close

TERAS

OASETERASWARA-WARA

Sodom, Homofobia dan Paus

gay-tangan

Jika seorang gay dan dia mencari Tuhan dengan sepenuh hati, siapakah saya berani menghakimi dia? –Paus Francis

Ingat Sodom, ingat homoseksual. Dua kata serupa iklan saking keduanya terbenam dalam ingatan yang bertradisi Protestan ini. Apakah Sodom identik dengan kejahatan homoseksual?

Mari kita memeriksa kota purba Sodom.

Sedikitnya kata Sodom disebut 21 kali di Alkitab. Kebanyakan teks menganalogikan Sodom dengan segala hal yang tidak mulia. Ulangan 32:32, anggur dari Sodom beracun dan pahit. Yeremia 23:14, yang berzinah dan berkelakuan tidak jujur. Yesaya 13: 19, seperti Babel –kacau-balau. Zefanya 2:9, akan menjadi tempat penggalian garam dan tempat sunyi sepi sampai selama-lamanya. Yudas 7, yang melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar. Yehezkiel 16: 49, kesalahan Sodom adalah kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup, tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin.

Jadi, kota Sodom bukan melulu kejahatan homoseksual. Segala macam kejahatan, iya.

*

Allah menciptakan Adam dan Eve (Hawa). Bukan Adam dan Steve. Sebuah petunjuk bahwa sejak awal Allah menciptakan (pernikahan) laki-laki dan perempuan. Bukan laki-laki dan laki-laki.

Teks Kejadian 1:28,” Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”, kerap dijadikan pijakan bahwa itu adalah perintah Allah (dalam pernikahan) agar manusia beranak-cucu.

Coba kita runut dari awal penciptaan.

Kejadian 1:27, berbunyi, “Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambarNya diciptakannya dia, laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Kejadian 1:28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu; berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Lalu Kejadian Pasal 2. Di sini (seolah) terjadi pengulangan (penciptaan), namun hanya pada tiga  makhluk hidup, yaitu manusia, tumbuhan, binatang.

Berikut teks-teksnya:

Kejadian 2: 7, “Tuhan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Kejadian 2: 9, “Lalu Tuhan menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi.”

Kejadian 2: 19, “Lalu Tuhan Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara.”

Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Berdasar urutan di atas, teks Kejadian 1:28 tidak mengisyaratkan agar manusia berkembang biak (melalui perkawinan laki-laki dan perempuan). Tetapi agar manusia menguasai dan mengelola dan memenuhi tanah/bumi. Ingat, Adam dan Hawa belum “dihidupkan” oleh Tuhan Allah.

Teks Kejadian 2:24, bukan sebuah perintah agar manusia laki-laki dan perempuan menikah namun lebih pada pernyataan tentang penyatuan antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan. Artinya, manusia menikah atau melajang bukan hal yang dogmatis sifatnya. Itu keputusan pribadi manusia yang bersangkutan setelah melalui pertimbangan-pertimbangan.

*

Pekan lalu saya mengikuti diskusi bertajuk Tuhan, Anakku LGBT, Apa yang Harus Kulakukan. Ini kali pertama saya berada di lingkungan ini, dalam arti memahami apa yang sedang terjadi di kalangan mereka, mendengarkan pengalaman-pengalaman orang pertama.

Seorang muda Tionghoa, aktivis gereja, sejak belia sudah merasakan perbedaan dalam dirinya. Tidak berani membuka diri karena mengkhawatirkan perasaan orangtua. Lama menyimpan rahasia itu sendirian, memutuskan coming out (istilah mengaku identitas di kalangan LGBT) pada usia 25. Di luar dugaannya, respons orangtua hanya kaget pertama mendengar, setelah itu menerima keberadaannya. Ia membesarkan hati orangtua bahwa keadaan dirinya bukan karena kesalahan orangtua. Bahwa tidak ada yang berubah dalam relasi mereka setelah pengakuan ini. Selama ini ia menjalani selibasi dan merasa hubungannya baik-baik saja dengan Tuhan.

Samuel Mulia, kolumnis di koran harian, salah satu narasumber, berbagi pengalaman yang segar. Keluarganya cukup demokratis, bahkan ayahnya membebaskan dia melakukan apa yang dia inginkan, selama ia dapat bertanggung jawab dengan pilihannya. Ziarah perjalanan rohaninya dengan Tuhan sebagai gay, menghidupkan cerita, dan sungguh bermakna. Tidak ada yang salah hidup sebagai gay.

Pengalaman seorang ibu dengan anak transgender sungguh melelehkan hati yang beku. Ia dan suaminya –yang adalah penatua- luar biasa kaget saat mendengar salah satu anaknya coming out pada usia 17 tahun. Mereka sangat bingung bagaimana merespons ketika anaknya berkata bahwa dia sebenarnya perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Lebih bingung karena tidak ada tempat berbagi. Keluarga besar tidak. Apalagi gereja. Sangat lega mendengarkan dia tetap dan masih dan akan mengasihi anaknya yang itu.

Seorang aktivis menyebut data bahwa LGBT di Indonesia adalah fenemona gunung es. Mereka yang coming out hanya pada posisi puncak. Jumlah terbanyak justru berada di bawah gunung, yang tidak terlihat.

Sayang sekali mendengar pernyataan seorang psikilog yang mengatakan bahwa di kalangan mereka pun belum sepakat dalam hal melayani LGBT. Padahal sebagai intelektual mereka diharapkan menjadi jembatan antara masyarakat dan kalangan LGBT untuk saling memahami. Menyedihkan mendengar pengalaman seorang individu dengan orientasi homoseksual yang berada di ruang konsultasi, malah dinasihati untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

Mungkinkah ruang-ruang nyaman bagi LGBT diciptakan pada tingkat keluarga, sosial, Negara?

*

Dan baru saja saya mendapat lontaran pesan di dinding WA saya. Tulisan seorang ahli saraf. Judulnya provokatif, Mari kita basmi bersama (maksudnya LGBT). Dia menorehkan ingatan dengan segala informasi negatif tentang LGBT. Himbauan agar setiap keluarga mengamankan anggota keluarga dari dari serangan LGBT.

Tulisan itu memberi isyarat bahwa sebagian besar masyarakat dan gereja bersikap homofobik terhadap masalah ini. Pada beberapa kasus pada tingkat banal dan traumatik.

Homofobia adalah diskriminasi, ketakutan, dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Bentuk yang muncul dari ketakutan adalah tindak kekerasan atau penolakan terhadap mereka.

Diskriminasi terhadap LGBT kebanyakan didasarkan atas ketakutan karena kurangnya pengetahuan, merasa diri lebih baik daripada mereka, tidak mau tahu dan langsung menghakimi. Mungkin ingatan mereka yang dimulai dari duo Sodom-homoseksual, perlu sedikit demi sedikit dikikis. Kitab suci berkata, di mana ada ketakutan, di situ kasih lenyap.

Pengarang Narnia, C.S. Lewis, menulis sesuatu yang indah tentang iman. Ia berujar bahwa iman adalah sebuah proses perjalanan hidup dan proses dialogis dengan Tuhan dan dengan diri sendiri. Keraguan adalah bagian dari iman. Mempertanyakan akan membuat kita mencari tahu, tidak berhenti di tempat. Iman sejatinya selalu bertumbuh.

Paus Francis, bapa suci umat Katolik, telah menyerukan agar kita tidak menyingkirkan mereka ke pinggiran. Kita seharusnya menerima mereka sebagai bagian dari masyarakat. Seyogyanya pula kita menyambut seruan itu dengan sepenuh kemanusiaan kita.

