close

TERAS

OASETERASWARA-WARA

Teologi Membaca: Demi Kasih, Curiositas atau Cupiditas?

Ilustrasi Membaca

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Kita dikerubuti oleh kata-kata. Dalam dunia nyata dan maya. Kata-kata dari buku, surat kabar, novel, majalah, twitter, facebook, whatsapp, billboard, spanduk, layar kaca, blog, online. Ditambah buku-buku teks bagi mahasiswa. Kitab Suci bagi kaum beragama. Kata-kata mengendap dalam bawah sadar kita.

Seberapa banyak waktu dan energi kita habiskan untuk membaca per hari? Dan apa relasi teologisnya?

Teologi membaca (theology of reading) berbeda dengan teologi untuk membaca (theology for reading). Teologi untuk membaca bertujuan menolong kita memahami pikiran yang disampaikan oleh sumber, buku misalnya. Dari sana kita dapat menilai pengarang menganut pemikiran arus utama atau heterodoks atau bidah. Atau pesan yang disampaikan sekadar manis-manis iklan atau propaganda politik. Jadi teologi untuk membaca difokuskan pada konten yang dibaca.

Sedangkan theology of reading melampaui proses tindakan membaca. Alih-alih menerima atau menolak pesan dari tulisan, membaca adalah sebuah tindakan kasih –saat mulai sampai akhir membaca- dengan dasar Yesus Kristus, Sang Pengarang Kasih.

Membaca adalah tema refleksi teologi remeh-temeh kita kali ini. Sumbernya terutama dari Teology of Reading: The Hermeneutics of Love, Alan Jacobs, 2001.

Hukum Kasih

Setiap kristiani diikat oleh Hukum Kasih. Termasuk penulis maupun pembaca, dong? Iya.

Jika seorang penulis bertanya kepada Yesus tentang apa hukum apa yang terutama dan utama, maka tetap saja jawabNya seperti yang tertulis dalam injil: yang utama pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu”; dan yang utama kedua: “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.”

Sebuah tulisan ditulis oleh seseorang di luar kita. Seseorang itulah sesama. Menurut Jacobs, tulisan adalah perpanjangan dari sesama kita (baik yang terhisab dengan Hukum Kasih atau yang tidak).

Tulisan merupakan medium yang mengaitkan dua pikiran, melalui jarak waktu dan ruang. Artinya, setiap kali membaca, kita menjumpai sesama kita. Dalam hal menghindari kesalahan dalam memahami maksud si sesama (baca: penulis) bukanlah tujuan utama dari kegiatan membaca.

Membaca dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan meski tulisan yang dibaca adalah sebongkah teks kaku yang panjang dan membosankan. Bagaimana pun, kita harus mengasihi tulisan tersebut –bahkan dalam keadaan kita tidak setuju dengan isi tulisan- sambil mengharapkan sesuatu yang baik muncul dari sana. Membaca dengan kasih menghadapkan kita pada satu risiko, dan risiko itu secara teologis, harus dirangkul.

Kontroversial, ya? Pastinya. Apalagi dalam kondisi sekarang, di mana kata-kata disengaja dibuat salah dan diproduksi scara besar-besaran demi sebuah tujuan jahat. Itu yang lebih sering mengemuka daripada yang benar. Mari kita menelusuri gagasan Jacobs tentang teologi membaca –dengan kasih- agar harapan sebuah perspektif baru, muncul.

Bahwa tak seorang pun dapat memenuhi Hukum Kasih bila ia tidak mengasihi. Sebaliknya, seorang yang mengasihi akan, seperti kata mazmur, gemar dalam ketetapan Allah dan merindukan hukum Allah setiap waktu (Mazmur 119: 16, 20). Artinya, kalau kita mengaku paham Kitab Suci -seluruh atau sebagian- tetapi tidak mengasihi Tuhan dan sesama, bohonglah itu semua.

Setiap hari kita berdoa jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Artinya, kita berharap melihat kasih diwujudkan pada saat kerja dan santai, saat mengurus keluarga dan beribadah kepada Tuhan, dalam segala waktu. Kasih mestinya dibuktikan dalam cara berpikir –termasuk menulis- dan berbicara –termasuk membaca.

Membaca dengan Kasih

Apa maksud interpretasi/tafsir berdasarkan Hukum Kasih?

Bapak Gereja, St Augustine (354-430), mengkritik bahwa teologi kristiani tidak memberi penjelasan sistematis soal tafsir yang berdasarkan kasih. Baik dalam konteks eksegesis dan eksposisi, secara alkitabiah. Bila ada yang merespons dengan mengatakan, pengertian akan didapat dari Tuhan, Augustine akan mengejar, berkata, tetapi Tuhan kan tidak pernah mengajar membaca alfabet.

Jika kita memahami kasih kepada Allah dan sesama sebagai persyaratan utama dalam membaca teks apa saja –termasuk novel, dokumen hukum, dan lainnya- maka kita memenuhi hukum kasih dalam pemikiran, perkataan dan perilaku kita. St Agustine mengabaikan soal kesalahan (dalam menafsir makna). Menurutnya, seorang pembaca kristiani yang dapat membangun kasih pada saat membaca namun tidak memahami maksud pengarang, dia tidak sedang ditipu atau merasa tertipu.

Orang yang salah menafsir itu seperti orang yang salah jalan. Ia meninggalkan jalan itu, melewati daerah lain, dan tiba pada tujuan yang sama, dengan jalan pertama tadi. Dalam rangka mengoreksi kesalahan, lebih bermanfaat bila orang tadi tidak putar balik, ambil jalan pintas atau jalan yang berlawanan. Jalan pintas mungkin akan menibakan orang itu pada teritori yang justru tidak dikenali dan berpotensi berbahaya, karena membuatnya lebih jauh dari tujuan semula.

Menurut Augustine, seseorang dapat abai terhadap maksud penulis Kitab Suci atau gagal memahami ayat atau pasal tertentu. Dia harus belajar agar tidak lagi melakukannya karena tujuan Allah adalah satu, begitu pula makna teks alkitab. Jika teks gagal dipahami, begitu pula kita gagal memahami maksud si penulis. Jika pembaca terus-menerus salah (dalam menafsir) dia akan dikalahkan terus.

Ketidakmampuan itu disebabkan manusia adalah makhluk yang sudah jatuh dalam dosa. Satu kali Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya, kenapa Ia berbicara dalam bentuk perumpamaan atau cerita. Jawabannya, karena meski melihat mereka tidak melihat, meski mendengar tetapi tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Dalam teks lain dikatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (2 Korintus 3:15).

Teks yang dipadati dengan pesan-pesan moral cenderung membosankan. Pemahaman yang rigid tidak menyisakan kesenangan bagi pembaca dalam membaca. Teori tafsir modern telah sangat menghilangkan kesenangan itu padahal tulisan untuk dinikmati, untuk diambil manfaat, dan membuat pembaca diberkati.

Kesenangan (voluptas) dalam membaca ada setelah merasakan apa yang indah, yang manis didengar, dicium, dirasa, disentuh. Curiositas adalah demi pengalaman membaca itu sendiri, bahwa membaca bukan untuk menderita ketidaknyamanan tetapi sebuah nafsu untuk mencari dan mengetahui. Curiositas dan voluptas adalah versi lain dari cupiditas, yaitu keinginan yang salah. Alasannya, keduanya mewakili kecacatan fokus: yaity berfokus pada hal yang salah atau pada hal benar dengan cara yang salah.

Dalam karya Confession, Augustine memunculkan curiositas berkorelasi negatif dengan memoria. Dengan memoria segala (ingatan) yang tersebar dapat ditarik kembali. Membaca melibatkan memoria dan curiositas – di dalam dan di luar batin. Memoria merupakan aktualisasi seseorang untuk merekonfigurasi pengalaman dan memperbaharui pemahaman yang ilahi.

Ngomong-ngomong, apa boleh baca puisi atau cerita atau drama? Membaca karya sastra tidak dapat dikatakan dosa. Alasannya, kita mengerahkan seluruh perhatian pada tulisan atas dasar ordo amoris: bahwa manusia seharusnya mencintai segala ciptaan dalam relasinya dengan Allah. Nyatanya, karya seni adalah kesempatan untuk mendapat kesegaran dan rekresi dan kesenangan. Bahwa membaca sastra atau membaca secara mendalam merupakan cara tak tergantikan dalam mengasah ketajaman dan kebijakan.

Dalam hal jenis bacaan, pembaca adalah raja, yang menentukan tulisan apa yang akan dibaca. Jika berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama maka digambarkan dengan caritas. Jika berdasarkan keinginan sendiri merujuk pada cupiditas. Istilah ini menjadi pembeda antara orang yang hidup saleh dan tidak.

Mencintai sesama selalu berisiko. Entah sesama itu akan membalas atau menolak kasih kita, dan kita tetap berjuang untuk menunjukkan kebaikan. Jika mengasihi Allah dalam membaca maka kita akan memperhatikan apa yang kita baca, yang memiliki otoritas kebenaran atau tidak.

Mengejar Pengertian

Fenomena teks –demi memperoleh kebijakan dan otoritas – dikenal dalam tradisi agama Yahudi. Zohar, seorang mistis Yahudi, mengibaratkan Taurat bagai gadis yang cantik dan terhormat, dipingit di istana yang indah dan terpencil. Ia punya kekasih yang hanya gadis itu yang tahu.

Sang kekasih terus lewat-lewat di gerbang, matanya memonitor sekeliling. Gadis itu menyadari keberadaan sang kekasih, dan ia memikirkan untuk melakukan sesuatu. Perlahan ia mendorong pintu hingga sedikit celah terbuka, menunjukkan diri kepada sang kekasih, lalu cepat-cepat menutup pintu. Meski sekilas, sang kekasih melihat. Dia mahfum bahwa karena cintanyalah gadis itu memperlihatkan  diri. Sejak itu hatinya tertuju kepada si gadis. Begitu juga Taurat, hanya terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh cinta. Orang harus mengejar Taurat dengan sepenuh kekuatan, seperti mengejar seorang kekasih.

Talmud (catatan hukum, etika, kebiasa, sejarah Yahudi) bagi orang Yahudi pun didedikasikan bagi Allah. Bahwa, “Satu kali kamu mungkin meninggalkan Aku, tetapi tidak TauratKu” digambarkan oleh Emanuel Levinas (1906-1995) tentang orang Yahudi yang harus “mencintai Taurat lebih daripada mencintai Tuhan” (bayangan Ulangan 6:4-9).

Dalam Sejarah Membaca, Alberto Manguel (1948-   ) menulis, “Pada hari raya Shavout, memperingati hari Musa menerima Hukum Taurat dari tangan Allah, seorang anak laki-laki siap ditahbiskan. Tubuhnya dibelitkan selendang doa dan diserahkan oleh ayahnya kepada gurunya. Guru itu menempatkan si anak di pangkuannya, memperlihatkan kepada si anak sebuah piring yang di atasnya tertera huruf Ibrani dan kutipan ayat dari Kitab Suci, berikut tulisan, “Kiranya Taurat menjadi kesukaanmu.” Lalu piring itu dilumuri madu dan anak itu menjilatnya, demikianlah tubuhnya digambarkan mencerna kata-kata kudus. (bayangan Mazmur 19:10 dan Yehezkiel 3:3).

Perlakuan yang sama terhadap otoritatif teks terjadi di biara-biara pada abad pertengahan. Mereka mempraktikkan lectio (membaca) dan meditatio (meditasi, merenungkan) yang digabung, dan hasilnya adalah ruminatio –mengunyah firman/kata.

Merenungkan adalah mendekatkan diri selekat mungkin pada kalimat yang diucapkan dan menimbang semua kata dengan cara diperdengarkan bersuara dengan maksud memahami kedalaman maknanya. Mencerna isi teks dengan mengunyah untuk memunculkan seluruh rasa. Itu yang disebut oleh St Augustine palatum cordis atau in ore cordis, artinya kurang lebih the taste of the heart dan the ear of the heart. Pembaca atau pendengar dalam hati dapat merasakan makna saat mempelajari puisi atau bagian-bagian musik karena hati mencapai teks atau musik sebagai sebuah kejernihan dan kekuatan dalam hidup.

Mencerna sebuah teks suci atau yang kuat diekspresikan dengan cara hikmat oleh pendengar yang membaca demi pengertian. Petrach (1304-1307) misalnya, mencium teks Virgil (70-19BC) sebelum ia membukanya. Erasmus (1469-1536) melakukan hal sama kepada teks Cicero (106-43BC). Machiavelli (1469-1527) berpakaian resmi setiap kali akan membaca sebagai tanda penghargaan terhadap teks. Sikap tersebut merupakan penghargaan secara langsung. Dan kritik sastra adalah sebuah bentuk penghargaan.

Petrarch menjelaskan alasan dia mengutip tulisan pengarang-pengarang klasik: Tidak ada yang sangat menyentuh daripada aksioma orang-orang besar. Saya pakai itu untuk menguji diri saya, untuk melihat apakah itu berisi sesuatu yang solid dan mulia, kokoh atau tegar dalam menghadapi keberuntungan yang buruk, atau untuk menemukan jangan-jangan pikiran saya cupet. Saya berterima kasih kepada pengarang yang memberi saya kesempatan untuk menguji pikiran saya.

David Lyle Jeffrey (1941-    ) mengomentari frase Petrarch yang mengisyaratkan kebergantungan pada otoritas pengarang, dengan berkata, saya baru sadar telah ditipu oleh pikiran sendiri. Hal itu sekaligus menunjukkan sikap skeptik iman kristen terhadap masalah interpretasi yang diprivatisasi, seperti pernyataan St Augustine di atas.

Kenosis: Sebuah Gerakan

Apakah benar pembaca mencintai penulisnya? Mencintai dan menghargai, samakah?

Kasih yang murni bagi orang lain disebut kenosis, yang mensyaratkan pengosongan diri seseorang. Konsekuensinya, mengisi kekosongan itu dengan berfokus pada Yang Lain. Yesus adalah contoh kenosis, seperti kata Paulus, “ … dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, yang walau dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milih yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya …” (Filipi 2: 5-7)

Kenosis merupakan gerakan atau sikap penting dalam mengasihi sesama yang ditandai dengan kepedulian penuh. Jiwa dikosongkan demi menerima pada diri yang dipandang, dalam seluruh kebenarannya. Tradisi kenosis sebagai satu aliran besar dalam dunia Barat, yang ekspresinya ditemukan dalam frase  I am you – saya adalah kamu. Dalam hal ini, seseorang kehilangan dirinya dalam obyek yang dia kontemplasi.

