close

Festival SaPa Kristiani 2020

Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Naldo Rei

Naldo Rei

Menghabiskan tiga tahun pertama hidupnya di hutan, tempat keluarganya mengungsi demi keselamatan ketika Indonesia menginvasi Timor Timur pada Desember 1975. Setelah ayahnya dibunuh oleh ABRI karena pekerjaannya dalam gerakan perlawanan, ia yang berusia sembilan tahun direkrut oleh jaringan Fretilin klandestin dan memulai perjalanannya yang luar biasa untuk memperjuangkan kemerdekaan Timor Timur.

Selama masa remajanya, dia dipenjara dan disiksa beberapa kali karena menentang rezim brutal Indonesia. Akhirnya, dalam bahaya yang terlalu besar untuk tetap tinggal di tanah airnya, dia melarikan diri ke Indonesia dan kemudian Australia selama beberapa tahun.

Buku Timor Timur (2017) diterjemahkan dari buku memoar yang ditulisnya dalam bahasa Inggris, Resistance (2007), tentang pengalamannya selama masa itu.

Setelah Timor Leste merdeka, ia bekerja  di beberapa lembaga internasional seperti UNDP, UN, GIZ dan OXFAM. Pada 2017 dia menjadi Presiden Dewan Radio dan Televisi Timor-Leste (RTTL). Tinggal di Dili.

Di Festival ini, ia akan berbagi pengalaman saat menulis bukunya, pada Sabtu 23 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Margareth Ratih Fernandez

Foto Margareth Ratih Fernandez

Lahir di Kupang pada 1992.

Saat ini menetap di Yogyakarta dan bekerja sebagai staf redaksi di salah satu penerbitan. Selain bekerja, ia juga berkomunitas bersama teman-temannya di Perkawanan Perempuan Menulis sejak 2018. Kolektif ini adalah salah satu upaya menyediakan ruang yang kondusif bagi perempuan untuk belajar menulis dan mempublikasikan karyanya.

Di Festival ia akan menjadi narasumber pada acara Bincang-Bincang dengan Naldo Rei –penulis buku memoar Timor Timur (2017) pada 23 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

 

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Linda Christanty

Foto Linda Christanty

Lahir pada 18 Maret 1970 di Pulau Bangka, provinsi kepulauan Bangka Belitung. Ia adalah penulis dan jurnalis.

Karya pertamanya, berupa cerita pendek, dipublikasikan harian nasional Kompas. Cerita pendeknya, “Daun-Daun Kering” menerima penghargaan Cerita Pendek Terbaik Harian itu pada 1989.

Sempat menjadi penulis drama radio untuk isu transformasi konflik, ia kemudian bekerja sebagai peneliti untuk isu gender dan gerakan perempuan di Indonesia. Setelah pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka menandatangani perjanjian damai di Helsinki, Finlandia, ia pergi ke Aceh dan mendirikan kantor berita Aceh Features di Banda Aceh untuk mempublikasikan berita pascakonflik dan pascabencana, dan memimpin kantor itu hingga akhir 2011.

Ia pernah bekerja sebagai pengurus Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi anggota Komite Sastra lembaga tersebut selama dua periode.

Karya-karyanya telah meraih berbagai penghargaan, antara lain penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award untuk kategori Buku Fiksi Terbaik untuk buku cerita pendeknya Kuda Terbang Maria Pinto (2004) and Rahasia Selma (2010) dan Penghargaan Prosa dari Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia untuk buku esainya Dari Jawa Menuju Atjeh (2010) dan buku cerita pendeknya Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013).

Ia juga menulis naskah drama, Tongkat Sultan, tentang bencana dan perdamaian di Aceh dan dipentaskan di World P.E.N Forum yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, pada 2008. Karya ini dipentaskan bersama karya beberapa sastrawan lain, seperti karya Mo Yan, Air di Musim Gugur.

Pada 2013, ia menerima penghargaan sastra Asia Tenggara atau S.E.A Write Award dari Kerajaan Thailand di Bangkok, Thailand.

Ia telah menerbitkan sejumlah buku fiksi dan non-fiksi. Buku-bukunya antara lain Kuda Terbang Maria Pinto (2004), Dari Jawa Menuju Atjeh/Hikayat Kebo (2008), Kumpulan Cerita Nyata dari Aceh: dari KTP Merah Putih hingga Buku Nikah (2009), Rahasia Selma (2010), Jangan Tulis Kami Teroris (2011), Seekor Anjing Mati di Bala Murghab (2013), Seekor Burung Kecil Biru di Naha; Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi (2015), dan Para Raja dan Revolusi (2016).