Kalau Yesus pernah bertanya kepada Petrus yang tiga kali menyangkal, dengan tiga pertanyaan sama, apakah kamu mengasihi Aku, perlu berapa kali Yesus bertanya kepada kita pertanyaan sama, sampai kita menerima seorang dengan LGBT di tengah kita?  (itasiregar10/10/2018)

 

 

 

read more
PuisiTERASWARA-WARA

Hari Minggu Ramai Sekali

wajah orang-orang bergegas (2018)

Puisi-Puisi Eko Poceratu

HARI MINGGU RAMAI SEKALI

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong bernyanyi, “Hujan Berkat ‘kan Tercurah”
Aku wakili anak dan istri supaya dapat berkat lalu kubagi-bagi
Aku datang dengan rapih, kemeja yang mahal, sepatu yang mahal, supaya Tuhan terkesima, siapa yang tiba,
Aku datang dengan amplop khusus, supaya Tuhan lirikkan matanya pada siapa yang membanting sepatu dipintu masuk
Supaya Tuhan menyuruh malaikat-malaikatnya memberi sapaan yang pantas dan lembut

Hari minggu ramai sekali
Semua orang berbondong-bondong pergi berdoa
Aku tinggalkan istri tersayang sebab Tuhan yang utama, sebab istri takkan bisa memberi berkat selain memberi anak dan anak sepanjang masa
Aku tinggalkan anak terkasih, sebab Tuhan yang lebih kukasihi, sebab anak hanya menimbulkan masalah, menghabiskan uangku di bank, sebab anak tidak bisa memberi berkat selain menghabiskan berkat yang sudah Tuhan berikan setiap saat
Aku tinggalkan tugas kantor, sebab Tuhanlah sumber sejahtera, direktur tidak dapat membayarku mahal, direktur tidak bisa cepat menaikkan gaji, tetapi Tuhan dapat melipatgandakan gajiku setiap hari

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang begitu ramah, mereka saling menyapa
Mereka membawa alkitab yang besar supaya bisa selipkan banyak uang
Mereka bawa tas yang besar supaya Tuhan tahu mereka orang berada
Aku bawa alkitab yang sedang-sedang saja, sebab yang utama bagi Tuhan bukanlah ukuran alkitab melainkan ukuran kolekta, persembahan yang wah, sebab malaikat-malaikatnya akan tersenyum bila persembahanku berbau wangi, sebab malaikat-malaikatnya akan melayaniku dengan baik bila persembahanku berbau narwastu
Mereka akan merawat istri dan anakku ketika sakit bila amplopku lebih dari satu

Aku pakai celana yang banyak sakunya, kemeja yang banyak sakunya, supaya semuanya terisi dengan uang. setibanya tiba di gereja aku akan bagikan kepada orang lain, supaya Tuhan tahu firmannya tidak sia-sia, aku perlabakan uang, maka Tuhan gandakan pahalanya,

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menunduk kepala saat lonceng berbunyi, sebab mereka sedang menerima pengampunan yang suci,
Aku tidak menunduk kepala, bagaimana mungkin Tuhan melihat wajahku bila aku begitu, biarkan Tuhan melihat kita supaya sebentar malam dia lemparkan berkatnya di atap rumah,
Orang-orang membuka tangan mereka lebar-lebar saat penerimaan berkat
Aku membuka tangan dan kakiku lebar-lebar, sebab Tuhan akan memberi berkat yang banyak dan tangan saja tidak cukup, aku juga membuka dada supaya berkatnya turut masuk disana, aku juga buka otakku supaya berkatnya masuk dan berkarya, supaya nantinya aku bisa pandai berbisnis, supaya nantinya aku bisa berbagi dengan kaum miskin

Hari minggu ramai sekali
Orang-orang menyanyikan lagu “Hari minggu hari yang mulia”
Aku wakili istri dan anakku supaya dapat berkat dan kemuliaan, sebab hari minggu adalah hari menanam benih, siapa yang menanam banyak akan menuai seratus kali lipat,
Wah!

Ambon, 21 Juli 2013

 

MIMPI SEORANG JEMAAT DI GEREJA

Dari sekian jemaat yang baik, duduk seorang penjudi di kursi paling depan gereja. Itu aku. Minggu benar-benar ramai, penuh orang muda di tanggal muda. Nyanyian-nyanyian agak panjang tidak berhasil membawaku pada kesimpulan akan hidup. Kita menarik napas dan menghembus dalam kata-kata tanpa bisa melakukan kebaikan nyata, rasanya palsu, itu juga aku.

Kita berdoa sangat lama hingga hilang konsentrasi lalu berimajinasi di atas kasur atau curi beras di swalayan,  tapi doa belum juga berakhir. Baru kusadari bahwa doa dapat lebih lama daripada menunggu empat angka keluar dari Singapura.

Pendeta berkotbah, lama. Paduan suara bernyanyi, lama. Aku tertidur nyenyak dan bermimpi, bertemu seorang lelaki berjubah putih. Dari tangannya ia serahkan papirus lebar. Ada delapan angka,  4646, 1616. Aku mendadak terjaga oleh nyanyian tiga perempuan di samping kanan mimbar.

Kolektan mengambil uang-uang dari saku-saku dan buku-buku tangan jemaat dengan tiga kantong sekali jalan. Aku tak punya uang untuk Tuhan hari ini, mampus aku. Aku berjalan keluar, dan semua orang memandang. Akulah pelarian seperti Yunus. Berjalan dengan tatapan lurus di jalan seribu belokan. Nyanyian jemaat semakin keras. Langit bergemuruh. Angin menjatuhkan bunga-bunga bougenville di halaman gereja.

Aku berlari masuk pasar apung. Bertemu Anji Mangkasa, kawanku. Kubisik empat angka di telinga kirinya, dan empat angka lain di telinga kanannya.  Aku minta dia pasang taruhan. Orang-orang ramai di depan bandar. Nyanyian “Haleluya-Haleluya” masih bisa kudengar. Aku melihat kata-kata dan angka-angka lebih dicintai di luar gereja. Orang-orang memuja dan percaya pada angka. Orang-orang tunggu hasil taruhan dan tidak tunggu Tuhan.

Anji Mangkasa berbisik di telingaku. “Ko tembus empat angka Hongkong dan empat angka Singapura.  Jitu”.  Aku berseru, “Haleluya, Amin”. Di tanganku, ada uang berjuta-juta. Aku lari ke gereja. Pelataran  yang sudah tidak bersih, penuh bunga dan daun gugur. Angin tersisa sedikit tapi lagu masih terdengar, “persembahan kami, sedikit sekali, kiranya Tuhan terimalah dengan senang hati”.

Kantong-kantong kolekta sudah penuh. Aku menuju meja  dan meletakkan seluruh uangku di kotak pembangunan gereja. Lagu berhenti. Orang-orang memandangku penuh senyuman. Seolah-olah aku baru saja diterima dalam persekutuan. Pendeta memandangku, dari altar yang tinggi.  Ia mengajak jemaat: “Mari kita berdoa”.

Itu, aku.

Awunawai, 6 September 2017

 

Eko Saputra Poceratu adalah penyair muda dari Ambon. Ia diundang ke Jakarta menjadi narasumber Festival Sastra & Rupa Kristiani pada 23-25 Agustus 2018. Buku puisinya -salah duanya puisi-puisi ini – akan diterbitkan oleh Litera.id.

Gambar berjudul Wajah-Wajah yang Bergegas (2018) oleh Surajiya, perupa asal Yogyakarta.

 

read more
FeaturedOASETERASWARA-WARA

Makan-Minum: Sebuah Drama Hidup dan Mati

Buah- buah Kehidupan

Teks Krisma Adiwibawa
Gambar Surajiya

Pada satu malam saya merasa lapar. Persis waktu itu saya baru saja memasang aplikasi finansial di hape saya.

Aplikasi tersebut memberi beberapa benefit. Bila saya membeli makanan, uang sekian persen dari total belanja akan secara otomatis masuk ke dompet daring saya. Prosentasi itu menjadi lima kali lipat bila saya memakai kartu kredit bank tertentu. Wah, untung, saya pikir.

Supaya lebih untung, saya mengajak kawan. Makanan yang sudah didiskon, dibagi dua. Jadi demi diskon besar dan perut kenyang, saya menerjang kemacetan malam lalu lintas Jakarta, pergi ke rumah teman saya.

Makan adalah sebuah fakta kehidupan. Setiap makhluk hidup butuh makan. Tidak makan sama saja membiarkan diri kelaparan, lalu mati. Jadi makan adalah soal hidup dan mati.

Mengapa Allah mencipta sebuah dunia yang setiap makhluk di dalamnya perlu makan? Apa relasi makan dan minum dengan iman? Pertanyaan sepele. Dan saya belum pernah mempersoalkan. Padahal Alkitab ratusan kali mencatat kata atau peristiwa makan-minum.

Balik ke cerita saya di atas. Waktu itu kami membeli banyak sekali makanan. Daging, ikan, udang, kepiting, sayuran, jejamuran, telur, nasi.