Seorang yang sedang tenggelam, menyadari ketakberdayaannya, menyerahkan diri dengan memandang diri terus, sampai nyawanya terlepas. Dunia menjadi obyek kasih yang murni. Pengosongan diri dalam sikap penuh perhatian dan kasih yang sempurna. Ketika istrinya meninggal dunia (1864), penulis Rusia Dostoevsky berkata bahwa untuk mengasihi seseorang sebagai mana adanya sesuai perintah Kristus, itu tidak mungkin. Setelah kemunculan Kristus sebagai bentuk ideal manusia dalam daging, menjadi sangat jelas bahwa itulah yang tertinggi.

Penutup

Ada sekitar 90 kata baca –beserta turunannya- di Alkitab. Beberapa adalah alasan untuk membaca.

Allah mewajibkan umat Israel, “Apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.” Ulangan 31:11

Untuk mendapat pengertian, “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:8).

Memberi efek menenangkan, “Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah , lalu dibacakan di hadapan raja.” (Ester 6:1).

Untuk mengungkap rahasia, “Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja.” Daniel 5:8.

Untuk menghibur, “Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan (Kisah 15:31) dan kesaksian hidup, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” Markus 12: 10.

Perintah Yesus, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Lukas 10:26

Untuk Kekekalan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Is/12/7/18

 

 

 

 

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Nh Dini dalam Kenangan  

Foto NH DIni lama

Membaca Nh Dini (1936-2018)

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Catatan ini tidak bulat genap. Beberapa buku Nh Dini yang belum kubaca, tetap tak terbaca karena kurang kesempatan. Ada satu buku yang ingin benar kubaca ulang, yaitu Pada Sebuah Kapal. Karya ini sebagai pembuka mata perihal menjadi perempuan dan pilihan. Namun peristiwa membaca cukup lama dan lupa detail cerita.

Alasan ingin membaca ulang karena belakangan dalam buku terbaru Dini, Dari Fontenay ke Magallianes, muncul tokoh ‘kaptenku’ dan aku tergelitik mengetahui rahasia kecil, apakah tokoh itu sama dengan ‘kapten kapal’ di novel Pada Sebuah Kapal. Memang Dini pernah menulis bahwa ‘tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan’ (Dua Dunia, ix).

Aku telepon Endah, siapa tahu ia mengoleksi buku tersebut di lemari bukunya. Tapi sayang seribu sayang, tidak ada. Dia mengusulkan ke Jose Rizal TIM, tapi tak sempat mengubek toko padat buku itu. Ketika milis Apresiasi Sastra meluncurkan program menulis tokoh penulis untuk diskusi dua pekanan, nama Nh Dini segera memenuhi kepalaku. Sudah lama rasanya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang pengarang ini.

Karya-karya Nh Dini kukagumi sejak lama. Dia menulis yang hampir semua tentang diri dan hidupnya tanpa beban dan pretensi. Sikap dan keberaniannya dalam menulis mengesankan dan penting buatku. Beberapa teman berkomentar serupa, Dini hebat karena mampu membeberkan permasalahan yang masih tabu di masyarakat serta kebanyakan melukiskan tokoh perempuan bukan sebagai makhluk lemah.

Juga sebelum melahirkan tulisan ini, aku ingin sekali ketemu beliau langsung di Yogya. Hanya sekadar silaturahmi. Sebuah pertemuan fisik selalu memberiku warna lain dalam menulis dan membayangkan. Seperti ketika tidak sengaja ketemu Pak Budi Darma di Festival Ubud 2005, yang kubayangkan penulis Olenka, Orang-orang Bloomington, adalah manusia usil dan mungkin menyebalkan. Ternyata tidak betul sama sekali. Tapi juga tidak bisa membayangkan bagaimana kesanku bila bertemu Nh Dini langsung. Mas Sigit Susanto sudah mengirimi peta kenangannya bertetangga rumah Sekayu, tempat tinggal masa kecil Nh Dini. Aku meminta tolong Mas Putu Fajar Arcana untuk ancer-ancer lokasi. Endah semangat akan menemani ke Yogya. Sementara tugas-tugas kantor dan pribadi tak berkurang menuntut perhatian, menipiskan waktu bahkan mengirim tulisan ini dalam keadaan terlambat. Jadi, kawan, begitu historisnya. Maafkan kekuranggigihanku menghayati semua buku Dini dan terimalah catatan ini dengan sukacita. Satu kali aku mesti melengkapinya, sedikitnya buat kukonsumsi sendiri.

Mengenal Nh Dini lewat Karya-karyanya

Baginya hidup adalah menyelesaikan tugas-tugas hidup dan menuliskannya. Membaca buku-buku Nh Dini adalah membaca sebuah kehidupan dari masa ke asa. Hampir sepanjang hidup ia menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa. okoh-tokoh dalam bukunya lebih banyak bertipe the girl next door. Begitu ekat dengan kita, begitu nyata. Tidak muluk-muluk.

Sebagai penulis ia telah melakukan tugas dengan baik, konsisten, tidak bolong-bolong, tidak banyak bicara. Ia memiliki daya tahan mengagumkan. Ia telah menemukan estetikanya sendiri dalam menulis. Seandainya anggota pasukan, maka ia akan termasuk yang khusus, karena berlatih tekun, militan, memutuskan satu tindakan tepat dan cepat. Dalam satu percakapan lewat email, JJ Kusni berkata bahwa Les Miserables karya Victor Hugo (1802-1885), pemimpin Gerakan Romantisme Perancis, merupakan tonggak penting sejarah bangsa Prancis. Buku itu menjadi bacaan wajib di sekolah menengah di Prancis hingga kini. Oka Rusmini, penulis perempuan asal Bali, telah juga mengupayakan agar bukunya, Tarian Bumi (2000), menjadi buku bacaan wajib pelajar SMA. Beberapa alasan mendasari hal tersebut. Salah satunya pendapat Majalah Horison Juli 2001, yang membandingkan novel Tarian Bumi dengan ujaran novelis Inggris Graham Greene yang merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis RK Narayan.

Buku-buku Nh Dini bahkan memiliki keistimewaan, ia mencatat berbagai peristiwa secara detail, sehingga ketika ia menulis satu buku, cerita dalam buku itu berasal dari catatan yang akurat dan lengkap, seperti peristiwa sejarah dari masa ke masa hidup Dini. Catatan harian Dini masih tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Metode sama telah dilakukan BJ Habibie, mantan Presiden kita, menulis buku Detik-detik yang Menentukan (2006) berdasarkan catatan peristiwa penting di awal pemerintahannya, tidak mengandalkan ingatan.

Dini menggambarkan keadaan umum yang terjadi sehari-hari di keluarga, lingkungan, keadaan sosial dan finansial masyarakat, kehidupan serta perkembangan seni, transportasi, jenis makanan. Secara tak langsung Dini melukiskan mental manusia Jawa hidup di masa itu. Menarik mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat berpikir dan bertindak.

Karena cerita-cerita cukup detail dan cenderung datar, risiko respons pembaca amat mungkin seperti yang diakui Sigit Susanto, bahwa ia lebih sering mengantuk membaca buku Nh Dini. Tapi buku-buku Dini menjadi serupa referensi yang tidak terhindarkan. Sungguh semarak bila penulis (daerah) Indonesia melukiskan keadaan manusia, masyarakat, masalah sosial lokal daerah masing-masing dalam bukunya. Perempuan penulis asal India, Arundhati Roy, menulis hal detail satu keluarga di Kerala dengan setting tahun 1960-an dalam buku The Gods of Small Things. Jhumpa Lahiri, menulis The Namesake yang menampilkan detail peristiwa dan konflik istiadat yang terjadi dalam satu keluarga, yang merupakan refleksi masyarakat pada masa itu serta mengekspresikan pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan. Antropolog Koentjaraningrat (alm) berpendapat pada hakikatnya fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena tersebut dapat dimunculkan kembali sehingga menjadi wacana baru dengan proses kreatif mengamati, menganalisis, menginterpretasikan, merefleksi, membayangkan, dan yang lain.

Budi Darma mengungkapkan bahwa sastra Indonesia tidak memiliki semangat besar feminisme. Menurutnya, dari sekian banyak karya perempuan pengarang, hanya Nh Dini yang secara terus menerus menyuarakannya. Karya-karya Dini sejak tahun 1950-an sampai akhir abad-20 diikat oleh aspirasi yang kurang lebih sama, yaitu memarahi laki-laki. Mungkin Dini tidak membayangkan hal itu dalam novel dan buku-buku kenangannya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanyalah menulis kenyataan hidup. Ia mengaku bahwa kegiatan mengarang, selain untuk menarik keuntungan kebendaan, ia menginginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikirannya sebagai wakil wanita pada umumnya (Sekayu, 76). Secara tegas ia berkata bahwa ia tidak mau disetir pihak tertentu untuk menulis sesuatu dengan data diselewengkan demi maksud komersil. Ia menelurkan karya-karyanya secara menyeluruh, takkan menyelesaikan karangannya sebelum ada rasa puas dihatinya. Bahkan, satu novel Dini yang dianggap penting, yaitu La Barka, proses pengumpulan data-data detail dilakukannya selama sepuluh tahun sementara untuk mengetiknya hanya diperlukan waktu satu bulan saja.

Masa kecil yang bermakna

Dari membaca satu dua bukunya, akan segera terasa karakter Dini yang ‘dingin’, tenang, adil, ramah, teguh, memiliki citra diri yang kuat, pemerhati kehidupan yang kritis, dan ‘rasa’ Jawa yang kental. Kepekaannya terhadap lingkungan dan karakter manusia-manusia di sekelilingnya bermula dari keluarganya.

Masa kecilnya istimewa dan menjadi dasar yang bermakna bagi kelanjutan hidup setelah masa itu. Ia menulis beberapa buku seri kenangan untuk setiap masa itu. Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan kisahnya dan keluarga ketika ia masih sangat muda dan belum sekolah. Sekayu adalah kisah sehari-hari peristiwa ia mulai SD, SMP, dan masa remaja berikut peristiwa-peristiwa yang melingkupi keluarga.

Dari buku-buku kenangan Dini terlukis gambaran fisiknya yang kecil, kulit agak gelap, cara berbicara pelad. Sewaktu keluarga mengunjungi kerabat di Solo, seorang sepupu Dini yang nyinyir, setiap kali mengolok-oloknya, berkata, ‘ah, kamu kecil, semakin hitam saja, dan kau semakin pelad’.

Menanggapi hal itu Dini hanya tertawa dan merasa bahwa sepupunya tidak memiliki hal lain yang membanggakan selain mengolok-olok orang. Ia tidak menimpali, membiarkan olok-olok itu masuk ke kuping kiri dan keluar ke kuping kanan. Citra dirinya terkembang baik.

Di kelas 6 SD dia sudah paham apa yang disukai, orang atau teman mana yang bisa cocok dengannya atau tidak. Ia sudah menentukan bahwa ia tidak menyukai abangnya karena alasan tidak sepaham (bukan karena salah salam). Di kelas 6 SD, dia bisa tahu apa yang disukai, orang-orang mana yang bisa dia sukai atau tidak. Bahkan sebenarnya di usia yang sangat muda itu ia turut memikirkan keuangan keluarga.

Waktu ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar, ia pergi ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Setiap hari ia harus berjalan bolak-balik melewati dua desa. Beberapa teman kelasnya mempunyai sepeda khusus perempuan. Sesekali ia ikut dibonceng. Tapi karena arah rumah tidak sama, lebih sering ia harus berpeluh meneruskan berjalan kaki sampai rumah. Sementara itu sepeda ayahnya menganggur, sepeda orang dewasa yang bahkan tidak dilirik oleh kedua abangnya. Dini kecil begitu memimpikan sepeda, tapi ia sangat memahami kondisi keuangan keluarga. Ketika ibunya menyarankan untuk mencoba belajar mengayuh sepeda ayahnya yang besar itu, ia segera setuju. Ia menerima nasihat ibunya bahwa kendaraan adalah alat untuk memudahkan hidupnya. Ia mulai berlatih mengayuh dengan bersusah payah. Setelah terampil ia ke sekolah dengan sepeda itu, tanpa menghiraukan apa kata orang. Pengaruh ibunya amat besar dalam memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan lain di luar rumah dan kota lain dan ia mulai bisa menilai perbedaan-perbedaan yang ada.

Dini kecil sudah tergabung dengan perkumpulan seni tari Eka Kapti. Ia membayar iuran secara teratur setiap bulan, mengikuti latihan, memperhatikan peran-peran yang dibawakan para tokohnya. Ia menerima ketika terkadang ia tidak kebagian peran karena suaranya terlalu kecil. Tapi kemudian kelak ia mendapat peran-peran yang cocok untuknya dalam pementasan-pementasan tari yang secara teratur digelar setiap tahun.

Lakon-lakon itu juga membuatnya peka dengan baik-buruk kehidupan dan sikap-sikap manusia dalam menanggapi hidupnya. Dalam hal berbahasa dan menulis, sudah terlihat sejak dia di SD. Guru bahasa Indonesianya memuji karangannya, tapi sedikit mengritik bahwa seharusnya ia menggunakan kata ‘khawatir’ daripada ‘kewatir’, yang adalah bahasa Jawa. Menanggapi hal itu, Dini menjawab dengan tegas bahwa kata khawatir berasal dari bahasa Arab. Itu sebabnya ia memilih untuk menggunakan kata kewatir, yang artinya sama namun diambil dari bahasa Jawa. Ia katakan bahwa bahasa lokal akan terasa lebih dekat dengan masyarakat daerah pemakai bahasa.

Dini remaja peka membaca gelagat teman-temannya. Bila ia tidak menyukai seseorang, ia akan bisa merasakan dan menentukan sendiri sikapnya. Ia akan mundur, tidak bertegur sapa dengan mesra, hanya bergaul sekedarnya saja. Tapi bila ia suka, ia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, berbicara apa saja dan sangat menghargai hubungan itu. Di masa remajanya ia pernah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia tidak bisa makan tidak bisa tidur. Tapi ketika kemudian ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia mundur secara teratur. Meskipun sedih ia memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Di usia 15 tahun, ia mulai menulis cerita atau naskah drama secara teratur ke RRI Semarang. Ketika pertama kali akan mengambil honor ke kantor itu, satu petugas RRI tidak percaya bahwa ialah penulisnya. Dini tidak tersinggung, hanya berkata bahwa apa tidak mungkin seorang yang kecil bisa menulis secara itu? Ketika petugas itu mengantar Dini pamit dan melihatnya mengambil sepeda besar untuk laki-laki, ia tidak berkomentar lagi. Pada masa kecil dan remajanya, ia sudah memikirkan banyak hal, baik keluarga, lingkungan, dan kegemarannya sendiri. Ia sudah mampu mengelola banyak konflik dalam memutuskan, menerima, menilai, memilih. Dan itu adalah sebuah keterampilan untuk menjadi mandiri.

