dosa?

Untuk menjawabnya, saya akan membatasi pembacaan hanya dari Amsal. Alasannya, hampir semua seruan mengenai kemalasan bersumber dari kitab ini. Jadi, benar kitab Amsal mengkritik kemalasan? Bagaimana imajinasi Alkitab tentang bermalas-malas? Atau, adakah sikap malas yang Alkitabiah?

Bermalas-malas dalam Alkitab: Sebuah Kritik

Perjanjian Baru memunculkan kata malas sebanyak tiga kali. Pada Matius 25:26, 1Timotius 5:13 dan Titus 1:12.

Matius menyematkan malas kepada hamba yang diberi satu talenta. Terma malas dalam bahasa Yunani adalah oknere. Kata ini berasal dari adjektiva okneros. Selain malas, juga berarti menyusahkan. Melihat keseluruhan konteks, saya condong pada pengertian kedua. Pada Matius ayat 24–25, kita diberitahu alasan mengapa hamba itu tidak mengusahakan talentanya. Yang bukan malas. Melainkan alasan yang menyusahkan tuannya.

Dalam 1Timotius 5:13, kata bermalas-malas ditujukan kepada janda. Dalam LXX atau Septuaginta –Alkitab Ibrani dan Yunani- memakai kata argai. Asal katanya argos, yang artinya menganggur. Terma sama juga dipakai dalam Titus 1:12.

Namun kita akan meninggalkan ketiga ayat karena istilah yang dipakai tidak mewakili apa yang kita bahas dalam tulisan ini.

Sebanyak lima kali kata malas muncul dalam Perjanjian Lama. Dalam Yosua 18:3, Hakim-hakim 18:9, Amsal 12:27 dan 18:9, Yeremia 9:5). Sedangkan kata pemalas muncul enam belas kali. Empat belas diantaranya berserak di kitab Amsal. Ayat paling terkenal dan menjadi contoh kasus kita adalah pada Amsal 6:9–11. Butir ini, bisa dikatakan, mewakili nuansa dari semua aforisme kitab Amsal.

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” — maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Ayat ini memberi kita daftar ciri-ciri pemalas. Suka tidur, terbangun, mematikan alarm, untuk melanjutkan tidur. Akibatnya, kemiskinan dan badai kekurangan menyerbu.

Amsal melukiskan adanya hubungan sebab dan akibat, antara kemalasan dan kemiskinan. Hukum kausatif menjadi warna utama pada hampir seluruh nasihat kitab ini. Para penulis Amsal rupanya percaya hukum tabur-tuai. Kalau menanam kacang, kita menuai kacang. Jika menanam singkong, maka pohon singkong yang tumbuh. Orang Indonesia bilang, kalau rajin, kita pasti akan kaya. Kalau malas?

Pertanyaannya, mengapa penulis Amsal—kerap disebut orang bijak—percaya pada hukum sebab-akibat? Zaman sekarang hukum tabur-tuai merupakan kebodohan besar. Orang baik malah menjadi sasaran empuk penipu. Buruh bekerja keras setiap hari, tetapi tetap melarat bin sekarat. Ada emak-emak korban gebukan massa, malah dituduh operasi plastik. Dunia ini tidak adil! Mengapa masih percaya hukum tabur-tuai?

Untuk memahami kitab Amsal, kita harus mengerti dulu paradigma berpikir masa itu. Kitab Amsal dibingkai oleh motif takut akan Allah (1:7). Siapa yang segan kepada-Nya akan mempunyai akses pada hikmat (hokma, bahasa Ibrani ). Dalam pengertian Yahudi, hikmat bukan teori abstrak. Istilah hokma merupakan pengetahuan teknis kerajinan (lihat Keluaran 31:1–11). Sumbernya dari pengalaman dan bertujuan untuk mengatur kehidupan. Ia berangkat dari pengamatan fenomena alam dan budaya.

Horisonnya adalah kehidupan manusia dalam keluarga dan budaya. Semua dibalut dalam latar  teoritis: Allah memasukkan suatu tatanan yang adil. Asumsi teoritis ini penting karena merupakan jantung kitab Amsal. Ia merasuki seluruh struktur kehidupan dan menjanjikan ”jalan hidup” bagi setiap individu. Titik sentral ada pada keyakinan tindakan dan akibatnya nyata, bergantung satu sama lain. Masyarakat pembaca Amsal meyakini bahwa mekanisme mesin dunia berputar dengan adil. Jadi, siapa yang mengikuti aturan main akan dianggap bijak. Sebaliknya, orang-orang yang mencoba keluar pagar, dicap bodoh.

Sebagai orang Indonesia, sepatutnya kita tidak heran. Pasalnya, kita dekat dengan wawasan dunia seperti itu. Nenek moyang kita meyakini dunia dicipta dengan harmoni. Segalanya berjalan selaras. Sinar matahari akan diimbangi cahaya rembulan. Kemilau emas senja akan ditandingi remang fajar. Bahwa alam semesta bergerak dalam rima serentak.

Pandangan ini lazim dalam wilayah Timur Dekat pada milenium ke-3. Ini berangkat dari mitos-mitos kuno. Yang meyakini adanya kekuatan supranatural yang memasuki kosmos dan mencampuri urusan manusia. Para dewa hanya berpihak pada keadilan dan keseimbangan alam semesta.

Begitulah hukum kausatif diterima dalam kitab Amsal. Mereka memperhitungkan sesuatu yang benar. Jika malas, maka kita akan miskin. Konsekuensi dari kemalasan berfungsi sebagai penyeimbang tatanan agar tetap adil.

Pertanyaannya, apakah masyarakat kapitalisme sekarang  harus membaca Amsal dengan cara sama? Setidaknya, ada dua alasan mengapa kita harus meninggalkan keluguan teologis ini.

Pertama, kumpulan aforisme Amsal datang dari kelas masyarakat tertentu. Salomo bukanlah pengarang tunggal kitab ini. Raja dengan seribu istri ini dirujuk sebagai penulis Amsal ketika kitab Septuaginta ditulis. Sementara ribuan ajaran dari berbagai tradisi tidak diketahui lagi siapa pengarang aslinya. Namun berdasarkan gaya dan nuansa, kitab Amsal dapat dilacak datang dari tiga lapisan masyarakat.

Pertama, kitab hikmat istana. Ini ucapan-ucapan dari dunia kerajaan dan para intelektualnya. Kedua, hikmat instruksional dari para rabi. Ketiga, hikmat komunitas, dari mereka yang kembali  paska pembuangan.

Tiap kelas mewakili kepentingan masing-masing. Bayangkan jika hikmat antikemalasan datang dari istana. Kita menebak itu untuk menggembosi para petani agar rajin bekerja. Dengan demikian, mereka dapat membayar upeti kepada raja (lihat 1Raja 12:10). Situasi ini sangat mungkin. Karena kontestasi para elite politik pada era PL terbilang kotor. Mereka berkolaborasi dan bersaing secara bergantian dengan pemilik tanah dan pedagang yang kuat. Secara berurutan, mereka mengontrol surplus petani yang diperlukan untuk mendukung aparat negara dan menyejahterakan elite nonpemerintah.

