close

TERAS

CERITAPuisiTERASWARA-WARA

balada buat asnat istriku

Joseph Asenath

lalu firaun menamai yusuf zafnat-paaneah, serta memberikan asnat, anak potifera, imam di on, kepadanya menjadi istrinya. –kejadian 41: 45

pengantar:
setelah yusuf menjadi orang nomor dua di mesir, empat bulan kemudian, firaun menyuruhnya pergi ke kota heliopolis –atau on- untuk bertemu potifera (pentephres dalam bahasa mesir), imam tinggi yang sangat dihormati di seluruh mesir.

imam di mesir bertugas hanya di kuil untuk merayakan dewa-dewa. ia bertanggung jawab membuka segel pintu kuil, menyalakan obor di seluruh dinding kuil, mendaras doa-doa, menyalakan dupa, membersihkan patung dewa-dewa dalam kuil (yang terbuat dari emas solid), menaruh pakaian bersih dan perhiasan, mempersembahkan makanan dan minuman, mengatur para penyanyi mencanting lagu-lagu pujian. petang hari, dia membersihkan jejak kaki di lantai kuil, menyegel pintu kuil kembali.

potifera punya anak gadis perawan bernama asnat (as-neith dalam bahasa mesir, artinya favorit dewi neith, asenath dalam bahasa inggris). asnat sangat cantik jelita. banyak putra raja dan bangsawan mesir ingin menyuntingnya. konon putra firaun pun ingin mengawini asnat, dilarang oleh firaun karena menganggap mereka beda status.

imam di mesir hidup sejahtera. asnat tinggal di dekat kuil, di rumah orangtuanya. ia diberitahu oleh ayahnya bahwa yusuf akan datang menemuinya, atas perintah firaun. asnat sangat bersusah hati karena ia sudah mendengar siapa yusuf. yusuf anak yang dibuang oleh keluarga, penggembala domba (pekerjaan yang menjijikkan bagi orang mesir), mantan budak, berselingkuh dengan istri majikan, pemimpi. dia hanya beruntung karena dapat mengartikan mimpi firaun. ia tak sudi diperistri oleh yusuf.

ketika diberitahu bahwa kereta yusuf sudah mendekat gerbang rumah, asnat lari ke loteng. ia mengintip yusuf dari jendela kamar. ia melihat yusuf turun dari kereta kencana yang ditarik empat kuda putih. yusuf mengenakan tunik putih, jubah linen ungu, mahkota dua belas permata. tongkat raja di tangan kanan dan di tangan kirinya ranting zaitun. ternyata yusuf luar biasa tampan. asnat jatuh cinta kepada yusuf pada pandangan pertama.

asnat dipanggil turun oleh orangtuanya untuk bertemu yusuf. ketika yusuf pamit pulang, potifera memintanya untuk mencium asnat, yusuf menolak. dalam tradisi ibrani, tidak diperkenankan seorang laki-laki mencium perempuan yang belum menjadi istri, katanya. kala itulah asnat sadar bahwa seperti dirinya, yusuf pun masih perawan. perjaka tingting.

asnat berusia 18 tahun ketika itu. dan yusuf sekitar 33 tahun. asnat adalah satu-satunya perempuan yang dalam hidup yusuf, seumur hidupnya.
 
balada buat asnat istriku
-dari yusuf, nyanyian

asnat, putri potifera
tinggi semampai tubuhmu
keindahanmu melebihi hator
milik dewi neith engkau
aku datang kepadamu
dengan hati gentar

ini buah tanganku
anggur dan kurma
buah delima bunga ara
dan sepasang merpati
untukmu
 
jangan kau pandang aku
seperti jubah dan mahkota ini
tongkat dan cincin ini
kereta kencana ini
ini hanyalah hiasan firaun
untukku
aku bukan raja muda mesir
aku hanya laki-laki ibrani rudin
yang terusir
dari negeri sendiri
 
aku tinggal di rumah ayahku
di betel tanah yang subur
ayahku seorang pahlawan
melahirkan ribuan ternak
ayahku seorang pendongeng
melahirkan ribuan cerita
heroik masa mudanya
ia seperti allah bagiku
aku aman berada dekatnya
 
ayahku punya dua istri dua gundik
aku anak dari rahel ibuku
saudara laki-lakiku sebelas
satu kakak perempuanku
aku mencintai mereka
mereka mencintaiku
dengan cara mereka
 
memang terbuang aku
memang budak aku
memang terpenjara aku
memang pemimpi aku
namun tak kubiarkan kedua tanganku
mereka-reka yang jahat
karena kuingat pesan ayahku
sepasang mata di tempat tinggi
mengawasiku
 
asnat, kekasihku
di rumah potifar
aku dijadikan cabul
dijebloskan ke sel busuk
namun aku luput
dari azab dan penalti
dari mutilasi
karena allah ayahku allah kakekku
melindungi aku
 
di tahanan
juru minuman raja
juru roti raja
menjadi ikhwanku
mereka bermimpi
dan aku membaca mimpi mereka
lalu juru roti dibebaskan
tapi juru minuman diputus mati
 
dua tahun berlalu
aku dilupakan
tapi ubin sel belum berlumut
ketika firaun telah bermimpi
dan gelisah
karena apa yang ia lihat
 
tujuh lembu gemuk
tujuh lembu kurus
tujuh bulir gandum bernas
tujuh bulir gandum kurus
 
berbekal gelar si penafsir mimpi
aku dibawa ke istana megah
bertemu firaun
kalau mampu membaca mimpiku, katanya
hanya ada dua pilihanmu
hidup seperti raja mesir
atau lenyap seperti kutu busuk
 
kala itu aku berpikir
inilah akhir hidupku
mati terhukum
tetapi asnat, cintaku
allah mengingatku
langit terbuka
angin berembus berbisik ke telingaku
rahasia mimpi firaun
tentang tujuh tahun kelimpahan
dan tujuh tahun kekeringan
sehingga terbebaslah firaun
dari beban mimpi
lalu ia memberiku nama baru
zafnat-paaneah
sebab katanya
allah bersabda ia hidup
 
dan segala kebesaran ini
yang ia berikan kepadaku
begitu agung
begitu mulia
tetapi dibanding kebebasanku
bukan apa-apa
aku diberi kesempatan kedua
untuk hidup bermakna
 
sekarang mari
kita berhadap-hadapan
bimbinglah aku
menjadi seorang kekasih
karena aku tak pernah kenal
apa itu perempuan
 
lagi asnat, istriku
aku bersumpah
takkan mendua hati seperti ayahku
meski ia pahlawanku
karena kau satu-satunya perempuan bagiku
waktu ini
dan selamanya
 
 

Lukisan Joseph & Asenath oleh tidak dikenal, dipamerkan di Staatliche Museen
 

is/17/1/19

 

 

 

 

 

read more
CERITAPuisiTERASWARA-WARA

Tragedi Cinta Dina dan Sikhem

shechem_siezes_dinah

Pada suatu hari Dina

Berjalan-jalan ke Sikhem

Berkenalan kupu-kupu bebungaan kota itu

 

Wajah segar serupa embun

Mata rupawan serupa bulan

Senyum ranum serupa anggur musim panen

 

Konon, sedetik mata Sikhem tercucuk pandang gadis itu

Tertusuk ia oleh panah cinta

Tergiur liurnya

Terpukul-pukul jantungnya

Limbung hatinya tak tahan

 

Marilah, dik, naiklah ke sotoh istana yang dibuat ayahku

Yang membuat kota ini di atas namaku

Kau tengoklah pebukitan hijau di seberang sana

Itulah Gerizim

Gunung penghubung antara langit dan bumi

Dan lihat itu tarbantin

Pohon keramat tempat kami menyembah Asyera, dewi kesuburan kami

Yang di bawahnya kakekmu Abram bermezbah

dari letih hijrahnya

 

Dan Dina tak berpaling dari mulut manis Sikhem

Yang tak henti meneteskan madu

Tangannya mencengkeram lengan laki-laki muda itu

“Aku takkan kembali ke rumah ayahku

Sampai kau ceritakan padaku semua tentangmu

Sebab sakit asmara aku”

 

Pinang gadis itu menjadi istriku, Ayah, seru Sikhem kepada Hemor

Mari kita menjadi saudara, Saudaraku, ujar Hemor kepada Yakub

 

Berembug Yakub dengan kedua belas lelaki di kemahnya

Panas telinga mereka membara

Mendengar penghinaan suku tak bersunat itu

Menginjak-injak martabat mereka

 

“Mari kita beri satu pelajaran orang tak beradab itu,” sumpah mereka

Katakan kita sepakat menggelar kenduri tujuh hari tujuh malam

Asalkan mahar kulit khatan sebanyak laki-laki dewasa

 

Dan, dengan kegirangan meluap

Sikhem dan Hemor pulang ke kota mereka

Di pintu gerbang mereka berkampanye

“Hari ini sejarah baru bangsa kita toreh

Biarlah kitab-kitab mencatatnya

Kita akan merger dengan bangsa yang beradab

Ekonomi politik budaya militer

Kita akan menjadi satu yang besar disegani

Karena itu baiklah setiap laki-laki dewasa

Memotong kulit khatannya masing-masing

Di rumahnya sendiri”

 

Sementara itu dua anak lelaki Yakub

Mengasah mata pedang mereka baik-baik

Dan sepuluh lainnya

Menguatkan hati mereka baja

 

Pada hari ketiga

(ketika laki-laki dewasa kota Sikhem masih kesakitan)

Mereka mendatangi kota itu

Seperti pahlawan pergi perang

Dengan pedang di tangan kiri dan kanan

Simeon dan Lewi

Menebas setiap laki-laki dewasa tanpa kecuali

Sedang sepuluh lainnya

Menjarah kota itu bersih

Menarik Dina keluar dari sana

(Sedang ia menjerit menangisi masa muda Sikhem

Yang mati sia-sia)

 

Yakub, lihatlah

Langit hitam di atasmu

Tanah merah di bawahmu

Kota Sikhem berubah yatim

Ditinggalkan para lelakinya

 

Kau mengundang celaka ke rumah kita, anak-anakku

“Siapa suruh memperlakukan kita seperti kotoran?”

 

O Dina, o Sikhem

Kisah kalian

Bukankah kitab-kitab sudah mencatatnya?

 

Gambar diambil dari Wikipedia

 

is/15/1/19/

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Sepeda Bambu dan Revitalisasi Desa Singgih Kartono

foto singgih

Oleh Ita Siregar

Ia mendesain sepeda bambu dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Ia membuat konsep pasar kebun bambu dan melibatkan warga dalam merevitalisasi kehidupan di Dusun Ngadiprono.

Singgih Kartono kecil membaca biografi Thomas Alva Edison –penemu lampu pijar- dan terinspirasi untuk menjadi seorang penemu. Ia masih kelas 4 SD ketika itu. Saat membaca kumpulan surat Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang, ia terpanggil untuk memaknai 21 April, tanggal kelahirannya. Memang kurang dari sepuluh buku yang tuntas dibaca -termasuk kisah gadis cilik Toto Chan-  namun itu cukup mewarnai hidupnya.

Dik Ton – dari nama Kartono- begitulah keluarga dan teman dekat memanggilnya. Ia merasa anak yang beruntung. Ayahnya seorang guru yang kemudian menjadi kepala dinas kecamatan. Ia mewarisi kesederhanaan, jiwa kepemimpinan dan pioneership ayahnya. Meski keluarganya tidak tergolong berada tetapi sang ayah mengupayakan agar kelima anaknya mendapat pendidikan tinggi.

Singgih lahir dan besar di Kandangan Temanggung. Ia kuliah di Jurusan Desain dan Produk FSRD ITB. Suami dari Tri Wahyuni –teman SMA- ini mengaku berat pada tahun-tahun pertama kuliah. Pasalnya di SMA ia kurang serius melatih keterampilan kesenirupaan. Baru pada tahun kedua, kegemaran ngoprek  di masa kecil memberinya kemudahan dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Setelah lulus tahun 1992, ia bekerja di PT Prasidha Adhikriya Bandung yang bergerak di bidang industri kerajinan kayu. Ia belajar langsung dari pendirinya, Surya Pernawa. Tahun 1995 ia balik ke desa dan merintis usaha mainan anak dari bahan kayu, bersama seorang partner. Ia memang tidak menyukai kehidupan kota yang ramai dan padat. Di antara lima saudara, hanya ia yang kembali ke desanya, hingga sekarang.

Tahun 2003 ia memulai usaha sendiri yang diberi nama: Magno. Tahun 2005 Magno memproduksi dan merambah pasar. Melalui proses berliku, Magno mendapat banyak penghargaan desain internasional. Tahun 2008 Magno meraih penghargaan Good Design Award Jepang untuk kategori Innovation/Pioneering & Experimental Design. Pada 2009 Brit Insurance Design Award/Product of the Year Design Museum London. Magno dikenal luas di Jepang, Eropa, dan Amerika.