Peristiwa dalam karya

Buku pertama Dini, Dua Dunia, merupakan kumpulan cerpen, terbit tahun 1956. Ia dicatat sebagai penulis dengan karya sastra angkatan 50-60-an. Menyusul setelah itu novel Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973. Karya ini dianggap sangat diperhitungkan oleh para pengamat sastra Indonesia. Pada tahun yang sama, Marga T. meluncurkan novel Karmila. Kritikus sastra A. Teew menjuluki karya-karya tersebut sebagai sastra pop, untuk membedakan tulisan mereka dengan sastra serius dan menggarisbawahi kelarisan (dan ketidakseriusan) karya. Tak lama setelah itu, tahun 1975, Raumanen, novel Marianne Katoppo yang memenangkan Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta, diterbitkan. Jejak ini diikuti banyak pengarang lain, di antaranya Aryanti, Ike Soepomo, La Rose, Maria A. Sardjono, Mira W., Titie Said,, Veronika, Yati Maryati Wiharja, juga Selasih, Rahma Asa, Nina Pane, Lili Munir, seiring dengan munculnya majalah wanita dengan oplah besar di sekitar tahun 70-an.

Sekitar tahun itu perekonomian Indonesia mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat dan muncul permintaan baru, termasuk koran, majalah, buku. Kantor penerbitan dan media massa mulai berkembang. Sejumlah besar majalah mingguan atau bulanan yang di antaranya ditujukan bagi pembaca perempuan. Perbaikan ekonomi merupakan sebuah prasyarat untuk membangun lingkungan yang mau menerima sastra dan seni, papar seorang. Sastra populer harus diakui telah mempunyai pengaruh yang lebih luas pada pembaca, dan membantu meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia karena jumlah pembaca yang besar.

Sementara itu menurut Budi Darma, sastra Indonesia juga penuh dengan sastra kabur. Ada puisi gelap, novel antihero dan anti plot, drama yang tidak jelas, dan lain-lain, mulai bangkit tahun 1970-an dan masih berlanjut hingga kini. Mengapa sastra kabur memukau, apakah mempunyai dimensi masa depan yang baik ataukah hanya sesaat, menurut Budi, jawabannya bisa banyak.

Namun nama Nh Dini adalah satu dari sedikit pengarang perempuan yang penting di negeri ini. Karya-karyanya dianggap sangat reprensentatif bagi banyak persoalan wanita yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Putu Wijaya berkomentar ‘kebawelan yang panjang’ untuk menyebut Dini sebagai pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif.

Dini memilih kalimat-kalimat sederhana untuk menggambarnya satu peristiwa. Mudah menebak arah simpatinya. Satu hari, kakaknya, Maryam, menikah. Waktu upacara pidakan, yaitu kaki pengantin lelaki menginjak telur lalu kakinya dibasuh pengantin wanita, Dini tidak merasa terharu dengan simbol seorang istri melayani suami itu. Waktu itu hatinya malah merana melihat telur dibuang-buang hanya digunakan sebagai perlambang (Sekayu, 174). Ia menulis berbagai peristiwa dengan latar belakang kesulitan ekonomi yang merata di mana-mana. Ia menampilkan sistem transportasi buruk. Naik bis untel-untelan, penumpang seperti ikan tongkol dipaksa masuk lebih banyak, juga masalah kereta api. Hingga kini, lukisan tersebut masih tetap abadi, bahkan mungkin lebih buruk dengan banyaknya kecelakaan yang mengiringinya di akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Sungguh ironis tapi itulah yang terjadi.

Dini menata kalimat-kalimatnya dengan cermat, tak terburu-buru, tekun, runut. Ia memperhitungkan kata-katanya. Ia sudah berbahasa dengan baik, bahkan sejak awal ia memulai debut menulis dan mendapat keuntungan dari sana, dimulai di masa SMP. Ia menyukai proses dalam menulis. Baginya, hal yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, ia tulis dulu di catatannya dengan tulis tangan.

Hal itu juga karena ia suka merenung, menganalisa kembali dan lebih mengutamakan kepuasannya dalam menyelesaikan tulisan. Satu cerita pendeknya yang panjang, Istri Konsul (2000) terasa berbeda dengan karya Dini lain yang terasa lebih longgar dan jelas. Di sini Dini merangkai kata dan kalimatnya secara rapat dan cepat. Bila dilihat dari rentang masa dan konflik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, Dini bisa membuatnya menjadi satu novel. Lompatan-lompatan plot yang dilakukannya tidak seperti kebiasaannya yang detail.

Hampir semua masa dalam kehidupan Dini tercatat dalam buku-bukunya. Tapi masa ketika ia menjadi pramugari Garuda, yang cukup lama, yaitu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960, tidak tampak dalam buku-bukunya atau saya belum menemukannya.

Perempuan dan seks dalam karya

Dini setiap kali menampilkan nama perempuan dalam tokoh-tokoh di novelnya. Seorang pengamat mengatakan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan lebih merupakan manusia perempuan dan bukan sekadar konsep mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Dalam satu tulisan Sapardi Djoko Damono, tokoh perempuan yang ‘diciptakan’ oleh laki-laki lebih merupakan konsep, yakni apa yang oleh laki-laki dianggap sebagai ‘perempuan.

Dra Sariyadi Nadjamuddin-Tome, MS, dosen FBS Unima Tondano meneliti dan membuat makalah tentang permasalahan wanita dalam novel Nh Dini, La Barka. Isu wanita di buku ini terutama berkaitan dengan pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, tindak deviasi, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Permasalahan yang ditampilkan dianggap memberi daya tarik tersendiri juga aktual karena sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar pakar sastra dan komunitas gerakan perempuan. La Barka memiliki potensi menjadi saksi di zamannya mengenai masalah wanita yang dianggap sebagai warga kelas dua (the second sex) akibat partiarchal power, paham yang dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Menurut Sariyadi, penelitian dengan teori kritis sastra feminis yang diterapkan dalam analisis teks La Barka, menghasilkan pembuktian bahwa teori kritis sastra feminis dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra yang bersifat ilmiah.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum, saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,” ujarnya. Melani Budianta, pemerhati sastra di Jakarta mengatakan, sastra populer hasil karya perempuan pengarang di akhir 1990-an telah memunculkan sebuah generasi baru, yang berani mengeksplorasi seksualitas lebih dalam, memakai cara penulisan yang berbeda dan bahasa yang lebih puitis. Namun karya mereka sama sekali tidak dipandang sebagai pornografi, misalnya Saman karya Ayu Utami dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Esais Nirwan Dewanto mengatakan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Nh Dini sudah menggarap masalah tersebut pada novel Pada Sebuah Kapal, hanya saja Dini tidak begitu radikal.

Di buku terbarunya, Dari Fontenay ke Magallianes, Dini menulis dengan gaya lebih segar dan memikat. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Prancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan tentu saja perselingkuhan yang menggetarkan dengan sang kapten. Tentang yang terakhir itu dia tulis secara gamblang dan terang-terangan. Ia mengungkapkan betapa tertekan hidup bersama (mantan) suami Prancisnya yang pelit dan garing.

Namun karakternya yang adil, Dini tetap memuji kebaikan hati suaminya yang memberinya beberapa kebebasan, misalnya berlibur ke Indonesia dan dapat bersekolah kembali sesuai cita-citanya. Buku ini indah dan semarak seperti musim semi meskipun lahir dari pengalaman pahit si pengarang. Sebentar lagi ia berusia 71 tahun. Sebenarnya bisa saja usianya lebih muda karena ia lahir 29 Februari 1936, artinya berulang tahun setiap empat tahun. Di satu buku kenangannya, ia mengutip sajak Rendra, bahwa hidup bukan untuk mengeluh, tapi tugas yang harus diselesaikan demi kehormatan.

Sebagai penulis, Dini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

Januari 2007

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (2)

Komisi Ideologi

Pokok-pokok Pikiran Sidang Komisi Ideologi

  1. Ideologi Pancasila dibutuhkan untuk mengatasi problem kenegaraan dan kebangsaan, yang terkait dengan keberadaan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan saripati dari nilai bersama dalam masyarakat Indonesia. Butir-butirnya diuraikan dalam living values/ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Keragaman yang tak terbatas ini memerlukan ideologi untuk menyatukannya. Untuk itu, Pancasila perlu dimaknai dengan menguatkan aspek kosmologis dan kultural. Pancasila bukan sesuatu yang asing karena digali dari masyarakat kita. Kesatuan perlu dipahami bukan sebagai penyeragaman, tapi keterhubungan. Sebagai ideologi formal, Pancasila sudah “selesai”. Yang belum selesai adalah pemaknaannya. Seperti dalam masyarakat Bali yang memiliki hukum formal adat, Tri Hita Karana[1], tidak dapat diutak-atik. Tapi pada tingkat perarem, hal ini dapat dibicarakan dan direvisi kembali. Proyek kita sekarang adalah Pancasila ideologi lintas generasi dalam bangsa kita.
  2. Ideologi berarti gagasan-gagasan besar untuk membangun masyarakat. Membangun merupakan sesuatu yang abstrak tapi riil, mempengaruhi dan mengonstruksi cara hidup dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Saat ini ditemukan kesenjangan antara kesepakatan final terhadap Pancasila sebagai ideologi dengan penerapannya di dalam masyarakat. Kita perlu pembudayaan atau internalisasi nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini pada jiwa memiliki masyarakat terhadap Pancasila.
  3. Tantangan-tantangan yang dimaksud di atas adalah kecenderungan untuk mempertentangkan kesetiaan terhadap agama dan negara, monopoli interpretasi terhadap Pancasila, dan sakralisasi Pancasila. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu pendidikan kewarganegaraan/ civic education untuk menginternalisasi Pancasila sebagai representasi ideologi yang integratif dan inklusif melalui strategi partisipatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
  4. Pancasila merupakan nilai-nilai universal yang perlu diperkenalkan kepada dunia global.

[1] Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan) yaitu prinsip-prinsip universal berupa memiliki hubungan baik dengan Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Jakarta, 24 November 2018

Pimpinan Sidang Komisi Ideologi

Marko Mahin

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (1)

Foto 1

Temu Akbar 3 Mufakat Budaya Indonesia telah dilangsungkan di Jakarta pada 23-25 November 2018, terbagi dalam 5 sidang, yaitu Komisi Ideologi, Komisi Konstitusi, Komisi Kenegaraan, Komisi Kebangsaan, dan Komisi Kebudayaan. Berikut adalah Pokok-Pokok Pikiran Sidang Komisi Kebangsaan:  

  1. Realitas di era mutakhir, mengalami kemerosotan values dalam berbagai aspek kehidupan. Pewarisan nilai-nilai luhur suku bangsa belum mendapatkan wacana  yang memadai dalam praktik sosial-kultural di Indonesia. Terjadi perubahan tata nilai dan tata hidup bangsa membawa pada pola kehidupan yang pragmatis dan material. Karena itu Komisi Kebudayaan MBI merasa perlu mengembalikan nilai-nilai luhur yang selama ini dilupakan sebagai dasar berpikir yang relevan untuk kebudayaan masa depan Indonesia.
  2. Kebudayaan Indonesia dipahami dan diidentifikasi sebagai manifestasi dari nilai luhur tiap suku bangsa yang perlu diwariskan, dilestarikan, dan diciptakan kembali. Kebudayaan Indonesia mengikat 745 suku bangsa untuk berproses, berinteraksi, dan bereproduksi dalam hubungannya dengan pembentukan identitas kebangsaan yang bersifat multikultur, cair, dan dialektis antara gunungan (kontinental)-bahari.
  3. Praktik pewarisan, pengembangan, dan pelestarian didasarkan pada nilai-nilai kebaikan bersama sehingga kekayaan sumber daya di daerah-daerah seluruh Indonesia menjadi bagian dari strategi untuk memperkaya dan memberdayakan kebudayaan. Identitas kebangsaan yang sudah teridentifikasi sudah tecermin di dalam Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebebasan, kebersamaan, dan keadilan sosial. Fusi masing-masing unsur tersebut sangat bermanfaat untuk memperkaya kahazanah identitas kebudayaan Indonesia, dan meski terus menerus kita re-thinking, re-interpertasi, re-vitalisasi agar senantiasa mendapatkan aksentuasi-nya secara kontekstual dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Perlu pranata baru yang direkonstruksi tafsirnya tentang identitas melalui perkembangan ilmu dan teknologi untuk meneguhkan budaya Indonesia. Kebudayaan Indonesia perlu pola yang terbuka, inklusif, relasional, dan kesediaan belajar.
  5. Gagasan tentang nilai, pranata, hingga praksis kebudayaan perlu diarahkan pada nilai-nilai yang sudah disepakati di dalam kearifan lokal yanh telah digali melalui transliterasi, tranlasi, dan transformasi nilai. Contoh, “desa kala patra” sebagai bagian dari kearifan Bali memerlukan format yang tepat dalam praktik kebudayaan mutakhir. Sebagai tuntunan yang berbentuk kearifan lokal memerlukan kemasan dalam strategi tontonan sehingga dapat bermamfaat untuk proses tafsir identitas kebangsaan yang bertumbuh. Disinilah keterlibatan penyelenggara negara adalah niscaya. Perasan ide dan gagasan komisi budaya MBI perlu ditindaklanjuti secara nyata, menyentuh dan berkesinambungan.
  6. Kebudayaan memang tidak cukup dirumuskan karena diversitas kebudayaan begitu luas dan kaya. Diantaranya terdapat kearifan lokal yang perlu dikenal dan tidak dibiarkan terapung, yang perlu di reinterpretasi dan revitalisasi. Identitas kebudayaan Indonesia perlu “dikejar” mulai dari ke belakang sampai ke depan yang tidak terputus. Meskipun tidak mungkin dirumuskan bukan berarti tidak memiliki rumusan. Budaya di sini dilihat sebagai definisi yang mengalir, dan budaya adalah adiluhung. Tersebar di seluruh Nusantara, dia akan terbentuk sendiri secara alami dan menjadi suatu karakter yang dapat dirasakan oleh bangsa ini. Secara sosio-historis Indonesia mengalami penyusutan kultural dan simbolik hingga tak mengenal dirinya sendiri dan oleh karena itu mudah dimanipulasi melalui destruksi asing.
  7. Sastra adalah salah satu bentuk simbolik untuk mengenal kebudayaan. Pada tahun 1892 sastra Nusantara yang dikeluarkan oleh Inggris pada tahun 1977 dalam bentuk katalog. Bahkan tentu kita dapat menemukan jauh sebelumnya, terdapat sastra-sastra luhur dalam babad, serat, tabo, dan sejenisnya yang saat ini sulit sekali kita dapatkan, dan barangkali sebentar lagi akan musnah. Dalam teks-teks sastra tersebut kita dapat menggali sedemikian rupa zaman yang direkam dan diperlihatkan bagaimana menghadapi zaman. Kita bangsa Indonesia dapat belajar dari semua itu. Saati ini zaman ditentukan oleh teknologi informasi yang disebut internet, orang menyebutnya zaman milenial. Tidak ada masalah dengan zaman ini, sebab antar zaman dan peradaban semestinya tidak terputus. Yang menjadi masalah adalah apabila era teknologi informasi ini tidak diisi dengan pengetahuan kita soal Nusantara, soal kebudayaan yang telah disebutkan di atas: multi-diversitas.
  8. Oleh karena itu perlu ada re-thinking tentang kebudayaan Indonesia, dengan catatan tanpa menghilangkan jejak, simbol, kearifan lokal, sastra-sastra luhur, yang merupakan jejak itu sendiri dan perlu ditelusuri lagi. Kita memang telah kehilangan dan terputus dari jejak-jejak tersebut, sebab tidak terintegrasi dalam bidang pendidikan. Pendidikan menjadi produk budaya yang seharusnya dapat membantu kita dalam merumuskan hal ini, yang kemudian terpecah belah oleh urusan politik. Demikian forum Komisi Kebudayaan ini mencoba menjadikan diskusi sebagai intisari untuk sikap kita tentang Mufakat Budaya.