Alasan kedua mengapa kenaifan teologis ini harus ditanggalkan adalah perbedaan zaman. Asumsi bahwa ketika itu dunia diperintah oleh sebuah tatanan yang adil dan masih dapat diterima. Namun, itu tidak berlaku sekarang. Kapitalisme sudah memerkosa kita habis-habisan. Tatanan adil hanya isapan jempol.

Jadi, sekeras apa pun supir ojek online menarik pedal gas, tetap berkubang dalam kemiskinan. Buruh pabrik bergulat selama dua belas jam per hari dengan mesin dan uap pabrik, tetap melarat. Sebanyak apa pun kapal ditenggelamkan, nelayan tetap miskin jika rantai distribusi tidak diperbaiki.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah tatanan curang. Struktur yang menggerakkan dunia kita penuh dengan ketidakadilan dan eksploitasi. Oleh karena itu, semua seruan busuk pada pemuliaan kerja adalah paham tua. Semua itu harus dihancurkan dengan palu godam kemalasan. Dengan dua alasan ini, antikemalasan yang dikumandangkan oleh kitab Amsal sebaiknya kita tinggalkan.

Kemalasan adalah Penjaga

Untuk membangun malas yang Alkitabiah, kita harus mengartikan ulang kemalasan. Dalam hal ini saya akan merujuk pada Thomas Aquinas (1225-1274), filsuf dan teolog Itali yang terkenal. Berangkat dari situ, saya akan menggunakan imajinasi Paul Lafargue (1842–1911)  tentang kemalasan. Ia adalah menantu Karl Marx yang menulis buku Hak untuk Malas (1880/2008).

Aquinas membicarakan kemalasan abad 13. Ia berdiri di antara pemahaman kuno Para Bapa Gereja Padang Gurun (early church desert fathers) dan konsep modern tentang kemalasan. Pada abad 4 dan pertengahan, kemalasan menjadi sentral dalam penilaian moral. Dalam konteks inilah Aquinas berteologi. Ia memberi penjelasan mengapa kemalasan masuk dalam kategori tujuh dosa maut.

Sebagai gambaran besar, Aquinas memahami kemalasan tidak seperti cara Hollywood. Ia melukiskan kemalasan dalam konteks rohani, bukan badani—malas mencangkul, misalnya.

Istilah Yunani untuk kata malas adalah acedia. Sederhananya, kita mengartikan kata ini sebagai lack of care. Jadi, malas adalah sebuah kemampuan sadar untuk tidak peduli. Sebuah tindakan aktif untuk enggan.

Secara spiritual, musuh yang diserang oleh malas adalah suka cita (joy). Aquinas membatasi konteks hanya dalam kekristenan. Ciri orang Kristen adalah peristiwa kelahiran baru. Ia mengikuti konsep kematian daging dari Paulus (Galatia 5). Sejak Roh Kudus hadir dalam diri manusia, saat itulah ia merasakan kegembiraan kudus.

Dalam relasi ini, manusia lama dibuang, manusia baru dikenakan. Akibatnya, ia harus mengubah orientasi hidupnya. Ia tidak boleh lagi hidup berdasarkan keinginan semata. Cinta (kepada Tuhan) akan menuntut sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Konsekuensinya, ada bagian dari diri yang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu. Tubuh dan jiwa harus rela menjalani rasa tidak nyaman.

Menurut Aquinas, watak cinta bersifat already (now) but not yet. Cinta kepada Allah selalu dalam proses menjadi. Proses ini disebut pengudusan (sanctification). Dalam pengudusan inilah kemalasan menyerang. Tubuh dan jiwa dituntut untuk keluar dari zona nyaman sebagai konsekuensi cinta. Baik dalam bentuk pelatihan badani atau formasi spiritual. Semua baru bagi tubuh lama.

Dalam menjalani disiplin rohani inilah kelembaman dalam wajah kemalasan hadir. Diri seutuhnya lamban dalam melakukan tuntutan cinta. Akibatnya, kemalasan  memberontak pada identitas Kristus yang baru ditanam Roh Kudus dalam diri kita. Inilah yang menjadikan kemalasan sebagai dosa maut. Kemalasan yang dapat mengubah haluan sehingga kita menjauh dari Kristus.

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan hadir dari konflik batin. Ia tidak muncul sekonyong-konyong tanpa alasan. Ada suatu anasir dalam diri manusia dan mencipta rasa tidak aman dan nyaman. Dalam kesadaran penuh karena didorong rasa risih, manusia memutuskan untuk enggan bergerak. Momen inersia ini yang disebut malas.

Demikianlah kita merumuskan kemalasan secara positif. Rasa tidak aman dan nyaman dalam manusia adalah alarm tanda bahaya. Ekspresi perasaan mungkin muncul dalam rasa takut. Ketika kita berhadapan dengan hal baru, ketakutan menjadi hal lazim. Naturnya memang seperti itu. Ia bikin kita waspada.

Akibatnya, kita memilih diam dan menjauhi sesuatu itu. Kita malas mendekati hal-hal yang dianggap mengancam. Dalam hal ini, kemalasan hadir sebagai penjaga. Artinya, tidak selamanya kemalasan itu tampak negatif.

Malas sebagai Perlawanan

Paul Lafargue menulis buku yang judulnya menggelitik. Hak untuk Malas. Kutipan sajak dari Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781), sastrawan asal Jerman, dimulai dengan, ”Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malas.” Marx memulai manifesto terkenalnya, ”Ada hantu bergentayangan.” Lalu Lafargue, ”Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja.” Khayalan adalah kecintaan berlebihan pada kerja.

Sepanjang buku ia mencaci-maki kerja sebagai sumber penderitaan manusia. Kita harus pahami konteksnya berbicara adalah masyarakat kapitalisme. Pemujaan terhadap kerja yang justru mengakibatkan kelebihan produksi. Ada banyak barang, tetapi tidak ada yang  bisa beli. Akhirnya toko-toko pailit dan tutup. Krisis ekonomi dan bencana kelaparan adalah akhirnya.

Walau demikian, kelas pekerja tetap berhasrat pada kerja. Lafargue menengarai para pendeta dan intelektual sebagai kambing hitam. Dengan legitimasi teologis dan filosofis, mereka berkata hanya dengan bekerja maka penderitaan berakhir. Mereka mengujarkan bekerja adalah kewarasan mutlak manusia. Kita ingat kalimat yang terkenal, ”Tidak bekerja, jangan makan!”

Dalam konteks ini Lafargue memuja Dewa Kemalasan. Ia merindu dunia diperintah oleh rezim kebersantaian. Ia percaya puncak peradaban manusia muncul dari kemalasan. Aristoteles dan Plato tidak mungkin menelurkan filsafat hebat jika harus memintal kapas. Origen tidak mungkin menulis begitu banyak buku kalau sibuk mengurusi mesin pabrik.

