close

Persona

PersonaTERASWARA-WARA

Teologi Bernyanyi: Menemukan Makna dalam Kata & Nada

lukisan nyanyi

Teks Windy Mulia Liem*
Ilustrasi Surajiya**

Masih ingat kapan dan di mana pertama kali bernyanyi? Dan lagu apa yang dilantunkan?

Jika tidak yakin jawabannya, mungkin karena pengalaman itu ketika Anda masih sangat muda. Orangtua atau kerabat mungkin adalah guru sekaligus penggemar pertama Anda ketika pertama bernyanyi.

Bernyanyi adalah salah satu cara bercerita. Lagu Rasa Sayange mungkin diperebutkan oleh dua negara karena tidak tercatat asal-usul dan penciptanya. Bagi masyarakat Maluku, lagu itu telah turun-temurun dilantunkan, mengisahkan kecintaan pada kampung halaman.

Bernyanyi juga menjadi satu ciri khas orang Kristen. Pertama kali saya ke Sekolah Minggu, aktivitas saya adalah bernyanyi. Partisipasi aktif jemaat gereja biasanya terdiri dari tiga: berdoa, mendengarkan (Firman Tuhan), bernyanyi.

Seorang teman Muslim saya pernah bertanya: kenapa orang Kristen bernyanyi di gereja? Giliran saya bingung, hmm … kenapa ya? Mari kita telusuri bersama.

Bernyanyi sebagai Tradisi

Dari mana berasal tradisi bernyanyi di gereja? Kita mungkin berpikir itu warisan tradisi ibadah Yahudi di sinagog. Namun, rujukan pada abad pertama menyebutkan urutan ibadah di sinagog: berdoa, mendaras Kitab Suci dan homili (khotbah). Bernyanyi dan bermain musik merupakan tugas kaum Lewi. Tidak terlacak tradisi kuno mereka di sinagog melibatkan aktivitas bernyanyi. (Smith, 1994).

Dalam tradisi Yahudi, bernyanyi ditemukan dalam perkumpulan religius yang lebih privat. Dilakukan di rumah saat Paska, pesta perkawinan dan upacara pemakaman. Bernyanyi solois, bernyanyi bersahutan atau paduan suara. Aktivitas bernyanyi juga tercatat dalam makan malam terakhir dalam Perjanjian Baru (Mat 26:30 & Mrk 14:26).

Persekutuan gereja Kristen mula-mula mirip perkumpulan privat Yahudi. Pada dua abad setelah Masehi, persekutuan biasanya diadakan di rumah-rumah. Selain beribadah, mereka makan bersama. Beberapa sumber menyebutkan mereka berjaga-jaga sepanjang malam setelah ibadah (Smith, 1994). Kemiripan-kemiripan tersebut menjadi dasar kemungkinan bernyanyi di gereja dipengaruhi oleh perkumpulan privat religius Yahudi.

Bernyanyi sebagai pernyataan teologis

Ada tiga jenis lagu ibadah Kristen yang kita kenal sekarang, yaitu kidung (hymn), mazmur (psalm) dan pujian dan penyembahan kontemporer (praise & worship songs).

Terutama kidung, lagu ibadah berisi pesan dasar iman kristiani, yaitu 1) karakter Allah, 2) gereja dalam masyarakat, 3) kemanusiaan, dan 4) pemahaman kehidupan Kristen (Roberts, 2014). Kidung adalah sebuah bentuk pernyataan teologis. Kidung membantu penyampaian keimanan melalui kata-kata sederhana atau yang puitis.

Menurut penulis himnologi, Paul Schilling (1983), ekspresi teologis sebuah kidung bukan hanya tertuang pada lirik tetapi juga nada. Nada digabung dengan lirik untuk memperkuat -atau melemahkan- pesan. Substansi pesan ada pada lirik. Nada dan irama bersifat komplementer.

Sementara lagu pujian dan penyembahan kontemporer menitikberatkan pada musik. Musik dan liriknya lebih mudah diingat, mudah dinyanyikan karena cenderung repetitif. Tradisi musik ini berakar dari penginjilan kepada kaum hippies di Amerika pada 1960-an, yang disebut Jesus People (atau Jesus Movement).

Melalui genre musik modern, gerakan penginjilan itu menarik perhatian ratusan ribu anak muda. Padahal genre itu dipandang duniawi oleh kalangan gereja konservatif kala itu. Gerakan Jesus Movement kelak melahirkan industri musik Kristen kontemporer dan memicu pergantian gaya bermusik pada banyak gereja hingga sekarang (Eskridge, 2017).

Jadi, apa tujuan bernyanyi (rohani) dalam kekristenan?

Menurut beberapa penulis himnologi, bernyanyi dalam konteks kekristenan bukan untuk memamerkan aspek seni penyanyinya. Bernyanyi lebih pada mempersilakan Allah berbicara melalui lirik lagu. Bernyanyi dan bermusik adalah medium atau pelayan pesan Firman Allah (Guthrie, 2003).

Bernyanyi sebagai aktivitas emosional
Emosi manusia dapat dipengaruhi oleh musik. Dalam buku Confessiones, Agustinus dari Hippo mengakui kekuatan musik dalam sebuah lagu penyembahan. Ketika kata-kata sakral berpadu dengan musik yang indah, jiwa umat akan tergerak dan dikobarkan menuju kesalehan (Guthrie, 2003).

Pendapat tersebut sejalan dengan bukti ilmiah tentang persepsi otak terhadap musik. Sebuah eksperimen tayangan Brain Games pada episode The God Brain menunjukkan musik dan akustik ruang gereja berperan dalam membangun persepsi kita tentang kehadiran Tuhan. Ritme dan susunan nada menuntun emosi umat seirama lirik yang dinyanyikan. Langit-langit berkubah dan alat musik orgel di gereja Katolik misalnya, gaungnya membangun kesan kemegahan dan kekuasaan Tuhan.

Secara teknis, bernyanyi adalah proses merekonstrusi apa yang kita dengar. Pengalaman pertama manusia dengan suara berawal dalam kandungan. Bukan hanya suara, janin juga dapat mengenali emosi yang terkorelasi dengan suara yang didengar. Kemampuan ini berkembang melalui suara ibu pada masa trimester akhir kehamilan. Pembentukan reaksi emosi terhadap suara dipengaruhi oleh reaksi neuro-endokrin yang dihasilkan ibu dan dikomunikasikan kepada janin melalui hormon dalam darah (Miel, MacDonald, & Hargreaves, 2005). Ketika lahir, bayi sudah membawa bias atas emosi yang ditimbulkan oleh suara semasa dalam kandungan.

Jika musik dapat memanipulasi otak untuk merasakan emosi tertentu, apakah perasaan yang ditimbulkan oleh bernyanyi di gereja merupakan respons sensori semata? Apakah gereja secara sengaja memanfaatkan sensasi untuk mengendalikan emosi dan melemahkan nalar?

Kalau ya, apa bedanya dengan lagu-lagu Adele yang mengaduk-aduk emosi atau lagu-lagu Queen yang menggerakkan kaki kita menari? Apakah musik menjebak kita pada kepuasan raga semata?

Kekhawatiran serupa diajukan oleh Agustinus dari Hippo. Menurutnya, kepuasan mendengarkan musik dapat menggiring pikiran menuju ketaatan (kepada Allah). Namun ketika musik menggerakan dirinya lebih dari subyek lagu, ia telah berdosa dan lebih baik tidak mendengarkan lagu itu (Guthrie, 2003).

Bermusik dan bernyanyi yang berfokus pada kepuasaan indera sensori akan mengaburkan pesan yang ingin disampaikan. Keutamaan lagu terkandung dalam lirik, bukan nada. Calvin berpendapat bahwa musik memiliki kekuatan untuk mengubah rutinitas gerejawi yang dingin dan tidak bernyawa, menjadi pemujaan penuh semangat dan bergairah. Ia menganjurkan gereja untuk bernyanyi sekaligus berhati-hati agar fokus bukan pada pendengaran melodi, namun pada makna spiritual (Guthrie, 2003).

Pernyataan di atas kontras dengan apa yang dikatakan Paulus kepada jemaat Efesus:
“… hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” (Efesus 5:18-19)

Sebelumnya Paulus menasihatkan agar jemaat menjauhi kehidupan yang bodoh dan didorong oleh hawa nafsu. Hidup sebagai anak-anak terang salah satunya ditandai dengan bernyanyi dan bersorak demi Tuhan. Atau, Paulus menyarankan umat untuk bernyanyi sebagai perlawanan terhadap kebodohan dan hawa nafsu.

Menurut Guthrie (2003), saran tersebut didasari asumsi bahwa musik melibatkan tubuh dan rasa, serta pelibatan Roh Kudus. Roh Kudus tidak hanya bekerja untuk merestorasi pikiran, tetapi juga tubuh dan perasaan manusia. Melalui lagu dan musik, orientasi pujian diubah. Dari sekadar sensasi ragawi menjadi penyembahan pada Allah dan bermanfaat bagi komunitas. Aspek rasa tidak ditekan, namun diangkat dan diarahkan pada Allah.

Bernyanyi di Gereja = Mendengarkan

Bernyanyi turut andil membentuk identitas gereja. Peneliti Ronald L. Warren menulis bahwa kidung rohani berperan sebagai kontrol sosial. Menyanyikan kidung berkontribusi dalam membentuk identitas kongregasional. Ketika bernyanyi di gereja, tiap individu melafalkan kata-kata yang mengafirmasi iman, kata-kata yang mungkin terdengar memalukan jika diucapkan sendiri. Namun ketika mendengarkan pengakuan iman dilakukan bersama orang sekitarnya, pengukuhan iman menjadi lebih dalam. Ini disebut interstimulasi, yaitu ketika sekelompok orang yang sebelumnya asing, terhubung melalui perspektif yang sama. Interstimulasi dapat dicapai melalui simbol-simbol yang memiliki makna emosional, ritual, pengakuan iman atau bernyanyi bersama (Roberts, 2014).

Surat Paulus kepada jemaat Efesus berkonteks memberi penekanan pada bernyanyi secara kongregasional. Saat gereja bernyanyi, tiap individu menghasilkan suara yang berbeda namun saling mendapat bagian dalam lagu yang sama. Dalam musik, kita bertemu dengan berbagai identitas yang disatukan dalam ruang dan waktu, tanpa saling menghancurkan atau menegasi (Guthrie, 2003).

Ketika seseorang bernyanyi bersama di gereja, pada momen yang sama ia mendengarkan suara jemaat yang melebur dengan suaranya, menjadi suatu arus gelombang. Bernyanyi seperti menyuarakan cermin kehidupan jemaat Allah sebagai komunitas. Perbedaan dalam individu tidak lagi saling bertentangan namun disatukan melalui kasih Kristus.