 

Jakarta, 24 2018

Pimpinan Sidang Komisi Kebudayaan

Saifur Rohman

 

read more
TERASWARA-WARA

Menimbang Kembali Konstitusi Indonesia

foto diskusi MI 1

Rangkaian keempat Diskusi Publik Mufakat Budaya Indonesia (MBI) telah dilakukan di Ruang Rapat Besar Harian Media Indonesia di Kedoya Jakarta, pada pagi Selasa, 6 November 2018. Kali ini diskusi menghadirkan narasumber Mahfud MD, Komaruddin Hidayat, Refly Harun dan Radhar Panca Dahana, serta moderator Abdul Kohar

Ringkasan sebagai berikut:

Prof Dr Mahfud MD

Judul diskusi Menimbang Kembali Konstitusi Kita adalah tepat karena MPR sekarang telah membentuk satu panitia untuk menyiapkan rancangan perubahan terbatas pada UUD, terbatas pada mengembalikan fungsi, tugas dan wewenang MPR dalam menetapkan GBHN.

Menimbang kembali artinya menilai kembali secara mendalam dan kemungkinan itu terbuka dilakukan. UUD adalah produk situasi karena secara teori UUD adalah resultante dari situasi sosio-politik-ekonomi pada waktu dibuat. Kalau situasi dan waktu berubah, UUD pun dapat diubah.

Sejak dulu Negara ini sudah mengubah konstitusi berkali-kali dan tidak terkait dengan teori tertentu. Hukum kita tidak mengikut trias Politica tetapi panca as politika bahkan sekarang hasta as politica, 8 poros kekuatan. UUD Indonesia tidak seperti Amerika karena DPD kita punya kekuasaan legislatif penuh. Di Amerika, UU akan disetujui oleh parlemen dan senat, bila tak setuju boleh melakukan veto, dibawa ke Senat, dan dikembalikan ke kongres yang dipimpin oleh Mahkamah Agung.

Indonesia membuat hukum sendiri berdasarkan nilai-nilai domestik. Dan konstitusi Indonesia tidak asli seperti halnya badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif kita pun. Seperti sistem pemerintahan khilafah tidak asli, dan tidak diatur oleh Al Quran dan Hadis. Sekarang ada 57 sistem khilafah di Negara berbeda di dunia.

Indonesia pernah 4 kali berturut-turut mengubah UU. Ketika reformasi mengubah UUD untuk memberantas KKN namun faktanya KKN menggila meski ada beberapa kemajuan juga. Di daerah, banyak perkara tanah memiliki banyak izin karena ganti bupati menerbitkan izin berbeda. Pernah ada kasus, jatah lahan pertambangan lebih luas daripada luas kabupatennya.

Tidak pernah dalam sejarah kita menerima UU yang tidak berubah. UUD 45 bertahan 2 bulan sebelum diusulkan diganti oleh Sjahrir. Kemudian Hatta meminta mengubah satu pasal. Orang berpendapat voting tidak sesuai dengan Pancasila padahal Negara kita dibentuk dengan voting. Pertama pemilu, ada 54 orang meminta sistem demokrasi, 7 kerajaan, 1 abstain. Lalu diubah lagi ke negara federal, lalu sistem presidensil ke parlementar. Tahun 1949 diubah resmi ke negara serikat, 4 bulan diprotes oleh Natsir kembali ke negara kesatuan. Karena sering karena itu pernah disebut UUD Sementara. Ketika terjadi pelanggaran besar-besaran, diubah lagi. Kita pernah mengalami demokrasi terpimpin, kemudian kembali menjadi demokrasi.

Ketika Bung Karno jatuh, OrBa mengatakan akan melaksanakan UUD 45 secara murni dan konsekuen. Menimbulkan reaksi luar biasa, dan setelah Suharto jatuh, diubah lagi, bahkan sebelum disahkan sudah dirobek oleh seorang yang protes. Tidak ada konsep yang akan diterima oleh 275 juta kepala rakyat Indonesia.

Intinya, filosofi sebuah konstitusi baik dan dimaksudkan untuk kepentingan rakyat. Bila dalam pelaksanaannya tidak sesuai, itu masalah lain. Prinsipnya, konstitusi harus ditaati selama dia berlaku.

Prof Dr Komaruddin Hidayat

Menggarisbawahi pernyataan Prof Mahfud yang mengatakan teori tidak mutlak diperlukan, tetapi tetap dapat dipakai agar tidak mulai dari awal. Sebuah teori dianggap bagus pandangan kaum pragmatik, karena seperti sebuah produk, dapat diketahui untuk menilai produknya.

Dalam konteks negara, kita sebagai WN, hierarki konstitusi dan uu berbeda namun bahwa ia mengamati konstitusi atau UU di Indonesia membuat sintesa 3 elemen demokrasi dunia, yaitu teokrasi, liberalisme, sosialisme.

Sila ketuhanan diambil dari komponen teokrasi dengan banyak unsur keagamaan. Kontestasi antar ormas dari antarparpol menarik. Sekarang ormas lebih menarik malah parpol tidak lagi menarik karena tidak ada identitas.

Sila kemanusiaan, elemen dari liberalisme  dan humanisme, kebebasan invididu. Dalam pancasila awal, ini disebut pertama, barangkali sebagai ekses terlalu lama dijajah maka yang muncul pertama kemanusiaan, sebagai resultante bitter memori lama dijajah.

Sila musyawarah mufakat, ini diambil dari elemen sosialisme. Menyatukan elemen-elemen yang paradoksal.

Menurut Yuval Noah Harari, intelektual muda Yahudi, bangsa-bangsa di dunia ini mengalami 3 problem, yaitu teknologi, politik dan identitas.

1) Masalah Teknologi. Bila satu Negara tertinggal teknologi sulit bersaing dengan negara lain meski sumber alamnya melimpah. Neokapitalisme baru ini dengan kekayaan yang tidak berdasarkan berapa luas tanah, berapa capital dan industri, tetapi mesin siapa yang menguasai big data dan mengendalikan jaringan informasi. Bill gates kekayaannya tidak dihitung dari kapital tetapi kekuasaannya. Indonesia jauh ketinggalan dari Singapura dalam hal ini.

2) Masalah Politik. Dalam hal ini mungkin SDM, aturan, tata negara, konstitusi, mekanisme, dll. Kalau gagal maka hasilnya akan berantakan. Di beberapa negara seperti di Syria, dan beberapa Negara di Timur Tengah negara yang ikut demokrasi justru yang paling ribut. Yang tidak menganut sistem demokrasi relatif lebih aman. Arab Saudi termasuk aman meski mencekam juga. Emirat, Yaman, Qatar, aman yang kerajaan. Masalah politik harus dijawab oleh situasi lokalitasnya. Ketika aspek politik nya salah seperti yang terjadi di Yunani, Argentina, Venezuela, Lybia, negara kaya namun akhirnya berantakan juga.

3) Masalah Identitas. Negara berteknologi maju namun ternyata tidak hilang. Negara Amerika Serikat yang menganut demokratis paling modern, masalah identitas menguat pada masa Trump. Hanya di sana, aspek politik dan teknologi mapan sehingga masalah identitas terkendali.

Komaruddin mengkhawatirkan masalah identitas di Indonesia. Bila tidak diimbangi dengan agenda politik dan teknologi yang tepat, dan bila tidak diselesaikan dengan baik, akan menambah masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kaitannya dengan UU, yaitu 1) Masalah politik yang memburuk ketika rekrutmen anggota legislatif dan eksekutif tidak dilakukan dengan baik. Dengan demikian bukan orang yang terbaik yang duduk di sana. Yang terbaik malah termarginalkan karena membentur dua tembok kekuatan, yaitu 1) pemodal dan punya massa sehingga kapitalis sudah pada lini konstituti dan uu. Otoritas dalam mempromosikan legislatif dan eksekutif tergantung pemodal -cukongnya, yang bila tidak lepas dari cukong akan menggeroti kualitas kehidupan negara.

Sulit memisahkan partai dan uang. Biaya partai parpol mahal. Negara tidak memberi dana yang cukup. Akhirnya, posisi –legislatif dan yudikatif tadi- dilelang. Siapa punya uang punya massa, sila nyalon. Orang-orang pintar, aktivitis partai dengan idealisme namun karena tak punya uang, akan kalah. Orang yang duduk di legislatif adalah kw 2, kw3. Politik yang tidak menyelesaikan masalah.

Dulu karena popular, artis yang punya massa. Sekarang simbol-simbol agama dianggap paling seksi digunakan dalam menggalang kohesi sosial. Karena, identitas ormas dengan simbol agama lebih menonjol dari parpol yang sekarang tambah tidak jelas identitasnya. Juga instrument agama lebih mudah dimainkan daripada parpol.

Dulu suara rakyat dibungkam ketika orde baru, sekarang dibuka selebarnya. Mata rantainya didekatkan. Oleh karena itu dibuatlah pilkada langsung agar muncul putra-putra terbaik daerah. Asumsinya, putra daerah lebih dikenal oleh rakyat maka akan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Tapi asumsi itu meleset. Pilkada malah menghasilkan sekian banyak koruptor. Tentang hal itu ada kemungkinan, 1) biarkan proses itu agar makin matang, 2) tarik kembali UU dan dikembalikan ke DPR saja. Karena kebebasan yang overdosis akan membunuh kebebasan itu sendiri,

Demokrasi dan hukum harus berjalan dengan baik. Kalau hukum overdosis akan membunuh demokrasi. Demokrasi berkembang hukum pun harus berkembang. Demokrasi terlalu bebas akan menjadi anarki.

Satu teori mengatakan, kalau income perkapita rakyat Indonesia di atas 6000 dan pendidikan merata, maka demokrasi baik. Indonesia bukan negara kontinental, namun kepulauan yang tersebar. Tingkat ekonomi dan pendidikan jomplang. Sense of citizenship (rasa warga Negara) belum tumbuh. Yang muncul warga kelompok identitas, bukan citizen.

Oleh karena itu perlu mencari sumber masalah pada hulu. Yaitu UU dan konstitusi. Pada ketimpangan ekonomi yang terjadi karena masalah pada hulu. Di Indonesia, semangatnya Pancasila tetapi UU-nya liberal alias kepala ke utara kaki ke selatan. Salah satu contoh saja bahwa kekayaan alam dan hutan, dll di negeri ini, dimiliki pribadi. Sementara dalam idealisme Pancasila, seluruh ala mini milik bangsa. Jadi baik kalau kita membenahi dulu persoalan UU.

 

Dr Refly Harun

Ada 3 sikap memandang konstitusi:

1) pandangan status quo, merasa UU sudah mapan. Mereka sudah puas dengan perubahan konstitusi.

2) pandangan progresif, mereka yang menganggap hasil perubahan belum pas, perlu beberapa yang harus disempurnakan. Misalnya, kelembagaan DPD, presiden, independensi.

3) pandangan regresif ingin kembali ke UUD 45. Ada beberapa manifesto partai  politik tertentu ingin kembali ke ini.

Ia memilih sikap kedua. Dari sisi teori, perubahan konstitusi seharusnya karena krisis politik, gonjang-ganjing politik, perubahan kepemimpinan nasional, perubahan sistem politk perubahan bentuk negara. Indonesia, Filipina, Thailand, Negara-negara Arab –ketika mengalami Arab Spring- juga uni soviet.

Ada beberapa lembaga yang tidak optimal. MPR misalnya, bertugas melantik presiden dan wapres yang hanya kapan-kapan. Memilih pres dan wapres ketika keduanya berhalangan, itu belum tentu sekali terjadi. Memilih pres dan wapres ketika keduanya berhalangan, itu pun kapan-kapan. Keberadaan MPR harus dievaluasi.

Lalu keanggotaan DPR. Anggota DPR dari propinsi Jatim atau Jabar bisa sampai 30-40 orang. Sementara DPD hanya 4. Sementara itu juga kewenangan DPR tidak ada padahal memiliki anggaran trilyunan.  Pada MK, disayangkan hanya diberi kewenangan pengujian UU. Seharusnya ada konstitusional kontrol. Pengujian UU harus ke MK. Pilihannya mengoptimasikan peran konstitusi.

Dalam termin kedua, presiden sebaiknya sudah memikirkan hal-hal strategis dan paradigmatik,  dimulai dari pembentukan kabinet yang baik untuk program jangka panjang Indonesia. Ada komisi-komisi yang terjadi dari pada ahli/negara untuk meninjau ulang UUD 45 dengan kesalahan paling sedikit. Lalu dibuat tim lain untuk meninjau ketatanegaraan, aturan di bawah konstitusi, UU politik, UU pemilu sehingga hukum tidak dibuat lemah.

Radhar Panca Dahana

Berangkat dari ungkapan lama tentang empat pilar harga mati. Dan itu sudah cukup kuat terpatri di banyak kalangan seperti pejabat, pemerintahan, menkopolman, senior-senior. Seharusnya tidak ada kecenderungan sakralisasi yang 4 itu. Bendera bahasa semua harga mati kalau begitu.