Oleh karena itu ia memandang kerja, dalam rezim kapitalisme, adalah kemunduran peradaban. Untuk membuat dunia lebih baik, ia mengusulkan agar dunia memperbanyak waktu bermalas-malas. Misalnya minum kopi, nonton konser, aktivitas seni, dan sebagainya. Menurutnya, semakin banyak beristirahat, semakin manusia produktif dan kreatif.

Lafargue mengajukan proposal manusia bekerja tiga jam sehari. Seandainya tentara, politikus, dan kelas borjuis turun ke pabrik, maka target itu dapat dicapai. Dengan catatan, produksi dibatasi untuk memenuhi kebutuhan saja. Bukan untuk mencari nilai lebih.

Lafargue menyalahkan kelas pekerja. Baginya, kesadaran semu mencemari pikiran mereka. Kelas proletar terlanjur mencandu agama baru: kerja. Untuk mengalahkannya, ia menyerukan agar buruh menuntut hak kepada dunia. Hak apa? Hak untuk malas! Kita berhak untuk malas! Jangan mau dicekoki bahwa kerja adalah keharusan. Fakta sudah membuktikan bahwa semakin kelas pekerja mengisap opium kerja, penderitaan kian mendera.

Dalam penafsiran saya, Lafargue ingin menyerukan bahwa wabah dunia ini berakhir jika kelas pekerja menyudahinya. Mereka harus berani bersatu untuk malas serentak. Malas datang ke pabrik. Malas bekerja dua belas jam sehari. Malas mengemis kepada borjuasi. Malas patuh pada semua kesadaran palsu. Malas untuk tabah dan bersyukur atas segala penderitaan.

Mereka harus malas karena itulah satu-satunya cara untuk melawan!

Merajut Malas yang Alkitabiah

Tugas utama orang Kristen adalah melakukan restorasi atas tatanan dunia. Pada mulanya, Tuhan mencipta alam semesta ini baik adanya (Kejadian 1). Lalu dosa merusak tatanan baik itu. Dosa pertama adalah manusia menihilkan eksistensi sesamanya (Kejadian 4). Itulah yang terjadi sekarang. Kapitalisme menciptakan tatanan berengsek. Akibatnya, dunia menjadi kandang exploitation de l’homme par l’homme. Manusia terdegradasi menjadi hanya sebatas alat produksi (dehumanisasi). Human being, katanya, sudah tereduksi menjadi human doing.

Kita harus menarik kembali tatanan dunia ini menjadi adil seperti pada era kitab Amsal ditulis. Hanya dengan cara ini Amsal kembali relevan.

Tangan kapitalisme adalah perpanjangan tangan iblis. Ini mengancam kemanusiaan kita. Ia mengekang kebebasan kita. Alkitab mengatakan kehadiran Roh Kudus harus ditandai dengan kemerdekaan (2 Korintus 3:17). Ini seharusnya mengganggu zona aman dan nyaman kita. Seharusnya, konflik batin itu harus terus berkecamuk kuat dalam diri kita. Namun, kesadaran palsu yang disuntikkan kapitalisme tampaknya berhasil meredam kontradiksi internal itu. Akibatnya, kita tidak takut pada kapitalisme. Kita berusaha mencari cara untuk berdamai dengannya. Alih-alih melawan, kita mencoba berbagai teknik untuk beradaptasi. Ini keliru karena mengingkari kehadiran Roh Kudus!

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan dapat kita tarik ke kutub positif. Ia dapat menjadi penjaga terhadap bahaya. Kemalasan membuat kita enggan mendekati hal baru dan dianggap mengancam. Kapitalisme itu pengganggu. Ia menindas. Ia membuat banyak orang menjerit kesakitan. Telinga Tuhan selalu bersendengan kepada jeritan rakyat tertindas (Keluaran 3:7). Dengan begitu, seharusnya kita enggan bersentuhan dengan sistem ini. Kita harus lembam di hadapan struktur ini. Harus benar-benar malas berurusan dengannya.

Kapitalisme sudah mengingkari kodrat manusia untuk menikmati dunia (Kejadian 2:16). Kapitalisme sudah mengasingkan kita dari alam semesta. Ia memaksa kita untuk bekerja dan bekerja. Pergi ke bioskop untuk menonton film receh komodifikasi Hollywood karena kita terlalu capai untuk meresapi sastra. Pikiran kita terlalu lelah untuk menikmati puisi. Mata kita terlalu sayu untuk menikmati bintang dan rembulan malam. Kita lupa menikmati alam ciptaan Tuhan. Karena itu kemalasan radikal harus dideklarasikan. Kaum buruh sedunia, bermalaslah!

Apakah kita punya nyali?

*

Penulis adalah pegiat Selasaan

Ilustrasi Mendekap Sayap Sendiri (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogya.

read more
OASETERASWARA-WARA

Cerita-Cerita dari Sekolah Minggu

sekolah minggu oleh daniel nugroho

Awal kepengarangan saya mungkin dimulai dari Sekolah Minggu (SM) di gereja. Di sinilah pertama kali saya berpengalaman sebagai pendengar. Dari cerita-cerita Kitab Suci yang dahsyat.

SM biasanya pagi hari Minggu. Maka hari libur itu adalah hari sibuk bagi keluarga Kristen. Bangun tidur, mandi, sarapan, buru-buru ke sekolah minggu.

Saya tidak ingat umur berapa pertama kali diantar ke SM. Dalam ingatan, SM adalah kegiatan sosial masa kecil yang mengasyikkan. Saya bengong ketika kakak pengasuh memberitahu bahwa kado seharusnya barang baru, ketika saya bawa tempat pensil bekas untuk teman yang berulang tahun. Pernah saya dites untuk menyanyi suara dua, malah menaikkan volume suara dua kali lebih keras. Setelah dewasa saya geli sendiri, paham kenapa si kakak langsung menarik wajahnya dari wajah saya, waktu itu.

Di mana pun kita bergereja di dunia ini, pasti ada layanan sekolah minggu. Menjadi anggota baru di gereja, anak akan ditanya usia. Berdasarkan usia itulah ia dimasukkan ke kelas tertentu. Tidak banyak. Mungkin 6-7 anak. Atau 10 anak. Bila terlalu banyak anggota, kelas akan dibagi dua.

Semasa saya kecil, SM terdiri dari Kelas Kecil, Kelas Tanggung, Kelas Besar. Ketika usia bertambah, maka anak akan dipindah dari Kelas Kecil ke Kelas Tanggung. Begitu seterusnya. Sampai ia tidak lagi berada di kelas SM. Karena sudah dewasa. Dalam tradisi gereja Baptis, SM masih ada sampai dewasa.