Semua itu dimulai dari kecintaannya pada materi kayu. Sewaktu kecil, ia betah berjam-jam nonton tukang kayu bekerja. Ia bikin mainan kayu atau bahan apa saja yang ada di desa. Mainan buatan pabrik masih langka saat itu. Kalau pun ada, tidak terjangkau harganya.

Penyuka teh manis panas pagi hari ini sebenarnya tidak suka berolah raga. Namun pada usia 44 tahun ia bersepeda nyaris setiap hari untuk menjaga kesehatan. Lalu ia melihat desain sepeda bambu karya Craig Calfee dan sangat terkesan. Terinspirasi, ia mendesain sepeda bambu pada 2013. Ia menggunakan Bambu Petung atau Dendrocalamus asper yang tersedia melimpah di desa dan sekitar tempat tinggalnya. Diameternya besar dan dindingnya tebal sehingga memungkinkan membuat rangka sepeda dengan ukuran seragam. Konstruksi bilah tangkup usuk bambu kerangka atap rumah menjadi sumber inspirasinya untuk meningkatkan kekakuan batang bambu. Bilah tangkup dihubungkan dengan sambungan metal dan membentuk kerangka sepeda. Desainnya lolos uji laboratorium dan kendara jarak jauh Jakarta-Madiun sejauh 750 km, dengan beban 90 kg tanpa kerusakan apapun.

Sepeda bambu itu diberi merk Spedagi – dari kata sepeda dan pagi. Para perajin lokal diberdayakan. Spedagi menarik orang luar ke desa. Fenomena inilah kemudian menginspirasi Singgih dalam menemukan solusi dari masalah umum desa, yaitu brain drain SDM terdidik dari desa ke kota. Kelak Spedagi bukan hanya merk namun gerakan yang mengajak anak-anak muda balik ke desa.

Pasar Papringan Ngadiprono misalnya. Pasar itu adalah salah satu proyek Revitalisasi Desa Spedagi. Papringan (kebun bambu) merupakan aset desa. Sayangnya papringan tidak terpelihara, hanya jadi tempat buang sampah. Atas ajakan Imam Abdul Rofiq, anak muda lokal, ia dan tim Spedagi, juga Fransisca Callista sebagai project manager, menyulap papringan yang kumuh, gelap, dan banyak nyamuk, menjadi bersih tertata. Di sana warga menjual kuliner, kerajinan tangan dan hasil pertanian.

Memulainya tidak dapat dibilang mudah. Tim melakukan pemetaan sosial. Warga didatangi dari pintu ke pintu. Puluhan kali pertemuan formal dan informal dilakukan barulah ditemukan konsep yang paling sesuai dengan warga dan potensi lokal. Sejak awal warga diajak turut memikirkan agar tidak terjadi kesan mereka akan menerima bantuan. Singgih ingin bukan sekadar pasar dalam arti fisik, namun sebuah aktivitas yang terorganisasi baik.

Mereka pun merekoleksi penganan desa. Gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, mainan kayu, dll. Lantas mereka merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas dan berjualan. Mereka hanya memakai bahan lokal. Tanpa  terigu, MSG dan pewarna buatan. Sebagai ganti warga membuat tepung dari beras dan ketela.

Sebagai alat pembayaran dipakai koin pring. Ide ini datang dari Liris, putri kedua Singgih yang membuat bazar sekolah dengan alat pembayaran khusus. Pring dicetak dan ditentukan nilainya. Satu pring senilai Rp2 ribu. Cara itu efektif dalam mengontrol penjualan.

Pasar tambah ramai karena propaganda gratis pengunjung yang menceritakan keunikan pasar melalui media sosial mereka. Orang berduyun-duyun datang dan menikmati desa tempo dulu, lengkap dengan penganan khas desa dan gending Jawa.

Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80%  dari 110 kepala keluarga turut berdagang. Pasar dibuka dua kali selapan (35 hari) setiap Minggu Pon dan Minggu Wage, mulai pukul 6 pagi sampai pukul 12. Dibuka dua kali selapan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.

Sabtu adalah hari desa gotong-royong menyiapkan segala untuk ditampilkan di pasar. Keberadaan Pasar memberi kesegaran baru bagi warga desa. Petani menjadi lebih berpengetahuan sehingga hasil lebih produktif. Mereka pun diajar mengelola uang sehingga pendapat naik tidak dibarengi dengan menjadi konsumtif.  Sekarang ada sekitar 3000 pengunjung setiap kali pasar buka.

Kini banyak berdiri pasar dengan konsep serupa. Pada satu sisi menggembirakan, sayangnya mereka tidak menyebut sumber inspirasi. Padahal dalam dunia kreatif hal tersebut diperlukan sebagai kepatutan dan etika. Karena itu ayah dua putri ini berharap pemerintah sebagai penyelenggara negara dapat mendorong terbangunnya iklim kreatif dan endorsement bagi para kreator. Apa yang dilakukan Spedagi sebenarnya membantu pemerintah dalam memberdayakan masyarakat dengan hasil yang dapat dibanggakan. Sudah semestinya pemerintah mendukung secara aktif dan rendah hati dalam mengadopsi ke konsep perencanaan pembangunan daerah.

Seterusnya ia ingin mengembangkan hal-hal yang mendorong kemandirian desa. Secara internal mandiri dalam hal keuangan dan pendidikan sehingga dapat tetap tinggal di desa. Secara eksternal, konsep pasar menjadi inspirasi dalam merevitalisasi desa lain.

“Ke depan kami akan membuka kelas agar desa-desa lain dapat belajar apa yang sudah kami lakukan dan capai,ungkap penyuka T-shirt abu-abu ini.

Masih banyak gagasan di kepalanya, siap ditelurkan. Ia sering merasa diri terlalu keras dan to-the-point dalam bekerja dan berbicara, yang dirasanya kurang pas untuk masyarakat desa. Untunglah ada anak-anak muda di Spedagi yang membantu mewujudkan gagasannya.

Ngomong-ngomong, kenapa T-shirt abu-abu, Mas? Tertawa, ia menjawab, “Warnanya paling cocok untuk kulit saya.” (is/15/12/18)

Foto Singgih Kartono

read more
BukuTERASWARA-WARA

Menuju Cahaya Jokowi   

buku jokowi

Oleh Ita Siregar

Ketika Albertheine Endah melempar kaver buku Jokowi terbaru ke WAG Satupena, saya terpana membaca judul: Menuju Cahaya. Benak saya segera saja memunculkan kata: moksa, damai, hening, bening. Saya berpikir judul pastinya telah melewati skrining makna beberapa kepala, termasuk penulis.

Petang kemarin (Kamis, 13/12/18) saat peluncuran buku di Hotel Mulia Jakarta, Prof Dr Dato Sri Tahir memberi kata sambutan, juga mempertanyakan hal sama, tetapi kemudian ia bersetuju dengan judul setelah membaca buku.

Menurutnya, ada tiga hal sehingga Jokowi bersesuaian dengan judul Menuju Cahaya, yaitu 1) dia dapat berdiri di atas matahari, artinya seluruh hidupnya boleh diteropong tiap waktu oleh siapa pun dan akan didapati tak tercela –bukan berarti dia tidak pernah salah, 2) rekam jejak (politik) Jokowi yang ternyata bersih sejak kecil, sebagai pengusaha kayu, sebagai walikota Solo, sebagai gubernur Jakarta, sebagai Presiden Indonesia, dan 3) keluarga, yang sepenuhnya mendukung dan mempercayai Jokowi –meski mereka tidak selalu setuju.

Setelah saya membaca buku, saya pun setuju dengan pendapat itu. Tak sulit memahaminya karena penulis dengan lancar menarasikan kisah seperti kita sedang didongengi oleh Jokowi sendiri.

Jokowi kecil yang hidup prihatin di bantaran sungai bersama orangtua, yang kemudian ia simpulkan bahwa kemiskinan telah menempa mentalnya menjadi kuat dan tabah. Nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan orangtua dan disimpulkan Jokowi, pas dan tak berlebihan. Segala kepahitan hidup di masa lalu ia pandang sebagai tonggak sejarah yang tak terlupa.  Bahwa tanpa itu semua takkan ada Jokowi sekarang.

Dalam dunia kuliah dan bekerja, ia tidak berspekulasi. Semua diraih melalui belajar dan bekerja keras. Persis ia menjadi pengusaha kayu, bisnis furniture di Tanah Air sedang bersemi. Kerja keras membuatnya melaju. Karakternya yang berbela rasa dan berbelas kasihan kian matang. Istri dan ketiga anaknya kian mempercayai bahtera keluarga yang dipimpin Jokowi.

Setelah urusan keluarga beres, Jokowi memperhatikan dunia sekeliling. Kepeduliannya yang nyata mendorong kawan-kawan memberinya jalan untuk menjadi pemimpin mereka, di Solo. Tantangan itu diterima meski Jokowi tidak pernah bermimpi menjadi pengabdi Negara.

Blusukan adalah istilah kampanye yang diciptakan karena ia tak punya banyak uang. Keberhasilannya menangani Solo menarik perhatian Jakarta yang kala itu sedang mencari calon gubernur. Lagi-lagi ia tidak bermimpi hijrah ke Jakarta tetapi jalan sudah terbuka di depannya.

Bersama Ahok ia menunjukkan kepada warga Jakarta apa yang seharusnya sudah dicapai oleh ibukota negeri ini. Keberaniannya membongkar segala kegelapan sudut-sudut ibukota  membawa warga pada cahaya yang belum pernah diketahui sebelumnya. Dan ketika Indonesia sedang mencari seorang calon presiden, lagi-lagi Jokowilah yang dilirik meski sekali lagi, ia tidak pernah bermimpi presiden menjadi takdirnya. Tetapi pintu-pintu telah terbuka di depannya. Ia hanya tinggal masuk. Demikianlah orang yang tidak menginginkan kekuasaan diberi kekuasaan penuh oleh alam semesta.

Sepanjang 382 halaman buku mendedah karya Jokowi sebagai presiden. Pada halaman-halaman tertentu saya terharu ketika berulang-ulang  –dalam bahasa yang berbeda- ia mengatakan bahwa pembangunan harus menghampiri rakyat sudut mana pun. Ia memimpikan Indonesia yang berkeadilan sosial. Pada halaman lain saya kagum ia memandang status presiden sebagai pelayan rakyat yang sedang bekerja untuk kebaikan negeri, bukan seorang pejabat yang sedang mempertahankan rating survei. Humor sinis muncul sebagai responsnya terhadap fitnah dan hoaks keji tentang dirinya. Dengan program Nawa Cita ia berharap takkan lagi ada kisah-kisah sedih dari dunia pertanian kita.

Dengan segala kerja, kerja, kerja yang dia lakukan secara konsisten bersama Kabinet Kerjanya, selangkah demi selangkah kita Menuju Cahaya itu.

Sekarang saya merasa judul itu pas. Dialah yang kita perlu saat ini. Memang dia tidak sempurna tetapi tidak ada yang mencintai dan mengabdi kepada Indonesia, sebesar dia.

Oya, istilah Jokowi diberikan oleh buyer Prancis bernama Bernard untuk membedakan dia dari Joko-Joko yang lain. Begitu.

Pak Jokowi, terima kasih telah bersedia menjadi Presiden kami. Salute!   (is/14/12/18)

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Teologi Membaca: Demi Kasih, Curiositas atau Cupiditas?

Ilustrasi Membaca

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Kita dikerubuti oleh kata-kata. Dalam dunia nyata dan maya. Kata-kata dari buku, surat kabar, novel, majalah, twitter, facebook, whatsapp, billboard, spanduk, layar kaca, blog, online. Ditambah buku-buku teks bagi mahasiswa. Kitab Suci bagi kaum beragama. Kata-kata mengendap dalam bawah sadar kita.

Seberapa banyak waktu dan energi kita habiskan untuk membaca per hari? Dan apa relasi teologisnya?

Teologi membaca (theology of reading) berbeda dengan teologi untuk membaca (theology for reading). Teologi untuk membaca bertujuan menolong kita memahami pikiran yang disampaikan oleh sumber, buku misalnya. Dari sana kita dapat menilai pengarang menganut pemikiran arus utama atau heterodoks atau bidah. Atau pesan yang disampaikan sekadar manis-manis iklan atau propaganda politik. Jadi teologi untuk membaca difokuskan pada konten yang dibaca.

Sedangkan theology of reading melampaui proses tindakan membaca. Alih-alih menerima atau menolak pesan dari tulisan, membaca adalah sebuah tindakan kasih –saat mulai sampai akhir membaca- dengan dasar Yesus Kristus, Sang Pengarang Kasih.

Membaca adalah tema refleksi teologi remeh-temeh kita kali ini. Sumbernya terutama dari Teology of Reading: The Hermeneutics of Love, Alan Jacobs, 2001.

Hukum Kasih

Setiap kristiani diikat oleh Hukum Kasih. Termasuk penulis maupun pembaca, dong? Iya.