Di negeri ini bahkan Pancasila lebih sakral dari kitab suci. Siapa berani menyentuh preambul di Pancasila. Suku bangsa yang sudah ribuan tahun dan sudah mengembangkan dirinya, tiba-tiba dipatenkan atau dibunuh oleh sebuah produk; sementara yang abadi kita korek-korek. Artinya, konstitusi dan UU tidak mampu lagi dipakai untuk menjawab masa depan dan perkembangan yang tidak unpreditable.

Para bapak ibu perintis negeri ini sudah sekitar 70 tahun lalu menjawab keadaan masa itu. Dan tidak memahami keadaan kita sekarang. Oleh karena itu diusulkan untuk diselesaikan oleh konstitusi, melakukan amandemen terhadap konstitusi terhadap diri sendiri dan bangsa. Banyak persoalan yang tidak selesai karena ketika berhadapan dengan realita di luar konstituti menjawabnya.

Misalnya, masalah iklim yang menyerang seluruh dunia. Dalam waktu 12 tahun lagi atau ketika suhu bumi naik 1,5 derajat, sekarang 0.2., yang terjadi 60 negara hilang. Bumi akan kekeringan berkepanjangan, kebakaran bertahun-tahun, hijrah penduduk yang luar biasa, dan sumber daya begitu langka. Kita akan berperang karena sebotol bensin atau setangkai buah.

Jadi masalah bukan hanya politik dan ekonomi saja. Dalam situasi itu bagaimana bangsa dan Negara ini dapat menjawab dengan konstitusi yang begitu disakralisasi?

 

Komentar-komentar

  1. Pak Siagian

Apakah pancasila bisa masuk ke preambul uud 45, dalam rangka amandemen, sehingga Negara tidak bubar.

  1. Sugianto santoso

Beberapa oknum hukum masih rapuh. arus diungka terus. Pakar hukum memalukan karena ingin bayaran. Saya berharap masalah hukum kritis dan strategis.

  1. Suhadi sendjaja

Agama muncul karena ada kekacauan. Tidak benar kekacauan terjadi karena agama. Agama muncul agar kekacauan bisa diatasi. Itu asal mula dan landasan ini tidak boleh berubah. Peran agama dan kebudayaan menyangkut soal penataan yang dalam namun perlu waktu panjang. (itasiregar/MBI)

 

read more
TERASWARA-WARA

Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini?

Foto Diskusi UI 1

Notulensi

Diskusi publik dalam rangkaian Temu Akbar Menuju Mufakat Budaya 3 ini telah sampai pada kali ketiga. Dengan tema Kebangsaan, diskusi bertajuk Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini? telah terlaksana dengan baik di Aula Terapung Perpustakaan UI Depok pada Jumat 2 November 2018. Dihadiri oleh sekitar 100 peserta, acara ini menghadirkan empat narasumber yaitu Bambang Wibawarta, Haidar Bagir, Suhadi Sendjaja dan Olivia Zalianty –mewakili generasi milenial. Diskusi dipandu oleh Bara Pattiradja.

Diskusi berfokus pada bagaimana generasi milenial sebuah bangsa terkait kedaulatan teritorial, di saat mereka mendeklarasikan diri sebagai warga global? Pada abad digital, generasi baru tidak lagi merasa berada dalam lingkup sebuah bangsa, lantaran pergaulan mereka tak ada lagi berbatas spasial dan teritorial. Ruang yang mereka huni adalah tanpa batas. Mereka telah melampaui definisi citizen, menuju interaksi alam bebas dengan status netizen.

Lalu, bagaimana dengan civic culture atau budaya kewargaan dalam sebuah bangsa yang berdaulat mesti ditegakkan? Apakah mereka masih dapat mengenali dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa bernama Indonesia? Atau jangan-jangan identitas kebangsaan yang bersidik-jari Indonesia itu telah lebur ke dalam riuh perbincangan di jagad maya, yang dihuni oleh orang-orang asing, yang juga tidak punya identitas kebangsaan?

Prof Dr Bambang Wibawarta, M.A

Pejabat Rektor Universitas Indonesia ini mengawali dengan mengatakan bahwa empat pilar bangsa -Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD ’45 dan NKRI –  masih retorika dan seremonial, belum menjadi budaya dan perilaku. Teknologi yang bergerak pesat dan dinamis akan berdampak pada perilaku manusia secara sepihak. Pertukaran pandangan dan pikiran antarindividu dalam dunia global terjadi secara cepat. Dan anak muda yang paling terpapar.

Kebangsaan adalah rasa dan kesadaran diri yang tertanam dari diri seseorang. Kira-kira 12 tahun lalu ia diundang ke Jepang, dan mengatakan teknologi Jepang akan tertinggal dari Korea. Belakangan produk-produk selular Jepang tersingkir digantikan Samsung dan Xiaomi dari Cina. Masyarakat Jepang memutuskan sesuatu lambat sesuai budaya sungkan mereka. Sedangkan Korea merumuskan dan cepat memproduksi. Bahkan Cina, istilahnya, belum dipikir mereka sudah memproduksi.

Karakter bangsa akan dipengaruhi oleh karakter manusianya. Produk suatu bangsa akan mengandalkan masyarakat terdidik sebanyak 90% dan 10% dari sumber alam. Bangsa Indonesia masih banyak pe-er dalam hal sumber daya manusia yang baik. Bagaimana berpikir lengkap, menumbuhkan masyarakat dengan dasar pengetahuan (knowledge-based), sejak tingkat paling dasar: PAUD, SD.

Bangsa Indonesia masih bangga sebagai melting pot. Banyak budaya tercampur-baur di sini. Ibarat pecel, masing-masing komponen tak terlihat karena sudah tercampur. Kebudayaan yang komprehensif meliputi mindset, lalu bidang kesehatan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Bukan budaya materi saja.

Pemerintah seyogyanya dapat mengelola kebudayaan dan keragaman yang kita miliki sebagai kekuatan. Memang sudah ada UU pemajuan kebudayaan tetapi masih belum tahu apa dan bagaimana maksudnya. Apa yang dimaksud dengan memajukan kebudayaan? Kita belum ada strategi yang komprehensif dalam hal kebudayaan. Diperlukan kesepakatan dalam tingkat Negara untuk menghasilkan konstruksi yang terbuka. Dengan demikian penyelesaian permasalahan sampai ke akar.

Bangsa bukanlah suatu ras atau orang yang punya kepentingan sama, dibatasi geografis saja melainkan jiwa dan asas solidaritas pengorbanan masa lampau dan sekarang, berlanjut ke masa depan, melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Kaum milenial bukan yang terlepas dari kebangsaan tetapi selalu ada benang merah yang kita harus rajut bersama. Kita harus mempunyai perekat yang mengikat keindonesiaan kita seperti bahasa misalnya.

Laut bukan pemisah pulau tetapi perekat keindonesiaan, begitu pula budaya dan masalah pendidikan ekonomi. Ini yang harus diinternalisasi dalam pendidikan formal. Ujung tombaknya pendidikan termasuk pendidikan budaya dan nilai-nilai yang kita sepakati bersama. Dengan demikian kita tidak khawatir dengan budaya yang masuk dari luar. Karenanya titik singgung agar berdampingan harus dipelihara. Sistem pendidikan  diinternalisasi menjadi perilaku sehari-hari agar dapat menangkal  korupsi, intoleransi, radikalisasi, dan lainnya.

Suhadi Sendjaja

Maha Pandita Utama Buddha Dharma Niciren Syosyu (NSI) memaparkan kebangsaan dari perspektif Buddha. Bahwa bangsa bukan sekumpulan manusia yang senasib, dalam batas geografi yang sama, yang berada dalam tiga masa -lampau, sekarang, dan masa depan, namun sepenuh kehadiran. Kehadiran saya sangat khas. Keadaan setiap orang sangat khas. Bahkan manusia yang lahir kembar pun tidak ada yang persis sama

Manusia dan lingkungan mempunyai hubungan saling mempengaruhi. Manusia dan alam bukan dua, bukan juga two in one, tetapi satu. Karena itu apa yang ada di lingkungan merupakan sepenuhnya refleksi dari subyek ini. Bila lingkungan harus diperbaiki maka yang diperbaiki adalah tubuhnya. Itu prinsip dasarnya.

Manusia sebagai sebuah komunitas dan perkembangan lainnya adalah teknologi. Agama Buddha melihatnya sebagai temuan-temuan. Misalnya, cerita komik Kho Ping Ho menceritakan tentang cermin lopian yang dapat mendengar dari jarak jauh. Dulu rasanya tak mungkin. Sekarang itu bukan hal aneh lagi. Newton pun tidak menciptakan hukum daya tarik bumi tetapi dia menemukan. Temuan-temuan oleh manusia adalah alat bantu untuk meningkatkan kemudahan bagi kemudahan dalam hidup. Ujungnya adalah untuk kebaikan dan kemanusiaan. Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemajuan spiritual. Untuk kebahagiaan manusia.

Semua manusia itu bersaudara. Indonesia menjadi satu bangsa yang dilandasi oleh kebudayaan dari 17 ribu pulau. Di laut kehidupan jutaan, ikan kecil menjadi makanan ikan besar, plankton ada rumput laut, dan biota lain. Semua bersimbiose mutualisme. Begitu juga bangsa indonesia dengan ribuan suku bangsa dan ratusan bahasa. Masing-masing menjadi landasan komunitas dan perbedaan menjadi kekuatan untuk membentuk sebuah kebangsaan yang unggul. Kita sebagai makhluk sosial ada pemikiran bahwa dalam diriku ada dirimu, dalam dirimu ada diriku. Bersimbiose yang mutualisme di alam semesta menjadi suatu ciri khas karena perbedaan manusia, tempat kedudukan, pribadi-pribadi menjadi kekuatan bersama ketika kita sepakat untuk tingkatan kesejahteraan bagi seluruhnya.

Dr Haidar Bagir

Menurut doktor lulusan Universitas Harvard dan CEO Mizan ini, pertanyaan “apa dan siapa bangsa Indonesia ini” seperti sejarah tentang segala sesuatu. Ia pernah menulis strategi kebudayaan namun mungkin bagi orang lain itu tidak pantas.

Manusia adalah persoalan keunikan. Manusia punya kedudukan yang berbeda-beda, sebagai individu dan masyarakat. Budaya yang berbeda itu alami dan disyukuri. Pluralisme budaya tidak bisa dihindari namun harus disyukuri dan dipertahankan agar kehidupan menjadi lengkap.

Dalam satu forum bertema, Adakah Islam Indonesia, dia mengatakan Islam indonesia itu panteisme. Pada waktu itu Sutan Takdir Alisyahbana sangat khawatir kalau Indonesia menjadi bagian dari budaya timur. Baginya, budaya timur adalah budaya yang ketinggalan dan itu akan membuat bangsa Indonesia akan tertinggal dari budaya barat yang kompetitif dan mudah menerima. Padahal kebudayaan yang matang itu yang seimbang, yang tidak tertarik pada satu ekstrem tertentu.

STA menulis tiga lapis budaya Indonesia:

  1. Agama-agama asli membentuk budaya, primitif dan animistik
  2. India, hinduisme yang kenal kesusasteraan yang tinggi, unsur rasional, agama yang bersifat mistikal sehingga melahirkan literasi yang tinggi.
  3. Islam modern, yang membawa pada rasionalisme.

Menurut Bagir, yang pernah mendalami filfasat dan mistisisme, agama, bahkan Tuhan, tak lepas dari rekaan manusia. Rekaan yang dimaksud adalah teofanik, manudia memanifestasikan ketuhanan. Namun tidak berarti agama dan Tuhan dapat direka oleh manusia, namun Tuhan kehilangan obyektivitasnya karena manusia adalah teofani tuhan.

Setiap manusia adalah wadah dari satu pancaran. Dalam mistisisme Islam ada yang disebut matham atau wadah. Karena manusia unik, sinar matahari yang memancar akan berbeda, karena menyangkut manusia dan juga masyarakat.

Bagaimana homo sapien yang tak punya peran apa-apa, perannya terlalu kecil sampai punya kemampuan kognitif.

Manusia dari satu nenek moyang menjadi banyak dan membentuk budayanya sendiri. Terjadi migrasi, interbreeding, sampai ada mutasi manusia-manusia. Di pantai akan terbentuk budaya berbeda, di tanah gersang akan menjadi nomad, ke tempat subur budaya akan terbentuk oleh pertanian. Budaya seperti ini harus disyukursi karena sebagai wadah unik dari pancaran ketuhanan.

Manusia diciptakan dalam suku dan bangsa untuk saling belajar kearifan lokal dan kultural. Panteistik animisme dan mistik dalam konotasi positif. Islam pada batas tertentu animistic dan mistik. Panteistik dan mistikal adalah animisme yang positif. Ketika seseorang menyembah batu, pohon, laut, gunung, sebenarnya mereka sedang menyembah Tuhan karena semua mahluk adalah teofanik. Kita seharusnya tidak mempermasalahkan sedekah laut, sesajen, namun dipahami sebagai simbol rasa syukur kepada alam.

Budaya agama seharusnya tidak antiteknologi. Karena sekarang inilah yang menarik bagi generasi milenial. Generasi ini berbeda dengan generaasi sebelumnya. Mereka peduli makanan organik, solidaritas. Dalam hal agama banyak yang memutuskan meninggalkan agama karena tidak menarik buat mereka. Agama tidak menekankan kebaikan, tetapi mengedepankan kemenangan.

Olivia Zalianty

Artis muda Indonesia ini berpendapat bahwa generasi milenial adalah generasi kebingungan. Berbicara soal pembangunan, masa depan, ledakan penduduk, terjadi bom waktu pada 2045, yang menjanjikan, bila tidak ditangani dengan baik, akan menjadi beban masyarakat bahkan menjadi sumber chaos.

Generasi 1980-an ada citizen, sekarang netizen. Sekarang ada sekitar 150 juta pengguna facebook, 95 juta instagram. Teknologi bagus dan anak muda harus mengikuti teknologi. Namun harus diperhatikan karena ada kemajuan teknologi yang menggerus adab-adab kebudayaan kita. Sekarang serba cepat dan tidak lagi memiliki romantisme seperti dulu. Menunggu surat, misalnya.

Pemerintah pada umumnya ingin membantu masyarakat namun sering masyarakat tidak merasa pemerintah tidak memahami budaya mereka. Seperti di Adonara, penangkapan ikan paus adalah budaya namun pemerintah bikin peraturan melarang karena khawatir spesies ikan paus akan habis. Orang Ambon makan sagu tetapi pemerintah memberi beras karena tidak tahu budaya yang ada di sana, dll.