Naik kelas bukan berdasarkan kemampuan. Tapi berdasarkan umur. Kecuali ada hal-hal khusus. Dulu saya di Kelas Besar, ada kawan yang dari fisiknya seperti murid SMA. Ketika dewasa saya paham bahwa kawan itu menderita penyakit ayan. Pada waktu-waktu tertentu dia akan terjatuh dari kursi, tergeletak di lantai, mulutnya mengeluarkan busa.

Anak yang usianya 12 tahun, akan dimasukkan ke Kelas Remaja. Di sini kegiatannya lebih serius. Anak-anak diminta membaca Alkitab masing-masing, menghapal satu ayat, dan lain-lain.

Kegiatan di dalam kelas SM itu sederhana. Menyanyi, bermain, mendengarkan cerita. Kakak pengasuh bertugas berdoa.

Kakak pengasuh biasanya akan mengerjakan semua. Agar kelas SM-nya sejahtera. Kalau ada anak mau pipis, si kakak akan mengantar ke toilet. Kalau anak ngompol, kakak pengasuh akan membersihkan bekas pipis. Kalau anak menangis, kakak pengasuh akan melakukan apa saja agar tangisan reda. Kalau ada dua anak berkelahi, si kakak melerai, mengingatkan pesan-pesan moral kristiani ke dalamnya.

Lagu-lagu SM zaman dulu masih teringat sampai sekarang. Dan masih dinyanyikan oleh anak-anak SM zaman now. Lagu Nabi Nuh dan Istrinya, Ada Dua Jalan, Aku Anak Raja, Anak Sekolah Minggu, Kingkong Badannya Besar, Bapa Abraham, Hari Ini Harinya Tuhan, Zakeus Orang Pendek, Bila Bunyi Sangkakala, Burung Pipit yang Kecil, Dari Terbit Matahari, Dalam Tuhan Kita Bersaudara, Dengar Dia Panggil, dan lain-lain. Lengkap dengan gerakannya.

Alat musik menjadi hal penting lain di kelas SM. Itu bikin kelas bersemangat. Jadi minimal ada dua kakak pengasuh yang bertugas di kelas SM. Satu bertugas memimpin doa dan bercerita, satu lagi pemain musik. Alat musik yang dimainkan antara organ, tamborin, akordion atau piano. Minimal gitar atau okulele sudah pasti. Jarang kelas SM tidak ada musik.

Kakak-kakak pengasuh SM luar biasa baiknya. Mereka kreatif dengan sendirinya. Memutar otak agar kelas mengesankan buat anak-anak kecil. Agar minggu depan mereka muncul lagi di kelas. Maklumlah. Anak-anak kecil itu paling lama berkonsentrasi 5 menit.

Pada saat-saat tertentu kakak-kakak pengasuh membawa hadiah-hadiah kecil seperti permen, cokelat, pulpen, pensil. Siapa yang berani menyanyi di depan teman-teman, diberi hadiah. Siapa yang dapat menjawab pertanyaan kakak pengasuh, diberi hadiah. Siapa yang duduk manis tidak mengganggu teman selama di kelas, dipuji dan diberi hadiah.

Kejutan-kejutan kecil itu merupakan daya tarik bagi anak untuk datang dan datang lagi ke SM. Biasanya hadiah-hadiah dibeli dari kocek kakak pengasuh. Memang ada gereja yang mengkhususkan dana untuk itu. Hadiah yang paling sering zaman saya kecil antara lain bonbon atau tempat pensil.

Selesai waktu bernyanyi, tibalah waktu mendengarkan Firman Tuhan. Maksudnya, cerita. Cerita-cerita yang diambil dari Kitab Suci dan diolah sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi dan dimengerti oleh pikiran anak. Dengan suara buatan, mimik dan gerak atraktif, diselipi guyonan khas anak, cerita akan berakhir sukses. Jangan sekali-sekali membacakan cerita dengan nada lempeng. Dalam dua detik saja anak-anak sudah bosan.

Kisah Adam dan Hawa. Pohon Pengetahuan Baik dan Benar. Bapa Abraham mempersembahkan Ishak. Daniel di Gua Singa. Sadrakh-Mesakh-Abednego di Dapur Api. Raja Daud. Salomo. Ratu Ester. Beragam kisah Yesus –Natal, Paskah, naik ke Surga. Lima Roti Dua Ikan sisa dua belas bakul. Zakeus Si Pemungut Cukai. Petrus dan Kokok Ayam 3 Kali.

Cerita-cerita itu dahsyat menurut saya. Cerita yang membuka cakrawala saya tentang dunia di luar keseharian saya. Tadinya saya pikir cerita-cerita itu karangan kakak pengasuh. Kelak saya sudah kuliah dan menjadi kakak pengasuh sekolah minggu, paham betapa mempersiapkan cerita yang bagus itu tidak gampang.

Saya takkan lupa ketika sesama pengasuh sekolah minggu berusaha melucu di depan anak-anak. Dahinya sudah berkeringat sementara anak-anak di kelasnya menonton dengan mulut terbuka. Tak paham. Di mana lucunya, mungkin begitu pikir mereka.

Obrolan-obrolan santai di warung dengan sesama pengasuh. Membicarakan tingkah-polah anak-anak di kelas. Menertawakan kebodohan-kebodohan diri ketika mengajar di kelas.

Sekarang ini kelas SM lebih canggih. Alat bantu lebih beragam. Ada panggung boneka, anak-anak bermain peran, rekreasi dan lain-lain. Gereja pun punya kurikulum  masing-masing. Begitulah cerita sekitar sekolah minggu.

Ngomong-ngomong soal RUU yang sedang hangat dibincang, bila rancangan itu berhasil diundangkan, maka cerita saya di atas takkan ada lagi. Pasalnya, setiap minggu kakak pengasuh sibuk menghitung jumlah 15 anak sebelum kelas SM dibuka. Penatua gereja sibuk bolak-balik ke Kantor Kementerian Agama/Kota untuk mendapat izin kurikulum SM. Kelas-kelas ditunda. Kakak-kakak pengasuh menunggu. Anak-anak termangu. Keburu waktu meninggalkan segala kesempatan menikmati satu dunia kecil ceria di gereja, bernama Sekolah Minggu.

Semoga para anggota dewan terhormat paham. (itasiregar/27/10/18)

 

*Gambar diambil dari danielnugroho.com

read more
OASETERASWARA-WARA

Kristen Bahari

a horizon

1

Percakapan satu WAG pada satu subuh.

Seorang kawan kirim berita ke grup. Seorang pendeta ditangkap oleh KPK karena menyuap seorang bupati. Dalam seragam oranye, pendeta itu mengulum senyum.

Setelah dua menit, seorang kawan lain melempar tanggapan: “Dia (maksudnya si pendeta) orang baik dan low profile. Jemaatnya 7500 orang. Dia sering menghimbau di mimbar agar jemaat tidak bawa mobil ke gereja. Karena parkir penuh. Dia menyekolahkan banyak anak tak mampu.”