Bernyanyi dalam Kerajaan Allah

Bagaimana imajinasi bernyanyi ketika Kerajaan Allah digenapi?
Jika Anda pernah ber-Sekolah Minggu, mungkin masa kecil Anda diisi dengan imajinasi tentang surga sebagai tempat manusia bernyanyi bersama malaikat, terus-menerus memuji Allah. Seperti KKR nonstop atau radio 24 jam. Bernyanyi di gereja adalah mencicipi sensasi surgawi.

Namun anggapan tersebut tidak didukung dengan landasan alkitabiah. Pandangan itu mungkin berasal dari anggapan populer pada masa prareformasi Kristen yang menitikberatkan pengalaman melihat Allah (visio Dei) sebagai sukacita yang utama dan tujuan akhir. Keselamatan diwujudkan dalam mistisisme, kontemplasi dan penyembahan dalam kondisi ekstasi mistis (Balke, 1992; van Wyk, 2001).

Imajinasi mengenai langit dan bumi yang baru memang tercatat dalam Perjanjian Lama dan Baru (Yes 65:17, 66:22; Why 21:1; 2 Ptr 3:13). Berkenaan nyanyian, Wahyu sedikit memberi gambaran tentang nyanyian baru (Why 5:9; 14:3) pada ciptaan dan dunia yang telah direstorasi. Seperti apa wujudnya, tidak banyak informasi dari Alkitab.

Beberapa kidung dan nyanyian, baik tradisional atau kontemporer, mencantumkan imajinasi Kerajaan Allah. Kehidupan di surga terasa pada bait terakhir lagu Di dalam Palungan (KJ 102) yang berbunyi: Dan hidup serta-Mu di surga kelak atau penggalan bait dua dalam lagu “Bila sangkakala menggegap” (KJ 278): Bila orang yang telah meninggal dalam Tuhannya dibangkitkan/Pada pagi mulia dan berkumpul dalam rumah lestari dan megah.

Beberapa kidung menggambarkan nuansa penyembahan yang berkesinambungan:
Hai Kristen, nyanyilah (NKB 1):
Di surga yang baka kita menyembah-Nya/ Bernyanyi s’lamanya. Haleluya! Amin!
Atau bait terakhir lagu Ya Yesus terkasih” (KJ 382):
Di surga mulia ku pasti senang memujimu, Yesus/Di dalam terang, nyanyianku ini tetap terdengar/Kasihku padaMu semakin besar

Pandangan tentang surga sebagai rumah atau tujuan akhir yang tergambar dalam kidung-kidung tersebut mendapat kritik dari teolog Aiden Wilson Tozer. Ia menyindir, “Orang Kristen tidak mengatakan kebohongan. Mereka hanya pergi ke gereja dan menyanyikannya.” Gambaran surga sebagai tujuan akhir setelah kematian tidak diturunkan oleh ajaran Yahudi dan Alkitab.

Teolog Richard Middleton dalam bukunya yang bertema eskatologi alkitabiah berpendapat bahwa gambaran pergi menuju tempat bernama surga kemungkinan dipengaruhi oleh ajaran Plato abad kelima. Menurut dualisme Platonis, manusia terbagi menjadi tubuh mortal dan jiwa yang immortal. Begitu pula penggambaran semesta: alam suprasensori (transenden) dan alam sensori.

Pandangan Platonis meluas berkat pemikiran filsuf Yunani Plotinus (204-270) yang dikenal sebagai Neoplatonisme. Neoplatonisme turut mempengaruhi pandangan bapak-bapak gereja yang mengartikulasikan injil dengan kultur dan pengetahuan yang berkembang di masanya, termasuk Agustinus dan Pseudo-Dionysius. Karena itu gereja perlu berhati-hati pada asimilasi ide-ide yang mungkin tidak sejalan dengan ajaran Kristen (Middleton, 2014).
Kembali ke bernyanyi dalam Kerajaan Allah.

Orang Kristen diajarkan bahwa tujuan hidup adalah menyembah dan memuliakan Allah. Makna tersebut kerap direduksi menjadi ekspresi verbal dan emosional untuk memuji Allah. Sementara Paulus mengajarkan kita untuk mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2). Menyembah Allah mencakup apapun yang kita lakukan (Middleton, 2014).

Menurut C. S. Lewis (1946), tidak ada yang boleh dinyanyikan atau dikatakan di gereja yang tidak bertujuan -langsung atau tidak langsung- untuk memuliakan Allah atau mendidik umat. Jika gereja adalah gambaran cara hidup manusia yang ditebus, maka kegiatan bernyanyi mencerminkan hal itu. Bernyanyi dalam konteks dunia yang sudah direstorasi dalam Kerajaan Allah bertujuan sama dengan aktivitas lain. Bernyanyi adalah bagian dari kerangka tujuan penciptaan, yaitu untuk kemuliaan Allah, bukan kepuasan manusia.

Tidak suka bernyanyi?

Kecintaan saya pada bernyanyi sedikit banyak dipengaruhi oleh kultur dan dukungan orang sekitar. Mereka meyakinkan saya pandai bernyanyi. Saya pun kagum pada musik yang menggerakkan emosi, apalagi lirik lagu yang begitu dekat dengan pengalaman pribadi. Saya bernyanyi karena alasan yang egois.

Dengan alasan di atas, Anda mungkin berpikir bahwa bernyanyi di gereja mudah untuk saya karena saya menyukainya. Namun saya masih punya kesulitan menyanyikan lagu yang tidak saya nikmati secara sensori, termasuk kidung-kidung gereja. Beberapa kidung terasa kaku, kurang puitis, kurang estetis atau progresi akordnya kurang indah. Banyak penilaian subyektif yang saya diam-diam layangkan pada kidung Kristen karena kurang enak didengar. Padahal liriknya justru bermakna mendalam.

Saya juga sadar bahwa tidak semua orang suka bernyanyi. Ada yang menganggap diri tidak dapat bernyanyi atau tuli nada (meskipun penelitian memperkirakan sangat sedikit orang yang benar-benar tuli dana, dalam Henry & McAuley, 2010).

Siapa pun tidak dapat memaksa Anda untuk bernyanyi. Perlu dipahami bahwa kepuasan individu bernyanyi di gereja tidak sepenting yang diyakini. Mungkin ada anggapan, kalau saya menikmati lagu, tentu Tuhan senang. Hingga tanpa sadar, kita menempatkan diri lebih dulu daripada Tuhan.

Literatur yang saya temukan untuk tulisan ini justru mengatakan bahwa kepuasan pribadi dan sensasi emosional bukan inti bernyanyi di gereja. Sebaliknya, kita diminta untuk mereduksi kepuasan ragawi dan berfokus pada subyek nyanyian.
Hal ini mengingatkan saya pada saran salah seorang pelatih paduan suara. Menurutnya, ketika bernyanyi dalam paduan suara, semakin kita berfokus pada kepuasan diri, maka kita sedang mengorbankan kepuasan pendengar (Yohanes, 2018). Banyak aspek yang tidak kalah penting dari kepuasan pribadi saat bernyanyi bersama. Harmonisasi suara kita dengan orang lain, kepuasan pendengar, hingga pesan yang ditangkap melalui nyanyian. Bukan berarti kita tidak boleh menikmati musik yang dinyanyikan, namun kita bukan bernyanyi hanya untuk diri sendiri.

Ketika kita ingin memaknai bernyanyi di gereja, kita perlu bertanya, siapakah subyek utama dalam nyanyian kita? Apakah diri sendiri, orang lain atau Dia?

*
(Daftar rujukan tersedia)
*Jemaat dan pelatih paduan suara di Gereja Komunitas Anugerah
*Perupa, tinggal di Yogyakarta

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Sepeda Bambu dan Revitalisasi Desa Singgih Kartono

foto singgih

Oleh Ita Siregar

Ia mendesain sepeda bambu dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Ia membuat konsep pasar kebun bambu dan melibatkan warga dalam merevitalisasi kehidupan di Dusun Ngadiprono.

Singgih Kartono kecil membaca biografi Thomas Alva Edison –penemu lampu pijar- dan terinspirasi untuk menjadi seorang penemu. Ia masih kelas 4 SD ketika itu. Saat membaca kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang, ia terpanggil untuk memaknai 21 April, tanggal kelahirannya. Memang kurang dari sepuluh buku yang tuntas dibaca -termasuk kisah gadis cilik Toto Chan-  namun itu cukup mewarnai hidupnya.

Dik Ton – dari nama Kartono- begitulah keluarga dan teman dekat memanggilnya. Ia merasa anak yang beruntung. Ayahnya seorang guru yang kemudian menjadi kepala dinas kecamatan. Ia mewarisi kesederhanaan, jiwa kepemimpinan dan pioneership ayahnya. Meski keluarganya tidak tergolong berada tetapi sang ayah mengupayakan agar kelima anaknya mendapat pendidikan tinggi.

Singgih lahir dan besar di Kandangan Temanggung. Ia kuliah di Jurusan Desain dan Produk FSRD ITB. Suami dari Tri Wahyuni –teman SMA- ini mengaku berat pada tahun-tahun pertama kuliah. Pasalnya di SMA ia kurang serius melatih keterampilan kesenirupaan. Baru pada tahun kedua, kegemaran ngoprek  di masa kecil memberinya kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Setelah lulus tahun 1992, ia bekerja di PT Prasidha Adhikriya Bandung yang bergerak di bidang industri kerajinan kayu. Ia belajar langsung dari pendirinya, Surya Pernawa. Tahun 1995 ia balik ke desa dan merintis usaha mainan anak dari bahan kayu, bersama seorang partner. Ia memang tidak menyukai kehidupan kota yang ramai dan padat. Di antara lima saudara, hanya ia yang kembali ke desanya, hingga sekarang.

Tahun 2003 ia memulai usaha sendiri yang diberi nama: Magno. Tahun 2005 Magno memproduksi dan merambah pasar. Melalui proses berliku, Magno mendapat banyak penghargaan desain internasional. Tahun 2008 Magno meraih penghargaan Good Design Award Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Pada 2009 Brit Insurance Design Award/Product of the Year Design Museum London. Magno dikenal luas di Jepang, Eropa, dan Amerika.

Semua itu dimulai dari kecintaannya pada materi kayu. Sewaktu kecil, ia betah berjam-jam nonton tukang kayu bekerja. Ia bikin mainan kayu atau bahan apa saja yang ada di desa. Mainan buatan pabrik masih langka saat itu. Kalau pun ada, tidak terjangkau harganya.