Sesi tanya-jawab:

1.Wibowo, dari Aliansi Kebangsaan

Siapa Indonesia itu? Pada 1908 Sutomo mungkin tidak tahu jawaban tetapi ia tahu tantangan yang harus dijawabnya saat itu. Seperti halnya Sukarno, Kartini, dll. Mereka punya inisiatif karena ada tantangan. Bangsa Indonesia punya sumber manusia yang luar biasa kita tinggal mengumpulkan saja. Kuncinya adalah manusia.

Jawaban Haidar

Berbicara apa dan siapa adalah sebuah pilihan bukan suatu keniscayaan, bukan merasa lebih unggul dari orang lain. Kita merawat pluralisme karena ada persamaan dan perbedaan.

Jawaban Bambang

Tidak ada kekhawatiran soal generasi milineal, karena nanti akan ada jawabnya sendiri. Budaya itu berubah dan dinamis, semua itu ada naik-turunnya, tidak ada puncak kehidupan. Akan menemukan puncak-puncaknya sendiri.

Bahwa tidak semua budaya harus dilestarikan tetapi harus disesuaikan dengan zaman. Kalau ada budaya harus menyembelih seribu kerbau, sekarang tidak cocok dilaksanakan. Nilai pahlawan berubah, yang berguna bagi kemanusiaan dan peradaban. Nilai gotong-royong sekarang bukan sekadar membersihkan got bersama tetapi memanfaatkan semua kemampuan untuk kepentingan bersama.

2.Indira, Putri Kebudayaan

Bagaimana mengubah komunikasi yang konvensional  sehingga bisa dipahami generasi sekarang?

Jawaban Haidar

Soft komunikasi, pergunakan saja semua medsos. Komunikasi tidak dilakukan secara tatap muka. Komunikasi dilakukan sesuai zaman, kitalah yang harus melestarikan.

3.Bapak HS Dillon

Kita bukan melting pot tetapi bhineka secara alami. Panteisme bahwa Tuhan ada di segala tempat. Itu bukan bangsa Cina atau Arab yang membawa tetapi kita telah punya sejak lama. Sudah ada masyarakat, pemerintah, agama.

Intinya kita berikan yang sudah kita kerjakan selama ini. Itulah yang kita berikan. Generasi milenial tidak perlu dibingungkan karena manusia sama sejak mulai peradaban hingga sekarang. Manusia tidak berubah, yang berubah props-nya.

Masalah utama, bangsa ini tidak bisa bermartabat, selama pemimpinnya semua mau merusak bangsa ini yang sudah dibentuk 1928.

4.Jonathan

Apa yang dimaksud gerakan anak muda Islam Cinta?

Jawaban Haidar

Anak-anak muda punya kebutuhan spiritualnya sendiri. Mereka bagian dari budaya itu sendiri. Kaum milenial butuh soal jati diri, identitas. Di Gerakan islam cinta ada ribuan anak muda terlibat karena kebutuhan itu.

read more
OASETERASWARA-WARA

Bermalas-Malas yang Alkitabiah

mendekap sayap sendiri

Teks Rinto Pangaribuan

Ilustrasi Surajiya

Kemalasan tak pernah mendapat tempat dalam kekristenan. Ia laksana hama. Bahkan dalam tradisi Kristen, ia termasuk salah satu tujuh dosa maut. Label yang bukan main-main. Ini indikator kuat betapa kemalasan adalah momok mengerikan.

Masyarakat kita mencaci-maki kemalasan. Rajin pangkal pandai. Malas pangkal bodoh. Begitu kata peribahasa kita. Orang-orang malas akan ditendang dari pergaulan. Tidak ada bos suka karyawan malas. Seorang ibu akan menjewer anak yang malas. Pun orang malas benci orang malas.

Pada sisi lain, sumpah serapah pada kemalasan adalah pemujaan terhadap kerja. Kita meluhurkan kerja sampai langit ketiga. Cita-cita masa kecil memuncak pada profesi kerja. Presiden kita menyerukan, ”Kerja! Kerja! Kerja!” Guru kita memerintah, “Kerjakan tugasmu!”

Pemujaan terhadap kerja adalah tindakan pilih kasih. Pasalnya, manusia juga diciptakan untuk malas-malasan. Tuhan mencipta manusia untuk selow dan santai menikmati dunia (Kejadian 2:16). Tuhan memberi kita hak untuk bermalas-malas atau malas-malasan. Bukan hanya hak. Bermalas-malas adalah kodrat manusia. Karena Allah telah meletakkan itu pada manusia, sejak semula.

Bagaimana membuktikan pandangan ini? Tetapi, bukankah banyak nukilan Alkitab mengatakan kemalasan—dan semua turunannya— terhisap dalam dosa?

Untuk menjawabnya, saya akan membatasi pembacaan hanya dari Amsal. Alasannya, hampir semua seruan mengenai kemalasan bersumber dari kitab ini. Jadi, benar kitab Amsal mengkritik kemalasan? Bagaimana imajinasi Alkitab tentang bermalas-malas? Atau, adakah sikap malas yang Alkitabiah?

Bermalas-malas dalam Alkitab: Sebuah Kritik

Perjanjian Baru memunculkan kata malas sebanyak tiga kali. Pada Matius 25:26, 1Timotius 5:13 dan Titus 1:12.

Matius menyematkan malas kepada hamba yang diberi satu talenta. Terma malas dalam bahasa Yunani adalah oknere. Kata ini berasal dari adjektiva okneros. Selain malas, juga berarti menyusahkan. Melihat keseluruhan konteks, saya condong pada pengertian kedua. Pada Matius ayat 24–25, kita diberitahu alasan mengapa hamba itu tidak mengusahakan talentanya. Yang bukan malas. Melainkan alasan yang menyusahkan tuannya.

Dalam 1Timotius 5:13, kata bermalas-malas ditujukan kepada janda. Dalam LXX atau Septuaginta –Alkitab Ibrani dan Yunani- memakai kata argai. Asal katanya argos, yang artinya menganggur. Terma sama juga dipakai dalam Titus 1:12.

Namun kita akan meninggalkan ketiga ayat karena istilah yang dipakai tidak mewakili apa yang kita bahas dalam tulisan ini.

Sebanyak lima kali kata malas muncul dalam Perjanjian Lama. Dalam Yosua 18:3, Hakim-hakim 18:9, Amsal 12:27 dan 18:9, Yeremia 9:5). Sedangkan kata pemalas muncul enam belas kali. Empat belas diantaranya berserak di kitab Amsal. Ayat paling terkenal dan menjadi contoh kasus kita adalah pada Amsal 6:9–11. Butir ini, bisa dikatakan, mewakili nuansa dari semua aforisme kitab Amsal.

Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” — maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Ayat ini memberi kita daftar ciri-ciri pemalas. Suka tidur, terbangun, mematikan alarm, untuk melanjutkan tidur. Akibatnya, kemiskinan dan badai kekurangan menyerbu.

Amsal melukiskan adanya hubungan sebab dan akibat, antara kemalasan dan kemiskinan. Hukum kausatif menjadi warna utama pada hampir seluruh nasihat kitab ini. Para penulis Amsal rupanya percaya hukum tabur-tuai. Kalau menanam kacang, kita menuai kacang. Jika menanam singkong, maka pohon singkong yang tumbuh. Orang Indonesia bilang, kalau rajin, kita pasti akan kaya. Kalau malas?

Pertanyaannya, mengapa penulis Amsal—kerap disebut orang bijak—percaya pada hukum sebab-akibat? Zaman sekarang hukum tabur-tuai merupakan kebodohan besar. Orang baik malah menjadi sasaran empuk penipu. Buruh bekerja keras setiap hari, tetapi tetap melarat bin sekarat. Ada emak-emak korban gebukan massa, malah dituduh operasi plastik. Dunia ini tidak adil! Mengapa masih percaya hukum tabur-tuai?

Untuk memahami kitab Amsal, kita harus mengerti dulu paradigma berpikir masa itu. Kitab Amsal dibingkai oleh motif takut akan Allah (1:7). Siapa yang segan kepada-Nya akan mempunyai akses pada hikmat (hokma, bahasa Ibrani ). Dalam pengertian Yahudi, hikmat bukan teori abstrak. Istilah hokma merupakan pengetahuan teknis kerajinan (lihat Keluaran 31:1–11). Sumbernya dari pengalaman dan bertujuan untuk mengatur kehidupan. Ia berangkat dari pengamatan fenomena alam dan budaya.

Horisonnya adalah kehidupan manusia dalam keluarga dan budaya. Semua dibalut dalam latar  teoritis: Allah memasukkan suatu tatanan yang adil. Asumsi teoritis ini penting karena merupakan jantung kitab Amsal. Ia merasuki seluruh struktur kehidupan dan menjanjikan ”jalan hidup” bagi setiap individu. Titik sentral ada pada keyakinan tindakan dan akibatnya nyata, bergantung satu sama lain. Masyarakat pembaca Amsal meyakini bahwa mekanisme mesin dunia berputar dengan adil. Jadi, siapa yang mengikuti aturan main akan dianggap bijak. Sebaliknya, orang-orang yang mencoba keluar pagar, dicap bodoh.

Sebagai orang Indonesia, sepatutnya kita tidak heran. Pasalnya, kita dekat dengan wawasan dunia seperti itu. Nenek moyang kita meyakini dunia dicipta dengan harmoni. Segalanya berjalan selaras. Sinar matahari akan diimbangi cahaya rembulan. Kemilau emas senja akan ditandingi remang fajar. Bahwa alam semesta bergerak dalam rima serentak.

Pandangan ini lazim dalam wilayah Timur Dekat pada milenium ke-3. Ini berangkat dari mitos-mitos kuno. Yang meyakini adanya kekuatan supranatural yang memasuki kosmos dan mencampuri urusan manusia. Para dewa hanya berpihak pada keadilan dan keseimbangan alam semesta.

Begitulah hukum kausatif diterima dalam kitab Amsal. Mereka memperhitungkan sesuatu yang benar. Jika malas, maka kita akan miskin. Konsekuensi dari kemalasan berfungsi sebagai penyeimbang tatanan agar tetap adil.

Pertanyaannya, apakah masyarakat kapitalisme sekarang  harus membaca Amsal dengan cara sama? Setidaknya, ada dua alasan mengapa kita harus meninggalkan keluguan teologis ini.

Pertama, kumpulan aforisme Amsal datang dari kelas masyarakat tertentu. Salomo bukanlah pengarang tunggal kitab ini. Raja dengan seribu istri ini dirujuk sebagai penulis Amsal ketika kitab Septuaginta ditulis. Sementara ribuan ajaran dari berbagai tradisi tidak diketahui lagi siapa pengarang aslinya. Namun berdasarkan gaya dan nuansa, kitab Amsal dapat dilacak datang dari tiga lapisan masyarakat.

Pertama, kitab hikmat istana. Ini ucapan-ucapan dari dunia kerajaan dan para intelektualnya. Kedua, hikmat instruksional dari para rabi. Ketiga, hikmat komunitas, dari mereka yang kembali  paska pembuangan.

Tiap kelas mewakili kepentingan masing-masing. Bayangkan jika hikmat antikemalasan datang dari istana. Kita menebak itu untuk menggembosi para petani agar rajin bekerja. Dengan demikian, mereka dapat membayar upeti kepada raja (lihat 1Raja 12:10). Situasi ini sangat mungkin. Karena kontestasi para elite politik pada era PL terbilang kotor. Mereka berkolaborasi dan bersaing secara bergantian dengan pemilik tanah dan pedagang yang kuat. Secara berurutan, mereka mengontrol surplus petani yang diperlukan untuk mendukung aparat negara dan menyejahterakan elite nonpemerintah.

Alasan kedua mengapa kenaifan teologis ini harus ditanggalkan adalah perbedaan zaman. Asumsi bahwa ketika itu dunia diperintah oleh sebuah tatanan yang adil dan masih dapat diterima. Namun, itu tidak berlaku sekarang. Kapitalisme sudah memerkosa kita habis-habisan. Tatanan adil hanya isapan jempol.

Jadi, sekeras apa pun supir ojek online menarik pedal gas, tetap berkubang dalam kemiskinan. Buruh pabrik bergulat selama dua belas jam per hari dengan mesin dan uap pabrik, tetap melarat. Sebanyak apa pun kapal ditenggelamkan, nelayan tetap miskin jika rantai distribusi tidak diperbaiki.

Kita sedang berhadapan dengan sebuah tatanan curang. Struktur yang menggerakkan dunia kita penuh dengan ketidakadilan dan eksploitasi. Oleh karena itu, semua seruan busuk pada pemuliaan kerja adalah paham tua. Semua itu harus dihancurkan dengan palu godam kemalasan. Dengan dua alasan ini, antikemalasan yang dikumandangkan oleh kitab Amsal sebaiknya kita tinggalkan.

Kemalasan adalah Penjaga

Untuk membangun malas yang Alkitabiah, kita harus mengartikan ulang kemalasan. Dalam hal ini saya akan merujuk pada Thomas Aquinas (1225-1274), filsuf dan teolog Itali yang terkenal. Berangkat dari situ, saya akan menggunakan imajinasi Paul Lafargue (1842–1911)  tentang kemalasan. Ia adalah menantu Karl Marx yang menulis buku Hak untuk Malas (1880/2008).

Aquinas membicarakan kemalasan abad 13. Ia berdiri di antara pemahaman kuno Para Bapa Gereja Padang Gurun (early church desert fathers) dan konsep modern tentang kemalasan. Pada abad 4 dan pertengahan, kemalasan menjadi sentral dalam penilaian moral. Dalam konteks inilah Aquinas berteologi. Ia memberi penjelasan mengapa kemalasan masuk dalam kategori tujuh dosa maut.

Sebagai gambaran besar, Aquinas memahami kemalasan tidak seperti cara Hollywood. Ia melukiskan kemalasan dalam konteks rohani, bukan badani—malas mencangkul, misalnya.

Istilah Yunani untuk kata malas adalah acedia. Sederhananya, kita mengartikan kata ini sebagai lack of care. Jadi, malas adalah sebuah kemampuan sadar untuk tidak peduli. Sebuah tindakan aktif untuk enggan.

Secara spiritual, musuh yang diserang oleh malas adalah suka cita (joy). Aquinas membatasi konteks hanya dalam kekristenan. Ciri orang Kristen adalah peristiwa kelahiran baru. Ia mengikuti konsep kematian daging dari Paulus (Galatia 5). Sejak Roh Kudus hadir dalam diri manusia, saat itulah ia merasakan kegembiraan kudus.

Dalam relasi ini, manusia lama dibuang, manusia baru dikenakan. Akibatnya, ia harus mengubah orientasi hidupnya. Ia tidak boleh lagi hidup berdasarkan keinginan semata. Cinta (kepada Tuhan) akan menuntut sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Konsekuensinya, ada bagian dari diri yang harus dipaksa untuk melakukan sesuatu. Tubuh dan jiwa harus rela menjalani rasa tidak nyaman.