Saya melihat itu semua. Saya pikir, tanpa makan(an), saya akan mati (tidak langsung saat itu tentu saja). Tetapi agar saya hidup (baca: makan), ada makhluk hidup lain harus mati. Kehidupan bergantung pada kematian. Dengan kesadaran tersebut, sebagai pemakan, manusia adalah sentral dalam kelit kelindan drama hidup dan mati.

Tokoh drama dalam rantai makanan cukup banyak. Kita berhubungan dengan tumbuhan dan hewan yang kita makan. Dengan tanah tempat tumbuhan dan hewan hidup. Dengan petani yang menanam padi dan sayur-mayur. Dengan peternak. Dengan kawan makan. Dengan keluarga di meja makan. Dengan Allah.

Bagaimana menjelaskan ini secara iman Kristen?

Cara kita berpikir tentang makan-minum tergantung cara kita melihat dunia. Bagi sebagian orang, dunia adalah alam semesta. Alam semesta mencakup planet-planet, termasuk bumi. Bumi memiliki berbagai fenomena alam seperti hutan, laut, gunung, tumbuhan, hewan, bakteri, dan sebagainya.

Sementara Iman Kristen menyebut alam semesta adalah ciptaan. Penciptanya: Allah. Keberadaan semua benda pada alam semesta berada dalam kuasa-Nya. Gerakan-gerakan yang terjadi pada alam semesta merupakan pemeliharaan-Nya. Tujuan alam semesta adalah kepada-Nya. Jadi Allah adalah sumber, pemelihara, dan tujuan dunia ini.

Konsep ini dikenal dengan istilah perikoresis. Dalam konsep Allah trinitaris, Allah digambarkan sebagai tarian abadi dari Bapa, Putra, Roh Kudus. Konsep ini digambarkan dengan tiga lingkaran yang saling berpaut satu sama lain, saling memberi ruang sembari mengambil ruang yang lain. Dari sana muncul istilah interpenetrasi atau saling memasuki. Tiga pribadi menyatu tanpa kehilangan keunikan masing-masing dan tidak melebur menjadi pribadi yang lain.

Basil the Great, bapa gereja, menjelaskan Allah sebagai pencipta, perawat, dan penebus dunia. Alam semesta sebagai tarian abadi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Sebagai tarian abadi, penciptaan tidak dilihat sebagai kejadian statis masa lampau melainkan sebuah proses yang sedang berjalan. Dalam kadar tertentu, manusia atau makhluk hidup berpartisipasi dalam proses penciptaan karena terikat pada trinitaris Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Allah mencipta dunia? Karena Allah memberi ruang dalam diri-Nya bagi yang lain. Ia memberi ruang bagi dunia untuk ada. Makhluk adalah anggota dari himpunan ciptaan.

Jadi, melalui kacamata trinitaris, makan-minum bukan semata-mata untuk bertahan hidup. Tetapi upaya berbagi dan memelihara kehidupan.

Arti lainnya, hidup tidak memberhalakan makanan. Menganggap makanan sumber hidup. Makan dan minum adalah bukti kita tidak dapat hidup tanpa pemeliharaan Allah.

Dalam budaya Alkitab, roti adalah simbol makanan. Makanan digambarkan sebagai keberuntungan dan keamanan. Yusuf menghindari Mesir karena kelaparan. Tuhan memberi manna kepada orang Israel di padang gurun.

Dalam bahasa Inggris, pencari nafkah disebut breadwinner. Roti menggambarkan rezeki. Berikanlah kami makanan kami …’ dalam doa Bapa Kami diterjemahkan berikanlah kami rezeki … pada beberapa terjemahan.

Peristiwa terkenal dalam Injil menyoal makan adalah Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Setelah itu khalayak ingin menjadikan Yesus raja (Yohanes 6:11). Ini disebabkan mereka melihat Yesus mampu memproduksi makanan sesuai permintaan pasar.

Tetapi Yesus menghindar. Makanan yang ingin Ia berikan kepada mereka adalah makanan yang memberi hidup kekal. Ia berkata, Ia adalah air kehidupan, siapa yang meminumnya tidak akan haus lagi (Yohanes 4).

Dalam satu peristiwa Perjanjian Lama, Abraham sedang santai. Ia melihat tiga orang dekat pohon tarbantin di dekat kemahnya. Ia menahan mereka untuk mampir. Ia mengundang mereka makan bersama (companionship) (Kejadian 18:3-5). Companion berasal dari kata com (dengan) dan panis (roti). Jadi, makan bersama artinya orang yang berbagi roti. Roti menggambarkan rumah, keramahan, persekutuan (communion/koinonia), dan berbagi hidup.

Dalam dunia kapitalistik sekarang, kita terdorong menjadi abai terhadap proses pembuatan makanan. Kita tidak lagi terhubung dengan buruh pabrik produsen makanan. Dengan sistem sosial budaya. Dengan kerusakan-kerusakan alam yang timbul akibat produksi makanan.

Kita menerima begitu saja apa yang ditawarkan sebuah resto cepat saji. Selada organik. Daging sapi pilihan. Tanpa berpikir proses kerja yang terjadi.

Di Cina, demi memenuhi kebutuhan pangan manusia, peternakan ayam menjadi industri ayam. Telur-telur yang menetas tidak pernah terpapar sinar matahari. Paruh ayam dipatahkan seketika mereka keluar dari cangkang. Kepala mereka digantung pada mesin-mesin canggih. Alih-alih melihat makhluk sebagai anggota dari ciptaan, manusia melihat mereka sebagai materi kimiawi. Ayam, sawah, petani dianggap tidak bermakna. Sehingga boleh dimanipulasi semaunya demi kepentingan penyedia makanan.

Makan tidak lagi sebuah peristiwa persekutuan. Sebagai anggota ciptaan, tidak ada lagi rasa syukur karena dipelihara oleh pengorbanan anggota ciptaan lain. Makan tidak lagi menjadi peristiwa intim dengan sesama. Kita menjadi terbiasa makan makanan murah dan cepat, yang dimakan sambil menyetir.

Ngomong-ngomong, adakah makan-minum di Kerajaan Allah kelak? Kerajaan Allah dalam iman kristiani hadir di bumi. Iman Kristen percaya manusia akan dibangkitkan, termasuk fisik. Yesus setelah bangkit dari kubur makan dan minum bersama murid-Nya (Lukas 24:41).

Jadi makan-minum adalah persekutuan. Hubungan intim dengan sesama. Saling memberi dan menerima. Saling memberi ruang dan keramahan. Jika kita mengarahkan makan-minum pada tujuan-tujuan ini, kita sedang membuat cuplikan-cuplikan Kerajaan Allah yang akan datang itu. Cuplikan-cuplikan yang makin sering sampai persekutuan penuh dengan Allah, yang semua dalam semua (1 Korintus 15:28).

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018OASETERAS

Kekristenan dalam Sastra Indonesia: Aspek Lintas Budaya*

hari-unduh-unduh.foto antara

Teks disarikan dari pidato oleh Melani Budianta

Ketika Sabda menyeruak menjadi daging, masuk dalam keseharian melalui perantara bahasa. Bahasa memiliki tatanan nilai serta cara berpikir khas, yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain.
Sejarah kekristenan di Indonesia melewati banyak bahasa. Sedikitnya pada masa-masa awal bahasa Aramik, Ibrani, Yunani, Latin. Kemudian bahasa-bahasa Eropa. Lantas Asia. Barulah bahasa Indonesia. Lebih lanjut bahasa-bahasa suku yang ada di Indonesia.

Penerjemahan bahasa adalah penerjemahan budaya.

Penyebaran kristiani pun memakai jalur emporium Romawi. Dari Eropa ke Asia. Mereka datang bersama ekspansi ekonomi dan politik. Kekuasaan dan senjata. Termasuk relasi kuasa.
Tentang relasi kuasa yang datang satu paket dengan budaya, telah ditangkap oleh mata jeli Subagio Sastrowardoyo, dengan puisinya, Afrika Selatan.

Kristos pengasih putih wajah
-kulihat dalam buku injil bergambar
dan arca-arca gereja
Orang putih bersorak, “Hosanah!”
dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam
Sorga bukan tempatku berdiam
bumi hitam
iblis hitam
dosa hitam
Karena itu
aku bumi lata
aku iblis laknat
aku dosa melekat
aku sampah di tengah jalan

Sinterklas, salah satu warisan dari Belanda pun kita lestarikan. Piet hitam membawa karung dan sapu lidi. Tugasnya memasukkan anak-anak nakal -yang hitam- ke dalam karung. Tuan sinterklas memberi hadiah kepada anak-anak baik -yang putih.