Jika seorang penulis bertanya kepada Yesus tentang apa hukum apa yang terutama dan utama, maka tetap saja jawabNya seperti yang tertulis dalam injil: yang utama pertama: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan segenap jiwamu dengan segenap akal budimu”; dan yang utama kedua: “Kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri.”

Sebuah tulisan ditulis oleh seseorang di luar kita. Seseorang itulah sesama. Menurut Jacobs, tulisan adalah perpanjangan dari sesama kita (baik yang terhisab dengan Hukum Kasih atau yang tidak).

Tulisan merupakan medium yang mengaitkan dua pikiran, melalui jarak waktu dan ruang. Artinya, setiap kali membaca, kita menjumpai sesama kita. Dalam hal menghindari kesalahan dalam memahami maksud si sesama (baca: penulis) bukanlah tujuan utama dari kegiatan membaca.

Membaca dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan meski tulisan yang dibaca adalah sebongkah teks kaku yang panjang dan membosankan. Bagaimana pun, kita harus mengasihi tulisan tersebut –bahkan dalam keadaan kita tidak setuju dengan isi tulisan- sambil mengharapkan sesuatu yang baik muncul dari sana. Membaca dengan kasih menghadapkan kita pada satu risiko, dan risiko itu secara teologis, harus dirangkul.

Kontroversial, ya? Pastinya. Apalagi dalam kondisi sekarang, di mana kata-kata disengaja dibuat salah dan diproduksi scara besar-besaran demi sebuah tujuan jahat. Itu yang lebih sering mengemuka daripada yang benar. Mari kita menelusuri gagasan Jacobs tentang teologi membaca –dengan kasih- agar harapan sebuah perspektif baru, muncul.

Bahwa tak seorang pun dapat memenuhi Hukum Kasih bila ia tidak mengasihi. Sebaliknya, seorang yang mengasihi akan, seperti kata mazmur, gemar dalam ketetapan Allah dan merindukan hukum Allah setiap waktu (Mazmur 119: 16, 20). Artinya, kalau kita mengaku paham Kitab Suci -seluruh atau sebagian- tetapi tidak mengasihi Tuhan dan sesama, bohonglah itu semua.

Setiap hari kita berdoa jadilah kehendakMu di bumi seperti di Surga. Artinya, kita berharap melihat kasih diwujudkan pada saat kerja dan santai, saat mengurus keluarga dan beribadah kepada Tuhan, dalam segala waktu. Kasih mestinya dibuktikan dalam cara berpikir –termasuk menulis- dan berbicara –termasuk membaca.

Membaca dengan Kasih

Apa maksud interpretasi/tafsir berdasarkan Hukum Kasih?

Bapak Gereja, St Augustine (354-430), mengkritik bahwa teologi kristiani tidak memberi penjelasan sistematis soal tafsir yang berdasarkan kasih. Baik dalam konteks eksegesis dan eksposisi, secara alkitabiah. Bila ada yang merespons dengan mengatakan, pengertian akan didapat dari Tuhan, Augustine akan mengejar, berkata, tetapi Tuhan kan tidak pernah mengajar membaca alfabet.

Jika kita memahami kasih kepada Allah dan sesama sebagai persyaratan utama dalam membaca teks apa saja –termasuk novel, dokumen hukum, dan lainnya- maka kita memenuhi hukum kasih dalam pemikiran, perkataan dan perilaku kita. St Agustine mengabaikan soal kesalahan (dalam menafsir makna). Menurutnya, seorang pembaca kristiani yang dapat membangun kasih pada saat membaca namun tidak memahami maksud pengarang, dia tidak sedang ditipu atau merasa tertipu.

Orang yang salah menafsir itu seperti orang yang salah jalan. Ia meninggalkan jalan itu, melewati daerah lain, dan tiba pada tujuan yang sama, dengan jalan pertama tadi. Dalam rangka mengoreksi kesalahan, lebih bermanfaat bila orang tadi tidak putar balik, ambil jalan pintas atau jalan yang berlawanan. Jalan pintas mungkin akan menibakan orang itu pada teritori yang justru tidak dikenali dan berpotensi berbahaya, karena membuatnya lebih jauh dari tujuan semula.

Menurut Augustine, seseorang dapat abai terhadap maksud penulis Kitab Suci atau gagal memahami ayat atau pasal tertentu. Dia harus belajar agar tidak lagi melakukannya karena tujuan Allah adalah satu, begitu pula makna teks alkitab. Jika teks gagal dipahami, begitu pula kita gagal memahami maksud si penulis. Jika pembaca terus-menerus salah (dalam menafsir) dia akan dikalahkan terus.

Ketidakmampuan itu disebabkan manusia adalah makhluk yang sudah jatuh dalam dosa. Satu kali Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya, kenapa Ia berbicara dalam bentuk perumpamaan atau cerita. Jawabannya, karena meski melihat mereka tidak melihat, meski mendengar tetapi tidak mendengar dan mengerti (Matius 13:13). Dalam teks lain dikatakan, “Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka” (2 Korintus 3:15).

Teks yang dipadati dengan pesan-pesan moral cenderung membosankan. Pemahaman yang rigid tidak menyisakan kesenangan bagi pembaca dalam membaca. Teori tafsir modern telah sangat menghilangkan kesenangan itu padahal tulisan untuk dinikmati, untuk diambil manfaat, dan membuat pembaca diberkati.

Kesenangan (voluptas) dalam membaca ada setelah merasakan apa yang indah, yang manis didengar, dicium, dirasa, disentuh. Curiositas adalah demi pengalaman membaca itu sendiri, bahwa membaca bukan untuk menderita ketidaknyamanan tetapi sebuah nafsu untuk mencari dan mengetahui. Curiositas dan voluptas adalah versi lain dari cupiditas, yaitu keinginan yang salah. Alasannya, keduanya mewakili kecacatan fokus: yaity berfokus pada hal yang salah atau pada hal benar dengan cara yang salah.

Dalam karya Confession, Augustine memunculkan curiositas berkorelasi negatif dengan memoria. Dengan memoria segala (ingatan) yang tersebar dapat ditarik kembali. Membaca melibatkan memoria dan curiositas – di dalam dan di luar batin. Memoria merupakan aktualisasi seseorang untuk merekonfigurasi pengalaman dan memperbaharui pemahaman yang ilahi.

Ngomong-ngomong, apa boleh baca puisi atau cerita atau drama? Membaca karya sastra tidak dapat dikatakan dosa. Alasannya, kita mengerahkan seluruh perhatian pada tulisan atas dasar ordo amoris: bahwa manusia seharusnya mencintai segala ciptaan dalam relasinya dengan Allah. Nyatanya, karya seni adalah kesempatan untuk mendapat kesegaran dan rekresi dan kesenangan. Bahwa membaca sastra atau membaca secara mendalam merupakan cara tak tergantikan dalam mengasah ketajaman dan kebijakan.

Dalam hal jenis bacaan, pembaca adalah raja, yang menentukan tulisan apa yang akan dibaca. Jika berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama maka digambarkan dengan caritas. Jika berdasarkan keinginan sendiri merujuk pada cupiditas. Istilah ini menjadi pembeda antara orang yang hidup saleh dan tidak.

Mencintai sesama selalu berisiko. Entah sesama itu akan membalas atau menolak kasih kita, dan kita tetap berjuang untuk menunjukkan kebaikan. Jika mengasihi Allah dalam membaca maka kita akan memperhatikan apa yang kita baca, yang memiliki otoritas kebenaran atau tidak.

Mengejar Pengertian

Fenomena teks –demi memperoleh kebijakan dan otoritas – dikenal dalam tradisi agama Yahudi. Zohar, seorang mistis Yahudi, mengibaratkan Taurat bagai gadis yang cantik dan terhormat, dipingit di istana yang indah dan terpencil. Ia punya kekasih yang hanya gadis itu yang tahu.

Sang kekasih terus lewat-lewat di gerbang, matanya memonitor sekeliling. Gadis itu menyadari keberadaan sang kekasih, dan ia memikirkan untuk melakukan sesuatu. Perlahan ia mendorong pintu hingga sedikit celah terbuka, menunjukkan diri kepada sang kekasih, lalu cepat-cepat menutup pintu. Meski sekilas, sang kekasih melihat. Dia mahfum bahwa karena cintanyalah gadis itu memperlihatkan  diri. Sejak itu hatinya tertuju kepada si gadis. Begitu juga Taurat, hanya terbuka bagi mereka yang sungguh-sungguh cinta. Orang harus mengejar Taurat dengan sepenuh kekuatan, seperti mengejar seorang kekasih.

Talmud (catatan hukum, etika, kebiasa, sejarah Yahudi) bagi orang Yahudi pun didedikasikan bagi Allah. Bahwa, “Satu kali kamu mungkin meninggalkan Aku, tetapi tidak TauratKu” digambarkan oleh Emanuel Levinas (1906-1995) tentang orang Yahudi yang harus “mencintai Taurat lebih daripada mencintai Tuhan” (bayangan Ulangan 6:4-9).

Dalam Sejarah Membaca, Alberto Manguel (1948-   ) menulis, “Pada hari raya Shavout, memperingati hari Musa menerima Hukum Taurat dari tangan Allah, seorang anak laki-laki siap ditahbiskan. Tubuhnya dibelitkan selendang doa dan diserahkan oleh ayahnya kepada gurunya. Guru itu menempatkan si anak di pangkuannya, memperlihatkan kepada si anak sebuah piring yang di atasnya tertera huruf Ibrani dan kutipan ayat dari Kitab Suci, berikut tulisan, “Kiranya Taurat menjadi kesukaanmu.” Lalu piring itu dilumuri madu dan anak itu menjilatnya, demikianlah tubuhnya digambarkan mencerna kata-kata kudus. (bayangan Mazmur 19:10 dan Yehezkiel 3:3).

Perlakuan yang sama terhadap otoritatif teks terjadi di biara-biara pada abad pertengahan. Mereka mempraktikkan lectio (membaca) dan meditatio (meditasi, merenungkan) yang digabung, dan hasilnya adalah ruminatio –mengunyah firman/kata.

Merenungkan adalah mendekatkan diri selekat mungkin pada kalimat yang diucapkan dan menimbang semua kata dengan cara diperdengarkan bersuara dengan maksud memahami kedalaman maknanya. Mencerna isi teks dengan mengunyah untuk memunculkan seluruh rasa. Itu yang disebut oleh St Augustine palatum cordis atau in ore cordis, artinya kurang lebih the taste of the heart dan the ear of the heart. Pembaca atau pendengar dalam hati dapat merasakan makna saat mempelajari puisi atau bagian-bagian musik karena hati mencapai teks atau musik sebagai sebuah kejernihan dan kekuatan dalam hidup.

Mencerna sebuah teks suci atau yang kuat diekspresikan dengan cara hikmat oleh pendengar yang membaca demi pengertian. Petrach (1304-1307) misalnya, mencium teks Virgil (70-19BC) sebelum ia membukanya. Erasmus (1469-1536) melakukan hal sama kepada teks Cicero (106-43BC). Machiavelli (1469-1527) berpakaian resmi setiap kali akan membaca sebagai tanda penghargaan terhadap teks. Sikap tersebut merupakan penghargaan secara langsung. Dan kritik sastra adalah sebuah bentuk penghargaan.

Petrarch menjelaskan alasan dia mengutip tulisan pengarang-pengarang klasik: Tidak ada yang sangat menyentuh daripada aksioma orang-orang besar. Saya pakai itu untuk menguji diri saya, untuk melihat apakah itu berisi sesuatu yang solid dan mulia, kokoh atau tegar dalam menghadapi keberuntungan yang buruk, atau untuk menemukan jangan-jangan pikiran saya cupet. Saya berterima kasih kepada pengarang yang memberi saya kesempatan untuk menguji pikiran saya.

David Lyle Jeffrey (1941-    ) mengomentari frase Petrarch yang mengisyaratkan kebergantungan pada otoritas pengarang, dengan berkata, saya baru sadar telah ditipu oleh pikiran sendiri. Hal itu sekaligus menunjukkan sikap skeptik iman kristen terhadap masalah interpretasi yang diprivatisasi, seperti pernyataan St Augustine di atas.

Kenosis: Sebuah Gerakan

Apakah benar pembaca mencintai penulisnya? Mencintai dan menghargai, samakah?

Kasih yang murni bagi orang lain disebut kenosis, yang mensyaratkan pengosongan diri seseorang. Konsekuensinya, mengisi kekosongan itu dengan berfokus pada Yang Lain. Yesus adalah contoh kenosis, seperti kata Paulus, “ … dalam hidup bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus, yang walau dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milih yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya …” (Filipi 2: 5-7)

Kenosis merupakan gerakan atau sikap penting dalam mengasihi sesama yang ditandai dengan kepedulian penuh. Jiwa dikosongkan demi menerima pada diri yang dipandang, dalam seluruh kebenarannya. Tradisi kenosis sebagai satu aliran besar dalam dunia Barat, yang ekspresinya ditemukan dalam frase  I am you – saya adalah kamu. Dalam hal ini, seseorang kehilangan dirinya dalam obyek yang dia kontemplasi.