Penyuka teh manis panas pagi hari ini sebenarnya tidak suka berolah raga. Namun pada usia 44 tahun ia bersepeda nyaris setiap hari untuk menjaga kesehatan. Lalu ia melihat desain sepeda bambu karya Craig Calfee dan sangat terkesan. Terinspirasi, ia mendesain sepeda bambu pada 2013. Ia menggunakan Bambu Petung atau Dendrocalamus asper yang tersedia melimpah di desa dan sekitar tempat tinggalnya. Diameternya besar dan dindingnya tebal sehingga memungkinkan membuat rangka sepeda dengan ukuran seragam. Konstruksi bilah tangkup usuk bambu kerangka atap rumah menjadi sumber inspirasinya untuk meningkatkan kekakuan batang bambu. Bilah tangkup dihubungkan dengan sambungan metal dan membentuk kerangka sepeda. Desainnya lolos uji laboratorium dan kendara jarak jauh Jakarta-Madiun sejauh 750 km, dengan beban 90 kg tanpa kerusakan apapun.

Sepeda bambu itu diberi merk Spedagi – dari kata sepeda dan pagi. Para perajin lokal diberdayakan. Spedagi menarik orang luar ke desa. Fenomena inilah kemudian menginspirasi Singgih dalam menemukan solusi dari masalah umum desa, yaitu brain drain SDM terdidik dari desa ke kota. Kelak Spedagi bukan hanya merk namun gerakan yang mengajak anak-anak muda balik ke desa.

Pasar Papringan Ngadiprono misalnya. Pasar itu adalah salah satu proyek Revitalisasi Desa Spedagi. Papringan (kebun bambu) merupakan aset desa. Sayangnya papringan tidak terpelihara, hanya jadi tempat buang sampah. Atas ajakan Imam Abdul Rofiq, anak muda lokal, ia dan tim Spedagi, juga Fransisca Callista sebagai project manager, menyulap papringan yang kumuh, gelap, dan banyak nyamuk, menjadi bersih tertata. Di sana warga menjual kuliner, kerajinan tangan dan hasil pertanian.

Memulainya tidak dapat dibilang mudah. Tim melakukan pemetaan sosial. Warga didatangi dari pintu ke pintu. Puluhan kali pertemuan formal dan informal dilakukan barulah ditemukan konsep yang paling sesuai dengan warga dan potensi lokal. Sejak awal warga diajak turut memikirkan agar tidak terjadi kesan mereka akan menerima bantuan. Singgih ingin bukan sekadar pasar dalam arti fisik, namun sebuah aktivitas yang terorganisasi baik.

Mereka pun merekoleksi penganan desa. Gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, mainan kayu, dll. Lantas mereka merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas dan berjualan. Mereka hanya memakai bahan lokal. Tanpa  terigu, MSG dan pewarna buatan. Sebagai ganti warga membuat tepung dari beras dan ketela.

Sebagai alat pembayaran dipakai koin pring. Ide ini datang dari Liris, putri kedua Singgih yang membuat bazar sekolah dengan alat pembayaran khusus. Pring dicetak dan ditentukan nilainya. Satu pring senilai Rp2 ribu. Cara itu efektif dalam mengontrol penjualan.

Pasar tambah ramai karena propaganda gratis pengunjung yang menceritakan keunikan pasar melalui media sosial mereka. Orang berduyun-duyun datang dan menikmati desa tempo dulu, lengkap dengan penganan khas desa dan gending Jawa.

Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80%  dari 110 kepala keluarga turut berdagang. Pasar dibuka dua kali selapan (35 hari) setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 12. Dibuka dua kali selapan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.

Sabtu adalah hari desa gotong-royong menyiapkan segala untuk ditampilkan di pasar. Keberadaan Pasar memberi kesegaran baru bagi warga desa. Petani menjadi lebih berpengetahuan sehingga hasil lebih produktif. Mereka pun diajar mengelola uang sehingga pendapat naik tidak dibarengi dengan menjadi konsumtif.  Sekarang ada sekitar 3000 pengunjung setiap kali pasar buka.

Kini banyak berdiri pasar dengan konsep serupa. Pada satu sisi menggembirakan, sayangnya mereka tidak menyebut sumber inspirasi. Padahal dalam dunia kreatif hal tersebut diperlukan sebagai kepatutan dan etika. Karena itu ayah dua putri ini berharap pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat mendorong terbangunnya iklim kreatif dan endorsement bagi para kreator. Apa yang dilakukan Spedagi sebenarnya membantu pemerintah dalam memberdayakan masyarakat dengan hasil yang dapat dibanggakan. Sudah semestinya pemerintah mendukung secara aktif dan rendah hati dalam mengadopsi ke konsep perencanaan pembangunan daerah.

Seterusnya ia ingin mengembangkan hal-hal yang mendorong kemandirian desa. Secara internal mandiri dalam hal keuangan dan pendidikan sehingga dapat tetap tinggal di desa. Secara eksternal, konsep pasar menjadi inspirasi dalam merevitalisasi desa lain.

“Ke depan kami akan membuka kelas agar desa-desa lain dapat belajar apa yang sudah kami lakukan dan capai,ungkap penyuka T-shirt abu-abu ini.

Masih banyak gagasan di kepalanya, siap ditelurkan. Ia sering merasa diri terlalu keras dan to-the-point dalam bekerja dan berbicara, yang dirasanya kurang pas untuk masyarakat desa. Untunglah ada anak-anak muda di Spedagi yang membantu mewujudkan gagasannya.

Ngomong-ngomong, kenapa T-shirt abu-abu, Mas? Tertawa, ia menjawab, “Warnanya paling cocok untuk kulit saya.” (is/15/12/18)

Foto Singgih Kartono

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Nh Dini dalam Kenangan  

Foto NH DIni lama

Membaca Nh Dini (1936-2018)

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Catatan ini tidak bulat genap. Beberapa buku Nh Dini yang belum kubaca, tetap tak terbaca karena kurang kesempatan. Ada satu buku yang ingin benar kubaca ulang, yaitu Pada Sebuah Kapal. Karya ini sebagai pembuka mata perihal menjadi perempuan dan pilihan. Namun peristiwa membaca cukup lama dan lupa detail cerita.

Alasan ingin membaca ulang karena belakangan dalam buku terbaru Dini, Dari Fontenay ke Magallianes, muncul tokoh ‘kaptenku’ dan aku tergelitik mengetahui rahasia kecil, apakah tokoh itu sama dengan ‘kapten kapal’ di novel Pada Sebuah Kapal. Memang Dini pernah menulis bahwa ‘tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan’ (Dua Dunia, ix).

Aku telepon Endah, siapa tahu ia mengoleksi buku tersebut di lemari bukunya. Tapi sayang seribu sayang, tidak ada. Dia mengusulkan ke Jose Rizal TIM, tapi tak sempat mengubek toko padat buku itu. Ketika milis Apresiasi Sastra meluncurkan program menulis tokoh penulis untuk diskusi dua pekanan, nama Nh Dini segera memenuhi kepalaku. Sudah lama rasanya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang pengarang ini.

Karya-karya Nh Dini kukagumi sejak lama. Dia menulis yang hampir semua tentang diri dan hidupnya tanpa beban dan pretensi. Sikap dan keberaniannya dalam menulis mengesankan dan penting buatku. Beberapa teman berkomentar serupa, Dini hebat karena mampu membeberkan permasalahan yang masih tabu di masyarakat serta kebanyakan melukiskan tokoh perempuan bukan sebagai makhluk lemah.

Juga sebelum melahirkan tulisan ini, aku ingin sekali ketemu beliau langsung di Yogya. Hanya sekadar silaturahmi. Sebuah pertemuan fisik selalu memberiku warna lain dalam menulis dan membayangkan. Seperti ketika tidak sengaja ketemu Pak Budi Darma di Festival Ubud 2005, yang kubayangkan penulis Olenka, Orang-orang Bloomington, adalah manusia usil dan mungkin menyebalkan. Ternyata tidak betul sama sekali. Tapi juga tidak bisa membayangkan bagaimana kesanku bila bertemu Nh Dini langsung. Mas Sigit Susanto sudah mengirimi peta kenangannya bertetangga rumah Sekayu, tempat tinggal masa kecil Nh Dini. Aku meminta tolong Mas Putu Fajar Arcana untuk ancer-ancer lokasi. Endah semangat akan menemani ke Yogya. Sementara tugas-tugas kantor dan pribadi tak berkurang menuntut perhatian, menipiskan waktu bahkan mengirim tulisan ini dalam keadaan terlambat. Jadi, kawan, begitu historisnya. Maafkan kekuranggigihanku menghayati semua buku Dini dan terimalah catatan ini dengan sukacita. Satu kali aku mesti melengkapinya, sedikitnya buat kukonsumsi sendiri.

Mengenal Nh Dini lewat Karya-karyanya

Baginya hidup adalah menyelesaikan tugas-tugas hidup dan menuliskannya. Membaca buku-buku Nh Dini adalah membaca sebuah kehidupan dari masa ke asa. Hampir sepanjang hidup ia menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa. okoh-tokoh dalam bukunya lebih banyak bertipe the girl next door. Begitu ekat dengan kita, begitu nyata. Tidak muluk-muluk.

Sebagai penulis ia telah melakukan tugas dengan baik, konsisten, tidak bolong-bolong, tidak banyak bicara. Ia memiliki daya tahan mengagumkan. Ia telah menemukan estetikanya sendiri dalam menulis. Seandainya anggota pasukan, maka ia akan termasuk yang khusus, karena berlatih tekun, militan, memutuskan satu tindakan tepat dan cepat. Dalam satu percakapan lewat email, JJ Kusni berkata bahwa Les Miserables karya Victor Hugo (1802-1885), pemimpin Gerakan Romantisme Perancis, merupakan tonggak penting sejarah bangsa Prancis. Buku itu menjadi bacaan wajib di sekolah menengah di Prancis hingga kini. Oka Rusmini, penulis perempuan asal Bali, telah juga mengupayakan agar bukunya, Tarian Bumi (2000), menjadi buku bacaan wajib pelajar SMA. Beberapa alasan mendasari hal tersebut. Salah satunya pendapat Majalah Horison Juli 2001, yang membandingkan novel Tarian Bumi dengan ujaran novelis Inggris Graham Greene yang merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis RK Narayan.

Buku-buku Nh Dini bahkan memiliki keistimewaan, ia mencatat berbagai peristiwa secara detail, sehingga ketika ia menulis satu buku, cerita dalam buku itu berasal dari catatan yang akurat dan lengkap, seperti peristiwa sejarah dari masa ke masa hidup Dini. Catatan harian Dini masih tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Metode sama telah dilakukan BJ Habibie, mantan Presiden kita, menulis buku Detik-detik yang Menentukan (2006) berdasarkan catatan peristiwa penting di awal pemerintahannya, tidak mengandalkan ingatan.