Yang lain menyambar, “Lha, pendeta ngapain nyuap bupati?”

“Proyek besar itu sudah diincar pemda sejak lama. Kalau tidak menyuap, tidak dikasih izin.”

“Pendeta kok kelakuannya gitu, sih? Bikin malu orang Kristen aja.”

Percakapan memanas. Orang yang baru bangun tidur ikut urun pendapat. Dalam tempo kurang dari tiga puluh menit, seseorang merasa terpojok. Kesal dikeroyok, tanpa ba-bi-bu, dia pun ke kiri. Pergi.

Dan pagi datang ketika WAG kembali sunyi.

2

Saya tidak tertarik percakapan. Apalagi ingin tahu soal si pendeta. Tetapi persis tek-tok terjadi, saya tengah membaca buku Kekristenan: Gerakan Universal. Dari Kekristenan Bahari Sampai Tahun 1453 oleh Dale T. Irvin dan Scott W Sunquist (2004).  Membaca buku itu dan melihat peristiwa di WAG yang sekejab terjadi, sekilat benang merah menyata dalam pikiran.

3

Kristen bahari adalah istilah baru buat saya. Lebih sering saya mendengar Kristen perdana. Atau jemaat mula-mula.

Kristen bahari merujuk pada masa setelah kebangkitan Yesus (30 SM). Murid-murid meneruskan ajaran Yesus, guru mereka. Hal paling menarik adalah resistensi para pengikut Yesus terhadap budaya di sekitar mereka.

Israel kuno terletak di persimpangan berbagai kekaisaran dan peradaban. Sebelah Barat Laut Tengah ada tradisi Mesir, Etiopia, Yunani, Yahudi, Mesopotamia, Persia dan Latin. Sebelah timur ada kekaisaran Persia, Mesopotamia, Iran dan India. Agama dominan di Persia adalah Zoroastrianisme.

Sebelah timur dan selatan Persia dan India melintas wilayah-wilayah Asia Tenggara. Di seberang ujung timur ada pegunungan Himalaya dan daratan tinggi Tibet, di mana kekaisaran Cina berdiri. Kelak Konfusianisme dianut sebagai basis ideologi-politik-religius yang koheren dengan bahasa dan budaya bangsa Cina, yang mempersatukan kekaisaran.

Bangsa-bangsa kecil muncul dan mati. Agar bertahan masing-masing berupaya memperluas kendali politik atas berbagai negeri. Penduduk biasanya di bawah komando satu kelompok kecil kaum elite. Pemimpinnya seorang laki-laki militer.

Pola suksesi politik abad pertama adalah kekuasaan yang dilimpahkan dari ayah ke anak laki-laki. Kecuali Romawi, mereka memilih kaisar dari kalangan militer yang tidak selalu diwariskan dari kaisar sebelumnya.

Para ujung tombak komunikasi adalah para saudagar. Mereka lebih dahulu pergi membangun kontak-kontak lintas budaya dan bangsa. Jalur-jalur niaga yang paling penting di antaranya adalah Jalur Sutra (Silk of Road). Jalur ini membentang dari Tembok Besar Cina hingga ke India, sejumlah kerajaan di Asia Tengah, Persia sampai Armenia dan Suriah. Jalur inilah melting pot berbagai bahasa dan kebudayaan.

Begitulah bangsa Yahudi digempur dengan pengaruh banyak kekaisaran dan agama dan kebudayaan, selama berabad-abad. Jejak bangsa-bangsa lain pada taraf tertentu ditemukan dalam Yudaisme abad pertama.

Setelah masa pembuangan (ke Babilonia), orang Israel tetap setia pada iman monoteistik yang ketat. Mereka menyembah Allah yang Esa, yang mewahyukan Taurat kepada Musa, yang memerintah Salomo membangun Kanisah atau Bait Allah.

Pada masa sebelum dan sesudah Yesus lahir, sudah ada mazhab-mazhab. Dua kelompok yang menonjol adalah Saduki dan Farisi. Kaum Saduki yang lebih konservatif,  tidak percaya kebangkitan orang mati. Orang Farisi cukup toleran dengan Yesus dan ajarannya (ingat Nikodemus, guru besar mereka, yang menyelinap malam hari untuk bertemu Yesus). Orang Farisi bertentangan dengan ajaran Yesus dalam hal persepuluhan, ketaatan pada aturan Sabat, perjamuan dan rupa-rupa yang menyangkut kesalehan hidup sehari-hari.

Kekaisaran Romawi sendiri memperlihatkan sikap tenggang rasa menyangkut keragaman dalam hal adat istiadat dan keyakinan agama. Kadang kala kaisar yang berkuasa meminta warga untuk menaati segi-segi kultur kekaisaran Roma, yaitu menyembah dewa-dewi resmi mereka. Tuntutan itu diperlunak bagi orang Yahudi, sebagai penghormatan terhadap larangan agama mereka untuk beribadah kepada ilah-ilah lain.

Pada praktiknya, orang Yahudi menjadi sasaran umum dari berbagai satir yang dipentaskan dalam seni mereka. Di amfiteater misalnya, para aktor menertawakan ketaatan orang Yahudi pada aturan-aturan Sabat. Atau penolakan terhadap makanan daging yang dianggap najis. Jati diri yang terpisah itulah yang sering menjerumuskan orang Yahudi dalam tindak penganiayaan lokal.

Dari pihak orang Yahudi sendiri ada yang bersikap longgar terhadap larangan-larangan budayanya. Mereka ikut bertanding atletik. Padahal, dalam dunia Yunani-Romawi, laki-laki yang turut berlaga tidak mengenakan busana apa pun. Jadi mereka yang paling gampang dikenali karena memiliki tanda sunat.

 

3

Demikian juga Yesus. Sejak masa kecil ia tidak terlepas dari rupa-rupa pengaruh yang melampaui tradisi iman Israel. Dalam Matius 2, para majus –kelompok imam Zoroaster- dengan dibentarai oleh satu bintang, menyaksikan kelahiran Yesus. Matius melaporkan penguasa Romawi saat itu, Herodes, pernah bersekongkol membunuh bayi Yesus, namun oleh orangtuanya dibawa ke Mesir, di Afrika.

Pada usia sekitar 30 tahun, Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis, sepupunya dari pihak ibu. Ketika memulai pelayanan, ia mengumpulkan murid-murid. Reputasi-Nya segera tersebar. Ia dikenal sebagai penyembuh dan pengusir roh-roh jahat. Warga mendiskusikan konten khotbah-khotbahnya. Beragam kelas dan golongan menanggapi amanatnya, tanpa kecuali.

Pada masanya, Yesus menentang praktik ritual yang memisahkan perempuan dan laki-laki. Ia mengajak penduduk untuk mulai hidup dalam pola kekeluargaan baru yang berciri nonpartriarkat. Ia makan semeja dengan orang dari berbagai kelas sosial dan para penyandang najis secara ritual. Mereka yang dianggap berdosa oleh pengajar Taurat.