Seorang yang sedang tenggelam, menyadari ketakberdayaannya, menyerahkan diri dengan memandang diri terus, sampai nyawanya terlepas. Dunia menjadi obyek kasih yang murni. Pengosongan diri dalam sikap penuh perhatian dan kasih yang sempurna. Ketika istrinya meninggal dunia (1864), penulis Rusia Dostoevsky berkata bahwa untuk mengasihi seseorang sebagai mana adanya sesuai perintah Kristus, itu tidak mungkin. Setelah kemunculan Kristus sebagai bentuk ideal manusia dalam daging, menjadi sangat jelas bahwa itulah yang tertinggi.

Penutup

Ada sekitar 90 kata baca –beserta turunannya- di Alkitab. Beberapa adalah alasan untuk membaca.

Allah mewajibkan umat Israel, “Apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat Tuhan, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.” Ulangan 31:11

Untuk mendapat pengertian, “Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti (Nehemia 8:8).

Memberi efek menenangkan, “Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah , lalu dibacakan di hadapan raja.” (Ester 6:1).

Untuk mengungkap rahasia, “Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja.” Daniel 5:8.

Untuk menghibur, “Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan (Kisah 15:31) dan kesaksian hidup, “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.” Markus 12: 10.

Perintah Yesus, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Lukas 10:26

Untuk Kekekalan, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” Wahyu 1:3

Is/12/7/18

 

 

 

 

read more
PersonaTERASWARA-WARA

Nh Dini dalam Kenangan  

Foto NH DIni lama

Membaca Nh Dini (1936-2018)

Oleh Ita Siregar

Pengantar

Catatan ini tidak bulat genap. Beberapa buku Nh Dini yang belum kubaca, tetap tak terbaca karena kurang kesempatan. Ada satu buku yang ingin benar kubaca ulang, yaitu Pada Sebuah Kapal. Karya ini sebagai pembuka mata perihal menjadi perempuan dan pilihan. Namun peristiwa membaca cukup lama dan lupa detail cerita.

Alasan ingin membaca ulang karena belakangan dalam buku terbaru Dini, Dari Fontenay ke Magallianes, muncul tokoh ‘kaptenku’ dan aku tergelitik mengetahui rahasia kecil, apakah tokoh itu sama dengan ‘kapten kapal’ di novel Pada Sebuah Kapal. Memang Dini pernah menulis bahwa ‘tulisan-tulisan saya lebih banyak mengandung kenyataan hidup daripada hanya khayalan’ (Dua Dunia, ix).

Aku telepon Endah, siapa tahu ia mengoleksi buku tersebut di lemari bukunya. Tapi sayang seribu sayang, tidak ada. Dia mengusulkan ke Jose Rizal TIM, tapi tak sempat mengubek toko padat buku itu. Ketika milis Apresiasi Sastra meluncurkan program menulis tokoh penulis untuk diskusi dua pekanan, nama Nh Dini segera memenuhi kepalaku. Sudah lama rasanya ingin melakukan riset kecil-kecilan tentang pengarang ini.

Karya-karya Nh Dini kukagumi sejak lama. Dia menulis yang hampir semua tentang diri dan hidupnya tanpa beban dan pretensi. Sikap dan keberaniannya dalam menulis mengesankan dan penting buatku. Beberapa teman berkomentar serupa, Dini hebat karena mampu membeberkan permasalahan yang masih tabu di masyarakat serta kebanyakan melukiskan tokoh perempuan bukan sebagai makhluk lemah.

Juga sebelum melahirkan tulisan ini, aku ingin sekali ketemu beliau langsung di Yogya. Hanya sekadar silaturahmi. Sebuah pertemuan fisik selalu memberiku warna lain dalam menulis dan membayangkan. Seperti ketika tidak sengaja ketemu Pak Budi Darma di Festival Ubud 2005, yang kubayangkan penulis Olenka, Orang-orang Bloomington, adalah manusia usil dan mungkin menyebalkan. Ternyata tidak betul sama sekali. Tapi juga tidak bisa membayangkan bagaimana kesanku bila bertemu Nh Dini langsung. Mas Sigit Susanto sudah mengirimi peta kenangannya bertetangga rumah Sekayu, tempat tinggal masa kecil Nh Dini. Aku meminta tolong Mas Putu Fajar Arcana untuk ancer-ancer lokasi. Endah semangat akan menemani ke Yogya. Sementara tugas-tugas kantor dan pribadi tak berkurang menuntut perhatian, menipiskan waktu bahkan mengirim tulisan ini dalam keadaan terlambat. Jadi, kawan, begitu historisnya. Maafkan kekuranggigihanku menghayati semua buku Dini dan terimalah catatan ini dengan sukacita. Satu kali aku mesti melengkapinya, sedikitnya buat kukonsumsi sendiri.

Mengenal Nh Dini lewat Karya-karyanya

Baginya hidup adalah menyelesaikan tugas-tugas hidup dan menuliskannya. Membaca buku-buku Nh Dini adalah membaca sebuah kehidupan dari masa ke asa. Hampir sepanjang hidup ia menulis dan mencatat peristiwa-peristiwa. okoh-tokoh dalam bukunya lebih banyak bertipe the girl next door. Begitu ekat dengan kita, begitu nyata. Tidak muluk-muluk.

Sebagai penulis ia telah melakukan tugas dengan baik, konsisten, tidak bolong-bolong, tidak banyak bicara. Ia memiliki daya tahan mengagumkan. Ia telah menemukan estetikanya sendiri dalam menulis. Seandainya anggota pasukan, maka ia akan termasuk yang khusus, karena berlatih tekun, militan, memutuskan satu tindakan tepat dan cepat. Dalam satu percakapan lewat email, JJ Kusni berkata bahwa Les Miserables karya Victor Hugo (1802-1885), pemimpin Gerakan Romantisme Perancis, merupakan tonggak penting sejarah bangsa Prancis. Buku itu menjadi bacaan wajib di sekolah menengah di Prancis hingga kini. Oka Rusmini, penulis perempuan asal Bali, telah juga mengupayakan agar bukunya, Tarian Bumi (2000), menjadi buku bacaan wajib pelajar SMA. Beberapa alasan mendasari hal tersebut. Salah satunya pendapat Majalah Horison Juli 2001, yang membandingkan novel Tarian Bumi dengan ujaran novelis Inggris Graham Greene yang merasa telah menemukan India yang sebenarnya justru dalam novel-novel dan cerita-cerita pendek yang ditulis RK Narayan.

Buku-buku Nh Dini bahkan memiliki keistimewaan, ia mencatat berbagai peristiwa secara detail, sehingga ketika ia menulis satu buku, cerita dalam buku itu berasal dari catatan yang akurat dan lengkap, seperti peristiwa sejarah dari masa ke masa hidup Dini. Catatan harian Dini masih tersimpan dengan baik di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Metode sama telah dilakukan BJ Habibie, mantan Presiden kita, menulis buku Detik-detik yang Menentukan (2006) berdasarkan catatan peristiwa penting di awal pemerintahannya, tidak mengandalkan ingatan.

Dini menggambarkan keadaan umum yang terjadi sehari-hari di keluarga, lingkungan, keadaan sosial dan finansial masyarakat, kehidupan serta perkembangan seni, transportasi, jenis makanan. Secara tak langsung Dini melukiskan mental manusia Jawa hidup di masa itu. Menarik mengetahui bagaimana orang-orang dalam masyarakat berpikir dan bertindak.

Karena cerita-cerita cukup detail dan cenderung datar, risiko respons pembaca amat mungkin seperti yang diakui Sigit Susanto, bahwa ia lebih sering mengantuk membaca buku Nh Dini. Tapi buku-buku Dini menjadi serupa referensi yang tidak terhindarkan. Sungguh semarak bila penulis (daerah) Indonesia melukiskan keadaan manusia, masyarakat, masalah sosial lokal daerah masing-masing dalam bukunya. Perempuan penulis asal India, Arundhati Roy, menulis hal detail satu keluarga di Kerala dengan setting tahun 1960-an dalam buku The Gods of Small Things. Jhumpa Lahiri, menulis The Namesake yang menampilkan detail peristiwa dan konflik istiadat yang terjadi dalam satu keluarga, yang merupakan refleksi masyarakat pada masa itu serta mengekspresikan pengalaman dan pemahaman tentang kehidupan. Antropolog Koentjaraningrat (alm) berpendapat pada hakikatnya fenomena sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, difoto, dan didokumentasikan. Oleh pengarang, fenomena tersebut dapat dimunculkan kembali sehingga menjadi wacana baru dengan proses kreatif mengamati, menganalisis, menginterpretasikan, merefleksi, membayangkan, dan yang lain.

Budi Darma mengungkapkan bahwa sastra Indonesia tidak memiliki semangat besar feminisme. Menurutnya, dari sekian banyak karya perempuan pengarang, hanya Nh Dini yang secara terus menerus menyuarakannya. Karya-karya Dini sejak tahun 1950-an sampai akhir abad-20 diikat oleh aspirasi yang kurang lebih sama, yaitu memarahi laki-laki. Mungkin Dini tidak membayangkan hal itu dalam novel dan buku-buku kenangannya. Seperti yang ia ungkapkan, ia hanyalah menulis kenyataan hidup. Ia mengaku bahwa kegiatan mengarang, selain untuk menarik keuntungan kebendaan, ia menginginkan supaya orang, dalam beberapa hal kaum lelaki, mengenal dan mencoba mengerti pendapat dan pikirannya sebagai wakil wanita pada umumnya (Sekayu, 76). Secara tegas ia berkata bahwa ia tidak mau disetir pihak tertentu untuk menulis sesuatu dengan data diselewengkan demi maksud komersil. Ia menelurkan karya-karyanya secara menyeluruh, takkan menyelesaikan karangannya sebelum ada rasa puas dihatinya. Bahkan, satu novel Dini yang dianggap penting, yaitu La Barka, proses pengumpulan data-data detail dilakukannya selama sepuluh tahun sementara untuk mengetiknya hanya diperlukan waktu satu bulan saja.

Masa kecil yang bermakna

Dari membaca satu dua bukunya, akan segera terasa karakter Dini yang ‘dingin’, tenang, adil, ramah, teguh, memiliki citra diri yang kuat, pemerhati kehidupan yang kritis, dan ‘rasa’ Jawa yang kental. Kepekaannya terhadap lingkungan dan karakter manusia-manusia di sekelilingnya bermula dari keluarganya.

Masa kecilnya istimewa dan menjadi dasar yang bermakna bagi kelanjutan hidup setelah masa itu. Ia menulis beberapa buku seri kenangan untuk setiap masa itu. Sebuah Lorong di Kotaku menceritakan kisahnya dan keluarga ketika ia masih sangat muda dan belum sekolah. Sekayu adalah kisah sehari-hari peristiwa ia mulai SD, SMP, dan masa remaja berikut peristiwa-peristiwa yang melingkupi keluarga.

Dari buku-buku kenangan Dini terlukis gambaran fisiknya yang kecil, kulit agak gelap, cara berbicara pelad. Sewaktu keluarga mengunjungi kerabat di Solo, seorang sepupu Dini yang nyinyir, setiap kali mengolok-oloknya, berkata, ‘ah, kamu kecil, semakin hitam saja, dan kau semakin pelad’.

Menanggapi hal itu Dini hanya tertawa dan merasa bahwa sepupunya tidak memiliki hal lain yang membanggakan selain mengolok-olok orang. Ia tidak menimpali, membiarkan olok-olok itu masuk ke kuping kiri dan keluar ke kuping kanan. Citra dirinya terkembang baik.

Di kelas 6 SD dia sudah paham apa yang disukai, orang atau teman mana yang bisa cocok dengannya atau tidak. Ia sudah menentukan bahwa ia tidak menyukai abangnya karena alasan tidak sepaham (bukan karena salah salam). Di kelas 6 SD, dia bisa tahu apa yang disukai, orang-orang mana yang bisa dia sukai atau tidak. Bahkan sebenarnya di usia yang sangat muda itu ia turut memikirkan keuangan keluarga.

Waktu ayahnya meninggal ketika ia masih duduk di sekolah dasar, ia pergi ke sekolah yang lumayan jauh dari rumah. Setiap hari ia harus berjalan bolak-balik melewati dua desa. Beberapa teman kelasnya mempunyai sepeda khusus perempuan. Sesekali ia ikut dibonceng. Tapi karena arah rumah tidak sama, lebih sering ia harus berpeluh meneruskan berjalan kaki sampai rumah. Sementara itu sepeda ayahnya menganggur, sepeda orang dewasa yang bahkan tidak dilirik oleh kedua abangnya. Dini kecil begitu memimpikan sepeda, tapi ia sangat memahami kondisi keuangan keluarga. Ketika ibunya menyarankan untuk mencoba belajar mengayuh sepeda ayahnya yang besar itu, ia segera setuju. Ia menerima nasihat ibunya bahwa kendaraan adalah alat untuk memudahkan hidupnya. Ia mulai berlatih mengayuh dengan bersusah payah. Setelah terampil ia ke sekolah dengan sepeda itu, tanpa menghiraukan apa kata orang. Pengaruh ibunya amat besar dalam memberinya kesempatan untuk mengenal lingkungan lain di luar rumah dan kota lain dan ia mulai bisa menilai perbedaan-perbedaan yang ada.