Tema Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku dalam Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 ini semestinya menggugat semua praktik yang memperlakukan sesama secara berbeda. Karena kita melihat keragaman disuntikkan oleh cara pandang yang eksklusif. Menonjolkan etnosentrisme, melihat yang lain berdasarkan bias-bias dan nilai-nilai kelompok.

Tahun 2009 saya mengikuti forum Internasional mengenai sastra. Seorang pakar dari Italia (baca: Eropa) mengeluhkan bahwa seni kristiani mulai luntur. Peserta dari Afrika, Jepang, dan saya dari Indonesia, mempertanyakan seni kristiani yang mana yang dimaksudkan oleh si pakar?

Gereja-gereja di Eropa memang waktu itu telah ditinggalkan oleh kaum muda. Namun di belahan bumi yang lain seni kristiani sedang hangat bersemi. Bila kita berkeliling ke desa-desa di Tomohon, Manado, Jawa, Papua, kita akan melihat ekspresi kristiani yang berbeda. Di Bali misalnya, kita melihat kristiani bercorak hindu. Di Jawa ada Wayang Wahyu. Di Jakarta ada Keroncong Tugu -campuran Portugis, Sunda, Arab, dan yang lain. Di desa Mojowarno, Jombang Jawa Timur, ada tradisi undhu-undhu, mempersembahkan hasil bumi ke gereja pada saat panen raya.

Semua itu adalah kesenian. Praktik agama yang mengakar pada budaya lokal. Suatu hibriditas terjadi. Dominansi lukisan-lukisan senirupa barat melebur dalam dinamika lintas budaya dan mewujud aspek-aspek kristiani. Kita tidak hanya mengagungkan yang megah, mewah, gigantik, seperti di Barat. Dengan internalisasi etnosentrisme, kita pun menerima kesedehanaan patung Bunda Maria dari Pohsaran, Kediri Jawa Timur. Itulah keragaman yang merefleksikan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku.

Penyair WS Rendra juga pernah menggugat relasi kuasa melalui sajaknya, Nyanyian Angsa. Puisi itu berkisah pelacur yang diusir oleh majikan karena terkena raja singa. Malaikat maut tidak tersenyum kepadanya. Dokter menolaknya karena ia tidak mampu bayar. Pastor menganggapnya melulu dosa. Dan pada titik terendah, ketika tak seorang pun mau menerima, ia bertemu dengan seorang laki-laki tampan. Yang memeluk dan menciumnya tanpa mempertanyakan identitasnya. Ketika jiwa mereka bersatu si pelacur mengetahui bahwa tangan dan lambung laki-laki itu terluka.

Sekarang kita melihat sastra menjadi menjadi suara hati. Dengan sastra kita dapat menggugat diri kita sendiri dan praktik-praktik kuasa yang terjadi di sekitar kita. Mengkafir-kafirkan orang lain, merasa lebih suci daripada yang lain, sama dengan melupakan semangat Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku. Lukisan dan puisi Babel yang dipamerkan dalam Festival ini (karya Setiyoko Hadi, Red) menceritakan keadaan kita sekarang dengan baik. Bahwa masyarakat kita sekarang memberhalakan identitas dan agama di atas Tuhan itu sendiri. Kita mengkotak-kotakkan demi kepentingan eksklusivisme dan kepentingan masing-masing.

Bagaimana kita mampu melihat wajah Tuhan dalam wajah orang beragama lain?

Ibu Teresa dari Kalkuta telah memberi contoh yang indah. Mata spiritualnya mampu melihat orang-orang paling miskin yang sekarat seperti ia melihat wajah Tuhan. Ibu Teresa telah melakukan hal baik bagi kemanusiaan melampaui agaman dan suku dan golonga.

Di paroki tempat saya beribadah, saya melihat Romo Marini mengutip dua puisi sufi saat sakramen penguatan. Romo Marini yang sudah tinggi spiritualitasnya mewujudkan wajah Kristus pada wajah orang lain. Dan ia mampu melihat orang yang berbeda agama dan tinggi spiritualitasnya memiliki semangat yang sama.

Puisi sufi Abu Yazid

Lebih kupilih dirimu ketimbang rahmat dan kemurahanMu
Engkau sendirilah yang kudambakan
Kepadamu aku ingin sampai
Bukan yang lain
Datanglah kepadaku dan jangan membawa apa pun selain diriMu
Jangan menarikku untuk hadiah murahan atau yang lain
Membawa apa pun selain diriMu

Puisi sufi Rabi’ah al-Adawiyah

Ya Allah, jika aku menyembahMu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Jika aku menyembahMu
karena mengharap Surga
campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku

Juga puisi DukaMu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, sastrawan nonkristiani yang menangkap inti kekristenan yang kita imani.

DukaMu Abadi

prolog
masih terdengar sampai di sini
DukaMu abadi. Malam pun sesaat terhenti
Sewaktu dingin pun terdiam, di luar langit yang membayang samar
Kueja setia, semua pun yang sempat tiba
Sehabis menempuh ladang Qain dan bukit golgota
Sehabis menyekap beribu kata, di sini
Di rongga-rongga yang mengecil ini
Kusapa dukaMu juga, yang dahulu meniupkan zarah ruang dan waktu
Yang capai menyusun Huruf. Dan
terbaca: sepi manusia, jelaga.

Atau Chairil Anwar dalam sajaknya, Isa.

kepada nasrani sejati
Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah
rubuh
patah
mendampar tanya: aku salah?

kulihat Tubuh mengucur darah
aku berkaca dalam darah
terbayang terang di mata masa
bertukar rupa ini segera
mengatup luka

aku bersuka

Itu Tubuh
mengucur darah
mengucur darah

Dengan contoh-contoh di atas kita dapat mengatakan bahwa kekristenan lintas budaya mengembangkan karya sastra. Seni memanggil kita untuk membuka diri, merangkul yang lain, memahami yang lain, mengembangkan komunikasi yang lintas bahasa, lintas kelompok selera, lintas identitas, lintas sekat-sekat.

Sekarang, bagaimana mentransfornasi yang kristiani itu menjadi roh penggerak kemanusiaan yang relevan bagi semua orang. Bukan untuk kelompok sendiri saja.

Pramoedya menulis, “Kegiatan agama seyogyanya bukan untuk menarik pengikut dan beribadah, memuja hal-hal yang dianggap kudus belaka tetapi ia harus menciptakan koral agama, agar kegiatan itu tidak menjadi tandus bagi pergaulan bersama. Pergaulan lintas komunitas, pergaulan meng-Indonesia, pergaulan bhineka tunggal ika.”

Kita melakukan semua itu bukan karena agama menyuruh tetapi karena kesadaran dan tanggung jawab demi terciptanya pergaulan antarmanusia yang selaras.

Itulah makna Sabda menjadi daging. Yang menggerakkan semua potensi bahasa dan budaya untuk mewujudkan Tuhan yang membumi. Tuhan yang berpihak kepada yang lemah. Tuhan yang menemani manusia dalam penderitaan, dan Tuhan yang membangkitkan.

*Disampaikan pada pembukaan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018 pada 23 Agustus 2018 di Grha Oikoumene PGI.

Foto dari kantor berita Antara

read more
OASETERASWARA-WARA

Kata Kunci Donggala

Masjid apung di Donggala

 

Saya sedang mengobrol intens bersama teman di ruang tamunya ketika stasiun televisi menampilkan gambar-gambar hidup. Teks berlari pada layar mengatakan gempa 7,7 skala Richter sedang menimpa Palu.

Kami menahan obrolan. Dalam diam teman saya bangkit dari duduk, membesarkan volume televisi, meyakinkan bahwa gempa memang terjadi waktu itu. Skala 7,7 adalah goncangan dahsyat. Gempa yang menggentarkan di Lombok Juli lalu berskala 7,0.

Kami berdiri di depan televisi, tidak berkomentar sesuatu pun. Televisi terus menampilkan gambar-gambar akibat gempa. Kami bertahan dalam posisi itu mungkin satu menit. Setelah itu tiba-tiba kami mendapati diri kami duduk di tempat semula.

Obrolan macam apa yang menahan kami dari rasa ingin tahu tentang bencana di Donggala?