Ringkasnya, Yesus dan para pengikutnya merobohkan sekat-sekat sosial masa itu.

4

Mengaitkan histori di atas, baru-baru ini telah dilaksanakan sebuah diskusi kebudayaan. Dalam diskusi, budayawan Radhar Panca Dahana, mencatat masyarakat Nusantara yang telah hidup dalam ekosistem kepulauan. Beragam etnik dan kepercayaan agama dan bahasa, saling berkelindan. Simbol air atau pantai yang merupakan adab bahari, memperlakukan orang lain sama dengan dirinya.

Pantai adalah wilayah pesisir tempat bertemunya banyak orang dari berbagai latar belakang. Dalam pergaulan pantai, tak satu kelompok memandang rendah, apalagi meremehkan kelompok lain. Dari pantai, sejauh mata memandang hanyalah horison. Pada titik inilah egalitarianisme sebagai tonggak utama masyarakat multicultural, terbentuk.

Sementara itu sejak jaman kolonial, Indonesia diasuh dalam adab Eropa yang bersifat kontinental. Kebudayaan kontinental ditandai dengan simbol gunung atau piramid. Piramid adalah simbol yang memperlakukan orang lain lebih rendah dari dirinya. Perspektif  yang senantiasa dalam hierarki: atas bawah, besar-kecil, mayoritas-minoritas, dan semacamnya.

Dalam bahasa eksistensialisme, Radhar menggunakan proposisi “aku di dalam kamu, kamu di dalam aku”, untuk menjelaskan adab kebaharian. Fondasi egaliterianisme, multikulturalisme, dan toleransi inilah yang telah tercerabut dari masyarakat Indonesia karena sudah terlalu lama berada dalam keadaban kontinental.

 

5

Balik ke tulisan awal. Warga WAG yang tidak berhasil memufakatkan sebuah sikap terhadap pendeta yang melakukan suap agar memperoleh izin, dibanding gaya hidup Kristen bahari yang memiliki kecenderungan ekspansionis tanpa kekuasaan duniawi, apakah kita dapat menyimpulkan, bahwa adab kontinental telah koheren dalam keseharian komunitas kristiani? (Ita Siregar/22/10/18)

read more
OASETERASWARA-WARA

Tidur: Bukan Menyongsong Ketidakpastian

Di Bawah Setangkup Malam 2017

Teks Julius C. Adiatma

Gambar Di Bawah Setangkup Malam (2017) Surajiya

 

Saya senang tidur. Bagi saya, tidur adalah tempat pelarian sementara dari masalah. Saat sedih, sakit, marah, bosan. Ketika bangun, saya merasa bahagia. Setidaknya beberapa detik sebelum kesadaran kembali menguasai. Saya tak pernah bosan tidur. Meski sepertiga waktu saya dalam sehari, habis karena tidur.

Melongok Alkitab, tidak mudah menemukan satu tarikan makna mengenai tidur. Memang tidak mungkin. Karena jelas, Alkitab ditulis bukan untuk menjelaskan aktivitas-aktivitas manusia.

Bagaimana pun, banyak catatan mengenai kegiatan tidur dalam Alkitab yang tidak saling terkait. Bahkan maknanya kontradiktif.[1] Tetap, saya sulit menemukan bahan rujukan teologis yang memuaskan menyoal tidur. Tersebab inilah saya akan menarik kisah dan pemaknaan mengenai tidur secara pribadi. Perlu saya sampaikan bahwa rujukan yang tercantum di sini semata-mata sumber inspirasi, sehingga ketika Anda membacanya, mungkin kesimpulan yang didapat berbeda dari saya.

Pertama, konsep tidur dalam peristiwa penciptaan. Rupanya, tidur terekam pada peristiwa penciptaan Hawa. “TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak” (Kejadian 2:21). Tidak berhenti di situ. Pada beberapa peristiwa setelah itu, Allah menunjukkan “karya-Nya” ketika manusia tidur.

Yakub bergulat dengan Tuhan dalam tidur (Kejadian 32:24). Allah menghukum bangsa Mesir ketika mereka tidur tengah malam (Keluaran 12:29-30). Samuel dipanggil Tuhan saat ia sedang tidur (1 Samuel 3:3-5).

Dari sini, saya mengajukan kesimpulan sementara bahwa dalam tidur manusia, Tuhan berkarya dan membentuk manusia. Atau bisa juga kita bayangkan, tidur sebagai salah satu cara manusia yang imanen, “berinteraksi” dengan Tuhan yang transenden. Tuhan, yang secara ontologis “tidak eksis”, tidak dapat “dijumpai” oleh manusia dalam kenyataan material. Maka Ia hanya mungkin “dijumpai” dalam dimensi nonmaterial, yang diakses manusia dalam tidurnya.

Kembali ke peristiwa penciptaan.

Jika kita memandang tidur sebagai bagian dari istirahat, kita akan menemukan “Allah memberkati hari ketujuh dan menguduskannya, karena pada hari itu Ia berhenti” (Kejadian 2:3). Angka 7 adalah sakral bagi orang Yahudi. Kemungkinan angka itu berakar dari tradisi-tradisi sekitar Kitab Kejadian ditulis, yaitu abad 6 SM. Dalam beberapa tradisi Kristen pun, angka 7 dianggap simbol kesempurnaan atau kepenuhan.[2]

Maka, istirahat menjadi sesuatu yang sentral sebab ditempatkan pada hari ketujuh. Karya penciptaan Tuhan digenapi dengan berhenti bekerja, beristirahat pada hari ketujuh (meski kita tahu Ia tidak membutuhkannya). Istirahat menjadi syarat pekerjaan menjadi lengkap. Bahkan Allah menguduskan hari itu sementara Ia tidak menguduskan hari-hari sebelumnya waktu mencipta, bahkan ketika menciptakan manusia.[3]

Kedua, saat kejatuhan manusia. Sejak berdosa, manusia harus “dengan bersusah payah mencari rezeki dari tanah seumur hidup” (Kejadian 3:17). Hingga saat ini kita melihat kondisi manusia harus bekerja keras sampai-sampai mengurangi waktu istirahat (baca: tidur). Mereka yang bekerja lembur, shift malam hari, atau pekerjaan sampingan untuk menutup biaya hidup.

Gereja Katolik melalui beberapa ensikliknya (surat Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik sedunia), mulai dari Pacem in Terris, Rerum Novarum, hingga Laborem Exercens, kontinu mendorong hak beristirahat secara layak sebagai aspek penting dalam martabat manusia. [4]

Di sisi lain, istirahat seakan-akan hanya menjadi suatu keharusan bagi manusia karena kebutuhan fisik. Kita pun mudah menemukan banyak penelitian yang menunjukkan pentingnya istirahat (dan tidur) dalam meningkatkan produktivitas kerja. Pekerja yang cukup tidur dan rekreasi, kesehatan fisik dan mentalnya akan lebih baik. Demikianlah perusahaan menjadi lebih untung dan kerja lebih produktif. Penelitian-penelitian ini memberi validasi pada pengurangan jam kerja di negara-negara Eropa.