Dini kecil sudah tergabung dengan perkumpulan seni tari Eka Kapti. Ia membayar iuran secara teratur setiap bulan, mengikuti latihan, memperhatikan peran-peran yang dibawakan para tokohnya. Ia menerima ketika terkadang ia tidak kebagian peran karena suaranya terlalu kecil. Tapi kemudian kelak ia mendapat peran-peran yang cocok untuknya dalam pementasan-pementasan tari yang secara teratur digelar setiap tahun.

Lakon-lakon itu juga membuatnya peka dengan baik-buruk kehidupan dan sikap-sikap manusia dalam menanggapi hidupnya. Dalam hal berbahasa dan menulis, sudah terlihat sejak dia di SD. Guru bahasa Indonesianya memuji karangannya, tapi sedikit mengritik bahwa seharusnya ia menggunakan kata ‘khawatir’ daripada ‘kewatir’, yang adalah bahasa Jawa. Menanggapi hal itu, Dini menjawab dengan tegas bahwa kata khawatir berasal dari bahasa Arab. Itu sebabnya ia memilih untuk menggunakan kata kewatir, yang artinya sama namun diambil dari bahasa Jawa. Ia katakan bahwa bahasa lokal akan terasa lebih dekat dengan masyarakat daerah pemakai bahasa.

Dini remaja peka membaca gelagat teman-temannya. Bila ia tidak menyukai seseorang, ia akan bisa merasakan dan menentukan sendiri sikapnya. Ia akan mundur, tidak bertegur sapa dengan mesra, hanya bergaul sekedarnya saja. Tapi bila ia suka, ia akan menghabiskan banyak waktu bersamanya, berbicara apa saja dan sangat menghargai hubungan itu. Di masa remajanya ia pernah jatuh cinta kepada lawan jenisnya. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, ia tidak bisa makan tidak bisa tidur. Tapi ketika kemudian ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, ia mundur secara teratur. Meskipun sedih ia memahami bahwa tidak semua yang ia inginkan bisa terpenuhi.

Di usia 15 tahun, ia mulai menulis cerita atau naskah drama secara teratur ke RRI Semarang. Ketika pertama kali akan mengambil honor ke kantor itu, satu petugas RRI tidak percaya bahwa ialah penulisnya. Dini tidak tersinggung, hanya berkata bahwa apa tidak mungkin seorang yang kecil bisa menulis secara itu? Ketika petugas itu mengantar Dini pamit dan melihatnya mengambil sepeda besar untuk laki-laki, ia tidak berkomentar lagi. Pada masa kecil dan remajanya, ia sudah memikirkan banyak hal, baik keluarga, lingkungan, dan kegemarannya sendiri. Ia sudah mampu mengelola banyak konflik dalam memutuskan, menerima, menilai, memilih. Dan itu adalah sebuah keterampilan untuk menjadi mandiri.

Peristiwa dalam karya

Buku pertama Dini, Dua Dunia, merupakan kumpulan cerpen, terbit tahun 1956. Ia dicatat sebagai penulis dengan karya sastra angkatan 50-60-an. Menyusul setelah itu novel Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973. Karya ini dianggap sangat diperhitungkan oleh para pengamat sastra Indonesia. Pada tahun yang sama, Marga T. meluncurkan novel Karmila. Kritikus sastra A. Teew menjuluki karya-karya tersebut sebagai sastra pop, untuk membedakan tulisan mereka dengan sastra serius dan menggarisbawahi kelarisan (dan ketidakseriusan) karya. Tak lama setelah itu, tahun 1975, Raumanen, novel Marianne Katoppo yang memenangkan Sayembara Menulis Dewan Kesenian Jakarta, diterbitkan. Jejak ini diikuti banyak pengarang lain, di antaranya Aryanti, Ike Soepomo, La Rose, Maria A. Sardjono, Mira W., Titie Said,, Veronika, Yati Maryati Wiharja, juga Selasih, Rahma Asa, Nina Pane, Lili Munir, seiring dengan munculnya majalah wanita dengan oplah besar di sekitar tahun 70-an.

Sekitar tahun itu perekonomian Indonesia mulai membaik. Daya beli masyarakat meningkat dan muncul permintaan baru, termasuk koran, majalah, buku. Kantor penerbitan dan media massa mulai berkembang. Sejumlah besar majalah mingguan atau bulanan yang di antaranya ditujukan bagi pembaca perempuan. Perbaikan ekonomi merupakan sebuah prasyarat untuk membangun lingkungan yang mau menerima sastra dan seni, papar seorang. Sastra populer harus diakui telah mempunyai pengaruh yang lebih luas pada pembaca, dan membantu meningkatkan kebiasaan membaca di Indonesia karena jumlah pembaca yang besar.

Sementara itu menurut Budi Darma, sastra Indonesia juga penuh dengan sastra kabur. Ada puisi gelap, novel antihero dan anti plot, drama yang tidak jelas, dan lain-lain, mulai bangkit tahun 1970-an dan masih berlanjut hingga kini. Mengapa sastra kabur memukau, apakah mempunyai dimensi masa depan yang baik ataukah hanya sesaat, menurut Budi, jawabannya bisa banyak.

Namun nama Nh Dini adalah satu dari sedikit pengarang perempuan yang penting di negeri ini. Karya-karyanya dianggap sangat reprensentatif bagi banyak persoalan wanita yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Putu Wijaya berkomentar ‘kebawelan yang panjang’ untuk menyebut Dini sebagai pengarang yang menulis dengan telaten dan produktif.

Dini memilih kalimat-kalimat sederhana untuk menggambarnya satu peristiwa. Mudah menebak arah simpatinya. Satu hari, kakaknya, Maryam, menikah. Waktu upacara pidakan, yaitu kaki pengantin lelaki menginjak telur lalu kakinya dibasuh pengantin wanita, Dini tidak merasa terharu dengan simbol seorang istri melayani suami itu. Waktu itu hatinya malah merana melihat telur dibuang-buang hanya digunakan sebagai perlambang (Sekayu, 174). Ia menulis berbagai peristiwa dengan latar belakang kesulitan ekonomi yang merata di mana-mana. Ia menampilkan sistem transportasi buruk. Naik bis untel-untelan, penumpang seperti ikan tongkol dipaksa masuk lebih banyak, juga masalah kereta api. Hingga kini, lukisan tersebut masih tetap abadi, bahkan mungkin lebih buruk dengan banyaknya kecelakaan yang mengiringinya di akhir tahun 2006 dan awal tahun 2007. Sungguh ironis tapi itulah yang terjadi.

Dini menata kalimat-kalimatnya dengan cermat, tak terburu-buru, tekun, runut. Ia memperhitungkan kata-katanya. Ia sudah berbahasa dengan baik, bahkan sejak awal ia memulai debut menulis dan mendapat keuntungan dari sana, dimulai di masa SMP. Ia menyukai proses dalam menulis. Baginya, hal yang paling mengasyikkan adalah mengumpulkan catatan serta penggalan termasuk adegan fisik, gagasan dan lain-lain. Ketika ia melihat melihat atau mendengar yang unik, ia tulis dulu di catatannya dengan tulis tangan.

Hal itu juga karena ia suka merenung, menganalisa kembali dan lebih mengutamakan kepuasannya dalam menyelesaikan tulisan. Satu cerita pendeknya yang panjang, Istri Konsul (2000) terasa berbeda dengan karya Dini lain yang terasa lebih longgar dan jelas. Di sini Dini merangkai kata dan kalimatnya secara rapat dan cepat. Bila dilihat dari rentang masa dan konflik tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, Dini bisa membuatnya menjadi satu novel. Lompatan-lompatan plot yang dilakukannya tidak seperti kebiasaannya yang detail.

Hampir semua masa dalam kehidupan Dini tercatat dalam buku-bukunya. Tapi masa ketika ia menjadi pramugari Garuda, yang cukup lama, yaitu sepuluh tahun, antara tahun 1950-1960, tidak tampak dalam buku-bukunya atau saya belum menemukannya.

Perempuan dan seks dalam karya

Dini setiap kali menampilkan nama perempuan dalam tokoh-tokoh di novelnya. Seorang pengamat mengatakan bahwa tokoh-tokoh perempuan yang diciptakan pengarang perempuan lebih merupakan manusia perempuan dan bukan sekadar konsep mengenai bagaimana seharusnya menjadi perempuan. Dalam satu tulisan Sapardi Djoko Damono, tokoh perempuan yang ‘diciptakan’ oleh laki-laki lebih merupakan konsep, yakni apa yang oleh laki-laki dianggap sebagai ‘perempuan.

Dra Sariyadi Nadjamuddin-Tome, MS, dosen FBS Unima Tondano meneliti dan membuat makalah tentang permasalahan wanita dalam novel Nh Dini, La Barka. Isu wanita di buku ini terutama berkaitan dengan pembagian kerja secara seksual, cinta segitiga dan sosiokultural dalam suatu perkawinan campur. La Barka melegitimasi bahwa tidak selalu kekeliruan, kelemahan, tindak deviasi, bersumber pada diri kaum wanita, seperti pandangan tradisional selama ini.

Permasalahan yang ditampilkan dianggap memberi daya tarik tersendiri juga aktual karena sering dibicarakan dan dibahas dalam berbagai seminar pakar sastra dan komunitas gerakan perempuan. La Barka memiliki potensi menjadi saksi di zamannya mengenai masalah wanita yang dianggap sebagai warga kelas dua (the second sex) akibat partiarchal power, paham yang dapat menyebabkan ketimpangan sosial. Menurut Sariyadi, penelitian dengan teori kritis sastra feminis yang diterapkan dalam analisis teks La Barka, menghasilkan pembuktian bahwa teori kritis sastra feminis dapat dimanfaatkan dalam penelitian sastra yang bersifat ilmiah.

Menyinggung soal seks, khususnya adegan-adegan yang dimunculkan dalam karya-karyanya, ia menganggapnya wajar-wajar saja. “Saya spontan menuliskannya. Kalau sekarang saya disuruh membacakannya di depan umum, saya baca. Hal itu unsur kehidupan juga, seperti bernafas. Kenapa kalau bernafas tidak malu. Seks dalam bentuknya tersendiri adalah satu puisi,” ujarnya. Melani Budianta, pemerhati sastra di Jakarta mengatakan, sastra populer hasil karya perempuan pengarang di akhir 1990-an telah memunculkan sebuah generasi baru, yang berani mengeksplorasi seksualitas lebih dalam, memakai cara penulisan yang berbeda dan bahasa yang lebih puitis. Namun karya mereka sama sekali tidak dipandang sebagai pornografi, misalnya Saman karya Ayu Utami dan Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu. Esais Nirwan Dewanto mengatakan seksualitas bukanlah sesuatu yang baru. Nh Dini sudah menggarap masalah tersebut pada novel Pada Sebuah Kapal, hanya saja Dini tidak begitu radikal.

Di buku terbarunya, Dari Fontenay ke Magallianes, Dini menulis dengan gaya lebih segar dan memikat. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Prancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan tentu saja perselingkuhan yang menggetarkan dengan sang kapten. Tentang yang terakhir itu dia tulis secara gamblang dan terang-terangan. Ia mengungkapkan betapa tertekan hidup bersama (mantan) suami Prancisnya yang pelit dan garing.

Namun karakternya yang adil, Dini tetap memuji kebaikan hati suaminya yang memberinya beberapa kebebasan, misalnya berlibur ke Indonesia dan dapat bersekolah kembali sesuai cita-citanya. Buku ini indah dan semarak seperti musim semi meskipun lahir dari pengalaman pahit si pengarang. Sebentar lagi ia berusia 71 tahun. Sebenarnya bisa saja usianya lebih muda karena ia lahir 29 Februari 1936, artinya berulang tahun setiap empat tahun. Di satu buku kenangannya, ia mengutip sajak Rendra, bahwa hidup bukan untuk mengeluh, tapi tugas yang harus diselesaikan demi kehormatan.

Sebagai penulis, Dini telah menyelesaikan tugasnya dengan baik.