Dini menggambarkan keadaan umum yang terjadi sehari-hari di keluarga, lingkungan, keadaan sosial dan finansial masyarakat, kehidupan serta perkembangan seni, transportasi, jenis makanan. Secara tak langsung Dini melukiskan mental manusia Jawa hidup di masa itu. Menarik mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat berpikir dan bertindak.

Karena cerita-cerita cukup detail dan cenderung datar, risiko respons pembaca amat mungkin seperti yang diakui Sigit Susanto, bahwa ia lebih sering mengantuk membaca buku Nh Dini. Tapi buku-buku Dini menjadi serupa referensi yang tidak terhindarkan. Sungguh semarak bila penulis (daerah) Indonesia melukiskan keadaan manusia, masyarakat, masalah sosial lokal daerah masing-masing dalam bukunya. Perempuan penulis asal India, Arundhati Roy, menulis hal detail satu keluarga di Kerala dengan setting tahun 1960-an dalam buku The Gods of Small Things. Jhumpa Lahiri, menulis The Namesake yang menampilkan detail peristiwa dan konflik istiadat yang terjadi dalam satu keluarga, yang merupakan refleksi masyarakat pada masa itu serta mengekspresikan pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan. Antropolog Koentjaraningrat (alm) berpendapat pada hakikatnya fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena tersebut dapat dimunculkan kembali sehingga menjadi wacana baru dengan proses kreatif mengamati, menganalisis, menginterpretasikan, merefleksi, membayangkan, dan yang lain.

Budi Darma mengungkapkan bahwa sastra Indonesia tidak memiliki semangat besar feminisme. Menurutnya, dari sekian banyak karya perempuan pengarang, hanya Nh Dini yang secara terus menerus menyuarakannya. Karya-karya Dini sejak tahun 1950-an sampai akhir abad-20 diikat oleh aspirasi yang kurang lebih sama, yaitu memarahi laki-laki. Mungkin Dini tidak membayangkan hal itu dalam novel dan buku-buku kenangannya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanyalah menulis kenyataan hidup. Ia mengaku bahwa kegiatan mengarang, selain untuk menarik keuntungan kebendaan, ia menginginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikirannya sebagai wakil wanita pada umumnya (Sekayu, 76). Secara tegas ia berkata bahwa ia tidak mau disetir pihak tertentu untuk menulis sesuatu dengan data diselewengkan demi maksud komersil. Ia menelurkan karya-karyanya secara menyeluruh, takkan menyelesaikan karangannya sebelum ada rasa puas dihatinya. Bahkan, satu novel Dini yang dianggap penting, yaitu La Barka, proses pengumpulan data-data detail dilakukannya selama sepuluh tahun sementara untuk mengetiknya hanya diperlukan waktu satu bulan saja.

Masa kecil yang bermakna

Dari membaca satu dua bukunya, akan segera terasa karakter Dini yang ‘dingin’, tenang, adil, ramah, teguh, memiliki citra diri yang kuat, pemerhati kehidupan yang kritis, dan ‘rasa’ Jawa yang kental. Kepekaannya terhadap lingkungan dan karakter manusia-manusia di sekelilingnya bermula dari keluarganya.

Masa kecilnya istimewa dan menjadi dasar yang bermakna bagi kelanjutan hidup setelah masa itu. Ia menulis beberapa buku seri kenangan untuk setiap masa itu. Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan kisahnya dan keluarga ketika ia masih sangat muda dan belum sekolah. Sekayu adalah kisah sehari-hari peristiwa ia mulai SD, SMP, dan masa remaja berikut peristiwa-peristiwa yang melingkupi keluarga.

Dari buku-buku kenangan Dini terlukis gambaran fisiknya yang kecil, kulit agak gelap, cara berbicara pelad. Sewaktu keluarga mengunjungi kerabat di Solo, seorang sepupu Dini yang nyinyir, setiap kali mengolok-oloknya, berkata, ‘ah, kamu kecil, semakin hitam saja, dan kau semakin pelad’.

Menanggapi hal itu Dini hanya tertawa dan merasa bahwa sepupunya tidak memiliki hal lain yang membanggakan selain mengolok-olok orang. Ia tidak menimpali, membiarkan olok-olok itu masuk ke kuping kiri dan keluar ke kuping kanan. Citra dirinya terkembang baik.

Di kelas 6 SD dia sudah paham apa yang disukai, orang atau teman mana yang bisa cocok dengannya atau tidak. Ia sudah menentukan bahwa ia tidak menyukai abangnya karena alasan tidak sepaham (bukan karena salah salam). Di kelas 6 SD, dia bisa tahu apa yang disukai, orang-orang mana yang bisa dia sukai atau tidak. Bahkan sebenarnya di usia yang sangat muda itu ia turut memikirkan keuangan keluarga.

Waktu ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar, ia pergi ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Setiap hari ia harus berjalan bolak-balik melewati dua desa. Beberapa teman kelasnya mempunyai sepeda khusus perempuan. Sesekali ia ikut dibonceng. Tapi karena arah rumah tidak sama, lebih sering ia harus berpeluh meneruskan berjalan kaki sampai rumah. Sementara itu sepeda ayahnya menganggur, sepeda orang dewasa yang bahkan tidak dilirik oleh kedua abangnya. Dini kecil begitu memimpikan sepeda, tapi ia sangat memahami kondisi keuangan keluarga. Ketika ibunya menyarankan untuk mencoba belajar mengayuh sepeda ayahnya yang besar itu, ia segera setuju. Ia menerima nasihat ibunya bahwa kendaraan adalah alat untuk memudahkan hidupnya. Ia mulai berlatih mengayuh dengan bersusah payah. Setelah terampil ia ke sekolah dengan sepeda itu, tanpa menghiraukan apa kata orang. Pengaruh ibunya amat besar dalam memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan lain di luar rumah dan kota lain dan ia mulai bisa menilai perbedaan-perbedaan yang ada.

Dini kecil sudah tergabung dengan perkumpulan seni tari Eka Kapti. Ia membayar iuran secara teratur setiap bulan, mengikuti latihan, memperhatikan peran-peran yang dibawakan para tokohnya. Ia menerima ketika terkadang ia tidak kebagian peran karena suaranya terlalu kecil. Tapi kemudian kelak ia mendapat peran-peran yang cocok untuknya dalam pementasan-pementasan tari yang secara teratur digelar setiap tahun.

Lakon-lakon itu juga membuatnya peka dengan baik-buruk kehidupan dan sikap-sikap manusia dalam menanggapi hidupnya. Dalam hal berbahasa dan menulis, sudah terlihat sejak dia di SD. Guru bahasa Indonesianya memuji karangannya, tapi sedikit mengritik bahwa seharusnya ia menggunakan kata ‘khawatir’ daripada ‘kewatir’, yang adalah bahasa Jawa. Menanggapi hal itu, Dini menjawab dengan tegas bahwa kata khawatir berasal dari bahasa Arab. Itu sebabnya ia memilih untuk menggunakan kata kewatir, yang artinya sama namun diambil dari bahasa Jawa. Ia katakan bahwa bahasa lokal akan terasa lebih dekat dengan masyarakat daerah pemakai bahasa.

Dini remaja peka membaca gelagat teman-temannya. Bila ia tidak menyukai seseorang, ia akan bisa merasakan dan menentukan sendiri sikapnya. Ia akan mundur, tidak bertegur sapa dengan mesra, hanya bergaul sekedarnya saja. Tapi bila ia suka, ia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, berbicara apa saja dan sangat menghargai hubungan itu. Di masa remajanya ia pernah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia tidak bisa makan tidak bisa tidur. Tapi ketika kemudian ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia mundur secara teratur. Meskipun sedih ia memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Di usia 15 tahun, ia mulai menulis cerita atau naskah drama secara teratur ke RRI Semarang. Ketika pertama kali akan mengambil honor ke kantor itu, satu petugas RRI tidak percaya bahwa ialah penulisnya. Dini tidak tersinggung, hanya berkata bahwa apa tidak mungkin seorang yang kecil bisa menulis secara itu? Ketika petugas itu mengantar Dini pamit dan melihatnya mengambil sepeda besar untuk laki-laki, ia tidak berkomentar lagi. Pada masa kecil dan remajanya, ia sudah memikirkan banyak hal, baik keluarga, lingkungan, dan kegemarannya sendiri. Ia sudah mampu mengelola banyak konflik dalam memutuskan, menerima, menilai, memilih. Dan itu adalah sebuah keterampilan untuk menjadi mandiri.

Peristiwa dalam karya

Buku pertama Dini, Dua Dunia, merupakan kumpulan cerpen, terbit tahun 1956. Ia dicatat sebagai penulis dengan karya sastra angkatan 50-60-an. Menyusul setelah itu novel Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973. Karya ini dianggap sangat diperhitungkan oleh para pengamat sastra Indonesia. Pada tahun yang sama, Marga T. meluncurkan novel Karmila. Kritikus sastra A. Teew menjuluki karya-karya tersebut sebagai sastra pop, untuk membedakan tulisan mereka dengan sastra serius dan menggarisbawahi kelarisan (dan ketidakseriusan) karya. Tak lama setelah itu, tahun 1975, Raumanen, novel Marianne Katoppo yang memenangkan Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta, diterbitkan. Jejak ini diikuti banyak pengarang lain, di antaranya Aryanti, Ike Soepomo, La Rose, Maria A. Sardjono, Mira W., Titie Said,, Veronika, Yati Maryati Wiharja, juga Selasih, Rahma Asa, Nina Pane, Lili Munir, seiring dengan munculnya majalah wanita dengan oplah besar di sekitar tahun 70-an.

Sekitar tahun itu perekonomian Indonesia mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat dan muncul permintaan baru, termasuk koran, majalah, buku. Kantor penerbitan dan media massa mulai berkembang. Sejumlah besar majalah mingguan atau bulanan yang di antaranya ditujukan bagi pembaca perempuan. Perbaikan ekonomi merupakan sebuah prasyarat untuk membangun lingkungan yang mau menerima sastra dan seni, papar seorang. Sastra populer harus diakui telah mempunyai pengaruh yang lebih luas pada pembaca, dan membantu meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia karena jumlah pembaca yang besar.

Sementara itu menurut Budi Darma, sastra Indonesia juga penuh dengan sastra kabur. Ada puisi gelap, novel antihero dan anti plot, drama yang tidak jelas, dan lain-lain, mulai bangkit tahun 1970-an dan masih berlanjut hingga kini. Mengapa sastra kabur memukau, apakah mempunyai dimensi masa depan yang baik ataukah hanya sesaat, menurut Budi, jawabannya bisa banyak.