Sebuah buku esainya diterjemahkan dalam Bahasa Jerman, Schreib ja nicht, dass wir Terroristen sind! dan diterbitkan penerbit Horlemann di Berlin. Buku kumpulan cerita Pendeknya dalam Bahasa Thai, Sua Sib Jed Tua Khong Luta, diterbitkan Wailalak University Press and The Writers Assosiation of Thailand.

Di Festival ini ia akan menjadi pembicara pada acara Bincang-Bincang dengan Naldo Rei –penulis buku memoar Timor Timur (2017) pada 23 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Febrantonius Sinaga

Febrantonius Sinaga

Mulai melukis jerami sejak 1992, ketika masih di SMP. Pertama ia menemukan jerami di Lumban Rihit, Sipoholon dan Banuaji, Tapanuli Utara, dari jenis padi ramos dan jarum. Padi yang panen sekali setahun ini menghasilkan warna jerami yang bagus keputihan dan menonjolkan warna emas. Ketahanan jerami dalam lukisan dapat mencapai lebih 20 tahun tanpa pengawet kecuali vernis untuk memberi kilau. Cara melukis jerami Febrantonius telah diliput oleh berbagai media cetak dan elektronik.

Di Festival ini ia akan berbagi pengalamannya melukis dengan medium jerami pada Sabtu 16 Januari 2021 pukul 16.00 WIB.

Sila mendaftar di bit.ly/FestivalSaPaKristiani2021 untuk mendapat link Zoom.

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Rinto Pangaribuan

Rinto Pangaribuan 2

Menulis esai di beberapa media online dan penatua muda di satu gereja yang jemaatnya kebanyakan anak muda. Sekarang ia sedang berjuang menempuh pascasarjana di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Jakarta, di tengah kesibukan kesehariannya.

Di Festival ini ia akan berada dalam perbincangan yang menarik, soal estetika Maxim Gorky (1868-1936), untuk memandu narasumber diskusi, Dr Benni E. Matindas, pada Sabtu 16 Januari 2021 pada 14.00 WIB.

Sila mendaftar di bit.ly/FestivalSaPaKristiani2021 untuk mendapat link Zoom.

 

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Heru Susanto

Heru Susanto1 (3)

Insinyur dan Magister Seni Rupa ITB ini lahir di Wonosobo pada 26 Desember 1955. Ia seniman lukis yang banyak mengeksplorasi cat minyak dan water colour serta drawing pen. Pada 2016-2017 ia melakukan penelitian tentang Ekspresi Religiositas Kristiani pada Karya Seni Lukis Kontemporer yang memetakan lingkup seni rupa kristiani khususnya seni rupa kontemporer kristiani.

Prestasinya antara lain, ia menjadi juara pertama pada  Lomba Perangko Echopilia (1999), Semi Finalis Kompetisi Lukisan Philip Morris Indonesian Art Award VI & VII pada  1999 & 2000. Finalis Kompetisi The Winsor & Newton World Wide Millenium Painting Competition (1999), Juara I Lomba Perangko 50 tahun Konferensi Asia Afrika Bandung (2005). Selama lima tahun terakhir ia berpameran dengan tajuk The Heritage of Nusantara 2016, Kyoristu Woman, pada 14-18 November 2016 di Japan University, pameran internasional Unflatu dengan judul Intertextuality  di Universitas Kristen Maranatha pada 22-24 Maret 2017, Guilin International College Teachers Fine Arts Exhibition pada 29-31 Mei 2018, Pameran  Internasional Unflatu berjudul Recreation pada 17-23 Oktober 2019 di Aula Universitas Kristen Maranatha Bandung, dan ASEDAS 2020 International Virtual Digital Art Exhibition, pada 6 Juni sampai 6 September 2020.

Sekarang ia berprofesi sebagai dosen tetap jurusan Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha Bandung. Tinggal di Bandung.

Di Festival ini ia akan berbicara soal Olah Rasa Seni Rupa pada Sabtu 9 Januari 2021 pukul 16.00 WIB dan Menggambar Figur Potret pada Sabtu 23 Januari 2021 pukul 16.00 WIB.