 

Januari 2007

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (2)

Komisi Ideologi

Pokok-pokok Pikiran Sidang Komisi Ideologi

  1. Ideologi Pancasila dibutuhkan untuk mengatasi problem kenegaraan dan kebangsaan, yang terkait dengan keberadaan bangsa Indonesia. Pancasila merupakan saripati dari nilai bersama dalam masyarakat Indonesia. Butir-butirnya diuraikan dalam living values/ nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Keragaman yang tak terbatas ini memerlukan ideologi untuk menyatukannya. Untuk itu, Pancasila perlu dimaknai dengan menguatkan aspek kosmologis dan kultural. Pancasila bukan sesuatu yang asing karena digali dari masyarakat kita. Kesatuan perlu dipahami bukan sebagai penyeragaman, tapi keterhubungan. Sebagai ideologi formal, Pancasila sudah “selesai”. Yang belum selesai adalah pemaknaannya. Seperti dalam masyarakat Bali yang memiliki hukum formal adat, Tri Hita Karana[1], tidak dapat diutak-atik. Tapi pada tingkat perarem, hal ini dapat dibicarakan dan direvisi kembali. Proyek kita sekarang adalah Pancasila ideologi lintas generasi dalam bangsa kita.
  2. Ideologi berarti gagasan-gagasan besar untuk membangun masyarakat. Membangun merupakan sesuatu yang abstrak tapi riil, mempengaruhi dan mengonstruksi cara hidup dan cara berpikir masyarakat Indonesia. Saat ini ditemukan kesenjangan antara kesepakatan final terhadap Pancasila sebagai ideologi dengan penerapannya di dalam masyarakat. Kita perlu pembudayaan atau internalisasi nilai-nilai Pancasila. Tantangannya kini pada jiwa memiliki masyarakat terhadap Pancasila.
  3. Tantangan-tantangan yang dimaksud di atas adalah kecenderungan untuk mempertentangkan kesetiaan terhadap agama dan negara, monopoli interpretasi terhadap Pancasila, dan sakralisasi Pancasila. Untuk menjawab tantangan ini kita perlu pendidikan kewarganegaraan/ civic education untuk menginternalisasi Pancasila sebagai representasi ideologi yang integratif dan inklusif melalui strategi partisipatif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
  4. Pancasila merupakan nilai-nilai universal yang perlu diperkenalkan kepada dunia global.

[1] Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan) yaitu prinsip-prinsip universal berupa memiliki hubungan baik dengan Pencipta, alam, dan sesama manusia.

Jakarta, 24 November 2018

Pimpinan Sidang Komisi Ideologi

Marko Mahin

 

read more
OASETERASWARA-WARA

Mufakat Kebangsaan Indonesia (1)

Foto 1

Temu Akbar 3 Mufakat Budaya Indonesia telah dilangsungkan di Jakarta pada 23-25 November 2018, terbagi dalam 5 sidang, yaitu Komisi Ideologi, Komisi Konstitusi, Komisi Kenegaraan, Komisi Kebangsaan, dan Komisi Kebudayaan. Berikut adalah Pokok-Pokok Pikiran Sidang Komisi Kebangsaan:  

  1. Realitas di era mutakhir, mengalami kemerosotan values dalam berbagai aspek kehidupan. Pewarisan nilai-nilai luhur suku bangsa belum mendapatkan wacana  yang memadai dalam praktik sosial-kultural di Indonesia. Terjadi perubahan tata nilai dan tata hidup bangsa membawa pada pola kehidupan yang pragmatis dan material. Karena itu Komisi Kebudayaan MBI merasa perlu mengembalikan nilai-nilai luhur yang selama ini dilupakan sebagai dasar berpikir yang relevan untuk kebudayaan masa depan Indonesia.
  2. Kebudayaan Indonesia dipahami dan diidentifikasi sebagai manifestasi dari nilai luhur tiap suku bangsa yang perlu diwariskan, dilestarikan, dan diciptakan kembali. Kebudayaan Indonesia mengikat 745 suku bangsa untuk berproses, berinteraksi, dan bereproduksi dalam hubungannya dengan pembentukan identitas kebangsaan yang bersifat multikultur, cair, dan dialektis antara gunungan (kontinental)-bahari.
  3. Praktik pewarisan, pengembangan, dan pelestarian didasarkan pada nilai-nilai kebaikan bersama sehingga kekayaan sumber daya di daerah-daerah seluruh Indonesia menjadi bagian dari strategi untuk memperkaya dan memberdayakan kebudayaan. Identitas kebangsaan yang sudah teridentifikasi sudah tecermin di dalam Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kebebasan, kebersamaan, dan keadilan sosial. Fusi masing-masing unsur tersebut sangat bermanfaat untuk memperkaya kahazanah identitas kebudayaan Indonesia, dan meski terus menerus kita re-thinking, re-interpertasi, re-vitalisasi agar senantiasa mendapatkan aksentuasi-nya secara kontekstual dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Perlu pranata baru yang direkonstruksi tafsirnya tentang identitas melalui perkembangan ilmu dan teknologi untuk meneguhkan budaya Indonesia. Kebudayaan Indonesia perlu pola yang terbuka, inklusif, relasional, dan kesediaan belajar.
  5. Gagasan tentang nilai, pranata, hingga praksis kebudayaan perlu diarahkan pada nilai-nilai yang sudah disepakati di dalam kearifan lokal yanh telah digali melalui transliterasi, tranlasi, dan transformasi nilai. Contoh, “desa kala patra” sebagai bagian dari kearifan Bali memerlukan format yang tepat dalam praktik kebudayaan mutakhir. Sebagai tuntunan yang berbentuk kearifan lokal memerlukan kemasan dalam strategi tontonan sehingga dapat bermamfaat untuk proses tafsir identitas kebangsaan yang bertumbuh. Disinilah keterlibatan penyelenggara negara adalah niscaya. Perasan ide dan gagasan komisi budaya MBI perlu ditindaklanjuti secara nyata, menyentuh dan berkesinambungan.
  6. Kebudayaan memang tidak cukup dirumuskan karena diversitas kebudayaan begitu luas dan kaya. Diantaranya terdapat kearifan lokal yang perlu dikenal dan tidak dibiarkan terapung, yang perlu di reinterpretasi dan revitalisasi. Identitas kebudayaan Indonesia perlu “dikejar” mulai dari ke belakang sampai ke depan yang tidak terputus. Meskipun tidak mungkin dirumuskan bukan berarti tidak memiliki rumusan. Budaya di sini dilihat sebagai definisi yang mengalir, dan budaya adalah adiluhung. Tersebar di seluruh Nusantara, dia akan terbentuk sendiri secara alami dan menjadi suatu karakter yang dapat dirasakan oleh bangsa ini. Secara sosio-historis Indonesia mengalami penyusutan kultural dan simbolik hingga tak mengenal dirinya sendiri dan oleh karena itu mudah dimanipulasi melalui destruksi asing.
  7. Sastra adalah salah satu bentuk simbolik untuk mengenal kebudayaan. Pada tahun 1892 sastra Nusantara yang dikeluarkan oleh Inggris pada tahun 1977 dalam bentuk katalog. Bahkan tentu kita dapat menemukan jauh sebelumnya, terdapat sastra-sastra luhur dalam babad, serat, tabo, dan sejenisnya yang saat ini sulit sekali kita dapatkan, dan barangkali sebentar lagi akan musnah. Dalam teks-teks sastra tersebut kita dapat menggali sedemikian rupa zaman yang direkam dan diperlihatkan bagaimana menghadapi zaman. Kita bangsa Indonesia dapat belajar dari semua itu. Saati ini zaman ditentukan oleh teknologi informasi yang disebut internet, orang menyebutnya zaman milenial. Tidak ada masalah dengan zaman ini, sebab antar zaman dan peradaban semestinya tidak terputus. Yang menjadi masalah adalah apabila era teknologi informasi ini tidak diisi dengan pengetahuan kita soal Nusantara, soal kebudayaan yang telah disebutkan di atas: multi-diversitas.
  8. Oleh karena itu perlu ada re-thinking tentang kebudayaan Indonesia, dengan catatan tanpa menghilangkan jejak, simbol, kearifan lokal, sastra-sastra luhur, yang merupakan jejak itu sendiri dan perlu ditelusuri lagi. Kita memang telah kehilangan dan terputus dari jejak-jejak tersebut, sebab tidak terintegrasi dalam bidang pendidikan. Pendidikan menjadi produk budaya yang seharusnya dapat membantu kita dalam merumuskan hal ini, yang kemudian terpecah belah oleh urusan politik. Demikian forum Komisi Kebudayaan ini mencoba menjadikan diskusi sebagai intisari untuk sikap kita tentang Mufakat Budaya.

 

Jakarta, 24 2018

Pimpinan Sidang Komisi Kebudayaan

Saifur Rohman

 

read more
TERASWARA-WARA

Menimbang Kembali Konstitusi Indonesia

foto diskusi MI 1

Rangkaian keempat Diskusi Publik Mufakat Budaya Indonesia (MBI) telah dilakukan di Ruang Rapat Besar Harian Media Indonesia di Kedoya Jakarta, pada pagi Selasa, 6 November 2018. Kali ini diskusi menghadirkan narasumber Mahfud MD, Komaruddin Hidayat, Refly Harun dan Radhar Panca Dahana, serta moderator Abdul Kohar

Ringkasan sebagai berikut:

Prof Dr Mahfud MD

Judul diskusi Menimbang Kembali Konstitusi Kita adalah tepat karena MPR sekarang telah membentuk satu panitia untuk menyiapkan rancangan perubahan terbatas pada UUD, terbatas pada mengembalikan fungsi, tugas dan wewenang MPR dalam menetapkan GBHN.

Menimbang kembali artinya menilai kembali secara mendalam dan kemungkinan itu terbuka dilakukan. UUD adalah produk situasi karena secara teori UUD adalah resultante dari situasi sosio-politik-ekonomi pada waktu dibuat. Kalau situasi dan waktu berubah, UUD pun dapat diubah.

Sejak dulu Negara ini sudah mengubah konstitusi berkali-kali dan tidak terkait dengan teori tertentu. Hukum kita tidak mengikut trias Politica tetapi panca as politika bahkan sekarang hasta as politica, 8 poros kekuatan. UUD Indonesia tidak seperti Amerika karena DPD kita punya kekuasaan legislatif penuh. Di Amerika, UU akan disetujui oleh parlemen dan senat, bila tak setuju boleh melakukan veto, dibawa ke Senat, dan dikembalikan ke kongres yang dipimpin oleh Mahkamah Agung.

Indonesia membuat hukum sendiri berdasarkan nilai-nilai domestik. Dan konstitusi Indonesia tidak asli seperti halnya badan legislatif, eksekutif, dan yudikatif kita pun. Seperti sistem pemerintahan khilafah tidak asli, dan tidak diatur oleh Al Quran dan Hadis. Sekarang ada 57 sistem khilafah di Negara berbeda di dunia.

Indonesia pernah 4 kali berturut-turut mengubah UU. Ketika reformasi mengubah UUD untuk memberantas KKN namun faktanya KKN menggila meski ada beberapa kemajuan juga. Di daerah, banyak perkara tanah memiliki banyak izin karena ganti bupati menerbitkan izin berbeda. Pernah ada kasus, jatah lahan pertambangan lebih luas daripada luas kabupatennya.

Tidak pernah dalam sejarah kita menerima UU yang tidak berubah. UUD 45 bertahan 2 bulan sebelum diusulkan diganti oleh Sjahrir. Kemudian Hatta meminta mengubah satu pasal. Orang berpendapat voting tidak sesuai dengan Pancasila padahal Negara kita dibentuk dengan voting. Pertama pemilu, ada 54 orang meminta sistem demokrasi, 7 kerajaan, 1 abstain. Lalu diubah lagi ke negara federal, lalu sistem presidensil ke parlementar. Tahun 1949 diubah resmi ke negara serikat, 4 bulan diprotes oleh Natsir kembali ke negara kesatuan. Karena sering karena itu pernah disebut UUD Sementara. Ketika terjadi pelanggaran besar-besaran, diubah lagi. Kita pernah mengalami demokrasi terpimpin, kemudian kembali menjadi demokrasi.

Ketika Bung Karno jatuh, OrBa mengatakan akan melaksanakan UUD 45 secara murni dan konsekuen. Menimbulkan reaksi luar biasa, dan setelah Suharto jatuh, diubah lagi, bahkan sebelum disahkan sudah dirobek oleh seorang yang protes. Tidak ada konsep yang akan diterima oleh 275 juta kepala rakyat Indonesia.

Intinya, filosofi sebuah konstitusi baik dan dimaksudkan untuk kepentingan rakyat. Bila dalam pelaksanaannya tidak sesuai, itu masalah lain. Prinsipnya, konstitusi harus ditaati selama dia berlaku.

Prof Dr Komaruddin Hidayat

Menggarisbawahi pernyataan Prof Mahfud yang mengatakan teori tidak mutlak diperlukan, tetapi tetap dapat dipakai agar tidak mulai dari awal. Sebuah teori dianggap bagus pandangan kaum pragmatik, karena seperti sebuah produk, dapat diketahui untuk menilai produknya.

Dalam konteks negara, kita sebagai WN, hierarki konstitusi dan uu berbeda namun bahwa ia mengamati konstitusi atau UU di Indonesia membuat sintesa 3 elemen demokrasi dunia, yaitu teokrasi, liberalisme, sosialisme.

Sila ketuhanan diambil dari komponen teokrasi dengan banyak unsur keagamaan. Kontestasi antar ormas dari antarparpol menarik. Sekarang ormas lebih menarik malah parpol tidak lagi menarik karena tidak ada identitas.