Namun nama Nh Dini adalah satu dari sedikit pengarang perempuan yang penting di negeri ini. Karya-karyanya dianggap sangat reprensentatif bagi banyak persoalan wanita yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Putu Wijaya berkomentar ‘kebawelan yang panjang’ untuk menyebut Dini sebagai pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif.

Dini memilih kalimat-kalimat sederhana untuk menggambarnya satu peristiwa. Mudah menebak arah simpatinya. Satu hari, kakaknya, Maryam, menikah. Waktu upacara pidakan, yaitu kaki pengantin lelaki menginjak telur lalu kakinya dibasuh pengantin wanita, Dini tidak merasa terharu dengan simbol seorang istri melayani suami itu. Waktu itu hatinya malah merana melihat telur dibuang-buang hanya digunakan sebagai perlambang (Sekayu, 174). Ia menulis berbagai peristiwa dengan latar belakang kesulitan ekonomi yang merata di mana-mana. Ia menampilkan sistem transportasi buruk. Naik bis untel-untelan, penumpang seperti ikan tongkol dipaksa masuk lebih banyak, juga masalah kereta api. Hingga kini, lukisan tersebut masih tetap abadi, bahkan mungkin lebih buruk dengan banyaknya kecelakaan yang mengiringinya di akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Sungguh ironis tapi itulah yang terjadi.

Dini menata kalimat-kalimatnya dengan cermat, tak terburu-buru, tekun, runut. Ia memperhitungkan kata-katanya. Ia sudah berbahasa dengan baik, bahkan sejak awal ia memulai debut menulis dan mendapat keuntungan dari sana, dimulai di masa SMP. Ia menyukai proses dalam menulis. Baginya, hal yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, ia tulis dulu di catatannya dengan tulis tangan.

Hal itu juga karena ia suka merenung, menganalisa kembali dan lebih mengutamakan kepuasannya dalam menyelesaikan tulisan. Satu cerita pendeknya yang panjang, Istri Konsul (2000) terasa berbeda dengan karya Dini lain yang terasa lebih longgar dan jelas. Di sini Dini merangkai kata dan kalimatnya secara rapat dan cepat. Bila dilihat dari rentang masa dan konflik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, Dini bisa membuatnya menjadi satu novel. Lompatan-lompatan plot yang dilakukannya tidak seperti kebiasaannya yang detail.

Hampir semua masa dalam kehidupan Dini tercatat dalam buku-bukunya. Tapi masa ketika ia menjadi pramugari Garuda, yang cukup lama, yaitu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960, tidak tampak dalam buku-bukunya atau saya belum menemukannya.

Perempuan dan seks dalam karya

Dini setiap kali menampilkan nama perempuan dalam tokoh-tokoh di novelnya. Seorang pengamat mengatakan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan lebih merupakan manusia perempuan dan bukan sekadar konsep mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Dalam satu tulisan Sapardi Djoko Damono, tokoh perempuan yang ‘diciptakan’ oleh laki-laki lebih merupakan konsep, yakni apa yang oleh laki-laki dianggap sebagai ‘perempuan.

Dra Sariyadi Nadjamuddin-Tome, MS, dosen FBS Unima Tondano meneliti dan membuat makalah tentang permasalahan wanita dalam novel Nh Dini, La Barka. Isu wanita di buku ini terutama berkaitan dengan pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, tindak deviasi, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Permasalahan yang ditampilkan dianggap memberi daya tarik tersendiri juga aktual karena sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar pakar sastra dan komunitas gerakan perempuan. La Barka memiliki potensi menjadi saksi di zamannya mengenai masalah wanita yang dianggap sebagai warga kelas dua (the second sex) akibat partiarchal power, paham yang dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Menurut Sariyadi, penelitian dengan teori kritis sastra feminis yang diterapkan dalam analisis teks La Barka, menghasilkan pembuktian bahwa teori kritis sastra feminis dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra yang bersifat ilmiah.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum, saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,” ujarnya. Melani Budianta, pemerhati sastra di Jakarta mengatakan, sastra populer hasil karya perempuan pengarang di akhir 1990-an telah memunculkan sebuah generasi baru, yang berani mengeksplorasi seksualitas lebih dalam, memakai cara penulisan yang berbeda dan bahasa yang lebih puitis. Namun karya mereka sama sekali tidak dipandang sebagai pornografi, misalnya Saman karya Ayu Utami dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Esais Nirwan Dewanto mengatakan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Nh Dini sudah menggarap masalah tersebut pada novel Pada Sebuah Kapal, hanya saja Dini tidak begitu radikal.

Di buku terbarunya, Dari Fontenay ke Magallianes, Dini menulis dengan gaya lebih segar dan memikat. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Prancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan tentu saja perselingkuhan yang menggetarkan dengan sang kapten. Tentang yang terakhir itu dia tulis secara gamblang dan terang-terangan. Ia mengungkapkan betapa tertekan hidup bersama (mantan) suami Prancisnya yang pelit dan garing.

Namun karakternya yang adil, Dini tetap memuji kebaikan hati suaminya yang memberinya beberapa kebebasan, misalnya berlibur ke Indonesia dan dapat bersekolah kembali sesuai cita-citanya. Buku ini indah dan semarak seperti musim semi meskipun lahir dari pengalaman pahit si pengarang. Sebentar lagi ia berusia 71 tahun. Sebenarnya bisa saja usianya lebih muda karena ia lahir 29 Februari 1936, artinya berulang tahun setiap empat tahun. Di satu buku kenangannya, ia mengutip sajak Rendra, bahwa hidup bukan untuk mengeluh, tapi tugas yang harus diselesaikan demi kehormatan.

Sebagai penulis, Dini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

Januari 2007

read more
Penulis & Perupa

Penulis Sastra: Ayu Utami

Ayu Utami

Ayu Utami mendapat penghargaan dalam dan luar negeri untuk karya sastranya, antara lain Prince Claus Award dari Belanda. Novel pertamanya, Saman (1998), terus dicetak hingga kini dan telah diterbitan ke dalam 10 bahasa asing. Beberapa novelnya antara lain Larung dan Bilangan Fu, juga telah diterbitkan dalam bahasa asing. Ayu pernah menjadi wartawan dan kini adalah direktur Literature & Ideas Festival (LIFEs) yang diadakan di Komunitas Salihara setiap Oktober.
Di Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018, Ayu akan tampil dalam dua kesempatan.
Pertama, Ayu akan berbincang Spiritualisme Kritis, konsep yang pertama kali ditulisnya dalam novel Bilangan Fu 2008. Setelah itu, ia turunkan dalam pelbagai buku, antara lain Seri Spiritualisme Kritis dan Menulis & Berpikir Kreatif cara Spiritualisme Kritis. Secara sederhana, konsep ini merujuk pada sikap spiritual yang tidak mengkhianati nalar kritis. Tapi, secara khusus Ayu mengkonseptualisasikannya dalam pengalaman spiritual dan intelektual Nusantara.
Kedua, khusus untuk para pendidik, Ayu akan bicara soal Peta Sastra Kebangsaan. Menurutnya, mengajarkan kekayaan intelektual dan kebhinekaan bangsa kepada siswa sekolah dapat melalui pelajaran sastra Indonesia. Karya tulis dari era Kartini hingga sekarang dapat dibaca sebagai sejarah pemikiran kebangsaan. Ayu menawarkan sebuah sistem sederhana untuk mengajak siswa membaca dalam kelompok supaya mudah memahami sejarah pemikiran kebangsaan yang kaya—bahkan hanya dengan satu murid membaca satu buku! Dengan harapan generasi muda dapat mengejar ketertinggalan dalam literasi.

read more
Persona

Joyce Sitompul dan Mimpinya untuk Tanah Batak

Diskusi NS

Catatan Redaksi:

Mungkin Joyce Sitompul orang yang paling bersemangat saat “Mengenang 110 Tahun Nahum Situmorang” di Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Sumatera Utara, pada 14 Februari lalu.  

Selama sepuluh tahun terakhir ini ia mencurahkan waktu dan perhatian pada segala sesuatu yang memanggil hatinya untuk bergerak. 

Ketika didapuk menjadi Ketua Kosentra (Komunitas Seniman Tradisi Sumatra Utara) pada 20 Maret 2011, ia mulai bergerak.

Ketika didaulat menjadi Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Pelayanan Anak, ia bergerak untuk menjamu 234 anggota dari 34 negara di satu hotel di wilayah Bogor, meski ia merasa tak sanggup.

Ketika diminta menjadi Penatua di satu gereja HKBP, ia bergerak mengalahkan ketakutannya sendiri dengan menyeberangi ganasnya gelombang Samudra Hindia, untuk tiba di Pulau Enggano.

Ketika rumah adat Jangga Dolok terbakar jadi arang pada akhir 2016 lalu, ia bergerak berseru-seru meminta perhatian dunia, dan dunia menjawabnya.

Ketika bertemu perajin ulos, ketika melihat Danau Toba, ketika melihat Tano Batak, ketika melihat orang Batak, ia masih bermimpi.

“Saya kerjakan yang rohana (tidak rohani-red.) dan rohani bukan karena keinginan hati sendiri. Ada hasrat kuat melatarinya, tak dapat dihentikan. Saya yakin setiap rencana akan menemukan bintangnya sendiri. Saya percaya hati yang tulus dan tangan yang bersih. Dan saya takkan berhenti sampai suara berkata, “Selesai, Joyce!” Saat itulah saya berhenti,” ujarnya.

Mengobrol santai dengan perempuan bersemangat ini sambil makan bubur kacang hijau buatannya, saya tertular semangatnya. Tulisan ini hasilnya. Selamat membaca, semoga bermanfaat.    

 

Manik Mata VS Mata Manik

Joyce merajakan warna pink. Warna cinta. Warna itu terlalu manis bagi pekerja keras sepertinya. Namun ia berubah menyukainya secara fanatik. Dan fanatisme tidak muncul tanpa sebab. Sebelumnya ia tak pernah melirik warna yang dinilainya lemah itu.

Bermula dari rasa penasarannya soal Tuhan. Sejak kecil ia tidak pernah menyepelekan Tuhan. Ia selalu ingin tahu apa dan apa tentang Tuhan tetapi tidak paham bagaimana mengungkapkannya. Lagu Kidung Jemaat Hormat bagi Allah Bapa, ia nyanyikan sepenuh hormat. Ketika SMA, ia pernah bercita-cita menjadi biarawati karena melihat betapa damai hidup mereka.