 

 

 

 

read more
CERITACerpenFestival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Natal di Kampung Rote

Natal Di Kampung Rote

Teks Gerson Poyk

Ilustrasi Ersta Andantino

AKU lahir di Pulau Rote yang disebut desa pantai bernama Namodale, bagian dari ibu kota Ba’a, ibu kota kabupaten Rote, (sekarang Kabupaten Rote Ndao). Rumahku sebuah rumah toko yang berderet-deret membelakangi pantai. Di petak ketiga, melalui pintunya aku bisa melihat mercusuar kecil, satu-satunya mercuar di Namodale.

Ibuku seorang bangsawan Rote. Cantik, berkulit putih, rambutnya lurus, tetapi karena kurang tebal ia selalu menambahnya dengan kabaleru (seikat rambut tambahan) agar sanggulnya terlihat lebih besar sedikit. Gadis-gadis bangsawan Rote, setelah tamat Sekolah Dasar, dididik di rumah pendeta orang Belanda, mereka diajarkan beragam pengetahuan yang hampir setingkat SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Setelah pandai mengurus rumah tangga, gadis-gadis itu ada yang menikah dengan guru-guru dan pendeta. Mereka disebut Mama Nyora, Mereka pintar sekali memasak makanan Belanda. Yang paling aku suka adalah masakan babi guling (kata orang Bali) dan juga kambing guling.

Aku suka sekali dengan telinga dan hidung dari babi guling, sebab jika dikunyah akan berbunyi kriuk…kriuk… Di samping itu, ibuku paling pintar membuat kue Belanda dari bahan terigu, mentega, telur, vanili dan kenari yang didatangkan dari pulau Alor. Bila Natal tiba, meja makan diatur rapi seperti meja makan di hotel internasional, walaupun rumahnya berlantai tanah, atapnya dari daun lontar dan ilalang.

Pesta Natal berbeda dengan pesta Tahun Baru. Di hari Natal, Bapak pendeta duduk di kepala meja dan di sebelah kanannya Papa Messen Malang (Bapa Guru Melayu), di kirinya Papa Raja (Manek). Mejanya panjang, di kiri dan kanan duduk rakyat biasa dengan anak dan isterinya. Aku biasa duduk di samping ibu. Khotbah pendeta memakai bahasa Melayu tinggi bercampur dengan bahasa Rote dari jenis syair yang dipelajari pendeta dari Manahelo (nama penyair Rote). Pidatonya rasanya terganggu oleh bau harum makanan, tapi aku masih bisa ingat isi dan arti pidato Bapa Pendeta walau ia memakai bahasa Melayu tinggi. Walaupun aku masih duduk di kelas tiga di sekolah Melayu yang diajar oleh Messe Malay (guru Melayu), namun aku aku bisa menangkap pidato Bapa Pendeta. Pidatonya tertangkap oleh otak Roteku.

Bapa Pendeta mengatakan bahwa manusia di dunia ini berada di bawah kekuasaan Sri Baginda, alias Raja Segala Raja, alias Sengsara Lara. Manusia lahir dari rahim duka nestapa. Mahkotanya Raja Belanda dari Inggris tapi mahkota itu berduri. Ketika seorang lelaki Rote duduk termangu didera lapar keparat di bawah pohon lontar, Seri Baginda Duka Nestapa membisik ke telinganya, “Ambillah haik (ember yang terbuat dari daun lontar), pisau tajam, lalu panjatlah ke atas, sampai di puncak, irislah batang bunga lontar dan akan ke luar nira yang manis dan harum, dengan begitu kau tidak lapar lagi!”

Maka si Ta’ek (lelaki Rote) itu memanjat dan mengiris batang bunga lontar, lalu haik yang penuh nira pun diturunkan. Baru setengah pohon si Taek turun, babi-babi di kandang melihatnya, lalu mereka ke luar dan berkeliaran lapar, seseorang membisikkan telinganya, seolah menyuruh lelaki itu untuk memberi minum pada babi-babi yang sedang lapar itu. Anak-anak dan nenek-nenek pun kebagian air nira. Mereka sudah memasak daging dan sayur kelor (Matungga dalam bahasa Rote, bahasa latinnya Mahina Olivera). Lalu babi dan manusia bisa kenyang atas perintah moral Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri.

Walaupun riwayat derita hidup orang Rote ditulis di atas tanah berselang karang, namun deritanya adalah derita Sri Baginda. Duka nestapa yang memerintah, “Itu air lautmu” masih bisa surut dan segeralah ke pantai, di sana ada latu (rumput laut), di sana ada ikan dan kerang, ada kepiting dan sebagainya, ambil dan masak, makan dan bernyanyi sambil bersesandu, tambur dan gong, mainkan sambil menari kabalai (tarian Rote). Begitulah Sri Baginda Duka Nestapa Mahkota Duri itu pada mulanya memperbaiki otak Rote dan kemudian mengenyangkan perut orang Rote.