Pieper, seorang filsuf Jerman, berkata bahwa konsep ini telah mereduksi istirahat sebagai pelayan dari kerja. Padahal, menurutnya, istirahat adalah suatu kondisi yang secara nilai dan hakikatnya, independen dari kerja.[5] Bila kita memeriksa peristiwa penciptaan, istirahat akan menggenapi kerja. Istirahat (baca tidur) memberi dampak positif bagi kemampuan kerja seseorang meski itu dilihat sebagai efek samping.

Istirahat dan tidur merupakan salah satu fitur manusia dan kemanusiaan. Tanpanya, manusia akan kehilangan kemanusiaannya. Perlu dicatat bahwa Pieper berbicara mengenai istirahat dalam arti kontemplatif. Tidak serta-merta berarti tidur.

Barangkali kita pernah berada dalam situasi tidak dapat tidur karena ada “ancaman”. Misalnya pindah ke lokasi baru dan tidak dikenal. Di sini, tidur dilihat sebagai suatu kondisi ketika manusia diharuskan kehilangan kesadaran dan kontrol atas dirinya.

Tidur secara signifikan membuat kita kehilangan kemampuan penginderaan kita seperti terhadap suara, pandangan, maupun sentuhan. Maka tidur sebenarnya seperti menceburkan diri dalam lubang ketidakpastian yang paling dalam. Ketika tidur, kita melepaskan diri sepenuhnya kepada “Ia yang tidak terlelap dan tidak tertidur: Penjaga Israel” (Mazmur 121:4).

Dalam Markus 4:36-41, Yesus tertidur tenang di kapal saat badai menerjang. Satu konflik berkecamuk di antara murid-murid. Kala itu Yesus mengajak mereka untuk menyeberang danau Galilea. Mereka akan menuju suatu wilayah baru yang tak dikenal, melewati danau, yang sewaktu-waktu dapat diterpa badai. Ada kegelisahan dalam diri murid-murid atas ketidakpastian ini. Namun kegelisahan itu tidak dialami oleh Yesus, yang diceritakan tertidur dengan nyenyak. Adegan ini bukanlah penggambaran kuasa Yesus atas cuaca semata, namun teladan keberanian dan ketenangan dalam menghadapi suatu yang tak pasti, mencekam, berbahaya.[6]

Ketika kita menyadari tidur sebagai suatu tindakan menyongsong ketidakpastian, yang kita mampu lakukan secara rutin dan sukarela, menurut saya, dalam perjuangan hidup yang penuh ketidakpastian ini, kita dapat memilih bersikap serupa Yesus. Kita tidur dengan harapan atau keyakinan bahwa kita akan bangun pada keesokan harinya. Demikian pula kita menyongsong pergumulan hidup dengan keyakinan bahwa kita akan memenangkannya.

Lalu bagaimana kita memandang perumpamaan pada Markus 13:33-37 tentang penjaga pintu dan Matius 25:1-13 tentang gadis bijaksana dan gadis bodoh? Atau tentang pencuri pada malam hari dalam 2 Tesalonika 5:3-6, yang seakan-akan menempatkan tidur sebagai sesuatu yang salah?

Tentu ayat-ayat itu tidak mengatakan kepada kita untuk tidak tidur secara harfiah. Menarik ketika Yesus menggunakan perumpamaan mengenai penjaga pintu, tidur adalah hak istimewa dari kelompok atau kelas tertentu. Hamba-hamba dan penjaga pintu diharuskan berjaga sampai tuan mereka pulang. [7]

Pada ayat 37, Yesus mengatakan, “Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: Berjaga-jagalah!” Terlihat Ia menghancurkan batas-batas kelas sosial. Bukan hanya hamba yang harus berjaga, melainkan semua. Tuan dan hamba. Harus berjaga dalam menyambut kedatangan Tuhan.

Saya rasa Yesus paham bahwa tidak mungkin manusia berjaga terus, sementara istirahat dan tidur adalah fitur yang inheren dalam diri manusia. Lalu bagaimana kita dapat berjaga? Dengan melakukannya secara kolektif alih-alih secara individual. Ingat, Yesus menghimbau kita berjaga. Itu bukan sekadar tidak tidur. Bukan sekadar menunggu. Berjaga berarti bersiap dan menyambut.

Ketika Kerajaan Allah mendekat, para hamba saling mempersiapkan diri dan menyambut. Sementara tuan-tuan individualis akan terkapar -meski tidak tidur-, tidak mampu bergerak karena kehabisan daya.

Kitab Ibrani mengungkap visi Kerajaan Allah sebagai tempat peristirahatan. “Masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah. Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya” (Ibrani 4:9-10).

Dalam hal ini seakan-akan di Kerajaan Allah manusia berhenti bekerja. Namun kerja adalah hakikat manusia yang telah dimandatkan oleh Allah pada waktu penciptaan (Kejadian 1:26). Saya meyakini bahwa kerja yang dimaksud adalah kerja yang, sebagaimana istirahat, telah tereduksi oleh kejatuhan manusia. Maka di Kerajaan Allah, manusia akan melakukan kerja dan istirahat yang sejati. Istirahat dalam kerajaan Allah kembali pada hakikat penggenapan kerja dan menjadikannya kudus.ῼ

 

Julius C. Adiatma, penggiat diskusi Selasaan

Surajiya, perupa dan tinggal di Yogya

 

 

[1] https://www.christiancourier.com/articles/753-biblical-concept-of-sleep-the

[2] http://www.biblestudy.org/bibleref/meaning-of-numbers-in-bible/7.html

[3] https://www.theologyofwork.org/key-topics/rest-and-work-overview

[4] Allison McMorran Sulentic. (2014). Now I Lay Me Down to Sleep: Work-Related Sleep Deficits and the Theology of Leisure. Hal 753-762.

[5] Ibid. Hal 765.

[6] https://politicaltheology.com/crossing-over-to-the-other-shore-mark-435-41/

[7] https://politicaltheology.com/the-politics-of-sleep-mark-1324-37-amy-allen/

read more
OASETERASWARA-WARA

Sodom, Homofobia dan Paus

gay-tangan

Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dengan sepenuh hati, siapakah saya berani menghakimi dia? –Paus Francis

Ingat Sodom, ingat homoseksual. Dua kata serupa iklan saking keduanya terbenam dalam ingatan yang bertradisi Protestan ini. Apakah Sodom identik dengan kejahatan homoseksual?

Mari kita memeriksa kota purba Sodom.