Di sekolahnya, SMA Marsudirini Matraman, kebanyakan kepala sekolah adalah suster. Ia menyukai suasana biara. Sunyi dan tenang. Ia senang kalau diantar lebih pagi ke sekolah oleh ayah atau ibunya dan ia akan berdoa di kapel, di depan Madona. Ia tampak jarang bergerombol ngobrol bersama teman-teman sebaya, meski ia suka berteman.

Dan satu ketika ia merasa tak terhubung dengan Tuhan. Rasa hampa dan gelisah melanda. Ia tak tahu bagaimana mengungkap perasaannya waktu itu. Maka terjadilah suaminya dipindahtugaskan ke Surabaya. Lalu Tuhan membuat mereka bertetangga dengan satu gereja karismatik. Dekatnya, ia hanya perlu membuka pintu rumah, dan kakinya tiba di gereja.

Satu kali di sana diadakan doa puasa. Penasaran seperti apa kegiatan itu ia pun melangkah masuk ke dalam gedung persis ketika suara Pendeta berkata, “Engkau adalah biji mata Tuhan.” Dug! Jantungnya ditendang oleh kalimat itu, keras. Sebuah pengertian berlabuh di hatinya. Pada saat itu juga ia merasa telah dicintai oleh Yesus, dengan hebat. Dipelihara seperti biji mata yang berharga. Mengetahui itu hatinya dipenuhi sukacita yang melimpah. Manik matanya melihat segala sesuatu indah.

Sejak itu ia berkunjung ke rumah Tuhan setiap hari. Dari Senin hingga Jumat. Pukul 9 sampai pukul 12. Ia seperti mendapat makanan surgawi. Lalu opini tentang warna pink berubah. Itu warna cinta. Begitulah warna yang mewakili kasihnya kepada Yesus. Lalu ia mempertalikan Manik, marga ayahnya, sebagai manik mata Tuhan. Dirinya.

 

Menjamu Hamba Tuhan

Sebab rancangan-Ku bukan rancanganmu, kata Tuhan yang ditulis oleh Yesaya. Itu pulalah yang dimaksud Tuhan ketika perempuan bernama lengkap Joyce Mellisa Sitompul itu harus menerima sebuah tanggung jawab.

Lembaga Pelayanan Anak, disingkat LPA, merupakan afiliasi Child Evagelism Fellowship yang berdiri tahun 1937 di Warrenton, Missouri, Amerika Serikat. Di Indonesia, Lembaga itu didirikan tahun 1971 oleh sekumpulan orang yang menyadari betapa berharga jiwa seorang anak. Termasuk Ibu Elizabeth Silitonga, ibundanya.

Tuhan bekerja dengan cara-Nya, yang misterius. Waktu itu Joyce sedang berkonsentrasi pada dua hal, dan ia merasa yakin keduanya berhasil. Namun perhitungannya meleset. Keduanya gagal. Memang itu bukan untukku, pikirnya, meresponi hal tersebut.

Jadi siang itu, setelah mengetahui kegagalannya, sambil menyetir pulang, ia memutuskan akan menikmati sore sendiri. Anak-anak dan suaminya sedang di luar rumah. Tiba di rumah, ia menyiapkan minuman favorit di dapur dengan hati ringan. Ia duduk santai di sofa kesayangan, menghadap televisi.

Lalu, ting tong. Bel rumah berdering. Siapa mampir sore-sore begini, pikirnya. Tak lama wajah asisten rumah tangganya muncul, memberitahu perihal tamu-tamu yang menunggunya di ruang tamu. Ia berganti pakaian, bergegas menemui mereka.

Tamu itu ternyata Ibu Tambunan, sahabat ibunya dan beberapa staff LPA. Mereka saling bertanya kabar mesra sebelum akhirnya perempuan sepuh itu mengatkan maksud kedatangan mereka sore itu. “Joyce, kami tiga tahun berdoa untuk mencari ketua pengurus yang baru. Dan Tuhan telah memilihmu, Nak.”

Joyce terperanjat. Ia tidak menyangka tanggung jawab datang begitu cepat. Memang ibunya telah tiga kali meminta hal sama selama beberapa waktu ini. “Joyce, kalau Mami meninggal nanti, kamulah yang akan mengurus LPA.” Ia merasa tidak siap.

Memang Joyce sangat dekat dengan anak-anak. Seringkali ia pun merasa seperti anak-anak. Tidak memusingkan apa pun. Pernah satu kali ia menenangkan bayi mungil seukuran botol yang rewel, di satu Panti Asuhan. Pernah seorang anak India menangis sepanjang perjalanan di pesawat menuju Amerika, namun tertidur seperti pingsan dalam dekapan tangannya. Dan bagi ketiga anaknya, tangannya adalah Mama’s magic hands, karena paling cepat bikin mereka tidur.

“Inang, saya ini bukan siapa-siapa. Pekerjaan ini terlalu besar buat saya,” jawabnya saat itu.

“Terimalah tugas ini, Nak. Kau akan melihat Tuhan membuat banyak mukjizat,” ujar ibu sepuh itu, tenang. Ia yakin betul Joyce akan menerima tugas itu.

Jalan Tuhan sungguh tak terduga. Beberapa lama setelah serah-terima jabatan sore itu, Ibu Tambunan dipanggil oleh Tuhan ke Surga. Siapa yang tahu ia pergi selekas itu? Peristiwa itu tahun 2014.

Lalu Joyce menyambangi kantor LPA di Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat. Ia hanya menghela napas panjang melihat kondisinya. Kantor itu keadaannya memprihatinkan. Instalasi listrik sudah usang. Tegel lantai kusam. Atap kantor apek akibat terkena lembab air hujan dalam waktu lama. Kamar mandi sempit dengan pintu berlubang dan lantainya kotor abadi. Secara keseluruhan kantor perlu perbaikan.

Sementara kas kosong. Untuk mengganti pagar rumah saja rasanya tidak memungkinkan. Dan seorang staff memberitahu bahwa pada tahun 2012 di Hongkong, pada Konperensi Asia Pasific terakhir, Indonesia telah ditetapkan menjadi tuan rumah konperensi berikutnya. Artinya, tahun 2016.

“Kita sudah dua kali menolak menjadi tuan rumah. Kalau yang ini pun gagal, mereka akan berpikir memang Indonesia Negara miskin dan tak mampu jadi tuan rumah,” kata staffnya.

“Kalau begitu kita harus selenggarakan konperensi itu,” tekad Joyce.

Tetapi banyak pe-er harus diselesaikan. Joyce merenung. Ia sudah beberapa kali bolak-balik Amerika-Indonesia. Ia melihat orang Amerika biasa mengecat rumah mereka sendiri. Jadi ia pikir bagus juga kalau mereka mengecat kantor sendiri. Ia berbagi rencana itu kepada para staff dan mereka hanya terdiam. Mereka berpikir, merenovasi kantor berarti membuat proposal dan meminta orang-orang beruang mengucurkan dana.

“Sebelum kita menadahkan tangan, kita kerjakan dulu apa yang tangan kita bisa lakukan,” katanya kepada staff.

Akhirnya mereka pun mulai mengerok dinding-dinding kantor untuk mengelupaskan kulit kusamnya. Setelah itu mereka mengampelas bersih-bersih, baru dicat.

Suami adiknya melihat mereka bekerja keras, lalu mengulurkan tangan memberi bantuan. Setelah itu satu per satu bantuan mengalir, entah dari mana. Satu per satu pekerjaan selesai. Kantor jadi resik. Lantai berkilau. Sofa warisan nenek ia bawa ke ruang tamu. Walhasil, ketika utusan Asia Pasifik berkunjung, mereka yakin Indonesia siap jadi tuan rumah.

Lalu konperensi pun diselenggarakan. Ada 234 delegasi dari 34 negara untuk dihadirkan. Mereka menulis surat untuk berbagai keperluan, mengatur akomodasi dan penerbangan, mengurus izin visa ke kantor imigrasi, menentukan biaya dalam dollar. Mereka hanya bisa pasrah kepada Tuhan, seandainya kurs tukar dollar turun pada saat itu.

Mereka mencari penginapan untuk sejumlah peserta. Hotel Novotel Bogor memang indah. Lokasinya bersebelahan Kebun Raya Bogor. Namun harga kamar Rp1,1 juta. Di lain pihak, tidak ada hotel yang dapat memenuhi kebutuhan seratus kamar. Tetapi tekad mereka tetap, melayani yang terbaik.

Tiga minggu sebelum tenggat waktu membayar uang muka Rp150 juta, kas masih kosong. Joyce menimbang-nimbang, kalau ia menghubungi sepuluh orang sahabatnya, dan masing-masing menyumbang Rp15 juta, masalah beres. Itulah semula yang akan dilakukannya. Namun, Tuhan mendahuluinya bertindak. Pagi itu mereka berdoa bersama di kantor, sore harinya uang yang dibutuhkan tersedia.

Konperensi berlangsung sepuluh hari. Empat hari pertama untuk seluruh direktur. Enam hari untuk anggota. Indonesia yang dua kali mangkir, menjadi tuan rumah yang dipuji. Makanan berlimpah. Kopi dan susu hangat selalu ada buat siapa pun yang kedinginan malam hari. Konperensi Oktober 2016 itu selesai dan masih ada lebihnya. Seperti yang diimaninya, dari lima roti dua ikan, sisa roti 12 bakul!

 

Empat Tahun yang Berharga

Mukjizat ilahi tiba lebih awal di kediamannya. Rumah tangga yang ia bangun bersama suaminya, dikaruniai tiga buah hati.

Pertama, Zebadiah Alexander Salomo lahir tahun 1990. Pegolf muda yang namanya diukir di University of Michigan, Amerika Serikat. Kedua, Thekla Odelia Caramia lahir tahun 1991. Pegolf sekaligus perenang, mendapat beasiswa yang sama seperti abangnya, di IMG Florida. Ia lulusan School of Art &Design dan pemenang Lomba Perancang Mode 2017 yang diselenggarakan oleh Majalah Femina. Dan si bungsu Bernice Intan Stephani lahir tahun 1994. Mengikuti jejak kedua kakaknya, ia atlet golf dan mahasiswa Loyola University Chicago. Sekarang bekerja di Ernst&Young, Chicago.

Joyce mahasiswa arsitektur UI tahun 1981. Pada satu hari tahun 1986, ia diwisuda dengan disiram air comberan campur tepung dan telur busuk, lalu sorenya ia bertunangan. Bulan berikutnya ia sudah di Amerika, mengikut si abang yang bertugas di Florida. Padahal membuat telur ceplok pun ia belum bisa. Ibunya belum sempat mengajaknya ke dapur.