Sambil mengobrol, setiap lima belas menit –atau kurang- adik teman saya keluar dari kamarnya untuk berbagai urusan. Kencing atau bertanya sesuatu kepada teman saya yang sudah pasti adalah halusinasinya.

“Mau makan sekarang?” tanya teman saya, pada kemunculan ke sekian kali adiknya di mulut pintu kamar.

Si adik terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Teman saya membimbingnya duduk di meja makan sementara ia mengambil piring di dapur. Dari belakang punggungnya kami menyaksikan aktivitas makan si adik.

“Kenapa kepalanya miring ke kanan?” bisik saya.

“Dalam pikirannya, seseorang sedang menaruh beban besar di leher kirinya,” jawab teman saya.

Nasi dan lauk masih menumpuk di piring, si adik sudah berpindah duduk ke kursi panjang, di seberang televisi. Penampilannya membuat mata sedih memandang. Kelopak matanya berat. Bibir bawahnya tertarik turun. Napas tak beraturan. Tubuh hendak rubuh.

Dalam kondisi normal ia makan kurang dari lima menit, bisik teman saya.

Semua ini bermula dua minggu lalu. Psikiater adiknya -yang sudah empat tahun menjadi dokter si adik- memutuskan untuk mengurangi dosis obat. Alasannya supaya si sakit mandiri.

Namun akibatnya fatal. Adiknya menjadi lebih sering halusinasi. Gelisah dan tidak dapat tidur. Suara-suara di dalam kepala makin mengacau. Sakit kepala hebat. Berat badannya sudah turun empat kilo.

Rutinitas teman saya pun terganggu. Beberapa kali pulang lebih cepat dari kantor. Dua hari terakhir ia terpaksa cuti mendadak karena adiknya harus didampingi detik demi detik, dalam arti yang sesungguhnya.

Delapan tahun sudah teman saya merawat adik lelakinya itu. Fakta mengatakan bahwa mereka bersepuluh saudara. Kecuali teman saya, tak satu pun pasang badan untuk saudara mereka yang schizofrenia sejak usia muda itu. Teman saya menerima tongkat estafet sebagai caregiver dari ibunya, yang meninggal delapan tahun lalu.

Teman saya menjalani rutinitas baru sejak adiknya menumpang di rumah. Satu dua tahun dia masih berharap salah satu dari saudaranya akan berubah sikap. Sayangnya waktu yang diharapkan belum muncul.

Dari koceknya sendiri, teman saya meyakinkan adiknya mendapat pengawasan dari psikiater terbaik dan obat-obat paten berkualitas. Sekarang ini dia sudah yakin seratus persen bahwa si adik hanya tergantung kepadanya, seorang.

Lalu terjadilah pada tahun kelima adiknya di rumah, manajemen kantor teman saya –entah karena apa- memintanya untuk pensiun dini. Singkatnya, kantor tidak lagi membutuhkan keahliannya. Mendengar ultimatum itu, yang muncul dalam benaknya adalah wajah adiknya.

Saya harus mencari pekerjaan baru. Kalau tidak, bagaimana membeli obat-obat untuk adiknya?

Saat itulah ia terserang napas pendek. Kadang-kadang tidak bisa bernapas. Ia merasa setiap hari akan mati.

Ia sudah memasang beberapa kaca pada dinding rumahnya untuk memberi kesan lega. Berkonsultasi dengan rohaniwan. Membaca buku-buku yang menguatkan jiwa. Mendengarkan musik-musik bagus. Mengikuti nasihat-nasihat modern untuk menenangkan diri. Namun penderitaan tidak berkurang panjangnya. Tubuh tidak menerima terapi semacam itu. Setiap hari ia menjelajahi dasar bumi yang paling gelap dan sunyi.

Berapa banyak orang berbalik dari Tuhan karena penderitaan?

Samuel Beckett, pengarang Inggris salah satu penerima hadiah Nobel, menulis banyak karya gelap dan pesimistik, bukan tanpa alasan. Karyanya yang penting, Menunggu Godot (1952), adalah kisah dua orang yang menunggu kedatangan seseorang yang tidak pernah terjadi.

Tahun 1920, jalanan di Dublin, kota kelahirannya, dipenuhi tentara-tentara yang nyaris gila setelah kembali dari Perang Dunia I. Pemandangan itu menusuk kemanusiaannya. Sekitar waktu yang sama kawan sekolahnya menolak Tuhan dan kekristenan.

Dibesarkan dalam keluarga penganut Anglican, Beckett diajak oleh ayahnya ke gereja setiap Minggu sore untuk mendengar khotbah. Ayahnya wafat tahun 1933. Ibunya meninggal tahun 1950 karena komplikasi Parkinson dan patah tulang paha. Selama tiga setelah bulan tahun 1954, ia menemani adiknya yang sekarat karena kanker paru.

Kalau memang Tuhan ada, gugatnya, Tuhan seperti apa yang mengatur dunia semacam ini? Menghibur seorang yang sedang menderita dengan kata-kata surga, menurutnya adalah penghinaan.

Pengarang dunia lainnya, CS Lewis, menghadapi realitas lain saat kematian istrinya. Dalam bukunya A Grief Observed (1961), ia menulis Tuhan hanya berdiri di belakang pintu, mengunci rapat-rapat, terhadap penderitaannya.

Namun pada akhir buku ia menulis, “Ketika saya bertanya kepada Tuhan dan mendapat jawaban tidak, itu tidak yang khusus. Bukan pintu terkunci. Bukan tatapan tanpa belas kasihan. Saya hanya melihat Dia menggeleng, memberi lambaian pada pertanyaan saya, seperti berkata, “Berdamailah, Nak, kamu belum mengerti.”

Dapatkah yang fana bertanya Tuhan tidak punya jawaban atas satu pertanyaan? Itu seperti bertanya, berapa jam yang diperlukan untuk satu mil? Kuning itu bentuknya segi empat atau bulat?

Pada akhir buku, ia menulis Poi si tornò all’ eterna Fontana. Istrinya berdamai dan tersenyum, kembali kepada Sumber Mata Air Abadi (baca: Tuhan).

Mengetahui bahwa kita menderita bukan karena Allah membenci kita itu penting. Bahwa penderitaan selalu ada batas akhirnya. Bahwa kehadiran Allah akan membuat kita kuat menghadapi keadaan-keadaan yang tak terpikirkan dalam hidup.

Akhirnya, teman saya menemukan kata kunci saat berkonsultasi dengan psikiaternya. Panic attack biasanya menyerang seseorang dengan tanggung jawab besar, ucap si dokter. Jawaban yang sederhana dan berharga. Seharusnya ia sudah tahu jawaban itu. Ketika sesak napas menyingkir, dia mendapat pekerjaan baru begitu saja.

“Planet bumi ini diatur oleh sistem interdependen yang sangat teliti dan khusus. Saya pernah baca di mana gitu. Termasuk perubahan-perubahan permukaan bumi yang tengah bergerak ini,” ucap teman saya lirih, tanpa bermaksud mengecilkan bencana hebat yang kami saksikan di televisi.

Saya mengangguk-angguk pendek. Tidak kuasa menimpali.

Hampir larut saya pamit. Dia berkata akan mengabari apa pun yang terjadi pada adiknya. Kepala saya penuh. Sementara saya tidak memberinya nasihat apa pun. Dia memang tidak butuh nasihat saya yang amatir ini. Dia ahlinya. Sudah menemukan kata kunci bagi penderitaan-penderitaannya. (itasiregar/1/10/18)

 

*Foto Intisari.grid.id

read more
OASETERASWARA-WARA

Kecemasan: Jalan Merengkuh Keutuhan?

Di Ambang Batas 2018

Teks Alan Darmasaputra*

Gambar Diambang Batas (2018) karya Surajiya

 

Bahagia itu tidak penting. Masalahnya, kita tak tahu apa yang kita mau. Yang bikin bahagia bukan karena kita mendapat apa yang kita mau. Tetapi karena memimpikannya. Bahagia itu bagi para oportunis. Kepuasan hidup yang mendalam adalah hidup yang senantiasa bergumul, terutama dengan diri sendiri. Jadi mau bahagia terus, tetaplah bodoh.” – Slavoj Žižek dalam The Puppet and The Dwarf

Pada 2013, grup band metal Dream Theater asal Amerika, sudah menulis lagu The Enemy Inside. Liriknya menggambarkan pergulatan seseorang menghadapi pengalaman pasca trauma, menghadapi musuh imajiner yang tak lain adalah diri (dan imaji) sendiri. Lagu itu berlatar para veteran dan korban perang.