Sila kemanusiaan, elemen dari liberalisme  dan humanisme, kebebasan invididu. Dalam pancasila awal, ini disebut pertama, barangkali sebagai ekses terlalu lama dijajah maka yang muncul pertama kemanusiaan, sebagai resultante bitter memori lama dijajah.

Sila musyawarah mufakat, ini diambil dari elemen sosialisme. Menyatukan elemen-elemen yang paradoksal.

Menurut Yuval Noah Harari, intelektual muda Yahudi, bangsa-bangsa di dunia ini mengalami 3 problem, yaitu teknologi, politik dan identitas.

1) Masalah Teknologi. Bila satu Negara tertinggal teknologi sulit bersaing dengan negara lain meski sumber alamnya melimpah. Neokapitalisme baru ini dengan kekayaan yang tidak berdasarkan berapa luas tanah, berapa capital dan industri, tetapi mesin siapa yang menguasai big data dan mengendalikan jaringan informasi. Bill gates kekayaannya tidak dihitung dari kapital tetapi kekuasaannya. Indonesia jauh ketinggalan dari Singapura dalam hal ini.

2) Masalah Politik. Dalam hal ini mungkin SDM, aturan, tata negara, konstitusi, mekanisme, dll. Kalau gagal maka hasilnya akan berantakan. Di beberapa negara seperti di Syria, dan beberapa Negara di Timur Tengah negara yang ikut demokrasi justru yang paling ribut. Yang tidak menganut sistem demokrasi relatif lebih aman. Arab Saudi termasuk aman meski mencekam juga. Emirat, Yaman, Qatar, aman yang kerajaan. Masalah politik harus dijawab oleh situasi lokalitasnya. Ketika aspek politik nya salah seperti yang terjadi di Yunani, Argentina, Venezuela, Lybia, negara kaya namun akhirnya berantakan juga.

3) Masalah Identitas. Negara berteknologi maju namun ternyata tidak hilang. Negara Amerika Serikat yang menganut demokratis paling modern, masalah identitas menguat pada masa Trump. Hanya di sana, aspek politik dan teknologi mapan sehingga masalah identitas terkendali.

Komaruddin mengkhawatirkan masalah identitas di Indonesia. Bila tidak diimbangi dengan agenda politik dan teknologi yang tepat, dan bila tidak diselesaikan dengan baik, akan menambah masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kaitannya dengan UU, yaitu 1) Masalah politik yang memburuk ketika rekrutmen anggota legislatif dan eksekutif tidak dilakukan dengan baik. Dengan demikian bukan orang yang terbaik yang duduk di sana. Yang terbaik malah termarginalkan karena membentur dua tembok kekuatan, yaitu 1) pemodal dan punya massa sehingga kapitalis sudah pada lini konstituti dan uu. Otoritas dalam mempromosikan legislatif dan eksekutif tergantung pemodal -cukongnya, yang bila tidak lepas dari cukong akan menggeroti kualitas kehidupan negara.

Sulit memisahkan partai dan uang. Biaya partai parpol mahal. Negara tidak memberi dana yang cukup. Akhirnya, posisi –legislatif dan yudikatif tadi- dilelang. Siapa punya uang punya massa, sila nyalon. Orang-orang pintar, aktivitis partai dengan idealisme namun karena tak punya uang, akan kalah. Orang yang duduk di legislatif adalah kw 2, kw3. Politik yang tidak menyelesaikan masalah.

Dulu karena popular, artis yang punya massa. Sekarang simbol-simbol agama dianggap paling seksi digunakan dalam menggalang kohesi sosial. Karena, identitas ormas dengan simbol agama lebih menonjol dari parpol yang sekarang tambah tidak jelas identitasnya. Juga instrument agama lebih mudah dimainkan daripada parpol.

Dulu suara rakyat dibungkam ketika orde baru, sekarang dibuka selebarnya. Mata rantainya didekatkan. Oleh karena itu dibuatlah pilkada langsung agar muncul putra-putra terbaik daerah. Asumsinya, putra daerah lebih dikenal oleh rakyat maka akan bertanggung jawab kepada rakyatnya. Tapi asumsi itu meleset. Pilkada malah menghasilkan sekian banyak koruptor. Tentang hal itu ada kemungkinan, 1) biarkan proses itu agar makin matang, 2) tarik kembali UU dan dikembalikan ke DPR saja. Karena kebebasan yang overdosis akan membunuh kebebasan itu sendiri,

Demokrasi dan hukum harus berjalan dengan baik. Kalau hukum overdosis akan membunuh demokrasi. Demokrasi berkembang hukum pun harus berkembang. Demokrasi terlalu bebas akan menjadi anarki.

Satu teori mengatakan, kalau income perkapita rakyat Indonesia di atas 6000 dan pendidikan merata, maka demokrasi baik. Indonesia bukan negara kontinental, namun kepulauan yang tersebar. Tingkat ekonomi dan pendidikan jomplang. Sense of citizenship (rasa warga Negara) belum tumbuh. Yang muncul warga kelompok identitas, bukan citizen.

Oleh karena itu perlu mencari sumber masalah pada hulu. Yaitu UU dan konstitusi. Pada ketimpangan ekonomi yang terjadi karena masalah pada hulu. Di Indonesia, semangatnya Pancasila tetapi UU-nya liberal alias kepala ke utara kaki ke selatan. Salah satu contoh saja bahwa kekayaan alam dan hutan, dll di negeri ini, dimiliki pribadi. Sementara dalam idealisme Pancasila, seluruh ala mini milik bangsa. Jadi baik kalau kita membenahi dulu persoalan UU.

 

Dr Refly Harun

Ada 3 sikap memandang konstitusi:

1) pandangan status quo, merasa UU sudah mapan. Mereka sudah puas dengan perubahan konstitusi.

2) pandangan progresif, mereka yang menganggap hasil perubahan belum pas, perlu beberapa yang harus disempurnakan. Misalnya, kelembagaan DPD, presiden, independensi.

3) pandangan regresif ingin kembali ke UUD 45. Ada beberapa manifesto partai  politik tertentu ingin kembali ke ini.

Ia memilih sikap kedua. Dari sisi teori, perubahan konstitusi seharusnya karena krisis politik, gonjang-ganjing politik, perubahan kepemimpinan nasional, perubahan sistem politk perubahan bentuk negara. Indonesia, Filipina, Thailand, Negara-negara Arab –ketika mengalami Arab Spring- juga uni soviet.

Ada beberapa lembaga yang tidak optimal. MPR misalnya, bertugas melantik presiden dan wapres yang hanya kapan-kapan. Memilih pres dan wapres ketika keduanya berhalangan, itu belum tentu sekali terjadi. Memilih pres dan wapres ketika keduanya berhalangan, itu pun kapan-kapan. Keberadaan MPR harus dievaluasi.

Lalu keanggotaan DPR. Anggota DPR dari propinsi Jatim atau Jabar bisa sampai 30-40 orang. Sementara DPD hanya 4. Sementara itu juga kewenangan DPR tidak ada padahal memiliki anggaran trilyunan.  Pada MK, disayangkan hanya diberi kewenangan pengujian UU. Seharusnya ada konstitusional kontrol. Pengujian UU harus ke MK. Pilihannya mengoptimasikan peran konstitusi.

Dalam termin kedua, presiden sebaiknya sudah memikirkan hal-hal strategis dan paradigmatik,  dimulai dari pembentukan kabinet yang baik untuk program jangka panjang Indonesia. Ada komisi-komisi yang terjadi dari pada ahli/negara untuk meninjau ulang UUD 45 dengan kesalahan paling sedikit. Lalu dibuat tim lain untuk meninjau ketatanegaraan, aturan di bawah konstitusi, UU politik, UU pemilu sehingga hukum tidak dibuat lemah.

Radhar Panca Dahana

Berangkat dari ungkapan lama tentang empat pilar harga mati. Dan itu sudah cukup kuat terpatri di banyak kalangan seperti pejabat, pemerintahan, menkopolman, senior-senior. Seharusnya tidak ada kecenderungan sakralisasi yang 4 itu. Bendera bahasa semua harga mati kalau begitu.

Di negeri ini bahkan Pancasila lebih sakral dari kitab suci. Siapa berani menyentuh preambul di Pancasila. Suku bangsa yang sudah ribuan tahun dan sudah mengembangkan dirinya, tiba-tiba dipatenkan atau dibunuh oleh sebuah produk; sementara yang abadi kita korek-korek. Artinya, konstitusi dan UU tidak mampu lagi dipakai untuk menjawab masa depan dan perkembangan yang tidak unpreditable.

Para bapak ibu perintis negeri ini sudah sekitar 70 tahun lalu menjawab keadaan masa itu. Dan tidak memahami keadaan kita sekarang. Oleh karena itu diusulkan untuk diselesaikan oleh konstitusi, melakukan amandemen terhadap konstitusi terhadap diri sendiri dan bangsa. Banyak persoalan yang tidak selesai karena ketika berhadapan dengan realita di luar konstituti menjawabnya.

Misalnya, masalah iklim yang menyerang seluruh dunia. Dalam waktu 12 tahun lagi atau ketika suhu bumi naik 1,5 derajat, sekarang 0.2., yang terjadi 60 negara hilang. Bumi akan kekeringan berkepanjangan, kebakaran bertahun-tahun, hijrah penduduk yang luar biasa, dan sumber daya begitu langka. Kita akan berperang karena sebotol bensin atau setangkai buah.

Jadi masalah bukan hanya politik dan ekonomi saja. Dalam situasi itu bagaimana bangsa dan Negara ini dapat menjawab dengan konstitusi yang begitu disakralisasi?

 

Komentar-komentar

  1. Pak Siagian

Apakah pancasila bisa masuk ke preambul uud 45, dalam rangka amandemen, sehingga Negara tidak bubar.

  1. Sugianto santoso

Beberapa oknum hukum masih rapuh. arus diungka terus. Pakar hukum memalukan karena ingin bayaran. Saya berharap masalah hukum kritis dan strategis.

  1. Suhadi sendjaja

Agama muncul karena ada kekacauan. Tidak benar kekacauan terjadi karena agama. Agama muncul agar kekacauan bisa diatasi. Itu asal mula dan landasan ini tidak boleh berubah. Peran agama dan kebudayaan menyangkut soal penataan yang dalam namun perlu waktu panjang. (itasiregar/MBI)

 

read more
TERASWARA-WARA

Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini?

Foto Diskusi UI 1

Notulensi

Diskusi publik dalam rangkaian Temu Akbar Menuju Mufakat Budaya 3 ini telah sampai pada kali ketiga. Dengan tema Kebangsaan, diskusi bertajuk Apa dan Siapa Bangsa Indonesia Ini? telah terlaksana dengan baik di Aula Terapung Perpustakaan UI Depok pada Jumat 2 November 2018. Dihadiri oleh sekitar 100 peserta, acara ini menghadirkan empat narasumber yaitu Bambang Wibawarta, Haidar Bagir, Suhadi Sendjaja dan Olivia Zalianty –mewakili generasi milenial. Diskusi dipandu oleh Bara Pattiradja.

Diskusi berfokus pada bagaimana generasi milenial sebuah bangsa terkait kedaulatan teritorial, di saat mereka mendeklarasikan diri sebagai warga global? Pada abad digital, generasi baru tidak lagi merasa berada dalam lingkup sebuah bangsa, lantaran pergaulan mereka tak ada lagi berbatas spasial dan teritorial. Ruang yang mereka huni adalah tanpa batas. Mereka telah melampaui definisi citizen, menuju interaksi alam bebas dengan status netizen.

Lalu, bagaimana dengan civic culture atau budaya kewargaan dalam sebuah bangsa yang berdaulat mesti ditegakkan? Apakah mereka masih dapat mengenali dirinya sebagai warga dari sebuah bangsa bernama Indonesia? Atau jangan-jangan identitas kebangsaan yang bersidik-jari Indonesia itu telah lebur ke dalam riuh perbincangan di jagad maya, yang dihuni oleh orang-orang asing, yang juga tidak punya identitas kebangsaan?

Prof Dr Bambang Wibawarta, M.A

Pejabat Rektor Universitas Indonesia ini mengawali dengan mengatakan bahwa empat pilar bangsa -Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD ’45 dan NKRI –  masih retorika dan seremonial, belum menjadi budaya dan perilaku. Teknologi yang bergerak pesat dan dinamis akan berdampak pada perilaku manusia secara sepihak. Pertukaran pandangan dan pikiran antarindividu dalam dunia global terjadi secara cepat. Dan anak muda yang paling terpapar.

Kebangsaan adalah rasa dan kesadaran diri yang tertanam dari diri seseorang. Kira-kira 12 tahun lalu ia diundang ke Jepang, dan mengatakan teknologi Jepang akan tertinggal dari Korea. Belakangan produk-produk selular Jepang tersingkir digantikan Samsung dan Xiaomi dari Cina. Masyarakat Jepang memutuskan sesuatu lambat sesuai budaya sungkan mereka. Sedangkan Korea merumuskan dan cepat memproduksi. Bahkan Cina, istilahnya, belum dipikir mereka sudah memproduksi.