Menurut Aquinas, watak cinta bersifat already (now) but not yet. Cinta kepada Allah selalu dalam proses menjadi. Proses ini disebut pengudusan (sanctification). Dalam pengudusan inilah kemalasan menyerang. Tubuh dan jiwa dituntut untuk keluar dari zona nyaman sebagai konsekuensi cinta. Baik dalam bentuk pelatihan badani atau formasi spiritual. Semua baru bagi tubuh lama.

Dalam menjalani disiplin rohani inilah kelembaman dalam wajah kemalasan hadir. Diri seutuhnya lamban dalam melakukan tuntutan cinta. Akibatnya, kemalasan  memberontak pada identitas Kristus yang baru ditanam Roh Kudus dalam diri kita. Inilah yang menjadikan kemalasan sebagai dosa maut. Kemalasan yang dapat mengubah haluan sehingga kita menjauh dari Kristus.

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan hadir dari konflik batin. Ia tidak muncul sekonyong-konyong tanpa alasan. Ada suatu anasir dalam diri manusia dan mencipta rasa tidak aman dan nyaman. Dalam kesadaran penuh karena didorong rasa risih, manusia memutuskan untuk enggan bergerak. Momen inersia ini yang disebut malas.

Demikianlah kita merumuskan kemalasan secara positif. Rasa tidak aman dan nyaman dalam manusia adalah alarm tanda bahaya. Ekspresi perasaan mungkin muncul dalam rasa takut. Ketika kita berhadapan dengan hal baru, ketakutan menjadi hal lazim. Naturnya memang seperti itu. Ia bikin kita waspada.

Akibatnya, kita memilih diam dan menjauhi sesuatu itu. Kita malas mendekati hal-hal yang dianggap mengancam. Dalam hal ini, kemalasan hadir sebagai penjaga. Artinya, tidak selamanya kemalasan itu tampak negatif.

Malas sebagai Perlawanan

Paul Lafargue menulis buku yang judulnya menggelitik. Hak untuk Malas. Kutipan sajak dari Gotthold Ephraim Lessing (1729-1781), sastrawan asal Jerman, dimulai dengan, ”Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malas.” Marx memulai manifesto terkenalnya, ”Ada hantu bergentayangan.” Lalu Lafargue, ”Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja.” Khayalan adalah kecintaan berlebihan pada kerja.

Sepanjang buku ia mencaci-maki kerja sebagai sumber penderitaan manusia. Kita harus pahami konteksnya berbicara adalah masyarakat kapitalisme. Pemujaan terhadap kerja yang justru mengakibatkan kelebihan produksi. Ada banyak barang, tetapi tidak ada yang  bisa beli. Akhirnya toko-toko pailit dan tutup. Krisis ekonomi dan bencana kelaparan adalah akhirnya.

Walau demikian, kelas pekerja tetap berhasrat pada kerja. Lafargue menengarai para pendeta dan intelektual sebagai kambing hitam. Dengan legitimasi teologis dan filosofis, mereka berkata hanya dengan bekerja maka penderitaan berakhir. Mereka mengujarkan bekerja adalah kewarasan mutlak manusia. Kita ingat kalimat yang terkenal, ”Tidak bekerja, jangan makan!”

Dalam konteks ini Lafargue memuja Dewa Kemalasan. Ia merindu dunia diperintah oleh rezim kebersantaian. Ia percaya puncak peradaban manusia muncul dari kemalasan. Aristoteles dan Plato tidak mungkin menelurkan filsafat hebat jika harus memintal kapas. Origen tidak mungkin menulis begitu banyak buku kalau sibuk mengurusi mesin pabrik.

Oleh karena itu ia memandang kerja, dalam rezim kapitalisme, adalah kemunduran peradaban. Untuk membuat dunia lebih baik, ia mengusulkan agar dunia memperbanyak waktu bermalas-malas. Misalnya minum kopi, nonton konser, aktivitas seni, dan sebagainya. Menurutnya, semakin banyak beristirahat, semakin manusia produktif dan kreatif.

Lafargue mengajukan proposal manusia bekerja tiga jam sehari. Seandainya tentara, politikus, dan kelas borjuis turun ke pabrik, maka target itu dapat dicapai. Dengan catatan, produksi dibatasi untuk memenuhi kebutuhan saja. Bukan untuk mencari nilai lebih.

Lafargue menyalahkan kelas pekerja. Baginya, kesadaran semu mencemari pikiran mereka. Kelas proletar terlanjur mencandu agama baru: kerja. Untuk mengalahkannya, ia menyerukan agar buruh menuntut hak kepada dunia. Hak apa? Hak untuk malas! Kita berhak untuk malas! Jangan mau dicekoki bahwa kerja adalah keharusan. Fakta sudah membuktikan bahwa semakin kelas pekerja mengisap opium kerja, penderitaan kian mendera.

Dalam penafsiran saya, Lafargue ingin menyerukan bahwa wabah dunia ini berakhir jika kelas pekerja menyudahinya. Mereka harus berani bersatu untuk malas serentak. Malas datang ke pabrik. Malas bekerja dua belas jam sehari. Malas mengemis kepada borjuasi. Malas patuh pada semua kesadaran palsu. Malas untuk tabah dan bersyukur atas segala penderitaan.

Mereka harus malas karena itulah satu-satunya cara untuk melawan!

Merajut Malas yang Alkitabiah

Tugas utama orang Kristen adalah melakukan restorasi atas tatanan dunia. Pada mulanya, Tuhan mencipta alam semesta ini baik adanya (Kejadian 1). Lalu dosa merusak tatanan baik itu. Dosa pertama adalah manusia menihilkan eksistensi sesamanya (Kejadian 4). Itulah yang terjadi sekarang. Kapitalisme menciptakan tatanan berengsek. Akibatnya, dunia menjadi kandang exploitation de l’homme par l’homme. Manusia terdegradasi menjadi hanya sebatas alat produksi (dehumanisasi). Human being, katanya, sudah tereduksi menjadi human doing.

Kita harus menarik kembali tatanan dunia ini menjadi adil seperti pada era kitab Amsal ditulis. Hanya dengan cara ini Amsal kembali relevan.

Tangan kapitalisme adalah perpanjangan tangan iblis. Ini mengancam kemanusiaan kita. Ia mengekang kebebasan kita. Alkitab mengatakan kehadiran Roh Kudus harus ditandai dengan kemerdekaan (2 Korintus 3:17). Ini seharusnya mengganggu zona aman dan nyaman kita. Seharusnya, konflik batin itu harus terus berkecamuk kuat dalam diri kita. Namun, kesadaran palsu yang disuntikkan kapitalisme tampaknya berhasil meredam kontradiksi internal itu. Akibatnya, kita tidak takut pada kapitalisme. Kita berusaha mencari cara untuk berdamai dengannya. Alih-alih melawan, kita mencoba berbagai teknik untuk beradaptasi. Ini keliru karena mengingkari kehadiran Roh Kudus!

Dalam pemahaman Aquinas, kemalasan dapat kita tarik ke kutub positif. Ia dapat menjadi penjaga terhadap bahaya. Kemalasan membuat kita enggan mendekati hal baru dan dianggap mengancam. Kapitalisme itu pengganggu. Ia menindas. Ia membuat banyak orang menjerit kesakitan. Telinga Tuhan selalu bersendengan kepada jeritan rakyat tertindas (Keluaran 3:7). Dengan begitu, seharusnya kita enggan bersentuhan dengan sistem ini. Kita harus lembam di hadapan struktur ini. Harus benar-benar malas berurusan dengannya.

Kapitalisme sudah mengingkari kodrat manusia untuk menikmati dunia (Kejadian 2:16). Kapitalisme sudah mengasingkan kita dari alam semesta. Ia memaksa kita untuk bekerja dan bekerja. Pergi ke bioskop untuk menonton film receh komodifikasi Hollywood karena kita terlalu capai untuk meresapi sastra. Pikiran kita terlalu lelah untuk menikmati puisi. Mata kita terlalu sayu untuk menikmati bintang dan rembulan malam. Kita lupa menikmati alam ciptaan Tuhan. Karena itu kemalasan radikal harus dideklarasikan. Kaum buruh sedunia, bermalaslah!

Apakah kita punya nyali?

*

Penulis adalah pegiat Selasaan

Ilustrasi Mendekap Sayap Sendiri (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogya.

read more
TERASWARA-WARA

Di Mana Sebenarnya Tempat Ideologi dalam Kehidupan Kita?

foto diskusi UIN

Catatan diskusi publik: Membincang Kembali Ideologi Indonesia

UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Tangerang

Jumat 26 Oktober 2018

Diskusi menghadirkan narasumber Prof Dr Mochtar Pabottingi, Prof Dr Azyumardi Azra, Prof Dr Siti Musdah Mulia, Radhar Panca Dahana. Dan moderator Ahmad Rifki.

Prof Dr Azyumardi Azra

Dengan pluralitasnya, Indonesia beruntung memiliki ideologi Pancasila. Di belahan dunia lain, banyak negara berada dalam situasi ribut terus. Sektarianisme tumbuh subur. Politik identitas sukar dikendalikan. Penetrasi ideologi-ideologi transnasionalisme mengakibatkan rusaknya sendi-sendi persatuan pada banyak bangsa (nation-state).

Sejak 1978, hingga kini, Afghanistan masih berada dalam situasi perang.  Mesir, sejak era  Nasser hingga Mubarak, tidak berubah keadaannya. Antara Islamisme dan idelogi-ideologi yang dianut tak mampu menciptakan kerukunan, justru perang. Paham transnasionalisme mengakibatkan sikap-sikap sektarian yang keras. Akibatnya civic education tidak berjalan.

Pancasila adalah gabungan dari tiga arus dasar ideology. Satu, akar ideologi yang bersumber dari kearifan local. Dua,  gagasan-gagasan mengenai Islam politik. Tiga, gagasan-gagasan filosofis-ideologis pada tingkat internasional. Ketiga gagasan tersebut bertemu dalam Pancasila.

Baik secara agama maupun budaya, Pancasila memiliki landasan yang kokoh. Di Indonesia, Pancasila dapat mengakomodasi keragaman budaya dan agama. Dalam rumusan finalnya, Pancasila  mendukung semangat Islam Washatiyah.

Bahwa ada kegaduhan sosial yang terjadi di Indonesia belakangan, dipastikan bersumber dari luar. Lalu, apa yang terjadi dengan Pancasila sebagai ideologi? Masih relevankah Pancasila? Dari segi kohesi sosial, Pancasila sangat relevan. Buktinya sudah 73 tahun Pancasila masih bertahan.

Ada yang tidak setuju Pancasila, itu pasti. Politik kita tidak lagi ideologis tetapi bergerak dengan dasar pragmatisme dan oportunisme politik. Yang menyangga Indonesia sudah pasti Pancasila. Masalahnya, kita sedang menghadapi tantangan, di antaranya kesenjangan antara kenyataan sosial hari ini dengan cita-cita besar yang terbuhul dalam sila-sila Pancasila.

Yang jelas dominan adalah pengamalan sila pertama, meski kita dapat bertanya, apakah kita benar-benar telah berketuhanan yang Mahaesa? Kita baru saleh secara personal. Belum saleh secara sosial. Begitu juga dengan sila Kemanusiaan. Keadaban publik kita rendah. Pancasila tidak berhasil menciptakan civic-culture dalam masyarakat.

Oleh karena itu, Pancasila mesti direjuvenasi (peremajaan kembali). Pemahaman terhadap Pancasila diremajakan seiring zaman yang berubah. Kekuatan sosial budaya kita lebih moderat, meski dari waktu ke waktu mengalami gangguan. Sebagai contoh, yang dibakar adalah bendera, tetapi yang dipahami adalah kalimat tauhid.

Prof Dr Mochtar Pabottingi

Apakah kita serius menjadi Indonesia? Atau hanya kebetulan menjadi manusia Indonesia? Jika serius, kita pasti punya pemahaman yang kuat tentang Indonesia. Siapakah saya sebagai bangsa?

Ada dua pengertian bangsa. Pertama, bangsa dalam pengertian sosiologis. Kedua, bangsa dalam kategori politik. Ideologi tidak bisa dilepaskan dari negara bangsa. Orang baru bicara ideologi sejak munculnya konsep negara bangsa.

Tempat ideologi terletak pada rumusan paling bermakna dalam hidup manusia yang berakal budi. Kegeniusan para pendiri bangsa terletak pada rumusan tentang jati diri bangsa. Mereka menyimak sejarah sampai ratusan tahun ke belakang dan merefleksikan ratusan tahun ke depan. Setelah melakukan refleksi yang dalam, barulah kita memiliki rumusan yang dalam tentang manusia Indonesia.

Pancasila adalah “wahyu” dari Allah. Pancasila bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, tapi justru aktualisasi dari nilai-nilai Islam itu sendiri. Sulit sekali bagi kita untuk mengganti Pancasila.

Prof Dr Siti Musdah Mulia

Jangan sampai ideologi Pancasila menjadi ideologi yang tertutup seperti pada masa Orde Baru. Masih relevankah sila-sila dalam Pancasila? Di manakah dasar hukum yang menetapkan Pancasila sebagai ideologi Negara? Tentang ideologi ini, apakah seluruh masyarakat Indonesia mengerti tentang ideologi?

Ada 3 kelompok di Indonesia terkait dengan ideologi:

  1. Kelompok yang menolak Pancasila,
  2. Kelompok yang menerima Pancasila,
  3. Kelompok yang tidak peduli lagi dengan ideologi Pancasila.

Ada kelompok yang menerima Pancasila, tetapi tidak mengamalkan Pancasila sama sekali. Civic education kita lemah. Kita sibuk berdebat tentang bendera bertuliskan kalimat tauhid ketimbang berdebat tentang air bersih dan masalah transportasi. Keberhasilan Pancasila dapat dilihat dengan indeks demokrasi Indonesia.

Unsur-unsur dalam Indeks Demokrasi Indonesia dengan ukuran sebagai berikut: 1) Aspek kebebasan sipil, 2) Nilai-nilai keadaban, dan 3) Institusi/kelembagaan.

Parta-partai politik tidak punya kader. Lembaga-lembaga legislatif tidak mampu melahirkan regulasi yang memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Pancasila masih diharapkan menjadi pijakan dasar dalam kehidupan kewarganegaraan. Problemnya, bagaimana mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Radhar Panca Dahana

Sila Ketuhanan dan sila Kemanusiaan dalam Pancasila tidak dipahami dan tidak diamalkan. Apakah ideologi bekerja dalam kehidupan keseharian kita? Saya belum pernah mendapatkan bukti aktual-historis tentang kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2018. Generasi Orba adalah generasi yang pendek imajinasi. Dosa terbesar Orba adalah membatasi imajinasi rakyatnya.