Setahun di negeri orang, mereka balik ke Indonesia, tetap berdua. Setiap hari ia berdoa untuk dikaruniai si buah hati. Di rumah mereka di Pamulang, niat untuk mendekor kamar bayi, ia urungkan karena ia berpikir Sang Pencipta tak mengizinkannya menjadi ibu. Namun di antara pintu yang memisahkan kamarnya dan kamar calon bayi, ia membuka kedua tangannya, berbisik kepada Tuhan, “Kalau Kau kasih aku anak, ya Tuhanku, aku akan rawat dia dengan tanganku sendiri.”

Waktu berlalu sampai empat tahun. Ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Joyce menjaga ibunya. Dan di rumah sakit, ia terkenang-kenang ayat Kitab Suci yang mengatakan, kuda nil tetap tenang biar pun sungai Yordan meluap. Mengingat itu ia merajuk, “Tuhan, kuda nil Kau perhatikan. Sekarang aku, satu anak saja, Tuhan. Aku tak minta lebih.”

Puluhan kali ia kecewa menerima hasil laboratorium tetapi ia tak letih berusaha. Terkadang ia malu Karen seringnya bertemu petugas laboratorium tempat ia memeriksakan urin. Mukjizat hadir sebelum ia menyadarinya. Tak lama setelah ibunya pulang dari rumah sakit, hasil laboratorium kali ini: positif.

Ia girang bukan kepalang seperti mendapat lotere. Ia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Ia tidak makan makanan sampah setelah mengetahui bahwa rahim adalah tempat Tuhan menenun bayi. Jutaan saraf dibentuk dari makanan yang ibu makan.

 

Keluarga Pemain Golf

Alexander kecil sering meniru ayahnya mengayun tongkat golf. Melihat kelakuannya, sang ayah menghadiahinya tongkat golf khusus anak. Alexander kecil lebih rajin bermain dengan tongkat itu. Hasilnya, ia menjadi juara pada usia 7 tahun di Surabaya. Pada usia 9 tahun ia menjadi juara nasional. Pada usia 13 tahun, ia memecahkan rekor golf amatir di Serapong Island, Singapura, yang melabelinya anak ajaib. Saat diwawancara oleh satu televisi kabel, Alexander menyebutkan nama satu sekolah atlet dunia yang bermarkas di Bradenton, Florida, sebagai impiannya.

Dan Tuhan Semesta Alam menyambut doa anak muda itu. Seseorang menghubungi ayahnya, mengatakan bahwa Alexander mendapat beasiswa penuh untuk bersekolah di sana selama tiga tahun. Berita itu menggembirakan keluarga besar. Namun sebagai ibu, Joyce merasa berat. Anak itu hadir setelah ia menanti selama empat tahun. Tiba-tiba Tuhan memintanya kembali?

Sementara jawaban ya atau tidak harus dilayangkan hari ini. Pagi itu, Joyce duduk di meja riasnya. Hatinya merasa berat. Tuhan, tolong aku, batinnya. Saat itu juga telinganya mendengar suara, “Kalau kamu dekat dia terus, dia tidak akan jago seperti permintaanmu.” Mendengar itu ia kaget. Tuhan mengingatkan bahwa ketiga anaknya adalah milik-Nya. Bahwa selama ini ia sudah berdoa agar ketiga anaknya menjadi yang terbaik dari apa pun kegiatan mereka. Ia mendesain tiga bendera seukuran yang berkibar di Monas, untuk mereka. Sejak kecil ia mengajak mereka menyanyi lagu Indonesia Raya dengan sikap hormat, sebelum bertanding.

Sekarang matanya celik. Ia sadar anaknya harus pergi. Cepat-cepat ia berdiri dan keluar kamar, persis ia menemukan Alexander berdiri di tangga, berkata, “Mama, aku sudah putuskan untuk pergi ke Amerika!” Ibunya pun menjawab mantab, “Iya, Sayang. Pergilah, Anakku.”

Meski demikian ia tetap merasa tak tahan membayangkan kekasih kecilnya jauh darinya, tinggal di asrama dan melewatkan jam-jam latihan yang keras. Dan ia tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu anaknya. Sekarang ia mengerti bagaimana hati Abraham ketika menyerahkan Ishak di atas gunung.

Joyce mengantar si sulung sampai ke Florida. Ia masih terharu berhadapan dengan direktur sekolah dan pelatih Alexander. Kepada mereka ia berkata, “Titip anakku.” Mereka menggenggam kedua tangannya seolah memberi kekuatan, menjawab, “Ibu, percayalah, anakmu di tangan yang benar.”

Hatinya benar-benar sakit ketika hendak pamit. Hatinya seolah diiris sembilu. “Sayang, Mama baru akan melihat kamu enam bulan lagi. Jangan lupa makan ya. Jangan lupa berdoa. Tuhan Yesus sangat mengasihimu, Nak.”

Melihat ibunya tak berhenti menangis, Alexander menantang, “Mama, sekarang aku tanya. Apa Abraham nangis terus kayak Mama waktu nyerahin Ishak ke Tuhan Allah?”

“Tidak, Sayang.”

“Kalau begitu Mama pulang dan jangan menangis lagi. Aku akan baik-baik saja di sini.”

Ia berjanji tidak menangis. Namun dalam perjalanan ke bandara, ia masih belum mengatasi rasa harunya. Di pesawat, ia mengalami dada sesak karena ia menahan diri tidak menangis.  Seorang pramugari dengan penuh simpati membawakan sebotol wine, berkata, “Mungkin ini akan membuat Ibu tenang.”

Ia belum pernah minum wine. Ia tidak paham bahwa maksud pramugari tadi adalah minum sedikit saja. Efek panas dari anggur akan membuatnya mengantuk, lalu tertidur. Tanpa sadar ia menenggak seluruh isi botol, sampai habis. Dan ia tertidur luar biasa pulas. Ketika terjaga, pesawat sudah jauh meninggalkan Amerika.

Tahun berikutnya, Caramia mendapat beasiswa yang sama dengan Alexander, ia dapat mengelola emosinya dengan baik. Waktu itu pengawas sekolah anaknya bertanya, “Katakan satu kalimat tentang anakmu dan kami akan menerima anak Ibu.” Tanpa berpikir ia menjawab, “Anak perempuanku itu seorang pejuang. Meski ditempatkan di padang gurun, ia tahu jalan pulang.”  Lalu ketika giliran Bernice, anak ketiganya, ke Amerika, ia lebih tenang melepas pergi.

Ia dan suaminya sama-sama paham bahwa keluarga mereka tidak normal. Dalam arti, mereka tidak selalu bersama. Joyce harus membagi waktu untuk mereka. Enam bulan di Tanah Air, enam bulan di negeri orang. Bukan tanpa risiko ia bolak-balik seperti itu. Petugas imigrasi pernah mencurigainya. Ia terancam deportasi ketika tertahan lebih dari tiga jam di kantor imigrasi bandara.

“Kamu pasti bekerja di Amerika!” kata petugas.

“Tidak. Saya mengurus anak-anak saya.”

“Anak-anakmu sudah besar. Mereka bisa mengurus diri sendiri.”

“Betul. Tapi mereka sangat berharga bagi saya. Saya ingin ada dekat mereka pada masa-masa sulit mereka mengikuti banyak turnamen ke negara-negara bagian.”

Joyce bertindak manager bagi ketiga anaknya. Alexander dengan jam terbang lebih tinggi mempunyai jadwal kompetisi dengan putaran lebih banyak daripada kedua adiknya. Ia bertugas menyiapkan makanan sehat, mengatur perjalanan dan penginapan, memperhatikan jadwal. Pernah dalam satu hari ia harus mengejar pesawat karena harus berada di dua negara bagian. Pernah pula ia menyetir dari satu negara bagian ke yang lain, seorang diri. Jaraknya, sama dengan tiga kali Jakarta-Surabaya. Membayangkan itu lagi, ia heran Tuhan telah memampukan tangannya melakukan itu semua.

 

Enggano Takkan Mengecewakan

Tahun 2007, Joyce diangkat menjadi Ketua Misi di satu HKBP. Ia merasa tidak mampu. Namun seorang kawan menyemangatinya. Tak lama setelah itu seorang pendeta asal Palembang curhat sambil mencucurkan air mata. Kondisi umat di Pulau Enggano menyedihkan, katanya. “Datanglah, temui mereka,” pohon si Pendeta.

HKBP tempatnya beribadah punya tiga gereja asuhan di Enggano. Bahkan posisi Enggano di peta Indonesia pun, ia tidak tahu. Bawa bensin kalau ke sana, pesan si Pendeta menangis. Arti perkataan itu adalah, tempat yang akan dikunjungi jauh dari suasana berlibur.

Kata Enggano berasal dari bahasa Portugis engano, yang berarti kecewa. Pulau Enggano adalah pulau terluar bagian barat Indonesia, selatan Sumatera Barat, di samudra Hindia. Secara administratif, ia termasuk Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Dengan luas 400,6 km², Enggano terdiri dari enam desa dan beberapa pulau kecil. Jarak Ibukota Provinsi Bengkulu ke Pulau Enggano adalah 156 km. Belum ada bandara, hanya pelabuhan kapal ferry dan perintis.

Joyce berpikir-pikir, perlukah ia pergi? Tetapi air mata pendeta itu sudah ada di dalam hatinya. Persis ia merasa bingung, suara seorang penyiar radio RPK di mobilnya berkata, “Kamu akan menjadi saksiku di Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.” Baginya, pesan itu jelas. Enggano adalah Samarianya.

Sebelum pergi, si bungsu menangis, “Bagaimana kalau Mama tidak pulang?” Ia memang takut karena minimnya informasi yang akan dia kunjungi. Dia tak terbiasa dengan ketidakpastian. Pergaulannya di kalangan orang Amerika mengajarinya tepat waktu dan fokus. Tetapi ia menenangkan putrinya, ”Tuhan akan kirim Mama pulang dengan selamat, Sayang.”

Ia berpikir sederhana. Kalau ombak terlalu kencang, ia akan terlempar ke laut, mati tenggelam, dan bertemu Yesus. Kalau ia ditelan ikan besar dan dimuntahkan, seperti pengalaman Yunus, mungkin ada sedikit harapan hidup. Risiko kapal karam bisa terjadi. Sinyal telepon lemah. Karakter badai laut Hindia sering memaksa kapal yang sudah setengah jalan, balik ke Bengkulu. Namun sebelum meninggal Nommensen sudah menyuruh dua asistennya ke sana, pikirnya.

Semua kesulitan itu ditelannya. Ia tidak mundur. Ia siapkan bensin dan air bersih. Ia membeli obat antimalaria dan sayuran di pasar Bengkulu. Ia berangkat bersama seorang evangelis dan teman marinir.