Tiba-tiba terdengar bunyi ‘gedebuk’ yang bersumber dari meja makan. Piring dan gelas pecah karena kepalaku membentur meja makan. Aku mengantuk, barangkali karena lapar atau karena pendeta berkhotbah tentang Sri Baginda Duka Nestapa bermahkota Duri terlalu lama? Ibu lalu membawaku ke luar, ke halaman dan menggendong aku sambil bernyanyi :

Bauh doka dodoka langga na

Tana be nem

Benem kamda langga

(Kalung tergantung tidur

Tanah pun hilang

Hilang juga kepala kerbau)

Setelah bangun dari tidur, aku habiskan satu piring nasi dan lauk daging babi guling, aku terguling bersama babi guling….

*

Ayahku tamatan sekolah Melayu Angka Loro. Ayah dipindahkan ke Flores, tepatnya ke Ruteng. Di Ruteng aku dimasukkan ke sekolah dasar tiga tahun, kemudian ke Sekolah Standar Katolik tiga tahun sampai kelas enam, dihitung dari tiga tahun pertama di sekolah dasar desa. Agama Protestan minoritas, yang Protestan hanya beberapa kepala keluarga, termasuk orang Rote dan keluargaku. Meski orang Rote minoritas, mereka tersisip di mana-mana. Kepala polisi di ruteng orang Rote, hakim, jaksa, bestuur asisten, klerk dan beberapa tukang (tukang besi dan kayu) semuanya dari Rote. Beberapa orang rote kawin-mawin dengan gadis-gadis Manggarai (Ruteng).

Hari Minggu kadang aku mengikuti misa secara Katolik, meski sesungguhnya aku Protestan. Sempat terpikir untuk masuk seminari dan kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Tapi kemudian, setelah besar aku dituntun oleh filsuf Katolik Jaques Maritain melalui beragam bukunya. Di atas segalanya, yang penting aku dekat dengan Kristus, baik di gereja Katolik maupun Protestan. Walaupun anak-anak Protestan sedikit, terdiri dari anak-anak polisi, beberapa orang Rote dan juga Manado, di hari Natal kami rayakan dengan sukacita.

Di masa penjajahan Jepang, ketika banyak orang tidak punya apa-apa, termasuk pakaian Natal, kami tetap merayakannya dengan penuh rasa bahagia. Terkadang hujan membasahi pakaian yang kami kenakan, di hari Natal tak jarang aku mengeringkan pakaianku yang terkena hujan di depan api unggun yang aku dan teman-teman nyalakan, kami memutar-mutar pakaian itu di atas lidah api sampai kering, tetapi bau asapnya tetap menganggu hidung. Di masa penjajahan Jepang ada wabah tuma, kutu yang tinggal di pakaian yang menyebabkan koreng, aku terkena wabah itu, dan koreng kian berkembang karena gatal dan sering digaruk.

Suatu hari sebelum Natal, aku membersihkan badanku dengan obat koreng yang berbau belerang, lalu mandi di kali dengan sabun cuci. Kulitku tak berbau lagi, tapi lukanya masih terbuka. Untuk mengobatinya, kutempelkan pil kinina yang sudah dihancurkan ke kulitku. Perih dan rasa sakitnya memang luar biasa. Aku berlari sembari mengaduh ke belakang rumah dan kuceburkan badanku sampai pil kinina tepung itu ke luar dari badanku. Sesudahnya aku memakai pakaian berbau asap itu dan pergi merayakan Natal dengan sejuta bau asap, tetapi tubuhku segarnya luar biasa, rasa sakit hilang!

Kami sudah beberapa kali berlatih drama Natal yang disebut tonil. Waktu kebaktian, aku dan teman-teman sebaya, ditentukan menjadi setan. Ada juga yang menjadi orang Majus, Maria dan Malaikat di Padang Efrata. Kami muncul dengan wajah bengkak-bengkak dan muka kami dilebur arang dan pupur putih dari tepung sagu. Kami bernyanyi, nyanyiannya demikian :

Kami adalah setan-setan neraka

Di neraka ada banyak sapi

Banyak uang

Mari…mari masuk neraka

Kak…kak…kak…

Tiba-tiba Bapak pendeta berbisik ke telingaku, “Saya sudah bilang jangan sebut sapi. Nanti Tuan Raja Manggarai tersinggung karena dia suka sapi.” Namun suara Kak…kak…kak… kami dikeraskan oleh loud speaker gereja, sehingga seakan-akan atap seng gereja Protestan itu bergoyang. Yang menarik adalah, tiga orang anak yang memerankan orang Majus nyanyiannya bagus sekali, di antaranya aku. Aku sudah lupa siapa yang menjadi Bunda Maria, bayi Yesus dan malaikat. Barangkali mereka merupakan boneka.