I’m running from the enemy inside/looking for the life I left behind/these suffocating memories are etched upon my mind/and I can’t escape from the enemy inside. (aku lari dari musuh dalam diriku/mencari hidupku yang lama/goresan kenangan yang menindas benakku/dan aku tak mampu kabur dari musuh di dalam diriku).

Mana lebih mengerikan: menghadapi obyek yang mustahil ditaklukkan atau ketidakjelasan obyek yang dihadapi?

Konon, masalah utama manusia jaman now adalah kecemasan. Kecemasan adalah musuh di dalam diri yang gagal diobyektifikasi. Kecemasan menghantui keseharian. Sejak boker pagi sampai berkeringat malam di kamar ber-AC. Ia nyelonong ketika kita ingin rileks. Sialnya, ketika kita berusaha menjelaskan keberadaannya, seketika ia lenyap.

Kecemasan adalah sesuatu yang tidak diketahui, tidak familier, tidak dapat dikendalikan. Pada sisi lain, manusia merindu kebaruan, terobosan, sesuatu yang lebih daripada hari ini.

Kita coba tengok ke belakang dari perspektif penciptaan. “Bumi belum berbentuk dan kosong (formless void; KJV); gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kejadian 1:2).

Ada dua hal menarik di sana. Pertama, penciptaan berangkat dari stabilitas (void) yang dirusak. Dalam prinsip sains, void dilukiskan sebagai kondisi atom yang berada dalam kondisi tidak aktif sepenuhnya. Diam dan stabil. Di tengah kestabilan itulah, penciptaan menerabas.

Kedua, penciptaan ditandai dengan Yang Ilahi menghampiri kekacauan (dilambangkan dengan air dalam tradisi Yahudi kuno). Artinya, yang melampaui dan baru tak jarang beriringan dengan sesuatu yang asing, acak, tak tertebak.

Kita melihat dua sisi penciptaan. Kestabilan yang dirusak dan kebaruan yang asing. Dari kacamata ini, alih-alih memandang ironi kecemasan, barangkali kita dapat melihatnya sebagai bagian dari citra Ilahi yang senantiasa merindu pembaruan, hasrat yang melampaui hari ini.

Hans Urs von Balthasar, seorang teolog Swiss, menyebut kecemasan didesain oleh Allah sebagai alarm yang mengingatkan kita pada realitas. Alih-alih berkubang pada mimpi-mimpi kosong bahwa segala sesuatu tunduk di bawah kuasa pikiran.

Pasca kejatuhan manusia pertama, kecemasan turut mengalami pergeseran makna. Dosa merusak berbagai relasi manusia (dengan Allah, sesama, diri sendiri). Juga berdampak pada cara manusia memandang keterbatasannya. Keterbatasan yang seharusnya mendorong manusia tertuju pada Allah, malah membuat manusia lari dan bersembunyi dari Allah, Sang Obyektif.

Jawaban manusia pada Kejadian 3:10 kepada Allah menggambarkannya dengan baik. “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Balthasar menggambarkan naluri pendosa untuk menyembunyikan rasa bersalah di balik tirai keterlupaan. Manusia tidak hanya ingin melupakan tetapi juga ingin dilupakan oleh Allah. Karena dosa, Allah menjadi sumber sekaligus obyek kecemasan itu sendiri.

Dalam Summa Theologia, Thomas Aquinas menyebut kecemasan sebagai gairah jiwa (passion of the soul). Gairah tidak dipandang optimistik seperti obrolan kafe anak-anak Jaksel. Namun semacam dorongan menggebu yang tak dapat dihindari. Menghadapi kecemasan, seseorang cenderung berputar-putar pada diri sendiri. Ia “menggelapkan” diri dalam ketakutan lalu mencipta imaji-imaji kosong.

Jacques Lacan, seorang psikoanalis Prancis, menyebut imaji-imaji kosong sebagai fantasi fundamental. Fantasi fundamental adalah impian ganjil seseorang bahwa ia akan mendapat kepuasan melalui obyek hasrat, yang juga ganjil.

Aquinas menjelaskan kecemasan didasari oleh kejahatan yang tak dapat dihindari dan tak terduga (unforeseen irresistible evil). Dalam konteks hari ini barangkali dapat ditafsir sebagai perasaan tidak aman (insecurity).

Aspek paling menakutkan dari kecemasan bukan kecemasan itu sendiri. Rasa cemas bahkan “menghasut” kita untuk punya kendali atas segala hal. Bukankah itu menggambarkan kecemasan umum generasi milenial hari-hari ini? Kecemasan finansial, masa depan, pasangan hidup, berkeluarga, dan sebagainya. Kita ingin semua berjalan seperti yang kita mau. Meleset, rasa tidak aman menanti di ambang pintu.

Solusi umum kecemasan (baca: laku dijual) adalah berbahagia. Jargon-jargon “jangan lupa bahagia”, “bahagia itu sederhana”, jamak kita dengar. Kita diminta untuk menerima segala ketidakamanan hidup, mengalihkannya pada kesenangan-kesenangan kecil.

Tidak salah dengan me time, tentu saja. Tetapi kebahagiaan bukan lawan dari kecemasan, melainkan sebuah prakondisi. Kecemasan tak jarang hadir kala situasi sedang stabil, tidak ada tekanan, semua baik-baik saja.

Maka, lagi-lagi, apakah kita benar-benar tahu apa yang kita mau? Bagaimana kita yakin apa yang kita hasrati adalah keinginan kita sendiri? Jangan-jangan kita menghasrati sesuatu yang didiktekan secara tak sadar oleh lingkungan dan “kewajaran masyarakat” sekitar kita. Dalam keberdosaan, kita dikutuk untuk tidak benar-benar tahu apa yang kita mau.

Perjanjian Lama mengontraskan “kecemasan orang fasik” dan “kecemasan orang baik”. Kecemasan orang fasik tidak aman (insecure) pada obyek yang ganjil, bahkan imajiner. Allah berpesan, “Jangan takut.” Perkataan ini lebih sebuah perintah. Bukan hiburan. Perintah jangan takut satu paket dengan Perjanjian Allah.

Alasan yang mendasari umat Allah dilarang takut adalah Perjanjian Allah. Allah mengimanenkan diri-Nya melalui Perjanjian. Ketakutan yang imajiner tidak dihilangkan tetapi dialihkan pada takut akan Allah (Yesaya 8:12-13), melalui hukum-hukum-Nya.

Dalam kerangka ini kita memahami “kecemasan orang baik”. Mereka yang taat pada hukum Allah pun mengalami masa-masa ragu, takut pada lawan lebih besar, pada ketidakjelasan sebab penderitaan yang dialami. Kecemasan kudus mendorong seseorang untuk berseru memohon belas kasihan Allah.

Pada Perjanjian Baru, makna kecemasan dipertajam. Balthasar menyebutnya sebagai kecemasan Sang Penebus (anxiety of The Redeemer). Sebegitu penting kita (manusia) dan dunia bagi-Nya, maka Sang Putra mengambil rupa manusia, dan sepanjang hidup merasakan kecemasan dalam berbagai ratap-tangis dan keluh (Ibrani 5:7).

Bila kecemasan orang fasik dan kecemasan orang kudus membuat manusia sama-sama takut (baca: ingin menghindari) bertatap langsung dengan Allah sebagai kengerian tertinggi, maka Sang Anak Manusia sudah menghadapinya dengan langsung meminum cawan murka Allah.

Peristiwa salib mengubah drastis makna kecemasan. Dalam Kristus, kecemasan tidak lagi dinilai sebagai ekspresi keberjarakan kita dengan Allah. Sebaliknya, kecemasan mengambil bagian dalam penderitaan dan kecemasan Yesus. Dengan kesadaran bahwa kita dicintai sepenuh-penuhnya oleh Allah, insecurity digantikan ketenangan bahwa kita dibenarkan sekalipun nurani merongrong (1 Yoh 3:19-21).

Menurut Balthasar, mereka yang hidup dalam karya penebusan Kristus akan mengalami reorientasi kecemasan. Kecemasan yang tadinya berputar-putar pada diri sendiri, menutup diri, dan membuat imaji ketakutan, menjadi terarah ke luar. Ia menyebutnya kecemasan yang ditanggung (anxiety that is borne). Arti lainnya, kecemasan seorang Kristen selalu komunal sifatnya.