Betul saja. Ketakutannya terjadi. Di tengah laut, lautan Hindia mengamuk. Angin bertiup kencang dan mengombang-ambingkan feri mereka. Teriakan awak kapal berlomba dengan suara ombak. Penumpang panik. Hati Joyce mengerut seperti balon kempes melihat kekacauan itu. Ia ingat Bernice, putrinya. Ia ingat pendeta yang menangis. Ia ingat Tuhan. Di saat buntu, ia memutuskan untuk melipat tangan.

“Tuhan, dalam keadaan terjepit ini, sedetik pun tak kuizinkan otakku yang kecil ini meragukan penyertaan-Mu. Kalau aku harus mati, matilah. Hanya, buatlah aku tidur, Tuhan, aku sangat takut.”

Setelah berdoa, ia menutup kepalanya dengan tudung jaket, membaringkan tubuhnya, miring. Dalam hitungan detik, ia tertidur. Ia tidak tahu bagaimana semuanya selesai. Ketika terbangun, laut sudah teduh.

Sepuluh hari berkeliling di Enggano. Banyak yang harus dikerjakan. Ada lebih banyak keluhan daripada sukacita. Ia dan kawan-kawannya melakukan apa yang mereka mampu. Menghangatkan hati umat tentang kebaikan Tuhan. Di sini kalian tinggal membuang kail ke laut dan ikan didapat, hiburnya.

Sekarang, sembilan tahun sudah pelayanan Enggano. Eporus dan sebelas pendeta sudah meresmikan gereja menjadi resort khusus. Bandara sudah dibangun. Pesawat Susy Air berkapasitas sembilan orang terbang dari Bengkulu, setiap hari. Jemaat tersenyum. Dapat melihat kebaikan Tuhan.

 

Rumah Adat Jangga Dolok

Seorang teman mengirim pesan ke WhatsApp Joyce. Rumah Adat Jangga Dolok terbakar, katanya dengan banyak tanda seru. Joyce membacanya dan terkejut.

Kebakaran itu terjadi pada 31 Desember 2015 malam. Warga tengah bersukacita menyambut tahun baru. Tragedi berawal dari sekumpulan anak bermain mercon. Bunga api melompat ke atap ijuk salah satu rumah adat yang sedang direnovasi atas biaya Kemendikbud RI. Api menyebar cepat dan menghabiskan empat rumah adat dan satu sopo alias rumah tenun, menjadi arang. Padahal bangunan-bangunan diperkirakan berumur 200 hingga 250 tahun.

Desa Jangga Dolok terletak di Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Bangunan tersebut telah lama menjadi tujuan wisata.

Joyce merasa sangat prihatin. Ia gelisah. Ia menunggu dan tampaknya tidak seorang pun tertarik bergerak melakukan sesuatu terhadap peristiwa tersebut. Saat itulah ia mengirim pesan tolong dengan banyak huruf ‘o’ ke beberapa grup arsitektur, via WA.

Sejam kemudian seorang teman arsitek merespons, bertanya, “Tolong apa, Joyce?” Aku mau membangun kembali rumah adat itu, jawab Joyce.

Kawan itu seorang yang paham kegiatan Ibu Tirto Utomo, Ketua Yayasan Tirta Utama. Beberapa kali beliau mendanai pelestarian bangunan bersejarah. Atas bantuan kawannya, Joyce termasuk salah satu kandidat untuk dibantu. Karena ingin memastikan segalanya berjalan baik, ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan beliau, yang sedang meresmikan rumah Gadang di Padang.

Pada hari peresmian, ia menunggu kesempatan berduaan dengan Ibu Tirto. “Wah, kamu datang dari Jakarta khusus bertemu saya?”

“Betul, Ibu.”

Berapa perkiraan biaya merenovasi rumah adat itu, tanya beliau. Joyce gelagapan karena sebenarnya ia belum menyiapkan diri sampai ke sana. Walhasil, pembicaraan lima menit itu dirasanya mengambang. Tidak ada keputusan atau janji atau apa pun. Mungkin ia telah melakukan kesalahan dan Ibu Tirto tidak tertarik membantu.

Namun beberapa hari kemudian seseorang memberi kabar baik. Ia diundang untuk bertemu Ibu Tirto. Beliau langsung memintanya untuk memilih tim kerja. Satu tahap terlewati. Ia bergerak cepat, menemui kawan-kawan seniman di Taman Mini Indonesia Indah. Bersama Kepala Anjungan Sumatera Utara, mereka mengumpulkan 30 narasumber.

Mereka menyelenggarakan diskusi bertajuk Menyelamatkan Rumah Adat Batak, pada 3 Maret 2016. Cosmas Batubara dan Bisuk Siahaan menyambut baik upaya penyelamatan rumah adat. Guru besarnya di UI, Prof. Gunawan Tjahjono, hadir memberi masukan. Parluhutan Manurung, wakil keluarga kampung Jangga Dolok, hadir. Yori Antar berbagi pengalaman membangun beberapa rumah dan kampung adat di berbagai pelosok Nusantara. Yayasan Pencinta Danau Toba membantu membentuk tim kerja salin mengundang pegiat Aksara Batak, sastrawan, akademisi, pemerhati, dan masyarakat, saling urun rembug.

Diskusi menghasilkan rencana rekonstruksi kampung adat Jangga Dolok dan sopo Batak. Bangunan tradisi ini masih dikaitkan dengan asal-usul, sejarah, kenangan, filosofi, masa depan, sistem berpikir, kosmologi, mitologi, kearifan lokalnya. Persiapan sudah matang. Tukang-tukang dicari. Kayu-kayu poki yang berkualitas kayu ulin Kalimantan, didatangkan.

Pembangunan dimulai Juli 2016. Dan sebelum rumah pertama selesai dibangun, Ibu Tirto meminta Joyce untuk meneruskan pembangunan rumah adat kedua. Tidak ada yang hal lain selain ucapan syukur kepada Yang Mahakuasa.

 

Guru Nahum Situmorang

Joyce suka menyanyi dan menari. Lagu O Tao Toba Na Uli adalah salah satu lagu Batak favoritnya. Pengarang lagu itu Nahum Situmorang.

Seingatnya, Ompung Borunya (nenek) dari pihak Ibu sering nonton konser musik Nahum. Neneknya seorang kembang desa, di Tarutung. Ia dilamar Ompung Baoa-nya (kakek) meski sudah punya pacar. Lama ia baru ngeh bahwa pacar yang dimaksud adalah Nahum Situmorang. Ia mengagumi betapa kekuatan cinta membuat sang komponis hidup menyendiri alias tidak menikah.

Lalu pada suatu hari Joyce bersiap akan treadmill di rumahnya. Biasanya ia berlari di mesin treadmill sambil mendengarkan musik. Wajah neneknya yang cantik terbayang-bayang dalam benak. Ia berlari dengan tempo lambat sambil ikut menyanyi pelan ketika mendengar suara yang jelas di telinganya, “Bawa Samosir, bawa Samosir. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

Siapakah yang berbicara kepadanya tadi?

Ia seperti diserang rasa sedih. Begitu sedihnya sampai-sampai ia membungkuk terisak sampai terduduk, di sisi mesin treadmill yang terus berjalan. Ia merasakan rasa sakit yang paling sakit di dada. Ia seorang percaya yang tidak percaya bahwa roh orang meninggal dapat berhubungan dengan orang hidup. Namun pada saat yang sama ia ingat ia pernah membaca bahwa roh Habel yang dibunuh oleh Kain, telah berteriak dan sampai kepada Allah.

Peristiwa itu membuatnya berburu referensi soal Nahum Situmorang. Ia bertanya kepada ibunya, tantenya dan nenek dari pihak Ibu. Ia bertemu langsung dengan keluarga besar Nahum sendiri. Ia mencari tahu apa yang perlu diketahuinya.

Bahwa Nahum adalah pencipta, penulis syair lagu, penyanyi, pemusik Batak. Ia lahir di Sipirok 14 Februari 1908 dan meninggal di Medan 20 Oktober 1969. Ia berpendidikan guru kweekschool  di Lembang Bandung (1928) dan pernah bekerja di sekolah partikelir Bataksche Studiefonds  di Sibolga (1929-1932). Ia mendirikan HIS-Partikelir Instituut Voor Westers Lager Onderwijs di Tarutung (1932-1942).

Nahum ke Jakarta tahun 50-an. Bersama rombongan ia menyanyi di istana presiden, acara pemerintah, kedubes-kedubes, live di RRI, dan di komunitas Batak. Pada 17 Agustus 1969 almarhum menerima Penghargaan Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia dan Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Agustus 2006.

Di kalangan pemusik Batak, Nahum adalah Maestro. Selama hidup Nahum telah mencipta 120 lagu, beberapa merujuk angka 170 bahkan 200. Tema-tema tentang kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasihat, filosofi, sisi-sisi kehidupan manusia Batak. Lagu-lagunya yang terkenal di antaranya Alusi Au, Nasonang Do Hita Nadua, Lissoi.

Dari semua informasi ia berkesimpulan bahwa Nahum Situmorang seorang yang besar dan berjasa bagi bangso Batak. Namun ia tidak mendapat penghormatan secukupbnya. Bahkan cenderung dilupakan. Dari satu lagu Nahum mengutarakan keinginannya untuk dimakamkan di Samosir. Sekarang makamnya di Medan. Memindahkan tulang belulang dari satu tempat ke tempat lain bukanlah hal sulit. Namun untuk tiba di sana memerlukan proses tidak sedikit. Dan ia perlu dukungan sebanyak mungkin orang.

Momentum pertama ia selenggarakan 110 tahun Nahum Situmorang pada 14 Februari 2018 lalu. Saat itu digelar diskusi bertajuk Menyusur Jalan Sunyi Nahum Situmorang. Kegiatan ini kerjasama antara Kosetra, Yayasan Pencinta Danau Toba, Anjungan Sumatera Utara. Budayawan Radhar Panca Dahana, etnomusikolog Irwansyah Harahap, seniman senior Tetet Srie WD, pemusik Roland Pohan, Tatan Daniel, dan banyak tokoh lain, hadir di sana. Acara dihadiri sekitar seratus orang.

Sarung Balige yang diberikan kepada pengunjung adalah simbol tugas belum selesai. Ia tidak tahu ke mana Tuhan akan membawanya. Ia hanya ingin merawat tradisi dan budaya dari mana ia berasal. Baginya itu tugas suci. Ia akan berjuang sampai kompleks Nahum Situmorang berdiri di Samosir, dan ia akan menyanyi salah satu lagunya di atas danau Toba. (itasiregar, maret2018)

 

read more