Sedikitnya kata Sodom disebut 21 kali di Alkitab. Kebanyakan teks menganalogikan Sodom dengan segala hal yang tidak mulia. Ulangan 32:32, anggur dari Sodom beracun dan pahit. Yeremia 23:14, yang berzinah dan berkelakuan tidak jujur. Yesaya 13: 19, seperti Babel –kacau-balau. Zefanya 2:9, akan menjadi tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Yudas 7, yang melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Yehezkiel 16: 49, kesalahan Sodom adalah kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Jadi, kota Sodom bukan melulu kejahatan homoseksual. Segala macam kejahatan, iya.

*

Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa). Bukan Adam dan Steve. Sebuah petunjuk bahwa sejak awal Allah menciptakan (pernikahan) laki-laki dan perempuan. Bukan laki-laki dan laki-laki.

Teks Kejadian 1:28,” Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, kerap dijadikan pijakan bahwa itu adalah perintah Allah (dalam pernikahan) agar manusia beranak-cucu.

Coba kita runut dari awal penciptaan.

Kejadian 1:27, berbunyi, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambarNya diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Kejadian Pasal 2. Di sini (seolah) terjadi pengulangan (penciptaan), namun hanya pada tiga  makhluk hidup, yaitu manusia, tumbuhan, binatang.

Berikut teks-teksnya:

Kejadian 2: 7, “Tuhan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2: 9, “Lalu Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi.”

Kejadian 2: 19, “Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.”

Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Berdasar urutan di atas, teks Kejadian 1:28 tidak mengisyaratkan agar manusia berkembang biak (melalui perkawinan laki-laki dan perempuan). Tetapi agar manusia menguasai dan mengelola dan memenuhi tanah/bumi. Ingat, Adam dan Hawa belum “dihidupkan” oleh Tuhan Allah.

Teks Kejadian 2:24, bukan sebuah perintah agar manusia laki-laki dan perempuan menikah namun lebih pada pernyataan tentang penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Artinya, manusia menikah atau melajang bukan hal yang dogmatis sifatnya. Itu keputusan pribadi manusia yang bersangkutan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan.

*

Pekan lalu saya mengikuti diskusi bertajuk Tuhan, Anakku LGBT, Apa yang Harus Kulakukan. Ini kali pertama saya berada di lingkungan ini, dalam arti memahami apa yang sedang terjadi di kalangan mereka, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang pertama.

Seorang muda Tionghoa, aktivis gereja, sejak belia sudah merasakan perbedaan dalam dirinya. Tidak berani membuka diri karena mengkhawatirkan perasaan orangtua. Lama menyimpan rahasia itu sendirian, memutuskan coming out (istilah mengaku identitas di kalangan LGBT) pada usia 25. Di luar dugaannya, respons orangtua hanya kaget pertama mendengar, setelah itu menerima keberadaannya. Ia membesarkan hati orangtua bahwa keadaan dirinya bukan karena kesalahan orangtua. Bahwa tidak ada yang berubah dalam relasi mereka setelah pengakuan ini. Selama ini ia menjalani selibasi dan merasa hubungannya baik-baik saja dengan Tuhan.

Samuel Mulia, kolumnis di koran harian, salah satu narasumber, berbagi pengalaman yang segar. Keluarganya cukup demokratis, bahkan ayahnya membebaskan dia melakukan apa yang dia inginkan, selama ia dapat bertanggung jawab dengan pilihannya. Ziarah perjalanan rohaninya dengan Tuhan sebagai gay, menghidupkan cerita, dan sungguh bermakna. Tidak ada yang salah hidup sebagai gay.

Pengalaman seorang ibu dengan anak transgender sungguh melelehkan hati yang beku. Ia dan suaminya –yang adalah penatua- luar biasa kaget saat mendengar salah satu anaknya coming out pada usia 17 tahun. Mereka sangat bingung bagaimana merespons ketika anaknya berkata bahwa dia sebenarnya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Lebih bingung karena tidak ada tempat berbagi. Keluarga besar tidak. Apalagi gereja. Sangat lega mendengarkan dia tetap dan masih dan akan mengasihi anaknya yang itu.

Seorang aktivis menyebut data bahwa LGBT di Indonesia adalah fenemona gunung es. Mereka yang coming out hanya pada posisi puncak. Jumlah terbanyak justru berada di bawah gunung, yang tidak terlihat.

Sayang sekali mendengar pernyataan seorang psikilog yang mengatakan bahwa di kalangan mereka pun belum sepakat dalam hal melayani LGBT. Padahal sebagai intelektual mereka diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan kalangan LGBT untuk saling memahami. Menyedihkan mendengar pengalaman seorang individu dengan orientasi homoseksual yang berada di ruang konsultasi, malah dinasihati untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkinkah ruang-ruang nyaman bagi LGBT diciptakan pada tingkat keluarga, sosial, Negara?

*

Dan baru saja saya mendapat lontaran pesan di dinding WA saya. Tulisan seorang ahli saraf. Judulnya provokatif, Mari kita basmi bersama (maksudnya LGBT). Dia menorehkan ingatan dengan segala informasi negatif tentang LGBT. Himbauan agar setiap keluarga mengamankan anggota keluarga dari dari serangan LGBT.

Tulisan itu memberi isyarat bahwa sebagian besar masyarakat dan gereja bersikap homofobik terhadap masalah ini. Pada beberapa kasus pada tingkat banal dan traumatik.

Homofobia adalah diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Bentuk yang muncul dari ketakutan adalah tindak kekerasan atau penolakan terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap LGBT kebanyakan didasarkan atas ketakutan karena kurangnya pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada mereka, tidak mau tahu dan langsung menghakimi. Mungkin ingatan mereka yang dimulai dari duo Sodom-homoseksual, perlu sedikit demi sedikit dikikis. Kitab suci berkata, di mana ada ketakutan, di situ kasih lenyap.

Pengarang Narnia, C.S. Lewis, menulis sesuatu yang indah tentang iman. Ia berujar bahwa iman adalah sebuah proses perjalanan hidup dan proses dialogis dengan Tuhan dan dengan diri sendiri. Keraguan adalah bagian dari iman. Mempertanyakan akan membuat kita mencari tahu, tidak berhenti di tempat. Iman sejatinya selalu bertumbuh.

Paus Francis, bapa suci umat Katolik, telah menyerukan agar kita tidak menyingkirkan mereka ke pinggiran. Kita seharusnya menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya pula kita menyambut seruan itu dengan sepenuh kemanusiaan kita.

Kalau Yesus pernah bertanya kepada Petrus yang tiga kali menyangkal, dengan tiga pertanyaan sama, apakah kamu mengasihi Aku, perlu berapa kali Yesus bertanya kepada kita pertanyaan sama, sampai kita menerima seorang dengan LGBT di tengah kita?  (itasiregar10/10/2018)

 

 

 

read more
FeaturedOASETERASWARA-WARA

Makan-Minum: Sebuah Drama Hidup dan Mati

Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018OASETERAS

Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya*

hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

read more
1 2
Page 1 of 2