Kita memandang pernyataan ini dalam beberapa arti. Komunitas berperan sebagai tempat berbagi beban kecemasan atau kecemasan struktural. Bahwa kecemasan bukan masalah individual yang solusinya dikembalikan ke penderita. Namun sebagai kecemasan yang bersolidaritas.

*Penulis adalah pengasuh Diskusi Selasaan, sebuah diskusi teologi yang diadakan oleh Gereja Komunitas Anugerah setiap Selasa pukul 19.30 WIB di Jalan Guntur 15 Jakarta.

read more
FeaturedFestival Sastra & Rupa Kristiani 2018TERAS

Lukisan Aku dalam Kamu dan Takdirnya

Lukisan & David Tobing

Jumat itu (21/9) langit Jakarta mendung. Di beberapa wilayah hujan deras. Sedianya pukul 10 pagi kami bertemu. Setuju mundur demi keamanan lukisan dari hujan dan turunannya, pertemuan menjadi pukul 1 siang.

Destinasi kami rumah David Tobing. Dia seorang pengacara perlindungan konsumen. Dia baru saja membeli satu lukisan dari Pameran Lukisan di Festival.

Mewakili Panitia Festival, kami bertiga datang. Abdiel, Setiyoko Hadi, pelukisnya, dan saya. Setiyoko berangkat dari Cinere memboyong lukisan Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku (AdKKdA). Lukisan berukuran 120 x 280 cm itu ajeg di atap mobilnya.

“Lima tahun saya mencari lukisan ukuran besar untuk di sini,” aku David Tobing, ketika kami bersama memperhatikan pemasangan pada dinding ruang makan lantai 2, di kediamannya, di bilangan Sentul.

Rumah Ketua Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) ini hanya ditinggali akhir pekan. Bernuansa Bali dan berornamen Batak pada beberapa sudutnya. Bagian muka rumah terpajang gorga yang menandai kebatakan dan profesi pemilik rumah. Pada gorga diukir neraca. Pada neraca tertera Amsal 11:1 pada sisi aksara Batak. Di bawahnya tertulis Sitiop Dasing Na So Ra Teleng. Artinya, pemegang timbangan yang tak kunjung oleng.

Ayah tiga anak ini mengaku tidak fanatik benda tertentu untuk mengisi rumahnya. Saat bepergian di dalam negeri atau luar negeri, ia hanya membeli benda yang dirasanya cocok ditempatkan di rumah keduanya itu. Sembilan jam dinding manual ia kumpulkan dari belahan dunia. Perisai beragam model. Lampu-lampu dengan lukisan kontemporer dari Paris. Lukisan 31 dari seratus pintu dari Turki. Pintu bermotif Madura. Kayu-kayu bekas rel kereta.

Lukisan AdKKdA istimewa karena judulnya mengilhami tema Festival. Pada ruang kanan lukisan adalah wajah Yesus yang diilhami Ecce Homo (Behold the Man) karya pelukis Spanyol Elias Garcia Martinez (1858-1934). Pada ruang kiri kira-kira dua pertiga ukuran, terpampang 60 wajah “lain” Yesus ukuran kecil. AdKKdA dipamerkan selama dua minggu bersama 36 karya lain di Festival.

Setiyoko mulai memikirkan AdKKda sekitar tahun 2015. Sempat terhenti melukis karena mengurus hal lain. Bila dipadatkan, dua bulan waktu yang ia habiskan untuk melahirkan AdKKda. Berawal dari rasa penasaran tentang bagaimana wajah Yesus sesungguhnya. Mengumpulkan wajah-wajah Yesus yang dilukis oleh pelukis belahan bumi mana pun. Dan tak satu pun sama. Dalam proses itu ia memahami makna kemahahadiran Tuhan. Bahwa kehadiranNya berbeda dan dipahami berbeda oleh tiap individu (baca: tiap budaya).

Bagi David Tobing, ketertarikannya pada lukisan itu sederhana. Selama pencarian ia tidak berpikir akan “berakhir” dengan wajah Yesus. Di lobi Grha Oikoumene PGI, tempat ia tidak sengaja lewat, ia melihat masa depan lukisan. Waktu itu pameran sudah selesai. Lukisan-lukisan sudah diturunkan dari panel.

AdKKda telah memilih David Tobing. Begitu pula sebaiknya. Menurutnya, penampilan beragam wajah Yesus adalah gagasan berani. Dan seyogyanyalah melihat wajah Yesus adalah dengan memandang sesama dari berbagai latar belakang.

Pelukis dan pemilik lukisan sama-sama berbagi senang. AdKKdA siap dinikmati dan ditafsir siapa pun yang mampir ke rumah eklektik sang pengacara. (is/26/9)

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Menuju Pameran Sastra dan Seni Rupa Kristiani 2018

PameranSenirupa2018

PENGANTAR

Menjadi Indonesia dan Kristen adalah sebuah anugerah. Merayakan kesatuannya dalam seni sastra dan seni rupa adalah sebuah cara indah. Dalam rangka itulah Biro Pemuda & Remaja PGI bekerja sama Litera.id dan Seruni (Seni Rupa Kristiani) menyelenggarakan Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018.

Tema yang dipilih adalah Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku, dengan subtema Ragam Ekspresi Iman.
Tema tersebut dilambari narasi yang dituturkan oleh penulis Injil Yohanes ketika orang percaya pada masa itu menghadapi tekanan yang berat dari pemerintah Roma. Di tengah situasi yang sangat buruk -mereka memertahankan iman sekali pun mesti kehilangan nyawa- penulis menggemakan pernyataan Yesus, “kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 14:20). Pernyataan itu mengajak orang percaya untuk meyakini bahwa Yesus hadir dalam kehidupan mereka, di mana dan apa pun yang sedang dihadapi.

Hal ini tetap relevan dengan kondisi kita sekarang. Dalam situasi yang berbeda, menjadi Indonesia dan Kristen adalah kesempatan untuk menyatakan keberdiaman Yesus di dalam kita dan kita di dalam Yesus, termasuk melalui seni.

Sedangkan subtema dilambari narasi yang dituturkan oleh penulis Kitab Kejadian, tentang kisah Esau dan Yakub. Yakub pernah kabur dari Esau setelah ia mengambil berkat sulung milik abangnya itu, dengan cara licik. Berkelana puluhan tahun di negeri orang dan dalam perjalanan pulang kampung, Yakub diliputi ketakutan luar biasa. Ia membayangkan tampilan fisik Esau yang tinggi dan berbulu, sebuah kesan yang mengerikan baginya, sehingga membayangkan wajah Esau baginya adalah wajah kematian.

Melalui peristiwa perjumpaan yang dahsyat dengan Allah pada malam sebelum ia bertemu Esau, hatinya dikuatkan. Yakub berani menghadapi Esau, yang diluar dugaannya, abangnya itu memeluk dan menciumnya, dengan sepenuh kerinduan. Pada perjumpaan yang mengesankan itulah Yakub mengeluarkan seruan yang luar biasa: “Melihat mukamu bagiku serasa melihat wajah Allah” [Kejadian 33:10].

Wajah adalah tampilan yang dapat dilihat. Melalui wajah, kita dapat melihat apa dan siapa yang hendak ditampilkan. Ragam Ekspresi Iman sejatinya menjadi wajah dari apa yang hendak kita kemukakan. Dengan demikian seluruh ekspresi iman yang hadir melalui karya seni bukan sekadar menampilkan wajah orang Indonesia Kristen, tetapi lebih jauh lagi menampilkan wajah Tuhan. Dan menampilkan wajah Tuhan melalui ragam ekspresi seni hanya dimungkinkan ketika kita menghayati bahwa kita tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita.

MAKSUD DAN TUJUAN
Pameran seni rupa ini mengundang dan melibatkan partisipasi para perupa/seniman kristiani yang tinggal di seluruh Indonesia yang akan diadakan secara berkala. Diharapkan dapat memperlihatkan perkembangan seni rupa Kristiani yang kontekstual dan iman kristiani yang Indonesia.

PENDEKATAN DAN PROSES KURASI

Pendekatan kurasi untuk pameran ini dibangun melalui korespondensi, undangan, dan jejaring diantara perupa/seniman di Indonesia yang dihimpun oleh panitia.