Begitulah hari Natal. Terasa indah di gereja Protestan yang kecil di Ruteng dengan jemaatnya yang juga kecil. Tanpa kue, tanpa minuman, tapi segar. Pulang ke rumah, hanya ada kacang goreng dan kolak. Setelah aku dewasa, aku berlibur ke Ruteng, gereja Protestan tua itu sudah tiada, telah dibongkar diganti baru, tapi kenangan tentangnya tak hilang. Begitu pula rumah bambu yang dibangun oleh ayah dan aku (si kecil korengan berpakaian bau asap). Tapi Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri, menuntun aku berjalan di atas jalan berdebu. Sampai tua perjalanan hidupku penuh debu. Dan Sri Baginda Duka Nestapa Bermahkota Duri memberiku ketabahan, kesehatan dan intuisi kreatif….

*

Cerpen ini termasuk dalam buku kumpulan cerpen Rahel Pergi ke Surga Sendiri (2018)

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Gerson Poyk (16 Juni 1931-24 Februari 2017)

Gerson Poyk

Lahir di Ba’a Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Ia menikah dengan Agustina Antoneta Saba (alm.). Lulus dari Sekolah Guru Atas  dengan beasiswa dari Pemerintah, ia menjadi guru SMP Negeri di Ternate dan Bima pada 1956 hingga 1963, menjadi wartawan Sinar Harapan sampai tahun 1970. Ia pernah tinggal di Bali sejak 1963 dan menjadi penulis lepas. Ia salah satu penulis Indonesia yang mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat.

Sebagai jurnalis, ia meraih Adinegoro, penghargaan Jurnalistik Tertinggi Indonesia pada 1985-1986. Selain itu ia mendapat penghargaan South East Asia Write Award dari Pemerintah Bangkok, Anugerah Kebudayaan dari Pemerintah RI, Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas, dan dari Forum Academy NTT.

Novel-novelnya antara lain Sang Guru, Oleng-Kemoleng, Di Bawah Matahari Bali, Mutiara di Tengah Sawah, Nyoman Sulastri, Meredam Dendam, Tarian Ombak, Sastrawati Burung, Requeim untuk Seorang Perempuan, Enu Molas di Lembah Lingko, Negeri Lintasan Petir,  Nostalgia Flobamora, dll. Ia telah menulis ratusan cerpen. Beberapa cerpen dan novelnya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Rusia. Selain fiksi ia juga menulis esai dan buku filsafat.

Ia bermimpi konsep desa budaya yang di dalamnya ada patung-patung sastrawan, sawah yang ditanami seniman, gedung teater, akses internet yang baik, yang membuat tidak ada lagi ekstrem kiri-kanan. Ia berpandangan filsafat merupakan hal penting bagi kehidupan agar manusia dapat menata hidupnya lebih baik dan agung.

Di Festival ini, putrinya yang juga penulis, Fanny Jonathans Poyk, akan membincang karya dan kehidupan Gerson  pada 9 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

 

read more
Festival SaPa Kristiani 2020TERASWARA-WARA

Fanny Jonathans Poyk 

Fanny Jonathans Poyk (4)

Lahir di Bima  pada 18 November 1960. Ia pernah berprofesi sebagai jurnalis dan memberi pelatihan menulis di seluruh Indonesia dan luar negeri. Sejak 1980 ia menulis cerpen, puisi dan novelet dan novel. Puluhan karyanya tersebar di media cetak seperti Majalah Sarinah, Famili, Kartini, Puteri Indonesia, Harian Jurnal Nasional, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, Surabaya Post, Suara Karya, Kompas, Singgalang, Timor Expres, Republika, Jawa Post, dan yang lain. Satu cerpennya terpilih sebagai 20 cerpen terbaik Kompas pada 2016. Tinggal di Depok.

Di Festival ini ia akan berbagi kisah kehidupan dan karya ayahnya, Gerson Poyk (1931-2017), sastrawan asal Nusa Tenggara Timur yang selama hidupnya telah mendapat banyak penghargaan, pada 9 Januari 2021 pukul 14.00 WIB.

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4