Seberapa dalam ideologi dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia? Tidak ada yang tahu. Ideologi tidak bekerja dalam kehidupan kewarganegaraan kita. Menurut saya, ideologi itu makhluk asing kalau tidak dipaksakan. Kita hanya punya idea, belum ideologi secara rigid.

Sebagai ideologi, Pancasila tidak punya naskah akademik. Apakah penjelasan founding fathers tentang dasar pemikiran Pancasila dapat menjelaskan pemahaman tentang Pancasila? Apakah dasar negara yang disusun itu masih bisa kita gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan mutakhir kita?

Bantahan Prof Mochtar terhadap pemaparan di atas:

Ketiadaan prinsip kemanusiaan dalam kehidupan sosial kita yang ditegaskan oleh RPD tidak dapat disimpulkan dari kasus-kasus ekstrem. Jumlah orang Indonesia yang mengamalkan nilai-nilai kemanusiaan dalam laku keseharian masih lebih banyak dari orang-orang yang tidak berprikemanusiaan. Dalam diri saya ada determinasi Pancasila. Misalnya, pengalaman-pengalaman saya selama di luar negeri (AS) ketika saya bergaul dengan orang-orang nonmuslim di sana. Pergaulan saya dipandu oleh Pancasila, terutama tentang prinsip kerukunan antarumat beragama.

Pada bagian akhir Prof Mochtar mengutip filosofi pahlawan nasional dari Manado, Ram Ratulangi, si tou timou tumow tou. Artinya, manusia baru dapat disebut sebagai manusia jika sudah dapat memanusiakan manusia.

Sesi tanya jawab

Julia Suryakusuma

Sila-sila Pancasila harus dioperasionalisasikan. Agenda di balik topik ini adalah demokratisasi. Demokrasi hari ini tidak fashionable lagi. Kita harus melihat apakah dunia sekarang lebih baik atau lebih buruk. Apa kepentingan dari diskusi ini sebetulnya? Ideologi terlalu abstrak bagi masyarakat.

Mahasiswa UIN Jakarta 1

Saleh personal dan saleh sosial. Sila pertama tidak diamalkan. Bagaimana mengembalikan kesaktian Pancasila?

Mahasiswa UIN Jakarta 2

Kenapa Pancasila ditafsirkan secara berbeda-beda pada setiap era?

Jawaban

Prof Musdah Mulia

Masalah ideologi memang tidak perlu dibicarakan secara tuntas.

Prof Azyumardi Azra

Pancasila tidak menolak agama dan budaya lokal. Pancasila jangan disakralkan, tetapi harus diaktualisasikan. Harus ada vernakularisasi nilai-nilai Pancasila. Sebetulnya, semua syariah dijalankan oleh orang Islam. Ada atau tidaknya negara.

Prof Mochtar

Pancasila tidak pernah sakti. Saya pernah tulis pada tahun 1977, Pancasila dan Demitologisasi. Yang sakti adalah manusia-manusia yang mengamalkannya. Kita harus optimis. Wabah akan berlalu. Di medsos orang tidak atau jarang melakukan refleksi. Yang ada adalah reaksi. Orang tidak percaya pada otoritas.

Komentar

Ibu Syamsiah Achmad

Apakah yang dimaksud dengan membincang kembali ideologi Indonesia? Saya dididik oleh orangtua untuk respek pada orang lain. Saya sangat percaya bahwa ketuhanan yang maha esa adalah prinsip-prinsip yang saya yakini. Saya sudah menjalani dan mengamalkan Pancasila. Saran saya kita harus lebih sering membahas masalah ini. Bukan hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.

Bapak HS Dillon

Yang paling utama ideologi kita adalah anti penjajahan. Belakangan terjadi pendangkalan kehidupan bangsa. Yang kita bicarakan kembali sebenarnya adalah Indonesia. Kita boleh menghadapi perkembangan zaman dengan cara apa saja, tapi yang kita pegang adalah nilai-nilai yang bisa mempersatukan semuanya. Saya diberi kesempatan berbicara di forum ini adalah bentuk pengamalan Pancasila.

Damhuri Muhamad, 29 Oktober 2018

read more
OASETERASWARA-WARA

Cerita-Cerita dari Sekolah Minggu

sekolah minggu oleh daniel nugroho

Awal kepengarangan saya mungkin dimulai dari Sekolah Minggu (SM) di gereja. Di sinilah pertama kali saya berpengalaman sebagai pendengar. Dari cerita-cerita Kitab Suci yang dahsyat.

SM biasanya pagi hari Minggu. Maka hari libur itu adalah hari sibuk bagi keluarga Kristen. Bangun tidur, mandi, sarapan, buru-buru ke sekolah minggu.

Saya tidak ingat umur berapa pertama kali diantar ke SM. Dalam ingatan, SM adalah kegiatan sosial masa kecil yang mengasyikkan. Saya bengong ketika kakak pengasuh memberitahu bahwa kado seharusnya barang baru, ketika saya bawa tempat pensil bekas untuk teman yang berulang tahun. Pernah saya dites untuk menyanyi suara dua, malah menaikkan volume suara dua kali lebih keras. Setelah dewasa saya geli sendiri, paham kenapa si kakak langsung menarik wajahnya dari wajah saya, waktu itu.

Di mana pun kita bergereja di dunia ini, pasti ada layanan sekolah minggu. Menjadi anggota baru di gereja, anak akan ditanya usia. Berdasarkan usia itulah ia dimasukkan ke kelas tertentu. Tidak banyak. Mungkin 6-7 anak. Atau 10 anak. Bila terlalu banyak anggota, kelas akan dibagi dua.

Semasa saya kecil, SM terdiri dari Kelas Kecil, Kelas Tanggung, Kelas Besar. Ketika usia bertambah, maka anak akan dipindah dari Kelas Kecil ke Kelas Tanggung. Begitu seterusnya. Sampai ia tidak lagi berada di kelas SM. Karena sudah dewasa. Dalam tradisi gereja Baptis, SM masih ada sampai dewasa.

Naik kelas bukan berdasarkan kemampuan. Tapi berdasarkan umur. Kecuali ada hal-hal khusus. Dulu saya di Kelas Besar, ada kawan yang dari fisiknya seperti murid SMA. Ketika dewasa saya paham bahwa kawan itu menderita penyakit ayan. Pada waktu-waktu tertentu dia akan terjatuh dari kursi, tergeletak di lantai, mulutnya mengeluarkan busa.

Anak yang usianya 12 tahun, akan dimasukkan ke Kelas Remaja. Di sini kegiatannya lebih serius. Anak-anak diminta membaca Alkitab masing-masing, menghapal satu ayat, dan lain-lain.

Kegiatan di dalam kelas SM itu sederhana. Menyanyi, bermain, mendengarkan cerita. Kakak pengasuh bertugas berdoa.

Kakak pengasuh biasanya akan mengerjakan semua. Agar kelas SM-nya sejahtera. Kalau ada anak mau pipis, si kakak akan mengantar ke toilet. Kalau anak ngompol, kakak pengasuh akan membersihkan bekas pipis. Kalau anak menangis, kakak pengasuh akan melakukan apa saja agar tangisan reda. Kalau ada dua anak berkelahi, si kakak melerai, mengingatkan pesan-pesan moral kristiani ke dalamnya.

Lagu-lagu SM zaman dulu masih teringat sampai sekarang. Dan masih dinyanyikan oleh anak-anak SM zaman now. Lagu Nabi Nuh dan Istrinya, Ada Dua Jalan, Aku Anak Raja, Anak Sekolah Minggu, Kingkong Badannya Besar, Bapa Abraham, Hari Ini Harinya Tuhan, Zakeus Orang Pendek, Bila Bunyi Sangkakala, Burung Pipit yang Kecil, Dari Terbit Matahari, Dalam Tuhan Kita Bersaudara, Dengar Dia Panggil, dan lain-lain. Lengkap dengan gerakannya.

Alat musik menjadi hal penting lain di kelas SM. Itu bikin kelas bersemangat. Jadi minimal ada dua kakak pengasuh yang bertugas di kelas SM. Satu bertugas memimpin doa dan bercerita, satu lagi pemain musik. Alat musik yang dimainkan antara organ, tamborin, akordion atau piano. Minimal gitar atau okulele sudah pasti. Jarang kelas SM tidak ada musik.

Kakak-kakak pengasuh SM luar biasa baiknya. Mereka kreatif dengan sendirinya. Memutar otak agar kelas mengesankan buat anak-anak kecil. Agar minggu depan mereka muncul lagi di kelas. Maklumlah. Anak-anak kecil itu paling lama berkonsentrasi 5 menit.

Pada saat-saat tertentu kakak-kakak pengasuh membawa hadiah-hadiah kecil seperti permen, cokelat, pulpen, pensil. Siapa yang berani menyanyi di depan teman-teman, diberi hadiah. Siapa yang dapat menjawab pertanyaan kakak pengasuh, diberi hadiah. Siapa yang duduk manis tidak mengganggu teman selama di kelas, dipuji dan diberi hadiah.

Kejutan-kejutan kecil itu merupakan daya tarik bagi anak untuk datang dan datang lagi ke SM. Biasanya hadiah-hadiah dibeli dari kocek kakak pengasuh. Memang ada gereja yang mengkhususkan dana untuk itu. Hadiah yang paling sering zaman saya kecil antara lain bonbon atau tempat pensil.

Selesai waktu bernyanyi, tibalah waktu mendengarkan Firman Tuhan. Maksudnya, cerita. Cerita-cerita yang diambil dari Kitab Suci dan diolah sedemikian rupa sehingga cocok dikonsumsi dan dimengerti oleh pikiran anak. Dengan suara buatan, mimik dan gerak atraktif, diselipi guyonan khas anak, cerita akan berakhir sukses. Jangan sekali-sekali membacakan cerita dengan nada lempeng. Dalam dua detik saja anak-anak sudah bosan.

Kisah Adam dan Hawa. Pohon Pengetahuan Baik dan Benar. Bapa Abraham mempersembahkan Ishak. Daniel di Gua Singa. Sadrakh-Mesakh-Abednego di Dapur Api. Raja Daud. Salomo. Ratu Ester. Beragam kisah Yesus –Natal, Paskah, naik ke Surga. Lima Roti Dua Ikan sisa dua belas bakul. Zakeus Si Pemungut Cukai. Petrus dan Kokok Ayam 3 Kali.

Cerita-cerita itu dahsyat menurut saya. Cerita yang membuka cakrawala saya tentang dunia di luar keseharian saya. Tadinya saya pikir cerita-cerita itu karangan kakak pengasuh. Kelak saya sudah kuliah dan menjadi kakak pengasuh sekolah minggu, paham betapa mempersiapkan cerita yang bagus itu tidak gampang.

Saya takkan lupa ketika sesama pengasuh sekolah minggu berusaha melucu di depan anak-anak. Dahinya sudah berkeringat sementara anak-anak di kelasnya menonton dengan mulut terbuka. Tak paham. Di mana lucunya, mungkin begitu pikir mereka.

Obrolan-obrolan santai di warung dengan sesama pengasuh. Membicarakan tingkah-polah anak-anak di kelas. Menertawakan kebodohan-kebodohan diri ketika mengajar di kelas.

Sekarang ini kelas SM lebih canggih. Alat bantu lebih beragam. Ada panggung boneka, anak-anak bermain peran, rekreasi dan lain-lain. Gereja pun punya kurikulum  masing-masing. Begitulah cerita sekitar sekolah minggu.

Ngomong-ngomong soal RUU yang sedang hangat dibincang, bila rancangan itu berhasil diundangkan, maka cerita saya di atas takkan ada lagi. Pasalnya, setiap minggu kakak pengasuh sibuk menghitung jumlah 15 anak sebelum kelas SM dibuka. Penatua gereja sibuk bolak-balik ke Kantor Kementerian Agama/Kota untuk mendapat izin kurikulum SM. Kelas-kelas ditunda. Kakak-kakak pengasuh menunggu. Anak-anak termangu. Keburu waktu meninggalkan segala kesempatan menikmati satu dunia kecil ceria di gereja, bernama Sekolah Minggu.

Semoga para anggota dewan terhormat paham. (itasiregar/27/10/18)

 

*Gambar diambil dari danielnugroho.com

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Sang Ratu

400px-Esther

Ester,
bangunlah
pagi terang tanah
telah tiba saatnya
kau menjadi ratu atas bangsamu

kenakan kain kabungmu
jangan pupur pipimu
jangan gincu bibirmu
jangan celak matamu
bertaraklah
berdiam dirilah
tutup pintu kamarmu
menangislah semampumu
tetapi jangan sesali dirimu

karena hati raja seperti batang air
dialirkan ke mana Dia mau

Hei, Ester
lihatlah
ujung tongkat emas raja terulur kepadamu

apa yang kau inginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Tuanku Xerxes yang mulia
penguasa seratus dua puluh tujuh daerah
dari India sampai Etiopia
hambamu ini telah memeras anggur
yang legit rasanya hingga ke ubun-ubun
datanglah ke perjamuan hambamu
buktikan perkataanku benar
bersama tangan kananmu,
Haman orang Agag itu

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
betapa teka-teki perempuan
tak terselami para bangsawan

apa yang kauinginkan, permaisuriku
bahkan setengah kerajaan akan kuberikan kepadamu

Ester,
kau adalah Hadasa dalam bahasa negerimu
kekuatanmu hijau cemara musim dingin
matamu takjub
melihat mata rajamu tak berpaling darimu
melebihi mata pertama saat kau masuk balai pembaringannya
pipi tuanmu merekah seperti remaja dungu jatuh cinta
sementara kau mencuri pandang
air muka Haman yang kelewat gembira
saat sebuah pengertian tumbuh di hatimu

kemolekan adalah bohong
kecantikan adalah sia-sia

Tuanku Xerxes yang mulia,
tangan kananmu menikamku dari belakang
menusuk jantung bangsaku terang-terangan
membalas dendam belum tertuntaskan

O Ahura Mazda Sang Bijaksana
kutuklah aku
bila tak kusula pada tiang
pengkhianat di dalam istanaku sendiri

Ester, Ester,
tak pernah kau sadari
betapa lelaki jatuh cinta
akan melampaui kata-katanya sendiri
mempertaruhkan meterai kehormatannya

Dan kini, Mordekhai saudaraku
bersukalah
kelepasan telah datang
peranku telah kutunaikan
sebagai ratu

ita siregar/28/07/18

Lukisan Ester (1878) oleh Edwin Longsdem Long koleksi National Gallery of Victoria, Melbourne

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4