TAJUK PAMERAN
Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku

PESERTA DAN KARYA

• Peserta terdiri dari para seniman/perupa di Indonesia. Kepesertaan, jumlah, dan kapasitas ditetapkan oleh panitia.
• Karya yang dipamerkan, berupa karya 2 (dua) atau 3 (tiga) dimensional dan pilihan media video-art atau multimedia, meliputi: drawing, lukisan, seni cetak, patung, fotografi, seni kriya, instalasi, video-art, multimedia, dan sebagainya. Pertimbangan kesesuaian karya khusus/spesifik dilakukan oleh tim kurator.

WAKTU PELAKSANAAN DAN TEMPAT
Pameran seni rupa Kristiani di Indonesia “Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku” diselenggarakan sebagai berikut:
Waktu : 23 Agustus – 6 September 2018
Tempat : Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
Jalan Salemba Raya no. 10, Jakarta Pusat 10430

DATA DAN KEPESERTAAN
• Setiap peserta wajib mengisi formulir kesediaan dan kelengkapan berkas lainnya.
• Setiap peserta wajib menyertakan:
1. Lembar kesediaan, bisa diunduh di samping ini:
2. Biodata/CV
3. Image karya
4. Foto diri
Catatan: jika peserta berencana memberikan partisipasi lain diluar pameran, seperti: workshop, action-painting, performance, atau lainnya dapat menyertakan deskripsi tambahan untuk pemuatan dalam rangkaian acara keseluruhan.
• Peserta mengirimkan foto atau image karya terbaik sebanyak 1 (satu) buah.
• Pengiriman lembar kesediaan, biodata, foto diri, dan data karya paling lambat pada tanggal 3 Agustus 2018, ditujukan melalui email: setiyokoh@gmail.com atau festivalsa.pa2018@gmail.com.
• Kepanitiaan tidak menanggung biaya transportasi dan akomodasi bagi peserta selama pameran berlangsung.

TENTANG KARYA

• Karya yang disertakan dalam pameran, merupakan gubahan baru atau lama dalam rentang waktu 5 (lima) tahun terakhir (2013-2018).
• Setiap peserta mengirimkan 1-3 karya yang telah disepakati sesuai deskripsi data dan penetapan karya terpilih sebelumnya. Pengerjaan dan penyiapan karya adalah tanggung jawab peserta.
• Dimensi karya dapat berbentuk 2 (dua), 3 (tiga) dimensional, atau video-art serta multimedia. Mengingat ruang pameran yang terbatas, untuk karya 2 (dua) dimensional, maksimal berukuran 150x150cm. Sementara untuk karya 3 (tiga) dimensional, dibatasi hanya dengan volume (P: 200cm, T: 150cm, L: 100cm). Karya video-art atau multimedia, dibatasi dengan durasi paling lama 15 menit.
• Karya yang bersifat khusus, dapat dibicarakan terlebih dahulu dengan panitia pameran. Secara spesifik, kebutuhan material dan alat presentasi untuk karya berupa video-art atau multimedia menjadi tanggung jawab peserta.

PENGIRIMAN DAN PENGEMBALIAN KARYA
• Pengiriman karya ditujukan ke: Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Jalan Salemba Raya no. 10, Jakarta Pusat 10430 . UP/CP: William (0823-1040-1530).
• Masing-masing peserta pameran wajib mempersiapkan pengemasan yang memadai dalam proses pengiriman karya. Sehingga tidak mengakibatkan kerusakan karya, pada saat diterima oleh kepanitiaan pameran di PGI.
• Peserta pameran wajib mengirimkan karyanya dalam keadaan siap display, mengacu pada deskripsi data yang telah disampaikan sebelumnya.
• Karya diterima panitia di PGI pada tanggal 4-14 Agustus 2018.
• Pengiriman karya peserta ke PGI, menjadi tanggung jawab peserta pameran.
• Pengembalian/pemulangan karya dibiayai dan dilakukan oleh panitia pameran.

PENGELOLAAN DAN DISPLAY KARYA

• Pengelolaan dan penetapan display karya adalah hak dan tanggung jawab panitia.
• Proses display karya dilakukan pada tanggal 18-22 Agustus 2018.
• Penetapan display karya yang bersifat khusus, didiskusikan antara peserta dan panitia pameran.
• Penyediaan alat dan media yang digunakan untuk presentasi karya, merupakan tanggung jawab masing-masing peserta pameran.

PUBLIKASI DAN MEDIA RELEASE
Ignite GKI, Radio RPK 96,5FM, Majalah Inspirasi, Media Kristen lain.

PENYEDIAAN BUKU ACARA DAN PIAGAM

• Sie acara pameran seni rupa dengan panitia Festival Sastra dan Rupa Kristiani Indonesia akan menerbitkan buku acara tentang pameran dan kegiatan festival lainnya.
• Buku Acara didistribusikan kepada peserta pameran, pengunjung, dan pihak terkait sepanjang pameran berlangsung (23 Agustus – 6 September 2018).
• Setiap peserta mendapatkan piagam dan 1 (satu) buah buku acara.

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)
Jalan Salemba Raya no. 10
Jakarta Pusat 10430

Shortlink: http://wp.me/p8ZXIg-cV

read more
Festival Sastra & Rupa Kristiani 2018

Kegiatan Prafestival dan Festival di Festival Sa-Pa 2018

WhatsApp-Image-2018-05-07-at-05.44.56-768×543

Berikut ini adalah Kegiatan Prafestival dan Festival yang ada di Festival Sa-Pa 2018

Dicatat ya!

Prafestival

Lomba Resensi Buku Rahel Pergi ke Surga Sendiri
Lomba Menulis Cerpen ATAU Puisi Dengan Tema Tokoh Perintis Gereja Tradisional
Kegiatan Budaya
Wisata Rohani ke-5 Gereja Tua di Batavia
Wisata oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)

Festival

1. Kegiatan Kreatif
Teknis Menulis Puisi Petik Kata,
Sinau Sastra
Mengembangkan Tokoh Anak dalam Kitab Suci

2. Program Utama: Bincang-Bincang & Diskusi

2.1. Bincang-Bincang
Aku dalam Kamu, Kamu dalam Aku: Refleksi tema Festival bersama Litera.id
Lukisan-lukisan yang Berbicara Sepanjang Masa bersama Seruni
Bertemu Andar Ismail Penulis Seri Selamat
Menulis sampai ke Roma bersama Eka Budianta
Minum Teh bersama Ayu Utami

2.2. Diskusi
Panggilan Puisi: Para pengulik kata dan makna
Pada Suatu Hari: Elemen penting dalam dongeng anak
Pasal & Ayat Tabu: Dibuang atau Dimanfaatkan?
Merayakan Kepedihan: Cerita nyata melebihi fiksi
Konflik Agama & Kebhinekaan dalam Cerita
Inspirasi Pertamaku: Pengalaman pengarang muda
Hoaks: Sejarah & Perkembangannya
Makna & Simbol dalam Puisi
Hermeneutika & Parodi Sastra
Menjadi terang & garam untuk dunia digital yang gaduh
Masa depan industri penerbitan Kristen
Writingpreneurship

3. Pameran Lukisan & Lelang
4. Eksposisi 12 Tokoh Perintis Gereja Lokal oleh STFT Jakarta
5. Apresiasi dan Pemberian Anugerah
6. Diskusi & Nonton Film bersama Prokles.id
7. Peluncuran Buku
8. Bazar Murah
9. Kegiatan Malam Hari (Poetry slam, Monolog/Teater, Musik, Kuliner malam hari)
10.Kemah Seni untuk Remaja

Email Festival: festivalsa.pa2018@gmail.com
Narahubung
William Sembiring +62 823-1040-1530
Olivia Susan +62 812-8702-2316

read more
WARA-WARA

Ingin Meluncurkan Buku di Festival Sa-Pa 2018?

Book Launch

Ingin meluncurkan buku di Festival Sa-Pa 2018?

Siapa pun boleh meluncurkan buku di Festival Sa-Pa 2018. Syaratnya, buku terbit antara bulan Juli 2017-Juli 2018. Panitia akan menyediakan ruang berikut volunter yang mengurus dan promosi kegiatannya. Buku dan tambahan promosi silakan bawa sendiri. Praktis, bukan? Bila berminat, daftar ke festivalsa.pa2018@gmail.com atau kontak Susan di 0812-8702-2316 atau William di 0823-1040-1530. Kami tunggu secepatnya

read more
1 2
Page 1 of 2