Karakter bangsa akan dipengaruhi oleh karakter manusianya. Produk suatu bangsa akan mengandalkan masyarakat terdidik sebanyak 90% dan 10% dari sumber alam. Bangsa Indonesia masih banyak pe-er dalam hal sumber daya manusia yang baik. Bagaimana berpikir lengkap, menumbuhkan masyarakat dengan dasar pengetahuan (knowledge-based), sejak tingkat paling dasar: PAUD, SD.

Bangsa Indonesia masih bangga sebagai melting pot. Banyak budaya tercampur-baur di sini. Ibarat pecel, masing-masing komponen tak terlihat karena sudah tercampur. Kebudayaan yang komprehensif meliputi mindset, lalu bidang kesehatan, ekonomi, politik, dan lain-lain. Bukan budaya materi saja.

Pemerintah seyogyanya dapat mengelola kebudayaan dan keragaman yang kita miliki sebagai kekuatan. Memang sudah ada UU pemajuan kebudayaan tetapi masih belum tahu apa dan bagaimana maksudnya. Apa yang dimaksud dengan memajukan kebudayaan? Kita belum ada strategi yang komprehensif dalam hal kebudayaan. Diperlukan kesepakatan dalam tingkat Negara untuk menghasilkan konstruksi yang terbuka. Dengan demikian penyelesaian permasalahan sampai ke akar.

Bangsa bukanlah suatu ras atau orang yang punya kepentingan sama, dibatasi geografis saja melainkan jiwa dan asas solidaritas pengorbanan masa lampau dan sekarang, berlanjut ke masa depan, melalui kesepakatan untuk hidup bersama. Kaum milenial bukan yang terlepas dari kebangsaan tetapi selalu ada benang merah yang kita harus rajut bersama. Kita harus mempunyai perekat yang mengikat keindonesiaan kita seperti bahasa misalnya.

Laut bukan pemisah pulau tetapi perekat keindonesiaan, begitu pula budaya dan masalah pendidikan ekonomi. Ini yang harus diinternalisasi dalam pendidikan formal. Ujung tombaknya pendidikan termasuk pendidikan budaya dan nilai-nilai yang kita sepakati bersama. Dengan demikian kita tidak khawatir dengan budaya yang masuk dari luar. Karenanya titik singgung agar berdampingan harus dipelihara. Sistem pendidikan  diinternalisasi menjadi perilaku sehari-hari agar dapat menangkal  korupsi, intoleransi, radikalisasi, dan lainnya.

Suhadi Sendjaja

Maha Pandita Utama Buddha Dharma Niciren Syosyu (NSI) memaparkan kebangsaan dari perspektif Buddha. Bahwa bangsa bukan sekumpulan manusia yang senasib, dalam batas geografi yang sama, yang berada dalam tiga masa -lampau, sekarang, dan masa depan, namun sepenuh kehadiran. Kehadiran saya sangat khas. Keadaan setiap orang sangat khas. Bahkan manusia yang lahir kembar pun tidak ada yang persis sama

Manusia dan lingkungan mempunyai hubungan saling mempengaruhi. Manusia dan alam bukan dua, bukan juga two in one, tetapi satu. Karena itu apa yang ada di lingkungan merupakan sepenuhnya refleksi dari subyek ini. Bila lingkungan harus diperbaiki maka yang diperbaiki adalah tubuhnya. Itu prinsip dasarnya.

Manusia sebagai sebuah komunitas dan perkembangan lainnya adalah teknologi. Agama Buddha melihatnya sebagai temuan-temuan. Misalnya, cerita komik Kho Ping Ho menceritakan tentang cermin lopian yang dapat mendengar dari jarak jauh. Dulu rasanya tak mungkin. Sekarang itu bukan hal aneh lagi. Newton pun tidak menciptakan hukum daya tarik bumi tetapi dia menemukan. Temuan-temuan oleh manusia adalah alat bantu untuk meningkatkan kemudahan bagi kemudahan dalam hidup. Ujungnya adalah untuk kebaikan dan kemanusiaan. Kemajuan teknologi harus dibarengi dengan kemajuan spiritual. Untuk kebahagiaan manusia.

Semua manusia itu bersaudara. Indonesia menjadi satu bangsa yang dilandasi oleh kebudayaan dari 17 ribu pulau. Di laut kehidupan jutaan, ikan kecil menjadi makanan ikan besar, plankton ada rumput laut, dan biota lain. Semua bersimbiose mutualisme. Begitu juga bangsa indonesia dengan ribuan suku bangsa dan ratusan bahasa. Masing-masing menjadi landasan komunitas dan perbedaan menjadi kekuatan untuk membentuk sebuah kebangsaan yang unggul. Kita sebagai makhluk sosial ada pemikiran bahwa dalam diriku ada dirimu, dalam dirimu ada diriku. Bersimbiose yang mutualisme di alam semesta menjadi suatu ciri khas karena perbedaan manusia, tempat kedudukan, pribadi-pribadi menjadi kekuatan bersama ketika kita sepakat untuk tingkatan kesejahteraan bagi seluruhnya.

Dr Haidar Bagir

Menurut doktor lulusan Universitas Harvard dan CEO Mizan ini, pertanyaan “apa dan siapa bangsa Indonesia ini” seperti sejarah tentang segala sesuatu. Ia pernah menulis strategi kebudayaan namun mungkin bagi orang lain itu tidak pantas.

Manusia adalah persoalan keunikan. Manusia punya kedudukan yang berbeda-beda, sebagai individu dan masyarakat. Budaya yang berbeda itu alami dan disyukuri. Pluralisme budaya tidak bisa dihindari namun harus disyukuri dan dipertahankan agar kehidupan menjadi lengkap.

Dalam satu forum bertema, Adakah Islam Indonesia, dia mengatakan Islam indonesia itu panteisme. Pada waktu itu Sutan Takdir Alisyahbana sangat khawatir kalau Indonesia menjadi bagian dari budaya timur. Baginya, budaya timur adalah budaya yang ketinggalan dan itu akan membuat bangsa Indonesia akan tertinggal dari budaya barat yang kompetitif dan mudah menerima. Padahal kebudayaan yang matang itu yang seimbang, yang tidak tertarik pada satu ekstrem tertentu.

STA menulis tiga lapis budaya Indonesia:

  1. Agama-agama asli membentuk budaya, primitif dan animistik
  2. India, hinduisme yang kenal kesusasteraan yang tinggi, unsur rasional, agama yang bersifat mistikal sehingga melahirkan literasi yang tinggi.
  3. Islam modern, yang membawa pada rasionalisme.

Menurut Bagir, yang pernah mendalami filfasat dan mistisisme, agama, bahkan Tuhan, tak lepas dari rekaan manusia. Rekaan yang dimaksud adalah teofanik, manudia memanifestasikan ketuhanan. Namun tidak berarti agama dan Tuhan dapat direka oleh manusia, namun Tuhan kehilangan obyektivitasnya karena manusia adalah teofani tuhan.

Setiap manusia adalah wadah dari satu pancaran. Dalam mistisisme Islam ada yang disebut matham atau wadah. Karena manusia unik, sinar matahari yang memancar akan berbeda, karena menyangkut manusia dan juga masyarakat.

Bagaimana homo sapien yang tak punya peran apa-apa, perannya terlalu kecil sampai punya kemampuan kognitif.

Manusia dari satu nenek moyang menjadi banyak dan membentuk budayanya sendiri. Terjadi migrasi, interbreeding, sampai ada mutasi manusia-manusia. Di pantai akan terbentuk budaya berbeda, di tanah gersang akan menjadi nomad, ke tempat subur budaya akan terbentuk oleh pertanian. Budaya seperti ini harus disyukursi karena sebagai wadah unik dari pancaran ketuhanan.

Manusia diciptakan dalam suku dan bangsa untuk saling belajar kearifan lokal dan kultural. Panteistik animisme dan mistik dalam konotasi positif. Islam pada batas tertentu animistic dan mistik. Panteistik dan mistikal adalah animisme yang positif. Ketika seseorang menyembah batu, pohon, laut, gunung, sebenarnya mereka sedang menyembah Tuhan karena semua mahluk adalah teofanik. Kita seharusnya tidak mempermasalahkan sedekah laut, sesajen, namun dipahami sebagai simbol rasa syukur kepada alam.

Budaya agama seharusnya tidak antiteknologi. Karena sekarang inilah yang menarik bagi generasi milenial. Generasi ini berbeda dengan generaasi sebelumnya. Mereka peduli makanan organik, solidaritas. Dalam hal agama banyak yang memutuskan meninggalkan agama karena tidak menarik buat mereka. Agama tidak menekankan kebaikan, tetapi mengedepankan kemenangan.

Olivia Zalianty

Artis muda Indonesia ini berpendapat bahwa generasi milenial adalah generasi kebingungan. Berbicara soal pembangunan, masa depan, ledakan penduduk, terjadi bom waktu pada 2045, yang menjanjikan, bila tidak ditangani dengan baik, akan menjadi beban masyarakat bahkan menjadi sumber chaos.

Generasi 1980-an ada citizen, sekarang netizen. Sekarang ada sekitar 150 juta pengguna facebook, 95 juta instagram. Teknologi bagus dan anak muda harus mengikuti teknologi. Namun harus diperhatikan karena ada kemajuan teknologi yang menggerus adab-adab kebudayaan kita. Sekarang serba cepat dan tidak lagi memiliki romantisme seperti dulu. Menunggu surat, misalnya.

Pemerintah pada umumnya ingin membantu masyarakat namun sering masyarakat tidak merasa pemerintah tidak memahami budaya mereka. Seperti di Adonara, penangkapan ikan paus adalah budaya namun pemerintah bikin peraturan melarang karena khawatir spesies ikan paus akan habis. Orang Ambon makan sagu tetapi pemerintah memberi beras karena tidak tahu budaya yang ada di sana, dll.

Sesi tanya-jawab:

1.Wibowo, dari Aliansi Kebangsaan

Siapa Indonesia itu? Pada 1908 Sutomo mungkin tidak tahu jawaban tetapi ia tahu tantangan yang harus dijawabnya saat itu. Seperti halnya Sukarno, Kartini, dll. Mereka punya inisiatif karena ada tantangan. Bangsa Indonesia punya sumber manusia yang luar biasa kita tinggal mengumpulkan saja. Kuncinya adalah manusia.

Jawaban Haidar

Berbicara apa dan siapa adalah sebuah pilihan bukan suatu keniscayaan, bukan merasa lebih unggul dari orang lain. Kita merawat pluralisme karena ada persamaan dan perbedaan.

Jawaban Bambang

Tidak ada kekhawatiran soal generasi milineal, karena nanti akan ada jawabnya sendiri. Budaya itu berubah dan dinamis, semua itu ada naik-turunnya, tidak ada puncak kehidupan. Akan menemukan puncak-puncaknya sendiri.

Bahwa tidak semua budaya harus dilestarikan tetapi harus disesuaikan dengan zaman. Kalau ada budaya harus menyembelih seribu kerbau, sekarang tidak cocok dilaksanakan. Nilai pahlawan berubah, yang berguna bagi kemanusiaan dan peradaban. Nilai gotong-royong sekarang bukan sekadar membersihkan got bersama tetapi memanfaatkan semua kemampuan untuk kepentingan bersama.

2.Indira, Putri Kebudayaan

Bagaimana mengubah komunikasi yang konvensional  sehingga bisa dipahami generasi sekarang?

Jawaban Haidar

Soft komunikasi, pergunakan saja semua medsos. Komunikasi tidak dilakukan secara tatap muka. Komunikasi dilakukan sesuai zaman, kitalah yang harus melestarikan.

3.Bapak HS Dillon

Kita bukan melting pot tetapi bhineka secara alami. Panteisme bahwa Tuhan ada di segala tempat. Itu bukan bangsa Cina atau Arab yang membawa tetapi kita telah punya sejak lama. Sudah ada masyarakat, pemerintah, agama.

Intinya kita berikan yang sudah kita kerjakan selama ini. Itulah yang kita berikan. Generasi milenial tidak perlu dibingungkan karena manusia sama sejak mulai peradaban hingga sekarang. Manusia tidak berubah, yang berubah props-nya.

Masalah utama, bangsa ini tidak bisa bermartabat, selama pemimpinnya semua mau merusak bangsa ini yang sudah dibentuk 1928.

4.Jonathan

Apa yang dimaksud gerakan anak muda Islam Cinta?

Jawaban Haidar

Anak-anak muda punya kebutuhan spiritualnya sendiri. Mereka bagian dari budaya itu sendiri. Kaum milenial butuh soal jati diri, identitas. Di Gerakan islam cinta ada ribuan anak muda terlibat karena kebutuhan itu.

read more
1 2 3 4
Page 1 of 4